Author Topic: [Battle] Deskripsi dan Narasi III  (Read 2415 times)

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
[Battle] Deskripsi dan Narasi III
« on: April 09, 2009, 06:14:44 PM »
Baca Rules di sini

SOAL III

Setting:
Dunia nyata - real.
Dunia sekolah (SMA), remaja setengah dewasa.

Adegan:
Pernyataan cinta.

Kriteria:
Ada cewe ato cowo, anak SMA, yg ingin menyatakan cinta kepada orang yg disukainya -bisa seangkatan, senior, junior, ato... guru?  :P  ato kisah orang2 di sekitar kalian.

Kondisi akhir:
bisa jadian ato tidak. mo happy ending, sad ending, ato  tragic ending... whatever is on your mind. silakan berlebay ria  :lol:

====

Dua soal sebelumnya adalah action, kali ini kita buat soal drama.
Selamat berkreasi.

Topik ini isinya hanya soal dan cerita dari partisipan.
Topik untuk komentar atau pertanyaan lbh lanjut mengenai soal silakan post di sini viewtopic.php?f=28&t=8229.
lurker on the move
bye bye forum~

Offline Haruaki

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 95
  • Cookie: 46
  • I'm the Suflower to Your Sun
Re: [Battle] Deskripsi dan Narasi III
« Reply #1 on: May 16, 2009, 02:06:56 PM »
Wew, kirain bakal jadi yg terakir ngepost... ternyata malah jadi yang pertama... Maaf, ini rada ngelebihin bandwith (1050 kata). Plizz komen n kritik sangat dharapkan. Anyway, ini karanganku.

###

月光 の 花びら
Moonlight Petals
Kelopak Cahaya Bulan



Gadis itu selalu ada di situ, di bawah pohon berbunga putih yang mekar di halaman sekolahku. Bermandi kelopak yang gugur bak hujan saat tertiup angin, takkan ada seorangpun yang akan mempertanyakan kecantikannya. Rambutnya sewarna kayu mahogani, kulitnya seputih kapas. Matanya yang berwarna hijau tua begitu pekat dan dalam, seolah dalam bola matanya terdapat batu emerald.

Ya... mungkin sejak malam itu, hatiku telah tertaut padanya.

Seseorang memukul kepalaku, membuyarkan lamunanku tentang gadis itu.
“Sean, berhentilah melamun dan ayo pergi. Apa kau mau tinggal di sekolah ini sampai malam?” tanyanya.
Aku mendongak. Pandangan mataku bertemu dengan Connor Rakely, teman sekelasku. Aku menoleh, dan menyadari bahwa kelas sudah mulai bubar. Pelajaran telah usai.
“Ya...” aku menyahut tak jelas, menyambar tasku dan berjalan keluar kelas.

Perkenalkan, namaku Sean Dermott. Aku anak sekolah biasa, kecuali mungkin kenyataan bahwa aku anggota tim basket reguler di SMA-ku. Aku tidak kaya, tidak luar biasa pintar, dan tidak sangat berkharisma. Mungkin tampangku mendapat nilai 8 dari 10. Oh tunggu… ada satu lagi, tapi itu urusan nanti.

Connor membawaku melewati lapangan tengah. Lalu aku melihatnya, gadis itu. Rambutnya tersibak angin yang berhembus kala aku menatapnya, membuat latar belakang pemandangan itu dipenuhi helaian kelopak bunga plum yang menari di udara terbuka. Rok hitam berlipit seragam sekolah kami yang dikenakannya berdesir ditiup angin.
Darahku dipenuhi adrenalin. Aku membawa kakiku secepat mungkin, berlari menuju ke arahnya.
“Maaf Connor, aku ada urusan.” ujarku sambil menoleh ke arah sahabatku itu.

Saat aku sampai di depannya, gadis itu tertegun memandangku. Aku mengumpulkan setiap keping keberanian yang terkubur di hatiku.
“Maaf, aku Sean Dermott. Boleh aku tahu siapa namamu?” tanyaku.
Ia memendangiku dengan bola mata emeraldnya, tidak bergerak menyambut tanganku yang terulur. Lima detik yang terasa seperti seabad.
“Kau berbicara kepadaku?” tanyanya halus.
Hatiku melompat jatuh ke perut. “Ya…” jawabku ragu, menurunkan tanganku.
Ia menyambarnya separuh jalan. “Clarent, Holly Clarent.” ujarnya sambil tersenyum.

Perutku serasa dipenuhi segerombolan kupu-kupu yang beterbangan….

***

Sebulan sudah berlalu, aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu bersama Holly, mencoba memikatnya. Aku cukup bingung, ia menolak memberiku nomor yang dapat kuhubungi, alamatnya, maupun kelasnya. Ia juga menolak kuajak pergi, bahkan sekadar untuk berjalan-jalan, namun ia tidak pernah kelihatan terganggu oleh kehadiranku. Ia bahkan mau bertemu denganku setiap jam istirahat – atau kapanpun ada waktu luang kalau mau jujur – walaupun selalu menolak diajak keluar areal sekolah.
Connor tampaknya menyadari apa yang terjadi padaku. Sebab, sekarang ia menepuk punggungku dan menyudutkanku di kelas gimnastik.
“Jadi, mengakulah, siapa gadis yang beruntung itu?” tanyanya dengan seulas seringai.
Mukaku berubah warna semerah darah. “Eh… Holly, Holly Clarent.” jawabku terbata.

Mata Connor melebar seukuran mangkuk saus.
“Holly Clarent? Holly Clarent yang itu?” ia bertanya seolah tak percaya.
Aku menaikkan satu alisku ke arahnya. “Ada yang salah?” tanyaku.
“Ada yang salah?! Jelas ada! Sean kau tidak terantuk bukan?” Tangannya di pundakku berubah menjadi cengkeraman. “Di antara semua wanita yang mampu kaupikat, kau memilihnya?”
“Jangan menghinanya!” geramku sambil menepis kasar tangannya dari pundakku.
Aku kemudian berjalan menjauh, memasuki lapangan basket untuk melepas tekanan. Kudengar Connor berteriak dari belakangku.
“Sean kumohon, pertimbangkanlah baik-baik!”
Aku mengacuhkannya.

***

Ini bulan keduaku bersama Holly. Aku menabung stok keberanian dan berencana menyatakan perasaanku padanya.
“Belakangan ini kau suka melamun Sean, ada apa?”gadis itu bertanya, memandangku dengan cemas.
Memikirkan tingkah Connor. Aku menatapnya dan tersenyum, “Tidak ada apa-apa.”
Ia tersenyum kepadaku. Jantungku melompat ke tenggorokan. Connor pasti gila menyuruhku untuk tidak menyukainya.

“Holly…”aku memangilnya, mengambil tindakan. Jantungku mulai berdegup lebih kencang.
“Ya?”
Tenggorokanku tercekat, seolah pita suaraku telah diputus. Aku mencoba berbicara, dan bunyi tercekik aneh keluar dari tenggorokanku.
“Sean?” Holly memanggilku. Matanya kembali dipenuhi kecemasan, kali ini ditambah kebingungan. Waktu seolah berjalan sepuluh kali lebih lambat.
“Aku… aku. Ah sial. Holly, aku menyukaimu!” aku menyuarakannya.

Mata hijau yang indah itu melebar sesaat, kemudian beralih dipenuhi kesedihan. Jantungku berhenti berdetak. Jawabannya sudah dapat ditebak….
Holly menunduk penuh penyesalan. “Sean…maaf, aku tidak bisa....”
Harga diri dan rasa cintaku berubah mejadi serpihan yang terserak di tanah. Hatiku bergegas memasuki tahap mematahkan diri.
Melihat wajahku, Holly segera mengangkat dagunya dan berkata, “Jangan salah, aku juga menyukaimu!”
Secuil harapan berkedut dalam hatiku. “Lalu?”
“Sean….”ujarnya, bergerak untuk meletakkan tangannya di dadaku.

Begitu saja, tangan itu menembus melaluiku…. Rahang bawahku merosot.
“Aku,” katanya, mengunci tatapannya denganku, “sudah meninggal….”

Pilar yang menyangga duniaku runtuh.

***

Ya, itulah keistimewaanku yang satu lagi. Aku bisa melihat hantu. Mereka berwarna seperti orang biasa, tidak putih keperakan. Angin masih menimbulkan efek pada baju dan rambut mereka, begitu juga air. Mereka bisa disentuh, kalau mereka menghendakinya. Satu-satunya hal yang membuatku bisa membedakan mereka dari manusia hidup adalah, mereka berada dalam kondisi kematian mereka. Menjijikkan memang, melihat orang dengan isi perut berceceran melintas di hadapanmu, tetapi setelah melihatnya selama 16 tahun, aku telah terbiasa.

“Mustahil….” aku meracau.
Holly melepaskan dasi yang mengikat kerah bajunya, memperlihatkan padaku bekas cekikan di lehernya yang jenjang.
Aku mendengar kabar bahwa salah satu siswi sekolahku dibunuh pembunuh gila di taman sekolah, tetapi aku tidak pernah mengetahui namanya. Kenapa siswi itu harus Holly?

Keheningan merebak antara aku dan Holly. Gadis itu kelihatan amat terluka, aku yakin wajahku menyiratkan hal yang sama. Kini semua reaksi Connor kelihatan sangat jelas bagiku. Aku tenggelam dalam pemikiran. Semakin kupikirkan, semakin aku yakin. Tidak penting lagi Holly itu apa, aku mencintainya. Cinta itu buta, betul kata orang. Saat memandang gadis itu lagi, mataku berkilat dengan keteguhan.
Aku memegang pundak gadis itu dengan kedua tanganku. Holly mengangkat wajahnya dan bersitatap denganku.
“Holly, aku tidak peduli hal itu. Aku mencintaimu.” ujarku serius.
“Sean, orang akan menganggapmu gila, berbicara sendirian.”
“Dan demi Tuhan, aku tidak akan memperdulikannya. Satu-satunya yan akan kuperdulikan hanyalah kau.” balasku.
Mata Holly berkaca-kaca. Ia melingkarkan tangannya ke rusukku dan menyandarkan kepalanya ke dadaku. Sebuah senyum menghiasi bibirnya.
“Terima kasih Sean…”
Aku melingkarkan tanganku ke leher gadis itu dan mendekapnya. Samar-samar kurasakan angin membelaiku dan rerumputan di bawah, membawa keharuman bunga plum menggelitik hidungku.

Aku tidak menyadari senyuman Holly yang berubah menjadi seringaian, maupun percakapan dua gadis teman sekelasku di belakangku.
“Kau dengar, soal gadis yang dibunuh di sini?”
“Ya… katanya ada beberapa murid yang melihat arwahnya kan?” temannya menjawab.
“Yaah… kepala sekolah sempat memanggil paranormal beberapa waktu yang lalu, dan katanya gadis itu telah berubah menjadi roh jahat!” gadis itu berkata serius.
“Ehh… hentikan itu! Kau menakutiku!”
Gadis itu tertawa terbahak, lalu berjalan keluar gerbang disusul temannya.


Malam itu, kelopak-kelopak putih bunga plum yang terserak di halaman akan dinodai warna merah….



*fin*


=====

Diketik pas ujian kenaikan kelas ---> Haru cari mati
« Last Edit: November 17, 2009, 10:22:43 AM by Vionne »