Author Topic: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending  (Read 4035 times)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
[ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« on: September 23, 2010, 01:34:05 PM »
True Love Doesn’t Have An Ending



[Author’s note]

Fanfict one shot ini gw dedikasikan buat pacar gw, shefira a.k.a atzuya
karena dia adalah sumber inspirasi gw

please, feel free to read my new one shot
dan jangan lupa.. leave comment juga karena gw tetep butuh saran dan kritik yang membangun untuk one shot-one shot gw ke depannya



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © milkteddy 2010

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED



Aku bersimpuh di hadapan seorang gadis cantik bermuka sangat pucat dan mempunyai bibir yang sudah memutih. Aku bersimpuh, lebih tepatnya aku ingin tubuhku dapat melakukan gerakan yang seperti itu. Aku berusaha membungkukkan badanku yang mungil ini, tetapi aku tidak bisa melakukannya karena kemampuan gerak tubuhku sangat terbatas. Orang lain melihatku hanya menunduk lemas tak berdaya, melayang-layang bingung di atas Ayaka. Orang lain berpikir aku ini bukan orang yang penyayang, karena aku tidak merengkuhnya ke dalam pelukanku seperti yang laki-laki biasa lakukan saat kehilangan kekasihnya. Aku tidak perduli apa pendapat orang lain. Aku tidak bisa memeluk Ayaka. Aku benar-benar tidak bisa memeluknya. Mengapa orang-orang itu tidak bisa mengerti?

Aku menatap Ayaka lekat-lekat untuk yang terakhir kalinya. Aku menggerakkan mata kucingku menyusuri gaun dengan mawar biru indah yang ia kenakan di acara pembumiannya. Ayaka terlihat sangat cantik, selalu cantik dalam pakaian apapun. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku tidak bisa. Aku terperangkap dalam tubuh kucing berwarna jingga ini. Aku terlambat. Aku benar-benar terlambat. Aku ingat sekali kejadian itu, satu minggu yang lalu saat Ayaka menginginkan sebuah catty Anzu sebagai pendamping sisa hidupnya yang tidak lama lagi. Tiba-tiba terbesit dalam otakku, rasa penasaran akan reaksi Ayaka ketika melihatku dalam wujud catty Anzu. Apakah Ayaka akan senang?

Sebuah ingatan yang menyakitkan mengalir ke dalam otakku begitu saja. Aku ingat saat aku berada di dalam sebuah rumah berbentuk seperti rumah es. Waktu itu aku meletakkan kedua tanganku diatas pinggulku dan menghela nafas lega yang penuh dengan kepuasan. Aku menjentikkan jariku sesaat setelah aku menyelesaikan sentuhan terakhir, sentuhan pemanis pada hadiah ulang tahun spesial hanya untuk kekasihku. Aku mendecakkan kepalaku dan menyibakkan rambut biru langitku ke belakang, mendata ulang semua persiapan kejutan itu, “Lilin… Sudah. Rice cake… Sudah. Teh hijau… Sudah. Vas bunga… Sudah. Cincin…”

Tiba-tiba aku tersenyum geli. Aku merogoh kantong jas putihku, mengambil sebuah benda berbentuk lingkaran kecil berwarna emas mengilap dengan permata putih cemerlang sebagai hiasannya. Lagi-lagi aku tersenyum geli, membayangkan betapa terkejut sekaligus senang saat Ayaka mendapatkan cincin ini. Aku memainkan benda mungil itu di sela-sela jariku, mengintip tulisan yang tercetak di bagian dalam perhiasan itu dan membacanya keras-keras, “True love doesn’t have an ending…

Di saat yang sama terdengar sebuah ketukan lemah di pintu. Cahaya bulan keperakan merayap memasuki rumahku seiring dengan dibukanya pintu itu secara perlahan.

“Yoichi…” panggil seorang perempuan yang suaranya sudah sangat familiar di telingaku.

Aku buru-buru membalikkan badanku dan menemukan mata batu grafitnya menatap ke dalam mataku yang sama hitamnya dengan miliknya. Pada awalnya aku tersenyum, suara itu adalah suara yang selalu kuingin kudengar ketika aku terbangun dari tidurku di pagi hari. Tapi hari ini entah mengapa suara itu terlihat berbeda daripada biasanya, lebih lirih dan sangat pelan, tidak seringan dan ceria seperti yang kuingat. Aku mengendurkan tarikan di kedua sudut pipiku, mengangkat sebelah alisku dan memeriksa wajahnya yang tampak bimbang, “Ada apa Ayaka?”

Mata perempuan itu menyapu seluruh sudut ruangan dan berhenti pada meja makan besi berwarna biru di belakangku. Ia menahan nafas ketika ia menemukan tumpukan lilin-lilin merah yang telah kususun membentuk kalimat ‘Happy Birthday Ayaka’. Raut wajahnya berubah sangat cepat, dari terkejut, senang, sedih menjadi datar. Aku hampir tidak bisa menebak apa perasaannya saat ini, padahal kemampuanku bisa menebak hati seseorang sangat kubanggakan.

“Ah… Ichi…” desahnya lesu, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang mungil. Isak tangis yang sedikit tertahan kemudian mewarnai ruangan sempit yang dirancang serba biru bak rumah khas Northern Promenade itu. Aku sangat terkejut. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku, mencurahkan seluruh kasih sayangku pada Ayaka sebanyak yang kubisa. Dan aku hanya bisa terdiam.

Aku menunggunya hingga derai tangisnya berhenti. Ia mendongakkan kepalanya. Kubelai rambut merah mudanya dengan lembut dan kukecup kedua kelopak matanya. Aku menyeka sisa-sisa air matanya, “Apa kau sudah tenang sekarang, Ay?”

“Kau tidak perlu melakukan ini semua, Ichi,” ujar Ayaka menggeleng sambil menunduk, ia tidak berani menatapku. Tubuhnya bergetar hebat ketika ia berusaha dengan keras untuk menceritakan apa yang sedang terjadi, “Karena… Kupikir sebaiknya kita… berpisah disini, Yoichi.”

Hatiku mencelos. Ketakutan menggerayangiku. Aku membayangkan sebuah bongkahan batu gunung besar dilemparkan tepat di mukaku, rasanya sakit sekali. Aku merasakan diriku dilontarkan ke langit dan jatuh ke bawah dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya. Mulutku terbuka hendak membantah lalu menutup kembali. Aku tidak sanggup mengatakan sesuatu, seakan-akan ada yang mengganjal di tenggorokanku. Setelah kukumpulkan sisa-sisa kepingan hatiku, aku memberanikan diri mengutarakan keresahanku.

“Apa yang baru saja kau katakan, Ay?” tanyaku tidak percaya dengan intonasi yang lambat dan penuh penekanan di setiap kata-katanya.

Wanita itu menarik tubuhnya dari pelukanku dengan berat hati, “Kupikir… Sebaiknya kau mencari seseorang untuk menggantikanku.”

Rasa jengkel tiba-tiba muncul begitu saja, menggantikan kesedihanku, “Apa yang kau pikirkan, Ay? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

Ayaka menggeser sebuah kursi terdekat dan sekonyong-konyong duduk tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Rasa jengkelku semakin menjadi-jadi, “Ay?? Apakah ada masalah? Apakah kau tidak senang dengan kejutan yang kuberikan ini?”

Gadis itu terbatuk. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang Ayaka. Mataku sudah buta akan perasaan marah yang kutekan kuat-kuat di dalam dadaku. Apakah dia sudah tidak membutuhkanku lagi? Apakah aku tidak cukup berharga untuknya? Apakah aku kurang memberikan seluruh perhatianku baginya?

Aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan masih mendengar Ayaka terbatuk. Aku memang seorang Blademaster yang miskin. Aku memakai pedang gergaji listrik bekas peninggalan kakakku, yang sudah tidak begitu tajam lagi dan sedikit berkarat. Pakaianku merah kumal dan ada beberapa jahitan untuk menutupi robekan-robekan yang ditimbulkan oleh pukulan-pukulan para bandit. Aku tidak punya uang. Aku memang tidak mampu memberikan baju-baju Druid yang mewah untuk Ayaka. Perempuan yang begitu jelita itu memang pantas mendapatkan pria lain yang lebih mapan untuk dirinya. Aku tahu suatu hari, hari ini akan datang, hari dimana Ayaka akan berjalan meninggalkanku. Seharusnya aku tidak perlu semarah ini. Aku sudah mempersiapkan diriku, akal pikiranku dan hatiku untuk saat seperti ini. Seharusnya aku memang tidak perlu marah padanya.

“Aku tahu aku memang tidak pantas untukmu, Ayaka. Status kita sungguh berbeda. Aku terlalu miskin, sangat berbeda jauh dengan keluargamu di Pulau Tonka. Bahkan untuk membelikanmu cincin ini saja, kamu harus menungguku dua tahun untuk mengumpulkan sisa uang hasil berburu.”

Aku berjongkok, melipat kaki kiriku dan mengambil posisi untuk melamarnya. Aku meraih tangan kanannya, kukecup sekali punggung tangannya. Aku menyodorkan cincin itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, “Ayaka, sejujurnya malam ini aku ingin menanyakan pertanyaan yang sudah lama ingin kutanyakan padamu. Kau tahu aku sangat menghormati pilihanmu. Apakah kau ingin aku melanjutkannya atau kau ingin aku berhenti sampai disini?”

Perempuan itu terbatuk sekali lagi, lebih keras daripada sebelumnya. Batuk yang tiada henti itu sukses mencuri perhatianku. Aku meliriknya dan mendapati setetes darah mengalir turun ke karpet biru, dengan bordir benang putih perak kesayangan ibuku, meluncur dari genggaman tangan Ayaka. Aku melesat ke arah kekasihku itu, menarik kedua telapak tangannya yang ia berusaha sembunyikan. Aku terkesiap. Darah yang masih segar menempel dengan jelas disana. Aku menatap wajahnya lekat-lekat dan tanpa berpikir panjang kucium bibirnya yang berwarna merah darah. Kurasakan darah yang memenuhi mulutnya di lidahku, pahit getir yang lalu berubah menjadi asin oleh air mata Ayaka.

“Maafkan aku, Ichi,” isaknya. Air matanya kembali menggenang, “Aku tidak bisa… Aku sangat ingin sekali mendengar pertanyaan itu lebih lanjut. Tapi aku tidak bisa, Yoichi.”

“Ada apa, Ay? Apa kau tidak apa-apa? Kenapa ada darah keluar dari mulutmu? Apakah kamu sudah berobat ke dokter terdekat? Aku dapat membawamu kesana sekarang juga!” tanyaku panik, menyembur begitu saja dari mulutku.

Ayaka mengambil cincin Hiura dari telapak tanganku. Ia mengerling ke arah tulisan yang terukir di cincin itu, “’True love doesn’t have an ending’. Tapi jika kamu tetap bersamaku, maka tulisan di cincin ini akan berubah menjadi ‘True love doesn’t have a happy ending’, Yoichi. Aku tidak bisa menerimanya. Lebih baik kau berikan cincin ini kepada gadis yang dapat menemanimu sampai akhir hidupmu.”

“Ayaka! Apa yang kau katakan!” ucapku sedikit menggertak. Kupegang bahunya kuat-kuat dan mengguncang-guncang tubuhnya, “Ada apa, Ay?? Ceritakan padaku! Aku mohon… Apakah ini ada kaitannya dengan batuk berdarah itu?”

Gadis berambut merah muda itu memelukku dan berbisik sendu di telingaku. Ia menyebutkan sebuah penyakit mematikan menggerogoti tubuhnya dan tidak dapat disembuhkan lagi. Kata-kata itu tidak pernah kulupakan hingga saat ini. Aku menekuk telapak tanganku, yang kini telah berubah menjadi sebuah tangan kucing putih yang kecil, membentuk sebuah kepalan. Aku memukulkan kepalan tanganku itu ke tembok kayu yang menjadi dinding rumah Ayaka, membuat suara bergetar yang aneh.

Aku ingin menangis, tetapi aku tidak bisa. Tidak ada air mata yang membanjir keluar dari mataku, padahal hatiku sedang berkecamuk hebat sekali. Dalam wujud catty Anzu ini, aku tidak bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Aku hanya dapat terbang melayang kesana kemari, mencari sebuah mysterious crystal yang tidak kunjung aku temukan. Aku hanya dapat menyalahkan kecerobohanku ketika aku tidak sengaja memecahkan kristal yang Titus berikan untuk mengakses jalan rahasia ke kampung halaman para Icy.

Sebuah kenangan lain tentang Ayaka muncul, membuatku semakin tidak berdaya. Aku ingat saat aku memainkan jemarinya yang lentik di atas telapak tanganku yang lebar diatas hamparan rumput Fareast. Aku mengecup pelan dahi perempuan itu saat ia tersenyum lemah padaku, “Ichi, apa pendapatmu tentang catty?”

“Catty?” tanyaku dengan suara yang aneh, berusaha menyembunyikan rasa kagetku mendengar pertanyaannya yang semakin hari semakin aneh, “Aku suka catty.”

“Catty apa yang paling kamu sukai, Ichi?”

“Hmm…” ucapku sedikit mengulur waktu, “Mungkin… Anzu?”

“Aku juga suka Anzu!” ujar Ayaka, menjadi lebih bersemangat daripada sebelumnya, “Aku ingin sekali memiliki catty Anzu sebelum…”

Aku melihat ada rasa kesedihan yang mendalam di dalam kalimatnya yang tidak bisa ia selesaikan. Aku merangkul kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang, “Kukira kamu hanya menginginkan diriku.”

Aku terkekeh nakal sambil memutar kedua bola mataku yang hitam. Ayaka mencibirkan bibirnya yang mungil, “Aku ingin memeluk roh kucing itu. Bagaimana ya rasanya memeluk seekor catty…”
“Kamu hanya boleh memelukku, Ayaka,” godaku, mencubit pipinya yang warna kecerahannya mulai memucat.

Ayaka menyunggingkan senyumnya yang paling manis, “Aku mau memelukmu dalam wujud kucing. Tetapi aku lebih suka kamu datang kepadaku dengan catty Anzu di sampingmu, sehingga aku dapat memeluk kalian berdua sekaligus, seperti keluarga. Sebuah keluarga kecil. Hanya aku, kamu dan Anzu kecil kita.”

Sesaat setelah melihatnya tersenyum, aku langsung beranjak berdiri dari rumput Fareast yang nyaman, membuat Ayaka terheran-heran menatapku. Perempuan itu bertanya apa yang akan aku lakukan, dan aku langsung menceritakan padanya bahwa aku akan menemui Seamstress di Uptown. Aku berjanji akan kembali padanya secepat mungkin bersama roh kucing berwarna jingga yang ia impikan. Tanpa kusadari, itulah pertemuan terakhirku yang berharga dengan Ayaka.

Aku kembali memukulkan kepalan tangan kucingku ke tembok kayu, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Aku benar-benar berusaha mengenyahkan ingatan-ingatan menyedihkan itu. Ingatan saat aku berlari ke Miranda di Tonka, ingatan saat aku tidak sengaja memecahkan sebuah vas bunga, ingatan saat aku menemukan tubuh Anzu tergeletak di dalam rumahnya dan tiba-tiba saja aku dapat mengontrol tubuh catty Anzu. Tentu saja aku panik, terutama saat aku berusaha mengistirahatkan badanku di kursi terdekat dan aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana jika aku tidak dapat kembali kepada Ayaka tepat waktu? Bagaimana jika selamanya aku tidak dapat kembali ke wujud asalku? Bagaimana jika aku tidak dapat memeluk Ayaka dan memberinya sebuah kecupan hangat dan mesra sebagai ucapan selamat tinggal?

Aku bergegas melayang ke Uptown, kembali menemui Seamstress. Wanita itu menyuruhku menemui Titanian Comitte President, lalu meminta kristal dari Titus yang dapat mengembalikan tubuhku ke wujud Emilian kembali. Tetapi ketika aku dalam perjalanan ke istana para Icy, aku diserang oleh segerombolan para setan-setan bertubuh kecil berwarna merah dengan tombak-tombak yang tajam. Mereka menggigit tubuh Anzu yang masih lemah ini, menyemprotkan racun-racun ungu nya ke dalam badanku. Aku merasa sangat lemas dan semakin lemas karena udara pegunungan utara yang sangat dingin. Akhirnya aku tidak sadarkan diri di tengah badai salju yang semakin mengamuk. Aku tidak ingat berapa hari aku tertidur di tanah bersalju itu. Satu hal yang kuingat adalah saat aku berada di lorong keamanan istana Icy, merogoh kantongku dan mendapati kristal Titus pecah berkeping-keping. Pikiranku langsung menuduh para gerombolan setan-setan merah itu yang merusakkannya. Lalu sekarang bagaimana aku kembali ke wujud Emilian? Bagaimana dengan impian Ayaka yang menginginkan aku kembali dengan catty Anzu yang ia idam-idamkan?

Aku menyadari aku tidak mempunyai banyak waktu lagi. Akhirnya aku kembali kepada Ayaka dengan harapan gadis itu setidaknya senang melihatku dalam wujud kucing berwarna jingga ini. Tetapi aku terlambat. Aku benar-benar terlambat. Aku memanjat naik ke Airship miliknya, sedikit bingung mendapati banyak sekali orang yang berkerumun di taman Airship milik Ayaka. Semua mata tertuju padaku. Jantungku berdegup kencang, seribu kali lebih kencang daripada biasanya. Aku yakin suara jantungku itu dapat didengar oleh orang lain yang jaraknya satu meter dariku. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah Morg Ayaka dan melihat gadis itu terbaring lemah di ranjang berwarna putih dengan motif segitiga berwarna hijau.

“Ayaka! AYAKA!!” teriakku panik, menerobos beberapa orang yang juga mengintari kekasihku itu.

Jika Ayaka tidak membuka matanya, aku sudah mengira ia telah meninggalkanku untuk selamanya. Perempuan itu benar-benar terlihat sangat sekarat. Wajahnya lebih pucat dan bibirnya memutih. Ia menggerakkan jarinya, sepertinya ingin menyentuhku.

“Anzu…” ucapnya lemah, “Kukira… Kamu… Tidak… Akan… Datang… Ichi…”

Aku menangis. Aku tidak berbohong, aku memang menangis di dalam hatiku tetapi tidak ada air mata yang keluar dari mataku. Aku tidak tahan mendengar suaranya yang begitu lemah, terdengar sangat memilukan di telingaku. Aku ingin berbicara padanya, betapa aku merasa sangat bersalah meninggalkannya, tetapi  hanya suara raungan kucing yang keluar dari bibirku. Aku ingin sekali memeluknya, ingin mengenggam tangannya untuk menghiburnya tetapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa melayang-layang diatas kepalanya dan menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan.

“Ichi…” kata Ayaka sekali lagi. Wajahnya terlihat sangat damai. Pipinya berkedut, terlihat jelas sekali bahwa gadis itu memaksa wajahnya yang lemah untuk tersenyum, “Terima… Kasih… Ichi…”

Mendadak banyak suara tangisan di belakangku, dan kusadari Ayaka telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Badanku melemas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di badan Ayaka. Dadanya tidak bergerak naik turun, jari-jarinya tidak ada tekanan sama sekali. Aku terhuyung-huyung ke samping, menabrak tembok kayu. Aku memejamkan mataku dan menangis keras di dalam hatiku. Aku meneriakkan semua kata sumpah serapah yang kutahu di dalam otakku. Mengapa aku begitu lemah? Mengapa aku pingsan hanya karena aku diserang oleh gerombolan setan merah itu? Mengapa aku membiarkan kristal Titus tidak terlindung seperti itu? Mengapa aku begitu ceroboh? Mengapa saat itu aku meninggalkan Ayaka di Fareast? Apa yang akan terjadi jika aku tidak memenuhi permintaannya melihat catty Anzu? Apakah aku akan ada disini dan memeluk Ayaka? Mengecupnya dengan kecupanku yang paling hangat? Memberinya sebuah kenangan manis sebelum kepergiannya?

Aku mengerling ke arah kekasihku itu. Sebuah senyum kedamaian permanen terlukis di wajahnya. Ia masih menyematkan cincin Hiura pemberianku di jari manis kirinya sampai akhir hidupnya. Beberapa teman Ayaka sibuk menghiburku, tetapi aku tidak menghiraukan mereka. Pandanganku hanya tertuju pada Ayaka. Apakah aku berhasil membuat Ayaka senang? Apakah aku berhasil kembali tepat waktu? Ataukah aku memang terlambat?

Aku hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Tangan-tangan asing menggendong Ayaka dan memasukkan tubuhnya yang lunglai ke dalam sebuah kotak besar yang berhiaskan bunga-bunga Momo Plains. Senyumannya tidak memudar. Apakah kamu senang disana, Ayaka? Seperti yang kubilang, Ayaka, true love doesn’t have an ending. Di kehidupan selanjutnya, aku pasti akan merengkuhmu kembali ke dalam pelukanku. Pasti. Dan aku akan membawa catty Anzu, di sisiku, seperti permintaan terakhirmu.

___________________
True Love Doesn't Have An Ending END
« Last Edit: May 24, 2011, 05:59:35 PM by sacchan_magician »

Offline sinoSOU

  • Lord of Love Conquest
  • Apprentice of Songs
  • *****
  • Posts: 1421
  • Cookie: 68
  • it's time to get up
Re: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« Reply #1 on: September 23, 2010, 02:18:31 PM »
 ;_;
:terharu.com:

sampai saat ini aq lom ketemu typo...  ;_;
the end kah?
 ;_;
carita bagus + mengharukan
my char is orange Princess - Sweets - Sweet - Yakult - Yogurt - Eilie - Calista and Cio-Petite-Lyx @ Zinnia

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookie: 39
  • Saber X Gilgamesh~ <3
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
[ask] tentang stamp
« Reply #2 on: September 23, 2010, 03:11:49 PM »
Terharu... Keren... Aku nangis dkit baca nya ;_;
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« Reply #3 on: September 23, 2010, 03:57:33 PM »
thx thx...
*bow*
kemaren aslinya mau nulis buat nekomata stories
cuman setelah ditulis kok jadinya gak ke arah nonjolin nekomata nya
*sigh*

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« Reply #4 on: September 23, 2010, 06:57:05 PM »
aaaaaah....mengharukaaaannn :cry:
hiks....sad ending....hueeee.... T^T

Quote
Aku tidak tahan mendengar suaranya yang begitu lemah, terdengar sangat memilukan di teligaku.
kykny cm itu typo nya.... ;_;
*balik terharu lagi* T^T T^T T^T
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« Reply #5 on: September 23, 2010, 08:48:12 PM »
tengkyu tengkyu

sudah dibenarkan kok typonya
fufufufufu
kalo dikasih happy ending gak oke fufufufu

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [ECO FANFICT]True Love Doesn't Have An Ending
« Reply #6 on: September 23, 2010, 09:36:31 PM »
aku nemu kata2 "diatas"... yg seharusnya itu dipisah, jadi "di atas"... soalnya nunjukin tempat, memakai kata depan "di", bukan kata kerja pasif yg memakai imbuhan di-. juga kata2 "disana", "disini", "dimana" dan "kesana"

benerin aja pk find n replace all di ms word.

Quote
Aku mendecakkan kepalaku dan menyibakkan rambut biru langitku ke belakang,

setauku, "mendecak" itu bahasa untuk lidah, bukan untuk kepala. maksudnya menggerakkan kepala sedikit untuk menyibakkan rambutnya kan? tapi kata "mendecak" itu ga tepat.
dan klo cowo sampe bisa menyibak rambutnya, berarti rambutnya panjang dong ya?  @_@

Quote
Aku mengendurkan tarikan di kedua sudut pipiku, mengangkat sebelah alisku dan memeriksa wajahnya yang tampak bimbang, “Ada apa Ayaka?”

kurang koma >> "Ada apa, Ayaka?"

Quote
Hatiku mencelos.

apa "mencelos" itu bahasa indonesia? ato bahasa sehari-hari?
ada jg "mencelus", itu pun artinya "masuk (contoh: ke dlm lumpur)"

Quote
“Ayaka! Apa yang kau katakan!

aku tau ini memang kalimat yg maksudnya tegas. tapi tetap saja kan bertanya dgn 'apa'. jadi tanda baca di belakangnya seharusnya "Apa yang kau katakan!?"
terasa tidak bedanya?

Quote
Gadis berambut merah muda itu memelukku dan berbisik sendu di telingaku. Ia menyebutkan sebuah penyakit mematikan menggerogoti tubuhnya dan tidak dapat disembuhkan lagi. Kata-kata itu tidak pernah kulupakan hingga saat ini. Aku menekuk telapak tanganku, yang kini telah berubah menjadi sebuah tangan kucing putih yang kecil, membentuk sebuah kepalan. Aku memukulkan kepalan tanganku itu ke tembok kayu yang menjadi dinding rumah Ayaka, membuat suara bergetar yang aneh.

tadinya aku sedikit bingung waktu baca ini. soalnya terkesan kurang dramatis dgn memakai kalimat "ia menyebutkan...". tadinya aku pikir lbh bagus klo ditulis seperti "ia pun bercerita tentang penyakitnya..."
tapi setelah dibaca ulang... ternyata masalahnya ada di dlm paragraf itu sendiri.
paragraf sblmnya kan lg flashback. nah, sampe di 2 kalimat dlm paragraf di atas masih flashback. tapi kalimat selanjutnya (yg dimulai dari "kata-kata itu...") udah masuk ke masa kini lg.
klo aja itu jadi paragraf baru, krn time settingnya jg udah beda, baru lbh dimengerti.

Quote
Aku melihat ada rasa kesedihan yang mendalam di dalam kalimatnya yang tidak bisa ia selesaikan. Aku merangkul kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang, “Kukira kamu hanya menginginkan diriku.”

Aku terkekeh nakal sambil memutar kedua bola mataku yang hitam. Ayaka mencibirkan bibirnya yang mungil, “Aku ingin memeluk roh kucing itu. Bagaimana ya rasanya memeluk seekor catty…”
“Kamu hanya boleh memelukku, Ayaka,” godaku, mencubit pipinya yang warna kecerahannya mulai memucat.

ah... sedikit kesalahan enter dan kurang enter.
it should be like this:
Quote
Aku melihat ada rasa kesedihan yang mendalam di dalam kalimatnya yang tidak bisa ia selesaikan. Aku merangkul kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang, “Kukira kamu hanya menginginkan diriku.” Aku terkekeh nakal sambil memutar kedua bola mataku yang hitam.

Ayaka mencibirkan bibirnya yang mungil, “Aku ingin memeluk roh kucing itu. Bagaimana ya rasanya memeluk seekor catty…”

“Kamu hanya boleh memelukku, Ayaka,” godaku, mencubit pipinya yang warna kecerahannya mulai memucat.



overall...
timeline yg maju-mundur dieksekusi cukup baik, minus kesalahan yg td aku tulis di atas.
PoV (point of view) 1st person khas fafa yg biasa.
sedikit ada detil yg meloncat atau dilewat (mungkin) waktu ngejelasin quest ngambil anzu. sebenarnya ga terlalu masalah sih klo buat yg maen eco dan ngejalanin questnya. tapi mungkin sedikit ngebingungin buat orang lain yg ga maen eco.

it was okay. i gave u an 8.9
should have been 9, klo aja waktu baca aku jg ngerasa terharu (yg sayangnya engga, dont know why...)
lurker on the move
bye bye forum~