Author Topic: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [end]  (Read 45676 times)

Offline sacchan_magician

  • Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter18]
« Reply #20 on: March 04, 2011, 10:57:13 PM »
yak, saya di sini :hi:
berhubung sudah 30 page, mohon maaf kepada TS jika saya langsung meng-split topicnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu m(_ _)m

untuk comment saya soal chapter ini...menyusul... (otak saya macet kalo jam segini) @_@

buat readers, silakan lanjutkan comment nya di sini :hi:

Watching you from afar...and will always love you...
We're always here for you...
[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ]

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline chievo

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 154
  • Cookie: 47
  • ~ Farewell ~
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter18]
« Reply #21 on: March 09, 2011, 11:07:26 AM »
chievo kok, chievo kok... rasanya dibuli2.. seto......
.......
.......
.......
nuuuuuuuuuuu~ T_____T

anyway, nice story. ditunggu update chap berikutnya XD

@ alceus : jangan lama2 ya updatenya.. Ada penggemarmu yang setiap hari nanyain aku "uda update belum, uda update belum?" =="
dan commentnya setelah baca chapter ini, ".....abis?? kok ga ada al sama sekali T_T " lol
« Last Edit: March 09, 2011, 11:11:50 AM by chievo »
I think this is the time to say enough...

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter18]
« Reply #22 on: March 09, 2011, 12:51:38 PM »
ahaha, sori d, lg ingin naekin peran seto, dr awal masih kurang peran soalnya dia XD
dan mengingat kalian sesama knight, ya kubuat gini aja (seto kan pemangsa wanita seperti al, apalagi kalo lingkungan sama XD)

wogh, siapa tu niat tiap hari @_@
alceus.. kan gak mungkin ada di setiap chapter, jadi harap maklum ^^a
sampein salam aja d buat temenmu XD

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #23 on: March 12, 2011, 01:12:59 PM »
A little note of mine . . .
    Asik juga rasanya liat thread FFA rame lagi dengan banyak yg baru. Apalagi migno juga update. ya udah d, gak mau kalah XD
    mangga dinikmati bagi yg menikmati XD
    Dan jangan lupa kritik dan sarannya :> :>

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.




“Nggak ada awan, nggak ada angin.. Benar-benar pagi yang cerah,” seru Latte yang tengah memandang matahari dari sela-sela jarinya. Cuaca seperti itu benar-benar menyejukkan hatinya. Apalagi ia baru saja diangkat menjadi Druid secara resmi sekitar sejam yang lalu. Kalau boleh digambarkan, mungkin saat ini hatinya seperti melompat-lompat ke luar.

Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi seraya memandang orang-orang di sekelilingnya yang mulai membentuk barisan rapi.
“Kalau saja kita dalam keadaan normal, pasti kita semua sedang bersenang-senang di taman. Kamu, aku, Kai, dan—”

“Sudahlah, jangan terlalu berandai-andai. Yang ada, kamu sendiri yang akan sakit,” potong Yust yang dari tadi berdiri di sebelahnya. Ia melirik ke langit. Cerah, seperti kata Latte. Tapi terlalu cerah menurutnya, seolah ketenangan sebelum badai. Tentu saja, badai akan terjadi, apapun bentuknya. Karena itulah alasan mereka semua dikumpulkan di sana.

Di kejauhan, terlihat Shiki tengah memberikan sepatah-dua patah kata sebelum misi dimulai. Jujur saja, Yust dan Latte tidak terlalu peduli basa-basi yang diberikan Shiki. Setidaknya sampai kalimat terakhir yang akhirnya sedikit bisa mencuri perhatian mereka.

“Inilah saatnya kita tebus dan pulihkan kehormatan kita, mari kita jatuhkan palu keadilan pada penjahat itu!”

Raungan dan teriakan menyambut kata-kata Shiki yang penuh semangat. Menggema dan memekakkan seluruh telinga makhluk-makhluk liar penghuni Acronia Eastern Plains, membuat mereka lari ke sana ke mari bagaikan seekor Lost Metalic.

“Penjahat.. Itu kah pandangan semua orang?” tukas Latte sembari menghela napas. “Tapi, bagaimana kalau dia nggak salah?”

“Jangan bimbang, Latte,” kata Yust, mencoba menenangkan. “Kalau dia nggak salah, kita akan segera tahu dan melakukan sesuatu di sana. Tapi kalau dia memang bersalah..”

“Kalau bersalah..?”

Yust menggeleng pelan. Sebenarnya ia pun masih diliputi keraguan, sama seperti Latte. Tapi sebagai seorang profesional, ia harus bisa membuang semua keraguan itu. “Kita harus mementingkan keselamatan orang banyak di atas satu orang yang jelas-jelas salah. Kita akan melakukan apa yang semua orang di sini akan lakukan.”


Chapter 19: Queen’s Message


“Huff.. Aku nggak pernah suka aura tempat ini..” gumam Chievo saat berdiri di depan kastil hitam di pinggir pantai Breadbasket.
Takut?  Tidak juga. Memang, kegelapan yang menyelimuti kastil itu mampu membuat bulu kuduk siapa pun yang mendekatinya berdiri.  Suasana mencekam selalu menghantui siapa pun yang ada di dalamnya, seolah apa pun bisa muncul kapan pun dan di mana pun.

Tapi ia adalah seorang Knight yang terlatih. Ia yakin bisa mengalahkan apapun yang muncul, kecuali kalau hantu-hantu itu sama sekali tidak bisa diserang seperti dalam cerita horor yang suka ia baca saat kecil. Hanya saja, ia agak ragu tuan putri nya ada di tempat seperti itu.

“STOP!”

Langkah Chievo terhenti saat mendengar perintah itu. Tangannya mempererat genggaman tombaknya. Ia tahu, cepat atau lambat halangan akan terjadi, walaupun ia tidak menyangka akan secepat ini. Benar-benar suatu kecerobohan.

“Jangan berpikir macam-macam! Aku tahu niatmu, dan aku sudah mengantisipasinya. Walaupun bisa lolos dan membunuhku, itu pun akan percuma, karena aku akan segera membunuhmu. Sekarang sebutkan siapa dan mau apa kamu ke sini!”

Mendengar seruan itu, mau tak mau Chievo membatalkan niatnya untuk menyerang balik. Terutama setelah matanya menangkap lingkaran sihir yang mulai tergambar di tempatnya berdiri dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi, ia tidak ke sini untuk bertarung. Dan kalau penyergap itu memberi kesempatan untuk menjelaskan, mungkin ia bisa menghindari pertempuran yang sia-sia.

“Namaku Chievo, Knight dari Northern Kingdom. Aku ke sini untuk menemui Putri Magdaleine sekaligus mengantarkan pesan untuk penguasa di tempat ini.”

Tiba-tiba lingkaran sihir di bawahnya menghilang. “Spell Cancel?” gumam Knight itu. Ia pun segera berbalik mencari asal suara tadi, namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Bahkan sekarang ia tidak merasakan tanda keberadaan siapa pun di sekelilingnya.
“Benar-benar deh.. Nggak heran tempat ini disebut kastil berhantu.”

KRIEET

Masih dibingungkan dengan semua kejadian aneh itu, tiba-tiba pintu utama kastil terbuka, menampilkan sosok anak kecil berambut hitam panjang yang dikuncir di kedua sisinya. Pakaian serba hitam dan bernuansa gothic yang dikenakannya melengkapi suasana horor kastil itu.

“Silahkan masuk, kami telah menunggumu,” ucap anak kecil itu sambil memberi isyarat pada Chievo untuk mengikutinya.

“Kamu.. yang tadi itu ya?”

“Yap. Ayo, aku dan yang lainnya sudah menunggu di atas,” jawab anak kecil tersebut dengan riang sembari menunggu Chievo di atas tangga. “Tapi hebat ya, respon orang-orang North benar-benar cepat.”

Chievo mengikuti anak itu dengan tenang –atau lebih tepatnya, mencoba terlihat tenang. Ia perlu waktu sampai ia yakin anak kecil itu bukan hantu. Tapi kalau bukan hantu, untuk apa anak sekecil itu ada di tempat seperti ini?
“Aku.. kebetulan ada di daerah dekat sini, jadi ratu menyuruhku mampir.”

Dengan mulut yang membentuk huruf ‘O’, anak itu mengangguk kembali menuntun kurir pesan dari North itu untuk terus naik.

Tidak perlu waktu lama sampai akhirnya mereka tiba di lantai empat. Di balik pintu terakhir yang mereka lewati, terdapat sebuah ruangan besar. Walaupun masih ada kesan tua dan lama tak dipakai, namun ruangan itu cukup bersih dan masih ada kemegahan terpancar dari tiap penjuru ruang tersebut.

Selama beberapa detik, Chievo berdiri di pintu masuk sambil memperhatikan sekelilingnya. Ruangan sebesar itu hanya diisi beberapa orang saja, lima perempuan dan dua laki-laki. Mubazir rasanya, walau bukan itu poinnya saat ini.

Melihat kedatangannya, pria yang duduk di singgasana di ujung ruangan segera berdiri. “Selamat datang di kastil ini. Aku—”

Belum selesai kata-kata itu, tiba-tiba salah satu dari lima perempuan tadi menerjang dan memeluknya.

“Chievoo!” teriak gadis itu saat memeluknya. “Lama nggak jumpa!”

“Tu-Tuan Putri?”

“Hei, Mag, lagi-lagi kau menyela perkenalan diriku!” tukas pria tadi sembari mencibirkan bibirnya. Dengan rasa kesal, ia pun kembali duduk di kursinya. “Kau ini benar-benar ngajak ribut ya..”

Magdaleine melepaskan pelukannya dan menoleh pada pria tersebut. “Huh, paling-paling kamu bakal mengatakan omong kosong lagi seperti saat pada ibuku, Al.”

Chievo memandang Magdaleine dan Alceus secara bergantian dengan wajah bingung. Semua agak berbeda dari yang ia bayangkan. Padahal saat menerima misi itu dari Seto, ia membayangkan suasana tegang di mana tuan putri-nya ditahan, disandera, dan disiksa oleh Alceus –meskipun Seto sudah bilang kalau Magdaleine di sana atas keinginannya sendiri. Suasana di mana ia harus bertarung melawan puluhan bahkan ratusan anak buah raja yang jahat itu demi menyelamatkan Putri Magdaleine.
“Anda.. pasti Alceus, raja di tempat ini,” ucapnya dengan sesopan mungkin.

“Bah.. Raja.. Jangan ikut tertipu, Chievo. Dia sama sekali bukan raja, kok,” seru Magdaleine sambil tertawa. “Di sini nggak ada raja atau ratu. Dari Chocola, Hanyuu, Princess, Rey, Bia, bahkan Doppleganger-nya Chocola, semua sama,” lanjutnya sembari memperkenalkan satu persatu semua yang ada di sana, kemudian menunjuk anak kecil pengantar Chievo yang berlari dengan riang dan duduk di kursi samping Alceus.

“Begitu ya.. Maaf kalau begitu..”

“Sudahlah, nggak perlu minta maaf, dan nggak perlu seformal itu. Emm.. namamu Chievo, kan? Sekarang bisa kita masuk ke tujuan utamanya? Kata dia, kau punya pesan untukku,” kata Alceus sambil mengelus kepala anak kecil di sebelahnya.

“Ya, aku memang membawa pesan itu. Tapi..” Chievo tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya sibuk mengamati setiap orang yang hadir di ruangan itu. Ia merasa sebenarnya tidak perlu melakukan hal ini, tapi pesan dari ratu harus disampaikan seutuhnya, dan sesuai instruksinya. “Bisakah kita bicara berdua saja?”

“Ehh?? Aku juga nggak boleh mendengar pesan ibu??” tanya Magdaleine dengan penuh kekecewaan.

“Maaf, Tuan Putri. Saya hanya menyampaikan pesan sesuai keinginan beliau. Beliau menyampaikan salam untuk Anda, tapi untuk pesan yang ini..”

Kekecewaan jelas terlihat di wajah putri dari utara itu. Tapi ia tahu, ibunya yang sangat menyayanginya itu tidak akan berbuat seperti ini kalau bukan isinya benar-benar-sangat-luar-biasa-super-penting. “Yah, aku mengerti kok. Nggak apa-apa.”

“Nah, kalau begitu, ayo kita pergi ke ruangan lain,” ucap Alceus seraya bangkit dari singgasananya.

“Soal itu, bisa kah kita bicara di tempat lain? Maksudku, bukan di kastil ini.” Sekali lagi, ia melirik orang-orang yang hanya diam memandangnya dari tadi. Meskipun di ruangan lain, tetap ada resiko terdengar –atau dikuping— oleh orang lain. Dan kelihatannya Alceus paham maksudnya itu.

“Terserah saja. Memangnya mau di mana?”

“Kalau Anda tidak keberatan, kita akan bebicara di hutan di timur Fareast, Eastern Dungeon. Tempat itu cukup sepi, dan tidak ada orang yang akan mengganggu.”

“Wow, cewek yang baru kenal tiba-tiba langsung mengajakku berduaan di tempat sepi? Apa boleh buat, aku nggak mungkin menolak, kan?” tukas Alceus, nyengir.

“Alceus, jaga sikap dan pikiran kotormu jauh-jauh!” teriak Magdaleine disertai tatapan sinisnya. “Huh, kelakuan orang kelas bawah ya begini, nih.”

“Oh, ayolah, Mag. Aku tahu kau cemburu, tapi kan—”

“Aku nggak –dan nggak akan pernah— cemburu. Memangnya siapa yang suka padamu? Kamu pikir—”

Yeah, yeah, whatever. Ayo kita pergi, aku ingin dengar pesan itu secepatnya,” potong Alceus sambil menepuk pundak Chievo, lalu melangkah pergi ke pintu keluar.

“Hey tunggu, jangan acuhkan aku!”


~ * ~

“Jadi,” tanya Alceus memulai pembicaraan dengan tak sabar, “apa kata ratumu itu?”

Chievo tidak menjawab. Langkahnya yang baru saja melewati gerbang selatan kota Fareast pun sama sekali tidak melambat. Walaupun terlihat tenang dan santai, tapi gadis itu sama sekali tidak mengurangi kewaspadaannya dan siap untuk apa pun yang terjadi. Seperti kata Seto, orang yang saat ini mengikutinya di belakang adalah orang yang patut diwaspadai, terlebih lagi ia baru saja nyaris kehilangan nyawanya karena kurang hati-hati saat memasuki Undead Castle.

“Hey, ayolah. Nggak ada orang di sekitar sini, dan kita juga sudah cukup jauh dari kastil. Memangnya apa yang bisa dilihat di hutan gelap nan suram itu?” tanya Alceus sekali lagi. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari Knight di depannya itu.
“Ah sudahlah, terserah.”

Beberapa langkah setelah Alceus menyerah, akhirnya Chievo pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan memperhatikan Ranger di hadapannya dengan seksama dari balik Receiver-nya.
“Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Ratu mungkin ingin bicara langsung denganmu, tapi semua tergantung jawabanmu.”

“Ya terserahlah, tanya apa saja yang kau mau,” jawab Alceus dengan santai dan bersandar pada pohon di sampingnya. “Nama, hobi, tempat tanggal lahir—”

“Bukan itu!” jawab Chievo sedikit kesal. “Apa kamu ingat soal kejadian datangnya DEM sebelum ini?”

“Tentu saja. Itu kan belum begitu lama.”

“Bisa ceritakan?”

“Hmm..” Alceus menutup mata dan mengelus-elus dagunya, berpikir dengan gaya yang dilebih-lebihkan sambil mencoba mereka ulang kejadian-kejadian di masa lalu dalam kepalanya. “Aku nggak ingat tiap detilnya, tapi kejadian itu kejadian besar yang melibatkan seluruh Acronia, bahkan bisa dibilang nyaris menghancurkannya, kan? Kenapa nggak tanya saja sama orang-orang Acropolis atau ratumu itu? Mereka pasti lebih tahu.”

Chievo mengernyitkan dahinya mendengar jawaban tersebut. Cukup lama ia menatap pria di depannya, sebelum akhirnya bergumam pelan, “Aneh.. Kejadian itu.. harusnya nggak diketahui orang banyak karena kita dan Acropolis berhasil mencegahnya sebelum meluas.. Tapi kok..”

“Apa maksudmu?” tanya Alceus yang kupingnya rupanya berhasil menangkap kata-kata Chievo.
“Ah, tapi aku juga jadi ingat, kalau nggak salah orang-orang Acropolis itu juga bilang begitu. Hanya kelompok kecil dan mereka mampu menyembunyikan kejadian dari publik sebelum meluas.. Kalau dipikir-pikir sekarang, aneh juga rasanya.”
Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berjalan mudar mandir layaknya sebuah setrikaan.

“Yah, aku pun nggak mengerti,” ucap Chievo menambahi. “Tapi yang jelas, kamu lulus.”

“Lulus?” tanya Alceus yang segera menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis itu dengan penuh heran. “Jadi ini semacam tes? Berani amat orang sepertimu mengetesku.”

“Jangan salahkan aku,” jawab Chievo sembari mengangkat kedua bahunya. “Atasanku yang menyuruhku menanyakan itu, katanya sih permintaan ratu. Dan kalau jawabanmu.. umm.. aneh, maka aku disuruh membawamu menemui ratu. Selanjutnya beliau sendiri yang akan berbicara.”

“Wew.. dasar ratu yang aneh,” ujar Alceus sambil menghela nafas panjang. “Jadi, di mana kami akan bertemu?”

“Tentu saja di istananya. Di Northern Kingdom.”

“Aku menolak,” jawab Alceus dengan tegas.

“Lho, kenapa?”

“Northern Kingdom itu jauuuuh dan dingiiiiiin. Aku nggak punya Airship, dan ke sana pun harus lewat Acropolis,” jawab Ranger itu dengan malas.
“Lagipula, statusku di sini nggak lebih rendah dari ratumu. Aku independen, nggak terkait struktur Acropolis dan sekutunya. Kalau mau, suruh ratumu itu yang menemuiku.”

“Jangan kurang ajar ya!” Dalam sekejap tangan Chievo sudah menggenggam tombaknya dan siap menodongkannya pada pria di hadapannya itu. Namun semua terhenti saat sebuah suara muncul dari Receiver miliknya.

BZZT

“Ada apa, Seto?” tanyanya dengan geram, kesal karena kemarahan dan apa yang baru saja akan ia lakukan terpaksa tertunda.

“Halo, Chievo. Aku sudah mendengar percakapan kalian dari Receiver-mu itu. Boleh berikan Receiver-mu padanya?”

“Y-Yang Mulia?!” seru Chievo panik. Ia sama sekali tidak menyangka suara yang didengarnya bukan suara Seto, melainkan suara seorang wanita yang penuh wibawa. Ia juga sama sekali tidak pernah menyangka akan bicara pada orang terpenting Northern Kingdom pada saat seperti ini. “Tentu.. tentu Yang Mulia.”

Dengan tatapan geram dan kesal, ia menyodorkan Receiver-nya pada Alceus dengan kasar.
“Ini. Ratu ingin bicara langsung padamu.”

Dengan senyum kemenangan tergambar di bibirnya, Alceus tanpa ragu mengambil benda itu dan memasang di telinganya sendiri.
“Halo, Nyonya Ratu. Jadi bagaimana pembicaraan kita?”

“Aku nggak keberatan datang ke istanamu. Hitung-hitung sekalian menengok Magda,” lanjut suara tersebut. “Tapi ingat, kalau kamu macam-macam dengan Magda, aku akan menghajarmu seperti kami dulu menghajarmu.”

“He? Dulu? Memangnya kita pernah bertemu?”

“Kamu nggak ingat? Well, biarlah. Mungkin lebih baik kamu nggak tahu, walau mungkin kamu juga ingat saat kita bertemu nanti.”

Alceus hanya bisa mengernyitkan dahinya tak mengerti. Ia mencoba mengingat-ingat siapa kira-kira lawan bicaranya tersebut, tapi seingatnya tidak ada yang orang sepenting itu yang dia kenal. Suaranya memang mirip dengan seseorang, tapi ia yakin suaranya berbeda.

“Sudah, aku mau siap-siap. Oh ya, Knight-ku, Chievo, juga off-limit! Aku tahu sifatmu, jadi jangan macam-macam, ya.”

“Hmm.. Aku jadi makin penasaran..” ujar Ranger itu sembari mengembalikan Receivernya pada Chievo.

Chievo hanya bisa memandang Alceus dengan heran, tanpa mengerti apa-apa tentang yang baru saja dibicarakan dengan ratunya. Jujur, ia lebih penasaran dari Alceus soal sikap ratunya. Kenapa sampai repot-repot datang sendiri? Memangnya siapa pria itu?
Sembari memasang Receiver untuk menutupi matanya kembali, ia pun berkata, “Nah, sekarang ayo kita—”
“Ada apa?”

“Itu.. itu apa?” kata Chievo yang balik bertanya sambil menunjuk beberapa titik hitam di angkasa yang semakin mendekat dari arah barat.

Penasaran, Alceus pun menyipitkan matanya agar bisa melihat benda asing itu dengan jelas. Namun itu masih terlalu jauh baginya. Setelah titik-titik itu cukup dekat, baru akhirnya ia mengenali benda itu sebagai kumpulan Airship yang terbang mendekat, dan segera menyadari apa yang terjadi.
“Sial! Dasar Acropolis kurang ajar! Chievo, kita kembali sekarang!”


« Last Edit: September 29, 2011, 01:51:38 PM by shinigami_boy »

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #24 on: March 12, 2011, 01:20:41 PM »
pertamax stealed =P

ayo cepat chap 20!! *shot*
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #25 on: March 12, 2011, 01:22:15 PM »
not so fast.
after migno 10 (preferably after migno 11) of course XD

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #26 on: March 12, 2011, 01:26:59 PM »
not so fast.
after migno 10 (preferably after migno 11) of course XD
no waaaaaaay :shock:
ughhh.... cepet2 nulis nih..... :cry:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookie: 39
  • Saber X Gilgamesh~ <3
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #27 on: March 12, 2011, 01:52:09 PM »
Chapter 20!!! Munculkan Yamatooooo! *guncang2 alce

Wow akhir nya perang @_@


Btw Bia di kemanakan? Kok dia gak ada yah?
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #28 on: March 12, 2011, 02:00:42 PM »
Btw Bia di kemanakan? Kok dia gak ada yah?
^ baru nyadar juga
mana biaxidennnttttt D:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] ECOSaga: Rise of the Machine [Chapter19]
« Reply #29 on: March 12, 2011, 02:16:38 PM »
yamato cuma perkenalan..
21 (ato 22 ya? pokoknya skitar itulah) kmungkinan bakal fokus ke dia lg, jd tokoh utama chapter, kayak chievo di chapter ini :D

bia.. now that u mention it.. aku lupa ngitung ada bia! :shock:
gomen2 :nyebur: