Author Topic: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas  (Read 25950 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
[ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« on: February 06, 2011, 10:49:07 AM »
Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
~A Multichapter ECO Fanfic~



A/N
Akhirnya bisa posting juga :sing: Aku akan update daily... Migno, tunggu sebentar yaw >_< Fanfic ini kubuat untuk challenge (atau lomba) dari Squad. Akan ada beberapa chapter, semoga pas sampe tanggal 13... wkwkkw... Enjoy the prolog~



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © Mizura 2010

Casts:
  • Squad as Squad [squad]
  • Josephine♥ as Josephine Love [squad]
  • Valentia as Valentia [sugarcane]
  • Popurin as Popurin [yukarin]
  • Yukika as Bu Yukika [YuKiKa]
  • Myrrfigald (Dominion Pennant) as Myrrfigald and Squad [Mizura]
  • Lynette (Wendy) as Wendy [Mizura]
  • Scone (Kodama) as Scone [Mizura]
  • G-923 (Guttinger 7) as Chiburi and Chibry [Mizura]
  • Icy Chief (Icy) as Ryana [Mizura]
jadi, ceritanya ini kayak pelem gitu. wakakakak

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHTS RESERVED



Prologue
Chapter 1 - Tugas Liburan Siswi SMA
Chapter 2 - Dongeng Yang Lain
Chapter 3 - Wendy Si Payung Kuning
Chapter 4 - Bukan Ice Stone Biasa
Chapter 5 - Menara Cahaya dan Perundingan
Chapter 6 - Awal Dari Sebuah Akhir, Part I, Part II, dan Part III
Epilogue


Prologue


Cinta.

Banyak orang mengalaminya. Banyak orang merindukannya. Banyak orang menghargainya. Banyak orang sungguh mendambakannya.

Cinta.

Banyak orang meragukannya. Banyak orang melupakannya. Banyak orang mengingkarinya. Banyak orang meninggalkannya.

Namun tidak bagiku.

Cintaku terhadapnya akan menembus waktu dan ruang. Menembus keyakinan, menembus batas, menembus kehidupan.

Menembus kematian.

Tidak akan pernah kuragukan. Tidak akan pernah kulupakan. Tidak akan pernah kuingkari. Tidak akan pernah kutinggalkan.

Hanya dirinyalah satu-satunya alasan bahwa aku hadir ke dunia mengerikan ini.

Untuk mencintainya.

Selamanya... tak akan pernah lenyap.

Senyumnya yang lembut.

Wangi bunga-bunga.

Angin berhembus.

Cercah cahaya di matanya.

Tawa merdu yang merasuki kalbu.

...

Payung kuning.

Dinding besi.

Baju Ice Stone.

Dirinya yang rapuh.

Tangisan pilu.

Tubuhnya yang berlumuran darah.

Kegelapan mencengkeram.

...

Tapi... tahukah kamu, wahai putri?

Kau dan aku akan memiliki kemiripan dengan para putri dan ksatria dalam dongeng.

Selamanya kita tak akan pernah menjadi tua.

Abadi... dalam cinta.



Please read and review... kritik saran cercaan makian pujian pasti diterima m(_ _)m Chapter 1 akan mulai kuposting... mungkin hari ini or besok :love:
« Last Edit: May 24, 2011, 06:04:57 PM by sacchan_magician »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Yuka

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 839
  • Cookie: 53
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #1 on: February 06, 2011, 11:14:07 AM »
ke..ren.. :shock:

katanya si al, mizu ga ikut lomba... *geplak al*

ditunggu chapter satunya @_@

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #2 on: February 06, 2011, 11:18:00 AM »
Chapter 1
Tugas Liburan Siswi SMA


A/N
Yak, karena sudah ada yang reply, saya akan post chapter 1~
wkkwkw
enjoy~

@mel
thanks mel :-* aku ikut kok hahaha >_< (maaf kk al XD)


Seorang perempuan memasuki sebuah rumah kayu yang tampak kokoh dengan wajah tanpa ekspresi. Seragam sailor berwarna pink yang dipakainya menambah kesan lucu dan periang. Rambutnya yang berwarna hitam sebahu dikuncir dua di samping rambut yang dibiarkan tergerai, memberikan sentuhan akhir dari penampilannya yang secara umum tampak cute.

“Valentia!! Masuk kos jangan gedubrak-gedubruk!!” teriak seseorang marah. Gadis bernama Valentia itu mengernyit sambil menutup kupingnya, berusaha memblokir masuknya teriakan serak tersebut agar tidak memasuki telinga aslinya yang sensitif. Seorang wanita muda dengan wajah kesal melongok keluar dari sebuah kamar di dekat pintu masuk. Rambut panjang sang wanita itu dikuncir dua panjang, menjadikannya tampak seperti seumuran dengan Valentia, padahal ia sedikit lebih tua.

“Iya iya iya iya!! Berisik!!” Valentia balas berteriak, yang malah menjadi kesalahan. Teriakan Valentia semakin menyulut kemarahannya.

“Anak nggak tahu diri!! Apa remaja sekarang sudah lupa hormat sama yang lebih tua..?! Besok kau kukenai denda 5000 Gold—”

“Aku bahkan hanya menumpang tinggal di sini!!” potong Valentia, kesal.

Wanita itu memutar matanya dan menjawab, “Ya, dan kau menumpang tinggal di kamar temanmu. Dan kau tahu dimana kamar temanmu berada? Di tempat kosku ini. Jadi, denda 5000 Gold lagi karena kau sudah menyelaku DAN membantahku!” bentaknya penuh kemarahan sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam kamarnya dan membanting pintu di depan muka Valentia.

Dasar nenek gila! batin Valentia kesal. Ia menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun setelah ia bisa menenangkan diri sendiri, amarahnya naik lagi. Nenek induk semang!! Nenek keriput!! Nenek sok muda!! NENEK YUKIKA CEREWETTT!!

Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka lagi, hampir membuat Valentia terlonjak. “Jangan sekali-kali memakiku di dalam hati, ya... Aku bisa dengar! Denda 10000 Gold lagi, jadi total 20000 Gold!” seru Yukika sekali lagi, kali ini dengan seringai menyebalkan. Ia kemudian membanting pintu, lagi-lagi di depan muka Valentia.

Wajah gadis Emilian itu merah padam karena menahan amarah. Saking marahnya sampai ia naik ke lantai dua dengan mengentak-entak kakinya. Beberapa orang yang juga mengekos di sana merasa terganggu, dan bahkan ada satu dua orang membuka pintu mereka dan menatap tajam Valentia. Tapi ia tak peduli, ia hanya peduli pada tujuannya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu bernomor 12. Rupanya tempat itulah yang ia tuju. Dengan hati membara ia langsung membuka pintu dengan kasar dan langsung berseru, “Menyebualkannnnnnnnn!!”

“Woo... tenang, duongs.”

Segera saja mata Valentia membelalak. Suara pemuda... apakah orang itu mau merampoknya? Lalu mencuri seluruh uang miliknya yang tidak seberapa? Lalu membunuhnya, memasukkan tubuhnya yang tak bernyawa ke dalam tong sampah dan kemudian—

“Hei, kau tak apa-apa, Val?” tanya pemuda itu cemas. Nada suara pemuda itu menyadarkannya. Segera saja ia mengenali orang itu, apalagi setelah Valentia memperhatikannya baik-baik. Ah, untunglah. Ternyata Valentia hanya membayangkan yang tidak-tidak.

“Oh, ternyata kamu, Squad,” ucap Valentia lega, memandangi orang yang bernama Squad itu. Squad, seorang pemuda Emilian yang tampan. Rambut pirang keemasan miliknya ditata dengan gaya Valentine Introduction Letter yang membuatnya tampak menawan. Sepasang mata yang juga keemasan menghiasi bentuk wajahnya yang sempurna, membuat sekian banyak gadis jatuh cinta. Termasuk sepupunya Popurin, yang meminjami kamarnya untuk ditempati Valentia selama liburan sekolahnya. Meskipun begitu, dia sangat ramah kepada semua orang. Begitu Valentia menginjakkan kakinya di rumah kos-kosan ini dan bertemu dengannya, Valentia segera akrab dengannya.

Namun sedetik kemudian ia langsung waspada lagi. “Mau apa kamu ke sini? Mau buka-buka ‘sesuatu’ ya?” tanyanya, curiga.

“Hah, buka-buka? Tolong ya, aku ini pemuda baik-baik,” jawab pemuda tersebut sambil berpura-pura tersinggung. “Tentu kamu ingat kan kalau kamu ingin meminjam bukuku dan menyuruhku untuk langsung meletakkannya di kamar Popurin? Jangan curiga dulu, dong,” jelas Squad, mengerucutkan bibirnya.

“Oh... oh yeah, aku lupa tentang itu,” Valentia menyadari kesalahannya dan segera menunduk meminta maaf. “Erm.. dimana Popurin?” tanya Valentia, berusaha menutupi kesalahannya dengan mengalihkan pembicaraan.

Squad tersenyum kecil. “Katanya dia pergi ke South Dungeon, aku tak tahu sedang apa dia di sana. Sepupumu punya pekerjaan yang misterius, ya?”

Ya, jawab Valentia dalam hati. Ia bahkan juga tidak tahu menahu tentang pekerjaan sepupunya. Yang ia tahu hanyalah sepupunya sangat tertutup mengenai pekerjaannya, yang melibatkan sekelompok pekerja tambang dan penguasa ekonomi South. Tapi Valentia sedang tidak ingin memikirkannya, maka ia hanya mengangkat bahu dan kemudian berjalan dengan langkah gontai menuju meja kayu kecil di depan jendela.

Squad berjalan mendekatinya dan menepuk bahunya lembut, “Hei, Val. Bagaimana dengan buku ini?” Ia menyorongkan sebuah buku bersampul biru hangat dengan judul ‘Dongeng-dongeng South’.

“Oh yeah. Taruh saja di meja. Aku sedang capek...”

“Gara-gara pemilik kos?”

Valentia mengangguk lesu. “Aku capek setiap hari diteriaki terus. Maunya apa sih, membentaki orang seperti itu?! Seperti tak ada kerjaan lain yang lebih penting saja!” Tanpa sadar ia bersungut-sungut sendiri.

Pemuda itu kembali menepuk pundaknya. “Aku tahu, Val. Mungkin dia juga sama capeknya denganmu sehingga dia berteriak seperti itu.”

“Bah, apa bisa kamu merasakan deritaku ini?” Valentia memberengut, tanpa sadar melebih-lebihkan situasi. “Kamu sih seperti anak emasnya dia. Minta apa saja dikasih.” Squad tertawa kecil, mengiyakan dalam hati. Berkat perlakuannya yang ‘sopan-tapi-tampak-tidak-menjilat-tapi-sebenarnya-memang-menjilat’ kepada Yukika, ia diperlakukan seperti anak sendiri. Kamarnya lebih besar daripada sebagian orang yang juga mengekos di sini, dan dia dikenai harga sewa yang paling murah daripada seluruh orang lain di tempat ini. Bahkan lebih murah daripada kamar Yvonne, yang setidaknya masih berlaku sopan kepada Yukika.

“Ah, tidak juga sih,” Squad menampik kenyataan tersebut dengan rendah hati. “Sama saja dengan yang lain.”

Padahal sih tidak.

“Oh iya, Val,” Squad tiba-tiba teringat sesuatu. “Kapan mau kau kembalikan? Bukuku, maksudku.”

“Mungkin minggu depan. Aku harus menyalin semua ini dan menerjemahkannya dan menelaahnya dan segunung hal-hal lainnya yang tidak ingin kupikirkan sekarang. Lalu sebulan lagi aku harus mengumpulkannya ke guru killerku.”

“Kelihatannya sulit sekali. Tugas siswi SMA memang susah ya,” sahut Squad simpatik.

Valentia mendesah. “Yeah, bisa dikatakan begitu. Seharusnya aku melanjutkan pekerjaanku menjadi Battle Sorcerer saja, ya. Kelihatannya lebih menarik dan lebih... berbahaya.”

“Wow, Battle Sorcerer...” Squad tampak  terkesan. “Kreatif sekali. Tapi yang aku heran adalah... cewek sepertimu merindukan bahaya? Bukannya kebanyakan cewek itu lebih menyukai kehidupan damai dan tenang?” tanya Squad dengan muka mengernyit.

Mata Valentia memandangnya sengit. “Cewek itu jangan disamaratakan. Meskipun memiliki gender sama, seluruh individu itu berbeda-beda, tahu.”

“Maaf, bahasa Acronia, tolong?” Squad memasang muka serius, kemudian terbahak. “Baiklah, kamu menang. Aku cuma merasa heran kok.” Pemuda berambut spiky itu kemudian memandang Valentia sambil berujar, “Hmmh... aku akan keluar dulu. Hati-hati sendirian, lho.”

Gadis berambut biru itu menjulurkan lidahnya, dan akhirnya mampu memunculkan sebersit senyum di mulutnya. “Oke deh, aku juga harus langsung kerja sekarang. Hmm, let’s see...” Valentia membolak-balik halaman buku dongeng itu. “Ah, tidak ada cerita tentang putri Josephine dan si ksatria berambut emas itu ya...”

Sementara Valentia sibuk meneliti isi buku tersebut, ia tidak menyadari perubahan pada diri Squad. Gerakan pemuda itu terhenti tiba-tiba, seakan diberhentikan menggunakan tombol pause. Jantungnya berdegup kencang, tangannya terasa dingin.

K-kenapa...

“Umm... Val?” tanya Squad hati-hati, setelah akhirnya ia berhasil menenangkan dirinya.

“Ya? Eh, kau masih disini ya? Kau bilang kau mau keluar.”

Squad melambaikan tangan cepat-cepat, mengabaikan hal yang dikatakan oleh Valentia. “Yang barusan kau bicarakan itu... apa?”

Gadis itu mengernyit. “Err... tentang kamu yang mau keluar?”

“Bukan, maksudku yang setelah aku bilang aku mau keluar.” Jantungnya masih berdegup kencang.

 “Oh, maksudmu dongeng putri itu?”

Squad mengangguk mengiyakan.

Wajah gadis itu seketika berubah cerah. “Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas adalah cerita yang paling terkenal di seantero South, bahkan hampir merambah ke negara lain. Namun, ceritanya juga paling simpang siur. Mungkin karena itulah cerita itu tidak dimasukkan ke dalam buku ini.” Mendadak wajahnya seakan mendung tertutupi awan. “Padahal aku paling menyukai cerita itu. Menandakan bahwa kecantikan yang terlalu banyak itu tidak baik.” Valentia tampak murung, mungkin merasa bahwa wajahnya kurang cantik, padahal dia sudah cukup cantik.

“O-oh ya?” Squad tampak tertarik, namun dalam hatinya ia merasa campur aduk. “Boleh aku dengar salah satu versi dongeng itu?”

“Hem... kamu belum tahu dongeng ini? Aneh sekali... tapi, baiklah.” Valentia berdeham kecil dan memejamkan matanya untuk mengingat-ingat. “Ini versi orangtuaku saat aku masih kecil.

Pada jaman dahulu, di tanah South, dimana para manusia dan monster masih hidup damai, hiduplah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Mereka terus memohon dan memohon sampai akhirnya permohonan mereka terdengar di langit. Namun, ternyata seorang peri jahat—

Di sini, Squad tertawa terbahak-bahak.

“Hey, aku belum selesai bercerita!” seru Valentia, tersinggung. Ia paling tidak suka kalau ia disela saat berbicara.

“Hahahahaha... Hempphh... Maaf, maaf. Himphhh. Teruskan.”

Namun, ternyata seorang peri jahat mendengarkan permohonannya, dan kemudian membuat sang istri hamil dengan kekuatannya secara diam-diam. Tidak hanya itu, ia juga menempatkan kutukan kepada anak itu, kutukan yang akan membuat anak itu menjadi cantik luar biasa. Peri jahat itu kemudian menunggu sampai anak itu terlahir, dan tumbuh sebagai seorang putri cantik jelita. Orang tuanya menamainya Josephine, sebuah kata South, yang artinya ‘Sang Pencipta Dimuliakan’.

Karena kecantikannya yang luar biasa, banyak pemuda berbondong-bondong melamarnya. Namun hal ini menimbulkan pertengkaran di antara para pemuda yang terbakar cinta oleh karena parasnya. Bahkan gadis –gadis lain juga membencinya karena parasnya tersebut. Hal ini membuat Josephine sedih, dan sejak saat itu ia menjadi pemurung. Ia suka mengurung diri sendiri di kamarnya.

Setelah gadis itu menginjak usia tujuh belas tahun, sang peri jahat mengunjunginya secara diam-diam. Peri tersebut membuatnya percaya bahwa dia adalah peri yang baik, padahal tidak. Di tengah kungkungan dinding kamarnya yang selama bertahun-tahun menjadi perlindungannya, hanya peri jahat itulah temannya, dan peri itu memanfaatkan hal tersebut dengan baik. Pada suatu hari, sang peri menculiknya. Tak ada yang tahu dimana dan kemana hilangnya Josephine.

Namun pada suatu hari seorang ksatria gagah berani datang melewati rumah Josephine, dan bertanya-tanya mengapa di depan rumah tersebut tampak begitu banyak orang berduka. Ia kemudian bertanya kepada sang ayah,

‘Wahai manusia, mengapa engkau bersedih hati?’

Sang ayah menjawab,  ‘Duka lara kami begitu dalam, hati kami menjerit penuh kesedihan, oleh karena anak kami yang tercinta telah menghilang di telan kegelapan.’

Ksatria tersebut kemudian menjawab, ‘Aku akan menemukan anak gadismu!’

Dan kemudian—
Squad, ada apa dengan wajahmu?” tanya Valentia, menghentikan dongengnya.

Tampangnya memang aneh. Seakan seember kebingungan, keinginan untuk tertawa, dan juga kesedihan bercampur menjadi satu. “Err... tidak apa-apa. Lanjutkan saja, jangan pedulikan aku.” Ia mengangguk, mendorong Valentia untuk melanjutkan dongeng tersebut.

“Hmmph... Kemudian dia pun mulai berkelana untuk mencari jejak Josephine. Dia terus mencari dan bertanya kepada setiap orang. Namun, tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan putri cantik jelita tersebut.

Beberapa hari kemudian ia sampai pada perbukitan Battleship Island. Di sana dia bertemu dengan Ice Stone yang tampak terluka.

‘Wahai temanku,’ kata sang ksatria tersebut. ‘Mengapa engkau terluka?’

‘Telah datang kepadaku seorang peri jahat yang sedang membawa seorang putri cantik jelita. Karena perasaan belas kasihanku dan juga karena paras cantiknya, aku mencoba menolongnya, namun gagal. Dan di sinilah aku, terbaring tanpa ada yang mengobatiku.’

Ksatria itu tanpa banyak bicara lagi langsung mengobatinya, dan memintanya untuk berkelana bersama dalam misi menyelamatkan Josephine. Ice Stone itu mengiyakan. Setelah itu, sang Ksatria menanyakan namanya. Dan Ice Stone itu menjawab—


“Scone.... benar?” Squad berkata, lirih. Ekspresinya tak dapat ditebak.

“Hm? Ternyata kamu tahu. Kukira kamu tidak tahu cerita ini,” ucap Valentia, memandanginya dengan ingin tahu.

Pemuda itu tersenyum salah tingkah. “Aku... uh, pernah mendengarnya, tapi aku lupa cerita lengkapnya. Lanjutkanlah.”

Valentia mengangkat alis, namun toh ia tetap melanjutkan. “Oke deh... Maka, dengan didukung petunjuk dari Scone, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju Light Tower.

Mereka berdua menjelajah Light Tower, menghabisi seluruh musuh yang ada. Pada suatu saat, mereka bertemu dengan seorang monster lagi. Monster itu sangat aneh, berbentuk seperti Umbrella, namun berwarna kuning. Sang ksatria segera mengetahui bahwa monster tersebut bukan musuh, maka kata sang ksatria,

‘Wahai Umbrella bercorak kuning, siapakah namamu? Dan sedang apakah dirimu di tengah sarang musuh?’

Jawabnya, ‘Namaku Wendy. Aku sedang mencari peri jahat yang menculik seorang putri cantik.’

Ksatria itu pun berkata, ‘Ikutlah denganku!’ Wendy setuju, dan mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka, menuju ke lantai terbawah Light Tower.

Setibanya di sana, mereka disambut oleh musuh yang banyak. Namun tanpa diduga, sebuah robot tiba-tiba membantu mereka. Setelah mengalahkan musuh yang begitu banyak, sang Ksatria itu bertanya kepada sang robot, ‘Wahai robot baik, siapakah dirimu dan mengapa engkau membantu kami?’

‘Namaku Chibry, aku membantumu karena aku ingin menyelamatkan sang putri.’

‘Terima kasih, Chibry. Atas bantuanmu, kami berhasil mengalahkan musuh. Ikutlah dengan kami untuk menemukan sang putri.’

Mereka mencari di sekitar tempat tersebut, dan akhirnya menemukan sang putri dalam keadaan terikat. Setelah membebaskan sang putri, mereka berlima kembali ke tanah South dengan selamat, dan akhirnya hidup bahagia selamanya.
Selesai,” Valentia menghela napas, tersenyum. Ia memijat-mijat lehernya, rupanya kerongkongannya sedikit kering karena bercerita begitu banyak. “Bagaimana, kau sudah ingat atau belum?” tanyanya.

Wajah Squad sekali lagi tak dapat ditebak. Banyak perasaan tercampur aduk di raut mukanya.

“Squad? Kamu tak apa-apa?” tanya Valentia cemas.

“Ap—oh, aku baik-baik saja. Aku hanya kembali teringat kisah lengkapnya,” Squad menggeleng lemah. “Well, caramu bercerita sungguh menarik. Aku terkesan. Hanya saja aku harus, erm... pergi dulu. Bye, Val...”

Valentia mengernyit, sepertinya ia sadar bahwa Squad sedang ingin cepat-cepat pergi. Namun ia berpikir bahwa Squad bertindak seperti itu karena juga ingin menceritakan dongeng tersebut versi dirinya, padahal sama sekali tidak. “Tunggu, Squad. Kamu tidak apa-apa?” tanyanya kembali. “Kalau kamu mau bercerita tentang versimu, aku dengan senang hati akan mendengarkan. Aku selalu suka mendengarkan versi lain dari dongeng ini,” tambahnya dengan senyum simpatik.

Pemuda berambut keemasan itu tampak menimbang-nimbang dengan serius. Valentia menunggu dengan sabar.

“Well...” Akhirnya ia berkata ragu. “Baiklah kalau kamu mau tahu. Tapi aku harus bertanya dulu. Apakah kamu benci akhir yang tidak bahagia?”

“Hmm... biasa saja sih. Malah menurutku akhir yang tidak bahagia itu semakin realistis,” Val mengangkat bahu.

Senyum kecil muncul di ujung bibir Squad. “Bagus. Tapi aku tidak bisa bercerita gaya dongeng sepertimu, lho. Aku cuma bisa gaya narasi biasa, dan juga mungkin versiku agak sedikit lebih... panjang. Tidak apa-apa?” tanya Squad, yang dijawab dengan anggukan bersemangat oleh Val. Squad menghela napas, dan memejamkan mata sejenak. Begitu ia membuka kelopak matanya kembali, suaranya terdengar serius.

“Kalau begitu... akan kuceritakan... versi lain dari dongeng ini.”

Valentia, entah mengapa, merasa bulu kuduknya merinding.


Sekali lagi, read and review please. Kritik saran cercaan makian pujian pasti saya terima. Terima kasih para pembaca :-*
« Last Edit: August 24, 2012, 07:26:35 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #3 on: February 06, 2011, 11:26:08 AM »
wuw ceritanya ada dua versi
sama-sama hamil? wkwkwkwkwk

prolognya versi puisi ya?
bagus-bagus... tapi baju sailor baju SMA? wkwkwkwk menurut gw malah kayak baju anak SMP
wkwkwkwkwk

overall nice kok, ditunggu next chapternya

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #4 on: February 06, 2011, 11:33:16 AM »
Well
another fanfic made for the challenge
xD

already read the prologue and chapter 1.

Rencana brp chap miz?

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #5 on: February 06, 2011, 11:38:48 AM »
kapan aku bilang gitu..
jelas2 mizu bilang mu ikut di thread utop jg..

cih brambut emas.. deskripsi exklusif buat alceus tu =P

eniwei, keren jg dongengnya..
prtama gak punya anak, yg keinget itu dongeng Timun Mas..
tapi liat dr prjalanannya, mirip2 Momotaro ya?

skilas2 mungkin ketebak, tp smoga tebakanku salah
« Last Edit: February 06, 2011, 11:39:40 AM by shinigami_boy »

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #6 on: February 06, 2011, 11:47:33 AM »
cih brambut emas.. deskripsi exklusif buat alceus tu =P


squad begtu pake valentina intro langsung change haircolor jadi emas  ;_;

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #7 on: February 06, 2011, 12:19:42 PM »
kalau baca dongengnya yg versi Valentia, si peri jahatnya kemana? Masa ilang?

Semoga kejawab di versi Squad deh.
dan semoga saya sempet nulis juga ;_;
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #8 on: February 06, 2011, 02:24:27 PM »
uooo sepertinya akan berkembang menjadi menarikk..
lanjutkann.. lanjutkannn
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline Yukika

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 345
  • Cookie: 48
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #9 on: February 06, 2011, 03:32:12 PM »
kereen kereen~
yukika ku emang keren~ *plak
bella utang 20k asik asik