Author Topic: [ECO Fanfic] Mignonette  (Read 34447 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Speechul Chapterz: Greetings From the Underground
« Reply #10 on: February 23, 2010, 03:37:02 PM »
Speechul Chapterz
~Greetings From the Underground~



TS' Notes:
Aaah. Ada yang masih ingat Mignonette? Lol.

Jujur, virus kk Al sudah menyerangku juga. Rasanya ga ada lagi semangat untuk meneruskan. Tapi sayang kalau ditinggal... apalagi Athus dan Salju minta lanjutannya fanfic ini... uhhh. Oke deh, update sedikit. Meski cuma masih separuhnya doang, tapi inilah special chapter khusus untuk kalian semua, fufufufu *cium jauh* *dikeplak massa*




Spoiler for Map:

Spoiler for Room #1! (Mainer):
Mereka tiba di depan pintu besi itu. Yuki, setelah mengangguk sejenak kepada Phrite, mengetuk pintu tersebut dua kali.

Di luar dugaan, mereka disambut dengan teriakan jengkel, “Ini masih siang, Gumi! Kalau kamu minta catku lagi,”—pintunya mendadak terbuka dengan kekuatan yang tak biasa—“euh.” Sesosok laki-laki Emilian yang berpakaian seperti pekerja bengkel berwarna merah terang terlihat melongo memandangi kedua gadis di depannya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia tampak terkejut menerima Yuki dan Phrite sebagai tamunya.

Yuki berkata  dan berkata cepat-cepat, “Maaf kalau aku mengganggumu, Mainer. Aku hanya ingin... kau tahu. Berkunjung.”

“A-aku yang seharusnya minta maaf,” ia menggeleng dengan sama cepatnya seperti ritme kata-kata Yuki. “Aku hanya emosi sedikit kok.. Masuklah, Yuki, dan... Phrite,” ia memandangi Phrite dengan ingin tahu sebelum mempersilakan mereka masuk sambil berkata dengan malu-malu, “Maaf kalau berantakan..”

Kontras dengan perkataannya, mereka berdua mendapati bahwa ruang kerjanya merupakan ruang yang sangat rapi untuk ukuran orang seperti dirinya, walaupun sedikit penuh sesak oleh tumpukan mesin yang mendominasi pemandangan. Seluruh lantai dan dindingnya dilapisi cat hitam, dengan banyak penerangan yang menghiasi atapnya. Lemari-lemari kayu besar berjejer rapi di sudut dinding, tumpukan-tumpukan kertas bertengger di meja besar di tengah ruangan, dan sebuah pintu kecil di salah satu sudut ruangan tampak berusaha eksis di tengah kepungan mesin-mesin di sekelilingnya.

“Wow, ruangan yang keren,” komentar Yuki sebelum ia bisa mencegah dirinya. Ia memang sudah mengenal Mainer—orang yang memiliki ruangan ini—namun ia sama sekali belum pernah mengunjungi tempatnya. Mendadak ia ingat, ia sama sekali belum mengenalkan Mainer kepada Phrite. “Mainer, kenalkan ini temanku, Phrite. Phrite, ayo kenalan dengan Mainer.”

Phrite tersenyum dan menjabat tangannya. “Namaku.. ah, sudah disebutkan Yuki tadi. Maaf kalau kami mengganggumu lho. Tapi ruanganmu hebat sekali,” pujinya kepada Mainer, yang langsung tersenyum malu mendengar perkataannya.

“Benarkah? Yah, aku mecintai tempat ini. Aku tidak ingin tempatku kelihatan jelek, jadi aku setiap hari berbenah sedikit,” ia merendah.

“Ooh, Kak Mainer keren sekali. Kurasa Kak Zerou juga akan mencintai tempat ini,” ujar Phrite, setengah tertawa.

“Siapa yang memanggilku?” tanya seseorang dari balik sebuah electell yang tampaknya sedang dalam tahap perangkaian. Mengejutkan sekali (atau mungkin tidak mengejutkan?), ternyata dia adalah Zerou.

“Hai Zerou!” Yuki langsung melambai padanya. Phrite ikut melambai sambil tersenyum. Sekarang ia tahu kenapa selama seminggu ini Zerou sering menghilang. Ternyata kabur ke ruangan ini. Pantas saja...

“Hai Yuki. Dan hai.. Phrite? Bukannya kamu masih harus istirahat?” tanya Zerou, setengah bingung dan setengah mencela.

“Aku sudah baikan,” Phrite tersenyum, namun ekspresinya langsung diganti dengan keingintahuan. “Omong-omong, ngapain kak Zerou ke sini?” Tapi sedetik kemudian, entah kenapa ia bisa menebak jawabannya.

“Aku sedang mengagumi karya besar Mainer,” ujarnya bersungguh-sungguh. Kemudian, ia berpaling lagi pada electell yang baru saja ia teliti dan langsung berkata pada Mainer tanpa mengalihkan pandangannya, “Mainer, aku harus bilang sekali lagi padamu, idemu sangatlah hebat! Memodifikasi electell sehingga memiliki kekuatan sepuluh kali lipat... keren!”

“Itu masih prototipe,” ujarnya merendah, namun senyum yang muncul di wajahnya tak dapat ia sembunyikan.

“Kapan-kapan, buatkan electell yang bisa menghilang ya! Seperti skill dari Eye of Tiger...”

“Hahaha, oke deh!”

“Tapi... Bagaimana caramu melakukannya? Aku pernah bertanya kepada Junk Shopkeeper, tapi hasilnya nihil. Dia memang bisa memodifikasi electell, tapi hanya sedikit-sedikit...”

Mainer mendekati Zerou dan berkata dengan antusiasme yang sama, “Begini, kau harus berpikir seperti sebuah robot...”

“Kita tinggalkan saja mereka, Phrite. Lagipula mereka tidak akan sadar,” bisik Yuki ke telinga Phrite, yang langsung direspon dengan anggukan cepat dari Phrite. Mendengarkan antusiasme para fetish robot mungkin sama membosankannya dengan mendengarkan pidato pemimpin faksi.

“Ayo lanjut, Phrite. Masih ada lebih dari sepuluh ruangan yang harus kita masuki!” seru Yuki ceria. Phrite bingung, kenapa kok jadi Yuki sih yang bersemangat? Tapi, tanpa sadar ia juga ikut menjadi semangat. Hari ini akan menjadi hari yang pasti menyenangkan baginya..

Spoiler for Room #2! (Xylbia):
“Setelah dari utara, kita akan menuju bagian paling timur,” jelas Yuki, sambil masih memandu jalan bagi Phrite. “Ruangan milik Xylbia!”

“Xylbia... si koki itu?” tanya Phrite, teringat akan masakan-masakannya yang luar biasa enak.

Yuki mengangguk antusias. “Kebetulan aku lapar. Mungkin aku bisa mencomot beberapa kue atau coklat....”

“Ternyata kamu suka makanan manis ya, Yuki.”

“Oh, makanan manis membuatku lebih bersemangat,” ujar Yuki. “Bahkan hanya dengan memikirkannya saja, aku sudah bersemangat.”

Phrite ikut tersenyum bersamanya. Sekarang, ia tak lagi pusing kalau-kalau ia ingin memberi Yuki sesuatu yang disukainya.

“Oh yeah, Haru juga belum makan,” Yuki tiba-tiba teringat. “Ughh... aku tidak memberinya makan selama seminggu...”

“K-kau tidak memberinya Pet Food selama seminggu??” tanya Phrite ngeri.

“Bukan maksudku untuk menelantarkannya,” ujar Dominion itu, defensif. “Hanya saja, Xylbia sangat menyukai dia, sehingga seminggu yang lalu dia berkata ingin memelihara Haru untuk sehari saja! Dan sampai sekarang belum dikembalikan!” Entah kenapa dia mulai bersungut-sungut sekarang.

“Oh—oke, maaf...” Phrite memasang wajah menyesal. “Aku tidak tahu soal itu.”

“Tidak apa-apa,” Yuki mengangguk dan menerima permintaan maafnya. “Aku sebenarnya juga berniat untuk mengambil Haru saat kita tiba di tempat Xylbia... oh, itu kamarnya,” tambahnya sembari menunjuk ke arah pintu kayu yang didekorasi dengan berbagai hiasan buah dan makanan. Phrite dapat merasakan keharuman masakan yang khas semakin menguat dan menguat saat mereka mendekati pintu tersebut.

“Permisi...” Yuki mengetuk-ngetuk pintu kayu itu dengan ketidaksabaran yang jelas. “Ada Xylbia di dalam?”

“Ya, ada... masuklah!” seru seseorang dengan suara yang teredam. Tanpa basa-basi lagi, Yuki langsung membuka pintu itu dan memandang berkeliling.

Kesan menyenangkan langsung dirasakan oleh Phrite. Dindingnya didekorasi dengan gambar langit biru cerah, dan lantainya dialasi oleh karpet kehijauan yang membuatnya merasa sedang berada di udara terbuka. Beberapa meja tampak tersusun rapi di kanan mereka sementara kursi-kursi empuk mengelilingi meja tersebut. Dari susunan meja dan kurisnya, sepertinya tempat itu adalah tempat makan. Di salah satu pojok dinding terdapat perapian batu bata yang menyala-nyala riang, menghangatkan siapapun yang duduk di sofa panjang berwarna kemerahan yang terdapat di depannya. Lusinan buku-buku tersusun rapi di dua buah rak buku besar, menghalangi pandangan orang dari tempat tidur berwarna biru tua yang mengintip melalui celah dari rak buku tersebut.

“Kamarnya bagus lho,” komentar Phrite. Meskipun begitu, Yuki tidak bersuara. Ia hanya memandangi orang yang baru saja muncul dari balik pintu berwarna perak di seberang kamar dengan pandangan jengkel.

“Xylbiaaaa!” Yuki berseru. “Mana Haru-ku??!”

“Eeh, Haru siapa ya—? Oh, ada Yuki dan Prit—Maksudku, Phrite,” kata seseorang yang baru muncul itu. Wajahnya yang tampak ceria itu dihiasi dengan kacamata bulat berwarna hitam. Sebuah bando berwarna hijau menghiasi rambut pendeknya yang juga berwarna sama. Ia mengenakan pakaian seorang chef dengan taburan berbagai noda-noda masakan.

“’Prit’?” tanya Phrite. “Kau memanggilku dengan nama ‘Prit’?” tambahnya dengan horor.

Xylbia melambaikan tangan cepat-cepat, menepis kengerian Phrite. “Tidak, tidak, aku hanya lupa namamu. Sebenarnya aku sudah diberitahu oleh Remia,” ucapnya ceria sembari berjalan ke arah perapian untuk mengambil semangkuk kue-kue yang tampak lezat, “hanya saja aku tidak terlalu berpengalaman dengan nama-nama, tahu? Dan Yuki—Haru itu siapa ya?” tanyanya bingung seraya berjalan menuju kedua gadis yang sekarang duduk di deretan kursi makan.

“Haru itu White Wolf-kuuuuu!” seru Yuki memelas. “Kembalikan Haru-ku!!”

Wajah Xylbia dipenuhi pemahaman. “Ooh, White Wolf imut itu? Aduh aduh, maaf Yuki! Aku lupa peliharaan siapa itu, jadi tidak kukembalikan...” Ia membungkuk minta maaf dengan cepat, terdengar benar-benar menyesal. Melihat hal itu, Yuki menjadi agak salah tingkah, namun Xylbia melanjutkan, “Sebagai permintaan maaf, tolong terima ini—kue-kue yang barusan kubuat... stok terakhir, bahannya sudah habis diambil Gumi, soalnya.” Ia menyerahkan mangkuk itu kepada Yuki dan Phrite, masih sambil membungkuk.

“Yah, sebenarnya ucapan maafmu itu tidak perlu,” kata Yuki, namun ia tetap mencomot beberapa kue dari mangkuk itu. Phrite juga ikut mencomot satu, dan seperti yang sudah diduganya—enak sekali! “Aku cuma ingin ketemu Haru. Dia itu peliharaanku sejak kecil... aku rindu sekali...”

“Kau... memaafkanku? Aku senang sekali!” Xylbia tampak berseri-seri. “Akan kupanggilkan dia... White Wolf yang aku lupa namanya~! Ayo sini!” serunya sambil menoleh ke belakang.

Mendadak, pintu perak itu terbuka, menampilkan kepala seekor serigala putih. Tapi yang aneh adalah... perutnya terlihat membuncit! Dan secara keseluruhan, terlihat sangat gemuk. Mungkin dia terlalu banyak diberi makan oleh Xyl, pikir Phrite.

“Ooh, Haru!” Yuki langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Phrite kagum bahwa Yuki masih bisa mengenali Haru meskipun tubuhnya sangat gembrot seperti itu. “Come to mama!

Anehnya, Haru tak bergerak. Dia malah menggeram.

Yuki berhenti di depanya, kebingungan karena sikap Haru yang aneh. “Eh? Kenapa kamu?” tanya Yuki. “Jangan-jangan... kamu nggak mengenaliku?!” tanyanya dengan ngeri.

“Itu sih mungkin saja...” Phrite nyengir, sementara Haru menyalak keras. “Dia kan sudah lama tidak melihatmu, Yuki.”

Sang Dominion Druid itu berteriak lebay, “... APA??! HARUUUU!!!!”

Spoiler for Room #3! (Alluminia):
White Wolf itu berusaha menjilati kaki Yuki, namun Dominion itu tidak peduli.

“Dia kan cuma bercanda, Yuki,” kata Phrite. Ia merasa kasihan kepada Haru yang masih berusaha menjilati kakinya. “Maafkan dia..”

“Nggak! Dia sudah melukai perasaanku!” Yuki cemberut.

“Lagipula, mau sampai kapan kamu ngambek seperti itu? Sampai kiamat?”

“Ughh...”

“Katamu kamu rindu? Bukannya kamu ingin memeluknya?” bujuk Phrite.

Sepertinya berhasil. Yuki berhenti berjalan, dan kemudian memeluk Haru dengan gerakan secepat kilat. “Hiks... Haru!! Kamu itu nakal, jahat, tega, de el el!! Tapi... aku... maaf ya Haru!!” Dipeluk seperti itu, sepertinya Haru hampir sesak napas, namun serigala putih itu kelihatan senang-senang saja karena akhirnya ia kembali kepada majikannya yang lama.

“Tuh, kan,” Phrite berkata senang. Ternyata dia cukup cepat berubah pikiran, ya...

Setelah melepas rindu selama sepuluh menit penuh, akhirnya dia puas juga. “Ayo, sekarang kita ke...” Ia celingak-celinguk, berusaha mengingat tempat ini. “Oh yeah. Alluchan..”

Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Phrite berpikir keras. “Alluchan itu...”

“Kakaknya Eryn,” Yuki menjelaskan dan kembali berjalan untuk menunjukkan arah. Di belakangnya, Haru masih setia mengikuti. “Dia agak.... yah...”

“Apa?”

“Pokoknya... jangan nilai sifat dari tampangnya,” bisik Yuki. Ia kembali celingak-celinguk, tampaknya agak takut jika seseorang menguping.

Phrite jadi bingung, tapi ia menyimpannya dalam hati. “Baiklah kalau begitu...” Meskipun ia mengatakan seperti itu, ia tetap bertanya-tanya dalam hati. Seperti apa sih Alluchan ini...?

“Ini dia.” Yuki menghirup nafas kuat-kuat di depan sebuah pintu berwarna kayu coklat yang tampak normal, kecuali sebuah papan plastik yang menghiasi pintu itu. Tulisannya adalah ‘Danger’. Dominion cewek itu menelan ludah, dan mendadak merepet, “Eh, Phrite, kalau kau mau, kita skip kamar Alluchan ya? Plis plis plis?”

“Memangnya ada apa sih?” tanya Phrite. Sekarang, dia benar-benar bingung. Memang si Alluchan ini ganas? Hahaha, tak mungkin. Phrite tersenyum dan—

“DEMI KACANG POLONG DAN POHON BAOBAB—KUBUNUH SI GUMI!!!”

—dia menelan kembali senyumannya. Teriakan barusan begitu mengerikan sehingga bahkan Haru pun jadi takut dan mencari perlindungan di belakang kaki Yuki.

Yuki merepet kembali, “Tuh kan tuh kan?! Apa kubilang?! Sebaiknya kita menjauh dari tempat ini, Phrite, serius deh. Sebelum dia juga ikut membunuh kita...”

Terlambat, pikir Phrite. Sesaat setelah Yuki berbicara seperti dikejar setan, pintu kayu itu menjeblak terbuka dan menampilkan seorang cewek berwajah cantik. Sebuah bando putih menghiasi rambut panjangnya yang berwarna ungu muda cerah. Pakaian yang dikenakannya begitu cerah, dan bernuansa pink ceria. Sangat berkebalikan dengan raut wajahnya yang tampak lebih mengerikan daripada Nightmare.

“KALIAN!” semburnya begitu melihat Phrite dan Yuki, membuat keduanya tersentak ngeri. “Kalian... Lihat Gumi tidak?!”

“N-n-nggak!” Yuki cepat-cepat menggeleng. “Sama sekali nggak!”

“Bohong,” desisnya. Phrite bahkan dapat melihat urat nadinya berdenyut garang di pelipisnya. “Kalian menyembunyikan Gumi!”

“Kami bahkan tidak mengenal siapa itu Gumi!” Phrite mencoba berseru, tapi langsung mengkeret lagi dibawah tatapan tajam cewek itu.

“Kalau kalian bohong—“ Alluminia berbisik mengerikan. “Kalian akan menyesal telah dilahirkan.”

Glek.

“White!” Mendadak ia berbalik dan memberi perintah kepada sebuah lobak.

... lobak? Apa dunia sudah gila?! Ada sepotong lobak yang bisa berdiri dengan dua kaki!!

“..ng?”

DAN BISA BERBICARA!!!

“Cari lagi di sekitar sini. Barang-barang itu... barang-barang itu  sangat berharga!” Alluminia berteriak, kali ini agak histeris.

Phrite mencoba bertanya. “Barang-barang berharga? Barang-barang seperti apa..?”

Sebuah pandangan super tajam dari Alluminia segera membungkam diri Phrite, namun gadis berwajah manis-namun-mematikan itu akhirnya menjawab juga, “Monster Figure. Segala monster figure itu hilang—pasti dicuri oleh Gumi! SEMUANYA HILANG!!” Alluminia kembali histeris dan mengeluarkan aura yang bisa membuat orang ketakutan sampai ke tulang sumsum. “Pururu, Milk Pitcher, Yellow Pururu, Green Pururu, Amber Jelly, Cherry Blossom Pururu...”

“Dia benar-benar maniak Pururu,” Yuki berbisik tertahan.

“... Coal Tar, Mage Pururu, Mini Metallic, Metallic, Oker Jelly... astaga, demi Crest Paper dan Jellyfish, bahkan Lost Metallic juga hilang! Kemudian monster figure lainnya juga... Pefang, Proon, Mandra Wasabi...”

Yuki menyodok rusuk Phrite, dan mengedikkan kepala ke arah lain, mengisyaratkan agar mereka kabur saja. Tentu saja Phrite sangat setuju. Namun begitu mereka menjauh sekitar lima meter, si gadis pecinta Pururu itu menyadari kepergian mereka dan langsung bergumam, “Mau kabur?” Ia kemudian mengeluarkan sebuah kapak yang sangat panjang, dengan ujung mengilap tajam terarah kepada Yuki dan Phrite.

“... errrr.... kami mau ke toilet kok...” Yuki tergagap. Phrite memilih tidak berkata apa-apa, ia tak dapat berbicara karena terlalu sibuk memelototi kapak yang bisa saja memisahkan kepala dengan badannya itu setiap waktu.

“Toilet, ya..” Alluminia menyentuh dagunya, berpikir. “Arah ke sana?” Telunjuknya menunjuk ke arah kiri mereka.

“Ya,” asal saja Yuki menjawab.

“Bagus, searah dengan kamar Gumi! Kalau begitu aku ikut!” Alluminia memasang tampang siap bertempur sementara Yuki dan Phrite otomatis terlihat seperti dijatuhi hukuman mati. “White, ayo sini, kita akan menyiksa Gumi!”

“Ng~♥”

... Ini benar-benar urusan hidup dan mati!!! Phrite berpikir dalam hati sambil merana. Melirik tampang Yuki di sebalahnya, pasti gadis Dominion itu juga berpikir demikian.

Next room: Serix
To be continued~
« Last Edit: May 16, 2013, 12:31:15 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
FYMI - For Your Mignonette Information
« Reply #11 on: February 25, 2010, 11:56:31 PM »
~FYMI~
For Your Mignonette Information
... oke... judul yang aneh...



(¯`*·.¸,¤°´'`°¤,¸.·*´¯)
¸,¤°´'`°·.¸O¸.·°´'`°¤,¸
|¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯·.·¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯|
The Characters
|___________.·.___________|
*´'`°¤¸¸.·'´O`'·.¸¸¤°´'`*
(_¸.·*´'`°¤¸'¸¤°´'`*·.¸_)



Phrite
Physical Information
Kurus dengan tinggi rata-rata. Memiliki sepasang mata hijau keruh yang berani dan rambut berwarna coklat biasa yang dipotong sebahu.
Personality
Periang namun agak pendiam. Ia senang membantu siapa saja, namun ternyata sedikit keras kepala. Suka jalan-jalan dan juga memasak (karena itulah ia menjadi Farmer). Kadang terlihat mengobrol seru dengan Elina. Dibalik tampang telminya (ya, tampangnya agak telmi) ternyata dia adalah seorang strategist yang hebat. Memiliki masa lalu yang rumit.
Pet
Kyuu (Catty Anzu) (status masih dipertanyakan, sebetulnya)


Zerou
Physical Information
Umur 20an tapi muka seperti 40an. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan sepasang mata ramah yang berwarna hijau.
Personality
Suka menolong adalah karakteristik utamanya. Selain itu, ia juga diketahui memiliki fetish terhadap robot. Sedikit pengecut, kadang tidak tega membunuh monster yang hampir membunuhnya sendiri. Masalah keuangan dan orang jahat terutama orang jahat yang KAYA adalah dua hal yang sangat dibencinya. Tak dapat disangkal bahwa ia juga jago langkah seribu. Miskin, super bad luck. Kalau jengkel atau marah ia hanya bisa diam dan memojok di sudut.
Pet
Yokutailmon (Catty Yamabuki)


Kuro Yuki
Physical Information
Rambutnya berwarna hitam sehitam-hitamnya dengan sepasang mata merah yang tajam. Lebih tinggi dari Phrite namun lebih pendek dari Zerou.
Personality
Cewek yang cepat bosan, suka mencari tantangan, dan cerewet. Memiliki hobi yang mengerikan: pergi ke tempat-tempat berbahaya lalu mati di sana. Satu hal yang perlu dicatat: ia sangat membenci pengemis (peminta GB, peminta gold, peminta equipment, dan peminta-peminta lainnya). Suka menemani teman jalan-jalan, murah hati, suka kerja sosial.
Pet
Haru (White Wolf)


Sachiko
Physical Information
Hampir segalanya hijau: surai hijau panjang, iris mata hijau, dan tali chignon-nya pun hijau... kecuali seragam Miiko-nya yang berwarna biru.
Personality
Ramah, santai, POLOS, suka mengobrol. Cukup rajin walaupun kadang suka seenaknya sendiri. Terkadang suka memaksakan diri dalam menghadapi musuh. Kadang ceroboh dan kekanak-kanakan, terutama pada orang yang dikenalnya dengan cukup baik. Walau begitu, ia mudah bergaul dan beradaptasi. Salah satu anggota Underground yang paling ceria. Penggemar Catty fluffy mini carrier. Punya fobia terhadap beruang.
Pet
Mogu (Fluffy Mini Carrier)


Gumi
Physical Information
Keimutannya tak perlu diragukan. Dengan rambut pirang dipotong pendek model bob, iris mata secerah emas, dia bisa disangka model. Sayang, dia pendek seperti loli. Dan dua kali sayang, gendernya masih dipertanyakan.
Personality
Konyol, jahil, namun ia fokus pada pekerjaan. Suka menghabiskan waktu dengan berjudi atau mengganggu orang lain bersama dengan rekannya yang sama-sama kriminal, Alluminia. Penglihatannya tajam, setajam sorot matanya. Penggemar makanan manis, dan cewek-cewek cantik (salah satunya adalah Sachiko). Tidak ada yang tahu persis bagaimana masa lalunya yang sebenarnya, kecuali dirinya sendiri.


Ramero
Physical Information
Di balik lensa kacamata Commando-nya, ia memiliki sepasang mata coklat yang tegar. Rambutnya acak-acakan berwarna hitam khas seseorang dari ras Emil. Tubuh tegap, kekar, berotot.
Personality
Auranya meneriakkan otoritas yang tak bisa diabaikan begitu saja. Seringkali terlalu tinggi dalam memberi ekspektasi pada seseorang, apalagi ditambah dengan sifatnya yang susah memberi kepercayaan pada orang tak dikenal. Namun pada orang-orang yang sudah dikenalnya, ia sangat setiakawan. Tidak tahan dengan 'ketidakpastian'. Kadang sedikit nekat dalam bertugas. Diam-diam konglomerat. Benci bau rokok. Bertunangan dengan Shiela.


Remia
Physical Information
Memiliki rambut berwarna coklat kehitaman dengan sepasang mata beriris perak yang tegas namun lembut. Kadang tatapan matanya seakan mampu menembus sukma.
Personality
Cukup ramah, namun tidak bisa ditebak. Tumbuh dan besar di Downtown. Kadang lembut, kadang tegas, kadang sedikit konyol, kadang gila, kadang pokerface. Sering mengalami pertanda. Peramal besar pada jaman ini.


Alluminia
Physical Information
Matanya besar, beriris hitam dan dalam. Rambutnya tebal dan indah, berwarna pink lembut. Sebuah bando putih selalu menghiasi kepalanya untuk memberi sentuhan manis. Tubuhnya mungil, tapi kekuatannya jangan diremehkan.
Personality
Adik dari Serix, kakak dari Eryn dan Altheus. Gadis ini terlihat manis, oenjoe, imut... tapi dalamnya iblis. Suka mengajak (baca: mengancam) saudaranya untuk menjelajah dungeon berbahaya. Bersama Gumi, mereka menjadi biang kerok masalah. Meski begitu, hobinya memandangi langit dan mendengarkan alunan harpa Eryn. Maniak Pururu.
Pet
White (Turnip Mandragora)


Eryn
Physical Information
Titania ini memiliki surai perak yang halus dan lembut. Matanya sangat sipit hingga kelihatan terus menutup. Sedikit kurus karena sering "dirodi" oleh kakaknya.
Personality
Ramah, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, sayang binatang, selalu membuang sampah pada tempatnya, menjalankan Dasa Dharma Pramuka dengan sungguh-sungguh. Pemalu, pendiam. Sering sekali dibully oleh Alluminia, namun selalu ditolong oleh Serix yang berakibat malah Serix yang ganti dibully. Baik bagai malaikat. Sedikit klepto (apalagi kalau menyangkut barang yang berkilau). Memiliki satu sisi kepribadian yang sangat bertolak belakang.


Fernand
Physical Information
Dominion dengan kulit yang sedikit licin. Pemilihan baju serta selera fashion-nya sangat tidak oke.
Personality
Kalau membuat kesalahan, ia akan mengatakan 'maaf' dengan kuantitas yang terlalu banyak. Ramah, namun siapa tahu ia hanya memakai topeng keramahan dibalik sifat-sifat lainnya yang belum diketahui?


Alceus
Physical Information
Ganteng. Percaya deh, ganteng. Mata coklat tegas, rambut emas trademark yang selalu ditata dengan oke, wajah tirus mulus, tubuh mantap.
Personality
Rumus Alceus = (Arogan + Over confident + Suka melucu jayus) x Playboy^2. Diketahui memiliki kelainan jiwa yaitu suka nyolong Wooden Boxes, Treasure Chests, atau Containers. Kebalikan dari Zerou, ia memiliki luck A+. Tidak menyukai orang sombong dan sok tahu (sepertinya dia tidak bisa berkaca pada dirinya sendiri). Playboy sejati, tapi sepertinya tidak tertarik pada Phrite. Ya iyalah, kalau tertarik nanti kan dikira pedo, begitu. Memiliki gejolak hati yang cukup membuat galau, sebetulnya.
Pet
Raou (Golden Wolf) (sama cacatnya seperti tuannya)


Lilaca
Physical Information
Telinganya, alih-alih berbentuk seperti telinga manusia biasa, memiliki bentuk seperti milik Nymph Marionette. Di balik kacamata yang dipakainya, ia memiliki mata berwarna merah darah yang terlihat kejam.
Personality
Suka mangkal di sarang Cinnamon, alias penghuni tetapnya. Sepertinya suka menyiksa orang. Ckckckck. Suka menggerutu, tidak suka disuruh. Mengibarkan bendera perang terhadap Eter. Dalam hati, ia menginginkan teman.


Eter
Physical Information
Wajahnya oval dengan bulir zamrud cemerlang yang terlihat sayu. Rambutnya yang berwarna biru secerah langit itu diikat dengan gaya sporty. Perangainya anggun, ditunjang dengan tubuh langsing berkulit putih hampir pucat.
Personality
Jangan tertipu penampilannya, saudara-saudara. Sifatnya sangat berlawanan dengan jobnya sebagai Druid. Mata duitan, kolektor barang fashion, suka menguras kantong lelaki genit yang termakan kedipan sebelah matanya yang berbulu mata lentik. Perkataan yang keluar dari mulutnya seringkali tidak disensor dengan baik. Menanggapi bendera perang Lilaca dengan remeh.
Pet
Prue (Catty Midori) (pet budak yang sering disuruh-suruh)



NB: This section will be updated regularly as the story of Mignonette continues to grow.
« Last Edit: May 16, 2013, 12:35:41 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 10: Before the Storm
« Reply #12 on: March 06, 2010, 03:22:01 PM »
Chapter Ten
~Before The Storm~



TS' Notes:
Special chapter ku pending dulu. Banyak ide, tapi susah ditulis. Sebenernya di special chapter itu aku akan menceritakan tentang tur keliling si Prit dan Yuki di markas UF supaya semua char protagonis bisa kuperkenalkan ke orang banyak (?) Jadinya sungguh banyak yang harus diceritakan karena aku juga harus menulis tentang setiap char protagonis dengan detil, lengkap dengan personality mereka, dan kelucuan dan keseharian mereka sebagai satu ring XD

oke deh, langsung aja chapter 10. jangan kawatir, special chapter itu filter kok, jadinya ga berpengaruh dengan main storyline XD hope you enjoy~

BEHOLD: WALLS OF TEXT!!! MUAHAHAHHAHA





“Selamat datang untuk para petinggi Acronia Knightage dan juga kepada Ketua Guild Council,” Remia membuka rapat dengan berwibawa. Ia sedang berada di sebuah ruangan besar dengan bentuk seperti salah satu ruangan di dalam kubah pertahanan. Berbagai lukisan dengan simbol-simbol berwarna-warni terpampang di sekeliling dinding ruangan tersebut. Sebuah meja oval diletakkan di tengah-tengah ruangan, mendominasi pemandangan. Di sekelilingnya, beberapa orang yang kelihatan penting sedang duduk dalam keheningan yang tak wajar. Salah satu dari mereka adalah Remia.

Peramal wanita itu tersenyum dengan lembut dan kemudian melanjutkan, “Kita berada di sini untuk membahas masalah serius, masalah yang akan menjadi ancaman bagi Kota Acropolis dan juga seluruh negara di benua Acronia—“

“Dan apa tepatnya masalah tersebut...?” Sebuah suara menyelanya, membuat seluruh orang mengarahkan perhatiannya kepada orang tersebut. Ternyata yang menyela Remia adalah seorang perempuan.

Remia berdeham, rupanya melupakan fakta bahwa orang tersebut tidak suka pembukaan yang bertele-tele. “Baik, Ketua Guild Council. Maaf. Masalah ini adalah masalah yang sama seperti yang saya ungkapkan beberapa tahun yang lalu,” Remia tidak mengindahkan beberapa orang yang mendesah panjang, seakan berpikir bahwa hal tersebut adalah sia-sia. “Masalah tentang orang yang akan menghancurkan seluruh dataran benua Acronia di balik layar.”

Bahkan beberapa orang telah mengalihkan pandangan mereka dari Remia, seakan perkataan Remia sama sekali tidak berguna untuk digubris. Remia, yang menyadari hal itu, lagi-lagi tidak mengindahkan orang-orang tersebut. Ia kemudian membetulkan letak seutas tali berkilau yang selama ini menjadi perhiasannya, dan melanjutkan, “Selama ini, ‘dia’ bertindak secara diam-diam. Namun akhir-akhir ini ‘dia’ telah mengambil tindakan-tindakan tidak bisa dianggap sebagai angin lalu. Menyerang beberapa orang tak berdosa, membuat mereka hampir kehilangan nyawa, meningkatkan aktifitas robot-robot di Light Tower, dan terakhir adalah penyerangan terhadap anggota Enigma Group, yang—seperti dilansir oleh Acro Times—menyebabkan kerugian yang sangat besar.”

“Lalu?” tanya sang Ketua Guild Council, wajahnya tanpa ekspresi.

Remia menelan ludah secara diam-diam, namun ia tetap berkata dengan tenang, “Saya meminta bantuan dari seluruh Acronia Knightage beserta seluruh anggota Guild Council, untuk mencari, menemukan, dan melakukan tindakan yang dianggap benar kepada orang tersebut agar kita dapat menghentikan kerugian yang lebih besar lagi.”

“Seperti apa, misalnya?” kali ini seorang pria berumur 50-an angkat berbicara. Seragamnya yang berwarna merah dengan tanda-tanda pangkat bertebaran di bagian dadanya menunjukkan bahwa orang tersebut adalah pemimpin fraksi South.

Remia menunggu sesaat untuk menciptakan efek dramatis. “Seperti... perang saudara.”  Ia menyeringai sedikit saat beberapa orang terkesiap kaget saat mendengar Remia menjawab demikian. “Atau... lebih buruk lagi.”

Jelas bahwa sebagian orang yang mendengarkan Remia berbicara sama sekali tidak ingin mendengarkan bagian ‘lebih buruk lagi’ yang dikatakan oleh Remia.

“Saya akan mendengarkan keputusan Anda. Dimulai dari Anda, Pemimpin Fraksi North, karena tampaknya Anda ingin mengungkapkan sesuatu,” Remia mengangguk ke arah seorang pria berwajah dingin yang mengenakan seragam berwarna biru.

Orang tersebut balas mengangguk kepada Remia, dan berkata dengan suara rendah yang khas, “Maaf, Remia, belum ada bukti-bukti jelas yang dapat mendukung perkataanmu barusan.”

Remia tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan oleh tangan Pemimpin Fraksi North yang terangkat. “Aku belum selesai bicara,” ia berkata. Mendadak, seulas senyum tergambar di bibirnya. “Tapi aku tidak akan pernah melupakan bahwa engkau pernah menyelamatkanku melalui salah satu ramalanmu. Karena itu, aku percaya padamu. Aku akan mengerahkan segenap kekuatan Northern Acronia Knightage untuk membantumu.”

“Terima kasih, North,” sahut Remia lega, sambil mengarahkan pandangannya ke orang lain yang terduduk di seberangnya. “Silakan, Pemimpin Fraksi East.”

“Sudah kubilang, panggil saja aku East,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Dan Remia, aku harus bertanya tentang sesuatu.”

“Silakan.”

“Apakah ‘perang’ yang kau takutkan ini... akan berdampak sangat besar bagi masyarakat... dan bagi kita semua?”

Remia memejamkan mata. Sejujurnya, ia sendiri tidak yakin. Namun...

Sebagai peramal terkenal, ia mampu melihat masa depan lewat mimpinya. Dan kebetulan pada akhir-akhir ini Remia sering mendapatkan mimpi yang membuatnya merasa... takut. Mimpi-mimpinya yang hanya sekelebat itu, meskipun tidak begitu lengkap, namun terasa sangat nyata. Perang. Tangisan. Darah.

Kematian.

“Ya.” Remia membuka matanya kembali. “Berdampak sangat... besar. Akan ada banyak korban, kesedihan, dan kesusahan.”

Peramal wanita itu memilih kata-katanya dengan hati-hati agar dapat menarik simpati sang Pemimpin Fraksi East itu. Remia tahu betul, bahwa Bruno, sang Pemimpin Fraksi East, sangat membenci perang. Ia juga tahu bahwa Bruno pasti akan melakukan apapun untuk menjaga kedamaian. Maka dari itu Remia tidak terkejut saat mendengar Bruno melontarkan jawabannya dengan senyuman,

“Baiklah. Aku akan membantumu. Peperangan adalah hal yang paling kubenci, kau tahu.”

Senyum yang merekah di wajahnya betul-betul tampak seperti senyuman anak kecil. Kedua petinggi Acronia Knightage itu telah menyutujui usulannya. Sekarang tinggal kedua pemimpin lainnya—

“Aku tak setuju.”

Terdengar bunyi ‘krek’ pelan saat Remia menoleh kepada sumber suara, saking cepatnya ia menoleh. Sambil berusaha memijit lehernya secara sembunyi-sembunyi, ia berusaha bertanya dengan berwibawa, “Tak setuju? Mengapa Anda tak setuju, Pemimpin Fraksi West?”

Yang ditanyai, yaitu orang dengan baju kuning itu, menjawab dengan suara yang bahkan lebih dingin dari tampang North. “Ya, tak setuju. Karena... satu, tak ada satu bukti jelas yang mendukung perkataanmu.” Ia melirik sedikit ke arah Darnell, sang Pemimpin Fraksi North, yang terlihat santai-santai saja. Kemudian pria dengan wajah berbekas luka itu melanjutkan, “Dua, hal tersebut adalah sia-sia saja, tak ada gunanya. Dan ketiga, kau telah menyampaikan tuduhan tak bertanggung jawab tentang Light Tower. Seperti yang kau ketahui, pasukan Acronia Knightage dari West sedang dalam misi untuk memberantas robot-robot ‘biadab’ itu, dan harus kukatakan bahwa pergerakan mereka berjalan baik. Tapi dengan kau menyebutkan tentang ‘peningkatan aktifitas monster-monster di Light Tower’, kau telah menuduh kami melakukan pekerjaan sia-sia dan tak ada artinya selama beberapa tahun ini.”

Setelah pria tersebut selesai berbicara, beberapa orang mulai berbisik-bisik di sekitar mereka. Remia sendiri membuka dan menutup mulutnya seperti ikan koi, betul-betul dibingungkan oleh perkataan pria tersebut. Sebenarnya siapa sih di sini yang membuat ‘tuduhan tak bertanggung jawab’?

“Saya akan mengklarifikasikan perkataan saya,” ucap Remia setelah sindrom ikan koinya berakhir. “Saya tak pernah menuduhkan tuduhan apapun, apalagi tuduhan tak bertanggung jawab, tentang kinerja maupun kemampuan dari para anggota Fraksi West. Yang saya tekankan disini hanyalah peningkatan dari aktifitas dari monster-monster di Light Tower. Dan itu tidaklah—“

“Dan menurutku itu sangat berhubungan dengan seluruh misi kami,” jelas pria berbaju kuning itu dengan nada final. “Hal itu juga meyakinkanku untuk tidak ikut membantumu mencari orang ini. Karena. Itu. Sangat. Tidak. Berguna.”

Gelombang amarah perlahan merayapi dirinya, namun Remia berusaha menahannya. Dia adalah Pemimpin Fraksi West yang disegani dan dihormati, ia tak boleh bertindak sembrono. Lagipula, Remia menyadari sesuatu yang... tidak biasa dari Pemimpin Fraksi West. Dia bertindak sangat aneh, tak seperti dirinya yang biasanya hanya diam, namun baik dan ramah. Mungkin saja orang itu—
 
“Well, sepertinya sekarang adalah masa-masa langka dimana aku setuju dengan West,” ucap Pemimpin Fraksi South. Kontan saja seluruh perhatian sekarang teralihkan padanya. “Hal ini sungguh sia-sia. Perang saudara yang dikendalikan di balik layar? Memangnya ini sejenis layar tancap?” tanya South sinis. Mau tak mau, perkataannya membuat beberapa orang menahan tawa. “Lagipula, kami sama sekali tidak mendapatkan info apapun tentang ‘dia’ dari kamu, Remia. Bagaimana mungkin kami diharapkan untuk ‘mencari dan menemukan’ orang itu?” tandas South, makin lama semakin memojokkan Remia.

Belum sempat Remia menjawab, South sudah kembali menyerangnya lagi. “Dan jangan lupa, Remia. Pada pertemuan kita yang terdahulu, kami semua telah setuju untuk memberimu bantuan. Menurutku bantuan itu sudah sangat cukup, mengingat bahkan aku sudah berbaik hati memberikan salah satu anggotaku yang paling kuat untukmu.” Pria berwajah keras itu kemudian menggeleng dan berujar dalam nada kecil yang masih dapat terdengar kemana-mana, “Ah, seandainya saja Ramero dan Asagami tidak kukirim untuk Remia. Mereka berdua tentu sangat-sangat membantu dalam misi-misi Acronia Knightage dan Guild Council...”

Tak ada kata-kata yang dapat keluar dari tenggorokan Remia. Suaranya seakan lenyap, digantikan oleh pemahaman yang bercampur kemarahan. Jadi dia sudah bertindak, ya. Berani-beraninya dia..

Namun, Remia masih tidak bisa mengatakan sesuatu. Ah, bukan. Ia masih belum boleh mengatakan sesuatu. Semua, pada akhirnya, harus terjadi pada saat yang ditentukan oleh takdir... itulah yang diajarkan masa depan kepada Remia.

Sementara itu, kali ini giliran North angkat bicara. “South dan West, kalian sudah keterlaluan.” Ia memandangi kedua orang tersebut dengan pandangan mata tajam. “Permasalahan ini bukan tentang soal harga diri,” pandangannya lurus ke West, “ataupun kepentingan kelompok,” South berpura-pura memandang titik lain saat ia menyadari tatapan North yang beralih padanya. “Kita telah mengakhiri perang. Tidak sepantasnya kita sebagai seorang pemimpin fraksi malah dengan sengaja memulai perang lagi. Seharusnya kita semua memikirkan permasalahan ini baik-baik dengan kepala dingin.”

South mendengus meremehkan. “Kepala dingin? Bah. Jangan sok kalem, North. Tak usah berusaha menutupi sifatmu yang suka ikut campur itu. Lagipula, memang benar aku harus mementingkan negaraku sendiri, karena negaraku memang merupakan negara yang penting. Sedangkan kamu... Apa yang bisa diharapkan dari sebuah negara tak berguna yang hanya bisa memproduksi salju?” Tawa kemudian meluncur keluar dari mulutnya, melengkapi kalimatnya, sedangkan West hanya mengangguk setuju.

“Negara penting apanya, South?” tanya North, retoris. Nadanya yang sudah dingin menjadi sedikit lebih sengit. “Di negaramu saja, produksi senjata lebih melimpah daripada makanan. Memangnya pendudukmu bisa memakan senjata, ya? Kalau tidak ada Fareast, negaramu tentu sudah menjadi kenangan, South.”

“Terima kasih, North,” ujar East, tersipu malu.

“Dan begitu juga denganmu!” seru South marah. “Me-memangnya pendudukmu bisa makan salju, hah?!”

“Kau tidak perlu ikut-ikut kalimatku, South,” akhirnya North menyeringai. “Bukankah dahulu kami berhasil memanfaatkan salju untuk mengairi pertanian kami? Aku tak pernah mendengar bahwa kau telah berhasil memanfaatkan senjata untuk mengairi pertanianmu.

“North—“ South mengertakkan gigi, dan tanpa diduga ia langsung menghunus pedangnya untuk diarahkan kepada North. Namun, sedetik kemudian, tindakannya itu juga direspon oleh beberapa pedang yang juga terhunus dari sarungnya dan diarahkan ke leher South.

Remia termasuk salah satunya. Matanya tampak berapi-api, namun ia tak dapat berkata apa-apa. Dirinya masih tenggelam dalam kemarahan yang terpendam.

“Mau membunuhku, South?” tanya North, yang masih menyeringai. “Sebegitu bodohnyakah kamu?”

“Satu huruf lagi dari mulutmu dan aku akan langsung menebas lehermu,” ancam South.

“Satu gerakan kecil darimu dan aku juga akan langsung menyayat jantungmu,” Remia berucap. South memandanginya dengan tatapan benci.

“Remia, kau tahu benar aku juga akan melakukan hal tersebut padamu,” West berbisik, pedangnya bergerak ke arah leher Remia dengan mengancam.

Ketua Guild Council mendadak berdiri dan berteriak, “SUDAH CUKUP!!” Nadanya terdengar marah.

“Louran..”

“Sudah cukup.” Louran menyipit dan memandangi mereka berempat dengan marah. “Sarungkan pedang kalian kembali.”

“Tidak, Louran. Kau tidak bisa menyuruhku untuk tidak mengakhiri hidup orang menyedihkan ini,” ujar South menghina.

“South..” Louran hampir saja meledak marah, namun mendadak Remia memotongnya dengan berkata,

“Louran. Serahkan padaku,” Remia memohon kepada Louran. Untuk beberapa saat, mata Remia bertemu dengan mata Louran. Akhirnya Louran menyerah, dan mengangguk padanya.

Remia menoleh kepada South dan berkata, “Kau sudah bertindak terlalu jauh, puppeteer.”

“Apa maksudmu..?” South bertanya tak mengerti.

“Cukup berpura-puranya!” seru Remia tak sabar. “Aku ingin berbicara padamu!”

Mendadak, suara tawa terdengar dari mulut South. Tawa yang sama sekali lain daripada tawa yang ditunjukkannya barusan. Suaranya pun juga berubah, menjadi sedikit rendah. “Apa yang ingin kau bicarakan? Mengenai diriku yang asli? Pintar juga kau Remia. Apakah kau sudah meramalkan hal ini?”

Remia menggeleng, pandangan matanya masih menancap pada South. “Tidak. Aku hanya menggunakan akal sehatku. South tak mungkin bertingkah kekanak-kanakan seperti tadi. West apalagi. Dan aku juga tahu bahwa ‘dia’ bisa mengendalikan orang-orang.”

“Ah.. padahal aku dikenal pintar bersandiwara,” Senyum yang muncul di bibir South tampak jahat. “Kalau begitu selamat deh, Remia. Kau  adalah orang pertama yang bisa menyadarinya! Tapi... tetap tak ada bedanya, Remia. Sadar ataupun tidak, South dan West pasti akan menjadi musuhmu. Dan musuh kalian juga, pemimpin-pemimpin tak berguna,” ia memandang meremehkan kepada North dan East, yang terpaku di tempat mereka sambil kebingungan. Sebenarnya, apa sih yang sedang terjadi?

“Aku juga sudah tahu itu. Kalian telah membuat aliansi dengan West dan South untuk melakukan perang yang sebentar lagi akan tercetus. Tapi aku juga tahu, kalian juga memiliki rencana lain. Apa rencana itu?” tanya Remia. Ini benar-benar penting.

“Wah, wah, Remia, aku tak tahu kau ternyata sangat licin. Sampai mengetahui rencana kami!” South terbahak. “Aku sungguh ingin mengobrol denganmu, Remia, tapi aku harus pergi. Ada ratusan prajurit yang sedang menunggu untuk kupimpin.”

“Prajurit? Untuk apa?” tanya Remia.

South menyeringai. “Persiapan serangan,” sahutnya. “Penyerangan awal yang menyenangkan untuk menginvasi kota Acropolis.”

“A-apa?!” Hampir seluruh orang melompat berdiri dari kursi mereka, namun terlambat. South telah menghilang.

“Possess!” geram Louran marah dan langsung berpaling kepada West. Namun, ternyata West sendiri telah memegang sebuah benda kecil berwarna keemasan.

Space-Time Key.

“Kuharap kita bisa bertemu lagi...” West menyeringai. Anehnya, suaranya sama persis seperti suara South barusan. “Itupun kalau kalian masih hidup!” Dan dengan perkataan seperti itu, dirinya menghilang ditelan cahaya yang menyilaukan.

Semua orang terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan Remia juga ternganga. Namun Louran langsung memegang kendali dengan berseru, “Semuanya! Tolong sadar kembali! Ada bahaya yang menanti kita semua!” Untunglah semua orang langsung tersadar dari trans mereka dan langsung mengangguk kepada Louran. “North dan East, silakan mobilisasi pasukan kalian dengan segera.” Begitu kedua orang tersebut langsung keluar dari ruangan, ia berkata kepada Remia, “Remia, perintahkan orang-orangmu untuk segera melindungi warga sipil. Aku sendiri...” Louran kemudian beralih memandang jendela. Di balik jendela itu, yang mengarah langsung ke South, terlihat beberapa titik-titik hitam menodai angkasa. “... aku akan memimpin Guild Council untuk mempertahankan Acropolis City.”

“Baik...” Remia mengangguk, dan langsung menuju pintu keluar. Dalam perjalanannya, ia masih memikirkan kejadian barusan dengan serius. Namun, ia langsung merasa lemas begitu menyadari arti dari semua kejadian ini.

Babak pertama dari War Age kedua telah dimulai.

***


Phrite, Zerou, dan Yuki telah ditawari oleh Remia untuk menjadi anggota ring tersebut. Awalnya mereka menolak, tapi setelah dua minggu penuh merasakan kebersamaan dan kehangatan dari para anggota lainnya (Ya, bahkan Ciel juga), akhirnya mereka menerima ajakan tersebut. Lagipula, tidak ada salahnya ‘kan, bergabung dengan ring yang menyenangkan?

“Remia hari ini harus rapat, jadi dia minta tolong padaku untuk menjelaskan sistem-sistem di ring ini,” ujar Mainer sambil memberi isyarat kepada Phrite, Zerou, dan Yuki untuk mengikutinya. Sambil berjalan, Mainer melanjutkan penjelasannya,

“Ring Master kami adalah Remia, tentu saja. Kemudian, Sub-Master Ring adalah Xylbia. Xyl, seperti yang kalian tahu, bertugas untuk mencukupi kebutuhan kami semua. Tanpa dia, kami tidak akan bertahan bahkan sehari sekalipun di tempat ini,” ia tersenyum, dan melanjutkan,

“Kemudian, spesialisasi. Spesialisasi disebut sebagai divisi. Total ada lima divisi di ring ini. Setiap divisi diisi oleh dua orang dari ring ini, dan sekitar selusin prajurit lain yang tersebar di Acronia Knightage. Untuk yang pertama adalah...

“Divisi Seizure. Anggotanya adalah Ciel dan Serix. Tugas mereka adalah melakukan tindakan-tindakan penyerangan jika diharuskan oleh Remia. Tapi, sebisa mungkin kami melakukan pendekatan kooperatif dalam misi-misi kami, jadi intinya divisi Seizure adalah divisi yang paling santai. Enak sekali,” Mainer tampak cemberut, namun ia tidak berhenti sampai situ.

“Divisi kedua adalah Solver. Anggotanya adalah Alluminia dan... aku. Khusus divisi ini, tak ada anggota lain dari luar UF. Jadinya, tugas kami paling berat, tapi sejauh ini aku menyukainya. Kami bertugas untuk menyelidiki dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan misi-misi kami. Intinya, divisi ini diisi oleh orang-orang pintar, dan harus bisa menjaga rahasia. Paham kan?” Setelah agak narsis sedikit, ia bertanya kepada mereka. Setelah dijawab oleh anggukan, ia melanjutkan lagi, masih sambil berjalan, “Bagus. Kemudian...

“Divisi ketiga. Sanative. Eryn tentu saja adalah anggota divisi ini, bersama dengan belasan anggota Acronia Knightage. Tugas mereka adalah menjaga kesehatan dan menyembuhkan luka-luka. Tapi menyembuhkan saja tidak cukup. Mereka juga harus bisa menghilangkan kutukan-kutukan. Kalian tentu tahu insiden Zerou kerasukan, kan?” tanyanya lagi kepada mereka.

“Tentu saja,” jawab Phrite sambil terkikik. Muka Zerou tampak memerah, namun ia tidak mengatakan apa-apa. “Apa hubungannya dengan divisi itu?”

“Ternyata ada ‘sesuatu’ yang mempossess pikiranmu, Zerou,” Mainer menoleh kebelakang untuk memandang Zerou, yang tampaknya terlihat agak shock. “Detilnya aku lupa, tanya saja pada Eryn. Pokoknya, ‘sesuatu’ itu ternyata adalah sebuah jiwa yang dikutuk. ‘Dikutuk’, bukan terkutuk, jadi pasti ada seseorang yang memantrai jiwa itu. Eryn mengalami kesulitan yang sangat besar saat menghilangkan kutukan tersebut dari jiwanya, tetapi setelah terbebas, jiwa itu mau berbicara kepada kami. Informasi darinya sangat mengejutkan, tapi pembicaraan tentang info itu untuk lain hari saja. Intinya, pekerjaan Sanative itu cukup berat, begitu. Next..

“Divisi yang keempat: Scavanger. Gumi dan Sachiko masuk dalam divisi ini. Mereka bersama dengan anggota di luar UF bertugas untuk mengorek data-data dari sumber informasi yang berada di luar sana. Jadi mereka paling sering bepergian, mengunjungi kota-kota, satu per satu, hanya untuk mencari secuil informasi. Susah, ya? Aku lebih memilih Solver daripada Scavanger. Lalu ada...

“Divisi Stealth, divisi terakhir. Sebagai seorang Commando dan Assassin, Ramero dan Asagami adalah orang yang paling tepat untuk divisi ini. Mereka bertugas untuk mengawasi dan mencari-cari kelemahan musuh dengan menyusup ke tempat-tempat yang... tidak seharusnya mereka masuki. Mungkin kalian berpikir, tugasnya tak jauh berbeda dari Scavanger. Tapi pekerjaan Scavanger adalah mengorek data dari sumber ataupun pengamatan. Sedangkan tugas Stealth lebih berbahaya karena mereka langsung terjun ke tempat-tempat musuh, meskipun Remia tentu saja berusaha agar mereka tidak ‘terjun terlalu dalam’...

“Nah, aku sudah berusaha semampuku untuk menjelaskan mengenai tugas-tugas dari seluruh divisi di sini. Mungkin kata-kataku tidak terlalu tepat, tapi... kalian mengerti kan?” tanyanya, khawatir.

“Tentu saja,” ujar Yuki sambil mengangkat jempol. “Aku sekarang sangat paham mengenai ring ini.”

Mainer tampak berseri-seri. “Wah, terima kasih deh, Kuro Yuki...“

“Panggil Kuro atau Yuki saja, jangan dua-duanya,” koreksi Yuki.

“Oh, oke kalau begitu. Kuro. Atau Yuki. Sama saja...” Mainer kembali tertawa. “Kalian tentu sudah tahu beberapa tempat di sini, kan? Bagus. Nah, aku akan menunjukkan kepada kalian ruangan yang dikhususkan untuk tiga divisi agar mereka bisa berkumpul dan mendiskusikan segala sesuatu, karena tiga divisi itu paling memerlukannya. Nih, belok sini..” Ia mendadak berbelok ke kanan, dan kemudian sebuah lorong lain menampakkan diri, dengan tiga pintu di sisi kiri. Mainer menunjuk yang pertama sambil berkata, “Ruangan untuk para Solver,” kemudian menunjuk ruangan kedua dan berkata, “ruangan untuk Scavanger,” dan terakhir, sembari masih menunjuk ruangan yang ketiga, ia melanjutkan, “ruangan untuk Stealth..”

“Ooo...” Serempak mereka bertiga menjawab.

“Nah, yang di sana itu, di depan ruang-ruang ini, ada kamar Remia. Tapi hanya yang ‘berwenang’ saja yang boleh masuk, jadi jangan sekali-kali mengintip ya!” ucap Mainer serius. “Aku pernah dimarahi habis-habisan karena salah berbelok—“

Mendadak, ia terhenti. Zerou, Yuki, dan Phrite juga. Karena, sebuah suara yang sangat mereka kenali, suara Remia, bergaung dalam kepala mereka dengan nada urgen. ‘Keadaan darurat. ‘Target’ telah melaksanakan rencananya untuk menguasai Acronia. Seluruh anggota diharapkan untuk ‘menghilangkan’ markas. Kemudian, untuk Seizure dan Stealth, pertahankan wilayah Acronia... untuk sementara. Mainer, lakukan tugasmu. Yang lainnya diharap berkumpul dan bagi jadi dua kelompok: satu menuju North, dan satu menuju East.’ Remia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada serius. ‘Kita akan berperang.’

“Sial..” Mainer mengumpat. “Akhirnya hari ini tiba.  Kalian juga, sebaiknya kalian bersiap-siap dan pergi ke Main Entrance. Aku harus melakukan tugasku dulu..” Ia bergegas pergi, namun ditahan oleh Yuki yang berteriak kepadanya,

“Tunggu! Sebenarnya ada apa sih ini?” tanyanya bingung.

“Katakan saja... musuh kita telah melakukan penyerangan untuk Acronia,” Senyum yang muncul di bibirnya sangat getir. “Sebentar lagi mereka akan menghancurkan kota ini.”




Bagaimana Remia menghadapi hal ini? Lalu bagaimana dengan nasib seluruh anggota UF? Akankah mereka semua selamat?

Wait for da next chapter!! :sing:


kenapa kok jadi kayak hetalia ya ==a
« Last Edit: May 16, 2013, 12:36:17 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 11: Fear of the War
« Reply #13 on: April 02, 2010, 12:36:55 AM »
Chapter Eleven
~Fear of the War~



TS' Notes:
sebelas halaman, yes!! hadiahku... khusus untuk Altheus, a.k.a. Athus-dudud, yang ultah kemaren  :hi: happy birthday tapi telat, ya, Athus... XD chapter ini kudedikasikan untuk dirimuw :D

BEHOLD: WALLS OF TEXT!!! MUAHAHAHHAHA





Begitu Phrite, Zerou, dan Yuki menampakkan diri di Main Entrance dengan wajah lelah karena berlari sepanjang koridor, mereka langsung diteriaki oleh Alluminia, “Kalian bertiga lama sekali!! Ayo cepat!!”

“Iya, iya—”

Suasana di ruangan tersebut sangat tegang. Gumi, Eryn, Sachiko, dan Xylbia tengah berdiskusi serius di ujung ruangan, dan sementara itu Alluminia menyambut ketiga orang yang baru datang itu dengan aura kemarahan yang menyengat. “Remia sudah menyuruh kita agar bertindak cepat!! Kalian malah bertindak seperti kura-kura, bagaimana bisa kalian menjadi anggota—“

“Sudah, Allu, hentikan omelanmu dan cepat ke sini!” Gumi berseru jengkel. Untuk sesaat, Alluminia ingin membantahnya. Tapi sepertinya ia berpendapat bahwa hal tersebut tidak berguna, karena selanjutnya ia berjalan cepat menuju ke saudara-saudaranya. Phrite, Zerou, dan Yuki langsung mengikuti mereka dengan tampang bersalah masing-masing.

Begitu mereka tiba, Gumi langsung mengangguk kepada mereka dan berkata, “Akan kuulang lagi rencana kali ini. Kita akan membagi diri menjadi dua kelompok, yang satu menuju North, dan yang lain menuju East. Jika ditambah dengan Phrite, Zerou, dan Yuki, kita akan berjumlah tiga belas orang, tidak termasuk Remia. Aku yakin dia pasti memiliki rencana sendiri, jadi aku tidak mengikutkannya dalam kelompok. Total, ada... tujuh orang yang akan menuju North, dan enam orang yang menuju East. Ada pertanyaan?”

Beberapa orang menggeleng, yang lainnya diam saja. Rupanya mereka terlalu tegang untuk berbicara.

“Bagus. Aku sudah membuat daftar siapa saja yang akan menuju North dan East. Dengarkan baik-baik.... Kelompok North akan berisi Ciel, Alluminia, Eryn, aku, Asagami, Phrite, dan Zerou. Sisanya, yaitu Serix, Mainer, Sachiko, Ramero, Xylbia, dan Kuro Yuki—“

“—Kuro atau Yuki saja—“

“Bah, terserah deh! Pokoknya yang tadi itu, kalian menuju East. Oke? Nah, sekarang ayo berangkat. Semua sudah ‘menghilangkan’ markasnya, kan?” tambahnya, memandangi seluruh orang di sana.

Setelah dijawab oleh anggukan oleh beberapa orang, Gumi langsung melanjutkan lagi, “Kalau begitu, ayo. Eh, iya, mana Mainer? Dia belum balik?”

“Dia menuju ruangannya,” kata Phrite. “Mungkin tugasnya belum selesai...”

Semua orang, kecuali Phrite, Zerou, dan Yuki, langsung menghela napas. “Kasihan sekali..” gumam Eryn.

“Kasihan kenapa?” tanya Zerou ingin tahu.

“Tidak.. hanya saja, sepertinya dia yang bekerja paling susah, dengan tambahan pekerjaan dari Remia dan semacamnya..” Sachiko menghela napas. “Kudengar dia juga disuruh bikin bom.”

“Haah?”

“Buat apa?” tanya Yuki sambil mengerutkan alis.

“Yah, kalau kami tahu, kami pasti sudah memberitahumu,” Gumi memutar bola mata. “Nah, semuanya sudah ingat kelompok masing-masing? Kalau begitu, yang ke North, ikut aku. Yang ke East, ikuti Sachiko,” Gambler itu tampak tegang. “Kita kabur bukan untuk menyelamatkan nyawa kita sendiri, tapi untuk menyelamatkan yang lain. Karena itu jaga nyawa kalian baik-baik, karena kami akan membutuhkan kalian. Siap? Ayo gerak cepat. Dismissed!

***


“Hari ini akan menjadi hari yang... sulit untuk kujabarkan.”

Louran memandangi bukit-bukit Western Plains dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Wanita itu berdiri di depan barisan prajurit yang berjumlah tak seberapa di belakangnya, semua menunggu perintahnya. Di sampingnya, berdiri sang peramal Remia. Jubahnya yang selalu berwarna coklat kehitaman itu berkibar-kibar di belakangnya.

“Boleh aku tahu alasannya?” tanya Remia sopan. Meskipun dia sendiri telah diakui sebagai ‘Peramal Berbakat’ dan dihormati dimana-mana, ia tetap merasa segan jika berhadapan dengan Louran. Hampir seluruh orang di benua ini memang menaruh hormat yang besar terhadap wanita satu itu.

“Entahlah.” Wanita itu menghela napas. “Mungkin aku merasa seperti itu karena... kemungkinan, hari ini hidupku akan berakhir. Karena perang ini.”

“Mungkin,” Remia mengangguk. “Tapi, berperang ataupun tidak, kita semua akan mati, bukan?”

“Benar sekali,” kata Louran. “Kau tahu, aku akan sangat menikmati pembicaraan ini jika kita sedang minum teh atau dalam pembicaraan normal. Tapi keadaan kita sedang sangat jauh dari normal, jadi aku mohon diri dulu untuk mempersiapkan pasukan.”

“Tentu, Louran,” Remia menunduk hormat saat Louran berbalik ke arah pasukannya. “Aku juga akan menemui orang-orangku.”

Louran terhenti sejenak, kemudian menoleh kembali ke arah Remia. “Aku baru ingat. Aku akan mempercayakan anakku padamu.”

“Aira?” tanya Remia tanpa berpikir, lalu buru-buru mengoreksinya, “Maafkan kebiasaanku... maksudku, Shaira? Untuk apa?” Muncul sekelebat anak gadis imut dalam pikirannya. Shaira Frestine.. anak dari Louran Frestine. Si anak periang yang sangat dikenal di seluruh kota, mungkin karena fakta bahwa ia adalah anak Louran, dan juga sangat ramah. Remia sudah kebiasaan memanggilnya Aira karena anak itu memang ingin agar dipanggil Aira, bukan Shaira.

“Mungkin dia bisa berguna dalam melawan orang yang kau sebutkan itu,” Louran mengangguk tegas. “Sekaligus mempersiapkannya menjadi penerus Ketua Guild Council. Aku sudah mulai tua untuk urusan-urusan seperti ini,” katanya, disambung dengan tawa renyah.

“Baiklah,” jawab Remia, meskipun ia khawatir apakah anak itu bisa mempertahankan diri. Bukannya meremehkan.. hanya saja, dengan kepribadian seperti itu, Remia tidak ingin anak itu terluka. “Semoga bintang-bintang di langit melindungimu.”

“Kau juga sebaiknya begitu, Remia.”

Senyum yang muncul di bibir Remia mendadak terasa gamang. Ya. Hari ini adalah hari yang tak akan mudah untuk dilupakan. Remia melirik sekilas ke arah pasukan yang berhasil dikumpulkan oleh Louran.

Hanya pasukan dari faksi utara dan timur yang mau bergabung dengan mereka. Pasukan selebihnya telah memilih untuk membela negara masing-masing. Tak ada pasukan dari Tonka dan MaiMai, karena Mayor Tonka dan pemimpin MaiMai masing-masing menyatakan bahwa mereka netral. Bruno dan Darnell masing-masing menyerahkan pasukan mereka kepada Guild Council agar lebih mudah mengarahkan mereka.

Swordsman Master tampak berjalan-jalan di baris depan, meneguhkan semangat para didikannya dalam menghadapi musuh yang sudah terlihat di ujung pemandangan Western Plains. Terlihat juga para Wizard, Sorcerer, dan Sage yang sibuk mengulang berbagai strategi yang sudah dipesankan kepada mereka oleh Sage Master. First Aid dalam jumlah besar sedang didistribusikan dengan cekatan oleh para Ranger, Explorer, dan Treasure Hunter, didampingi oleh Ranger Master sendiri.

Si Farmer Master (Tidak, tidak mesum kok, batin Remia meyakinkan diri sendiri saat teringat Phrite yang menceritakan pengalamannya dengan Farmer Master), memastikan bahwa beberapa Marionettist sudah mem-possess kawan mereka, dan juga memastikan bahwa Marionettist lain sudah di-possess oleh kawan yang lain. Sedikit keributan terjadi ketika seorang Machinery tak sengaja menembakkan misilnya ke pepohonan karena gugup. Untunglah tak ada korban jiwa. Setidaknya belum.

Seorang Druid sedang dikelilingi oleh para temannya karena ia menangis sampai histeris, tak ingin melukai sahabatnya yang berada di faksi West. Di pucuk bukit, terlihat para Archer, Striker, dan Gunner saling memastikan bahwa persediaan amunisi dan panah mereka mencukupi. Seorang Cabalist dihibur oleh seorang Enchanter, karena ia menitikkan air mata di atas sebuah liontin besar. Lewat gerakan mulutnya, Remia dapat mengerti apa yang diucapkannya. ‘Adikku.. kenapa dia di faksi South..?’

Peramal wanita itu kemudian berbalik ke arah gerbang menuju Downtown dengan perasaan tak keruan. Sambil berjalan, ia melihat sekelilingnya. Kontras dengan Uptown yang telah siap siaga menghadapi pertempuran, Downtown sungguh kacau-balau. Bahkan sebelum tentara musuh datang dan menghancurkan kota, Downtown sudah tampak hancur lebih dulu. Tangisan anak-anak menghiasi berbagai jeritan penduduk yang terburu-buru menyelamatkan barang-barang miliknya yang bisa mereka selamatkan. Para remaja berandalan dan penjahat-penjahat tampak merampok apa saja yang bisa mereka raih. Bahkan tentara-tentara Acronia Knightage yang ditugaskan disini rupanya kewalahan menghadapi kelakuan mereka.

Namun, ia tidak mempedulikan semua hal itu, setidaknya untuk saat ini. Ia harus menemui sekelompok orang yang telah menunggunya di dekat deretan toko senjata dengan setia itu. Dengan susah payah ia menembus kerumunan massa yang panik dan putus asa.

“Jadi, bagaimana, Remia?” Asagami tak sabar. Di sana, di dekat jejeran toko senjata yang telah ditutup terburu-buru oleh pemiliknya, berkumpullah Ramero, Asagami, Ciel, dan Serix. Tampaknya, masing-masing sudah tidak sabar untuk bertindak.

Remia menggeleng untuk menanggapi Asagami. “Beritahu aku. Apa yang paling penting bagi seseorang sebelum menyerang?” Semuanya terdiam begitu mendengar Remia berkata seperti itu. Remia menghela napas, dan kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, “Berhenti. Cermati. Susun strategi. Dan yang paling penting adalah: jernihkan pikiran kalian. Kita sekarang sedang menghadapi perang yang sesungguhnya... satu langkah gegabah, dan kita semua akan mati. Paham?” Ia menekankan nada serius dalam perkataannya.

“Baik, Remia,” serentak, keempat lelaki itu langsung menjawab.

“Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah...” Remia mendadak terhenti. Ada sesuatu yang menyerang kepalanya, sesuatu yang lebih dari sekadar sakit kepala biasa. Jangan-jangan...

“Remia?” ujar Serix, cemas. Namun Remia menggeleng.

“Tidak, aku tidak apa-apa...” Pengelihatannya mulai kabur. Tidak... jangan perlihatkan hal-hal yang bukan dari masa kini, ia berdoa dalam hati. Ia perlu memikirkan strategi untuk menghadapi dia...

“Kau bukan tidak apa-apa, Remia,” sebuah suara menyeruak dari dalam pikirannya. Ah, Ciel. Mungkin, ia bisa memercayainya untuk urusan ini...

“C-Ciel... tolong gantikan aku untuk memimpin yang lain...” Nada yang keluar dari mulutnya terdengar benar-benar lemah. Ia tak bisa menahannya lebih lama lagi...

Titania itu mengangguk, rupanya menyadari keadaan Remia. “Baiklah... Kalian semua, ayo ikut aku.”

Sementara keempat orang itu menjauh dari pandangannya, Remia tak kuat lagi menahannya. Akhirnya, dia menyerah terhadap hal ini. Begitu ia menyerah, pertanda-pertanda langsung menyerbunya: penglihatan yang tajam menusuk, suara-suara yang bercampur aneh, semuanya bukan berasal dari masa kini.

Setelah beberapa detik, ia mulai bisa mengenali latar belakang tempat di dalam pertandanya ini. Awan gelap yang tebal tampak membebani langit malam. Dinding menjulang tinggi, melindunginya dari badai salju yang pasti sedang terjadi di luar sana. Ia sedang menatap sekumpulan orang yang sangat dikenalnya. Ingin sekali ia menyapa mereka, namun entah kenapa suaranya tak dapat ia gunakan. Ketika ia memandangi wajah mereka lebih teliti lagi, sepertinya semua orang tampak sangat tegang dan ketakutan, namun penuh pengharapan.

Salah seorang gadis, yang memaksakan wajah gembira bagi mereka semua, berseru ceria, “Hei. Ayo semangat! Kita akan menempuh perjalanan yang jauh. Menyusuri bawah tanah!”

“Namanya Ruins, Aira.”

“Yeah, terserah deh. Aku masih bingung, apa nanti kita benar-benar sampai?”

Sebelum ia bisa mencerna hal tersebut, peristiwa lain menyeruak. Kali ini, ia berada di sebuah ruangan maha luas yang sangat gelap. Yah, tidak sepenuhnya gelap, karena di depannya berdirilah seorang laki-laki dengan seragam bengkel berwarna merah, terwujud dalam sebuah hologram raksasa.

‘Remia—bzzt—kamu bisa melihatku...? Aku sedang—bzzt—ada di Tonka, kamu percaya itu?—Bzzzzt—‘

Tidak, dia tidak percaya, maaf. Hologram dari Tonka! Dan berwujud orang itu? Lama-lama penglihatan ini mulai aneh-aneh.

‘Asal kau—bzzt—tahu, Remia, aku—bzzt—tidak dapat mendengarmu—bzzt—di sini, biar aman. Bzzt—Sorry,’ ujar hologram itu sedih. ‘Aku hanya akan memberi—bzzzt—tahu sesuatu yang penting sekali...’

Penglihatan yang satu ini mulai kabur. Kenapa orang itu... tampak sedih? Biasanya dia ceria. Namun, saat Remia sendiri menjadi ingin tahu tentang apa yang akan dikatakan oleh hologram itu, penglihatannya berganti kembali. Ia kemudian dibawa oleh penglihatannya ke atas sebuah Airship. Tapi... rasanya bukan. Ini lebih mirip robot raksasa yang rusak, karena dirinya selalu merasakan gempa kecil setiap kali robot ini melangkah. Kenapa ia bisa berada di tempat seperti ini, ya?

Ia memandang berkeliling. Salju dimana-mana. Ia pun dikelilingi oleh orang banyak, namun ia tidak bisa mengenali mereka karena kini pandangannya fokus terhadap seorang lelaki yang sedang berlari menjauhi dirinya, sambil berteriak serak, “Tidak... Tita!! Tita!!! Jangan—”

Anehnya, ia tak mengenali suara yang satu ini. Siapa orang ini? Kenapa ia berseru kepada Tita, sang Archangel dari suku Titania ketiga? Tampaknya, ia adalah seseorang dengan rambut berwarna cerah. Kuning? Bukan. Sepertinya, rambutnya berwarna em—

“Astro... loger...”

Segalanya menjadi gelap, namun perlahan kesadarannya pulih kembali. Hingar-bingar penduduk Downtown membuatnya pusing, namun juga membantunya meraih kembali kemampuan indranya. Ia baru sadar kalau ternyata ia sedang terduduk lemas di lantai Downtown. Tapi, ia belum sadar kalau seluruh tubuhnya sedang gemetaran.

“Aha.. syukurlah,” Orang yang barusan berkata  kepadanya itu kemudian memandanginya lekat-lekat. “Kamu tidak apa-apa?”

“Eh... Leon?” Remia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ternyata di depannya itu adalah si Panthologist. Senyum lemah yang mengembang di bibir Remia rupanya masih belum cukup meyakinkan si Panthologist terhadap kesehatan peramal itu.

Leon berkata, “Daritadi kamu bergumam tidak jelas. Untung kamu tidak berteriak-teriak seperti biasanya...” Ia tidak mengindahkan tatapan garang dari Remia. “Rupanya kamu sudah bisa menguasai dirimu saat pertanda-pertanda datang ya? Hebat.”

“Ya, ya, makasih deh,” Remia berkata selagi mencoba berdiri. “Kamu daritadi menjagaku?”

“Tentu saja. Kamu kan paling lemah saat pertanda menyerang,” Leon berkata. “Sudah sepantasnya sebagai temanmu aku menjagamu.”

“Aww. So sweet... terima kasih, lho,” Remia tertawa, namun tawanya terdengar getir. Ia masih sadar bahwa sekarang bukanlah saat untuk bercanda ria. Sebentar lagi, perang akan mencapai Acropolis, dan hanya soal waktu sebelum Downtown juga menjadi area peperangan. “Leon, kamu tidak ikut menyelamatkan diri?”

“Untuk apa?” tanya Leon. Pertanyaannya cukup membuat Remia terkejut. “Hidupku dan matiku ada di Downtown. Kalau Downtown mati, aku pun juga akan mati. Dan menurutku, lebih baik mati saat berperang daripada mati dengan perasaan menyesal seumur hidup.”

“Aku baru tahu, ternyata kamu bisa jadi seorang filsuf juga, Panthologist.” Remia memandanginya, setengah geli dan setengah kagum.

“He? Benarkah? Aku baru tahu!” ujar Leon, ikut kagum sendiri akan dirinya. Remia jadi menyesal telah memujinya ‘seorang filsuf’. “Oh iya, tidakkah kamu sendiri harus melakukan sesuatu?” sambungnya kembali.

Perkataannya kembali menyadarkan Remia akan tugas dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dalam hati ia mengeluh, namun ia tak membiarkan senyum yang menggantung di wajahnya itu memudar. Kalau saja ia boleh memilih, ia ingin memilih hidup tenang dan jauh dari segala hal yang mengerikan ini. Namun, ia tak bisa berkutik di bawah cengkeraman nasib. Jika ia berusaha menghindari ramalan, maka ramalan itu akan datang kepadanya dengan cara yang lebih tidak dapat diprediksi. Atau bahkan, dengan cara yang lebih mengerikan daripada ramalan itu sendiri. Barangkali, di suatu tempat di atas sana, Takdir sedang tertawa terbahak-bahak akan nasib Remia yang malang. Bagaimana tidak? Sekali ia mengetahui masa depan, maka ia tak dapat mengubahnya. Apa bedanya dengan mengetahui peristiwa yang sudah terjadi?

“Ya, benar. Aku harus pergi, Leon.” Remia mengangguk dan beranjak pergi. “Oh iya... jangan lupa. Jaga dirimu agar tetap selamat. Downtown akan sepi tanpamu.”

“Begitu juga denganmu, Remia,” Leon melambai ke arahnya. “Aku masih ingin tahu tentang ramalan bintangku.”

Dasar... Remia menggeleng sambil menuju ke tengah Downtown, lagi-lagi dengan susah payah. Ia tak pernah berubah sejak kecil. Leon si Panthologist memang merupakan temannya sejak kanak-kanak. Bisa dikatakan bahwa mereka tumbuh dan hidup bersama-sama di Downtown.

Pikiran-pikiran tentang masa lalu membuatnya mengepalkan tangan. Ia tidak akan mau menyerahkan Downtown di tangan orang-orang bejat seperti dia. Bahkan, kalau tidak ada ramalan tentang peperangan ini pun, ia tentu akan tetap mempertahankan Downtown, sama seperti Leon. Dan hal itu dapat dicapai dengan menafsirkan pertanda yang barusan dialaminya itu. Cukup membingungkan, tapi Remia sudah terbiasa akan hal-hal yang membingungkan seperti peristiwa-peristiwa dalam pertandanya.

Pertanda pertama dan kedua cukup gampang untuk ditafsirkan, meskipun ia masih tidak begitu mengerti. Hanya pertanda ketiga yang cukup kabur. Setelah beberapa saat lamanya ia berusaha menemukan jawaban dari pertanda ketiga, ia menyerah dan berpikir bahwa akan tiba saatnya nanti untuk mengetahui arti sebenarnya dari pertanda itu. Sekarang, yang lebih penting adalah...

Underground Force, ini aku, Remia. Perubahan rencana. Semuanya berkumpul di Main Entrance!

***


“Semuanya sudah berkumpul?” Remia memastikan keadaan sekeliling. Ia sedang berada di Main Entrance, dikelilingi oleh hampir seluruh anggota Underground Force.

Sachiko mengangkat tangan, “Mainer belum.” Wajahnya tampak khawatir. Ah, Sachiko selalu khawatir pada semua orang. Benar-benar gadis yang baik.

“Tak apa kalau Mainer. Aku mengerti. Yang lain? Sudah? Baik. Aku percaya Gumi sudah membagi kelompok untuk menyelamatkan diri?” Remia memandangi Gumi yang mengangguk, namun Asagami bertanya dengan suara ditekan,

“Kelompok kabur? Kau berencana untuk kabur, Remia?” tanya Asagami dengan tatapan keras. “Aku tak pernah mendengar kalau kita akan kabur begitu saja saat Downtown diserang.”

“Bukan begitu, Asagami..” Remia menjawab tenang. “Aku sudah pernah memberitahu yang lain kok tentang rencana ini...”

“Kalau tak salah, dia sedang melakukan misi ke Island of the Undead pada waktu itu,” bisik Alluminia pelan ke Remia.

“Ah..” Remia mengangguk mengerti. “Yah, intinya adalah, kita semua akan membantu Acropolis untuk mempertahankan diri. Namun, kalau keadaan sudah tidak memungkinkan lagi, kita akan segera melanjutkan Rencana B. Menyelamatkan diri. Tujuan kita ada dua tempat, yaitu North dan East, Asagami. Aku akan merubah kelompok yang sudah disampaikan Gumi tadi—”

“Aku tak setuju.”

Semua orang menoleh ke arahnya.

“Asagami..”

“Kita seharusnya melindungi mereka. Aku tak ingin meninggalkan para penduduk dan petarung lainnya saat mereka mati-matian menjaga Acropolis!” Asagami berkata, intensitas nadanya menguat seiring suku kata yang diucapkannya. Remia memandangi Assassin itu lekat-lekat, berpikir keras tentang apa yang sebaiknya ia ucapkan untuk meyakinkan Asagami.

“Dulu aku juga berpikir demikian, Asagami,” Serix angkat bicara. “Namun kita hanya bisa menuntaskan perang ini kalau kita cabut sampai akarnya, bukan hanya daunnya saja. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk mengalahkan orang itu—”

“Jadi kau tidak peduli dengan para korban yang akan berjatuhan?” tanya Asagami, kemarahan terdengar dalam nadanya. “Apakah itu pemikiranmu?!”

“Tolong, kalian semua... jangan bertengkar di sini...!” Xylbia berusaha menenangkan.

“Asagami...” Remia menghela napas. “Dalam setiap pertempuran, selalu ada korban jiwa. Tak terkecuali dalam perang ini. Jika kau ingin kita semua ikut dalam perang ini, baiklah. Tapi hal itulah yang diinginkan oleh orang itu.. membuat kita semua mati dalam perang ini. Sebaliknya, kalau kita menyelamatkan diri, kita akan mampu menyusun strategi selanjutnya untuk menghancurkan orang itu.”

“Berarti, kau tetap memilih agar kita semua kabur.”

“Benar. Aku tidak ingin membuat kalian terbunuh. Aku ingin kalian bisa selamat melewati masa-masa ini agar kalian dapat menang melawan orang itu.”

Setelah beberapa detik yang menegangkan, akhirnya Asagami berucap, “Kalian... ternyata sama saja.” Wajahnya tampak keras. “Sama saja... dengan mereka. Membiarkan orang lain terbunuh...”

“Asagami?”

Semua orang menoleh ke sumber suara barusan. Mainer. Wajahnya kelihatan lelah, namun terlihat sebersit rasa puas di dalamnya. Sepertinya ia telah selesai mengerjakan ‘tugas tambahan’-nya. Meskipun begitu, ia kelihatan kebingungan.

“Ada apa?” tanyanya sambil mendekati Asagami dan yang lain. Begitu melihatnya, Asagami menghela napas. “Apanya yang membiarkan orang lain terbunuh?”

“Apa kau tahu tentang rencana kabur Remia, Mainer?” Asagami bertanya dengan serius.

Hanya butuh sepersekian detik bagi Mainer untuk memahami kalimat Asagami. “Tentu saja aku tahu, Asagami...” Ia meneliti wajah Asagami. “Dan kau tidak ingin mengikutinya?”

“Menurutmu bagaimana?” Ia balas bertanya. “Apakah kau mau membiarkan mereka membantai seluruh penduduk Downtown?”

“Mmm, tidak juga sih sebenarnya,” Mainer melirik ke arah Remia yang sekarang tampak merasa bersalah. “Tapi coba pikirkan hal ini. Kita berdua di sini untuk tiga tujuan. Memburu si pemimpin musuh kita, menyiksanya sampai mati, kemudian mencari... dia,” Kecuali tujuan terakhir, Mainer mengucapkan tujuan-tujuan tersebut dengan nada seakan membicarakan cuaca. “Kalau kau tetap ingin tinggal terus untuk menghalangi mereka datang ke Downtown, silakan. Tapi, mati adalah kemungkinan terbesar. Kau jadi tidak bisa mencapai tujuanmu, bukan?”

“Ya, tapi—”

“Lagipula, dia tak ingin kau mati,” Mainer berkata sambil bersedekap. Ia kemudian maju ke depan Asagami dan berbisik, “Dan jujurlah, kau juga tak ingin maut memisahkan kalian.”

Asagami memandanginya dengan jengkel. Mainer hanya mengangkat bahu. Kemudian ia berpaling ke arah Remia dan berkata dengan berat, “Baiklah. Aku akan mengikuti rencana ‘kabur’mu. Kalau pembunuhan sejuta lebih penduduk Acropolis memang cocok dengan rencanamu, aku tak akan berkomentar apa-apa lagi.”

“Hei hei, sabar dong...” Mainer menepuk bahu Asagami, sambil membentuk kata-kata kepada Remia: ‘Maafkan dia’.

Remia menggeleng, masih dengan wajah bersalah. Saat Asagami akhirnya bersandar di dinding agak menjauhi Remia, sang peramal itu pun berbisik pada Mainer yang telah berada di dekatnya, “Dia benar. Tak seharusnya aku membiarkan pembantaian ini begitu saja...”

***


“Ha! Resistance is futile, Acropolis. Tapi mereka benar-benar mau melawan kita,” ucap Eter. Rambut biru mudanya yang ditata dalam bentuk sporty tersebut bergerak-gerak mengikuti semilir angin yang berhembus cukup kuat. “Benar kan, Prue?”

Seekor Catty berambut coklat pendek yang mengenakan kimono berwarna kehijauan, melayang-layang di samping bahu Eter sambil mencicit, “Benar sekali, Lady Eter.”

“Sudah kubilang, East dan North hanyalah sekumpulan orang-orang tak berotak,” Alceus menguap. Dia bersama Eter berada di atas perbukitan Lake Utena Estuary, memandangi barisan demi barisan pasukan yang bersiap menahan serangan dari pasukan West dan South—pasukan yang telah diberikan secara sukarela oleh dua ‘boneka’ Eter, Cornelio dan Apollonius, si pemimpin South dan West yang tak berguna. “Bukan berarti South dan West punya otak, sih.”

Di sebelahnya, seekor Golden Wolf juga ikut menguap, seperti tuannya. Ia berdiri gagah di sebelah Alceus, tampak menikmati hidup di bawah jari-jari tuannya yang mengelus bulu-bulunya yang lembut.

“Hei, hei,” Eter berbalik memandangnya, wajahnya terlihat centil menyebalkan. Ia berkata dengan nada seperti menghadapi anak kecil, “Jangan meremehkan musuh, ya!”—meskipun Eter sendiri kemudian memandangi pasukan Acropolis lagi seakan mereka adalah sekumpulan bocah ingusan—“Mereka itu hebat, lho. Bisa memiliki keberanian untuk menyerang saja sudah akan kuacungi jempol.”

“Benarkah?” Alceus tersenyum terpaksa. Ya, dia memang sang Casanova sejati, pencuri hati wanita, pangeran di atas kuda putih, lelaki ganteng, dan sebagainya—tapi dia selalu berhati-hati dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Eter, apalagi berbicara langsung dengannya. Selain beberapa fakta yang mengganggunya tentang Eter: pandai bersandiwara, suka menguras habis kekayaan seorang lelaki, dan senang berbelanja—dua hal terakhir itu membuat Alceus sendiri cukup kewalahan—tetapi ada juga beberapa fakta yang membuatnya selalu was-was. Well, tepatnya bukanlah fakta, melainkan hanya insting belaka. Sesuatu—segalanya tentang Eter membuatnya meningkatkan kewaspadaannya dua kali lipat. Apalagi dia adalah satu-satunya selain orang itu yang bisa melakukan sihir Machine Age... Itu tidak normal.

Yah, siapa sih di kelompok ini yang normal? Alceus mendengus.

Lilaca—terlalu sadis.

Ragestor—terlalu gila.

Fernand—terlalu ceria.

Astralline—terlalu pendiam.

Dan orang itu.. terlalu mengerikan.

Bisa dikatakan, hanya Alceus-lah satu-satunya orang normal yang berada di kelompok gaje ini. Eh, tidak juga. Alceus juga tidak normal. Yeah, Alceus teringat akan apa yang membuatnya tidak normal.

Alceus—terlalu ganteng.

Ha. That’s more like it!

“Kita harus bersiap-siap, Alce~” Eter berkata dengan suara manis yang membuat Alceus merinding. “Kau tidak ingin ketinggalan pesta, kan?”

Untuk yang satu ini, Alceus menyeringai. “Tentu saja,” kata Alceus, kemudian meregangkan otot-ototnya. “Time to play.

Mendengar perkataan tuannya, Golden Wolf di sebelahnya langsung mengaum, membangunkan teror, menandai awal kengerian.

Pasukan di bawah mereka mulai bergerak.




Siapakah Aira? Apa yang maksud dari penglihatan Remia? Siapakah 'dia' yang dimaksud oleh Asagami dan Mainer, dan apa hubungannya dengan mereka? Bagaimana nasib semua orang?

KENAPA AUTHOR MENULIS ALCEUS ITU GANTENG???

Nantikan ketegangannya dalam chapter selanjutnya... *syuu, angin berhembus*


« Last Edit: May 16, 2013, 12:36:41 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 12: Acronia War (part I)
« Reply #14 on: May 07, 2010, 04:36:45 PM »
Chapter Twelve
~Acronia War, part I~



TS' Notes:
... ini sudah kutulis dengan seluruh perjuangan sampai titik darah penghabisan ;_; Iya iya, lama banget!! Maaf!! Huhuhu. Tapi setidaknya saya tidak lupa T^T Oh, yeah. Ada beberapa chara yang... agak gila. Entahlah, mungkin ini disebabkan karena otak saya sendiri yang sudah sebegitu rusaknya...  hati-hati kalau ikut gila ya... apalagi nanti jika sampai ke part II, uh waw tambah sipps gilanya... YAY FOR MADNESS.

Info ga penting: aku kangen kak sedr5. Jadi, mungkin karena itulah aku secara ga sadar bikin karakternya dia dua-duanya jadi keren. Wkakakak.

Oh iya, di sini saya pakai salah satu organisasi yang saya pakai di fanfic saya yang lain. Apakah itu?! Cari tahu saja sendiri~ Hahaw! Read, enjoy, dan terserah komen atau tidak :D Chapter ini didedikasikan untuk para penggila Migno yang tanpa lelah menyiksa saya untuk update. Especially Athus, kak Al, Salju, ce Sach, Mel... I love you all... in a normal way... not in that way... yeah, definitely in a normal way... BAH SUDAHLAH BACA SAJA.





Ia menggigit bibir. Memejamkan mata. Menautkan alis. Mengepalkan tangan.

Ia mengeluarkan napas. Berat.

“Underground Force,” ucap Remia pelan. Ruangan serentak hening kembali. Jika Remia memanggil mereka dengan nama lengkap ring, maka bisa dipastikan ia akan mengatakan sesuatu yang penting. “Aku akan melakukan voting.”

“Untuk?” tanya Alluminia.

“Perubahan rencana,” Remia berkata singkat, dan tetap tak bergeming ketika ia menerima begitu banyaknya tatapan tajam segera setelah ia melontarkan kalimat tersebut. “Secara pribadi aku berpendapat bahwa rencana yang sekarang adalah rencana terbaik, namun hati nuraniku... tak dapat menerimanya.” Ia mengerling sedikit ke arah Asagami. Ketika ia disambut dengan tatapan dingin dari Assassin itu, wanita itu menguatkan dirinya sembari berkata, “Karena itu, jika menurut kalian ada rencana lain yang lebih baik, aku bisa memberikannya untuk kalian. Tapi bisa kujamin bahwa... rencana ini lebih berbahaya.”

Wanita itu membiarkan setiap perkataannya tenggelam di pikiran masing-masing anggota UF dan diserap dalam-dalam.

“Aku mau saja. Bukan hidup namanya kalau tidak ada tantangan,” Gumi tersenyum yakin.

“Ditto, Gumi.” Alluminia melakukan high-five dengan sahabatnya itu.

“Aku juga sama!” ucap Yuki. Alluminia segera mengajaknya berhigh-five juga.

“Tergantung strateginya, Remia. Tapi aku percaya padamu,” Sachiko berkata dengan senyum ceria. Gumi mengacungkan jempol padanya.

“Aku mau-mau saja, tapi... kenapa sih hidup harus dibikin lebih susah?” Mainer menghela napas, dan kakinya langsung diinjak oleh Xylbia (“Aw.”).

“Pokoknya jangan pertemukan aku dengan si Treasure Hunter sok ganteng dan si Cabalist sadis,” Zerou menyatakan dengan suara gemetar, dan langsung disambut dengan teriakan-teriakan Yamabuki miliknya (“Cowok itu jangan jadi penakut dong, meskipun kamu tuh emang om-om jelek yang ketiban sial terus!!”).

“Yang mana saja boleh,” Ciel menjawab, tidak begitu tertarik.

“Kalau kau yakin kami bisa melaluinya... kami pasti bisa melaluinya,” kata Serix, serius. Sementara itu, Kyuu lagi-lagi mencuri permen Snow Drop dari sakunya dalam diam.

Phrite hanya mengangguk-angguk saja, tidak yakin apakah perkataannya akan diterima atau tidak.

“Apapun resikonya, aku siap.” Ramero menyentuh dual gun kebanggaannya itu, memastikan senjata tersebut ada untuk menghancurkan seluruh musuhnya.

Remia mengangguk. Ia menoleh ke arah satu-satunya Assassin di dalam Ring ini. “Bagaimana denganmu... Asagami?” tanya Remia hati-hati.

Untuk sementara, Asagami tidak menjawab. Namun, perlahan ia berbisik, “Aku... egois sekali, bukan?”

Mata Sachiko melebar, dan ia berseru, “Sama sekali tidak!!” Gadis Elementalist itu kemudian berjalan mendekati Asagami dan memberinya senyum menghangatkan. “Malah sebaliknya, Asagami-kun.”

Mainer juga ikut berjalan mendekatinya, dan mengacak-acak rambut kecoklatan milik sang Dominion berpenutup mata Bully Girl Eye Bandage itu. “Kamu benar-benar peduli pada semua orang, tahu nggak?”

“Kalau dipikir-pikir sih, Remia yang egois,” kata Ciel. Yang lain harus memaksa diri mereka untuk melempar pandangan tajam pada Ciel, padahal di dalam hati masing-masing mereka menahan tawa yang hampir meloncat ke mulut.

“Makasih, Ciel,” Remia berkata sambil tersenyum sedikit, sama sekali tidak tersinggung. Malah, perkataan Asagami dan Ciel-lah yang menyadarkannya. “Kalau begitu, kita semua setuju?”

Wanita peramal itu menyapukan pandangannya sekali lagi ke arah para pejuang yang telah merelakan diri untuk ikut terjun dalam perang yang berbahaya ini. Ketika ia melihat wajah mereka mengeras dalam kebulatan tekad, ia mengangguk. Setitik kecil rasa bersalah mewarnai perasaan bangga yang ia pancarkan pada mereka.

“Baiklah. Gumi, aku ingin kamu pergi ke Downtown dan mengatur para penduduk untuk masuk ke ruins ini. Ambil seluruh persediaan makanan dan aturlah mereka untuk perjalanan menuju Northern Ruins.

“Sachiko, ambil 10 Airship dari inventory, kemudian atur para penduduk Uptown untuk berkumpul di East. Tolong evakuasi mereka menggunakan Airship tersebut menuju ke East.” Ia berhenti sesaat untuk membiarkan keduanya menghela napas keras-keras. Ia tahu benar bahwa mengatur ratusan penduduk yang panik untuk berjalan masuk ke ruins merupakan tugas yang sangat berat.

“Asagami, hubungi teman-temanmu di AI. Ya, AI,” ucapnya sedikit tajam ketika ia melihat bahwa Asagami akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. “Kau bersama dengan mereka akan menjaga keselamatan para penduduk yang akan dievakuasi.

“Mainer, tinggal di sini untuk mengatur ‘itu’. Tolong selesaikan sebelum seluruh penduduk terevakuasi.

“Yuki, gabung dengan Eryn. Eryn, hubungi White Church dan katakan bahwa kamu dan timmu yang lain akan ikut membantu dalam perang ini.

“Alluminia, seperti biasa, Time Keeper. Tolong hitung dan kalkulasikan waktu yang dibutuhkan agar seluruh rencana ini bisa berjalan dengan baik. Kuminta kalian semua melapor pada Alluminia kalau terjadi apa-apa sehingga kita bisa melakukan rencana ini dengan efisien.

“Dan terakhir, Ramero, Ciel, Serix, dan juga Zerou,” ia mengangguk pada Zerou yang tampak agak terkejut ketika menerima perintah pertamanya, “kalian akan bertindak sebagai PP. Ambil barang-barang yang diperlukan. Informasi lebih jelas, tanyakan pada Serix,” ujarnya cepat sebelum Zerou akan menanyakan apa itu ‘PP’.

“Ada pertanyaan?”

Gumi mengangkat tangannya dengan wajah masam. “Apa aku juga akan memandu mereka menuju North setelah mereka berada di ruins?”

“Ya. Kau dan Mainer nanti akan dibantu oleh Shaira Frestine.” Terdengar gumaman-gumaman keterkejutan ketika anak satu-satunya dari Walikota itu disebutkan. “Louran telah memastikan bahwa Aira akan membantu kita. Dia akan tiba di sini beberapa menit lagi. Mungkin kalian tak pernah tahu, tapi gads itu merupakan salah satu peminat Ruins yang paling fanatik. Ia hapal dengan peta Ruins... sampai ke utara.”

Hening.

“Tanya saja orangnya nanti kalau tidak percaya,” Remia berkata, tidak sabaran. “Ya, Alluminia?” tanyanya cepat saat sang Alchemist tersebut meninjukan jarinya ke atas.

“Apa aku boleh ikut membantu pekerjaan Sachiko di Uptown? Hanya supaya aku tidak menderita karena rasa bersalah. Jadi Time Keeper memang keren, tapi sama saja aku tak melakukan apapun.”

Remia tampak berpikir sejenak. “Baiklah. Tapi usahakan jangan bertemu dengan musuh... Eryn, bisakah kau mengawasinya?” Eryn mengangguk cepat, dan melempar pandangan tak setuju pada kakaknya. Bagaimana kalau ia kehilangan kakaknya di tengah perang ini...?

Kali ini ganti Ramero yang mengangkat tangan. “Apa yang kita lakukan setelah seluruh penduduk terevakuasi?”

“Jalankan kembali rencana sebelumnya.”

Sebuah tangan terangkat lagi ke atas setelah Remia menjawabnya. Remia itu menahan napas.

Phrite.

“Apa tugasku?” tanyanya, kebingungan.

“Kamu...” Ia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri di tengah keheningan yang melanda mereka. “Kamu... err... temani Mainer.”

Machinery yang disebutkan itu tersedak ludahnya sendiri. “Temani aku?” tanya Mainer tak percaya. “Bukannya—“

“Ya, temani dia,” Remia memantapkan nada suaranya. “Bantu dia juga. Yang dikerjakannya benar-benar susah. Setelah selesai, kalian berdua dan Gumi akan memberitahu Shaira tentang segala sesuatu yang harus diketahuinya. Setelah itu, pergi dari Ruins.”

“Tapi, Remia—“

Benar-benar susah,” ucap Remia dalam nada final. “Nah, ada pertanyaan lagi?”

Semuanya menggeleng. Beberapa melemparkan pandangan kasihan kepada Phrite, termasuk Remia (meskipun sembunyi-sembunyi), namun sang gadis Farmer itu hanya diam saja dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Bagus. UF, samakan jam kalian. 10.44. Dalam waktu... 30 detik, kalian serempak akan bergerak.”

Semuanya mengecek jam tangan mereka, termasuk trio yang baru masuk ke dalam Ring tersebut. 20 detik...

“Phrite, jangan khawatir, kami pasti cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan kami dan langsung menemuimu,” Yuki berbisik padanya.

15 detik.

“Tugasmu pasti lebih menyenangkan dari tugas kami,” kata Zerou, meyakinkan Phrite.

10 detik.

“Tak apa. Kalian fokus saja pada tugas kalian. Jangan pedulikan aku.”

5 detik.

Yuki dan Zerou saling melempar tatapan bersalah setelah mendengar betapa datarnya nada suara Phrite.

1 detik.

Suara Remia menggelegar.

It’s time. GO, UNDERGROUND FORCE!

***


“Nah, em...” Mainer menggaruk kepalanya tidak yakin. Seluruh anggota lain telah menghilang, termasuk Remia sendiri, meninggalkan Mainer hanya berdua bersama Phrite. “Hei, Phrite.”

Gadis itu tak menjawab.

“Woi. Halo?!”

Phrite tersentak. “Oh, yeah. Kita kemana sekarang?”

Mainer menaikkan alis sesaat melihat kelakuan Phrite, namun kemudian tersenyum miring sambil berpikir. “Kau akan membantuku mengambil barang-barang yang belum sempat kuambil untuk menyelesaikan ‘itu’... aku meninggalkannya di West Vending Shopkeeper. Ambilkan ya?”

“Baik,” jawabnya dengan nada yang tidak bersemangat. Phrite bahkan sama sekali tak mempertanyakan apa yang dimaksud dengan ‘itu’. Meskipun Kyuu—yang sedang bergelayut di kepalanya—sudah berusaha menghiburnya, namun ia tetap merasakan perasaan yang agak aneh, perasaan tidak enak seperti membebani paru-parunya. Jadi, begini ya rasanya kalau seseorang merasa tidak berguna? Phrite menghela napas berat. Ia kemudian beranjak pergi dan—

“REMIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

—jantung Phrite serasa copot dari tempatnya ketika ia mendengar suara cempreng penuh keceriaan, disusul suara gedebuk kelontangan. Mainer bahkan hampir berpikir untuk menutup telinganya dengan tang yang berada di tangan kanannya. “Woi, siapa itu teriak-teriak?!” serunya jengkel.

“Akyu,” orang itu berkata seakan hal itu adalah hal yang paling jelas sedunia.

“Siapa itu akyu?” tanya Mainer kesal.

“Kamyu ya kamyu. Kalau akyu sih akyu.” Entah kenapa suaranya jadi makin imut dan makin menjengkelkan bagi Mainer.

“Bagh! Bukan ituuuu!” Mainer menarik rambutnya sebagai tanda kefrustasian. “Siapa namamu, maksudku!”

Mendadak suara itu menjelma menjadi suara seorang gadis muda periang. “Oooh... ini Aira,” jawabnya, dan melangkah menuju cahaya untuk memperlihatkan seorang gadis Emilian yang berwajah ceria. Rambutnya yang berwarna cokelat ditata dengan sebuah pita merah besar, gaunnya terlihat semarak berwarna ungu berbordir emas berkilau. Sebuah boneka kelinci dipeluk erat di satu tangan.

Gadis yang bernama Aira ini berjalan mendekat. Aneh, ketika ia berjalan, seakan-akan bunga-bunga imajiner mekar dan beterbangan di sekelilingnya, sungguh menyenangkan. “Shaira Frestine, tapi panggil saja aku Aira! Salam kenal ya!” salamnya hangat.

Mainer, entah kenapa, jadi sangat salah tingkah. “O-oh, Aira toh, ternyata?” Ia menggaruk bagian belakang kepalanya dalam usaha untuk meniadakan rasa malu yang mulai mengancam untuk menebar semburat merah di pipi. “K-kamu ternyata cantik, ya. Aku tak tahu kalau tadi itu kamu, maaf ya. Oh iya, er... namaku Mainer,” tambahnya, tak yakin.

“Uuu, bisa saja, Mainer-san!” Aira tersipu malu. “Kuharap kita bisa jadi teman baik! Dan kamu pasti Phrite, kan?” tanyanya, sambil menoleh pada gadis di sebelah Mainer.

“Iya, salam kenal,” Phrite melambaikan tangan, sambil memaksa tersenyum.

“Jadi, Aira,” Mainer mengajak bicara Aira dengan antusiasme berlebih, “kau mau berkeliling dulu, atau melihat-lihat? Kalau kau suka robot, nanti kuperlihatkan mainan keren...”

Selagi Aira merespon dengan antusiasme yang sama, Phrite menghela napas. Tak ada alasan bagi Phrite untuk tetap tinggal dan mengganggu saat-saat gombal si Mainer, jadi Phrite mendekati sang Machinery dan berbisik pelan, “Mainer, aku akan mengambil barangmu yang ketinggalan.”

“Yo...” jawaban Mainer seakan datang dari dunia yang jauh. Rupanya si pemilik suara tak bisa fokus pada satu masalah jika ia sedang diserang cinta monyet.

***


“PP itu pengalih perhatian,” Serix menjelaskan kepada Zerou ketika mereka telah mencapai Downtown. Suasana kota bawah tanah itu benar-benar kacau. Serix mengernyit ketika tugas Gumi dan Sachiko kembali terngiang di kepalanya. Dalam hati ia mendoakan... err... kesabaran mereka. Oh, dan keselamatan tentu saja. Tapi menurut Serix, kesabaran itu lebih penting.

“Mengalihkan perhatian? Untuk apa?” tanya Zerou, kebingungan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Langkahnya mengimbangi tempo cepat ketiga anggota Seizure lainnya dalam menuju Uptown.

“Dalam perang ini, musuh juga memiliki kelompok khusus seperti kita,” Ramero berkata sembari mempersiapkan dual gun yang terlihat mengancam. Klak klak! “Kelompok ini adalah pusat kekuatan mereka. Segala robot yang menyerang tempat ini... semua hanyalah pengalih perhatian untuk mencapai sasaran musuh yang sebenarnya.”

“B-begitu...” Masuk akal, sebenarnya. Dalam hati Zerou masih tidak menyangka ia ternyata bisa direkrut ke dalam ring sekuat ini. Beban berat terasa melingkupi pundaknya—kira-kira seberat Catty Yamabuki yang sedang bergelayut di bahunya itu. “Dan, target mereka... adalah?” tanyanya ragu.

Terdengar bunyi ‘clak!’ keras ketika Ciel memasukkan magasin ke dalam rifle miliknya. Ia mengerling ke belakang dan menatap Zerou tajam, sambil berkata, “Phrite.”

Shock tergambar jelas di wajah Zerou. Namun makin lama ia memikirkannya, Zerou mulai paham mengenai sebagian permasalahan yang barusan berlangsung di markas besar ring tadi. Meski ia tak tahu alasan dari kenapa Phrite diburu, namun ia sekarang mengerti kenapa Remia tak ingin melibatkan Phrite... namun, melihat betapa hampanya wajah Phrite, Zerou tak bisa mencegah kekhawatiran yang mulai membayangi hatinya. Gadis itu, sangat mungkin sekali secara tak sadar akan masuk ke dalam masalah.

Mereka akhirnya tiba di pintu masuk Downtown bagian utara. Hanya ada satu kelompok Acronia Knightage di sana, semuanya terlihat santai. Ciel melempar tatap murka pada mereka. Tak ada yang berani menegur sang Titania; semua orang tahu betapa tololnya anggota Acronia Knightage kadang-kadang, apalagi pemula macam kelompok itu.

Diskusi yang menyusul kemudian menghasilkan keputusan tentang posisi jaga tiap-tiap anggota; Ramero dan Serix akan menjaga jembatan utara, dan sisanya akan menjaga jembatan timur.

“Um, kenapa utara dan timur?” Zerou bertanya, tak yakin. “Bukankah serangan datang dari barat dan selatan?”

“Itu disengaja, agar sebagian besar anggota Acronia Knightage terpusat di kedua titik itu. Musuh yang sesungguhnya akan menyerang dari utara dan timur,” Ramero memberitahunya. Astaga, Zerou tak berpikir sampai ke sana. Alhasil ia mengangguk saja dalam diam, sembari memaksa Yoku masuk ke dalam tas pinggangnya lagi.

Setelah suara si Catty kuning itu teredam dibalik tas, sebuah keraguan mengusik pikiran Zerou... lagi. Namun keraguan yang satu ini sungguh membuat hati sang Trader Emilian itu galau. Maka ia pun berbalik, mencari-cari Serix sebelum yang bersangkutan mem-possess Ramero (karena Serix adalah satu-satunya orang yang tidak membuat Zerou merasa seperti anak TK yang dimarahi kepala sekolah). “Serix.” Ragu dan takut tergambar jelas di wajahnya yang menyerempet om-om tua. “Apakah Acronia Knightage mampu menahan serangan ini?”

Serix, yang berwajah serius nan melankolis-pesimistis, hanya mengangkat bahu dengan gamang. “Kita lihat saja nanti, tapi...” ia menghela napas berat, “... secara pribadi, prediksiku adalah besok Acropolis akan sudah tenggelam ke dalam Danau Kaldera.”

Segala warna dalam muka Zerou tersedot habis oleh kengerian. Demi keseimbangan mentalnya, Zerou kemudian melirik ke arah sisa anggota Seizure lain, hanya untuk meyakinkan diri bahwa ketiganya pasti memasang tampang sangar yang menyatakan ketidaksetujuan dengan pernyataan Serix. Namun yang didapatnya hanyalah kerut dahi Ramero yang makin dalam, sayap Dominion Asagami yang makin turun, dan gelagat Ciel yang jelas-jelas tak peduli dengan nasib Acropolis...

***


Bumi bergetar dibawah kakinya.

Angin berdesir menyusuri pori-porinya.

Denting pedang bergema.

Suara teriakan manusia terasa seperti melodi yang indah dalam segala kenikmatan hidup ini. Ia menebas, menusuk, mencincang, sama sekali tak mempedulikan serangan apapun yang dilontarkan oleh lawan tak berguna ini. Tombak miliknya lagi-lagi memotong salah satu organ si Blademaster, kali ini tangan kiri, setelah pergelangan kaki kanan. Sengaja ia memotongnya dengan kasar namun khidmat—agar ia dapat merasakan setiap otot, syaraf, pembuluh darah, dan tulang yang ia cabik.

Ia mengagumi pantulan ketakutan Chaos. He loves chaos. And blood—jangan lupakan itu. Perpaduan antara keduanya membuat dirinya terlarut dalam ekstasi tak tertahankan. Sensasinya memompakan gelombang impuls yang membangkitkan adrenalin, terasa abadi terpatri dalam pembuluh darahnya.

Itulah sebabnya, perang adalah hal yang sangat memabukkan baginya.

“Lemah!” serunya, saat Blademaster yang merupakan lawannya itu terkapar, tak bernyawa setelah menerima Darkness of Night terakhir dari ujung tombaknya. Tawanya berkumandang di tengah perang yang berkecamuk ganas. Ia membiarkan indra penciumannya disentuh oleh berbagai aroma darah yang tergantung di udara. Wangi metalik dari cairan kental berwarna merah itu seakan menyiramnya kembali dengan keinginan tak berujung untuk mencipratkan lebih banyak lagi darah... darah... darah...

Ahh. Perang ini kekurangan satu hal yang sangat berarti. Andai saja musuh terbesarku ada di sini, Dark Stalker itu membatin sambil berjalan pelan di tengah bombardir peluru-peluru Foxtrot dan Guttinger yang melesat di kiri-kanan dirinya. Ia menyentuhkan ujung jarinya pada tombak kebanggaannya itu. Betapa kuat keinginannya untuk menguliti seluruh kulit si Commando yang telah berhak menyandang gelar sebagai ‘musuh besar’ darinya. Ia menjilat bibirnya yang memerah terkena darah dari puluhan musuh yang ia bunuh dengan senang hati.

Meski begitu, ia akui kali ini ia sedikit bosan. Musuh demi musuh kembali tumbang dalam kekejaman tombaknya. Ah, tak adakah musuh yang lebih pantas sedikit? Yang lebih kuat, yang bisa membuat darahnya bergolak seperti ketika ia berduel dengan sang musuh besar dahulu kala... Tunggu. Ada sekumpulan orang di kejauhan... dan ia pun melihatnya. Musuh. Bukan hanya musuh, namun musuh yang ia tahu sungguh spesial. Ia pun menangkap sebuah pemandangan yang menyenangkan: seorang gadis Elementalist berambut hijau yang memegang senjata khas perapal sihir, yang ditemani dengan dua gadis lain yang terlihat sama-sama kuatnya. Ooh, tidak, ia tak gamang meskipun korban selanjutnya adalah perempuan. Ia tak membeda-bedakan antara pria maupun wanita... ia adalah pria baik-baik yang menginginkan darah, itu saja! Ia sama sekali tidak pilih-pilih korban. Karena, pria ataupun wanita, semua memiliki hak yang sederajat, bukan?

Ragestor, di tengah kegilaannya dalam perang ini, melangkah menuju Elementalist musuh yang terlihat tegar dibalik beberapa dinding batu yang mulai menghilang. Senyum yang merekah di wajahnya menandakan bahwa ia akan begitu menikmati pertarungan ini.

***


Menaiki sebuah piramida yang tersusun dari enam ekor naga? Cek. Seember Pet Food yang dijanjikan untuk masing-masing naga? Cek. Pengeras suara merek TOA? Cek. Wajah imut nan centil yang selalu unyu untuk sekarang dan selamanya? Double check.

“BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, DAN SAUDARA-SAUDARI PENDUDUK DOWNTOWNKU YANG TERSAYANG DAN DIBERKAHI DEWA-DEWI TITANIAAAA!!” Gumi berteriak pada TOA tanpa belas kasihan. Hampir seluruh warga Downtown yang sedang merusuh, bertengkar, dan berteriak sekonyong-konyong berhenti saat itu juga. Bahkan ada banyak yang harus dua kali mengecek pengelihatan masing-masing ketika mereka sadar bahwa di pusat Downtown terdapat pemandangan naga-naga melakukan susunan piramida dengan patuh. Otomatis mereka semua mendekat... kebanyakan sambil melongo tak percaya.

Nice, jadi selama ini usahaku dalam melatih naga-naga ini tidak sia-sia,” Gumi bergumam pelan pada dirinya sendiri. Sang Gambler bersurai pirang seleher itu kemudian mengangkat TOA-nya kembali dan melanjutkan, “JADI, SEPERTI YANG KITA TAHU, ACROPOLIS SEBENTAR LAGI AKAN DISERANG. TAPI TAK PERLU TAKUT, KARENA KAMI MENAWARKAN SOLUSI EVAKUASI KEPADA KALIAN SEMUA! AMBIL BARANG BERHARGA KALIAN DAN PERSIAPKAN MAKANAN UNTUK PERJALANAN JAUH SELAMA DUA SAMPAI TIGA HARI, LALU BERKUMPULLAH LAGI DI SINI. PAHAM, BAPAK IBUUUU~?” Gumi menyunggingkan senyum panggungnya yang paling lebar, meski tenggorokannya perih bukan main.

“Tunggu!!” Seorang pria tua berteriak sekuat tenaga, membuat semua orang menoleh padanya. Ia mengacungkan tongkatnya dan menuntut, “Kau akan membawa kita semua untuk kemana? Dan apakah kau bisa dipercaya?!”

“OH, KAMI SUNGGUH TEPERCAYA. KALAU TIDAK, MANA MAU KAMI MENGORGANISASIKAN HAL SEBESAR INI. OH YA, DAN KITA AKAN PERGI KE NORTH KINGDOM MELALUI JALAN RAHASIA~!” seru Gumi. “ADA PERTANYAAN LAIN?!”

Seorang pemuda Titania menyeruak dari kerumunan, dan mulai berorasi, “Kenapa kita harus melarikan diri dari mereka? Aku ingin mempertahankan Downtown, dalam kota ini aku telah dilahirkan dan seharusnya dalam kota inilah aku akan menghembuskan napas terakhir!!” teriak sang pemuda. Gumam-gumam setuju meluas dari antara kerumunan para penduduk Downtown. Gumi menggigit bibir. Ini adalah bagian yang paling penting, sekaligus paling menakutkan bagi dirinya. Ah, tapi bukan Gumi namanya jika ia menyerah...

... here we go.

“Aku mengerti jika sebagian orang ingin tinggal dan mempertahankan kota kelahiran mereka,” suara Gumi yang diperkeras oleh TOA di tangannya itu entah kenapa terdengar melunak, “tapi ingatlah, ada anak-anak dan wanita di sini. Mereka tak perlu melihat perang, mereka tak perlu melihat pertumpahan darah...” di sini ucapannya sedikit tak terfokus, namun sedetik kemudian wajah ovalnya mulus lagi, “dan siapa yang akan melindungi mereka nanti di Northern Kingdom, jika bukan para prianya yang perkasa?” Puitis sedikit, tak apa. Yang penting Gumi berhasil meredakan kerinduan semu para pemuda yang menginginkan sedikit adrenalin dalam perang besar ini. Orang-orang kembali bergumam, kali ini diiringi nada-nada sedih dan realita yang menghadang. Banyak dari mereka membubarkan diri setelah memutuskan untuk mengikuti anjuran kata-kata Gumi.

Gumi mengangguk dan menghela napas, puas. Fyuuh.

“Gumi...”

Segera sang Gambler imut itu menunduk pada sumber suara dari bawahnya, dan mendapati Phrite sedang menatapnya lurus-lurus. “Eh, ada Phrite! Aku keren kan tadi?” Ia memaparkan senyum bangga, meski pipinya merona. Momen tadi itu adalah momen yang sebetulnya sedikit memalukan!

“Iya keren. Meski terlalu puitis.” Gumi tertawa mendengar kalimat Phrite barusan, kebenciannya terhadap puisi itu memang sungguh aneh. “Oh iya, apa kau melihat penjaga West Vending Shopkeeper di antara orang-orang?”

“Orville, maksudmu? Kau ingin aku memanggilkan dia?”

“Eh, tidak juga sih, maksudku, aku hanya bertany—”

“KEPADA AKANG ORVILLE, A.K.A. WEST VENDING SHOPKEEPER~!!” Gumi sudah berteriak-teriak lagi, tak menghiraukan Phrite yang segera menutup telinganya rapat-rapat. “KAU DIHARAPKAN UNTUK DATANG KE SINI SEGERA! KALAU KAU TAK MENAMPAKKAN DIRI DALAM SEPULUH DETIK, AKU AKAN MENYEBUTKAN KEJADIAN PADA MALAM HALLOWEEN DUA TAHUN LALU KEPADA SELURUH PENDUDUK DOWNTOWN!! LALU AKU JUGA AKAN BERCERITA TENTANG TATO GAYFISH MILIKMU—”

“Hah, hah, hah—cukup, tak perlu dilanjutkan, aku sudah di sini!!” cicit seorang lelaki Emilian berambut hijau muda, sambil terengah-engah panik seakan ia telah berlari maraton mengelilingi Guild Palace sebanyak 100 kali. Rona merah di wajahnya hampir persis seperti corak merah permata rubi yang bertengger di tengah turban putih di kepalanya. Lelaki tersebut berusaha mengendalikan laju jantungnya yang hampir copot, lalu menegakkan diri sambil menyipitkan mata ke arah Gumi. “Sumpah, demi apapunlah, kalau kau tidak memiliki alasan yang cukup bagus untuk memanggilku ke sini, kau akan merasakan akibatnya...”

Gumi menunjuk ke arah Phrite. “Bukan aku yang memerlukanmu, tapi gadis cantik di samping kananmu itu! Nah, sekarang, jangan pacaran di depan umum, ya!” Sungguh tak memiliki perasaan, Gumi menumpahkan segala fitnah itu di depan TOA sambil tersenyum inosen.
 
“Gumi!!” Phrite dan Orville sama-sama berseru jengkel. Kemudian, agar mimpi buruk ini cepat selesai, Phrite buru-buru berkata, “Uh, Orville, ya?” Setelah mendapat anggukan dari pria berturban itu, Phrite melanjutkan, “Kau kenal Mainer? Dia memesan sesuatu darimu, dan sekarang ia mengirimku padamu untuk mengambilnya.” Orville mengangguk saja, dan setelah melempar pandangan benci terakhir ke arah Gumi, ia lalu menghilang ke dalam keramaian.

Sementara Gumi dan Phrite mulai mengobrol kembali, seseorang di kejauhan tersenyum penuh kemenangan. “Mignonette...”

***


Statistik menunjukkan bahwa Spell User rawan terkena penyakit diabetes. 2 dari 10 pengguna sihir ini bahkan meninggal karena penyakit yang sama.

Uh. Bukannya Sachiko takut sih. Hanya saja, kalau nanti Sachiko terkena diabetes—yang pastinya disebabkan gara-gara terlalu banyak memakan Magic Candy—rasanya itu akan kedengaran tidak keren sama sekali. Ah~ kenapa para pejuang dunia Emil harus memikul bahaya dalam setiap tindakan yang dilakukan, bahkan sampai ke kegiatan yang tidak penting semacam memulihkan energi? Hukum ini pun bahkan juga berlaku pada para petarung yang lebih memilih pertarungan jarak dekat. Hanya saja, mereka tidak perlu takut terhadap diabetes... karena mereka memiliki musuh yang lebih parah: obesitas. Bayangkan, harus memakan sandwich terus menerus hanya karena energi mereka habis untuk mengeluarkan jurus-jurus aneh. Aaaah~ mimpi buruk, mimpi buruk! Setidaknya Magic Candy itu manis. Dan Marshmallow. Dan Jam. Dan 100% Fruit Juice.

Mmm, Fruit Juice~

... hei, hei, kenapa pikirannya melantur begini? Balik bekerja!!

“Ya, ya, silakan naik~ antri ya, ibu dan bapak~ utamakan wanita dan anak-anak~!” Bibir Sachiko terasa pegal karena senyum a la salesgirl andalannya diplester ke mulut selama beberapa jam. Yah, tapi ini lebih baik sedikit daripada nasib partnernya yang satu itu. Sachiko tahu bahwa sekarang Gumi mungkin sedang kesusahan mengatur parade naga atau apalah untuk mengalihkan atensi para penduduk Downtown dari mencuri barang milik tetangganya sendiri. Uu, kasihan memang, bekerja sendirian tanpa teman. Setidaknya ia ditemani oleh Alluminia, meski sejak awal Sachiko dengan jelas menyatakan bahwa ia tak butuh bantuannya. Bukannya ia berniat mengkasari si gadis manis itu, hanya saja Sachiko sangat setuju dengan kekhawatiran Eryn.

Time Keeper adalah pekerjaan yang membutuhkan kalkulasi serta perhitungan yang matang. Ia bertugas untuk menghitung segala waktu yang diperlukan agar rencana mereka dapat berjalan dengan lancar. Seperti misalnya, mengkalkulasi waktu yang tersisa sebelum para robot musuh mendobrak pertahanan Acronian Knightage. Atau berapa lama lagi sebelum para robot tersebut bisa menembus pertahanan AI dan para Vates serta Druid dari White Church yang berjaga di sekitar Sachiko, sementara ia sendiri membimbing ratusan penduduk Uptown untuk dievakuasi ke Fareast. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya gampang membuat seseorang yang mentalnya tipis jadi depresi seketika. Meski Sachiko tahu bahwa Alluminia adalah gadis tangguh dengan otak yang brilian, tapi tekanan sebagai Time Keeper pasti akan membuat ketahanannya patah juga nanti—

“Hei kau!! Jalanmu seperti kura-kura, kau ini Dominion atau bukan?! Om, nggak usah genit-genitan sama anak tetangga sebelah, kau bisa memuaskan hasrat pedofiliamu itu nanti jika kau selamat!! Kalau kau tidak naik sekarang juga, aku akan menyiksamu sampai kau lebih memilih untuk mati ditangan musuh... Hoi, mas yang disana! Kita tak punya waktu untuk menunggumu membaca majalah Playboy!! Dasar kelinci murahan!! Bah, kalian semua merangkak seperti Crawler kebanyakan Kitin... kita hanya punya waktu lima belas menit sebelum robot itu mendobrak gerbang Uptown, paham tidak sih?! KALAU TAK MAU MATI DIBAKAR ROBOT, YA CEPAT NAIK DONG!! DUH!!”

—oke... mungkin tidak.

“A-Alluchan... sabar...” Sachiko sweatdropped, setelah ia menenangkan seorang Titania kecil yang ketakutan karena ledakan-ledakan kemarahan Alluminia.

“Kita tak punya banyak waktu lagi, Sacchi!” Wajah Alluminia memerah seperti apel, kejengkelan dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. “Acronian Knightage itu tak becus! Sudah kubilang, lima belas menit lagi mereka pasti menembus Uptown. Padahal dari sepuluh Airship kita, hanya enam yang sudah berangkat...”

“Hanya kurang dua lagi, Kak Nia,” Eryn ikut menenangkannya. Harpanya tak pernah lepas dari kedua tangan mungilnya, melodi-melodi dipetik dengan lihai untuk menenangkan semua orang. “Dua Airship sisanya akan kita pakai sendiri nanti...”

“Itulah yang kukhawatirkan. Sampai sekarang para anggota Seizure belum ada yang datang,” Alluminia berkata sambil melempar pandang tajam ke utara, daerah Uptown yang paling sepi dibanding tiga daerah lain. “Kurasa... musuh telah menemukan mereka, jika sampai memakan waktu selama ini!”

Terdengar dentum di kejauhan, membuat bumi di bawah kaki mereka bergoyang. Dari arah Uptown Barat, asap membubul tinggi. Desing dan rentetan tembakan robot membahana dari arah Barat. Mendengar itu, Sachiko bisa merasakan darahnya mendingin, sementara wajah Eryn makin pucat. Alluminia bersumpah-serapah sekeras yang ia bisa. “Ini tak mungkin! Aku sudah memperhitungkan segalanya, bahkan sampai ke menitnya... tak mungkin robot-robot tolol itu bisa menembus Acronian Knightage secepat ini! Apa jangan-jangan AK itu memang selemah yang Ciel kira...?”

Sachiko dan Alluminia semakin terburu-buru dalam menyuruh para penghuni Uptown itu pergi. Untunglah mereka juga berpikiran sama, maka dalam sekejap satu Airship telah terisi penuh dan siap untuk diterbangkan ke Timur. Namun semakin lama, suara perang semakin mendekat, membuat mereka semua hampir panik. Bahkan suara harpa Eryn dan beberapa Bard lain yang ikut membantu pun tak mampu meredakan kekhawatiran mereka.

Tak beberapa lama kemudian, muncullah robot-robot pertama dalam jarak pandang Sachiko. “Oh, tidak,” Sachiko bergumam ngeri, meski dalam hati ia bersyukur bahwa para anggota AI telah siap. Gabungan kekuatan anggota intelejen rahasia dan para Vates serta Druid dari White Church rupanya mampu menahan gelombang demi gelombang robot raksasa yang berusaha merangsek maju mendekati tempat dimana Sachiko berada.

Namun tak ada yang bisa mempersiapkan mereka semua ketika sebuah ledakan besar terjadi di dekat mereka. Dan sungguh mengerikan, ledakan itu mengenai Alluminia, yang langsung menghilang tertelan debu kecoklatan raksasa. Segera, kepanikan menjalar di antara sisa-sisa penduduk Uptown yang belum terevakuasi. “Harap semuanya tenang!!” Sachiko berteriak, meski nadanya bergetar. Alluminia terkena ledakan!! “Eryn-san, tolong periksa Alluchan! Aku tak bisa meninggalkan para penduduk Uptown!!”

“Baik!” Secepat kilat Eryn berlari menuju tempat dimana kakaknya barusan berada. Hatinya seakan dibetot oleh es ketika melihat kakaknya terbaring di tanah. “KAK NIA!!” Ia tiba di sampingnya dan segera mengecek keadaan kakaknya. Untunglah, ia masih h-hidup...

“T-tak apa.. aku hanya p-pusing...” Dengan segera secercah cahaya kebiruan turun ke Alluminia, melingkupinya dengan sinar hangat yang menyembuhkan. “Terima kasih, Eryn.”

“Lebih baik kita bergabung dengan Sacchi,” Eryn mengusulkan. Alluminia mengangguk, dan tanpa basa-basi lagi mereka berdua beranjak pergi menuju Sachiko. Sang Titania pengendali elemen itu rupanya sudah hampir menyelesaikan tugas, hanya tinggal beberapa orang lagi yang harus menaiki Airship terakhir sebelum para penduduk Uptown selesai pergi.

“Yokatta, Alluchan!!” Sachiko terdengar hampir seperti menangis. Terdegar ledakan kembali, namun kali ini Sachiko siap. Beberapa tembok batu yang kokoh melindungi mereka dari ledakan, yang entah kenapa makin mendekat dan mendekat...

Setelah beberapa saat, Sachiko membiarkan tembok batunya menghilang sembari bersiap untuk bertarung melawan para robot. Ia menyipitkan mata, mencari-cari dalam keburaman debu tebal yang merisaukan hati. Mendadak tenggorokannya tercekat begitu melihat sosok hitam yang mendekat. Iris jamrud cemerlang milik Sachiko berkilat, tangannya makin erat menggenggam Tiny Rod yang menjadi senjata andalannya. “Kurasa, aku tahu kenapa perhitunganmu meleset, Alluchan,” Sachiko bergumam dengan nada tenang yang dipaksakan. Meskipun begitu, tak ada yang bisa memendam kengerian yang merayapi tengkuknya.

Di antara debu yang beterbangan, berjalanlah seorang pria dengan jubah Dark Stalker penuh dengan bercak darah. Garis wajahnya keras, dengan iris mata yang membara seperti api di belakangnya. Wajah itu... wajah itu terlalu familier. Dari cerita-cerita, dari desas-desus. Bahkan, dari pengakuan dan kisah Ramero sendiri, yang merupakan satu-satunya orang yang selamat setelah berduel dengannya. Tidak, orang di depannya ini bukanlah manusia—ia adalah monster.

“Ragestor...”



Oh my God, Ragestor keren.

... krik, krik, krik...

Siapa orang gaje yang mengatakan judul fanfic ini tadi? Bagaimanakah nasib Mainer, apakah nanti dia bisa nembak Aira? Lalu yang paling penting, BAGAIMANAKAH NASIB SACHIKO, ERYN, DAN SI GADIS IBLIS?!?!

Yang bisa saya janjikan adalah... part dua lebih gila daripada part satu. Nantikan kelanjutan Mignonette, hanya di forum kesayangan Anda!!
« Last Edit: May 16, 2013, 12:37:12 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 12: Acronia War (part II)
« Reply #15 on: June 24, 2010, 12:59:37 PM »
Chapter Twelve
~Acronia War, part II~



TS' Notes:
(0) Part 2 dibagi lagi, jadi nanti ada part 3. /melayang
(1) Fitur chat Ring dihilangkan dari fanfic ini. Kenapa? Karena cucyah, dan plotnya bakal gampang kalo ada chat Ring /digeplak
(2) Kalau nemu ada segi teknis skill yang salah, misalnya kenapa Salvation Aura bisa ngeblok skill yang bukan physical atau apalah, mohon saya dikasihani karena saya sudah lupa detil game ECO T_T
(3) Mati = pingsan, ress = bikin siuman. Ya iyalah masa’ bisa mati-hidup-mati-hidup. Dimana dramanya, kalau gitu? /SPOILER
(4) Percakapan radionya emang sengaja salah. Kenapa? BIKOS I SAY SO. /nangis

Right, so, on with the story! Minta kritik dan saran, suwer, I need it like my plants need water. Thanks for putting up with me, the worst author in the world :cry:



Sandwich itu tergantung di mulutnya, menunggu untuk dikunyah, selagi ia melontarkan peluru terakhir kepada robot kesembilan belas. Segalanya terasa kosong saat ia memandang robot itu terjatuh di rumput, tak berdaya menghadapi serangan dual gun miliknya.

Ia menemukan pikirannya melantur dan berpindah-pindah dengan cepat, pergi dan kembali. Dadanya kembang kempis dalam hela napas berat, sementara ia merenung. Berfokus, kini, pada diri sendiri. Pada pekerjaannya; Commando, eh? Ia memandangi tangannya, tangan yang sudah membuat berbagai jiwa terlepas dari tubuh mereka. Termasuk manusia. Sayang, ia tak lagi peduli untuk menghitung jumlah nyawa yang dicabutnya setelah mayat kesepuluh. Tak mampu, untuk peduli.
 
Commando. Dilatih untuk membunuh; suatu hal yang tidak manusiawi. Jika begitu, apakah ia masih bisa menyebut diri sebagai ‘manusia’ lagi? Hmm, mungkin tidak. Menurut Elementalist yang satu itu, kalau ia melakukan sesuatu yang tidak manusiawi, berarti dia sudah bukan manusia. Betul, ‘kan?

Tawanya hampir melompat keluar. Kenapa ia jadi teringat padanya, di tengah kecamuk perang? Garis hidup dan matinya sedang dipertaruhkan, dan ia malah membiarkan otaknya berada di luar fokus. Bisakah ia memanggil dirinya seorang tentara?

Lelaki itu menelan sisa sandwich itu ke dalam kerongkongannya, merasakan tenaganya perlahan naik kembali. Perang sudah melebar hingga mencapai North dalam waktu singkat. Rupanya pertahanan West sepertinya kurang kuat. Hatinya miris membayangkan betapa banyak nyawa yang meninggalkan dunia ini, meninggalkan berbagai orang yang dicintai. Tanpa sadar ia menggeleng. Perlukah perang ini ada? Perlukah orang seperti dirinya ini ada?

DHUAR!!

Untunglah ia reflek menghindar tepat sebelum peluru timah raksasa itu mendorong otaknya keluar dari kepala. Guttinger, tebaknya. Monster manalagi yang mampu menembakkan misil seberat dua kilogram?

“Gotcha.”

—sial.

Sang Commando hanya mampu melindungi kepalanya dengan lengan. Dengan segera ia merasakan panas yang menyakitkan ketika kulitnya terkoyak, hasil dari sambaran sebuah cambuk. Cambuk... duri ini, duri Momo Whip. Treasure Hunter? Ia menyipitkan mata untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang lawannya. Perawakan sedang, dada bidang dengan bahu tegap, rambut emas—

“Commando, ya?”

—dengan suara yang terdengar sangat, sangat menyebalkan.

“Ramero, kutebak.” Orang itu menyungging senyum culas; cocok sekali dengan lekuk wajahnya yang tirus dan tajam. Di belakangnya, berdirilah Guttinger bercorak terang yang barusan menembak sang Commando. Robot itu nampak menjulang dengan corong meriamnya yang mengancam.

Commando berambut coklat itu perlahan menegakkan diri. Tangannya terangkat untuk mendorong Receiver-nya lebih jauh melekat ke wajah. “Treasure Hunter...” ucapnya pelan, sebelum memiringkan kepala dan tersenyum meminta maaf, “... siapa, ya?”

Senyum pemuda bersurai emas itu kini berubah masam. “Kau hidup di gua sebelah mana? Aku ini terkenal. Apalagi aku sudah bersusah-susah menghapalkan job dan namamu. Setidaknya balaslah dengan kebaikan—”

Namun sebelum kalimatnya selesai, cambuknya telah terangkat secepat kilat menuju si Commando. Hanya dengan disiplin tentara ia mampu menyadari serangannya, sebelum cambuk itu lagi-lagi mengoyak kulitnya. Treasure Hunter ini cukup pintar berstrategi juga. Mengecoh lawan dengan ucap panjang. Si Commando kini merasa bodoh bahwa ia telah termakan perangkapnya. Tanpa membuang waktu ia pun segera membalas dengan tembakan beruntun dari kedua pistol di tangan—

DHUAR!!

Rupanya Guttinger di belakang Treasure Hunter itu kembali meluncurkan misil ke arah Commando, dan robot itu kali ini mengenai targetnya dengan akurat. “Bulls eye!” Samar-samar terdengar kekeh puas dari balik asap ledakan. “Ada apa ini? Kau tak bisa berkonsentrasi karena aku terlalu tampan?” Namun tawanya perlahan surut ketika asap tersebut menghilang dan memperlihatkan sosok berbalut Guerilla Jacket yang terlihat... sama sekali tak terluka. Memang, jelas sekali terlihat bahwa Commando itu jatuh terduduk hingga menabrak pohon, namun selebihnya ia sama sekali tak cedera.

“Maaf,” ucapnya sambil mengertakkan leher dan bangkit berdiri, “kau bilang apa tadi?”

Mata lawannya menyipit, dan sepersekian detik kemudian Guttinger di belakangnya kembali menembaki lelaki berambut coklat itu dengan membabi buta. Meski demikian, sang Commando tak membuang waktu untuk menggunakan teknik Cloaking kembali, membuat sang Treasure Hunter menyumpah. Mata emasnya berkilat kesana kemari, mencari. Mendadak, ia sadar bahwa pertarungan mereka telah bergeser ke tepi hutan. Hal ini membuat sang Treasure Hunter menjadi lebih marah, dan... nampak lebih waswas. Ada alasan tersendiri mengapa Commando disebut jenius dalam perang gerilya. Lelaki itu bisa berada di mana saja—dan hutan adalah habitat natural mereka.

Aw, sial.

“Pengecut!” serunya lantang, rupanya ia sama sekali tak berkaca bahwa membawa Guttinger untuk melawan seorang Commando juga dapat dimasukkan dalam kategori ‘pengecut’. “Keluar kau sekarang!”

Sunyi, hanya terdengar dentum ledakan samar di Acropolis kejauhan. Pemuda berambut emas itu menajamkan pendengarannya dan memusatkan perhatian ke arah hutan. Derap langkah, apapun, ia harus bisa menangkapnya. Apapun!

Sayang, ia tak melihat ke arah... belakang.

DHUAR! DHUAR! DHUAR!

Ledakan-ledakan barusan terdengar sangat berbeda dari suara rudal Guttinger. Terdengar sepert granat lempar... granat lempar!? Secepat kilat Treasure Hunter itu berbalik dan bersiap untuk menahan serangan, namun langsung tertegun begitu melihat bahwa Guttinger-nya telah jadi besi rongsokan di tanah. Di belakang Guttinger tersebut, sang Commando nampak berdiri tanpa dosa sambil mengecek magasin pistolnya seakan tak terjadi apa-apa.

Treasure Hunter berambut emas itu mengertakkan gigi. “Kau...”

“Commando lahir untuk berperang,” ucapnya sambil mengangkat bahu. Ia memasukkan slot magasin baru ke dalam pistolnya dengan bunyi ‘cklak!’ keras, lalu mendongak untuk bertatapan dengan lawannya. “Dan sayangnya, keberuntungan Treasure Hunter-mu itu tak berlaku dalam peperangan ini.”

“Benarkah?” tanyanya dengan seringai tipis yang lancang. “Dari sekian banyak Commando di Acronia, aku bertemu denganmu, Ramero yang hebat dan terkenal. Kau tahu apa artinya itu. Kerahasiaan Underground Force sudah tercabik.”

Untuk pertama kalinya dalam pertarungan itu, topeng sang Commando retak. Commando itu—Ramero—menghembuskan napas berat dengan emosi. Kerahasiaan mereka sudah hancur. Bagaimana bisa? Bahkan identitasnya sendiri sudah diketahui. Siapa lagi yang mengetahuinya? Apakah semua identitas anggota ring ini telah berhasil diketahui? Sejak kapan mereka tahu?

“Dan kau masih tak tahu siapa aku!” Pemuda itu menggeleng, membuat helai-helai emas rambutnya ikut melambai. “Kau tahu, aku benar-benar sakit hati.”

Tanpa menunggu aba-aba, ia melontarkan diri ke arah Ramero dan melecutkan cambuknya dengan ganas. Segera, keduanya kini terbawa dalam irama pertarungan antara cambuk dan pistol. “Ayo, siapa aku?” tanyanya berulang-ulang, meski mereka berdua tahu bahwa pertanyaan tersebut tak membutuhkan jawaban. Pemuda itu menggunakannya untuk mengalihkan perhatian—dan agaknya berhasil, karena nadanya luar biasa menjengkelkan.

Ramero menunduk menghindari salah satu serangan Whiplash miliknya yang mematikan. Meski ia lihai menghindari serangan, beberapa kali cambuk sialan itu mampu mengenai dirinya. Namun Ramero juga tak kalah brutal dalam menyerang; sudah satu slot peluru habis ditembakkan pada sang Treasure Hunter berambut emas itu. Anehnya pemuda ini seolah badak berwujud manusia. Dia... baiklah, dia ini kuat. Ramero mengakuinya.
 
Hm...

Sayang, dalam ketergesaannya mengatur strategi, Ramero tak sadar bahwa ada salah satu sisi tubuhnya yang terbuka untuk serangan. Dan lawannya itu tak segan untuk segera memanfaatkannya—“Weapon Flay.”

Dengan sigap Ramero menghindar, namun ia tak cukup cepat. Tebasan cambuk itu mengenainya dengan telak hingga membelit tangan kanannya. Terjadinya hanya dalam sepersekian detik; Ramero mengerahkan segenap kekuatannya untuk melepaskan diri, kelebatan senyum sang Treasure Hunter yang lelah namun puas, dan suara kebebasan Ramero yang menghentak keras. Brett—KLAK!!

Commando itu berguling menjauh, dengan cepat mengecek keadaannya sendiri. Beruntung, dual pistolnya tak jadi dimaling. Tidak beruntung, ia bisa merasakan perih pada tangan kanannya—tulangnya bergeser dan terkilir.

“...”

Ini tidak baik. Tangan senjatanya lumpuh. Seharusnya wajah Ramero tak menunjukkan ekspresi apapun, namun pemuda itu terlihat sangat puas sekali. Ia kini berkata, dengan congkak, “Baiklah, kuberi kau petunjuk! Aku yang mengalahkan Zerou.”

Mulut Ramero terbuka sementara pemahaman merasuki kepalanya. Zerou? Lawannya adalah... ah, ya, pria cantik bernama Alceus. Ramero pernah melihat fotonya. Pantaslah. Rupanya Alceus ini terlihat lebih menyebalkan jika ditemui dalam dunia nyata. Melihat perubahan wajah Ramero, Alceus jelas-jelas senang tak alang kepalang. “Aha! Jadi kau memang mengenalku. Katakan na—”

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Ramero dengan cepat melemparkan Flash Grenade ke arah sang Treasure Hunter. Ledakan keras segera mengepulkan debu dan asap hingga mengaburkan pandang. Dalam elemen kejutan yang makin menipis, Commando itu kemudian sengaja memuntahkan banyak peluru secara sembarangan.

“Kelihatannya kau butuh latihan menembak lagi, Ramero!” seru Alceus di balik asap yang membubung naik. Ia tak tahu bahwa Ramero menyungging senyum miring. Rupanya benar, ia mudah termakan ego. Sejujurnya ia tak perlu menembakkan peluru-peluru Reckless Fire itu, namun ia butuh banyak damage demi menembus kulit badak manusia sialan ini. Maka, kedua pistolnya diselipkan ke dalam sarungnya masing-masing sebelum berlari dengan kecepatan penuh ke arah Alceus.

Mata pemuda itu melebar selama sepersekian detik dan ia berseru, “Whip—”

“Skill combination.”

Secara beruntun, Ramero menghadiahinya tendangan ke tulang kering, sebuah tendangan backflip ke udara, dan hantaman dengan sikut kirinya. “Kurasa namamu berawalan ‘T’,” ucap Ramero pendek, “Tidak penting.”

Dan tinju kiri Ramero menyerang tepat di dagu lawannya dalam sebuah Upper Cut sempurna, membuat Alceus terpelanting jatuh di tanah, hampir tak sadarkan diri.

Ramero menghela napas berat, kemudian mendekati Alceus dengan hati-hati. “Apa Zerou benar-benar kalah darimu?” gumam Ramero selagi Guerilla Boots miliknya makin ditekan ke tengkuk Alceus, “Maaf jika aku menyakiti egomu, tapi kau sama lemahnya dengan Zerou...” Kemudian, ia menendang bahu Treasure Hunter itu agar bisa membuat tubuhnya telentang. Sebelum Alceus bisa menggerakkan satu ototpun, dengan cepat Ramero menempatkan serangan terakhirnya ke titik tertentu di rahang bawah Alceus, hingga seketika membuatnya kehilangan kesadaran.

Dari ketiadaan, mendadak suara Serix terdengar, “Jangan begitu. Kau sendiri bakal mati kena rudal Guttinger kalau tidak ada Salvation Aura-ku, Ramero.” Rupanya ia sedang mem-possess Bead Necklace di leher Ramero.

“Aku tahu. Trims, omong-omong.” Ramero mengernyit ketika mengecek kembali lengan kanannya. Ia butuh sesuatu untuk menyembuhkan cedera... apa stok jus aprikot yang dikirim Shiela masih ada?

Shiela. Elementalist satu itu dalam bahaya. Ramero memandang Alceus dengan dendam yang makin membara.

Serix, yang tak menyadari kekalutan Ramero, hanya menggumamkan ‘sama-sama’ dengan pelan. Ia menyambung, “Zerou pun hanya kurang latihan...” jeda sesaat, sebelum melanjutkan lagi dengan nada menerawang, “... kurasa kalau dunia ini adalah game online, bisa dikatakan perbedaan level mereka masih terlalu jauh.”

Ramero menghela napas. “Baiklah, aku terlalu kejam. Puas?” Nadanya terdengar jengkel. “Aku hanya geram. Jika besok Zerou masih hidup, jangan harap dia bisa hidup untuk besoknya lagi jika dia tak mau levelling dengan intens...”

“Levelling?”

“Katamu dunia ini adalah game online?”

“... Ah.”

Tapi memang, kadang-kadang pada saat tertentu, muncul suatu tulisan berwarna kuning besar jika terus menerus berlatih dan membunuh monster, ‘Lvl up!’ atau apalah tulisannya. Aneh... mungkinkah mereka hanyalah karakter dalam dunia game...?

Sementara Serix terlalu serius memikirkan hal ‘hidup dalam dunia game’ ini, Ramero sama sekali tak memedulikan hal itu. Ia melempar pandang terakhir pada sang lawan yang telah jatuh. Sayang, sebelum ia bergerak, Serix sudah memperingatkannya dengan pelan, “... jangan.”

Jika Sage itu tidak sedang mem-possess Bead Necklace miliknya, Ramero akan memberinya sebuah tatapan kering dalam durasi yang sangat, sangat lama. Serix tahu bahwa sebetulnya Ramero adalah pria yang baik, namun perang memaksanya bertindak logis tanpa belas kasih yang tak perlu. “Dia tahu identitas kita,” ujar Commando itu singkat.

“Kelompoknya pasti sudah tahu tentang kita juga. Membunuhnya tak akan menyelesaikan masalah.”

Sunyi sesaat, sebelum Ramero mendengus keras. “Jika nanti bedebah tengik ini menyebabkan masalah yang lebih besar, aku akan menyalahkanmu.”

“Hah, tidak mau. Salahkan Zerou. Segalanya jadi lebih mudah kalau Zerou yang disalahkan.”

“...”

Ia memastikan bahwa Alceus benar-benar pingsan. Setelah melempar pandangan terakhir kepada si pria cantik itu, Ramero akhirnya bangkit dan meleburkan dirinya sekali lagi dalam keheningan hutan.

***

“Markas, Stealth, Seizure, di sini TK, cek status, ganti.”

-Markas ke TK. Dari 3.210 orang di Downtown, sudah tiga ribu orang yang dievakuasi. Markas out.-

-Stealth-1 ke TK. Posisi di markas. Restok dan regen. Seizure-2 tinggal untuk menjaga area flanking. Berhasil melumpuhkan TH. Stealth-1, out.-

-Stealth-2 ke TK... posisi di West. Intel...- diam sesaat, kemudian suara Asagami muncul kembali, -... sisa musuh, 10 Guttinger E... 7 Fox Trot S5, 13—10 Foxhound S5. Dan, 5 Gigant S6, 10 Guttinger 7. Lapisan 1, 2, 3 hancur. Musuh menembus jembatan. Mohon i—instruksi...- DUAR! -... ganti-

-... Seizure-1 ke TK, masih di posisi. Target belum bergerak. Out.-

-Seizure-2 ke TK, posisi di North. Belum ada musuh. Seizure-2 out.-

-Krssrsrk, krskrskrsrkrrk.-

“... TK ke Seizure-3, cek status, ganti.”

-... D-DEM!! Astaga kenapa aku ditempatkan di sini... rksrkkrrr...-

“Oi, keparat, aku minta status, bukan—”

-krsksrk... ksrsrksrk—ke TK, Sanative-2 ke TK, aw, sori, Allu—ksrsrsk—dia barusan pingsan. Kena misil untuk yang keempat kalinya. Ini Yuki. Eh, Sanative-2. Oke. Er, ganti.-

“Yuki? Kau terpisah dari Sanative-1, ganti.”

-Y-ya, dan- suaranya mati sejenak, sebelum terdengar kembali, -Zerou seharusnya lebih aman di markas, serius, dia ini semacam diberkahi kesialan. Jadi aku menemaninya-

“Cek status, ganti.”

Sunyi sejenak, kemudian dengan suara tercekat, -K-kulihat tadi... Killer Machine, Guttinger, DEM... maaf, visualku kurang. Mereka menyerang lapisan healer. A-aku tadi...- sunyi lagi, kemudian, -kudengar lapisan 1 dan 2 sudah hancur. Gant—er, out. Eh, bilangnya begitu ya? Erm, maksudku-

Jemarinya menekan tombol off tanpa ada keinginan lebih lanjut untuk mendengarkan. Sang Time Keeper, Alluminia, memejamkan mata. Korsase bunga kemuning di telinganya hampir melambai tertiup deru angin. Dari puncak Guild Palace ia dapat mengedar pandang hingga ke tepi-tepi batas utara, barat, selatan, timur. Merasakan, untuk sesaat, sekelebat euforia irasonal seolah ia mampu mengontrol akhir dari perang ini. Namun Alluminia bukanlah tuhan, ia tidak irasional dan jelas sekali kondisi mentalnya jauh dari perasaan euforia. Desir angin kembali berhembus, membawakan dentum ledakan perang dari selatan. Mulutnya terkatup senyap, namun jika kau buka kepalanya kau akan menemukan: otak yang bekerja bagai gasing tak lelah berputar mengabaikan gaya gesek. Angka dan probabilitas ada di genggamannya. Jarak dan waktu bukanlah masalah bagi perhitungannya. Sehingga, menang-kalah dapat dikalkulasi. Menang-kalah dapat distrategi.

Kelopak matanya terbuka. Dan kemudian, timbre sopran yang garang itu berdengung cepat ke dalam Receiver, “TK ke Stealth-2. Instruksi: tahan di sana. Jangan biarkan musuh masuk. Pakai strategi apapun—pengalihan, putuskan jembatan, terserah. Rampok gedung faksi barat untuk restok jika perlu. Jangan. Sampai. Musuh. Masuk. Do you copy?

Detik-detik yang berlalu terasa sangat lama bagi Alluminia sebelum akhirnya suara Asagami menjawab, parau dan agaknya sedikit kering, -Berapa lama, Allu?-

“Ada bantuan dua lapis dari AI dan Guild Palace. Lima belas menit lagi. Bisa?”

-Sepuluh menit maks.-

“Bah, lemah. Buat aku terkejut.”

Sunyi.

-Aku membencimu. Out.-

Gadis Alchemist tersebut memainkan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Tanpa kehilangan momentum, Alluminia kembali berucap ke dalam Receiver, “Scavenger, di sini TK, cek status, ganti.”

-Scavenger-2 ke TK, masih sisa puluhan orang di Downtown. Lima menit maks. Airship menunggu instruksi. Ganti.-

“... Scavenger-1?”

Sunyi. Alluminia menggigit bibir. Apakah Sacchi belum selesai berhadapan dengan Ragestor? Atau apakah dia terlalu sibuk untuk membalasnya? Bagaimanapun, ia tak boleh melepas harapan. Sacchi masih hidup, pasti. Eryn menemaninya, dan Ragestor seharusnya tidak sekuat itu. Alluminia tak memercayai kabar burung.

Yang jelas... Alluminia akan memberikan instruksinya dengan perlahan, agar Sacchi dapat menerimanya meski di tengah kecamuk pertarungan. “TK ke Scavanger-1. East-1 dan East-2 akan menuju posisimu, lima belas menit maks. TK Out. TK ke Scavenger-2, koordinasi dengan East-1 dan North-1 untuk menuju Airship masing-masing. Sisanya akan ku—”

Ia bergerak tanpa benar-benar menyadarinya. Melompat dari ketinggian lima puluh meter, Alluminia dapat merasakan panas dan deru angin bergemuruh di belakangnya. Atap Guild Palace telah hancur berkeping-keping.

Tinggi... jatuh... mati... berbagai pikiran berkelebat dalam otaknya yang mendadak macet, ia tak mampu berpikir. Angin. Tiga puluh lima meter sebelum tengkoraknya pecah. Terbang. Sayap, ia butuh sayap. Nymph—marionette Nymph!!

Tiga puluh meter. Tangannya merogoh tas Hipsack merah jambu yang melingkari pinggangnya, mencari-cari batu jamrud sihir itu. Dua puluh lima meter. Cahaya membuncah dan dari dalamnya muncul Alluminia dalam sosok tubuh kecil, berjubah biru dan bersayap. Lima belas meter. Ia mengepakkan sayapnya kuat-kuat, namun tetap saja tubuhnya bertemu dengan tanah—meski tak separah yang seharusnya. Alluminia jatuh berguling; sayapnya kusut, jubahnya penuh debu, paru-parunya protes meminta oksigen, dan ia masih belum bisa memulihkan dirinya dari rasa kaget.

Apa itu?

“Oh!”

`Oh` mbahmu, batinnya kering. Siapa itu?

“Maaf, kukira tak ada orang.”

Alluminia mendongak. Seketika itu juga, paras Nymph-nya yang semula ayu menjadi layu. Ia mengepakkan sayapnya demi menegakkan diri, agar bisa melihat sosok itu dengan lebih jelas. Rumbai-rumbai renda biru langit, terusan putih dengan pitanya yang senada, rambut biru yang diikat dengan gaya sporty, tulang-tulang wajah yang membentuk mukanya dengan anggun... Eter, Angel of Death.

Hari ini ia tak diberkahi kasih sayang Fortuna, rupanya.

“Hoo, Alluminia?” Wanita itu berwajah terkejut. Ia mengulas senyum mengejek, khas seorang Eter. “Ternyata kamu. Mana adikmu, dia biasanya mengikutimu, kan?”

Benar, dimana Eryn? Apakah ia masih bersama dengan Sacchi? Wajah Alluminia memucat sementara ia memikirkan probabilitas dirinya terlibat dalam pertarungan tak perlu. Ia harus bisa mengalihkan perhatian Druid ini, membuatnya mengejar sesuatu yang lain... apapun, selain dirinya. Dalam hati gadis Alchemist itu setengah berharap Zerou mendadak muncul di sampingnya untuk dikorbankan sebagai sesajen bagi si malaikat kematian ini.

“Eter,” timbre suaranya menjadi begitu kecil dan imut gara-gara Marionette Nymph ini, sialan, “Eryn sedang berada di White Church, kau tahu, membantu teman-teman Knightage. Bagaimana kabarmu?”

Druid itu tertawa mengabaikan sarkasme Alluminia. “Oh, biasa, memikat lelaki, menguras harta mereka, manikur dan pedikur...” Ia mengedipkan matanya yang lentik, “membantu memperlancar jalannya peperangan.”

Sekarang ganti Alluminia yang tergelak. Tawanya begitu centil, asing dan jauh, seakan menjadi penanda bahwa besok pasti hujan akan turun. “Begitu ya? Pihak mana yang kau bantu?”

“Pihak yang menang, tentu saja!” Mereka berdua tergelak. Hingga mereda. Hazel coklat bertemu dengan emerald hijau, dan mereka bergerak hampir bersamaan.

Dengan mulus Alluminia mengeluarkan sebuah sabit raksasa, sementara Eter tak ketinggalan mengeluarkan sebuah harpa kotak berwarna hitam dengan garis kehijauan yang terlihat seakan dibuat dari masa depan. Alluminia, meski bertubuh kecil, mampu mengangkat sabitnya dengan mudah dan mengarahkannya ke Eter.

Namun, “Holy Globe.

Siapa dulu yang pernah bilang bahwa kekuatan surgawi itu nyata dan menyakitkan? Eryn ya? Rasanya Eryn. Apakah sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengaku dosa, untuk membaharui kepercayaannya pada White Church dan Titania? Karena bola putih raksasa Holy Globe rupanya lebih dari menyakitkan, ini siksaan. Kulitnya serasa bersentuhan dengan api cair sementara bola putih itu mendorongnya ke belakang dengan kekuatan luar biasa, sayapnya mengepak lebih kuat namun sia-sia...

“Kak Nia! Holy Shield!!

Mendadak rongrongan Holy Globe kini tak ubahnya diserang sebuah bantal hangat. Dan ketika bola putih sialan itu lenyap, Alluminia berbalik menuju sang sumber suara dan memberikan Eryn seulas senyum lega penuh terima kasih yang mampu ia berikan.

“Ooh, Eryn! Kau akhirnya datang juga.” Eter menyambutnya dengan senyum lebar. Alluminia tak menggubrisnya. Begitu juga dengan Eryn, yang mendekati kakaknya dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Kau tak apa-apa, Nee-chan?” tanya Eryn sambil mendaratkan penyembuhan Goddess Blessing kepadanya.

Alluminia mengangguk dan berusaha berdiri. “Sacchi?”

“Berhasil mengalihkan perhatian Ragestor. Sekarang dia menunggu kita semua di gerbang timur. Tapi, Sacchi agak...” Eryn menelan ludah, kemudian menyergah, “Nia-neechan. Pakailah Veryl.”

Dari balik cahaya berkelap-kelip, Alluminia berubah wujud menjadi tubuh manusianya kembali, namun dengan wajah yang kentara sekali sangat tidak setuju dengan saran adiknya. “Kabur, begitu?” tanyanya dengan alis yang naik, menantang.

Menghadapi kakaknya, Eryn hanya tersenyum lemah. “Pilihan apalagi yang kita punya? West sudah hancur. Sebentar lagi South akan menyusul. Tolong, Nee-chan, kita membutuhkanmu. Kita butuh konsentrasimu. Lagipula, aku cukup kuat kok. Kakak kan sering merodi aku di dungeon, ehe.”

Aku mungkin kejam tapi aku tak akan membiarkanmu mati. Beda dengan si gila itu.” Alisnya berkawin sementara ia menatap Eryn dengan garang. Namun jika dilihat lebih teliti, terdapat seberkas kesedihan yang mendalam di sana. Tak ada pilihan. Tinggal di sini pun, aku tak bisa membantu. Tapi jika aku pergi, Eryn... Mendadak, ucap Asagami terngiang di kepalanya. Alluminia menggigit bibir.

“Lima menit. Beri aku lima menit,” ia akhirnya berkata. Eryn mengangguk, lega, dan memfokuskan pandangannya ke musuh di hadapannya.

“Sudah selesai?” tanya Eter sambil menyembunyikan kedongkolannya karena tidak dihiraukan. “Nah, nah. Dua lawan satu sekarang. Untunglah, kalau tidak aku akan bosan...”

Eryn berpikir keras sementara ia melirik kakaknya yang menatap Eter dengan tajam. Tak hanya tatapannya yang tajam, mulutnya pun bisa jadi sangat tajam. Apa yang kira-kira bisa diutarakannya, yang akan membuat lawannya meledak marah? Alluminia biasanya mahir dalam urusan pancing-memancing emosi, namun jika ia melakukannya maka perhatian Eter akan terfokus pada Alluminia terus-menerus. Kini Eryn yang harus mengalihkan perhatian Eter. Hmmm. Apa ya? Eter kuat dan Eter cantik. Tak mungkin ada hal yang bisa meruntuhkan kepercayaan dirinya...

... oh, iya ya.

“Tante Eter.”

Bak menyiram minyak ke dalam api, efeknya seketika muncul dan meledak membara. “SIAPA YANG TANTE?? ANAK NAKAL! AKU INI AWET MUDA!!” serunya indignan. Di kejauhan, merpati beterbangan.

Menunduk, Eryn nampak benar-benar menyesal. “Aduh maaf... berapa umur tante?”

“AKU BUKAN TANTE!!” Eter mengingatkan dengan agak histeris. “Dan! Umurku dua puluh tahun.” Ia bersidekap dengan congkak.

“Dua puluh tahun selama berapa tahun? Dua puluh lima?” tanya Eryn halus.

“ERYN!!!” jerit Eter lagi.

“Eh, hati-hati, keriputnya nongol...” Di sebelahnya, Alluminia mengangguk puas. Eryn telah tumbuh sesuai dengan ekspektasi dan ajarannya.

Eter rupanya menganggap peringatan Eryn dengan sangat serius, maka ia berhenti menjerit dan hanya bisa mendelik sebatas yang ia anggap aman. Ah, kurang ah. Tambahkan minyak ke dalam api! “Tante kalau beli make-up pasti kiloan ya? Tebel gitu,” Eryn mengerutkan alis dengan khawatir.

“...”

“Pasti belinya di pasar Golem Downtown, cari yang paling murah...”

“Kau tak berubah, ya, Eryn.” Eter menyipitkan mata. “Masih saja lemah... hanya bisa bertarung dan bersilat lidah, tak ingin mengangkat senjata.”

Titania berambut silver itu tersenyum sedih. “Lebih baik lemah daripada jadi pengkhianat, Tante.”

Entah kenapa, Eter malah terbahak-bahak. “Oh! Adik kecilku yang manis, muridku yang lugu, my protégé...

Alluminia membelalak. “Kau menjadi protégé Eter?” tanyanya tak percaya. Eryn menelan ludah, tak mampu menjawab.

Namun Eter lebih dari senang untuk mengonfirmasi pertanyaan Alluminia. “Oh ya, Alluminia! Selama lima tahun. Ia murid yang teladan, sungguh rajin. Membawakan sarapan setiap pagi, membawakan barang bawaanku—jadi babu, istilahnya?”

Ucapan Eter rupanya mengubah raut wajah Alluminia menjadi terbakar amarah. Tidak ada yang boleh membuat Eryn jadi babu orang... selain AKU! batin Alluminia murka.

Eryn, sementara itu, hanya menggeleng lemah. “Aku... seharusnya aku belajar dengan Father Layren...”

“Ah, begitu. Sayang aku membunuhnya. Yang penting Father Layren tak pernah tahu ajalnya datang menjemput, kan?”

Senyum Eter makin lama makin lebar ketika ia menyaksikan wajah Eryn kehilangan warnanya. “T-tante...” Eryn mencengkeram Titania Rod miliknya dengan perasaan kalut. “Jadi mereka benar. Tante memang pengkhianat. Druid pembunuh... kau penipu jahanam!”

“Eryn, aku bukan penipu. Inilah aku! Aku membiarkan mereka menipu diri mereka sendiri.” Eter tersenyum, sambil menatapnya dengan lebih fokus. “Sayang sekali kau bekerja untuk Remia. Kita bisa melanjutkan pendidikanmu jika kau bergabung denganku...”

Mendadak Alluminia berbisik, “Lima menit selesai.” Dalam sekejap, cahaya melingkupi tubuh Alluminia dan mentransformasinya menjadi sesosok marionette lain—Veryl, seperti yang disarankan Eryn. Kristal kemuning itu terbuka, memunculkan tubuh Veryl yang berambut seperti api, dan ia mulai merangkai mantra.

Bahkan Eter pun tahu bahwa ia sedang merapalkan spell Invisible. “Anak nakal! Jangan harap kau bisa pergi begitu saja. Clairvoy—”

Namun mulutnya kehilangan kekuatan untuk berkata-kata. Tanpa diduga, dengan halus Eryn menarik sebilah katana keluar dari dalam Inventory miliknya. Gerakannya anggun, luwes seakan menyatu dengan mata pedangnya yang tajam. Di sebelahnya, Alluminia telah ditelan dalam cahaya mantra Invisible. Memanfaatkan kekagetan Eter, Eryn kembali berbisik, “Pergi, nee-chan.”

Eryn merasakan bahunya diremas oleh tangan kecil, sekecil Veryl yang menjadi wujud Alluminia sekarang. Sejenak Eryn tersenyum, perih, namun hilang dengan cepat. Kemudian ia mengangguk, dan bahunya pun dilepas.

Sekarang, hanya mereka berdua. Bard dan Druid. Light melawan Light.

“Berani bermain dengan benda tajam sekarang?” Eter kini positif menyeringai. “Muridku sudah berkembang pesat...” Entah kenapa, sepertinya ia tak sabar melawan seorang Battle Bard.

“Tante mengganggu,” Eryn menjawab dengan muram. “Seharusnya Tante dicoret dari daftar Vates.”

Eter menggeleng, rupanya menganggap tingkah Eryn begitu lugu. “Ah, aku masih Vates. Aku tidak menyembuhkan fisik. Aku menyembuhkan mental. Kau ingin kusembuhkan, Eryn?” tanyanya dengan manis.

“... kau membuatku jijik, Eter.”

Trang!

Saat itulah Eter tersadar, dalam sepersekian detik setelah ia menahan katana Eryn, bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki sifat berbalik seratus delapan puluh derajat. Eryn... kini bukanlah Eryn.

***

Jika sebelumnya riuh rendah Downtown membuat segala sesuatunya terasa kacau dan acak-acakan, maka kini kedamaian yang kembali ke tempat ini membuat segalanya terasa tidak wajar. Hanya tinggal beberapa orang yang tersisa di sini, mengecek barang bawaan terakhir sebelum turun ke dasar Downtown. Menuju ke tempat dimana Mainer, Aira, dan Phrite telah menunggu, dimana mereka akan memandu berbagai pemimpin kelompok-kelompok kecil untuk melewati Ruins hingga tembus menuju North. Kompas diberikan cuma-cuma dan persediaan dibagi rata. Tak ada yang protes, tak ada yang mengelak. Dengan robot-robot yang tak mengenal belas kasihan, semuanya tahu bahwa pilihannya hanya hidup atau mati terpanggang.

Dan Gumi terjebak di sini, jemu dan makin jemu. Tugasnya sudah selesai dan kini ia ragu. Apakah ia harus membantu kawan-kawannya di atas? Beberapa kali ia melihat, di kejauhan sana, tentara Acronia datang dan membisikkan sesuatu ke sesama teman tentaranya. Mereka berdiskusi kemudian beranjak beridiri dengan wajah muram. Mendekatinya dan memercayakan nasib orang-orang Downtown padanya, setelah itu menghilang ke balik tangga menuju Uptown. Keadaan pasti sudah sangat sangat kacau jika tentara-tentara itu percaya pada seorang Gumi yang bahkan gendernya masih dipertanyakan ini.

... oh ya, bagaimana nasib Alluminia? Segalanya kacau sebelum ia mendapat instruksinya dengan sempurna. Eryn akan mengawasinya memang, tapi... hah, dia tidak bisa bertanya lewat Receiver, kan? Gadis itu selalu mengingatkan dengan ketat untuk jangan bertanya dan hanya menerima perintah. Bukannya arogan atau berniat memimpin, namun ia memang butuh konsentrasi. Gumi sebetulnya setuju saja bila Alluminia berkeliaran di Uptown, memang tugasnyalah untuk mengawasi dan mengkalkulasi waktu mereka. Namun ia sedikit tertulari kekhawatiran Eryn, bagaimana jika... bagaimana...

“Gumi, Gumi.”

Suara seseorang yang sangat dikenalnya membuat Gumi berbalik dalam sekejap dan memunculkan senyum paling manis yang bisa ia berikan. “Oh! Kamu kembali lagi. Ada apa, sayang?” tanyanya kepada Phrite, yang sedang membersihkan jubahnya dari sisa-sisa debu tangga naik ke Downtown.

Begitu mendengar kalimat Gumi, muka Phrite berkeriut seakan menahan keinginan untuk muntah. “... kok kamu memanggilku dengan sayang-sayang begitu...” gumamnya.

Gumi malah hanya tertawa geli. “Hahaha, bercanda kok. Dimana Kyuu? Biasanya dia nemplok di kepalamu.”

“Aira jatuh cinta padanya dan mengklaimnya sebagai bantal pribadi.”

“Waduh... kasihan.” Gumi menggaruk kepalanya. Sudah bukan rahasia lagi bila anak Louran itu hobi barang-barang imut... atau peliharaan yang lucu... Kyuu tentu tak lepas dari ‘target’-nya. “Ya sudah, ada apa, cinta?” tanyanya lagi, dengan kedipan genit.

Meski keinginannya untuk muntah malah makin menjadi, Phrite menguatkan diri dan mengabaikan kejahilan Gumi untuk saat ini. “Um, panggilkan Mr Specialist, bisa?” tanyanya dengan suara kecil, entah kenapa terlihat gelisah sembari melirik ke kanan kiri.

“Bisa dong! Tunggu sebentar, tutup telingamu—” tanpa mengecek jika Phrite mematuhi perintahnya, Gumi segera menaiki tong-tong anggur kosong yang ditumpuk di dekatnya (naga-naganya susah diatur dan akhirnya dilepas Gumi menjadi tumpangan warga Downtown sebelum mereka saling menggigit satu sama lain). Ia kemudian mengangkat pengeras suaranya dan berteriak, “MISTER SPECIALIST! ADA YANG NYARIIN KAMU! WOI, MISTER SPECIALIST MANA SIH?”

“SIAPA ITU, TIDAK SOPAN SEKALI!!” Gelegar suaranya bak halilintar, dan beberapa orang terlihat menyingkir ketakutan manakala mereka menyaksikan seorang pria kekar bertubuh besar, berotot dengan luka yang cukup mengancam di sana-sini, datang dengan tampang seakan baginya ada orang yang layak dikuliti hidup-hidup.

“O, kau akhirnya datang.” Gumi terkekeh senang, senyumnya terangkai lebar. “Nih, ada gadis cantik mencarimu.” Ia menggestur pada Phrite di belakangnya. Anehnya, gadis itu terlihat syok dan hanya bisa mengucapkan sebuah kata yang tak pernah disangka akan didengar Gumi,
 
“Ayah...”

“Apa?” Gumi dan Mr Specialist mengeluarkan kata-kata yang sama, dengan nada yang berbeda.

Mr Specialist yang berkomentar duluan, “Aneh, kurasa aku mendengar Phrite...” Dan kata-katanya terhenti di tengah kalimat, karena detik itu juga Phrite berlari dan menabrakkan diri ke Mr Specialist dengan tangan yang terentang lebar.

“Ayaaaaaaaah!! Aku kangeeeeen...” Phrite berseru sambil memeluk pinggang ‘ayah’nya kuat-kuat. Kekagetan tergambar di wajah keras Mr Specialist, namun sesaat kemudian ia melunak dan mengelus kepala Phrite, membuat gadis itu tertawa penuh rindu.

“Phrite,” nadanya tetap tegas walaupun Mr Specialist berhadapan dengan ‘anak’nya. “Apakah kau sudah mencapai mimpi yang kau inginkan, sehingga kau memutuskan untuk menemuiku di sini?”

Phrite tersipu malu. “Belum...”

Lelaki Emilian di depannya itu menghela napas berat. “Phrite, sudah kubilang, kau harus kuat hati agar bisa sukses! Sebagai anakku, kau seharusnya tahu itu...”

“Tapi aku mengkhawatirkanmu, Yah.” Kata-kata yang keluar dari bibir Phrite entah kenapa terdengar kecil sekali, namun Mr Specialist mendengarnya. Ia menghela napas lagi, kali ini diiringi senyum sedih.

“Yah... kalau begitu ini pengecualian... apapun untuk anakku—”

“INI TIDAK MUNGKIN!!” Kali ini ganti Gumi yang disambar syok menyengat dalam hingga ke akar-akar rambutnya. “Mr Specialist punya anak seunyu Phrite?! Wajahnya, ya ampun, wajahnya saja tidak mendukung, plih des!! Ini skandal! SKANDAL, KUBILANG!!”

Ajaib, sedetik kemudian wajah Mr Specialist diisi kemarahan, persis ketika ia didera defisit beberapa tahun silam. “Dasar Gambler crossdresser!! Diam kau, kalau tak ingin rahasia kecilmu terbongkar!!” sambarnya dengan penuh ludah. Pria besar itu mengacung-acungkan jari telunjuk pada Gumi, sambil masih dipeluk Phrite yang tampaknya sudah terbiasa dengan kemarahannya.

Gumi, sebagai seorang wanita(?) yang memiliki hak-hak kebebasan berbicara, tidak terima bahwa dirinya ditindas oleh kemauan Mr Specialist. “Enak saja kau mengancamku! Aku tak akan beli Forged Pass darimu lagi!”

“Maaf, Forged Pass?”

... tunggu, kenapa mendadak ada om-om penjaga gerbang Uptown di sini? “Eh...” Gumi membuka dan mengatupkan mulut, rupanya kehilangan kemampuan untuk berbicara. Ia pun digiring menjauh untuk diinterogasi.

Sementara itu, Phrite bergumam kecil, “... crossdresser?”

Mr Specialist salah tingkah. “Err, itu makanan khas Ironsouth, kau tahu, sangat tidak enak, begitulah, tak usah dibahas lebih jauh,” katanya cepat-cepat.

Phrite mengangguk saja, mengiyakan. Namun mendadak, ia membelalak oleh sesosok orang di kejauhan. “Oh! Ayah, kurasa aku melihat temanku di sana. Dia pernah menyelamatkanku sewaktu aku lagi hunt.”

“Siapa?” tanya Mr Specialist, ikut mencari.

Sementara bapak-anak itu saling menyipitkan mata, Gumi akhirnya kembali. “Fyuh, hampir saja ditangkap~” Gumi mengusap dahinya dengan lega sementara om-om penjaga gerbang itu terlihat berjalan dengan tertatih, seakan-akan tak mampu menutup kakinya, mencurigakan sekali. “Phrite! Apa kau benar-benar anaknya? Kalau iya, aku maklum saja lah. Kelihatan dari namamu, ‘Phrite’ begitu, nama apaan itu?”

Mr Specialist, masih menyipitkan mata mencari teman Phrite, rupanya tak terima. “Hey, itu nama yang bagus,” ucapnya sambil lalu.

“Fernand! Haii!” Phrite berteriak dan melambai. “Eh, dia cepat sekali datangnya.”

“Fernand—?” Gumi mengerutkan alis. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Nama itu...

Dan ia melihatnya. Dominion berkulit licin. Snorkel menutupi wajahnya dan hanya ada selembar celana renang berwarna merah yang menutupi auratnya. Gumi akan meledak tertawa sampai terpingkal-pingkal jika saja Dominion itu tidak melayang dengan kecepatan penuh ke arah mereka, dengan bantuan sebuah booster, dan meneriakkan sebuah nama—

Mignonette!

“Tid—PHRITE!! MENJAUH DARINYA!”

Teriakan Gumi tenggelam dalam kegelapan. Segalanya hilang, menghitam...

***

... dan kembali lagi dalam cahaya yang membutakan mata.

“Ayah?” adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya, dan Phrite langsung menyesal. Kenapa tanah harus berputar dan bergoyang seperti ini? Pandangannya mirip kunang-kunang di padang, ia seakan berdekatan dengan matahari yang terang benderang. Siang hari, ya? Uptown? Terik sekali... panas...

Phrite mulai bergerak. Merangkak. Meraba-raba sekelilingnya, berusaha keras mencari dan merasakan tekstur pakaian ayahnya. Gundukan besar, apapun... “Dimana... ayah...?”

Ia menyipitkan mata untuk membantu pengelihatan. Ah! Di sana. Rupanya ia sedang tidur menelungkup. “Ayah jangan tidur, dong...” bisiknya lemah. Kenapa ia merasa mati rasa? Kebas sekali. Perutnya sakit, uuh. Oh iya, dimana mereka?

... sedang apa mereka?

“Kita ‘kan... lagi... perang...”

Perang. Otaknya makin berputar. Phrite sangat, sangat ingin muntah. Dan ini bukan karena panggilan Gumi yang menjijikkan... oh. Dimana Gambler itu? Gambler... crossdresser... makanan Ironsouth... dimana Gumi? “Gumi...” panggilanya pelan. Dan, ada satu temannya lagi, bukan? “F-Fernand...”

Ia akhirnya tiba di samping ayahnya. Ayahnya tertidur pulas. Damai. Phrite menelungkupkan tangannya ke atas perutnya dan merasakan sesuatu yang... dingin. Raut mukanya berubah bingung. Dingin... cair. Lengket.

Tangannya diangkat.

Merah.

Darah. Banyak darah.

Sebelum Phrite sempat mencerna apa yang terjadi, kesadarannya hilang dan ia tak ingat apa-apa lagi.




... wat de fak, Miz?
« Last Edit: August 07, 2014, 07:28:39 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 13: Work In Progress
« Reply #16 on: September 22, 2010, 09:55:23 PM »
reserved
« Last Edit: May 16, 2013, 12:42:18 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Mignonette, Chapter 14: Work In Progress
« Reply #17 on: October 18, 2010, 03:28:11 PM »
reserved
« Last Edit: May 16, 2013, 12:41:07 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline tri_p

  • Follower of Songs
  • ****
  • Posts: 379
  • Cookie: 45
  • Gudbai all... ketemu lagi entah dimana entah kapan
    • N/A
Re: [Ongoing] Mignonette ~ ECO Fanfic ~ BIG update [Chapter EIGHT]
« Reply #18 on: January 01, 2011, 11:59:13 AM »
Quote
“Hoo.. Tonic ya.. ternyata kamu selalu bersiap menghadapi kematian,” Alceus mengejek kembali, namun ia tidak menyangkal bahwa ia sedikit gelisah. Kalau ia tidak berhati-hati, mungkin saja salah satu Banishing Blow darinya bisa membuatnya mati, atau lebih parah lagi, pingsan.
pingsan lebih parah drpd mati ya? @_@
Spoiler for Hiden:
klo ga bole post diapus aja :puppyeyes:

[mod]boleh2 aja kok :D silakan post comment lagi kyk biasanya...nanti kalo udah banyak comment baru saia split lagi :D[/mod]
« Last Edit: January 01, 2011, 12:21:56 PM by sacchan_magician »
FreakTriP - Explorer 95/40/50/50 - Righteous Crusade (RC)
Vate - Druid 95/50/50/50 - Amaterasu
DarkVirgo - Striker 93/50/50/50 - The Versailess
OrbZero - DEM 66 - C.Breaker

I'm sorry guys, i can't save you. keeping you in my memory is the least i can do... i'll revive you in another world, if possible...
 :cry:
(last update before "data drain" status....)

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2974
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [Ongoing] Mignonette ~ ECO Fanfic ~ BIG update [Chapter EIGHT]
« Reply #19 on: January 01, 2011, 12:46:43 PM »
eaa, update juga.. untung spawn malem malem dan liat adver. ditulis disitu ternyata  :laugh:
ternyata yang Sachiko >> Sachiho itu maksudnya itu ya, kirain typo... *kembali ngakak*
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince

Recently playing
Closers: Junghwa (Miyeon, Hawthorn, Donghan)