Author Topic: Serpihan Sinar Hijau  (Read 2625 times)

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Serpihan Sinar Hijau
« on: August 19, 2009, 05:53:07 PM »
Serpihan Sinar Hijau
Author: nizami

________________________________________
Terinspirasi setelah melihat trailer film Time Traveler's Wife. Fanfiction ini didedikasikan untuk penggemar Duran dan pendukung hubungan antara Duran-Baldea.
[canon - oneshot]
________________________________________

Sudah dua bulan berlalu semenjak perayaan pernikahan antara Claire dan Arus, sekaligus penobatan Claire menjadi Permaisuri Shiltz dan Arus menjadi Raja pedampingnya. Rakyat di Ibukota Elim tampaknya masih terbawa suasana perayaan yang mewah itu. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa kekuatan Galadriel telah menghilang berkat sekelompok orang, yang kini mereka nobatkan sebagai para pahlawan Shiltz.

Orang-orang yang mereka sebut sebagai pahlawan adalah Permaisuri Claire, Tuan Arus, seorang gadis bernama Baldea, dan... diriku sendiri.

Aku mendengus, tersenyum remeh melihat orang-orang di dalam bar Elim yang berteriak menyanyikan sesuatu dalam nada yang sumbang dan menari dalam keadaan mabuk.

"Tuan Duran! Jangan diam saja, Tuan. Ayo, bergembira bersama kami!" ajak salah satu dari mereka.

Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya. Tidak biasanya orang yang tidak kukenal langsung mengajakku bergembira. Entah mereka biasanya takut dengan penampilanku yang bertubuh kekar, berambut putih, dan beralis tajam; atau mereka termakan oleh rumor jelek tentang diriku, Master Swordman yang dingin dan tidak terkalahkan. Tetapi sekarang mereka memperlakukanku bak layaknya pahlawan.

Lalu aku berdiri dari tempatku duduk, sambil mengangkat gelas minumku.

"Oii! Satu vodka untuk satu orang, aku yang traktir!" seruku bergema ke seluruh bar Elim, diikuti gemuruh sorak sorai seluruh pengunjung bar.

Sementara para pelayan sibuk melayani para pengunjung bar yang ingin vodka gratis, aku kembali mendudukkan diriku di kursi kayu, lalu meneguk segelas kecil vodka.

"Kau terlalu mabuk, Duran..." tegur teman minumku, di seberang meja bundar yang kutempati.

Aku mendongak ke arah pria berambut hitam pendek, dengan sedikit poni depannya yang mempunyai warna abu-abu keputihan. Mata sayu dengan bola mata coklat gelap itu menatapku dengan pandangan khawatir. Ia memakai baju besi keemasan, di balik jubah merahnya, yang begitu mencolok dibandingkan pakaian atau baju besi kumuh para petualang yang keluar masuk bar Elim.

"Bukan urusanmu, Arus," balasku ketus.

"Well, itu akan menjadi urusanku jika Permaisuri dan Baldea mengetahuinya, bukan?" ujarnya sambil tersenyum.

Aku mendecak mendengar perkataannya. "Lagipula apa yang kamu –Yang Mulia Raja Shiltz– lakukan di sini, duduk bersama petualang dan minum sebotol vodka?"

"Mengawasimu, tentu saja," jawabnya singkat sambil tertawa kecil.

"Yang benar saja..." aku menggeleng-gelengkan kepalaku tidak percaya. Justru aku yang mengawasimu karena permintaan Claire, batinku. "Bukankah enam hari lagi kau akan diangkat menjadi Komandan Lion Knight? Apa tidak ada hal penting yang harus kamu lakukan?" tanyaku.

"Memangnya apa yang harus kulakukan selain menunggu harinya datang?" tanyanya balik sambil mengangkat kedua bahunya, berlagak bingung.

"Entahlah!" balasku dengan nada sebal. "Mungkin menempa pedang dan perisaimu hingga mengkilat, lalu jejalkan ke dalam mulut para penjilat itu!"

Arus hanya tertawa pelan. Membuatku terkadang membenci pria yang terlalu santun ini. Ia terlihat terlalu santai menanggapi hal tersebut. Seharusnya ia tahu kalau para petinggi istana hanya mendekatinya untuk menjadi Komandan Lion Knight, bukan karena ia adalah salah satu dari orang yang dianggap pahlawan oleh rakyat Shiltz ataupun karena ia telah menjadi Raja Shiltz. Tetapi karena di dalam dirinya yang sekarang ada jiwa Galadriel, sang Balie Kekacauan!

"Aku tahu mengapa mereka –yang kau sebut sebagai para penjilat itu– mendekatiku, Duran. Namun menjadi Komandan Lion Knight adalah merupakan tanggung jawab besar, maka aku menerimanya," kata Arus seakan mengetahui pikiranku.

"...ceh, terserah kau lah!"

Rakyat Shiltz biasa hanya mengetahui bahwa kami berhasil membunuh Galadriel. Padahal Balie tidak bisa dibunuh oleh manusia. Tubuh Galadriel hanya tersegel, namun kini jiwanya berada di dalam Arus, teman seperjalananku.

Aku tahu, seharusnya aku langsung membunuhnya pertama kali sewaktu bisa. Tapi aku tidak bisa. Baldea mencegahku, dan jika aku melihat Putri Claire waktu itu, aku tidak bisa mengangkat pedangku.

Aku kembali hanyut dalam pikiranku sendiri, walaupun hiruk pikuk orang yang bergembira mengelilingiku. Entah mengapa aku merasa sangat jenuh.

Saat berpikir ingin keluar dan berjalan-jalan ke tempat lain, seorang wanita berpakaian dayang istana mendekati tempatku.

"Tuan Duran, Permaisuri memanggil anda untuk segera kembali ke kastil," kata dayang istana itu sambil membungkuk hormat di sebelahku.

"Untuk apa?" tanyaku dengan acuh.

"Ini menyangkut nona Baldea, Tuan Duran," ujar dayang itu lagi, masih belum mengangkat tegak punggungnya.

"Lebih baik kau cepat kembali, Duran," timpal Arus tiba-tiba.

Aku mendesah, mengeluh panjang. Lagi-lagi Baldea membuat ulah dan semua orang mengira hanya diriku yang bisa mengontrol gadis yang baru puber itu. Semua itu hanya merepotkan saja!

"Ceh, aku bukan pengasuh anak!" protesku.

Walaupun mulutku berkata demikian, aku tetap berdiri dari tempatku dan pergi keluar dari Bar. Aku berusaha mengacuhkan suara Arus yang terkikik pelan, begitu kutinggalkan tanpa pamit.

"Hendak pergi ke mana, Duran?" tanya suara wanita dengan nada sensual.

Langkahku terhenti sebelum aku hendak mengambil kedua pedang panjangku, yang kusenderkan di dinding bar, bersama titipan senjata lain milik para petualang yang berada di sana.

Aku menengok ke arah wanita berambut merah panjang dengan pakaian penari yang seksi. Wanita itu berdiri dengan senyumnya yang menggoda.

"Lain kali, Rosanne," jawabku singkat.

"Ah, kau tahu ya aku ingin mengajakmu berdansa?" kata Rosanne lagi.

Aku hanya melambaikan sebelah tanganku padanya, sementara yang lain mengambil kedua pedangku. Rosanne hanya diam memperhatikan, kemudian ia sendiri pun kembali ke para pria penggemarnya. Lalu aku pun segera bergegas kembali ke Kastil, di sebelah Utara kota Elim.



Setelah melewati gerbang Kastil yang dijaga oleh para Knight Kerajaan berbaju besi hitam, aku pergi menuju ruang utama Kastil. Di sana, ternyata Claire sudah menunggu. Begitu melihatku, Permaisuri berambut pirang panjang itu segera menghampiriku dengan wajah cemas.

"Oh, Duran. Syukurlah kau datang... Baldea–"

"Kali ini apa lagi, Yang Mulia?" tanyaku memotong lanjutan ucapan Claire.

"Dari malam Baldea terkena demam tinggi. Tadi siang aku hendak memeriksanya, tetapi ia menghilang dari kamarnya."

"Bukankah menghilang itu sudah biasa? Apalagi kalau Baldea mencuri makanan yang baru dimasak oleh juru masak istana..." gumamku dengan nada malas.

"Aku dan para dayang sudah mencarinya ke seluruh penjuru istana, bahkan para pengawal pun sampai ikut membantu. Tapi ia tidak ada di mana pun..."

Aku terdiam sejenak. Claire terlihat begitu cemas. Mungkin benar apa adanya, Baldea telah menghilang lebih lama dari biasanya.

Akhirnya aku menghela napas tanda menyerah. "Baiklah, hamba akan ikut mencarinya..."

"Ah, terima kasih, Duran," ujar Claire lalu tersenyum penuh kemenangan.


Dua jam sudah berlalu tanpa penampakan sedikit pun dari gadis nakal berambut hijau itu. Ini jadi membuatku sangat heran. Entah di bagian Kastil mana gadis itu bersembunyi kini. Tidak mungkin ia keluar dari Kastil menggunakan kekuatan Sihir Warpnya, karena di sekeliling Kastil Elim dilindungi oleh pelindung anti sihir yang tidak terlihat.

Aku terus berjalan menyusuri lorong Kastil hingga larut malam. Obor api menempel di sepanjang dinding, menerangi seluruh sudut Kastil. Namun bayangan gadis itu belum juga terlihat.

Aku memutuskan untuk menyerah dan berniat mencarinya esok hari. Tetapi sesuatu menghentikan langkahku menuju tempat beristirahatku. Sesuatu, sebuah suara yang dibawa oleh angin yang nyaris tidak terasa di dalam Kastil.

Aku menengokkan kepalaku ke arah tangga yang menuju ke atas. Angin kecil berhembus pelan membawa suara yang terdengar samar-samar itu. Angin itu pasti berasal dari atap Kastil yang terbuka. Akhirnya rasa penasaran membawaku melangkah menuju ke atas. Ya, siapa tahu Baldea berada di sana. Aku belum mencarinya di atas sana, pikirku ringan.



Sesampainya di atas sana, aku mencari sosok Baldea, namun aku tidak melihat siapa pun. Kumpulan awan menutupi cahaya bulan, sehingga sekelilingku sangat gelap. Hanya beberapa tiang obor di dekat pintu keluar yang menerangi dua tapak batu di depanku.

Angin dingin berhembus pelan menembus tulang rusukku. Dan di sela-sela suara angin yang lemah, aku mendengar suara itu kembali.

Siulan? Bukan...

Suara lembut yang tinggi itu naik dan turun beraturan, seperti membentuk nuansa nada. Nada dari lagu yang terdengar begitu sedih dan menyayat hati.

Aku mencari-cari arah suara tersebut, kakiku melangkah mengikuti arah angin yang sebelumnya membawa suara tersebut. Dan di dekat ujung tembok menara kastil Elim terlihat siluet seseorang berambut lurus dan sangat panjang hingga belakang lututnya. Ada sesuatu yang bersinar transparan menempel di punggungnya.

Aku mendekat dengan waspada. Suara itu semakin terdengar jelas. Tangan kiriku memegangi pangkal pedang, bersiap mendorongnya dan mencabutnya dari sarung pedangku.

Sebelum aku hendak menanyakan identitas sosok misterius tersebut, angin kembali berhembus pelan. Angin yang lebih kencang di langit kini perlahan menyapu awan yang tadinya menutupi sinar purnama malam. Sosok siluet itu pun mulai terlihat dengan jelas.

Rambut panjang itu berwarna hijau. Sosok yang kini terlihat jelas sebagai perempuan yang mengenakan gaun terusan berwarna putih gading itu menghentikan alunan suaranya. Ia terlihat menurunkan tangannya, lalu berbalik perlahan.

Aku pun menjadi siaga. Namun, ketika aku melihat wajah perempuan itu di depanku, aku terhenyak sesaat. Ia terlihat begitu asing, namun wajah sendunya begitu familiar.

"Bal...dea?" tanyaku ragu.

Perempuan itu hanya terdiam, menatapku dengan bola mata yang sedih. Tangannya menggenggam sebuah ocarina, yang kukenali sebagai ocarina yang kuhadiahkan untuk Baldea.

"Baldea? Kaukah itu?" tanyaku sekali lagi.

"Duran..." gadis itu akhirnya bersuara memanggil namaku.

Suara itu adalah suara Baldea, tidak salah lagi. Tetapi terdengar berbeda dari nadanya yang biasa terdengar manja dan kekanak-kanakan.

Aku terus memperhatikannya dengan seksama. Di depanku tidak ada lagi anak perempuan berambut sebahu dan berbaju merah, tapi gadis yang beranjak dewasa memakai gaun terusan putih, dengan rambut hijaunya yang kini panjang. Ia berubah total hanya dalam semalam.

"Apa yang terjadi denganmu? Rambutmu...? Tubuhmu...? Dan itu... apa itu di punggungmu? Seperti sa...yap?" aku terus bertanya dengan nada bingung.

Namun Baldea terus terisak, menundukkan kepalanya. "Aku... adalah Peri Waktu, Duran..." ujarnya perlahan di sela isak tangisnya.

"Lalu mengapa kau menangis?" ia kembali membuatku bingung. Apa Baldea menangis karena tidak menyukai perubahan tubuhnya yang tiba-tiba, tanyaku dalam hati.

Baldea tidak menjawab kembali. Perlahan ia mengarahkan tangannya yang tidak memegang ocarina ke arahku, seakan hendak menggapaiku.

"Tolong... aku..." pintanya lemas.

Tanpa berpikir lagi, aku pun mengulurkan tangan kananku untuk menyambut tangannya. Namun, tangan kecil Baldea tidak pernah sampai di depanku.



Ia telah menghilang.

Menghilang begitu saja seperti asap yang tertiup angin. Di atas telapak tanganku hanya ada serpihan cahaya hijau, perlahan melayang turun seperti salju dan kemudian hilang begitu menyentuh kulitku ataupun lantai Kastil yang kupijak. Mirip seperti sisa debu para peri.

"Baldea?" panggilku. Tidak ada jawaban. Sunyi. "Baldea, ayolah! Sarah dan pelayan istana lainnya tidak akan marah padamu hanya karena kau mencuri masakan mereka..."

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Ini sangat aneh, pikirku.

"Permaisuri Claire dan Arus mengkhawatirkanmu, Baldea," kataku lagi, berharap ia segera muncul kembali di depanku.

Perasaan cemas yang tidak biasa mulai merasuki diriku. Aku berusaha menepis pikiran negatifku. Baldea memang suka menghilang dan muncul sekehendak hatinya, dengan menggunakan sihir Warp yang dikuasainya. Tidak lama lagi pasti ia akan muncul dan berusaha mengagetkan diriku. Maka aku pun memutuskan untuk menunggu sejenak.

"Ayo, gadis manja... di mana kau akan muncul kali ini," gumamku pelan.

Sudah terlalu lama aku menunggu di sana. Dengan gusar aku menyusuri tempat-tempat yang tersembunyi. Aku berusaha mencarinya kembali dengan memanggil namanya berulang-ulang. Namun aku sendirian di sana.

"Baldea, ini bukan waktunya bercanda. Keluarlah!" aku mulai meninggikan nadaku.

Hatiku sudah tidak bisa menahan sabar lagi. Aku pun berlari ke bawah untuk memanggil Arus dan Claire untuk membantuku. Ini keterlaluan, jeritku frustasi di dalam hati.

Baldea, di mana kau? Kemana gerangan perginya dirimu? Mengapa kau menghilang begitu saja dari hadapanku?

***

Seminggu telah berlalu tanpa berita tentang keberadaan Baldea sama sekali. Sudah sepekan ini aku berkemah di luar Ibukota, mencobanya mencari ke berbagai tempat. Mulai dari Kuil Adel hingga ke Ujung Dunia. Aku bahkan melewatkan upacara pengangkatan Arus menjadi Komandan Lion Knight yang baru. Aku juga pergi dari istana tanpa mengucapkan apa pun pada Permaisuri Claire dan Arus.

Aku merasakan sedikit rasa penyesalan muncul menyesak dadaku. Ah, Yang Mulia pasti mengkhawatirkanku dan Baldea. Tetapi aku tidak bisa berdiam diri saja. Lagipula, tembok kastil Elim yang megah hanya seperti menghalangi ruang gerakku saja. Petualang sepertiku tidak cocok hidup di lingkungan mewah para bangsawan. Ada hal lain yang harus kulakukan selain mencari Baldea.

Hiswil sudah menghubungiku dan mengatakan ia mempunyai informasi tentang Balie, juga Baldea. Aku yakin Yang Mulia suatu saat akan mengerti keputusanku.

Aku keluar dari gerbang Barat desa Lime, setelah menemui Slay dan Janet untuk mendapatkan informasi. Tujuan selanjutnya adalah Militia Silon, daerah yang sebisa mungkin kuhindari untuk kukunjungi kembali.

Aku menarik tudung kepala jubahku hingga bayangannya menutupi wajahku, sementara jubah panjangku menutupi kedua pedang panjangku. Tidak akan bagus jika aku terlihat oleh orang yang tidak suka denganku di atas bukit Silon itu.

Hari menjelang sore saat aku mencapai dataran Silon. Pancaran sinar matahari senja membuat langit mulai menjadi merah, membuatku kembali teringat ketika semua temanku terbunuh oleh bom bunuh diri dari salah satu pengikut Sekte Balie. Hanya aku yang selamat karena mereka melindungiku dengan tubuh mereka.

Aku menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mataku, berdoa sejenak untuk ketenangan jiwa mereka. Lalu aku kembali mengawasi keadaan di militia Silon dari kejauhan.



Lama aku mengawasi keadaan bukit Silon, hingga tak terasa matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Langit berawan mulai berwarna kemerahan. Aku mulai mendekat menuju markas Silon Militia dengan menyamar sebagai petualang biasa. Tidak ada yang mencurigaiku untuk saat ini.

Namun sesuatu berdesir di telingaku. Suara angin yang membawa bisikan-bisikan resah. Udara yang pengap mengelilingiku seketika, membuatku bersiaga.

Aku beranjak dari depan pedagang obat-obatan dan membatalkan pesananku. Perasaanku tidak enak, aku harus menyingkir dari sini. Aku mempercepat langkahku dan berjalan di bawah bayangan pepohonan. Dan bisikan itu kembali terdengar, seperti memanggilku.

Aku membalikkan punggungku dan melihat sinar putih muncul di depanku tiba-tiba. Ketika cahayanya memadat dan membentuk siluet seorang wanita, dadaku berdegup kencang. Hatiku mulai bertanya-tanya di antara ketidakpastian, namun kedua tanganku belum lepas dari pangkal kedua pedangku.

Sinar putih keemasan itu pun akhirnya menghilang, dan sosok wanita itu tiba-tiba terjatuh ke rerumputan di bawahnya. Menahan tubuhnya dengan kedua lengannya, ia tampak begitu kelelahan. Rambut hijau panjangnya jatuh tersampir ke bahunya. Anehnya, gaun putih gading yang dikenakannya tampak tidak ternoda oleh tanah basah di bawah rerumputan itu.

Sosok itu mengangkat wajahnya perlahan dan menatapku. Wajahnya yang memang putih tampak lebih pucat. Lalu bibir mungilnya yang berwarna merah muda bersuara, "Duran... akhirnya, aku bisa menemukanmu..."

Aku masih terpaku di tempatku. Aku tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Baldea! Baldea yang sudah menjadi dewasa dan menjadi Peri Waktu, kini muncul kembali di depanku setelah sekian lama.

"Seharusnya itu kalimatku," balasku dengan nada datar. Baldea tampak tersenyum tipis mendengarnya.

Padahal bukan itu yang ingin kukatakan padanya. Tak ada kata yang mampu melukiskan betapa besar kerinduanku saat ini. Yang kuinginkan saat ini hanya memeluknya, namun egoku terlalu tinggi untuk mengakui bahwa aku begitu merindukan kehadirannya. Aku pun menahan diriku.

Aku pun menurunkan satu lututku ke tanah, sementara tangan kananku bertumpu di lutut kanan. Kini aku bisa memandangnya secara sejajar.

"Darimana saja kau selama ini?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku.

Ah, lagi-lagi aku mengatakan sesuatu yang hatiku tidak menginginkannya. Baldea pasti mengira aku memarahinya lagi, karena wajahnya langsung berubah semakin murung. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Mulutku membuka kembali untuk mengkoreksi kata-kataku tadi.

"Whaaa!! Aku rindu padamu!! Whaaaaa!" tangis Baldea tiba-tiba, sambil melompat ke depan untuk memeluk diriku. Aku pun jatuh terduduk ke belakang, menahan tubuh Baldea yang memelukku erat.

Untuk sejenak kami berdua hanya terdiam seribu bahasa. Aliran udara seakan berhenti dan membuat sesak dadaku. Gemericik aliran sungai Glasis yang berada tak jauh dari tempat kami seakan menjadi saksi bisu pertemuanku dengannya kembali.



"Duran... pergilah. Jangan sampai ada yang melihatmu di sini..." ujar Baldea tiba-tiba.

"Aku tak peduli," balasku singkat.

"Tapi... kalau kau tinggal lebih lama, maka aku akan menghilang dari hadapanmu..."

Aku terdiam mendengar kata-kata Baldea. Aku tahu hal itu akan menyakitkan kembali ketika melihatnya hilang kembali begitu saja. Tetapi jika itu harga yang harus dibayar untuk saat ini, aku lebih baik menghabiskan waktu hingga saat terakhir dengannya. Jawabanku hanyalah memegangi tangannya. Pipi Baldea tampak bersemu merah sesaat setelahnya.

"Kau tahu..." lanjut Baldea, "tidak jauh dari tempat ini, di suatu waktu, aku kembali untuk menyelamatkanmu. Aku tidak tahu apa aku berhasil atau tidak, karena begitu memegang tanganmu setelah kau nyaris jatuh dari jurang, aku langsung terlempar ke masa lain. Dan di masa lain, di tempat lain... aku kembali melihatmu mati, namun kali ini aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya."

Baldea kembali terisak, menangis putus asa. Aku memeluknya, membiarkan ia menangis di dadaku.

Ingatanku berkelebat ketika melihat bukit Silon dari kejauhan. Ingatan saat aku terjatuh dari atas sana dua tahun yang lalu, bersama dengan Dillion yang berusaha membunuhku. Aku pikir aku akan mati saat itu, tapi ternyata aku selamat. Dan semua itu berhubungan dengan cerita Baldea.

"Aku sudah siap, jika aku harus mati..." kataku pelan. Dadaku terasa sesak jika mengingat 'dosa' yang kulakukan saat itu. Walaupun tidak langsung, tapi aku telah membunuh Dillion, kakak Permaisuri Claire.

"Tidak!" bentaknya. "Aku tidak mau melihatmu mati!" teriaknya sambil menangis keras. "Aku tidak mau terus menerus, berulang kali, melihatmu mati. Aku tidak mau melihat akhir dari Shiltz begitu saja, tanpa dapat berbuat apa pun..."

"Ssh... tenanglah..." kataku berusaha menenangkan gadis peri itu. "Aku siap mati, tapi bukan berarti aku mau mati begitu saja," jelasku.

Baldea terdiam menatapku dengan mata yang basah, mungkin berusaha mencari kejujuran atas kata-kataku tadi. Untunglah ia kini tampaknya lebih tenang.

Baldea mengusap air matanya, lalu berkata, "Duran, pergilah... aku merasa waktuku bergeser kembali..."

"Aku akan pergi, begitu malam tiba... sebentar lagi."

"Tapi..."

Aku menaruh jariku di bibir Baldea, menghentikan lanjutan kata-katanya. Lalu aku memegangi kedua lengannya dan menatapnya dalam-dalam.

"Aku akan membebaskanmu dari kutukan waktu ini, Baldea."

"Aku tidak mau kau terus menungguku..." balasnya cemas.

"Aku akan selalu menunggumu," ucapku perlahan, sembari mengecup keningnya. Pipi Baldea pun kembali bersemu merah muda.

Tidak lama, perlahan tubuh Baldea mulai terlihat tembus pandang, aku tidak bisa merasakan lagi kedua lengannya yang kupeluk sebelumnya. Lalu ia pun hilang mendadak seperti asap, hanya kembali meninggalkan jejak serpihan cahaya berwarna hijau keemasan. Gadis itu telah kembali terlempar entah ke masa mana di Shiltz ini. Dan aku kembali sendirian di padang rumput Silon ini.

***
« Last Edit: November 17, 2009, 10:25:46 AM by nizami »
lurker on the move
bye bye forum~

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: Serpihan Sinar Hijau
« Reply #1 on: August 20, 2009, 09:43:57 AM »
aaaaaaaaaa udah disempurnain ceritanya

jadi first blood yang komentar deh
bagus banget ce  /sob /sob

ayo dibuat kelanjutannya ce

Offline BraveNina

  • Elder
  • Follower of Words
  • *
  • Posts: 183
  • Cookie: 45
  • stay in my heart, Ivan~ :)
Re: Serpihan Sinar Hijau
« Reply #2 on: August 22, 2009, 11:55:02 PM »
kyaaa!!!!!
ceritanya mengharukan............
duran keren banget!!!
>w<
buat lg mami....
^^b
aku, dia dan kamu...
        apa kita akan selalu bersama??
                    apa kita akan berpisah??
        jangan pernah tinggalkan aku...
jangan pernah...

Offline ihsan

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 165
  • Cookie: 47
Re: Serpihan Sinar Hijau
« Reply #3 on: September 05, 2009, 08:05:10 AM »
Tetapi sekarang mereka memperlakukanku bak layaknya pahlawan.

agak bingung ama yang satu ini
The Sancturs.
FS di sini.
FB di sini.