Author Topic: My Precious One  (Read 1926 times)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
My Precious One
« on: August 16, 2009, 08:58:46 PM »
My Precious One
Author: milkteddy
___________________
Seal Online Fanfiction by milkteddy © 2009
Cerita ini di adaptasi dari Seal Online yang berlatar belakang dunia Shiltz.
___________________


Sinar bulan menyusup melalui celah rangkaian ornamen-ornamen rumit yang membentuk suatu lukisan indah di kaca jendela gereja di kota Elim. Cahayanya yang redup menghambur ke seluruh bagian depan ruangan itu, menyinari Gaius yang sedang duduk menemaniku. Angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan menggoyangkan jenggot putihnya yang panjang.
“Sampai kapan kau akan menunggu di sini, Linn?” tanya Gaius, menggeser tubuhnya lebih dekat lagi denganku.
Áku mengendikkan kepalaku lemah, “Sampai dia datang, tentu saja.”
“Tapi kau sudah menunggunya sejak matahari terbit hingga sekarang,” bantah pria tua itu.
Aku menggeleng, bersikukuh, “Aku tidak peduli. Aku akan tetap menunggunya.”
Ia menepuk punggungku, memberikan semangat, “Aku ingin sekali bersamamu di sini sampai Gael datang, tetapi tubuh tuaku ini tidak mendukungku.”
“Istirahatlah, Gaius. Aku tidak apa-apa. Masih ada River dan Mountain yang menjagaku di sini.”
Aku melirik ke arah dua pria berbaju biru yang sedang berbincang-bincang di sudut tangga berlapis karpet merah.
Gaius tersenyum simpul, “Baiklah kalau begitu. Kau juga bisa membangunkan Hal dan David jika kau membutuhkan bantuan mereka.”
“Tidak perlu. Selamat malam, Gaius. Semoga berkat Elios besertamu,” ujarku lirih.
“Kebanggaan bagiku, Linn Orfhlaith. Semoga berkat Elios besertamu juga,” balasnya, beranjak dari bangku kayu tua yang didudukinya, “Oh iya, aku lupa memuji wedding dress yang kau pakai, Linn. Kau terlihat sangat cantik sekali memakainya.”
Aku dapat merasakan pipiku bersemu merah, “Terima kasih, Gaius. Kau baik sekali.”
Pria tua itu berlalu pergi. Sepatu mercy putihnya bergesekan dengan lantai keramik hitam putih gereja. Rasa kesepian kembali menjalariku. Aku mencuri pandang ke arah jendela yang memantulkan bayangan seorang perempuan cantik berbalutkan kain sutra mahal berenda emas. Bunga lily hijau tersemat di rambut pendeknya yang pirang.
“Asyik memperhatikan dirimu sendiri?” ejek River, mengagetkanku.
“Tidak,” jawabku enteng, mencabut hiasan rambutku yang sudah mulai layu.
“Lalu?”
Aku terdiam. Aku terlalu lelah untuk menanggapi celotehannya.
“Apa kau lapar? Aku masih mempunyai sebatang roti keju jika kau mau,” tawarnya.
“Tidak. Terima kasih,” tolakku.
“Kau ingin bermain catur denganku?”
“Tidak. Terima kasih.”
“Mengapa kau terus menolak? Kau tidak perlu sungkan-sungkan.”
“Dia lelah, River. Jangan kau ganggu dia,” sela Mountain, menengahi.
River terus memberondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa memperdulikan saudaranya, “Kau mengantuk? Kau bisa tidur di atas. Kami akan menunggu Gael disini.”
“Tidak. Terima kasih, River,” ulangku lagi. Kali ini suaraku sedikit meninggi.
“Baiklah,” kata River sedikit terkejut, menyerah.
Mountain menoleh ke arahku, “Apa kau yakin tidak salah mengingat hari? Mungkin saja kau berjanji bertemu dengannya besok, bukan hari ini.”
“Tidak. Kami sudah sepakat untuk mengikrarkan hubungan kami pagi ini. Kami sudah merencanakannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak mungkin aku salah. Dan tidak mungkin juga dia lupa.”
“Lalu mengapa ia tidak datang?”
Aku menghela nafas, “Aku tidak tahu, Mountain. Gael tidak memberi kabar apapun padaku.”
River terkekeh, “Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi pada pasangan-pasangan yang datang kemari. Jangan terlalu risau, Linn. Banyak yang bernasib sepertimu. Tidak ada orang yang akan menyindirmu.”
Mountain menyikut rusuk saudaranya, disusul oleh rintihan kesakitan River.
Aku melotot kesal padanya, “Gael bukan pria seperti itu! Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Kuharap dia baik-baik saja.”
”Kira-kira... apakah Gael masih lama, Linn?” tanya Mountain sambil memainkan loket salib putihnya.
”Ada apa? Apa kau akan pergi?” sambung River, menatap Mountain sedih.
”Maafkan aku lupa memberitahumu, River. Aku harus menemani Kid malam ini. Gaius tidak mengizinkan Kid pergi ke Kuil Adel sendirian walaupun sebenarnya dia sudah cukup besar untuk bisa naik kereta seorang diri. Aku harus mengantarkannya sampai tujuan. Begitu pesan Gaius,” aku Mountain, mengalihkan matanya dari River kepadaku.
River mengangkat alisnya, ”Tidak adakah orang lain yang mengantarkannya? Bagaimana dengan Corso?”
”Aku sudah terlanjur menyetujui permintaan Gaius. Lagipula dia sedang sibuk mencari cleric-cleric baru,” Mountain merogoh arloji dari dalam sakunya, ”Ah! Apa kau tidak keberatan, Linn?”
”Aku tidak apa-apa, Mountain. Pergilah. Dan kau juga boleh pergi tidur, River. Aku tidak apa-apa di sini sendirian,” yakinku.
”Tentu saja aku akan menemanimu,” ucap River riang, ”Aku kan orang yang ditugaskan untuk memberkati hubunganmu dan Gael.”
Aku memutar bola mataku, mendengus kesal, ”Terserahlah. Semoga berkat Elios besertamu, Mountain.”
Mountain tertawa geli, ”Kebanggaan bagiku, Linn Orfhlaith. Semoga berkat Elios besertamu juga.”
Lelaki itu berjalan menuju pintu besar di seberang ruangan. Seorang bocah kecil berambut jingga menyambutnya gembira. Mountain menunduk, mendengarkan Kid yang sedang melaporkan sesuatu padanya. Tiba-tiba cahaya bulan yang menyusup perlahan menyingkir digantikan oleh awan hitam. Aku mendongak ke arah bendera-bendera spanduk gereja Elim yang dikibarkan dari balkon lantai dua, berderak-derak satu sama lain. Apakah badai akan datang? Mengapa cuaca berubah begitu cepat?
”Linn!” teriak Mountain samar-samar, suaranya tidak terdengar akibat angin yang menderu kencang, ”Kid bilang bahwa dia melihat warrior muda bersama seorang freezer perempuan sedang menuju kemari. Mungkinkah dia adalah Gael yang kau ceritakan?”
Butuh beberapa menit bagiku untuk mencerna perkataan Mountain, ”Gael memang seorang warrior, tapi aku tidak tahu siapa freezer yang sedang bersamanya.”
Mountain mengangguk, membetulkan letak jubahnya dan merapikan tudung jubah Kid, ”Baguslah kalau begitu. Gael sudah dekat. Sebentar lagi mungkin dia tiba di sini. Aku bisa pergi dengan tenang. Sampai jumpa lagi, Linn. Jaga dia baik-baik, River.”
Kid meraih tangan Mountain dan melambai ke arahku. Aku membalasnya dengan seringai di wajahku, mengiringi kepergian mereka. Tak lama kemudian terdengar bunyi decitan seperti suara pintu yang sudah lama tidak diminyaki. Aku memutar badanku. Jantungku bergedup sangat cepat seolah-olah ingin melompat dari dadaku. Akhirnya Gael datang! Sebuah kepala menjulur, memeriksa keadaan gereja. Hatiku mencelos. Bukan Gael rupanya. Apakah dia freezer yang diceritakan Kid? Jika memang benar, warrior yang tadi diduga sebagai Gael itu ternyata tidak bersamanya.
”Sayang sekali. Kau memang tidak beruntung hari ini, Linn,” River menyenggolku dan menghampiri orang asing itu, ”Selamat datang! Mari masuk! Apakah kau di sini untuk mencari kebenaran?”
”Aku mencari Linn Orfhlaith,” serunya. Bibirnya nyaris tidak bergerak ketika ia berbicara.
Mataku meniti tubuh perempuan itu dari kepala hingga mata kaki. Rambut hitam legamnya yang terkepang rapi menggunakan anyaman pita putih terlihat sangat anggun dipadukan dengan maid costume yang dikenakannya. Raut mukanya keras. Ia mengenggam Poseidon Staffnya erat-erat sampai-sampai buku-buku jarinya memutih.
”Apakah aku mengenalmu?” tanyaku penasaran.
”Aku Yvaine. Aku kakak kandung Gael,” tutur perempuan itu. Suaranya sedingin ekspresinya.
Aku menegang. Aku membungkuk dan meniru gerakan sapaan yang biasa dilakukan oleh wanita-wanita terhormat. Aku menyodorkan tanganku, mengajaknya bersalaman, ”Senang sekali bertemu denganmu, Yvaine. Suatu keberuntungan bagiku diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan kakak Gael. Akhirnya Neza mendengarkan doaku juga.”
Yvaine menepis tanganku, ”Tidak perlu basa-basi, Linn. Aku kemari hanya untuk memintamu satu hal.”
”Ada yang bisa kulakukan untukmu, Yvaine?”
”Bertarunglah denganku.”
Aku tercengang akan permintaannya terhadapku. Aku mematung. Mulutku terbuka lalu menutup, tidak tahu harus berkata apa. Kalimat yang ingin kulontarkan, tertahan di tenggorokanku.
”Kumohon,” tekan freezer itu, mencengkeram pundakku.
River melompat maju, menempatkan posisinya di antara aku dan Yvaine, ”Hei! Tenang dulu!”
”Ta... Tapi mengapa?”
”Perlu kau ketahui, alasan mengapa Gael belum juga datang kemari hanyalah karena dia belum mendapat restuku. Aku tidak tahu bagaimana seorang perempuan dari keluarga yang sangat kaya sepertimu ingin menikahi adikku yang miskin. Aku tak tahu apa yang kau rencanakan. Tapi aku yakin pasti ada udang di balik batu. Kau pasti mempunyai maksud tertentu!”
Badanku mengejang, ”Mengapa kau bicara seperti itu? Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kita tidak saling mengenal. Tega sekali kau menuduhku!”
”Aku tidak ingin menuduhmu, Linn,” ia menenangkanku, ”Bagaimanapun juga, aku belum benar-benar percaya pada pilihan Gael. Aku menyayanginya. Ia pria yang sangat baik tapi aku masih belum yakin. Terkadang ia masih tidak bisa membedakan mana langkah yang harus ia tempuh. Aku tidak mau ia menderita jika ia salah mengambil keputusan. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu bertarung. Aku ingin membuktikan keseriusanmu.”
River mengangkat bahunya, ”Hahaha. Bagaimana bisa kau membuktikan keseriusan seseorang dengan pertarungan? Apa yang kau pikirkan? Kekerasan tidak menjelaskan segalanya.”
”Selama ini aku yang melindungi Gael. Jika kau...” Yvaine menunjukku, ”Jika kau tidak bisa mengalahkanku, untuk apa aku menyerahkan orang yang kusayangi kepada orang yang lebih lemah dariku? Untuk mencelakainya? Lebih baik aku melindunginya dengan tanganku sendiri.”
”Apa hubungannya melindungi Gael dengan keseriusan? Itu satu hal yang sangat berbeda. Mencintai seseorang tidaklah harus selalu diwujudkan dengan perlindungan,” sanggah River, mencoba mendebat Yvaine.
”Ini bukan masalah perlindungan, melainkan masalah pengorbanan. Linn akan melawanku kalau dia memang benar-benar mencintainya. Benar begitu, Linn? Anggap saja permintaanku ini salah satu masalah yang harus dilawan untuk mencapai kesuksesan. Tapi buat apa berkorban nyawa untuk seorang lelaki miskin seperti Gael? Kau cantik dan bisa memikat hati pria manapun yang lebih tampan dan lebih kaya daripada Gael tanpa harus tergores sekalipun.”
Aku menelan ludah dan membusungkan dadaku, ”Aku mencintai Gael. Aku serius padanya. Aku akan bertarung denganmu dan aku tidak akan kalah. Aku akan mendapatkan restumu di akhir pertarungan kita.”
Yvaine menyunggingkan sebuah senyuman yang mematikan, ”Bagus. Aku suka semangatmu. Glacial Shield!”
Kubah biru yang berputar-putar muncul mengelilingi freezer itu, membungkusnya dengan aman.
”Wrath!” sahutku tidak mau kalah, memamerkan lingkaran hijau dengan delapan segitiga yang dapat menambah serangan, salah satu keahlian prophet.
”Kalian tidak boleh bertarung di sini! Ini rumah Elios!” larang cleric berbaju biru di depanku, ”Hei, kalian berdua, dengarkan aku!”
Yvaine menudingkan tongkat trisula birunya, ”Glacier!”
Tanah tempat kami berpijak bergetar. Bongkahan-bongkahan es yang besar dan tajam keluar dari dalam bumi. Pecahan-pecahan keramik lantai gereja berterbangan ke udara. River terjerembab dan aku terlempar ke belakang, tetapi alam bawah sadarku masih bisa mengendalikan keseimbanganku.
Aku berguling ke samping, mengarahkan Redemption Maceku padanya, ”Judgement!”
Piramida api yang menjulang ke atas menghantam Yvaine. Kubah biru yang menyelubunginya menghalangi perempuan itu dari hembusan panas api. Bangku-bangku kayu panjang gereja terdorong ke sisi dinding kiri dan kanan. Sial! Selama dia masih dalam kubah itu, aku tidak bisa melukainya! Kubah itu menyerap semua serangan yang kuberikan padanya.
River merangkak ke anak tangga gereja yang paling dasar. Ia menyumpahi kami berdua dengan segala kalimat kasar yang ia ketahui. Lalu ia bergegas menuju lantai dua, memanggil kawan-kawannya yang lain.
Yvaine menudingkan tongkat trisulanya lagi, membidikku. Mulutnya sibuk merapalkan mantra yang akan ia gunakan untuk menyerangku, ”Time Warp! Ice Coil!”
Sebuah peluru angin menukik dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap manusia biasa tepat ke arahku, menghantam dadaku yang tidak terlindungi. Belum sempat aku menghirup nafas untuk menyegarkan paru-paruku, beberapa peluru angin lainnya melesat dengan kecepatan yang tidak kalah dari peluru pertama, menyusulnya. Aku mendarat mulus di tanah.
”Self Cure!” bisikku lemah.
Aku menyadari lingkaran spiral biru berpendar di bawah kakinya. Time Warp. Sialan! Pantas saja dia bisa menembakkan Ice Coil bertubi-tubi tanpa jeda.
Aku kembali berkonsentrasi. Pandanganku menjamahnya, mencari titik lemahnya. Cih! Buat apa aku susah-susah mencari kelemahannya? Tentu saja dia lemah dalam serangan jarak dekat.Tapi bagaimana aku bisa mendekatinya jika dia terus menembakkan peluru-peluru itu?
”Mega Freeze!”
Yvaine melemparkan Poseidon Staffnya ke udara. Tongkat itu lalu membesar hingga mencapai ukuran yang lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Setelah itu ia melontarkannya, berubah menjadi pusaran angin dengan listrik statis, menyedot apa saja masuk ke porosnya. Aku tidak dapat menahan kekuatan aliran itu. Aku terseret dan terhempas sejauh sepuluh meter. Tiang bendera spanduk gereja Elim roboh menimpaku.
”Arghhh!” erangku.
Tiba-tiba Gaius datang bersama kedua instruktur cleric, Hal dan David yang menginap di gereja lantai atas. Langkah mereka terburu-buru. Mereka kalut.
Hal mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ”Demi Elios! Apa yang terjadi di sini?”
Mata David membelalak melihatku, ”Gaius, seseorang harus bisa menghentikan mereka! Mereka merusak gereja kita!”
”Jangan mendekat!” bentakku, ”Ini pertarunganku dengan Yvaine.”
”Gadis itu sudah gila! Mereka berdua sudah gila!”
”Benar, Gaius, bagaimana jika Archbishop Albion melihat ini semua?”
Gaius mengedipkan sebelah matanya, ”Tenang. Semuanya harap tenang. River, tolong ya! Aku percaya padamu.”
River langsung melesat meninggalkan gereja ini bak macan yang mengejar mangsanya. Aku tidak bisa bergerak. Nyeri kurasakan di sekujur tubuhku dan kepalaku pening bukan main. Semua botol potion yang kubawa pecah akibat desingan peluru-peluru angin, membasahi seluruh bagian depan wedding dressku. Aku menggigit lidahku agar dapat membantuku melupakan rasa sakitku. Kekuatan sihir manaku hanya bisa kugunakan sekali lagi. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan terakhirku.
”Apa kau menyerah, Linn?”
Aku menelan darah di mulutku. Aku terbatuk jijik, memuntahkan semuanya. Aku tidak mengindahkan Yvaine yang terus menjelek-jelekkan diriku. Ayo, mendekatlah kemari sehingga aku bisa menyerangmu.
”Di mana semangat yang tadi kulihat?” sindirnya. Ia tidak bergerak, tetap di tempatnya.
Sial! Mengapa dia tidak mendekat juga! Pengalamannya bertarung memang patut diacungi jempol.
”Apa kau menyerah, Linn? Apa kau tidak malu semua orang melihatmu seperti ini?”
”Repetance,” gumamku tidak jelas, mengelus kepalaku.
”Apa katamu? Aku tidak dapat mendengarmu,”
Aku bangkit, memasang kuda-kuda dan mengayunkan gadaku, ”Aku bilang, Repetance!”
Sinar jingga yang menyilaukan meledak di hadapan Yvaine. Ia dengan reflek langsung menutupi wajah dengan tangannya karena kubah perlindungannya sudah menghilang. Kesempatan!
Aku melancarkan kombo-kombo yang telah kupelajari, ”1000 Aura Pengusir Iblis!”
Freezer itu mundur beberapa langkah. Ia berusaha menangkis pukulanku dengan tongkat dan sihirnya, ”Glacier!”
Para penonton yang berada di balkon lantai dua memekik histeris. Bongkahan-bongkahan es yang besar dan tajam kembali muncul dari bawah tanah, mengenai kami berdua, memaksaku untuk menghentikan serangan jarak dekatku. Luka-luka lebam hantaman maut Redemption Mace-ku mewarnai kulit Yvaine di balik maid costume-nya yang robek. Darah mengalir melalui sela-sela giginya.
Ia meludahkan darah itu, ”Kau orang yang tidak terduga, Linn.”
Aku menyandarkan punggungku pada dinding terdekat, menunggu regenerasi sihir manaku. Nafasku yang berat memburu. Aku bahkan tidak kuat menyangga badanku sendiri. Yvaine menjatuhkan botol-botol potion yang pecah dari dalam roknya. Bagus! Kami seri sekarang. Beruntunglah aku jika dia tidak mempunyai kekuatan sihir mana lagi. Aku masih bisa menyerangnya tanpa sihir mana, tetapi dia tidak bisa menyerangku tanpa sihir mananya.
Yvaine menatapku bengis. Ia melambaikan tongkat trisula birunya.
David mengenali arti lambaian tongkat itu, ”Hei, kau! Gadis prophet! Menyingkirlah!”
”Waterfall!”
Aku tidak dapat memerintahkan diriku untuk menghindar. Badanku membeku dan jantungku melambat. Ratusan rangkaian bongkahan es yang menyerupai bunga es di musim dingin yang sangat indah menyeruak dari dalam tubuhku. Cipratan darah beku mendominasi udara. Rasanya sangat menyakitkan. Dadaku sesak. Bayangan sosok Gael berkelebat di benakku. Aku kalah. Aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Gael lagi. Aku tidak akan pernah bisa memilikinya. Aku memfokuskan diriku agar aku tetap bisa melihat dan mendengar. Tetapi bunyi dobrakan pintu merusak konsentrasiku.
”Kakak! Linn! Apa yang terjadi disini? Apa yang kalian lakukan?”
”Ice Canon!”
Yvaine melontarkan satu bongkahan es bundar yang berdiameter seukuran lima kaki. Es itu dilapisi oleh cincin laser putih, mengoyak tubuhku.
”Hentikan, Kak! Apa yang kau lakukan? Hentikan!”
Gael menghambur kepadaku. Air hujan menetes dari rambutnya. Ia melepas baju martialnya yang basah kuyup, membebat badanku dengan kain itu. Ia menyeka darah dari mulut dan dahiku.
”River atau siapapun! Tolong sembuhkan dia!” pinta warrior itu, panik.
”Mengapa kau berada di sini?” tanyaku lemah.
”Tolong jangan bicara dulu, Linn. River bisakah kau...”
River berjongkok disampingku, ”Cure!”
”Terima kasih, River. Linn, apa kau bisa mendengarku sekarang?”
”Ya,” jawabku tanpa membuka mata.
Gael mendesah, ”Bagaimana keadaanmu? River, tolong sembuhkan dia sekali lagi,”
River mengiyakan, ”Cure!”
Gael mengusapku lembut, ”Bagaimana sekarang, Linn?”
”Lebih baik. Bagaimana bisa kau berada di sini?”
”River memberi tahuku bahwa kalian ada di sini. Aku sedang menunggu Yvaine menyelesaikan pekerjaan yang Rosanne berikan padanya,” ceritanya, mencari-cari kakaknya, ”Yvaine!”
Yvaine tidak bergeming.
”Apa yang kau lakukan, Kak? Aku tidak akan memaafkanmu untuk yang satu ini. Deadly Slash!”
Gael menerjang Yvaine. Muncul pita-pita kuning, jingga dan merah muda yang terjalin menjadi satu, membentuk untaian yang sangat indah namun berbahaya. Yvaine jatuh terduduk, tidak membalas gertakan adiknya.
Wanita berambut hitam itu menekan luka di lengan kirinya, ”Kau menyerang kakak kandungmu sendiri, Gael?”
”Aku...”
”Hanya demi perempuan itu kau menyerangku? Membalas dendam atas seranganku padanya?”
Amarah Gael meluap, ”Apa yang kau lakukan? Kau mencoba membunuh calon adik iparmu sendiri? Apa yang ada di dalam otakmu?”
”Kau memintaku untuk memberikan restuku.”
Gael menggeram, ”Dengan cara menipuku bahwa kau mendapat tugas tambahan dari Rosanne dan datang kemari untuk mencoba membunuh Linn?”
”Aku tidak membunuhnya,” bela freezer itu.
”Dia hampir terbunuh! Bagaimana jika aku tidak datang? Tubuhnya mungkin saja sudah tergeletak tidak bernyawa!”
Aku terisak, ”Sudahlah, Gael. Kau tidak perlu membelaku. Yvaine melakukan hal yang baik untukmu. Jangan kau membentaknya. Aku sama sekali tidak menyesal.”
”Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua pikirkan. Mengapa kalian harus bertarung hanya demi membuktikan sesuatu,” sesalnya.
”Ini caraku, Gael. Setiap orang mempunyai pandangan dan cara yang berbeda untuk mencari jawaban atas suatu pertanyaan. Jangan menghakimiku dan jangan mengajariku apa yang harus kulakukan,” elak Yvaine, ”Lagipula toh aku memberikan restuku pada akhirnya.”
”Apa?” tanyaku tidak percaya.
Gale menghentakkan tangan Yvaine, ”Jangan main-main. Ini bukan saatnya bercanda. Aku tidak akan membiarkan Linn terjebak dalam permainanmu lagi.”
”Ta... Tapi aku kalah dalam pertarungan, Yvaine. Aku tidak mengerti,”
”Ancamanku itu hanya untuk memotivasimu, Linn. Apapun hasil akhirnya, aku melihatmu sangat gigih untuk memenangkan pertarungan ini. Aku melihatmu begitu takut kehilangan Gale. Kau terus bangkit walaupun aku menjatuhkanmu berkali-kali. Aku sudah membuat pilihan. Aku memberikan restuku. Semoga cinta Hesed selalu bersama kalian,”
Senyum Gale merekah, ”Terima kasih. Apa kau melakukan ini karena melihatku sangat murka kepadamu hingga kau menjadi melunak?”
”Tidak. Aku sudah ingin mengatakannya pada Linn, sebelum tiba-tiba kau menyerangku tanpa alasan,” decak perempuan itu.
”Biarpun kau merestui kami, aku tetap tidak akan memaafkanmu karena menyerang calon adik iparmu sendiri.”
”Terserahlah. Aku juga tidak memaafkan dirimu karena menyerangku balik. Jika aku tidak bisa mengontrol emosiku, kau tidak akan bisa selamat melawanku,” kikik Yvaine dengan sombong.
Warrior itu menciumku, membuatku malu. Pipiku memanas. River bersiul dan para instruktur cleric berpura-pura tidak tahu apa-apa.
”River, aku telah bersama pasanganku. Tolong berkati kami,” bujukku.
Gaius mengingatkan, ”Tunggu dulu. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, tetapi seusai prosesi pemberkatan, tolong perbaiki gereja kami. Archbishop Albion akan murka nanti jika melihat gereja kesayangannya hancur lebur seperti ini.”
Semua orang tertawa renyah. Angin bertiup ringan, menandakan badai sudah berakhir. Bulan kembali tersenyum. Gael mendekapku mesra. Aku menangis bahagia di pelukannya, yang kini menjadi pendamping hidupku selamanya. Akhirnya aku mendapatkannya, milikku yang berharga.

***
« Last Edit: November 17, 2009, 10:23:11 AM by nizami »