Author Topic: I Will Always Be With You  (Read 4575 times)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
I Will Always Be With You
« on: October 19, 2009, 02:58:21 PM »
I Will Always Be With You



[Author’s note]
akhirnya jadi juga fanfict ECO pertama gw ^_^
fanfict oneshot ini sebenernya pelarian dari stress gara-gara gak bisa bikin chapter 11 nya fanfict Heart of Sword gw T_T
disini gw mencoba bikin cerita yang berbeda, biasanya gw kan demennya bikin cerita yang ada duelnya @_@
tapi berhubung di sub forum ini gak boleh posting cerita yuuri, jadi gw bikin tentang sister complex (diinspirasi dari karakter gw sama Vionne yang kembar) hehehe

semoga dengan adanya oneshot ini, chapter 11 Heart of Sword gw jadi lebih hidup dan bisa gw posting gak pake lama hehehehe



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © milkteddy 2009

Vionne adalah karakter elementalis punya gw (milkteddy) di ECO server sakura, sedangkan Virrie dan Ortarius adalah karakter knight dan merchant milik Vionne.

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.
ALL RIGHT RESERVED



Aku membuka mata perlahan-lahan, mengintip melalui celah bulu mataku yang lentik. Kegelapan yang tadi ku rasakan, kini dibanjiri oleh cahaya temaram lampu kota. Aku mencoba memberanikan diriku menengok ke sekelilingku. Aku tidak melihat siapapun di ujung jalan ini. Aku sendirian. Aku mengalihkan perhatianku pada indra pendengaranku. Kesunyian mendominasi tempat ini. Aku meraba kedua kakiku, melipatnya dekat dengan dadaku. Tubuhku bergetar sangat hebat. Aku ketakutan. Kejadian apa yang akan ku alami lagi? Tadi aku melihat seorang malaikat berambut emas menyapaku dan sekarang aku terdampar di jalanan ini. Apa aku sekarang berada di surga? Tidak mungkin. Aku harus pergi dari sini.

Aku bangkit dan berjalan tanpa tahu arah yang aku tuju. Aku mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi besar. Aku tidak sadar bahwa aku sudah mulai berlari. Kemana aku harus berlari? Tunggu, mengapa aku berlari? Aku memalingkan wajahku ke kanan. Aku melihat seorang nenek yang tampak sangat elegan dengan syal biru tersampir di pundaknya melambai padaku. Anak kecil berambut cokelat yang berada di sampingnya menyeringai. Aku tidak bisa membedakan apakah itu seringai jahat atau baik. Aku sangat ketakukan. Aku kembali berlari menjauh. Dimanakah aku berada sekarang? Apa sekarang aku berada di surga?

Aku menghentikan langkahku di sebuah persimpangan jalan. Ada seorang wanita yang membalut rambutnya dengan surban putih sedang menjajakan makanannya. Ia terlihat sangat baik dan ramah. Aroma lezat yang tercium dari makanan itu membuatku bergidik. Aku lapar. Sudah berapa hari aku tidak makan? Aku menenangkan nafasku yang terengah-engah sampai-sampai aku tidak menyadari seseorang mendekatiku.

“Hai,” sapanya.

Tangannya yang kecil terulur padaku.

“Siapa?” tanyaku.

Ku terima ajakannya. Ku genggam tangannya yang lembut. Hangat. Rasa takut dan curigaku seketika menghilang. Ku genggam tangannya lebih erat lagi sambil mengamati perempuan itu. Wajahnya tidak asing. Aku mengenalnya.

“Siapa? Apa kita pernah bertemu?” ulangku.


Ia menarik tanganku perlahan. Ia memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Aku tidak mau. Aku tidak beranjak dari tempatku berpijak. Ia sedikit memaksaku, menarik tanganku lebih keras lagi. Aku mengeluarkan rintihan-rintihan pelan tetapi perempuan itu hanya tersenyum.

Ia membawaku berjalan ke sudut kota. Aku melihat rumah-rumah tingkat yang tampak kumuh berjejeran dengan tidak teratur. Bunyi air yang berkecipak terdengar dari arah depan. Ini seperti pelabuhan kecil. Apakah ia akan membawaku pergi dari kota asing ini menggunakan kapal?

Ia membimbingku ke sebuah kaca jendela salah satu rumah penduduk yang sudah retak. Aku membuka mulutku, ingin mengutarakan semua pertanyaan yang memenuhi pikiranku. Perempuan itu lagi-lagi tersenyum. Ia mengendikkan kepalanya menyuruhku melihat apa yang dilihatnya. Aku menatap kaca itu. Aku menatap bayangan yang dipantulkan olehnya.

Dua gadis mungil berdiri pada salah satu sisi kaca yang lainnya. Mereka kembar. Rambut mereka berwarna perak terurai indah menutupi bahu. Mata biru safir mereka menatapku dalam dan lembut. Rona merah bahagia terukir dengan jelas disana. Wajah itu tidak asing. Aku mengenalnya.

“Cantik,” gumamku.

Aku sekilas tidak bisa membedakan mereka. Aku memandangi keduanya.  Gadis di sebelah kanan tampak rapuh. Ingin rasanya aku mengelus rambutnya, memberi dukungan dan semangat. Aku melangkah mendekatinya begitu juga dengan dirinya yang bergerak mendekatiku. Teriakan terkejut spontan meluncur dari bibir kecilku. Dia adalah aku.


Aku merasakan sesuatu di tanganku. Perempuan yang berada di sampingku tadi meremas tanganku.

“Si.. Siapa kamu?” tanyaku tergagap, menjauh darinya.

“Aku Virrie. Jangan takut,”

“Lalu siapa aku?”















“Vionne!” teriaknya kencang, mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras.

Aku tersentak, “Ah?”

Aku mengusap air mata yang menggantung di sudut mataku kemudian merapikan kalung shaman biru langit milikku yang dihiasi jade besar berwarna hijau daun dengan tergesa-gesa. Aku membalikkan badan dan mendapati seorang laki-laki bertubuh tegap berdiri mendampingi Virrie. Hatiku mencelos.

“Melamun lagi?” tebaknya, “Akhir-akhir ini kau sering melamun.”

Ia menghempaskan badannya ke tempat duduk kosong disampingku. Bangku taman itu langsung bergoyang. Nafasnya yang tidak teratur terdengar keras di telingaku walaupun suasana kota sedang ramai.

“Tidak kok,” ku biarkan kata-kataku mengambang, “Dari Morg?”

“Ya,” jawabnya singkat. Ia langsung melahap roti kacang yang dibawanya, “Tega sekali kau membuat janji temu di Upper Iron City. Aku lelah sekali. Kami mendapatkan banyak sekali harta hari ini. Benar kan, Ortarius?”

“Tentu saja. Kita tim yang hebat. Ah! Halo Vionne,” sapa pria itu. Ia menyisir rambut hitam legamnya ke belakang, “Aku Ortarius. Kurasa kita belum berkenalan.”

Aku membenarkan, “Aku tahu. Virrie bercerita banyak tentangmu.”

“Sayang kau tidak bisa ikut bersama kami hari ini. Perburuan tadi sangat mengasyikkan. Kau belum melihat bagaimana dia menjatuhkan beruang gila itu,”

“Tolong jangan membuka aibku di depan Vionne, please? Namaku masih bersih di matanya,” pinta saudari kembarku.

Ortarius terkekeh. Ia menyunggingkan senyumnya. Virrie lalu mencibir tidak suka tetapi mukanya bersemu merah. Aku tahu dia merasa sangat senang.

Aku membuang muka, mengalihkan pandanganku dari mereka berdua, “Ya kau benar. Sayang sekali ya?”

Virrie terperanjat mendengar tanggapanku barusan. Matanya mencari-cari sesuatu yang berusaha aku sembunyikan darinya di wajahku.

“Hmm… Kurasa sampai disini saja, Ortarius. Terima kasih sudah mau mengantarkanku,” ujar perempuan berbaju zirah biru pucat dengan corak ornamen ungu violet itu.

“Bagaimana dengan barang-barangmu? Mau ku antarkan sampai rumahmu?” tawarnya.

Virrie menolaknya, “Sampai Acropolis? Tidak. Besok akan aku ambil sendiri. Katanya kau mau berjalan-jalan di Lower Part?”

“Hahaha. Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok pagi, Virrie. Aku akan menunggumu di kota Acropolis,” ia melambaikan koper kuning antik cerahnya dan mengedipkan sebelah matanya, “Sampai jumpa lagi, Vionne. Jaga dia baik-baik ya.”

Virrie membalas lambaiannya dengan tidak bersemangat. Kami terus menatapnya hingga laki-laki itu tidak terlihat lagi. Beberapa lama setelah itu hening menyelimuti kami.

“Kenapa?” tanyanya. Sebuah nada kecewa mewarnainya.

“Kau tahu aku menunggumu disini sudah berapa lama?” gerutuku tidak senang.

Mulut knight itu memberengut, “Bukan itu yang ingin aku tanyakan.”

“Apa?”

“Sudah berapa lama?” desahnya.

“Apanya?”

“Sudah berapa lama kau tidak menyukaiku berjalan bersamanya?” ucapnya tanpa basa-basi.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu,” elakku.

Ia mendengus keras, berharap aku mendengarnya, “Tapi raut mukamu mengkhianati hatimu.”

Aku membungkam mulutku, diam seribu bahasa. Aku tidak tahu jawaban apa yang akan aku berikan. Lagi-lagi perempuan itu mendesah. Akhirnya aku memutuskan untuk menanggapinya, “Kau akhir-akhir ini sibuk sekali.”

“Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku menginginkan tas jet-pack, Vionne,” tuturnya, “Ternyata penambahan uang hasil penjualan naga kesayanganku pun tidak sanggup untuk membelinya. Almeierku yang malang. Kapan aku bisa mendapatkannya kembali.”

“Tidak. Tidak. Aku tidak keberatan kau selalu pergi siang dan malam,” aku menggeleng, “Kau banyak menghabiskan waktu bersamanya.”

“Bersamanya?”

Aku memutar bola mataku, “Kau tahu. Ortarius.”

“Ha?” timpalnya, “Memangnya tidak boleh?”

“Boleh. Tapi…”

Virrie menaikkan sebelah alisnya, “Lantas apa masalahnya?”

Aku memainkan ikat pinggang coklat celana baggie merahku di jemariku yang lentik. Aku sudah menanti-nanti saat-saat seperti ini. Aku telah menyiapkan berbagai alasan untuk ku lontarkan padanya. Aku tidak dapat berpikir. Aku tidak mengingat apapun. Bodohnya aku. Seharusnya aku mencacatnya saja!

“Kau juga menyukai Ortarius?” tuduhnya sinis.

Mulutku mengatup keatas dan kebawah seperti ikan, “Ap.. Apa?”

“Tidak apa-apa. Kau boleh jujur padaku,”

“Aku tidak menyukainya,” jelasku cepat-cepat, “Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya.”

Virrie menimbang-nimbang pernyataanku, “Lalu apa kalau begitu?”

“Tidak,” aku mengangkat kedua tanganku, “Lupakan pembicaraan ini.”

Aku bangkit dan mengambil tongkat petirku tetapi Virrie menarikku dan menjatuhkanku lagi ke bangku taman. Ia mendadak gusar. Hiasan-hiasan berwarna ungu violet di armor yang dipakainya bergemerincing, bertabrakan satu sama lain. Virrie merapat, mendekatiku.

“Lalu apa, Vionne?” paksanya.

“Aku mempunyai firasat bahwa dia bukan seorang pria yang baik,”

“Kau tidak mengenalnya,” ketusnya.

“Biasanya firasatku selalu benar, Virrie. Kau tahu itu,” bantahku, “Dari dulu sampai saat ini tidak pernah meleset.”

“Mungkin saja sekarang meleset,” bantahnya, “Hanya itu?”

“Hmm… Sejujurnya aku tidak suka kau menghabiskan waktu dengannya. Aku ingin kau menghabiskan waktu bersamaku,”

Aku tidak percaya akhirnya aku mengatakannya. Ternyata tidak sesulit yang ku kira. Aku meremas tanganku yang dingin, menunggu reaksinya.

Ia menatapku tidak percaya “Kau meracau? Aku sedang bersamamu sekarang.”

“Bukan itu, Virrie,” aku memelankan perkataanku, memberi penekanan pada setiap katanya, “Aku ingin selalu di sampingmu setiap saat.”

“Mengapa?”

“Aku tidak tahu,” aku mengangkat bahuku, “Aku merasa kita sangat terikat. Aku merasa aneh jika berada jauh darimu. Apa karena kita adalah saudara kembar?”

“Lantas?” ia menudingku, “Apakah orang kembar selalu bersama-sama setiap saat?”

“Biasanya begitu,” jawabku asal-asalan.

Ia menentangku, “Hanya cerita-cerita picisan dan imajinasimu saja.”

“Kamu tidak mengerti perasaanku,” rengekku.

“Kamu yang tidak bisa mengerti perasaanku,” ia menarik rambutnya dan mengerang, “Apa kau pernah berpikir tentang diriku?”

“Ha?” sergahku, “Kemana arah pembicaraan ini?”

“Kau selalu mementingkan dirimu,” tukasnya.

Nada suaraku meninggi, “Apa masalahmu?”

“Kau tidak sadar ya? Sudah lama aku ingin terbuka padamu. Aku sudah muak dengan ini semua dan segala sikapmu,” protesnya bertubi-tubi, “Aku selalu menuruti permintaanmu. Jika kau menginginkan baju pantai, kau memaksaku untuk memakainya agar kita serasi. Kau tahu sendiri aku tidak suka barang seperti itu.”

Ia terus mengeluh, “Aku harus selalu bertanya padamu. Aku harus selalu bergantung padamu. Setiap aku ingin melakukan sesuatu, aku harus selalu meminta pendapatmu. Kau bilang karena kita adalah orang kembar. Segala sesuatunya harus sama satu dengan lainnya. Tidakkah kau ingat kau pernah berbicara seperti itu?”

Aku terdiam. Aku tidak ingin salah bicara. Aku tahu jika saudari kembarku itu sedang marah, Virrie bisa berubah menjadi sangat mengerikan. Aku memikirkan apa reaksiku selanjutnya matang-matang.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri, Vionne,” lanjutnya. Ia menyantap sisa rotinya dan meneguk jus buah yang tersimpan di kantongnya.

“Kamu sudah menjadi dirimu sendiri, Virrie,” responku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya pelan-pelan. Aku menenangkan diriku.

Virrie tidak sabar lagi. Gigi perempuan itu bergemeletuk, “Aku adalah dirimu. Aku bukan Virrie melainkan Vionne.”

Aku menelan ludahku, “Kau adalah Virrie dan aku adalah Vionne.”

“Terserah apa katamu. Aku merasa seperti bonekamu yang bisa kau dandani sesuka hati. Aku ingin kebebasan. Aku ingin bebas berpendapat. Aku tidak ingin mengenakan segala barang yang sama persis dengan milikmu. Aku ingin berbeda. Aku sudah muak melihat dirimu di dalam diriku. Aku muak mengenakan barang yang kau kenakan. Aku ingin menjadi diriku sendiri, Vionne. Aku ingin menjadi Virrie. Satu-satunya Virrie bukan dua orang Virrie,”

Aku merenung. Mungkin memang benar apa katanya. Aku sudah kelewat batas. Tapi hatiku selalu memanggil namanya. Pikiranku selalu mencari bayangannya. Aku ingin selalu berada di sampingnya walaupun Virrie tidak suka.

“Tentang Ortarius. Aku tahu kau sebenarnya tidak memiliki firasat buruk tentangnya. Aku tahu kau hanya ingin menjauhkanku darinya. Kau tidak ingin siapapun merebutku darimu kan?” duganya.

Kali ini aku benar-benar marah, “Aku tidak akan membohongimu, Virrie. Membohongimu sama saja dengan membohongi diriku sendiri.”

Ia menyangga kepalanya dengan tangannya, “Mungkin kita cukup sampai disini.”

Aku tercekat, “Apa maksudmu?”

“Aku butuh waktu untuk sendiri,” terangnya.

“Jangan menggodaku. Aku tidak bisa sendirian tanpamu, Virrie,” bujukku, memeluk lengannya.

Virrie menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Aku melongo tidak percaya. Aku terus mencengkram tangannya sampai ia melepaskannya dengan berat hati.

“Katakan padaku. Kau hanya bercanda kan, Virrie? Iya kan?” isakku parau. Air mataku kembali merebak di sudut mataku.

Knight itu berdiri memunggungiku dan mengibaskan tombaknya ke atas, “Selamat tinggal, Vionne. Semoga harimu menyenangkan.”



Aku mengelus rambutku yang baru dan menelusuri panjangnya dari ujung hingga pangkal. Aku menyisirnya dengan jariku yang lentik, merasa lega bahwa panjangnya hanya mencapai setengah leherku bukan menutupi bahuku seperti biasanya.

“Kau terlihat lebih segar dengan potongan rambut pendek, Virrie,” komentar Nibelungen, membetulkan posisi choker hitamku yang miring.

Aku mengamati pantulan bayangan cermin miliknya. Sempurna.

“Aku merasa menjadi diriku yang baru,” sahutku sangat puas dengan hasilnya, “Apa kau punya cat rambut berwarna hitam, Nibelungen?”

Pria dengan topi beret berwarna merah itu mengangguk. Jas yang menyerupai bulu-bulu hitam dan putihnya ikut bergoyang seirama dengan anggukannya, “Aku dapat menambahkannya ke dalam nota pembayaranmu jika kau mau.”

“Tolong, please,”

Ia mengangguk sekali lagi dan mencatatnya, “Apa kau akan menggunakannya untuk dirimu sendiri?”

Aku mengiyakannya, “Tentu saja.”

“Tapi rambut perakmu itu sangat indah. Sayang jika kau menghilangkannya,” sarannya.

“Aku ingin mencoba suasana baru. Sudah lama aku ingin mempunyai rambut pendek yang hitam berkilauan,” kekehku geli. Kapan lagi aku mencoba untuk tampil beda tanpa harus meminta persetujuan dari orang lain?

“Kau ingin aku memakaikannya padamu sekarang juga?” tawarnya.

“Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri,” tolakku.

Aku menyelipkan beberapa keping emas ke telapak tangan hair stylist itu, mengambil bungkusan yang telah disiapkannya dan berjalan pergi meninggalkan salonnya. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku bertemu dengan seseorang yang kucintai  berjalan bersama seorang perempuan yang tidak ku kenal.

“Ortarius,” sapaku, mencoba menjernihkan pikiranku dari segala dugaan-dugaan yang buruk tentangnya.

Pria berbaju hitam itu berputar dan terkejut. Aku melirik ke arah perempuan mungil yang mengenakan tiara berhiaskan berlian merah yang di gandengnya. Ia terlihat cantik dengan aksesoris kepalanya yang sangat mahal.

“Kau…” pedagang itu menebak, “Virrie?”

Aku tersenyum, “Halo, Ortarius. Sebuah kebetulan setelah kau tidak menemuiku lama sekali.”

“Kau terlihat berbeda,” pujinya. Ia memperhatikanku, “Kau manis sekali.”

“Terima kasih,” balasku, “Siapa dia?”

“Dia adalah kekasih baruku,” akunya malu-malu. Ia berdeham pelan, “Kenalkan. Dia Kalrathia.”

Vates itu mengulurkan tangannya padaku, “Halo. Aku Kalrathia. Senang berkenalan denganmu.”

“Virrie,” jawabku singkat, tidak menyambut uluran tangannya.

Perempuan berambut biru langit itu menoleh ke arah Ortarius dengan pandangan bertanya dan malu. Ortarius mengedipkan matanya kepadaku tetapi aku tidak kunjung menyambut uluran tangan Kalrathia. Tiba-tiba suasana diantara kami menjadi kikuk.

“Tunggu sebentar, Kalrathia sayang,” Ortarius menarikku menjauh dari Kalrathia, berbisik pelan di telingaku, “Jangan bersikap begitu.”

Aku mengangkat bahuku pura-pura tidak tahu, “Apa maksudmu?”

“Kasar kepadanya. Kau membuatku sedih,” katanya.

Aku membela diri, “Aku tidak kasar kok.”

“Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu. Kebaikan kita,” tuturnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku sungguh-sungguh. Kali ini aku tidak mengerti jalan pikirannya.

“Kalrathia adalah penyembuh yang cukup ternama di kota Acronia ini. Namanya terkenal di empat fraksi. Kau dapat membayangkannya?” Ortarius menepuk punggungku pelan dengan tas tangan birunya.

“Lalu?”

“Kalrathia selalu menawarkan daganganku kepada setiap orang yang datang meminta bantuannya,” imbuhnya dengan bangga, “Dengan begini, aku bisa membelikanmu jet-pack impianmu dan kita bisa hidup bahagia selamanya.”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Aku meletakkan tangan kiriku diatas tangan kananku. Bulu kudukku meremang.

“Kau bisa memilih kota dan fraksi yang ingin kau tinggali. Aku sarankan Morg karena disana adalah kota para penambang,” paparnya, ia mengelus punggungku dengan lembut, “Kau hanya perlu sedikit bersabar, Virrie. Kita tidak perlu bersusah payah pergi ke Dead Mine lagi untuk berburu harta. Kau tidak perlu menabung lagi dan kau bisa mendapatkan Almeier kesayanganmu kembali. Kurasa naga itu masih ada pada pedagang itu.”

Aku membungkam mulutku, menolak untuk berbicara. Aku terlalu terkejut dan tidak  bisa mencerna semua penuturan dan kejujurannya yang tiba-tiba.

Pria itu mengalihkan pandangannya dari Kalrathia kepadaku, “Kenapa, Virrie? Kau tahu hanya kau satu-satunya wanita dalam hidupku.”

Ortarius merengkuh tanganku tapi aku menepisnya, “Bagaimana dengan Kalrathia?”

“Kau hanya perlu sedikit bersabar, Virrie,” yakinnya, “Serahkan Karathia padaku. Aku hanya memintamu bersikap baik padanya. Dia anak yang sangat mudah terluka hatinya.”

“Kau…” aku tidak menyelesaikan kalimatku. Dadaku terasa sangat sesak, “Tentu saja. Dengan senang hati.”

Aku menghampiri Kalrathia. Ortarius menyusul di belakangku.

“Senang bertemu denganmu,” aku memeluk vates itu. Aku berbisik sangat pelan di telinganya, “Hati-hati. Kurasa pacarmu itu pria yang sangat brengsek.”

Aku tersenyum padanya. Kalrathia menatapku bingung. Aku meminta diri pada mereka. Aku tidak lupa mengecup pipi Ortarius satu kali sebelum aku berjalan pergi menjauh selamanya darinya. Sayup-sayup ku dengar suara perempuan meninggi dan suara lainnya yang lebih rendah meminta maaf berkali-kali pada Kalrathia. Aku mengusap bibirku dengan kasar, seperti membersihkan kotoran yang menempel dengan tidak sengaja. Aku meludahkannya. Bulu kudukku kembali meremang.

Aku berhenti dan berjongkok di dekat tong sampah. Aku mengeluarkan seluruh sumpah serapah yang ku ingat di kepalaku. Aku menutupi seluruh wajahku dengan kedua tanganku, menyesali perbuatanku. Penjaga kota Acropolis yang berpakaian serba merah tidak sengaja memergokiku. Ia terbatuk-batuk, berusaha menahan tawa. Aku tidak memperdulikannya.

Aku sangat malu untuk mengakuinya, “Kurasa firasat Vionne lagi-lagi tidak meleset. Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?”



Aku menempelkan tanganku di sebuah kaca jendela yang basah. Aku menyeka air hujan yang bersarang disana, membersihkannya agar aku bisa mengintip ke dalam kafe itu. Aku mendekatkan wajahku. Ruangan itu terang dan penuh sesak oleh para pelanggannya. Kehangatan yang memancar darinya menggodaku untuk mengetuk pintu dan memesan segelas susu hangat. Aku menengadahkan kepalaku ke langit. Hujan yang sangat deras membasahiku. Aku menggeleng, mengingatkan diriku akan maksud tujuanku datang ke tempat ini.

Mataku menjelajahi kafe itu. Setelah beberapa menit mengamati satu persatu orang disana, aku menemukan seorang shaman cantik yang duduk di sudut ruangan. Rambut peraknya yang berkilauan sangat indah karena lampu kafe yang berpendar diatas kepalanya, digerai di bahunya. Baju merah putihnya yang modelnya menyerupai kostum penjaga kuil itu masih dikenakannya. Persis seperti yang ku ingat. Tidak ada yang berubah.

Aku menatapnya. Perempuan itu menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya yang dilipat diatas meja. Aku tahu ia sedang bersedih. Kenapa? Tiba-tiba aku merasakan nyeri menyegat di dadaku. Aku memegangnya, berharap sakit itu akan mereda. Tanpa ku sadari mataku berair. Aku mengerjapkan kedua mataku, menyekanya dengan tangan. Aku tidak mungkin menangis. Seorang knight tidak mungkin menangis.

Aku membalikkan badanku, tidak sanggup melihat pemandangan itu lagi. Aku meletakkan kedua tanganku diatas pangkuanku. Aku hanya ingin memeriksa apakah dia hidup bahagia atau tidak. Tapi mengapa apa yang kulihat tidak sesuai dengan bayanganku? Mengapa Vionne menangis? Apa yang membuatnya sedih? Apakah itu salahku?

Aku berlutut. Air hujan masih menerpaku tiada hentinya. Aku membenamkan mukaku diantara dua kakiku. Aku menggigil kedinginan. Sebenarnya untuk apa aku disini? Mengapa aku tidak mencari tempat untuk berteduh? Tapi bagaimana jika dia melihatku disini mengamatinya? Dimana harga diriku?

Hawa dingin merasuki tubuhku. Aku tidak dapat berpikir lagi sampai ingatan-ingatan tentang Vionne membanjiri otakku. Aku ingat saat aku mengulurkan tanganku saat pertama kali kami bertemu di Down town. Aku ingat bagaimana rasanya melihatnya tersenyum senang. Aku ingat bagaimana rasa hangat genggaman tangannya. Aku ingat bagaimana aku melukai hatinya waktu aku menepisnya. Aku meninggalkannya sendirian. Aku tidak lagi berbicara dengannya. Aku tidak pernah memikirkannya lagi sampai Ortarius mengkhianatiku. Aku…

Aku membuka mataku. Aku menyibakkan rambut perak pendekku yang basah. Aku memegang ujungnya. Rambutku sekarang sudah pendek. Aku ingat saat aku memotongnya karena aku tidak ingin mengingat segala sesuatu tentang Vionne. Aku tidak ingin mempunyai barang yang sama dengannya sampai rambut sekalipun. Aku ingat bagaimana perasaanku ketika aku sangat teramat ingin mengecatnya menjadi hitam.

Kali ini aku menangis tersedu-sedu. Aku menangis? Aku tidak pernah menangis. Aku ingin sekali menghentikan tangisku tetapi aku sedih sekali. Aku menggeleng. Dadaku sesak sekali. Aku mengusap air mataku. Aku membuang semua rasa maluku untuk menangis. Aku benar-benar menyesali semua perbuatanku. Mengapa aku meragukannya? Firasatnya mengenai Ortarius benar dan aku memang salah. Selain itu menjadi kembar tidak selamanya buruk. Bukankah aku bisa membuat sedikit perbedaan dengannya. Mengapa aku harus meninggalkannya? Mengapa sikapku begitu bodoh? Sekarang aku tidak mempunyai teman lagi. Aku sangat merindukannya. Aku sangat membutuhkannya. Aku sendiri sekarang. Sendiri.

Tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Aku kembali mengusap mataku untuk yang kesekian kalinya. Bagaimanapun aku tetap saja malu biarpun aku sudah membuang semua rasa maluku untuk menangis. Aku membenamkan kepalaku semakin dalam diantara kakiku. Aku tidak mau orang itu melihatku menangis.

Sesuatu melindungiku dari derasnya hujan. Aku mendongak keatas. Seorang perempuan berlutut di hadapanku. Sebuah payung merah jambu yang sangat lucu ada di tangannya.

“Hai,” sapanya.

Tangannya yang mulus dan putih bak porselen terulur padaku.

“Vionne?” tanyaku tidak percaya.

Ku terima ajakannya. Ku genggam tangannya yang lembut. Hangat. Rasa takut dan curigaku seketika menghilang. Ku genggam tangannya lebih erat lagi sambil mengamati saudari kembarku itu. Wajahnya asing. Aku tidak mengenalnya. Dia bukan Vionne yang ku kenal.

“Kau terlihat sangat sedih,” ujarku hati-hati.

Ia menarik tanganku perlahan. Ia memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Aku segera beranjak dari tempatku berpijak dengan pandangan bertanya-tanya.

Ia membawaku berjalan ke pinggir kota. Aku melihat rumah-rumah para petani yang bermukim di kota timur ini. Ia membimbingku ke sebuah kaca jendela salah satu rumah penduduk. Aku membuka mulutku, ingin meminta maaf atas segala kesalahanku padanya. Perempuan itu lagi-lagi tersenyum. Ia menempelkan jarinya yang lentik di bibirku. Ia mengendikkan kepalanya menyuruhku melihat apa yang dilihatnya. Aku menatap kaca itu. Aku menatap bayangan yang dipantulkan olehnya.

Dua wanita cantik berdiri pada salah satu sisi kaca yang lainnya. Mereka kembar. Rambut mereka berwarna perak terurai indah, satu panjang menutupi bahu dan satu menggantung diatas bahu. Mata biru safir mereka menatapku dalam dan lembut. Rona merah bahagia terukir dengan jelas disana. Wajah itu tidak asing. Aku mengenalnya.

“Cantik,” gumam Vionne.

“Vionne,” panggilku.

Ia menyisir rambut pendekku dengan jarinya, “Ya?”

“Kau tidak marah padaku?”

Shaman itu meraih tanganku, “Aku kan tidak pernah marah padamu.”

“Vionne,”

“Ya?”

“Jangan pernah pergi dariku lagi,” pintaku.

“I will always be with you, Virrie. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” janjinya.

Aku menyunggingkan senyumku yang sangat ia suka. Vionne memeluk pinggangku dan aku menggelayut di tubuhnya. Aku kembali memperhatikan kaca itu. Aku tidak bisa membedakan kedua wanita itu. Aku memandangi mereka. Dulu kami sama-sama melihat Vionne tampak rapuh. Tapi sekarang aku tidak dapat melihat kerapuhan dalam dirinya. Aku dan Vionne saling melengkapi. Kami tidak dapat dipisahkan.



« Last Edit: December 30, 2009, 12:17:44 PM by Vionne »

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: I Will Always Be With You
« Reply #1 on: October 19, 2009, 03:35:11 PM »
>w<
bagus bgt cc >w<
suasana sister complex nya bner2 kerasa yah.... :D

tp yg ini aku aga bingung...
Quote
Kau tidak ingin siapapun merebutku darinya kan?” duganya.
-ku dari nya ato -nya dari ku ato -ku dari mu..? @__@
bingung >.<
« Last Edit: November 17, 2009, 12:25:05 PM by Vee »
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: I Will Always Be With You
« Reply #2 on: October 19, 2009, 03:55:39 PM »
wah thx koreksinya >_<

pingin nulis gini wkwkwkwk
Quote
Kau tidak ingin siapapun merebutku darimu kan?” duganya.
« Last Edit: November 17, 2009, 12:24:39 PM by Vee »

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: I Will Always Be With You
« Reply #3 on: October 20, 2009, 06:56:04 AM »
fa, rambut orta bukannya kuning/blonde ya? kok item?   ::)
udah minta ijin tyr buat jadiin orta playboy? wakakakakaka  :))

nice oneshot, anyway.
tapi buat gw sih blm terlalu 'sister complex', sedikit ya ada. cuman lbh kerasa krn "ya lu kan keluarga gw" gitu...


sekali-kali bikin sudut pandang orang ke3 dong, fa? perasaan ceritamu pake sudut pandang orang pertama mulu :P
lurker on the move
bye bye forum~

Offline Vionne

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1160
  • Cookie: 51
  • The Searing Arrowflight of Quel'thalas
Re: I Will Always Be With You
« Reply #4 on: October 20, 2009, 11:12:58 AM »
@fa
bagus lho fa, tapi gw sependapat ama nike. belom terasa banget sisconnya :D

terus orta itu blonde lho :)) lebih terkesan playboy kan kalo blonde? n gw rasa emang karakternya orta di ECO seperti itu :D top deh!
"Everybody loves being bad. I'll be the good one. For you!" *chuckles*
Zalmaral Noctivenum

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: I Will Always Be With You
« Reply #5 on: October 20, 2009, 12:52:58 PM »
@vivi
oiyaaaa
lupa kalo rambut orta blonde wkawkawkawka
jadi malu ahhhh

*blushing*

maafkan diriku
ingetnya bajunya yang kayak dedi cobusier sih wkwkwkwk


@ce niz
dulu kayaknya waktu battle 1+2 bikinnya dari sudut orang ketiga
terus bikin sudut pertama enak sih >_<
nanti FF berikutnya gw coba yang orang ketiga deh heuheuheu
doakan saya ya ;_;


anyway, thanks komennya ya hehehe

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: I Will Always Be With You
« Reply #6 on: October 20, 2009, 02:46:35 PM »
hehe, just asking kok :P
ga maksa kok make sudut pandang yg mn. yg penting yg kmu paling nyaman aja, ok  ;)

coba diperbaiki supaya sisconnya kerasa, fa. tetep ga boleh yuri :P
tapi... yaa... nyerempet shoujou ai dikit mah boleh. mungkin biar kerasa sisconnya, si kembar itu harus lebih terobsesi ama kembarannya yg lain.
tau kan beda shoujou ai ama yuri?
lurker on the move
bye bye forum~

Offline kattie

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1013
  • Cookie: 47
  • baby you are kidding me ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha~
    • shinnyhell.deviantart
Re: I Will Always Be With You
« Reply #7 on: October 21, 2009, 04:53:12 PM »
wheee <3
*whistle*
nice

setuju ama cinike ama vivi. kurang kerasa emang.
sayangnya ini oneshot ya ;_;
kaga ada lanjutannya dong ;_;

btw fa, ga dikasih tag [OneShot]?
« Last Edit: October 21, 2009, 04:54:51 PM by kattie »

avvie by vionne (gate00)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: I Will Always Be With You
« Reply #8 on: October 21, 2009, 08:56:16 PM »
iya oneshot heuheuheuheuheu

lagi gw remake nih
mau gw kasih tag [remake] kalo udah kelar wkwkwkwk
kalo dikasih tag [oneshot] nanti kebanyakan deh
[remake][oneshot]I Will Always Be With You
nah loh wkwkwkwk


itu masih 3,1k an karakter sih
harusnya emang 10k an kan kalo oneshot ;_;
nanti kalo udah kelar gw posting lagi dan minta komen2nya lagi heuheuheu

Offline Natsuki

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 241
  • Cookie: 45
  • Makeruna!! (>u<)9
Re: I Will Always Be With You
« Reply #9 on: December 04, 2009, 04:22:15 PM »
Hyah..keren..hehehe~ :puppyeyes:

lain kali mau coba bikin juga ah, hehehe soalnya q ni cuma bikin FF anime jha..^^

oh ya, kalo ada FF baru lagi, kasih tau yah..^^   :hi:
I'll always waiting for you from far away..