Author Topic: [ECO FANFICT]The True Determination  (Read 8022 times)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
[ECO FANFICT]The True Determination
« on: January 26, 2011, 02:45:49 PM »
The True Determination



[Author’s note]

Fanfict oneshot ini... aslinya gw bikin bukan buat lomba sih fufufufu
cuman karena gw lagi pingin nulis aja, sekalian pura-pura lupa gw ditagih berkali-kali new chapter fanfict Aleron sama oknum-oknum tertentu wkwkwkwkwkwkwkwkwk
gw masih stuck sih disana... kemaren baru aja di koreksi sama temen gw kalo ada yang missed
jadi gw kudu edit-edit dikit ini itu, jadinya pending-pending mulu
kebiasaan buruk gw kalo udah perlu banyak koreksi gw malah lari ke oneshot
wakakakakakak *dijitak para sesepuh FFA*
uamponnnnnnnn

anyway
tokoh utamanya, sesuai dengan kriteria, gw kasih nama squad
tokoh pendukungnya gw liat dari list ring eternal gw cuman kenal sama Valentia dan Cielers sih,
berhubung gw butuh side-chara cewek jadi gw pilih Valentia
gw minta maaf kalo jobnya gw ganti, tapi appearancenya tetep sama kok  =P =P

anyway lagi
gw (lagi-lagi) bikin fanfict dari sudut pandang orang pertamax
udah dibilangin sih sama pacar gw enak dari orang ketigax
tapi gw... agak kurang familiar
mungkin gw butuh lebih banyak practice kali ya... huiks huiks

dan seperti biasa
please, feel free to read my new one shot
dan jangan lupa.. leave comment juga karena gw tetep butuh saran dan kritik yang membangun untuk one shot-one shot gw ke depannya



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © milkteddy 2010

Squad adalah karakter milik squad, sedangkan Valentia adalah karakter milik sugarcane.

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED



      Namaku Squad, dari dulu hingga sekarang. Aku tidak tahu mengapa nama itu terbesit di dalam kepalaku. Aku juga tidak tahu bagaimana aku mendapatkan nama itu. Tiba-tiba saja kata ‘Squad’ meluncur dari mulutku ketika seseorang yang sangat berharga bagiku menanyakan namaku. Dia menyelamatkanku dari beberapa orang yang mencoba memukuliku sampai mati. Dia juga merawat semua luka-lukaku, menjaga ketenangan tidurku. Tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujuinya waktu perempuan itu menawarkanku tinggal bersama dirinya dan menjadi asistennya. Asisten seorang pembunuh bayaran kedengarannya menarik bagiku. Seumur hidupku aku belum pernah merasakan nikmatnya berpetualang. Aku iri dengan teman-temanku yang terus membanggakan keberanian mereka. Mungkin ini kesempatan yang bagus untuk memperbaiki jalan hidupku, akan aku buktikan bahwa aku juga punya eksistensi yang bisa diakui oleh orang lain.

      Namaku Squad, nama yang masih saja terus aku gunakan walaupun aku menyadari ‘Squad’ bukanlah nama asliku. Aku mengerti sepenuhnya saat aku menorehkan inisial namaku yang baru di dadaku, dibawah cap emblem Blademaster yang diukir oleh Swordsman Master. Aku benar-benar ingin menghapus semua masa laluku dan memulai hidupku yang baru. Sebagian orang mengatakan aku berubah menjadi kejam karena aku bergaul dengan orang yang salah. Valentia bukan perempuan seperti itu. Dia menjadi salah satu pembunuh bayaran bukan karena keinginannya, melainkan karena dunia atas telah membuangnya. Valentia tidak dapat menafkahi dirinya dengan cara yang pantas, perempuan itu masih mempunyai hak untuk hidup. Aku tidak perduli apa kata mereka. Entah mengapa aku mulai merasa nyaman ketika orang-orang berbisik menyebutkan namaku dengan ketakutan yang terang-terangan mereka sembunyikan. Ini lebih baik daripada kehidupanku yang sebelumnya, setidaknya aku diakui oleh mereka. Aku bosan terus diabaikan.

      Namaku Squad, dari dulu hingga sekarang, dimana aku memutuskan meninggalkan Valentia. Aku masih mengingat dengan jelas bahwa hari itu langit sangat mendung. Udara dingin berhembus pelan merasuki kalbu, membekukan tulang. Tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali suara deru sepeda motor hijauku yang memekakkan telinga. Aku bergidik, bukan karena aku lemah terhadap cuaca, tetapi karena aku tidak tahan melihat air mata Valentia yang menggantung di sudut matanya. Ini pertama kalinya aku melihat mukanya memancarkan kesedihan yang begitu nyata, biasanya dia dengan lihai menyembunyikan perasaannya dariku. Aku kembali memikirkan kata-kata yang belum lama kulontarkan padanya, pernyataanku untuk berpisah dengannya. Apakah aku salah jika aku ingin bebas dari bayang-bayangnya? Apakah aku salah jika aku ingin memutuskan jalan hidupku sendiri? Jujur saja aku sedikit muak dengan namanya yang terus melambung karena jasa-jasaku. Seharusnya aku yang mendapat pujian, seharusnya aku yang mendapatkan semua uang itu. Tapi mengapa hanya nama Valentia yang di elu-elukan oleh semua orang? Apakah karena aku adalah asistennya yang tidak berharga? Valentia mengkhianatiku. Aku akan meninggalkan siapapun yang menusukku dari belakang. Aku tidak perduli jika aku disebut sebagai anak yang tidak tahu balas budi. Valentia memang pernah menyelamatkan hidupku satu kali, tapi semua yang kulakukan untuknya sudah lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangku. Dengan satu tatapan sendu, aku mengemudikan motorku pergi untuk selamanya.

      Namaku Squad. Aku adalah seseorang yang sangat ditakuti oleh semua orang. Mereka memanggilku The Death, Dewa Kematian. Aku berdiri di jembatan yang menghubungkan dua menara Light Tower. Ujung lengan baju hakamaku berkibar diterpa angin kencang yang berasal dari Morg. Aku menyibakkan rambut bergaya valentine pirang keemasanku ke belakang saat menerima sebuah foto yang dibalut secarik kertas dari seorang laki-laki bertubuh kekar dengan jas coklat tua di salah satu lantai Light Tower. Pria misterius dan mencurigakan itu adalah pelanggan setiaku. Dia selalu membayarku dengan mahal apabila aku sukses mengenyahkan semua musuh-musuhnya. Kali ini dia menantangku untuk berduel dengan orang yang berprofesi pembunuh bayaran sama sepertiku. Aku terkekeh geli. Aku adalah Squad, seorang Blademaster berbakat sekaligus pembunuh bayaran terkuat di benua Acronia ini. Tidak ada satu orang pun yang dapat menandingi diriku. Aku memang ditakdirkan untuk membunuh semua orang yang menghalangi jalanku. Kemudian semua kepercayaan diriku itu menguap ketika aku membaca tulisan di secarik kertas pembalut foto yang disodorkan padaku tadi. Tulisan yang sangat familiar bagiku itu tertulis kecil dalam huruf latin dengan tinta hitam tebal, ‘Valentia Aurelia’. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, berharap mataku salah membaca tulisan itu, namun huruf-huruf itu juga tetap tidak berubah. Aku membalikkan foto target di belakang secarik kertas itu dengan ragu-ragu. Hatiku berkecamuk dan untuk pertama kalinya memohon kepada Tita dan Titus agar mengabulkan harapanku, kumohon bukan dialah yang akan mati ditanganku. Ternyata sesuai dengan dugaanku, perempuan itu berambut hitam dengan panjang sebahu. Sebagian rambutnya dikuncir dua di sisi kiri dan kanannya, sisanya digerai begitu saja menghiasi lehernya. Matanya, yang juga sehitam rambutnya, terlihat bahagia. Aku merobek foto itu menjadi potongan-potongan kecil dan membuangnya, kebiasaan lamaku sesudah melihat foto target, harus segera dilenyapkan. Aku bersikeras menyembunyikan ketakutanku di depan pria dengan jas coklat tua itu. Aku harus bertindak profesional, tidak perduli betapa berharganya target itu untukku, tidak perduli betapa aku menyayanginya, aku akan tetap membunuhnya. Aku telah bersumpah setia pada pria itu. Aku juga telah bersumpah setia pada pekerjaanku. Aku akan membunuh Valentia, pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.

      Namaku Squad. Kukira diriku pandai dalam mencari seseorang. Sudah beberapa hari berlalu sejak aku mati-matian mengikuti jejak Valentia. Sulit sekali menemukan perempuan itu karena bersembunyi adalah keahliannya. Jelas sekali dia berusaha melupakanku. Dia meninggalkan rumah persembunyian lamanya, meluluhlantakkan semua isinya agar aku tidak bisa melacaknya. Dia juga sudah tidak bekerja lagi dengan pelanggan lamanya. Kabar terakhir yang kudengar, Valentia membunuh orang itu agar tidak seorangpun dapat mencarinya. Aku memutar otakku, berusaha mengenang semua ingatan tentangnya, yang pada akhirnya malah semakin menyakiti hatiku. Dimanakah dia? Mengapa aku, orang terdekatnya, bahkan tidak mengenal dirinya dengan baik? Pastinya ada suatu tempat yang membuat dirinya merasa nyaman dan tidak perlu menggunakan topengnya. Aku mendesah dan menyerah pada hatiku. Kubiarkan instingku mengarahkan tubuhku. Aku terkejut bahwa instingku tadi membawaku ke suatu bangunan seperti menara dengan sebuah jam besar diatasnya di kota Fareast. Aku memasuki bangunan itu, menyapukan pandanganku ke sekeliling dan mendapati seorang perempuan sedang membaca buku tebal di sudut ruangan.

“Hai, Squad,” sapa gadis berambut hitam itu ramah. Ia mengembangkan senyumnya yang tulus, mau tidak mau membuatku sedikit tersipu malu karena senyuman itu adalah senyuman kesukaanku.

Tapi kesombonganku mengalahkan rasa rinduku. Aku tidak dapat membiarkan satu orang pun melihat The Death tersenyum. Senyum samar malu-malu balasanku tadi berubah menjadi seringai mengerikan, “Valentia. Lama tidak jumpa.”

Valentia tertawa geli, menutup buku tebalnya, beranjak dari kursi dan berjalan ke arahku, “Seharusnya itu adalah dialogku, Squad. Lama tidak jumpa denganmu. Apa yang kau lakukan disini?”

“Lebih tepatnya seharusnya aku yang bertanya,” tukasku sebal, meniti seluruh badannya dari ujung kepala hingga kaki. Valentia terlihat manis memakai baju seragam sailor merah muda, yang juga senada dengan sepatu hak tingginya berwarna pink cerah, Dia selalu manis, sangat manis, “Kamu sekarang bersekolah, eh?”

“Iya,” jawabnya singkat. Valentia menundukkan kepalanya sekilas, menghindari menatap mataku saat mengutarakannya. Cepat-cepat perempuan itu mengangkat kepalanya dan mengedipkan sebelah matanya, “Kamu tahu kan jika sedari dulu aku ingin sekali bersekolah dan menjalani kehidupan yang normal.”

Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutku, ”Hahahaha. Normal, eh?”

“Sedang apa kau disini, Squad?” tanya Valentia, mengalihkan pembicaraan, tidak ingin memperpanjang pertanyaan soal dirinya. Ia menyisir poni rambut hitamnya ke belakang, meraih kursi terdekat dan duduk dengan anggun.

“Aku rasa kau sudah mengetahui maksud kedatanganku, eh?” ucapku gamblang, tanpa basa-basi sedikitpun padanya. Aku mengeluarkan pedang Griel berwarna ungu dengan lapisan timah perak milikku, mengarahkan pada Valentia. Tidak ada tanda keterkejutan sama sekali dari gadis itu. Ekspresi wajahnya tidak dapat kutebak, jalan pikirannya tidak dapat kutebak. Valentia sepertinya sudah tahu bahwa hari seperti ini cepat atau lambat akan segera datang. Hari dimana aku akan mencarinya dan berniat membunuhnya. Sungguh menggelikan sekaligus menjemukan, aku hanya bisa meringis di dalam hati. Mengapa dia bisa setenang ini kalau begitu?

Beberapa detik kemudian, yang terasa sangat lama, perempuan itu tertawa geli dan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak percaya Suspicious Man itu benar-benar menyuruhmu membunuhku, Squad.”

Badanku mengejang ketika mendengar nama majikanku disebut olehnya. Aku meremas gagang pedang Grielku erat-erat, “Darimana kau tahu aku bekerja padanya?”

“Dulu aku bekerja padanya, Squad,” kata Valentia, mengatupkan kedua telapak tangannya menjadi satu dan meletakkannya di lututnya dengan lembut, “Sampai saat ini pun aku masih bekerja padanya.”

Valentia merogoh kantong kecil di dekat pinggangnya, menunjukkan padaku sebuah foto diriku menyandang pedang ungu kesayanganku. Dia juga memamerkan secarik kertas bertuliskan namaku, ‘Squad’, dengan tulisan tangan dalam huruf latin bertinta tebal yang sangat kukenal.

Aku menatap foto dan secarik kertas itu dengan pandangan tidak percaya. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin menetes dari dahiku, meluncur turun dengan tenang menuruni leherku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Bagaimana dia bisa mendapatkan foto itu? Bagaimana bisa namaku tertulis disana? Apakah Suspicious Man menyuruh Valentia membunuhku?

“Kau bercanda, eh?” ujarku kaku, tidak bisa menutupi ketakutanku dengan sempurna.

Valentia memandang lurus ke depan dengan tatapan yang kosong, “Sayangnya tidak, Squad. Aku juga berharap bahwa perintah Suspicious Man adalah lelucon belaka. Tetapi mataku tidak dapat membohongiku.”

Valentia menghela nafas. Assassin itu tersenyum lagi kepadaku, kali ini yang dia keluarkan adalah senyuman polos dari seseorang yang pura-pura tidak bersalah, “Beberapa hari yang lalu aku mengetahui bahwa dirimu juga bekerja untuk Suspicious Man. Aku tidak dapat menyangkal diriku masih menyayangimu, Squad. Aku ingin menjauhkan diriku sejauh mungkin darimu. Maka, aku ingin meminta Suspicious Man untuk melepaskan sumpahku. Tetapi itu tidak bisa, kau tahu kan?”

“Kau harus membunuh Suspicious Man jika kau ingin melepaskan sumpahmu,” terangku datar. Aku menunduk, memperhatikan lantai kayu di bawahku. Aku sedang berharap aku tidak terlibat dalam situasi seperti ini, tapi sepertinya sudah terlambat.

“Benar. Sepertinya pria itu tahu bahwa aku merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Dia lalu mencari tahu masa laluku,” Valentia menancapkan kukunya ke meja tulis di sampingnya, meninggalkan bekas luka yang dalam, “Dia memberiku perintah itu, perintah untuk membunuhmu. Dia mengetahui kelemahanku.”

Valentia terdiam, begitu juga dengan diriku. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ceritanya. Terlalu menyakitkan, dan terlalu tidak adil bagi diriku. Jika aku tidak dapat membunuhnya, berarti Valentia lah yang akan membunuhku. Apakah kisah kami berdua akan berakhir disini, seperti ini?

Tawa terbahak-bahak yang berasal dari mulutku memecah keheningan di dalam ruangan itu. Aku mengangkat pedangku dan mengacungkan ujungnya kepadanya, “Bertarunglah denganku, Valentia. Perintah seorang Master adalah sesuatu yang mutlak dikerjakan oleh para pembunuh bayarannya. Kau mengajariku untuk tidak pandang bulu pada siapapun. Kau tidak bisa menjilat ludahmu sendiri.”

Valentia menyunggingkan sebuah senyuman lega, “Aku tahu kamu akan berkata seperti itu, Squad. Kamu tidak berubah.”

Assassin itu memasang Machine God Claw miliknya, memastikan keduanya terpasang erat di tangannya, kemudian mengambil kuda-kuda pertahanan. Tanpa komando pertandingan dimulai, aku langsung meluncur maju mengibaskan pedangku padanya berkali-kali tanpa jeda. Valentia dapat menangkis semua seranganku, melompat kesamping dan menancapkan cakarnya di bahuku tiga kali berturut-turut. Aku mengerang kesakitan, memutar pedangku, mengayunkannya dengan ringan dan cepat. Namun Valentia masih tetap saja dapat membaca gerakanku dan menghindarinya dengan sempurna.

Aku mengangkat pedangku tinggi keatas, berkonsentrasi dan memunculkan lingkaran-lingkaran merah di sekelilingku. Aku kembali menyerang Valentia dengan ayunan tusukan-tusukan pendek khas Omnislash tanpa henti. Ayunan pedangku menjadi lebih cepat karena efek lingkaran-lingkaran merah itu. Aku merasakan bahuku berdenyut perih. Valentia pasti mengetahui kelemahanku karena dulu aku belajar bertarung darinya. Saat bahuku terluka, aku pasti menjadi lebih lambat. Aku tidak boleh kalah hanya karena luka di bahuku. Aku bukanlah orang yang lemah seperti Valentia mengenalku dulu.

Aku berputar, mengayunkan pedangku untuk mengumpulkan angin-angin. Valentia dapat menebak bahwa aku akan mengeluarkan pusaran angin yang dihasilkan dari pedangku untuk melawannya. Valentia lalu mengikuti arah putarku, membentuk tornadonya sendiri dan mengarahkan pusaran angin itu ke arah tornado buatanku. Kedua putaran angin itu beradu di tengah, meledak, menghempaskan kami berdua ke ujung ruangan. Kepalaku menabrak bangku-bangku kayu kelas itu, membuatku merasa sedikit pusing. Melalui celah bangku-bangku yang berantakan, aku dapat melihat Valentia mendarat dengan anggun diatas meja kayu yang terbalik. Tubuhnya seringan bulu dan selincah kucing, sangat berbeda denganku yang tinggi, kekar dan berat.

Lalu Valentia menghilang, aku tidak dapat melihat dirinya dimanapun. Mendadak kurasakan cakaran-cakaran panas di punggungku. Aku berbalik dan berhasil menusuk lengan Valentia saat perempuan itu sibuk membuat diriku terluka. Valentia bergerak mundur, tidak sengaja memberikanku kesempatan untuk membuatnya menjauh dariku. Aku mengeluarkan angin kuat dari skill Brandish, menerbangkan Valentia ke sudut ruangan. Angin kuat itu membuat mataku sedikit perih, aku tidak menyadari bahwa Valentia memakai ignite dari papa booster emil yang baru saja ia pakai, sekonyong-konyong meluncur ke arahku dan menusuk dadaku dalam-dalam dengan senjata claw miliknya.

Aku terhuyung kesamping. Dadaku terasa sangat sesak sekali seakan-akan ingin meledak sebentar lagi. Tanganku dengan reflek berayun akan menusuk tubuh Valentia. Aku mengumpulkan sisa kesadaranku dan melancarkan serangan Specter dengan ayunan pedang panjang berkali-kali padanya. Valentia tidak menduga bahwa aku masih bisa menyerangnya. Semua serangan terakhirku tadi mengenai dirinya, meninggalkan bekas luka yang sangat dalam di dadanya dan kedua lengannya. Valentia tersungkur jatuh ke tanah. Dadanya naik turun, nafasnya tersengal-sengal. Mukanya pucat pasi. Matanya memandangku dengan tatapan yang tidak dapat kutebak apa maksudnya. Aku meremas pedang Grielku. Keringat dingin menetes menyusuri belakang punggungku. Apa yang akan kulakukan?

      Namaku Squad. Aku adalah Dewa Kematian, begitulah orang-orang menyebut diriku. Kemanapun diriku melangkah, dimanapun diriku berada, aku pasti membawa kematian bagi orang-orang yang menjadi targetku, juga orang-orang yang menghalangi jalanku untuk menyelesaikan misiku. Aku tidak bakal mengira bahwa hari ini akan terjadi. Aku tidak pernah mengira aku akan melihat orang yang kusayangi berlumuran darah karena kibasan pedangku. Aku menatap Valentia, kemudian aku menutup mataku. Aku tidak tahan melihatnya terluka. Aku selalu ingin melindungi dirinya dengan sepenuh hatiku. Aku telah bersumpah pada Masterku untuk menjalani semua perintahnya. Aku akan membunuhnya sesuai yang diperintahkan padaku. Tapi sanggupkah aku? Aku kembali memikirkan apa yang telah kuperbuat selama ini. Semua kenangan tentang diriku dan tentang Valentia mengalir di kepalaku. Aku juga kembali mempertanyakan alasan aku meninggalkan Valentia. Apakah keegoisanku sebanding dengan perasaan sakit hati perempuan yang kusayangi dan rasa kesepianku? Setelah aku mendapatkan eksistensiku yang diakui oleh semua orang, lalu apa? Aku tidak mendapat apapun. Puaskah hatiku?

Aku berjongkok di depan gadis itu. Aku meraih salah satu tangan Valentia, menggenggamnya dibalik senjata clawnya. Aku melepas claw itu dan menempelkan tangannya yang lembut di pipiku. Tanpa kusadari, air mata menetes membasahi bulu mataku. Aku tidak bisa kehilangan dirinya. Kukira selama ini diriku kuat. Aku membunuh orang-orang karena ingin melupakan gadis yang kusayangi, ingin melupakan masa lalu indahku yang kutinggalkan karena keegoisanku. Jika perempuan ini mati, berapa banyak lagi orang yang harus kubunuh untuk melupakannya? Apakah aku akan menjadi monster?

Valentia melirik ke arahku, menyapukan tangannya untuk membersihkan air mataku, “Jangan menjadi orang yang lemah, Squad.”

Semakin banyak air mata yang mengalir dari mataku. Aku mengecup tangannya, berbisik padanya agar Valentia tidak meninggalkanku sendirian. Valentia memaksa tubuhnya untuk bangkit. Saat aku ingin melarang gadis itu untuk bergerak, gadis itu menghilang. Dia menggunakan kemampuan Cloaking miliknya. Kepalaku menoleh ke kiri dan kanan, berusaha mencari keberadaan assassin itu, tapi aku tidak menemukannya dimanapun.

“VALENTIAAAAAAAAAAA!!!!” teriakku menggemakan namanya di ruangan kelas kecil itu, “Valentia, kumohon jangan bersembunyi dariku…”

Aku terbatuk, menunduk dan mendapati sebuah claw menembus dadaku. Aku meludahkan darah yang memenuhi mulutku. Aku menengok ke belakang dan melihat Valentia menusukkan Machine God Claw di tangan kirinya, yang belum kulepas, dalam-dalam ke dadaku.

“Jangan menjadi orang yang lemah, Squad. Perintah tetaplah perintah. Jika kau tidak dapat menghabisiku, maka aku yang akan menghabisimu,” bisiknya pelan di telingaku. Assassin itu mencabut senjatanya dengan kasar, dan menusukkan kembali ke dadaku berkali-kali. Jantungku berdebar kencang, semakin lama semakin melemah. Aku tersenyum simpul, melonggarkan genggaman pedang Griel milikku.

“Aku mencintaimu, Squad,” gumam Valentia lirih, menancapkan tusukan terakhirnya di dadaku.

“Aku… juga…” balasku terbata-bata, mengumpulkan segenap sisa kekuatanku untuk menjawabnya, kata-kata terakhir yang tidak pernah bisa kuucapkan padanya, “Selalu… mencintaimu…”

      Namaku Squad. Aku dulu adalah orang yang tidak terkalahkan. Betapa sulitnya tugas yang diberikan padaku, aku pasti dapat menyelesaikannya. Mereka bilang aku adalah orang yang berbakat. Namun sayangnya, ketidak teguhan hatiku membuatku harus mengakhiri hidupku. Inilah kisahku. Inilah kisah jatuhnya seorang Dewa Kematian yang gagal menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Setidaknya aku mati di tangan orang yang kusayangi, benar-benar sangat kusayangi. Tidak terlalu buruk, eh?

___________________
The True Determination END
« Last Edit: May 24, 2011, 06:06:15 PM by sacchan_magician »

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #1 on: January 26, 2011, 04:34:57 PM »
Wiw keren
haha
bakal segera aku edit di thread lomba fanficnya
nanti malem maybe, kalo udah di rumah :D

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #2 on: January 27, 2011, 10:42:31 AM »
mantap fa.. kisah 2 orang yg bertarung mengikuti takdir dengan mengorbankan perasaan masing2..
dan lagi seperti kisah2 anda lainnya.. kerasa dah emosinya  T^T

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #3 on: January 27, 2011, 10:49:03 AM »
huhuhu thx thx
gw tanya komen temen gw, dia jawab: "tar aja deh males baca"

wakakakak
thx komennya

Offline M1nh

  • Follower of Songs
  • ****
  • Posts: 366
  • Cookie: 51
  • I'm not a man of too many faces
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #4 on: January 27, 2011, 11:50:22 AM »
Geez~

merinding gua bacanya @_@

anyway, good story
None will last forever... Never...

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2967
  • Cookie: 56
  • super ultra biased to tatsun
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #5 on: January 27, 2011, 01:11:55 PM »
waw waw, sad storynya bener bener sad  :cry:
Dan bisa bisanya deskripsi char squad bisa nyempil semua begitu. Meski ujung ujungnya yang nongol terus cuma griel blade sama machine god claw  @_@

Dan... Bagaimana nasib Valentia selanjutnya? Tewas juga kah?
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince

Recently playing AK again: Vestas - Duelist

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #6 on: January 27, 2011, 01:29:37 PM »
wkwkwkwkwk iya
soalnya susah sih nyelipin deskripsi baju sama rambut T^T T^T
yang ada ujung2nya malah gw gak bisa bikin fokus ke battle nya T^T

tar gw coba masukin deh wkwkwk
tar kapan2 kalo mood juga gw tulis sekuelnya (lho)

thx anyway komennya edu sama lia hehe

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #7 on: January 27, 2011, 02:37:09 PM »
Well
tapi overall kok bener2 mirip saia yah
haha
saia jua bakal ngomong kek gitu :3

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #8 on: January 27, 2011, 02:49:31 PM »
hue...lagi2 full of emotion yah ;_;
walaupun di bbrp scene squad-san kesannya jd kurang...cowok... @_@
tapi aku suka tragic endingnya :puppyeyes:

Quote
Valentia tersungkur jatuh ke tanah. Dadanya naik turun, nafasnya tersenggal-senggal.

anoo...cc fafa, bukannya yang bener itu 'tersengal-sengal' yah? :???:
http://www.artikata.com/arti-377733-tersengal-sengal.php

Watching you from afar...and will always love you...
We're always here for you...
[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ]

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FANFICT]The True Determination
« Reply #9 on: January 27, 2011, 05:15:31 PM »
hoo iya ya wkwkw
sori gw ingetnya tersenggal-senggal

thx buat koreksinya