Author Topic: Penitence  (Read 1954 times)

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Penitence
« on: August 16, 2009, 08:36:41 PM »
Penitence
Author sacchan_magician Wed Jul 01, 2009 2:58 pm


Langit tampak kelabu sejauh mata memandang. Hujan rintik-rintik membasahi seluruh Dataran Adel. Di salah satu puncak bukit-bukit rendah Dataran Adel itu berdiri sebuah bangunan putih yang disangga pilar-pilar kuno. Itulah Kuil Adel.
Di tempat itu terlihat para Cleric yang sedang melatih kemampuan penyembuhan mereka. Selain para Cleric, tempat itu juga disinggahi oleh para petualang yang hendak melanjutkan perjalanan mereka menuju Madelin dan Hutan Laywook.
Di salah satu sudut Kuil Adel, terlihat sepetak tanah yang dipenuhi batu nisan. Kuburan kecil itu berisi tubuh-tubuh yang tewas terbunuh dalam perang. Tanah Suci Adel diharapkan bisa menjadi tempat peristirahatan terakhir yang membawa ketenangan bagi mereka.
Di tempat itulah, tampak seorang Knight berambut hitam tengah berlutut di depan salah satu batu nisan. Sword of Ellen miliknya tertancap di tanah di sebelahnya.
Knight itu tampak tenggelam dalam lamunannya. Wajahnya yang terlihat penuh penyesalan menunjukkan bahwa ia tengah mengingat kenangan yang menyedihkan. Begitu dalam dan sedih lamunannya, hingga ia tak menyadari bahwa seorang Warrior berambut abu-abu telah berdiri di belakangnya, mengawasinya.
“Di sini kau rupanya,” ujar Warrior itu. “Aku sudah mencarimu sejak tadi.”
“Kau pikir aku akan melarikan diri?” balas Knight itu tenang. Ia sama sekali tak terkejut dengan kedatangan Warrior itu.
“Jangan meremehkanku, Keith. Aku tahu kau tidak sepengecut itu,” kata Warrior itu dingin.
“Kau mengingat sifatku dengan baik, Sear…” gumam Knight yang bernama Keith itu, masih berlutut di depan batu nisan.
“Hmph. Aku datang ke tempat ini bukan untuk mengobrol, Keith. Mari kita selesaikan semuanya sekarang!!” seru Warrior yang dipanggil Sear itu. Dengan sebuah gerakan mulus, Oriental Invicible miliknya terayun ke arah Keith. Namun, dengan ketangkasan yang luar biasa, Daylight Shield milik Keith telah menahan serangan itu sebelum Greatsword yang berbentuk rumit itu sempat menyentuh Daylight Armornya yang berwarna keemasan.
“Kita akan melakukan ini di tempat lain, Sear. Tanah suci ini bukan tempat untuk bertarung,” tegur Keith tajam. Ia pun bangkit berdiri dengan tegap.
“Hah! Tanah suci, katamu?  Tempat ini tak lebih dari tempat berkumpul para pengikut Elim yang brengsek itu!” cemooh Sear sembari meludah ke tanah.
Dengan susah payah, Keith menahan kemarahannya. Ia berusaha membalas kata-kata penuh penghinaan Sear itu setenang mungkin. “Jika kau memang ingin bertarung, berhentilah bicara dan kita akan bertarung di tempat lain!” serunya geram.
Sear tersenyum licik mendengar kemarahan dalam suara Keith. “Hanya ada satu tempat. Aku menunggumu di Gua Silon.” Dan setelah mengatakan hal itu, Sear pun melangkah pergi meninggalkan Keith, menembus rintik hujan yang semakin deras.
Keith menatap kepergian Sear dengan muram. Tanpa menghiraukan hujan yang semakin deras mengguyur Kuil Adel, dia menengadah menatap langit, membiarkan tetesan air hujan membasahi wajahnya.
Sebelum ia melangkah meninggalkan tempat itu, sekali lagi disentuhnya nisan di belakangnya.
“Semoga pilihanku benar…

Sekitar tiga jam kemudian, setelah meraba-raba dalam kegelapan Gua Silon yang bagai labirin, akhirnya Keith tiba di tempat tujuannya. Suara armor besinya yang membelah air bergaung di dinding gua. Gua Silon memang selalu tergenang air di beberapa titik tertentu. Genangan air itu dangkal, namun gelap dan sedingin es. Tanpa memperdulikan dinginnya air, Keith terus berjalan.  Di tengah-tengah lorong itu Sear telah menunggunya.
“Kau masih ingat tempat ini rupanya,” kata Sear setengah mengejek.
“Aku tak mungkin lupa pada tempat ini, sama tak mungkinnya dengan melupakan apa yang sudah kau lakukan di sini lima tahun yang lalu!! Kau membantai para Knight itu tanpa alasan!!” seru Keith sambil mencabut pedangnya. Sword of Ellen miliknya berkilau dalam kegelapan Gua Silon, memantul di permukaan air yang dingin bagai membeku.
“Kau tidak mengerti, Keith! Beraninya kau mengatakan hal itu seakan aku adalah seorang penjahat!!”  teriak Sear. Disibakkannya jubah coklat usang yang sedari tadi dikenakannya. Di balik jubah itu, terlihat baju khas Warrior yang berwarna biru tua dengan beberapa bagian yang keras, seakan dihiasi sisik naga. Armor itu adalah Clothes of Life & Death.
Keith tampak tak gentar dengan armor tangguh Sear. Dengan kemarahan yang sama besarnya, ia membalas perkataan Sear tadi.
“Aku memang tidak mengerti! Aku takkan pernah mengerti, mengapa kau mengikuti kelompok pemberontak, Sear?! Karena tragedi Gereja Balie waktu itu?!”
“Kau tidak akan pernah paham perasaanku, Keith! Bagaimana perasaanku melihat kakakku tewas di tengah peperangan di tangan Lion Knight sendiri?!” teriak Sear pahit.
Lion Knight, ksatria khusus yang dipilih oleh Raja Arus sendiri, memang ditugaskan untuk menyelidiki Gereja Balie di Militia Silon beberapa tahun silam. Namun, keadaan saat itu sangat kacau dan tak terkendali. Tak seorangpun bisa memastikan siapa pengikut Gereja Balie yang sebenarnya dan siapa bukan. Saat itulah, sempat terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan seorang Warrior perempuan tak bersalah terbunuh. Berita itu selama ini disembunyikan dari semua orang untuk menjaga kepercayaan penduduk Shiltz terhadap Lion Knight. Akan tetapi, entah bagaimana, berita itu bocor juga. Hal itu menambah jumlah pasukan pemberontak yang membenci kerajaan.
Keith tersentak mendengar kata-kata Sear. Namun, dengan cepat ia kembali tersadar.
“Bukan hanya kau yang kehilangan keluarga! Kau sendiri tahu, adikku pun tewas dalam perang di Militia Silon itu!!” balas Keith setengah berteriak, menelan kembali semua kesedihan yang membuat lehernya tercekat.
“Tahu apa kau?! Adikmu dan kakakku berbeda!! Adikmu tewas dengan terhormat, Cleric suci yang melindungi pasukannya! Bagaimana dengan kakakku? Mereka memperlakukannya seperti pengkhianat hanya karena dia berada di Gereja Balie Militia Silon saat tragedi itu terjadi!!”
“Itu kecelakaan, Sear! Kau tahu itu!! Para Lion Knight tidak bermaksud—”
Namun Sear tidak lagi mendengarkannya. Pedangnya berayun menembus air, mengarah pada Keith. Sekali lagi Keith menahannya dengan shieldnya. Namun, serangan Sear sangat kuat. Keith terdorong ke belakang akibat kekuatan serangan Sear yang amat besar itu. Beruntung baginya, air di sekitarnya membuatnya tidak jatuh tersungkur.
“Demi Vinagh! Dengarkan aku dulu, Sear!!” seru Keith sembari menahan tebasan tanpa henti dari Oriental Invicible milik Sear.
“Jangan pernah menyebut nama Elim di hadapanku!! Hari itu para Elim telah mengkhianatiku!!” teriak Sear penuh kemarahan. Ayunan pedangnya pun bertambah cepat. Keith mulai kewalahan menghadapi serangan beruntun Sear itu.

“Aku tak punya pilihan lain…” batinnya. Sementara tangan kirinya menahan serangan Sear dengan shield, tangan kanannya memutar Sword of Ellen miliknya dengan cepat. Sebelum Sear menyadarinya, Keith telah melompat tinggi di udara. Sambil berputar di udara ia mengarahkan pedangnya ke bawah.
“HEAVENLY CROSS!!”
Bersamaan dengan teriakan Keith, pedangnya menancap ke tanah, menembus permukaan air. Cahaya meledak dengan kekuatan besar dari tempat Keith menancapkan pedangnya. Butiran-butiran air beterbangan di udara akibat serangan itu. Sear yang tidak siap dengan serangan itu pun terkena telak. Tubuhnya terpelanting ke tembok di belakangnya.
“Aaargh!!” teriaknya kesakitan. “Kau harus membayar untuk ini!!”
Dengan kecepatan yang mengejutkan, Sear berlari ke arah Keith. Diayunkannya Oriental Invicible miliknya.
“DEADLY SLASH!!” raungnya.
Tiba-tiba saja, pedangnya berayun dengan kecepatan tinggi. Keith hanya dapat melihat cahaya biru menyambar tubuhnya berkali-kali. Ia baru menyadari bahwa cahaya itu adalah pedang Sear ketika ia merasakan benturan luar biasa keras di seluruh tubuhnya yang terbungkus Daylight Armor. Ia bahkan tak sempat mengangkat shieldnya untuk melindungi tubuhnya.
“Hhh…serangan barusan…aku belum pernah merasakan serangan sekuat itu sebelumnya…” sengal Keith. Jika bukan karena armornya yang keras, mungkin kini tubuhnya sudah terluka parah.
Akan tetapi, pertarungan belum selesai. Sear masih terus menyerangnya dengan kebuasan seekor singa. Luka yang didapatnya dari serangan Keith seakan tak lagi dirasakannya. Sekali lagi Keith terdesak.
Tiba-tiba Sear sekali lagi memutar pedangnya. Namun kali ini putaran pedangnya jauh lebih cepat dari sebelumnya.
“BLAZZING HURRICANE!!!”
Serangan Sear menimbulkan pusaran angin kencang seiring dengan ayunan pedangnya. Namun kali ini Keith telah lebih siap. Ia menyambut serangan Sear barusan dengan serangannya sendiri.
“GRAND SWORD!!!”
Tebasan dahsyat yang menimbulkan pusaran angin milik Sear bertemu dengan pedang Keith yang menyebabkan ledakan di udara ketika keduanya beradu.
TRAANG!!
Akibat kedahsyatan kedua serangan itu, baik Keith maupun Sear sama-sama terpental ke belakang. Untunglah Keith sempat melindungi bagian depan tubuhnya dengan shieldnya. Namun…
KRAAK!
Seketika wajah Keith memucat. Matanya melebar tak percaya ketika ia menyadari bahwa terdapat retak besar memanjang membelah shieldnya. Ternyata efek serangan barusan melebihi yang dapat diterima shield itu.
Dengan wajah menyesal, Keith menjatuhkan shield yang nyaris pecah itu dari tangan kirinya. Ia sadar bahwa shield itu tak lagi berguna untuk melindunginya. Matanya dengan cepat menyapu ke arah Sear. Ia dapat melihat bahwa pakaian Sear juga mulai robek di beberapa tempat. Napas Sear mulai terengah-engah.
Mereka berdua telah mencapai batas stamina mereka. Pertarungan ini akan segera berakhir.
“Heh. Tidak buruk juga, Keith.” kata Sear tersengal-sengal.
“Sear…sebaiknya hentikan saja semua ini…” gumam Keith, walaupun ia sudah menyadari bahwa kata-katanya itu percuma.
“Jangan membuatku tertawa! Kau menyuruhku berhenti?! Kau yang mendapat perintah dari Lion Knight untuk membunuhku?!” teriak Sear. Ia pun tertawa parau.
“Kau…kau salah! Komandan Lionel hanya ingin bicara denganmu!! Karena itu aku—“
“Tak ada yang perlu dibicarakan!! Kita akan mengakhiri segalanya di sini, sekarang!!” seru Sear tanpa menghiraukan kata-kata Keith.
Pertarungan pun kembali berlanjut. Kali ini, pertarungan berubah menjadi pertarungan pedang. Baik Sear maupun Keith tak lagi punya sisa tenaga untuk mengeluarkan jurus dahsyat seperti tadi. Saat ini semuanya bergantung pada ayunan pedang mereka.
Kedua pedang berayun dengan kecepatan cahaya, saling beradu tanpa henti. Denting pedang mereka berdua bergaung di dinding gua, terdengar bagai suara ratusan lonceng angin di tengah badai.
Air terbelah, dan butiran air bercipratan ke wajah mereka. Tumbuhan liar di sekitar mereka habis tertebas oleh kedahsyatan pedang keduanya. Pertarungan itu terus berlanjut hingga akhirnya…
JLEB!!
Sedetik kelengahan Sear dibayar dengan tusukan Sword of Ellen Keith yang menembus perutnya. Matanya membeliak ketika melihat darah mengalir deras dari luka di perutnya. Masih dengan wajah tak percaya, Sear roboh. Air gelap di sekitarnya mendadak berubah menjadi merah karena darahnya.
“Sear!!” seru Keith. Ia segera berlari menuju ke tubuh lemas Sear.
“Inikah…akhirnya…?” gumam Sear lemah. Tangannya menyentuh darah merah pekat yang mengalir dari perutnya.
“Jangan bicara lagi!! Aku akan segera menolongmu!!” kata Keith sembari menyorongkan botol Max Red Potion pada mulut Sear. Namun, dengan cepat, Sear menepisnya.
“Hentikan. Aku tidak butuh bantuanmu.” kata Sear tegas.
“Tapi…!”
“Keith. Dengarkan aku. Ini adalah akibat yang harus kuterima dari perbuatanku lima tahun lalu. Aku sudah siap untuk hari ini sejak dulu.”
“Lima tahun lalu,” kata Sear “aku berbalik melawan Lion Knight, karena mereka membunuh kakakku. Sejak hari itu, aku bersumpah akan menuntut balas pada mereka. Dalam lima tahun ini aku telah membunuh banyak anggota Lion Knight sebagai pelampiasan dendamku. Lalu kau muncul…”
Keith terdiam mendengar cerita Sear. Ia masih mengingat dengan jelas ketika akhirnya dialah yang ditugaskan oleh Komandan Lion Knight, Lionel, untuk menghentikan Sear, teman masa kecilnya sendiri. Ketika akhirnya ia menemukan Sear setelah pencarian yang panjang, ia berharap dapat membicarakan semuanya baik-baik dengan Sear, namun usahanya percuma. Sear justru menantangnya untuk berduel satu lawan satu. Pada akhirnya, ia memang harus bertarung dengan Sear, dan inilah hasilnya.
“Aku sebenarnya tak mau semuanya berakhir begini…” gumam Keith lemah.
“Kau tak perlu menyesali apapun, Keith. Dendamku telah terbalas. Aku tak punya lagi tujuan hidup.”
“Jadi…kau memang berencana untuk mati?!” seru Keith tak percaya.
“Aku tidak bermaksud mati di tanganmu… Tapi kau berkembang melebihi perkiraanku, Keith…”
“Lalu kenapa kau menolak untuk menyembuhkan dirimu sendiri?!”
 â€œKesalahanku tak termaafkan. Meski aku tak menyesali perbuatanku, tapi aku tak dapat kembali lagi. Hanya inilah jalan untuk mengakhirinya…” gumam Sear. Mendadak darah menyembur dari mulutnya.
“Sear…!”seru Keith ngeri.
“Seandainya aku adalah Knight sepertimu…mungkin semua ini tak perlu terjadi…” desah Sear tanpa memperdulikan darah yang mengalir dari mulutnya.
“Warrior hidup di jalan pedang. Kami berperang, bertarung, dan membunuh untuk mencapai sesuatu…tapi Knight berbeda. Meski sama-sama memegang pedang, namun Knight ada untuk melindungi semua yang berharga bagi mereka…tanpa harus menghancurkan…”
“Sear…kau…” gumam Keith. Ia tahu, Sear telah tiba pada batasnya.
“Satu nasihat terakhir dari orang bodoh ini, Keith…” gumamnya. “Jadilah Knight yang hebat, lindungilah orang-orang yang berarti bagimu…kau akan jadi Knight hebat, aku tahu itu…”
Dan setelah menyelesaikan kalimatnya, Sear tak lagi bergerak ataupun bernapas.  Keith hanya mampu menatap jasad Sear dengan penuh penyesalan.

Three Years Later…
Seorang Paladin berambut hitam dengan armor emas dan jubah merah berdiri di depan gerbang Militia Silon. Ia menatap gerbang itu dengan tatapan pahit bercampur rindu.
Di sebelahnya terlihat beberapa orang Knight yang jauh lebih muda darinya berbaris dengan rapi.
“Senior, apa yang sedang anda lakukan di sini?” tanya salah satu Knight itu penasaran.
“Mengingat seorang teman…” gumamnya. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Apa teman senior orang yang kuat?” tanya Knight lain.
“Ya… Dia mengajarkan kata-kata ini padaku: Knight ada untuk melindungi semua yang berharga bagi mereka…tanpa harus menghancurkan… Kata-kata yang mengubah hidupku…” jawabnya tenang.
“Kata-kata itu kedengaran hebat sekali!!” seru Knight di sebelahnya dengan penuh semangat, diiringi anggukan teman-temannya. Paladin itu pun tersenyum mendengar reaksi mereka.
Setelah puas memandangi tempat itu, dia pun berkata,
“Yak! Hari ini cukup sampai di sini! Dan ingatlah kata-kata itu! Mungkin saat ini kalian belum mengerti, tapi suatu saat nanti…kalian akan paham artinya. Sekarang ayo kita kembali!” serunya, diiringi dengan para Knight muda itu di belakangnya.
“Tunggu kami, Senior Keith!!” seru beberapa Knight yang tertinggal di belakang. Keith tertawa melihat Knight-knight juniornya berlari-lari dengan susah payah karena menahan berat armor mereka.

Sekali lagi, Keith menatap gerbang kayu di atas bukit itu. Ia pun berbalik, kembali berjalan bersama para Knight yang akhirnya berhasil menyusulnya. Sesaat, Keith mengawasi para Knight muda di sebelahnya.
“Tugas seorang Knight adalah untuk melindungi semua orang yang berharga baginya…benar kan…Sear?”

***
« Last Edit: November 17, 2009, 10:24:01 AM by nizami »
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...