Author Topic: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [end]  (Read 48445 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [end]
« on: April 22, 2010, 06:48:03 PM »
.:Characters:.
Spoiler for Characters:
Alceus - Emilian Ranger (Treasure Hunter) [shinigami_boy]
Rambut pirang keemasan dengan warna mata yang sama. (image)
Easy going, seenaknya, perayu wanita.

Kaistern - Emilian Swordsman (Bounty Hunter) [Colette]
Rambut hitam dengan jaket bulu hitam-merah (image)
Sangat menjunjung tinggi keadilan, namun kadang lupa daratan untuk hal yang menyangkut Latte.

Yust - Dominion Assassin [LouisHuang]
Rambut hitam panjang yang dikuncir ke belakang. (image)
Salah satu Assassin terbaik Acropolis yang selalu mengutamakan misi. Merupakan adik dari Shiki.

Caramel DeLatte - Titanian Vates (Druid) [Colette]
Rambut biru muda dengan rompi biru. (image)
Gadis baik hati yang sedia menolong siapa saja yang membutuhkan.

Magdaleine - Emilian Treasure Hunter [magdaleine]
Rambut pirang yang dikuncir ke belakang. (image)
Putri kerajaan Northern Kingdom yang egois dan seenaknya,

Shiki - Emilian Knight [impaler]
Rambut hitam, baju putih panjang dengan mata yang agak sipit. (image)
Knight legendaris berjuluk "Perisai Acronia".

Lien - Emilian Gunner [SnipLien]
Rambut hitam, mata hitam mengenakan blue dress dan celana jeans biru. (image)
Gunner handal dengan mata setajam elang.

Seto - Dominion Knight [SetoKun]
Rambut biru dengan baju hitam panjang khas Knight.
Playboy yang sering dipanggil "setan cinta" (karena rasnya yang dominion).

Chievo - Titanian Knight [chievo]
rambut pink yang matching dengan bajunya yang serba pink. singkat kata, gadis ini pinkaholic. Biasanya Receiver tidak pernah lepas dari matanya. (image)
Gadis yang susah ditebak. Kuat, mampu menjatuhkan beberapa pria dewasa dalam hitungan detik. Diam2 mengagumi Alceus.

Biaxident - Emilian Machinery [Mizura]
Rambut merah pendek diikat belakang. (image)
Machine freak. Biasa bertarung menggunakan robot merahnya, AKAI09.

Chocola - Dominion Sage [alverina]
Rambut hitam kepang dua dengan baju tema gothic.
Sage yang baik hati, namun karena penampilannya, sering dikira Assassin atau Necromancer

OrangePrincess - Titanian Necromancer [sinoSOU]
Rambut panjang orange dengan dress yang serba orange.
Manis dan suka dikira Druid atau Sage (kebalikan Chocola), namun punya sisi misterius dan tidak baik didekati saat marah

FurudeHanyuu - Dominion Elementalist [yggdrayuril]
Rambut ungu muda dan (hampir) selalu mengenakan hakama merah putih dan memakai goat horn. (image)
setengah tsundere setengah tomboi. agak pemarah.

Rey - Dominion Striker [nomoremercy]
Rambut silver dengan tatapan yang selalu tajam, biasa mengenakan pakaian serba hitam termasuk quiver dan busurnya. (image)
orang yang dingin dan angkuh, namun akan melakukan apapun untuk uang.

Beyreiss  - Emilian Gambler [nelsoncutez]
Rambut merah panjang dengan tema baju merah.
Maniak judi yang sering berkeliling dunia untuk mencari harta (untuk kembali dijudikan)

Yamato - Dominion Marionettist [sanhiez]
Rambut silver yang dikuncir ke belakang. Biasanya selalu menggunakan kacamata yang membuatnya terlihat sebagai seorang nerd (image)
Selalu mencoba membuat penelitian aneh-aneh dan biasanya menyebabkan laboratorium kerjanya meledak.

Wisp - Titania Elementalist [Light1412]
Rambut hitam, menggunakan kacamata dan selalu membawa buku.
Pelindung keseimbangan dunia.

.:Table of Contents:.
Spoiler for Table of Contents:
« Last Edit: September 19, 2012, 09:38:00 PM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine
« Reply #1 on: April 22, 2010, 08:37:16 PM »
A little note of mine . . .
    Hmm, sbenernya c ini pertama kali nulis ginian.
    Kalo baca punya orang dan kritik saran buat orang c sering.. :sing:

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Prologue: A Meeting with an Angel

“Tempat ini..”

Kata-kata itulah yang keluar dari mulut seorang pemuda sejak ia membuka matanya. Pemandangan yang sama sekali asing menghiasi pandangannya. Di atasnya terbentang lautan bintang yang menjadi atap padang tak dikenal itu.

Pemuda itu menggaruk kepalanya, membuat rambut pirangnya acak-acakan. Sekeras apapun dia berusaha mengingat, ia sama sekali tidak ingat kapan dan bagaimana ia ada di tempat itu. Ingatannya sama sekali kosong. Satu-satunya yang dia ingat hanyalah namanya. “Sial.. Ini di mana sih?”

“Oh, Kamu sudah bangun ya? Bagus deh..”

Kaget oleh suara tersebut, pemuda itu menoleh ke arah suara itu berasal. ‘Wow, suara yang merdu.. Pasti dia orang yang cantik seperti bidadari,’ pikirnya. Tapi rupanya semua kekagetan yang ia rasakan belum cukup. Ia tidak pernah menyangka pikiran asal-asalannya itu menjadi kenyataan saat ia melihat sosok wanita dengan sepasang sayap malaikat di punggungnya berdiri di hadapannya.
Bidadari wanita itu mengernyit memandang pemuda di hadapannya hanya terdiam memandanginya. “Kenapa? Apa ada yang aneh?”

‘Yah, ini pasti mimpi. Kalau nggak, nggak mungkin aku ada di tempat gak dikenal ini ditemani bidadari cantik. Atau.. Aku sudah mati dan ini surga?’ pikir pemuda itu sambil mencubit pipinya sendiri. Ternyata sakit, dan itu berarti ini semua bukan mimpi. “Umm, jadi Nona bidadari, apa aku sudah mati? Yah, setidaknya aku masuk surga,” seru pemuda menghibur diri.

“Kamu ngomong apa sih? Kok aneh begini, seperti orang nggak tahu apa-apa..” kata wanita itu seraya duduk di samping pemuda itu.

“Sayangnya, ya memang begitu kenyataannya,” jawab pemuda itu simpel. “Jadi, ini tempat apa? Kenapa aku di sini? Kamu ini siapa?”

“Jangan bercanda dong! Ini serius!” teriak wanita marah dan melotot kepada pemuda itu. Namun si pemuda hanya memandangnya dengan tatapan penuh kebingungan. Akhirnya iapun sadar kalau pemuda itu tidak sedang main-main. “Kamu.. benar-benar nggak ingat?”

“Nggak.”

“Oh, kenapa bisa begini sih?” seru wanita itu lemas. Dia tidak pernah membayangkan akan jadi seperti itu. Setelah mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya, ia menatap pemuda itu dengan serius. “Baiklah, akan kujelaskan semuanya. Kamu ada di sini karena—”

Tiba-tiba seberkas cahaya lewat tepat diantara keduanya, menghantam batu besar yang ada disamping mereka dan menghancurkannya berkeping-keping.

Kaget akan apa yang terjadi, si pemuda menoleh ke arah serpihan batu tadi. Sinar itu hanya meleset beberapa sentimeter dari hidungnya. Dia tidak tahu darimana sinar itu berasal, tapi yang jelas kepalanya bakal bernasib sama dengan batu itu kalau saja si penembak sedikit lebih akurat. “Hoi! Jangan main-main! Siapa yang berani kurang ajar—”

Kalimatnya berhenti saat pemuda itu melihat barisan robot berjalan di kejauhan dan semakin mendekat.  Robot-robot itu berbentuk seperti manusia dan membawa senapan. Ia yakin dari sanalah sinar itu berasal. “Mereka itu..?” katanya pelan sambil melirik ke bidadari di sebelahnya yang kelihatan mulai panik juga.

“Oh tidak.. Aku nggak menyangka mereka bakal datang secepat ini..” seru gadis itu sambil menghela nafas. “DEM. Mereka itu.. musuh.”

“Musuh?” si pemuda mengeryitkan dahinya, “maksudmu?”

“Maaf, aku gak bisa menjelaskan dalam kondisi begini. Kita nggak punya waktu lagi, jadi bersiap-siaplah,” jawab sang gadis bidadari sambil melangkah mundur. Mulutnya mengucapkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Tiba-tiba dinding perisai yang transparan mengelilingi keduanya, menangkis semua tembakan dari pasukan robot. “Dengar baik-baik. Tempat yang akan kamu tuju bernama benua Acronia. Kamu nggak akan bisa melakukannya sendirian, tapi aku yakin di sanalah kamu akan menemui orang-orang yang akan membantumu.” Begitu ia selesai bicara, sinar yang terang menyelimuti tubuh sang pemuda.

“Eh? Membantuku apa? Maksudmu? Jangan bercanda, kalo kita nggak punya waktu, ya jelaskan saja di sana!” Tiba-tiba pemuda itu menyadari bahwa sinar yang menyelimuti dirinya tidak ikut menyelimuti tubuh sang bidadari. “Tunggu dulu.. kamu ikut ke sana kan?! Jangan main-main!!”

Sang gadis bidadari tersenyum lemah seraya menggeleng kepalanya. “Maaf. Dulu kami pernah mencoba melakukannya sendiri, tapi kami gagal. Kalau saja waktu itu kami berhasil, pasti kamu nggak akan repot seperti sekarang,” jelas gadis itu sambil menatap bintang-bintang di langit, seolah kejadian masa lalunya terpampang ulang di langit. “Kejadian itu mimpi buruk bagi kami. Bahkan teman sekaligus pemimpin kami terluka parah. Aku berhasil menolongnya, tapi sebagai gantinya aku dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membantumu.” Air mata keluar perlahan dari matanya, “tapi kalau kamu bertemu dengannya, aku yakin dia akan membantumu. Dan kalau kamu bertemunya.. katakan juga aku merindukannya.”

Pemuda berambut pirang itu menatap mata yang berkaca-kaca milik gadis bidadari di hadapannya. Ia tahu tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menuruti si bidadari. Matanya yang berwarna emas beralih ke arah pasukan robot yang semakin tebal. Dinding yang diciptakan gadis itu memang kuat, tapi ia ragu kalau tembok itu akan bertahan sangat lama menahan tembakan-tembakan dari para robot. “Aku mengerti. Setidaknya beri tahu aku namamu.”

“Tita,” jawabnya sambil mengusap air matanya, “dan kamu?”

“Alceus,” jawab pemuda itu sambil menujuk dirinya dengan bangga, “jangan khawatir, pesanmu pasti akan kusampaikan.” Dan begitu ia mengakhiri kalimatnya, iapun menghilang bersama cahaya yang menyelimutinya, meninggalkan sang gadis bidadari seorang diri bersama para DEM.

« Last Edit: November 18, 2010, 09:32:39 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter01
« Reply #2 on: April 25, 2010, 06:02:03 PM »
A little note of mine . . .
    The first chapter is here.
    Aku masih rada bingung bagusan mana kalo buat dialog, kalimat baku ato gak.
    sejauh ini yg gak bakunya cuma 'nggak', apa mending smua aja jd gak baku ya?

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


“Hmm.. Kurasa gak ada masalah, tapi sekali lagi kutanya sekedar untuk meyakinkan. Kamu serius mau bergabung dengan kami?” tanya seorang pria yang berbaju zirah lengkap dengan pedang di tangannya pada seorang pemuda di depannya dengan tatapan tajam. Dialah pemimpin perkumpulan seluruh swordsman di seluruh Acronia. Semua orang memanggilnya Swordsman Master.

Salah satu tugasnya adalah menerima lamaran orang-orang yang ingin bergabung dengan perkumpulan Swordsman, dan itulah yang ia lakukan saat ini. Sejauh ini, ia tidak melihat adanya masalah pada pemuda di hadapannya, tapi dia tetap harus yakin bahwa keputusannya tidak salah. “Bukannya kami tidak mau menerimamu, tapi kami harus mengetesmu. Pertama-tama, siapa namamu?”

“Kaistern, pak,” jawab pemuda berambut jabrik dengan mantap. “Saya siap menjalani tes apapun!”
Swordsman Master mengangguk. Ia suka dengan keyakinan dan kemantapan hati yang ditunjukkan oleh pemuda di hadapannya. “Bagus, pertahankan semangatmu itu. Sedangkan untuk tesmu, aku ingin kau membawakanku daging bawoo. Kurasa satu atau dua ekor Bawoo tidak akan jadi masalah bagimu, tapi kita tetap perlu sebuah tes. Berangkatlah sekarang.”

“Baik, pak!” Kaistern membungkuk sedikit dan memberi hormat sebelum ia meningkalkan ruangan yang berdekorasikan pedang dan perisai di temboknya. Bawoo bukanlah musuh yang sulit baginya, walaupun mungkin akan jadi masalah kalau ia sampai dikeroyok. “Ini mudah! Kupikir tesnya bakal lebih susah. Ini sih dalam sekejap juga selesai,” katanya pada dirinya sendiri sambil berjalan turun ke lantai satu.


Chapter01: Arrival

Kota Acropolis, kota terbesar di benua Acronia. Selain terletak di tengah-tengah benua Acronia, Acropolis juga berfungsi sebagai penengah dari keempat fraksi yang ada di empat penjuru Acronia. Di tengah distrik Uptown Acropolis terdapat bangunan raksasa yang menjulang tinggi, tempat kantor persatuan dari setiap job berada dan biasa disebut dengan Guild Palace.

Kaistern melangkah keluar dari gerbang Guild Palace. Masih dengan penuh percaya diri, ia menghiraukan orang-orang yang sibuk berjualan di depan Guild Palace dan melangkahkan kakinya ke distrik Downtown. Dia perlu menyiapkan segalanya agar dapat menyelesaikan misinya dengan lancar. Dan ia tahu Downtown menyiapkan segalanya, mulai dari barang-barang bagus sampai barang-barang ilegal.

“Siap menjalani tesmu, nak?” Seorang merchant berbadan besar tersenyum saat Kaistern menghampirinya. Merchant tua itu sudah menganggap Kaistern seperti anaknya karena ialah yang mengasuhnya sejak kecil.

“Ya. Saya siap untuk apapun,” jawab Kaistern penuh semangat.

“Ohohoho, aku suka semangatmu!” Merchant tua itu tertawa sambil mengambil pedang di belakangnya. “Ini hadiah dariku. Pakai ini dan jadilah swordsman terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah!”

“Terima kasih, pak. Saya pamit dulu.” Kaitern mengambil pedang yang diberikan sang Merchant dan berbalik, meninggalkan merchant tua yang tersenyum menatapnya dari belakang. Dengan pedang itu, ia yakin tidak ada yang bisa menghalanginya lagi sekarang.

“Jadi itu anak yang selalu kau banggakan?”

Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat si merchant tua menoleh ke asalnya. Seorang wanita bercadar telah berdiri di sampingnya tanpa ia sadari kehadirannya. “Oh, apa yang seorang peramal terkenal lakukan di sini? Apa kau sebegitu menganggurnya sampai meninggalkan tokomu, Remia?”
Wanita yang dipanggil Remia tersebut tidak menghiraukan pertanyaan si merchant tua. Matanya terfokus pada Kaistern yang bahkan sudah lenyap dari pandangannya. “Hidupnya akan berubah. Sesuatu yang hebat menanti anak itu.”

“Wahahahaha!!” Tawa sang merchant tua memenuhi seluruh Downtown, membuat semua orang menoleh padanya. “Tanpa kau bilangpun aku tahu dia akan menjadi seorang Swordsman yang hebat!”

Remia berbalik seakan tidak menghiraukannya. “Kau tidak mengerti. Yang kumaksud adalah sesuatu yang jauh lebih hebat dari itu. Bahkan akupun tidak tahu pastinya apa itu. Tapi—” Remia berkata sambil menggeleng kepalanya, kemudian berjalan kembali ke arah tokonya. “Sudahlah. Percuma aku menjelaskan padamu.”


~ * ~

“Orang bilang Bawoo itu biasanya ada di jalan menuju ke gunung. Harusnya di sekitar sini, tapi kenapa aku nggak lihat satupun ya sejauh ini?” gumam Kaistern seraya matanya mengamati sekitarnya. Tapi percuma, tidak ada satu ekor  Bawoopun terlihat.

“KYAAA..!!”

Teriakan di kejauhan membuat Kaistern diam sesaat. “Suara cewek?” Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia melesat menuju arah suara tersebut berasal. ‘Benar juga.. Bawoo selalu menyerang berkelompok. Kemungkinan besar mereka sudah mengejar seseorang, makanya sepi sekali di sini! Kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat?!’

Tidak lama kemudian, seorang gadis bersayap layaknya malaikat terlihat di matanya. Gadis itu dikelilingi 5 ekor Bawoo; 4 ekor Bawoo yang dipimpin oleh seekor Bawoo merah. “Crimson Bawoo?! Kok bisa ada di sini?! Ah, masa bodo, itu urusan belakangan!”

Kaistern mencabut pedangnya dan mengayunkan selebar-lebarnya. Serangannya mungkin terlihat asal-asalan karena para Bawoo dengan mudah menghindarinya, tapi itu cukup untuk membuka jalan agar dapat menghampiri gadis tersebut. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya sambil terus fokus kepada para Bawoo, terutama yang berwarna merah.

Gadis itu menggeleng kepalanya. Walaupun ia masih tetap terlihat bingung dan panik, tapi kehadiran sang calon swordsman sedikit membawa ketenangan pada dirinya. “Aku nggak apa-apa.. tapi—”

“Bicara nanti saja! Sekarang kita harus cepat pergi dari sini!” Sekali lagi Kaistern mengayunkan pedangnya secara acak sementara tangan satunya menggenggam tangan gadis tersebut. Dan sekali lagi, usahanya membuahkan hasil. Jalan lari tercipta walaupun  tidak sesuai harapannya. Jalan menuju Acropolis telah ditutup oleh para Bawoo, sedangkan jalan yang kosong hanyalah jalan lebih jauh ke arah gunung.

Gadis bersayap itu, dengan tangan tetap menggenggap tangan penyelamatnya, menoleh ke belakang. Para Bawoo masih tetap mengjear mereka. “Ini nggak bagus! Merka malah semakin mendekat!”

“Aku tahu! Tapi nggak ada yang bisa kita lakukan selain tetap berlari!”

Tiba-tiba seberkas cahaya jatuh dari langit di kejauhan. Sinar itu cukup terang sehingga terlihat jelas dari seluruh tempat di Acronia meskipun di siang hari. Dan untungnya, sinar itu cukup terang untuk membutakan sesaat Kaistern, gadis yang ditolongnya, serta para Bawoo pengejar mereka, membuat Bawoo Bawoo tersebut berhenti.

“Apa itu?” teriak Kaistern tanpa berhenti.

“Aku tidak tahu! Tapi mungkin ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk lolos dari Bawoo Bawoo ini!” jawab gadis itu dengan terus mengikuti pemuda penolongnya, “ayo kita ke sana!”

Setuju dengan gadis itu, Kaistern mengangguk. “Baiklah, ayo kita ke sana!”


~ * ~

Putih. Itulah satu-satunya warna yang dapat ia lihat. Ia tidak tahu apakah ia berada di dalam ruangan yg berwarna putih ataukah ia justru berada di tempat yang kosong, benar-benar kosong sampai dirinya sendiripun tidak berada di sana. Setelah semua yang ia lalui, apakah sekarang ia menjadi buta? Namun pelan-pelan, cahaya kembali ke pengelihatannya diikuti dengan pemandangan yang dihiasi gunung dan pepohonan. Ia menyadari, bahwa warna putih itu adalah cahaya menyilaukan yang menyelimuti tubuhnya, dan sekarang cahaya itupun mulai reda.

Alceus mengamati keadaan di sekitarnya dan diakhiri dengan helaan nafas panjang darinya. “Lagi-lagi aku ada di tempat tak dikenal.. Tapi kurasa inilah Acronia yang gadis itu katakan,” katanya sambil menutup mata dan membiarkannya menyesuaikan dengan lingkungan baru.

“Oke! Pertanyaannya adalah, dari mana aku harus mulai melakukan apa yang harus aku lakukan sementara aku nggak tahu apa yang harus kulakukan itu? Lagian tempat ini benar-benar asing bagiku.” Sekali lagi ia menghela nafas panjang. Ia mencoba mengingat-ingat kata-kata Tita, namun tak satupun yang bisa ia jadikan petunjuk. “Tita bercerita tentang teman-temannya dan.. pesan ‘Aku merindukannya’, padahal dia harusnya bisa kasih tahu sesuatu yang lebih berguna untukku.. Dasar gadis yang sedang jatuh cinta, bisa-bisanya dia melupakan hal yang paling penting.. yah, harusnya aku tahu itu,” dan iapun mengakhiri kata-katanya dengan helaan nafas lainnya. “Dan bodohnya aku malah bersikap sok keren dengan bilang aku pasti menyampaikan pesannya. Ahh, bodohnya kau, Al!!”

Setelah merasa percuma memikirkannya lebih jauh, Alceuspun memutuskan untuk mengikuti jalan setapak yang akan membawanya turun gunung. Saat itulah ia melihat dua orang lari ke arahnya sambil bergandengan tangan. “Oh tidak.. Lagi-lagi orang pacaran. Apa nggak ada hal lain?! Benar-benar deh, ‘cinta’ itu merupakan kata yang paling konyol di dunia,” ucapnya sambil menghela nafas panjang untuk ke-empat kalinya setelah ia tiba di tempat itu.

Tiba-tiba Alceus menyadari bahwa pria yang lari ke arahnya kelihatan kecewa saat melihat dirinya. ‘Apa-apaan ini? Kok kesannya dia nggak suka gitu melihatku?! Oh iya, aku merusak momen berduaan mereka.. Yah, tapi itu sih bukan salahku!’ Tapi saat ia melihat si wanita, ia melihat ekspresi yang bertolak belakang dengan si pria. Tampangnya penuh kekhawatiran.

“LARI!!”

“Hah? Apaan?” Alceus memutar otaknya demi memahami arti kata-kata si wanita. Apakah maksudnya ia harus lari dari pacarnya karena sudah membuatnya kesal dan mungkin akan dibunuhnya? Semarah itukah dia? Dan saat itulah ia melihat segerombolan puppies yang mengejar pasangan itu di kejauhan, dengan gigi tajam yang kelihatannya mampu mengoyak dangingnya dengan sekali cabik. “Aaahh!! Penyambutan macam apa ini?!”

Sang pria dari pasangan tersebut berhenti di depan Alceus, yang diikuti oleh si wanita yang berhenti tepat di belakangnya. “Percuma kita lari. Mereka lebih cepat dari kita. Cepat atau lambat kita pasti terkejar, atau setidaknya pertarungan nggak bisa dielakkan,” serunya seraya ia mencabut pedang dari sarungnya. Ia kemudian memandang Alceus dengan tatapan dingin, “dan kau akan membantu kami.”

“Hah? Kenapa aku harus bantu kalian? Ini bukan urusanku, dan aku sudah cukup terlibat dengan hal-hal yang bukan urusanku. Jadi jangan libatkan aku lebih jauh!”

Sekali lagi, si pria memandang pemuda berambut pirang itu dengan tatapan jengkel. “Dengar ya, memangnya kamu mau kabur dan meninggalkan gadis ini begitu saja? Kan kubilang barusan kalau kita nggak mungkin kabur,” katanya sambil memootong sebuah pohon kecil dengan pedangnya. Ia mengasah batang pohon itu dan membersihkan daunnya, membuat sebuah tombak kecil dan melemparkannya pada Alceus. “Tangkap ini! Setidaknya aku nggak perlu melindungimu juga saat kita mulai bertarung.”

“Hei, aku bukan pengecut dan aku nggak butuh perlindunganmu! Kau dengar kan?” teriak Alceus sambil menangkap tombak yang dilempar ke arah matanya. “Kubilang—”

“Tolonglah..” kata si gadis yang akhirnya ikut berbicara. “Kami nggak mungkin menang kalau hanya berdua.”

Alceus memandang sang gadis dan menyadari sepasang sayap di punggungnya. Itu mengingatkannya pada gadis bidadari yang ia temui sebelumnya. ‘Apa bidadari itu hal yang umum ya di dunia ini? Dan lagi, kenapa kau memandangku dengan tatapan seperti itu?! Uhh.. aku harus bertahan.. tapi.. Ah baiklah, aku menyerah!’ sekali lagi ia menghela nafas panjang dan meghadap ke arah para puppies yang semakin mendekat. “Baiklah, akan kubantu kalian. Tapi sebagai gantinya, aku punya banyak pertanyaan untuk kalian.”

“Setuju, dengan ini kita bisa melawan para Bawoo itu,” jawab si pria sambil menyibak rambut hitamnya, “dan berhubung kita akan bekerja sama, kurasa kita setidaknya harus memperkenalkan diri masing-masing. Namaku Kaistern. Dan gadis ini—” ia menghentikan kata-katanya saat menunjuk ke gadis di sebelahnya. Ia baru ingat bahwa iapun belum mengetahui namanya.

“Caramel DeLatte,” jawab gadis itu sambil tersenyum, “Panggil saja aku Latte.”

“Wow, namamu unik juga,” kata Alceus sambil tertawa. Ia melirik kepada Kaistern yang melakukan hal yang sama, namun lebih bisa menahan tawanya. “Aku Alceus.”

Tanpa disadari, mereka telah berbicara dengan santai seolah telah lupa apa yang mengejar mereka. Para Bawoo yang sudah mereasa kesal diabaikanpun akhirnya memutuskan untuk menyerang salah satu dari ketiga orang tersebut, yaitu si gadis bersayap. Namun sayang, sang kesatria berambut hitam dengan sigap melindungi sang putri dan membalas serangan sang penyerang, membelahnya menjadi dua.

Tapi serangan balasan yang dilakukan Kaistern membuat pertahanannya terbuka walau hanya sekejap, dan seekor Bawoo lainnya tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Beruntung sebuah tombak melayang dan menancap di kepalanya di saat-saat terakhir. Bawoo tersebutpun mati tanpa sempat membuat luka yang berarti selain goresan cakarnya yang terukir di bahu Kaistern.

“Jadi kau ini ‘knight in shining armor’ seperti dalam cerita-cerita ya? Gerakan yang hebat, tapi sangat menyedihkan melihat sang ksatria lengah seperti itu,” ledek Alceus sambil menyeringai.

“Walau mungkin para pengguna pedang menggunakan pedangnya untuk melindungi orang lain, tapi bukan berarti aku seorang ksatria, knight. Aku lebih memilih menjadi seorang swordsman daripada knight,” Kaistern tersenyum santai menanggapi perkataan Alceus sementara ia menusukkan pedangnya ke perut seekor Bawoo. “Daripada itu, aku justru kaget melihatmu melempar tombak itu. Kurasa kau yang lebih ingin dan berbakat jadi seorang knight. Atau itu murni kebetulan?”

“Aku nggak mengerti tentang swordsman, knight, atau apapun yang kau sebut itu,” seru Alceus sambil mengayunkan tombaknya sekuat tenaga dan melemparkan seekor Bawoo terbang beberapa meter. “Semua senjata sama saja. Mau digunakan seperti apa, yang penting efektif!”

Latte hanya bisa memandangi kedua pemuda yang asik bertarung sambil bicara hal yang tidak ia mengerti. Setidaknya karena ia tidak pernah menggunakan pedang atau senjata berbahaya lainnya. Saat itulah ia juga menyadari bahu Kaistern yang mengeluarkan darah. “Tunggu sebentar,” katanya seraya menyentuh luka Kaistern dengan lembut, “aku mungkin tidak bisa membantu kalian bertarung, tapi setidaknya aku bisa menyembuhkan kalian. Empat Bawoo telah berhasil kita kalahkan, jadi yang tersisa hanyalah pemimpin mereka. Setidaknya kita harus melawannya dengan kekuatan penuh karena dia jauh lebih kuat dan cepat daripada Bawoo lainnya.”

Kaistern mengamati lukanya yang secara perlahan tapi pasti mulai menutup. “Wow, anda seorang vates, nona? Kekuatan magic seorang titania sungguh hebat seperti yang selalu dikatakan orang.”

“Aku masih belajar kok, jadi aku nggak sehebat itu. Aku baru saja resmi menjadi vates beberapa jam yang lalu,” jawab gadis penyembuh sambil berusaha menoleh ke arah lain. Pipinya memerah karena pujian Kaistern.

‘Oh, hebat. Adegan percintaan lagi.’ Alceus menggeleng kepalanya, namun berhenti seakan teringat sesuatu. ‘Tapi.. Titania? Vates?’ Semua yang sibuk dipikirkannya hilang saat Bawoo terakhir menyalak dan menyadarkannya, seolah mengingatkannya untuk tidak melupakan keberadaanya. “Oke kawan-kawan. Bisakah kalian berhenti saling menggoda di saat seperti ini dan berisap?” katanya sambil menepuk pundak Kaistern yang baru saja sembuh. “Dia datang!”

Bagaimanakah kelanjutan nasib mereka bertiga yang masih lv rendah menghadapi Crimson Bawoo?
Nantikan klanjutannya (gak banyak teasernya kali ini..-_-)
« Last Edit: November 18, 2010, 08:45:22 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter02]
« Reply #3 on: May 03, 2010, 11:10:52 AM »
A little note of mine . . .
    The third chapter is here.
    karena ada sedikit perubahan struktur internal di ring Effer, di mana 2 dari 4 char penting di effer saga meninggalkan ring, maka judul terpaksa kuganti jadi ECO-Saga.
    Orang2nyapun kalo bisa pingin dari umum aja d mengikuti perubahan ini.
    Ayo, ada yg berminat? masih kekurangan ni.. :D

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Sebuah pintu di lantai dua Guild Palace perlahan terbuka saat seseorang melangkah masuk ke ruangan di baliknya. Rambut panjangnya terikat rapi di antara sayap kelelawar di punggungnya sementara mata tajamnya mengawasi sekitarnya. Tubuhnya sendiri tidak terlalu gemuk, bahkan bisa dibilang agak kurus, namun otot-otot kekar di lengannya menunjukkan bahwa orang ini adalah orang yang sangat terlatih. Sepasang claw terpasang diujung tangannya, seolah bagian dari cakar kukunya sendiri.

Ruangan yang dimasuki orang tersebut pun tidaklah mewah seperti ruangan-ruangan lain di lantai yang sama, ruangan Fighter Guild lainnya. Hanya beberapa bilah pisau di dindingnya, sementara lantainya beralaskan karpet hijau.

Satu-satunya yang kontras dari semua itu hanyalah sosok yang duduk di balik meja. Seorang Dominion berambut merah. Matanya mengawasi orang yang baru masuk tersebut sambil tersenyum, seakan ia mengetahui dan telah menanti kehadiran orang tersebut. Tidak ada yang bisa menyelinap masuk tanpa diketahui kehadirannya olehnya, karena ia sendiri adalah orang yang paling ahli dalam hal-hal seperti itu. Dialah Scout Master, wanita berparas cantik bagaikan bidadari dengan keahlian bagaikan dewa kematian di medan perang, pemimpin para Assassin sekaligus idola para Guild Master pria lainnya.

“Yust, kan? Jadi, apa yang membawamu ke sini hari ini?”

Pria yang dipanggil Yust tadi membungkuk sedikit sebagai rasa hormat kepada wanita tersebut.
“Saya hanya ingin tahu apakah anda memiliki pekerjaan untuk saya.”

“Tidak perlu seformal itu, Yust,” kata Scout Master seraya berdiri dari kursinya, lalu duduk lagi di atas meja di depannya. “Sayangnya aku tidak punya apapun yang bisa kamu kerjakan. Tapi kalau kamu memang sedang menganggur..” Dominion itu mengalihkan perhatiannya ke jendela, menatap gunung di utara dari kejauhan, “..mungkin kamu bisa melihat apa yang terjadi di sana untukku. Beberapa menit yang lalu ada cahaya yang mencurigakan bersinar di gunung itu. Sebenarnya aku mau pergi sendiri, tapi kamu tahu kan kalau aku tidak mungkin meninggalkan ruangan ini.”

“Cahaya itu ya..” Yust turut memandang gunung tersebut dari balik jendela. Sebenarnya ia telah melihat cahaya itu sesaat sebelum ia memasuki Guild Palace. Namun karena ia pikir itu bukanlah hal yang penting, maka ia menghiraukannya. “Kelihatannya menarik. Kalau begitu saya akan segera mengeceknya.” Yust membungkuk sekali lagi sebelum ia berbalik untuk meninggalkan ruangan.

“Yust!”

Dominion pria itu berhenti dan menoleh kembali pada Masternya. “Ya?”

Namun Scout Master tidak menjawab. Untuk beberapa detik, ruangan itu dipenuhi kesunyian yang agak aneh. “Tidak ada apa-apa,” katanya sambil menggeleng kepalanya, “tolong jaga dirimu baik-baik.”

Yust mengernyitkan dahinya. Ia menyadari ada sesuatu yang Masternya ingin katakan, namun tidak bisa ia utarakan. “Terima kasih atas perhatian anda. Permisi.”


Chapter 02: Comrades

Sekelebat bayangan yang hampir tak terlihat melompat dar pohon ke pohon dengan saat cepat di Snov Mountain Road. Jalan itu adalah jalan menuju gunung yang menghubungkan wilayah Acropolis dengan kerajaan di utara, Northern Kingdom. Sambil tetap tidak menghiraukan makhluk-makhluk yang menjadikan area tersebut sebagai rumah mereka, bayangan itu akhirnya berhenti di pertigaan jalan dan menampilkan sosok aslinya sebagai Scout terbaik di generasinya, Yust.

“Tempat ini terlalu sunyi,” gumam Yust sambil memeriksa sekelilingnya. “Apa ini gara-gara cahaya itu ya? Harusnya banyak serigala di sekitar sini, tapi yang ada cuma yang sejenis Pururu dan Urchin.”

“TERIMA INII!!

Sebuah teriakan keras menyita perhatian Scout Dominion tersebut. Tiga orang yang kelihatan seperti Novice sedang bertarung melawan seekor Bawoo merah di kejauhan. “Hah? Kok ada Crimson Bawoo di sini? Apa yang sebenarnya terjadi sih?!” Tanpa membuang waktu lebih banyak, ia melompat ke pohon besar agar bisa mengawasi pertempuran itu lebih dekat.

“Maaf semua..” kata seorang Titania wanita kepada dua temannya setelah menyembuhkan luka Swordsman berambut hitam, “tapi aku kehabisan Mana..”

“Nggak perlu minta maaf. Makhluk itu memang terlalu kuat buat kita saat ini,” jawab pria itu sambil terengah-engah, menggungakan pedangnya hanya untuk membantunya berdiri. “Kelihatannya kita nggak mungkin—”

“Ya, itu bukan salahmu, Latte. Kalau ada yang harus disalahkan, itu Kaistern. Soalnya dia bahkan sama sekali nggak bisa nyentuh Bawoo itu,” potong pria berambut pirang yang memegang tombak kayu yang sekarang telah patah menjadi dua sambil tersenyum. Sama dengan pria di sebelahnya, iapun terengah-engah, namun ia lebih memilih menghibur dirinya dengan meledek temannya daripada menyerah kalah.

Pria berambut hitam yang dipanggil Kaistern tadi menoleh ke arah teman berambut pirangnya dengan tatapan dingin. “Apa maksudmu, Alceus. Kau sendiri nggak bisa ngapa-ngapain dari tadi,” katanya sambil perlahan bangkit dan mengarahkan pedangnya ke arah temannya itu.

“Heh, kalau kau masih punya tenaga buat mengancamku..” seru Alceus sambil perlahan bangkit mengikuti Kaistern dan menepis pedangnya, “..lebih baik kau gunakan buat si guguk merah itu..”

“Hentikan, Kai, Al!” teriak Latte, “Jangan malah berantem sendiri dong!”

Sambil memperhatikan jalannya pertarungan, Yust memandang penuh heran ke arah Crimson Bawoo, mengacuhkan kelompok orang-orang yang melawannya. “Crimson Bawoo terlalu kuat untuk level mereka. Tapi Bawoo yang satu ini bahkan lebih kuat dari Crimson Bawoo biasa. Kurasa nggak ada pilihan lain selain membantu mereka. Master pasti marah kalau tahu ada korban di misiku.”

Sang Bawoo merah, sekali lagi merasa dilupakan, menerjang ke arah Latte selagi kedua ksatrianya sibuk dengan dirinya masing-masing. Namun sayang sekali, tiba-tiba sebuah bayangan menusuknya secepat kilat dan mengakhiri hidupnya dalam sekejap mata.

Kaget oleh kemunculan orang yang tiba-tiba muncul dan menghabisi lawan yang membuat mereka kesusahan dengan mudah, Kaistern mengamati orang tersebut dengan pandangan curiga dengan tetap berdiri di depan Latte untuk melindunginya. “Siapa kau?”

Yust menghela nafas panjang saat melihat tiga orang di depannya. “Aku menyelamatkan kalian, dan ini yang kudapat? Kurasa kalian perlu belajar sopan santun.”

“Terima kasih telah menyelamatkan kami,” jawab Alceus dengan cepat kepada penyelamat mereka tersebut sambil menurunkan pedang Kaistern. “Maafkan kelakuannya. Dia memang seperti itu.”

“Jangan bicara seolah kau mengenalku!” kata Kaistern dingin sambil memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya. Setidaknya ia mengakui bahwa pria yang menyelamatkannya bukan orang jahat.

“Sudahlah, jangan bertengkar. Kita kan teman.” kata Latte menengahi keduanya, lalu menoleh ke Yust. “Seperti yang Alceus bilang, terima kasih. Maafkan kami jika kasar, soalnya kami sudah bertarung cukup lama, jadi kami agak lelah dan kadang kehilangan kesabaran kami—”

“Tunggu sebentar, Latte!” Kaistern tiba-tiba memotong pembicaraan Latte dan menunjuk pada Alceus. “Dia bukan teman kita. Kita baru saja bertemu dia, kita masih nggak tahu apa-apa tentang dia!”

“Kita juga baru bertemu, Kai,” jawab Latte sambil tersenyum lembut. Kata-katanya simpel, tapi cukup untuk menyadarkan sang Swordsman akan posisinya. “Aku bertemu denganmu beberapa menit sebelum bertemu Al. Aku nggak tahu apa-apa selain namamu dan penampilanmu. Tapi kita telah bertarung bersama. Menghadapi semua kesulitan bersama dan akhirnya kita selamatpun bersama-sama. Aku yakin kalau salah satu dari kita nggak ada, kita pasti sudah mati. Kupikir ini cukup untuk menjadikan kita semua sebagai sahabat.”

“Yah, kalau kamu bilang begitu sih..” kata Alceus dan Kaistern bersamaan. Keduanya hanya bisa menunduk dengan ekspresi bersalah.

Melihat ketiga orang tersebut, Yust tertawa seraya menyilangkan tangannya. “Semuanya seperti yang dikatakan nona ini. Sekarang ayo kita pulang ke Acropolis. Di sini nggak aman.” Ia berbalik dan mulai melangkah menyusuri jalan setapak yang akan membawanya kembali ke Acropolis, diikuti Kaistern dan Latte.

“Hei, Al. Apa yang kamu tunggu? Ayo cepat, kamu bilang kamu punya banyak pertanyaan kan?” panggil gadis Titania dari kejauhan sambil melambai.

Alceus memandang ke langit. ‘Apa mereka orang-orang yang kau katakan, Tita? Yah, benar atau bukan, semua ini keliahatan menarik. Kurasa aku harus berterima kasih padamu karena telah mengirimku ke sini.’ “Aku datang!” Dengan penuh semangat, ia mengikuti sahabat-sahabatnya yang menunggunya di kejauhan, meninggalkan bercak darah ke arah Snov Snowfield yang luput dari mereka semua.


~ *~

“Aku.. tidak akan membiarkanmu.. mendapatkannya.. Langkahi dulu mayatku!”

Suara yang lemah namun penuh keyakinan dari prajurit berbaju zirah menggema di Snov Snowfield. Walau kelelahan dan kesakitan melanda seluruh tubuhnya, ia tetap berdiri di atas salju yang kini telah berwarna merah oleh darah teman-temannya.

“Habisi dia.”

Sesaat setelah kata-kata itu terucap, hujan peluru menghujani prajurit tadi, melubangi baju zirahnya dengan mudah dan meninggalkan lubang-lubang di tubuh pria tersebut.

“Aku salut akan keberanianmu, tapi kau telah memilih jalan yang salah dengan melawanku.” Suara dingin tersebut datang dari puncak tumpukan mayat teman-teman ksatria tadi, seolah pemilik suara tersebut menjadikan mereka sebagai singgasananya. Matanya menatap mayat prajurit tadi dengan tatapan yang merendahakan dari balik topengnya, seolah orang-orang tersebut tidak lebih dari serangga. “Kau cukup membuatku susah, tapi ini hanya masalah waktu sampai aku mendapatkannya. Dengan kekuatan kita yang sekarang, mungkin melawan Acropolis sama saja bunuh diri. Tapi sebentar lagi itu semua akan segera berubah. Laksanakan rencana B.”

« Last Edit: November 18, 2010, 09:20:25 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter03]
« Reply #4 on: May 11, 2010, 02:09:29 PM »
A little note of mine . . .
    Scene request dan tribute buat colette :D
    Skalian chapter yg ada pesan moralnya (mncoba menjadikan ECO SAGA ini gak hanya buat fun, tapi jg ada "sedikit" pesan moral XD )
    slamat menikmati chapter terakhir dari Prologue..

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Sinar terang mentari siang itu menyinari Uptown, menambah keagungan yang terpancar dari menara Guild Palace yang merupakan simbol kota Acropolis. Langit biru dan cuaca cerah yang tenang itu benar-benar berlawanan dengan keadaan di kota, yang di seluruh penjurunya terlihat hiruk pikuk para penduduk yang sibuk berjualan dan melakukan aktifitas hariannya.

Di luar gerbang utara Acropolis terlihat empat orang yang berjalan mendekati kota. Walaupun Acronia Northern Plains dipenuhi golem-golem dan para pedagang yang berjualan, yang kadang membuat orang-orang sulit untuk lewat, namun mereka sama sekali tidak mengeluh. Sebaliknya, mereka terlihat gembira.

“Selamat datang di Acropolis!” seru Yust seraya membuka tangannya lebar-lebar dan memamerkan kota kebanggaannya kepada ketiga temannya.

Alceus mengamati sekitarnya dengan seksama, mulai dari bangunan sampai orang-orang di sekitarnya. “Uwooooo!! Keren! Aku sama sekali nggak sangka bakal sebesar ini!”

“Kau.. benar-benar belum pernah ke sini? Setidaknya semua orang tahu tentang gambaran dasar Acropolis, walau hanya dari gambar. Ini kan kota terpenting di Acronia,” kata Kaistern yang mengernyitkan dahi saat melihat reaksi Alceus.

“Hmm.. entah ya.. Tapi kepalaku sama sekali blank soal tempat ini. Kalau nggak..” Alceus mengalihkan pandangannya pada bangunan yang menjulang tinggi di tengah-tengah kota, “..aku nggak mungkin melupakan kota ini, apalagi bangunan megah dan keren itu!” lanjutnya dengan tatapan bagaikan anak kecil yang melihat mainan.

Menyadari tatapannya itu, si Dominion tersenyum, “Kau mengagumi Guild Palace ya? Kalau begitu kita ke sana habis ini.”

“Eh, boleh ya orang biasa masuk ke sana? Kukira hanya orang-orang penting saja yang boleh masuk istana.”

“Ahahahaha,” tawa Kaistern, “Kau kira itu tempat raja atau ratu tinggal ya?”

Alceus mengangguk pelan, walau merasa sedikit kesal ditertawakan seperti itu.

“Walau disebut palace, bukan berarti itu istana raja. Acropolis sendiri dipimpin seorang walikota, tapi beliau tinggal di Downtown, bagian bisa dibilang kumuh bersama kebanyakan penduduk Acropolis. Bangunan itu adalah tempat berkumpulnya perwakilan-perwakilan dari setiap Job. Semua orang boleh masuk. Nah kebetulan aku juga ada perlu di sana, makanya setelah ini kau bisa melihat dalamnya juga,” jelas Kaistern sambil melangkah ke gerbang utara Acropolis. Ia kemudian berbalik untuk memastikan teman-temannya mengikutinya. “Nah, tunggu apa lagi? Ayo, aku juga ingin secepatnya menyelesaikan urusan-" namun Kaistern menyadari sesuatu yang membuatnya tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. "Lho? Latte mana?”

Alceus menoleh dan mendapati bahwa Latte tidak berada di antara mereka bertiga, tetapi ada di depan salah satu pedagang perhiasan. “Oh tidak.. Aku tahu makna matanya yang bersinar itu..”

“Bagaimana, dik? Kalung ini pasti sangat cocok kalau adik pakai. Untuk adik yang cantik, kuberi murah, 15.000 gold saja.”

Titania berambut biru kehijauan itu memandang sebuah kalung dengan permata biru dengan tatapan yang sama dengan tatapan Alceus saat memandang Guild Palace. Ia bahkan sama sekali tidak menyadari ketiga temannya yang menghampirinya setelah hampir meninggalkannya. “Iya, Bu. Batu ini benar-benar indah. Tapi harganya.. apa nggak bisa lebih murah?”

“Emm.. Kai, Yust, kalian melihat istimewanya batu itu?” bisik Alceus dengan suara yang tidak terdengar Latte. Tapi walaupun dengan berteriakpun, ia yakin Latte, dengan kondisinya yang sekarang, tetap tidak akan bisa mendengarnya.

Kaistern menoleh sesaat ke arah Yust yang menggeleng perlahan, lalu kembali berbisik kepada Alceus. “Kurasa tidak. Tapi kudengar wanita punya semacam indra keenam dalam hal-hal seperti ini. Bisa melihat apa yang tidak bisa para pria lihat, seperti istimewanya sebuah batu. Yah, tapi kuakui, kalung itu sangat cocok dengannya.” Ia tersenyum saat mengakhiri kalimatnya, namun segera kembali tersadar saat menyadari kedua teman di sebelahnya memandangnya dengan senyuman yang aneh. “Eh? Apa?”

“Hehehe, lihatlah tuan putri yang sedang kebingungan itu. Bukankah sang pangeran seharusnya tahu apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini?” ledek Alceus.

“Eh? A-aku nggak ngerti maksudmu..” jawab Kaistern yang menunduk dengan muka yang memerah. “Tapi.. 15.000.. aku yang hanya seorang calon Swordsman, darimana aku punya uang sebanyak itu..”

“Pakai punyaku dulu,” kata Yust sambil menaruh 15.000 gold di tangan Kaistern dengan paksa. “Ambil saja. Kalaupun kau ingin menggantinya, itu bisa kapan saja. Tapi kesempatan ini nggak mungkin kau lewatkan, kan?”

Kaistern menatap uang ditangannya beberapa detik sebelum akhirnya memantapkan hatinya. “Baiklah, terima kasih ya.” Dan dengan langkah mantap, ia melangkah menghampiri penjual permata itu. “Kalau begitu saya ambil yang ini, Bu. Ini uangnya,” katanya sambil menukar kalung yang dibicarakan Latte dengan uang pemberian Yust.

Ibu penjual tersebut mengambil uang dari Kaistern sambil tersenyum ramah. “Terima kasih anak muda. Ibu yakin kalian akan langgeng.”

“Yahh, malah akhirnya keduluan Kai deh..” keluh Latte dengan nada agak kecewa.

“Nggak juga kok. Aku beli ini untukmu,” jawab Kai. Meskipun dengan muka merah padam, ia tetap memberanikan dirinya menatap wajah sang Titania di sebelahnya sambil memberikan kalung yang baru dibelinya pada gadis itu. Ia tidak peduli apa-apa lagi, walaupun ia tahu setelah ini mungkin Yust dan Alceus akan menertawainya habis-habisan dengan salah tingkahnya ini.

“Eh? Untukku? Umm.. Terima kasih, Kai.” Nada gembira bercampur bingung tersirat di suaranya saat ia mengambil kalung tersebut perlahan. Wajahnya memerah, disusul oleh keheningan yang tiba-tiba melanda.

“Yak, saatnya menyelamatkan Kai dari situasi aneh ini,” seru Alceus pelan yang diikuti anggukan tanda setuju Yust. “Kai, Latte, ayo cepat, sebelum kami tinggal. Aku nggak sabar ingin melihat Guild Palace itu!” Dan dengan itu, suasana sebeku espun mencair saat Kai dan Latte akhirnya beranjak mengikuti Alceus dan Yust.


Chapter 03: Honor and Freedom

Sesampainya di Guild Palace, Kaistern segera melangkahkan kakinya ke arah warp portal di tengah ruangan dengan cepat setelah memberi salam kepada Titania penjaga portal tersebut. Ia tidak sabar ingin cepat memperlihatkan Swordsman Master barang yang dijanjikannya, daging Bawoo. “Ayo cepat. Lagipula di lantai ini nggak ada yang bisa dilihat.”

Yust dengan sigap mengikuti Kaistern, sementara Alceus di belakangnya masih belum bisa melepas pandangannya dari tiap sudut ruangan itu. Latte, yang moodnya sangat bagus setelah mendapatkan kalung dari Kaistern, terlihat sangat menikmati melihat teman berambut pirangnya, yang terlihat kegirangan saat melihat hampir setiap benda yang yang baru ditemuinya.

“Wow, jadi kita tidak ke lantai atas tidak dengan tangga, tapi dengan.. magic? Keren!”

Sesampainya di lantai dua, Yust berhenti sesaat. “Kai, sebenarnya aku sangat ingin melihat kau diangkat secara resmi menjadi Swordsman, tapi aku takut aku nggak bisa.”

“Loh, kenapa?” tanya Kaistern keheranan. Ia berhasil menyelesaikan misi dari Swordsman Master berkat bantuannya. Kalau bisa, Ia tidak ingin ada satupun dari mereka yang tidak ada di sana saat ia resmi menjadi Swordsman.

“Yah, ada yang perlu kulaporkan pada atasanku, Scout Master. Sangat penting. Karenanya, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku janji akan menemui kalian lagi setelah urusanku beres. Sekali lagi maaf ya, Kai, Al, Latte.”

“Yah, nggak apa-apa kalau itu sangat penting,” jawab Kaistern lemas.

“Ya, yang penting urusanmu selesai," tambah Alceus, “ingat, kau masih berhutang menjadi guideku di Acropolis.”

“Tenang saja. Sampai jumpa semua.” Setelah itu, Yust berbalik dan menghilang di balik pintu Scout Guild.

“Itu Scout Guild yang dimasuki oleh Yust,” kata Latte tiba-tiba yang masih bersemangat sebagai guide, “di barat itu Knight Guild, sementara di utara itu Archer Guild. Aku yakin dari namanya kamu bisa menebak apa yang mereka lakukan. Kita akan ke Swordsman Guild yang di timur itu.”

Kaistern mengetuk pintu yang ditunjukkan terakhir oleh Latte dan membukanya saat ada perintah masuk dari baliknya. “Permisi.”

Di dalam ruangan terdapat dua orang yang sedang berbincang-bincang. Swordsman Master dan seorang berambut hijau yang duduk di atas meja. “Wah wah, Kaistern rupanya,” kata Swordsman Master yang bangkit dari kursinya. “Jadi, apa kau mendapatkan barang yang kuminta?”

Kaistern mengambil bungkusan yang berisi daging Bawoo dan memberikannya kepada pemimpin Swordsman Guild itu. “Ya, Pak.”

Swordsman Master menerima bungkusan itu dan menaruhnya di meja tanpa melihatnya. “Bagus. Mulai sekarang kau resmi bergabung dan menjadi Swordsman. Ini adalah Swordsman Emblem, lambang keadilan dan kehormatan. Lindungi yang lemah, dan berantas ketidakadilan,” tegasnya sambil memberikan Swordsman Emblem pada Kaistern.

“Selamat, Kai. Aku tahu kamu pasti bisa menjadi Swordsman yang hebat,” puji Latte sambil bertepuk tangan.

“Ya, aku benci mengatakan ini, tapi Emblem itu cukup keren kau pakai,” tambah Alceus sambil menyeringai.

“Terima kasih semuanya. Ini juga berkat kalian. Jadi Emblem ini milik kita bersama, bukan milikku sendiri. Lagipula Al..” potong Kaistern saat melirik kepada Alceus, “kenapa kau nggak coba saja menjadi Swordsman juga. Kau menuntaskan tesnya juga, aku yakin nggak ada masalah. Iya kan, Pak?”

Swordsman Master mengangguk, namun Alceus dengan cepat memotongnya sebelum ia sempat berbicara. “Nggak usah, terima kasih. Aku nggak punya rasa keadilan sepertimu dan melindungi orang lain. Lagipula, aku nggak punya orang yang ingin aku lindung setulus hatiku,” katanya sambil melirik ke Latte dan Kaistern bergantian. “Aku lebih suka menjelajahi tempat-tempat beru, menemui hal baru, dan menikmati hal-hal baru lainnya.”

“Wahaha, semangat yang bagus, bocah.” Pria berambut hijau dengan kacamata di dahinya yang dari tadi duduk di meja Swordsman Master akhirnya berbicara. “Siapa namamu, nak?”

Alceus melotot kepada pria tersebut dengan tatapan dingin. “Bocah? Nak? Kau pikir siapa dirimu? Dasar pak tua. Memakai kacamata saja tidak becus, jangan sok hebat deh! Lagipula kalau kau ingin tahu nama orang lain, perkenalkan dirimu sendiri dulu!”

Kaistern dan Latte yang mendengar hal itu cepat-cepat berusaha menghentikannya, namun terdahului oleh pria berambut hijau tadi dengan tawanya yang menggema di seluruh ruangan.

“Ahaha, maaf. Aku minta maaf memanggilmu bocah. Tapi kamu tidak memberikan namamu, jadi aku tidak tahu harus memanggilmu apa.”

“Al, kamu nggak boleh kasar! Orang ini—”

“Iya, iya. Nggak kau teruskanpun aku tahu. Aku mengaku salah!” Alceus memotong omelan Latte dan kembali menatap pria tadi dengan sedikit membungkuk. “Aku nggak tahu siapa kau, tapi kurasa aku kelewatan barusan. Maafkan aku. Namaku Alceus.”

Sambil tersenyum, pria berambut hijau tadi bangkit dari duduknya dan menghampiri Swordsman Master dengan tetap menatap Alceus. “Permintaan maaf diterima. Yang penting, jangan pernah lupakan apa yang terjadi hari ini. Minta maafpun juga bukan sesuatu yang memalukan. Tapi sesuai katamu, kamu tidak cocok menjadi Swordsman,” katanya sambil mengambilkan sesuatu dari dalam kantungnya dan melemparkannya ke Alceus. “Itu adalah Ranger Emblem, lambang kebebasan. Tapi bahkan kebebasanpun punya batasan. Kamu bebas berbicara, bukan berarti kamu bisa menghina orang lain. Kamu bebas mengambil Treasure Chest di reruntuhan atau tempat tak bertuan lainnya, bukan berarti kamu bisa mengambil barang milik orang lain. Masih banyak contoh lainnya, tapi kurasa kamu bisa mencarinya sendiri. Kamu paham maksudku?”

Alceus menatap lambang di tangannya untuk beberapa saat, lalu kembali menatap pria yang memberikannya. “Kurasa.. aku mengerti maksudmu. Tapi untuk apa Emblem ini?”

“Berarti kamu belum mengerti sepenuhnya maksudku,” jawab pria tersebut sambil melangkah ke pintu keluar. “Aku adalah Ranger Master. Dan dengan Emblem itu, aku mengakuimu sebagai Ranger resmi mulai sekarang. Tapi tentu saja, itu kebebasanmu tentang apa yang akan kamu perbuat terhadap Emblem itu. Mau kamu buang dan cari Job lainpun terserah.” Selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan, Ranger Masterpun hilang di balik pintu Swordsman Guild, meninggalkan Swordsman Master yang tersenyum memandang para tamunya yang dipenuhi rasa bahagia, walapun salah satunya masih bercampur rasa tidak percaya itu semua terjadi.


~ * ~

Saat matahari mulai menyembunyikan sinarnya di barat, suasana yang sebelumnya tak berangin mendadak dilanda angin kencang. Langit biru yang telah memerah mulai ditutupi awan-awan hitam. Air dengan cepat mengguyur seluruh daratan di sekitar Acropolis. Rupanya suasana tenang beberapa jam sebelumnya adalah ketenangan sebelum badai. Badai besar yang mendatangkan kesengsaraan bagi makhluk-makhluk penghuni Acronia Plains dan sekitarnya, yang menjadikan suasana di dalam dan di luar Acropolis sangat kontras.

Tapi ketidakbahagiaan itu tidak berlaku bagi seseorang. Di bawah sebuah pohon besar di Acronia Northern Plains, seorang gadis menyembunyikan dirinya dengan sempurna. Nafasnya terengah-engah melawan dinginnya malam dan air hujan, namun itupun tak menurunkan semangatnya. Bahkan ia berterima kasih atas hujan tersebut karena ia dapat meloloskan diri dari pengejarnya.

“Sedikit.. lagi..” katanya lemah. Ia menjulurkan tangannya ke arah gerbang utara Acropolis yang masih cukup jauh, gerbang yang menjadi garis finish dari perjuangannya dan menjadi akhir dari penderitaannya, “jika saja aku bisa meraihnya..”

“Di sini rupanya Anda, Tuan Putri. Anda sudah membuat saya repot.”

Terkejut akan suara itu, gadis tersebut menoleh. Di tengah kegelapan ini, ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok orang tersebut. Namun saat pandangannya dan pandangan orang tersebut, ia segera mengenalinya. Tatapan tajam dan dingin, tatapan yang hanya dimiliki oleh orang yang telah menghabisi seluruh pengawalnya. Dan saat itu pula seluruh kekuatannya lenyap bersama harapannya, meninggalkan tubuhnya terkulai lemas di bawah guyuran hujan. ’..sampai di sinikah?’
« Last Edit: November 18, 2010, 09:25:56 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter04]
« Reply #5 on: May 21, 2010, 11:32:47 PM »
A little note of mine. . .
    chapter 5, sempet panik karena cukup panjang dibanding FF laen disini.. takutnya bikin orang males baca.
    Tapi stelah diskusi sama temen, akhirnya dia bilang gpp sgini.
    Crita masuk ke konflik utama, slamat menikmati ^^
    jangan lupa kritik sarannya :D

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Seorang Dominion cantik berambut merah tampak duduk dengan santai di kursinya. Wajahnya sangat tenang, namun dalam hatinya ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan salah seorang bawahannya. Namun akhirnya penantiannya itupun selesai saat seorang pemuda masuk ke dalam ruangannya. “Selamat datang, Yust. Bagaimana misimu?”

Yust sadar bahwa Scout Master sangat penasaran tentang tugas yang dipercayakan kepadanya. Karena itu ia tidak membuang waktu lagi dan segera menghampiri wanita tersebut. “Kelihatannya cahaya itu menakuti beberapa hewan yang tinggal di daerah itu, namun selain itu tidak ada yang aneh.”

“Begitukah?” Scout Master menghela nafasnya. Di satu sisi, ia senang karena itdak ada sesuatupun yang berbahaya, walaupun di sisi lain ia agak kecewa karena cahaya ‘unik’ yang ia lihat hanyalah sebuah cahaya biasa, tidak lebih dan tidak kurang, meskipun ia tidak tahu dari mana cahaya itu berasal.

“Baiklah kalau begitu. Sebenarnya aku ingin memberimu istirahat, tapi kita punya tugas penting dari Mayor. Dan sayangnya, hanya kamulah satu-satunya yang bisa melakukannya saat ini,” kata Scout Master sambil mengambil selembar kertas dari mejanya.

“Tugas penting?”

“Ya, tugas kali ini—” jawab Scout Master yang terputus olah suara berisik dari ruangan sebelah. “Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu yang terjadi di sebelah? Tidak biasanya Swordsman Guild berisik sekali.”

“Oh, itu..” Yust tersenyum kecil seraya memandang tembok yang memisahkan kedua ruangan. “..saya rasa itu teriakan mereka.”

“Mereka?” tanya Scout Master heran.

“Teman-teman saya. Saya bertemu mereka di darah cahaya itu saat mereka sedang bertarung melawan Crimson Bawoo.”

“Crimson Bawoo? Nggak biasanya mereka berkeliaran di gunung. Tapi yang lebih aneh lagi adalah Yust yang punya ‘teman’ sekarang,” katanya sambil tertawa. “Tentu saja, aku tidak melarangmu berteman. Tapi aku harap kamu ingat bahwa bagi kita, Scout, tugaslah yang terpenting. Kamu bilang kamu bertemu mereka di cahaya itu kan? Setelah misi kali ini selesai, bawalah mereka menemuiku. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada mereka.”

“Tentu saja, Master,” jawab Yust dengan penuh keyakinan, seolah menjawab pertanyaan Scout Master tentang dedikasinya pada misi. “Jadi, apa misi kali ini?”

“Kita mendapat laporan bahwa Northern Kingdom mengirim putri dan pengawalnya ke sini untuk urusan diplomatik. Mereka berangkat kemarin, jadi seharusnya mereka sudah sampai, atau setidaknya kamu  bertemu mereka saat mengecek cahaya itu.” Scout Master bangkit dari duduknya dan menatap mata Scout di hadapannya dengan tajam. “Tapi dari ceritamu, kamu nggak bertemu mereka, kan? Kamu mengerti maksudku?”

“Ya, saya mengerti,” jawab Yust singkat. Ia paham jika terjadi apa-apa pada tuan putri mereka, maka hubungan antara Northern Kingdom dan Acropolis bisa saja merenggang. “Saya akan segera mencari rombongan itu. Lagipula, hilangnya tuan putri itu mungkin saja ada hubungannya dengan cahaya aneh itu.”

Scout Master tersenyum mendengar jawaban pemuda tersebut. “Bagus kalau kamu mengerti. Tugas ini mungkin akan sulit karena kita sama sekali nggak tahu apa yang terjadi.”

“Terima kasih. Tapi sesulit apapun itu, misi tetaplah misi. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang Scout,” jawabnya dengan tenang. Baginya, kalaupun misinya adalah misi bunuh diri, ia akan tetap melakukannya. Sambil membungkuk dan berjalan ke arah pintu, ia berkata, “kalau begitu saya pamit sekarang.”

“Oh iya, aku punya satu kabar lagi untukmu.” Kata-kata Scout Master menghentikan Yust untuk sesaat. “Mulai sekarang dan seterusnya, kamu akan menjalankan misimu sebagai seorang Assassin.”


Chapter 04: Princess of Magic Kingdom

Menembus badai dan kegelapan malam, sang Assassin baru berlari menuju jalan yang telah ia lewati sebelumnya di hari yang sama, jalan menuju gunung yang akan membawanya ke Northern Kingdom. Namun dalam kegelapan itu, bahkan matanya yang tajam tidak bisa banyak membantunya. Hanya instingnyalah yang bisa ia andalkan saat ini.

Tapi belum lama sejak ia meninggalkan Acropolis North Gate, sesuatu berbisik di dalam kepalanya, menyuruhnya untuk berhenti. Ia tidak tahu apa itu, tapi hati kecilnya berkata bahwa ia akan menyesal jika ia tidak menuruti firasatnya saat itu, walaupun firasat itu merupakan firasat buruk.

“Perasaan ini.. sepertinya tidak asing,” bisiknya seraya mendekati pepohonan yang terletak agak jauh dari tujuan awalnya. Disana ia melihat sosok yang tidak seharusnya ada di tengah badai seperti malam itu, sosok pria yng mengendarai seekor naga biru, yang diikuti dengan sosok wanita yang terkulai lemas di belakangnya.

“Lepaskan gadis itu!”

Pria tersebut menoleh ke arah datangnya suara tadi dan mendapati beberapa bilah pisau terbang ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Sayangnya tidak satupun dari pisau-pisau itu mengenai sasarannya, terhalang oleh naga biru yang dengan sigap menangkis semua dengan ekornya meski beberapa berhasil menggores topengnya. “Assassin?”  Namun ekspresi kagetnya segera hilang dan tergantikan oleh senyuman. “Tidak pernah terpikirkan bahwa aku akan bertemu kau di tempat seperti ini. Mungkin ini yang dinamakan ‘takdir’?”

Yust mengernyitkan dahinya. Apa dia pernah bertemu pria itu sebelumnya? Sekali lagi firasatnya mengatakan bahwa pria itu tidak asing, walaupun ia tidak dapat mengingatnya sekeras apa ia berusaha. Tapi itu bukanlah hal yang terpenting saat ini. Selamatkan wanita yang kemungkinan besar adalah putri dari Northern Kingdom, itulah misinya. Dan ia tahu bahwa pria di hadapannya bukanlah orang yang dapat ia kalahkan dengan mudah. Karena itu ia mengambil sebuah botol kecil dari tas kecilnya dan meminumnya dalam sekali teguk.

“Itu.. racun, kan?” seru pria bertopeng itu dengan nada hati-hati. “Tidak sembarang orang bisa menggunakannya dengan benar. Apa kau berniat untuk mengalahkanku dengan mengorbankan diri?”

“Tidak,” jawab si Assassin dengan tenang saat rasa sakit mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Namun seiring dengan rasa sakit itu, ia merasakan kekuatan yang berlimpah. “Aku akan mengalahkanmu dan membawa gadis itu ke Acropolis. Satu-satunya yang akan menjadi korban di sini adalah kau!” Selesai berkata demikian, Yust segera maju dengan kecepatan yang luar biasa.

“Ugh!!” Pria tersebut dengan sigap mencabut tombaknya dan melompat turun dari tunggangannya, mencoba menghalau serangan sang Assassin. Namun lawannya melompatinya dengan mudah dan lenyap dari hadapannya dalam sekejap. “Apa?!” Pria tadi menoleh dan mendapati lawannya telah menggendong buruannya.

Pria tersebut menghela nafas panjang dan dalam hati mengutuk dirinya sendiri akan kebodohannya. Setelah semua yang dikatakan, bagaimana mungkin ia tidak menyadari bahwa target utama musuhnya itu bukanlah dirinya, melainkan gadis tangkapannya? “Selamat, kau telah berhasil mengelabuiku. Mungkin aku terlalu bersemangat karena pertemuan kita ini sampai-sampai bisa terkecoh seperti ini. Tapi kau tak akan kemana-mana, terlebih dengan gadis itu!”

Karena adanya badai malam itu, angin berhembus dengan sangat kencang. Namus tiba-tiba seluruh angin yang ada membelokkan arahnya dan berkumpul di sekitar tombak milik pria tadi. Sang Assassin tahu, jika ia menerima langsung energi yang dikumpulkan di tombak itu, maka habislah riwayatmu. Namun energi yang dikhawatirkannya lenyap saat pemilik tombak tersebut menyimpan kembali tombaknya.

“Kau beruntung kali ini. Melawan musuh sebanyak ini, bahkan aku sekalipun tidak akan menang.” Selesai ia berkata seperti itu, belasan sosok hitam mendarat mengelilinginya. “Wanita itu memang selalu penuh perhitungan, tidak heran ia menjadi pemimpin kalian para Assassin. Mengirim satu orang agar aku tidak langsung kabur, tapi dengan hati-hati menempatkan pasukan di sekitar tempat ini. Baiklah, aku mengaku kalah kali ini. Kau boleh membawa gadis itu bersamamu.”

“Bukan hanya gadis itu yang akan kami bawa,” seru salah seorang Assassin yang baru tiba, “kau dan kejahatanmupun akan diadili di Acropolis!”

“Begitukah?” tanya pria tersebut sambil membetulkan topengnya. “Aku tidak yakin akan hal itu.”
Tiba-tiba malam yang saat itu sudah sangat gelap, bertambah kegelapannya saat sebuah benda  melayang di langit dan menutupi para Assassin dengan bayangannya. Sebuah tali terurai tepat di hadapan pria bertopeng yang langsung menyambutnya.

“Airship?! Jangan biarkan dia lolos!”

Layaknya tali yang sebelumnya jatuh dari atas Airship, para Assassinpun juga mendapatkan sesuatu dari atas sana. Namun bukan tali, melainkan hujan peluru yang memaksa para Assassin untuk menghentikan pengejarannya.

“Selamat tinggal. Kita akan bertemu lagi, Yust!”


~ * ~

“Saya sudah menyembuhkan semua lukanya, tapi dia masih perlu istirahat sampai benar-benar pulih. Saya rasa dia akan segera siuman. Sekarang saya izin pamit dan kembali ke White Church,” kata seorang Druid Titania setengah baya kepada Mayor Acropolis seraya membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan.

Wanita pemimpin Acropolis itu kemudian menoleh ke arah Dominion di sampingnya. “Terima kasih. Kamu memang seorang Scout Master yang bisa diandalkan. Berkatmu kita bisa melindungi Putri sekaligus hubungan kita dengan Norther Kingdom.”

“Anda terlalu memuji. Sebenarnya para Assassinlah yang berjasa,” jawab Scout Master merendah kepada wanita yang sudah cukup berumur itu. “Seharusnya salah satu Assassin yang berhadapan langsung dengan orang yang berusaha menculiknya segera—”

Belum sempat Scout Master menyelesaikan kalimatnya, seseorang mengetuk pintu Scout Guild. “Permisi. Selamat malam Master.. oh, selamat malam Mayor,” tambah pria yang masuk tadi dengan cepat. Ia tidak menyangka sang pemimipin dari kota Acropolis ada di sana.

“Masuk, Yust,” perintah Scout Master yang kemudian melirik ke orang-orang yang ada di belakang Assassin tersebut, “dan mereka?”

“Mereka yang Anda bilang ingin Anda temui,” jawab Yust singkat.

“Oh, begitukah? Terima kasih telah membawa mereka kesini,” seru pemimpin para Assassin sambil berjalan menghampiri orang-orang yang diajak bawahannya. “Dan kalian.. santai saja. Aku hanya ingin mengobrol sedikit dengan kalian.”

“Baiklah,” jawab Kaistern dengan sopan, yang kemudian diikuti oleh kedua temannya.

“Kalau begitu, aku akan meninggalkankan kalian dulu agar tidak mengganggu. Lagipula masih ada yang perlu kukerjakan,” kata Mayor tiba-tiba. Sambil tersenyum ke arah pemuda-pemuda di depannya, iapun kemudian meninggalkan ruangan tersebut.

Mata Alceus mengamati seluruh ruangan yang ia masuki dengan penuh rasa penasaran seperti saat ia pertama kali datang ke Guild Palace. ’Jadi seperti ini ruangan Scout Master ya..’ Sampai suatu saat, pandangannya berhenti pada sosok yang tengah terbaring di atas sebuah kasur. “Hey, Yust. Siapa dia?”

“Oh, maaf. Aku lupa memberitahumu.” Yust bergerak ke samping agar ketiga temannya bisa melihat gadis yang terbaring itu dengan lebih jelas. “Dia adalah Putri Magdaleine, calon ratu selanjutnya dari Northern Kingdom. Aku yakin kalian pasti tahu tentangnya, kan?”

Mendengar nama anggota kerajaan dari kerajaan magic, Northern Kingdom, sang Swordsman dan Vates di sebelahnya mengangguk dengan kagum, sementara Ranger di sampingnya berkata, “Oh, begitu ya? Hebat juga seumuran dengan kita, tapi seorang putri. Tapi apa kerajaan itu sebegitu hebatnya? Maksudku, Kai dan Latte menunjukkan peta Acronia padaku. Debandingkan dengan Morg, Iron South, atau Fareast, Northern Promenade jauh lebih kecil.”

“Itu karena—”

“Bisakah kalian diam? Pembicaraan kalian sampai-sampai membuatku bangun!” kata sang putri yang tiba-tiba membuka matanya dan berusaha bangun. Ia melirik Ranger berambut pirang di hadapannya dengan tatapan tajam. “Terutama kau, rakyat jelata. Kekurang ajaranmu membuatku kasihan.”

“Bah, arogan sekali kau! Percuma punya wajah cantik, tapi kelakuanmu seperti ini!” jawab Alceus kesal.

“A-apa?! Beraninya kau!” Wajah sang putripun memerah karena marah karena ejekan sekaligus pujiannya. “Seseorang, jelaskan pada orang yang tak tahu diri ini!”

“Hah? Kau bahkan nggak bisa menjelaskan kerajaanmu sendi—”

“Umm, Al, aku akan menjelaskannya,” potong Latte sebelum situasi bertambah buruk. “Northern Promenade hanyalah bagian kecil dari Northern Kingdom. Northern Kingdom yang sebenarnya merupakan kerajaan yang tersembunyi dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu. Mereka biasanya nggak berhubungan langsung dengan dunia luar, biasanya hanya mengirim perwakilan mereka.”

“Ya, dan itulah saat para robot itu menyerangku..” tambah Magdaleine sambil menghela nafasnya saat teringat para prajurit yang gugur melindunginya.

“Robot?!” Mendengar kata-kata itu, bayangan saat pertemuan sekaligus perpisahannya dengan Tita kembali ke kepala sang Ranger. “DEM?!”

“DEM?!” sebuah suara datang dari arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Pemilik suara itupun tanpa sengaja menjatuhkan obat-obatan dan minuman yang dibawanya untuk sang putri. “Nggak mungkin!”

“Masha? Apa yang kau—” seru Yust tiba-tiba saat melihat pendatang baru di ruangan itu. “Umm, yang lebih penting, apa kamu tahu sesuatu tentang DEM yang Al bilang?”

Gadis bernama Masha tampak bingung dan kemudian melirik ke arah Scout Master. Setelah mendapat anggukan tanda setuju, iapun perlahan membuka mulutnya. “Mereka robot-robot paling canggih yang pernah ada. Pertempuran dengan mereka di akhir Machine Age membawa kehancuran bagi Acropolis. Tapi.. seharusnya mereka tidak ada di sini lagi.. Aku harus memberitahunya!” Selesai mengucapkan itu, iapun pergi meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.

“Beberapa tahun lalu, beberapa DEM dan robot-robot dari Machine Age muncul kembali. Kami berhasil menghindari kepanikan dengan mengirim kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang terbaik dari setiap ras. Pertempuran itu benar-benar nyaris, tapi kami berhasil pada akhirnya,” jelas Scout Master menambahkan penjelasan Masha yang terputus.

“Berhasil? Maksudmu.. kalian menang?”

“Dulu kami pernah mencoba melakukannya sendiri, tapi kami gagal.”

“Tidak, ini tidak sama dengan yang Tita katakan.. Dia bilang kalau mereka..” Otak Alceus bekerja sekeras mungkin untuk menyatukan semua kepingan puzzle yang ada, tapi itu  percuma. Kepingan-kepingan tersebut kontradiksi satu sama lain. “Hanya satu orang yang bisa menjelaskan ini semua. Dan kalau dia adalah orang yang akan ditemui Masha..”

“Tita?!” Scout Master terkejut saat mendengar nama yang tidak asing di telinganya. “Kamu bertemu dengannya?! Di mana dia?!”

Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Scout Master, Alceus berlari meninggalkan ruangan untuk mengejar gadis yang menjadi kunci bagi kepingan-kepingan puzzlenya.

“Al, tunggu!” Kaistern dengan segera mencoba menyusul temannya itu, namun sayang langkahnya terhenti oleh pria yang merupakan atasannya. “Pak?”

Swordsman Master melirik ke arah ranger yang berpapasan dengannya beberapa detik lalu, sebelum akhirnya kembali memandang Swordsman baru di hadapannya. “Maaf, Kai, tapi aku butuh kau dan seluruh Fighter yang ada untuk sebuah tugas penting.”

“Apa lagi kali ini?” tanya Scout Master tampak tak tertarik. “Maaf, tapi Assassin ini tidak bisa ikut denganmu. Dia punya tugas khusus dariku.”

“Tugas khusus?” tanya Yust penasaran.

“Ya. Kamu akan mengantar Nona Magdaleine kembali ke Northern Kingdom. Mereka bilang mereka akan menjemputnya, tapi aku punya firasat akan semakin cepat kita mengembalikannya, semakin baik.

“Aku mengerti. Aku akan menyiapkan semuanya dan berangkat besok pagi-pagi sekali.” Yust menghormat ke atasannya dan segera meninggalkan ruangan tersebut. “Sampai nanti, Kai, Latte.”

Kaistern memandangi Yust sampai ia hilang dari pandangannya, kemudian berbalik untuk melihat Latte yang tengah menghibur Magdaleine atas kehilangan orang-orangnya. Swordsman itupun menutup pintu Scout Guild dengan pelan sebelum akhirnya kembali menghadap atasannya. “Jadi, apa yang bisa saya lakukan untuk Anda, Pak?”

“Ada laporan tentang orang-orang yang berkumpul di Light Tower dalam jumlah banyak, beserta pasukan robot. Aku nggak terkejut kalau mereka bagian dari orang-orang yang ingin menculik Putri Magdaleine.” Sambil menghela nafas panjang, ia melanjutkan, “Melihat dari jumlah mereka yang bisa dikatakan lebih dari cukup untuk berperang, hanya soal waktu sampai Morg jatuh ke tangan mereka. Kita tidak akan sempat menolongnya, namun kita tidak boleh menjadikan Acropolis sebagai medan pertempuran. Karena itu kita akan menyergap mereka di Mothgue Cliff.”

Swordsman Master memandang wajah Kaistern yang terkejut mendengar apa yang dikatakannya. “Aku tahu ini misi pertamamu, dan ini juga mungkin akan menjadi misi terberatmu,” katanya pelan sambil menepuk pundak si Swordsman muda. “Aku merasa bersalah karena hal ini, dan hanya satu hal yang bisa kukatakan. Semoga berhasil.” Dan dengan itu, ia meninggalkan Kaistern sendiri, yang masih terus memandangnya dengan wajah tidak percaya.

« Last Edit: November 18, 2010, 09:30:27 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter05]
« Reply #6 on: May 27, 2010, 11:51:53 AM »
A little note of mine. . .
    sbnrnya masih nunggu ch 5 di review, tapi melihat dan mengikuti 'fast post'nya PsychoAssassin, akhirnya ku post aja d ini ch 6nya. @_@
    masuk terlalu dalam dg NPC, smoga gak OOC ato malah kluar crita @_@

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


“Masha, tunggu!” Suara ranger muda bergema di tengah kegelapan malam. Namun secepat apapun ia mencoba mengejar wanita yang berlari di depannya, ia sama sekali tidak mampu mempersempit jarak di antara mereka. “Sial.. biarpun perempuan, tapi orang yang sempat dikatakan sebagai salah satu yang terbaik dari tiap ras memang nggak bisa diremehkan..”

Saat ia hampir kehilangan harapan, wanita yang dikejarnya akhirnya menghentikan langkahnya di Acropolis East Bridge. Wanita itu menatap pengejarnya dengan tatapan tajam sekaligus tatapan yang penuh keheranan.

“Untuk apa kamu mengejarku? Di luar sedang badai, kembalilah ke rumahmu.”

“Badai juga berlaku untukmu kan? Tapi layaknya kau yang harus menemui orang itu, aku juga harus menemuinya,” jawab Alceus tegas. “Aku punya pesan untuknya.”

“Pesan? Pesan apa dan dari siapa?” tanya Masha.

“Dari seorang gadis malaika- maksudku Titania, Tita. Dia bilang—”

“Dari mana kamu tahu nama itu?” potong Masha sebelum pria di hadapannya menyelesaikan kalimatnya. Sejauh yang ia tahu, hanya orang-orang tertentu dan penting Acropolis yang mengenal nama itu. “Lagipula dia sudah meninggal, nggak mungkin dia titip pesan lewat kamu.”

“Dia masih hidup! Emm, walau mungkin hanya jiwanya..” sanggah Alceus. “Kalau kau ingin bukti.. aku tahu kalau kalian nggak benar-benar menang di perang selanjutnya. Pemimpin kalian terluka parah, dan Tita menyelamatkannya dengan mengorbankan nyawanya. Benar kan?”

Keheningan melanda kedua orang yang berbicara di tengah badai, seolah angin yang mengamuk di sekitar mereka tidak pernah ada. “Bahkan Mayorpun nggak tahu soal ini. Kurasa kamu nggak bohong. Jadi di mana kamu bertemu dia dan apa pesannya?”

“Entahlah, aku nggak tahu pasti. Yang jelas pembicaraan kami terputus saat DEM datang dan mengepung kami. Ia memintaku melakukan sesuatu tentang itu dan mengirimku ke sini. Dia juga bilang kalau kalian pasti mau membantuku,” jelas Alceus sambil mereka ulang kejadian itu di kepalanya. “Dia.. juga bilang kalau dia merindukan pemim- maksudku kalian semua.”

“Sudahlah, aku tahu kok,” kata Masha sambil tersenyum lemah. “Tapi.. aku mau kamu nggak menyebut nama Tita di depan dia. Salah satu efek samping dari magic yang digunakan Tita, dia kehilangan ingatannya soal Tita. Kami sepakat untuk nggak menyinggungnya lagi dan membiarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang. Kalau nggak, melihat dari sifatnya, dia pasti akan terus menyalahkan dirinya tentang apa yang terjadi.”

“Begitukah?” kata Alceus mencoba memahami. “Aku mengerti.. walaupun aku nggak tega kalau pesannya nggak sampai sepenuhnya.”

“Terima kasih. Sekarang tidurlah. Besok pagi aku akan membawamu menemuinya,” seru Masha yang kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah Downtown.

“Yeah! Dengan ini satu urusanku beres! Saatnya kembali ke tempat Kai dan bersiap untuk besok,” seru Ranger muda itu kegirangan. Ia bahkan tidak sadar dan peduli kalau dirinya sudah basah kuyup saat itu.

CLEP!

“Eh?” Tiba-tiba Alceus merasa sesuatu menabraknya. Ia meraba bahu kanannya dan menyentuh sesuatu yang panjang bersarang di sana. Ia mengamati tangannya yang basah, namun bukan oleh air yang bening, melainkan oleh darah yang merah pekat.

“Tidak akan kubiarkan kau menemui pria itu.”

“Si.. siapa?” Seluruh tenaganya meninggalkan tubuhnya dan memaksanya untuk jatuh ke lantai. Ia mencoba untuk melihat pemilik suara tersebut, namun yang berhasil dilihat matanya hanyalah sosok pria dengan busur di tangannya, sementara wajahnya tidak terlihat jelas. Itulah hal terakhir yang dapat ia lihat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


Chapter 05: Battle of Mothgue

“Kai..” panggil gadis Titania berambut biru layaknya kristal air di daerah utara. Matanya mengamati Swordsman yang tengah menyiapkan segala perlengkapannya, mulai dari pedang sampai obat-obatan penyembuh seperti potion dan tonic. “Padahal tadi kita masih berempat. Kukira kita bisa melakukan misi-misi sama-sama, tapi besok semua akan berpisah. Rasanya semua mendadak sepi, hanya kita berdua di sini.”

Kaistern mengamati pedangnya yang masih terlihat berkilau dan memastikan kondisinya siap pakai. “Maksudmu, berdua denganku membosankan?” katanya sambil tertawa pelan.

“Eh? Nggak kok. Maksudku—”

Sang Swordsman memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya dan menyenderkan di tembok. Ia berbalik dan memandang gadis di depannya. “Aku mengerti kok, Latte. Aku juga merasa begitu,” jawabnya sambil menepuk bahu Latte sambil tersenyum.

Memandang senyum Kaistern, jantung Latte berdegup semakin kencang. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. “Kamu.. akan kembali kan?”

“Tentu saja. Jangan khawatir, kita akan bersama lagi segera,” hibur Kaistern sementara tangannya merangkul Latte. “Sekarang pulanglah. Master dan yang lainnya sudah menungguku. Mothgue Cliff lumayan jauh, belum lagi kamu harus menyiapkan segala sesuatunya di sana. Jadi kami harus berangkat sebelum matahari terbit.”

“Baiklah,” angguk Latte, “semoga berhasil.”


~ * ~

Pagi itu, Acronia West Plains dipenuhi pasukan gabungan dari empat Fighter Guild. Meskipun hanya setengah, tapi jumlah mereka cukup untuk membuat pasukan manapun gentar hanya dengan melihat mereka. Badaipun telah sedikit mereda, walaupun kegelapan malam belum hilang. Empat orang pemimpin dari setiap guild berjalan paling depan.

“Morg dan Light Tower terpisah lautan, jadi butuh waktu untuk sampai ke Morg. Belum lagi Morg yang kuyakin tidak akan takluk semudah itu. Kalau kita cukup cepat, kita bisa menolong mereka, tapi kalau tidak, kita terpakasa kembali ke rencana semula kita, menyergap mereka di Mothgue Cliff,” teriak Swordsman Master menjelaskan kepada pengikutnya.

“Begitukah? Jadi kita berangkat lebih cepat agar bisa menyelamatkan Morg,” gumam Kaistern dalam hati. Para Swordsman di sekitarnya saling berbincang satu sama lain sambil mengisi waktu dan menghilangkan ketegangan. Namun ia tidak dapat menghilangkan perasaan tidak enak yang ada dalam hatinya. ’Kenapa.. aku merasa nggak enak ya..’

Tanpa terasa, waktu berlalu cepat. Lamunan Kaistern terhenti oleh teriakan Swordsman Master yang memberi tahu pasukannya bahwa mereka sudah sampai. “Terlambat..” kata Swordsman Master saat melihat asap dari arah Morg. “Baiklah, kita akan menyergap mereka di sini. Semua harap bersiap.”

“Bukit ini.. cocok untuk kita para Archer,” kata seorang wanita berbaju hijau dan memegang busur, serta quiver di punggungnya. “Baiklah, aku akan segera menempatkan para Archer di posnya masing-masing.”

“Beberapa Scout akan mengintai perkembangan musuh,” kata Scout Master sambil menunjuk beberapa orang bawahannya yang kemudian meninggalkan kelompoknya.

“Di sinikah?” Kaistern meletakkan bawaannya di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Sebenarnya Ia masih sedikit mengantuk, namu semua ketegangan akan perang pertamanya membuat kantuknya hilang sepenuhnya. Tapi apa salahnya bersandar dan istirahat sebentar sebelum mulai. “Aah, baru sebentar aku sudah kangen sama yang di Acropolis..”

“Siapa? Pacarmu?” tanya seorang Swordsman yang ada di dekatnya.

“Hmm.. Nggak juga sih. Hanya teman,” jawabnya singkat seraya mukanya sedikit memerah, “masih teman.”

“Ahahaha, kalau begitu selesaikan ini secepatnya, kemudian tembak dia. Memangnya siapa yang nggak mau menerima pahlawan perang seperti kita setelah kita pulang nanti? Untuk urusan wanita, orang-orang seperti kita tinggal pilih,” kata orang tadi sambil duduk di sebelah Kaistern. “Aku juga, ingin melamar pacarku saat kembali nanti. Dia pasti bangga."

“Wah hebat, jangan lupa undang aku ya,” kata Kaistern sambil tertawa. Ia lalu memandang ke langit, melihat wajah gadis Titania yang seolah tergambar di antara awan. “Tapi benar juga ya.. Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya nanti.”

“Nah, begitu dong! Aku akan menduku—”

“SEMUA SIAGA!!”

Teriakan Swordsman Master  menghentikan pembicaraan kedua Swordsman. Keheningan berubah menjadi suara desingan peluru di mana-mana. Dalam sekejap, Mothgue Cliff dipenuhi ksatria-ksatria Acropolis yang terkujur kaku.

“MUNDUR!”

“A-apa yang terjadi?” seru Kaistern tak percaya. “Kita.. kalah dalam sekejap?!”

Sebuah robot dengan senapan mesin di ujungnya mengunci Kaistern sebagai targetnya. Peluru-peluru melesat menuju Swordsman muda yang masih tidak bisa bergerak karena keterkejutannya itu.

“Awas!”

Peluru menghujam tubuh Swordsman yang diikuti darah yang bercucuran keluar. Namun itu bukan tubuh Kaistern, melainkan tubuh sahabat barunya yang berhasil melindunginya di detik-detik terakhir. “Kau.. nggak apa-apa?” tanya si Swordsman dengan tenaga terakhirnya. Tapi ia tenang saat mengetahui Kaistern, orang yang dilindunginya, tidak terluka sedikitpun.

“Eh?! Kenapa kau melakukan ini?! Bertahanlah!”

“Pergilah! Kembali ke Acropolis.. dan selamakan gadismu..” Selesai mengucapkannya, sang Swordsmanpun menghembuskan nafas terakhirnya.

“Tunggu! Jangan mati! Bagaimana dengan pacarmu?! Kau akan melamarnya kan?! Kalian akan menikah setelah ini kan?!” Dengan air mata yang keluar dari matanya, Kaistern mengutuk dirinya yang tidak bisa bergerak dan menyebabkan semua itu terjadi. Ia berdiri dan menggenggam pedangnya erat-erat, memandang robot yang merenggut nyawa temannya.“Aku.. akan membalaskan dendammu!”

Tapi belum sempat ia bergerak, seseorang menarik tangannya. Tubuh orang itu tidaklah besar, namun Titania tersebut mampu menghempaskannya dengan mudah. “Kau dengar kata-katanya! Lagipula Mastermu telah memerintahkanmu untuk mundur, tunggu apa lagi?! Kalian merupakan tanggung jawab kami, karena itu, aku dan para master lainnya yang akan mengurus mereka, termasuk FoxHound itu. Sekarang cepat pergi!” Titania itu mencabut rapiernya dan melesat menuju kumpulan musuhnya.

Kaistern memandang sekitarnya. Sebagian besar telah gugur, hanya tersisa beberapa yang melawan sambil terus mundur. Di kejauhan, ia juga melihat panah-panah Archer Master yang menembus tubuh besi para FoxTrot, pedang Swordsman Master yang menari-nari seraya menghancurkan FoxTrot di sekitarnya, serta cakar Scout Master yang mencabik-cabik FoxHound lainnya.

“Benar juga.. Di sini nggak ada yang bisa kulakukan, tapi ada yang harus kulakukan di Acropolis,” kata Kaistern pada dirinya sendiri seraya bangkit dari tanah. Dengan kecepatan penuh, ia berlari ke arah Killer Bee Hill.

Tapi sunggu disayangkan baginya, bahkan Killer Bee Hillpun telah dipenuhi oleh pasukan robot, FoxHound dan FoxTrot. Makhluk-makhluk asli penghuni bukit itupun telah banyak bergelimpangan bersama rekan-rekan Fighternya yang melarikan diri.

“Nggak mungkin.. mereka ada di sini juga..” seru Kaistern tak percaya. Bukan hanya mereka menyergap para Fighter, tapi mereka juga menghadang jalan lari mereka. “Tapi ini memberi tahuku kalau aku nggak punya banyak waktu,” katanya sambil menghunus pedangnya.

Tiba-tiba seseorang melompat ke tengah-tengah para robot. Di tangannya tergenggam sebuah senapan yang sama sekali tidak cocok dengan pertempuran jarak dekat. Namun tembakannya yang secepat kilat melubangi robot-robot tersebut dalam sekejap.

Orang tersebut menghampiri Kaistern dengan tenang. “Jangan bodoh! Kau nggak akan bisa masuk ke kota secara frontal.”

Untuk kedua kalinya dia diselamatkan oleh orang yang tak dikenalnya. Namun tidak ada alasan untuk kasar kepadanya, seperti yang ia lakukan dulu pada Yust. “Kuasumsikan, kau ada di pihak kami kan? Tapi senjatamu itu..” kata Kaistern sambil menyarungkan pedangnya dan memandang senapan di tangan orang tersebut. Serangan yang mirip dengan serangan para robot.

“Oh ini?” tanya orang tersebut menyadari rasa penasaran Kaistern. “Ini kubuat dari sisa-sisa teknologi Machine Age. Musuh kita juga dari zaman itu, jadi nggak heran kalau serangan kami mirip. Aku adalah seorang tentara bayaran. Archer Master menyewa tenagaku kalau terjadi apa-apa pada operasi kali ini. Jadi bisa dibilang aku ada di pihakmu.”

“Aku mengerti. Jadi kau akan membantuku memasuki kota, kan, emm..”

“Lien. Aku seorang sniper, jadi orang-orang biasa memanggilku SnipLien,” jawab orang tersebut mengenalkan diri. Pergi ke Acropolis sama saja bunuh diri. Mereka sudah mengepungnya, jadi nggak mungkin kita ke sana.”

“Tapi.. Latte ada di sana!” teriak Kaistern panik. “Dia menungguku! Aku nggak mungkin meninggalkannya!”

Tiba-tiba sebuah peluru melesat dan mengoyak beberapa helai rambut si Swordsman, hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinganya. “Aku mengerti alasanmu, tapi kau nggak punya pilihan lagi. Kita akan menuju ke selatan melewati Fruit Forest dan Staff Dessert. Dengan begitu kemungkinan kita hidup lebih tinggi. Ikut aku, atau kau lebih baik mati di sini olehku daripada oleh robot-robot itu.”

“Tapi.. Latte menungguku..” kata Kaistern masih belum bisa menerima kata-kata Lien.

Sambil menghela nafas, Lien menggelengkan kepalanya. “Dengar, Latte ini akan semakin sedih kalau ia tahu kau mati. Percayalah, Acropolis sangat kuat dan nggak akan jatuh walau dikepung seperti ini. Tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa. Mereka menguasai daratan di sekitar Acropolis, jadi hanya ada satu cara untuk membantu Acropolis. Kita harus mengirim bantuan lewat udara.”

“Udara? Maksudmu?”

“Kita akan pergi ke selatan, melewati Iron South dan akhirnya ke kepulauan Tonka. Di sana banyak insinyur yang ahli dalam Airship. Kita harus mendapatkan bantuan dari mereka jika ingin membantu Acropolis,” jelas Lien yang mulai berjalan ke arah Fruit Forest.

“Begitukah?” gumam Kaistern sambil memandang Acropolis yang megah untuk terakhir kali, sebelum ia akhirnya berjalan mengikuti Lien. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu. Aku akan melakukan apapun untuk menolong Acropolis dan menyelamatkan Latte!”

Puas akan jawaban Kaistern, Lien tersenyum. “Bagus. Dengan ini kau akan mendapatkan apa yang kau mau, dan akupun akan menyelesaikan misiku dengan mudah,” gumam Lien dengan suara yang tak terdengar Kaistern.

“Tapi.. aku masih nggak mengerti,” seru Kaistern dengan kepala yang sudah dingin. “Harusnya kita yang menyergap mereka. Tapi kenyataannya malah kita yang disergap. Terlebih lagi mereka mendahului kita ke Acropolis.”

“Jawabannya simpel,” kata Lien tanpa menghentikan langkahnya. “Ada penghianat yang membocorkan rencana kita ke musuh.”

« Last Edit: November 18, 2010, 09:37:35 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter06]
« Reply #7 on: July 02, 2010, 02:11:13 PM »
A little note of mine. . .
    update stelah skian lama..
    mencoba memunculkan char baru, tp karna tuntutan suasana, karakter yg supposed to be 'brengsek' malah terkesan serius.. fail.. "orz
    yah, smoga ini karna situasi serius, dan ke depannya bisa buat lbh ngaco lg.. :santai:

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


“Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Tuan Putri?”

Seolah tersadar oleh pertanyaan pria di sampingnya, sang putri dari kerajaan di utara menoleh ke arah pria tersebut. “Menggangguku? Tentu saja ada,” jawabnya seraya menyilangkan kedua tangannya, “aku nggak mengerti cara pikir kalian!”

Mendengar perkataan gadis itu, Yust mengernyit. “Maksud Anda?”

“Kamu tahu kan siapa aku ini? Aku ini Ratu Northern Kingdom selanjutnya! Dan saat ini ada orang jahat yang ingin menculikku, tapi lihat apa yang kudapatkan?! Seorang pengawal, seorang! Kamu pikir aku bisa tenang apa kalau hanya dijaga kamu seorang? Bahkan pengawal-pengawalku yang hebatpun nggak mampu menjagaku, apalagi kamu?”

Yust terdiam. Ia mengerti maksud dari perkataan wanita di hadapannya. Sebenarnya ia malas untuk meladeni gadis manja di hadapannya itu. Dalam hatinya, ia lebih baik dikirim ke medan perang bersama teman-temannya, tidak, sendiri menghadapi musuhpun terdengar lebih baik daripada harus bersama putri itu. Tapi demi nama baik Acropolis, apa boleh buat. Kalau itu misi, melompat ke gunung berapi di selatan dan bertarung melawan Homura sang dewa api pun akan ia lakukan. “Saya mohon maaf untuk ketidak nyamanan ini, tuan putri, tapi Anda dengar sendiri apa yang terjadi di Acropolis. Saat ini kita sedang kekurangan orang karena musuh yang muncul dari barat. Dan lagi menurut Master saya, bergerak dengan kelompok kecil akan lebih aman.”

Kali ini giliran Magdaleine terdiam. Sebenarnya ia masih belum puas dengan semua yang Yust katakan, tapi putri itu lebih memilih untuk tidak memperpanjangnya lagi. “Terserahlah! Aku nggak mau tahu! Lagipula orang dari Northern Kingdom akan segera menjemputku,” katanya sambil meneruskan langkahnya. “Tapi aku penasaran apa yang terjadi Acropolis. Sudah setengah hari lebih sejak kita berangkat, kita bahkan sudah memasuki daerah Northern Kingdom, tapi nggak ada kabar sama sekali dari mereka.”

Yust mengernyit, “apa Anda.. mengkhawatirkan mereka?”

“Mengkhawatirkan mereka? Tentu saja tidak!” jawab Magdaleine yang mempercepat langkahnya di atas tumpukan salju. “Hanya saja, kalau mereka sudah selesai, harusnya mereka mengirimkan tambahan untuk mengantarku.”

“Begitukah?” tanya Yust sambil mengangguk. ’Seharusnya aku tahu orang macam dia cuma akan memikirkan dirinya sendiri..'
Keduanya mempercepat langkahnya tana tergoyahkan sedikitpun oleh hembusan angin dingin dan salju yang ada di hadapan mereka, terlepas dari pikiran mereka yang menerawang ke mana-mana. Perkataan sang putri membuat Yust ingin memastikan kondisi rekan-rekannya di Acropolis, sementara Magdaleine hanya ingin sampai ke tempat kelahirannya.


Chapter 06: The Promenade

“Oh Magdaleine! Aku telah menantikanmu!”

Pikiran keduanya seolah ditarik kembali ke tubuh masing-masing saat mendengar teriakan itu. Tanpa mereka sadari, mereka sudah dapat melihat gerbang Northern Promenade dari kejauhan. Dan dari arah itulah seseorang berlari ke arah mereka.

“Oh Magda sayang, aku turut bersedih tentang apa yang menimpamu. Sudah kuduga seharusnya aku yang selalu menjagamu 24 jam. Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu menemanimu, baik ke Acropolis, Morg, kamar tidur, maupun tempat lainnya,” kata pria itu yang langsung berlutut dan mencium tangan Magdaleine.

“Argh! Kau ini stalker atau apa, hah?” seru putri Northern Kingdom itu sambil berusaha menarik tangannya.

“Demi cintaku padamu, jadi stalker-pun aku rela.”

Yust yang sempat bersiaga saat pria itu berlari ke arah mereka, sekarang mengernyitkan dahinya sambil memandang pria tadi. Tubuhnya diselimuti armor yang tidak terlalu tebal. Namun dari tombak yang dibawanya, pastilah ia seorang Knight. Tapi seorang pengawal tidak mngkin bersikap seperti itu. Atau mungkin ia seorang yang berkedudukan cukup tinggi? “Umm, Putri Magdaleine..” kata Yust pelan yang akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

“Oh, aku lupa memberi tahumu,” jawab Magdaleine yang akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari pria tadi dengan susah payah.” Dia Seto, kepala dari seluruh pasukan Northern Kingdom. Dan Seto, ini Yust, pengawal yang dikirim Acropolis.”

“Jadi kau yang menggantikan menjaga Magda-ku selama aku nggak ada? Terima kasih ya..” kata pria itu sambil membungkukkan badannya ke arah Yust.

“Nah Seto, ayo sekarang antar aku ke ibukota. Aku sudah nggak sabar ingin bertemu ibuku,” kata Magdaleine yang kemudian melirik ke Yust. Wajahnya ceria sejak sampai di tempat itu, seolah seperti orang lain saja. “Dan kamupun bisa istirahat sebentar di ibukota. Aku yakin beliau pasti senang bertemu denganmu.”

Yust tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. “Terima kasih, tapi aku mengkhawatirkan keadaan teman-temanku yang dikirim ke Mothgue Cliff.”

“Setidaknya, mari kita istirahat di Promenade walau hanya sebentar. Pulang tanpa beristirahat dulu nggak baik, kan?”

Yust berpikir sejenak. Walaupun ia bisa dibilang masih kuat, namun udara dingin tetap saja telah menguras sebagian tenaganya. “Baiklah kalau begitu..”



~ * ~

Northern Promenade, sebuah kota di tengah salju. Letaknya cukup strategis karena ada di bawah gunung. Berlawanan dengan Acropolis yang memiliki empat gerbang, kestrategisan ini bisa menjadikannya sulit ditembus karena hanya bisa diserang dari satu arah. Dan di ujung utara kota tersebut, berdirilah sebuah istana megah. Di sanalah Yust dan Magdaleine mendapatkan istirahat sejenak  mereka.

“Langsung saja ke pokok masalah karena kupikir kau harus tahu kabar ini secepatnya. Soal pertanyaanmu tadi..” kata Seto tiba-tiba, “aku baru saja mendapat kabar tentang itu dari Ratu. Mungkin ini sedikit buruk bagimu, tapi pihak Acropolis mengalami kekalahan di Perang Mothgue. Saat ini, walapun belum jatuh, tapi Acropolis sendiri telah terkepung.”

“A-apa?! Nggak mungkin! Acropolis nggak mungkin—”

“Tapi itulah kenyataannya,” tambah Seto sambil melirik ke arah Magdaleine. “Kembali sendiripun nggak akan ada gunanya. Tinggallah sementara di Northern Kingdom. Magda dan kau bisa beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan negri kami.”

“Seto, ini bukan waktu yang tepat untuk berkata seperti itu!” bentak Magdaleine tiba-tiba. “Mana mungkin dia bisa bersantai kalau rumahnya dalam keadaan seperti itu. Lagipula mereka pasti akan menyerang ke sini selanjutnya, itu berarti kita juga dalam masalah! Kita harus segera mengirimkan tentara bantuan ke Acropolis!”

“Jadi apa yang akan kamu lakukan, Magda? Seperti katamu, mereka mungkin akan menyerang ke sini. Tapi kita nggak tahu kapan dan dari mana mereka akan datang. Ingatlah, Acropolis kalah dari mereka. Meskipun kekuatan para pengguna sihir kita lebih kuat dari mereka, tapi secara keseluruhan, kekuatan Acropolis di atas kita. Satu-satunya kemungkinan menang adalah bertahan dan menjadikan Promenade sebagai benteng pertahanan. Dan untuk itu, kita nggak bisa mengirim pasukan kita ke luar.”

“Biarpun begitu..” jawab Magdaleine ragu. Ia menutup kedua matanya sementara otaknya berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan? Ia seorang putri, tak bisakah ia menolong rakyatnya? Haruskah ia berdiam di istana dan menyerahkan semuanya kepada Seto dan pasukannya? Dengan perlahan iapun membuka matanya. Namun sorot yang dipancarkannya bukan lagi keraguan, melainkan keyakinan. “Biarpun begitu, aku nggak bisa berdiam diri saja. Meskipun sendiri, aku akan membantu rakyatku. Biarlah pasukan tetap di sini, tapi aku akan membantu Yust merebut kembali Acropolis.”

Mendengar hal itu, Yust tercengang. ’Tu-tunggu! Maksudmu aku harus bersamamu lebih lama lagi?!’ Meskipun kata-kata yang baru saja diucapkan gadis itu sedikit memperbaiki image-nya di kepala Assassin itu, tapi bertarung bersamanya berarti harus bertarung sambil melindunginya. “Saya hargai niat baik Anda, Putri Magdaleine, tapi saya rasa itu tidak akan berjalan baik. Lagipula, anda mungkin saja target utama mereka. Lebih baik Anda tetap di sini.”

“Hei! Kamu meremehkanku ya?! Aku bisa melindungi diriku sendiri! Lagipula mereka nggak akan menyangka aku pergi. Seperti kata orang, tempat teraman justru di sarang musuh.”

“Kamu yakin, Magda? Apa yang dikatakan Yust ada benarnya. Lagipula apa jadinya bila kerajaan ini kehilangan Tuan Putrinya,” tanya Seto.

“Yakin,” jawab Magdaleine mantap. “Aku lebih baik mati daripada melihat rakyatku menderita. Lagipula kita tidak akan bisa menang hanya dengan bertahan, dan aku yakin kamu tahu itu lebih dari siapapun.”

“T-tapi..”

Kontras dengan Yust yang semakin bingung mendengar perkataan Magdaleine, Seto akhrinya tertawa. “Hahaha, apa yang dikatakan Magda ada benarnya. Lagipula insiden penyerangan terhadapnya itu karena mereka diserang tiba-tiba dan sedang lengah. Selain itu orang yang menyerangnya memang hebat, karena kemampuan bertarung Magda setaraf dengan sebagian jendral perang. Kalau nggak, Magda pasti bisa mengtasinya. Tapi kutanya sekali lagi, apa kamu yakin dengan keputusanmu, Magda?”

“Aku yakin. Mencegahkupun nggak ada gunanya, Seto.”

“Aku nggak akan mencegahmu. Malahan aku mendukungmu, “jawab Seto yang disambut dengan wajah bingung Yust dan Magdaleine. “Sebenarnya Ratu juga berkata demikian. Hanya Yang Mulia menambahkan kalau kamu harus pergi dengan keinginanmu sendiri tanpa paksaan. Tapi nggak kusangka semua akan selancar ini. Ah, Magdaku memang hebat!”

“Tunggu dulu! Aku tetap nggak setuju! Tuan Putri mungkin bisa melindungi dirinya sendiri, tapi musuh kita—”

“Aku akan ikut dengan kalian. Sudah kubilang kan kalau aku akan selalu melindungi Magda dan nggak akan melepaskan pandanganku padanya, sekalipun saat ia ke toi—”

“Stop!” potong Magaleine sebelum Seto bisa menyelesaikan kata terakhirnya. Ia kemudian menoleh ke arah Yust. “Percayalah pada kami. Atau mungkin kamu mau mengetes kemampuanku dan Seto?”

Yust terdiam untuk beberapa saat. “Nggak usah, aku yakin kalian hebat,” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. “Tapi ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Ratu. Bisakah aku menemuinya?”

“Walau dia tidak di sini, kamu bisa bertemu hologram Ratu Beldegard di Istana Promenade untuk berkomunikasi dengan ibu. Mintalah Seto mengantarmu.”

’Hologram Ratu Beldegard untuk bicara dengan ibunya?’ pikir Yust. Ia merasa ada yang janggal dalam kalimat itu, namun ia berusaha untuk tidak mengacuhkannya. “Dan Anda sendiri? Tidakkah setidaknya Anda bisa melepas kangen walau hanya bicara melalui hologram?”

“Nggak usah. Aku bisa ngobrol dengannya sampai puas setelah semua ini selesai. Sekarang aku mau tidur dulu.” Selesai berkata itu, Magdaleinepun berdiri dan pergi ke salah satu ruangan.
Yust memandangnya dengan heran dan kemudian melirik ke arah pria yang ada di sampingnya.

Tanpa ditanyapun, Seto mengerti pertanyaaan yang ingin diutarakan Yust. “Ratu Beldegard.. bukan hanya pendiri dan pemimpin dari Northern Kingdom saja. Ia sudah merupakan simbol dari kerajaan ini. Karena itulah, walaupun Ratu sekarang adalah ibu Magda, namun hologram yang ada di Promenade tetaplah Ratu Beldegard. Sekarang ayo kita ke sana.”

Mengangguk sedikit sebagai arti paham akan penjelasan Seto, Yust berdiri dan mengikuti Knight itu ke sebuah pintu besar di tengah ruangan. Namun apa yang ada di balik pintu tersebut sama sekali beda dengan yang ada di bayangannya. Sebuah jembatan panjang dengan jurang di kanan kirinya. Dan di dasar jurang itu ada atap-atap bangunan yang megah.

“Itu..” tanya Yust yang menghentikan langkahnya. Bangunan-bangunan yang gemerlapan itu menyita perhatiannya. Jurang tak berujung dengan bangunan-banguna yang luasnya seperti sebuah kota itu bahkan lebih besar dari Northern Promenade sendiri.

Tersenyum, Setopun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Yust dan merentangkan kedua tangannya. “Yang kau lihat ini adalah Northern Kingdom yang sesungguhnya. Tapi bukan berarti dengan lompat ke bawah kau bisa sampai ke tempat itu. Seluruh tampilan yang ada di sini dibuat oleh sihir, sama seperti Ratu yang ada di sana.”

Masih dengan penuh kekaguman, Yust menoleh ke arah yang ditunjuk Seto. Di ujung jembatan panjang itu berdirilah seorang wanita yang besarnya tiga sampai empat kali lipat dirinya.

“Selamat datang wahai pahlawan pemberani yang menyelamatkan Magdaleine. Atas nama Ratu Beldegard dan seluruh rakyat Northern Kingdom mengucapkan banyak terima kasih padamu.”

“Sa-saya hanya kebetulan saja berhasil menemukannya. Jika bukan karena bantuan para Assassin Acropolis yang membantu saya, saya juga pasti tidak akan berdiri di sini sekarang,” jawab Yust yang masih dipenuhi kekaguman akan sihir Northern Kingdom yang terkenal. Kepalanya seolah kosong di depan kebesaran Ratu tersebut.

“Tidak usah merendahkan dirimu begitu. Jadi, apa yang membawamu ke sini?”

“Ah itu..” Yust berusaha mengingat-ingat semua pertanyaan yang ingin diutarakannya setelah mereka semua tertutupi oleh keindahan ruangan itu. “Jadi.. siapa atau apa sebenarnya musuh kita. Aku.. masih tidak percaya Acropolis kalah. Saya pikir Anda mungkin mengetahui sesuatu tentang mereka.”

“Tentang itu..” lanjut suara dari gambar wanita itu, “aku tidak bisa bicara banyak. Mereka adalah peninggalan teknologi Machine Age yang terkurung di Light Tower. Tapi ketahuilah, musuh yang kalian hadapi bukanlah musuh yang sebenarnya. Aku tidak tahu siapa yang melepaskan mereka, tapi tidak terlihat satu DEMpun di antara pasukan yang menyerang Acropolis. Sementara itu, aku mulai merasakan aktifitas jauh di tenggara Acronia. Bisa jadi para DEM itu berusaha membebaskan bangsa mereka.”

“DEM?  Itu jenis robot yang disebut Al waktu itu.. Apa maksud Anda membebaskan bangsa mereka?”

“Mereka bukanlah sekedar robot biasa,” lanjut Ratu, “ada asumsi yang mengatakan mereka berasal dari masa sebelum Machine Age. Lain dengan robot-robot yang hanya mengikuti program, program DEM seperti jiwa dan pikiran bagi manusia, Titania, ataupun Dominion. Teknologi mereka sangat maju, sehingga mereka bisa dibilang memiliki kehendak sendiri.”

“Begitukah.. tapi bagaimana menghadapi mereka?”

Hologram tersebut menggeleng. “Aku tidak bisa membantu kalian dalam hal itu. Kalian harus mencari sendiri jawaban dari sisa pertanyaan kalian. Yang bisa kulakukan hanyalah memberikan kalian waktu sebisaku, karena saat inipun aku bersama para pengguna sihir Northern Kingdom terus berusaha menahan laju aktifitas Mai-Mai Ruins.”

“Mai-Mai.. sumber aktifitas DEM di tenggara Acropolis yang Anda katakan?”

Tapi sebelum pertanyaan itu terjawab, hologram Ratu Beldegard menghilang bersamaan pemandangan kota di bawah jurang.

“Yak, Time’s up!,”seru Seto yang dari tadi diam akhirnya membuka mulutnya. “Butuh kekuatan besar untuk melakukan hal yang dikatakan Ratu, ditambah lagi jarak yang sangat jauh antara Northern Kingdom dan Mai-Mai. Mulai saat ini, sihir yang ada hanyalah yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Nggak ada lagi kemewahan sampai semua ini selesai.

“Tapi Northern Promenade nggak akan bertahan saat diserang.”

“Karena itulah Ratu mengirim kita untuk pergi. Pertahanan terakhir kita ada di Acropolis yang sampai saat ini belum juga tertembus walaupun dikepung sedemikian rupa, bukan Promenade. Yah, kita tetap akan menempatkan pasukan di sini buat jaga-jaga, tapi kita nggak boleh mengandalkan mereka terlalu banyak.”

Sekali lagi Yust terdiam sejenak, mencerna semua informasi yang diterimanya baik-baik. Setidaknya kini ia telah mendapatkan garis besar dari situasi saat ini. Matanya memandang kegelapan tempat ilusi ibukota Northern Kingdom yang menghilang. Sebuah misi baru untuknya, dan kalau ia gagal, kota tersebut, tidak, mungkin seluruh kota yang ada di Acronia akan lenyap sungguhan seperti ilusi itu.

“Istirahatlah, kamarmu telah disiapkan,” kata Seto memecah keheningan.

“Aku mengerti. Kapan kita berangkat?”

“Dalam satu dua hari ini. Kita bertiga, kau, aku, dan Magdaku tersayang.”


« Last Edit: November 18, 2010, 09:41:03 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter07]
« Reply #8 on: August 04, 2010, 02:22:04 PM »
A little note of mine. . .
    ]update stelah skian lama..
    setelah buat 2 ch 8, finally the real chapter 8 is here..
    sbnrnya kmaren udah jadi.. tp stelah dibaca lg kok agak gmn gitu..
    kmaren kan coba digilir, kai->yust->harusnya yg slanjutnya alceus.
    tp stelah kupratiin, style begini lbh ngebosenin kayaknya.. jd urutan chapternya ku rubah, ato yg kubuat kmaren bakal jd flashback aja.. >_<

    coba ganti style, digilirnya gak tiap chapter.. mungkin bbrp chapter skali.. :confuse:
    sori lama m(_ _)m

    EDIT: kena post merge.. apa karna blm 24 jam dr post sblmnya ya? (baru 22 jam).
    Ya wis edit aja d smua..

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



Iron Volcano, satu-satunya gunung berapi yang aktif di benua Acronia. Konon di gunung itulah dewa api Homura bersemayam. Aura panas yang ditimbulkan dari dalam kawahnya itu bahkan menyelimuti seluruh wilayah Iron South Republic, menjadikannya negara terpanas dibanding keempat negara lainnya. Sebagian besar tumbuh-tumbuhan tidak bisa bertahan hidup di sana, begitu juga dengan hewan-hewan. Hanya beberapa jenis hewan yang memang merupakan hewan yang hidup di daerah panaslah yang ada di sana.

Keringat mulai membasahi wajah Lien saat kakinya melangkah di kaki gunung tersebut. Namun berhubung itu merupakan jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke kota Iron South, ibukota Iron South Republic, maka iapun terpaksa menjalaninya tanpa mengeluh.

“Kai.”

Tidak ada respon dari pria di sebelahnya, Lien berhenti sejenak. Matanya mengawasi rekannya itu dengan agak heran. Kebalikan dari dirinya, Kaistern bahkan tidak berkeringat sedikitpun. Panas yang ia rasakanpun sama sekali tidak terlihat mengganggunya.

“Kai!”

“Eh? Ada apa?”

Ada apa? Kau melamun terus sejak kita melewati perbatasan,” jawab Lien sambil menyilangkan tangannya. “Jangan bilang kau masih kepikiran tentang gadis itu dan Acropolis. Sudah kubilang kan kalau—”

“Yah, tapi itu hanya sedikit kok,” potong Kaistern. Harus ia akui ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan mereka, namun sejak memasuki Iron South Republic, suatu hal lain menjadi fokus utama pikirannya. “Hanya saja, tempat ini membuatku sedikit bernostalgia.”

“Maksudmu? Jangan bilang ini tempat kelahiranmu,” tebak Lien. Kalau itu benar, itu menjelaskan kenapa Swordsman itu cukup terbiasa dengan suasana di sekitar mereka.

“Bukan di gunung ini pastinya, tapi iya, aku lahir di Iron South. Aku nggak menyangka akan kembali ke sini secepat ini,” katanya membenarkan tebakan Lien seraya mulai melangkah meneruskan perjalanan. “Ibuku meninggal saat melahirkanku, dan ayahku juga saat aku kecil. Kemudian aku dibawa oleh sahabat ayahku yang kebetulan seorang Merchant yang cukup sukses di Acropolis.”

“Begitu? Kukira kau lahir di Acropolis..”

“Yah, sahabat ayahku mendaftarkan aku sebagai anak kandungnya. Nggak heran kalau orang-orang menyangkaku kelahiran Acropolis. Kata dia, itu akan memudahkanku dalam banyak hal daripada terdaftar sebagai imigran dari selatan.”

’I see.. Nggak heran kalau di data yang kupunya mengatakan ia berasal dari Acropolis..’ Lien mengangguk sebagai tanda ia mengerti. “Jadi, bagaimana perasaanmu kembali ke kampung halamanmu? Apa kau ingin menginap satu atau dua malam di sini?”

Kaistern menggeleng. “Nggak. Kalau dalam situasi normal, mungkin aku akan melakukannya. Tapi kita nggak punya waktu untuk itu kan? Ini mungkin tempat aku dilahirkan, tapi Acropolislah rumahku saat ini, dan aku ingin membebaskannya secepat mungkin.”

Lien tersenyum puas mendengar jawaban Kaistern. Iapun tidak mau membuang-buang waktu. Kalau Kaistern ingin berhenti maka ia terpaksa menurutinya demi mendapatkan kepercayaan yang lebih darinya. Tapi jawaban yang ia dapatkan merupakan jawaban terbaik yang ia dengar. Tak pernah terbersit dalam bayangannya semua akan berjalan begitu lancar.


Chapter 07: Home

“Ngomong-ngomong, kita sudah sampai,” tukas Kaistern saat melihat sebuah gerbang di ujung jalan. “Kalau nggak salah ingat, kapal menuju Tonka berangkat dari Malchut Dock. Tempat itu..” Kaistern menghela nafas panjang tanpa menyelesaikan kata-katanya.

“Kenapa?”

“Untuk sampai ke Malchut Dock, kita harus melewati Southern Dungeon. Kurasa mau nggak mau kita harus bermalam di sini..”

“Kenapa?” Lien mengulang pertanyaannya.

“Sekarang sudah mulai gelap. Kita nggak akan keburu untuk penerbangan terakhir malam ini.”

“Apa kau serius mengatakan nggak ingin membuang-buang waktu?”

“Tentu saja, tapi percuma saja ke sana sekarang. Toh kita akan berangkat besok juga.”

Sekali lagi Lien tersenyum. “Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Ikuti aku.” Sambil memberi isyarat agar si Swordsman mengikutinya, iapun melangkah masuk ke dalam kota.


~ * ~

Berbeda dengan Northern Kingdom yang dipenuhi sihir, Fareast Republic dengan keindahan alamnya, ataupun Acropolis yang bisa dibilang gabungan keduanya, Iron South merupakan kota industri. Asap dari pabrik merupakan pemandangan sehari-hari. Tidak heran mengingat kota yang terdiri dari dua tingkat itu, Lower Part dan Upper Part, adalah penghasil barang tambang  tebesar yang menjadi bahan bakar utama bagi mesin-mesin industri.

Sementara itu, Lien melangkahkan kakinya ke Lower Part dengan Kaitern mengikutinya di belakang. Kaistern bisa melihat orang yang berjalan di depannya itu bersikap sangat tenang, namun entah dari apa, terlihat sangat waspada. Jalan yang mereka tempuh  membawa mereka ke pintu Southern Dungeon.

“Jadi.. rencanamu adalah berlari sepanjang malam? Sudah kubilang, itu nggak akan berhasil.”
Tanpa menghiraukan kata-kata Kaistern, Lien terus berjalan lebih dalam dan akhirnya berhenti di sebuah mulut terowongan. “Kai.. apa kau bisa dan pernah memanjat tebing yang curam?”

“Tebing? Yah, aku pernah walau nggak curam banget. Untuk yang sangat curam, kurasa aku bisa memanjat selama ada pijakan.”

“Kalau begitu panjatlah.” Tiba-tiba Lien mengeluarkan senapannya dan menembakkan beberapa tembakan ke dinding, membuat beberapa lubang sebesar kepalan tangan dan berbaris vertikal sampai atap.

“Eh? Buat apa memanjat tembok ini? Nggak ada apapun di atapnya kan?” Kai memandangi sekitarnya sambil mengira-ngira maksud sniper tersebut, mulai dari atap, terowongan, hingga rel. ’Terowongan? Rel?’ “Uhh, kuharap aku salah, tapi kita nggak akan menggunakan kereta pengangkut batu bara kan?”

“Sayangnya, kau benar,” jawab Lien singkat, “dan untungnya, aku jadi nggak perlu menjelaskan lagi.”

“Kau gila, Lien! Memang sih, dengan kereta itu kita bisa sampai ke Malchut Dock lebih cepat, tapi kereta itu mengangkut batu bara, bukan orang! Lagipula melompat ke atas kereta yang berjalan dalam kecepatan tinggi—”

“Kalau tumpukan batu bara yang totalnya lebih besar daripada dua orang saja bisa, aku nggak melihat alasan kereta itu nggak bisa mengangkut kita. Lagipula, kupikir melompat ke atas kereta yang sedang berjalan memiliki kemungkinan hidup yang jauh lebih tinggi daripada menerobos pasukan robot yang menjaga Western Plains Acronia, yang kuyakin kau lebih tahu bagaimana rasanya,” jawab Lien sambil tersenyum aneh. “Semua pilihanmu untuk mengambil resiko ini atau mundur karena takut. Aku hanya pemberi jalan. No pain, no gain, Kai. Dan kuyakin kau tahu apa pentingnya waktu bagi kita.”

Kaistern terdiam. Setiap kata yang diucapkan Lien seolah menusuk hatinya. Dia benar, dan ia tahu itu. Sambil terus menatap lubang-lubang yang dibuat oleh Lien, suara kereta yang mendekatpun semakin terdengar di telinganya. “Kau gila, Lien, aku akan membayar ini suatu saat nanti,” katanya ketus sambil akhirnya mulai memanjat sampai ke atas terowongan.

“Terima kasih atas pujianmu, tapi ini barulah awal. Kedepannya, kau akan menemui hal-hal yang lebih hebat daripada ini,” seru Lien seraya mengikuti jejak Kaistern ke atas.

Suara kereta yang semakin dekat mulai memekakkan telinga saat lampu sorot kereta mulai terlihat di bawah mereka. Hanya selang beberapa detik, kereta tersebutpun memperlihatkan bagian terdepannya, sambil terus melaju layaknya sebuah peluru raksasa yang ditembakkan dari stasiun. Syukurlah, pikir Kaistern, ia bisa segera melepaskan pegangannya dari lubang asal-asalan yang dibuat Lien dan membuat tangannya sakit. Walau ia tahu, itu bukan akhir dari penderitaannya.

“Sekarang!”

Bersamaan dengan aba-aba dari Lien, Kaistern dan Lien sama-sama melepaskan pegangannya, membiarkan gravitasi membawa tubuh mereka ke bawah, di mana kasur besar yang terbuat dari tumpukan batu bara telah siap menyambut. Mereka berdua setuju, itu bukanlah pendaratan yang terbaik, namun setidaknya mereka berhasil hanya dengan beberapa luka ringan di sekujur tubuh.

“Aww! Kurasa sekarang aku merindukan kasur tuaku di rumah..”


~ * ~

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Lien dan Kaistern untuk sampai ke Malchut Dock. Padahal biasanya mereka membutuhkan waktu sekitar dua jam – satu jam kalau mereka berlari – untuk melewati wilayah Southern Dungeon yang besar. Bahkan penyelinapan merekapun sempurna, tidak ada satu orangpun yang melihat mereka turun dari kereta sampai akhirnya mereka mendekati pelabuhan udara di sana.

“Hey, ayo cepat, kita sudah mau berangkat!” teriak petugas pelabuhan saat ia melihat dua orang yang berjalan ke arahnya.

Sambi berlari kecil, Lien merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. ’Morg.. North.. Tonka.. nah ini dia..’ Setelah memasukkan sisanya kembali ke sakunya, ia memberikan dua lembar Tonka Pass yang ia pisakan sebelumnya kepada petugas. “Ini tiket kami. Kuharap kami belum terlambat.”

“Yak, tiket ini otentik. Silahkan masuk, dan semoga anda berdua menikmati perjalanan ini.”

Sambil terus melangkah mengikuti Lien ke dalam Airship, Kaistern tidak bisa melepaskan pandangan dari sekitanya. Seingatnya ia pernah tersesat di Southern Dungeon sewaktu kecil sampai akhirnya diketemukan dan ditolong oleh seseorang, namun ia belum pernah melihat pelabuhan ini. Mungkin karena dulu ia masih terlalu kecil sehingga tidak bisa mengingatnya? Atau dulu pelabuhan itu memang belum beroperasi?

Bersamaan dengan tertutupnya pintu Airship di depannya, Kaistern memejamkan matanya. ’Itu semua nggak penting sekarang..’

“Masih ada beberapa jam sampai kita tiba di Tonka,” suara Lien tiba-tiba memecahkan keheningan, “istirahatlah, kau akan membutuhkan banyak tenaga nanti.”



~ * ~

“Heal!”

Sebuah cahaya hangat menyelimuti tubuh seorang Striker, mempercepat proses penutupan luka di bahu kanannya. Walau tidak sembuh total, tapi itu cukup untuk menjamin nyawanya tidak akan melayang oleh luka tersebut. “Terima kasih.”

“Nggak apa, ini sudah kewajibanku,” balas gadis Titania penyembuhnya.

“Kamu pasti lelah, istirahatlah. Bilang pada teman-temanmu untuk bergantian jaga denganmu,” kata Striker tadi.

Gadis itu tidak langsung menjawab. Harus ia akui, ia cukup lelah. Rambutnya yang berwarna biru muda bagaikan kristal es terlihat sedikit kusut.Nafasnyapun mulai terasa berat. Tapi ia tidak bisa bersantai. Baru satu hari berselang sejak pengepungan Acropolis, tapi entah kenapa baginya sudah terasa berminggu-minggu. Apalagi sekarang sudah malam, waktu terberat untuk mempertahankan kota ini. Lawannya adalah robot, ia tidak yakin mereka bisa kelelahan seperti para pasukan yang mempertahankan kota.

“Latte.. istirahatlah. Lihat, penyembuh pengganti sudah siap menggantikanmu,” lanjut Striker itu sambil menunjuk beberapa orang Druid yang berlari ke arah mereka. “Kau harus sudah siap dengan kekuatan penuh lagi saat mereka kelelahan.”

Latte mengangguk saat melihat senior-seniornya datang menghampirinya. “Kalau begitu saya pamit dulu.” Selesai berkata begitu, iapun melangkahkan kakinya menuju ke arah Downtown.

Suasana di Downtown berubah total dibanding hari-hari sebelum penyerangan. Sekarang area itu menjadi tempat merawat orang-orang yang terluka dan beristirahat. Wajah-wajah ceria yang biasa menghiasi muka para pendudukpun hilang tak berbekas, digantikan oleh kecemasan soal waktu. Berapa Lama mereka bertahan? Apakah akan ada pertolongan dari luar sebelum kota itu jatuh? Tapi mereka tidak bisa mengharapkan bantuan apa-apa. Yang mereka bisa lakukan hanyalah bertahan sekuat tenaga sampai akhir. Kalaupun mereka harus mati, biarlah mereka mati melindungi rumah mereka.

Latte yang memandang wajah orang-orang di sekitarnya semakin kehilangan moodnya untuk istirahat. Ia berjalan ke arah timur laut Downtown dan duduk di pojokan yang sepi dan jauh dari orang-orang. Ia tahu keadaannya tidak memungkinkan untuk lanjut. Ia tahu ia harus memaksa tubuhnya untuknya beristirahat, terlepas dari apapun yang dikatakan hatinya untuk kembali ke gerbang pertahanan.

“Ah.. Apa yang harus kulakukan..” gumam Latte sambil memejamkan matanya.

“Mereka sudah cukup menderita. Semua ini harus segera dihentikan.”

“Itu benar, tapi bagaimana cara- Eh?” Latte tiba-tiba membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya. “Siapa?”

“Aku sahabatmu, Latte. Dan yang pasti, aku bisa membantumu menyelesaikan perang bodoh ini.”

“Siapa?!” tanya Latte yang sekarang telah siaga dengan tongkat sihir di tangannya.

“Pentingkah siapa aku? Kukira yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan semuanya? Kamu setuju menerima bantuanku?”

Latte terdiam beberapa detik. “Kalau kamu benar bisa membantuku menghentikan semua ini, tentu saja aku akan menerimanya. Kita butuh semua bantuan yang bisa didapatkan.”

“Bagus. Kalau begitu pejamkan matamu. Aku punya sesuatu yang spesial untukmu.”

« Last Edit: November 18, 2010, 09:47:39 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter08]
« Reply #9 on: August 23, 2010, 09:13:06 PM »
A little note of mine. . .
    Here we are, ch 8.
    Kemunculan tokoh baru sekaligus menambah genre fanfic ini 1 lg: Mecha  /gg

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Sinar matahari pagi mulai menembus kaca jendela Airship dan mendarat tepat di wajah Kaistern, memaksanya kembali ke dunia nyata sedikit demi sedikit.

 “Kai.”

Tidak cukupkah matahari itu mengganggu dengan sinarnya? Kekesalannyapun memuncak. Terlebih karena itu merupakan istirahat pertamanya setelah dua puluh empat jam lebih ia berjalan.

“Kai!”

“Argh, diam kau mata—” Tunggu.. matahari memanggilnya? Mungkinkah? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, dan kali ini benar-benar membuat kedua matanya terbuka lebar. Di hadapannya ia mendapati sosok Gunner rekan seperjalanannya yang menatapnya dengan tatapan yang agak aneh. “Oh, Lien rupanya. Sori, kukira..”

“Jangan bilang kau mengira matahari memaksamu bangun dengan sinar dan memanggil namamu?”

“Ugh..” Wajah Kaistern memerah mendengar tebakan Lien yang 100% tepat. “Kau bisa membaca pikiran orang ya, Lien?” tanyanya sambil berusaha bangun.

“Kau pikir perlu kekuatan psikis untuk menebakmu?” balas Lien yang sekarang berjalan ke arah pintu ke luar. “Gampang untuk menebak orang sepertimu. Hanya butuh.. pengalaman,” lanjutnya seraya tertawa ringan.

Sambil menggerutu, Kaisern mengikuti langkah Lien meninggalkan Airship yang mengantarkan mereka ke tujuan. Airship itu sudah kosong, setidaknya benar-benar kosong setelah mereka berdua turun karena semua penumpang lain sudah turun terlebih dahulu. “Ya maaf deh. Soalnya kita sama sekali nggak istirahat, jadi mau bagaimana lagi. Kau sendiri bagaimana?”

“Tidurku nggak jauh beda denganmu. Aku juga baru bangun kok.”

Kaistern melirik dan melihat lingkaran hitam di bawah kedua mata Gunner itu. ’Dia bohong.’ Tapi biarlah, itu bukan urusannya. Kalau ia menegur Lien karena hal itu, rasanya justru aneh.

“Ngomong-ngomong..” Lien tiba-tiba memulai pembicaraan lagi, “kita sudah sampai di Tonka, loh. Apa kau sudah pernah ke sini sebelumnya?” tanyanya sambil memandang wajah Kaistern dengan serius.

“Eh? Memangnya kenapa?”

“Nggak apa-apa. Kukira kau bakal terkagum-kagum.”

Kaistern melirik ke sekitarnya. Tonka adalah kota netral selain Acropolis dan letaknya cukup jauh. Biasanya yang datang ke sana hanyalah para petualang atau pedangang. Seorang swordsman, apalagi yang baru resmi seperti dirinya, jarang sekali punya kesempatan untuk datang ke kota itu. Lien benar, ia memang terkagum-kagum. Tapi kali ini tak akan ia biarkan Lien merasa benar dengan tebakannya. “Kau tahu kan ayah angkatku seorang Merchant..”

“Oh, I see.. Dia sering membawamu ke sini ya,” tukas Lien dengan nada dan wajah agak kecewa, namun dengan segera raut itu hilang dari wajahnya. “Kalau begitu kita bisa menghemat waktu. Ayo kita temui Meister Selena.”

’Kau sendiri yang menyimpulkan ya,’ kata Kaistern puas dalam hati. Ayahnya memang sering ke Tonka, tapi ia tidak bilang kalau ia ikut. Tapi biarlah, lagipula dengan begini ia merasa menang dari Lien kali ini.


Chapter 08: Little Red Riding Machine

Jauh di ujung barat laut Tonka, di lapangan besar tempat pembuatan Airship di kota yang terkenal dengan Airshipnya itu, seorang wanita duduk di depan sebuah bangunan. Meja  di depannya terlihat sangat berantakan dengan kertas-kertas yang berserakan di mana-mana. Pakaian serba hijau yang ia kenakanpun terlihat agak kotor, melengkapi wajahnya yang kusut.

“Halo, Nona Meister. Tumben kau kusut begini.”

Wanita itu menoleh dan melihat dua orang pria menghampirinya, dan orang yang wajahnya familiar menyapanya dengan begitu entengnya. “Kamu rupanya, Lien. Aku begini gara-gara pusing memikirkanmu, tahu!”

“Eh?” tanya Lien kaget yang dengan spontan menghentikan langkahnya.

“Wow, Lien, pantas saja kau semangat sekali pas sampai di Tonka. Rupanya ini ya penyebabnya,” bisik Kaistern dengan senyum lebar di bibirnya.

Tanpa mengacuhkan kata-kata pria di sebelahnya, Lien menyipitkan matanya dan terus menatap wanita itu. “Selena.. kau nggak lagi mabuk, kan?”

“Nggak. Semua ini benar-benar gara-gara kamu. Gara-gara kamu dan permintaan konyolmu itu!” jawab wanita yang dipanggil Selena itu sambil berdiri dan menuding Lien. “Yang benar saja, tiba-tiba kau mengirim pesan agar menyiapkan kapal dalam jumlah banyak.”

“Oh, ternyata itu toh..” gumam Lien seraya memalingkan mukanya.

“Jangan anggap ini persoalan enteng, kamu tahu kan bagaimana kondisi kita saat ini?!” teriak Selena sambil memutar kepala Lien, memaksanya agar terus menatapnya. “Kita sedang kekurangan kayu yang menjadi bahan utama Airship.”

“Tapi.. bukannya kalian sudah menemukan sumber baru yang kaya, di hutan Baobab?” tukas Lien yang terus berusaha memalingkan pandangannya. Bahkan iapun tidak berani menatap Selena yang sedang marah.

“Belum bisa dipastikan tempat itu aman! Kami baru bisa menjangkau bagian luar sambil terus melakukan eksplorasi untuk menyelidiki tempat itu!” teriakan sang Meister berlanjut, membuat para pekerja yang ada di area itu menlirik ke arah mereka. “Dan saat kutanya untuk apa, kamu malah bilang ‘untuk perang’, ‘membebaskan Acropolis’, atau apalah lainnya yang sama sekali nggak kumengerti!”

“Selena.. tenang dulu.. Kita bicara pelan-pelan saja,” kata Lien menenangkan sambil berusaha memberi isyarat dengan melirik kepada Kaistern, yang dari tadi terlihat salah tingkah hanya dengan berada di sana.

“Apa?” Selena yang akhirnya melihat pria yang ada di sebelah Lien segera mundur beberapa langkah.. “Oh maaf, kamu pasti orang dari Acropolis kan? Maaf membuatmu melihat hal tadi. Silahkan duduk,” serunya cepat sambil tersenyum dan merapikan mejanya yang berantakan.

“Oh, nggak apa-apa kok. Saya justru.. uh.. senang melihat orang yang akrab seperti kalian.”

“Sebenarnya agak aneh kalau kamu menyebutnya ‘akrab’, tapi ya biarlah,” jawab Selena sementara Lien dan Kaistern menempati kursinya masing-masing. “Jadi, bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”


Kaistern menjelaskan apa yang terjadi di Acropolis dengan singkat, tapi cukup detil. Semua yang keluar dari mulutnya membuatnya teringat lagi tentang gadis yang ia tinggalkan di Acropolis. Tapi kenyataan bahwa ia telah sampai di Tonka, yang kalau semua berjalan sesuai rencana Lien, maka semua akan kembali seperti semula tidak lama lagi.

“Begitu..” kata Selena singkat. “Aku mengerti pokok permasalahannya, tapi seperti yang kamu dengar tadi, persiapan kami belum siap. Airship yang ada jumlahnya masih sedikit, dan saat ini kamipun sedang memperkuatnya.”

Kaistern mengangguk. Berita yang cukup buruk di telinganya, tapi suka tidak suka, ia harus menerimanya. “Yah, kalau masalahnya sumber daya, mau apa lagi..” jawabnya sambil menghela nafas. Otaknya berpikir keras bagaimana baiknya, namun tak ada satu idepun yang mampir ke kepalanya.

“Bagaimana kalau bahan-bahan yang tersisa dibuat untuk membuat kapal lebih banyak lagi?” tukas Lien tiba-tiba.

“Tidak bisa begitu. Kami bangga dengan Airship buatan kami. Lebih baik kami membuat satu Airship yang kuat daripada puluhan Airship yang sekedar jadi,” jawab Selena dengan tegas. “Lagipula kalian nggak ingin kapal kalian hancur dengan mudah dan jatuh bahkan sebelum sampai di Acropolis, kan?”

“Tapi dengan jumlah yang sedikit itu, apa menurut Anda akan cukup merebut kembali Acropolis?” tanya Kaistern penasaran.

“Nggak ada jaminan yang pasti, tapi percayalah, rencana ini akan berjalan lebih baik daripada dengan Airship yang dibuat seadanya.” Meister wanita itu kemudian memandang lima kapal yang ada di area tersebut. “Persiapannya tidak akan memakan waktu lama. Mungkin besok kita bisa berangkat, atau mungkin bisa lebih cepat kalau beruntung. Silahkan istirahat atau melihat-lihat kota dulu, nanti akan kuberi tahu saat tiba waktunya.”

Senyum gembira menghiasi wajah Kaistern. Hari kemerdekaan Acropolis segera datang. “Baiklah. Kalau begitu kami permi—”

“Permisi..”

“Eh?” seru si Meister, Swordsman dan Gunner tersebut bersamaan terhadap suara yang tiba-tiba muncul. Di dekat mereka berdiri seorang anak perempuan berambut merah yang diikat kuncir kuda. Umurnya kira-kira dua atau tiga tahun di bawah Kaistern. Baju loreng dan topi yang menutupi bagian depan rambutnya melengkapi senyumannya yang manis.

“Kudengar kalian petualang? Kalau benar, boleh aku minta sedikit bantuan kalian?”

“Hei, mereka tamu penting. Mereka masih lelah setelah perjalanan ke mari,” larang Selena.

“Sebentar saja kok.. Boleh?”

“Yah, aku sih nggak masalah. Lagipula aku terlalu bersemangat saat ini, nggak yakin bisa istirahat juga,” jawab Kaistern.

“Betul? Terima kasih!”

Selena menghelas nafas panjang, tau ia tidak akan bisa menghentikan keduanya. “Ya sudah, hati-hati saja. Oh iya, dia muridku, namanya—”

Belum sempat Selena menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah menarik dan membawa pergi Kaistern entah ke mana, dan sekali lagi, Selena menghela nafas panjang seblum akhirnya menoleh ke Lien.

“Ya, aku tahu,” jawab Gunner itu sambil melangkahkan kakinya. “Aku akan mengawasi mereka berdua.”


~ * ~

“Kalian tahu tentang reruntuhan kuno peninggalan zaman dulu?”

“Ya, aku pernah mendengarnya,” jawab Kaistern menanggapi pertanyaan gadis berambut merah tadi. “Di bawah Acropolis, kan? Konon katanya Acropolis yang sekarang hanya bagian dari Acropolis yang dulu, yang sekarang sudah tenggelam. Banyak orang mengatakan kalau reruntuhan itu adalah bagian dari Acropolis yang dulu.”

“Yap, tapi nggak hanya itu,” lanjut gadis itu, “ada tiga reruntuhan yang besar. Di bawah Acropolis, Iron South, dan Northern Kingdom.”

“Oh ya?”

“Ya, tapi masih belum diketahui apakah ketiganya merupakan reruntuhan yang sama dan saling terhubung, atau merupakan tiga reruntuhan yang berbeda,” jelas gadis itu dengan penuh semangat. “Dan yang aku dengar di masing-masing  reruntuhan itu terdapat harta yang sangat berharga.”

“Wow, kedengarannya keren. Lalu?”

“Reruntuhan di bawah Iron South sangat besar, saking besarnya sampai ke bawah Tonka. Diam-diam aku menemukan jalan masuk ke sana dari Tonka.”

“Aku mengerti maksudmu. Kau ingin kami membantumu mencari harta tersebut kan?” potong Lien.

“Tepat!”

“Maaf saja, tapi kami nggak punya waktu untuk itu,” lanjut Lien tetap dengan pendiriannya. “Reruntuhan itu sangat besar. Kurasa kaupun mendengar sendiri, tapi kami harus pergi dalam waktu dekat.”

“Tidak akan lama. Aku menemukan sebuah pintu yang sangat besar, tapi aku nggak bisa membukanya. Aku yakin di sanalah harta itu berada.”

“Menarik juga!” kata Kaistern tiba-tiba. Kita nggak punya kerjaan sambil menunggu Meister Selena, kurasa ini akan jadi selingan yang menarik.”

Lien yang melihat hal itu hanya bisa menempelkan tangan ke dahinya sembari menggeleng. Dia mengerti perasaan Selena; ia tidak bisa menghentikan mereka. “Yah, terserah kalian saja. Toh aku akan tetap mengawasi kalian.”

Thanks!. Ayo ikuti aku!”


~ * ~

Di pinggiran kota Tonka, tepatnya di dalam sebuah bangunan yang sekilas kelihatan tak terurus, siapa sangka orang akan menemukan berbagai macam peralatan lengkap yang berkaitan dengan mesin. Mulai dari obeng, tang, bahkan sampai robot berbentuk Electell yang duduk tak bergerak di pojokan. Di sampingnya terhampar sebuah karpet yang setelah diangkat oleh gadis tadi, ternyata menyembunyikan tangga ke ruang bawah tanah.

“Ayo ayo, ini workshop-ku. Jadi nggak ada yang tahu lagi soal jalan rahasia ini, bahkan guru Selena sekalipun.”
Dengan mata yang terus mengamati sekitar, Lien berjalan di belakang, mengikuti Kaistern dan gadis tersebut. “Electell itu.. asli?” tanyanya sambil menunjuk ke arah robot yang tergeletak di sudut.

“Bukan, itu hanya luarnya. Aku belum bisa membuat golem yang asli. Tapi suatu saat, pasti akan kuselesaikan.”

“Begitukah? Kurasa nggak masalah selama yang ingin kau buat adalah golem Electell. Kau pasti bisa,” lanjut Lien dengan senyum yang ramah.

Kaistern mengernyitkan dahinya. Ada bagian dari kata-kata Lien yang terdengar janggal di kupingnya. “Memangnya ada Electell lain selain golem Electell?” tanyanya tanpa menghentikan langkahnya mengikuti murid Meister Selena di depannya.

Well, Electell itu alat perang dari zaman Machine Age, sama seperti robot-robot yang mengepung Acropolis, tapi dengan kekuatan yang nggak bisa disamakan dengan mereka,” jelas Lien yang juga terus melangkah memasuki reruntuhan. “Aku hanya khawatir, di kota yang terkenal dengan insinyur-insinyur hebat seperti ini, ada orang yang ingin me-rebuilt mereka. Lebih buruk lagi kalau ternyata mereka ambil bagian dalam penyerangan—”

“Nggak mungkin seperti itu,” potong gadis yang berjalan paling depan dalam rombongan itu. Ia berbalik sambil memasang muka marah. “Kami penduduk Tonka cinta damai, nggak mungkin membuat robot jahat seperti itu.”

Lien menatap kedua mata gadis tersebut. Sepasang mata hitam yang jernih dan polos, namun dipenuhi kemarahan saat ini. ‘Kau belum tahu apa-apa. Tapi..’ “Kurasa kau benar. Maafkan aku,” lanjutnya seraya menggaruk belakang kepalanya.

“Nggak masalah. Yuk, pintunya sudah dekat.”

Kaistern mengamati keduanya bergantian, lalu mendekati Lien dan berbisik, “Lien, kelihatannya hari ini hari burukmu dengan para wanita ya..” Namun gunner itu tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya.


Semua yang diinformasikan gadis berambut merah itu benar. Tidak jauh dari tangga tempat mereka masuk, dan sekarang di hadapan mereka, berdiri sebuah pintu besar. Jangankan seorang perempuan yang berusaha masuk, bahkan udarapun tidak bisa masuk ke dalamnya.

“Ini pintu yang kubilang. Kalian bisa membantuku?” tanya gadis yang mulai khawatir kalau kedua orang yang dibawanya ternyata tidak bisa membukanya juga itu.

Kaistern mengamati pintu tersebut dengan seksama dan mengetuk-ngetuknya. Tapi sesuai dugaan, pintu itu kokoh dan tertutup rapat. “Sulit juga..”

“Apa yang kau lakukan, Kai. Apa kau berharap mengetuk dan pintunya terbuka, lalu ada orang yang mempersilahkan kita masuk?” tanya Lien sambil tertawa geli. Ia kemudian mencabut senapannya. “Ini bukan dinding, dan pintu tetaplah pintu bagaimanapun bentuknya,”  jelasnya seraya melepaskan beberapa tembakan ke titik-titik yang terlihat seperti engsel. Sesuai dugaan, pintu itu sedikit goyah. “Selanjutnya pekerjaan kasar seorang Swordsman.”

“Tak perlu kau beri tahupun, aku juga..” Kai mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang, “..TAHU!”

Teriakannya yang menggema ke seluruh ruangan itu diikuti suara hantaman pintu besar tersebut ke lantai. Di baliknya terdapat sebuah ruangan besar, jauh berbeda dari ruangan-ruangan yang mereka temui sebelumnya. Dan di ujung ruangan tersebut terdapat sesuatu yang besar berwarna merah. Dengan dua kaki yang menopang kursi dan panel kendali, dilengkapi dua tangan dengan benda seperti capit di ujungnya.

Two-legged Robot..” gumam gadis dengan rambut yang berwarna sama dengan badan robot tersebut, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

“Ah, ya, aku pernah melihat beberapa orang mengendarainya..” seru Lien. Tidak banyak, tapi beberapa insinyur hebat dari Tonka pernah membuatnya.

“Apa yang kamu katakan? Ini jelas-jelas nggak sama dengan robot-robot murahan seperti yang kau lihat,” sanggah gadis tersebut seraya berjalan mendekati robot itu. “Lihatlah.. betapa anggunnya dia.. Asli dari zaman Machine Age.”

Kaistern mengangkat alisnya dan menoleh ke arah Lien, dan mendapati Gunner itu juga melakukan hal yang sama. Keduanyapun hanya bisa mengangkat bahu sambil bertanya dalam hati, ‘Anggun? Apanya??’


“Warning! Intruder Alert!”

Dengan segera Kaistern dan Lien berbalik. Sebuah robot kuning berukuran sedikit lebih besar dari robot merah yang mereka temukan sebelumnya menutup jalan masuk mereka. Robot itu berbentuk seperti Electell, namun melayang dan tidak berkaki.

“Lien, inikah Electell asli yang kau katakan?”

“Bukan. Kelihatannya robot ini tipe Briking, walaupun aku nggak pernah melihat yang sebesar ini.”

“Satu hal yang pasti, kita harus segera keluar dari sini, kan?”

“Benar. Jadi lebih baik kau segera ambil gadis itu dan bawa dia pergi bersama kita, sebelum kita kehilangan kesempatan untuk pergi.”

Kaistern berbalik dan melihat gadis tadi memanjat ke kokpit robot merah. “Hei, apa yang kau lakukan?! Ayo kita pergi dari sini!”

Namun gadis itu telah hanyut dalam dunianya sendiri. Dia sama sekali tidak mendengarkan  panggilan Kaistern. Bahkan yang lebih parah, ia juga sama sekali tidak menyadari kehadiran robot raksasa yang tengah mendekat ke arah ketiganya. “Menakjubkan..Bahkan setelah sekian lama, semua fungsinya masih bekerja dengan baik..” Panel-panel kendali mulai menyala saat ia menekan sebuah tombol. “Unit ke-sembilan dari pasukan pengguna robot ya.. Kalau begitu kamu bisa kupanggil..”


“BRIKING MK. II -- Eliminating Targets.”

“Sial! Nggak ada jalan lain, Kai! Kita harus menahannya sampai gadis itu selesai dengan apapun yang dilakukannya!” teriak Lien yang tengah memasukkan amunisi ke dalam senapannya.

Sambil mencabut pedangnya, Kaistern maju sejajar dengan Lien. “Aku setuju. Lagipula benda ini bukan nggak mungkin kita kalahkan, kan?”

Lien mengangguk, dan seketika itu juga, ia melepaskan tembakan pertama tepat ke arah kepala Briking Mk II. Bergeming, tapi tidak cukup untuk menjatuhkannya. Yang ada hanyalah menjadikannya target utama dari robot tersebut. Tapi belum sempat robot itu bergerak satu meter, tebasan-tebasan kilat menlayang ke arahnya. Sebuah serangan kombo yang tidak memberikan kesempatan pada musuh. Memang benar, semua serangan tersebut masuk, namun bukan berarti tubuh bajanya dapat terbelah semudah itu.

“Ini nggak bagus, Lien. Serangan pedangku nggak cukup kuat untuk membelahnya!” teriak Kaistern dengan tetap berusaha menjaga ketenangannya.

“Registering New User --
. . .
Complete.”


“Masalahnya aku nggak mengira akan bertemu kejadian seperti ini. Aku nggak punya banyak peluru,” balas Lien sambil terus menembak sendi-sendi robot itu. Memperlambat, tapi tak menghentikan. “Ayo pergi dari sini!”

“Renaming Unit Name -- AKAI09
. . .
Complete.”


Kaistern berbalik ke arah gadis yang mengajaknya ke tempat itu. “Hei, ayo cepat! Kita nggak punya banyak waktu lagi!” Tapi percuma, gadis itu masih belum bisa mendengarnya.  Tanpa mengetahui namanya dan hanya bisa memanggil ‘hei!’, akhirnya Kaistern memutuskan akan menarik paksanya dan mulai berlari.

“ Siap, Akai? Aku, Biaxident, akan membawamu memenangkan pertarungan ini! Berdua kita akan menjadi pasangan yang tak terkalahkan!”

Kaistern spontan berhenti saat tangan kanan robot merah –yang diberi nama kode AKAI09— tersebut terangkat lurus, dengan ujung yang sekarang tepat berada di atas Swordsman muda itu. Sebuah misil diiringi dentuman keras meluncur dari lubang di antara capit robot itu, melesat lurus dan menghantam Briking Mk II yang siap menyerang Lien, membuatnya terhempas menabrak dinding ruangan.

“Yeah! Makan itu!” teriak gadis yang menyebut dirinya Biaxident kegirangan, sementara Kaistern dan Lien hanya bisa terpaku melihatnya. “Kalian lihat keku—”

Belum selesai ia menuntaskan kalimatnya, tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Hantaman yang diakibatkan Briking Mk II tadi menyebabkan langit-langit mulai runtuh.

“Ayo kalian semua naik!”

Tanpa menunggu lagi, Kaistern dan Lien melakukan sesuai yang dikatakan Biaxident, melompat ke kokpit AKAI09 dan merunduk.
Sementara itu, tangan kiri robot tersebut terangkat dan menembakkan misil yang serupa, dengan sasaran kali ini atap di atas mereka. Mempercepat runtuhnya atap, memang, tapi juga menimbulkan lubang yang cukup besar. Tepat di atas mereka, sebuah Airship tengah melayang di udara dengan tali yang terjuntai ke arah mereka.

“Bagus, Airshipku tepat pada waktunya,” seru Biaxident kegirangan sementara AKAI09 melompat dan membawa mereka ke tali tersebut.

“Nggak kusangka, kau cukup penuh perhitungan juga ya, Bia,” kata Lien, tersenyum puas seraya menangkap tali Airship.

“Tapi.. tali ini kuat menahan beban robot itu?” tanya Kaistern sedikit khawatir. Salah-salah, kalau tali itu ternyata tidak cukup kuat, mereka semua akan jatuh dan kembali ke reruntuhan.

“Tenang saja,” jawab Biaxident yang menggenggam tali Airship dengan tangan partner barunya, kemudian membiarkan tali tersebut membawa mereka ke atas secara otomatis. “Aku telah memodifikasi Airshipku menjadi yang terbaik, terkuat, dan tercepat di seluruh Acronia. Well, mungkin kedua tercepat setelah Airship gadis Acropolis itu, tapi intinya, kita akan baik-baik saja.”

Dengan perasaan puas dan senang, ketiganya sampai di dek Airship. Saat itulah mereka melihat lima buah Airship lain mendekati mereka dari belakang.

“BIA!! SUDAH KUBILANG JANGAN MELAKUKAN HAL YANG BERBAHAYA! APALAGI MELIBATKAN MEREKA!!”

Suara Meister Selena terdengar dari pengeras suara salah satu Airship. Biaxident langsung terduduk lemas. Yah, setidaknya dia tahu ini akan terjadi. Pasrah akan hukuman, tapi kali ini ia tetap menerima dengan senyum di wajahnya. Siapa yang tidak, hukuman apapun tidak sebanding dengan yang baru saja didapatkannya.

Kaistern tertawa melihat gadis itu, kemudian berteriak ke arah Airship tempat Meister Selena berada, “Maaf, aku juga yang salah—”

“Jangan membelanya!!” jawab suara dari pengeras suara. Respon yang kurang lebih sudah diperkirakan. “Oh, tapi Kaistern, aku punya kabar bagus. Persiapan telah selesai, dan sekarang juga kita bisa pergi ke Acropolis kalau kamu mau.”

“Wow, benarkah?!” Kaistern yang saat itu diliputi rasa senang, langsung melirik  ke arah Biaxident. “Kami akan berangkat setelah mengantarmu pulang.”

“Bukan ‘kami’, tapi ‘kita’,” kata Biaxident tersenyum membetulkan. “Aku ikut kalian. Siapa yang sudi kelewatan kejadian-kejadian seru bersama kalian.”

"Aku mendengarnya, Bia.." Airship yang dinaiki Selena tiba-tiba sudah melayang sejajar dengan Airship milik Biaxident. "Jangan main-main, ayo kembali sana!"

Biaxident menatap gurunya selama beberapa detik, kemudian bangkit dan berjalan ke arah robotnya. "Tapi bahkan Meister sendiri paham kan kalau kekuatan Akai akan dibutuhkan di perang. Dan hanya aku yang bisa menggunakannya loh.."

"Ukh.." Selena terdiam. Dia bahkan tidak bisa membantah kata-kata muridnya sendiri. Wibawanya sebagai seorang guru serasa dihancurkan berkeping-keping. "Ya sudah, terserah kamu sajalah. Pastikan Kaistern memberimu izin."

"Jadi?" Kedua mata hitam Biaxident seolah berbinar, menatap Kaistern dengan tatapan memohon seperti anak kucing.

Kaistern melirik ke arah Lien –yang hanya mengangguk— dan kemudian turut mengangguk. "Oke, Bia, mohon bantuanmu mulai saat ini." Ia kemudian berbalik ke arah Acropolis. “Baiklah kalau begitu. Acropolis, kami datang!”

« Last Edit: November 18, 2010, 09:50:13 AM by shinigami_boy »