Author Topic: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [end]  (Read 45677 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter09]
« Reply #10 on: September 09, 2010, 09:01:13 PM »
A little note of mine. . .
    chapter 9 dari saga.. bagian 1
    sblmnya sori kalo kpanjangan. bahkan editor sayapun yg pernah bilang "gak usah takut kpanjangan", kali ini bilang kpanjangan.
    abis lg asik ngetik (maklum, jarang2 ide ngalir), pas liat udah 10 halaman dan masih blm slese. padahal 1 ch ini biasanya cuma 5-6 halaman.. jadilah akhirnya bagi 2.
    mu dibagi jadi 3 part pun bingung motongnya, ya wis hajar aja dah..
    mohon koreksi, kritik, dan sarannya m(_ _)m

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.


Malam itu bulan purnama bersinar terang di atas Acropolis, menggantikan awan-awan yang sebelumnya menutupi sebagian besar langit dan mengguyurkan air. Tak ada seekor hewanpun yang keluar dari rumahnya malam itu. Tak ada satu orangpun yang berkeliaran keluar masuk kota besar itu. Semua itu dikarenakan tak ada satu mesinpun yang berhenti dari penjagaannya, dengan moncong senapan yang diarahkan ke gerbang, siap menjaga kondisi yang telah mereka buat.

Di utara tak jauh dari tempat itu, dua pasang mata mengawasi kota itu dengan seksama dari atas tebing. Mereka terus mencatat segala sesuatu yang mereka lihat dalam kepalanya masing-masing, berusaha mencari kelemahan dari pengepungan tersebut. Sementara di belakang mereka, berdiri dua buah tenda, sebuah tenda yang agak besar dan rapi, dan sebuah tenda kecil yang kelihatan dibuat asal-asalan.

“Bagaimana menurut pendapatmu, Yust? Kau kan biasa bergerak diam-diam, apa kau pikir kita juga bisa masuk diam-diam?” tanya salah seorang dari mereka.

“Entahlah,” jawab Yust. “Penjagaan sangat ketat. Aku tahu beberapa jalan rahasia untuk masuk ke Acropolis, tapi bahkan dengan itupun, aku nggak yakin bisa masuk. Menurutmu sendiri, kalau kondisi ini berlangsung terus, mereka bisa bertahan berapa lama, Seto?”

“Entahlah juga. Tapi kurasa nggak akan lama,” jawab Seto yang  berjalan ke bawah pohon dan duduk di bawahnya. “Pengepungan ini akan menghabiskan persediaan makanan mereka.  Di lain pihak, para robot itu nggak perlu makan. Karena itu cepat atau lambat, Acropolis akan jatuh. Satu-satunya negara yang bisa bertahan dari pengepungan semacam ini hanya Fareast, karena mereka bisa memproduksi makanan mereka sendiri.”

“Makanan ya..” Yust menghela nafas. Pikirannya menerawang jauh ke kota itu sementara matanya ia biarkan memandang rembulan.  Dipikirkan beramai-ramai saja sulit, dan ia bahkan mau kembali seorang diri sebelumnya.

“Jangan terlalu dipikirkan.”

Yust tersadar kembali, kemudian menengok ke arah gadis yang mengatakan itu dari dalam tenda besar. Dahinya mengernyit. Bagaimana mungkin hal itu tidak menjadi bahan pemikiran mereka kalau mereka ingin melepaskan Acropolis? “Apa maksud Anda, Putri?”

“Maksudku ya jangan dipikirkan. Biarlah mereka bertahan di sana. Mereka kan terkenal hebat, aku yakin mereka bisa menjaga diri,” jawab wanita itu yang kini telah berdiri di depan tendanya sambil bertolak pinggang. “Pikirkan apa yang harus kita lakukan dulu. Masuk ke Acropolis. Setelah itu barulah pikirkan lainnya. Toh kita nggak bisa bantu apa-apa urusan makanan, apalagi sebelum masuk ke sana.”

“Tapi kita perlu yang namanya rencana, Putri. Semua yang nggak dipikirkan masak-masak cuma akan berbuah kegagalan,” balas Yust tak mau kalah. “Jangan sampai setelah masuk ke sana kita malah menambah beban mereka, dan malah ikut-ikutan terkepung.”

“Sudah kubilang, urusan itu—”

“Ahahahaha..” Debat keduanya terhenti oleh tawa Seto, sementara pria itu berjalan ke arah Magdaleine. “Apa yang kamu bilang itu benar sekali, Magda. As expected, nggak cuma cantik, tapi kamu juga pintar.”

“Seto?!” teriak Yust tak mengerti apa yang yang ada di pikiran Knight itu.

“Tapi yang dikatakan Yust pun nggak salah,” lanjut sang ksatria kepada tuan putrinya itu, “kita perlu memikirkan strategi.” Ia kemudian berbalik ke arah Yust. “Tapi itu nggak begitu masalah saat ini, karena aku sudah punya rencana yang matang. Tidurlah. Keajaiban akan datang membantu kita,” katanya tersenyum seraya berjalan ke arah tenda kecil.

Yust tak percaya apa yang di dengarnya. Ia kira setidaknya Seto lebih bisa diandalkan daripada Magdaleine, tapi kelihatannya iapun tidak bisa terlalu banyak berharap dari Dominion tersebut. “Keajaiban? Kau mengharapkan terjadinya keajaiban untuk masalah ini?!”

Seto berhenti sesaat sebelum memasuki tendanya. “Besok jam delapan pagi, keajaiban akan datang, dan saat itulah kita akan bergerak. Sebaiknya kau himpun tenagamu untuk saat itu. Selamat malam, Magda sayang.” Ia melambaikan tangan ke arah Magdaleine dan masuk ke dalam tenda.

Magdaleine melirik Dominion Assassin yang menatap dirinya dengan penuh tanya, berharap bisa mendapatkan penjelasan dari kata-kata Seto. Tapi ia hanya bisa mengangkat bahunya. “Jangan tanya aku. Selain urusan cinta-cintaan, aku nggak pernah bisa menebak apa yang ada di kepala orang itu. Tapi dia belum pernah mengecewakanku, kok.”

“Begitu ya.. Baiklah, kuanggap ini bagian dari misi, dan akan kujalankan tanpa banyak tanya.” Sekali lagi Yust menghela nafas panjang. “Ngomong-ngomong, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Ya?”

“Nggak disangka Anda begitu mempersiapkan perjalanan ini. Super Backpack, termasuk dua tenda di dalamnya. Saya kira Anda nggak suka dengan yang namanya ‘perencanaan’.”

“Aku menyiapkan yang kira-kira akan membuatku nyaman. Apa kamu kira aku mau tidur di antara pohon seperti kalian?” jawab Magdaleine.

“Yah, saya rasa itu benar. Tapi tiga orang dengan dua tenda..”

“Apa kamu mau menyuruhku membawa tiga tenda? Sudah untung kubawakan lagi. Dan lagi, aku ini perempuan, dan kalian laki-laki. Jadi wajar dong kalau aku sendiri dan kalian berdua,” jawab sang putri dengan ketus. “Ngomong-ngomong, stop your formality. Saat ini aku nggak mau ada yang tahu aku ini siapa, kecuali kalian dan orang-orang yang terlanjur tahu seperti para petinggi Acropolis.”

“Uhh.. baik lah Pu- eh, Magda. Maksudku, kami berdua. Yah, tanpa mengurangi rasa terima kasih karena telah dibawakan tenda, tapi nggak kukira sebelumnya kami akan di tenda kecil itu berdua.”

“Jadi pertanyaanmu, kenapa aku di tenda yang besar sendiri, sementara kalian berdua di tenda yang yang lain, begitu?”

Yust mengangguk.

Well, I’m a princess. What else?” jawab Magdaleine sambil berbalik ke arah tendanya. “Sudahlah, tidur. Besok pagi kita akan melakukan rencana Seto kan, apapun itu.”

Sambil terus memandangi sang putri yang menghilang ke dalam tenda, sekali lagi Assassin itu menghela nafas dan bergegas menuju tenda yang kecil. “Bukannya dia baru bilang nggak mau diperlakukan dengan formal ya.. Dasar bangsawan.”


Chapter 09: Acropolis Liberation War (Part I)


“KYAAAA!!!”

Yust membuka matanya begitu mendengar teriakan dari tenda sebelah. Serangan musuh? Bawoo liar yang menyerang? Seketika itu juga, ia langsung melompat ke luar tenda. “Magda, ada apa?!” Tapi belum sempat ia membuka tirai tenda Magda, seseorang bergelinding ke luar. “S-Seto?”

“Ah, halo Yust,” jawabnya sambil tetap dengan posisi tergeletak di tanah, seolah tak terjadi apa-apa.

“Apa yang terjadi?” Tanya Yust tidak mengerti. Apa mungkin Seto ‘menyerang’ Magdaleine sewaktu semua tidur? Tapi kelihatannya –terlepas dari sifatnya yg unik— Seto bukan orang yang akan melakukan hal sejauh itu. Tapi juga tidak menutup kemungkinan pendapatnya selama ini salah.

“Jauhkan orang mesum ini dariku!” teriak Magdaleine yang keluar dari tendanya dengan wajah merah.

“Seto.. kau nggak benar-benar melakukan itu kan..”

“Uh.. nggak kok. Aku mau membangunkan Magda. Tapi melihat wajah tidurnya, aku jadi ingin berbaring di sampingnya,” jawab Seto menjelaskan.

“Seto..” Yust menggeleng sambil menghela nafas.

“Enak saja!” tambah Mag, “kamu kira kamu itu siapa? Kalau kamu seorang raja atau pangeran tampan yang kaya raya, baru kamu boleh menyelinap ke tendaku!”

Suasana mendadak hening untuk beberapa saat. Entah ia telah salah bicara atau apa, tapi sekarang semua mata tertuju ke gadis itu. “Apa? Aku hanya bercanda tentu saja!” jawabnya cepat sebelum pandangan-pandangan itu semakin menusuk.

“Magdaaaa, aku akan selalu menjadi pangeran untukmu!” teriak Seto yang kemudian melompat untuk memeluk Magdaleine. Tapi dengan sigap, Magdaleine menarik Yust dan membuatnya menggantikan dirinya dipeluk Seto. “Magda, aku nggak tahu kamu berotot begini dan berdada rata, tapi aku tetap selalu mencintaimu!”

“Seto, buka matamu! Aku bukan Magda!” teriak Yust sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Knight yang kuat itu. Usahanya sukses saat pemeluknya itu sadar dan melepaskan dirinya.

“Ah tidak! Sejak kapan?!” Histeris, Seto berlutut di tanah, terpuruk atas apa yang dilakukannya. Wanita sangat dianjurkan, tapi memeluk pria, itu ada di urutan teratas di ‘Daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan’ miliknya.

Magdaleine yang saat itu tengah memasukkan tendanya ke Super Backpack miliknya, tertawa puas. Kemudian dia melirik ke arah Acropolis. Kondisi yang sama dengan malam kemarin, namun di kejauhan di seberang sana, titik-titik hitam mendekat. “Seto, ada yang mendekati Acropolis dari arah selatan, tapi aku nggak tahu apa itu.” Ia mengecek jam yang melingkar di tangan kirinya. Tepat pukul delapan. “Jangan bilang kalau itu bagian dari keajaiban yang kamu katakan semalam.”

Seto bangkit dan menatap titik-titik hitam di angkasa yang dilihat Magdaleine. “Yap, kau benar. Waktunya sudah tiba. Yust, Magda, ayo kita maju!”


~ * ~

“Meister, Acropolis  sudah terlihat!”

Meister Selena maju ke bagian depan dek dan menatap Acropolis. Kota yang dulu megah itu sekarang seperti kota mati. Hampir tidak ada tanda-tanda aktifitas di dalamnya. Para robot itupun juga hanya menunggu dan memblokade tanpa ada usaha menyerang.  Melihat hal itu, sang Meister mengambil mikrofon yang ada di sampingnya. “Kepada semua unit, diharapkan mulai bersiaga. Dan khusus untukmu, Bia, jangan bertindak gegabah, lakukan seperti yang kukatakan.”

“Siap!”

“Tunggu, Selena! Ada yang aneh!” Lien tiba-tiba berteriak. Cukup untuk mengagetkan Kaistern dan Biaxident yang ada di sampingnya, bahkan Selena yang ada di kapal sebelah.

“Ada apa, Lien?” tanya Selena keheranan. “Ini kesempatan kita. Robot-robot itu dalam mode stand by dan tidak menyerang. Kalau kita menyerang sekarang, dan di saat yang bersamaan pasukan Acropolis menyerang dari dalam, maka kemenangan akan mutlak menjadi milik kita.”

Lien masih menyipitkan matanya dan berusaha melihat kota itu dengan seksama. Matanya memang terkenal lebih tajam dari orang-orang biasa, itulah salah satu alasan dia bisa menjadi Gunner yang handal. “Kau salah. Blokade seperti ini nggak akan mematikan aktifitas Acropolis.”

“Mungkin mereka kelelahan dengan situasi blokade seperti ini?” tanya Bia.

“Nggak juga,” jawab Kaistern. “Baru beberapa hari sejak mereka dikepung. Dan seperti kata Meister Selena, kondisi ini, mungkin malah bisa dimanfaatkan oleh pihak Acropolis.” Kaistern mengernyitkan dahinya, lalu melirik ke arah Lien dan melihat Gunner itu tersenyum lemas.

“Kalian belum bisa melihatnya ya? Baiklah kalau begitu akan kujelaskan apa yang kulihat. Acropolis seperti kota mati karena tidak ada seorangpun di Uptown. Dan kalau ingin tahu sebabnya..” Lien menunjuk ke arah gerbang selatan Acropolis. “Gerbang selatan itu terbuka, nggak seperti gerbang lainnya.”

Kaistern terbelalak. “Maksudmu—”

“Gawat.. Kemungkinan terburuk terjadi..” Tangan kiri Selena menutup mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetar dan  mikrofon di tangan kanannya terjatuh.

Biaxident memandang gurunya dan bisa melihat ketakutan dalam matanya. “Jadi maksudnya..?”

“Acropolis telah jatuh sebelum kita sampai,” jelas Kaistern. “Kita terlambat.”


~ * ~

“Yust,” Seto tiba-tiba berbicara saat mereka mendekati pasukan robot dengan perlahan. “Katamu tadi kau tahu soal jalan rahasia di Acropolis kan? Bisa kau jelaskan?”
Yust terdiam sesaat. Yah, sebagus apapun rencana Seto, tapi ada baiknya mereka punya rencana cadangan. “Ada jalan yang menghubungkan kantor South Faction dengan sebuah toko di Downtown.”

“Selatan ya.. kita di utara, jadi mungkin agak susah. Pertanyaan kedua. Kalau kau jadi musuh, di bagian mana dari Acropolis ini kau akan menahan para penduduk?”

Yust memiringkan kepalanya. Interview di saat seperti ini? Atau mungkin ini bagian dari berjaga-jaga. Yah, walaupun ia berharap tidak, tapi kemungkinan Acropolis jatuh tetap ada. Karenanya, tanpa banyak tanya, iapun menjawab, “Dikumpulkan di satu tempat. Guild Palace terlalu banyak ruangan unik yang tak terduga, jadi mungkin terlalu beresiko untuk dipakai orang asing. Bangunan yang cukup besar menampung semua pendudukpun nggak ada rasanya. Mungkin di tengah-tengah Dowtown, arena, atau Ruin Square?”

“Begitu. Intinya semua berhubungan dengan Downtown ya,” Seto mengangguk. “Kalau begitu kita akan memutar dan masuk dari selatan.”

“Eh?” tanya Magdaleine heran. “Bagaimana caranya? Akan memakan waktu untuk berputar lewat hutan Acronia dan danau Utena.”

“Kita nggak akan memutar sejauh itu. Kita tunggu saja sampai robot-robot ini pergi mengejar titik-titik hitam yang kalian lihat tadi,” jelas Seto mengoreksi.

“Titik-titik hitam?” Yust dan Magdaleine melihat ke angkasa. Titik-titik itu mulai jelas sekarang sebagai enam buah Airship yang mengudara. “Itu.. teman kita?”


~ * ~

“Begitu ya..”

Kaistern menoleh ke arah Lien. “Apanya yang ‘begitu ya’? Apa kau mendapatkan sesuatu yang bisa digunakan?”

“Ya.” Setelah jawaban singkat untuk Kaistern, sambil menunjuk bagian timur Acropolis, Lien mulai berteriak agar Selena di kapal sebelah bisa mendengarnya, “Selena, dengar baik-baik. Kemungkinan besar para tahanan ada di Downtown. Dan kebetulan, ada jalan rahasia dari South Bridge menuju Downtown. Ini ideku, aku dan Kai akan turun, sementara kau dan Bia membombardir pasukan musuh. Pancing mereka agar menjauh dari gerbang-gerbang, terutama selatan dan utara.”

“Aku mengerti, tapi dari mana kamu mendapatkan informasi itu? Dan kenapa utara?” jawab Selena. Ia tidak begitu mengerti, tapi ia yakin akan keputusan Lien.

“Agar orang mudah memutar, tentu saja. Dan yang terpenting sekarang membebaskan Acropolis, bukan?” Lien tersenyum sambil menyiapkan senapannya. Setelah memasukkan persediaan peluru cadangan ke tas pinggangnya, ia melirik ke arah Kaistern. “Kau sudah siap?”

“Ya, aku siap,” jawab Kaistern dengan mantap. Jantungnya berdebar-debar. Membebaskan Acropolis, berarti dalam waktu dekat, ia akan kembali bertemu dengan gadis idamannya di kota itu. Rencana yang berkemungkinan berhasil kecil inipun terasa memiliki kemungkinan berhasil 100%. “Tolong urus robot-robot itu ya, Bia.”

“Serahkan padaku. Akai dan aku nggak akan mengecewakan kalian,” jawab gadis itu nya dengan penuh percaya diri sembari naik ke atas robot merahnya.

Lien tersenyum dan berjalan ke arah tali Airship yang telah dijuntaikan ke bawah. Tangan kanannya menutupi telinga kanannya, lalu berbicara pelan, “Seto, kau mendengar dengan jelas, kan?”

“Ya, sangat jelas. Tapi kuharap kau nggak berteriak seperti itu lagi. Kupingku sakit, tahu!” jawab suara dari mesin yang menempel di telinga Lien.


~ * ~

“Eh, kamu bicara dengan siapa, Set? Nggak ada yang berteriak kok,” Magdaleine menatap Seto dengan heran. Setelah semua ide aneh yang dikatakannya, sekarang Knight-nya itu berbicara sendiri. Ia hanya bisa berharap keanehannya itu nggak menjadi-jadi saat mereka masuk nanti.

“Aku.. mendengar teriakan gadis-gadis yang minta tolong di Acropolis. Teriakan mereka sungguh membuat hatiku sakit,” jawab Seto sambil menyentuh dadanya, seolah jantungnya sakit seperti ditikam-tikam.

“Ah, seharusnya aku nggak usah bertanya..” keluh Magdaleine. “Ngomong-ngomong sampai kapan kita akan menunggu? Apa kamu yakin Airship-Airship itu akan membantu kita?”

“Tentu saja. Airship itu bukan milik para mesin itu, melainkan lebih mirip dengan Airship Tonka. Mereka pasti akan teralihkan perhatiannya oleh Airship-Airship itu.” Dan begitu Seto menyelesaikan kata-katanya, tiga buah Airship melayang mendekati mereka. “Lihat, kan?”

Ketiga Airship itu –dengan beberapa Gattling Cannon yang telah siap di dek masing-masing— mulai menembaki robot-robot di bawahnya. Dalam sekejap, puluhan robot-robot seri Foxtrot memiliki lubang-lubang di badan besinya tanpa bisa membalas. Hanya robot-robot seri Foxhound yang bisa melakukan perlawanan, namun serangan merkapun tidak bisa menembus perisai-perisai yang dimiliki Airship Tonka, walau beberapa Gattling Cannon berhasil dirusaknya.

Tidak lama sejak pertempuran itu dimulai, sebuah sosok yang sedikit lebih besar dari Foxhound meluncur ke bawah dari salah satu Airship. Walaupun sosok itu adalah sebuah robot, namun benar-benar berbeda dari pasukan yang mengepung Acropolis. Warna badannya yang merah membara menjadikannya mencolok di antara kerumunan, serta kekuatannya yang jauh di atas lawan-lawannya, membuatnya tak terhentikan di medan laga tersebut. “Woohooo!! Ayo ratakan semuanya, Akai!” teriak pengemudi yang ada di kokpit robot merah itu.

“Anak perempuan?” seru Yust kaget saat melihat pilot robot tersebut. Dia tidak bisa percaya apa yang dilihat oleh kedua matanya. Robot yang bertarung dengan sesamanya, serta pilotnya yang seorang wanita. Dia memang pernah mendengar beberapa Fighter wanita yang hebat, bahkan Scout Leader sendiripun seorang wanita. Tapi ia tahu jumlah mereka tidak banyak. Ditambah lagi pilot itu sekitar empat sampai lima tahun lebih muda darinya. “Sebenarnya.. ini pasukan dari mana..?”

“Kalau aku nggak salah, mereka berasal dari Tonka. Nggak, aku nggak mungkin salah rasanya. Hanya orang-orang Tonka yang bisa membuat benda-benda seperti itu,” jawab Seto dengan tenang. “Ayo, kita juga masih punya urusan lain.

Tanpa robot-robot itu sadari, pertempuran mulai bergerak ke arah yang musuh mereka inginkan. Pengejaran terhadap Airship dan kekacauan yang ditimbulkan oleh Airship-Airship itu membawa mereka menjauh dari gerbang yang mereka jaga. Dan tanpa membuang kesempatan yang ada di depan mata mereka, Seto, Yust, dan Magdaleine, segera bergegas menyelinap ke gerbang Acropolis.

“Huh, nggak kusangka akan semudah ini,” seru Seto sambil tertawa. “Tahu begini, kita nggak perlu turun tangan.”

“Yah, tapi sayang belum ada gerakan dari Acropolis. Itu berarti kemungkinan buruk kalau mereka sudah jatuh, benar-benar terjadi?” tanya Magdaleine sambil terus berlari.

“Sangat disayangkan, tapi kurasa itulah yang terjadi. Dan untuk itulah kita turun tangan,” kata Yust menambahi. “Kesimpulan sementara kita adalah semua orang ada di Downtown. Sekarang tinggal bagaimana kita menyeberang ke South Bridge?”

“Dari Uptown tentu saja. Kalau semua yang kau katakan benar, seharusnya nggak ada siapa-siapa di Uptown, termasuk para robot sekalipun,” tambah Seto sambil memanjat gerbang Uptown.


« Last Edit: November 18, 2010, 09:55:06 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter10]
« Reply #11 on: September 13, 2010, 01:17:32 PM »
A little note of mine. . .
    Bagian ke-2 dari perang acro.. another looong chapter, dan saya mohon maaf lg untuk itu.. :santai: gpp d slama masih lbh pendek dr chapternya sachi XD
    masih mencoba pake judul di tengah crita, toh blm ada larangan, dan kliatannya lbh keren XD
    Kayaknya pertempurannya trlalu gampang ya untuk skala "perang besar"? Oh well, biar d. stidaknya ada alasan yg diulas, yg ngebuat gak trlalu mustahil jd kayak gini (walo rasanya pingin buat lbh sengit lg >_< apa daya, skil nulis tak mncukupi XD )

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



Lien memandangi medan pertempuran yang berantakan. Dari bangkai robot sampai para Foxhound yang susah payah menembaki Gattling Cannon di atas Airship. “Benar juga.. lima Airship bagus akan lebih bagus daripada 15 Airship asal-asalan. Ditambah lagi Airship milik Bia. Kita tak terkalahkan, kemenangan sama saja sudah di tangan.”

“Apa yang kau lakukan, Lien,” suara yang sedikit bernada kesal keluar dari mulut Kaistern. Ia sudah ingin menyelesaikan semuanya, tapi entah kenapa Lien terlihat seperti bersantai-santai. “Kita nggak boleh lengah sampai akhir. Ayo cepat ke jalan yang kau katakan tadi sebelum para robot itu menyadari rencana kita.”

Lien menggeleng. “Nggak akan. Mereka robot yang hanya mengikuti programnya. Sampai kapanpun mereka nggak akan sadar, kecuali kalau pemimpin mereka menyuruh begitu.” Ia duduk dan bersandar di tembok samping pintu kantor South Faction. “Lagipula aku nggak tahu jalan itu di mana. Setidaknya sampai orang yang tahu datang.”

Dahi Kaistern mengernyit. “Orang yang tahu? Jadi kita menunggu orang lain di sini?” Baru berkata begitu, tiba-tiba gerbang Uptown di belakangnya terbuka. Merasakan kehadiran orang lain yang tak dikenal bergerak ke arahnya dengan cepat, Kaistern segera berbalik dan mencabut pedangnya. Tapi belum sempat pedangnya mengenai musuhnya, tiba-tiba saja sebuah pisau bergerak ke arah lehernya dengan kecepatan tinggi dan siap memenggalnya.


Chapter 10: Acropolis Liberation War (Part II)

“Eh? Kai?”

Kaistern yang tadinya sudah pasrah segera menghentikan pedangnya saat tahu pisau itu dihentikan tepat di lehernya. Lagipula dia mengenali suara itu dengan baik. “Yust? Apa yang..”

Yust menarik dan menyimpan pisaunya sambil memperhatikan pedang Kai yang menyentuh perutnya. Kalau mereka sama-sama tidak menghentikan serangan masing-masing, mungkin mereka berdua sudah terkapar tak bernyawa saat ini. Tidak, mungkin dirinyalah satu-satunya yang akan kehilangan nyawanya karena pedang Kaistern sedikit lebih cepat. Pedang yang menempel di perutnya bahkan sudah menggores kulit arinya. “Heh, kau semakin hebat rupanya, Kai.”

“Ah tidak. Kalau kau nggak berhenti tadi, pasti leherku sudah putus sekarang,” seru Kaistern sambil mengembalikan pedang ke sarungnya.

“Kamu lagi ya rupanya. Entah ini kutukan atau apa, aku selalu berurusan dengan kalian. Mana temanmu yang berambut emas itu?”

Kaistern melirik ke arah gadis yang bicara di samping Yust. Seketika itu iapun jadi salah tingkah. “Tu-tuan putri?” Matanya berputar ke arah Yust, berharap mendapat jawaban apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukannya, tapi yang diharapkan hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. “Uh.. Maksud Anda, Alceus? Dia tidak di sini.”

“Hoo, bagus lah. Orang itu selalu membuatku kesal. Untung aku nggak perlu menghadapinya kali ini.”

“Wah wah wah, jadi kalian sudah saling kenal ya? Bagus deh kalau begitu,” seru pria yang terakhir keluar dari gerbang Uptown. “Tapi mungkin pertemuan kalian bisa ditunda sedikit? Supaya kita bisa membagi kebahagian ini bersama gadi- em, maksudku para penduduk Acropolis lainnya.”

“Cukup lama juga melintasi Uptown ya, Seto?” kata Lien tiba-tiba. “Menemukan masalah?”

Nope, hanya sedikit bersenang-senang sambil melihat-lihat Uptown.”

“Begitu. Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi?”

Yust melirik ke arah Seto –yang memberi isyarat untuk memimpin rombongan— dan membuka pintu kantor South Faction di sampingnya. Ia menuntun semuanya ke ruang utama, tempat sang pemimpin dari South Faction biasa bekerja. Sebuah meja dan kursi di tengah ruangan, dan beberapa sofa di pinggir ruangan. Perisai, pedang, dan lambang Iron South Republic tampak menghiasi dinding-dindingnya. Sementara itu sebuah rak buku yang menempel ke dinding terlihat menjadi tempat bersarangnya buku-buku keluaran negara itu.

“Di sini.” Yust melangkah mendekati rak buku dan menggesernya ke samping. Di baliknya terlihat lubang besar dengan tangga menuju ke sebuah ruangan bawah tanah.

Ruangan bawah tanah yang ada di balik rak buku itu sendiri pun tidak terlalu besar. Namun sebuah pintu di ruangan tersebut mengantarkan kelimanya melewati sebuah lorong. Lorong itu gelap dan panjang, dan di sekitarnya tergeletak berbagai macam bangkai mesin. Beberapa bahkan berbentuk mirip dengan seri Foxhound dan Foxtrot. Dan yang paling besar merupakan sebuah robot bertuliskan X7 di badannya. Untungnya semua robot-robot itu tidak ada yang kelihatan aktif.

“Jalan rahasia milik South Faction, huh?” gumam Lien.

“Yah, kelihatannya yang kau pikirkan selama ini kemungkinan besar benar,” bisik Seto pelan. “South tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan semua ini, dan kelihatannya Tonkapun tidak sepenuhnya bersih.”

“Setelah misi ini selesai kita harus memberi tahu yang lain. Merekapun seharusnya sudah kembali dari Light Tower dan menemukan sesuatu.”

“Yah, aku masih ingin bersenang-senang dengan Magda dan yang lainnya, mereka orang-orang menarik. Tapi kurasa apa boleh buat.”

“Hey, aku nggak tahu kalau kalian begitu akrab,” suara Magdaleine tiba-tiba memecahkan suasana hening dan, tentu saja, membuat kedua orang yang saling berbisik itu kaget. “Kamu teman Seto ya? Siapa namamu?”

“Oh, iya. Aku teman lama Seto. Namaku Lien,” jawab Lien dengan segera. Dengan senyum diwajahnya, seolah-olah ia tidak pernah membicarakan hal-hal serius yang baru saja ia katakan. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Putri.”

“Panggil aku Magdaleine saja,” pinta gadis itu, “setidaknya untuk saat ini.”

“Baik, Magdaleine. Mohon bantuanmu kedepannya ya,” jawab Lien ramah.


Lima belas menit mereka berada di terowongan itu, dan akhirnya merekapun sampai di ujungnya. Yust mendorong pintu yang ada di atas mereka dan mendapati dirinya berada di balik kasir sebuah toko. Tempat itu sesuai dugaan, kosong dan sepi. Beberapa barang dengan merek terkenal –atau setidaknya terlihat demikian— terpampang di setiap penjuru toko tersebut.

Black Market ya,” seru Seto setelah ia naik. “Yah, aku sudah mendengar di Downtown  Acropolis kau bisa mendapat ‘apapun’ dalam arti sebenarnya. Kurasa aku nggak terkejut.”

“Bukannya tempat seperti ini.. harusnya ditutup ya?” tanya Kaistern sambil melihat barang-barang tersebut dengan seksama.

“Nggak bisa,” jawab Yust. “Hanya diantara kita saja ya, tapi Mr. Specialist –kami biasa menyebut pemilik toko ini dengan nama itu— sering dipanggil untuk membantu pihak atas kota ini sehingga mendapat hak khusus untuk menjual barang-barang ini. Yah mungkin kau tahu, dalam politik nggak ada yang benar-benar bersih.”

“Dan selama rakyatnya nggak tahu atau nggak peduli, semua akan lancar-lancar saja. Toh semua yang di sini hidup makmur dan tentram,” tambah Lien.

“Ssst.”

Spontan semua melirik Magdaleine yang mengeluarkan bunyi itu. Gadis itu membuka pintu perlahan dan mengintip ke luar. Sesuai dugaan, para penduduk ditempatkan di tengah-tengah Downtown. Senjata mereka dilucuti sehingga mereka tidak bisa melawan Foxhound-Foxhound yang menjaga mereka walaupun robot-robot itu hanya berjumlah sembilan unit.

“Sembilan, mereka benar-benar meremehkan kita. Tapi ini berarti masing-masing kita melawan dua, kecuali Magda yang melawan satu,” seru Lien.

Mendengar hal itu, Magdaleine tidak terima. Hanya karena ia putri? Bahkan Yust saja sudah percaya kata-kata Seto bahwa dia bukanlah seorang gadis lemah. “Hey, jangan terlalu meremehkanku. Aku bisa kok melawan lebih!”

“Terima saja, Magda. Lagipula jumlahnya memang ganjil. Swordsman, Knight, Assassin, dan Gunner. Kami ini Fighter, kalau kami yang melawan satu, maka kami yang akan malu,” jelas Seto pada atasannya itu. “Lagipula sudah tugas kami melindungi wanita. Kalau kau mau, kami nggak keberatan melawan bagianmu, atau melawan semuanya sendirian.”

’Kami? Nah, kau saja kalau mau melawan semua sendirian..’ pikir Kaistern dalam hati. Dan melihat wajah Yust dan Lien, ia rasa keduanya berpikir hal yang tidak jauh berbeda.

“Magdaleine,” sahut Lien sambil mengarahkan moncong senapannya ke arah salah satu Foxhound. “Aku akan melawan bagianmu. Sementara itu kau ambil senjata-senjata di toko ini dan berikan pada para tahanan.”

“Hoi, sudah kubilang aku—”

“Jangan anggap ini tugas nggak penting,” lanjut Lien, “kalau kau terlambat atau gagal membebaskan para tahanan, kedudukan bisa berbalik dan membuat kami terdesak. Tolonglah, nyawa kami ada di tanganmu.”

“Uhh.. Baiklah kalau begitu,” jawab sang putri setuju.

Kaistern yang mendengar percakapan itu tidak bisa menahan tawa gelinya dalam hati. Lien yang dengan mudah menolongnya dan menghabisi beberapa unit robot sekaligus tanpa bersusah payah, dan Lien yang kekurangan peluru tapi tetap bisa menghentikan gerakan Briking Mk II di Tonka, ia ragu Lien serius dengan kata-katanya barusan. Tapi kalau itu bisa membuat sang putri yang keras kepala itu menurut, tidak ada hal yang ia perlu proteskan.

“Kalau begitu, aku akan maju duluan.” Selesai akan kalimatnya, tubuh Yust tiba-tiba menghilang. Cloaking. Tidak ada seorangpun yang tahu apakah ia masih ada di ruangan itu atau tidak. Dan beberapa detik kemudian, terdengarlah suara besi yang terhantam benda keras di kejauhan.

Lien tiba-tiba saja muncul di hadapan salah satu Foxhound. Namun sayang, cakarnya tidak cukup kuat untuk menghabisi musuhnya meski dengan serangan mendadaknya. Kalau bisa, ia ingin mencobanya sekali lagi, namun sayang kali ini semua Foxhound telah memutar dan mengarahkan moncong senapan mereka ke arahnya.

Namun belum sempat ada Foxhound yang menyerang, salah satu dari mereka dihantam sebuah benda kecil, namun cukup untuk menghempaskan tubuh besinya dan membuatnya menghantam unit kawannya. Dengan spontan, tiga unit Foxhound berputar mencari asal benda itu dan menemukan siapapun yang menjadu pelakunya. Dan jauh di seberang jalan, dari balik pintu sebuah bangunan, robot-robot itu menemukan Lien yang mengarahkan laras senapannya ke arah mereka.

“Sebuah peluru yang mematikan, Lien. Aku nggak akan mau kena tembakanmu itu,” kata Seto yang berlari ke depan Lien, Kaistern, dan Magdaleine. Ia memutar tombaknya dengan cepat sehingga tak satupun serangan balasan para Foxhound yang mengenai dirinya ataupun tiga orang di belakangnya.

“Jujur saja, aku pun nggak mau buang-buang peluru untuk menembakmu,” balas Lien sambil membidik target selanjutnya.

’Kuat! Mereka berdua ada di level yang jauh berbeda denganku!’ Tubuh Kaistern menggigil. Tapi di sebagian hatinya, ia merasa tertantang berada di dekat kedua orang itu. “Aku juga nggak akan kalah.” Tanpa menunggu lebih lama, iapun segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari ke arah para tahanan, diikuti oleh Magdaleine di belakangnya. Sambil terus bergerak dan mengayunkan pedangnya, ia berhasil mengangkis beberapa tembakan musuh dan menghindari sisanya.

“Hoo, anak itu boleh juga,” puji Seto yang hanya memandang Swordsman dan putri yang berlari ke arah musuh.

“Sayang kurang pengalaman, terutama dalam grup,” tambah Lien yang bergegas pindah ke sudut lain. “Menerjang dari depan. Mungkin dia percaya diri akan kemampuannya, tapi dia juga menghalangi lajur tembakanku.”

“Biarlah mereka yang menjadi pahlawan kali ini, sekalian menambah pengalaman. Lagipula misi utama kita hanya men-support mereka,” balas Seto sebelum akhirnya berlari ke arah Yust.

Sementara itu, Magdaleine yang tengah berlari ke aula tengah Downtown tempat para penduduk dikumpulkan, segera mengeluarkan sebilah pisau dari tasnya dan memutuskan tali para tahanan. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera melepas tasnya dan menjungkir balikkannya, membiarkan semua isinya –dari tenda sampai pedang dan perisai— jatuh ke lantai. “Ayo yang bisa bertarung, segeralah bertarung. Kita harus beri pelajaran pada para mesin itu siapa yang berkuasa di sini!”

Di saat yang sama, cakar milik Yust telah memakan korban tiga tubuh baja Foxhound. Walaupun semua tidak terlepas dari bantuan Seto yang memojokkan mereka, tetapi Yust semakin tak terhentikan, mengamuk bagaikan harimau yang terluka. Namun tepat di saat ia akan menghabisi yang keempat, tiba-tiba ia menghentikan serangannya. Sepasang matanya telah menangkap sebuah sosok yang tidak begitu asing di tangga utara Downtown. Dan tanpa menyelesaikan mangsanya, Assassin itu dengan segera mengejar sosok yang melarikan diri ke arah North Bridge.

“Yust?” Kaistern mengernyitkan dahinya. Kelakuan aneh Yust itu nyaris membuat ia kehilangan sahabatnya tersebut. Beruntung ia berhasil menghabisi Foxhound yang ditinggalkan Yust dan berbalik menguncinya dari belakang. Berbagai pertanyaan dan rasa penasaran timbul di benaknya, tapi dia tidak punya waktu untuk itu karena masih harus berhadapan dengan sisa musuh yang ada.


~ * ~

“Hei, tunggu!”

Dengan nafas yang mulai terengah-engah, Yust sama sekali tidak bisa mengejar bayangan yang dikejarnya. Ia hanya bisa membuntutinya dengan matanya sementara bayangan itu lari ke arah Uptown. Tapi justru di situlah letak keanehan yang dirasakan Dominion itu. Dengan kondisinya, seharusnya bayangan itu dengan mudah lolos, tapi entah kenapa, malah terlihat seperti menunggu dan membiarkan dirinya diikuti.

“Hah..hah.. Dia.. ingin membawaku ke suatu tempat ya.. Baiklah, akan kuturuti permainannya.”

Pengejarannya membawa Yust ke Guild Palace. Di sinilah permainan petak umpet sebenarnya dimulai. Ia tidak tahu ada di mana buruannya itu, tapi ia yakin yang dikejarnya masih berada di sana. Sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan padanya? Rasanya ia sudah tahu seluruh ruangan di Guild Palace. Semua ruangan, kecuali.. “Oh tidak!” Dengan segera ia menaiki portal yang membawanya ke lantai lima.

Lantai lima Guild Palace, tempat yang tidak boleh dimasuki orang biasa. Di bagian timur dan baratnya ada kantor yang mengurusi berbagai urusan tentang Dominion dan Titania. Di bagian selatannya terdapat kantor perwakilan ras-ras lain selain tiga ras utama. Dan di sebelah utara, sebuah tempat yang ia belum pernah tahu. Ruangan itu disegel dengan kekuatan sihir yang luar biasa, dan hanya bisa dibuka oleh sebuah kristal khusus.

Namun apa yang ia takutkan terjadi. Di depan ruangan terlarang tersebut terdapat serpihan kristal yang berserakan di lantai. Ia pun melangkah mendekat, berusaha mendorong pintu ruangan tersebut secara perlahan. “Segelnya.. terbuka..”  Dan betapa kagetnya Yust saat melihat isi ruangan tersebut. Ruangan yang didominasi cahaya hijau melengkapi mesin-mesin canggih yang belum pernah ia lihat di Acropolis ataupun tempat lainnya. Sementara itu, di hadapannya berdiri sosok pria bertopeng harimau yang pernah mencoba menculik Magdaleine dulu.

“Selamat datang, Yust. Bagaimana ruangan ini, indah bukan?”

“Kau yang waktu itu.. Siapa kau sebenarnya?”

“Kau belum mengenaliku?” tanya pria bertopeng tersebut sambil tertawa. “Oh, kau membuatku sedih, Yust..”

“Jadi benar kita saling mengenal. Jadi itu juga sebabnya kau membawaku ke sini?”

“Benar. Aku adalah..” pria tersebut menyentuh topengnya, hendak membukanya, namun ia hentikan di tengah jalan. “Ups, nggak seru kalau kau tahu tanpa berusaha mengingat-ingat. Lagipula kau nggak mengenaliku itu kan kesalahanmu sendiri.”

“Terserahlah. Yang jelas sekarang, apa maksudmu memancingku ke mari?” tanya Yust yang semakin tidak sabar.

“Jangan kasar begitu dong. Saat ini kau pasti bertanya-tanya ruangan apa ini, bukan?” Pria bertopeng itu mendekat ke salah satu dinding dan menyentuhnya. “Tempat ini mencatat semua tentang Acropolis di masa lalu. Mulai dari catatan sejarah, sampai teknologi terdahulu. Yah, kurasa kau lebih pintar dariku soal sejarah.”

“Jangan bertele-tele, apa maksudmu?”

Pria itu tersenyum. Ia tidak menyangka Yust akan mau mendengarkan semudah ini, walaupun itu sebenarnya bagus untuknya. “Kau pasti sudah mendengar dari Beldegard soal kekuatan yang akan bangkit kan? DEM. ‘Musuh’ di masa lalu yang menyebabkan Acronia menemui zaman kekelaman.”

Yust mengangguk.  Ia pernah mendengar soal itu di sejarah Acronia, walaupun tidak menduga merekalah ancaman yang dikatakan Ratu. “Jadi kau ingin membangkitkan mereka lebih cepat?”

Pria bertopeng itu menggeleng. “Jangan salah. Aku sama sepertimu. Aku juga ingin menghentikan mereka. Dan setahuku, ada dua cara yang paling efektif untuk itu. Yang pertama adalah membangkitkan dan mengontrol kekuatan besar yang tertidur di bawah Northern Kingdom. Dan untuk itu, aku membutuhkan darah pewaris tahta kerajaan itu. Tapi kau menggagalkannya.”

“Jadi itu sebabnya kau berusaha menculik Magdaleine. Percuma saja, aku nggak akan membiarkanmu mendapatkannya,” jawab Yust dengan senyum sinis di bibirnya. “Lalu apa yang kedua?”

“Mengaktifkan Armageddon Mode Acropolis, dan menembakkan rudal itu untuk menghancurkan seluruh DEM,” jawab pria itu dengan santai.

“Armageddon Mode?” teriak Yust kaget. “Kau gila! Itu serangan terakhir Acropolis yang bisa dibilang menghancurkan kedua belah pihak! Apa kau mau mengulang sejarah?!”

“Kenapa nggak? Acronia akan sekali lagi memasuki masa kelam, tapi Acronia saat ini adalah bukti bahwa kita akan bisa melewati itu meski harus memakan puluhan bahkan ratusan tahun. Membangun peradaban baru.”

“Dasar gila!”

“Aku mungkin gila, tapi aku melakukan yang terbaik untuk tanah ini. Kalau kau nggak mau itu terjadi, serahkan tuan putri, dan aku akan menggunakan cara yang pertama,” ancam pria tersebut. Ia kemudian mengambil sebuah kunci dan berkata, “Aku telah menyalin dan memindahkan semua kendali yang ada di sini, dan aku bisa mengaktifkan Armageddon Mode dari jauh. Untuk itu, aku mengandalkanmu, Yust. Aku akan menunggu satu minggu.  Kalau kau nggak membawa tuan putri padaku, aku akan benar-benar menggunakannya. Aku akan terus mengawasimu, dan saat kau memutuskan untuk melakukannya, aku akan langsung datang ke hadapanmu. Sampai bertemu lagi, Yust. Oh, dan jangan katakan hal ini pada siapapun. Kalau nggak, BOOM!” Selesai berkata begitu, Time-Spaced Key di tangannya bersinar dan lenyap bersama pemegangnya.

Yust hanya bisa terpana setelah ditinggalkan sendiri di ruangan tersebut. Seolah tiba-tiba saja beban dunia diletakkan di pundaknya. Haruskah ia memberikan Magdaleine dan mengkhianati teman-temannya, demi kedamaian dunia? Lagipula cara pertama yang dikatakan pria bertopeng tadipun belum tentu tidak beresiko. Tapi fakta bahwa pria itu jauh lebih memilih cara itu daripada cara kedua, pasti resikonya lebih kecil, setidaknya itulah yang bisa ia pikirkan saat ini.

“SIAAAAL!! AKU HARUS BAGAIMANA??!!”


~ * ~

Suasana di Downtown dipenuhi sorak gembira. Dengan bebasnya para pejuang Acropolis, tidak butuh waktu lama bagi Kaistern dan kawan-kawan untuk menghabis Foxhound yang tersisa. Selain kegembiraan akan bebasnya mereka, para penduduk juga mengelu-elukan Kaistern, sebagai sosok pahlawan yang membebaskan Acropolis.

“Kau hebat, Kai. Kau benar-benar penyelamat!”

“Baru sebentar saja kau sudah hebat begini. Kau bahkan menghancurkan setengah dari semua musuh sendirian!”

“Ah, nggak juga,” jawab Kaistern dengan wajah yang memerah. “Ini semua berkat bantuan yang lain. Aku hanya kebetulan saja kebagian yang menghabisi.”

“Akuilah kehebatanmu sendiri, Kai,” seru Lien seraya menepuk pundak Kaistern. “Peluruku bahkan nggak bisa menghabisi satupun dari mereka.”

Kaistern tersenyum. Lima unit yang ia habisi, semuanya berkat bantuan Lien dan Seto yang membuat mereka tak berdaya terlebih dahulu. Sementara salah satu dari lima tersebut merupakan Foxhound yang sebenarnya tinggal dihabisi oleh Yust. Tapi kalau Lien bicara begitu, berarti dia ingin agar tidak terlibat dalam pujian-pujian itu, dan membiarkan dirinya sebagai orang dari Acropolis sendiri yang menjadi pahlawan. ‘Yah, kurasa aku sudah mulai bisa membaca pikiran orang ini sekarang..’

“Yust tiga, Kai lima, dan satu oleh para penduduk Acropolis. Kurasa kita sudah melemah, Lien,” seru Seto sambil tertawa.

Selagi semua bergembira seperti, Biaxident berlari dari arah utara Downtown. Wajahnya berseri-seri, dan itu cukup untuk memberi tahu orang-orang apa yang terjadi di luar. Di belakangnya menyusul Yust yang berjalan pelan, dengan senyum yang sedikit dipaksakan di wajahnya.

“Kita menang!” teriak gadis pecinta mesin itu.

“Wah wah, kau hebat juga ya, Bia,” puji Lien dengan acungan jempol ke arah gadis itu.

Biaxident berhenti di depan Lien dan membalas dengan jempolnya, tapi senyumnya sedikit memudar. “Sebenarnya sih nggak bisa dibilang menang juga. Soalnya saat kita mulai terdesak di tengah pertempuran, tiba-tiba saja para robot-robot itu mundur dan pergi entah ke mana. Pokoknya berantakan deh.”

‘Karena pria itu sudah mendapatkan apa yang dia mau,’ kata Yust dalam hati, tapi tentu saja ia tidak berani mengunggkapkan itu keras-keras.

“Ngomong-ngomong,” kata Lien memulai pembicaraan lagi sambil menoleh ke arah para penduduk. “Bagaimana bisa pertahanan kalian tembus?”

“Ah itu.. Ada yang membukakan pintu dari dalam. Terima kasih atas apa yang mereka lakukan, kita semua jadi sengsara seperti ini,” jawab seorang pria yang sudah cukup berumur. “Aku seorang Sage, aku bisa menggambarkan sketsa mereka dengan akurat. Tolong kalau kalian bertemu mereka, bawa ke sini, biar kita adili ramai-ramai.”

Senyum di wajah semua orang, terutama Kaistern, menghilang. Pengkhianat. Lien memang pernah menyinggung soal ini sebelumnya, bahwa kemungkinan besar ada pengkhianat di dalam Acropolis sendiri.

“Nah, ini dia gambar mereka. Silahkan kalian ingat-ingat. Kalau kalian bertemu mereka, tolong beritahu kami.”

Magdaleine mengambil papan sketsa yang diberikan orang tua itu, sementara Yust, Kaistern, dan yang lainnya berusaha melihat dan mengingat wajah itu baik-baik. “I-ini..”

“Nggak mungkin.. mereka..” Yust tiba-tiba terduduk lemas. Belum selesai satu masalah yang diberikan si pria bertopeng, sekarang ia harus menghadapi yang lainnya. Ia berharap ia salah, tapi kakek tua penggambarnya sudah terkenal sebagai artis yang hebat dalam urusan gambar-menggambar.

Kondisi Kaistern pun tidak jauh berbeda dari Dominion Assassin di sebelahnya. Hanya bisa memandang dua wajah yang sangat familiar baginya. “Al.. dan Latte..? Apa yang sebenarnya terjadi..”

« Last Edit: November 18, 2010, 09:56:44 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter12]
« Reply #12 on: September 21, 2010, 05:40:59 AM »
A little note of mine. . .
    chapter' damai' setelah chapter perang.. anggaplah sebagai break sesaat XD
    gak bakat nulis pidato @_@ oh well, bodo amat~
    btw, udah ada hasil mrbv di page 1~ :sing:

    silahkan dinikmati ^^

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



Sehari telah berlalu sejak peristiwa kelam yang melanda Acropolis. Pagi itu terasa amat berbeda dari hari-hari sebelumnya, bahkan hari-hari sebelum pengepungan Acropolis. Pagi itu semua orang berkumpul di Uptown untuk merayakan kebebasan mereka. Pagi itu mereka menyambut pahlawan mereka di depan Guild Palace.

“Kaistern dan Yust,” suara tua Mayor menggelegar di seluruh Uptown melalui mikrofon. “Kebebasan kita hari ini tidak akan ada tanpa jerih payah kita semua, terutama kalian. Tanpa kalian, saat ini kita masih terus ada dalam bayang-bayang robot-robot itu. Sekali lagi, aku, mewakili seluruh rakyat Acropolis, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pahlawan kita, Assassin Yust dan Swordsman—” Tiba-tiba saja Swordsman Master yang tadinya berdiri di belakang Mayor bersama dengan para Master lainnya, maju selangkah dan membisikkan sesuatu pada Mayor. “Kepada Assassin Yust dan Blademaster Kaistern,” lanjut wanita pemimpin Acropolis itu.

“Eh?” Mata Kaistern terbelalak mendengar gelar barunya. Sementara di sampingnya, Yust tersenyum padanya sambil mengucapkan selamat, walaupun entah kenapa, ia bisa melihat Dominion itu tampak kurang bersemangat.

“Selamat, Kai, mulai hari ini kau adalah seorang Blademaster,” seru Swordsman Master sembari mengacungkan jempol ke arahnya.

“Terima kasih.”

Sang Mayor tersenyum menyaksikan wajah pahlawan muda itu memerah, kemudian melanjutkan pidatonya. “Dan kami juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Northern Kingdom dan Tonka yang telah berbaik hati mengirimkan bantuannya pada kami.”

“Itu sudah menjadi kewajiban kami,” jawab Magdaleine, “sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain.”

“Dan aku mendengar seseorang berkata tak peduli pada negara lain sebelum keberangkatan kita,” kata Seto pelan sambil berusaha menahan tawanya.

Sang putri mendelik ke arah pengawalnya itu dan membalasnya dengan suara yang juga tidak bisa didengar orang lain, “Diam! Ini cuma formalitas, tahu!”

“Seperti yang dikatakan Tuan Putri Magdaleine, Tonka pun tidak bisa diam saja melihat Acropolis dalam kesulitan,” tambah Meister yang memimpin pasukan Tonka.

“Wow, padahal ada yang marah-marah saat kuberi tahu tentang masalah ini,” celetuk Lien yang ada di samping Selena.

“I-itu.. itu karena kamu memberi tahu masalahnya setengah-setengah!” jawab Selena sambil menginjak kaki Gunner yang mengejeknya itu.

“Jadi semua salah kakak Lien, ya kan Meister?” tambah Biaxident yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua.”

“L-loh, Bia, kok malah jadi a—”

“Setuju. Kamu benar, Bia, Lien memang biang keroknya,” potong Selena tanpa membiarkan Lien menyelesaikan kalimatnya.


“Yah, hanya itu yang bisa kusampaikan. Untuk merayakannya, hari ini kami mengadakan festival di Acropolis. Silahkan kalian semua menikmati hari ini,” seru Mayor Acropolis mengakhiri pidatonya. Selesai berkata itu, ia pun berbalik dan berjalan memasuki Guild Palace, dengan kesepuluh Master plus dua orang pemimpin Church mengikuti di belakangnya.

Semua orang mulai meninggalkan posisinya dan pergi ke counter-counter festival, mulai dari makanan hingga permainan. Namun tidak demikian dengan Kaistern. Ia cepat-cepat berjalan ke arah Guild Palace sebelum para Master benar-benar masuk. “Master! Ada yang ingin kutanyakan!”
Swordsman Master berbalik ke arah bawahannya itu sambil tersenyum ramah. “Bisakah kau tunda itu sebentar? Kami harus segera memulai rapat penting.

“Apakah salah satunya membahas tentang pengkhianat yang membiarkan musuh masuk?”
Swordsman Master terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. “Ya. Memangnya kenapa?”

Kaistern tampak agak ragu mengatakan hal yang ingin ia katakan. Tapi setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, ia pun berkata, “Bisakah.. bisakah Anda serahkan urusan itu pada saya? Biarkan saya yang membawa mereka.”

Sekali lagi, Swordsman Master terdiam. “Aku tahu mereka itu teman-temanmu. Hal ini pasti sangat menyakitkan hati. Karena itu—”

“Justru itu!” potong Kaistern. “Justru itu..  biarkan aku mengungkap semuanya. Aku ingin mendapatkan kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

“Begitu..” Swordsman Master berbalik menatap pintu Guild Palace yang baru saja dilewati para Master lainnya. “Aku mengerti. Aku akan mengatakan hal ini di rapat. Aku nggak bisa jamin mereka menyetujuinya, jadi pergilah sekarang juga, dan bawa mereka ke sini sebelum pasukan penangkap yang melakukannya.”

“Terima kasih, Master.” Kaistern membungkuk sampai Masternya itu memasuki Guild Palace dan hilang dari pandangan. Kemudian ia melirik ke arah Yust yang dari tadi menunggunya, lalu memandang ke angkasa, ke arah langit yang sama-sama menaungi mereka tanpa peduli sejauh apapun mereka terpisah.

Chapter 11: Hero and Villain

“Aku pulang!”

“Selamat datang, Al,” jawab suara dari arah dapur.

Begitu menutup pintu, Alceus meletakkan beberapa South Pole Pefang hasil tangkapannya di atas meja dan bergegas pergi ke arah suara itu. Seorang gadis dengan rambut biru muda yang tengah memasak pun terlihat di matanya. “Bagaimana kondisimu hari ini, Latte?”

“Baik. Nggak ada masalah apapun hari ini. Luka-luka dari para prajurit yang waktu itu mengejar kita juga sudah ku-heal dan menutup dengan sempurna,” jawab gadis itu sambil mematikan kompor. “Kamu sendiri?”

“Perburuan berjalan lancar, makan malam hari ini bakal enak lah,” jawab pria pirang itu sambil menunjuk ke arah para South Pole Pefang di meja depan. “Ngomong-ngomong.. kelihatannya Acropolis sudah bebas.”

“Lalu?” jawab Latte yang sekarang tengah memindahkan oleh-oleh Alceus ke dapur.

Lalu?” tanya Alceus heran. “Kamu nggak mau kembali ke sana?”

“Yah, mau bagaimana lagi?” jawab Latte dengan tenang. “Kita sudah menjadi buronan kan, jadi nggak mungkin kembali ke sana. Harusnya hanya aku yang menjadi buronan, tapi kemudian ada orang bodoh yang sok hebat menyelamatkanku, akhirnya malah ikutan jadi buronan.”

Alceus menggaruk-garuk kepalanya. “Yah, mau bagaimana lagi? Aku kan nggak mungkin diam saja melihatmu dikejar seperti itu.”

“Tuh kan, sok hebat lagi,” tukas Latte sambil menghembuskan nafas panjang. Ia lalu berbalik dan berjalan mendekati Ranger itu dan tersenyum, “Tapi makasih ya, Al. Kalau nggak ada kamu, entah apa jadinya aku sekarang.”

Melihat senyum Titania itu dari dekat, wajah Alceus memerah. Ia segera memalingkan pandangannya ke tumpukan South Pole Pefang yang siap masak dan berkata pelan, “A-aku selalu di pihakmu kok, nggak peduli kamu benar atau salah.”

Latte tidak menjawab, tapi jelas senyumnya melebar. “Terima kasih sekali lagi, Al. Aku jadi nggak perlu mengasingkan diri sendirian. Mohon bantuannya lagi mulai sekarang, soalnya kita bakal sama-sama terus untuk waktu yang akan lama.”

“S-sama-sama?” Tinggal seatap. Hidup bersama. Berbagai macam pikiran merasuki otak Ranger itu. Sudah sejak pertama kali melihat Latte, ia sudah tertarik pada gadis itu. Namun melihat kedekatannya dengan sahabatnya, membuatnya merasa harus mundur dan hanya berperan sebagai support. Siapa sangka kesempatan belum benar-benar tertutup baginya.

“Yap, sama-sama. Sesama buronan harus saling membantu, kan?” jawab Latte sambil tertawa. “Dan lagi, aku sudah lama ingin punya saudara yang bisa diandalkan. Kamu tahu kan, aku anak tunggal.”

Alceus terdiam, tapi senyumnya tidak memudar sedikit pun. Yah, setidaknya senyum di luar. ‘Oh, jadi hanya saudara ya.. Kurasa terlalu cepat untuk berharap macam-macam..’ Dia menghela nafas. “Tapi.. saudara ya.. Apa aku juga punya saudara ya..”

“Ah, maaf! Aku lupa kalau ingatanmu..”

“Nggak apa-apa. Aku nggak peduli masa laluku kalau aku bisa bahagia di masa sekarang,” potong Alceus cepat sebelum Latte semakin merasa bersalah. “Yah, walau tetap ada rasa ingin tahu juga soal itu..”

“Al..”

“Sudah, nggak apa-apa. Aku sudah lapar nih, makan yuk.”

Latte tersenyum. Setidaknya ia tidak perlu khawatir berlebihan kalau Alceus bersemangat seperti itu. “Tunggu sebentar ya, aku akan masak makanan favoritmu hari ini.”


~ * ~

Setelah menyantap daging South Pole Pefang –yang jauh lebih gurih daripada Pefang yang ada di utara— dilengkapi dengan Tropical Fish bakar, Latte yang sudah agak mengantuk segera pergi ke kamarnya. Sementara itu, Alceus menatap dinding-dinding rumah yang mereka tempati. Beruntung mereka menemukan sebuah rumah untuk berlindung saat melarikan diri.

“Huff.. Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya ya..” Alceus  naik ke atas sofa dan merebahkan dirinya di sana. Pikirannya melayang ke masa lalu terjauh yang bisa ia ingat. Tita menyuruhnya untuk melakukan sesuatu tentang para robot yang mulai bangkit, tapi kalau keadaannya seperti ini, tampaknya ia harus menyerahkan semuanya pada Kaistern, Yust, dan pihak Acropolis, serta pihak-pihak lain yang membantu mereka. “Yah, aku hanya buronan.. Yang bisa kulakukan saat ini cuma melindungi Latte.”

Selesai berkata begitu, ia menutup matanya dan memutuskan untuk tidur. Namun suara sirine yang tiba-tiba muncul tidak mengizinkannya untuk tidur. “Sial, berisik sekali sih!” Ia pun kembali membuka matanya. Tapi yang tampak di hadapannya bukanlah isi rumah di malam hari, melainkan ruang kendali yang bergemerlapan dengan cahaya merah dari lampu darurat.

“Kekuatan perisai kita telah menurun 30%.”

“Para DEM telah berhasil menembus masuk dan menguasai bagian timur Uptown!”

“Sial, bagaimana mungkin mesin-mesin rongsokan itu bisa sejauh ini?!”

Alceus mengamati sekitarnya dengan seksama. Tiga orang, dan salah satunya terlihat berpangkat lebih tinggi dari yang lain. ‘DEM? Uptown? Apakah para DEM sudah memasuki Acropolis? Tapi bagaimana mungkin..’

“Aktifkan Armageddon Mode!” teriak orang yang terlihat sebagai pemimpin di ruangan itu.

“P-Pak! Anda serius?! Kalau itu dilakukan—”

“Tidak ada jalan lain! Kalau begini terus, kita akan kalah. Lebih baik kita membawa para monster itu bersama kita!”

Kedua bawahan sang komandan saling bertukar pandangan. Keduanya jelas terlihat agak ragu dengan keputusan si komandan. Tapi beberapa saat kemudian, mereka mengangguk dan mengakui kalau itu jalan yang terbaik. Demi keluarga mereka, demi para penduduk, dan demi Acropolis itu sendiri. “Armageddon Mode akan aktif  dalam tiga ratus detik.”

Alceus menyaksikan kejadian di depannya tanpa bersuara sedikitpun. Ia tidak mengerti apa yang akan mereka aktifkan, tapi ia tahu satu hal. Serangan bunuh diri. ‘Gila.. Tapi.. benarkah nggak ada jalan lain..?’

Tiba-tiba saja sang komandan seperti menyadari kehadiran Alceus di belakangnya. Ia menoleh dan mulai berteriak, “Kau.. warga sipil?! Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat evakuasikan dirimu!”

“Eh?” Alceus terkejut. Ia kira, semua yang terjadi hanyalah ilusi, dan tidak seorang pun yang bisa melihatnya. Namun perkiraannya itu terbukti salah. Atau jangan-jangan ini semua benar-benar nyata dan sedang terjadi di Acropolis saat ini? Lalu bagaimana ia bisa berada di sana? “Ba-baik.” Ia tahu pertanyaannya tak akan terjawab dengan segera. Dan melihat timer yang telah berkurang lebih dari dua menit, ia segera bergegas menuju pintu yang ada di sana tanpa membuang waktu lagi.

Di balik pintu itu, betapa terkejutnya ia melihat sosok yang telah lama tidak ia lihat. Seorang Titania wanita berparas cantik yang dulu ia pernah temui. “Ti-Tita?!” Namun kobaran api yang memenuhi ruangan itu membuatnya sulit untuk menggapai gadis itu.

“Alceus! Di sini kamu rupanya,” jawab Titania itu dengan suara merdunya.

“Jadi ini benar kau?” tanya Alceus meyakinkan dirinya detelah berhasil melewati api. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

“Tenanglah. Yang kamu lihat saat ini adalah kejadian di masa lampau, saat DEM menginvasi pertama kali,” kata Tita mencoba menenangkan. “Tapi.. aku takut kejadian ini akan terulang kalau kamu nggak melakukan sesuatu.”

“Aku?” Alceus terdiam. Kepanikannya telah hilang, namun sekarang berubah menjadi keraguan. “Kau salah, Tita. Seharusnya kau mengatakannya pada Kaistern atau Yust. Memangnya apa yang bisa kulakukan. Aku hanya seorang buronan, dan kau mengharapkan seorang penjahat untuk menjadi pahlawan?”

Kali ini giliran Tita yang terdiam. “Apa kamu.. menyerah?”

Alceus tidak menjawab. Memang, segala yang terjadi membuatnya berubah. Dulu, ia begitu bersemangat akan semua ini. Namun sekarang, entah kenapa semangatnya itu hilang. Ia sendiri masih belum begitu yakin dengan keputusannya, namun bibirnya perlahan bergerak dan berkata, “Ya.”

Tita menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Alceus.. kamu memiliki kekuatan. Namun di masa lalu kamu menggunakannya di jalan yang salah. Dan sekarang, kamu yang masih memilikinya lebih memilih untuk tidak menggunakannya dan membebankan semuanya kepada teman-temanmu. Menurutku kedua hal itu sama-sama salah.”

“Di masa lalu?” Alceus terkejut mendengar sebagian dari kata-kata Tita. “Maksudmu, kau tahu masa laluku?! Ah ya, kurasa kau juga mengatakan sesuatu tentang itu dulu. Kumohon, ceritakan padaku!”

Tita terdiam. Tanpa mengetahui asal-usulnya saja, orang yang diharapkannya menyerah. Ia tidak tahu apa yang terjadi kalau sampai ingatannya kembali. Bisa-bisa Alceus malah kembali ke jalan yang dulu ditempuhnya.

“Begitu.. kau nggak mau cerita. Kurasa di masa lalu aku pun seorang penjahat kan, nggak ada bedanya dengan sekarang,” kata Alceus dengan nada kecewa.

“Aku nggak bisa mengatakannya, karena itu adalah sesuatu yang harus kamu cari sendiri. Dan kalau kamu berubah pikiran.. Yah, aku hanya bisa berharap jawaban baik darimu. Aku harap kita bisa bertemu lagi.” Selesai berkat begitu, sepasang sayap Tita membawanya melayang ke balik kobaran api.

Alceus tidak berkat apa-apa. Ia hanya memandangi tubuh mungil Titania yang terbang menjauh darinya. Di balik kobaran api, sekilas ia melihat pemandangan yang kontras, walapun agak blur. Sebuah lapangan hijau yang indah dengan danau di tengahnya. Namun tiba-tiba saja sebuah DEM melompat dari balik kobaran api dan melayangkan tinjunya ke arah Ranger tersebut, membuyarkan seluruh pemandangan tadi. Bersamaan dengan itu, seluruh dinding di sekitarnya meledak.


~ * ~

“Al.. Al! Alceus!”

Seketika itu juga Alceus membuka kedua matanya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Di sekitarnya adalah pemandangan yang sama dengan sebelum ia tidur. Dan di hadapannya adalah Latte yang dari tadi berusaha membangunkannya dengan wajah panik. “Latte..?”

“Al.. Kamu kenapa? Mimpi buruk? Kamu terus berkeringat dingin, sambil teriak-teriak nggak jelas kadang-kadang,” jelas Latte dengan wajah yang semakin panik. Saking paniknya sampai-sampai berkeringat sama banyak dengan yang dikhawatirkannya.

“Mimpi..?” Alceus mengulang penjelasan Latte. “Ah iya.. hanya mimpi, aku nggak apa-apa kok,” katanya seraya membelai rambut panjang Latte dan berusaha menenangkannya.

“Huff.. Tolong jangan buat aku khawatir seperti itu,” jawab Latte pelan. Ia kemudian berdiri dan berbalik.

Alceus turut bangkit dan meraih tangan Latte. “Latte, makasih ya udah mengkha—” Namun kata-katanya tidak terselesaikan. Ada yang salah dengan Titania itu. Tangannya dingin, dan tiba-tiba saja tubuhnya ambruk. Beruntung Ranger tersebut cepat menangkapnya dan membaringkannya di sofa. “Latte! Apa yang terjadi?”

Wajah Vates itu memucat. Ia kelihatan menderita menahan sakit. “Dia.. menyerang lagi..”

Alceus tertegun mendengar kata-kata Latte. Kalau yang dimaksud adalah Dia yang Latte pernah ceritakan padanya, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Ia ragu obat-obatan biasa akan membantu banyak.

Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu depan rumah itu. Alceus yang tengah dilanda kebingungan pun semakin bingung. Rumah itu cukup terpencil, siapa yang kira-kira berkunjung ke rumah itu. Atau mungkin itu Alice sang pemilik rumah? Tapi harusnya pemilik rumah tidak akan mengetuk rumahnya sendiri. Selagi berpikir begitu, tiba-tiba saja si pengetuk berteriak, “Kami pasukan khusus Acropolis. Kami mendapat laporan ada yang melihat dua tersangka yang sedang buron di sekitar sini. Buka pintunya, atau kami akan masuk dengan paksa!”

“Pasukan pengejar? Di saat seperti ini?” Alceus melirik Latte yang kondisinya semakin parah. Tangan gadis itu terus menggigil sambil terus menggenggam tangannya, membuat ia semakin tak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin tak ada jalan lain selain bertarung. Sebelah tangannya mencoba meraih pisau yang tergeletak di atas meja, namun ketergesa-gesaannya membuat ia menjatuhkan vas bunga di samping pisau tersebut dan hancur berkeping-keping. Sekarang ia hanya bisa berharap para pasukan itu tak mendengar bunyi pecah vas tersebut.

« Last Edit: November 18, 2010, 09:59:48 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter12]
« Reply #13 on: September 30, 2010, 11:53:42 AM »
A little note of mine. . .
    ch 12.. ntah knp rasanya ada yg kurang di chapter ini.
    dengan halaman yang semakin banyak, tp terasa isi cerita yang semakin dikit.
    kmungkinan2 udah dikasih tau, tapi nyoba nge revisi ulang kayaknya gak banyak yg bisa dilakukan..
    ntah cuma prasaanku aja ato gak, tp smoga gak trjadi di chapter2 slanjutnya d.. :sweat:

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



PRAANG!!

Suara hancurnya sebuah keramik menggema di seluruh ruangan, yang bahkan ikut terdengar sampai beberapa meter di luarnya. Biasanya tidak pernah ada masalah, karena rumah itu selalu sepi, begitu juga sekitarnya. Tapi tidak kali ini. Semua orang yang sedang berkumpul di depan pintu langsung terkejut karena suara itu.

“Yang di dalam, buka pintunya! Kami tahu kalian ada di dalam, Alceus dan Caramel DeLatte,” teriak pria yang berdiri paling depan. Namun tidak ada jawaban. Setelah mengulang ultimatumnya beberapa kali, sang komandan pun mengangkat kapaknya dan bersiap untuk mendobrak paksa pintu rumah itu.

“Hentikan!” Sebuah suara lantang menusuk indra pendengaran milik seluruh prajurit.

Sang komandan berputar. Di hadapannya berdiri dua orang pria berambut hitam. Yang seorang merupakan Dominion dengan rambut yang dikucir, sementara yang satu lagi berambut berantakan. “Wah wah, suatu kehormatan mendapat kunjungan sang pahlawan. Apa yang bisa saya bantu, Tuan Kaistern dan Tuan Yust?”

“Kalian mau menghancurkan rumah orang seenaknya, tentu saja aku nggak bisa membiarkan hal itu, bukan?” jawab Kaistern dengan mantap.

“Maafkan kami, tapi kami punya kewenangan untuk itu. Kamu pasukan khusus yang ditugaskan memburu para pengkhianat. Kami punya dugaan kuat bahwa mereka ada di sini, karena itu kami perlu melakukan ini. Maaf jika itu menyinggung perasaan Tuan-Tuan Pahlawan sekalian,” balas si komandan. Bahasa yang halus, namun senyuman sinis yang mengikuti penekanan kata ‘Tuan-Tuan Pahlawan’-nya seolah ditujukan untuk menghina mereka. “Anda juga mendengar bunyi vas pecah itu, bukan?”

Kaistern terdiam beberapa detik. Namun sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, Yust memotong, “Aku terkejut kalian mengira itu mereka. Rumah ini sudah lama kosong, dan lagi suara kucing barusan sudah tentu bisa menjadi jawaban pertanyaan kalian, kan? Atau kalian terlalu asik ngobrol sampai nggak dengar?”

Seluruh prajurit mengernyitkan dahi mereka, termasuk Kaistern. Hanya sang komandan yang raut wajahnya tidak berubah. Ia tahu yang berbicara adalah seorang Assassin, dan ia juga tahu pendengaran para Assassin itu lebih tajam dari orang normal karena terlatih di pekerjaan mereka. Jadi bukan hal aneh kalau ia dan bawahannya melewatkan suara yang dikatakan Yust. Namun ia tidak berniat untuk mundur begitu saja. “Mungkin Anda benar, Tuan Yust. Tapi kami tetap akan memeriksanya.”

“Lebih baik kalian nggak buang waktu kalian. Jumlah kalian kan banyak, carilah di tempat yang lebih luas,” tukas Kaistern cepat. “Aku seorang Bounty Hunter, dan mereka ada dalam daftar orang-orang yang kuburu. Biar aku saja yang memeriksa rumah ini.”

“Oh, jadi Anda lebih memilih untuk menjadi seorang Bounty Hunter terlebih dulu daripada mendalami skill-skill Blademaster, Tuan Kaistern? Sungguh keputusan yang hebat. Namun sayang sekali, mereka ada dalam wewenangku. Kalau Anda ingin membantu, bahkan Anda sekalipun harus mengikuti kata-kata saya,” jawab si komandan masih dengan nada sombongnya.

“Nggak juga, kami di sini bukan untuk menjadi anak buahmu,” seru Yust dengan segera. Ia kemudian mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari tas pinggangnya dan memberikannya pada si komandan. “Surat tugas langsung dari Mayor. Kalau Anda masih ingin mencari mereka.. maaf, kalau Anda masih ingin menjabat jabatan Anda sekarang, sebaiknya Anda yang mengikuti kata-kata kami.”

Kesombongan sang komandan seketika juga hancur berkeping-keping. Ia memandangi tulisan di surat itu berkali-kali dengan ekspresi terkejut. Ekspresi yang sama juga diperlihatkan Kaistern, hanya saja semua orang terlalu sibuk memerhatikan surat itu.

“Bagaimana?” tanya Yust dengan santai.

“Ma-maafkan kami! Kami akan segera mencari ke daerah Lake Utena Estuary sampai perbatasan dengan Iron South. Semoga Anda bisa mendapatkan petunjuk tentang para buronan itu di sini.” Setelah membungkuk selama satu detik, ia dan pasukannya pun segera berlalu.

Kaistern terus memandangi pasukan khusus itu sampai mereka semua menghilang dari pandangan, kemudian melirik ke arah Yust. “Surat itu.. dari mana? Kita hanya siap-siap sebentar, aku nggak tahu kalau rapat para Master itu cuma sebentar.”

“Ahahaha.. Kalau rapat itu sih, mungkin sampai sekarang juga belum selesai,” jawab Yust sambil tertawa ringan.

“Jadi?”

“Ingat Mr. Specialist yang dulu pernah kuceritakan?”

“Ah, aku mengerti,” angguk Kaistern. “Surat palsu.. Yah, kurasa aku nggak bisa marah karena aku yang terbantu kali ini.”

Yust tersenyum. “Kai, jujur itu bagus. Tapi ada saatnya kita perlu kepalsuan dan ketidak jujuran. Yah, selama semuanya demi kebaikan.” Ia menepuk bahu sahabatnya yang hanya bisa mengangguk-angguk mendengar ceramahnya. “Tapi yang lebih penting sekarang, kau yakin Al ada di sini?”

Kaistern melirik ke arah rumah dengan papan nama ‘Alice’ di samping pintunya. “70%.. Nggak, mungkin lebih rendah lagi. Di bawah 50% mungkin?” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Tapi entah kenapa—”

“Insting. Seorang Assassin terlatih memiliki insting yang baik, tapi bukan berarti orang lain nggak mungkin punya insting seperti itu. Dan aku percaya pada instingmu,” potong Yust. Ia berjalan ke pintu dan menggapai kenopnya. Namun sesuatu menghentikannya dari membuka pintu tersebut. Aura membunuh di balik pintu. Seseorang siap mengadu nyawanya saat pintu yang membatasi mereka berdua terbuka.


Chapter 12: Reunion

Yust menarik nafas dalam-dalam. “Alceus, ini aku, Yust. Kaistern juga ada bersamaku. Keluarlah!”

Selama beberapa detik, suasana berubah hening. Namun tidak lama kemudian, terdengar suara kunci terbuka, diikuti dengan pintu yang perlahan terbuka. Sesosok pria berambut pirang keluar dari balik pintu itu. Wajahnya tersenyum lebar seperti orang bodoh, masih belum bisa percaya siapa yang ada di hadapannya.

“Yust! Kai!”

“Al, lama nggak ketemu,” sapa Yust dengan nada santai seperti biasanya.

Perasaan haru melanda Kaistern, tapi ia mencoba untuk tidak menunjukkannya. Setidaknya sampai semua jelas. “Al! Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa jadi buronan? Pasti ada yang salah kan? Kemana saja kau selama ini? Bukankah terakhir kali kau pergi menyusul Masha? Tapi saat kutanya Masha, katanya kau nggak bersamanya? Oh ya, Latte mana?”

“Whoa! Pelan-pelan, Kai,” Alceus tertawa mendengar interogasi dadakan itu. Dia jadi merasa seperti anak hilang yang kabur dari rumah, lalu orang tuanya memarahinya saat pulang. “Pertanyaanmu akan kujawab satu persatu. Ada seseorang yang menyerangku malam itu, lalu mereka membawaku ke suatu bangunan. Saat aku berhasil meloloskan diri dan kempali ke Acropolis, aku melihat kota itu sedang dikepung. Dengan susah payah, aku berhasil menyelinap masuk ke dalam kota..”

“Wow, kau berhasil menyelinap?” tanya Yust kagum. Bahkan seorang Assassin pun belum tentu bisa menerobos masuk kepungan itu.

Alceus mengangguk sebelum kembali menjelaskan. “Di dalam, aku melihat Latte sedang dikejar-kejar, jadi aku menolongnya. Lalu—” Tiba-tiba ia menghentikan ceritanya dan membisu. Bisa-bisanya ia melupakan suatu hal yang sangat penting. “LATTE!” Tanpa aba-aba, ia langsung berlari ke ruang tengah.

Tanpa banyak berkomentar, Yust dan Kaistern segera mengikuti Alceus ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, ia melihat sosok Titania yang terkulai lemas di sofa. Tubuhnya penuh keringat, dan ia sendiripun tampak tak sadarkan diri. Alceus segera mengecek kondisinya, sementara kedua temannya segera berlari ke arah tubuh gadis itu.

“Alceus! Apa yang terjadi?!” nada marah sedikit terdengar dalam teriakan Kaistern.

“Dia nggak sadarkan diri, tapi dia masih hidup. Tapi kita harus segera membawanya ke dokter atau siapapun yang bisa menyembuhkannya,” kata Alceus tanpa menghiraukan bentakan Kaistern.

“White Church di Acropolis,” jawab Yust, “tapi aku nggak yakin itu keputusan yang bijak kalau kalian kembali ke sana. Sebenarnya Latte sakit apa?”

“Nggak ada pilihan lain. Kalaupun aku harus tertangkap, biarlah, yang penting dia bisa selamat,” jawab Alceus sembari menaikkan Latte ke punggungnya. “Kita nggak punya banyak waktu, jadi aku akan menceritakan apa yang ia ceritakan padaku di jalan.”


~ * ~

 “Bagus. Kalau begitu pejamkan matamu. Aku punya sesuatu yang spesial untukmu.”

Latte mengangguk dan menutup matanya. Sebetulnya ia enggan memercayai suara yang bergema di dalam kepalanya itu, ditambah lagi sang pemilik suara menolak untuk menampakkan dirinya. Tapi otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih saat itu. Jika si pemilik suara benar-benar bisa menghentikan perang seperti yang dikatakannya, maka ia akan menurutinya.

Selama sekitar satu menit lamanya Vates itu menutup matanya, tiba-tiba ia membuka matanya. Sorot matanya berubah, penuh kepercayaan diri dan kepuasan, bagaikan orang yang baru saja menyelesaikan suatu hal yang besar. Ia pun bangkit dan melangkahkan kakinya ke tangga selatan Downtown.

“Eh, itu Latte, kan?” seorang seorang Sorcerer yang berjaga di atas gerbang Uptown. “Mau apa dia?”

“Hei, yang di sana! Menjauhlah dari gerbang! Di sana sangat berbahaya!” teriak Elementalist di sebelahnya.

Namun suara-suara tersebut tidak diacuhkan oleh Titania wanita itu. Ia terus berjalan mendekati gerbang terluar dari Acropolis.

“Sial, ada-ada saja cewek itu!” Elementalist tadi segera meninggalkan posnya dan berlari mengejar Latte. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu, tapi keluar di saat seperti ini sama saja mengantar nyawa. “Hei, kau dengar nggak sih?” teriaknya saat tangannya berhasil menggapai pundak Latte.

Latte menoleh, namun tatapannya bukan tatapan ramah seperti yang biasa diperlihatkan gadis itu. Yang ia perlihatkan saat itu adalah tatapan dingin, yang disertai dengan senyum tak wajar di bibirnya. Tangan kanannya bergerak menyentuh pipi Elementalist di hadapannya.

“Eh.. kau..?"

Dengan perlahan dan gerakan yang lembut, kini giliran tangan kiri Latte yang bergerak. Ia menyentuh perut sang pejuang Acropolis sambil bergumam, “Holy Ball..”

Seketika itu juga sebuah sinar yang menyilaukan keluar dari tangan Vates itu. Sebuah bola sihir mendorong dan mementalkan tubuh si Elementalist ke udara, jauh, sampai pada akhirnya sang korban membentur kaca Ranger Guild di lantai empat Guild Palace.

“A-apa yang kau lakukan?!” teriak si Sorcerer saat melihat rekannya diterbangkan ke angkasa. Namun pertanyaannya hanya mendapatkan jawaban berupa senyum manis dari lawannya –yang kini telah mengarahkan tangannya ke arah Sorcerer itu.

“Mystic Sil—”

“Magic Seal!”

Sebelum Sorcerer itu sempat menyelesaikan mantranya, tiba-tiba saja sebuah kubus sihir mengurung tubuh Sorcerer itu, sekaligus membatalkan apapun yang berusaha ia lakukan.

“I-ini.. bukan sihir yang bisa digunakan oleh seorang Vates..” seru Sorcerer itu panik. “Siapa kau sebenarnya?!”

Namun sekali lagi, jawabannya tidak mendapat jawaban yang ia harapkan. Latte menjawab pertanyaan itu dengan bola yang sama dengan yang menerbangkan partner Sorcerer itu. Dalam kondisi panik dan tidak siap, akhirnya sang Sorcerer pun menemui nasib yang sama dengan Elementalist temannya.

Pecahnya kaca di lantai atas Guild Palace menimbulkan keributan di Uptown. Sebagian dari para pejuang yang sedang mempertahankan pos nya masing-masing segera bergerak menuju gerbang selatan Acropolis. Namun mereka terlambat. Saat mereka datang, yang mereka lihat ialah sepasukan Foxhound yang telah menempati South Bridge, dengan gerbang selatan yang telah terbuka lebar.

“Latte! Kau sadar apa yang kau lakukan?!”

Sekali lagi, Latte memperlihatkan senyum misteriusnya. “Semua ke sini ya? Tapi semua akan sama sa—”

“Hentikan!”

Tangan Latte yang bersiap mengeluarkan Holy Ball berikutnya, tampak terlihat gemetar. Kakinya mulai kehilangan tenaga, sehingga membuatnya jatuh berlutut.

“Bah, kesadarannya kembali.. Biarlah, toh tugasku sudah selesai, dan aku sudah nggak membutuhkanmu,” kata Latte pada dirinya sendiri. “Tapi terus terang, kau membuatku tertarik. Belum pernah ada yang bisa melawanku seperti ini. Kita akan bertemu lagi, Latte.”

Semua yang ada di sana hanya bisa memandang keheranan. Sementara itu, tubuh sang Vates Titania itu mulai jatuh tersungkur. Matanya yang berkunang-kunang berusaha melihat para pejuang yang mendekat.

“Kita nggak bisa membiarkannya. Tapi prioritas pertama kita adalah menghancurkan robot-robot ini dan menutup kembali gerbang itu!”

Namun sebelum mereka bahkan mencapai tempat Latte, peluru-peluru para Foxhound mulai menembaki para pejuang itu. Jalan yang sempit dan lurus memberikan kesempatan yang baik bagi para mesin untuk melenyapkan apapun yang ada di depan mereka. Para pejuang berguguran, sebagian masih berusaha maju, dan sebagian berusaha mundur ke Uptown.

Seorang Knight terus berusaha maju. Baju zirahnya yang super tebal –walaupun terlihat berlubang di berbagai tempat— membuatnya mampu untuk terus mendekati sasarannya. Namun tombaknya tidak mengarah ke arah para robot, melainkan ke arah tubuh wanita yang tergeletak di tanah. “Setidaknya.. aku akan membawamu, pengkhianat!”

‘Aku.. akan mati di sini..?’ gumam gadis itu dalam hati. Matanya tertutup, sementara pikirannya melayang ke berbagai hal yang ia sesali tak akan ditemuinya lagi. Sosok Swordsman berambut hitam muncul dalam benaknya. “Kai.. maafkan aku.. Yust juga.. dan juga..”

TRAANG!!

Knight tadi terdiam. Sebilah pisau merah dengan sukses menghentikan gerakan tombaknya. “Nggak akan kubiarkan kau melukainya!”

Latte tertegun mendengar suara seorang pria di depannya. Ia berharap Swordsman yang baru saja mampir ke benaknya benar-benar muncul dan menyelamatkannya untuk yang kedua kalinya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk melihat sosok penyelamatnya. Meskipun itu bukan sosok yang ia harapkan, tapi ia cukup senang dengan kehadirannya. “Al..ceus..”

“Kau!!” Knight itu menggeram pada pria berambut pirang keemasan yang menahan serangannya. Namun pria tersebut –tanpa bicara sepatah kata pun— segera memanfaatkan keterkejutan Knight itu dan menusukkan pisaunya ke tengah-tengah dahi Knight tersebut.

“Latte, kau nggak apa-apa?”

“Alceus.. Selamat datang..” jawabnya dengan senyum ramah yang biasanya. Selesai mengucapkan itu, kesadaran Latte pun menghilang.

“Hey, Latte! Sial, aku harus segera membawanya pergi! Sekarang masalahnya, bagaimana cara melewati robot-robot ini.. Aku nggak yakin aku bisa menyelinap seperti saat aku datang..” seru Ranger itu sambil menaikkan Latte ke punggungnya. Namun tanpa disangka-sangka, para Foxhound itu melewatinya dan terus memasuki Acropolis, seolah ia tidak ada di sana. “Aku.. nggak mengerti.. tapi aku nggak akan melewatkan kesempatan ini!”


Bersamaan dengan masuknya para robot ke dalam Acropolis, langit pun menghitam. Perlahan, dan semakin cepat, awan mulai menjatuhkan air ke permukaan bumi, seolah menjadi tanda kejatuhan kota termegah di seluruh Acronia.

Alceus berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak yang membawanya ke selatan. Prajurit Acropolis, bagaimanapun juga, tidak akan bisa mengejar mereka kalau mereka melewati perbatasan Iron South. Itu juga kalau mereka bisa mengatasi para robot dan mengejar mereka. Tapi ia mengkhawatirkan Latte. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, tapi ia yakin hujan deras tersebut sedikit banyak akan memengaruhi kondisinya. Bisa-bisa kondisinya bertambah parah sebelum mereka mencapai perbatasan.

Tiba-tiba saja, bagaikan suatu keajaiban, ia melihat sebuah rumah yang cukup besar, namun terpencil di seberang sungai.  Tanpa pikir panjang, ia pun segera berlari ke arah jembatan satu-satunya yang menghubungkan kedua sisi sungai itu. Ia hanya bisa berharap, siapapun pemilik rumah itu, akan mau membantu mereka di saat seperti ini.

Tanpa membuang waktu, ia segera mengetuk pintu rumah itu. Tak ada jawaban.  Sementara itu, nafas Latte terdengar semakin berat. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. Matanya berusaha mencari apapun yang  bisa ia gunakan.  Sementara itu, nafas Latte terdengar semakin berat. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. “Alice..” gumamya sambil membaca nama yang terpampang di samping pintu. “Nona Alice, kumohon, buka pintunya!”

Sekali lagi tidak terdengar jawaban apapun. Saat itulah ia berasumsi bahwa rumah tersebut kosong. “Maafkan aku, Nona Alice. Aku akan membetulkan pintumu nanti.” Seketika itu juga, ia mendobrak paksa pintu tersebut dan membawa Latte ke dalam.


~ * ~

“Itulah apa yang terjadi sampai kami jadi buronan,” jelas Alceus sambil terus berlari menyusuri jalan yang ia gunakan malam itu.

Yust, yang dari tadi berlari di samping Alceus, mengangguk. “Aku mengerti. Jadi Dia yang dimaksud adalah orang yang menguasai tubuhnya waktu itu, kan?”

Kaistern turut mengangguk bersamaan dengan konfirmasi Alceus terhadap pertanyaan Yust. “Kalau begitu, itu bukan keinginannya sendiri. Kita bisa menghapuskan tuduhan pada Latte.”

“Tapi..” sambung Yust, “beda halnya denganmu, Al. Kau membunuh Knight itu atas keinginanmu sendiri. Yah, semoga saja mereka mau mengerti. Dan yang pasti, kuharap kau siap, apapun yang akan terjadi.”

Alceus mengangguk. Di hadapannya menjulang gerbang Acropolis, tempat di mana nasibnya akan ditentukan. Di sisi kanan dan kiri jalan mulai terlihat keramaian sehubungan dengan festival yang diadakan, dan setiap dari mereka memberikan pandangan menusuk padanya.

“Lihat itu! Para buronan telah tertangkap!”

As expected dari para pahlawan, mereka benar-benar bisa diandalkan!”

“Rasakan itu, pengkhianat! Kuharap kalian dihukum mati!”

Mata emas Alceus mengamati sekitarnya. Kata-kata pujian Kaistern dan Yust, serta hinaan dan caci maki bagi dirinya dan Latte. “Kalian.. sudah jadi orang hebat rupanya.. Selamat ya, aku turut senang.”

“Jangan hiraukan mereka, Al,” seru Yust dengan ketenangan biasanya. “Mereka hanya nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebentar lagi aku yakin kalian akan bisa berjalan dengan kepala tegak lagi di kota ini, sama seperti kami.”

“Itu benar. Yang harus kita pikirkan saat ini adalah membersihkan namamu dan mengobati Latte dengan segera,” sambung Kaistern.

« Last Edit: October 24, 2012, 05:35:20 PM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter13]
« Reply #14 on: October 09, 2010, 01:06:37 AM »
A little note of mine. . .
    chapter 13.. udah gak pduli sama yg namanya panjang ato gak.. :santai:
    ada ide, tulis aja.. walo hasilnya trnyata banyak.
    yg penting kjadian di ch sblmnya gak terulang ^^a
    Enjoy~

    btw, there will be no ECO Saga next week so the author can collect data

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



“Hahh.. hahh..”

Nafas berat keluar dari seorang pemuda berbaju zirah lengkap yang menutupi seluruh tubuhnya dari leher sampai kaki. Rambut hitamnya berantakan diterpa angin saat ia berlari sekuat tenaga menuju kerumunan orang. Dan tentu saja, keringat telah membasahi seluruh permukaan wajahnya.

“Sial! Bagaimana mungkin aku selalai ini?!”

Semua orang yang melihatnya datang segera menyingkir dan memberikan jalan pada pria itu. Pandangan mereka bervariasi, mulai dari menghormat, sampai memandang sinis padanya. Seketika itu juga, langkah pria itu terhenti. Di hadapannya terdapat sebuah rumah yang hancur berantakan.

“Aku nggak menyangka akan separah ini..”

“Apanya yang nggak menyangka?” teriak seseorang dengan pandangan menusuknya. “Kalian menawarkan diri menjadi pasukan sukarela untuk menjaga kedamaian, tapi kalau hal seperti ini saja sampai terjadi, apa saja sih kerja kalian?! Makan dan berlagak sok hebat? Pulang saja kalian ke Acropolis!”

Knight itu tidak menjawab. Matanya sibuk menyapu tiap puing yang ada. “Pelakunya..?”

“Siapa lagi kalau bukan orang-orang Iron South itu?” teriak pria lain sambil menuding ke arah beberapa orang yang ada di keramaian tersebut. “Mereka selalu iri melihat tanah ini lebih kaya bahan tambang daripada tanah mereka!”

Kelompok orang yang dituduh tadi mendelik. “Apa katamu?! Kami nggak perlu iri dengan kota kecil ini! Sumber daya banyak, tapi dengan orang-orang macam kalian, tempat ini nggak akan maju, beda dengan negara asal kami!”

“Hentikan!!” teriak Knight itu memotong.

Sejak Morg mengeluarkan referendum dan mendeklarasikan kemerdekaannya sendiri, hubungan dengan Iron South –yang dulu merupakan sekutunya— sempat menegang. Bahkan saat Acropolis sudah menjadi penengah, dan kedua negara sudah menyatakan ‘damai’, kerusuhan-kerusuhan antar penduduknya tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

“Lalu.. apa ada korban jiwa?” tanya Knight tadi.

“Sekeluarga. Semua anggota keluarga menjadi korban, kecuali sang anak,” jawab salah seorang warga seraya melirik seorang Dominion kecil.

Anak tersebut –yang diperkirakan berumur sekitar sepuluh tahun oleh Knight itu— berlutut di hadapan puing-puing bekas rumahnya. Sayap hitamnya terlihat menutup rapat, sementara pandangan matanya terlihat kosong.

Knight itu berjalan mendekati anak tersebut dan berjongkok di hadapannya. “Setidaknya ada survivor dari insiden ini. Siapa namamu, nak?”

Anak tersebut tidak langsung menjawab. Ia menatap Knight itu beberapa detik dengan tatapan hampanya, kemudian kembali pada puing-puing rumahnya. Bibirnya bergerak pelan, tampak sedikit ragu sebelum akhirnya menyebutkan namanya. “Yust.”

“Yust, ya? Aku minta maaf nggak bisa menyelamatkan keluargamu. Aku sangat menyesal untuk itu. Karenanya, kalau kau mau, aku akan menjadi keluarga pengganti untukmu.”



~ * ~

“Kak? Kakak tidur?”

Pria yang dipanggil itu segera membuka matanya. Di hadapannya berdiri seorang Dominion yang dari tadi berusaha membangunkannya. “Oh, Yust.. Sori, aku ketiduran, padahal hari ini hari pentingmu. Jadi, Job apa yang akan kau pilih? Aku juga bisa merekomendasikanmu pada Fencer Master kalau kau mau.”

Dominion itu menggeleng pelan. “Nah, berkaitan soal itu juga. Setelah berpikir cukup lama, kurasa aku akan menjadi Scout. Bagaimana menurut kakak?”

“Scout? Padahal dulu kukira kau ingin menjadi Knight sepertiku?” tanyanya dengan senyum di bibirnya.

“Yah, dulu kupikir akan bagus kalau kita berkerja sama-sama, tapi kurasa tanpa aku pun, nggak ada yang bisa mengancam kedamaian kota ini –bahkan benua ini— selama ada kakak. Karenanya, aku akan menjadi orang yang menghancurkan ancaman-ancaman tersebut selama kakak melindungi dari mereka. Lagipula kalau aku satu Job dengan kakak, aku nggak akan bisa jadi yang terbaik,” jelas Yust dengan ekspresi riang di wajahnya. “Tapi kalau menurut kakak Fencer lebih baik..”

“Ah, kau ini terlalu berlebihan memujiku,” potong Knight itu sambil tertawa. Tapi ia memaklumi sifat Dominion yang selalu ingin menjadi yang terbaik. Ras itu tidak akan bisa memaksimalkan potensinya dengan Job Fencer, beda dengan Scout yang bisa dikatakan memang spesialis ras tersebut. “Aku nggak akan memaksamu. Pilihlah yang kau anggap benar.”

“Makasih, kak.”

“Nggak perlu terima kasih seperti itu,” ujar Knight tersebut sembari berdiri. “Yuk, aku akan menemanimu ke Guild Palace. Kebetulan aku ada yang perlu dibicarakan dengan Master.” Ia mengambil tombaknya dan berjalan ke luar, namun langkahnya terhenti tepat di pintu. “Ngomong-ngomong, kau menyukai kota ini, Yust?”

Yust memiringkan kepalanya sedikit. “Ya, aku suka tempat ini. Aku merasa beruntung kakak membawaku ke kota ini. Aku akan melindungi kota ini, bahkan seluruh Acronia kalau bisa.”
Knight tersebut tersenyum. “Kalau kau, aku yakin pasti bisa, Yust.”


Chapter 13: Island of Dream

“Ki.. Shiki? Ketiduran lagi ya? Hoi Shiki, bangun!”

Pria yang dipanggil Shiki itu segera membuka matanya. Di hadapannya berdiri seorang Titania yang dari tadi berusaha membangunkannya. “Oh, Master.. Sori, aku ketiduran. Ada apa?”

Titania itu menghela nafas. “Harusnya aku yang bertanya. Kau senyum-senyum sendiri selagi tidur.”

Shiki menyentuh kepalanya yang sedikit pusing karena dibangunkan tiba-tiba. Tapi hal itu tidak menghilangkan senyum dari wajahnya. “Ah, iya. Aku mimpi kejadian di masa lalu. Saat aku pertama kali bertemu adikku, dan saat ia mau mengambil Job.”

“Oh, Yust ya?” tanya Fencer Master sembari berjalan ke arah jendela. “Aku ingat dulu kau begitu semangat tiap kali menceritakan tentang dia. Yah, terus terang, aku sedikit kecewa, kukira akan mendapatkan seorang Knight handal sepertimu. Bayangkan, dengan dua orang Shiki, nggak akan ada yang bisa menembus pertahanan kita. Kalau saja kau ada di sini saat penyerbuan robot-robot itu..”

“Kau berlebihan, aku nggak sehebat itu kok,” jawab Shiki merendah.

“Heh. Kemampuanmu bahkan sudah melebihiku. Hanya soal waktu dan pengalaman sebelum kau menggantikan posisiku sebagai Master.”

Shiki tersenyum. “Tapi memang sih, aku juga berharap dia mengikuti jejakku. Tapi aku bangga saat mendengar dari Scout Master kalau dia merupakan Assassin terbaik dan favorit wanita itu.”

“Ya. Dia bahkan menjadi pahlawan Acropolis. Lihat itu.” Fencer Master membuka tirai yang menutupi jendela lebar-lebar. Terlihat jelas di Uptown, kerumunan orang yang menyambut kedatangan dan keberhasilan kedua pahlawan mereka. “Kau ingin menyapanya?”

“Ya. Aku penasaran seperti apa Yust sekarang, juga teman-temannya yang katanya jadi penyelamat Acropolis. Sampai nanti, Master.” Setelah berkata begitu, ia bergegas meninggalkan ruangan. “Oh, aku lupa. Di kursi ada oleh-oleh untukmu, BSD Stamp yang dari dulu kau idam-idamkan!” teriaknya dari luar ruangan yang diikuti tawa lepas.



~ * ~


“Jadi.. Apa kita benar-benar bisa menyembuhkan Latte di White Church, seperti yang kau bilang, Yust?”

Yust menoleh kepada Kaistern. Ia sendiri tidak bisa menjawab pertanyaanya itu dengan 100%. “Yah, kita coba saja. Dia yang paling menguasai sihir-sihir Light, jadi cuma dia yang bisa kupikirkan saat ini.”
Tiba-tiba saja sebuah tombak melesat ke arah mereka. Spontan, Kaistern dan Yust menghindar, namun Alceus yang masih menggendong Latte tidak bisa merespon secepat itu.

TRAANG!

Tombak itu terlempar ke udara. Sepasang cakar telah terpasang di kedua tangan Yust, sama halnya dengan pedang yang kini telah berada di tangan Kaistern. Dalam waktu sekejap itu, mereka dapat mementalkan serangan dan bersiap menghadapi siapapun yang menyerang. Tapi mereka sama sekali tidak bisa menemukan penyerang mereka. Mereka juga tidak mendapatkan serangan lanjutan. Yang mereka dapatkan hanyalah suara tepuk tangan dari orang yang tiba-tiba saja berdiri di belakang mereka.

“Luar biasa, Yust! Dan kau juga, umm, Kaistern, benar kan?”

“Siapa kau, dan kenapa menyerang kami? Apa kau nggak sadar tindakanmu bisa membahayakan orang?” seru Kaistern dengan dingin. Matanya mengawasi tiap gerakan yang dilakukan oleh penyerangnya tersebut.

“Aku hanya ingin melihat seperti apa orang-orang yang disebut pahlawan.”

“Jadi?”

“Yah, kau lulus. Walaupun buronan yang satu ini belum lulus,” kata sang penyerang sambil melirik ke arah Alceus.

Kaistern terdiam. Ia melirik ke arah Yust, sekaligus meminta pendapatnya tentang orang aneh yang menghadang mereka. Namun ekspresi Yust yang ia dapatkan belum pernah ia lihat sebelumnya. Orang yang biasanya tenang itu, kali ini terlihat shock. “Yust?”

Yust terpana, sementara mulutnya terbuka lebar. “Ka.. Kak Shiki? Benar.. ini kau?”

“Hmm? Tentu saja ini aku, Yust. Memangnya siapa lagi?”

“Kak Shiki!!” teriak Yust sambil berlari ke arah Knight itu dan memeluknya. “Ke mana saja, kak? Kakak menghilang nggak ada kabar sampai lebih dari setahun!”

“Wah wah, memangnya aku pergi selama itu? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, terakhir kita ketemu di hari kau berubah jadi Scout ya..”

Kaistern mengangkat sebelah alisnya. “‘Kakak’?”

“Waw, kau nggak pernah cerita kalau kau punya kakak, Yust,” celetuk Alceus ringan, seolah sudah lupa kalau beberapa menit lalu nyawanya hampir saja lenyap.

Shiki melepaskan diri dari pelukan Yust dan tersenyum pada Kaistern dan Alceus. “Kalian teman-temannya ya? Terima kasih sudah membantu adikku. Maaf kalau selama ini dia selalu menyusahkan kalian.”

“Uh, nggak kok. Justru kita yang selalu menyusahkan Yust,” jawab Kaistern. “Ngomong-ngomong Yust, soal Latte..”

Yust melirik Latte dan berteriak, hampir saja ia melupakan hal yang sangat penting. “Ah iya! Maaf, kak, temanku sakit, jadi kami harus membawanya ke White Church cepat-cepat.”

“Eh, kalau kau mau di sini saja, nggak apa-apa kok. Kau kan sudah lama nggak ketemu kakakmu, lagipula kami tau jalan ke White Church,” tukas Alceus dengan cepat.

“Eh, tapi..”

“White Church ya..” gumam Shiki sambil menyilangkan kedua tangannya dan mencoba mengingat-ingat. “Kalau nggak salah, aku lihat bos para Vates itu mengunci gerejanya dan pergi entah ke mana. Kelihatannya sih ke luar kota, soalnya dia berjalan ke arah East Plains. Mungkin menemui Light Fairy di Acronia Eastern Beach?”

“Waduh, gawat nih kalau begini.. Nggak akan keburu kalau kita menyusul ke sana,” tukas Yust risau.

“Memangnya dia sakit apa?” lanjut Shiki, “kalau dia benar-benar butuh kekuatan Light, berarti kita harus menemukan Druid yang hebat, atau mungkin seorang yang selevel ArchTitania. Memangnya nggak ada lagi ya selain pemilik White Church itu, di kota sebesar Acropolis?”

“Masalahnya juga kita belum tahu, kak, dia sakit apa. Dan soal healer lain..”

Tiba-tiba dalam benak Alceus terbayang seorang gadis Titania yang berkemampuan hebat. Kalau tidak, tidak mungkin ia termasuk yang terbaik dalam rasnya dan bertempur di perang kebangkitan DEM sebelumnya. “Tita.”

“Tita? Maksudmu Tita yang itu?” tanya Shiki sambil mengernyitkan dahinya. “Yah, kalau dia, mungkin saja bisa. Tapi memangnya kau tahu di mana dia? Kudengar dia—”

“Aku nggak begitu yakin, tapi kurasa dia ada di suatu tempat.. yang hijau dan indah. Dengan danau di tengah tempat itu. Ada pantainya juga..” jawab Alceus sambil berusaha mengingat.

“Danau.. Lake Utena? Tapi kurasa nggak mungkin. Walau ada Lake Utena Estuary, tapi pantai itu cukup jauh dari Lake Utena nya sendiri,” kata Kaistern sambil melirik ke arah tenggara. “Lagipula itu sudah setengah jalan ke Eastern Beach tempat Light Fairy.”

“Danau di Acronia.. Danau Cardella? Tapi kurasa itu lebih nggak mungkin lagi,” gumam Yust.

Alceus menatap Yust dengan penuh tanda tanya. “Cardella?”

“Itu danau terbesar dan berada di tengah Acronia. Letaknya ya di bawah kita ini, tempat di mana Acropolis dibangun,” jelas Yust. “Lagipula nggak memenuhi kriteria ‘hijau’. Ada lagi yang kau ingat?”

Alceus memejamkan matanya, berusaha sekeras mungkin tempat yang ia lihat sesaat sebelum DEM membangunkannya dari mimpi. “Hmm.. Aku rasanya melihat beruang-beruang –sepertinya ras Tiny— di sana.”

“Undine Lake,” seru Shiki tiba-tiba, “Tiny Island.”

“Undine Lake? Tiny Island?” tanya Kaistern mengulangi nama tempat yang disebut Shiki. “Aku belum pernah mendengar tempat itu. Apa kak Shiki tahu di mana tempatnya?”

Shiki mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Itu hanya mitos, nggak tahu benar-benar ada atau nggak. Konon tempat itu juga dikenal sebagai dunia mimpi. Danau itu juga katanya tempat suci bagi ras Undine, walaupun aku belum pernah melihat mereka. Tempat yang sangat indah dengan danau, pantai, dan yang pasti, Tiny. Cocok dengan kriteria yang kau sebutkan.”

Alceus, Kaistern, dan Yust menghela nafas panjang. Kelihatannya info yang tidak bisa diharapkan sama sekali.

Melihat hal itu, Shiki memberi isyarat yang menyuruh mereka mengikutinya. “Belum 100% kalau tempat itu hanya ada di dunia mimpi seperti yang kusebutkan tadi. Bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada ras yang bersangkutan?”


~ * ~

”Tiny Island?”

“Ya,” jawab Kaistern sembari mengangguk. “Kami ingin tahu, apakah tempat itu benar-benar ada atau nggak. Dan kalau ada, bagaimana cara kami ke sana?”

Makhluk yang berbentuk layaknya sebuah teddy bear itu terdiam beberapa saat.  Wajahnya sedikit menunjukkan keraguan selagi menatap tiap orang yang bersama Kaistern. “Yah, tempat itu memang ada, tapi hanya bagi orang-orang yang percaya kalau tempat itu ada. Apa kamu benar-benar ingin pergi ke dunia misteri itu?”

“Tentu saja. Kami perlu menemui Tita,” jawab Alceus dengan tergesa-gesa.

“Tita?!” Spontan wajah Tiny itu terlihat kaget. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu, apalagi dari seorang manusia. “Bagaimana kalian bisa ta— Ah, aku mengerti. Pasti Tita sendiri yang memberitahukannya padamu. Baiklah aku akan mengantar kalian ke sana.”

“Apa tempat itu jauh? Setidaknya lebih jauh dari Eastern Beach?” tanya Yust.

Tiny itu menggeleng. “Tidak juga. Aku bisa membawa kalian ke sana sekarang juga, hanya saja tempat itu adalah tempat suci kami. Kami tidak bisa memberi tahu bagaimana cara ke sana. Jadi sekarang silahkan tutup mata kalian.”

Alceus, Kaistern, dan Yust saling bertukar pandangan. Mereka masih belum mengerti sepenuhnya, namun yang bisa mereka lakukan adalah menuruti semua kata-kata Tiny tersebut. Hanya Shiki yang terlihat tenang saat menutup matanya.

“Yak, silahkan buka mata kalian.”

Alceus mengernyit. Bahkan belum setengah menit sejak ia menutup matanya, dan sekarang teddy bear itu menyuruhnya membuka kembali? “Eh? Apa kita nggak jadi ke sana?” tanyanya sambil membuka kedua matanya. Namun yang dilihatnya sekarang bukan lagi bangunan-bangunan di megah di Acropolis. Pemandangan yang benar-benar berbeda kini terbentang dihadapannya.

Ombak kecil menghantam kaki keempat pemuda tersebut saat mereka menatap panorama pulau itu. Pantai, tebing, dan hamparan lapang hijau terbentang sejauh mata memandang. Kemah-kemah yang berdiri di dekat pantai menjadi tempat tinggal beberapa Tiny dengan pakaian khas suku indian. Sementara agak jauh di seberang jembatan gantung antara dua tebing, berdiri seekor Tiny berkostum seperti bajak laut.
Yust mengangguk-angguk sambil tersenyum, mengagumi keindahan tempat tersebut. “Tempat ini..”

“Tiny Island,” jawab Shiki. “Persis seperti deskripsi yang pernah kudengar. Nggak, ini lebih hebat dari cerita-cerita orang.”

“Selamat datang di Tiny Island. Kalian boleh melihat-lihat sesuka kalian,” seru Tiny yang mengantar mereka dengan senyum ramah. “Oh iya, hampir lupa. Di sini tinggal dua suku yang agak.. tidak suka satu sama lain. Kami menyebut mereka Native Tiny dan Pirate Tiny. Biasanya mereka menyambut orang asing ataupun Tiny kota sepertiku, tapi yah, sebaiknya jangan buat masalah dengan mereka. Dan Tita yang tadi kamu bilang, biasanya dia ada di pinggir Undine Lake  yang ada di tengah pulau, bersama dengan Moon Pegasus yang selalu bersamanya.”

Kaistern mengangguk. Ia kemudian jongkok sampai setara dengan Tiny pengantar mereka. “Terima kasih atas bantuanmu.. umm..”

“Panggil saja aku Tiny. Tidak banyak Tiny yang merantau ke kota-kota besar, dan aku pun termasuk yang pertama dari yang sedikit itu. Karenanya, aku biasa dipanggil Tiny saja oleh orang lain.”

“Baiklah, Tiny, makasih sekali lagi ya.” Setelah mengucapkan itu, Kaistern bangkit dan berlari ke arah tengah pulau, yang kemudian disusul oleh Alceus, Yust, dan Shiki.


~ * ~

Berpacu dengan waktu membuat keempat orang tersebut tidak bisa menikmati keindahan Tiny Island sepenuhnya. Latte yang sejak tadi kondisinya buruk dan tak sadarkan diri, kini mulai bertambah parah. Denyut nadinya melemah saat Kaistern mengecek kondisinya sesaat. Mereka tahu, kalau mereka tidak melakukan sesuatu, mereka akan kehilangan gadis itu. Mereka tahu, kalau mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain mencari gadis Titania lain yang dikatakan Alceus. Dan mereka tahu, sosok yang mereka cari, dan merupakan harapan terakhir mereka, telah ada beberapa meter di depan mereka.

Sosok Titania dengan rambut panjang dan indah tengah duduk di pinggir danau. Wajahnya terlihat bersinar –entah karena kecantikannya atau karena mereka melihatnya sebagai penolong— saat tersenyum memandang seekor Moon Pegasus kecil yang sedang meminum air danau.

Entah kenapa, Alceus tidak pernah bisa terbiasa dengan pemandangan itu. Dua kali ia telah bertemu gadis itu, dan setiap kali selalu membuat jantungnya berdebar kencang. Itu bukan perasaan suka, ia tahu itu. Menurutnya, wajah cantik Tita pasti bisa membuat semua pria merasakan itu. Ia rasa, saat ini Kaistern, Yust, dan Shiki pasti juga merasakan hal yang sama. Lagipula kalau disuruh memilih, dan boleh memilih, ia pasti akan memilih Latte..

‘Latte! Benar juga, hampir saja aku terpana dan melupakan hal paling penting saat ini..’ ujar Alceus dalam hati sambil menggeleng kepalanya. Setelah mengambil nafas panjang, ia pun memanggil Titania di hadapannya, “Tita.”

“Ya?” Titania itu menoleh. Ekspresi mukanya berubah saat pandangan matanya bertemu dengan mata pria berambut pirang keemasan di hadapannya. “Al..ceus?”
Alceus mengangguk dan menurunkan Latte ke tanah. “Ya, ini aku. Aku mencarimu ke mana-mana.”

“Apa ini berarti kamu berubah pikiran?”

“Soal itu.. maaf, tapi aku masih belum bisa menjawabnya,” jawab Ranger itu sambil mengalihkan pandangan matanya ke tanah. “Aku ke sini memerlukan bantuanmu. Untuk hal yang sangat mendesak.”

Tita terdiam. Mata birunya memandang gadis yang sebelumnya digendong Alceus. “Dia.. kenapa?”

Kaistern maju selangkah. “Nona Tita, namaku Kaistern, dari Acropolis. Aku mohon, tolonglah gadis ini. Sepertinya ada seseorang yang berusaha mengambil alih tubuhnya, dan sekarang ia tidak sadarkan diri seperti ini. Kami sudah kehabisan ide, dan menurut Alceus, Anda lah satu-satunya yang bisa membantu.”

Tita mendekati tubuh Latte yang tergeletak lemas di tanah. Tangannya bersinar saat menyentuh tibuh gadis itu. Setelah beberapa detik berselang, ekspresi wajahnya sedikit berubah, dengan ekspresi agak keheranan. “Dia.. aku belum pernah bertemu gadis seperti ini sebelumnya.”

“Maksud Anda?” tanya Kaistern panik. “Apa tubuhnya akan diambil alih orang asing itu?!”

Tita menggeleng. “Soal itu, kamu nggak perlu khawatir. Gadis ini hebat, dia bahkan berhasil mengalahkan orang yang berusaha mengambil alih tubuhnya tersebut. Dan aku beru pertama kali melihat ada yang bisa seperti itu. Namun sayang, bayarannya cukup mahal. Dia dan musuhnya kini terperangkap dalam.. sebuah tempat. Kalau ia nggak segera kembali, dia bisa mati.”

Yust mengangguk mengerti. “Dua jiwa memperebutkan satu tubuh, karena sama kuat, akhirnya kedua-duanya hilang, dan tubuh itu menjadi tubuh tanpa jiwa. Begitu kan?” Ia melirik Tita, kemudia melirik ke arah Shiki meminta konfirmasi dan pendapatnya. Namun Shiki hanya mengangguk tanpa suara, mengiyakan pendapat Yust.

“Itu benar,” jawab Tita. “Dan ia nggak bisa kembali ke sini sendirian. Perlu ada faktor eksternal yang membantunya kembali ke tubuhnya.”

“Kalau begitu, kita harus segera membantunya!” seru Kaistern penuh semangat. “Di mana jiwanya berada? Bisakah Anda mengantar kami ke sana?”

Tita mengangguk. “Ia berada di Cave of Wandering Soul, tempat jiwa dan ingatan yang terkurung dan nggak bisa kembali ke dunia ini. Tempat itu bisa dibilang ada di alam lain. Aku bisa mengantarkan, hanya saja..”

Alceus mengernyitkan dahinya. “Hanya saja?”

“Hanya saja, hanya satu dari kalian yang bisa pergi ke sana. Orang yang memiliki perasaan paling kuat terhadap gadis itu. Karena kalau nggak, kalian nggak akan pernah menemukan jiwanya, dan jiwa kalian hanya akan tersesat selamanya di sana.”

“Yang terkuat.. Kalau begitu mungkin Kaistern yang akan pergi ke sana,” tukas Yust menambahi.

“Aku akan mencoba mengirim kalian semua, namun hanya yang memiliki perasaan terkuatlah yang akan pergi. Karena semakin  kuat perasaan itu, semakin mudah kalian menemukannya, dan semakin besar kemungkinan berhasilnya,” jelas Tita. “Sekarang tutuplah mata kalian.”

Sebuah sinar hangat menyelimuti keempat pria tersebut. Alceus, Kaistern, dan Yust, semua berkonsentrasi terhadap perasaan yang mereka miliki terhadap Latte. Semua kecuali Shiki, karena ia tahu, ia yang baru saja bertemu gadis itu tentu tidak akan terpilih untuk jadi penolongnya.

‘Tunggulah, Latte..’ gumam Kaistern dalam hati. ‘Aku pasti akan menyelamatkanmu!’

« Last Edit: November 18, 2010, 10:12:27 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter14]
« Reply #15 on: October 27, 2010, 02:58:31 PM »
A little note of mine. . .
    chapter 14 is up.
    mengingat editor saya lagi sibuk (gak tau sampe kapan), jadi ku post aja d ini.
    kritik saran sangat diharapkan, tidak hanya dari segi typo, tapi jg kalo bisa dari segi crita dan lainnya.
    semua ini demi ECOSaga yang lebih baik ke depannya.. mari kita songsong bersama matahari yang terbenam itu (?)

    yak, formalitasnya cukup sekian. Kali ini merupakan salah satu chapter yg sangat penting dalam cerita. setelah prolog (0-5) dan arc pertama (6-11, tentang Kaistern) selesai, arc ke-2 (tentang Alceus) ini pun mendekati babak akhir.

    mangga dinikmati. m(_ _)m

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



Perlahan tapi pasti, cahaya yg menyelimuti tubuh Kaistern meredup. Kehangatan yang diberikann oleh cahaya tersebut mulai hilang tergantikan oleh hembusan angin dingin. Dan mengikuti pergantian suasana tersebut, ia pun membuka kedua matanya.

“I-ini..?!”

Keterkejutan Kaistern membuat kedua orang yang ada di sampingnya ikut terkejut dan membuka mata mereka, dan semuanya langsung tertuju pada Bounty Hunter muda itu, tentu saja diikuti berbagai pertanyaan di benak masing-masing.

“Kai? Kau masih di sini? Apa pengirimannya gagal?” tanya Yust keheranan.

“Nggak,” jawab Tita menenangkan. “Pengiriman berhasil dengan lancar, jadi kalian nggak usah khawatir.”

Yust memiringkan kepalanya. Pandangannya masih tertuju pada Kaistern –yang kelihatan agak shock— karena berpikir 100% pastilah Kaistern yang pergi. “Jadi.. siapa yang dikirim?” Matanya mencari-cari ke sekitarnya. Kaistern ada di depannya. Tita pun baru saja menjawab, lagipula ia yang mengirim, jadi tidak mungkin ia yang pergi. Shiki pun masih ada di sebelahnya. Alceus juga ada di sampingnya, walaupun posisinya tergeletak di tanah. “Jangan-jangan.. Alceus?”

Tita mengangguk. Ia kemudian mendekati Kaistern dan memandang pria itu dengan seksama. “Kamu.. menyukai gadis itu ya? Apa dia kekasihmu?” Kaistern tidak menjawab, sementara Tita memandangnya dengan simpati. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. “Maafkan aku, tapi saat ini, perasaan Alceus untuk menyelamatkannya merupakan yang paling besar di antara kalian, bahkan melebihi perasaanmu saat ini. Sekali lagi aku minta maaf, tapi ini demi kebaikan gadis itu juga.”

“Begitu.. Mereka berdua merupakan buronan yang dicari-cari oleh Acropolis kan?” celetuk Shiki tiba-tiba. “Nggak heran kalau terjadi sesuatu di antara mereka. Setidaknya ikatan di antara mereka sangat kuat.”

Kaistern tersentak mendengar kata-kata Shiki, sangat jelas, walaupun ia masih berusaha menyembunyikan perasaannya itu. “Ng-nggak apa-apa kok. Ini kan demi Latte, jadi.. siapapun yang pergi nggak masalah. Lagipula kalau Alceus.. aku.. aku bisa memercayainya. Dia pasti.. membawa Latte kembali.”

“Tenanglah, Kai,” seru Shiki sembari menepuk pundak Bounty Hunter itu. “Kau pasti pernah dengar kan, kalau kekuatan cinta melebihi kekuatan apapun. Entah perasaan itu atau bukan yang Alceus miliki terhadap Latte, dia pasti bisa membawanya kembali. Yah, bagian nggak enaknya, kadang kekuatan itu bahkan melebihi kekuatan persahabatan. Apapun bisa terjadi dengan cinta.”

“Kak Shiki!” teriak Yust mengingatkan saat melihat kondisi Kaistern yang semakin down.

“Ah maaf. Aku terbawa suasana, menceritakan pengalaman temanku dulu,” kata Shiki dengan wajah menyesal. “Tapi tenang saja, sahabatmu itu bisa dipercaya, kau yang paling tahu soal itu, kan? Sekarang bagaimana kalau kau istirahat saja, kondisimu kelihatan nggak baik.”

“Aku.. akan tetap di sini sampai mereka kembali,” jawab Kaistern.

Yust menghela nafas. Tapi apa yang bisa ia lakukan untuk menghibur sahabatnya itu? Tidak ada. Setidaknya tidak ada yang terpikirkan olehnya. “Aku mengerti. Tapi hari sudah semakin gelap. Udara pun mulai dingin. Bagaimana kalau kita pindahkan tubuh Alceus dan Latte ke tempat yang lebih terlindungi. Mungkin kita bisa meminjam salah satu tenda milik para Native Tiny,” katanya sebelum ia akhirnya bergerak dan mengangkat tubuh Alceus. Di belakangnya, Kaistern pun segera mengangkat tubuh Latte dan berjalan mengikuti Assassin itu.

“Shiki.” Suara Tita menghentikan langkah Shiki saat ia hendak mengikuti Yust dan Kaistern. “Aku sudah merasa dari awal, kalau kita pernah bertemu di suatu tempat. Tapi setelah Assassin itu memanggilmu, aku baru yakin kalau itu kamu.”

Shiki tersenyum dan memberikan tanda agar Yust dan Kaistern pergi duluan tanpa menunggunya. Tanpa berbalik menghadap Tita, ia pun menjawab, “Tentu saja ini aku, Tita. Kau sungguh kejam nggak mengenali diriku.”

Tita menghela nafas. “Yah, seharusnya aku tahu. Tiny Island bukanlah tempat yang diketahui orang banyak. Kamu bilang, kamu tahu dari rumor-rumor yang orang lain katakan, tapi orang yang tahu juga bisa dihitung dengan jari. Siapa lagi kalau bukan kamu –orang yang pernah ke Tiny Island itu sendiri— yang  memberi tahu mereka.”

Senyum Shiki semakin melebar. Ia pun berbalik sehingga pandangan keduanya bertemu. “Ya, aku yang memberi tahu mereka, apa itu salah? Lagipula mereka membutuhkan bantuanmu. Dan juga, anak berambut emas itu telah mengetahui beberapa ciri tempat ini.”

Tita terdiam sejenak. “Nggak masalah. Alceus juga mungkin mengetahui tempat ini saat pertemuan kami yang terakhir. Tapi kamu pasti tahu kan, ada banyak yang harus kita bicarakan.”


Chapter 14: Missing Memory

Sepasang mata kuning keemasan memandang dinding-dinding es berkilauan yang mengitari ruangan tempatnya berdiri. Sementara di bawahnya, terhampar tanah yang juga berwarna biru seperti es. Melengkapi pemandangan itu, pilar-pilar es raksasa menjadi penopang langit-langit yang seolah juga terbuat dari es. Mirip dengan yang pernah ia lihat di gambar tempat-tempat di Northern Kingdom, walaupun agak berbeda.

“Jadi.. ini ya Cave of Wandering Soul.. Tempat yang cukup luas, nggak heran kalau Tita bilang bisa tersesat selamanya di sini kalau nggak hati-hati,” gumam Alceus sembari mengamati sekelilingnya.

Di kejauhan terlihat seseorang duduk bersandar ke salah satu pilar es. Rambutnya yang juga berwarna biru es seolah sesuai dengan tema tempat itu. Meskipun jaraknya masih cukup jauh, tapi Alceus bisa melihat kalau pandangan orang tersebut kosong. Tapi yang lebih menarik perhatiannya, adalah ia mengenali orang tersebut dengan sangat baik.

“Latte!” Dengan segera, Alceus berlari menuju gadis itu. Ia tidak pernah menyangka akan secepat ini menemukannya.

SRIING!

Hanya lima meter sampai tangannya bisa menggapai gadis itu, namun tiba-tiba lantai tempatnya berpijak bersinar. Detik selanjutnya yang ia tahu, pemandangan di hadapannya telah berubah. Ia telah terkirim ke tempat lain yang Ia yakin masih di gua yang sama, hanya saja di ruangan yang berbeda. Dan yang menemaninya kali ini bukan lagi sosok wanita yang ia cari, namun kumpulan tengkorak hidup dan mumi yang memandangnya dengan pandangan tidak suka.

“Oh, oke.. kurasa memang nggak mungkin semudah itu ya..” tukas Alceus sambil mengeluarkan pisau merahnya. “Majulah kalian semua!!”


~ * ~

“Begitu.. jadi anak yang saat ini ada di Cave of Wandering Soul, adalah orang yang kau pilih setelahku ya,” kata Shiki menyimpulkan dari hasil percakapan mereka.

“Benar. Aku memintamu, sang Perisai Acronia, untuk menghentikan bahaya yang semakin mendekat. Kamu tahu kan, aktifitas di Mai-Mai Ruin semakin membahayakan. Ditambah dengan orang-orang yang saat ini mengeksplorasi reruntuhan tersebut, yang tanpa mereka sadari hanya akan mempercepat bangkitnya para DEM,” kata Tita menambahkan. “Tapi kau hilang dalam misimu. Bahkan dengan kekuatanku, aku nggak bisa menemukanmu.”

Shiki mengangguk. “Lalu kau mengasumsikan kalau aku sudah mati, dan memilih orang selanjutnya yang kamu harap bisa menyelesaikan tugas yang kamu katakan padaku. Begitu kan?”

“Benar. Maaf, aku nggak tahu kalau kamu masih hidup. Kalau aku tahu, pasti—”

“Nggak perlu minta maaf. Sampai saat ini pun aku nggak lupa tugas yang kau berikan padaku. Aku masih terus mencari cara menyelamatkan Acronia. Lagipula dua akan lebih baik dari satu, kan?”

“Itu benar. Sayang sekali, dia kehilangan semangatnya dan menyerah di tengah jalan. Terutama sejak kejadian yang menimpa gadis itu dan membuat mereka menjadi buronan.”

“Hmm.. Yah, kalau dia nggak mau, apa boleh buat. Aku akan tetap melanjutkan tugas ini.”

“Makasih ya, Shiki. Kurasa sekarang aku hanya bisa bergantung padamu,” seru Tita sembari memeluk Moon Pegasus kesayangannya.

“Nggak masalah. Ngomong-ngomong, kau memilihku karena reputasiku sebagai Perisai Acronia. Aku jadi ingin tahu siapa anak itu, sampai-sampai kau memilihnya.”

“Oh, itu. Sebenarnya aku agak ragu memilihnya. Aku bertaruh, karena hanya dia yang berpotensi paling besar dalam mengemban tugas ini. Dia..”


~ * ~

“Huff.. mereka lemah tapi banyak.. Benar-benar hanya menghabiskan waktu saja..”

Alceus melangkah ke arah portal yang bersinar di depannya, dan meninggalkan sisa-sisa tulang dan perban yang berserakan di lantai. Portal itu membawanya ke ruangan yang mirip dengan sebelumnya.

“Alceus.”

Alceus menoleh. Ia mengenali suara itu dengan baik. Suara yang tidak mungkin ada duanya di dunia ini. “Latte!”

Namun ia berhenti. “Ah, kurasa memang nggak akan semudah itu..” Yang memanggilnya memang benar Latte. Namun di hadapannya berdiri belasan, bahkan puluhan Latte yang serupa. Dan semuanya tersenyum manis ke arahnya.

“Al, ini aku. Ayo kita kembali.”

“Al, mereka semua palsu. Kamu tahu kan aku ini yang asli.”

“Hati-hati, Al. Mereka semua bermaksud menjebakmu. Percayalah, aku Latte yang sesungguhnya.”

Alceus tidak bergerak. Ia mengamati satu-persatu Latte-Latte itu dengan seksama. Mereka semua persis, walau ia bisa merasakan ada yang berbeda dari mereka, sayang ia tidak tahu apa yang berbeda. ‘Jadi.. ini sebabnya Tita berkata dibutuhkan perasaan yang kuat terhadapnya kalau nggak ingin tersesat..’ Ia melangkah mendekati salah satu dari gadis pujaannya dengan langkah tegap.

Latte yang didekati tersenyum ramah. “Kamu memilihku, Al?”

“Jangan, Al! Dia palsu!”

“Benar, jiwamu akan diambil olehnya! Kembalilah, Al!”

Tanpa menghiraukan semua teriakan lain, Alceus membalas senyuman gadis di hadapannya. “Kurasa, senyummu lah yang selalu membimbingku, termasuk dalam menemukanmu.”

“Ahahaha, sudah kuduga, tanpa bicara apapun, kamu akan bisa menebaknya. Kamu memang sahabat yang pengertian,” jawab gadis itu sambil memeluknya. “Tapi kata-kata manismu itu nggak akan berpengaruh apa-apa loh.”

“Ya, aku tahu kok,” jawab Alceus sambil tersenyum. Kecewa? Pastinya. Tapi saat ini nggak ada yang lebih membahagiakan dari berhasil menyelamatkan gadis itu.

Tiba-tiba saja, tubuh gadis yang memeluknya bersinar dan berubah menjadi sebuah kristal yang memancarkan cahaya hangat. Sebuah kepingan jiwa, Piece of Mind.

“Tidak semudah itu!”

Alceus menoleh. Semua Latte-Latte palsu itu membaur dan bergabung menjadi satu. Dan satu Latte yang terakhir pun berubah. Tidak menjadi kristal, tapi berubah menjadi sosok wanita dengan ekor ular yang menggantikan posisi kakinya.

“Perempuan itu membuatku terkurung di sini bersamanya. Tapi aku, Lamuros, tidak akan membiarkan dia keluar sendirian! Kau lah yang akan bergabung di sini dengan kami!”

“Cih, begitu ya.. Ternyata memang nggak semudah itu. Mau keluar saja, ada rintangan seperti ini,” gumam Alceus dengan nada jengkel. “Maaf Latte, keberangkatan kita tertunda. Akan kupastikan kalau siluman ini nggak akan bisa mengganggumu untuk yang kedua kalinya.” Ia segera mengeluarkan pisau merahnya lagi dan bersiap menyambut wanita ular yang datang menerjang ke arahnya.


~ * ~

“Wow, kau gila, Tita! Memilih orang seperti itu! Bahkan berbuat sejauh itu untuknya..” seru Shiki dengan mata terbelalak. “Nggak. Daripada ‘gila’, mungkin aku harus memujimu dengan ‘hebat’! Kau benar-benar berani.”

“A-aku tahu.. Tapi aku benar-benar kehabisan akal waktu itu.. Sampai sekarang pun, kadang-kadang aku masih suka merasa menyesal dan bertanya kenapa aku bisa berbuat seperti itu..” jawab Tita dengan suara parau. Bahkan saat ini pun, ia kembali merasa kalau ia telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan, membuat air mata mulai menggenangi matanya.

“Kau.. menyesalinya?” tanya Shiki, dan Tita menjawabnya dengan anggukan pelan. “Nggak apa-apa, percayalah dengan keputusanmu saat itu. Percayalah dengan orang yang kau pilih, sebagaimana kau percaya padaku.”

“Tapi.. kau berbeda. Orang-orang mengagumimu, dan kau merupakan pahlawan mereka! Sementara dia.. dan kalau ingatannya sampai kembali..”

“Tenang saja, aku akan membantumu memastikan tidak terjadi apa-apa. Ada atau tidak ingatannya, kekuatannya tetap saja nyata. Ia akan membantu kita, akan kupastikan hal itu.”

Tita menatap Shiki dengan tatapan penuh tanya. “Caranya?”

“Akan kupikirkan nanti,” jawab Shiki. “Tapi aku masih belum percaya.. Sejarah Acronia, yang terus diperbarui sampai catatan setahun lalu pun tertulis di sana, bahkan nggak mencatat kejadian itu. Dan aku bisa bertemu dengan salah satu orang yang berhubungan langsung dengan kejadian itu. Ini akan menarik, Alceus.”


~ * ~

"HRAAARR!!"

Teriakan Lamuros memekakkan telinga saat pisau Alceus memutuskan lengan kirinya. Pisau itu kini bukan hanya merah karena warna baja pisau tersebut memang merah, tapi pisau itu kini juga merah karena seluruh permukaannya tertutupi oleh darah si wanita ular.

“Ini.. belum berakhir..!”

“Sayangnya, ini akan segera berakhir, Lamuros. Ingatlah nama Alceus, orang yang akan segera menghabisimu,” jawab Alceus dengan senyum penuh kemenangan. Nafasnya terasa berat, tapi ia bisa merasakan kalau kondisi musuhnya jauh lebih parah darinya. Ini tidak sesulit yang ia kira, karena lawannya memang tidak dalam kondisi sempurna setelah sebelumnya bertarung dengan Latte.

“Kurang ajaaar!!” teriak Lamuros yang menerjang maju lagi. Tangannya yang tersisa mengacung ke udara dan memperlihatkan cakar-cakar yang tajam di ujungnya.

“Kau melakukan dua kesalahan, Lamuros. Yang pertama, karena kau berusaha menyakiti Latte,” tukasnya sambil menghindari serangan musuhnya ke kanan. Tangan kiri Lamuros yang telah hilang membuatnya tak berdaya di sisi itu.

Melihat lawannya berlari ke sebelah kirinya, Lamuros mengayunkan ekornya ke arah Alceus. Namun dengan lincah, lawannya itu mengelak dan sekarang berdiri di belakangnya.

“Dan yang kedua, karena kau memilih untuk melawanku.” Tanpa memberi kesempatan pada musuhnya untuk melakukan apapun, Alceus mengayunkan pisaunya dan memotong lengan kanan Lamuros, menyebabkan wanita ular itu jatuh ke tanah sambil meraung kesakitan.

“Karenanya.. Nggak ada ampun bagimu, Lamuros. Merciless Blow!!” teriak Alceus sembari melompat ke udara, dan akhirnya menikam jantung sang wanita ular sekuat tenaga.

Raungan terakhir Lamuros memenuhi seluruh gua, sementara Alceus menatap korbannya dengan wajah puas. Setelah beberapa saat, akhirnya raungan itu pun mereda. Seiring dengan berhentinya raungan tersebut, terdengar tepuk tangan dari belakang sang pemenang.

“Luar biasa. Tapi tampaknya kau sangat menikmati pertarungan tersebut ya, sampai-sampai lupa kalau lawan yang kau hadapi sesungguhnya adalah ‘waktu’. Bukankah kau sedang menyelamatkan gadis itu?”

“Eh?” Alceus sadar, ia bahkan tidak melawan Lamuros dengan benar-benar serius. Ia benar-benar lupa kalau nyawa Latte sekarang ada dalam genggamannya. Ia pun berbalik kepada orang yang berbicara padanya itu. Tapi belum sempat berbicara satu patah kata pun, ia terkejut bukan main.

“Ada apa? Apa aku begitu menakutkan? Memangnya kau belum pernah bercermin atau semacamnya ya?”

Di hadapan Alceus, berdiri seorang pemuda berambut pirang keemasan, lengkap dengan warna mata yang mengikuti warna rambutnya. Yang dikenakannya pun persis dengan jaket yang ia kenakan saat ia bangun dan pertama kali bertemu Tita. Dan yang pasti, tinggi dan postur tubuh pria tersebut sama dengannya.

Alceus menyipitkan matanya. Ia mengamati pria di hadapannya dengan seksama. Yang berdiri di hadapannya, tidak salah lagi adalah dirinya sendiri. “Ah, aku mengerti. Tita mengatakan kalau ini adalah tempat jiwa dan ingatan yang terkurung. Karena itu, kau pasti adalah..”

“Tepat sekali,” jawab pria itu. “Aku adalah ingatanmu yang tersegel di sini secara nggak sengaja saat Tita menyembuhkan kita. Aku adalah bagian dari dirimu sendiri. Bagaimana, kau yang sudah lama penasaran, apa kau berniat untuk mendengarkan ceritaku?”

“Aku..” Alceus melirik kepada Piece of Mind Latte. “Ah, aku mengerti. Kau menyuruhku memilih salah satu dari Latte dan ingatanku, kan? Kalau aku mendengarkanmu, maka aku nggak akan keburu menyelamatkan Latte. Maaf saja, tapi aku nggak akan membuang Latte demi masa laluku,” katanya tegas sambil melangkah pergi.

“Hebat, kau cepat tanggap rupanya. Yah, seperti dugaan sih, tentu saja kau hebat, karena kau adalah aku,” jawab Alceus yang satu lagi dengan nada memuji diri sendiri. “Tapi, memangnya kau tahu jalan keluar? Pilihan manapun yang kau pilih, kau nggak akan bisa menyelamatkan gadis itu.”

“Aku nggak akan menyerah sampai akhir. Kalau kau adalah aku, kau pasti tahu aku akan menjawab seperti itu kan?”

“AHAHAHA!!” tawa ingatan masa lalu Alceus. “Bagus, aku suka sikapmu. Aku hanya bercanda kok soal yang tadi. Aku sudah bosan di sini. Akan kutunjukkan jalan keluar, asal kau membawaku. Tapi kalau tadi kau benar-benar memilih untuk mendengarkan ceritaku, kau akan terlambat dan jiwamu nggak akan bisa keluar dari sini sepertiku. Kurubah pernyataanku, pilih pilihan manapun, kau akan stuck bersamaku,” tukasnya sambil menyeringai. “Yah, anggaplah ini hadiah karena berhasil menyelamatkan gadis itu dan mengalahkan si siluman ular.” Selesai berkata begitu, tubuhnya bersinar dan berubah menjadi Piece of Mind seperti Latte.

Alceus meraih Piece of Mind dirinya. Namun berbeda dengan milik Latte yang hangat, Piece of Mind miliknya mengeluarkan aura dingin. Sesaat tangannya menyentuh Piece of Mind itu, energi seperti mengalir ke dalam tubuhnya. Berbagai kepingan ingatan berkelebat masuk ke dalam kepalanya. Mulai dari masa kecil yang dibencinya, sampai ingatan saat ia bertarung di medan pertempuran sebelumnya. Ia memegang kepalanya yang mau pecah kuat-kuat. Rasanya benar-benar seperti memasukkan banyak barang sekaligus ke dalam sebuah lemari kecil.

“UWAAAAAAAAAA!!”

« Last Edit: November 18, 2010, 10:14:44 AM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter15]
« Reply #16 on: November 23, 2010, 02:32:45 PM »
A little note of mine. . .
    Ada sedikit perombakan format kmaren.. chapter 1 dan 2 jadi digabung (dulu takut kpanjangan, skarang liat itu kok pendek banget ya) yg akhirnya smua angka chapter mundur 1..
    lagian chapter1 dan 2 itu benernya nyambung banget..
    trus juga ganti judul prolog, skalian mindahin postnya ke post yg tadinya chapter 1.. skarang kalo edit hal. awal jadi gak kbanyakan lagi :laugh:
    sekalian nambah gambar shiki di depan..

    anyway, enjoy chapter 15 ~another long chapter

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.




“Uuh..”

“Kau sudah sadar ya, Al?” tanya Yust bersamaan dengan terbukanya kedua mata Alceus.

Alceus mengangguk dan memandangi sekitarnya. Ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah tenda, bersama Yust, Kaistern, dan tubuh Latte yang masih terbaring. Seperti orang yang baru saja bangun tidur, kepalanya terasa agak berat sebelum akhirnya berhasil mengingat-ingat apa yang terjadi dalam mimpi-nya.

“Bagaimana? Apa kau berhasil menyelamatkan Latte?” tanya Kaistern tak sabar.

“Ah, iya. Aku berhasil menemukannya. Harusnya sih sudah beres, tapi apa dia masih belum sadarkan diri?

Kaistern menggeleng sambil menatap tubuh Latte yang masih belum bergerak. Alceus mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Ia sudah mendapatkan Piece of Mind milik Latte, tapi kenapa belum terjadi apa-apa? Atau masih ada hal yang kurang, yang seharusnya ia lakukan?

“Al, tanganmu..” seru Yust tiba-tiba sembari menunjuk pada genggaman tangan Alceus yang bersinar. “Yang kau pegang itu apa?”

Mendengar kata-kata Yust, Alceus segera membuka genggaman tangannya dan terlihatlah sebuah kristal kecil, namun memancarkan cahaya hangat. “Oh begitu. Rupanya ini belum selesai,” katanya sambil mendekati tubuh Latte. Ia kemudian meletakkan Piece of Mind tersebut di atas tubuh Titania itu. “Sekarang harusnya sudah beres.”

“Benar. Bagi beberapa orang,efeknya nggak akan langsung terlihat.” Suara khas Tita terdengar dari celah masuk tenda, bersamaan dengan terserap masuknya Piece of Mind ke dalam tubuh Latte. “Hanya soal waktu, sekarang kita cuma bisa menunggu sampai ia sadar dengan sendirinya. Tapi percayalah, sudah nggak ada hal yang berbahaya baginya.”

Ketiga pemuda itu mengangguk. Tapi sesuatu yang tak biasa dari Tita disadari si Ranger. “Kau.. habis menangis, Tita?”

Tita yang terkejut oleh pertanyaan itu, segera menggeleng kepalanya dengan cepat. “Ng-nggak kok. Aku hanya.. sedikit kelelahan kurasa. Ini juga hari yang.. umm.. bisa dibilang cukup tidak biasa bagiku.”

Alceus memiringkan kepalanya dan menatap Tita dengan heran. “Oh, benar juga. Kau pasti lelah  karena kunjungan tak terduga kami. Dan mengirimkanku ke gua itu juga pasti menghabiskan banyak tenagamu kan? Istirahatlah, Tita.”

Titania itu tidak langsung menjawab. Ia kelihatan bingung untuk memilih kata-kata selanjutnya. “Al.. maaf ya.. aku..”

“Maaf? Untuk apa?” tanya Alceus. “Ada yang mengganggu pikiranmu, Tita? Katakan saja, kami pasti membantumu kok.”

Sekali lagi Tita terdiam. “Terima kasih, tapi aku sudah nggak apa-apa. Shiki sudah kembali ke Acropolis duluan, dan dia memintaku menyampaikannya pada kalian. Kalian juga kembali dan beristirahatlah. Tiny yang mengantarmu ke sini akan mengantar kalian pulang. Sampaikan salamku pada Latte saat dia bangun, dan.. sampai jumpa lagi.” Selesai berkat begitu, Tita menghilang ke luar tenda.

Alceus menatap kedua temannya dengan tatapan bingung, yang kemudia dijawab Kaistern dengan gelengan kepala, dan Yust yang mengangkat bahunya. “Jadi.. kita kembali sekarang?”

“Ya,” jawab Kaistern. “Kita bawa dia ke tempatku, dan kita semua bisa istirahat di sana malam ini. Besok pagi setelah Latte sadar, baru kita urus masalah tuduhan terhadap kalian ke Guild Council.”


Chapter 15: Parting Way

Bulan purnama telah menggantikan matahari untuk bersinar di langit. Gerbang Uptown yang ditutup di malam hari membuat keheningan terjadi di Acropolis dan sekitarnya. Meskipun begitu, beberapa orang masih terlihat di Downtown, walaupun jumlahnya tidak banyak.

Di sebuah rumah di barat daya Downtown, suasana yang sama juga terjadi. Semua orang terlelap, kecuali satu orang. Orang tersebut bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamar yang berisi tiga orang itu.

“Al? Kau nggak bisa tidur?”

Orang tersebut berhenti tepat di pintu. Ia bergegas berbalik dan menjawab sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, dan membuat rambut pirangnya semakin berantakan, “Oh, Kai. Kau juga belum tidur ya.. Aku.. nggak bisa tidur, jadi aku berpikir untuk keluar cari angin sebentar.”

“Hmm.. Aku mengerti. Tapi ingat ya, kasusmu belum selesai. Jadi kuharap kau nggak buat masalah apapun, dan sebisa mungkin hindari orang lain.”

“Baik. Akan kuingat itu. Sampai nanti, Yust,” jawabnya sambil berbalik dan menutup pintu di belakangnya. ‘Huff.. mana mungkin aku bisa tidur setelah semua yang terjadi.. dan mendapatkan apa yang kulupakan selama ini. Pantas saja Tita enggan mengatakan masa laluku..’

Alceus membiarkan kedua kakinya melangkah tanpa arah, tanpa peduli ke mana ia akan pergi. Saat ini pikirannya sibuk me-resume semua kejadian-kejadian yang terjadi, baik yang baru didapatkannya, maupun kejadian-kejadian setelah ia bertemu Kaistern, Yust, dan Latte.

Tanpa sadar, di hadapannya telah berdiri gerbang selatan Uptown yang megah, dan merupakan saksi insiden yang terjadi padanya. “Hmph, aku kembali ke tempat ini lagi ya,” katanya sambil tertawa ringan. Ia berharap ia masih bisa bicara pada dirinya sendiri seperti yang ia lakukan saat di Cave of Wandering Soul, karena ia tidak yakin bisa membicarakan masalah ini pada Kaistern dan Yust. “Masa laluku.. sudah nggak penting. Yang penting sekarang adalah apa yang akan kulakukan sekarang. Tentang permintaan Tita, dan juga tentang masalahku. Tapi bagaimana kalau para petinggi-petinggi Acropolis nggak mau mengerti? Haruskah aku begitu saja menerima hukuman dari mereka? Tapi mungkin saja itu hukuman mati. Apa aku pergi saja ya..” Ia berjalan mendekati gerbang raksasa di hadapannya dan bersandar pada gerbang itu. “Nggak. Aku harus bisa menghadapinya. Lagipula, Kai dan Yust pasti membantuku. Aku percaya pada mereka. Karena itu—”

KRIEEET..

“Eh?” Alceus mendadak hampir saja kehilangan keseimbangannya. Ia berbalik dan menatap gerbang Uptown yang kini sedikit terbuka. “Mustahil.. bukankah seharusnya semua gerbang Uptown terkunci saat malam?” Namun mungkin ia bisa memanfaatkan hal itu. Ia perlu menenangkan pikirannya, dan ia butuh tempat yang tak terganggu orang lain untuk itu. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, ia pun mendorong gerbang itu sedikit lagi dan masuk melalui celahnya.

Uptown di malam hari menambah keindahan kota tersebut. Lampu di semua bangunan tidak ada yang menyala, kecuali beberapa ruangan di Guild Palace. Mungkin itu para Master yang lembur ataupun menginap. Lagipula, orang-orang Guild Palace semuanya memiliki akses Uptown kapanpun mereka mau, jadi itu bukan masalah bagi mereka untuk tetap di sana sampai selarut ini.

“Alceus, betul?”

Suara yang tiba-tiba mengagetkan Ranger itu. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu orang, apalagi ditunggu seperti itu. “Ah, maaf, aku masuk tanpa izin. A-aku akan segera pergi,” serunya bersamaan dengan ia membalik badan untuk melihat oranng yang memanggilnya. Tapi ia kembali dikejutkan. Ia belum pernah melihat orang tersebut, kecuali orang itu mungkin orang yang ingin membunuh buronan sepertinya secara ilegal. Pasalnya, orang tersebut mengenakan armor lengkap dan wajahnya ditutupi sebuah topeng harimau yang tampak lebih menyeramkan dari biasanya di malam hari.

“Nggak apa-apa. Lagipula aku memang ingin menemuimu. Tapi siapa sangka kau keluar dengan sendirinya sebelum aku sempat memanggilmu?”

Alceus menatap orang tersebut selama beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangannya pada gerbang selatan yang ia lewati sebelumnya. “Memanggilku..? Ah, aku mengerti. Jadi kau yang membuka kunci gerbang itu kan? Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Seingatku kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

Pria bertopeng tersebut tertawa pelan. “To the point saja, aku menginginkan bantuanmu.”

“Bantuanku?” tanya Alceus sambil mengulang kata-kata lawan bicaranya itu.

“Benar. Kau tentu tahu tentang teknologi tercanggih yang pernah ada, DEM, yang akan bangkit kembali, bukan? Dan kau juga tahu kalau mereka merupakan ancaman kan? Karena itu, aku ingin kau membantuku dalam menghentikan mereka. Dengan adanya kekuatanmu, kita pasti bisa menghentikan mereka dengan lebih mudah dan cepat.”

“Ah, permintaan yang sama dengan Tita. Maaf, tapi aku kurang tertarik untuk menyelamatkan dunia,” jawab Alceus dengan tegas. “Saat ini, aku hanya ingin hidup tenang, biar saja orang lain yang melakukannya.”

“Orang lain? Maksudmu seperti orang-orang Acropolis?” tanya pria bertopeng itu dengan nada merendahkan. “Diserang sebagian robotku saja, mereka nggak berdaya. Apalagi DEM?”

“Robot-robotmu?” seru Alceus tak percaya. “Kau.. yang menyerang Acropolis?”

“Benar. Seperti kau lihat, aku memiliki kekuatan yang besar. Aku hanya butuh sedikit lagi untuk mengalahkan para DEM yang akan bangkit dan menyelamatkan Acronia. Dan kalau apa yang kudengar benar, kau pasti tahu mana pihak yang menguntungkan.”

“Yang kau dengar?” Alceus menyilangkan kedua tangannya sementara otaknya berpikir keras. Rasanya ia tidak pernah melakukan hal demi keuntungan semata. Setidaknya tidak setelah ia bertemu Kaistern dan Latte. “I see, kau tahu tentang masa laluku ya. Aku yang dulu pasti akan bergabung denganmu, tapi sayang, aku sudah mendapatkan kesempatan untuk reset. Aku mengulang semuanya, dan mendapatkan sesuatu yang nggak kudapatkan sebelumnya. Orang sepertimu hanya akan menambah masalah, dan kalaupun aku harus berjuang, aku akan berjuang bersama teman-temanku.”

Pria bertopeng itu memandang dengan tajam kedua mata Alceus dari balik topengnya. “Begitu. Aku harap aku salah, tapi ternyata firasatku benar. Kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali rupanya.” Orang tersebut menghela nafas panjang, kemudian ia mengambil tombak yang daritadi menempel di punggungnya. “Teman-temanmu nggak sejalan denganku, dan kalau kau memihak mereka, lebih baik kau mati di sini.”

Melihat lawannya berlari ke arahnya, dengan cepat ia melepas ikat pinggang kulit miliknya dan memecutkannya pada tombak milik si pria bertopeng sambil menghindar ke samping. Ikat pinggang tersebut mengikat tombak sasarannya dengan sangat kuat.

“Kau pikir bisa menghentikanku seperti ini?” Pria bertopeng harimau tadi mengayunkan tombaknya dengan kuat –yang otomatis ikut mengayunkan Alceus— ke arah dinding. “Kau nggak akan bisa mengalahkanku dalam hal kekuatan.”

“Sial!” Bersamaan dengan dilepasnya ikatan pada tombak musuhnya, Alceus mengayunkan ikat pinggangnya untuk meraih sebuah tiang yang tidak begitu jauh darinya. Namun sayang, ikat pinggang tersebut tidak cukup panjang. “Bah! Kalau saja ini cambuk betulan..” gumamnya yang sekarang hanya bisa pasrah melesat menuju dinding.

Tiba-tiba saja seekor kelelawar terbang dan menabrakkan dirinya pada Alceus dan menariknya ke samping.Tenaganya kecil, namun cukup untuk merubah arah pental Ranger itu. Hasilnya, Alceus selamat dari menghantam dinding, dan kini jatuh menimpa kelelawar kecil penolongnya itu.

“Ughh.. maaf.. Apa kau baik-baik saja?” ujar Alceus panik. Kalau sampai kelelawar itu mati karena menolongnya, ia pasti merasa bersalah. Tentu saja, kenapa kelelawar itu menolongnya juga menjadi pertanyaan baginya.

Tapi belum sempat Alceus bangkit, tiba-tiba saja kelelawar itu bersinar. Sepasang sayap kecinya membesar, dan kini berbentuk tangan manusia. Begitu pula dengan kaki yang tadi digunakan untuk menarik, kini telah menjadi kaki yang umum dimiliki manusia. Tubuhnya yang berwarna ungu, membesar dan menjadi tubuh yang diselimuti baju berwarna jingga, dengan sepasang sayap putih di punggungnya. Dan kepalanya kini berubah bentuk menjadi wajah wanita berparas cantik dan berambut panjang, dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Alceus.

“Aww.. nggak apa-apa.. Aku baik-baik saja kok. Yang penting kamu selamat,” jawab gadis itu dengan nada riang. “Ngomong-ngomong, bisa minta tolong kamu untuk bangun dari atasku? Aku nggak bisa bergerak nih.”

Spontan dengan wajah merah, Alceus yang tadinya memegang sayap kelelawar itu untuk memeriksanya, bangun dan melepaskan genggamannya dari tangan wanita tersebut. “Ka-kamu..”

Pria bertopeng yang menyaksikan kejadian itu mendelik marah kepada penyelamat mangsanya. “Pengganggu rupanya.. Siapa kau?” serunya dengan nada tenang sambil menyiapkan tombaknya lagi.

“Jangan bergerak!

Suara di belakangnya membuat si pria bertobeng membatalkan serangannya. Terlebih lagi, ia merasakan sebuah tongkat menyentuh punggungnya. Salah bergerak, maka ia mungkin tamat di detik selanjutnya.

Alceus menatap perempuan berambut panjang dan berwarna biru yang tengah menodongkan Pururu Staff-nya kepada si pria harimau. Kaos belang yang ditutupi jaket bitu, serta celana pendek dan sepatu yang juga berwarna biru melengkapi penampilannya yang serba biru. “Kalian.. yang waktu itu ya?” tanya Alceus masih dengan nada kebingungan, dan dijawab oleh lambaian tangan sang gadis biru.

“Begitu ya.. Aku sudah terkepung..” kata pria itu, masih belum melepaskan tatapan tajamnya pada Alceus dan wanita di sebelahnya. “Kalau begitu, bisa kukatakan kau beruntung kali ini. Kita akan berjumpa lagi, Alceus.” Tiba-tiba saja ia mengayunkan tombaknya ke belakang dan mementalkan tongkat yang membatasi gerakannya itu. Ia melompat menjauh dan mengeluarkan sebuah kunci  yang langsung bersinar saat dipegangnya.

“Kau pikir aku akan membiarkanmu?” Alceus dengan sigap berlari dan mencambukkan ikat pinggangnya pada musuhnya, membuat Space-Timed Key yang hendak digunakan si pria bertopeng terlepas dan menghilang tanpa membawanya.

“Kau..!!”

“Dan sekarang, mari kita lihat siapa wajah di balik topeng jelekmu itu!” Sekali lagi, Alceus memecutkan ikat pinggangnya, kini dengan topeng harimau sebagai sasarannya.

CTARR!!

Topeng harimau itu melayang tinggi ke udara. Sementara tepat di bawahnya, sosok sang pria harimau tanpa topeng terlihat jelas. Wajah yang membuat Alceus terpana. Ia sama sekali tidak menyangka, karena topeng harimau itu, selain menyembunyikan wajahnya, juga sedikit banyak merubah suaranya.

Pria tersebut melemparkan tombaknya pada topeng harimaunya dan menghancurkannya sampai tak bersisa sedikitpun. “Topeng itu sudah nggak kubutuhkan, karena sudah nggak perlu ada yang disembunyikan lagi, kan?” tanya pria tersebut sambil mengelus-elus lecet di wajahnya yang ditimbulkan oleh cambukan Alceus. “Kenapa? Kau kaget?” 


~ * ~

“Keluar?” teriak Yust tak percaya, walaupun ia masih bisa mengontrol volume suaranya agar tak terdengar ke luar. Dengan cepat, ia mengambil sepasang cakar miliknya dan bergegas menuju Downtown. “Kenapa kau biarkan dia pergi sendiri?!”

“Ya, dia bilang dia ingin cari angin, makanya kubiarkan saja. Lagipula tengah malam begini, biasanya Acropolis sepi,” seru Kaistern yang berlari di sebelah Yust dengan nada menyesal. “Tapi aku akui, ini salahku. Dan lagi, dia belum kembali juga, padahal sudah hampir pagi. Aku curiga terjadi sesuatu, seperti malam sebelum penyerangan Acropolis.”

Yust mengangguk. “Semoga saja dia nggak bertemu orang-orang seperti komandan yang kita temui kemarin, atau pun orang yang mencoba menyerangnya dulu, atau lebih parah lagi, dia meninggalkan Acropolis.”

Akan sangat sulit mencari orang di Acropolis, karena kota itu punya empat jalan keluat yang berbeda arah. Karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah memilih salah satu, dan berharap tebakan mereka tepat. Keduanya berlari menuju South Bridge, jembatan terdekat dari rumah Kaistern.

“Nggak ada di sini.. Dia pasti sudah pergi ke South Plains! Ayo kita kejar, Kai!”

“Tunggu, Yust!”

Yust berhenti dan menoleh pada Kaistern. Ia melihat apa yang Bounty Hunter itu lihat: gerbang Uptown yang terbuka. Matanya menyipit memandang gerbang itu, sementara otaknya bekerja memikirkan segala jenis kemungkinan yang bisa terjadi. “Jangan bilang.. kalau dia ke sana..”

Tanpa menunggu lagi, Kaistern segera membuka gerbang itu lebar-lebar. Di hadapannya berdiri empat orang yang kelihatannya tengah bertarung, dan dua di antaranya adalah orang yang dikenalnya. “Alceus.. dan Kak Shiki? Lalu siapa dua Titania perempuan itu..?”

Alceus menoleh ke arah dua temannya yang baru datang, lalu kembali kepada Shiki. “Nah, aku nggak begitu mengerti apa yang terjadi, tapi kau nggak bisa kabur lagi sekarang. Kelihatannya kita berdua akan diadili pengadilan Acropolis bersama-sama.”

“Menurutmu begitu?” tanya Shiki dengan senyum di wajahnya. “Kenapa aku yang nggak bersalah ini harus masuk pengadilan?”

Alceus membalas senyum Shiki dengan sebuah senyum kemenangan. “Tentu saja kau bersalah. Karena kau telah menyerang Acropolis dengan robot-robotmu itu. Bahkan kesalahanmu jauh lebih besar dariku.”

“Tunggu dulu, Al!!”

Alceus terkejut mendengar teriakan Yust yang tiba-tiba. Teriakan yang cukup keras untuk terdengar sampai ke bagian selatan Downown. Orang-orang yang sudah terbangun pun keluar karena teriakan tersebut. Dan keributan yang mereka buat, ikut membangunkan tetangga-tetangga yang biasanya masih tertidur pada jam itu.


~ * ~

“Uhh, siapa sih yang teriak-teriak pagi buta begini?! Bikin orang kesal saja!” gerutu gadis yang merupakan tuan putri dari kerajaan di utara. Ia pun mengintip dari jendela kamar VIP-nya yang terletak di dalam Guild Palace. “Itu.. Yust, Kai, dan Alceus? Knight dan dua Titania cewek yang bersama mereka itu siapa ya?” Dengan segera, ia berlari keluar kamar dan berlari meninggalkan bangunan termegah di Acropolis itu.

Sesampainya di Uptown, Magdaleine berhenti dan menatap mereka semua dari kejauhan. Ia tidak peduli apakah mereka bisa melihatnya dengan jelas atau tidak. Yang pasti, kini ia dapat mendengar semua percakapan mereka dengan jelas.

“Apa maksudmu menuduh kakakku sebagai pemimpin penyerangan Acropolis?!” teriak Yust dengan nada marah. “Aku sudah bertemu dengan pria bertopeng harimau yang menjadi dalang penyerangan itu sekaligus penculikan Magdaleine! Dan dia jelas bukan Kak Shiki!”

Kakak? Dia saudara Yust?” gumam Magdaleine dari kejauhan. “Aku belum pernah melihat Yust semarah ini..”

“Dia juga orang yang berusaha menculik Mag?” tukas Alceus mengulangi kalimat Yust. “Ternyata dia lebih kurang ajar dari yang kukira. Percayalah, Yust. Dialah pria harimau itu! Aku berhasil melepas topengnya dan—”

“Apa buktimu menuduhnya seperti itu?” potong Yust.

Tiba-tiba Alceus terdiam tanpa mampu menyelesaikan kalimatnya.  Senyumnya memudar sembari terus memandangi senyum Shiki yang tak kunjung hilang. ‘Jadi itu sebabnya dia menghancurkan topengnya sendiri, ya.. Dasar licik!’

“Kau nggak bisa membuktikannya?” tanya Yust dengan pandangan yang semakin tajam.

“Aku punya dua saksi di sini!”

“Oh, maksudmu dua gadis yang bersamamu itu? Aku nggak percaya kau sampai membawa mereka untuk menjadi saksimu. Apa kau sudah merencanakan penyerangan ini sebelumnya?” balas Shiki. Ia kemudian berjalan ke arah Yust dengan santai. “Tapi sudahlah, Yust. Mungkin ada salah paham saja. Aku nggak ingin kamu bertengkar dengan teman baikmu gara-gara aku dan kesalahpahaman ini.”

“Lagipula mereka bukan orang Acropolis, mereka belum tentu bisa dipercaya,” tambah Yust.

“K-kau!!” geram Alceus. “Percayalah, Yust!”

“Memangnya siapa yang mau percaya denganmu, dasar penjahat!” teriak suara dari sekitar mereka. Tanpa mereka sadari , warga telah berkumpul menyaksikan kejadian itu.

“Aku tidak terima kau memfintah Tuan Shiki! Dia pahlawan kami!” teriak suara yang lain.

“Uhh..” Mata Alceus menyapu semua orang yang ada di sana. Tatapan dingin dan menusuk dari setiap orang, sampai-sampai tatapan Yust yang biasanya ramah kini berubah menjadi seperti kebanyakan orang. Sampai akhirnya, matanya melihat Bounty Hunter yang dari tadi tak bersuara di samping Yust. “Kai! Kau percaya padaku, kan?”

Kaistern tidak menjawab sementara pandangan Shiki dan Yust kini teralihkan padanya.

“Aku.. nggak ingin berkata buruk soal temanmu. Tapi apa yang ada dalam pikiran temanmu itu nggak bisa ditebak,” kata Shiki dengan suara yang hanya bisa terdengar oleh Kaistern. “Dia selalu melakukan semua seenaknya sendiri. Kita bahkan nggak tahu apa yang terjadi antara dia dan Latte saat mereka buron. Padahal kau harusnya hidup tenang sebagai seorang pahlawan, dengan Latte di sisimu..” ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Mata Kaistern terbelalak mendengar kata-kata itu. Alceus membantunya dulu saat ia mendekati dan membelikan kalung untuk Latte, dan ia tahu kalau Ranger itu paham akan perasaannya. Dan sekarang temannya itu merebut Latte darinya tanpa memerdulikan perasaannya. Mungkin apa yang dikatakan Shiki waktu itu benar: cinta itu kuat, sangat kuat sampai-sampai orang rela menusuk temannya sendiri.

“Alceus.. kenapa kau ada di Uptown malam-malam? Bukankah kamu tahu itu dilarang?” tanya Kaistern tiba-tiba.

Alceus mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kaistern yang tak terduga. “Eh? Itu.. Aku mencari tempat yang hening.. Yah, aku tahu aku melanggar peraturan, tapi ada yang lebih penting kan sekarang?”

“Nggak bisa kah kau melakukan sesuatu tanpa melanggar sedikitpun?” tanya Kaistern lagi tanpa memedulikan pertanyaan Alceus. “Mulai dari bicaramu yang kasar pada Ranger Master, ketidaksopananmu terhadap Putri Magdaleine, membunuh orang saat Acropolis diserang, sampai hal sekecil ini, perbuatanmu nggak ada yang benar. Dan sekarang, kau menuduh Kak Shiki seperti itu. Apa kau nggak ingat? Kalau bukan gara-gara dia, Latte pasti nggak akan selamat! Apa kau berniat menjadi satu-satunya pahlawan bagi yang menyelamatkan nyawa Latte?” Ia menggeleng pelan, kekesalan terpancar di wajahnya. “Maaf, tapi kurasa aku nggak bisa menyimpulkan kalau kali ini kau benar. Sekali lagi maaf, aku nggak bisa membantumu lebih jauh.”

Alceus terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata Kaistern yang begitu menusuk. Sekali lagi ia melirik ke arah Yust, berharap Assassin itu bisa mengambil keputusan dengan tenang seperti biasanya. “Percayalah, Yust.. dia—”

Namun Yust hanya menggeleng. “Maaf, Al. Kau adalah sahabatku, tapi kalau kau sampai tega memfitnah kakakku, bahkan aku pun akan tega untuk melawanmu.”

Pikiran Alceus mendadak kosong, bagaikan desambar oleh kata-kata Yust dan Kaistern. Ia pun mengalihkan pandangannya yang juga kosong ke arah matahari yang mulai menunjukkan dirinya di timur. Mungkin selama ini ia sudah berlebihan dalam menanggapi arti sahabat. Hukuman mati –atau setidaknya hanya hukuman yang sangat berat kalau ia beruntung— dipastikan telah menantinya, tapi ia tetap bertahan menghadapi itu semua karena ia percaya pada kedua sahabatnya itu. Tapi kalau mereka sendiri tidak percaya padanya, lalu untuk apa dia masih ada di kota itu?

Alceus menggeleng. “Hah, bodohnya aku. Seharusnya aku tahu kalau hal macam itu nggak ada. Aku jadi merasa dimanfaatkan.. Untuk apa aku berkorban selama ini? Seharusnya aku hanya melakukan apa yang kunikmati, seperti yang selalu kulakukan sebelum bertemu kalian.”

Kedua wanita yang ada di sampingnya tersenyum dan menggenggam kedua tangan Alceus. Keduanya menaruh simpati atas apa yang terjadi, namun di sisi lain, mereka merasakan kegembiraan yang terpancar di mata mereka.

“Jadi, kita bisa pulang sekarang? Kamu tahu, yang lain juga sedang menunggumu di rumah,” kata si gadis berambut biru. “Lagipula kamu tahu kan, kami akan selalu mendukungmu apapun yang kamu lakukan, nggak seperti orang-orang yang mengaku temanmu itu.”

Alceus mengangguk pelan. Sekali lagi ia menatap Yust selama beberapa detik, sebelum akhirnya berpindah pada Kaistern. “Wahai pahlawan Acropolis, kalian tahu apa yang seorang pahlawan butuhkan?  A villain, seperti gelar yang selama ini Acropolis berikan padaku. Tanpa mereka, pahlawan nggak ada gunanya. Dan demi kalian, aku akan dengan senang hati menjalani peran itu. Tapi ingatlah, ini bukan cerita anak-anak atau semacamnya yang semua berakhir bahagia di pihak sang pahlawan. Percayalah, kali ini aku lah yang akan tertawa terakhir, di atas penderitaan dan kekalahan sang pahlawan.”

Kaistern terbelalak mendengar kata-kata Alceus. Matanya melirik ke orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang tampak cukup gemetar mendengar pernyataan perang tersebut, sementara yang lain, yang tadinya mencaci maki dengan penuh semangat, kini membisu. “Al.. Kau.. serius?”

“Sangat serius.. lebih dari yang kau bayangkan, Kai,” jawab Alceus.

“Membuat Kaistern menderita,” tukas Shiki menanggapi, “merebut semua yang berharga darinya? Termasuk Latte?”

“Ah, Latte.. Benar juga,” sahut Alceus. “Aku nggak bisa membiarkannya bersama orang-orang macam kalian. Dan jika itu bisa membuatmu terluka, itu merupakan nilai plus bagiku.”

Sekali lagi Kaistern terkejut mendengar kata-kata orang yang beberapa jam yang lalu masih merupakan sahabat baiknya. Dengan penuh amarah, ia mencabut pedang di pinggangnya. “Aku nggak menyangka kau akan sejauh itu, Al, tapi mungkin itulah sifat aslimu. Dan kalau itu maumu, maka demi kedamaian Acropolis— nggak, demi Acronia dan orang-orang yang tinggal di dalamnya, aku akan menghentikanmu.”

“Nggak perlu repot-repot, Kai. Diamlah di kota ini dan nikmati status dan kejayaanmu selagi kau bisa,” balas Alceus dengan senyum sinis. Kemudian secara bergantian ia menunjuk Kaistern, Yust, dan terakhir Shiki. “Aku lah yang akan datang dan memburu kalian bertiga, dimulai dari kau, macan penipu.”

“Begitu? Yah, aku sangat menyayangkan hal ini terjadi, karena kau adalah teman baik adikku,” jawab Shiki dengan ketenangan seperti biasanya. “Tapi kalau itu yang kau inginkan, maka dengan senang hati aku akan melayanimu. Seperti yang Kaistern bilang, kau sekarang adalah ancaman bagi Acronia, dan tugasku lah untuk menghentikanmu.”

“Bagus, nantikanlah saat itu.”

Alceus melirik gadis berambut biru di sebelahnya dan mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa ia telah selesai. Dan bersamaan dengan ucapan ‘Invisible!’ dari si perempuan itu, tubuh mereka bertiga pun lenyap dari pandangan.

Sementara semua orang langsung ribut mencari Alceus dan dua orang Spelluser yang bersamanya, Yust hanya bisa melihat tempat berdiri temannya yang kini sudah hilang. Ia tidak memiliki kemantapan hati seperti Kaistern dan Shiki dalam hal ini. Diliputi perasaan yang rumit, ia terus mencoba meyakinkan dirinya kalau tindakannya tidak salah. “Kuharap.. aku melakukan hal yang benar..”


~ * ~

Magdaleine yang menyaksikan kejadian itu segera kembali ke Guild Palace dengan rasa jengkel. “Dasar bodoh. Apa mereka buta dan nggak bisa melihat mana yang benar dan salah?! Sekilas juga bisa kelihatan dia bohong atau nggak.”

“Itu karena kita melihatnya dari sudut pandang netral, Magda, sebagai orang luar,” kata Seto yang telah menunggunya di dalam Guild Palace dengan Lien di sampingnya. “Tapi karena itu juga, kita nggak bisa ikut campur masalah ini.”

“Seto..”

“Aku tahu yang kau pikirkan, Magda, tapi kita punya urusan lain. Aku harap kau tetap di sini sampai aku kembali, lalu kita bisa melaksanakan niatmu itu.”

“Yah, kamu sudah bilang soal pergi dengan Lien, tapi itu terlalu lama. Aku akan pergi sendiri,” jawab Magdaleine tegas.

Seto melirik ke arah Lien, berharap ia bisa membantunya meyakinkan Magdaleine sebagaimana ia meyakinkannya saat perebutan Acropolis. Tapi Gunner itu hanya berjalan ke luar Guild Palace dan memandang keempat Acropolis Plains secara bergantian dengan matanya yang tajam.

“Timur. Setidaknya bawalah Bia untuk menemanimu,” seru Lien sembari memberikan secarik kertas pada Magdaleine, yang diikuti helaan nafas dari Seto.

“Oke, makasih, Lien. Aku akan membangunkan dan memberitahu Bia soal ini,” tukas Magdaleine. “Seto, Lien, kalian hati-hati juga ya. Terutama kau, Seto. Aku malas menjelaskan pada ibu kalau kau mati.” Selesai berkata begitu, sang putri pun berlari ke lantai atas Guild Palace.
« Last Edit: November 23, 2010, 04:12:01 PM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter16]
« Reply #17 on: December 15, 2010, 08:43:53 AM »
A little note of mine. . .

    chapter16, the final chapter of the second arc..
    silahkan dinikmati~ :sing:
    jangan lupa kripik saran~ XD

    @chievo & nomoremercy
    bisa PMin gambar/ciri dan personality charnya? :D


Disclaimer:

    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.




“Shiki.”

Suara khas milik Tita memanggil nama pria di hadapannya. Suara yang biasa terdengar merdu dan indah, kini dipenuhi nada kemarahan. Namun lawan bicaranya itu hanya duduk santai di pinggir danau Undine tanpa memerdulikan panggilan yang ditujukan pada dirinya.

“Aku bertanya padamu, Shiki, jadi jawab aku! Apa yang telah kamu lakukan? Tiny memberitahukanku semua yang terjadi tadi pagi. Kamu menyerang Acropolis, menyerang putri Northern Kingdom, dan sekarang memfitnah Alceus? Kamu sadar yang kamu lakukan?!”

Shiki hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan danau. “Aku melakukan apa yang kuanggap benar dan terbaik.”

“Apanya yang terbaik?! Kamu bilang kamu ingin membujuk Alceus agar membantu kita. Tapi yang kamu lakukan malah membuatnya memusuhi Acropolis!” balas Tita.

“Aku nggak bilang akan membujuknya.”

“Lalu?” tanya Tita tidak mengerti. “Apa maksudmu sebenarnya?”

Shiki tersenyum lebar sembari bangkit dari duduknya. “Yang kukatakan padamu, Alceus akan membantu kita. Dan sekarang dia sudah nggak punya ikatan apapun dengan Acropolis, maka dia akan bisa bertindak lebih bebas. Walaupun ia sekarang musuh kita, tapi ia tetap musuh DEM, dan ia bisa menggunakan apapun yang diinginkannya untuk menghentikan mereka.”

“Kamu.. yakin ia akan melakukan itu? Apa dia nggak akan malah bergabung dengan DEM?”

“Yakin. Tenang saja, Tita, aku sudah memperhitungkan semuanya. Kalau yang kau ceritakan tentang Alceus itu benar, maka dia akan mengganggap DEM sebagai penghalang, dan memusnahkannya sebelum ia memburu kita.”

“Lalu, apa maksudmu menyerang putri Northern Kingdom dan Acropolis? Bukankah banyak orang kehilangan nyawanya karena perbuatanmu itu?”

“Kita nggak mungkin menyelamatkan semua tanpa ada pengorbanan sedikitpun, Tita. Demi menyelamatkan banyak orang, sebagian kecil harus berkorban.”

“Dan kamu mengorbankan orang-orang itu begitu saja?” tanya Tita yang semakin heran. “Aku nggak mengerti. Kamu yang dulu kukenal bukanlah orang yang akan melakukan ini semua.”

Shiki menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau nggak mengerti pun nggak apa-apa. Dengan kondisimu itu, jadilah penonton yang baik.” Ia kemudian menepuk bahu Tita dengan lembut, sambil membisikkan sesuatu pada Titania itu. “Apapun yang kulakukan, ini demi kebaikan Acronia. Percayalah padaku.”

~ * ~

“Begitu ceritanya, Tiny. Jadi kuharap kamu nggak mogok membawaku ke Tiny Island. Tenang saja, aku nggak akan berbuat hal yang kelewatan kok,” jelas Shiki pada Tiny yang baru saja mengantarnya kembali dari Tiny Island.

“Aku tidak suka perbuatanmu, tapi kalau Tita masih bisa menolerir perbuatanmu, kuarasa aku harus bisa juga,” jawab makhluk berbentuk boneka beruang itu.

“Kak Shiki!”

Panggilan namanya yang tiba-tiba membuat Shiki menoleh. Ia melihat adik angkatnya tengah berlari ke arahnya dengan wajah panik. “Ada apa?”

“Kak Shiki.. Kakak melihat Putri Magdaleine?” tanya Yust yang terengah-engah. Nafasnya tak teratur, dan keringat pun membasahi wajahnya.

Shiki mengernyitkan dahinya. “Putri Northern Kingdom itu? Aku belum bertemu dengannya sejak aku sampai di Acropolis, tapi kudengar dia diberi kamar di Guild Palace.”

“Itulah masalahnya..” kata Yust yang mulai bisa mengatur nafasnya. “Dia menghilang. Knight yang datang bersamanya, dan dua orang dari Tonka yang datang bersama Kaistern, mereka juga ikut menghilang. Dan melihat barang-barang mereka yang nggak ada, kelihatannya mereka sudah pergi dari Acropolis..”

“Pergi?!” tanya Shiki tak percaya. Di saat Alceus sudah bergerak sesuai keinginannya, sekarang malah putri Northern Kingdom itu yang mengacaukan rencananya. “Kenapa?”

“Entahlah.. Mereka pergi tanpa bilang apapun,” jawab Yust sembari mengangkat bahunya. Ia kemudian berbalik dan bergumam pelan, “Sial.. kalau begini Armageddon akan dijalankan oleh si sialan itu..”

Shiki termenung sesaat. Walau ia tidak bisa mendengar kata-kata Yust dengan jelas, tapi ia paham yang adiknya itu katakan. Tanpa pewaris darah bangsawan Northern Kingdom, cara yang tersisa hanyalah mengaktifkan Armageddon Mode atau menunggu tindakan Alceus selanjutnya. Tapi ia tidak mungkin hanya menunggu orang lain bergerak. Memang, 90% Alceus akan membantu, tapi ia tidak bisa menjamin dengan adanya 10% kemungkinan semua akan berantakan. Dan yang paling penting, ia tidak tahu kapan para DEM akan bangkit sepenuhnya.

“Masih ada waktu, Yust,” kata Shiki tiba-tiba dengan nada tenang. “Yang kau katakan itu, Armageddon atau apapun, kau nggak ingin itu terjadi kan? Dan dari yang kutangkap, hal itu nggak akan terjadi kalau kita bisa menemukan tuan putri itu, benar?”

Yust terkejut mendengar kata-kata Shiki. Ia tidak menyangka Shiki mendengar kata-katanya, karena itu seharusnya rahasia. “Eh.. iya.. kurasa itu benar.” Tapi mungkin, kalau dengan Shiki yang selama ini terbukti bisa diandalkan, semua akan baik-baik saja.

Shiki tersenyum, sembari kembali memainkan peran orang yang tidak tahu apa-apa. “Ceritakan padaku tentang masalah itu. Percayalah, aku pasti akan membantu sebisaku."



Chapter 16: Trust

“Tuan Putri, memangnya dia itu siapa sih? Kok kita ikuti?” tanya Biaxident yang dari tadi berlari mengikuti Magdaleine.

Terus terang, gadis pecinta mesin itu tidak mengerti apapun yang terjadi saat ini. Pagi-pagi sekali, ia sudah dibangunkan oleh sang Putri Northern Kingdom, yang kemudian memberikan sepucuk surat tulisan tangan Lien. Isinya adalah minta ijin –atau mungkin lebih tepat disebut sekedar formalitas pemberitahuan— untuk meminjam Airship miliknya untuk satu dua hari, dan ia disuruh menemani Putri Magdaleine selama ia pergi.

Sekarang, sang putri dan bodyguard-nya itu berlari mengikuti jalan setapak yang akan membawa mereka ke East Cape. Orang yang mereka ikuti masih belum terlihat, namun hanya inilah jalan yang mungkin mereka tempuh berdasarkan petunjuk Lien.

Biaxident hanya menatap Magdaleine yang diam saja tanpa menjawab pertanyaannya. Mungkin seharusnya dia diam saja, apalagi dengan perbedaan status keduanya yang jauh berbeda. Tapi keingintahuannya mengalahkan perasaan itu.

“Tuan Pu—”

“Akan kujelaskan nanti, Bia. Sekarang yang penting kita nggak kehilangan jejak mereka dulu,” jawab Magdaleine dengan cepat. “Intinya, dia.. uhh.. orang biasa yang nggak berguna dan menyusahkan, tapi mendapat hukuman yang tidak semestinya karena suatu salah paham. Kamu mengerti, Bia?”
Suasana hening, tanpa ada jawaban atau konfirmasi dari perempuan yang berlari di belakangnya. Magdaleine juga merasakan kalau sosok gadis berambut merah itu semakin jauh, seolah tertinggal. Penasaran, Ia pun berhenti dan berbalik. “Bia?”

Raut muka Magdaleine berubah. Matanya terbelalak melihat Biaxident yang kini diam tak bergerak. Sekujur tubuhnya kaku, sementara mulutnya berusaha mengucapkan sesuatu dengan suara yang tak kunjung keluar.

“Bia?!”

“Percuma saja,” seru suara yang berasal dari balik pohon. Wanita pemilik suara itu kemudian menunjukkan dirinya dan melangkah ke arah Biaxident yang masih membatu. Dia adalah wanita yang sama dengan yang ada di Uptown pagi itu. “Nggak bisa bergerak karena Petrify, bagaimana rasanya terkena Energy Infect-ku, nona kecil?” Tidak mendapat jawaban apapun dari perempuan yang ia tanya, ia pun melanjutkan, “Ah maaf, aku lupa kalau kamu nggak bisa jawab karena terkena Silence juga.”

“Kamu.. Spelluser.. Sorcerer ya?” geram Magdaleine.

“Sage lebih tepatnya,” jawab Spelluser tersebut itu sambil tersenyum. “Aku lebih suka disebut sebagai orang bijak daripada penyihir.”

Magdaleine mempererat genggamam cambuk di tangan kanannya sembari maju perlahan. “Aku nggak tahu apa yang kamu lakukan pada Bia, tapi akan kubuat kamu melepaskan—”

“Ablation!”

Tiba-tiba saja Magdaleine merasakan rasa dingin menyerang kakinya. Ia melirik ke bawah dan mendapati es telah membekukan sebelah kakinya, dan semakin menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Ia berusaha bergerak supaya es itu tidak menjalar lebih jauh, tapi percuma. Tubuhnya terasa berat, seolah ia bergerak dalam slow-motion.

“Dan kamu pikir aku akan membiarkanmu begitu saja, Tuan Putri?” seru wanita yang muncul tiba-tiba dan kini berdiri di samping Sage temannya. “Nah, sekarang bagaimana kalau kalian katakan maksud kalian mengikuti kami?”

“Ja..ngan ber..can..da..”

Si Sage menoleh ke arah suara yang terputus-putus itu, dan memandang Biaxident dengan rasa kagum. “Wow, efek Silence-nya mulai habis ya. Yah, efek sihir-sihir seperti ini memang biasanya susah kena sepenuhnya pada orang cerdas dan berinteligensi tinggi, dan sepertinya kamu termasuk orang-orang seperti itu ya, nona kecil?”

Agak kontras dengan rekannya, Spelluser kegelapan berambut jingga itu menatap Biaxident dengan tatapan heran. Ia yakin, sihir rekannya itu masih lebih dari cukup untuk membatukan lawannya. Tapi kelihatannya beberapa bagian tubuh Biaxident telah lepas dari pengaruh Petrify yang diberikan temannya itu. Keheranannya berubah menjadi keterkejutan saat mendapati tangan Biaxident yang tadi membatu, kini memegang sebuah benda seperti remot kontrol. “H-Hei! Apa yang mau kamu la—”

“Jangan.. remehkan aku! Maju, Akai!!”

Sebuah suara mesin menggema di angkasa. Seiring dengan suara yang semakin mendekat itu, muncul lah sebuah sosok robot berwarna merah yang terbang mendekat, kemudian mendarat tidak jauh dari keempat permpuan itu. Begitu kaki robot merah itu menyentuh tanah, sebuah sinar biru keluar dari tangan robot tersebut dan menyambar kedua Spelluser yang masih terkejut itu.

Menghadapi serangan yang tiba-tiba, dengan cepat kedua Spelluser tadi melompat menghindar. Namun sayang, mereka tidak cukup cepat untuk menghindar sepenuhnya. Kaki mereka tersambar, dan perlahan es yang menjalar menyergap keduanya, persis seperti nasib yang dialami Magdaleine.

“K-kau!!” geram si Sage.

“Heh, ternyata kalian biasa saja, ya,” kata Magdaleine dengan senyum sinis dan nada merendahkan. Es yang menjalari tubuhnya kini telah berhenti di leher dan hanya menyisakan kepalanya. “Sekarang kita impas, dan kita lihat siapa yang akan bebas duluan. Kalian, atau kami yang sudah terkena lebih dulu?”

Si Necromancer berambut jingga mendelik marah kepada Magdaleine. Bajunya yang tadinya juga berwarna jingga, kini telah murni menjadi biru karena es yang telah menutupi tubuhnya. “Uhh.. lihat saja, ini bukan berarti kalian sudah menang.”

“Hehe.. Dan aku masih punya beberapa trik lainnya,” tukas Biaxident dengan senyum kemenangan di bibirnya melihat es di tubuh kedua lawannya mulai menjalar ke rambut mereka. Tubuhnya sendiri pun masih kaku, tapi jari-jari tangannya sudah bisa leluasa digunakan untuk menggunakan remot yang ada di tangannya.

Tapi belum sempat jari Biaxident menyentuh tombol apapun, sesuatu memukul tangannya dengan cepat hingga remot itu terpental. Spontan, semua pandangan teralihkan pada remot yang kini melayang dan berputar di udara, sampai akhirnya benda itu mendarat di tangan seorang pria berambut emas.

“Benar-benar sebuah mainan yang berbahaya. Karenanya, akan kusita benda ini,” kata pria itu sembari tertawa kecil.

“Alceus!” teriak Magdaleine. “Hei, kita perlu bicara! Cepat lepaskan kami dan suruh kedua perempuanmu itu mundur!”

Alceus melirik perempuan yang memanggilnya itu dengan kerutan di dahinya. “Wow, seorang Tuan Putri Northern Kingdom ingin bicara padaku? Sungguh suatu kehormatan. Tapi kupikir nggak ada keharusan untuk mendengarkanmu. Lagipula nggak peduli siapa kau, harusnya kau meminta dengan lebih halus lagi, Tuan Putri.”

Dahi Magdaleine mengernyit. Kekesalannya makin memuncak, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan dalam kondisi beku seperti itu. “Aku nggak mengerti maksudmu. Menurutku itu sudah halus kok!”

“Duh, susah juga ya bicara dengan orang bangsawan sepertimu,” seru Alceus sambil menggelengkan kepalanya. “Misalnya seperti, ‘Oh Alceus yang hebat, izinkanlah hamba mengatakan sesuatu pada Anda.’.”

“I-itu nggak mungkin kan?! Lebih baik aku mati daripada bicara seperti itu!” teriak Magdaleine dengan muka merah. Meteran kekesalannya kini telah melampaui batas.

“Ya sudah kalau itu maumu.” Alceus mengeluarkan dua botol cairan berwarna hijau dari sakunya, dan kemudian meminumkannya pada dua orang Spelluser yang membawanya pergi dari Acropolis. Ajaib, tiba-tiba saja es yang menyelimuti tubuh kedua gadis itu langsung mencair.

Sekali lagi, keadaan menjadi tidak menguntungkan bagi Magdaleine dan Biaxident. Kedua Spelluser itu kini bisa saja memperbarui sihir mereka sesuka hati, itu pun kalau mereka memutuskan untuk tidak menghabisi mereka.

“Jadi bagaimana, Tuan Putri?”

Magdaleine menggeram. Belum pernah rasanya ia dipermalukan seperti itu dalam hidupnya. “Cih, terserahlah! Aku cuma perlu mengatakannya saja kan?” Gadis itu menarik nafas dalam-dalam sembari menelan ludahnya. “Alceus yang he.. he..”

“Aku nggak bisa mendengarmu, Tuan Putri,” seru Alceus dengan nada riang.

Magdaleine menghela nafas. Kulit wajahnya kini sangat merah, hasil campuran atas malu dan marah. “Aku bersumpah, Alceus, kamu akan menyesal. Aku nggak akan memaafkanmu. Walau aku mati pun, arwahku akan terus mengganggumu!”

Alceus tertawa. “Oh, kau ingin terus bersamaku bahkan setelah mati pun? That’s so sweet, Tuan Putri.”

“Kau!” Sekali lagi, Magdaleine menghela nafas dan mempersiapkan dirinya. “Alceus yang he.. heba—”

Tiba-tiba saja Ranger berambut emas itu menjejalkan botol hijau ke mulut sang putri, memaksanya meminum cairan yang sama dengan kedua Spelluser tadi. Seketika itu juga, es yang membungkus tubuh bangsawan itu mencair dan menjadi genangan air di kakinya.

“Sudah cukup, nggak perlu kau selesaikan kok. Aku sudah puas melihat reaksimu itu. Lagipula aku sendiri yang repot kalau arwahmu nanti menggangguku,” potong Alceus sembari tertawa. Ia kemudian memberikan sebuah botol hijau itu lagi kepada Sage di sampingnya, dan menyuruhnya untuk memberikan obat itu pada Biaxident. “Jadi, apa yang membawamu ke sini?”

Magdaleine tidak segera menjawab. Ia hanya memandang lawan bicaranya itu dengan tatapan penuh kebencian selama beberapa detik. Sampai akhirnya, ia pun membuka mulutnya, “Mungkin Kaistern dan Yust benar, kamu memang orang brengsek!”

“Oh, kau mengejarku sampai sini hanya untuk mengatakan hal itu?”

“Ya. Setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku yakin kamu benar-benar orang brengsek,” teriak Magdaleine dengan nada yang semakin tinggi. Tapi setelahnya, ia menghela nafas dan memalihkan pandangannya. “Setidaknya itu yang kurasakan dan ingin kukatakan saat ini. Tapi sayangnya, aku tahu kamu nggak salah dalam kejadian di Uptown itu. Kamu bukan yang pertama menyerang kakak Yust itu, kan?”

Alceus terdiam beberapa saat. Pikirannya kembali menerawang setiap kejadian dan perkataan yang terjadi di Uptown pagi itu. “Memang apa bedanya? Mau aku yang menyerang, atau pun aku yang diserang, nggak ada bedanya, kan? Mereka sama-sama nggak percaya padaku.”

“Mungkin ini hanya insting, tapi aku merasakan aura nggak enak dari orang itu. Perasaan sama dengan yang kurasakan saat pria bertopeng harimau itu menyerangku,” lanjut Magdaleine. “Mereka mungkin nggak percaya, tapi aku percaya padamu.”

“Terus?” tanya Alceus dingin. “Memangnya apa yang berubah kalau kau percaya padaku atau pun nggak?”

“Aku akan membantu menjelaskan pada mereka. Karena itu, ayo kita kembali ke Acropolis.”

Mendengar kata-kata itu, Alceus tertawa. “Seorang putri sepertimu, memikirkan masalah orang sepertiku sejauh ini? Trik macam apa yang sedang kau mainkan, Tuan Putri?”

“Trik? Yang benar saja!” Magdaleine kembali terdiam. Matanya memandang satu persatu semua orang yang ada di sana, mulai dari kedua Spelluser yang menyerangnya, Biaxident yang memandangnya dengan wajah serius, sampai akhirnya kembali kepada Alceus. “Aku nggak sedang memainkan trik apa pun, tapi kurasa nggak ada salahnya kan? Aku hanya.. membela mana yang benar.”

“Tapi nggak perlu sampai repot-repot menyusulku kan? Atau jangan-jangan kau suka padaku ya, Tuan Putri?” celetuk Alceus dengan gaya terkejut, seperti melihat petir di siang hari.

“Sembarangan!” Kepalan tangan kanan Magdaleine tiba-tiba saja mendarat di ulu hati Alceus, memaksa pria itu jatuh berlutut di depannya. Melihat hal itu, kedua Spelluser tadi bersiaga, namun Alceus memberi isyarat untuk tetap tenang.

“Ahaha, aku hanya bercanda kok,” jawab Alceus sembari menurunkan isyarat tangannya dan berusaha berdiri.

“Ya intinya, aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar,” lanjut Magdaleine sembari menyilangkan kedua tangannya. “Lagipula, kamu pasti berguna karena kamu tahu tentang pria yang katanya kakaknya Yust itu. Jangan lupa, dia orang yang menyerangku, dan berarti punya maksud buruk pada Northern Kingdom!”

“Dan dia juga yang menyerang Acropolis,” lanjut Alceus.

“Eh? Itu juga ulahnya?” tanya Magdaleine tak percaya. Setelah mendapat anggukan dari Alceus sebagai konfirmasi, ia melanjutkan, “Kalau begitu semakin bahaya. Kita nggak bisa membiarkan orang seperti itu berkeliaran dengan bebas di Acropolis! Ayo kita kembali ke sana!”

“Nggak,” jawab Alceus singkat. “Aku setuju dia orang yang berbahaya, tapi aku nggak akan kembali ke sana. Masa bodoh dengan Acropolis, Kaistern, dan Yust. Akan kubuat mereka menyesal nggak memercayaiku.”

Magdaleine memandang tajam ke mata pria berambut emas di hadapannya. “Nggak disangka, kamu ini keras kepala juga, ya.”

“Bah, aku nggak mau mendengar hal itu darimu, dasar putri keras kepala.” Alceus kemudian berbalik dan memandang Acropolis di kejauhan. “Aku.. nggak mau ke sana. Bagaimana kalau kau saja yang ikut bersamaku, Magdaleine?”

“Eh?”

“Ada apa?”

“Ng-nggak. Bukan apa-apa” jawab Magdaleine sembari mengalihkan pandangannya ke arah Biaxident. “Bagaimana, Bia?”

Biaxident tersenyum dan mengangguk. “Terserah Tuan Putri. Toh Kak Lien dan Kak Seto nggak akan kembali dalam waktu dekat, jadi aku, sebagai bodyguard Tuan Putri, akan mengikuti dan menjaga Anda,” jawabnya sambil berjalan mendekati Magdaleine.

“Oke kalau begitu. Jadi untuk sementara kita akan meninggalkan Acropolis. Lagipula berada sekota dengan pria  yang menyerangku itu akan terasa menyebalkan,” lanjut Magdaleine. “Oh ya, Bia, kamu juga nggak perlu memanggilku dengan ‘Tuan Putri’ lagi. Lagipula si bodoh itu juga sudah begitu.”

“Serius? Oke kalau begitu, Kak Magda.”

Kedua Spelluser yang dari tadi diam, akhirnya bergerak mendekati Magdaleine dan Biaxident. “Berhubung dia sudah mengakui kalian, maka kami harap kita bisa melupakan hal yang terjadi barusan,” kata mereka berdua bersamaan dengan ramah. “Selamat datang di kelompok kami, Magdaleine dan Bia.”

“Terima kasih,” seru Biaxident dengan senyum yang agak sedikit dipaksakan. Terus terang, tidak semudah itu melupakan apa yang terjadi. Tapi kalau itu situasinya, apa boleh buat. Kemudia sesuatu dari Sage mantan lawannnya menarik perhatiannya. “Eh, rambutmu?”

Diajukan pertanyaan seperti itu, si Sage melirik rambut panjangnya dengan wajah penasaran. Warna biru yang sebelumnya menghiasi tiap helainya berubah menjadi kehitaman. “Ah, ini.. Kemarin aku mencoba cat rambut biru yang kubeli di toko. Tapi karena pertempuran tadi, kelihatannya catnya memudar.”

“Oh, maaf.. Pasti gara-gara Freezing Laser dari Akai,” kata Biaxident pelan.

“Nggak apa-apa, nggak usah dipikirkan,” jawab Dominion pengguna New Magic itu. “Lagipula, sepertinya rambut hitam lebih cocok denganku.”

"Begitu ya.. Iya juga sih,” lanjut Biaxident sembari mengangguk dan memerhatikan rambut hitam Sage tersebut, lalu menoleh kea rah Alceus. “Ngomong-ngomong, kita ke mana sekarang?”

Alceus berbalik dan berjalan ke arah East Cape,kota kecil yang menjadi perbatasan antara Acropolis dan Fareast Republic. “Kastil di selatan ibu kota Fareast.”

~ * ~

Sementara itu, jauh di bagian barat Acronia, tepatnya di lantai atas sebuah bangunan tua yang menjulang tinggi ke angkasa, terdengar suara desingan peluru dan pertempuran yang sengit. Bangkai-bangkai robot bergelimpangan di mana-mana. Sebuah kartu melesat membelah angin, dan menancapkan dirinya di satu robot yang terakhir. Robot itu jauh lebih kuat dari robot-robot yang telah menjadi mesin rongsokan di sekitarnya. Robot itu istimewa, tidak hanya dari kekuatannya, namun dari bentuk yang tidak seperti robot-robot lainnya.

“Seperti dugaan.. Para robot itu telah aktif kembali.. Melanjutkan ke lantai lebih atas dari ini akan lebih berbahaya. Kita harus segera kembali,” tukas seorang perempuan berambut merah  panjang sembari menempelkan First Aid pada lukanya sendiri. “Tapi aku masih nggak mengerti. Mereka seharusnya tersegel di Mai-Mai Ruins. Tapi kenapa.. kenapa DEM ada di sini?!”

« Last Edit: December 15, 2010, 08:51:35 PM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter17]
« Reply #18 on: December 31, 2010, 11:34:17 AM »
A little note of mine. . .
    @conrad
    wah, kalo bener dijadiin film mah.. terlalu keren itu XD
    tp rasanya blm cukup lv ku buat gitu XD

    eniwei, ini chapter 17, slamat menikmati.
    maaf bila ada yg gak puas dg characternya. kalo misal menganggap terlalu dikit peran, tenang aja, kedepan pasti gede kok.
    soalnya gak ada yg namanya char sampingan/figuran di crita ini XD (walo ada char yg lbh utama =P )


Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.



“Bey..”

Mendengar seseorang memanggil namanya, kesadaran perempuan itu mulai kembali. Namun di hadapannya masih kegelapan yang tak berujung. ‘Siapa..?’

“Bey.. Ayo bangun..”

Sekali lagi dia mendengar namanya dipanggil, kali ini disertai guncangan tubuhnya. Secara perlahan, fungsi kelima indranya mulai kembali. Walau belum pulih sepenuhnya, ia sudah bisa melihat bayangan orang yang memanggilnya.

“Beyreiss! Ayolah, jangan tinggalkan aku!”

“Uhh..” Setelah panggilan yang ketiga kalinya, akhirnya wanita yang dipanggil Beyreiss itu membuka matanya dan melihat dua pria yang memanggilnya dengan jelas. “Seto..? Dan Lien..?”

“Ah, syukurlah kau masih hidup!” teriak Seto sembari memeluk tubuh Beyreiss yang tergeletak di tanah dengan erat. “Aku nggak tahu harus menjalani hidup seperti apa kalau kau mati, Bey sayang..”

“A-aw! Seto! Badanku sakit semua nih!” balasnya sambil berusaha melepaskan dii dari pelukan Seto. Setelah dengan susah payah lolos dan dengan nafas terengah-engah, ia pun melirik Seto –yang berlinang air mata— dan Lien yang menatap dirinya dengan tenang di samping Seto. “Ada apa sih memangnya?”

“Ada apa?” tanya Lien mengulangi pertanyaan Beyreiss. “Harusnya itu yang kami tanyakan, Bey. Apa yang terjadi? Mana yang lain?”

“Eh?” Beyreiss mengernyitkan dahinya tak mengerti. Pemandangan di balik Seto dan Lien kemudian menyita perhatiannya, yang membuatnya memerhatikan keadaan sekelilingnya. Bekas pertempuran dan bangkai robot di mana-mana. Juga tubuhnya yang penuh luka yang hanya ditempeli First Aid.  “Tempat ini..?”

“Light Tower, menara A lantai 8. Saat kami datang, kau tengah dikejar-kejar Foxhound dan Gigant. Kami mencoba menolong, tapi kau kemudian pingsan,” jelas Seto meringkas kejadian yang dilihatnya setelah selesai menyeka air matanya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Seharusnya levelmu jauh lebih dari cukup untuk membereskan robot-robot itu dengan mudah, kan? Bahkan seandainya ada Killer Machine pun—”

“Bukan Killer Machine,” potong Beyreiss yang kini menundukkan wajahnya. Di kepalanya terbayang kejadian menakutkan yang terjadi beberapa waktu lalu. “Yang ada di sana bukan hanya Killer Machine, tapi juga.. DEM. Yang lain mati di hadapanku.. dan aku.. kurasa aku satu-satunya yang selamat.”

“DEM?!” teriak Seto dan Lien berbarengan dengan nada tak percaya.

“Seharusnya mereka masih terkurung di Mai-Mai Ruins.. Apa segelnya sudah terlepas? Bahkan segel dari ratu?! Terlebih lagi, mereka ada di sini? Untuk ke sini? Melintasi benua Acronia dari tenggara ke ujung barat?” lanjut Seto dengan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepalanya.

Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening. Ketiga orang yang ada di sana memiliki perasaan yang sama, kebingungan akan apa yang telah terjadi dan harus mereka lakukan selanjutnya. Sang Gunner menatap tangga menuju lantai atas dengan geram, sementara si Knight hanya memandang wanita yang terlihat depresi di depannya.

“Hanya ada satu cara untuk menjawab semua ini kurasa,” tukas Seto memecah keheningan. “Kita harus kembali ke Northern Kingdom ddan bertanya langsung pada ratu.”

Lien mengangguk. Sebenarnya ia ingin melihat sendiri apa yang ada di puncak menara itu dengan mata kepalanya sendiri, tapi ia tahu apa yang dikatakan Seto adalah yang terbaik. Lagipula kalau benar para DEM ada di atas sana, mustahil bisa melawan hanya dengan bertiga. Karena ia tahu, Beyreiss dan yang lainnya –yang ditaklukkan dengan telak— masing-masing memiliki kemampuan yang kurang lebih setara dengan Seto dan dirinya.

“Kau bisa berjalan, Bey?” tanya Seto yang tengah membantu perempuat berambut merah itu untuk berdiri. “Aku bisa menggendongmu sampai Airship kalau kau mau.”

“Nggak usah, nggak apa-apa,” tolak Beyreiss dengan lembut. “Aku belum selemah itu kok. Segini saja.. belum bisa menghentikanku.”



Chapter 17: The Castle of the Dead

Undead Castle, beberapa hari yang lalu.

“Kelihatannya kau sudah sadar ya?”

Alceus membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya terbaring di sebuah kasur. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, ia segera bangun dan memerhatikan sekelilingnya. Sebuah kamar yang kelihatan tua, namun cukup terawat, seakan baru dibersihkan akhir-akhir ini.

Seseorang yang duduk di atas meja kemudian menarik perhatiannya. Orang tersebut mengenakan pakaian yang serba hitam, cukup kontras dengan rambut yang tiap helainya berwarna putih keperakan. Tidak jauh darinya, tampak sebuah busur yang terbuat dari tulang dan beberapa sisik naga tersender di tembok.

“Kau..” seru Alceus pelan sembari berusaha mengingat apa yang terjadi. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia mengejar Masha dari kamar putri Northern Kingdom, kemudian berbicara dengan gadis itu di pinggiran kota, lalu.. “Ah, aku ingat! Seseorang menyerangku..”

“Benar,” kata orang tersebut singkat.

Alceus mengamati pria di hadapannya dengan hati-hati. Sorot matanya pindah bergantian antara lawan bicaranya dengan busurnya. “Kau.. pemanah yang menyerangku ya?”

“Benar,” jawab orang tersebut, lagi-lagi dengan singkat.

“Jadi.. apa maumu membawaku ke sini?” tanya Alceus tajam sambil berusaha mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata.

“Karena itu tugasku,” jawab orang tersebut dengan dingin, dan singkat seperti sebelumnya. Menyadari wajah Alceus yang tampak tidak puas terhadap jawabannya, pria itu kemudian bangkit dan mendekatinya. “Setidaknya itu yang mereka katakan.”

“Mereka?”

Belum sempat pertanyaannya mendapat jawaban, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka. Tiga orang wanita yang kurang lebih seumuran dengannya menyerbu. Dua dari mereka langsung duduk di tempat tidur Ranger itu, sementara yang seorang lagi hanya berdiri di samping sang pemanah.

“Wah, akhirnya dia sadar ya!” seru salah seorang yang duduk di sampingnya dengan nada senang. Penampilan perempuan itu seolah bertema jingga, mulai dari warna rambut, hingga baju yang ia kenakan. Hanya sayap Titania di punggungnya dan kaus kakinya yang berwarna putih.

“Ya. Hampir saja aku memotong gajinya karena kukira kamu mati,” kata wanita berambut hitam panjang sembari menunjuk si pemanah dengan ibu jarinya.

“Kau bahkan nggak membayarku,” sanggah sang pemanah dengan nada santai. “Sudah untung aku memberi gratisan karena kita teman lama. Kalau nggak, bayaranku akan sangat mahal, tahu, lebih mahal dari para Mercenary-Mercenary di Enigma lainnya.”

“Aku nggak terlalu peduli soal itu, mau dia hidup atau nggak, yang penting kita berhasil menemukannya,” tukas wanita di samping pemanah itu. Wanita terakhir yang akhirnya membuka mulutnya itu mengenakan hakama merah-putih dengan rambut panjang berwarna ungu terang menghiasi kepalanya.

“Wah, padahal kamu salah satu yang paling panik gara-gara dia nggak bangun-bangun kan? Kamu juga langsung buru-buru ke sini bersama kami saat mendengar dia bangun,” kata perempuan berambut hitam tadi.

“Kata siapa? Aku.. cuma sedikit penasaran saja. Lagipula aku ke sini cepat-cepat karena kalian tarik,” jawab perempuan berambut ungu tadi sembari mencoba menyanggah.

Sementara itu, Alceus hanya bisa memandang tiap orang yang ada di ruangan tersebut, mulai dari satu-satunya Titania di ruangan itu, lalu kedua wanita Dominion, dan terakhir kembali pada sang Dominion pemanah.  Suasana tegang yang dirasakannya beberapa saat lalu tiba-tiba mencair seiring datangnya tiga wanita tersebut, dan membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Ehem!” Suara sang korban penculikan itu membuat perhatian semua yang ada di sana kembali padanya. “Aku nggak begitu mengerti, tapi yang kutahu adalah kalian menculikku. Jadi, bisa katakan maksud kalian, atau aku akan segera pergi dari sini,” tegasnya sementara matanya terus mencari celah agar bisa melarikan diri dari ‘kepungan’ tersebut.

“Menculik?” tanya wanita berambut jingga dengan kernyitan heran di dahinya. “Kami nggak menculikmu. Kami menyelamatkanmu. Kalau nggak, kamu pasti terseret dalam masalah besar yang berbahaya.”

“Masalah? Masalah apa? Memangnya kalian ini siapa?” tanya Alceus lagi.

“Nggak pernah ada yang ‘bukan masalah besar’ kalau berhubungan dengan orang-orang Acropolis, apalagi sampai melibatkan cucu ketua Guild Council seperti yang kamu lakukan,” lanjut wanita berambut hitam di sebelahnya. “Dan kami hanyalah orang-orang yang penasaran seperti apa pemilik rumah kosong di kota kami. Dan saat kami tanya kepada orang tua kami, katanya rumah itu milik sekeluarga yang bisa dibilang bangsawan, tapi si pewaris tunggal kabur dari rumah tersebut pada suatu hari. Dan sejak hari itu, rumah itu nggak berpenghuni.”

“Dan aku.. anak yang lari dari rumah itu? Maaf, tapi aku kehilangan ingatanku, jadi nggak begitu ingat soal itu,” tebak Alceus. ‘Wow, aku nggak pernah berpikir aku ini keluarga bangsawan.. Jadi penasaran bagaimana rasanya jadi orang kaya. Tapi kalau aku sampai lari dari rumah, pasti ada sesuatu..’

“Kurang lebih seperti itu,” lanjut perempuan tadi. “Kami penasaran dan akhirnya mencarimu. Perkenalkan, namaku Chocola, seorang Sage.”

Alceus memandang wanita yang dari tadi menjelaskan asal-usulnya dengan seksama. Sage dari ras Dominion, dilengkapi dengan pakaian serba hitam. “Wow.. Nggak kukira kau seorang Sage. Benar-benar beda dari para Sorcerer dan Sage yang suka kulihat di Acropolis. Kukira kau Assassin atau Necromancer..”

“Uhh, memang banyak yang mengiraku seperti itu,” jawab perempuan itu sembari mencibir. “Tapi aku ini Sage tulen loh!”

“Maaf, aku nggak bermaksud menyinggungmu kok,” lanjut Alceus. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Sage tersebut. “Lalu yang lain?”

“Namaku Furude Hanyuu, senang bertemu denganmu, Alceus,” jawab wanita berambut ungu yang kini telah duduk di sebuah kursi di samping meja. “Nggak seperti Choco, dari penampilanku seharusnya kamu sudah bisa menebak Job-ku kan?”

“Elementalist?” tebak Alceus, dan dijawab oleh anggukan Hanyuu.

“Nah, kalau yang itu, baru Necromancer. Bahkan saking hebatnya, dia sampai dijuluki Undead Princess, loh.” tukas Chocola sembari menunjuk wanita berambut jingga di sebelahnya dan tersenyum. “Lucunya, banyak yang mengira kalau aku yang Necro, dan dia yang Sage.”

“Seenaknya! Jangan panggil aku dengan julukan menyeramkan itu dong!” balas sang Necromancer sambil mencibir.

“Jadi.. siapa namamu?” tanya Alceus.

“Aku sudah lupa siapa namaku. Yah, sejak suatu insiden yang bahkan sudah kulupakan, aku sudah membuang nama pemberian orang tuaku itu jauh-jauh,” lanjut perempuan serba jingga tersebut. “Dan daripada dipanggil dengan julukan seram seperti Undead Princess, aku lebih suka dipanggil dengan julukan manis seperti Orange Princess.”

I see..” angguk Alceus pelan sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada si pemanah. “Dan kutebak, kau Archer.. atau mungkin Striker, kan?”

“Rey, Striker,” jawabnya lagi-lagi dengan singkat. “Mereka menyewaku untuk menemukanmu, dan sekarang tugasku selesai, kurasa aku akan pergi.”

“Tunggu, jangan pergi dulu dong!” kata Princess berusaha mencegah. “Lagipula, kau sendiri nganggur kan? Aku tahu kok kamu jarang dapat request, jadi lebih baik kamu ikut kami saja sampai dapat pekerjaan.”

Rey terdiam. Ia tidak suka apa yang dikatakan tentangnya, tapi harus ia akui kalau itu benar. Dan itu cukup untuk membuatnya membatalkan niat untuk meninggalkan ruangan tersebut.

“Jadi yang kusimpulkan.. kalian nggak berniat jahat. Aku berterima kasih atas niat dan sambutan baik kalian, tapi maaf, aku harus pergi. Ini masalah yang hanya bisa diselesaikan olehku,” tukas Alceus sembari bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu, seolah tak terjadi apa-apa. Namun belum jauh ia berjalan, sebuah batu besar muncul dari lantai dan menutupi pintu keluar.

“Maaf, tapi aku nggak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Kami nggak mau semua ini sia-sia,” seru Hanyuu yang menodongkan tongkatnya ke batu besar tersebut.

Alceus melirik satu persatu yang ada di ruangan tersebut yang memandangnya dengan pandangan seolah tak ingin ia pergi. Ia pun kemudian mempersiapkan kuda-kudanya. “Begitu. Aku nggak mau melawan orang baik seperti kalian, tapi kalau terpaksa, apa boleh buat.”

“Sudahlah,” kata Rey tiba-tiba. “Sebenarnya ini bukan urusanku, karena aku hanya Mercenary. Tapi aku tahu betul perasaan kalian. Biar saja dia pergi, toh nanti dia akan kembali dengan sendirinya. Bergaul dengan orang-orang Acropolis hanya akan membawa masalah.”

“Kamu yakin, Rey?” tanya Hanyuu tidak yakin.

“Yakin.”

“Kalau aku jadi kau, aku nggak akan seyakin itu,” tukas Alceus dengan pandangan tajam ke arah Rey. “Aku bahkan ragu akan kembali ke sini lagi, atau bertemu kalian lagi. Dan kuingatkan, jangan hina teman-temanku!”

“Kalau begitu kita lihat saja nanti,” jawab Rey sambil memberi isyarat mata pada Hanyuu. Melihat itu, Hanyuu pun dengan berat hati membatalkan magic Stone Wall-nya dan membiarkan Alceus yang tidak berkata sepatah kata pun melewati pintu.

“Ngomong-ngomong, Hanyuu,” kata Chocola yang berjalan mendekati temannya itu dan menunjuk ke lantai, “nanti kamu harus perbaiki lantai yang rusak gara-gara magic-mu ini ya.”


~ * ~

“Huff.. Baru seminggu yang lalu aku mengatakan hal itu, dan siapa sangka sekarang aku kembali ke tempat ini.. secepat ini..” keluh Alceus sembari menatap kastil hitam di hadapannya dengan wajah lesu. “Aku benci mengakui kalau dia benar.”

“Dia?” tanya Biaxident mengulang kata-kata Alceus.

“Rey, Mercenary yang kami sewa, sekaligus teman lama kami,” jawab Princess dengan ramah.

Alceus menghela nafas panjang. Terbayang di kepalanya bayangan Rey yang menyindirnya dengan sikap dinginnya yang sangat menyebalkan. “Ah, masa bodoh!”

Dengan memantapkan hati untuk tidak peduli apa kata orang lagi, Alceus membuka gerbang di hadapannya. Perlahan tapi pasti, gerbang itu terbuka, dan menampilkan sosok wanita yang telah menunggu di balik gerbang tersebut, Hanyuu, tapi tak terlihat tanda-tanda adanya Rey di dekat situ. Mungkin ia bisa sedikit tenang walaupun untuk sesaat.

“Selamat datang.”

“Ah, aku pulang..” jawab Alceus merespon sambutan Elementalist tersebut. “Oh ya, sebelum aku lupa memperkenalkan, ini Magdaleine dan Biaxident. Mereka akan menumpang di sini untuk beberapa waktu.”

“Menumpang?!” Nada suara Magdaleine meninggi. “Kamu yang mengajak kami, dan kamu bilang kami menumpang?!”

“Ah, yeah, whatever. Intinya mereka akan bersama dengan kita, jadi perlakukan mereka dengan baik,” lanjut Alceus tanpa memperdulikan protes Magdaleine.

“Yah, terserahlah,” tukas Magdaleine setelah Biaxident berusaha menenangkannya. “Ngomong-ngomong, siapa dia? Kamu tinggal di istana begini dengan wanita-wanita cantik, ternyata harem-mu banyak juga ya,” lanjutnya dengan nada menyindir.

“Loh, kau nggak sadar ya? Kalian ada di sini, berarti kalian termasuk di dalamnya loh,” balas Alceus dengan santai, dan dengan mudah ia membalikkan serangan balasan Magdaleine.

Sang Putri Northern Kingdom pun menggeram. “Enak saja! Kami nggak termasuk! Lagipula aku ini seorang putri! Mana mungkin aku mau dengan rakyat jelata sepertimu! Hanya seorang raja kaya dan tampan yang—”

“Walaupun aku juga nggak setuju disebut seperti itu, tapi ini sebuah istana, loh,” potong Chocola sambil menggoda Magdaleine, “dan Al pun aslinya dari keluarga kaya, memenuhi kriteriamu kan?”

“I-itu..” geram Magdaleine tanpa bisa melanjutkan kata-katanya.

“Maaf mengganggu acara kalian,” seru suara yang tiba-tiba muncul dari dalam kastil. “Tapi ada hal penting yang harus kusampakan pada Alceus.. Tapi mungkin lebih tepat kalau putri Northern Kingdom dan yang lainnya juga ikut mendengar.”

Alceus melirik ke arah sumber suara yang kini tengah menuruni tangga. “Muncul juga kau akhirnya. Langsung ke topik tanpa basa basi, seperti biasa..” Dan seperti yang seharusnya ia telah duga. Tidak mungkin orang seperti Rey akan melakukan hal seperti meledeknya. Ia bahkan tidak menyambutnya sedikitpun. “Jadi, tentang apa ini?”

“Sebelumnya, kuucapkan selamat datang lagi. Dan tampaknya, kau sudah mengakui kalau aku benar, bukan begitu, Alceus?” seru Rey tanpa ekspresi, seperti biasa. Tapi bagi Alceus, ekspresinya itu terlihat seperti memperlihatkan senyum mengejek dan merendahkan. “Ayo masuklah dulu.”

‘Ukh.. terlalu cepat menyimpulkan. Dia memang orang yang menyebalkan. Harusnya—’

BUUMM!!

Belum sempat Alceus menyelesaikan kata-kata dalam hatinya, sebuah ledakan terdengar di arah utara, tepat di kota Fareast. Ledakannya sendiri tergolong kecil, namun suaranya cukup keras hingga terdengar sampai ke kuping mereka.

“Apa itu?” tanya Biaxident yang kini telah bersiaga.

“Nggak usah dipikirkan,” jawab Hanyuu. “Akhir-akhir ini memang sering seperti itu. Bahkan orang-orang di kota itu sendiri merasa sudah biasa dengan ledakan rutin itu. Ayo, Rey punya hal penting yang mau dibicarakan.”

Setelah mendengar penjelasan itu –walaupun terdengar aneh— ketiga pendatang di kastil tersebut mengikuti Rey yang tampak tak peduli dengan hal itu, seolah tidak ada yang terjadi.

“Aku nggak yakin harus menyampaikannya atau nggak, tapi mengingat kau kembali atas keinginanmu sendiri, maka kuputuskan untuk menyampaikannya,” lanjut sang Striker. “Tentang DEM. Segel mereka sudah terbuka. Belum sepenuhnya, tapi beberapa dari mereka sudah aktif kembali.”

“Mustahil! Spelluser elit dari Northern Kingdom harusnya telah memperkuat segelnya!” sanggah Magdaleine.

“Aku nggak tahu apa yang ibumu dan bawahannya lakukan, tapi itulah kenyataannya,” lanjut Rey, masih dengan sikap tanpa ekspresinya. Matanya kini memandang lurus kepada Alceus. “Aku ingin memastikan satu hal. Apa yang akan kau lakukan? Membiarkan Acropolis mengurusnya, bahkan walaupun mereka hancur, atau kau akan membantu teman-temanmu?”

 “Mereka.. bukan temanku.” Alceus menyipitkan matanya. Nada kebencian terdengar dalam suaranya. “Dan kuingatkan, jangan sekali-kali menyebut nama mereka di depanku!”

“Begitu.. kalau begitu—”

“Tapi!” potong Alceus, “Kalau para DEM itu menghancurkan mereka duluan, maka aku nggak akan puas. Lagipula, kalau mereka, katakanlah, menguasai dunia, maka itu akan menyusahkan bagi kita.”

Semua terdiam mendengar kata-kata Alceus. Semua mengerti kalau kata-kata itu berarti mereka akan turut berpartisipasi dalam perang melawan DEM. Mereka semua juga tahu kalau kata-kata Alceus benar, dan mereka tidak akan hidup tenang kalau DEM menghancurkan Acropolis dan kota-kota lainnya. Meskipun begitu, sebuah senyum tersirat di wajah Magdaleine dan Biaxident.

“Kalau begitu, ayo kita diskusikan hal ini langsung dengan ibu,” kata Magdaleine sembari mengeluarkan sebuah alat dari tasnya.

“Kau bisa menghubunginya langsung?” tanya Alceus penasaran.

“Ya, beliau memberiku alat untuk mengirim pesan,” jawab Magdaleine sambil melakukan sesuatu pada alat tersebut. “Mungkin kalian ada yang pernah ke Promenade dan melihat hologram Ratu Beldegard. Alat ini fungsinya sama, hanya saja alat ini mengirim pesan satu arah dan kita harus menunggu ibu untuk membalasnya. Jadi, mari kita mulai.”


~ * ~

“Selamat datang, Tuan Seto serta rombongannya. Kami telah menanti Anda,” sambut seorang prajurit yang telah menanti mereka di dekat tali Airship. “Apakah Anda berniat mengunjungi ibukota Northern Kingdom dan menemui ratu?”

Setelah jarak dengan tanah kurang dari satu meter, Seto yang saat itu tengah memanjat turun tali Airship segera melompat dan menjejakkan kakinya di salju dingin yang menghiasi Northern Kingdom sepanjang tahun. Tidak lama setelahnya, Beyreiss pun mendarat di sampingnya, sementara Lien merapikan tali tersebut.

Setelah semua beres, Seto kemudian mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan padanya. “Ya, itu benar. Kami akan beristirahat sebentar di Promenade, lalu melanjutkan perjalanan untuk menemui Yang Mulia.”

“Soal itu..” kata si prajurit, “Yang Mulia telah menduga kedatangan Anda, dan beliau telah menunggu Anda sekalian di sini.”

“Eh? Ratu ada di Promenade?” tanya Seto tak percaya. “Wow, nggak biasanya beliau ke sini kalo nggak ada urusan yang sangat penting.”

“Artinya kamu tahu kan betapa pentingnya masalah ini, Set?” tukas Beyreiss di sebelahnya.

“Ayo, kita nggak punya banyak waktu lagi,” tambah Lien. Mendengar kata-katanya, prajurit yang menyambutnya segera bergerak dan memberi isyarat tangan untuk mengikutinya.


~ * ~

“Kami memberi hormat pada Yang Mulia Ratu,” seru Lien dan Beyreiss bersamaan sesaat setelah memasuki ruangan.

Di hadapan mereka berdiri seorang wanita cantik yang memberikan kesan berwibawa, namun pembawaan dan sikapnya santai. Wajahnya mirip seperti Magdaleine dengan versi yang lebih dewasa. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak terlihat tua dan masih merupakan yang tercantik –atau setidaknya dibanding kebanyakan remaja— di Northern Kingdom. Pandangan matanya terlihat tajam, namun bisa terlihat sedikit banyak kesepian yang terpancarkan oleh kedua mata tersebut.

“Saya memberi hormat kepada Yang Mulia Ibu Calon Mertua,” seru Seto dengan salam yang sedikit berbeda dari kedua rekannya.

‘Nekat!’ teriak Beyreiss dalam hati. ‘Dasar gila, bisa-bisa kita semua yang kena!’

“Seto..” sahut sang ratu.

Spontan, hati Lien dan Beyreiss berdegup kencang. Kata-kata Seto yang kurang sopan bisa-bisa membuyarkan semua rencana mereka. Lupakan soal merundingkan masalah DEM dengan ratu, yang ada mereka malah diusir saat itu juga.

“..sudah kubilang berkali-kali, aku nggak akan menyerahkan Magda-ku pada lelaki manapun, termasuk kamu. Magda hanya milikku seorang!” lanjut ratu sembari tertawa kecil.

Lien dan Beyreiss hanya bisa terdiam. Reaksi yang dibayangkan ternyata berbeda sekali dengan kenyataan yang diberikan oleh wanita penguasa kerajaan di utara itu. Kelihatannya semua kekhawatiran yang dirasakan mereka sama sekali tidak penting. Yah, sebodoh dan senekat apapun Seto, dia orang yang bisa diandalkan dan tidak mungkin mengeluarkan kata-kata itu kalau tidak tahu bagaimana sifat ratunya.

“Yah, mari kita lupakan masalah itu dan masuk ke topik utama,” kata Ratu dengan senyum lembutnya. “Aku sudah mendengar tentang kalian. Lien dan Beyreiss, benar kan?”

“Benar,” jawab mereka berdua bersamaan.

“Jadi, bisa ceritakan apa yang membawa kalian kemari?” lanjut sang ratu. “Aku tahu ini pasti masalah DEM, tapi aku yakin kalian menemukan sesuatu yang mengejutkan sampai kalian ke sini.”

Beyreiss terdiam beberapa saat. Ia sebenarnya lebih terkejut dengan fakta bahwa sang ratu telah menanti mereka di Promenade. Mungkin Ratu telah tahu apa yang terjadi, tapi ingin mendengarnya langsung. Atau mungkin Ratu juga punya hal penting yang mau beliau beritahukan?

“DEM.. terlihat di Light Tower lantai atas. Serangan salah satu dari mereka menyebabkan aku kehilangan rekan-rekan saya. Saya nggak tahu pasti jumlah mereka, karena hanya saya yang berhasil lolos, dan nggak mungkin naik lebih jauh,” jelas Beyreiss sembari mereka ulang kejadian di Light Tower dalam kepalanya. Terlihat jelas kekesalan terpancar di wajahnya.

“Light Tower ya..” kata sang ratu sambil berpikir keras. “Segel tambahan dari kami berhasil terlepas kemarin, dan dalam sehari itu, mereka sudah melintasi Acronia sampai Light Tower. Apa yang mereka cari di sana sebenarnya..”

Selagi semua semua berpikir keras, sebuah benda kecil di atas meja berbunyi dan berhasil menyita perhatian semua yang ada di sana.

“Oh, pesan dari Magda~” seru sang ratu dengan nada riang. Wajah seriusnya telah berubah dalam sekejap menjadi ceria karena tidak sabar melihat anaknya yang sedang pergi jauh. Lagipula, ini pertama kalinya Magdaleine menghubungi sejak kepergiannya ke Acropolis. Dengan segera ia menekan tombol di alat tersebut.

“Selamat malam, wahai penguasa negeri salju Northern Kingdom,” seru figur hologram yang muncul dari alat tersebut. “Aku raja yang—”

“Raja embahmu, Al!” teriak suara di belakang figur tersebut. Sebuah tangan muncul dari pinggir hologram dan menarik jubah orang tadi dengan paksa dan membuatnya tercekik.

“H-hey, aku belum selesai, Mag!”

“Memangnya siapa yang mengijinkanmu? Minggir!” Setelah sukses menarik orang tersebut ke luar wilayah hologram, pemilik tangan tadi segera menggantikan posisinya di depan kamera. “Ah, maaf, Bu. Tadi ada sedikit kesalahan teknis. Ada yang ingin kubicarakan dengan Ibu, masalah yang sangat penting, tentang para DEM. Bisakah Ibu menghubungiku kembali?”

“Magdaaa~” teriak Seto sembari melompat ke arah hologram tersebut dan berusaha memeluknya. Namun sayang, dirinya tembus dan jatuh tersungkur di belakang hologram tersebut.

“Seto.. dia itu cuma hologram. Dia bahkan nggak bisa melihat ataupun mendengarmu..” tukas Beyreiss sambil menggeleng kepala.

“Dan lagi, kita ada di hadapan sang Ratu, jaga sikapmu, Seto,” kata Lien menambahkan.  Ia berbalik menghadap ratu,  hendak minta maaf walau tahu mungkin ratu sudah terbiasa dengan kelakuan Seto. Tapi ia mendapati pandangan sang ratu yang terfokus pada hologram Magdaleine tanpa menghiraukan Seto sama sekali. Mungkin wajar, pirkir Lien, karena meskipun sang ratu belum terlalu lama berpisah dengan putrinya, namun putrinya berkali-kali dalam bahaya.

“Tenang saja, Ratu. Seperti yang Anda lihat, Putri Magdaleine baik-baik saja. Dia bahkan sangat enerjik melebihi biasanya,” kata Beyreiss melihat sang ratu yang terpana. Ia paham apa yang Lien rasakan.

“Dia..” sahut ratu terbata-bata.

“Yang Mulia?”

“Dia.. Nggak mungkin.. Tapi aku nggak mungkin salah lihat..” lanjut wanita penerus Queen Beldegard itu. “Alceus.. Dia masih hidup..?” Kata-kata terakhirnya membuat ketiga orang lainnya yang ada di situ menoleh ke arahnya dengan tatapan serius.

« Last Edit: December 31, 2010, 12:54:11 PM by shinigami_boy »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter18]
« Reply #19 on: March 01, 2011, 12:07:50 PM »
A little note of mine:
    Yak, lomba2an selese meski haru berakhir di posisi bontot, tapi sekarang mari kita kembali ke project besar kita: ECOsaga~
    setelah sekian lama gak ada pnambahan, jadi skarang gak pake lama d author's notenya.
    little action, but it's a preparation for the bigger one.

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page.




BUUMM!!

Sebuah ledakan di bagian timur kota Fareast membuat hewan-hewan peternakan panik karena kaget. Setidaknya itulah yang terjadi saat pertama kali ledakan itu terjadi beberapa hari lalu. Namun kini, bahkan hewan-hewan yang sensitif terhadap ledakan dan bahaya tampak tak terusik dan menganggap hal itu biasa.
Penduduk pun merasa sudah biasa dengan hal itu setelah beberapa kali terjadi di tempat yang sama. Suaranya memang keras, namun lokasinya yang jauh –hanya beberapa meter dari pintu masuk ke hutan angker di timur kota— membuat efek ledakan tidak sampai ke pusat kota.

Biasanya tidak ada orang yang datang ke bangunan kecil yang menjadi pusat ledakan itu. Namun hari ini, dua orang wanita terlihat mendekati bangunan tersebut. Yang satu adalah wanita yang cukup berumur di akhir empat puluhannya. Sementara yang satu lagi adalah gadis Titania yang masih muda, dengan rambut kepang panjang berwarna merah muda. Matanya tertutup sebuah kacamata dengan antena pemancar di bagian kupingnya. Gaun merah muda yang menutupi tubuhnya cukup untuk membuat semua orang yang melihatnya menyangka bahwa dia adalah seorang bangsawan.

“YAMATOO! APA LAGI SIH YANG KAMU LEDAKKAN?!” teriak perempuan yang lebih tua.

Tak lama, pintu bangunan tersebut terbuka. Sesosok Dominion berambut putih yang acak-acakan terkena ledakan, perlahan merangkak keluar dari laboratoriumnya. Beberapa lubang juga tampak di jas laboratoriumnya yang putih.
“Aku.. hanya sedikit lagi berhasil. Ledakan ini sebagai tanda bahwa aku satu langkah mendekati kesuksesan..”

“Ah sudahlah, aku bahkan nggak tahu apa yang mau kamu buat, dan aku nggak peduli,” lanjut salah satu penduduk kota yang sudah lelah mengurusi ilmuan aneh dan hobi yang tak kalah anehnya itu. “Lebih penting lagi, coba lihat siapa yang datang hari ini.”

Yamato mencoba berdiri sembari membetulkan letak kacamata bundar di atas hidungnya. Melalui kacamata yang membuatnya terlihat seperti seorang nerd (walau sebenarnya bukan ‘seperti’ lagi), ia melihat sosok familiar yang sudah lama tak dilihatnya.
“Chievo!”

“Halo, Yamato, lama nggak jumpa,” balas gadis itu ramah. “Kelihatannya kamu nggak berubah sama sekali ya.”

“Iya, sudah lama sejak kamu pergi ke Northern Kingdom,” jawab si ilmuwan gila. “Aku sih ya begini-begini saja, nggak ada perubahan. Malah kamu yang sudah berubah sekali, nyaris aku nggak kenal kalau bukan dari warna unik rambutmu itu.”

“Ehem!” seru ibu yang mengantar Chievo ke tempat Yamato. “Tugasku selesai. Kalau begitu aku pamit dulu supaya nggak mengganggu kalian. Silahkan dilanjutkan nostalgianya,” ujarnya sambil tertawa dan berjalan kembali ke tengah kota.


Chapter 18: Knight and the Meetings

“Ah, iya, ayo masuk. Kecuali kalau kamu mau berdiri seharian di sini,” kata Yamato sepeninggal ibu tadi. Ia membukakan pintu lebar-lebar dan membiarkan teman lamanya itu masuk ke dalam laboratorium yang merangkap sebagai rumahnya. “Err.. Maaf berantakan.”

“Nggak apa-apa kok,” jawab Chievo sementara matanya mengamati isi laboratorium yang bagai kapal pecah. Butuh waktu beberapa saat sampai ia akhirnya menemukan ‘tempat duduk’.

Sambil merapikan ruangan itu seadanya, Yamato mencoba memulai pembicaraan, “Jadi, bagaimana kabarmu di Northern Kingdom?”

“Baik. Aku menjadi Knight di sana dan kurasa karirku bisa dibilang sukses,” jawab gadis pecinta merah muda itu.

“Wow, kau pasti jadi Knight terkuat di sana, benar kan? Bahkan saat kita berkelahi pas kecil pun, aku nggak pernah bisa mengalahkanmu.”

“Jangan memujiku seperti itu,” balas Chievo sambil tertawa. “Memang sih, aku bisa dibilang pernah mengalahkan semua Knight yang ada di sana dalam latihan,” jawab gadis itu, sedikit terbawa suasana oleh pujian Yamato.

“Wow, benarkah? Bahkan para pria di sana takluk padamu?” lanjut Yamato semakin semangat.

“Yah, bisa dibilang begitu, walau aku tahu ada seseorang yang selalu mengalah.”

“Kau yakin dia cuma mengalah? Kurasa dia benar-benar kalah darimu, atau mungkin takut padamu,” lanjut Yamato sembari menaruh buku-buku yang tadinya tergeletak di lantai ke rak nya. Setidaknya saat ini, satu bagian ruangan tersebut sudah sedikit lebih baik.

Chievo menggeleng. “Nggak kok. Dia memang orangnya nggak pernah serius dan selalu bermain-main, merayu setiap perempuan yang ditemuinya, bahkan sang putri sendiri jadi korbannya. Tapi aku bisa melihat kemampuan orang lain saat bertarung dengan orang itu. Dia bahkan nggak serius saat bertanding melawanku, sebelum akhirnya pura-pura kalah dan memujiku. Padahal aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuanku dari awal. Nggak heran dia jadi komandan tertinggi pasukan Northern Kingdom,” jelasnya sambil menghela nafas panjang.

“Wow, ada orang seperti itu ya. Mungkin aku perlu membuatkanmu doping atau sejenisnya supaya bisa mengalahkannya?” seru Yamato bersemangat. Tangannya segera meraih beberapa daun herbal dan memasukkannya ke tabung kimia kosong.

“Ng-nggak perlu repot-repot!” sela Chievo terburu-buru, sebelum Yamato memulai eksperimennya lagi.
‘Aku belum mau meledak!’

“Begitukah?” tanya Yamato dengan nada sedikit kecewa. “Baiklah kalau itu maumu.”

“Ngomong-ngomong,” lanjut Chievo sambil memandang tabung-tabung yang dikumpulkan begitu saja di sudut meja oleh Yamato, “bagaimana penelitian dan eksperimen-eksperimenmu?”

“Nggak ada kemajuan,” jawab Yamato. Kini gilirannya untuk menghela nafas panjang. “Kau tahu, Fareast kaya akan sumber daya alam, tapi nggak punya teknologi yang memadai.”

“Jadi maksudmu, kalau kamu punya fasilitas memadai, kamu akan bisa membuat sesuatu yang.. nggak meledak?” tanya Chievo yang hati-hati dalam memilih kata-katanya.

Yamato mencibir mendengar kata-kata teman lamanya itu. “Tentu saja! Kau pikir semua eksperimenku gagal, hah? Walaupun dengan fasilitas seadanya, 49% dari seluruh eksperimenku sukses, dan 10% diantaranya berhasil tanpa ledakan!”

“Begitu ya.. Kalau begitu bagaimana kalau..”
Namun Chievo tidak segera melanjutkan dan hanya memandang wajah Yamato yang serius. Barang-barang berantakan di belakang Yamato serta bekas ledakan yang terlihat di mana-mana cukup untuk menyita perhatiannya dan membuatnya sedikit ragu melanjutkan kata-katanya.
Sambil menelan ludah dan berharap kalau pilihannya itu tidak salah, ia pun melanjutkan, “..kau ikut denganku ke Northern Kingdom?”

“Eh?” Yamato terkejut. Ia harap telinganya tak membohonginya tentang apa yang baru saja di dengarnya, tapi ia sadar itu terlalu bagus untuk benar-benar terjadi. “Maaf, bisa ulangi?”

Well, aku tahu kau sebenarnya ilmuan hebat. Jadi mungkin kamu mau bekerja di sana dengan fasilitas yang lebih baik. Lagipula di sana terkenal dengan magic-nya, aku nggak bermaksud membuatmu meninggalkan kampung halamanmu, tapi kurasa penelitianmu akan lebih berguna di sana daripada pertanian di sini.”

“Kau.. mengajakku ke sana? Jadi ilmuan kerajaan?”

Chievo mengangguk. “Yang sebelumnya baru saja pensiun dari pekerjaannya karena mulai sakit-sakitan. Lagipula dia sudah cukup berumur, jadi mungkin lebih baik dia istirahat. Lalu aku mengajukanmu pada ratu untuk menggantikannya, dan dia menyuruhku untuk membawamu,” jelas Knight Titania itu. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berhasil memaksa dirinya untuk yakin kalau pilihannya benar.
“Jadi jawabanmu?”

“Tentu saja aku mau! Bawa aku ke sana!” seru Yamato dengan mata berbinar-binar yang dilanjutkan dengan tawa bagaikan ilmuan jahat. “Muahahaha!! Akhirnya aku bisa bereksperimen sesuka hatiku! Kapan kita berangkat?”

“Kalau kamu mau, sekarang juga bisa,” jawab Chievo. Sekali lagi, ia mengamati ruangan tempat ia berada, dan berharap dalam hati kalau yang ia lakukan benar.

”Baiklah, kalau begitu ayo—”

Bzzt!

“Ah maaf.. Tunggu sebentar,” kata Chievo sembari memegang alat di kupingnya yang baru saja berbunyi. “Chievo di sini.”

“Chievoooo~” Dari alat tersebut keluar suara yang sangat familiar baginya, satu-satunya orang yang belum pernah bisa ia kalahkan sampai detik ini. “Aku merindukanmuuuu!!” lanjut suara itu.

“Komandan..”

“Sudah kubilang kan, jangan pakai embel-embel ‘komandan’ supaya kita terdengar lebih intim..” jawab suara itu. “Kalau kau melakukannya lagi, akan kusebarkan foto-fotomu pada semua orang.”

“F-foto-foto apa?! Kapan Anda mengambilnya?!” teriak Chievo panik. Namun tak ada jawaban dari Receiver tersebut.Walaupun ia tidak tahu dan tidak pernah merasa ada foto yang berbahaya, gadis itu akhirnya memutuskan untuk menyerah. “Uhh.. baiklah, Seto..”

“Nah begitu dong,” jawab suara dari Receiver itu. “Ngomong-ngomong, kalau nggak salah kau lagi di Fareast kan?”

“Ya.. Saya sudah menemukan orang yang saya bilang, dan akan segera kembali dengannya,” jawab Knight wanita itu, masih dengan suara lemas.

“Tunggu, jangan kembali dulu. Ada tugas mendadak untukmu,” seru Seto dengan cepat. “Dan ini misi yang sangat penting, langsung dari ratu.”

Chievo terdiam beberapa saat, kemudian menoleh pada Yamato. “Maaf Yamato, tapi kelihatannya aku nggak bisa menemanimu ke Northern Kingdom. Ada misi penting yang mendadak. Kamu mau menungguku, atau ke sana duluan? Akan kubuatkan surat pengantar untukmu kalau mau duluan.”

“Hmm.. kurasa aku duluan saja. Aku nggak sabar untuk melanjutkan penelitianku di sana,” jawab Yamato.

“Oke.” Chievo mengambil secarik kertas dan pulpen yang tergeletak di meja dan menuliskan sesuatu.
“Seto, temanku akan ke sana tanpaku. Aku memberinya surat pengantar,” lanjutnyad kepada mesin di telinganya.

“Sip. Kami akan menyambutnya dengan baik,” jawab Seto. “Kalau sudah, bisakah kau ke tempat yang sepi? Soalnya ini misi rahasia.”

“Oke.”
Selesai menulis surat yang ditandatanganinya sendiri, ia memberikan surat tersebut pada Yamato. “Maaf ya, tapi aku harus pamit duluan. Kasih saja surat ini pada penjaga. Dan jangan lupa, di sana dingin, jadi persiapkan dirimu baik-baik.”

“Aku mengerti. Makasih ya, Chievo.”

“Sama-sama. Nah, aku duluan ya.” Tanpa membuang waktu, Chievo pun segera pamit dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah melihat kondisi sekitar, akhirnya gadis itu memutuskan untuk berjalan ke arah selatan dan berhenti di depan sebuah patung Insmouse. Tempat itu biasanya cukup ramai, karena selain tidak jauh dari area pertanian, patung tersebut juga suka dipuja oleh penduduk sekitar sebagai dewa. Namun kali ini, tempat tersebut cukup sepi karena orang-orang sedang istirahat.
“Jadi, apa misinya, Seto?”

“Kau lihat kastil di selatan Fareast?” tanya suara Seto, sementara Chievo mengangguk. “Magda ada di sana.”

“Tuan Putri di sana?!”

“Benar. Masalahnya, dia bersama dengan orang yang.. hmm.. aku sendiri kurang tahu siapa dia sebenarnya. Tapi menurut ratu, orang itu patut diwaspadai.”

“Kalau itu benar, berarti ini benar-benar gawat,” seru Chievo sembari memandangi kastil hitam yang berdiri megah di selatan kota. “Saya akan menyelamatkan beliau.”

“Tunggu dulu! Kau nggak bisa melakukan itu begitu saja,” cegah Seto. “Kelihatannya Magda di sana karena keinginannya sendiri. Jadi kami mau kau mengawasinya, sekaligus menyampaikan pesan dari ratu.”

“Aku mengerti. Aku akan melaporkan apapun yang terjadi dan bertindak cepat kalau terjadi apa-apa,” jawab gadis itu dengan penuh determinasi. “Jadi, apa pesan Yang Mulia dan detil dari misi ini?”

“Nama orang itu Alceus. Dan pesannya adalah..”


~ * ~


Ruang rapat Guild Council. Sebuah ruangan di Guild Palace yang normalnya tidak boleh, dan tidak bisa, dimasuki orang biasa yang tidak berkepentingan. Ruangan tersebut jauh lebih besar dari ruangan-ruangan di ‘istana’ itu pada umumnya, yang rata-rata merupakan kantor dari tiap Master.
Di dinding ruangan itu terpampang beberapa lukisan serta lambang-lambang yang merepresentasikan tiap Job. Sementara di tengahnya terdapat sebuah meja besar dan panjang yang berbentuk oval, dengan lima belas kursi –dan sebuah kursi kosong tambahan khusus yang biasanya tidak ada— yang tersusun rapi mengitarinya, dengan masing-masing telah ditempati oleh para Master dan ketua Guild Council sesuai tempatnya.

Suasana cukup hening, tanpa ada suara sedikit pun. Beberapa orang tampak gelisah, sementara ada juga yang duduk dengan santai di kursinya. Mayor Acropolis yang juga merangkap sebagai ketua dewan sekaligus pemimpin rapat pun hanya memandangi selebaran yang ada di tangannya tanpa bersuara sedikitpun, selebaran yang salinannya tergeletak bersama dokumen-dokumen lainnya di depan tiap orang yang hadir.

Tidak lama kemudian, suara pintu yang terbuka memecah keheningan ruang tersebut. Seorang Knight dengan armor lengkap berwarna putih melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut dan menutup kembali pintu di belakangnya.

“Duduklah, kami sudah menunggumu,” perintah wanita tua yang duduk di ujung meja.

Tanpa basa-basi lebih jauh, Knight tersebut langsung berjalan dan menduduki kursi kosong yang disediakan untuknya. Ia bisa merasakan tatapan semua orang yang ada di sana mengarah padanya. Cukup mengganggu kalau ia boleh jujur, tapi tidak cukup untuk membuatnya kehilangan ketenangan.

“Kamu pasti sudah tahu untuk apa kita di sini, kan? Sesuai permintaanmu, kami semua di sini karena kamu bilang kamu punya informasi sangan penting yang ingin kamu sampaikan pada kami,” lanjut wanita tersebut. “Oh ya, selebaran berisi info yang kami kumpulkan, termasuk info darimu, juga sudah siap untuk disebarkan ke seluruh penjuru kota.”

“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk kesempatan ini. Dan supaya tidak membuang waktu lebih banyak lagi, saya langsung saja,” ucap Knight yang kini duduk di ujung meja, berseberangan dengan sang pemimpin rapat. “Saya telah mendapatkan lokasi persembunyian orang yang kita cari.”

Mendengar kalimat itu, raut muka semua orang yang hadir di sana berubah. Mulai dari terkejut, senang, sampai rasa kagum bercampur. “Seperti yang diharapkan, Shiki. Kau memang Knight yang sungguh hebat!” puji knight Master –orang yang jelas-jelas terlihat paling senang dari semua yang ada di sana. Tentu saja, karena Shiki adalah didikan terbaiknya sepanjang ia menjadi Master, juga sepanjang sejarah Acronia.

Namun kontras dengan Titania pemimpin seluruh Knight tersebut, ekspresi yang ditunjukkan oleh Scout Master benar-benar berbeda. Dominion wanita berambut merah itu mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Para Scout –yang seharusnya menjadi kelompok yang paling ahli dalam mengumpulkan informasi— yang ia utus bahkan belum mendapatkan kabar apapun. Lalu bagaimana mungkin seorang Knight bisa mendapatkan informasi seperti itu dalam waktu singkat?
“Katakan, dari mana kamu dapatkan info itu, Shiki? Kamu mengerti kan maksud pertanyaanku ini?”

Mata hitam Shiki melirik dan bertemu dengan pandangan tajam Scout Master. Ia tahu, pandangan tersebut berbeda dari pandangan kagum semua orang yang ada di ruangan tersebut. Sebuah pandangan yang menandakan adanya kecurigaan terhadap dirinya pada Master adiknya. Sebuah kecurigaan yang mungkin akan berbahaya kalau ia salah menjawab.
“Aku yakin semua orang di sini paham betapa seriusnya masalah yang kita hadapi ini, dan tentunya semua mencari info dan solusi untuk masalah ini, benar?” jawabnya dengan tenang. “Para Scout memang hebat dalam mengumpulkan informasi, hanya saja, secara kebetulan, kali ini aku bisa mendapatkan info tersebut lebih cepat.”

“Itu benar,” lanjut Knight Master. “Itu tidak penting dari mana dan bagaimana ia mendapatkannya dalam kondisi seperti ini. Yang penting adalah seberapa tepat informasi tersebut.”

“Apanya yang tidak penting?!” sahut Scout Master setengah berteriak. “Justru kebenaran suatu informasi itu dilihat dari mana sumbernya! Kalau begitu saja kamu tidak mengerti—”

“Cukup!” seru Louran dengan lantang. Suara yang tidak sampai berteriak, namun cukup untuk mendiamkan kedua Master yang berselisih tersebut. Selang beberapa detik setelah keheningan kembali melanda ruangan tersebut, pemimpin Guild Council itu kemudian menatap Knight yang duduk berseberangan dengannya. “Katakan, Shiki, di mana orang itu bersembunyi.”

Shiki tersenyum akan reaksi Knight Master dan ketua Guild Council yang merangkap sebagai Mayor Acropolis, dengan senyuman yang tak mungkin terlihat oleh siapa pun. Padahal ia mulai khawatir kalau-kalau Scout Master akan bisa membongkar segalanya sebelum waktunya. Tapi dengan support penuh dari Knight Master, maka ia pun bisa dibilang aman.
“Undead Castle, sebelah selatan kota Fareast. Dan kalau Scout Master masih belum percaya, ia boleh menyuruh orang yang ia percaya untuk memeriksanya.”

Melihat Louran mengangguk dan berpaling padanya, Scout Master pun mengeluarkan sebuah Receiver dari tas pinggangnya. “Tak usah disuruh pun, aku akan memeriksanya.” Ia kemudian meletakkan benda itu di telinganya dan mulai berbicara dengan suara kecil, seperti orang yang sedang bergumam sendiri.

“Tapi nggak kusangka, ya,” kata Ranger Master tiba-tiba, memecah keheningan sembari mengambil secarik kertas di atas meja dan memandangnya. “Padahal aku melihatnya sebagai orang yang cukup unik saat pertama kali kami bertemu.”

Unik, tidak selalu baik, kan?” tukas Sage Master dengan sinis. Kakek itu kemudian menjentikkan jarinya, dan sebuah kertas yang berisi sama dengan yang dipegang Ranger Master melayang ke arahnya. Matanya yang masih lebih baik daripada sebagian besar anak muda di Acropolis –terlepas dari usianya yang cukup tua— memandang beberapa baris pertama di kertas tersebut.


Nama: Alceus
Kesalahan:
-   Membuka gerbang dan membantu musuh masuk saat Acropolis dikepung.
-   Perlawanan dan pembunuhan terhadap pasukan Acropolis.
-   Memasuki Uptown tanpa izin.
-   Penyerangan dan pemfitnahan terhadap salah seorang Knight Acropolis.
-   Penculikan terhadap putri Northern Kingdom.
Info Tambahan: Memberikan ancaman akan menyerang Acropolis lagi. Diduga kuat sebagai pemimpin penyerbuan Acropolis terdahulu.
Klasifikasi Bahaya: S


“Bahaya kelas S.. Sudah lama sejak kita terakhir kali mendapat ancaman seperti ini,” lanjut pria tua tersebut.

Suasana kembali hening. Beberapa Master terlihat ikut mengamati salinan kertas dan dokumen-dokumen lainnya yang tersedia di depan masing-masing, sementara beberapa Master lainnya termasuk Louran menunggu Scout Master yang sedang berbicara dengan anak buahnya melalui Receiver dengan tenang. Sampai akhirnya Scout Master itu pun melepas alat komunikasinya dan menaruhnya kembali di dalam tas.

“Bagaimana?” tanya Louran.

“Memang ada penduduk yang melihat orang dengan ciri-ciri Alceus melintas di daerah Fareast. Sementara soal Undead Castle, memang ada beberapa keanehan. Di kastil itu tidak terlihat Undead sedikit pun, dan orangku itu juga melihat ruangan yang kadang lampunya menyala,” jelas Scout Master. “Memang, kastil itu disebut Undead Castle dan ada juga yang menyebutnya istana berhantu, tapi hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Karenanya, kami menyimpulkan ada orang yang tinggal di sana saat ini.”

“Jadi?”

Scout Master menutup matanya mendengar pertanyaan Mayor Acropolis selanjutnya itu. Terlihat sekali, ia menghela nafas panjang. Dan dengan berat hati, ia pun melanjutkan, “Kami tidak tahu apakah yang ada di sana itu Alceus atau bukan, tapi bisa kukatakan kalau kemungkinan informasi dari Shiki benar adalah 90%.”

“Kalau begitu aku akan mengirim pesan kepada mayor Fareast untuk memberitahu kalau kita akan mengirim pasukan melewati wilayahnya,” kata Louran menanggapi, yang kemudian melirik pada Swordsman Master yang daritadi hanya diam. “Bagaimana, apa kamu mau memimpin misi kali ini? Kamu juga bisa membawa Bounty Hunter favoritmu—”

“Tidak,” jawab Swordsman Master dengan tegas. “Maaf, tapi saya rasa saya tidak ikut dalam misi kali ini. Saya juga tidak akan mengirim Kaistern untuk hal ini.”

Selama beberapa detik, Louran, yang diikuti sebagian besar Master lainnya, memandangi Swordsman Master tanpa suara. Namun tak terlihat adanya keraguan, ataupun keinginan untuk menjelaskan lebih lanjut, pada pria itu.
“Begitu ya. Yah, aku yakin kamu punya pertimbangan sendiri, dan aku nggak akan memaksamu.”

“Kalau boleh aku saran, bagaimana kalau Shiki saja yang memimpin misi kali ini? Dia terbukti bisa dipercaya, dan kemampuannya juga hebat. Aku juga akan mengirim Yust bersamanya,” ucap Scout Master tiba-tiba. Semua pandangan menuju ke arahnya dengan penuh heran, karena sejak awal terkesan bahwa Master yang satu itu tidak terlalu suka pada sang Perisai Acronia.
“Lagipula, kita para Master masih punya hal yang lebih serius untuk dibahas, yaitu tentang DEM.”
Mendengar kata DEM, semua yang ada di ruangan tersebut sepakat.

“Dan kalau aku boleh saran juga,” tambah Ranger Master, “mungkin ada baiknya kalau para Druid juga ikut ke sana. Kita nggak tahu apa yang ada di sana, tapi yang jelas tempat itu kan terkenal sebagai sarangnya para Undead. Karenanya, para Druid pasti bisa membantu, seperti misalnya temannya Kai dan Yust yang kemarin itu.. umm.. Latte kalau nggak salah namanya.”

“Latte baru saja sembuh, terlebih lagi dia masih Vates. Saya tidak bisa membiarkannya,” jawab seorang Master yang merangkap sebagai pimpinan White Church.

“Oh, ayolah. Dari yang kudengar, kemampuan Latte sudah setara seorang Druid, bahkan melebihi beberapa Druid biasa,” lanjut Ranger Master sembari mengungkit kekuatan Latte saat pengepungan Acropolis. “Lagipula, Latte dan Yust mungkin tahu cara yang bisa dipakai untuk menangkap Alceus karena mereka pernah berteman baik. Toh mereka sudah tahu sifat asli temannya itu, jadi aku ragu mereka akan melakukan hal-hal aneh. Apalagi ada Shiki di sana.”

Pemimpin para Vates itu tidak langsung menjawab. Matanya melirik pada Louran untuk meminta pendapat. Dan setelah akhirnya mendapat anggukan dari sang ketua Guild Council, ia pun akhirnya setuju.
“Aku mengerti. Memang tidak bisa dipungkiri kalau para Druid akan dibutuhkan, jadi aku akan mengirim Latte dan yang lainnya ke sana.”

Louran mengangguk sekali lagi sembari menatap para Master satu persatu, kemudian menepukkan kedua tangannya.
“Yak. Kalau begitu mari kita perjelas sekali lagi misi kali ini. Misinya adalah penyerangan terhadap Undead Castle. Kalaupun kita gagal menangkap Alceus, setidaknya kita harus bisa menyelamatkan Putri Magdaleine dari cengkeramannya. Misi kali ini akan dipimpin Shiki. Yust dan Latte juga akan ikut dalam misi ini sesuai keputusan Master mereka masing-masing, dengan anggapan mereka yang paling mengenal Alceus. Dan untuk sisa anggotanya, aku akan menyerahkan pada Shiki dan kalian semua untuk memutuskannya nanti. Ada pertanyaan?”

Ruangan pun mendadak dilanda keheningan. Dan setelah beberapa saat, akhirnya sang Mayor pun kembali memecahkan suasana sepi tersebut.
“Kalau begitu rapat kita tutup, dan misi akan dilakukan segera setelah semua anggota terkumpul. Silahkan bubar.”

Seusai penutupan resmi dari pemimpin rapat, semua orang mulai bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan satu persatu. Mulai dari Shiki yang disusul oleh Knight Master –yang terlihat sangat bangga pada Knight-nya— dan Louran, serta semua Master sisanya. Semua, kecuali tiga orang yang tidak beranjak sampai akhir.

“Keputusan yang bijak membujuk agar Latte ikut dikirim,” tukas Scout Master setelah meyakinkan tak ada orang lain selain mereka. Ia pun kemudian bangkit dan duduk di atas meja sembari menatap pria yang berpakaian serba hijau di hadapannya. “Aku sendiri ragu Yust akan cukup.”

“Yah, aku bisa melihat dari perubahan sikapmu yang tiba-tiba memuji dan menyarankan Shiki menjadi pemimpin seperti itu. Aku juga setuju kalau Knight itu mencurigakan dan harus diwaspadai. Dan kalau para Master sampai ikut misi kali ini, si Knight Master yang sedang terbuai prestasi Shiki itu pun pasti akan ikut, dan semuanya akan semakin sulit,” jawab Ranger Master sembari memainkan goggle yang tergantung di lehernya.
Ia kemudian menoleh kepada pria berbaju zirah di sebelahnya. “Kau juga menahan Kai, pasti untuk alasan yang sama, kan?”

Swordsman Master mengangguk pelan. Di antara semua Master, hanya mereka bertigalah yang pernah bertemu Alceus secara langsung, dan ia pun menyadari ada sesuatu yang aneh dari semua ini, seperti hal nya kedua Master temannya itu.
“Di antara mereka, Kai adalah yang paling bisa diandalkan dari segi kemampuan. Sayang, saat ini dia juga yang paling tidak bisa berpikir dengan jernih. Kita harus membiarkannya dulu tanpa hal-hal yang berkaitan dengan masalah ini.”

Sambil mengangguk, Ranger Master pun berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah timur ruangan. Ia membuka gorden dan menatap lurus ke luar jendela.
“Dalam waktu dekat, pertumpahan darah akan segera terjadi lagi.”