Author Topic: [ECO Fanfic] Mignonette  (Read 35476 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
[ECO Fanfic] Mignonette
« on: November 30, 2009, 07:55:29 PM »
Mignonette ~ An Emil Chronicle Online Fan Fiction



Prologue
~The Beginning of All~



Pendahuluan:
Fan fiction pertama nih, di forum ini... maaf jika masih banyak kesalahan, misal salah penulisan, salah kata, terlalu tidak becus menulis FF, dan sebagainya. xD

Oh iya, sebelum Anda membaca Fan Fiction saya... ada satu syarat yang harus saya berikan... Anda semua, wajib memberi komen! :laugh: Sa, minna-san, please enjoy~




DAKK!! Tebasan terakhir Phrite segera membunuh monster Urchin ungu itu. Phrite mengusap dahinya, sedikit lega karena telah selamat dari serangan terakhir sang monster yang tampaknya akan berakibat fatal. Sesuatu yang ditinggalkan oleh monster itu mengalihkan perhatiannya.

"APA? URCHIN SPINE LAGI??" teriak Phrite, terkejut. "Uuh..." diambilnya barang drop dari monster itu dengan bergumam kecil, "... genap 9 Urchin Spine deh! Saatnya untuk menukar ini kepada mbak-mbak penjaga Cafe! Hihihi...." Dengan langkah kaki yang riang ia segera bergegas menuju ke jalan raya lagi, tempat Cafe Quest berada.

Setelah mendekat, dengan gugup Phrite menyapa gadis penjaga yang tampaknya cukup muda itu. "Ehmmm..." Phrite memulai dengan ragu-ragu, padahal 9 buah Urchin Spine sudah ada di tangannya. "Anu..."

"Ya, mau melihat-lihat quest?" sahut gadis tersebut dengan suara yang lembut namun tanpa basa-basi. Phrite menjadi sedikit lebih bersemangat. "Masih ada quest mengumpulkan 3 Urchin Spine?" tanya Phrite, ragu kembali.

"Hmm..." Gadis itu terlihat mengecek sesuatu. "Masih, kita masih membutuhkan sembilan, malahan. Kau mau mengambil quest ini?"

"Ya! Bahkan itemnya sudah ada di sini, tepat sembilan Urchin Spine!" Diletakkannya barang-barang yang diperlukan kepada gadis itu. Dengan gembira gadis itu menghitung kembali jumlah Urchin Spine. Setelah selesai, ia berkata, "Terima kasih, memang tepat sembilan. Ini sebagai imbalannya," ujar gadis itu sambil menyodorkan sekantung emas.

"Wah, terima kasih banyak!" seru Phrite gembira. Dengan hati-hati ia memasukkan kantong tersebut ke dalam tasnya.

"Kembali kasih," jawab gadis itu sambil tersenyum. "Kami selalu senang saat kamu menerima beberapa quest kami karena hasil pekerjaanmu sangat memuaskan," gadis itu antusias. "Lagipula kami memang benar-benar butuh Urchin Spine ini. Terima kasih sekali lagi atas kerja kerasmu!"

"Ya, sama-sama," ujar Phrite menjauh sambil melambaikan tangan. Gadis itu pun membungkuk, merespon lambaian tangan Phrite. Namun selagi ia berlari, sesuatu yang hangat menyelimutinya, kabut keemasan tiba-tiba muncul dari tubuhnya. Phrite berhenti bukan karena takut, melainkan luar biasa senang.

"Naik level!!" Phrite berteriak keras, tidak memedulikan orang-orang yang memandangnya dengan aneh. Segera ia melanjutkan perjalanannya, menuju Uptown. "Yes, akhirnya aku bisa berganti job," pikir Phrite. "Tapi job apa ya, yang enak..."

Tanpa sadar ia telah sampai ke gerbang Utara Uptown. Phrite menguatkan dirinya untuk melihat wajah si penjaga gerbang yang galak itu. Didekatinya dengan hati-hati, sambil berkata, "Emm.. Oom, saya mau masuk ke Uptown... ini pass saya." Disodorkannya Acropolis Uptown Pass itu dengan takut-takut.

Penjaga gerbang itu tak berkata apa-apa, hanya memandangnya sekilas dengan wajah garang, kemudian mengambil pass yang dipegang Phrite dengan cepat dan menelitinya baik-baik. Beberapa detik berlalu dengan menegangkan, namun akhirnya si penjaga gerbang berkata, "Baik. Kau boleh masuk."

Segera saja wajah Phrite berubah menjadi cerah, ia mengambil kembali pass-nya dengan riang dan berkata, "Waah, terima kasih Oom Penjaga Gerbang!! Omong-omong, Oom itu awet muda loh! Hehehehe..." Phrite memasuki Uptown cepat-cepat karena takut jangan-jangan nanti ia dirajam pakai batu oleh Penjaga Gerbang itu.

***


"Wow... ramai," batin Phrite, sedikit pusing. Banyak sekali orang berjualan di kota dengan sembarangan. Ada yang di tengah-tengah jalan, di dekat si Guild Merchant yang baik hati, sampai-sampai di Guild Palace saja ramainya minta ampun! "Apa-apaan..." pikir Phrite, kesal, ketika mendapati bahwa bukan saja orang-orang jualan saja yang memenuhi tempat di depan Guild Palace, tapi juga beberapa airship raksasa yang mendominasi langit Uptown. "Kota atau kota ini..." batin Phrite, yang langsung memasuki gedung Guild Palace cepat-cepat karena pusingnya bertambah parah. Tak lupa ia tersenyum kepada si robot kaleng yang menjadi penunjuk arah di Uptown ini. Tanpa dia, Phrite bisa-bisa ditemukan menjadi bangkai di sudut jalan di samping salon si Nibelungan, mati kelaparan karena seminggu tidak makan, hanya digerecoki sandwich jualan orang dengan harga 50.000 gold.

Begitu masuk, Phrite dikejutkan dengan keberadaan seorang gadis cantik bersayap enam. Dengan senyum yang luar biasa manis sehingga hati pria manapun pasti meleleh saat melihatnya, gadis itu berkata, "Selamat datang di Guild Palace. Ada yang bisa kubantu?"

"Ah... se.. sebentar... ak... aku bingung... " Phrite gagap karena kecantikan gadis itu menyilaukan.

"Bingung karena apa? Tanyakan saja kepadaku," jawab gadis itu lembut, bajunya melambai bagai terkena angin.

"Em...."

Alhasil, Phrite hanya berdiri di depan gadis cantik tersebut dengan sekujur tubuh berkeringat dingin, begitu kebingungan sehingga seseorang mendekat...



Phrite bingung, namun karena apa, karena mbak2 menyilaukan atau karena tidak tahu job apa yang akan dipilihnya? Dan siapakah orang yang mendekat itu? Bisa saja orang itu adalah... ANDA?!

o.O

Nantikan chapter lanjutan yaitu "Pathway of Destiny", chapter pertama dari Mignonette~!



Anyway, beribu terima kasih karena telah menghabiskan waktu dengan membaca FF ini.  :sing:

Semoga yang membaca diberi keberuntungan dan diberkahi dalam hal apapun...
:puppyeyes: :hi:



List of characters: FYMI ~ For Your Mignonette Information

List of Chapters (and the links) respectfully:

Chapter 1 - Pathway To Destiny
Chapter 2 - Elation of Hunt
Chapter 3 - A Mind Beside Itself
Chapter 4 - Chaos In Motion
Chapter 5 - Anxiety
Chapter 6 - Anxiety
Chapter 7 - Uncovering The Mist
Chapter 8 - A Realized Hope
Chapter 9 - That Blue Haired Woman
Chapter 10 - Before The Storm
Chapter 11 - Fear of The War
Chapter 12 - Acronian War, part I, part II, part III (in-progress)


DISCLAIMER

Spoiler for Mizu's Note:
cc milkteddy dan cc nizami, saya akan memakai disclaimer versi anda, ya. Lebih mengena soalnya :confuse:

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

And these characters are not mine either:
  • Zerou ~ belongs to shirouamada
  • Ramero ~ belongs to sedr5
  • Kuro Yuki ~ belongs to KuroYuki
  • Demon Prince ~ belongs to KuroYuki's brother
  • Sachiko ~ belongs to sacchan_magician
  • Gumi ~ belongs to mejretz
  • Kyuu ~ belongs to AntiBExistance
  • Ragestor ~ belongs to sedr5
  • Lilaca ~ belongs to Roseline
  • Alceus ~ belongs to shinigami_boy
  • Eter ~ belongs to games_onyx
  • Alluminia | Eryn | Serix ~ belong to whyyou
  • Mainer ~ belongs to mainerManiac (in-game)
  • Asagami Kurogane ~ belongs to thelighthalzen
  • Remia ~ ECO's NPC



© 2009-2013 by Mizura.
All rights reserved. No part of this document may be reproduced or transmitted in any form or by any means: electronic, mechanical, photocopying, recording, ETC without the author's permission, except for private use only.



Beginning to start my most ambitious project ever: rewriting each and every chapter!
« Last Edit: August 07, 2014, 08:35:17 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 1: Pathway of Destiny
« Reply #1 on: December 05, 2009, 03:09:08 PM »
Chapter One
~Pathway of Destiny~



TS' Notes:
Maaf ya agak lama... tersandung karena ujian  :cry: Anyway, inilah chapter pertama dari Mignonette, hope you'll enjoy it. Maaf kalau dirasa terlalu pendek, atau malah terlalu panjang, atau terlalu santai, atau *blablabla* Harap komen! xD





Peluhnya merayapi sisi samping wajahnya. Tak terasa, tubuhnya gemetar sendiri seperti agar-agar, matanya berkunang-kunang. Tangannya bergerak ke depan dahinya dengan lemah, berusaha menyapu sisa-sisa keringat dingin yang terus menerus keluar dari pori-porinya yang halus. Sementara itu, di depannya berdirilah seorang gadis yang kecantikannya membuat semua kepala menoleh, dan senyumannya membuat para penjahat sekalipun luluh hatinya. Sayapnya yang berjumlah tiga pasang itu mengepak-ngepak lemah, seakan sayap tersebut sangat rapuh, sekali kena sentuh saja akan pecah berantakan. Ia bertanya dengan lembut, suaranya merdu bagaikan suara biola yang paling indah,

"Hei, gadis kecil, mengapa engkau gugup? Adakah yang bisa kubantu untuk meringankan penderitaanmu?"

Phrite yang masih gugup bertambah gugup. Uuh, rupanya ia selain cantik juga puitis, batin Phrite. Tapi masalahnya aku takut kepada orang yang puitis!! tambah Phrite dalam hatinya, kalut. Tapi Phrite menyadari, ia tak boleh berdiri dengan tolol seperti ini terus, ia harus mendapatkan keberaniannya lagi. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, suatu tepukan lembut di bahunya membuatnya terlonjak.

"Hei, kenapa kamu berdiri mematung di sini? Aku kan mau lewat!" sahut seseorang dengan nada bukan marah atau jengkel, melainkan bingung.

Saking kagetnya Phrite, ia hanya sempat mengucapkan satu patah kata yang terdengar sangat meminta belas kasihan, "Maaf," kemudian Phrite kabur ke luar gedung itu. Ia sudah tak tahan lagi menghadapi gadis puitis mengerikan, ditambah dengan fakta bahwa orang yang menepuknya di bahu tadi itu... mengejarnya!!

"Hei, tunggu! Aku tak bermaksud membuatmu takut! HEY!" teriak orang itu, tersengal-sengal. Phrite berlari dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, ternyata orang itu lebih cepat larinya daripada Phrite. Dalam beberapa menit ia sudah memegang tangan Phrite kuat-kuat. Phrite masih gemetar.

Masalah! Pasti masalah!!* batin Phrite. Ia berkata takut-takut, "Ampun kakak! Aku mau diapakaaan?! Tolong jangan diapa-apakan!!"

"Memangnya aku orang hidung belang?" jawab orang itu, sedikit tersinggung. "Aku hanya mengejarmu sampai ke South Acronia ini hanya untuk meminta maaf, itu saja." Setelah ia yakin Phrite tidak akan kabur lagi, ia melepas tangan Phrite yang sejak tadi dipegangnya. Mau tak mau Phrite menjadi lega, sebab ternyata pegangannya sakit sekali.

"Oh... maafkan aku. Aku belum memperkenalkan diri ya? Namaku Zerou. Aku seorang Merchant," sahutnya. "Merchant yang selalu sial, tapi," ia menambahkan, dengan air muka pasrah.

"Aku... Phrite, Novice," Phrite menjawabnya dengan sedikit malu. Setelah Phrite meneliti baik-baik orang itu, yang tampaknya kelelahan mengejar Phrite, ia berseru, "Aduh! Maaf tadi aku memanggil 'kakak'. Harusnya aku memanggil..." Phrite tak yakin, "... Oom ya?"

Zerou terperanjat. "HAH? Memangnya aku sudah tua?! Maaf ya, aku ini memang kelihatan tua tapi aku ini sangat muda! Umurku baru dua puluh!"

Sekarang ganti Phrite yang terperanjat. "OH! MAAFKAN AKU!!" Phrite hampir saja terjatuh untuk meminta maaf namun cepat-cepat Zerou mencegahnya.

"Ya ampun, tidak usah seperti itu! Aku memang selalu kelihatan begini, jadi aku sudah biasa," ucap Zerou setelah Phrite berdiri. Phrite masih merasa bersalah. Zerou kemudian menyambung perkataannya, "Tapi sebagai ganti atas memanggilku Oom... maukah kamu menemaniku? Ke Downtown, maksudku. Aku tidak akan berbuat apa-apa, janji!!" tambah Zerou buru-buru.

***


"Oh, jadi kamu bingung menentukan job."

Phrite dan Zerou sudah duduk-duduk di depan Cafe Quest Downtown. Karena Zerou melihat Phrite 'agak' miskin, Zerou-lah yang mentraktirnya. Phrite betul-betul berterima kasih.

"Yep," ujar Phrite. Ia sekarang sudah agak menerima Zerou sebagai 'senior yang bersahabat' karena selain enak diajak bicara, ia juga sangat murah hati.

"Yee, itu sih gampang," sahut Zerou. Phrite mengangkat alisnya. "Begini," Zerou mulai memperlihatkan gelagat menguliahi. "Kamu punya hobi apa?"

"Ehm..." Phrite bingung. "Aku suka bepergian... suka membuat masakan juga, hehehe. Rasanya seru," Phrite agak malu-malu. "Kemudian... aku suka membuat barang-barang. Aku juga suka membantu orang..."

"Hm, begitu?" Zerou menyentuh dagunya seakan sedang berpikir keras. "Kalau begitu, jelas. Kamu lebih baik jadi Farmer!" ucap Zerou, yakin.

"Farmer?" Phrite mengingat-ingat. "Tapi, bukannya kata orang Farmer itu susah?"

"Hahaha! Untuk pertama-tama Farmer memang susah, tapi mereka sangat kuat!" Zerou antusias. "Farmer punya skill yang menurutku pasti kamu sukai! Memasak dan sebagainya. Susah itu tidak penting, yang penting kamu suka."

Dengan takjub, Phrite menjawab, "Baiklah! Aku mau! Tapi... tolong antarkan aku... Aku takut dengan gadis puitis penjaga Guild Palace."

Zerou hampir tersedak karena menahan tawa. Phrite jengkel lalu menginjak kakinya, dan puas ketika Zerou berseru tertahan karena kesakitan. Kemudian Zerou membayar semua makanannya dengan kesal, namun saat mengajak Phrite sekali lagi memasuki Guild Palace, mukanya cukup pasrah saja menerima injakan tadi.

***


Akhirnya mereka kembali lagi ke Guild Palace. Untung gadis puitis itu tadi hanya tersenyum kepada Phrite. Phrite agak merinding dan segera naik ke lantai ketiga mengikuti Zerou.

"Itu, di utara ada Farmer Master, selanjutnya akan kuserahkan semuanya padamu," Zerou berkata sambil menunjuk ruangannya.

"Lalu kakak sendiri ke mana?" tanya Phrite, sedikit takut karena ditinggalkan.

"Aku mau membuat Golem..."

"Oh, baiklah. Sampai nanti..." Phrite melambai ke arah Zerou yang sudah menghilang entah kemana. Ia menguatkan dirinya. Sambil menelan ludah, ia memasuki ruangan itu perlahan-lahan...

***


Kaki Phrite berjalan tak tentu arah. Sudah berapa lamakah mimpi buruk kesiangan ini berlangsung? Bahunya menurun, kakinya capai terlalu banyak berjalan kesana-kemari, tangannya pegal karena terlalu lama membawa Wooden Spear sialan yang terus saja dipegangnya, bajunya basah oleh keringat, dan pikirannya melayang ke daerah North yang kabarnya dingiiiiin sekali, sampai-sampai kamu akan mati perlahan-lahan jika tidak cukup kuat! Phrite ingin sekali bisa berada di daerah tersebut barang semenit saja, namun apa daya tugaslah yang mengharuskannya berada di sini, di Acronia Forest.

Phrite memutuskan untuk tidak terlalu buru-buru menyelesaikan tugas tersebut, lagipula ia tidak dibatasi waktu seperti pekerjaan-pekerjaan di Cafe Quest, sehingga Phrite memilih tempat yang paling teduh untuk dapat diduduki dan mulai mencari-cari bekalnya yang tersimpan di dalam tas kecil pemberian Emil dahulu, berupa tiga gelas susu. Memang, selera Phrite aneh sekali, namun ia lebih memilih susu ketimbang tidak membawa apa-apa, lagipula susu adalah minuman pembangkit stamina, bukan?

Phrite mengambil satu gelas kemudian meminumnya dengan penuh syukur. Minum susu ditengah panasnya hawa sekitar memang menyegarkan. Phrite kemudian mengingat-ingat kembali, apa yang membuatnya sampai menderita cukup parah di tempat ini. Ia bersandar di salah batang pohon teduh dan mulai melamun...

[flashback]

"Selamat siang, wahai anak muda."

Satu kalimat puitis itu saja sudah membuat kepala Phrite pusing. Mengumpulkan segala kekuatannya, Phrite mencoba memandang wajah orang yang menyapanya seperti itu. Seorang laki-laki berwajah penyabar sedang memperhatikannya dengan penuh perhatian. Phrite pun dengan takut-takut menjawabnya, "Se... selamat siang..."

Ia tersenyum, kemudian melanjutkan pembicaraan dengan bertanya, "Apa yang sedang engkau lakukan di sini? Dan kenapa kamu takut padaku? Apa karena aku puitis? Oh," dia tiba-tiba menyadari sesuatu. "Maaf, aku terlalu banyak bertanya." Ia tersenyum lagi memandang wajah Phrite yang menunjukkan ekspresi seperti tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.

"Emm... kalau boleh jujur... saya memang takut pada orang yang puitis," sahut Phrite, merasa sedikit ragu mengungkapkan isi hatinya.

Tiba-tiba laki-laki itu terbahak. Di tengah tertawaannya ia berkata, "Aduh, hahaha... kamu memang orang yang... aduh, hahaha! Kamu memang jujur sekali nak, huahahaahaa!!"

Phrite menunggu laki-laki itu berhenti tertawa dengan perasaan sedikit tersinggung.

Seakan membaca isi hati Phrite, laki-laki itu berujar, "Haa... jangan tersinggung, Nak... aku sebenarnya menyukai orang yang seperti itu. Dan aku berjanji bahwa aku tidak akan puitis lagi di depanmu." Sekali lagi, laki-laki itu tersenyum memandang Phrite. "Nah, karena aku sudah menghabiskan banyak waktu dengan tertawa, mari kita ke pokok masalah. Aku adalah Farmer Master. Dan ada perlu apa kau menemuiku?" tanyanya dengan gaya kebapakan.

Phrite mulai lega ia sudah berhenti tertawa dan mulai serius. "Ya, Farmer Master..." ucapnya, "... nama saya Phrite. Saya ingin sekali menjadi seorang Farmer."

Tampaknya laki-laki itu terkejut sekaligus berbahagia menerima perkataan Phrite. "Wah... benarkah itu, Nak?"

"Saya bersungguh-sungguh."

Laki-laki itu tersenyum memandangnya, ada pancaran kasih lebih dari yang ditunjukkannya tadi. Namun pandangannya kini berubah lagi menjadi sedikit menilai, sinar matanya seperti sedang memindai Phrite.

"Hmm... baiklah. Sebetulnya aku menerima siapa saja yang ingin menjadi seorang Farmer, lagipula sudah jarang sekali ada orang yang mau menjadi seorang Farmer... namun aku juga harus bersikap bijaksana, aku tidak boleh langsung menerima orang-orang menjadi Farmer, bukan?" Phrite tidak dapat menebak maksud perkataan yang dilontarkan oleh Farmer Master tersebut. Kemudian Farmer Master melanjutkan, "Karena itu... aku memberikan sebuah tugas. Jangan kawatir, tidak terlalu susah. Cukup tebak apa ini: Giant Barley, titik, titik, titik, titik, titik... Ya, ada lima huruf yang harus kau tebak. Dan itu merupakan sebuah barang: bawakan dua buah bagiku. Mengerti?"

Phrite tercengang, mungkin tampaknya tugas itu cukup gampang, padahal untuk mencarinya bisa saja memerlukan waktu berhari-hari. Karena wajah Farmer Master itu menunjukkan garis muka yang keras, pastilah ia adalah orang yang keras kepala. Phrite menimbang-nimbang dengan merana, dan akhirnya keluarlah kata-kata celaka ini yang membuat Phrite akan menderita, "Baiklah, saya akan membawakan Anda dua buah barang itu, dan membuktikan bahwa saya adalah orang yang pantas menjadi seorang Farmer."

[/flashback]

Keluhan yang hampir tak terdengar keluar dari mulut Phrite. Gelas susunya yang telah kosong segera dibereskannya untuk dibuang ke Trash Can nanti. Setelah bersiap-siap menahan keadaan apapun yang mungkin terjadi padanya di tengah hutan rimba Acronia ini, Phrite mulai mencari-cari lagi suatu bentuk tanaman yang diincarnya sejak tiga jam yang lalu.

Beberapa kali Phrite melampiaskan rasa bosannya kepada Milk Pitcher tak berdosa dengan sedikit rasa kesal. Ya ampun, batin Phrite. Kenapa Giant Barley Straw ini susah sekali dicari? Ia memandang sekeliling untuk yang keseratus kalinya, berharap menemukan setitik petunjuk di mana tanaman itu berada, namun ia tak menemukannya. Dengan helaan napas yang sudah keseratus kalinya juga, ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari tanaman misterius ini.

Phrite mulai menjernihkan ingatannya kembali. Darimana ia tahu bahwa benda yang diminta Farmer Ranger itu adalah Giant Barley Straw? Tentu saja karena bantuan dari Zerou. Perlahan Phrite mulai memunculkan kembali sebuah adegan yang baru saja terjadi 4 jam yang lalu...

[flashback]

Phrite menunggu Zerou dengan sabar di depan Cafe Quest Downtown. Entah kenapa, firasatnya mengatakan bahwa ia akan bertemu Zerou di sana. Dan benar, sepuluh menit kemudian datanglah Zerou dengan wajah yang mengatakan ia baru saja tertimpa musibah. Zerou yang tak sadar Phrite sudah berada di sana menunggunya hanya terduduk lemas di salah satu bangku. Perlahan Phrite menghampirinya.

"Baa," Phrite mengagetkannya dengan menepuk kedua bahu Zerou dengan tiba-tiba. Zerou kentara sekali kaget, ia memandang ke belakang tempat Phrite berada. Phrite tersenyum. "Kenapa wajah kakak seperti habis tertimpa sial? Ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa sedikit membantu kakak..."

Zerou hanya memandang Phrite dengan wajah sedih. Senyumnya tampak dipaksakan. "Ah," Zerou berkata. "Baik sekali kamu mau mendengarkan aku. Ini sebenarnya sedikit memalukan, sudah biasa untuk aku yang selalu tertimpa sial ini, tapi yang ini... melebihi kesialanku yang lain." Zerou menarik napas. "Tadi aku pergi ke Marionette Master untuk membuat Golem, kurasa kau tahu itu. Aku memang punya bahan-bahannya dan uangnya, kemudian aku menyuruhnya membuat Golem dari barang-barang itu. Tapi, sialnya, aku tidak sadar kalau punya dua Golem! Dan dua Marionette! Yang Insmouse sih gampang dicari, tapi Veril?! Tanpa diminta ia langsung mengubah keempat barang itu menjadi Golem dan meminta bayaran 2.000 Gold tanpa mendengarkan penjelasanku! Aku sungguh-sungguh sial!"

Zerou menceritakan itu semua tanpa nada kemarahan atau jengkel, melainkan campuran antara bingung dan pasrah. Wow, kesialannya sangat mengerikan, batin Phrite. Bagaimana aku bisa membantunya? Sebelum ia menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, Zerou berkata lagi, "Tapi sudahlah, memang salahku aku ini sangat sial. Jangan bicarakan itu lagi. Kamu sendiri bagaimana? Apa yang diminta si Farmer Master?"

Phrite agak bingung mau menjawab bagaimana karena keluh kesah Zerou, tapi ia memaksakan diri berkata, "Aku disuruh mencari dua buah barang yang punya nama Giant Barley titik, titik, titik, titik, titik... aku tak tahu itu apa." Phrite berhenti sebentar. "Yakin kakak tidak apa-apa? Sepertinya kakak sangat terpukul."

"Tidak, tidak apa-apa! Aku mungkin malah terhibur kalau bisa membantumu. Tunggu sebentar, Giant Barley dengan lima huruf di belakangnya... Hmm, rasanya aku tahu..." Zerou menyentuh dagunya dengan tangannya, persis seperti yang dilakukannya tadi saat berpikir keras mencari job yang tepat untuk Phrite. "Hmm... Ya! Aku tahu! Giant Barley Straw!" Zerou tampak yakin.

"Benarkah?"

"Ya, tak salah lagi. Biasanya aku punya satu atau dua, tunggu..." Zerou mulai mengorek-orek tasnya. "Hah? Kok tidak ada...?"

"Sudahlah, tidak apa-apa, kakak. Aku akan mencarinya saja. Di mana biasanya Giant Barley Straw itu ditemukan?" tanya Phrite, agak tidak sabar.

"Biasanya di Acronia Forest. Gampang dicari, kok... " Kali ini muka Zerou sedikit menunjukkan ketidakyakinan.

"OK!! Aku akan mencarinya. Tapi apa yang akan kakak lakukan seandainya ini akan memakan waktu berjam-jam? Aku tahu kakak punya urusan sendiri..."

"Aku mau hunt saja, mencari veril marionette yang baru... Kurasa pertemuan kita harus berakhir sampai di sini dulu," Zerou tersenyum. "Lain kali kita akan bertemu lagi."

"Ah..." ucap Phrite, yang tidak mengharapkan perpisahan dengan senior barunya. "OK. Kapan-kapan ketemu lagi ya, kakak... terima kasih sudah membantuku menghadapi si gadis puitis!!" sahut Phrite, menjauh.

"Hahahaha... ya, sama-sama, dan hati-hati!" sayup-sayup suara Zerou terdengar.

[/flashback]

Tak terasa kaki Phrite membawanya jauh sekali, hingga Phrite telah mencapai jalan utama kembali. Phrite mengeluh dan mengedarkan pandang. Tunggu, ada sesuatu yang menarik perhatian Phrite. Ia pun mendekat.

Benar, ternyata itu adalah Giant Barley! Hati Phrite melonjak senang melihatnya, langsung saja ia membabat habis tanaman itu dalam dua kali pukul. Satu Giant Barley Straw terjatuh. Phrite mengambilnya, dan tak beberapa lama kemudian ia telah memiliki dua buah. Dengan hati penuh syukur dan kemenangan ia melangkah kembali lagi ke arah Uptown, menuju Guild Palace. Ia ingin sekali mengakhiri quest mengerikan itu.

~~~~~~~~~~~~~~

* credit to Andrea Hirata



Apakah Phrite akan benar-benar menjadi seorang Farmer sejati? Petualangan macam apakah yang akan menantinya?

*sekali lagi, lebay*


DISCLAIMER: ECO is not mine. Trust me, it's GungHo's. And Zerou isn't mine either, it's shirouamada's character :)
« Last Edit: May 16, 2013, 12:26:12 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 2: Elation of Hunt
« Reply #2 on: December 05, 2009, 07:37:00 PM »
Chapter Two
~Elation of Hunt~



TS' Notes:
Ooh... akhirnya chapter three xDD Biasanya setelah ada tulisan "Chapter blabla akan segera nongol", pasti chapter blabla itu langsung di post setengah sampe 1 jam kemudian... tapi beribu maaf, ini makan waktu berjam2 soalnya ECO nya di download + install ulang, padahal mau mengadakan riset tentang farmer xDD

OK, enough cuap2, maafkan bila ada kesalahan di dalam chapter kali ini...  dan akhir kata:

eNjoY~
 :sing:




Tap. Tap. Tap. Suara langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa terasa digaungkan tiga kali lipat di antara sudut-sudut gedung Guild Palace. Tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri bahkan untuk menyapa sang gadis puitis penjaga gedung tersebut, Phrite langsung menapakkan kakinya ke lantai tiga tempat Farmer Master berada. Begitu memasuki ruangannya, Phrite berseru dengan gembira,

"Farmer Master! Faarmeer Maaaaster!! Saya sudah menemukan barang tersebut!" Phrite melonjak-lonjak seperti kesetanan sambil melambai-lambaikan Giant Barley Straw. Mungkin pencariannya terhadap barang tersebut sedikit membuatnya gila.

"Hey, hey! Tenang dulu, aku harus mengeceknya..." Farmer Master menenangkan Phrite, kemudian mengambil barang yang diserahkan gadis berambut coklat muda itu. "Hmm..." Senyum yang mengembang di lekuk muka Farmer Master tersebut ikut mengembangkan hati Phrite. "Gadis kecil, kurasa kau telah menyelesaikan quest ini dengan baik. Ya, yang kucari adalah Giant Barley Straw, dan kau tepat membawa dua buah! Ini sungguh mengagumkan! Nah, sekarang," sahut Farmer Master, tiba-tiba berhenti. Ia memandangi tubuh Phrite, kali ini dengan mimik wajah yang tidak dimengerti oleh gadis itu. "Ehm... bagaimana aku harus mengatakannya..."

Tentu saja Phrite menjadi bingung. "Emm... ada apa memangnya, Farmer Master?" tanya Phrite dengan polos.

"Uh... kau kan sudah memiliki kualifikasi yang baik untuk menjadi seorang Farmer sejati... tapi, prosedur mengatakan bahwa..." Farmer Master menggigit bibirnya, sekali lagi dengan mimik wajah yang tidak dimengerti oleh Phrite, "... kau harus melepaskan seluruh armormu."

Hening.

"APA??!" teriak Phrite, sungguh-sungguh kaget. Tangannya seakan mencoba melindungi tubuhnya. Phrite kemudian mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berteriak, "TERNYATA FARMER MASTER ITU--"

"--SSssshhtt!!!" Terpaksa Farmer Master buru-buru menutup mulut Phrite yang sudah mau melontarkan kata-kata mutiara. "Bukan begitu maksudku!" Farmer Master itu jengkel, kemudian melepaskan tangannya dari mulut Phrite setelah gadis itu tenang kembali. "Ini adalah prosedur! Kalau kau mau menjadi Farmer sejati, kau harus kucap dengan tanda yang menyatakan bahwa engkau adalah seorang Farmer... tapi itu tidak bisa kulakukan kalau kau... tidak membuka seluruh armormu!!" seru Farmer Master, sedikit putus asa.

Phrite, yang mulau mengerti akan bahaya yang mengancam, langsung berpikir cepat. "Umm... baiklah, Farmer Master," Phrite berkata. "Aku akan mencopot seluruh armorku, tapi di belakang meja! Dan mohon jangan mengintip!"

"Oke, oke, terserah," jawab Farmer Master yang sedikit lega karena urusan ini akan selesai sebentar lagi.

***


Rambutnya yang berwarna merah maroon sangat panjang hingga ia harus mengikatnya menjadi dua bagian. Bajunya sungguh menarik, bagaikan gaun ratu. Warnanya serasi dengan warna rambutnya. Sebuah mahkota kecil menghiasi kepalanya. Wajahnya tampak ceria, tak kenal lelah melayani berbagai pertanyaan seputar marionette karena ia sendiri adalah salah satu Marionettist terkenal yang konon kabarnya suka memberikan salah satu marionette-nya kepada semua orang. Ya, semua orang. Dia adalah Elina.

Phrite menghampirinya dengan bersemangat sambil berseru, "Hei, Elina! Aku baru saja menjadi Farmer! Sebentar lagi aku akan menjadi Marionettist sepertimu!" Ia menunjukkan Flower Brooch yang baru saja diberikan Farmer Master sebagai hadiah.

"Bagus sekali, Phrite! Aku senang sekali!" Elina membuka lengannya lebar-lebar dan kemudian memeluk Phrite. "Bagaimana? Job Farmer cukup menarik, bukan?"

"Setelah kupikir-pikir, kamu benar juga," sahut Phrite, membalas pelukannya. Bayangan melepas seluruh armornya di Farmer Master yang sudah menyiapkan tisu untuk menyumbat hidungnya masih terjaga dengan baik di ingatannya. Phrite kemudian mengajaknya duduk di bangku terdekat. "Aku menyukai hampir semua skill-nya."

"Yah, bukankah aku baru mengatakan aku sangat senang?" ucap Elina, mengamati Flower Brooch milik Phrite dengan perasaan gembira. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku. Aku selalu siap membantu!" Ia tersenyum manis.

"Mungkin aku akan memerlukannya dalam waktu dekat," ujar Phrite, mulai sedikit murung. "Aku sungguh-sungguh tak tahu apa yang akan kulakukan sekarang, mengingat aku sudah menjadi Farmer dan sebagainya."

"Kamu tidak pergi hunt?" tanya Elina, sedikit bingung.

Phrite memandangnya dengan tatapan bingung juga. "Itulah masalahnya," ucap Phrite. "Aku tidak tahu dimana harus hunt! Tampaknya dunia Emil ini begitu parah sehingga begitu banyak monster bertebaran di seluruh tempat kecuali di kota."

Elina tampak berpikir sejenak. "Sekarang kamu level berapa?"

"Hmm... delapan."

"Delapan, ya? Menurutku, sebaiknya kamu mencoba pergi ke negeri Fareast. Ya, ke timur," Elina menjawab pertanyaan yang tergambar di wajah Phrite. "Tapi jangan terburu-buru masuk ke East Cape ataupun Momo Plains--cobalah untuk levelling di Fareast Main Street sampai hampir level 15, baru kau masuk ke Momo Plains," ucap Elina mengakhiri kuliahnya.

Muka Phrite berbinar-binar, ia betul-betul ingin berterima kasih kepada Elina tapi hanya bisa memegang tangannya dan memandangnya dengan penuh arti.

"Hahahaha, sama-sama, Phrite," Elina mengucapkannya sambil membungkuk ramah. Namun sesaat setelah mengatakannya, tiba-tiba seberkas sinar melingkupi dirinya, membutakan mata Phrite. Belum juga sembuh dari kekagetannya, di depannya tiba-tiba berdiri suatu makhluk paling aneh yang pernah dilihatnya. Hampir seluruh kulitnya berwarna biru, licin, kecuali tangan dan kakinya. Mukanya sangat mirip dengan ikan. Phrite hanya tergagap memandang peristiwa aneh ini.

"E... Elina..."

"Ya, ada apa?" Bahkan suaranya pun ikut berubah, meskipun nadanya tetap ramah.

"Kau..." Phrite berpikir keras untuk mengucapkan sesuatu. "Kau... cantik sekali!"

"Ah? Jarang sekali ada yang memujiku seperti itu," sahut Elina, mukanya yang ikut berwarna biru itu tersipu malu, semburat biru muda terlukis di wajahnya. Sedetik kemudian ia sadar bahwa ia sudah menjadi makhluk jadi-jadian yakni ikan biru raksasa berjalan.

Elina berseru, "Aduh! Maaf kalau aku membingungkanmu, aku terlalu bersemangat sehingga aku tanpa sadar mengubah diriku menjadi Insmouse!" Mendadak, seperti tadi, ada seberkas cahaya menyilaukan dan Elina pun berdiri di tempatnya semula.

"Apa yang..."

"Aduh..." Elina mengucapkan kata yang sama lagi, "maafkan aku! Aku tadi begitu bersemangat, seperti yang sudah kukatakan..."

"Kukira kamu tadi kemasukan roh ikan sampai jadi ikan tuna jadi-jadian!" Phrite berkata spontan, sambil berusaha menyembuhkan kekagetannya. Tak pelak, tawapun meledak di antara mereka.

Dan pembicaraan berlanjut terus sampai berjam-jam lamanya. Akhirnya setelah sadar bahwa ia harus melanjutkan hunt, Phrite pamit untuk pergi ke timur seperti yang disarankan Elina. Sebagai tanda maaf, Elina menghadiahinya sebuah marionette. Pertamanya Phrite menolak, namun Elina memaksa dan akhirnya Phrite memilih Electell. Untuk pemberian ini, mata Phrite sampai menjadi berkaca-kaca karena rasa terima kasihnya begitu besar, namun Elina sekali lagi memeluknya dan mengucapkan "selamat hunting" sebagai perpisahan.

***


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, dan tiba-tiba saja Phrite sudah berada di Fareast Main Street. Ia memandang berkeliling, mengagumi bentuk-bentuk bukit-bukit yang terpampang indah seakan menyelimuti tempat tersebut dengan keagungan yang memukau, memberi perasaan nyaman bahkan ketika Phrite dikelilingi oleh Green Pururu yang beracun. Segera saja Phrite menyadarkan dirinya dari pemandangan alam Fareast Main Street, lalu ia memfokuskan tebasan Mace-nya ke arah Green Pururu yang berkeliaran. Sesekali, Phrite dengan nekat mencoba membunuh Salad Urchin, namun apa daya, ternyata monster tersebut masih terlalu kuat baginya.

Waktu pun terus berlalu dan tanpa sadar Phrite sudah hampir mendekati level 13. Sebentar lagi adalah waktu yang sangat pas untuk hunting di Momo Plains. Namun, di saat Phrite melamunkan pikirannya, Green Pururu yang dihadapinya menyemprotkan suatu parfum beracun yang sialnya langsung mengenai Phrite. Gadis itu terjatuh dengan kaget, otot-ototnya menjadi lemas, matanya berkunang-kunang. Phrite tahu bahwa racun dari Green Pururu amat berbahaya, namun ia tak tahu bagaimana cara menanggulanginya. Phrite mencoba membunuh Green Pururu itu, tapi tetap saja, setelah monster tersebut terbunuh, racunnya masih menggerogoti tubuh Phrite. Ia hanya bisa bergumam lirih, "Tolong, siapa saja..."

"CURE POISON!" teriak seseorang. Phrite yang hampir sekarat merasakan kekuatannya kembali, namun ia masih lemah. Teriakan orang tersebut kembali menggema, "HEAL!" dan serta-merta Phrite merasakan bahwa ia sudah bugar, bahkan lebih sehat daripada tadi.

Gadis itu menoleh dengan cepat ke arah penolongnya yang sudah berbaik hati menyembuhkannya dari efek racun Green Pururu. Seorang gadis bersayap hitam, yang menjadi penanda bahwa ia seorang Dominion, memakai baju indah berwarna biru yang melambai-lambai dengan topinya yang serasi.

"Terima kasih sekali..." kata Phrite, terbata-bata. "Kau baru saja menyelamatkanku dari kematian..."

"Ah, tidak apa-apa. Sudah tugasku untuk menyelamatkan orang lain, lagipula aku adalah seorang Druid," jawabnya dengan senyum menawan.

Phrite membalas tersenyum dan berkata, "Omong-omong, siapa namamu? Namaku Phrite."

"Aku Kuro Yuki, panggil Kuro atau Yuki tidak masalah, asal jangan dua-duanya," gadis itu nyengir.

"Em... baiklah, aku akan memanggilmu Yuki, lebih enak didengar. Oh, kalau kakak Yuki--"

"--tidak usah pakai kakak, cukup Yuki saja..." Yuki menyela

"... Ehh... oke, kalau Yuki mau melanjutkan hunt, tidak apa-apa kok. Nanti malah telat ditunggu seseorang..." ujar Phrite, kawatir.

Ia tampak berpikir. "Hei, kamu level berapa?"

"Tiga belas," jawab Phrite, bingung.

Yuki berkata, "Bagaimana kalau aku ikut party denganmu? Lagipula aku tidak ada kerjaan..."

Terkejut, Phrite menyerempet, "Benarkah kamu mau ikut? Aku kan masih... katakanlah, masih sangat 'hijau'..."

"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang aku tidak ada kerjaan? Aku juga merasa tidak ada salahnya membantu 'newbie'..." Yuki tersenyum.

Phrite tidak punya pilihan lain selain menerima tawarannya. "Terima kasih sekali lagi," hanya itu yang bisa dikatakannya kepada Yuki. Banyak sekali orang yang baik kepadaku, batin Phrite sembari melangkahkan kakinya ke arah Momo Plains, ditemani oleh Yuki yang sekarang mengikutinya. Aku berharap suatu saat bisa membalas mereka...

Dan percayalah, itu akan terjadi, tak lama lagi.

***


"Hey, Yuki, tunggu!"

"Sebentar--ada orang yang meninggal! Biar ku-ress..."

"Aah... baiklah... cepat kembali ya!"

"Oke, oke..."

Itulah perbincangan sehari-hari yang dilakukan oleh Phrite dan Yuki di padang berburu Momo Plains yang penuh dengan monster berbahaya. Dan justru karena itulah Phrite menderita dua kali lipat: Pertama, jika ia tidak berhati-hati, seekor ECO Pig atau Wild Boar yang ganas tiba-tiba saja menyadari kehadiran Phrite dan kemudian mengejarnya tanpa ampun, membuat Phrite terpaksa berlarian seperti orang gila untuk menghindari berbagai serangan mematikan dari kedua binatang liar tersebut.

Namun, yang kedua lebih konyol.

Setiap kali ada seseorang yang terluka ataupun ada seorang korban yang jatuh akibat tingkah nakal ECO Pig atau Wild Boar yang ganas, Yuki selalu melesat bagai angin menuju orang-orang tersebut dan melakukan berbagai perbuatan ajaib, entah ia menyembuhkan luka mereka dalam sekejap atau bahkan membangkitkan mereka dari alam kematian. Dan sesekali ia meneriakkan berbagai kata yang tidak dimengerti Phrite--semisal berbagai kata konyol seperti "HOLY FEATHER!" ataupun "VITAL ROUSING!"--meskipun Phrite sendiri pernah dimantrai sesuatu yang seperti itu oleh Yuki, dan Phrite mengakui ia entah kenapa menjadi agak sedikit lebih kuat, meskipun hanya untuk waktu pendek.

Bukannya Phrite bermaksud menguasai Yuki sendirian hanya untuk kepentingannya, tentu saja. Semua orang memang berhak mendapatkan penyembuhan apalagi kebangkitan dari kematian. Namun yang membuatnya jengkel, setiap kali hidupnya hampir diambang kematian karena telah diserang--tepatnya, disodok--oleh salah satu piggy ECO sial itu, Yuki selalu menghilang karena ia sedang menjalankan tugas mulianya. Bahkan, pernah terjadi suatu kali, Phrite mati setelah 'disodok' oleh Wild Boar untuk yang kesekian kalinya gara-gara ia berlari-lari mencari Yuki di Momo Plains bagian utara sedangkan Yuki sendiri berada di bagian selatan.

Phrite hampir putus asa. Namun tentu saja ia tidak membiarkan dirinya sendiri menaruh pikiran buruk tentang Yuki, bukankah ia temannya? Bahkan bukan sekadar teman, ia adalah seniornya di dunia Emil ini, mengingat levelnya yang sangat tinggi! Maka Phrite pun memutuskan untuk mencari saat-saat langka dimana ia bisa dengan mudah mengobrol bersama dirinya tanpa ada yang mengganggu.

Tak butuh beberapa lama, Phrite pun mendapatkan kesempatannya yang pertama.

Terengah-engah, Phrite akhirnya menebaskan Mace miliknya tanpa ampun ke seekor Young Chockko yang langsung ambruk tanpa basa-basi. Phrite kemudian menoleh ke arah Yuki, yang tampaknya agak kelelahan. Langsung saja Phrite berkata, "Hei, kau tampak lelah. Yuk, kita istirahat sebentar." Yuki mengangguk, dan pastinya ia tidak bisa membayangkan betapa senang hati Phrite saat itu.

Phrite memilih pohon paling rindang yang bisa ditemukannya, dan duduk di bawahnya setelah memastikan tidak ada seekor ECO Pig atau Wild Boar di dekat mereka. "Yuki, kamu suka sekali ya menolong orang," ujar Phrite, santai, sambil sedikit melirik Yuki.

"Hahaha... kau benar, aku suka membantu orang," Yuki menyahut, juga santai. Ia duduk di sebelah Phrite. Rupanya Yuki sedang ingin mengisi Mana Point-nya yang terkuras habis akibat terlalu banyak mengeluarkan skill-skill yang dimiliki seorang Druid 'pekerja sosial' seperti dia.

"Tapi seharusnya kau juga memerhatikanku," sahut Phrite, sedikit cemberut. Phrite memang bukan anak yang manja, tapi ia sekarang merasa agak ditinggalkan.

"Bukan begitu maksudku," sahut Yuki, tertawa. "Aku hanya tidak ingin orang-orang... mati," ujar Yuki, suaranya makin lama makin kecil.

Phrite tidak menyadari awan gelap yang menyelimuti wajah Yuki. "Orang-orang mati?" tanya Phrite, polos. "Apa maksudmu?"

Yuki memandangnya, sepertinya menilai sesuatu. Mungkin karena Phrite memandangnya dengan polos, Yuki akhirnya menyerah dan berkata, "Hm... dulu, aku memiliki seorang adik..." Pandangannya menerawang ke atas langit. "Tapi ia sudah meninggal, dahulu kala." Tangannya mengepal. "Aku tak tahu ia meninggal karena apa...

Waktu ia kecil, ia sungguh menggemaskan. Lucu sekali tingkah lakunya. Namun tiba-tiba ia menghilang, entah kenapa. Aku menduga ia diculik seseorang... aku mencarinya kemana-mana. Sampai ke lantai teratas Light Tower... kedalaman paling bawah dari Southern Dungeon... tidak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Tapi, setelah dua tahun penuh kegilaan dan kesedihan, teman-temanku yang ikut membantuku mencarinya menemukannya di dalam Undead Castle yang paling dalam... keadaannya parah sekali saat itu. Sekujur tubuhnya kebiruan, di beberapa bagian tubuhnya ada bercak-bercak hijau... Bard yang paling kuat saja tidak bisa menyembuhkannya." Yuki memalingkan wajahnya sesaat sambil mengusap matanya. Kemudian, ia memandang lagi ke arah Phrite dengan pandangan mata lebih kuat. "Aku tidak ingin orang lain menderita seperti itu... karena itulah aku bertekad untuk menjadi Vates yang baik." Ia tersenyum lagi ke arah Phrite.

Phrite terkejut. "A... aku tak tahu... maafkan aku karena sudah menyinggung perasaanmu..." Ia benar-benar merasa bersalah.

Yuki tersenyum kepadanya. "Tidak apa-apa, lagipula ini sudah lama sekali..."

Phrite cepat-cepat mengganti topik. "Hei, kau lihat orang itu?" tanya Phrite sambil menunjuk seseorang yang tampaknya sedang meminta sesuatu dari sekelompok orang yang berkumpul bersama-sama. "Menurutmu dia sedang apa?"

"Oh, itu," Yuki sedikit jengkel. "Orang itu sedang minta di 'GB'."

Phrite mengernyit. "Apa itu 'GB'?"

Yuki menjawab dengan sedikit kesal. "Gaji Buta. Artinya seseorang yang mendapatkan keuntungan namun tidak bekerja apa-apa. Aku sangat membenci mereka!"

Pembicaraan hari itu pun berlanjut ke topik tentang wabah GB yang menyebar di mana-mana, kemudian pengemis gold, lalu orang-orang yang berjualan tak tahu aturan, dan bergeser ke arah hode (panggilan 'banci' untuk wanita-wanita dalam dunia Emil yang berjiwa seperti pria), dan lain-lain.

Namun jauh di lubuk hati Phrite, ia telah menaruh hormat lebih terhadap Yuki. Entah mengapa, kesedihannya yang pasti sangat menyakitkan tidak membuatnya mencoba menyeret orang lain merasakan kesedihan yang sama. Sebaliknya malah, ia berjuang agar orang lain tidak menjadi terpuruk sepertinya, dan yang lebih penting, dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari kesedihan yang telah menggerogotinya. Ingin sekali Phrite memeluknya, dan sekarang ia memutuskan untuk melakukannya.

"Hei, hei, nanti kita dikira pacaran!!" sahut Yuki, tertawa, mencoba melepaskan diri.

"Hehehe... aku melakukannya karena aku menyukaimu," ujar Phrite, menjulurkan lidah.

"APA?! Jangan-jangan kamu juga hode??!" seru Yuki, pura-pura kaget.

"Haaah?! Jangan sembarangan menuduh ya!!" ucap Phrite, sekarang mengejar Yuki yang telah berdiri dan kabur dari incaran Phrite. "Tunggu!"

Namun ternyata kesialan masih tidak bosan menunggui Phrite. Sekarang ia malah dikejar seekor ECO Pig DAN dua ekor Wild Boar!! Kontan Phrite langsung berlari ke arah berlawanan dari arah semula, mencoba menyelematkan diri dari 'sodokan maut' kedua binatang sial itu.

Tawa Yuki pun menggema tanpa ampun. "Hahahaha, rasakan pembalasanku lewat tiga binatang manis ini! Bagus, ECO Pig! Dan Wild Boar! Haahahaha..."



Bagaimana perkembangan level Phrite? Apakah ia dapat naik level dengan tenteram tanpa disodok lagi dengan piggy ECO?

Nantikan chapter selanjutnya dari Mignonette~!
« Last Edit: May 16, 2013, 12:26:42 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 3: A Mind Beside Itself
« Reply #3 on: December 11, 2009, 07:51:55 PM »
Chapter Three
~A Mind Beside Itself~



TS' Notes:

OK, ga ada alasan lagi kali ini TT.TT Saia tau saia lambaaat banget bikin FFn ini... gara2 Try Out!! >.< Credit title to Dream Theater, dan akhir kata:

~Enjoy~!




Berkas-berkas cahaya matahari yang bersinar terang membuat mata Phrite sedikit silau. Guratan-guratan lecet kecil yang terbentuk di sekitar tangannya, membuat setiap kulit yang membalut tangan dan jarinya berdenyut-denyut, berkilat perih. Mulutnya sedikit kering, alisnya bertaut, kepalanya pening memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan hidup di Momo Plains tanpa Yuki, yang baru saja meminta diri untuk pergi menemui seseorang di Fareast. Sekarang, berkat absennya Yuki, ia lari pontang-panting ke sana ke mari tanpa harapan karena sedang dikejar oleh 3 Wild Boar dan 5 ECO Pig. Sodokan salah satu ECO Pig yang terkahir baru saja membuat darah Phrite yang tinggal sedikit tersisa dalam dirinya menjadi tambah sedikit, meninggalkan jurang kekhawatiran yang dalam bagi Phrite.

Bagaimana kalau aku mati, lalu tubuhku dimakan ECO Pig, kemudian tulangku dibabat habis oleh Wild Boar, dan aku kemudian bertemu dengan Kematian, kemudian aku ke Neraka, kemudian aku--

Pemikiran Phrite yang sedikit nyeleneh itu segera berakhir mengingat ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri tepat waktu dengan kabur ke arah Fareast City. Ah, rupanya monster-monster yang menyebalkan itu takut memasuki kota ini. Lirikan mata Phrite yang terarah ke belakang punggungnya membuktikan hal tersebut.

Phrite berpaling dari Momo Plains, ia sangat bersyukur dalam hati bisa selamat dari kejaran binatang-binatang jahanam itu. Mengarahkan lagi pandangan matanya ke hamparan tanah hijau yang subur, senyum pun merekah di wajahnya. Setiap kali ia memandangi keindahan bukit-bukit Fareast yang melekuk-lekuk indah membentuk garis tak beraturan, landai dan bersahabat dengan pohon-pohonnya yang seakan memeluk tanah dengan tangan-tangan tak kelihatan, sebersit perasaan tenteram segera meluluhkan hatinya. Bangunan-bangunan kecil yang berfungsi sebagai rumah-rumah bagi para penduduk Fareast berjejer rapi, dengan damai dan tenang. Toko-toko yang tak pernah sepi pengunjung selalu membuka pintu mereka lebar-lebar bagi para manusia--entah Emil, Titania, ataupun Dominion--agar mereka bisa memanjakan diri mereka sendiri dengan berbagai barang dagangan yang menarik seperti pernak-pernik lucu, baju-baju keren, dan tak lupa pelbagai makanan lezat yang mampu membuat orang-orang ketagihan.

Keramahan penduduk kota ini pun sudah terkenal dengan baik. Bahkan puppies penjaga gerbang Fareast pun demikian. Setiap kali Phrite melewati gerbang Fareast, puppies-puppies itu selalu menyalak bersahabat, dan menggoyang-goyangkan ekornya. Begitu menggemaskan!

Meskipun Phrite sangat menyukai Fareast, namun entah kenapa sebersit kenangan pahit yang tak dapat diingatnya selalu menjalari relung hatinya. Tak jarang Phrite menghibur dirinya dengan berpikir bahwa itu semua tak lebih hanyalah perasaan kasihannya terhadap apa yang terjadi kepada adik Yuki, mengingat Undead Castle tidak begitu jauh dari Fareast. Namun walaupun hatinya meyakinkan Phrite, jauh dalam dirinya ia menyadari, bahwa jiwanya menyangkal hal tersebut. Tiba-tiba--

GUBRAKK!!!

--pikiran Phrite kembali jatuh ke bumi. Seseorang telah menabraknya hingga jatuh, membuat kepala Phrite menjadi pusing kembali setelah sesaat disembuhkan oleh kecantikan kota Fareast. Didengarnya kata-kata permintaan maaf yang benar-benar terdengar sangat menyesal,

"M... maaf, gadis kecil!! A... aku tak tahu tadi... kalau kamu berada di sini... t--tadi aku begitu terburu-buru..." Berulang kali ia meminta maaf seperti itu.

"Emmh.. bagaimana kalau kau meminta maaf dengan membantu berdiri sedikit saja..." ucap Phrite sambil meringis. Lelah yang didapatnya tadi dari usaha untuk selamat dari beberapa binatang sialan di Momo Plains itu masih tersisa di tubuhnya.

"Ahh! Maafkan aku--" Ia meminta maaf untuk yang terakhir kalinya karena membiarkan Phrite terbaring di tanah seperti orang tolol, "--aku begitu ceroboh, maaf..." Ia mengulurkan tangannya yang agak licin, kemudian menarik Phrite dengan kekuatan yang tak terduga.

Sedikit limbung karena pening di kepalanya masih menggelayut, Phrite berusaha memerhatikan orang tadi yang menabraknya dengan sedikit lebih jelas. Seorang Dominion yang sedikit aneh. Ia memakai sebuah Snorkel yang sepertinya sudah sedikit usang, dan tubuhnya hanya terbalut dengan sebuah... celana renang. Phrite melongo.

"Ah, maafkan aku kalau aku mengejutkanmu... aku memang selalu berpakaian seperti ini," ujarnya, sedikit malu. Kurasa ia mengatakan kata "maaf" terlalu banyak, ujar Phrite dalam hati. "Sebagai rasa permintaan maafku, ambillah ini." Ia mengambil sesuatu dari kantongnya (yang berada di celana renangnya), dan menyerahkan segelas jus berwarna ungu yang tampak lezat.

"Apa ini?" tanya Phrite, sedikit tertarik. Baunya memang harum.

Ia tersenyum, namun dengan cara yang aneh. Hanya separuh mulutnya saja yang tertarik ke atas. "Ini Mix Juice, jus spesial khas Fareast. Minum saja, enak kok. Lagipula sepertinya kamu membutuhkannya," ia menambahkan, melirik luka-luka di sekujur tubuh Phrite.

Sebenarnya Phrite memang sagnat haus saat itu. Ia mengambilnya dengan hati-hati dari tangan orang aneh itu, dan setelah mengatakan terima kasih dengan singkat, Phrite meminumnya sampai habis dengan sekali teguk.

Rasa lega yang timbul segera setelah tetes terakhir cairan lezat itu meninggalkan mulutnya membuat Phrite terkejut. Dalam waktu singkat, luka-luka yang tersebar di seluruh tubuhnya perlahan menutup, dan sembuh.

Phrite melongo untuk yang kedua kalinya.

Ia tertawa. Untuk ukuran Dominion sepertinya, suara tertawanya masih cukup mendirikan bulu kuduk Phrite. Setelah puas tertawa, ia berkata, "Baiklah... aku harus--kau tahu, pergi dulu. Aku sangat terburu-buru tadi, kau mengerti--" Untuk sepersekian detik nyala matanya berubah menjadi sedikit muram, ketakutan. "Sampai nanti, Nona...?"

"Phrite," jawab Phrite segera sambil tersenyum. Setelah luka-lukanya pulih, ia menjadi lebih bersemangat. "Aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih untukmu karena telah menyelamatkan hidupku...?" Kata-kata Phrite menggantung di akhir kalimatnya, menunjukkan bahwa ia pun ingin tahu nama orang ini.

Sesaat ia ragu, namun ia berucap juga, "Fernand." Ia memangguk, dan kemudian berkata lagi, "Saya harus pergi, Mignonette."

Kata-kata terakhir itu sangat membuatnya bingung. "Oh, baiklah," Phrite ingat dia harus melakukan sesuatu yang tampaknya penting, dilihat dari raut mukanya. "Yah, sampai ketemu lagi..." Orang itu mulai berbalik lagi, namun Phrite berteriak padanya, "Ngomong-ngomong, Mignonette itu apaaa??!"

Fernand menoleh, dan berkata sambil nyengir, "Maniss!!"

Oke, dan Phrite pun melongo untuk ketiga kalinya.

***

Pada hari Minggu 'ku mudik lagi ke kota,
pakai kaki istimewa jalan tanpa lelah.
'Kujalan 'depan Cockatrice yang sedang berlompat,
mengikuti dari b'lakang dengan cerianya!

Hey!

Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk,
tuk tik tak tik tuk tik tak,
Suaranya Cockatrice~
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk,
tuk tik tak tik tuk tik tak,
HP-ku hampir HABIS~


"HYAAAAH!!! KABURR!!!" teriak Phrite tanpa sadar, ketika sekarang seekor lagi Cockatrice bergabung untuk mengejarnya--seakan belum cukup penderitaan Phrite yang dari tadi sudah dikejar oleh seekor Cockatrice pembawa maut yang mengikutinya selama perjalanan pulang ke kota Acronia. Dhuak! Dhuak! Dhuak! Paruh Cockatrice yang tajam itu tanpa ragu-ragu diarahkan dengan kekuatan yang melebihi seekor ayam biasa ke arah sekujur tubuh Phrite. Untunglah Phrite sendiri memiliki refleks yang cukup baik, ia sempat menghindari beberapa serangan yang diarahkan Cockatrice kepadanya. Tapi, tentu saja ada kalanya ketika Phrite sempat apes. Beberapa tusukan tajam yang tepat mengenai tubuh Phrite sudah cukup membuatnya sekarat.

Suatu saat, Cockatrice... Suatu saat! Hati Phrite berteriak dalam kegeraman. Akan kubalas kau berkali-kali lipat, dan juga akan kukalahkan ibumu si Jumbo ChockKo! ARGH! Setelah langkah ke-seribu yang ditempuh oleh Phrite, akhirnya kedua makhluk itu menyerah. Mereka tiba-tiba saja berbalik, namun tidak sebelum mendengus mengejek kepada Phrite.

Kejengkelan menguasai lubuk hati Phrite.

"SUATU SAAT!!!!!!!!!" teriak Phrite, marah.

"Hey, hey, kenapa kamu berteriak seperti orang gila? Lho, kamu... Phrite?" Seseorang mendekatinya dan bertanya dengan suara yang familier. Tunggu, suara itu...

"Oom Zerou!!" seru Phrite, kaget bercampur bingung. Kaget karena ia tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Bingung karena... yah, tentu saja karena kehadirannya yang diam-diam tanpa diketahui Phrite membuatnya sedikit was-was.

Dan memang, kelakuannya setelah itu... agak aneh.

"Yo', wassup' yo!! Don't call me 'oom' yo'! Gue kan keren gitoh! Panggil gue mas!" seru Zerou dengan gaya yang cukup aneh, disertai gerakan-gerakan tangan yang cukup rumit.

Phrite mengernyit. "Eh... Oom Zerou tidak apa-apa kan? Maksudku, tidak panas atau apa...?" sahut Phrite khawatir, sambil mencoba untuk menempelkan punggung tangannya ke dahi Zerou.

Tangan Zerou menepis tangan Phrite, cukup cepat sehingga membuat Phrite kaget. "What is your kamsud yo'? I am okeh!"

Phrite menggeleng. "Ini bukan seperti Oom Zerou yang kukenal..."

"Ha? Not Zerou? Ini teh orisinil! Still don't believe me?!! Kalau begitu, how about... my dagger?" Zerou menyeringai, mengeluarkan senjata dagger yang dibawanya, dan langsung membekap leher Phrite dengan kekuatan luar biasa.

"A.. akh.." Phrite membelalak, ia tak dapat berbicara karena terlalu kaget. Perlahan, sisi tajam dagger milik Zerou didekatkan ke wajahnya

"Sudah berakhir, wanita-miiko!" seru Zerou penuh kemenangan, dan berbalik. Di depannya berdirilah seorang perempuan berambut hijau yang bertampang marah. Ia memakai pakaian khas Elementalis yaitu baju miko berwarna biru.

"Pengecut!" sembur perempuan itu, mengarahkan Tiny Rod-nya kepada Zerou versi aneh ini. "Kau memaksaku untuk mengeluarkan jurusku yang paling berba--"

"Oh? Apa? Kali ini jurusmu yang paling berbahaya? Bukannya tadi kau sudah bilang kau akan mengeluarkan jurusmu yang mematikan?" timpal Zerou mengejek, makin lama suaranya makin serak. "Dan sekarang, mana buktinya?"

Di tengah percakapan yang jelas-jelas tak ada setitikpun nada ramah ini, hati Phrite berguncang. Hidupnya sudah tentu berada di ambang kematian, mengingat jarak dagger Zerou dengan kulit pucat lehernya hanya tinggal beberapa milimeter. Phrite memejamkan mata, berusaha tidak mendengar teriakan-teriakan orang di sekitarnya...

se... lang... angan...

se... lang... kangan??

Hah?

Phrite mengingat sesuatu yang diucapkan oleh Elina.

"Kalau hidupmu berada di ambang kematian, ingatlah untuk menyerang 'kacangnya'!"

Kacang?

"Itu lho, di antara selangkangan!"

Oh, oke, Phrite paham.

Segera Phrite merencanakan strateginya untuk menyelamatkan diri dari situasi mengerikan ini. Selang beberapa detik kemudian, Phrite menemukan rencana yang hebat.

Phrite mencoba berdeham. "Umm... Mr Zerou yang aneh? Aku mau bertanya..."

"Apa?!" bisik Zerou dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding.

"Tanganmu berotot dan kuat kan?" tanya Phrite, memasang senyum sepolos mungkin.

"Tentu saja," jawab Zerou bangga, masih dalam bisikan.

"Kalau begitu kau bisa menahanku meskipun aku jungkir balik, kan?" tanya Phrite lagi, dengan muka gembira.

"Apa maksud--"

Sebelum Zerou sempat menyelesaikan kalimatnya, Phrite langsung mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat kakinya bergerak mengayun ke atas. Tangan Zerou yang masih membekap leher Phrite dijadikannya sebagai tumpuan. Sepersekian detik setelah kedua kakinya yang mengudara di atas, ia mengatur kakinya sendiri supaya ketika ia mulai turun dari atas, ia akan dengan tepat mengenai--

"AAAAAAU!!!!!!!!"

--'kacang'nya.

Zerou berteriak kesakitan, lalu jatuh terduduk. Lengannya melemas, membuat Phrite dengan mudah membebaskan diri dari bekapan tangan Zerou yang tidak diduganya luar biasa kuat. Terbatuk sebentar, akhirnya Phrite berdiri, dan--sambil diperhatikan oleh perempuan berbaju miko itu dengan kagum--Phrite membalikkan diri dan berkata dengan senyum riang, "I call it, the 'Nutcracker'*!!

Perempuan itu berlari ke arah Phrite sambil tersenyum gembira, menyatakan 'terima kasih' yang singkat namun sepertinya penuh makna kepada Phrite, lalu memeriksa Zerou. Ia berlutut di samping Zerou yang sudah terkapar tak berdaya dengan kedua tangannya memeluk... barangnya, dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam pakaiannya. Botol itu disorongkannya ke arah mulut Zerou, dan dalam sekejap kabut putih memenuhinya. Perempuan itu menghela napas lega, dan kemudian berdiri agar bisa berhadapan dengan Phrite.

"Terima kasih sekali lagi, Nona," katanya sopan dengan nada gembira. "Berkat kau, kami bisa mengoleksi data penting yang pasti akan berguna untuk penyelidikan kami tenta--"

Tiba-tiba saja sebuah batu terlempar dari semak belukar terdekat dan mengenai kepala perempuan itu dengan telak.

"--AW!! Siapa itu?! Ah, sudahlah, aku pasti akan mencari tahu. Nah," mendadak perempuan itu menjadi sedikit serius. Ia berbisik kepada Phrite, "maafkan aku untuk kejadian tadi. Sesuatu merasuki temanmu itu, dan kemudian menyerangku. Aku tak tahu kenapa dia bisa melakukan PvP di alam bebas--" wajah Phrite yang menunjukkan kebingungan tidak digubris olehnya, "--tetapi, kalau sesuatu terjadi padamu lagi, kuharap kau memanggilku dengan ini." Ia menyerahkan sebuah gantungan kunci dengan bandul berupa bola putih keperakan kecil. "Genggam saja dengan penuh perasaan, bantuan pasti akan datang, hehehe," Ia mengedip. "Dan... kalau boleh tahu, namamu siapa ya?"

Phrite masih sedikit shock dengan kejadian tadi, karena itu ia menjawab dengan sedikit terbata-bata, "P... Phrite."

"Oke, Phrite..." mukanya sangat serius kali ini, kemudian tiba-tiba ia berseru dengan gembira, "... Salam kenal! Namaku Sachiko... kuharap kita bisa jadi teman baik!"

"B... baiklah... salam kenal juga..." Mau tak mau hati Phrite menjadi sedikit tenang saat mengetahui bahwa perempuan ini--Sachiko--ternyata tidak terlalu serius juga.

"Nah, sekarang aku harus pergi dulu. Masih banyak yang harus aku lakukan," kata Sachiko mengedip, lalu dengan gesit ia memasukkan botol tadi ke dalam pakaiannya dan berjalan menjauh dari Phrite dengan santai. Ia kemudian melambai untuk yang terakhir kalinya kepada Phrite, yang tentu dibalas Phrite dengan dengan canggung.

"Ah... dimana aku..." sahut sebuah suara di belakangnya.

"Wah... Oom Zerou sudah bangun! Apa Oom ingat sesuatu?" tanya Phrite yang, entah kenapa, sedikit antusias.

"Entahlah... tadi aku berada di sekitar Underwater Cave, tapi tiba-tiba... kenapa aku di sini...?" tanya Zerou linglung, berusaha duduk kembali. "AW!" Tiba-tiba ia berseru kesakitan.

"A...ada apa?" tanya Phrite, kembali takut dan khawatir.

"Kenapa di sekitar selangkanganku ini... rasanya sakit sekali ya?" tanya Zerou lagi, sambil berusaha berdiri namun masih limbung.

Tentu saja Phrite menyeringai jahil, kemudian berkata, "Wah, ceritanya agak panjang dan sungguh menegangkan sekaligus lucu! Nanti kuceritakan, deh!"

*: credit to Scary Movie 4



Apa sebabnya Zerou dirasuki setan jahanam macam itu? Siapakah wanita misterius bernama Sachiko itu? Apa hubungannya dengan petualangan yang akan dialami Phrite?

Nantikan cerita menarik Phrite di chapter Mignonette selanjutnya~!
« Last Edit: May 16, 2013, 12:27:11 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 4: Chaos In Motion
« Reply #4 on: December 18, 2009, 07:34:00 PM »
Chapter Four
~Chaos In Motion~



TS' Notes:
Sory kalau chap yang ini juga rada pendek :cry: Gw udah nyelesaiin background story nya, dan bisa dipastikan habis ini Mignonette akan tambah seru hehehe *promosi nih promosi* Oke, credit title to Dream Theater, dan semoga kalian enjoy dengan chap ini....

(HARAP KOMEN!! :laugh:)





Wajah Sachiko kusut, alisnya bertaut, dan mulutnya memberengut. "Gumi-kun," ujarnya jengkel, gaung langkah kakinya seakan mencerminkan perasaan hatinya yang mendongkol. DUNG! DUNG! DUNG! Entah kenapa suara sandal jepit milik Sachiko bisa berubah menjadi suara yang seaneh itu.

"Yaa~ Sacchan?" sahut Gumi santai, langkah kakinya ringan. Anehnya, Seraph Shoes miliknya seperti tidak memantulkan gaung apapun.

"Kenapa tadi kamu melempariku dengan batu?" tanya Sachiko, mulutnya masih memberengut.

Orang yang dipanggil Gumi itu tertawa. "Kau tahu, lucu sekali kalau kamu marah." Ia mencubit pipi Sachiko.

"Gumi-kuun! Aku serius!" Sachiko berhenti, tangannya bersedekap.

"Santai dong, Sacchan. Lagipula aku melakukannya supaya kamu ingat bahwa kamu hampir saja mengatakan misi kita kepada Lady imut itu," ujar Gumi, ikut berhenti. Meskipun ia mengatakannya dengan cengiran, ada suatu nada di dalam suaranya yang menyatakan bahwa ia serius.

Sachiko, dengan enggan, berjalan lagi dan berkata dengan nada minta maaf, "Baiklah, aku tahu itu. Maafkan aku karena aku sedikit ceroboh." Kini muka Sachiko menjadi sedikit santai lagi, meskipun pijar keceriaan masih belum kembali dalam bola matanya.  "Tapi kita sudah mendapatkannya! Salah satu dari makhluk ciptaan orang itu!" Ia mengambil botol yang sedari tadi disimpannya di balik bajunya. Sesuatu yang menyerupai asap berwarna kehitaman melayang-layang di dalam botol itu.

Begitu melihat botol tersebut, Gumi langsung mengalihkan pandangannya dan berkata dengan jijik, "Masukkan kembali, Sachiko. Aku merasa ingin menghancurkan makhluk jahanam yang tertahan di botol itu."

Sachiko memandangnya sambil bertanya-tanya, namun begitu melihat tampang Gumi dan mendengar namanya diucapkan secara normal, ia langsung menurut dan memasukkan kembali botol tersebut. Namun, kali ini ia memasukkannya ke dalam tas kecil di pinggangnya.

"Ngomong-ngomong, aku tak mengerti mengapa kita memilih tempat ini sebagai markas... Apa Remia tidak bisa memilihkan tempat yang lebih--kau tahu, luas?" tanya Sachiko, memandangi dinding yang mengungkungi lorong yang mereka lalui sekarang.

Sambil mengangkat bahu, Gumi hanya membalas perkataan Sachiko dengan suara jahil, "Mungkin mereka memang ingin menyiksamu dengan tempat kecil. Tunggu, kau tidak suka tempat-tempat sempit? Jangan-jangan kamu klaustrofobia?"

Sachiko mengernyit dan berkata dengan jengkel, "Aku tidak tahu arti kata itu tapi sepertinya kau ingin sekali mengerjaiku! Hei, tunggu! Awas kamu!" Mendadak Gumi berlari menjauh ke arah yang dituju mereka berdua sambil menjulurkan lidah. Tentu saja Sachiko mengejarnya.

***


"Kupikir Kak Zerou harus selalu bersama denganku," Phrite berkata dengan serius. Ia memandangi muka Zerou dengan tatapan tajam. Suara lalu-lalang orang-orang di Cafe Downtown itu terasa menghilang.

"Oh," Zerou balas memandang Phrite. "Dan boleh kutanya apa maksudmu berkata seperti itu?" Zerou bertanya dengan sengit.

"Karena... ada kemungkinan kalau Kakak tidak bersamaku lagi, Kakak akan mengalami kejadian mengerikan seperti di Underwater Cave--Maksudku, Continental Cave itu," Phrite mengakhiri ucapannya sambil tak kuasa menahan tawanya.

Zerou ikut tertawa bersama Phrite. Zerou tahu betul bahwa ketidak beruntungannyalah yang membuatnya dirasuki roh jahat tadi. "Kau tahu," ujar Zerou disela-sela tawanya, "Kau mungkin benar. Kurasa keberuntunganku hanya naik kalau aku ikut bersamamu." Matanya mengedip.

"Nah, betul kan?" Phrite menyeringai. "Kalau begitu, temani aku levelling di Fruit Forest! Dengan begitu keberuntungan tidak akan meninggalkan kakak dan aku pun dapat first aid gratis!"

Zerou mengernyit, dan kemudian menghela napas. "Sudah kuduga pasti aku akan disuruh-suruh!" Ia mengangkat bahunya, dan tersenyum. "Tapi, bolehlah. Mungkin itu balasan yang setimpal untuk keberuntunganku." Ia bangkit berdiri dan membayar makanan mereka. Tentu saja, Phrite lagi-lagi ditraktirnya.

"Tapi kalau Kak Zerou mau melakukan sesuatu dulu, tidak apa-apa. Soalnya aku mau melakukan quest dulu, hehehe," Phrite berujar, masih dengan cengiran jahil.

Zerou tertawa kecil, dan berkata, "Baiklah, aku juga mau mengatur toko-tokoku dulu. Biasa, orang sibuk! Dan aku senang dengan panggilanmu terhadapku. Jangan sekali-kali lagi panggil aku oom!"

"Baiklah, Oom, aku pergi dulu ya! Kudoakan semoga tokomu lancar-lancar saja!!" Phrite tertawa, rupanya telah melesat pergi. Tak lupa ia melambai ke arah Zerou dan berteriak lagi, "Bye!"

"Sudah kubilang jangan panggil aku oom!!"

***


"Kurasa aku telah menemukannya, tapi kemungkinannya masih satu banding lima puluh ribu, Master," sahut seorang lelaki bercelana renang dengan snorkel terpasang di kepalanya. Orang itu berlutut di hadapan seorang manusia yang duduk di atas sebuah batu dengan sebelah kakinya naik ke atas batu tersebut. Di sekitarnya, pohon-pohon mati mengelilingi mereka, dan tidak ada siapapun di sana selain mereka.

"Itu sudah cukup bagus, lanjutkan penelitianmu," ujar orang yang duduk di atas batu itu dengan tenang, namun tak dapat disangkal lagi bahwa sesuatu yang lebih dari sekedar jahat memenuhi nada suaranya.

"HA! Kenapa kau tidak langsung membunuhnya saja? Itu lebih menarik! Dan lebih bagus lagi kalau aku yang membunuhnya," sahut orang lain, yang berdiri bersandar di salah satu pohon. Suaranya terdengar melengking tinggi tidak mengenakkan.

"Kurasa lebih menarik lagi kalau ia dibiarkan kuat dahulu, kemudian dibunuh." Seseorang berbisik dari atas pohon. Sepertinya orang yang barusan berbisik adalah seorang wanita.

"Cukup. Apa yang akan kulakukan atau tidak kulakukan, semua merupakan keputusanku. Kuharap kalian mengerti." Suara tenang jahat itu kembali memenuhi udara, dan kali ini bernada peringatan.

Seluruh orang berada di tempat itu menyahutinya dengan dua kata tegas. "Ya, Master."

***


Kakinya menimbulkan suara keresek, keresek, selagi Phrite sendiri berjalan dengan perlahan-lahan di antara pepohonan rindang yang memenuhi hampir seluruh area di Fruit Forest. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan keselamatan teman seperjalanan yang selama ini menemaninya, tak lain dan tak bukan adalah Zerou. Sudah Phrite maklumi bahwa ia memiliki penyakit yang cukup aneh, yaitu ketidak beruntungan dengan level paling tinggi. Dalam satu jam terakhir ini saja Zerou sudah mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh pikiran ilmiah: tiga kali terpeleset rumput basah, dua kali tertimpa dahan jatuh, dan yang paling terakhir adalah dia kewalahan menahan mob Roper (hebatnya, sampai 10 ekor lho) yang entah kenapa sangat tertarik kepada Zerou.

"Kak Zerou kasihan ya..." Phrite hanya bisa berkata demikian, mengingat ia sendiri tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengurangi kesialan Zerou. Seekor Roper dengan santai berjalan di dekat mereka. Tanpa membuang waktu Phrite langsung menghajar Roper itu menggunakan Axe yang telah siap di tangan kanannya. Butuh beberapa tebasan dari Phrite untuk menghabisi makhluk aneh bertentakel banyak itu.

Melanjutkan percakapan tadi yang sempat tersendat, Zerou tertawa kecil. "Ahahaha, ini sudah lumayan! Biasanya aku sih mokad gara-gara mob Roper dua kali lebih banyak daripada di sini." Zerou yang tadi hanya menonton saja, mengajak Phrite untuk berjalan lagi.

Phrite menyambut ajakannya dengan sedikit menahan tawa. Iseng-iseng, Phrite menggoda Zerou, "Jadi benar kan kalau kehadiranku bisa membuat keberuntungan Kakak kembali?" Phrite menambahkan cengiran di wajahnya.

Zerou mengangkat tangan tanda hormat. "Benar, Nona Muda Phrite!! Tapi--" tiba-tiba sebatang ranting jatuh lagi ke atas kepalanya, "... kurasa aku masih memiliki cukup banyak ketidak beruntungan, meskipun sudah ada kau." Zerou meraba-raba kepalanya yang masih berdenyut-denyut garang karena kejadian tertimpa ranting lagi. "Yah, setidaknya kali ini aku tidak kejatuhan pup burung."

"P... pup burung..." sahut Phrite yang kehilangan kata-kata. Ia berusaha membayangkan kejadian tersebut di dalam benaknya. "Eww... kurasa itu agak menjijikkan," ucap Phrite, merinding.

"Benarkah? Terima kasih kau sudah mengerti perasaanku, biasanya orang lain yang kuceritai hal itu langsung tertawa tanpa kendali..." kata Zerou, wajahnya tampak merana.

"Aduh, Kak Zerou kasihan ya..." Phrite mengangguk-angguk, mengelus punggung Zerou dengan penuh simpati. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang membuatnya berteriak bersemangat. "Ah!" Phrite menunjuknya dengan suka cita. "Wooden Box!"

"Hm? Kau mau mengambilnya?" tanya Zerou, tersenyum.

"Tidak, itu buat kakak saja. Lagipula kakak sudah cukup menderita dengan ketidak beruntungan kakak," sahut Phrite, lagi-lagi sambil menahan tawa.

Zerou tampak sangat senang sekaligus terharu mendengar perkataan Phrite. "Benarkah?" Ia memandang Phrite dengan perasaan sayang seperti perasaan kakak terhadap adiknya. "Kau benar-benar baik, Phrite!"

Dengan perasaan bahagia, Zerou mencoba membuka wooden box itu, namun sia-sia. Alih-alih menyerah sia-sia, dengan seluruh kekuatannya Zerou mencoba menyerang isi kotak kayu lusuh tersebut. Untunglah, dalam beberapa sabetan dagger-nya saja, kotak tersebut sudah hancur berkeping-keping.

Namun ternyata di dalamnya ada sebuah kotak lagi.

"Hahh? Kok ada kotak lagi sih?" seru Phrite keheranan, seraya ikut mendekat dan mengamati kota itu.

"Hey, kamu belum pernah melihat wooden box sebelumnya ya?" tanya Zerou geli, sembari mengambil kota tersebut. "Tapi kamu kok tahu wooden box kalau kamu belum pernah melihat isinya?"

"Yahh... aku tidak tahu sebetulnya. Tapi -entah kenapa- aku mengerti kalau wooden box itu isinya berharga..." Phrite mulai menerawang.

"Hm... begitukah... hey, hey, siapa kamu??!" seru Zerou tiba-tiba, karena di depannya berdirilah seorang laki-laki yang secara tiba-tiba mencoba merebut kotak lusuh yang sudah dipegang Zerou.

"Punyaku!" seru orang itu.

"Hey, aku yang menemukannya jadi ini punyaku!" ucap Zerou, kesal.

Namun kekuatan orang itu lebih besar dari Zerou sehingga tangannya pun terlepas dari kotak tersebut.

Orang itu, yang memiliki sepasang mata tanpa ekspresi dan rambut pirang acak-acakan, langsung memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya. "Muahahahaa!! Maaf ya, tapi sepertinya ini jadi punyaku sekarang. Aku memang masih kuat seperti dulu ternyata!" Ia menyeringai sombong.

"... kalau kau begitu kuat kenapa kau tidak mencari sendiri saja?" ucap Zerou pelan, ia mulai bangkit berdiri dan menghadapi sang pendatang baru yang aneh dan sombong ini.

Orang itu tersenyum meremehkan, dan berkata dengan nada arogan, "Aku hanya ingin mengetes kemampuanku terhadap orang-orang lemah." Ia menekankan kata lemah itu dengan nada yang mengintimidasi. "Seorang oom-oom yang menyedihkan dan seorang gadis ingusan.. Huh, kadang aku merasa kasihan sendiri melihat orang-orang seperti ini," orang itu mengakhiri pembicaraan dengan pendangan mata merendahkan ke arah Phrite yang sedari tadi hanya berdiri dengan perasaan bingung yang amat sangat.

Serentak Zerou dan Phrite menegang, jelas-jelas tidak terima dikatai 'menyedihkan'. Mata Phrite yang berwarna hijau beradu pandang dengan mata milik orang itu. Menguatkan hatinya, Phrite memberanikan diri untuk balas memandang orang itu dengan garang dan berkata balik, "Memangnya kenapa kalau iya?"

"Hoo," orang itu bersiul. "Pemberani rupanya."

Phrite berlari ke arahnya dan kemudian menginjak kakinya keras-keras.

"WADHAAUW!!" Ia mundur perlahan sambil melompat-lompat, tangannya memegangi kakinya yang terbalut sepatu khas seorang Explorer. Matanya yang tadi memandangi kakinya dengan perasaan penuh sayang tiba-tiba memandang Phrite dengan sebal. "Kau menginjakku!"

"Memangnya kenapa kalau iya?" tanya Phrite balik, puas. Ia mengedip kepada Zerou, dan Zerou sendiri memberinya acungan jempol dengan penuh semangat.

"Ughh... aduh, aduh, sakit... welehh, definitely not my type, sama sekali tidak anggun! Eh, Lilaca sayang," tambah orang itu, memanggil seorang cewek cantik dari ber-ras Dominion yang berjalan mendekat ke tempat mereka. "Sudah selesai persiapannya?" tanya orang itu kepada cewek yang dipanggil Lilaca itu.

Lilaca, yang mengangguk pelan, memiliki penampilan yang imut namun agak aneh. Telinganya, alih-alih berbentuk seperti telinga manusia biasa, memiliki bentuk seperti milik Nymph Marionette. Ia mengenakan baju ungu khas seorang Necromancer dan ber-stocking oranye dengan strip-strip hitam yang lucu. Sepasang kacamata bertengger di wajahnya. Di balik kacamata itu, matanya yang berwarna merah darah itu terlihat kejam. Kedua mata tersebut langsung menyipit begitu menyadari kehadiran Zerou dan Phrite.

Ia mulai menggerutu dan berbisik keras kepada Treasure Hunter sombong itu. "Kenapa ada orang di sini? Bukankah sudah kubilang untuk bunuh mereka semua, Alceus?" Suaranya makin meninggi.

"Mereka itu datang waktu aku sudah menyelesaikan yang terakhir, kau tahu," Orang yang bernama Alceus itu berkata dengan nada datar. "Tapi biarlah, toh mereka akan terinjak-injak nanti oleh monster ganas itu."

Phrite tersentak. Dengan tatapan ngeri ia memandang Zerou yang hanya mengangkat bahu. Tanpa suara, lewat mulutnya Zerou berkata menenangkan Phrite, 'Mungkin mereka hanya menggertak.'

"Betul sekali," sahut Lilaca sambil menyeringai kejam. "Kau tahu, aku suka sekali menyaksikan berbagai cara untuk menyiksa seseorang."

"Mungkin dijadikan tempe penyet itu salah satu caranya, Lila manis?" tanya Alceus, mencoba melucu dan merayu sekaligus sambil nyengir. Lilaca hanya mencibir.

Tanpa diduga, Lilaca dan Alceus mulai melompat menjauhi tempat di mana mereka tadi berdiri. Dari jauh terdengar suara auman yang meraung-raung menyeramkan. Pohon-pohon di sekitar mereka berdiri mulai berjatuhan, burung-burung pun beterbangan ke segala jurusan, dan akhirnya Phrite dan Zerou dapat melihat makhluk yang menyebabkan itu semua: seekor beruang berwarna ungu raksasa yang masih belum berhenti mengaum semenjak kedua orang yang datang tiba-tiba barusan itu melompat menjauh. "Selamat bersenang-senang dengannya!" teriak Alceus di atas bukit Fruit Forest, melambai-lambai.

"M... most P... p... pow.. powerf... fu...l... EVILL???!!!" seru Zerou ketakutan. Bahkan tanpa aba-aba pun Zerou dan Phrite mulai mengambil langkah seribu agar dapat kabur dari monster ganas itu. "K... kenapa ia bisa berada di sini???!" seru Zerou di sela-sela kesibukan mereka kabur.

"Aku bahkan tidak tahu itu m-monster apa, yang pasti itu kelihatan ganas DAN ingin memakan kita!!" seru Phrite, berteriak balik. Di belakangnya, dengan ganas dan penuh kebencian monster itu mulai mengejar mereka berdua. Tak sedetikpun mata monster tersebut terlepas dari 2 manusia yang sepertinya akan menjadi santapan lezat baginya.

"Warp portal! Warp porrrtaaaaaaaal!!! Hosh hosh hosh--!" teriak Zerou, bersyukur karena sebentar lagi mereka bisa melepaskan diri dari kejaran monster mengerikan itu.

Mereka berdua akhirnya bisa berada di luar kawasan Fruit Forest. Napas mereka berdua tersengal-sengal, keringat bercucuran dari kepala hingga kaki, namun setidaknya mereka bisa selamat dari mimpi buruk barusan.

"Tadi itu -hah, hah, hah- apa sih?" tanya Phrite selagi ia berusaha mengendalikan napasnya yang memburu.

"M... most powerful evil."

Anehnya, ada 2 suara yang menjawab demikian. Satu dari suara Zerou sendiri yang masih tersengal-sengal napasnya, dan satu lagi dari seorang cewek yang rasanya Phrite telah mengenalnya.

"Wah, Phrite -hah, hah- kita be... berjumpa lagi!!" seru Kuro Yuki penuh kegembiraan.

"Hh... hh... Yuki?!" Kontan Phrite langsung kaget melihat siapa tadi yang menjawab sekaligus menyapanya.

"Lama tak jumpa -hhh, hhh, hhh- kurasa kamu juga dikejar ya?" tanya Yuki, mendadak penuh minat.

Phrite hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Fyuhh, untung aku Druid jadi bisa menyembuhkan kalian semua," ujar Yuki sigap, dan langsung menyembuhkan luka Phrite yang didapatnya dari salah satu cakar beruang ungu tadi. Untunglah Phrite memiliki cukup vitalitas jadi ia masih bisa berdiri meski terluka parah. Yuki juga dengan baik hati menyembuhkan Zerou, yang ikut kena cakar beruang itu.

"Temanmu, Phrite?" tanya Zerou.

Phrite mengangguk sekali lagi.

"Temanmu, Kuro?" tanya seseorang. Yuki menoleh memandang orang tersebut, dan dengan tersenyum ia menjawab ya.

Jelas-jelas Phrite juga menunjukkan sikap tertarik. "Temanmu, Yuki?"

Yuki agak jenuh dengan pertanyaan itu dan langsung berkata, "Ya, perkenalkan namaku Kuro Yuki, panggil Kuro atau Yuki pun terserah. Dan ini pacarku," ia melirik cowok di belakangnya dengan perasaan sayang, "Demon Prince."

Tersenyum, Phrite menjelaskan, "Namaku Phrite, senang berkenalan denganmu. Dan oh, ini Zerou..." Phrite bingung mau menjelaskan tentang Zerou, "... emm, temanku."

Zerou mengangguk sambil tersenyum.

Yuki menjadi bersemangat dan berkata, "Wah, senang berkenalan denganmu... Yuk, Phrite, Zerou, kita jalan-jalan dulu, mampir ke Acronia! Aku mau beli headgear terbaru, hehehe..." tambah Yuki sembari mengajak mereka berjalan kembali menuju ke kota.

Sebelum Phrite sendiri berjalan, ia bertanya dengan polos kepada Zerou, "Memangnya... pacar itu apa sih?"

Kerlingan mata Zerou menunjukkan bahwa ia tidak percaya kalau Phrite sama sekali tidak mengetahui arti kata itu. "Kau memang tidak tahu?"

Phrite menggeleng, dan mulai berjalan mengikuti Yuki.

"Akan kujelaskan... pacar adalah seseorang yang sangat membosankan, galak, selalu bertengkar dengan kita dan mata duitan...!" Zerou menjelaskan panjang lebar, ada setitik nada kesal dalam suaranya.

"Ooooooh..." Mulut Phrite membentuk bulatan 'O' yang sempurna.

***


"Tapi tadi itu sungguh seru! Menyenangkan sekali tiba-tiba ada monster boss spawn di Fruit Forest," Yuki tertawa, "penghilang kebosanan!"

Mereka sedang berjalan-jalan di Downtown, melihat-lihat dagangan para pedagang yang berserakan tak tahu aturan di sepanjang jalan. Hampir semuanya yang berdagang berbentuk golem dari marionette, dengan wajah dan gestur yang meyakinkan mereka seakan menjual suatu barang berharga dengan harga yang sangat terjangkau. Padahal, kalau benar-benar diteliti, biasanya yang terjadi adalah barang dagangan mereka tidak berharga namun memiliki harga selangit, atau sebaliknya, barang dagangan mereka memang berharga dengan harga yang murah namun sudah rusak berat. Dengan kata lain, memiliki nilai durability terendah, yaitu SATU.

"Oh, jadi aku membosankan ya?" tanya Demon Prince, nadanya meninggi yang menunjukkan bahwa suasana hatinya telah mencapai tahap jengkel.

"Eeh, aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya bilang bahwa itu menyenangkan!" kata Yuki, membela dirinya sendiri. Di tangannya terdapat sebuah payung berwarna pink yang kelihatannya sangat mahal, rupanya ia agak tertarik dengan barang tersebut.

"Terserah!" jawab Demon Prince ketus, lalu berbalik ke belakang dan berjalan menuju ke arah yang berlawanan.

"He... hei! Kau mau ke mana?" tanya Yuki, benar-benar bingung dan putus asa. Tangannya melemparkan payung itu kembali kepada sang golem, yang tampaknya menerima dengan pasrah saja saat diperlakukan demikian.

Demon Prince menjawab dengan nada yang menyatakan bahwa ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. "Menyendiri!" teriaknya, sebelum ia menghilang ditelan warp portal terdekat.

Zerou melirik Phrite yang takjub dengan pertengkaran mereka dan berkata tanpa suara, 'Apa kubilang.'

Yuki menghela napas berat, kemudian mulai berjalan tak tentu arah dengan lunglai. "Ah, masa bodoh~" Yuki berkata, nadanya mencerminkan hatinya yang sedang galau. "Selalu saja begini..."

"Sabar ya, Yuki," ujar Phrite pengertian, dan membelai punggungnya.

Yuki hanya mengangguk lemah. Setelah menerima segelas Fruit Juice traktiran Zerou dengan penuh rasa terima kasih, ia menenggaknya perlahan-lahan. Di saat meneguk cairan manis itu, tiba-tiba ia mendapat inspirasi. Hampir saja ia tersedak saking senangnya dia. "Hei, Phrite! Bagaimana kalau aku ikut denganmu lagi saja? Aku memiliki firasat kalau aku ikut pergi denganmu, aku akan bisa mengeksplorasi dunia ini lebih jauh dan aku tidak akan menderita kebosanan lagi!" Yuki cengengesan, memperlihatkan deretan giginya yang putih.

"Hah, ikut aku? Ta.. tapi..." Phrite berusaha menolak, bukan karena apa-apa tetapi instingnya yang menyuruhnya demikian. "... aku kan masih lemah, Yuki, kamu pasti akan cepat bosan..."

"Tidak apa-apa kan," Zerou ikut nimbrung. "Lagipula seorang Druid akan membantu sekali saat perjalanan... Kurasa akan seru sekali kalau kita membentuk tim--hahaha, cuma ide," tambah Zerou buru-buru, seakan takut bahwa idenya itu tidak disukai oleh kedua gadis ini.

"Itu betul! Boleh kan, Phrite?" pinta Yuki, ia memohon dengan sangat.

Phrite masih bingung dengan jawabannya sendiri. "Ehmm...."

"Baik, boleh! Ayo kita berangkat ke tempat-tempat yang menarik!" seru Yuki antusias, ia sangat gembira seperti anak kecil yang mendapat hadiah permen.

Muka Zerou dan Phrite sangat mirip dengan emoticon (==a).

"Tapi, setelah ini kita kemana ya..." ujar Phrite, terduduk lemas di salah satu bangku yang ada di Downtown.

Yuki berdiri, sepertinya entah kenapa menjadi sangat bersemangat secara ajaib. Dengan wajah bak penjual asuransi, ia menjetikkan jarinya dan berkata dengan dramatis, "Bagaimana kalau kita ke... jreng jreng jreng jreng..." Yuki berhenti, lalu berseru dengan gembira, "THE TALENTED ASTROLOGER, REMIA! Aku ingin diramal dahulu, hehehe..."

Orang-orang di sekitarnya mulai memandanginya dengan penuh keingintahuan, tetapi Yuki cuek saja dan tidak mengindahkan mereka.

Tertarik, Zerou pun berujar dengan antusias, "Remia? Peramal terkenal itu ya... Hmm, boleh juga, siapa tahu ia bisa menyingkap rahasiaku yang kelam tentang ketidak beruntunganku!" Ia mulai berjalan ke arah utara sambil mengajak Phrite dan Yuki untuk berjalan bersamanya, "Yuk, kuantar kalian ke sana!"

Phrite, yang hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum, mengikuti mereka berdua sambil membetulkan pita merahnya yang ia pasang di kiri kanan kepalanya. Namun, tampaknya ada yang aneh. Selagi mereka terus berjalan mendekat ke arah tempat Remia, lapisan manusia tampaknya semakin bertambah dan bertambah. Zerou bahkan harus berdesak-desakan untuk bisa maju ke depan, yang berakhir dengan menyerahnya Zerou dalam usahanya untuk maju ke depan karena kalau dihitung-hitung sudah 7 kali kakinya terinjak.

Mengetahui hal itu, Phrite langsung sigap menyelamatkan Zerou dari kemungkinan kakinya terinjak untuk yang kedelapan kalinya dan menyeretnya ke luar kerumunan orang. Yuki yang tidak puas langsung bertanya kepada salah seorang Titania yang paling dekat, "Hei, ada apa kok ramai sekali? Kenapa di sini penuh dengan orang?"

Orang itu menggerakkan sayapnya dengan gelisah sementara ia juga berusaha untuk maju ke depan. Ia pun menjawab, "Tragis, sungguh tragis! Tempat Remia bekerja sepertinya telah hangus dan musnah!!"

"APA??!"



Apa yang akan dilakukan Sachiko bersama dengan orang mencurigakan yang bernama Gumi itu? Apa rahasia yang disimpannya? Dan siapakah kumpulan orang-orang mengerikan itu, apa tujuan mereka??

Kenapa Lilaca dan Alceus sepertinya sangat 'jahat'? Dan kenapa mereka membiarkan Phrite begitu saja di saat kemuculan boss monster Most Powerful Evil yang seharusnya tidak ada di sana? Apa rencana mereka? Dan bagaimanakah nasib dari Remia, yang toko kecilnya telah hangus dan musnah??

Nantikan jawabannya dengan terus membaca kelanjutan cerita dari Mignonette~!


komen: tambah serius aja nih Mignonette.. ==a
« Last Edit: May 16, 2013, 12:25:32 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 5: Anxiety
« Reply #5 on: January 15, 2010, 02:39:14 PM »
Chapter Five
~Anxiety~



TS' Notes:
Ahh, lega juga akhirnya bisa post chap 5 ^_^
Please enjoy it~ and of course don't forget to leave your comment...





"APA??!" Yuki berteriak, kaget. Kontan beberapa orang yang berdiri di sekitar Yuki menoleh ke arahnya, ada yang jengkel ada juga yang ingin tahu. Tapi, sepertinya Yuki cuek-cuek saja. "Kenapa bisa begitu ya?" tanya Yuki lagi kepada Titania itu.

"Sepertinya sih... ini adalah tindakan yang tidak biasa, lebih seperti kriminal ya..." Titania itu mengernyit dan mengedikkan kepalanya ke arah tempat Remia. "Kemungkinan besar ini dilakukan oleh seseorang yang jahat... padahal dari dulu Downtown ini damai sekali..."

Sambil menghela napas berat, Yuki hanya bisa mengangguk pelan dan berkata, "Terima kasih," kepada Titania itu. Ia berbalik dan kemudian berjuang kembali untuk dapat mengeluarkan dirinya sendiri dari kerumunan orang yang sangat banyak itu.

Akhirnya Yuki berhasil juga keluar dari kerumunan orang yang semakin lama semakin bertambah banyak itu. Dengan linglung, Druid ber-ras Dominion itu berjalan menuju ke bangku dimana Phrite dan Zerou duduk. Dengan wajah bingung ia berkata terbata-bata, "Te... tempat Remia... musnah, terbakar..."

Wajah Phrite perlahan berubah dari biasa saja menjadi shock. Zerou, yang mendengar kabar tersebut sambil memijit-mijit kakinya karena terinjak beberapa kali, mengerutkan alisnya. "Kenapa bisa begitu?"

"Yah, aku sendiri tak tahu... tapi kelihatannya, dari yang sempat kulihat, tempatnya tidak hanya hangus, tapi juga rata dengan tanah. Kasihan ya, Remia..." ujar Yuki sedih, ikut duduk di samping Phrite.

Zerou menghela napas berat. "Ini jelas tidak baik... padahal dari dulu sampai sekarang suasana Downtown tenang-tenang saja, kenapa jadi kacau begini? Jangan-jangan karena kesialanku..." tambah Zerou sedikit panik.

"Ah, itu sih tak mungkin," sahut Phrite sambil berpikir. "Mungkin ada yang membuang rokok sembarangan lalu tiba-tiba apinya menyebar dan menghanguskan tempat itu?"

Yuki menggeleng, dan berkata, "Kalau saja memang benar ada yang merokok sembarangan dan menyebabkan tempat itu terbakar, bagaimana dengan keadaan tempat itu yang rata dengan tanah? Kau tahu, tempat itu kelihatannya seperti film 2013 yang baru saja diputar di bioskop tahun lalu itu..."

"Bagaimana kalau... ada Bodzilla yang datang diam-diam ke sini lalu memporak-porandakan tempat itu sekaligus menyemburkan api ke sana dari mulutnya?" tanya Phrite bersemangat.

Sambil berpikir, Yuki menyahut, "Hmm, bisa juga! Tapi aku sih lebih percaya kalau Rina Inverse yang datang lalu menghancurkan tempat itu..."

"Dengan alasan apa? Dia kan orang yang baik... atau jangan-jangan malah Thrower Ranger yang datang?"

"Itu tambah tidak masuk akal--"

"--Gahh!! Kalian berdua, hentikan! Perdebatan kalian tidak masuk akal!!! Daripada berdebat tidak jelas di sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan saja ke luar Acronia??" seru Zerou kesal.

Kedua gadis itu terdiam dan menoleh ke arah Zerou dengan pandangan tertarik sekaligus terkejut.

"Ternyata... Kak Zerou bisa marah juga..." ujar Phrite, terkesiap.

Yuki ikut nimbrung, "Kalau kau tanya aku, kukira Zerou malah tak bisa marah... malah kusangka Zerou adalah orang yang pendiam, cool, ramah, rajin menabung..." Mereka berdua saling mengerling satu sama lain, dan Segera saja kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak.

Phrite menoleh ke arah Yuki dengan tatapan tidak percaya. "Cool? Sama sekali tidak ada cool-coolnya, Kakak Zerou ini! Mungkin kalau tidak terlalu suka bicara sih iya... tapi cool?! Tak mungkin!" sahut Phrite,

"Ka... kalian ini..." bisik Zerou, auranya berubah menjadi berbahaya. Yuki dan Phrite menoleh ke arahnya, kentara sekali heran sekaligus tertarik.

"Uwaahhh... berbahaya! Zerou akan mengeluarkan jurus Kanehaneha!" goda Yuki.

"Kalian.. ini..." Zerou kemudian beringsut ke arah sudut tembok Downtown. Ia kemudian berjongkok, dan berkata pelan, "Kalian... jahat sekali...." Sepertinya di sekeliling Zerou, auranya berubah menjadi sangat hitam dan sedih.

Phrite mengerang dan berseru, "Kak Zerooou! Aku kan cuma bercanda!! Jangan ngambek dong~" Ia menyikut lengan Yuki dan berbisik, 'Lakukan sesuatu!'

Yuki, yang jelas bingung dengan perubahan suasana hati Zerou yang menjadi sangat menyedihkan itu, berdeham kecil dan berkata pelan, "Hei, Zerou, jangan seperti anak kecil dong... aku kan cuma bercanda..." Ia mendekat dan menyentuh Zerou dengan ujung jari telunjuknya. "Hei..." Yuki memalingkan wajahnya ke Phrite dan berkata, "Bagaimana ini..."

Selagi Phrite hanya bisa mengangkat bahu, tiba-tiba Zerou menghilang. Yuki yang berbalik dan menyadari bahwa Zerou hilang terperanjat sekali. "Huwaa! Kemana dia pergi?"

"I.. itu dia!" Phrite menunjuk ke arah Zerou yang telah berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya masam, namun kemudian ia menarik kulit di bawah matanya kebawah dan menjulurkan lidahnya. "BWEEE!!" Kemudian ia berbalik pergi dengan cemberut.

Phrite pun terbahak-bahak. "Waaw! Suasana hati kakak Zerou sedang tidak baik! Ini jelas sekali sebuah peristiwa yang langka!" Segera saja ia melompat bangun dan berlari untuk menyusul Zerou.

"Hey, hey, tunggu aku! Jangan tinggalkan aku begitu saja!" teriak Yuki dengan kesal, kemudian ia juga berlari ke arah Zerou dan Phrite untuk mengejar mereka.

Sementara seluruh orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing, tak ada yang mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang memandangi tempat Remia dari atas salah satu bangunan di Downtown. Tentu saja tak ada yang menyadari ia disitu, karena ia sendiri sedang memakai skill khas seorang Scout, Hide. Bahkan ia sendiri tak dapat melihat tangannya yang ia letakkan di atas keningnya, sambil memandangi reruntuhan bekas tempat Remia.

Suatu suara mulai terdengar lirih. Tidak terlalu berat, dan cukup pelan. "Remia..." Suara itu berasal dari orang tersebut. "Ini jelas bukan pertanda baik... aku harus cepat memberitahu dia..."

Dengan tangkas ia berlari ke ujung bangunan tempat ia berdiri, dan sambil masih memakai skill Hide miliknya, ia melompat turun tanpa cidera sama sekali. Pats, pats... Suara sepatu yang ia kenakan terdengar lirih di antara ingar-bingar ributnya manusia yang memenuhi Downtown. Ia menyelinap dengan cekatan di antara orang-orang yang berjualan di sekitar Downtown, menghindari para Golem yang ribut itu, dan akhirnya -dengan lompatan terakhir- ia meluncur turun ke bawah Downtown melalui celah sempit yang terdapat di tengah kota tersebut.

***


"Gahh... perjuangan yang berat sekali untuk bisa kembali ke rumah," katanya kepada dirinya sendiri. Ia berjalan cepat di antara sebuah lorong sempit yang sepertinya tidak berujung. Dalam hati ia ingin sekali berlari, namun apa daya peraturan di tempat itu tidak memperbolehkannya berbuat demikian.

Ia memakai baju berwarna biru kehijauan yang beraksen gelap, seperti warna laut. Kacamatanya yang berwarna oranye itu menggantung setia di depan matanya, dan terhubung dengan sesuatu seperti walkie talkie yang terpasang di telinganya. Rambutnya yang dicat berwarna biru tua itu tampak acak-acakan, khas seseorang dari ras Emil. Kakinya terbalut sepatu boot hitam. Semua orang pasti langsung tahu kalau dia adalah seorang Commando.

Sambil terus berjalan, ia melihat ke kiri dan ke kanan dengan liar, sambil tak henti-hentinya mendengus tak sabar. Beberapa kali ia harus menuruni tangga ke bawah, namun ia sama sekali tak peduli. Tak seberapa lama kemudian, ia melambatkan kecepatannya berjalan. Sepertinya ia telah berada di tempat tujuannya.

Sekilas ia memandang berkeliling. Ia sedang berada di sebuah ruangan kecil yang hanya berisi dua buah pot tanaman yang berisi Nymph Tree, sepertinya kedua tanaman tersebut dibuat bonsai. Di salah satu sisi dinding, ada sebuah pintu besar yang memiliki 2 daun pintu. Tampaknya pintu tersebut sangat kokoh, dilihat dari besarnya dan tingginya. Sesaat, orang tersebut ragu-ragu, namun ia menggeleng dan berjalan mendekati pintu tersebut.

Bahkan seorang Commando seperti dirinya pun bisa merasakan ada suatu kekuatan magis yang besar sedang menunggunya di balik pintu itu. Bahkan udara yang dihirupnya menjadi sedikit berat karena kekuatan magis tersebut. Ia membulatkan tekad, dan mengetok pintu tersebut dua kali.

"Masuklah." Terdengar suara yang berwibawa datang dari dalam pintu tersebut. Begitu mendengar suara orang barusan, sepertinya Commando itu menjadi sedikit lega. Perlahan ia membuka pintu dengan pasti, dan melangkah masuk.

Di balik pintu tadi, ternyata terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Bentuk ruangan itu tidak berbentuk seperti persegi panjang yang biasa, melainkan berbentuk kubah. Di dindingnya terdapat suatu lukisan yang menggambarkan berbagai susunan planet dan bintang-bintang yang mengagumkan. Meskipun kelihatannya lambat, tetapi sebenarnya planet-planet dan bintang-bintang yang dilukiskan itu dapat bergerak sesuai dengan aslinya. Penerangannya sendiri berasal dari bintang-bintang yang dilukis itu, sehingga ruangan itu agak sedikit remang-remang. Di tengah ruangan, duduklah seseorang yang berpakaian serba coklat: bajunya, bawahannya, cadarnya, dan penutup kepalanya. Ia seperti seorang peramal. Matanya dengan lembut memandangi sebuah bola kristal berukuran semangka di depannya.

"Ah, selamat datang, Ramero. Duduklah," sapa orang itu pelan. Commando yang ternyata bernama Ramero itu mengangguk, dan berjalan mendekat. Sebuah bantal duduk yang empuk telah tersedia baginya. Segera Ramero duduk di tempat itu, sehingga ia sekarang berhadapan dengan orang yang menyapanya tadi.

Orang itu menengadahkan wajahnya sehingga matanya yang tegas berwarna abu-abu keperakan bertemu dengan mata sang Commando yang berwarna coklat jernih itu. Suaranya yang sejernih denting bel itu pun terdengar, "Jika seseorang dari Stealth sampai repot-repot datang ke sini -apalagi kau- pasti ia akan menyampaikan berita yang buruk." Meskipun mulutnya tertutup cadar, dari nada bicaranya Ramero tahu ia tersenyum ramah.

Ramero, yang kekhawatirannya mulai lenyap seiring dengan kata-kata sang peramal itu, berbisik dengan halus, "Remia..." Ia berhenti sebentar, dan kemudian melanjutkan, "... mereka tahu. Mereka tahu tentangmu."

Peramal yang bernama Remia itu tampaknya tidak merasa terganggu sedikitpun mendengar berita dari Ramero. Commando itu menarik napas dan berkata lagi kepadanya, "Mereka meluluhlantakkan tempatmu. Dan aku yakin mereka juga mulai mengejarmu."

Remia tertawa pelan. "Ah, tempatku dihancurkan oleh mereka?"

Ramero mengangguk kaku.

"Kuakui aku tidak menduga bahwa mereka meratakan tempatku, namun toh aku tahu itu pasti akan terjadi. Mengingat orang-orang memberi julukan kepadaku sebagai 'Talented Astrologer'..." Remia mengangkat bahu. "Tidak salah jika dia juga mulai memperhatikan gerak-gerikku."

"Ini berbahaya, Remia," ujar Ramero, gelisah. "Tak lama lagi mereka juga pasti tahu tentang kita."

"Tergantung."

"Apa maksudmu, 'tergantung'?!" tanya Ramero dengan gusar.

Ia tidak menjawab, hanya terus memandangi kedua pasang mata Ramero. Yang terakhir disebutkan ini menyerah, dan mendadak berdiri. "Kau tahu aku percaya padamu, Remia," ujarnya datar. "Tapi--"

"--ramalan tidak bisa selalu dipercaya~ Begitukah yang ingin kau sampaikan kepadaku, Ramero?" tanya Remia, tersenyum.

Ramero tidak menjawab seperti Remia tidak menjawabnya barusan. Ia memalingkan muka, memandangi pergerakan planet-planet di atasnya.

"Ini bukan ramalan, melainkan kenyataan. Tergantung kepada kalianlah mereka menemukan kalian atau tidak. Seperti kucing-kucingan, kan," Remia tertawa pelan. "Lari sebelum kalian tertangkap, bersembunyi begitu keadaan tidak memungkinkan untuk bergerak, namun mengalahkan sang kucing begitu kesempatan ada."

Ia tertegun sebentar sesaat setelah mengerling ke arah bola kristalnya. Kemudian ia perlahan berdiri, mengagetkan Ramero sendiri yang menoleh ke arahnya. "Mau kemana, Remia? Tumben kau akan keluar dari sini, selain ke tempatmu yang di Downtown tentu saja..."

"Ke atas," ujar Remia pendek. "Solver telah menyelesaikan tugasnya."

***


"Hm... panas sekali disini!" ujar Yuki sambil mengusap bagian wajahnya yang berpeluh dengan punggung tangannya. Tak lama kemudian, ia berputar di tempatnya berdiri dengan gerakan yang lincah. Bersamaan dengan itu, mendadak Yuki dipenuhi cahaya putih menyilaukan. Ia mengarahkan harpanya yang berwarna coklat indah kepada seorang gadis berambut coklat sebahu yang tampak terluka agak parah. Begitu Yuki mengarahkan harpanya ke arah gadis itu, luka-luka yang tersebar di sekujur tubuh gadis tersebut langsung menutup dengan cepat dan akhirnya hilang tak berbekas.

Gadis menoleh kepada Yuki dan menyatakan terima kasih dengan nyengir. Yuki mengangguk riang sambil menggumamkan, "Sama-sama, Phrite."

Di belakangnya, seorang laki-laki sedang menghadapi kesulitan dalam mengalahkan seekor monster besar berwarna pink, mirip seperti seekor ulat raksasa. Beberapa bagian tubuhnya tertutup oleh batu. Monster itu, meskipun sudah diambang kekalahan, masih menyerang sang laki-laki dengan ganas. Capitnya mengatup-ngatup marah, mencoba menusuk setiap jengkal kulit laki-laki itu. Mengetahui hal tersebut, sang laki-laki juga tidak menyerah. Tanpa lelah ia menusukkan mace-nya ke arah monster pink itu, namun beberapa kali sang monster cukup gesit untuk menghindarinya. "Ughh, Rock Eater sial!! Rasakan Merciless Blow dariku!" Dengan kata-kata tersebut ia berputar di tempat, mengerahkan seluruh tenaganya ke dalam mace yang dipegangnya, dan kemudian--CROT!!--menusuk Rock Eater itu dengan kekuatan ganas.

Rock Eater, yang tampaknya telah dikalahkan dengan telak oleh laki-laki itu, terempas ke belakang, dan berguling--mati. Tubuh ulat raksasa itu perlahan menghilang, menyisakan suatu barang di bawahnya. Laki-laki itu tersenyum lebar, kemudian memeriksa barang yang dijatuhkan oleh Rock Eater itu.

"Solid Pebble lagi..."

"Bukankah kau seharusnya bersyukur bisa mengalahkan Rock Eater itu tanpa sekalipun pingsan, eh, Zerou?" Yuki tertawa kecil. Tanpa membuang waktu, dengan mantap ia menyembuhkan luka-luka milik Zerou dengan cara yang sama seperti ia menyembuhkan luka Phrite.

Mengernyit, Zerou berkata, "Hei, kau benar juga." Diliriknya Phrite yang masih berusaha membunuh seekor Pururu merah dengan sedikit corak hitam yang berukuran lebih besar daripada Pururu biasa. "Bagaimana kalau kita istirahat dulu? Aku sedikit lapar..." Zerou melangkah mendekat ke Phrite yang masih bertahan dari caplokan ganas sang Pururu. Namun tak lama kemudian akhirnya tebasan Axe milik Phrite berhasil membunuh pururu yang berwarna mirip lava itu. Helaan napas yang ringan dihembuskan oleh Phrite sesaat setelah ia berhasil mengalahkannya.

Phrite menoleh ke arah Zerou yang telah mendekat, dan berkata dengan suara memelas, "Tenagaku sudah habis..."

"Makanya kita istirahat dulu," ujar Zerou tersenyum geli. Ia duduk di atas tanah yang keras dan hangat itu, dan mengerang pelan. "Oh, betapa aku merindukan tempat duduk!"

Phrite dan Yuki mengikutinya. Mereka bertiga duduk di bawah sebatang pohon rindang yang melindungi mereka dari sinar matahari yang begitu menyengat.

"Kau yakin kau tidak mau Holy Feather?" tanya Yuki setelah mengempaskan badannya ke atas rumput hijau kecoklatan yang sedikit kering.

Zerou menggeleng. "Lebih enak duduk-duduk dan ngobrol, hahaha..."

Angin semilir berhembus, membawakan partikel debu dalam jumlah banyak sekaligus meniupkan hawa panas yang gerah ke arah mereka bertiga. Kontan mereka semua langsung mengeluh dan mengipasi badannya masing-masing.

"Heran Iron South Street makin lama makin panas saja," ujar Yuki, mulai mengipas-ngipaskan tangannya ke arah mukanya yang berpeluh.

"Hah! Baru tahu ya?" tanya Zerou sambil mengerlingi Yuki. "... Sebenarnya aku juga baru tahu kok."

"Kukira tadi kau mau meledeknya," ucap Phrite, tersenyum.

Zerou menggeleng. "Ledekanku selalu tidak lucu."

"..... Apa hubungannya??" tanya Phrite dan Yuki bersamaan, bingung.

Dengan mulut melengkung ke bawah, Zerou menyahut, "Benar kan. Tidak lucu."

Yuki dan Phrite saling mencuri pandang satu sama lain. 'Memangnya dia lagi bad mood ya?' bisik Yuki pelan.

'Entahlah,' jawab Phrite bingung. 'Mungkin kesialannya sudah melewati batas?'

"Hey, kenapa semuanya jadi diam?" tanya Zerou bingung. "Oh ya, ngomong-ngomong aku lapar sekali," tambah Zerou, memegangi perutnya yang baru saja berbunyi. Kontan kedua gadis itu tergelak.

"Aku punya beberapa makanan kalau kau mau," ujar Yuki sambil berbalik, berusaha membuka tas pinggangnya yang selalu setia tergantung di bagian belakang tubuhnya.

"Jangan lupakan masakanku!" kata Phrite tak mau kalah. Dengan segera tanah di depan mereka penuh dengan berbagai macam masakan yang lezat, mulai dari sandwich, biskuit, coklat batangan, dan masih banyak lagi. Tidak lupa pelbagai minuman yang sangat enak seperti Soda, Fruit Juice, dan Mix Juice. Begitu melihat jenis minuman terakhir, Phrite langsung teringat pada lelaki aneh yang memakai celana renang dan sebuah snorkel yang bertengger di wajahnya. "Ah, orang itu...."

"Adha afa, Frait?" tanya Zerou dengan mulut penuh. Ternyata makanan berhasil mengembalikan keadaan hatinya menjadi sedikit lebih baik.

"Tidak, aku hanya teringat pada orang aneh yang kutemui di Fareast City," kata Phrite sambil lalu.

"Orang aneh? Seperti apa dia?" tanya Yuki tertarik.

Mengangkat bahu sambil nyengir, Phrite berkata, "Aneh banget! Lebih aneh dari kak Zerou malahan," Phrite tertawa. "Dominion itu hanya memakai celana renang berwarna merah dan snorkel usang di kepalanya! Bayangkan!"

Zerou menyemburkan Mix Juice yang baru saja meluncur ke tenggorokannya. Yuki yang terdiam sebentar untuk membayangkannya sesaat kemudian tertawa terpingkal-pingkal. "Masa sih? Six pack dong!" Mereka tambah tenggelam dalam tawa mereka.

"Tapi," kata Zerou, setelah mereka sudah sedikit tenang. "Rasanya aku pernah melihat orang yang seperti itu... samar-samar sih," Zerou berpikir sejenak. "Kurasa di Continental Cave... itu lho, waktu aku sedang ingin berburu Zircon untuk bisa mendapatkan lagi veril marionette setelah aku tak sengaja mengubahnya... menjadi... golem..." Makin lama Zerou makin murung.

"Hei, itu kan sudah berlalu! Jangan dipikirkan lagi, dong, kak Zerou!" kata Phrite, memberi semangat kepada Zerou sambil menepuk punggungnya.

"Sayang sekali! Kenapa kau mengubahnya menjadi golem? Veril itu kan mahal!" ujar Yuki tak percaya.

Phrite menyikut sikunya dengan tatapan memperingatkan. 'Ssssht!! Jangan berkata seperti itu. Nanti dia tambah sedih!' bisik Phrite.

'Aku masih tak mengerti...' bisik Yuki balik. Namun, setelah melihat perubahan air muka Zerou, ia langsung berbisik lagi, 'Ah, unlucky ya.' Yuki tersenyum maklum.

Yuki, yang sekarang bertekad untuk tidak lagi menyinggung kesialan Zerou, berusaha mengganti topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, kau pernah ke Tiny Island, tidak?"

Zerou mengatakan 'ya', namun Phrite berkata 'tidak'. Pembicaraan pun berlanjut dengan seru, dengan Yuki yang menjelaskan panjang lebar tentang betapa 'indahnya' Tiny Island dan Zerou yang kadang nimbrung ke dalam pembicaraan. Phrite hanya mengangguk-angguk mengerti.

Sementara mereka berdebat seru tentang apakah sebaiknya memihak Tiny Pirate atau Native Tiny, mereka tidak menyadari sepasang mata tajam yang mengawasi mereka di balik rimbunnya daun-daun pepohonan. Seorang Titania sedang duduk di atas ranting pohon yang cukup tebal. Jaraknya cukup jauh untuk terlihat oleh Phrite, Yuki, dan Zerou, namun masih cukup dekat untuk bisa mengawasi mereka. Orang itu memiliki sepasang mata jernih yang beriris warna hijau cemerlang, hanya saja salah satunya tertutup oleh sebuah penutup mata hitam. Bajunya berwarna coklat bak koboi dengan bagian depan yang terbuka. Rambutnya yang berwarna silver tertutup oleh topi koboi putih. Di sampingnya, seekor burung berbulu abu-abu gelap dengan aksen merah di ujung bulu sayap dan jambulnya sedang hinggap di salah satu lutut orang tersebut.

'Kau sering sekali keluar sekarang, Ciel.'

Sebuah suara terdengar dari dalam kepalanya. Ia menyeringai, dan membalas perkataan tersebut dari dalam kepalanya pula. 'Apakah aku memang harus berdiam diri di dalam markas, Remia?' Ia mengelus senjata api yang cukup besar, yang sedang tergeletak di atas salah satu bahunya.

'Tidak. Hanya saja, bukan kebiasaanmu untuk meninggalkan tempatmu,' Remia menjawab balik.

Seringai Ciel perlahan memudar, dan ia berkata di dalam kepalanya dengan serius, 'Sudah kutemukan.'

'...hm?'

'Anak itu. Gadis itu...'

'... Yang itu? Benar-benar dia? Kau bercanda.'

'Tapi aku belum yakin. Hanya saja...' Ciel memandangi Phrite dengan intens lagi. 'Ciri-cirinya hampir mirip dengan dia.'

Butuh beberapa detik bagi Remia untuk melanjutkan pembicaraan begitu Remia tahu Ciel tidak berbohong. 'Apakah dia dalam masalah sehingga kau menemukannya?' nada Remia berubah khawatir.

'Tidak.' Ciel menjawab pendek.

'Ah, begitu.' Sesaat kemudian, dengan nada yang lebih berwibawa, ia berkata pada Ciel, 'Kalau begitu, tolong lindungi dia, Ciel. Akan sangat gawat kalau dia menemukan sang Lady.'

Dengan perasaan dongkol Ciel menjawab kasar, 'Tidak kau suruh pun aku juga akan bertindak demikian!' Ia menarik napas dalam-dalam, dan melanjutkan dengan nada datar. 'Ramero. Sachiko, Gumi.'

'Nani~?' Sebuah suara perempuan yang ceria langsung merespon panggilan Ciel.

'Hoaahm... kau memanggilku?' Suara lainnya bertanya, dengan nada yang menyatakan bahwa ia jelas baru saja terbangun dari tidurnya.

'Ada apa?' tanya Ramero, waspada.

'Selidiki Dominion yang memakai celana renang berwarna merah dan snorkel. Kemungkinan besar ia adalah bawahan orang itu.'

'... Roger.'

'Ryoukai, Ciel-san!'

'Segera setelah aku menyelesaikan makan siangku...'

Pandangannya kali ini menerawang ke atas, berusaha menantang sinar matahari yang menyilaukan, namun terhalang oleh topinya sendiri. Burung yang hinggap di lututnya mematuk pahanya dengan lembut, untuk memberitahu Ciel bahwa sekali lagi Phrite, Yuki, dan Zerou telah melanjutkan sesi hunting monster mereka. Tanpa sadar Ciel memandang lurus-lurus ke arah Phrite. Makin lama ia memandang gadis itu, yang sekarang berhadapan dengan Lava Pururu yang lain, pandangan matanya yang garang perlahan makin melunak dan melembut. Begitu dekat, namun begitu jauh.

"Hm."

***


"Hey, kau tidak merasa mendengar sesuatu yang aneh?" tanya Phrite sejam kemudian, setelah mereka dalam satu jam non-stop membasmi monster-monster yang menghinggapi Iron South Street. Zerou akhirnya setuju saat Yuki memintanya--memaksa, sebetulnya--untuk menggunakan Holy Feather bagi mereka. Alhasil, Phrite telah berhasil naik beberapa level, Zerou hanya naik satu level karena terlalu sering pingsan, dan Yuki anehnya tidak naik barang satu level pun.

"Suara yang aneh?" tanya Zerou, sesaat setelah ia memberi Merciless Blow mautnya kepada salah seekor Rock Eater. "Memangnya ada?"

"Aku juga dari tadi mendengar ada suara-suara aneh, seperti... 'uuu' begitu?" ujar Yuki tidak yakin.

Mereka diam sesaat untuk menajamkan telinga. Benar saja, suara-suara 'uuu uuu' yang lemah semakin terdengar lebih keras.

Yuki tampak tertarik. "Ayo kita ikuti suara itu!"

Selang beberapa menit kemudian, setelah mencari-cari di seluruh semak-semak yang ada (sambil membunuh semua Rock Eater yang mengejar mereka) mereka akhirnya tiba di dekat sumber suara.

"Kyuu~ Kyuu~"

"... HAH!!! APA ITU???"



Siapakah Ciel itu? Apa hubungan dia dengan Remia, Sachiko, Ramero, dan Gumi? Apa kira-kira yang ditemukan oleh Phrite dkk??

Nantikan seluruh jawabannya di chapter-chapter Mignonette mendatang!!



Spoiler for komen:
Ciel <3 *jatuh cinta pada char bikinan sendiri xD*

Oh iya, buat yang bingung, itu Ciel dkk lagi chat ring... masak aku deskripsikannya, 'Maka Ciel pun memencet tombol 'R' besar di bagian bawah layarnya dan kemudian mengetik...' ga banget ==a makanya aku deskripnya bersuara di kepalanya :D

chapter berikutnya akan penuh dengan pet!!

tambahan lagi: referensi tampangnya Ciel bisa dilihat di ilustrasi gunner wiki ECO...

ini saia edit (muakakaka)

« Last Edit: May 16, 2013, 12:28:19 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 6: Uncovering the Mist
« Reply #6 on: January 26, 2010, 10:32:59 PM »
Chapter Six
~Uncovering the Mist~



TS' Notes:
Hi guys and girls!! I AM BACK!!
Sebenernya aku maunya ngepost 1 chap khusus "April Mop" lho... tapi aku post ini pas jam 1 subuh... jadinya, dah lewat deh ;_;
... tapi aku masih punya utang 1 chapter yang berisi pet ya... akan ku kebut kok...
Eniewei, it's chapter eleven guys! Hope you all enjoy this, mwehehehe... C&C plz!! :puppyeyes:




“Mau ke mana, Eter?”

Gerakan sepasang sayap pada punggung wanita itu mendadak berhenti. Ia berbalik, rasa was-was terpampang dengan jelas di setiap inci kulit wajahnya yang halus. Tanpa dikomando, tangannya bergerak ke atas, membetulkan rambut biru mudanya yang dikuncir dengan gaya sporty. Matanya menyipit, kedua butir tourmaline miliknya bergerak-gerak meneliti sesosok manusia yang baru saja bersuara dengan nada datar. Beberapa saat kemudian, wanita itu sepertinya mengenali sosok manusia tersebut, karena tak lama setelah itu ia mendengus dengan kesal.

“Kau lagi, Lilaca. Apa maumu? Menguntitku sampai mati?” tanyanya dengan ketus. Ia berkacak pinggang seakan setiap detik yang dihabiskannya bersama orang yang bernama Lilaca itu adalah sebuah kesia-siaan yang menjengkelkan.

“Maaf, aku masih memiliki beberapa pekerjaan yang lebih penting daripada menguntitmu sampai mati,” sahut Lilaca tak kalah ketusnya, memberikan penekanan lebih pada kata-kata ‘lebih penting’. Ia bahkan tidak sudi melihat keseluruhan tubuh Eter dengan mata merah darahnya, maka Lilaca lebih memilih mengerling dengan pandangan menghina kepada wanita berambut biru muda tersebut. “Apa kau tidak melihat bahwa aku sedang berpatroli, kau tante-tante salah job?” Telinganya yang mirip telinga nymph itu bergerak naik, seiring dengan nada suaranya yang meninggi, namun tetap terkontrol.

Mendengar perkataan Lilaca, Eter menyunggingkan senyuman penuh dendam kesumat membara yang ditahannya di lubuk hati sambil berkata tenang, “Huh! Seharusnya aku tahu, kau hanya menyia-nyiakan waktuku yang berharga.” Dengan anggun ia berbalik membelakangi Lilaca. Bahkan setelan bajunya  yang berwarna putih dengan sedikit aksen kebiruan itu ikut bergoyang dengan anggun. “Aku punya urusan yang lebih penting daripada melayani rengekan bocah ingusan sepertimu.” Eter kemudian mengepakkan kedua sayapnya lagi, kali ini dengan sedikit angkuh dan sombong, seakan ingin mengintimidasi Lilaca.

Rupanya perkataan Eter yang barusan itu seolah melukai harga diri Lilaca yang paling dalam. Dengan senyum penuh dendam kesumat membara yang sama persis seperti milik Eter, Lilaca menyilangkan kedua lengannya di depan tubuhnya sambil komat-kamit tidak jelas. Sabar… orang sabar disayang bos… sabar! Bukankah begitu yang dinasihatkan oleh Alceus dan Ragestor? Namun belum lewat sepersekian detik setelah ia menggumamkan mantra ajaib yang langsung meredam amarahnya itu, matanya yang jeli menangkap suatu benda berwarna bening yang sedari tadi disembunyikan Eter dibalik kedua telapak tangannya. Pemahaman langsung menyambar otak Lilaca bagai halilintar. Ternyata, alasan kenapa ia bertemu dengan Eter di Acronia Forest ini, hanya untuk…

“Mau bermain-main dengan salju rupanya, Eter?” Lilaca memilih kata-katanya dengan hati-hati, takut jika ia salah menebak.

Titania itu berhenti lagi, kali ini dengan perlahan. Sambil menyeringai ia menolehkan wajahnya kepada Lilaca dan mendesis, “Untuk ukuran bocah sepertimu, Lilaca, kau ternyata pintar juga.” Dan ia langsung melenggang pergi lagi—masih dengan gaya yang anggun.

Semangatnya sudah bangkit kembali, rupanya, Lilaca berpikir sendiri seraya berjalan menjauh dari tempatnya berdiri semula. Eter, the Angel of Death.

***


"Humm, humm, humm~~" Seseorang tampaknya mendengungkan sebuah lagu dengan irama cepat dan riang. Rambut panjangnya yang lurus itu ia hiasi dengan sebuah penutup kepala berbentuk chignon berpita hijau, senada dengan warna rambutnya. Ia sedang duduk manis di sebuah ruangan yang aneh—penuh dengan berbagai macam botol-botol berbeda ukuran yang biasa kau temui di laboratorium. Sebagian digunakan untuk menyimpan cairan-cairan berwarna aneh-aneh, dan sebagian dibiarkan kosong. Tampaknya setiap satu botol selalu berbeda dari botol-botol lainnya. Udara di ruangan itu seperti mengandung bau yang tidak normal, namun perempuan itu sama sekali tidak terpengaruh dengan bau tersebut karena memakai masker putih lembut yang menutupi bagian mulut dan hidungnya.

Tiba-tiba, di sudut ruangan, sebuah pintu otomatis yang berbentuk seperti pintu lift itu terbuka dengan keras. Asap berwarna abu-abu langsung menyelinap keluar diikuti oleh suara langkah kaki seseorang. Ia tampak lelah, namun senyum masih mengembang di wajahnya. Rambutnya yang berwarna biru itu memiliki panjang sebahu, mirip seperti milik perempuan berambut hijau. Sebuah Flower Corsage menghiasi kepalanya. Dengan satu tangan yaitu tangan kanannya, ia melepas jubah laboratorium yang sedang dipakainya, dan membetulkan letak kacamatanya. Tangannya yang lain—tangan sebelah kirinya—tampak aneh, sepertinya ada sebuah kerutan yang menyerupai sebuah luka serius, namun ia tidak memedulikannya.

Ia mengerling ke arah pintu keluar, dan terkejut ketika ia matanya menemukan perempuan berambut hijau itu sedang duduk menungguinya di sebuah kursi di sebelah pintu keluar. Dengan suaranya yang tenang, ia berkata dengan senang, "Baik sekali kau mau menemaniku disini, Sachiko!"

Sachiko langsung membuka penutup mulutnya, membiarkan udara berbau aneh itu menyerang indra penciumannya dengan ganas, namun tetap tersenyum lebar. Ia langsung berdiri dan berkata dengan riang, "Tentu saja aku menemanimu, Allucchan. Kan kasihan kalau kamu terus sendirian?" Ia berjalan ke arah perempuan yang dipanggil 'Allucchan' oleh Sachiko. Namun saat Sachiko ingin memegang tangannya, segera saja perempuan itu menjauhkan tangannya dari Sachiko. Sachiko yang jelas-jelas merasa bingung kemudian bertanya, "Err... apa ada sesuatu yang terjadi, Allucchan?"

"Jangan sentuh aku dulu," perempuan itu berkata, dan sambil menghela napas berat, ia berkata, "Tolong panggilkan Eryn, dong. Kurasa aku memerlukan bantuannya saat ini." Ia mengangkat tangannya yang dipenuh kerutan seperti luka serius dan menelitinya dengan pandangan penuh keingintahuan. "Makhluk itu... ternyata bisa mengeluarkan racun juga..."

Sachiko yang mendekat untuk melihat tangan 'Allucchan' itu berseru kaget, "Astaga, Allucchan! Kenapa tidak bilang daritadi? Sepertinya kamu terluka parah! Aku akan memanggil Eryn-san sekarang juga..."

"Tidak perlu, karena aku sudah di sini," ujar sebuah suara yang sama tenangnya dengan orang berambut biru panjang itu.

"Eryn-san! Wah, kamu hebat sekali bisa langsung datang secepat ini~~" ucap Sachiko senang.

"Tentu saja aku bisa datang secepat ini… kalau penyebabnya adalah kakakku sendiri terluka," ujar Eryn, tersenyum sedih. Sayapnya mengepak perlahan sembari ia menyeberangi ruangan itu, menuju ke tempat dimana Sachiko dan ‘Allucchan’ berdiri. Ia mengenakan sehelai baju terusan yang berwarna biru indah dan sepasang sepatu berwarna oranye yang tingginya hampir mencapai lututnya. Di telapak tangan kirinya, ia mengenakan sebuah talisman berwarna merah yang berpendar. Matanya agak sipit, namun jelas sangat manis jika dikombinasikan dengan senyumnya yang menawan. Rambutnya sama panjangnya seperti milik kakaknya—bedanya, rambut milik Eryn berwarna merah maroon.

Sambil berjalan, ia bertanya dengan khawatir, "Bagaimana tanganmu, kakak Alluminia?" Yang dipanggil barusan ini ternyata masih saja meneliti tangannya sendiri. Begitu ia disikut oleh Sachiko yang terkikik (“Hey! Kau dipanggil!”), baru ia tersadar dan segera menyodorkan tangan kirinya ke arah Eryn. Wajah Eryn yang semula tersenyum kemudian berubah pucat. "Ini... aku bisa merasakan ini bukan kutukan biasa..."

Alluminia mengangkat bahunya. "Yah, ini berasal dari makhluk itu," kata Alluminia sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu yang seperti lift itu.

Sachiko berkata dengan polos, "Makhluk yang mana?"

"Yang kemarin berhasil kau tangkap," jawab Alluminia sabar.

"Kemarin... yang mana ya?” tanya Sachiko, masih berusaha mengingat dengan lebih keras.

Alluminia menempelkan jari telunjuk nya ke keningnya, sama-sama berusaha mengingat, “Err… yang kemarin berhasil kau tangkap dengan Gumi…”

“Hmm... aku sepertinya sudah lupa~~" Sachiko masih kelihatan berpikir-pikir.

"Ah, makhluk kemarin itu," ujar Eryn pelan, sembari memeriksa tangan kakaknya tanpa menyentuhnya. "Aku juga sudah merasakannya... kekuatan yang gelap, amat gelap..." Ia menghela napas. "Tapi, dalam tingkat seperti ini, aku masih bisa menyembuhkanmu, Kak Nia," ia tersenyum. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah harpa kecil yang amat indah, berwarna biru keperakan.

"Uwaaaah... keren...." Sachiko dengan polosnya berseru spontan.

Tersenyum, Eryn kemudian mengangkat harpanya itu tinggi-tinggi sambil memejamkan mata. Dalam sekejap, muncul cahaya terang yang mengelilingi tubuhnya bagaikan ratusan kunang-kunang yang berkelap-kelip. Eryn berbisik, "Goddes Blessing!" Dengan mantap ia mengarahkan harpanya ke arah tangan kakaknya.

Kerutannya tampak makin sedikit, namun belum hilang sepenuhnya. Alluminia terlihat sangat tertarik, dan berbisik kepada dirinya sendiri, "Jadi... meskipun dicoba disembuhkan dengan Goddes Blessing tingkat tertinggi, masih belum bisa hilang sepenuhnya? Ini menarik, hehehe..."

Eryn mengerling ke arah kakaknya. "Jangan begitu, Kak Nia... ini adalah masalah yang sama sekali tidak untuk ditertawakan seperti itu.... Goddes Blessing! Goddes Blessing!" Akhirnya, dengan Goddess Blessing yang terakhir, kerutan tersebut tampaknya telah menghilang sepenuhnya.

Sachiko bertepuk tangan gembira. "Waaaah~ Eryn-san keren sekali... bisa menyembuhkan luka seperti itu..."

Wajah kakaknya yang dari tadi seperti menahan sakit kini telah berubah cerah. "Eryn, terima kasih banyak! Kau memang hebat seperti biasa!" Ia mengangkat tangannya yang sekarang sudah mulus seperti mutiara. "Sekarang aku bisa memeluk Sacchi!" Tanpa diduga ia pun memeluk Sachiko, yang juga balas memeluknya.

"Bukan apa-apa, lagipula itu memang tugasku," sahut Eryn merendah.

"Tapi sekarang... yang jadi masalah adalah bagaimana mendapat informasi dari ini..." ujar Alluminia kepada dirinya sendiri, yang tiba-tiba saja telah membawa sebuah tabung berukuran sedang yang berisi sebuah boneka beruang berwarna ungu. Matanya tampak berwarna merah darah, dan ada sebuah luka pedang yang melintang di antara matanya. Dan yang paling aneh adalah... ia bisa bergerak, DAN berkata-kata!

"Yo', wazzup yo'??! Kurang ajar banget you taruh I di sini yo'! Jadi ga bisa gerak bebas atuh!" sahut boneka beruang itu dengan marah.

Tanpa peringatan, Sachiko merintih dan langsung jatuh terduduk di lantai. "Sacchi!!" seru Alluminia, kaget. Eryn yang sedari tadi berusaha keras untuk tidak melakukan kontak mata dengan boneka itu kini berpaling ke arah Sachiko dengan khawatir.

Sachiko dengan ngeri memandang boneka tersebut. Ia menunjuk tabung itu dengan gemetaran dan berkata lirih, "H...haa...haaaaahh... be.. beruang..."

Tersenyum maklum, Alluminia berkata, "Ini bukan beruang sungguhan, ini hanya boneka biasa..." Ia meletakkan tabung itu di atas sebuah meja kosong. Sebelum berbalik kepada Sachiko, ia melayangkan pandangan sengit sambil melotot ke arah beruang itu. Aura yang berbahaya menguar dari setiap senti kulitnya. Beruang itu menelan ludah begitu menerima 'ancaman mental' dari Alluminia.

"Te... tetap saja.. huaaa!! Allucchan, Eryn-san!!" Sachiko berbalik dan kemudian berusaha untuk menutupi mukanya dengan kedua matanya.

"Yo', sapa you?! Eh, Elementalist yang yesterday itu yo'? Wazzup?! Long time no see!! You kan yang nangkep aye?? Kapan-kapan aye hajar you, yo', you kurang ajar!" seru boneka itu kepada Sachiko, sepertinya langsung mendapatkan keberanian lagi begitu melihat Sachiko. Boneka itu berdiri dengan berangnya dan berkata, "Bahh!! Beta terkurung di sini tak bisa ngapa-ngapain!! LEMME OUTTA HERE!!!" tambah beruang itu sembari memukul-mukul tabung tersebut dengan tidak berdaya.

Ketiga gadis itu berpandangan satu sama lain, kemudian tertawa terbahak-bahak. Bahkan Sachiko pun ikut tertawa meskipun genangan air mata masih bergelantung di sudut matanya. Menyadari hal itu, Sachiko—di sela tawanya—menghapus cairan bening itu dari matanya, dan akhirnya ikut tertawa lagi dengan Eryn dan Alluminia. Bahkan yang disebutkan terakhir ini sedang berguling-guling di lantai laboratoriumnya. "Yo' Yo' YOO'!! Aye talking-talking ga di dengerin, eh?!! HOY!! BETA TERKURUNG!!! TERKURUUUUUNG!!!"

"Pekerjaan yang bagus sekali, Alluminia, Solver."

Suasana langsung sunyi senyap. Bahkan boneka itu ikut-ikutan terdiam, celingak-celinguk bingung menghadapi situasi yang berubah total. Alluminia langsung bangun dengan terburu-buru. Sementara itu, di depan mereka, berdirilah sang wanita peramal yang sangat mereka kenal, Remia. Ramero melangkah dengan hati-hati di belakangnya, mengikuti Remia masuk ke dalam ruangan laboratorium sempit itu. Ia kemudian beringsut ke salah satu sudut ruangan tersebut dan bersandar tanpa suara ke dindingnya.

Sachiko melongo, Alluminia terbengong, dan bahkan Eryn yang biasanya tanpa ekspresi sekarang sedikit terpana.

"Kehormatan!" seru Alluminia gembira setelah sesaat keheningan yang canggung melanda mereka. Namun sepersekian detik kemudian, raut mukanya berubah menjadi khawatir, "Remia, tempat ini sangat kecil, kurasa kalau di sini engkau tidak bisa senyaman tempatmu di bawah..."

Remia menggeleng dengan terburu-buru, dan berkata pelan, "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya datang ke sini, khususnya untuk melakukan suatu—ah, suatu ‘perbincangan’ penting yang akan kulakukan bersama dengan… Mr. Bear ini."

Hening yang menyusul kemudian hanya dipecahkan oleh suara tawa Alluminia yang jelas-jelas sedang ia tahan mati-matian. Sachiko menoleh kepadanya dan bertanya dengan suara tanpa dosa, “Apanya yang lucu?”

Ditanya seperti itu, Alluminia tidak bisa memikirkan alasan yang cukup tepat untuk menjelaskan di mana letak kelucuannya. Sebagai gantinya, ia berdeham cukup keras dan melanjutkan pembicaraannya yang terpotong oleh suara tawanya sendiri tadi,

“Hmm, baiklah, Remia. Apakah kau akan melakukannya di sini? Atau di tempat lain?”

Remia memejamkan matanya sesaat. “Di sini saja. Dan, ah… aku baru saja mengetahui bahwa bukan aku yang akan berbincang-bincang dengan Mr. Bear,” ujar Remia ramah, perkataannya lebih ditujukan kepada si beruang yang tampaknya agak jengkel dipanggil ‘Mr. Bear’ itu. “Kurasa—“

“—aku yang akan ‘berbincang’ kepadanya. Begitu, Remia?” ujar sebuah suara dingin yang datang dari arah pintu.

Tanpa dikomando lagi, semua kepala serentak menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Dan laki-laki itu, yang masih bersandar di pintu, ternyata adalah—

“Ciel-san!”

***


“Kyuu~ Kyuu~”

“...”

“Kyuu~ Kyuu~”

“...”

“... dia lucu ya!” kata Kuro Yuki dengan suara gemas, memecah kesunyian di antara mereka.

Ketiga orang tersebut sedang berjalan santai di antara udara panas Iron City sambil melihat-lihat barang dagangan yang ditawarkan oleh para golem yang berkerumun di depan pintu masuk kota tersebut. Sesekali, terdengar erangan putus asa dari ketiga orang tersebut, mengeluhkan betapa mahalnya barang-barang yang dijual oleh para golem. Selagi mereka asyik melakukan window shopping, seorang—atau, lebih tepatnya, seekor—makhluk sedang melayang-layang mengikuti mereka. 'Makhluk' itu memiliki tubuh yang mungil. Rambutnya berwarna oranye pendek, dengan mata berwarna oranye yang serasi. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun berwarna oranye. Sepasang kuping kucing menggantung di kedua sisi kepalanya, bergoyang-goyang lucu. Yang paling aneh adalah bagian bawah tubuhnya yang menyerupai hantu; kau tahu kan, tak ada kaki, hanya sesuatu yang menyerupai asap berwarna putih yang meliuk-liuk mengikuti arah angin.

Phrite melirik makhluk tersebut dan merendahkan suaranya, “Tidak apa-apakah kita membiarkannya mengikuti kita?”

Yuki ikut-ikutan melirik makhluk tersebut dan berkata dengan ceria, “Tidak apa-apa. Lagipula kita juga butuh penggembira, ‘kan. Hah, kau menjual Pet Food dengan harga seperti ini?? Ini pemerasan!!” tambah Yuki tak percaya kepada salah satu golem Insmouse yang selalu menyeringai itu. Si golem hanya cuek saja saat Yuki meninggalkan barang dagangannya dengan langkah kaki mengentak.

Sedari tadi Zerou juga memandangi makhluk oranye itu sambil mengernyit. Akhirnya dia berceletuk, “Dia mengingatkanku akan Yoku.” Zerou kelihatannya berpikir-pikir. “Kalau kupikir-pikir, sudah lama aku tidak mengeluarkannya.”

“Siapa—“ Yuki dan Phrite bertanya hampir bersamaan, namun pertanyaan mereka terhenti di tengah-tengah karena tepat saat itu mendadak seberkas cahaya menyilaukan muncul, membentuk sebuah lingkaran dengan Zerou di tengahnya. Setelah Phrite dan Yuki pulih dari kekagetan, betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat seekor makhluk yang sama persis dengan makhluk oranye itu, hanya saja dengan corak warna berbeda dan sepasang mata yang berbeda pula. Ia melayang-layang di dekat Zerou. Tanpa menunggu sedetik pun, makhluk itu langsung bertanya,

“Sudah dapat pekerjaan?”

Zerou menyahut dengan jengah, “Err… belum.”

Makhluk itu langsung kaget dengan gaya yang dibuat-buat dan berseru nyaring, “APA?! Seorang lelaki, perjaka, belum menikah, tampang seperti oom-oom, trader pula, tidak memiliki pekerjaan?? HUH! Inilah yang kunamakan ironis! Tak mungkin lelaki sepertimu bisa mendapatkan seorang gadis untuk dinikahi!”

“Dia adalah Catty Yamabukiku, Yokutailmon. Panggil saja Yoku,” jelas Zerou kepada Phrite, mengacuhkan sang Catty yang masih berteriak tak karuan. Yang diajak bicara itu hanya mengangguk, masih geli akan tingkah laku Yoku.

“Yamabukimu lucu, Zerou,” sahut Yuki sambil tertawa. Kemudian ia melanjutkan dengan mantap, “Oke, kalau begitu aku tak mau kalah!” Sedetik kemudian, cahaya yang sama seperti yang mengelilingi Zerou tadi juga mulai memancar dari tubuh Yuki. Kali ini, Phrite sudah siap, ia langsung melindungi matanya dari sambaran cahaya yang menyilaukan itu. Beberapa saat kemudian, Yuki berkata puas, “Perkenalkan, White Wolf-ku, Haru!”

Di sebelah Yuki, berdirilah seekor serigala berwarna putih yang tampak galak. Matanya yang berwarna keemasan itu menyipit memandang orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Tampangnya galak seakan ia memang berniat menggigit siapa saja yang akan mengganggunya. Yuki memandangnya dengan sayang, “Tidakkah dia terlihat imut?” Tangannya mengelus-elus tubuh serigala itu, yang memejamkan matanya seakan menikmati elusannya. “White Wolf adalah pet paling loyal di seluruh dunia!”

“Yoku sudah menemaniku sejak aku kecil,” kata Zerou sambil melirik Yoku yang kelihatannya sudah mulai menguasai dirinya, “harus kuakui, meskipun dia cerewet, dia adalah pet yang sangat setia.”

“Oh ya? Kalau begitu, Haru sudah menemaniku sejak aku berumur lima tahun!” kata Yuki, tak mau kalah.

Dan mereka melewatkan siang itu dengan berdebat mengenai pet siapa yang lebih hebat dari yang lain. Phrite tidak bisa mencegah mereka, lagipula ia merasa agak segan dengan mereka, mengingat Yuki dan Zerou adalah orang-orang yang bisa disebut ‘senior’-nya dalam dunia Emil ini. Sedangkan catty oranye itu terus menerus terkikik sepanjang perjalanan mereka, tampaknya ia menganggap bahwa pertengkaran mereka ini sangat lucu.

“Omong-omong,” ujar Yuki, di tengah ‘gencatan senjata’ perang antar majikan pet ini, “kita mau ngapain habis ini?”

Zerou tampak berpikir. “Entahlah. Hunt lagi, mungkin?” Ia menoleh ke arah Phrite. “Bagaimana menurutmu, Phrite?”

Phrite berkata, “Hmmph. Mungkin, lebih baik kita hunt lagi. Habis, aku tak punya ide—“

“Tapi masalahnya,” potong Yuki tanpa menyadari bahwa ia menyela Phrite, “Aku merasa bosaaaaan….”

“Bagaimana kalau kita ke kota saja?” usul Yoku. “Aku bisa mencari pria kaya lain!” Mata Yoku berbinar-binar. Mereka semua setuju, (meskipun muka Zerou jadi agak masam mendengar perkataan Yoku tadi) dan akhirnya setelah berbagai kesepakatan lain, termasuk membeli Pet Food untuk Haru yang sudah meraung-raung kelaparan dan membiarkan sang catty oranye itu mengikuti mereka, perjalanan mereka menuju ke kota terbesar di dunia Emil, Acropolis, segera dimulai.

***


“Astaga, Gumi!” seru Alluminia dalam bisikan, kentara sekali bergairah. “Pembicaraan mereka mulai asyik!”

“Ssshh!!” seru Gumi sambil menempelkan telunjuknya ke depan bibirnya. Padahal sia-sia saja ia melakukan gerakan tersebut, karena Alluminia pasti tidak akan bisa melihatnya. “Aku sudah tahu! Dan—Sssh! Ciel mulai bicara lagi,” desis Gumi.

“—konyol,” Ciel bergumam dingin. “Beruang tolol itu bodoh. Mungkin saja dia bohong.”

“Dari apa yang telah kuketahui dan kualami, Ciel, aku takut bahwa dia tidak berbohong,” ucap Remia getir. “Dia telah bergerak secara terang-terangan kali ini…. Dan Mr. Bear itu hanyalah salah satu eksperimennya. Begitu dia menyeimbangkan kekuatan itu…” Dari nada suaranya, Remia tampaknya sedang bergidik memikirkan kemungkinan itu. Sejenak keheningan yang mengerikan turun di antara mereka.

“Jadi? Kita menyerah? Begitu saja? Bukankah kita selalu bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka?” desak Ramero, memecah kesunyian.

“Bukan itu maksudku, Ramero,” kata Remia tajam. “Yang kita perlukan hanyalah waktu dan pengetahuan yang cukup agar bisa melawan. Sementara ini, kita hanya perlu bertahan dan bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk melawan.”

Ramero menghela napas, namun tidak memprotes lebih lanjut. “Kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi. Kalau butuh apa-apa, kalian bisa menemukanku di ruangku.” Terdengar langkah kaki dan pintu masuk ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Ramero yang kekar. Alisnya bertaut menandakan bahwa ia sedang berpikir keras. Ia berjalan menjauh  dari ruangan itu dan menelusuri lorong, diikuti dengan pandangan Alluminia dan Gumi yang tersembunyi di bawah pengaruh Invisibility dari marionette Veril milik Gumi.

“Aku mengkhawatirkan keadaannya sekarang, Ciel,” kata Remia cemas. “Bisa jadi, rencananya untuk menyeimbangkan kekuatan itu juga akan melibatkannya. Kalau kau bersedia—“ Remia berpikir sejenak, dan melanjutkan, “—tolong panggilkan kedua Scavanger ke sini. Ada hal penting yang perlu kubicarakan dengan mereka.”

“Hmph.”

Gumi memekik dan buru-buru berbisik, “Sampai nanti! Gawat kalau Ciel mencariku dan menemukanku di sini!!” Alluminia bisa merasakan bahwa Gumi (yang masih mengambil rupa sebuah veril tak kasat mata) langsung melayang pergi mengambil langkah seribu menuju ke ruangannya di lantai atas. Bahkan ia tidak sempat membalaskan “sampai nanti juga” untuk Gumi.

Remia mulai berbicara lagi. “Dan… tentu saja. Tolong jagakan dia untukku… untuk kita semua.”

“Hmph.” Sayup-sayup, suara langkah kaki terdengar makin lama makin jelas, dan pintu terbuka lagi. Ciel berjalan keluar dengan tenang, ekspresi wajahnya tak dapat dibaca. Matanya menyapu lorong sempit itu dan selama sepersekian detik berhenti di suatu titik tempat Alluminia sedang berdiri. Mungkinkah Ciel mengetahui bahwa ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka daritadi? Bagaimana kalau dia menemukan Alluminia di sini? Apa yang akan dilakukannya kepada Alluminia? Jangan-jangan dia akan—Tetapi sebelum Alluminia sempat melanjutkan pemikirannya yang melantur, Ciel hanya menyeringai kecil dan kembali berjalan menjauh.

Demi hamburger dan kupu-kupu, batin Alluminia. Dia menyeramkan juga. Tapi, hey, bukan Alluminia namaku kalau aku takut dengan Ciel, kan? Ia menunggu sampai langkah kaki Ciel tak terdengar lagi, kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Dalam perjalanannya, Alluminia mendadak teringat bahwa ia telah menetapkan bahwa hari ini adalah hari ‘hunt’ nya, yang mencakup pembantaian Bandit-bandit gila yang berkeliaran di Enigma dan pembersihan total pulau Pirate dari para bajak laut. Ia menggeleng-geleng, bisa-bisanya ia sampai melupakan hal sepenting dan semenyenangkan ini. Aku harus ‘mengajak’ Ricchan dan Eryn!! tambahnya dalam hati, menyeringai puas.

***


“Hohoho… welcome to the paradise~!” seru Phrite lega, sambil berjalan bersama-sama kedua temannya menyeberangi jembatan South Acropolis Bridge itu.

Meski pandangan mereka sedikit terhalang oleh gerbang yang memagari kota itu, Uptown Kota Acropolis selalu tampak megah diiringi dengan latar belakang sinar matahari keemasan yang merengkuh setiap sudut manapun yang bisa diraihnya. Puluhan bahkan ratusan manusia, baik Emil, Dominion, maupun Titania berlalu-lalang keluar masuk kota, masing-masing tampak santai mengobrol, berbelanja, ataupun sekedar berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota.

Setelah berunding sejenak, mereka memutuskan untuk berpisah sebentar. Zerou memutuskan untuk pergi melihat-lihat berbagai barang dagangan yang dijual oleh para golem (“Kyaa~ Kita akan belanja!” seru Yoku). Entah kenapa Yuki tampak agak gelisah dan ingin segera pergi ke suatu tempat. Maka Phrite, diikuti dengan catty oranye yang melayang-layang gembira di belakangnya, pergi mengunjungi teman baiknya, Elina.

One Hour After - KuroYuki’s POV

“Hhh, hhh, hhh, hhh—“

Lari. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Menerobos semak-semak, ia memaksa kedua kakinya untuk berlari dengan kecepatan tinggi, tak memedulikan warna merah darah yang pekat di sekitar tangannya, atau tubuhnya yang gemetaran, ataupun keadaan di sekitarnya.

“Salju hitam kecil,” terdengar suara merdu yang mengalun pelan. Yuki mengerang ketakutan dan segera mengambil tempat di bawah naungan sebuah pohon yang rindang sehingga untuk sementara ia mengira dirinya aman. “Janganlah begitu takut padaku… khu khu khu~~~” suaranya terdengar lagi, kali ini terdengar kejam, tepat disuarakan di samping Yuki yang kaget. Yuki menoleh memandang Titania itu dengan ketakutan yang memuncak. Seorang wanita yang berambut biru langit dan dikuncir dengan gaya sporty tampak sedang tersenyum mengerikan. Matanya yang berwarna hijau cemerlang itu berkilat dan ia membisikkan dua patah kata dengan lembut sambil berputar di tempat, “Holy Ball.”

Kilatan cahaya menyilaukan yang berbentuk seperti sebuah bola raksasa keluar dari dalam tubuhnya, berwarna putih terang. Bola tersebut melayang maju dengan cepat menuju tubuh Yuki. Matanya melebar ketakutan, ia berusaha melarikan diri. Namun terlambat, bola tersebut akhirnya mencapai tempat Yuki dalam hitungan detik dan menyentuh kulitnya.

Teriakan Yuki meledak. Bola itu membakar sekaligus mendorong tubuhnya, membuat Yuki terus meronta-ronta kesakitan. Kesakitan yang amat sangat membuatnya tidak bisa berpikir jernih, yang ingin dia lakukan hanyalah agar bola tersebut berhenti membuat dirinya begitu kesakitan seperti ini…

Wanita berambut biru itu tertawa, tawa melengking kejam yang sangat kontras dengan tempat mereka berada, Acronia Forest. “Sakit, bukan?” ia berkata sambil menyeringai, mengawasi Yuki yang masih diserang oleh Holy Ball itu.

Akhirnya bola putih raksasa itu lenyap, meninggalkan Yuki terduduk lemah di tanah. Tubuhnya gemetaran dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, namun pikirannya telah jernih kembali. Tanpa membuang waktu lagi ia bergumam, “Heal,” dan seluruh luka-luka di sekujur tubuhnya kini telah hilang tak berbekas.

Namun, sebelum Yuki bisa menggerakkan satu otot pun, wanita itu telah menggenggam sebuah batu yang mirip telur berwarna merah dengan corak keperakan menghiasinya. “Skill Stone, Bird Cage,” kata wanita itu, dan batu tersebut mendadak berpendar terang. Di sekeliling Yuki, dari dalam tanah muncullah dinding api yang berderak-derik mengerikan, memagari Yuki dan menahannya di dalam. Yuki hanya terduduk tak berdaya, memandangi sekelilingnya dengan lemah. Hanya karena sebuah panggilan palsu yang dikirim oleh dia, nyawanya sekarang berada di ujung tanduk…

[flashback]

Kurasa aku harus menunggu di sini, batin Yuki gelisah. Yuki memandang berkeliling. Hanya sedikit orang yang lalu lalang di Acronia Eastern Plains, kecuali beberapa petarung tingkat tinggi yang berjalan tergesa-gesa, tentu mereka sedang menuju Enigma yang berada di ujung paling timur dunia Emil itu untuk menguji kemampuan mereka bertahan dari monster-monster yang mendiami pulau tersebut. Angin semilir berhembus, menyapu sedikit kegelisahan Yuki yang masih menghantui dirinya. Menit demi menit berlalu.

“Yuki.” Sebuah suara yang dalam akhirnya memecahkan keheningan, membuat Yuki sedikit terlonjak. Ia menoleh dan langsung berhadapan dengan kekasihnya, Demon Prince.

“Aih, kau datang juga akhirnya,” kata Yuki, tersenyum. Dominion itu mengambil tempat duduk di depan Yuki sambil terus menatapnya lekat-lekat.

“Yuki—“ ia memulai, namun langsung dipotong oleh Yuki,

“Maafkan aku ya karena telah membuatmu marah kemarin itu…”

“Tidak, justru aku yang meminta maaf,” sergah Demon, memandang tanah. “Aku… mood-ku sedang tidak bagus, saat itu… maafkan aku karena aku kasar padamu.”

Yuki tersenyum lega. Sebelumnya, ia memang takut bahwa jangan-jangan Demon akan marah lagi padanya, mengingat temperamennya yang sedikit meledak-ledak dan kebiasaannya untuk menuntaskan masalah dengan fisik. Demon juga tersenyum, dan segera saja mereka terlibat percakapan santai—kalau tidak bisa dibilang mesra—selama beberapa saat. Sesekali Demon meremas-remas tangannya, dan ini membuat Yuki sedikit mengernyit. Tidak biasanya ia menjadi ‘romantis’ seperti ini, biasanya ia sangat pendiam dan pasif. Tak apalah, batin Yuki menenangkan hatinya, toh aku juga menikmatinya selama ia tahu batas.

Namun Yuki memperhatikan bahwa Demon Prince di depannya memang bukan benar-benar Demon Prince yang selama ini dikenalnya. Ia memang terlihat lebih santai dan menyenangkan, namun ada sesuatu dalam matanya yang membuat Yuki sedikit bergidik…. mungkinkah itu… kekejaman?

“Demon,” ujar Yuki setelah beberapa saat. “Aku merasa… kau sedikit aneh.”

“Benarkah?” Alisnya terangkat. “Apa maksudmu?”

“Yahh…. Kau tampak tidak seperti biasanya… aku tak bisa menjelaskannya…”

Namun kalimatnya berhenti di tengah-tengah karena apa yang terjadi selanjutnya membuat mulut Yuki mengering. Tiba-tiba Demon berdiri, menghunus pedangnya, dan langsung mengarahkannya kepada Yuki. Dalam hitungan detik, ia langsung menebaskan pedang tersebut. Pedang itu hampir saja memotong lengan Yuki kalau saja Yuki tidak memiliki refleks yang kuat. Goresan yang memanjang terbentuk di sekitar tangan kanannya, dan meneteskan darah merah pekat dari dalamnya.

“Demon!! Apa yang terjadi??” seru Yuki, sangat kaget. Demon masih terdiam, pandangan matanya kosong.

 “Cih, sial,” seorang wanita berdecak kesal di dekat Yuki. Yuki menoleh, dan ia melihat seorang Titania berparas cantik sedang melayang mendekatinya. “Kukira dia bisa menahanmu cukup lama agar bisa memberiku waktu mempersiapkan mantraku….” Ia mengangkat tangannya dan memegang kepala Demon yang masih membeku di tempat. Sekejap, seluruh tubuh Demon dipenuhi dengan api ungu kehitaman yang menyala-nyala ganas, namun tidak membakarnya. Yuki menjerit tertahan, ia ingin sekali menolongnya, namun secara misterius kakinya tidak bisa diajak berkompromi. Perlahan, seluruh api itu terkumpul di tangan wanita itu. Tangan yang lainnya mengambil sebuah botol bening dari dalam tas pinggangnya dan membukanya. Api ungu kehitaman itu kemudian dimasukkannya ke dalam botol tersebut, dan ia menutupnya lagi. Demon Prince langsung terjatuh lemas ke atas meja, pingsan.

Akhirnya, Yuki mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bertanya dengan lantang, “Siapa kau?! Dan mau apa kau??!!”

Wanita itu menelengkan kepalanya, dan berkata sambil tersenyum, “Aku datang untuk membunuhmu.”

[/flashback]

Wanita itu memainkan rambutnya dengan senang, ia memandang wajah Yuki lekat-lekat sebelum ia berbicara,

“Kuro Yuki,” wanita itu tersenyum riang. “Selamat siang. Apakah kamu mengenalku?”

Ketika Yuki menjawabnya dengan menggeleng pelan pendek-pendek, ia melanjutkan dengan sedikit terkejut, “Hee? Kau tidak tahu aku? Padahal aku adalah wanita tercantik di seluruh dunia Emil!” Ia menggeleng putus asa.

“Yah, tak apa-apa lah. Aku Eter… orang yang telah membunuh adikmu, Shiro Yuki.” Ia terhenti sejenak untuk menikmati efek dari perkataan yang baru saja ia ucapkan. Tampaknya seluruh organ dalam tubuh Yuki mendadak macet.

“Dan sekarang aku datang…” nada suaranya berubah menjadi berbahaya, senyumnya berubah menjadi seringai kejam. “Untuk membunuhmu, dengan cara yang sama seperti aku membunuh Shiro.”



Apa yang direncanakan oleh Remia dan lainnya? Siapa sebenarnya "makhluk oranye" itu? Bagaimana kabar Zerou dan Phrite yang masih berada di Uptown? Dan, siapa sebenarnya wanita yang mengaku ingin membunuh Kuro Yuki, sekaligus apa hubungannya dengan masa lalu Yuki?

Bersabarlah untuk chapter selanjutnya dari Mignonette~!
« Last Edit: May 16, 2013, 12:27:45 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 7: Allies
« Reply #7 on: February 08, 2010, 06:46:57 PM »
Chapter Seven
~Allies~



TS' Notes:
So, battle scene akan semakin dekat, dekat dan dekat... Bagi yang merasa telah mengirimkan charnya, tolong kirimkan juga tipe apa yang dimainkan oleh charmu, daftar skill (pasif maupun aktif) yang diambil oleh charmu, dan juga SS char (lebih baik memakai MrbViewer ya). Oh! Dan kebiasaan bermain juga... misal: bawa makanan ga? (e.g. sandwich etc.) Trus lebih suka defense, ato offense, dll dll... Jelaskan se detil-detilnya. Kalo ga kirim, semuanya yang kusebutkan diatas tadi akan diserahkan sepenuhnya pada imajinasi saia :laugh:

Untuk SS char, yang sudah kirim SS nya, tidak usah kirimkan lagi. ^_^

FYI, Mignonette ini adalah Fanon dengan AR (Alternate Reality). Jadi ceritanya kubuat sebelum SAGA 0, tapi dunianya sama seperti SAGA 7. Membingungkan? Baca terus aja deh XD

OK, ga usah banyak bicara lagi. To da Chapter Thirteen! R&R please  :love3:

WARNING: Gore, a little bit of blood. Kalau ga suka tapi masih mau baca, lewati saja part “Scissus”. En eniwei baru pertama kali aku menulis chapter seperti ini, jadi jika ada saran, kritik, kesalahan, mohon disampaikan saja di sini m(_ _)m I need critics a lot... thank you :puppyeyes:

Disclaimer Page





“Errrrryyyyyn~~”

“Y... ya, kak Nia?”

“Ricchan mana??!!”

“Aku... aku tak tahu....”

Kak Alluminia menggeram pelan, jelas-jelas ia merasa kesal. Ia berkata dengan nada tinggi, “Ricchan licik! LICIK!! Dan licin!! Sly! Dia langsung meng-cast Invisible begitu aku memasuki ruangannya! LICIK!”

Dalam hati aku merasa bersyukur, khawatir, sekaligus iri pada kak Serix. Bersyukur, karena ia berhasil kabur dari Kak Nia pada detik-detik terakhir. Khawatir, karena biasanya Kak Nia punya semacam indra keenam untuk mengetahui di mana biasanya Kak Serix bersembunyi. Iri, karena Kak Serix memiliki skill Invisible yang memungkinkannya untuk bersembunyi dari kejaran Kak Nia. Aku benar-benar merana sekarang, ditangkap oleh Kak Nia saat sedang mengamati benda-benda koleksiku. Aku merasa seperti seekor Bawoo yang dipaksa untuk dijadikan peliharaan. Tanpa kusadari, aku menghela nafas besar.

“Eryn!” hardik Kak Nia tiba-tiba.

Sontak aku pun menjawab dengan gemetaran, “Y.. ya, Kak Nia?”

“Dilarang berbicara selagi aku mencari Ricchan, kecuali kalau aku menyuruhmu bicara!! Kau mengganggu konsentrasiku!”

“T.. tapi aku tak berbicara dari tadi—“

“Tadi kamu ngomong ‘Haahhhhh’ kan? Harus berapa kali kubilang bahwa ‘Haaaahhh’ juga termasuk berbicara?!” tukas Kak Nia galak. Aku langsung mengerti bahwa ‘Haahhhhh’ yang dimaksud itu berarti helaan nafasku tadi. Tanpa kusadari, aku menelan ludah.

“DEMI WEAPON SHOPKEEPER DAN SANDWICH TUNA, ERYNN!!! ‘GLEK’ JUGA BERBICARA!!!” bentak Kak Nia. Aku langsung mengkeret di bawah tatapan kemarahan Kak Nia. Oh, tidak. Aku selalu lupa bahwa Kak Nia sangat mengerikan kalau sedang marah. Aku memejamkan mata, berharap siksaan ini akan berakhir. Namun, tentu saja ini tidak akan pernah berakhir kecuali kalau Kak Nia telah menemukan Kak Serix dan menyeretnya ke siksaan selanjutnya, atau kalau sesuatu yang amat mustahil terjadi.

Dan, terpujilah Sang White Fairy, ternyata harapanku terkabul. Terdengar suara tenang namun tegas milik Remia, yang bergaung di seluruh sudut koridor ini.

‘Seluruh anggota Underground Force, kita akan mengadakan rapat insidental di tempat biasa, setengah jam lagi. Ada hal-hal penting yang harus segera dibicarakan. Asagami dan Serix, tolong datang ke ruanganku. Dan oh, Alluminia, berhentilah menyiksa adikmu. Haha. Sekian dan terima kasih.’

Aku harus datang ke tempat Remia nanti dan memeluknya. Ia menyelamatkanku dari kakakku! Betapa kerennya Remia! Ah, kalau saja Remia melihat tampang Kak Nia sekarang. Seluruh badannya tidak bisa bergerak dan wajahnya kaku seperti batu karena shock yang barusan melandanya. Sekarang aku malah menjadi sedikit kasihan pada kakakku.

“Err... Kak Nia...” ucapku takut-takut. Jelas takut, karena kemungkinan kemarahan Kak Nia masih belum sirna sepenuhnya. Atau malah digandakan oleh pengumuman tadi. Yang terakhir ini sangat menakutkanku. Lebih baik aku menyelamatkan diri dulu dari Kak Nia, selagi dia masih shock dengan kejadian barusan. Tanpa basa-basi lagi aku berlari sekencang-kencangnya ke arah ruanganku berada, meninggalkan Kak Nia masih terdiam di tempatnya.

***


“Kak Yuki! Ayo kejar aku!”

“Shiroo... jangan lari-lari dong! Nanti kamu bisa jatuh!!”

Anak itu, Shiro, hanya tertawa-tawa...


Kenangan sesaat itu cukup untuk membuat air mata Yuki meleleh. Shiro, adiknya yang setia menemani masa kecilnya, adiknya yang dikasihinya, adiknya yang meninggal di tangan orang yang berdiri di hadapannya ini....

Ti... tidak.... Shiro....

Tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Pemahaman sekaligus horor merasuki dirinya. Orang ini... pembunuh...

Pembunuh Shiro!

“Kau... kau pembunuh!!” teriak Yuki, tersengal-sengal.

“Oh.. mau melawanku, salju hitam? Bisa apa kau?” suara Eter terdengar mengejek.

Yuki tidak mendengarkannya. Ia merogoh tasnya dan menarik secarik perkamen lusuh yang masih tergulung rapi dan terikat. Tanpa membuang waktu lagi, ia melepas tali yang mengikatnya, dan langsung merapalkan mantra yang tertulis di dalamnya,

“Wahai Dewa Angin, Dewa Langit, Dewa Petir.
Berikanlah aku kekuatanmu,
Kekuatan dahsyat tiada tara,
Untuk menghancurkan, membinasakan....
LIGHTNING BLAST!”


Dan dengan kata-kata terakhir yang diserukan Yuki dengan penuh kekuatan, langit tiba-tiba menderu keras. Awan bergulung-gulung cepat, dan dari dalam langit menyambarlah petir tepat ke arah Eter yang tidak siap sama sekali.

“Aaargh!!” teriak Eter, tubuhnya yang terkena sambaran petir tersebut menjadi sedikit kehitaman. “Cih, Wind Spell Scroll, eh? Kau pintar juga... Heal! Nah, sekarang kau harus membayar gara-gara membuat kulitku jadi begini—“

Namun, ternyata Yuki telah terbebas dari penjara api yang sedari tadi mengurungnya. “LIGHTNING BLAST!”—blar!—“HOLY BOLT!!” –crang!—“HOLY BALL!!”—dhuar, dhuar, dhuar!—“Rasakan itu, kau pembunuh!!—LIGHTNING BLAST!!” Dan dengan serangan telak dari Yuki, sekali lagi petir menyambar dari langit, meluncur tepat ke arah Eter berada. Debu membubung tinggi karena serangan terakhir dari Yuki itu.

“Kau... kau tidak pantas.... hidup..” suara Yuki bergetar. Amarah dan kesedihan yang amat sangat menguasai dirinya. “Aku akan... memastikan bahwa kau.... mati perlahan-lahan...”

“Oh? Mau membunuhku secara perlahan-lahan?” sahut suara dingin di belakangnya. Kaget, Yuki menoleh ke belakang, dan lebih terkejut lagi ketika ia mendapati bahwa Eter sama sekali tidak terluka. B.. bagaimana bisa... padahal aku telah menyerangnya tadi—

Eter tertawa kejam, dan mendesis, “Kaget, ya? Kuakui tadi itu serangan yang bagus. Bahkan aku tidak sempat berkelit! Tapi.... membunuhku perlahan-lahan?” Aura membunuh yang amat besar menguar dari tubuhnya, membuat Yuki menggigil ketakutan. “Masih terlalu cepat sejuta tahun, salju hitam...

“Ti... tidak... HOLY—“

Magic Seal,” ucap Eter, mengarahkan harpnya ke Yuki dengan meremehkan.

Sebuah cahaya keperakan muncul dari dalam diri Yuki, membuatnya tidak bisa melanjutkan serangan yang telah direncanakannya itu. Membelalak, ia mencoba menyerang Eter lagi.

Holy—

Magic Seal~”

Lightni—

Magic Seal~~ duhh, kau belum menyerah juga? Eits, Magic Seal~!” tambah Eter santai, membatalkan serangan Holy Ball dari Yuki dalam satu lambaian harpnya. “Sama sekali tidak mau menyerah, Kuro Yuki? Benar-benar kepala batu... yah, sama seperti adikmu, kan?” Yuki membelalak begitu Eter menyinggung adiknya.

“Tahukah kau apa diteriakkannya sewaktu aku menyiksanya?” Eter melanjutkan, jelas-jelas menikmati hal ini. “Dia berteriak, ‘Kak Yuki... Kak Yuki... tolong aku...’ Oh, teriakannya sungguh memilukan! Sungguh melodi yang indah!” seru Eter kejam. Kemarahan yang menggelegak dalam tubuh Yuki hampir mencapai batasnya. Tangannya makin sakit karena ia menggenggam Fairy Harpnya begitu keras. Namun kali ini, akhirnya Yuki memasukkan kembali Fairy Harp miliknya ke dalam tasnya.

Eter, yang melihat hal tersebut, langsung berkata dengan nada mengejek seperti biasa, “Oh, kau akhirnya menyerah, Kuro Yuki? Bagus kalau begitu! Akhirnya kau dengan rela menyambut kematianmu yang akan datang, salju hitam...”

“Kau salah,” gumam Yuki.

“Hah?”

“Kaulah... yang akan mati!!” Seraya berteriak demikian, ia berlari ke arah Eter sambil memegang Advanced Wooden Hammer. Ternyata ia tadi memasukkan kembali Fairy Harpnya untuk menukar senjatanya dengan hammer tersebut.

“Hyaaah!” seru Yuki, mengayunkan Hammer dengan sekuat tenaga ke arah Eter. Namun Eter masih bisa berkelit, dan Hammer itu meleset mengenai tanah dimana Eter berdiri barusan. Masih belum menyerah, Yuki menarik Hammer itu dari tanah dan langsung menyerang Eter lagi secara beruntun. Beberapa kali Eter bisa berkelit dari sambaran Wooden Hammer itu, namun lebih sering Eter terkena serangan Yuki secara telak.

“Ugh!” Serangan yang baru saja dilancarkan Yuki itu mengenai perut Eter langsung. Serangan itu berhasil membuat Eter terjatuh ke tanah, membuatnya mengerang kesakitan lagi. Sejauh ini keadaan Eter makin buruk. Banyak bagian tubuhnya yang membiru terkena Wooden Hammer dari Yuki, dan Eter bisa merasakan beberapa tulangnya retak, atau bahkan patah.

“Kenapa, Eter? Menyerah? Kemana semangatmu untuk membunuhku tadi?” ujar Yuki menahan kemarahannya. Matanya menyipit memandang Eter yang tidak berusaha untuk bangkit. Malah, sebaliknya, dia hanya tersenyum licik.

“Seranglah aku, Kuro Yuki... Bunuh aku, kalau kau bisa..!”

Yuki menggeram marah dan berteriak, “Kalau itu maumu... baiklah!! Hyaaah!!” Dan dengan teriakannya yang terakhir, Yuki berlari ke arah Eter dan mengangkat Advanced Wooden Hammernya—

Scissus.”

Sebuah pedang tak kelihatan menebas rambut Yuki. Ia masih berlari ke arah Eter selagi berpikir, Apa itu... barusan???

Sectum.”

Kali ini, pedang tak kelihatan yang lebih besar menebas-nebas Yuki, membuat darahnya terpercik keluar dari tangannya, perutnya, lehernya, kakinya, dan masih banyak lagi. Terjatuh, Yuki tak kuasa menahan rasa sakit yang mulai menjalari tubuhnya. Yuki merintih kesakitan selagi darahnya masih mengalir melalui berbagai luka yang kini mulai menganga dari tubuhnya.

“Sakit, Kuro Yuki?” Eter kini berdiri dan berjalan perlahan ke arah Yuki. Dengan seringaian keji yang menghiasi wajahnya, ia membalikkan tubuh Yuki yang tertelungkup menjadi telentang. Kemudian ia menginjakkan kakinya ke atas perut Yuki. Yuki langsung terbatuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Eter masih terus menyeringai. “Setan kecil tak tahu aturan, beraninya kau menyerangku seperti itu... sudah kubilang, masih—terlalu—cepat—sejuta—tahun, Kuro Yuki!!” Ia menginjak perut Yuki lebih keras pada setiap suku kata terakhir.

Yuki melolong kesakitan sembari berusaha melepaskan diri dari Eter, namun apa daya kini Yuki menjadi begitu lemah karena ia kehilangan begitu banyak darah.

“Jadi, beginilah nasib dari kedua kakak beradik, Shiro Yuki dan Kuro Yuki... fufufu, mengenaskan sekali,” Eter tertawa, tanpa perasaan. “Mana tadi semangatmu yang membara untuk membunuhku, hm? Terlalu arogan untuk mengalahkanku?”

Darah sekarang memenuhi tenggorokan Yuki, membuatnya tersedak dan kehabisan napas. Setitik air mata menyelinap keluar dari kelopak matanya, bercampur menjadi satu dengan genangan darah dari tubuhnya.

Hidupku.... akan berakhir di sini...

Eter kemudian berjalan menjauh, sambil tetap mempertahankan seringainya yang kejam. Matanya menusuk tajam tubuh Yuki yang sudah hampir seluruhnya dibalut oleh darah. “Kuro Yuki... kurasa engkau tahu sedikit tentang... Machine Age?”

Tangan Yuki bergerak-gerak ke perutnya, mencoba menyembuhkan luka-luka yang menoreh tajam kulit Yuki dengan sedikit Heal sederhana. Namun bahkan Goddess Blessing tidak dapat menyembuhkan luka itu, yang semakin melebar dan mengkhawatirkan.

“Machine Age...” Eter melanjutkan, tak memedulikan Yuki. Ia sekarang sibuk merapalkan suatu mantra yang sama sekali tak diketahui Yuki. Direntangkannya kedua tangannya sedikit sembari melanjutkan rapalan mantra tersebut. Bahkan dalam kondisi yang parah seperti ini, Yuki bisa merasakan bahwa ia sedikit terangkat ke udara. Terbang, batin Yuki, sementara tubuhnya melayang di udara, tangannya terentang seperti disalib, Kuharap aku dapat... meninggalkan kesakitan ini...

“Machine Age...” ulang Eter lagi. “Tahukah kamu bahwa sihir mereka begitu kuat? Seperti yang telah kudemonstrasikan kepadamu...” Tangannya bergerak-gerak kali ini, tak beraturan. Kanan, kiri, atas, dan seterusnya. “Begitu rumit... namun sangat, sangat kuat...”

Kesadaran Yuki makin menghilang dan menghilang. Matanya tak kuasa lagi menahan berat, seolah-olah Yuki sedang dalam keadaan sangat mengantuk, padahal tidak. Kabut yang sama itu perlahan turun di antara mereka berdua, lalu membentuk semacam kubah yang melingkupi Yuki dan Eter. Terkulai lemas di udara, Yuki sadar bahwa ini adalah detik-detik terakhir ia masih dapat bernafas di dunia fana ini... Sebutir air mata menyelinap di balik kelopak matanya yang sudah tertutup paksa oleh pengaruh sihir dari Eter.

Dia tak dapat menahan dirinya untuk mengeluarkan air matanya lagi. Hidupnya telah begitu singkat, begitu disia-siakan... Ia teringat kembali masa-masa lampau ketika ia menangis menggedor-gedor pintu White Church... begitu ketakutan, begitu kecil... Sejak hari itu, ia langsung diijinkan untuk menjadi seorang vates oleh pemimpin gereja itu... tak bisa dibayangkan betapa bahagianya ia saat Yuki diresmikan menjadi seorang vates... Dan teman-teman pertama yang didapatnya, Demon Prince... Phrite... Zerou...

Eter sendiri tampak bahagia luar biasa, dapat membunuh Yuki di sini sesaat lagi. Matanya juga terpejam, mulutnya menggumamkan suatu mantra yang panjang, tangannya bergerak-gerak secara berurutan: ke atas, memutar, ke kiri bawah, ke kanan, dan seterusnya. Hempasan angin yang kuat tiba-tiba melanda, seakan angin tersebut dilepaskan oleh Eter sendiri. “Seperti yang kujanjikan, salju hitam...” desis Eter keji. “Kematianmu adalah kematian yang panjang, menyakitkan, dan—“

BOOM!

Sebuah ledakan yang terjadi secara tiba-tiba membuyarkan konsentrasi Eter. Kubah yang tadi mengungkung mereka berdua, lenyap tak berbekas. Sebagai gantinya, selagi Eter terbatuk-batuk karena asap dan debu yang ditimbulkan oleh ledakan itu, seorang pria yang memakai seragam militer berwarna hijau terang secara mendadak muncul tiba-tiba di samping Eter dan menggumam,

“Ah. Cantik-cantik kok suka bunuh-bunuh. Poison Mist.” Dan dengan perkataan tersebut, ia melepaskan pegangannya dari sebuah botol berisi cairan pekat kehitaman. Botol tersebut pecah di dekat kaki Eter yang masih melongo. Tanpa membuang waktu lagi, pria tersebut kemudian menghilang bagai ditelan angin.

“Apa yang—“ Namun, keterkejutan Eter segera berubah menjadi pemahaman mengerikan yang merasuki benaknya. Kabut kehitaman segera meluncur dari dalam botol tersebut, membuat kesakitan yang amat sangat pada segala bagian tubuh Eter. Segala sarafnya lumpuh; paru-parunya sepertinya sudah tak kuat menyimpan udara segar lagi, matanya terpejam kesakitan—

Sementara Eter sedang kesakitan, rantai transparan yang mengikat Yuki di udara menghilang. Yuki terjatuh lemas di tanah, sudah tidak bisa bergerak lagi. Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, sebuah suara yang berat namun ramah—suara laki-laki—terdengar dari samping Yuki.
 
“Party?” tanyanya.

Yuki sudah tak mengerti lagi apapun yang diucapkan oleh sesuatu itu, namun entah kenapa kepalanya mengangguk saja.

“Bagus. Invisible.” Laki-laki itu, yang mengajak bicara Yuki, tanpa diduga menampakkan dirinya. Titania itu memakai sebuah topi berwarna biru tua dan White Field Jacket dengan celana biru serta sepatu yang serasi. Matanya mengedip sesaat kepada Yuki. Segera ia mengeluarkan sebuah Noble Rod dan merapalkan suatu mantra dengan penuh konsentrasi. Beberapa saat kemudian,diiringi dengan cahaya yang menyilaukan, ia menghilang. Begitu saja.

Tapi, Yuki menyadari, aku... menghilang juga? Ia berusaha mengangkat tangannya untuk melihatnya, namun ternyata tidak ada yang bisa dilihat. Ia... benar-benar hilang dari dunia ini! Yuki tak percaya. Ia mati? Lalu kenapa ia masih merasakan bahwa ia terduduk lemas di sini? Tangan-tangan yang kekar namun halus mengangkatnya kemudian membawanya pergi dari tempat itu. Ia sudah tidak kuat lagi. Mungkin itu adalah tangan Kematian... Dan kesadaran Yuki benar-benar habis, ia pingsan di tangan orang tersebut.

Sementara itu, tak jauh dari tempat Yuki berada, kabut kehitaman itu perlahan menghilang. “Sial... Assassin tipe Poison, itu pasti si Asagami Kurogane...!” gumam Eter marah, namun lemah. Kabut kehitaman itu sudah menghilang, menyisakan Eter yang masih berdiri dengan lemah sambil bertumpu pada Heaven Harpnya.

Sebuah suara yang entah datang darimana menjawabnya, “Benar, ini aku, Eter,” Eter membelalak dan menoleh ke sana sini untuk mencari sumber suara tersebut, namun tidak menemukannya. “Kali ini menyerahlah, Eter... kau sudah tidak bisa lari kemana-mana...”

“Tidak bisa lari kemana-mana?” sahut Eter jengkel, retoris. Dalam sekejap, seberkas cahaya terang menyelimutinya, dan ia tersenyum. “Selamat tinggal, Asagami! Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi!”

“Tidak akan kubiarkan kau lari—“ Pria itu, Asagami, lagi-lagi menampakkan dirinya dan langsung melempar sebuah shuriken ke arah Eter. Namun terlambat, Eter telah menghilang, lenyap tak berbekas. Shuriken tersebut terus meluncur, mengenai sebatang pohon yang langsung hancur berantakan.

Sebuah suara terdengar dari sebelah Asagami, “Tch... Space-Time Key....”

Orang yang dipanggil Asagami itu hanya terdiam memandangi tempat dimana kaki Eter berpijak barusan. “Hmm... kata perpisahan yang aneh.”

“A.. Asagami...” Bisa dibayangkan bahwa orang yang barusan meng-cast Invisible kepada dirinya sendiri itu memiliki anime sweat di kepalanya.

***


“Kak Zerou.” Hari itu sangat cerah, bahkan itu bisa dirasakan dari dalam Downtown yang kumuh ini. Seakan-akan segala sesuatu akan berjalan dengan lancar. Namun Phrite merasakan kegalauan yang aneh. Di sebelahnya, Catty Oranye itu mengamati orang-orang lewat, sambil ber-“Kyuu~ Kyuu~” ria. Itulah sebabnya, Phrite, Zerou, dan Yuki sepakat untuk menamainya Kyuu.

“Hmm?” Orang di sebelahnya ini sepertinya tidak memerhatikan apapun kecuali Guide Machine yang berada di depan Café Downtown, tempat mereka duduk sekarang. Bahkan dalam cuaca buruk, ataupun cuaca sangat buruk, jika ada sebuah robot melintas di depannya, ia tetap akan memandanginya dengan terpana. Seakan ‘pandangan terpana’ bisa mengekspresikan cintanya kepada robot, yang begitu dalam. Zerou menceritakan ini semua kepada Phrite dengan antusias. Phrite heran karena dua hal: Pertama, karena biasanya Zerou jarang antusias terhadap apapun dimanapun dan kapanpun, dan kedua, jika ia begitu mencintai robot, mengapa ia tidak memilih menjadi Machinery? Setelah Phrite menanyainya ini, Zerou tidak menjawab. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tak dapat ditebak.

Zerou. Sangat. Misterius.

Bahkan Café Madonna, yang diakui di seluruh Downtown sebagai wanita tercantik yang bahkan katanya melampaui Shelley, tak bisa mengambil perhatiannya. Seriously.

“Aku... khawatir.”

“Hmm?”

“Mengenai Yuki.”

“Hmm?”

“Dia tidak kembali selama 2 jam, padahal kita kan sudah berjanji untuk bertemu di sini. Apa yang membuatnya berlama-lama dengan pacarnya?” Phrite menutup mulutnya, tanda ia kaget. “Oh!! Mungkinkah mereka... ‘ahem-ahem’??”

“... Hah?” Sekarang Zerou mengalihkan pandangannya dari robot yang menggeleng-geleng tak jelas itu dan memandang ke arah Phrite, yang merupakan prestasi terbesar Phrite. Biasanya sekali kedua bola matanya menancapkan pandangan ke robot apapun, dia tak akan bisa melepaskannya sedetikpun.

“Kau tahu kan. ‘Ahem’,” kata Phrite, seakan topik pembicaraan mereka sudah sangat jelas.

Dari dalam kepala Zerou, muncul pemandangan tak senonoh. “Ma... maksudmu?” tanya Zerou, berusaha terlihat tenang.

Kyuu sendiri sepertinya mengikik tak jelas. “Kyuu~ Kyuu-u-u-u~”

“Ah, masa tidak tahu sih? Window Shopping!!” jelas Phrite, tak percaya akan ketidaktahuan Zerou.

Gubrak. Dan Kyuu masih terkikik.

“Oh.. ya, ya. Mungkin saja.” Seharusnya Zerou sudah tahu dari awal. Phrite masih... terlalu polos untuk mengerti begituan. “Kenapa kamu memaksudkan ‘Window Shopping’ sebagai ‘Ahem’?” tanyanya, penasaran, sambil melirik sebal ke arah Kyuu. Zerou menganggap Kyuu tadi terkikik karena Kyuu mengetahui apa yang ada di pikirannya.

Phrite mengangkat bahu. “Yuki yang memberitahuku. Kupikir kak Zerou tahu.”

“Ooh...”

“Bagaimana kalau kita mencarinya saja? Jangan-jangan dia keasyikan Ahem ahem dan akhirnya tersesat di Uptown,” usul Phrite khawatir. “Uptown kan besar.”

“... Baiklah.” Mereka akhirnya membayar makanan masing-masing (Phrite kali ini menolak traktiran Zerou, berkata bahwa ia sudah mendapat penghasilan sendiri dari quest-quest yang didapatnya dari Café Master). Dan dengan lirikan terakhir Zerou kepada robot Guide Machine yang masih menggeleng-geleng itu, dan Kyuu yang beristirahat di kepala Phrite setelah seharian melayang-layang (Phrite sangat senang akan hal ini) akhirnya mereka pergi ke Uptown. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa Yuki barusan hampir meninggal dan akhirnya dibawa ke suatu tempat.

Suatu tempat rahasia.

***


Kak Zerouu, batin Phrite, mencoba untuk berkomunikasi dengannya dalam hati. Ia memusatkan seluruh pikirannya kepada Zerou agar pesan tersebut sampai kepadanya. Sebelum berpisah di gerbang kota Uptown tadi, Zerou telah mengajarinya cara untuk mengontaknya dalam hati. Dengan kata lain, telepati. Katanya sih, hal ini mudah dilakukan, namun kebanyakan orang tak mengerti caranya. Phrite bersyukur Zerou telah memberitahu caranya. Kalau tidak, bagaimana caranya Phrite dan Zerou bisa berkomunikasi di kota seramai Uptown saat berpisah? Yang saking ramainya sampai-sampai sepertinya kandungan oksigen di udara menjadi lebih tipis dibandingkan dengan udara di Downtown.

Di belakangnya, Kyuu sang Catty oranye itu melayang-layang dengan bersemangat, sesekali ia menolehkan kepalanya yang kecil itu ke kanan dan ke kiri. Dia selalu tertarik akan berbagai hal.

Ya? jawab Zerou balik. Singkat, padat, dan jelas.

Phrite kembali berkata dalam hati, Sudah menemukan dimana Yuki berada?

Hening beberapa saat, kemudian yang ditanyai menjawab, Belum sama sekali.

Ah, jadi begitu. Sebenarnya, hal ini sangat mengganggu Phrite. Sudah hampir satu setengah jam mereka mencarinya, namun hasilnya nihil. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Yuki… Tapi tidak mungkin. Ia bisa menjaga diri kok, batin Phrite. Dibandingkan dengan Zerou dan Phrite, Yuki adalah seseorang yang lebih kuat dan bisa diandalkan. Bukan berarti Zerou tidak bisa diandalkan, sih...

Kak Zerou, bagaimana kalau kita ketemuan dulu? Aku agak capek, lagipula aku sudah mencari Yuki daritadi di bagian West dan South, kata Phrite dalam hatinya kepada Zerou.

Tunggu. Bagaimana kalau kita bertanya pada Guide Machine dulu? tanya Zerou.

Phrite bingung. Eh? Buat apa?

Mereka punya ingatan fotografik mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, jawab Zerou lancar. Mungkin mereka mengetahui keberadaan Yuki.

O… ke deh. Pengetahuan Kak Zerou tentang robot benar-benar hebat, ya. Dimana kita akan bertemu?

Hmm… Guild Palace.

On my way, jawab Phrite.

Phrite berusaha tidak menghiraukan perasaannya yang makin tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju Guild Palace, sebuah bangunan besar yang megah di tengah kota. “Kyuu!” begitu seru Catty oranye itu, saat tertinggal jauh di belakang Phrite. Ia segera melayang dengan kecepatan 80 km/jam untuk menyusul Phrite.

***


 “Bagaimana kabar Kuro Yuki itu, Eryn?” Remia memulai pembicaraan. Mereka sedang berada di sebuah Airship milik teman baik Remia. Meskipun orang lain telah bertanya siapa sebenarnya pemilik Airship ini, namun Remia terus menolak memberitahu mereka.

Yang ditanyai, Eryn, menjawab, “Luka luar kebanyakan sudah menutup. Yang saya khawatirkan adalah... luka dalamnya.” Eryn sepertinya agak ragu untuk melanjutkan. Ia menggigit bibirnya, namun melihat Remia mengangguk menyemangatinya untuk melanjutkan, Eryn melanjutkan lagi, “Eter menyiksanya menggunakan suatu serangan yang tidak saya ketahui sama sekali. Kemungkinan status abnormal lain juga masih tinggi. Paling tidak, Kuro Yuki harus dirawat selama seminggu. Dua minggu, untuk mencegah kemungkinan buruk.”

Remia mengangguk suram. Berita tentang penyerangan Eter terhadap Kuro Yuki saja sudah buruk bagi mereka, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa Eryn sama sekali tidak tahu jenis serangan apa yang digunakan Eter terhadap Yuki. Jika Eter menggunakan sebuah sihir lain dari sihir-sihir yang selama ini ada di dunia ini, maka  kemungkinan mereka juga menggunakannya. Itu berarti, kesempatan untuk menang melawan mereka akan bertambah kecil, mengingat Eryn dan yang lain sama sekali tidak tahu-menahu soal sihir tersebut.

Semua itu dipikirkan Remia dalam sepersekian detik.

Remia berdeham dan melanjutkan, “Baiklah. Kalian semua kukumpulkan di sini untuk mendiskusikan perkembangan terbaru dari musuh kita. Laporkanlah semua di sini.”

Pandangan mata Remia yang tegas menyapu mereka semua, meneliti wajah mereka satu per satu. Remia mendapati bahwa sepertinya Gumi ingin mengutarakan sesuatu. Maka ia mengangguk pada Gumi, dan mempersilakannya untuk berdiri.

“Um, yeah, jadi aku ingin membagi sesuatu yang kudapat akhir-akhir ini dari pencarianku bersama Sachiko. Sach, tolong berdiri juga,” Gumi berbisik kepada Sachiko yang duduk di sebelahnya. Rupanya ia sedang memandangi bunga-bunga yang bermekaran di Airship itu. Setelah disikut oleh Gumi, akhirnya Sachiko menoleh kembali ke arah meja, dan mendapati bahwa semuanya sedang memandanginya. Ia melayangkan tatapan penuh tanda tanya ke arah Gumi yang berbisik, “Cepat berdiri!” Dengan tatapan yang masih penuh dengan tanda tanya, ia berdiri.

Gumi berdeham. “Kami, sebagai Scavanger, telah menemukan kegiatan yang cukup mencurigakan di Southern Iron City. Aku berhasil mengorek informasi dari 1st Café, dan yang berhasil kudapatkan adalah beberapa peraturan Iron telah berubah.” Mendapati bahwa sebagian besar orang yang mendengarkan menaikkan alis mereka, Gumi buru-buru menambahkan, “Yah, maksudku benar-benar berubah seluruhnya. Sach, tolong jelaskan.”

Senang karena mendapat giliran bicara, Sachiko berkata dengan riang, “Yang pertama adalah, sekarang, jika seseorang ingin memasuki South, orang tersebut harus mendapat persetujuan pribadi dari pemimpin Southern Faction. Dan harus melewati segala macam pengecekan yang benar-benar membingungkan~ Aku saja jadi mengantuk~” tambahnya dengan geli. “Yang kedua, South sekarang mencanangkan program ‘Kota Seribu Pertahanan’ dengan membangun berbagai macam pertahanan di sekitar Iron South Street dan pinggiran kota. Ketiga, sekarang South telah mencapai persetujuan damai dengan Morg, setelah Perjanjian Battleship Island ditandatangani.“

Seluruh orang yang berada di meja tersebut, berbisik-bisik dengan kentara sekali. Sepertinya berbagai berita yang dipaparkan oleh Sachiko membuat mereka kaget.

“Itu belum semua,” kata Gumi suram, membuat seluruh perhatian kembali kepadanya. “Dari yang kudengar lagi, para petinggi South dan Morg juga sering mengunjungi bangunan tua mengerikan itu—Light Tower.”

“Light Tower?” ulang Remia, kedengarannya terkejut. “Kau... yakin?”

“Seratus persen.”

Remia kembali berpikir dalam hati. Light Tower. Tempat dimana sisa-sisa monster peninggalan jaman Machine Age berada. Remia benar-benar khawatir. Sisa-sisa monster peninggalan jaman Machine Age...

“Baiklah, Scavanger. Ada lagi yang perlu disampaikan?” tanya Remia, kembali menemukan suaranya yang tegas namun tenang.

“Tidak ada lagi, Remia. Kukira itu sudah cukup menjelaskan peran mereka dalam menginfiltrasi fraksi Mighty South dan Proud West,” sahut Gumi lesu.

“Ya, kurasa kau benar. Kalian boleh duduk,” Remia mengangguk kepada Gumi dan Sachiko, kedua Scavanger itu, yang langsung duduk di kursi masing-masing. Sementara ini, hanya fraksi Noble North dan Indomitable East masih aman dari mereka. Tidak mungkin North jatuh ke tangan mereka. Yang jadi masalah adalah Fraksi East. Bahaya akan menjadi dua kali lipat jika mereka juga menguasai Undead Castle. Remia menghembuskan nafasnya dengan berat, dan melanjutkan, “Sekarang... Seizure dan Stealth, laporan kalian..?”

Dua orang langsung berdiri dengan cepat. Salah seorang dari mereka berdeham dan berkata, “Mewakili kedua kapten kami yang sedang absen, kami akan melaporkan perkembangan terbaru tentang Undead Castle—“

Titania yang itu berhenti sesaat, matanya memandangi wajah tenang Remia yang masih memusatkan perhatian kepadanya. Remia mengangguk mempersilakannya untuk melanjutkan sebelum ia berkata, “Tidak usah terlalu formal. Kau tahu aku tidak suka nada formal, Serix.” Mengedip, ia sedikit memasukkan nada canda di dalam perkataannya.

Ia tampak salah tingkah menerima perkataan tersebut dari Remia. “Err… baiklah. Kami bersama sepasukan kecil Acronia Knightage telah berhasil menumpas sebagian dari monster-monster yang menghantui Undead Castle. Si pemimpin East Fraction itu—Bruno, namanya, kalau tak salah—sedikit demi sedikit telah menaruh kepercayaan pada kami.”

“Wah, jarang sekali ada berita bagus,” timpal seorang gadis. Seluruh orang yang berada di Airship tersebut—kecuali Sachiko, yang masih memandangi bunga-bunga dengan pandangan penuh keceriaan— menusukkan pandangan mereka ke arahnya. Gadis itu menyadarinya, dan akhirnya berkata defensif, “Apa? Aku ‘kan hanya mengatakan yang sebenarnya!”

“Alluminia benar,” ujar Remia sambil menahan tawa. “Kita juga butuh pelepas stres. Serix dan Asagami, kalian benar-benar bekerja dengan baik. Ditambah dengan operasi penyelamatan Kuro Yuki itu barusan, kalian benar-benar hebat. Sedikit lagi kalian pasti akan menyaingi Ciel dan Ramero,” ujarnya, dengan senyum kecil. Titania yang bernama Serix itu tersenyum malu-malu. Sedangkan Asagami, Assassin yang berdiri di sebelahnya, tidak menunjukkan ekspresi apapun selain tersenyum sedetik, yang kemudian langsung hilang tak berbekas. Kemudian ia sepertinya teringat akan sesuatu, karena ia langsung bertanya dengan nada datar,

“Bolehkah aku bertanya, Remia?”

Remia, yang telah mengantisipasi hal tersebut, berkata, “Silakan, Asagami.”

“Apa yang sedang dilakukan oleh Ciel dan Ramero?” tanyanya.

“Mereka...” Kata-kata Remia menggantung di udara. Selama sepersekian detik, raut mukanya yang selalu diwarnai oleh ketenangan tiba-tiba dihiasi oleh sepercik tanda kekhawatiran. “Mereka sedang melakukan misi khusus untukku.”

“Apa tepatnya?” desak Asagami. Beberapa orang memandanginya, tidak biasanya Asagami menunjukkan emosi seperti itu. Mungkin sesuatu yang benar-benar serius sedang terjadi.

“Misi yang... berkaitan dengan sang Lady.” Ia tahu, tidak ada gunanya menutupi hal ini. Salah satu peraturan penting di markas Underground Force adalah kau harus terbuka mengenai hal apapun. “Sudah saatnya kita memprioritaskan perlindungan kepadanya sejak mereka menjadikan Lady sebagai... sasaran mereka.”

***


“Tidak ada lhooooo… Tidak adaaaaaa…..” seru Phrite putus asa. Ia dan Zerou tengah berada di Party Recruitment Plaza, yang bertempat di Acronia Eastern Plains. Beberapa Pururu yang berkumpul di situ sampai kabur dari tempat itu karena efek dari seruan Phrite yang sepertinya membuat mereka takut.

Sebuah tangan mungil mengelus-elus kepala Phrite. “Kyuu, kyuu~” kata Kyuu, mencoba menghiburnya.

“Sabar, Phrite. Aku yakin ada seseorang yang melihatnya kemari. Tidak mungkin Guide Machine berbohong,” ujar Zerou, ikut menghibur Phrite dengan menepuk-nepuk halus punggungnya. Ia sendiri pun sebenarnya juga khawatir karena dua alasan. Satu, karena Yuki adalah temannya, dan ia selalu mengkhawatirkan keadaan teman-temannya walaupun ia tidak menunjukkannya.

Dua, ia takut image robot akan jatuh di mata Phrite karena kejadian ini. Zerou mengakui bahwa ini adalah perasaan yang konyol, namun ia menyadari bahwa jika ia menyukai sesuatu, ia ingin agar orang tersebut menyukainya juga.

“Hei, lihat, ada orang yang ketiduran di sini,” kata Zerou sambil menunjuk seorang Dominion tampaknya sedang tertidur di salah satu meja sambil menelungkupkan tangannya di sekitar kepalanya. “Mungkin dia bisa memberitahu kita mengenai keberadaan Yuki.”

Phrite langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan Zerou kepadanya dengan liar, dan dengan kecepatan bagai cahaya, ia berlari cepat ke orang tersebut. Phrite menggoncang-goncang tubuh orang tersebut dan bertanya dengan nada yang sedikit histeris,

“Kak, kak! Bangun lah, aku ingin menanyakan sesuatu yang penting pada kakak!” Ia bertekad tidak akan berhenti berteriak kepadanya dan menggoncang-goncangkan Dominion itu sampai pemuda itu terbangun dan menjawabnya. Zerou dan Kyuu menyusul di belakangnya, kalah cepat dibanding Phrite.

“Ughh...” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Phrite semakin tidak sabar, ia menggoncang lebih keras.

“Kaaak... tolong jawab akuuuu!”

“Sabar, Phrite!! Dia ini kan masih ketiduran!” ucap Zerou sembari memegang bahu Phrite, mencoba menenangkan gadis berambut coklat itu. Salah-salah, ia bisa saja kena dampratan Dominion itu. Ras Dominion sudah terkenal di seluruh penjuru benua Acronia sebagai ras yang paling kasar dan temperamental. Kecuali Kuro Yuki, sih—dengan sifatnya yang seperti itu, dia bisa dikira seorang Emil yang iseng-iseng bermain-main dengan sepasang sayap Dominion. Kuro Yuki adalah satu-satunya cewek Dominion yang paling bersemangat yang pernah ia kenal. Tapi sifat keras kepalanya masih ada, dilihat dari keteguhannya mempertahankan Haru sebagai salah satu pet yang paling baik—oke, pikiran itu tak ada hubungannya dengan pencarian Yuki, jadi Zerou buru-buru menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang merasuki kepalanya.

Tampaknya pemuda itu sedikit demi sedikit mencapai kesadarannya. “Di... di mana aku...?” tanyanya, sambil perlahan menggelengkan kepalanya dengan bingung.

Phrite tidak merasa perlu untuk bersusah payah menjawabnya. Ia langsung membombardirnya dengan pertanyaan mengenai Yuki. “Kak, kak! Apa kau melihat seorang Druid Dominion cewek? Ia mengenakan set seragam Academy dari Tonka...” Ia mendeskripsikan Yuki sebisanya. Phrite berharap semoga saja dia kenal Kuro Yuki.

“Mmh... dimana aku? A, apa yang terjadi?” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti seekor Bawoo.

“Well, kalau tanya aku sih, kakak kelihatannya seperti habis mabuk,” celetuk Phrite, diikuti dengan anggukan Kyuu yang setuju dengan Phrite. Zerou memandangnya tajam, dan Phrite buru-buru berkata, “Kami sedang mencari seseorang. Cewek Dominion, jobnya Druid.”

Zerou juga akhirnya mengalihkan pandangannya kepada pemuda itu. “Berapa banyak Dominion yang kau kenal yang bekerja sebagai Druid?”

“Sa... satu, kurasa...”  Pemuda yang ditanyai oleh Zerou dan Phrite itu mulai sadar sepenuhnya. “Set seragam Academy...? Kuro Yuki, maksudmu?” Tiba-tiba pemuda itu teringat sesuatu yang penting. “Kuro Yuki!! Di mana dia?? Dia dalam bahaya... aku harus menyelamatkannya—“

“Dalam bahaya? Apa maksudmu?” desak Zerou.

Ia kelihatannya ragu sejenak, kemudian, “Yah, aku cuma tahu saja, deh. Tapi sayangnya, aku tak tahu dimana dia...”

“Oh, bagus sekali.” Sarkastik, Zerou melanjutkan, “Tidak ada gunanya mencari Kuro Yuki kalau orang-orang tak tahu dimana dia berada.” Ia menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi kayu bundar di sebelahnya. “Phrite, apa yang sedang kau lakukan?”

Yang ditanyai ternyata sedang memandangi wajah pemuda itu dengan intens. “Aku.. rasanya aku kok aku kenal kakak, sih...” Di samping kepalanya, Kyuu juga ikut-ikutan memandang muka sang Dominion itu dengan mimik serius.

Dominion itu mengangkat alisnya, dan bertatap muka dengan Phrite yang masih memandanginya. “... Kurasa aku... juga kenal kamu,” sahutnya sambil sedikit mengernyit.

Setelah beberapa saat, akhirnya Phrite mengenalinya. Matanya, rambutnya, tidak salah lagi... “Aha!! Kakak kan pacarnya Yuki?? Demon Prince, kalau tak salah?”

Mengerjap sekali, akhirnya Demon Prince pun juga mengingat kembali. “Ah, ya, Kuro juga mengenalkan kalian padaku, aku baru ingat...” Ia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan dengan gaya acuh tak acuh, “Tapi aku tak tahu dimana Kuro berada, maaf.”

Shock berat, Phrite berkata dengan berapi-api, “Apa maksud kakak? Seharusnya kan kakak tahu dimana dia berada? Lagipula dia itu kan pacarnya kakak—“

“Terima kasih, Demon Prince. Kalau begitu kami permisi dulu,” ucap Zerou seraya bangkit berdiri dan menggenggam tangan Phrite untuk menariknya menjauh dari Demon Prince. Phrite memandanginya dengan kebingungan, namun melihat tampang Zerou, ia memilih untuk diam. Kyuu mengikuti mereka pergi menjauh.

Setelah berjalan cukup jauh dari tempat tadi, mereka berhenti. Phrite menunggu Zerou untuk berbicara, dan akhirnya, Zerou menghela nafas. “Ini serius.”

“Serius?” Phrite tidak mengerti.

“Sepertinya Demon Prince memang tak mengetahui dimana Kuro Yuki berada. Tapi yang jelas... ada yang tak beres.” Tak ada tanda-tanda interupsi dari Phrite, yang masih menatap Zerou dengan bingung. Ugh, tatapannya seperti tatapan para robot yang memelas, batin Zerou, pusing. Baiklah! Ini akan menjadi penjelasan yang sangat panjang dan lebar... dikali tinggi. Hanya kepada Phrite ia mau menjelaskan panjang lebar seperti ini. Maka Zerou menguatkan hatinya, dan melanjutkan, “Aku mengenal para Dominion. Mereka adalah orang-orang yang paling bertemperamen, keras kepala, pemarah, tapi juga pemalu. Kebanyakan dari mereka sangat susah mengutarakan perasaannya, kombinasi maut antara pemalu dan gengsi yang kuat. Demon Prince baru saja menunjukkannya tadi. Ia sangat keras kepala, dan memiliki gengsi juga. Dia tidak akan mau mengungkapkan perasaannya bahwa ia sendiri cemas mengenai keberadaan Yuki.

“Tapi ada yang aneh...” Zerou berpikir-pikir sambil mondar-mandir. Jika ia memakai kacamata Monocle dan dipadu dengan sebuah pipa rokok yang bertengger di bibirnya, ia tentu kelihatan seperti seorang detektif. “Demon sendiri mengatakan bahwa Yuki sedang dalam bahaya. Jika ia mengetahui keadaan pacarnya, tentunya ia sendiri seharusnya tahu dimana Yuki berada? Hm... bagaimana menurutmu, Phrite?” tambah Zerou, meminta pendapat Phrite.

Phrite hanya bengong.

“Err... ada apa??” Zerou mulai khawatir.

“Bisa tolong pakai bahasa manusia? Aku.... agak tidak mengerti,” jawab Phrite, masih kelihatan berusaha mencerna sebagian kata-kata Zerou.

Seakan setuju dengan Phrite, Kyuu juga mengangguk dan berseru, “Kyuu!”

Hening sesaat... dan kemudian Zerou melakukan gerakan /dissapoint.

Sudah keren-keren aku menjelaskannya... dan dia tak mengerti sepatah katapun? Kalau Kyuu sih aku memang maklum, tapi—Oh, Ruler of Titania yang baik, apa salahku dan apa dosaku...

“Tunggu, kurasa aku sudah mulai mengerti!” seru Phrite, tanpa sadar tidak menghiraukan Zerou karena saking seriusnya berpikir. “Kalau aku bilang sih, kita pergi ke tempat Remia saja! Kata Yuki, dia ‘kan peramal, jadi mungkin ia bisa tahu tempat dimana Yuki berada!”

Zerou bangkit berdiri lagi, kali ini dengan senyuman kecut yang menggelantung di sudut bibirnya. “Dan bukankah kita sendiri menyaksikan bahwa toko Remia telah dibakar habis?”

“Ooh... benar juga,” Phrite menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan kembali berpikir. “Bagaimana, dong....?”

Tanpa peringatan, muncul sebuah suara licik yang tiba-tiba mengisi kekosongan di antara mereka. “Fufufu, ketemu kalian...”

“... eh? Siapa yang ketemu?” tanya Phrite kebingungan. Ia memandang berkeliling namun tidak dapat melihat siapapun selain Zerou.

Zerou langsung merasakan bahaya. Menjadi seorang petualang memang benar-benar meningkatkan insting dan inderanya. Meskipun tentu saja, kemampuannya masih tak ada apa-apanya dibandingkan dengan para petualang yang memilih job tipe Fighter. “Lebih tepatnya, siapa kau?” tanya Zerou kepada orang tersebut. Ia berusaha untuk menahan keinginannya yang kuat untuk kabur. Kalau ia kabur nanti, itu tidak akan terlihat jantan. Ia harus memberi contoh yang baik kepada Phrite.

Dan kenapa pula, aku memiliki keinginan seperti itu? batin Zerou, merasa bingung seperti Phrite sendiri.

“Fufufu...” Lagi-lagi orang tersebut tertawa. Didengar dari suaranya, orang tersebut kemungkinan adalah perempuan. “Kau tak bisa lari~

“Kyuu, kyu...u...” Kyuu merintih ketakutan. Zerou meliriknya, merasa aneh dengan kelakuan Kyuu, tapi mengabaikannya. Ada sesuatu yang lebih berbahaya di sini. Kemudian, Zerou mengambil keputusan. Phrite, batin Zerou, bertelepati kepada Phrite. Bawa Kyuu, dan lari. Sekarang.

Mata Phrite melebar, ia tidak mengerti, tapi ia memutuskan untuk percaya saja. Sedetik setelah ia menyambar Kyuu dan mengambil dua langkah menjauh dari Zerou, sebuah suara datang mengagetkannya.

Bumrush!

“Agh!” Seutas tali cambuk yang tampak kuat menyambar, dan kemudian mengunci gerakan Zerou sehingga membuatnya tersungkur jatuh. Terbatuk karena debu, ia berusaha melihat siapa yang barusan menyerangnya, meskipun sangat susah karena kedua tangannya telah terikat oleh cambuk yang sangat kuat itu. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok pria Emil berambut pirang keemasan dengan sepasang matanya yang berwarna emas pula.

Alceus.

“Aih... meleset. Tapi aku kena yang satunya! Habisi, ‘Lil!” teriaknya dengan penuh semangat. Ia menoleh ke belakang, ke arah seorang Dominion cewek yang berjalan mendekat dengan terburu-buru. Tak lupa Alceus mengembangkan senyumnya yang gemilang bak Casanova, seakan berusaha meluluhkan hati gadis itu.

Mereka lagi!! batin Phrite. Phrite menyuruh Kyuu untuk lari jauh-jauh dan bersembunyi. Ia tahu, sekarang pasti bahaya menyerang mereka. Kyuu mengangguk mengerti setelah disuruh Phrite dan langsung melayang pergi dengan diam-diam.

Dominion cewek itu sekarang telah sampai di samping Alceus. Ia tersenyum puas dan berkata, “Bagus, Al. Tapi...” Senyumnya seakan luntur, digantikan oleh kejengkelan. “... Tak usah disuruh pun aku akan menghabisi mereka! Dan jangan menyeringai kepadaku, seringaianmu bahkan lebih menyeramkan daripada si Diaperman itu!” Kata-kata pedas yang dikeluarkannya sungguh kontras dengan paras wajahnya yang sebenarnya cantik.

“Uu, Lilaca sayang marah... Tapi jadi lebih cantik sih, hehe,” goda Alceus. Lilaca hanya memandangnya dengan tatapan ‘awas-kau-nanti’ yang membunuh, lalu ia mengeluarkan sebuah Time-Space Dark Staff sambil berkonsentrasi untuk merapalkan sebuah mantra. Dengan ngeri Zerou menyadari bahwa tanah di bawahnya seakan menggelap oleh karena lingkaran sihir yang muncul di bawahnya, berwarna ungu menyeramkan. Tampak beberapa rune kuno tergambar di sekitar lingkaran sihir tersebut. Zerou tahu, itu adalah salah satu kemampuan para pengguna Dark Magic—Warlock. Atau lebih parah lagi, tingkatan lanjut dari Warlock yaitu Cabalist. Mampuslah dia sekarang.

Ayah, Ibu, maafkan anakmu ini yang belum bisa sukses jadi pedagang, bisanya cuma ketimpa sial terus,
Passing, maafkan sepupumu yang bodoh ini karena sampai sekarang pun masih bodoh,
Teman-temanku semuanya....
Phrite... yang sudah kuanggap sebagai adik... semoga kamu bahagi—


Tiba-tiba saja beberapa peristiwa terjadi dalam sepersekian detik.

“TIDAK BOLEH!!”

“Hah?! Argh!!” Alceus berteriak, campuran antara kaget dan kesakitan. Ternyata Phrite telah berlari sekuat tenaga ke arah Alceus, dan kemudian menginjak kakinya keras-keras—lagi. Lilaca yang melihat hal itu kemudian berniat untuk menolongnya, namun ia mengurungkan niatnya karena mantranya sudah hampir selesai. Bunuh si Trader itu...

Serangan Phrite itu berhasil mengendurkan kekuatan cambuk Alceus yang daritadi mengunci gerakan Zerou. Ia tahu, ia hanya punya waktu sangat sedikit untuk selamat dari entah apa yang akan dirapalkan oleh si Dominion yang bernama Lilaca itu. Segera ia melepaskan dirinya dari tali cambuk Alceus yang telah sepenuhnya tergeletak (Alceus masih memegangi kakinya yang sakit bukan main) dan kemudian berlari secepat-cepatnya ke arah lain agar bisa keluar dari batas lingkaran sihir keunguan tersebut. Tiga meter lagi... dua meter lagi... tak akan cukup, mata Lilaca telah berkilat kejam ke arahnya....

“Kak Zeroooooou!!!!!”

Tanpa diduganya, Phrite berlari sekuat tenaga ke arah Zerou dan kemudian melompat ke arahnya agar dia dapat mendorongnya sejauh mungkin. Ia tersungkur jauh ke belakang karena dorongan Phrite. Namun mantra Lilaca sudah selesai, dan sebuah ledakan keunguan besar segera terjadi. Segalanya seperti terjadi dalam gerakan lamban dalam mata Zerou. Tidak... Phrite akan—

Tak bisa berpikir panjang lagi, Zerou langsung menarik Phrite yang masih mendorongnya kuat-kuat, agar ia juga bisa ikut lolos dari ledakan tersebut. Kemudian, segala sesuatunya menjadi kabur karena naiknya debu yang disebabkan oleh ledakan Lilaca tadi.

Terbatuk-batuk sedikit, Zerou merasakan lengannya lecet banyak karena kuatnya cambuk yang telah mengikatnya. Namun ia sama sekali menghiraukan lukanya, karena sekarang yang lebih penting daripada segalanya, baginya, adalah Phrite.

“Phrite!! Dimana kamu??!”

“A... aku di sini, Kak...”

Dengan panik ia langsung menuju ke sumber suara. Masih dalam keadaan tertelungkup, gadis yang baru saja menyelamatkannya itu tergeletak begitu saja di tanah. “Astaga... bagaimana keadaanmu, Phrite? Aku yang membahayakan dirimu, Phrite... astaga... Phrite, mana yang luka??! Fi.. first aid, first aid...” Kata demi kata yang mengalir keluar dari bibirnya sama sekali tak keruan, seakan ia telah menenggak habis sebotol minuman keras. Gemetar dari seluruh tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, ia mencari-cari first aid dari dalam tasnya dengan geragapan.

“Tidak apa-apa kok Kak... aku hanya lecet sedikit...” Phrite mencoba duduk di tanah, dan ternyata berhasil meskipun agak sedikit limbung. Ia menunjukkan lengannya yang agak lecet karena tergencet dengan tanah. “Tapi yang sayang sih... sepatuku...” Phrite menunjukkan sepatu boot kanannya yang berwarna merah itu kepada Zerou. Ternyata ujungnya habis sama sekali karena terkena ledakan tadi. “Jadi bolong deh... padahal aku membelinya dengan susah payah,” kata gadis itu sembari merengut.

Astaga... sepersekian detik saja terlambat, kakinya pasti sudah hilang... Untunglah, untunglah aku tadi juga menariknya..

Zerou tertegun. Ia baru sadar betapa tegangnya dirinya tadi, melihat Phrite hampir terluka. Tanpa sadar ia mengelus rambut Phrite. “Syukurlah kamu selamat... maafkan aku karena membuatmu terluka ya...” Tak terbayangkan betapa bersyukurnya dia sekarang, sama besarnya dengan perasan bersalahnya. “Syukurlah...”

“Ooh, sentimental sekali kalian.”

Terkejut, Phrite dan Zerou langsung menoleh ke arah sumber suara perempuan itu. Ternyata Lilaca dan Alceus telah berdiri di dekat mereka, memandang mereka dengan pandangan yang merendahkan. “Tapi kuakui hebat juga. Kalian bisa selamat dari Shadow Voidku!! Ternyata dia benar juga, kalian cukup hebat...” Lilaca menyeringai, ”untuk seukuran newbie!”

Alceus mulai mengencangkan cambuknya lagi, dan kemudian berkata, “Well, bagaimana kalau langsung kita mulai saja?” Senyumnya yang bak Casanova itu masih tersungging di bibirnya.

“Sebenarnya apa mau kalian?!” tanya Phrite putus asa. “Setahuku kami tak pernah mengganggu kalian! Kami hanya ingin hidup tenang!” Phrite tidak tahan lagi.

Kontan Alceus dan Lilaca berhenti. Sambil menatapnya tajam seakan menilai mereka, Alceus pun menjawab, “Sejujurnya, kami pun tidak tahu,” ia mengangkat bahunya. “Kami hanyalah—“

“Alceus,” nada bicara Lilaca sudah mencapai titik berbahaya, “Kalau kau selalu lengah saat bekerja—“

“Dalam kasus ini, kalau target kita bisa dipastikan 99,9% mati, bolehkah aku membuat pengecualian?” tanyanya sambil nyengir.

“Huh, terserah saja lah, dari dulu aku selalu malas kalau adu mulut denganmu. Paling-paling ujung-ujungnya nanti kau akan menggangguku lagi,” gerutunya. “Kuberi waktu lima menit. Dan cepatlah. Ingat apa yang terjadi pada Eter saat dia gagal.”

Alceus mengangguk dengan santai. Kemudian, ia berdeham dengan sok dan mulai bercerita. “Baiklah. Asal kau tahu saja, kami adalah para pembunuh bayaran yang disewa untuk membunuh target utama, seorang gadis berambut pendek seleher berwarna coklat dengan mata hijau keruh... dengan kata lain, kau,” ujarnya sambil menunjuk Phrite dengan—entah kenapa—pandangan yang menyengat, “dan seluruh manusia lain yang bersamamu ataupun ketahuan berkontak  denganmu.”

Phrite seakan terjatuh ke dalam pusaran kemalangan yang begitu dalam.

“Ta... tapi... aku tidak melakukan apa-apa...”

“Kami hanya menerima perintah dan kami jalankan.” Alceus mengangkat bahunya dengan enteng dan kemudian mulai mengambil kembali cambuknya yang tadi ia selipkan di pinggangnya. Ia memandangi mereka berdua dan berkata dengan menyeringai, “Nah, sekarang kalian tahu yang sebenarnya, jadi kalian bisa mati tenang kan? Aku janji kematian kalian tidak akan lama...”



Apa hubungan Remia dengan Phrite?? Kenapa Phrite dijadikan target sasaran? Siapa sebenarnya Alceus dan Lilaca itu? Dan bagaimanakah nasib Zerou dan Phrite??

dan siapa saja keluarga Zerou? Siapa itu Passing? :P

Baca kelanjutan ceritanya di Mignonette's Next chapter~
« Last Edit: May 16, 2013, 12:29:20 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 8: A Realized Hope
« Reply #8 on: February 11, 2010, 05:29:11 PM »
Chapter Eight
~A Realized Hope~



TS' Notes:
Update diam2 A____A


Kalau Anda bener2 perhatikan, ada beberapa perubahan signifikan di sini. Yap, chapter2 telah aku merge, jadi yang dulunya 2 chapter sekarang kugabung jadi 1 chapter (1-2 jadi chapter 1, 3-4 jadi chapter 2, dst). Kalau bingung.. ya silakan dibaca lagi :laugh:

Terima kasih buat cc Sacchan yang telah mengeprune message.. juga partner kerjaku yang setia, yang pasti nyadar sendiri begitu baca ini XD kemudian seluruh pembaca setia yang masih berusaha menanti update.. (gila, saya terharu..) Saya akan berusaha  menamatkan Migno demi kalian semua!! (lebay..)

Yeap, karena adanya merge + prunning, tentunya ada beberapa post yang tertinggal.. nah, saya mengapdet Migno dengan edit post kemudian menambahkan chapter A__A yang sudah menemukan updatenya, congratz!! Tapi dimohon dengan sangat untuk tidak komen dulu!! Biar yang lain ga ngerti.. biar bisa diem2 lagi A__A
eniwei, enjoy... and lastly, Happy New Year 2011!!
/e11





Mendadak, Zerou berdiri sambil mengencangkan pegangannya pada mace yang menjadi senjata utamanya.  “Aku tak akan membiarkanmu melakukan niatmu,” geramnya, sambil memunggungi Phrite untuk melindunginya. “Tidak sampai kau melangkahi mayatku!”

“Bagus, itu lebih mempermudah tugas kami,” Alceus menyeringai. “Kau ingin mati cepat, atau lama—“

Namun perkataannya dihentikan oleh serangan mendadak dari Zerou. “Banishing Blow!!” Ia menebaskan mace itu dengan ganas ke arah Alceus, menyebabkan Ranger tersebut terdorong ke belakang beberapa meter.

“Aw.. not bad,” sahut Alceus, sambil memaksa seringainya mucul lagi. Serangan yang diberikan Zerou cukup membuatnya kewalahan juga. Dengan cepat ia menempelkan First Aid di luka yang dibuat Zerou itu sambil berkata, “Berikutnya, kau tidak akan seberuntung itu, Oom.”

Rupanya panggilan ‘Oom’ dari Alceus dianggap Zerou sebagai penghinaan pribadi terhadap tampangnya. Kurang ajar! Aku sudah tidak tahan lagi dipanggil oom!! “Berani-beraninya kau..!!” Tanpa basa-basi lagi ia segera berlari ke arah Alceus dan mengangkat Mace-nya tinggi-tinggi. “Heahh!!!”

***


[Lilaca’s POV]

Huh.

Ternyata om-om itu lebih bodoh daripada tampangnya. Ia melawan Alceus! Tentu saja aku sudah tahu siapa pemenangnya. Membiarkan seulas seringai tersungging di mulutku, kali ini akulah yang akan beraksi.

Aku menoleh memandang si gadis kecil itu, salah satu target yang sudah ditentukan olehnya. Melihatku memandanginya, sepertinya gadis itu bertambah takut. Ya!! Takutlah padaku!! Karena aku benci anak-anak ingusan sepertimu!!

Kakiku mulai melangkah, perlahan aku mendekatinya. Ia berjengit dan mendadak berdiri, rupanya ingin lari dia. “Apa yang akan kau lakukan, anak kecil?” Suaraku lembut dan merdu, namun ia pasti juga menangkap nada lapar dalam suaraku. “Mau lari?” Kali ini aku membiarkan suara tawaku keluar. Anak kecil ingusan, mau lari dariku? Seharusnya dia memiliki akal sehat yang lebih baik lagi daripada itu—

JRESS!!

—ketika tiba-tiba sesuatu di bawahku memerangkap diriku, dan juga melukaiku!! “A-apa ini?!” teriakku tanpa sadar. Sial, ini pasti..

“Grass Trap,” gadis itu berkata, sambil tersenyum. Campuran dari senyum senang, bangga, dan juga waswas. “Aku membuatnya selagi kau sibuk memelototi teman Ranger-mu.”

“Ooh, benarkah itu, Lil’ sayang?!” seru Alceus yang masih menahan serangan penuh gencar dari Zerou. Rupanya telinganya berfungsi dengan baik. Berfungsi terlalu baik, malah.

Aku yang difitnah seperti itu, tentu saja tidak terima. SANGAT tidak terima. Aku menuding gadis itu dengan penuh dendam sembari membisikkan kata-kataku seperti membaca kutukan. “Kau, kau akan mati.” Aku lebih merasa marah lagi karena dia sepertinya tampak lebih tegar. Kemudian aku menoleh dan dan berkata sengit kepada Alceus, “Kau, tidak usah banyak bicara, cepat habisi lawanmu itu!”

“Jadi kau tidak membantahnya?? Itu suatu penghormatan besar bagiku—“ Sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya, dia dihentikan oleh salah satu serangan dari Om-om itu. “Aghh... be te we tumben sekali Banishing Blow-mu mengenaiku—“

“Kau sendiri hanya bertahan. Apa bisa kau menang dariku?” tanya Om-om itu dengan senyum mengejek.

“Kita lihat saja nanti..” Senyum-playboynya yang biasa hampir membuatku muntah, tapi aku mengerti bahwa ini adalah bagian dari salah satu taktiknya. Buat lawan kehabisan tenaga dulu, baru bermain-main dengannya. Aku menyeringai.

“Tidak usah menyeringai seperti itu, kamu sudah mengerikan, kok,” celetuk gadis sialan itu. Ah, yeah, aku hampir lupa bahwa aku harus berurusan dulu dengan gadis ingusan ini. Mataku menyipit, batas kesabaranku hampir mencapai titik nol. Aku benci gadis ini. Sangat benci.

“Begitukah? Aku tersanjung.” Kata-kataku tetap terkontrol, namun aku bisa merasakan kemarahanku memuncak dalam diriku. “Bersiap-siaplah.. akhirmu akan segera datang.”

Benar sekali, Phrite. Kau akan kubuat menyesal karena telah memilih kematian dengan cara paling mengerikan.

***


Phrite takut. Ia sangat takut. Namun Phrite tidak mau kalah tanpa berjuang. Ia sudah memiliki rencana untuk mengalahkan penyihir gila ini, dan ia hanya berharap semoga rencananya berjalan lancar. Grass Trap-nya sudah berhasil. Tinggal beberapa trik lainnya..

Tunggu, jangan terkejut dulu. Meskipun tampangnya seperti itu (ya, tampangnya tampak sedikit lugu dan bodoh) namun Phrite sebenarnya adalah seorang pengatur strategi yang hebat. Ia menganalisis seluruh rencananya sekali lagi sambil menghela napas untuk menenangkan kekalutan yang membalut hatinya.

“Bersiaplah.. akhirmu akan segera datang,” Lilaca berkata dengan nada yang menyeramkan. Ooh, tidak bisa, Lilaca, batinnya. Akhirmulah yang akan segera datang. Semoga saja, sih..

Tanpa diduga, Lilaca mengayunkan tongkat sihirnya sembari berujar, “Shadow Void!

Sebuah lingkaran keunguan yang luar biasa besar muncul di bawah kaki Phrite. Bagus, batin Phrite. Tanpa basa-basi lagi ia segera berlari ke arah kedalaman hutan Eastern Plains, yang tentu saja langsung dikejar oleh Lilaca. “Mau kemana, anak kecil~?” Lagi-lagi ia melantunkannya dengan suara merdu yang ganjil. Phrite menelan ludah, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan langkahnya.

Kak Zerou, semoga selamat. Aku akan mencoba mengalahkan penyihir ini..

... Jaga diri, Phrite. Jangan.. mati.

Tidak akan! Kakak juga, ya!

Terus dan terus berlari. Namun ternyata Lilaca juga berhasil mengejarnya, sambil mempersempit jarak di antara mereka. “Ternyata kamu belum jadi tante-tante, ya,” seru Phrite sambil melirik ke belakang. Ugh, tambah dekat..

“Ah, tidak. Mungkin kau saja yang lemah,” sahut Lilaca sambil lagi-lagi mengeluarkan suara tertawa yang merdu namun mengerikan.

Kalau saja dia tahu bahwa aku berlari dengan kecepatan seperti ini karena sengaja.. batin Phrite.

Mendadak, Lilaca berseru lantang, “Kena kau. Chaos Widow!

Sekarang! Dengan cekatan, Phrite menyambar beberapa butir biji pohon yang selama ini dikumpulkannya dan berseru, “Cultivate Plant!

Tiba-tiba, di depannya tumbuh sebatang pohon dengan kecepatan fast-motion. Selagi pohon tersebut tumbuh, sebuah bola kecil berwarna keunguan terbentuk dari ujung tongkat Lilaca, dan melesat menuju Phrite dengan kecepatan yang juga fast-motion. Phrite berharap semoga ini berhasil..

.. ternyata tidak.

“Akh!!” Bola tersebut menembus pohon yang baru saja tumbuh di depannya itu, dan kemudian menghantam lengan kirinya yang digunakan Phrite sebagai tameng dirinya, membuat gadis itu kesakitan. Sial.. dan ia juga tidak bisa membuat First Aid..

“Kaget?” tanya Lilaca sambil tersenyum keji. “Meskipun trikmu itu sangat bodoh, tapi sebagai hadiah sebelum kematianmu, aku akan memberitahumu. Sihir tidak bekerja seperti itu. Sihir pasti mengenai target.. karena pada saat dirapalkan, sihir telah mengunci target yang telah kusebutkan dalam mantraku. Jadi.. kau tidak bisa seenaknya saja membuat penghalang di antara dirimu dan sihirku. Sihir hanya mengenai orang-orang yang telah ditargetkan.” Lilaca mengakhiri penjelasannya dengan seringai. “Setidaknya kamu tidak akan menjadi hantu penasaran setelah aku menjelaskan ini. Aku baik, ‘kan?” tanyanya, retoris, yang kemudian diikuti dengan tawa terbahak-bahak.

Sial.. Phrite memegangi lengan kirinya dengan hati-hati. Ia tidak menyangka kalau ternyata sihir bekerja seperti itu. Kalau begitu.. terpaksa ganti rencana rencana B..

Phrite memaksa tersenyum. “Aku berterima kasih karena kau sudah repot-repot menjelaskannya kepadaku,” ia mengangguk sambil memejamkan mata. Saat membuka matanya kembali, ia melanjutkan, “Sebagai ucapan terima kasih, ijinkan aku membuatmu nyaman.” Mendadak, Phrite berlari dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada yang pertama. Lilaca yang jelas-jelas tidak mengantisipasi hal tersebut kemudian menerima serangan telak dari Phrite. “Banishing Blow!” Phrite berteriak sambil memukul Lilaca dengan sekuat tenaga, membuat Lilaca mundur beberapa meter ke belakang. Belum habis kekagetan Lilaca, Phrite kemudian berlari mendekatinya dan berkata, “Cultivate Plant!

“Gyaa!” Lilaca berteriak selagi sebuah pohon tumbuh dengan kecepatan super di tempat dimana Phrite menjatuhkan bijinya, yaitu tepat di bawah kedua kakinya. Tubuhnya terombang-ambing di antara lebatnya daun-daun, ranting-ranting, cabang pohon, dan batang yang berusaha tumbuh besar. Sambil meronta-ronta, Lilaca mengeluarkan sumpah serapahnya yang paling kasar. Tak lupa ia juga mengutuki Phrite. “Sialan sialan sialan!! Kau akan MATI!! Tunggu saja waktu aku turun dari pohon ini—oh tidak, jangan menghancurkan rokku!!” serunya selagi beberapa ranting berusaha tumbuh melewati roknya yang berwarna keunguan itu.

Phrite tersenyum puas, triknya berhasil. Ia berkata dengan senyum yang mengembang di mulutnya, “Kalau begitu, sampai nanti!” Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berlari menuju jalan keluar dari hutan, meninggalkan Lilaca di atas pohon itu—yang sekarang berusaha menebas-nebas ranting-ranting tersebut, namun percuma karena pohon itu masih berusaha tumbuh.

“AWAS KAUU, PHRITE!!”

***


“Ada apa? Kau capek ya?” tanya Alceus ringan saat napas Zerou berubah menjadi sangat berat. Sudah puluhan kali ia melancarkan serangan Banishing Blow kepada Alceus, namun Alceus tampak masih kuat. Beberapa luka memang tercipta di sana-sini, dan ia juga merasakan bahwa kecepatan gerak Alceus sedikit menurun, namun selain itu, sepertinya tidak ada efek lainnya yang diderita Alceus. Sebenarnya, seberapa kuat sih orang ini? batin Zerou, sambil berusaha mengendalikan napasnya. Kalau begini terus, bisa-bisa Zerou-lah yang mati..

“Tidak, aku tidak capek,” Zerou berbohong. “Aku cuma ingin kau menganggapku bahwa aku capek.”

“Ha,” Alceus meremehkan. “Kalau memang benar demikian, kamu nggak akan membicarakannya di depanku.”

Itu memang benar, tapi Zerou tidak merespon perkataannya. Sebenarnya Zerou mencoba mengulur-ulur waktu. Tangannya mencari-cari di dalam tasnya, berusaha meraih sebotol Tonic yang ia ingat pernah ia simpan di dalam tas. Ah, ketemu. Cepat-cepat ia mengambilnya dan langsung meminumnya dalam sekali teguk. Meskipun rasanya pahit, tapi dalam sekejap tenaga Zerou kembali. Yah, mungkin hanya sedikit tenaga yang kembali, namun setidaknya cukup untuk pertarungan ini.

“Hoo.. Tonic ya.. ternyata kamu selalu bersiap menghadapi kematian,” Alceus mengejek kembali, namun ia tidak menyangkal bahwa ia sedikit gelisah. Kalau ia tidak berhati-hati, mungkin saja salah satu Banishing Blow darinya bisa membuatnya mati, atau lebih parah lagi, pingsan.

Zerou tersenyum. “Kali ini aku akan serius,” sahutnya. Ia menghela napas, dan mendadak, ia berteriak dengan suara parau. Bahkan, suara fals. “OUOUOUOOUUO!!!”

“Wadauw!! Kalau mau nyanyi, di lain tempat aja, Oom!” seru Alceus sembari menutup kupingnya. Suara barusan adalah suara yang paling mengerikan yang pernah didengarnya. Bahkan suara bosnya saja lebih baik daripada suara ini.

Namun ia mendadak tertegun. Sebuah sinar muncul dari tubuh Zerou, melingkupinya dengan berkas cahaya yang lembut namun kuat. Alceus perlahan mengerti. “Warsong..” ia bergumam. Mendadak seulas seringai muncul di sudut bibirnya. “Heh. Sepertinya ini akan menjadi lebih seru.”

“Tentu saja,” Zerou menggeram. “Kali ini bersiaplah.. Banishing Blow!!” serunya garang, sambil melepaskan satu pukulan dengan kekuatan besar ke arah Ranger itu.

Alceus menerima serangannya dengan telak, dan ia tidak terkejut ketika menyadari bahwa damage yang diberikan kepadanya meningkat. Alceus mendecak. Ia benar-benar harus berhati-hati.

Banishing Blow! Banishing Blow! Banishing Blow! Banishing Blow!” Berkali-kali Zerou menyerangnya dengan skill yang sama, dan hampir seluruhnya diterima Alceus. Luka-luka baru mulai terbentuk di tubuhnya, bahkan ada beberapa yang tampak parah.

Kewalahan, Alceus kemudian melepaskan cambuknya kemudian berseru, “Bumrush!” Tali cambuknya mengelilingi Zerou yang tidak siap, kemudian mengikatnya kuat-kuat. Sambil terbatuk-batuk, Alceus mencoba tersenyum di tengah kesakitannya. “Hebat juga kamu. Aku nggak nyangka kamu sampai sekuat ini,” ujarnya sambil masih berusaha mempertahankan ikatan cambuknya di tubuh Zerou, yang terbukti tidak mudah. Zerou berusaha menggeliat-geliat dan meronta-ronta, namun Alceus tetap tidak melepaskannya.

“Kenapa kamu tidak membalas seranganku? Apa karena kamu lemah?!” cerca Zerou, berharap dengan pertanyaannya ini pikiran Alceus tidak terfokus sehingga dirinya bisa terbebas dari belitan cambuk yang luar biasa kuat itu.

“Let’s see... umm, karena aku masih berbelas kasihan padamu?” jawab Alceus sambil berlagak berpikir.

“Jangan berlagak sombong kau, Ranger bodoh..”

“Aku nggak berlagak sombong. Itu kenyataan. Aku memang berbelas kasihan padamu,” ujar Alceus dengan lagak serius. “Tapi kalau kamu memaksa.. apa boleh buat..” Seiring dengan perkataannya, cambuk yang membelit Zerou mulai mengendur, membuat Zerou bisa bernapas lega. Namun belum sempat Zerou melakukan apa-apa, mendadak cambuk tersebut terangkat dan kemudian menebas tubuhnya berkali-kali dengan cepat. “Aku akan melawanmu.”

Kali ini, ganti Zerou yang terbatuk-batuk setelah menerima serangan dari Alceus. Ia tampak terkejut menerima serangan tersebut. Matanya memandang mata keemasan milik Alceus dengan penuh kekagetan.

“Bagaimana rasanya Whiplash-ku?” tanya Alceus dengan seringai jahat. Ia mengelus cambuknya dengan perlahan dan kemudian memutar-mutarnya kembali, bermaksud mengintimidasi Zerou.

Namun Zerou, meskipun terluka, berusaha menjawab dengan tenang, “Tidak ada apa-apanya..”

Seringai di wajah Alceus menghilang, diganti dengan wajah murka. “Kau akan menyesal telah menghinaku seperti itu.. Whiplash!!”

***


Ia datang ke tempat yang penuh dengan pepohonan rindang. Sekejap, hutan di sini tampak mengerikan, namun ia sudah pernah melihat yang lebih mengerikan daripada pemandangan yang tersaji di depannya, jadi buat apa ia ketakutan?

Namun ia tak menyangkal, ada yang aneh dengan pohon-pohon di sini. Ia tak tahu, tapi instingnya menyatakan bahwa memang ada yang tidak beres. Lagipula, seharusnya tepian hutan sudah dicapainya daritadi. Tapi kenapa deretan pohon-pohon ini seperti tampak tak berujung?

“Kau mau melakukan salah satu dari trikmu yang bodoh itu lagi, eh, gadis kecil?” tanyanya, nada mencemooh dapat terdengar dalam suaranya. Ia tahu gadis sialan itu masih bersembunyi di sini, menunggu saat yang tepat untuk menyerangnya. Seharusnya Lilaca sudah tahu bahwa gadis itu memang benar-benar tidak memiliki akal sehat yang layak sebagai seorang manusia.

Kresek, kresek.. sebuah suara dapat ditangkap oleh pendengaran Lilaca yang sensitif. “Di sana ya.. Shadow Void!” Ia mengarahkan tongkat sihirnya ke arah dimana suara tersebut terdengar, namun di sana tidak ada apa-apa selain reruntuhan pohon yang baru saja dirubuhkannya. Tanpa persiapan, mendadak ia mendengar sebuah teriakan dari belakangnya—

Banishing Blow!” Terlambat. Lilaca terkena dengan telak, kalo ini punggungnya terkena tebasan Axe tajam dari Phrite. Tubuhnya maju beberapa meter ke depan, efek dari kekuatan Phrite yang dikumpulkan dalam satu serangan Banishing Blow.

“Akh!! Kau—“ Lilaca langsung berbalik, namun suasana kembali hening. Sial, dia menghilang ke dalam pepohonan lagi, batinnya. Phrite.. anak itu lumayan juga. Ia menjilat bibirnya, dan kemudian tersenyum keji. Dia menemukan cara untuk mengalahkan anak itu. Ia kemudian merapalkan mantra tidak untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri.

Setelah itu, ia menunggu. Dan menunggu.

Kresek, kresek.. suara tersebut terdengar lagi. Lilaca tersenyum, dan kemudian berseru kembali, “Shadow Void!” Namun tetap saja tidak ada apa-apa di situ, selain tumpukan kayu-kayu yang rubuh karena mantranya. Dan ini dia yang ditunggunya, teriakan dari belakangnya—

Banishing Blow!

Kembali Lilaca menerima serangan tersebut dengan telak. Meskipun tubuhnya lagi-lagi terdorong ke depan, namun rencananya berhasil. Perlahan ia berbalik ke belakang, dan ia tidak terkejut saat mendapati tubuh Phrite yang tak bergerak di depannya. “Ha! Tidak bisa bergerak, ya? Terkena Medusa Skin-ku memang menyenangkan, ‘kan?” sahutnya riang namun mengerikan. “Bersiaplah untuk menghadapi ajalmu, Phrite..”

***


Sebelumnya, ia sedang menikmati sebuah tidur siang yang tenang, damai, dan indah. Namun semuanya hancur saat telinganya diganggu oleh suara ‘Piip, piip, piip’ yang menjengkelkan. Ia berusaha menjangkau benda yang menjengkelkan itu untuk dilemparnya, namun ia malah membuat dirinya sendiri terjatuh dari dahan pohon yang digunakannya sebagai tempat tidur. Sial dan sial lagi, batinnya saat beberapa orang mulai memandanginya dengan aneh karena mendadak terjatuh dari pohon tanpa alasan. Saking jengkelnya, ia bahkan balik memelototi beberapa orang tersebut, membuat mereka buru-buru kembali pada aktifitas masing-masing.

Ciel.. Sebuah suara muncul di kepalanya, membuatnya bertambah jengkel.

Hng?! Tanpa sadar ia membalas dengan ketus, membuat orang yang memanggilnya tadi terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan,

Aku hanya memberitahumu.. sinyal SOS itu terdapat di Acronia Eastern Plains.. dan orang yang paling dekat dengan tempat itu adalah... kamu, Ciel. Suaranya makin lama makin kecil, sepertinya terdengar waswas.

Ciel menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Tak ada gunanya mengamuk pada seorang Machinery tak berdosa seperti orang yang berbicara kepadanya barusan. Baiklah, Mainer. Aku akan ke sana..

Bahkan dirinya dapat mendengar suara helaan napas lega Mainer, meskipun hanya sayup-sayup. Ia menggeleng, kemudian segera memasang Catty Booster pemberian Remia di punggungnya dan tanpa basa-basi lagi melesat dengan kecepatan tinggi menuju Eastern Plains.

***


[Phrite’s POV]

“Hhh, hhh, hhh..”

Sebuah suara-suara mulai menyergapku, seperti iblis tak berbentuk, membuatku bertambah pusing. Apa itu suara tawa? Ah, semua itu tidak penting lagi. Karena kini, semuanya telah berakhir..

“Ah, tulangmu ada yang patah lagi,” ujar seseorang dengan nada khawatir. “Kalau semuanya patah terus, nanti tidak ada kesenangannya dong?” Kemudian ia kembali tertawa terbahak-bahak. Aku bahkan tak bisa merasakan tubuhku lagi. Ternyata, seperti ini ya kematian itu..

Sebuah suara kembali terdengar, kali ini laki-laki. “Kamu sungguh kejam, Lila.” Dapat kudengar senyum di dalam nadanya yang tenang.

“Dia yang memulai,” nada suaranya berubah dingin seperti menusuk tulang. “Aku hanya membalasnya sesuai dengan yang harus diterimanya sebagai ganjaran atas perbuatannya kepadaku.”

Sesuai dengan yang harus kuterima? Dia sungguh mengerikan.. Aku berusaha mendesah, namun gagal dan malah membuat tenggorokanku tercekat. Aku bahkan bisa merasakan cairan panas yang memenuhi seluruh mulutku sebelum aku memuntahkannya sambil terbatuk-batuk; lebih tepatnya, batuk darah. Hanya karena rencanaku tidak berjalan secara lancar dan mulus, semua harus berakhir seperti ini..

[flashback]

A-apa ini? Tubuhku mendadak tak bisa bergerak! Dan apa pula itu Medusa Skin? Rupanya tante ini memiliki segudang mantra yang mengerikan.. Tapi mantra tante itu seharusnya tidak kupikirkan. Yang harus kupikirkan adalah: bagaimana caranya aku meloloskan dari dari perangkap si tante ini?!

“Ketakutan?” tanya orang itu, masih dengan seringainya yang mengerikan sekaligus menjengkelkan. Tidak tuh, aku tidak takut. Dia mengajarkanku untuk tidak takut terhadap apapun, apalagi terhadap penyihir wanita sepertimu, Lilaca! Ia berdecak senang, kemudian menambahkan, “Kau ingin menuliskan kata-kata apa di batu nisanmu nanti, Phrite?”

Ehmm. Menurutku, itu sedikit.. lebay.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada dengki. “Dan kau juga harus membayar karena telah membuat equipku menjadi rusak seperti ini!!”

Ah, sayang sekali aku sedang dalam keadaan tidak bisa bergerak. Kalau bisa, tentu aku sudah akan menertawainya habis-habisan. Bagaimana tidak? Dandanannya yang tadinya sungguh memikat hati itu kini hancur: kacamatanya miring, sehelai-dua helai daun menyembul dari rambutnya yang berwarna keunguan, dan beberapa serpihan ranting menghiasi bajunya yang juga berwarna ungu serasi itu dengan indah. Bahkan, di beberapa bagian baju, rok, dan kaus kakinya, ada yang tersobek!!

Aku hampir tidak dapat menahan tawaku. Yah, hampir. Aku kan tidak bisa bergerak, ingat?

Sementara penyihir itu memandangi diriku dengan pandangan benci yang menusuk tulang, telingaku dapat mendengar suara keresek keresek yang cukup keras dari arah seberang. Bukan suara keresek-keresek itu yang membuatku kalut, namun suara merintih pelan yang menyusul kemudianlah yang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Kak Zerou..!

“Tiga Whiplash, satu Whip Dance, dan satu Sonic Whip. Harus kuakui, ternyata kamu memang ‘badak’, ya,” ujar Alceus, yang mendekat ke arahnya sambil berjalan dengan tertatih. Harus kuakui bahwa aku lega sekaligus khawatir saat melihat mereka berdua. Lega, karena Alceus tampak terluka. Khawatir, karena Kak Zerou terluka lebih parah.

“Kau belum menyelesaikan bagianmu?! Cepat habisi!” bentak Lilaca marah. “Atau sebaiknya kubantu saja untuk mempercepat segalanya..?”

“Ya dan tidak,” sahut Alceus, tersenyum lemah. Aku bisa merasakan penolakan dalam suaranya, namun ternyata ia tidak bisa mengatakannya. Cih, dasar playboy, hanya ingin menyenangkan hati wanita.

“Kalau begitu, kuanggap sebagai ya,” ujar Lilaca, yang membuat mataku melebar. Saking marahnya kepada Lilaca, aku sampai tidak sadar bahwa efek status abnormalku hampir habis. “Lagipula aku bosan berada di sini..” Ia mulai merapalkan mantranya sambil mengayunkan tongkatnya ke arah Kak Zerou. Ooh, tidak bisa.. tidak bisa.. tidak BISA!!

“TIDAK BISA!!” Aku berteriak, serta-merta langsung meniadakan efek membatu yang kuderita tadi sambil berlari dengan kecepatan kilat ke arah Kak Zerou. Tidak, tidak, tidak, Kak Zerou tidak boleh mati.. aku makin dekat dengan Kak Zerou.. aku melingkupkan tanganku ke atas tubuhnya seakan hal itu bisa melindunginya dari serangan yang akan datang itu—

Shadow Void!

“Akh!!” Aku ikut terkena serangan keunguan itu dari Lilaca. Namun aku terkejut karena yang kuderita ternyata tidak banyak. Aku menoleh ke arah Kak Zerou, dan langsung merasa lega karena dia pun sepertinya juga tidak terluka begitu parah. Sebenarnya bagaimana sih sihir bekerja? Aku harus menanyakannya pada Kak Zerou saat kami telah melewati peristiwa ini hidup-hidup.

Kemudian aku menoleh ke arah Lilaca dengan pandangan benci yang amat sangat. “Kau.. kau curang!!” Tanpa berpikir panjang aku kemudian berlari ke arahnya dengan cepat, dan mulai mengangkat kapakku ke arahnya ketika ia juga mulai melakukan hal yang sama terhadap tongkatnya..

Ablation.

Seluruh tubuhku lagi-lagi mendadak bergerak dalam kecepatan slow-motion. Tidak hanya itu.. bahkan otakku mulai terasa error. “Susu kental manis campur pisang raja rasanya enak lho apalagi diminum sambil tidur-tiduran..?” Aku mengucapkan kata-kata yang muncul dari otakku itu tanpa sadar. Sial, aku kelihatan bego!! Sebenarnya ada apa ini??!!

“Confusion dan Slow.. lucu juga,” Lilaca bergumam sambil menahan tawa. Dalam hati aku bersyukur dia tidak tertawa karena suaranya tidak enak. Namun dia kemudian mengatakan sesuatu yang sangat keji. “Alceus.. ikat dia di pohon.”

Senyum Alceus yang mengembang tak dapat kutebak artinya. “Kau lagi-lagi ingin melakukan kebiasaanmu yang itu, ya.”

“Ya,” nada Lilaca berubah mengerikan. “Main-main dulu, sebelum cabut nyawanya.”

[/flashback]

Tubuhku sekarang sudah terluka parah. Uhh.. kalau kuhitung-hitung sih, banyak tulang patah, darahku hampir habis, dan beberapa ototku tercabik karena menerima ratusan pukulan dari tongkat Lilaca. Heh, tak apa selama aku tidak bisa merasakan itu semua. Malah rasanya tubuhku ringan sekali. Hmph..  satu-satunya yang kukhawatirkan adalah janjiku yang tak dapat kupenuhi terhadapnya. Menjadi petualang dan prajurit terkuat..

Setidaknya aku telah bertemu orang-orang yang baik. Kak Zerou, Yuki, Demon Prince (meskipun aku tak bisa memikirkan jenis kebaikan apa yang telah diberikan oleh orang yang tadi kusebut kepadaku), Elina, Farmer Master, Gadis Puitis penjaga Guild Palace, Kyuu (meskipun dia hanya menjadi penggembira saja, menurutku. Tak apa karena aku sayang pada dia). Kuharap mereka semua menjalani hidup yang bahagia..

Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menggenggam erat-erat sebuah gantungan kunci kecil berbandul bola putih keperakan yang pernah diberikan seseorang kepadaku. Kalau tak salah, namanya Sachiko.. Sachiho? Atau Sachimo ya?

... jangan-jangan Sachipto?

Argh, entahlah. Yang penting adalah apa yang dikatakan olehnya saat ia memberikan benda tersebut.

"Genggam saja dengan penuh perasaan, bantuan pasti akan datang, hehehe."

Benarkah? Semoga saja begitu.. kalau tidak, aku tidak yakin dengan apa yang dimaksudkannya sebagai 'penuh perasaan'...

Hm, ada suara-suara aneh seperti serentetan tembakan disertai dengan teriakan-teriakan tidak jelas seakan menggema di dalam otakku. Tapi aku tidak memedulikannya—aku bahkan tidak yakin suara tersebut benar-benar ada atau tidak.

“...uuu...”

Suara apa itu? Ah, seperti yang kubilang, suara seperti apapun sudah tak penting lagi bagiku. Aku toh juga akan segera meninggalkan dunia fana ini.

“... yuu... Kyuu...”

Lama-lama suara itu terdengar seperti Kyuu. Pasti otakku mulai error nih.

“Kyuu!! Kyuu!!”

Bayangan berwarna oranye memenuhi jangkauan pandangan mataku yang sudah semakin kabur. Ah, jadi setelah otakku error, sekarang aku mulai berhalusinasi, ‘ya? Sungguh pintar kau, Kematian. Bahkan suara-suara teriakan itu semakin jelas sekarang. Hah. Mungkin itu adalah Lilaca dan Alceus yang mendadak diserang. Semoga saja.

“KYUUU!!”

Dengan usaha paling keras yang pernah kulakukan dalam seumur hidupku, aku mengerjap dan kemudian berusaha memfokuskan mataku. Tak salah lagi.. tangan besar yang hangat ini benar-benar.. Kyuu?!

“K-Kyuu...” aku bergumam, tentu saja dengan susah payah karena tenagaku sudah habis. Lagipula luka-luka itu masih melingkupi sekujur tubuhku. “S-sudah kubilang j-jangan kemari—“

“Kyuu kyuu Kyuu!! Kyuu kyu, kyu kyuu!” Ia mulai mengomel tidak jelas dengan bahasanya yang tidak jelas pula. Namun aku mengerti, dia ternyata mengkhawatirkanku. Lucu juga ekspresi cemas yang terukir di wajah mungkilnya itu.

Tetapi bukan ucapan rasa terima kasih yang keluar dari mulutku, aku malah memarahinya sekali lagi dengan sisa-sisa kemampuan terakhirku. “J-jangan di sini, Kyuu... kau akan m-mati juga sepertiku, nanti..”

“Kata siapa?”

Aku akan melonjak kalau misalnya aku bisa terlonjak. Tapi sial, yang bisa kulakukan cuma melongo tidak jelas dan mengeluarkan suara “Hng?” lirih. Nada suara orang itu cukup dingin, tetapi aku masih belum bisa mengetahui bahwa ia kawan, atau lawan. Sesaat kemudian aku mengerti: ia adalah penyelamatku. Mungkin ia datang karena gantungan kunci kecil yang masih kugenggam ini? Untunglah..

Sayangnya aku hanya bisa melihat samar-samar sebuah wajah berambut keperakan mendominasi pemandanganku, yang ternyata masih kabur. Tangan-tangan yang lembut kemudian berusaha untuk mengangkatku dari tanah, dan menopangku dengan kekuatan yang luar biasa kuat. Lalu aku bisa merasakan semburan angin yang menerpa diriku. Kurasa aku sedang terbang saat ini.

Aku ingin mengucapkan banyak hal kepada orang itu. Sangat banyak. Namun yang terpikir sekarang hanya satu. “K-kak Zerou..?”

“Sudah poses ke dalam Necklace-ku. Dia.. akan selamat.”

Begitu mendengar perkataannya yang singkat namun menenangkan itu, sebuah beban berat seakan terlepas dari tubuhku. Untunglah.. untunglah..

Namun aku tidak mau menyerah kalah dari rasa sakitku. Aku harus menanyakan pertanyaan terakhir untuk mengetahui apakah ia benar-benar kawan, atau malah serigala berbulu domba...

“K-kita kemana..?”

Dengan segera ia menjawab, “Ke tempat aman.”

Seulas senyum tersungging di bibirku yang masih berdarah-darah. Beberapa saat kemudian, aku tidak ingat apa-apa lagi.



Mengapa Phrite dan Zerou diserang, apa alasan sebenarnya? Bagaimana caranya Kyuu dan Ciel menemukan Phrite? Petualangan macam apa yang akan menanti Phrite?!

Jangan lewatkan update Mignonette yang lagi-lagi akan dilakukan dengan diam-diam!! A__A

NB: Untuk cc Sacchan, kalau dirasa terlalu menyinggung, bisa langsung kirim PM m(_ _)m
« Last Edit: May 16, 2013, 12:30:05 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 9: That Blue Haired Woman
« Reply #9 on: February 16, 2010, 09:06:13 PM »
Chapter Nine
~That Blue Haired Woman~



TS' Notes"
Yeaaaay update update~
akhirnya setelah sekian lama T__T
sebentar lagi akan kupost special chapter yang pertama, so stay tuned oke?
seperti biasa, ga usah komen.... hahahahaha
biar bisa update diem2 kwkwkwkw
dah ga usah banyak bicara, enjoy~ C&C is also welcomed~




Awan tampak seperti terlukis di kanvas biru langit yang membentang luas. Hembusan angin semilir menyentuh kulitnya dengan lembut...

Mendadak segalanya berubah. Ia berada di sebuah tempat yang nyaman, hangat, terasa sangat damai. Namun sosok-sosok yang tak dikenalinya merubunginya, membuatnya gelisah. Seseorang membentak, membuat sosok-sosok tersebut menghilang dari pandangannya. Orang tersebut kemudian mendekat dan memainkan pipinya. Ia tertawa...

Mendadak segalanya berubah lagi. Kali ini atmosfer yang dirasakannya sangat berbeda. Suasana sedih dan duka yang tersebar di udara menyesakkan dirinya. Angin yang terasa sangat tidak bersahabat berusaha menelusup melalui celah-celah kain yang menutupi kulitnya, membuatnya menggigil.
 
“... mi.. lik.. ku...”

Suara rendah mengerikan seperti menyergapnya, membuatnya ketakutan setengah mati. Sebelumnya, ia tak pernah merasa setakut ini. Tak pernah.

Namun entah mengapa ia tahu bahwa ia aman. Mungkin karena tangan-tangan hangat yang mendekapnya dengan kuat ini? Ia mencoba menyambar kesempatan untuk meneliti wajah orang yang memeluknya itu, namun sia-sia. Hanya dari rambut birunya yang panjang itu saja ia dapat mengenali orang tersebut sebagai wanita. Mendadak, kain yang menutupi wajahnya tersingkap, membuatnya dapat mengintip sedikit dari balik kain tersebut.

Ia sudah hampir melupakan detil-detilnya, namun ia dapat mengingat bahwa wanita tersebut sangat cantik. Dan ia juga tidak lupa bahwa wajah tersebut dipenuhi dengan berbagai perasaan: kesedihan, ketegaran, dan satu perasaan lagi yang sulit ditafsirkan. Apakah itu kemarahan? Sepertinya bukan. Ketakutan? Wanita ini tampak begitu berani, tidak mungkin dia merasa takut.

Apakah ia sedang merasakan... rasa sakit...?

“Ka.. u..”

Rasa sakit... tapi karena apa?

“.. rus... dup...”

Dan... apa yang dicoba untuk dikatakan wanita itu? Sekeras apapun ia berusaha mengingat, ia tak dapat menemukan serpihan ingatan yang utuh tentang wanita tersebut.

“Ka—u... rus..”

Rangkaian kata-kata yang tak dapat dipahaminya meluncur keluar dari bibir orang tersebut. Namun sebelum ia bisa mengetahui arti kata-kata tersebut, sesuatu terjadi. Bumi seakan berguncang dengan hebat, dan mendadak suatu lubang besar terbentuk dari ketiadaan. Matanya melebar ketakutan ketika wanita itu mengangkatnya tinggi-tinggi, dan melemparkannya ke dalam lubang hitam tersebut dengan sangat kuat. Tidak, ia ingin tetap di sini, ia ingin menemani wanita yang sedih itu!!

Namun, selagi ia seakan dihisap ke dalam kegelapan lubang tersebut, telinganya dapat menangkap kata-kata wanita itu, walaupun masih tidak terlalu jelas...

“Kamu... ha... rus... hidup!!”

***


Kamu harus hidup...

Gelap. Ia sedang berada di sebuah tempat yang gelap, sangat gelap.

Kamu harus hidup...

Tubuhnya mati rasa. Hanya ada kegelapan yang begitu mencekam di sekelilingnya, tak berawal, tak berujung.

Kamu harus hidup...

Mendadak muncul cahaya, cahaya terang yang tampak begitu jauh. Ia berusaha menggapainya, namun tubuhnya masih terasa kaku.

Kamu harus hidup...

Ia melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih, dan segera saja beberapa saat kemudian ia mampu berjalan dengan cepat. Cahaya di depannya makin lama makin menghilang...

Berlari. Kakinya berayun dengan cepat menuju ke arah cahaya itu, seakan takut kehilangan cahaya tersebut. Mendadak di belakangnya, tanah bergetar. Terbelah menjadi dua, membuat jurang menganga. Dan sekarang jurang tersebut melebar, melebar, seakan mengejarnya.

Cahaya itu makin menghilang...

... Jangan... mati...!!

Sebuah tangan terulur dari cahaya yang makin redup itu. Sekarang ia berlari dengan kecepatan kilat, mengulurkan tangannya, menggapai ajakan tangan tersebut—

***


Suara-suara, bisik-bisik, dan nada-nada yang tak ia mengerti membuatnya lebih pusing daripada biasanya. Pendar warna-warni tampak menari-nari di balik kegelapan mata Phrite. Ia berpikir, apakah ini surga? Atau malah neraka, ya?

“... kritis...”

“—harus hidup—”

“... yuuu...”

“... sudah berusaha semampuku...”

Tangannya terasa hangat, berbeda dengan punggungnya yang terasa dingin. Phrite merasa ia tahu siapa yang membuat tangannya hangat seperti itu. Mungkin, ia masih belum meninggal. Tapi bagaimana cara membuktikannya?

Kelopak matanya terasa sangat berat, namun ia terus mencoba. Ah, berat sekali. Tanpa sadar ia mengeluh saat berusaha membuka matanya. Begitu mendengar suaranya, kamar itu—ia merasa bahwa ia sedang berada di sebuah kamar—langsung terasa sangat sunyi seperti kuburan. Apakah suara-suara itu berhenti karena dirinya bersuara?

“Dia sadar,” kata seseorang. Tangannya makin kuat digenggam, dan bisikan-bisikan di telinganya kembali terdengar. “Kamu harus hidup...”

Ah. Phrite langsung mengerti. Untaian kata-kata yang sama teriring masuk ke dalam telinganya, ke dalam otaknya, ke dalam alam bawah sadarnya. Karena kata-kata itulah, ia bisa tersadar dari koma...

Karena kata-kata itulah, ia bisa menghindari cengkeraman Kematian.

Ia benar-benar harus bangun. Ia tahu ia bisa melakukan hal tersebut. Segera saja, setelah berusaha keras membuka matanya—

“Phrite! Kau bangun!”

“Mana, mana?!”

“Kyuu, kyuu!”

“Akhirnya..”

“Banzai! Ai lap yu Eryn!”

—teriakan-teriakan langsung menghujaninya begitu ia berhasil membuka mata. Aduh... pusing, pusing, pusing....

“Kalian ini ribut sekali! Tuh lihat, dia tidur lagi,” bentak seseorang jengkel begitu Phrite memejamkan mata kembali untuk menekan sakit kepalanya. Teriakan-teriakan langsung berubah menjadi gumaman, rupanya mereka semua merasa bersalah membuat Phrite menjadi tambah pusing seperti ini. Entah kenapa, pemikiran ini membuat Phrite tersenyum lemah.

“Aku...” Ia berusaha mengenali wajah orang terdekat. Ternyata memang benar. Yang memegang tangannya sejak tadi adalah Zerou. Di sampingnya, terlihat seraut muka mungil bertelinga kucing warna oranye. “Kak Zerou... Kyuu... aku...”

“Kamu aman, Phrite,” Zerou mengangguk. Kyuu ikut-ikut mengangguk. “Kita berada di bawah tanah.”

Meskipun kepalanya diperban, Phrite tetap mengangkat alis. “Eh? Maksudnya?”

“Dia masih lemah, Zerou-san,” kata seseorang lembut, namun nadanya sedikit mencela. “Biarkan dia istirahat.”

“Oh, tidak bisa,” ujar seseorang ceria. Suara ini... “Kita harus merayakannya, dong. Temanku baru saja sembuh!”

“Kyuu, kyuuu!” Kyuu berseru setuju.

“Haha.. aku sudah tidak terlalu lemah kok,” Phrite menggeleng, namun kemudian langsung meringis. Gerakan kecil itu membuatnya merasa kesakitan. “Dan terima kasih, Yuki. Aku memang merasa lapar,” tambahnya, baru menyadari bahwa perutnya sama sekali kosong.

“Tentu saja kau lapar!” ucap Yuki, khawatir. “Kau sudah tidur selama seminggu! Dan itu berarti tidak makan selama...”

“... seminggu,” ucap Zerou, menyelesaikan kalimat Yuki. Wajahnya juga tampak khawatir. “Kurasa kita memang harus bergembira sedikit. Seminggu ini kita tegang terus.”

“M-maaf,” gumam Phrite, menunduk sedikit. “Aku tak tahu kalau aku begitu menyusahkan kalian.”

“Tidak apa-apa...” ujar orang lain yang ikut berada di ruangan tersebut. Phrite tidak mengenalinya, namun wajahnya tampak baik hati. “Aku... senang membantu orang. Oh, maaf... aku belum memperkenalkan diri. Namaku Eryn,” Dia tersenyum, kemudian berjalan menuju ke pintu keluar dan membuka pintu sebelum berkata, “Maafkan aku.. tapi aku harus pergi. Jangan khawatir. Aku akan meminta Xylbia untuk memasakkan makanan. Xylbia adalah koki terbaik, lho. Sementara itu, kalian bernostalgia dulu saja...”

Meskipun ragu, Phrite tetap mengangguk. Ia ingin bertanya banyak sekali tentang tempat ini, tentang orang yang barusan pergi itu, ataupun hanya berpikir tentang mimpi yang berkali-kali ia alami itu, namun ia tak bisa menekan keinginannya sendiri untuk ikut melebur dalam obrolan dan celotehan dan tawa yang langsung menyusul dari mereka berempat begitu pintu menutup.

Di balik pintu, Eryn tersenyum, kemudian langsung berjalan sembari berbicara kepada orang yang dihormatinya itu. ‘Remia, Phrite hidup..

***


Ia mengepalkan tangannya dengan geram. Tikus-tikus kecil itu berhasil lolos dari genggaman tangannya... padahal, tinggal sedikit lagi ia bisa menangkapnya. Dan jika ia menangkapnya, maka ia akan bisa menuntaskan sumpah yang pernah diambilnya dahulu kala, saat-saat dimana segala halnya bermula. Jika ia menangkapnya, maka ia dapat menyelesaikan karma yang setiap hari menghantuinya dalam kehidupan fana ini.

Sial sial dan sial. Namun, kata-kata saja tidak dapat menggambarkan kekecewaan dan kemarahannya. Ia sangat murka terhadap orang-orang menyedihkan yang gagal melaksanakan tugas darinya itu. Tapi, mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dari bonekanya. Sambil meregangkan jarinya, ia kemudian memutar kembali ingatan tentang kejadian saat keduanya disiksa oleh bonekanya. Darahnya bergetar dalam nadinya, euforia yang menanjak saat mendengar teriakan mereka membuatnya kembali tersenyum jahat. Memikirkan tentang hal tersebut ternyata merupakan suatu kesenangan tersendiri baginya.

Pikirannya kembali jernih dari berbagai emosi sesaat. Ia harus memikirkan rencana itu... dan segera. Membutuhkan banyak ‘pion’, namun masih ada kemungkinan berhasil. Banyak ‘pion’.. dan sebuah kesialan lain segera mengingatkannya tentang betapa sedikitnya ‘pion’ yang bisa ia kendalikan. Apalagi, dengan adanya salah satu anggotanya yang mendadak menghilang di tengah perjalanannya mendapatkan seekor peliharaan. Kucing, kalau tidak salah? Bah, dia sudah mulai merasa pikun. Ia harus segera mencari anggota baru. Yang banyak, tentu saja.

Otaknya segera melakukan apa yang ia kehendaki; menyusun ulang rencana tersebut sehingga ia dapat melakukannya sekarang, saat ini. Dan untuk melakukannya sekarang, ia memerlukan dua orang itu, yang lebih terpercaya, lebih bisa diandalkan..

Astralline dan Ragestor.. bersiaplah untuk melakukan tugasmu..

Tak lama kemudian, sebuah jawaban menyambutnya. Jawaban yang sungguh membuat dirinya merasa puas..

Kami mendengar dan kami patuh.

***


“Kamu sudah bisa jalan kan, Phrite?” tanya Yuki bersemangat.

Phrite mengangguk. Mereka sedang berpakaian lengkap, tampaknya siap bepergian. “Tentu saja. Nih, lihat!” katanya sambil berjalan dengan pelan di dalam kamar yang disebut Zerou sebagai ‘kamar rawat inap pribadi’ milik Phrite. Memang sih, selama seminggu penuh ia tidak diijinkan keluar, bahkan ia sama sekali tidak diijinkan turun dari tempat tidurnya. Apalagi, karena perlakuan baik Eryn, ia seperti merasa bahwa kamar tersebut memang dikhususkan baginya.

“Kalau jalan cepat?”

Ia menggeleng. “Lebih baik... jangan deh. Terlalu beresiko.”

Yuki cepat-cepat meminta maaf. “Aduh... maaf deh Phrite. Kalau kamu benar-benar tidak kuat, tidak usah memaksakan diri...”

“Aku sehat dan aku kuat,” ujarnya keras kepala. “Lagipula aku tidak ingin hanya terus dikurung di dalam kamar. Aku juga ingin jalan-jalan. Dan, oh, aku ingin berkenalan dengan seluruh orang di sini. Kata Remia, di sini banyak orang.” Matanya memancarkan cahaya gembira. “Tapi, pelan-pelan saja ya. Jangan bilang sama Eryn kalau aku masih sedikit sakit.”

“Pasti dong,” Yuki mengangguk, namun masih tersisa sedikit kekhawatiran di wajahnya. Hari ini, seminggu sejak Phrite siuman, Phrite ingin berjalan-jalan di sekitar markas ini. Kata Eryn sih, tak banyak yang bisa dilihat di sini, namun seperti yang diungkit oleh Phrite, ia tidak tahan kalau disuruh berbaring di kasur selama berhari-hari. Dengan permohonan berlebihan dan sedikit paksaan, akhirnya mereka diijinkan untuk melihat-lihat.

Tempat ini sungguh luas. Dan hampir seperti labirin. Kiri kanan depan belakang, semuanya memiliki dinding dan lantai yang bercorak hampir sama, mustahil untuk menentukan arah mata angin dengan benar hanya dengan melihat dan mengira-ngira. Namun jika sudah terbiasa dengan lokasi masing-masing tempat, ternyata markas ini tidak serumit yang dikira. Karena Phrite melewatkan seminggu pertama di sini dengan hanya berbaring di kasur, hanya Zerou dan Yuki yang telah mengerti berbagai tempat di markas ini. Itu juga salah satu alasan lain mengapa Phrite ingin berjalan-jalan di sekitar markas ini: biar tidak tersesat.

“Bagaimana kabar Eryn?” tanya Phrite selagi mereka menyusuri jalan menuju ke arah North, dipandu oleh Yuki. “Kamarnya bagus, nggak?” tambahnya iseng.

“Dia sehat kok, pasti. Dia kan seorang Druid,” Yuki tersenyum geli. “Kamarnya ternyata besar juga. Baik sekali dia memperbolehkanku menginap di kamarnya. Dan tahu nggak? Setiap orang di sini punya kamar masing-masing satu! Aku juga mau kalau kamarnya sebesar itu!”

Phrite bertanya kembali, kali ini dengan rasa ingin tahu yang besar, “Sebesar apa memangnya kamarnya?”

“Sebesar kamar rawat inap pribadimu itu,” Ia menerawang. “Hmm.. ya, kira-kira segitu lah.”

Terkejut, Phrite langsung ternganga sambil berseru, “Whot? Besar sekali! Kukira kamarku itu besar hanya karena tempat itu adalah Health Center-nya ring ini..”

“Ternyata tidak, Phrite. Bayangkan kalau kamu punya kamar sebesar itu...” Wajahnya tampak terlena dengan seluruh kemungkinan tentang banyaknya furnitur dan pet-pet yang bisa dia masukkan ke dalam ruangan tersebut.

“Iya, iya..” Phrite setuju sambil ikut membayangkannya juga. “Kamarku dulu tidak sebesar itu..”

“Kamarku juga.” Yuki mengangguk, namun kemudian menyadari sesuatu yang aneh. “Eh? Kamu punya kamar?”

“Tentu saja punya, dong!” ujar Phrite tak percaya.

“Hahaha... nggak usah sensitif begitu dong. Memangnya kamu berasal darimana, Phrite? Aku dari Enigma,” ucapnya bangga.

Phrite mengangkat alis. “Kenapa kamu tidak pakai topeng-topeng aneh itu?”

Dikatai seperti itu, Yuki tampak tersinggung. “Pertama, itu bukan topeng aneh, itu adalah topeng kebanggaan masyarakat Enigma,” ia mengklarifikasi. “Kedua, aku belum boleh memakainya  karena belum tiba waktuku untuk memakainya,” jawabnya sambil berlagak menjelaskan. “Biasanya, setelah menginjak usia remaja, anak-anak dari pulau Enigma akan disuruh pergi dari tempat tinggal mereka untuk belajar atau berpetualang di tempat lain. Setelah mereka berusia dewasa, mereka boleh kembali lagi ke Enigma, atau tinggal di kota lain.”

“Ooh... begitu...” Phrite manggut-manggut. “Kalau aku, aku dari Downtown.”

“Wah, Downtown!” ujar Yuki bersemangat. “Jadi, waktu kita kembali ke Downtown itu, kamu sedang bergembira dengan orang tuamu, ya?”

“Eeh... tidak bisa dikatakan begitu, sih,” kata Phrite, bingung. “Aku sebenarnya malah tidak boleh ke Downtown..”

“Lho, kenapa?” Sekarang, ganti Yuki yang menjadi bingung. “Bukannya orang tuamu senang kamu datang?”

“Mm...” Phrite berusaha menyusun kalimatnya dengan baik. “Mungkin... seperti Enigma, Downtown juga memiliki tradisi tersendiri bagi anak-anak mereka...” Gadis itu menerawang jauh. “Setelah anak-anak dari Downtown menginjak usia remaja... mereka juga disuruh belajar atau berpetualang di benua ini. Hanya saja... mereka tidak diperbolehkan kembali ke Downtown...” Pandangan matanya tampak sedih. “Mereka baru boleh ke Downtown setelah mereka memenuhi keinginan orang tua mereka. Biasanya, keinginan ini berbeda-beda dari orang tua satu dengan orang tua lain.”

Yuki akhirnya mengerti betapa kerasnya kehidupan anak-anak dari Downtown. “Begitukah..? Berarti kamu lebih susah daripada aku dong,” Yuki bersimpati.

“Tidak juga. Aku senang karena orang tuaku cuma ingin aku menjadi petualang terkuat... tidak disuruh jadi ahli Monstrologi atau semacamnya. Aku benci menghafal,” Phrite cemberut, teringat akan kehidupan sekolahnya yang mengerikan.

“Ahahaha... benar! Karena itu kita harus menikmati kebebasan kita sebebas-bebasnya~” Yuki tertawa. “Sepertinya orang tuamu adalah orang yang menyenangkan, ya.” Yuki tiba-tiba teringat pada orang tuanya sendiri.

“Hmm.. iya,” Phrite mengangguk. “Tapi agak misterius. Semua orang mengenalnya, tapi tidak ada satupun yang mengetahui nama aslinya. Bahkan aku juga tidak. Kalau tidak salah, panggilannya itu Mr. Specialist...”

Yuki hampir terlonjak kaget. “Hah??! M-masa sih??!”

“Iya,” Phrite berkata, wajahnya bingung melihat tingkah Yuki. “Kau tak apa-apa, Yuki?”

“Eeh... umm...” Yuki berbicara salah tingkah. “Ehh... nggak kok, nggak apa-apa. Ermm... eh, itu ruangan Mainer. Ayo kita masuk!” sahutnya cepat-cepat. Di depan sana, tampak sebuah ruangan berpintu besi yang tampak kokoh. Yuki menghampirinya, diikuti Phrite dari belakang. Gadis Emilian itu sama sekali tidak mengetahui kekagetan dan kebingungan Yuki yang ditutup-tutupi oleh dirinya sendiri. Mr. Specialist, memiliki anak..?



Kenapa Phrite bermimpi seperti itu? Tempat apa itu sebenarnya? Siapakah Eryn? Bagaimana bisa Mr. Specialist memiliki anak yaitu Phrite?

Wait for the next chapter, Lads and Gents!! *sok Engrrish deh ah*
« Last Edit: May 16, 2013, 12:30:30 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································