Author Topic: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas  (Read 26009 times)

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookie: 39
  • Saber X Gilgamesh~ <3
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #30 on: February 09, 2011, 06:15:55 AM »
Naisu eyang! Hiburan pagi :kya2: oala... Udh belasan tahun toh si wendys di sana... kalo di ECO nyata di south DG ada wendys gmana yaw? XD


Wogh itu ibu jose mau di apain? O_o
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #31 on: February 09, 2011, 10:00:13 AM »
wii keren miz, jadi peri jahatnya itu DEM ya? Terus ada triangle love antara wendy-squad-josephine. Saya mendukung SquadxJosephine!  :sing:
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #32 on: February 09, 2011, 10:05:04 AM »
kasian jose..
dasar squad, bisa-bisanya memninggalkan wanita sndirian :angry: (loh)

mantap miz, lanjutkan~ XD

tapi.. squad-valentianya dikit ya kali ini :laugh:

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #33 on: February 09, 2011, 10:56:23 AM »
bahh
kok malah jadi triangle love begini tohhhh @_@
padahal ga ada pikiran mau dijadiin kayak gitu
(tapi, keren juga sih. wakakakaka *plakk*)

next chapter....
battle yang lebih sulit...
hix T__T
tapi next chapter itu chapter yang paling demen... wkkwkw

bisa nebak kan squad setelah ini ketemu sapa?? :sing:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #34 on: February 09, 2011, 11:09:03 AM »
ke north atau maimai atau LT ketemu icy? Atau pas ke LT ketemu ortunya lagi?
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #35 on: February 09, 2011, 08:19:50 PM »
w....whoaaaaaaaaa :puppyeyes:
fanfict kalian buat lomba bagus2 semua XD
saya seneng banget bacanya XD

bener2....berasa banget rasa kesepiannya Jose waktu Squad ga dateng (yah...saya mengerti rasanya... ;_; ), dan pengalaman Squad mau ke North malah nyasar ke South...berasa dejavu banget :laugh:

Quote
“Begitu..” Squad manggut-manggut, akhirnya ia mengerti.

“Dan bisa kurasakan bahwa Anda juga lapar,” Josephine tertawa.

“Eh, benar juga,” ujar Dominion itu, menyadarinya. “Kurasa nanti aku akan keluar...”
itu di chapter 3...kenapa di awal2 udah dibilang kalo itu Squad, sebelom si Squad memperkenalkan dirinya sendiri? :???:

sisanya seru sih, Ici Tempest nya...walaupun kurang...gimana gt....tp pas Tsunami dapet banget XD
dan plotnya awal2 ga terduga...baru sadar kalo jangan2 itu jadi begitu(?) waktu Domi Pennant-san ngecat rambutnya (tadinya saya pikir itu...Domi yang ngejaga room sebelom HK forest sih @_@)

anyway, saya tunggu lanjutannya :hi:
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #36 on: February 09, 2011, 09:03:53 PM »
whyyyyyyyyy
whyyyyyyyyyyyyyy tiap gw baca squad adalah domi penant... gw teringat... rok yang dikenakan  :cry: :cry:
gw benci rok (yang aslinya jubah, tapi terlalu panjang jadi mirip daster ibu-ibu) si domi penant  :cry: :cry:



tapi ceritanya bagus  :puppyeyes:
lanjutkan  :puppyeyes:

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #37 on: February 09, 2011, 09:12:55 PM »
woooooo lanjutkann  :kya2:

btw ini slesai chapter brp sih?  :???:
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #38 on: February 10, 2011, 05:30:13 AM »
Chapter 4
Bukan Ice Stone Biasa


A/N
akhirnya chapter 4 *hosh hosh hosh*
secara pribadi, meski ini chapter paling panjang yang pernah kutulis, aku paling demen yang ini XD
meskipun saya ga bakat nulis adegan perang -___-"
lihat saja nanti~
enjoy this chapter! ^^

@cc kuro
ini jawabannya! XD

@cc sach
thanks koreksinyaaa huwaa :love3:
makasih banget ya cc!! XD

@cc fafaa
maunya sih juga nulis "rok" gitu, tapi... kasihan deh, jubah aja wakakaka *plakk*
thanks cc!! *puppyeyes*

@alverina
6 chapter selesai kok! trus epilog :D

heres the chapter....



Ia melesat pergi secepat yang ia bisa untuk keluar dari gua Southern itu. Squad mengikutinya dari belakang, sepertinya ia bisa menduga kenapa Josephine sampai berteriak seperti itu.

Dan benar saja. Begitu Josephine membuka pintu rumahnya dengan tergesa, pemandangan yang menyambutnya di balik pintu rumahnya membuatnya kembali histeris.

“IBU!! Oh, ibu, ibu...”

Squad, yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya dengan diam-diam, tiba-tiba berhenti saat melihat hal yang membuat Josephine bertambah histeris seperti itu. Di dalam ruang tamu rumah Josephine, berdirilah sebuah robot yang sama seperti yang dilihatnya di Southern Dungeon. Namun, penampilannya sedikit berbeda. Kalau DEM di Southern Dungeon itu memiliki rambut berwarna merah menyala, DEM yang ini memiliki wambut berwarna hitam, yang berarti dia adalah seorang Eliminator. Di ujung tangannya, terdapat sepasang claw yang amat besar.

Dan ujung claw tersebut menempel di kulit seorang Titania yang mirip sekali dengan Josephine.

“Oh. Halo, Titania,” ujar robot itu begitu Josephine masuk. “Kurasa ibumu ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Ibu Josephine terisak, dirinya tak kuat lagi memandangi claw yang sewaktu-waktu dapat mencabik lehernya tersebut. “Jo-Josephine... jangan dengarkan perkataannya!”

Claw tersebut menggores kulit leher ibu Josephine, membuatnya terisak lebih keras. Josephine memandangnya dengan horor dan berkata, “Hentikan!! Aku akan menuruti seluruh kemauanmu, tapi jangan bunuh ibuku!!”

Eliminator tersebut berhenti, wajahnya memandangi Josephine tanpa ekspresi. “Seluruh kemauanku?”

Josephine mengangguk pasrah sambil mengusap air matanya. “Ya, seluruhnya!”

“Ikutlah denganku, kalau begitu,” Eliminator itu tak dapat mengubah intonasi suaranya, namun mereka tahu bahwa si DEM sangat-sangat gembira. Tangannya membebaskan ibu Josephine dari cengkeraman claw miliknya, dan segera saja ibu Josephine langsung berlari ke arah Josephine, menghalangi jalannya.

“Ibu...”

“Aku tak peduli jika aku mati! Kau tidak boleh ikut dengannya, tidak boleh sama sekali—“

“Kau tidak peduli jika kau mati? Bagus, karena kau menghalangi jalanku.”

Percikan darah langsung menghambur keluar dari perut sang ibu karena tertusuk oleh claw si Eliminator itu. Sebuah jeritan lain yang panjang dan mengerikan terdengar, dan Josephine baru sadar bahwa jeritan tersebut ternyata berasal dari tenggorokannya. Ia terduduk lemas, memegangi tubuh ibunya yang kini tak bernyawa. “Ibu... ibu...” katanya berulang-ulang, seperti sebuah boneka rusak.

“Ayo, Titania. Bukankah kamu bilang bahwa kau akan menuruti segala kemauanku?” tanya Eliminator, sekali lagi tanpa ekspresi. Josephine sendiri tak dapat bergerak, rupanya ia terlalu shock menghadapi kematian ibunya yang terjadi secara tiba-tiba.

“Dan dia bilang bahwa memang akan mengikuti segala kemauanmu, tapi jika ibunya tidak terbunuh,” sebuah suara bergumam. Eliminator tersebut berbalik ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang berbicara. “Dan sekarang dia terbunuh, berarti kau tak punya hak lagi untuk memaksakan keinginanmu.”

“Siapa kamu?” tanya si Eliminator itu.

“Aku...” Tangan orang tersebut mengepal. “Squad!” Josephine terkesiap, namun Squad hanya memandangnya sedetik sebelum menghunuskan pedangnya dan menuju ke Eliminator tersebut dengan kecepatan tinggi. “Heaa!”

Pertarungan pun segera terjadi. Trang, tring, trang, trang, suara-suara tersebut bermunculan seperti saling sahut-menyahut manakala pedang Squad dan claw si Eliminator itu bertemu.

Continuous Attack!” seru Eliminator, membuat Squad sedikit terdorong mundur saat ia harus menerima serangan bertubi-tubi dari si Eliminator. Squad mengertakkan giginya, dan kemudian membalas berteriak,

Quick Slash Combo 3!!

Tiga serangan dengan kekuatan luar biasa langsung dihunjamkan Squad kepada Eliminator. “Tidak jelek, Squad,” seru Eliminator. Squad terengah dan melihat hasil dari serangannya. Namun, selain dari beberapa luka ringan di berbagai tempat, dia tak dapat memberikan luka yang lebih serius. Sedangkan dirinya sendiri telah terluka cukup banyak, bahkan lengannya menderita luka tusuk cukup dalam. Sial...

“Waktuku hampir habis. Kurasa aku akan menggunakan seluruh kemampuanku kali ini,” Eliminator berkata. Squad menggenggam pegangan pedangnya dengan lebih kuat. “Vital Down!

Seluruh tubuh Squad mendadak seperti agar-agar. Ia merasa sangat lemah, seperti seseorang yang baru saja sembuh dari penyakit berat. Dan tidak hanya itu saja. Eliminator langsung berteriak kembali, “Agile Movement! Continuous Attack!” ujarnya, sembari menusuk Squad dengan kecepatan yang lebih mengerikan daripada sebelumnya.

Squad tak dapat menangkis serangan tersebut, entah kenapa. Serangan dari Eliminator tersebut mencabik-cabik dirinya, namun ia tak dapat melakukan serangan balik. Squad memejamkan mata. Inilah akhir dari segalanya...

Ia ambruk, rupanya tak dapat lagi menahan kesakitan. Ia mengarahkan tangannya ke arah Josephine dengan sedikit bergetar, sepertinya hal itu adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya.

“Maafkan aku...” Dengan perkataan ini, Squad kemudian memejamkan matanya.

“Bagus, dia mati. Titania, ayo.”

“Squad... Squad!!”

Terdengar beberapa gesekan baju dan besi, dan kemudian Squad dapat merasakan bahwa Eliminator itu mengangkat Josephine dengan paksa. Akhirnya,  Eliminator pergi keluar rumahnya, dan langsung menghilang, lenyap dari rumah Josephine.

~~~

 “Josephine...”

Setelah beberapa jam, ia berusaha berdiri, namun gagal. Tubuhnya terlalu lemah oleh karena serangan bertubi-tubi yang dihunjamkan oleh si Eliminator kepadanya. Darah berwarna kehitaman menetes-netes dari tubuhnya, membuatnya semakin lemah. Cih. Tak ada cara lain. Dominion itu merobek sedikit kain dari jubahnya yang sudah kusam itu, kemudian membebatnya di beberapa tempat di tubuhnya yang terluka. Setidaknya ini akan menghentikan pendarahan, namun Squad tak yakin sampai kapan.

Tanpa sadar, saat berusaha membebat tangan kirinya yang tersayat dalam, ia bisa merasakan panas di sekitar matanya. Tidak, tidak. Seorang pria, manusia ataupun monster, tidak diijinkan dan tidak diperbolehkan untuk menangis. Namun entah kenapa, sepertinya tubuh Squad tak mau mematuhi perintah dirinya. Air mata menggenangi matanya tanpa bisa ia cegah.

Semua ini adalah kesalahannya. Ketololan, kebodohan, dan kecerobohannya. Ia kini menghilang dalam kegelapan. Cahayanya, pujaan hatinya, sumber kebahagiaannya, kini telah lenyap tak berbekas oleh karena dirinya. Karena dirinya tak cukup kuat untuk menghentikan Eliminator itu. Karena dirinya pengecut. Karena dirinya tak mampu mencegah Eliminator itu membunuh ibu Josephine. Karena dirinya terlambat menyadari, bahwa oleh karena cintanyalah maka Josephine harus menanggung nasib seperti ini.

“Josephine...”

Kali ini, saat ia mencoba berdiri, Squad berhasil melakukannya walaupun sedikit linglung. Dominion itu sama sekali tak tahu harus kemana. Yang menjadi pertanyaan terbesar adalah harus kemanakah dia akan mencari Josephine? Matanya memandang ke segala arah berusaha mencari petunjuk, apapun bentuknya, dengan keputusasaan yang terus memuncak. Namun mendadak, ia teringat oleh Josephine. Tepatnya, kamar Josephine. Pasti, di dalamnya ada sesuatu yang bisa membuatnya melacak aura Josephine....

Ia memantapkan hatinya, menyingkirkan kesedihan atas menghilangnya Josephine dari dalam hatinya. Ia akan memiliki banyak waktu untuk bersedih, tapi itu lain kali saja. Sekarang terdapat masalah yang lebih penting, yaitu mencari dan menemukan Josephine.

Dominion Pennant itu berdiri tegak, dan kemudian ia mulai melayang ke arah kamar Josephine ketika mendadak seseorang berteriak dari pintu.

“PEMBUNUHAN!!”

Jantung Squad serasa hampir melompat keluar dari mulutnya. Ia berbalik dengan cepat untuk mendapati seorang gadis Transceiver yang sama dengan gadis Transceiver yang beberapa bulan lalu ia tanyai tentang letak Southern Dungeon. Ternyata ia datang oleh karena teriakan ibu Josephine sebelum ia dibunuh oleh si Eliminator.

“T-t-tunggu, aku tidak melakukannya—“

“PEMBUNUHAN!! PEMBUNUHAN OLEH MONSTER DI SINI!! TOLONG!!”

“Err—“ Squad bingung total. Bagaimana ini? Dia terlihat seperti seorang perampok yang telah meraup seluruh uang di rumah ini, kemudian setelah membunuh korbannya, ia terlihat ingin melarikan diri. Bah, naas sekali nasibnya. Tapi, tidak ada waktu untuk menyesali nasib. Dengan sekali kedipan mata sang Transceiver, Squad cepat-cepat menghilangkan tubuhnya sendiri sebelum menarik perhatian lebih banyak.

Begitu ia menghilang, si gadis berteriak lebih histeris. Squad menghela napas saat gadis itu tampaknya memutuskan untuk mengambil jarak sejauh-jauhnya dari rumah Josephine karena dia mengira rumah ini berhantu. Squad teringat, betapa takutnya dia kepada hantu saat ia bertanya kepadanya dulu-dulu. Ia menggeleng dan kembali melayang ke dalam kamar Josephine.

~~~

Gila!!

Gila!!

Squad menyumpah-nyumpah dengan segala kekuatan dirinya. Si robot itu—gila stadium tiga!! Memangnya waktu dia membawa Josephine kembali ke markasnya, dia jalan-jalan dulu, begitu? Ia malah sampai pernah nyasar ke pulau Enigma! Dan kemudian tidak berhenti sampai situ saja—malah ia juga sampai ke daerah North, Tonka, pulau Mai-Mai, Submarine Cave, kemudian kembali lagi menuju ke jantung benua Acronia dengan mampir ke kota metropolitan Acronia, dan akhirnya dia sekarang menuju... Morg.

Morg.

Tanah kelahirannya.

Squad merana. Memangnya robot-robot itu tidak bisa memikirkan tempat lain yang... yang pokoknya bukan Morg? Ini sungguh tidak adil. Bagaimana kalau ia sampai ditemukan oleh kaumnya? Hal itu pasti akan menunda pencarian ini, dan membuatnya semakin kehilangan waktu yang berharga. Apalagi, pencarian Squad terhadap Josephine yang dibantu oleh sebuah payung pink kesayangannya itu, telah memakan waktu setidaknya seminggu lebih, dan itu sangatlah membuat Squad khawatir. Bagaimana jika dia terlambat saat ia akhirnya menemukan Josephine?

Lagipula, karena menggunakan energinya secara berlebihan untuk melacak aura robot itu selama seminggu lebih, kini dia merasakan bahwa energi yang menjadi sumber kekuatan sihirnya semakin terasa melemah. Squad cemas, jika hal tersebut terjadi terus, maka dia tidak akan bisa meneruskan pencariannya lebih lanjut. Padahal ia sangatlah membutuhkan energi sihirnya...

Meskipun ia sangat tidak menyukainya, pada akhirnya ia harus menyerah pada keinginan raganya dan kembali harus menggunakan energi kehidupan makhluk lain untuk mengisi kembali energi sihirnya. Squad mengepalkan tangannya. Dalam hati, ia mengutuk nasibnya karena harus menjadi seorang Dominion Pennant. Mengapa ia tidak menjadi seorang Dominion biasa saja, atau bahkan seorang Emilian? Dengan begitu, segalanya akan menjadi lebih lancar. Bahkan mungkin ia bisa bertemu dengan Josephine secara lebih... manusiawi. Hanya membayangkan hal itu saja sampai sangat membuatnya menderita.

Ia mengutuk keberadaan dirinya dan keberadaan seluruh Dominion Pennant. Makhluk terkutuk seperti Squad seharusnya menghilang saja...

Tapi, Squad tidak bisa. Squad tidak bisa membunuh dirinya sendiri. Ada satu hal penting yang harus dilakukannya, dan itu adalah mencari Josephine. Dan satu-satunya cara agar ia dapat menemukan gadis Titania itu adalah... ia harus mengikuti aura si Eliminator sialan itu. Squad mengumpat lagi, kemarahannya kembali meluap begitu ia teringat tentang Eliminator sialan yang berani-beraninya menculik Josephine.

Tanpa sadar, saat ia melayang dengan penuh kekesalan seperti itu, kakinya terantuk sesuatu yang tergeletak di tanah. Anehnya, suaranya seperti suara sepotong kayu. Squad tak memedulikan suara yang pertama. Suara kedualah yang membuatnya terhenti mendadak.

“Auw!”

Jantung Squad serasa melompat. Memangnya kayu yang bisa berteriak itu ada, ya? Atau mungkinkah...

Dominion itu menunduk ke bawah, dan mendapati bahwa tebakannya benar. Sebuah boneka kayu Pino dengan baju dan topi berwarna biru langit sedang tergeletak di tanah, dengan beberapa bagian dari tubuhnya terlempar tak jauh dari tempat dimana tubuh aslinya berada. Wajahnya tampak tergores di sana-sini, dan matanya tertutup. Squad mengernyit.

“Sedang apa kamu di sini, Ice Stone? Menjemur kulit?” tanya Squad, heran. Di sekitarnya, beberapa beruang oranye yang tampak garang itu terlihat takut-takut mendekati Squad. Seorang Dominion Pennant biasanya memang ditakuti oleh monster-monster lain yang lebih rendah tingkatannya.

Mata si boneka kayu yang berwarna abu-abu itu terbuka sedikit, dan kemudian boneka kayu itu mendesah. “Telah datang kepadaku seorang peri jahat yang sedang membawa seorang putri cantik jelita. Karena perasaan belas kasihanku dan juga karena paras cantiknya, aku mencoba menolongnya, namun gagal. Dan di sinilah aku, terbaring tanpa ada yang mengobatiku...”

***

“Ada apa, Valentia?” tanya Squad sambil memandangi gadis berambut hitam tersebut. Wajah sang gadis memang tampak kebingungan.

“Tidak apa-apa. Aku hanya bingung, ternyata Scone—itu memang Scone, kan?—ternyata Scone mengatakan kata-kata yang persis sama dengan kata-katanya di dalam versi ceritaku,” Valentia menjelaskan sambil masih mengernyit. “Yah, mungkin itu tidak terlalu penting, sih. Aku cuma sedikit kaget saja.”

“Kamu memang teliti, Val,” Squad tersenyum. Namun, ia menyadari sesuatu yang berkaitan dengan hal yang dikatakan Valentia. Mungkin saja...

***

“Oh, begitu. Kasihan,” ucap Squad tanpa ekspresi, sepertinya dia tidak mendengarkan si boneka kayu dengan baik. Pikirannya masih tetap tertuju pada Josephine.  “Ya sudah ya, aku ada urusan,” ujar Squad sambil lalu seraya meneruskan perjalanannya menuju Morg.

Boneka kayu itu rupanya tidak menyangka bahwa rencanya tidak berjalan dengan lancar. “Tunggu-tunggu-tunggu! Aku mohon tunggu sebentar!” Saat mendengar kata ‘mohon’, dengan malas Squad berbalik lagi kepada si boneka kayu.

“Ada apa? Cepat katakan..”

“Obati aku!” pinta boneka itu memelas.

Squad memutar bola matanya. “Bilang dong dari tadi...” Dengan perasaan malas, Squad terbang ke sana ke mari untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh si Ice Stone dan menyatukannya kembali i tubuh aslinya dengan sedikit arahan dari si Ice Stone. Yah, sebenarnya sih kata-kata ‘sedikit’ dan ‘arahan’ sama sekali tidak tepat. Mungkin kata-kata yang lebih tepat adalah ‘banyak cacian dan makian’. Ice Stone itu rupanya sangat cerewet sekali, dan langsung protes jika Squad meletakkan bagian tubuhnya di tempat yang tidak seharusnya.

Setelah beberapa ‘Aduh!’ kemudian ‘Bukan di situ!’ dan sedikit ‘Kau ini bodoh ya?’ yang dibalas Squad dengan ancaman ‘Kau mau kubantu atau tidak?’, akhirnya Ice Stone itu kembali memiliki tubuh yang lengkap. Dengan wajah berjengit ia kemudian melakukan gerakan-gerakan biasa untuk melenturkan tubuh.

“Tidak terlalu baik, tapi setidaknya aku bisa berjalan,” ujar Ice Stone itu lesu. “Ugh, terima kasih, Dominion,” tambahnya, seraya memunculkan ekspresi yang seakan menyatakan bahwa Squad adalah jenis penolong yang tidak diharapkannya. Ice Stone itu kemudian bergumam, “Lihat saja nanti, Eliminator sialan...”

Begitu mendengar kata-kata ‘Eliminator’, Squad langsung terkejut. “Kau bilang apa? Eliminator?”

 Mungkinkah mereka memiliki musuh yang sama...?

“Hm? Oh, kau bertanya padaku? Jawabannya...ya,” jawab Ice Stone itu sambil lalu. “Sekarang, aku akan menghajarnya...”

“Hei, Ice Stone? Tunggu sebentar,” kata Squad, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Bagaimana kalau kita... melanjutkan perjalanan bersama-sama?”

“What? Noo!” seru Ice Stone itu spontan, kemudian cepat-cepat meralat kata-katanya. “Maksudku, aku lebih suka sendiri! Dan tujuan kita berbeda!”

“Tidak,” Squad menggeleng. Ia kemudian mengingat-ingat perkataan konyol si Ice Stone saat pertama tadi bertemu. “Kau mencari Eliminator yang membawa seorang putri. Aku mencari seorang putri yang dibawa oleh sebuah Eliminator. Cocok,” Squad memandanginya lekat-lekat. “Jadi kurasa akan lebih baik jika kita mencarinya bersama-sama. Lebih banyak orang, lebih baik...”

Ice Stone itu menimbang-nimbang dengan serius. “Jawabannya: masih tidak,” ujar Ice Stone itu akhirnya, setelah sepuluh menit hening. Squad memandanginya dengan geram, ia merasa sia-sia menunggu sepuluh menit hanya untuk dijawab dengan satu kata tidak.

“Kenapa tidak?”

“Karena akan merepotkan!” Ice Stone itu menjawab sambil tertawa. “Lagipula, tak ada untungnya bagiku. Aku bisa kok menghajar Eliminator itu sendirian,” ucap Ice Ston itu bangga, tidak menghiraukan pandangan Squad yang meremehkan.

“Baiklah kalau kamu tidak ingin mengajak seorang Dominion Pennant,” ucap Squad, mendesah, kemudian berdiri lagi. Ia menyeringai sedikit saat ia melihat perubahan wajah Ice Stone itu lewat sudut matanya.

“Kamu... Dominion Pennant?” tanyanya Ice Stone itu, terpana.

Squad mengangguk mengiyakan. Senyum yang tadinya hampir terbentuk di bibirnya perlahan menghilang dan digantikan oleh kejengkelan saat Ice Stone itu berseru tidak percaya, “Tapi... rambutmu pirang! Dan jubahmu sobek-sobek! Seingatku, harga diri mereka terlalu tinggi bahkan hanya untuk mengecat sehelai rambut, ataupun meninggalkan setitik noda di jubah mereka.” Ia kemudian memasang wajah menyelidik. “Kau ingin menipuku, ya? Tampangmu bahkan tidak cukup tampan untuk menjadi seorang Dominion Pennant!” Tawa renyah keluar dari mulutnya. Meskipun begitu, kata-kata di bagian terakhir itu tidak benar-benar betul. Seluruh Dominion Pennant memang selalu bertampang di atas rata-rata, tidak terkecuali Squad. Bahkan, mungkin dia adalah Dominion Pennant paling tampan di seluruh daratan Morg.

Wajah Squad kembali masam. “Memangnya apa untungnya bagiku untuk menipumu? Tak ada gunanya bagiku. Dan sudah kubilang, kalau kamu tidak ingin mengajak seorang Dominion Pennant, oke. Tapi ingat, Eliminator adalah jenis tertinggi dari robot DEM. Mereka sangat kuat, lebih kuat dariku, malah,” Squad memperingatkannya.

Mata sang Ice Stone itu ditaburi oleh perasaan cemas dan khawatir. Squad berhasil mempengaruhinya. Ia kembali memilih kata-katanya dengan hati-hati. Hanya dengan mengikuti petunjuk arah dari Ice Stone itulah dia bisa paling tidak menghemat penggunaan energi sihirnya.

“Kalau kamu ingin untuk balas dendam kepadanya, setidaknya kau tentu ingin pembalasan dendammu berhasil, bukan?”

Boneka kayu kecil itu memandangnya dengan tajam dan lama, kemudian ia kembali menimbang-nimbang. Kali ini, bahkan Squad pun tahan jika disuruh menunggu setengah jam. Akhirnya Ice Stone itu menghela napas dan berkata dengan keyakinan yang dipaksakan. “Baiklah, baiklah! Ikutlah denganku! Tapi, dengan satu syarat...”

Satu syarat? Squad menjadi sedikit lebih waspada. “Apa?”

“Karena aku masih belum terlalu bisa berjalan, maka kamu harus... menggendongku menuju ke tempat yang dituju Eliminator itu.” Si Ice Stone itu menyeringai.

WHUAT?!

“WHUAT?!” teriak Squad, menyuarakan isi hatinya.

***

“WHUAT?!” Valentia ikut berseru, wajahnya menunjukkan kebingungan sekaligus ketidakpercayaan. “Ternyata si Scone itu licik!!” sambungnya, sambil menggeleng-geleng.

Squad menyetujuinya dengan mengangguk secara berlebihan. “Ya kan?! Dia itu memang kurang ajar!!”

Valentia tertawa. “Ahahaha... kau bereaksi seakan kamu mengenalnya, Squad!” ujar Valentia dengan nada bergurau. Secercah senyum terbentuk secara spontan di ujung bibir Squad. Sekali lagi, wajahnya menunjukkan berbagai ekspresi.

***

“Yap, kau harus menggendongku. Dan hanya dengan begitulah aku akan menunjukkan tempat apa yang dituju oleh si Eliminator itu!” ujar Scone, tersenyum simpul. Matanya berkilat. Ia tahu bahwa dialah yang memegang kendali dalam situasi seperti ini.

Hampir saja Squad meraung marah jika seandainya saja akal sehatnya tidak mencegah dirinya melakukan hal tersebut. Cecunguk kecil! Sudah diberi Snow Drop malah minta Magic Candy!! (yang kira-kira artinya adalah: sudah diberi bantuan, malah mengharapkan lebih!!)

“Aku akan membunuhmu...“

Sebelum Squad bahkan bisa mendekati si Ice Stone, si boneka kayu itu menggoyangkan telunjuk jarinya dengan gaya yang menyebalkan. “Eit, eit, eit, no you can’t!” ujarnya gembira sambil menyeringai. “Seperti yang kubilang, aku akan memandumu menuju tempat si Eliminator hanya jika kamu bersedia menggendongku. Tak mau membantu, tak ada bantuan. Tak digendong, tak ada panduan. Dan jika aku mati, tak akan ada lagi yang akan membantumu, Dominion Pennant.” Seringai itu masih ada di bibir kayunya ketika dia melanjutkan dengan riang, “Seperti hukum dalam dunia perdagangan, bukan? Tak ada uang tak ada barang. Tak dibeli, tak ada barang. Dan jika aku mati, tak akan ada lagi yang menjual. Huahahahaha...”

“Brengsek!! Aku TIDAK akan PERNAH mau menggendong makhluk sepertiMU!!” seru Squad dengan kemarahan membara.

~~~

Ini sungguh memalukan.

“Ya, ya, lebih ke arah kiri! Jalan lurus seperti tadi—oh, maksudku melayang lurus seperti tadi, ya!” seru si Ice Stone gembira. “Oh yeah, bisa tambah kecepatannya? Dengan kecepatan seperti ini, kita akan mencapai tujuan dalam...” Ice Stone itu pura-pura mengecek tangan, rupanya hanya membayangkan bahwa di pergelangan tangan kayunya terdapat sebuah arloji. Ia kemudian mendongak untuk menatap wajah di atasnya dan berkata, “... seabad lagi.”

Tarrrrrrrrrik napas, lalu keluarrrrrrrrrkan, Squad, batin sang Dominion Pennant, mencoba mengurung keinginannya untuk meraung marah dengan menarik napas dalam-dalam. Kedua pasang sayapnya yang berwarna ungu kehitaman masih saja terus mengepak tanpa lelah di atas pemandangan lautan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Meskipun tampak tidak terpengaruh oleh perkataan-perkataan Ice Stone itu, namun dalam hatinya Squad ingin sekali menghancurkan si cunguk kecil itu dalam sekali betot.

“Ayo, tambah kecepatan! Kau ini melayang atau... ermm...” Ice Stone itu berusaha menemukan kata-kata yang tepat, “mmm... melayang dengan kecepatan kupu-kupu?” sambungnya seenaknya sambil memandangi pemandangan laut yang terhampar luas di depannya dari balik tangan Squad.

“Bagaimana kalau kau kubenamkan ke bawah air selama sejam saja?” sahut Squad dengan nada tenang yang dipaksakan.

“Dengan begitu, kayuku akan menjadi lemah, kemudian lapuk, dan aku akan mati. Kalau aku mati, kau akan sendirian di tengah laut ini dan tak akan pernah bisa kembali ke daratan!” Ice Stone itu menjawab dengan cerdik. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak mata kayunya dengan gembira, rupanya sangat senang mengerjai Squad.

Bicara tentang kelopak mata, sepertinya hal itu membuat Squad menyadari sesuatu.

“Hei,” kata Squad, memandangi boneka yang dibawanya di tangan itu dengan cermat. “Kalau kupikir-pikir, kurasa kamu bukan benar-benar Ice Stone.”

“Wow,” Ice Stone itu terpana. “Kau pernah berpikir?!”

“Bah! Terserahlah, capek aku dengan segala omonganmu ini, Ice Stone!!” Squad meraung, benar-benar tidak tahan.

“Katanya aku bukan Ice Stone, tapi kenapa kau memanggilku Ice Stone?” tanya si boneka itu dengan suara polos yang jelas-jelas terdengar palsu.

Squad berhenti melayang.

Dia.

Tidak.

Tahan.

Lagi.

“Kurasa aku capek membawamu dengan kedua tangan, jadi aku pakai satu tangan saja,” kata Squad datar. Saat Ice Stone itu memandanginya dengan kebingungan, ia kemudian membebaskan tangan kirinya dari tugas menahan beban berat si boneka kayu, dan kemudian ia menahan si boneka kayu dengan tangan kanannya, dengan cara memeganginya secara terbalik di pergelengan kakinya.

“Apa-apaan ini?! Hoi, kembalikan aku seperti semula!!” Si boneka kayu berteriak kepada Squad sambil berusaha menahan topinya agar tidak terjatuh ke permukaan laut.

“Malas,” jawab Squad seenaknya.

“Di perjanjian kita tadi, aku mengatakan bahwa aku akan memandumu jika kau menggendongku—“

Namun kata-katanya dihentikan oleh aura kegelapan yang menguar dari tubuh sang Dominion Pennant dengan kekuatan luar biasa. “Di kampung halamanku,” ujar Squad, berusaha tampak mengerikan, “cara menggendong adalah seperti ini.”

Nadanya cukup dingin untuk membuat bulu kuduk siapapun merinding. Boneka kayu itu bergidik, dan kemudian memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. Squad memandanginya selama beberapa detik, kemudian melanjutkan perjalanannya dalam diam. Meskipun di luar ia menampilkan seringai kepuasan, namun di dalam hati ia bersorak gembira. Dia berhasil membungkam si boneka itu!

Banzai!!

Setelah beberapa menit, keheningan mengisi kekosongan di antara mereka berdua. Namun mendadak, lebih karena tidak tahan dengan situasi diam yang mencekam ini, si boneka kayu itu menghela napas. “Kamu benar,” ia berkata. Nadanya terdengar menerawang.

Squad, tanpa menghentikan kepakan sayapnya, bertanya dalam gumaman, “Apanya?”

“Kamu benar tentang aku yang bukan Ice Stone.”

Mendengus kecil, Squad kembali bergumam, “Sudah kuduga.”

Raut muka boneka itu menandakan kebingungan.  “Darimana kamu tahu?” tanya boneka itu.

“Ice Stone memang memiliki sepasang mata, namun pasti selalu tertutup,” jelas Squad, matanya yang berwarna keemasan itu masih memandang ke arah depan. “Sedangkan kamu... meskipun kamu memakai baju yang sama persis dengan sebuah Ice Stone, tapi matamu terbuka, dan kebetulan memiliki warna yang sama persis dengan satu boneka tertentu.” Dominion Pennant itu melirik boneka yang masih dipegangnya secara terbalik di pergelangan kakinya. “Kurasa kamu sebenarnya adalah sebuah Kodama.”

“Lagi-lagi benar.” Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka yang pertama, boneka itu menampilkan senyum yang tulus. “Yah, Dominion, harus kuakui bahwa kamu memang punya otak.”

Untuk pertama kalinya juga, Squad merasa tak marah mendengar perkataan si boneka kayu. Malah, sekarang ia menganggapnya sebagai pujian. “Kalau begitu, mulai sekarang kau kupanggil ‘Kodama’, eh? Atau mau kupanggil dengan nama lain?” tanyanya. Sebuah titik kehitaman mulai muncul di ujung cakrawala. Mungkinkah itu daratan...? Tapi, kenapa sepertinya tampak familier sekali...?

“Panggil aku...” Kodama itu terhenti sejenak. “Panggil aku Scone.”

Squad mengangguk dan berkata balik, “Squad.”

Tanpa banyak bicara lagi, Squad kemudian mengangkat si Kodama dengan tangan kanannya, dan kemudian kembali membawanya dengan kedua tangan. “Tanganku sekarang tidak capek,” Squad beralasan. Scone mendengus, namun tidak berkomentar apa-apa.

Squad tidak bertanya mengenai alasan kenapa si Kodama memakai baju Ice Stone. Scone pun tidak bertanya mengenai alasan kenapa Squad mengecat rambutnya menjadi pirang dan mengapa jubahnya tercabik-cabik. Kedua monster itu telah mencapai perdamaian dalam diam, dalam suatu keheningan yang tampaknya memisahkan mereka, namun sebenarnya keheningan tersebut membuat mereka lebih dekat. Mungkin, akan lebih baik bagi mereka untuk tetap diam, agar keduanya bisa melalui waktu bersama dengan tidak menjadi gila karena perbuatan yang lain.



sekali lagi, kritik saran makian cercaan pujian pasti saya terima m(_ _)m
« Last Edit: February 10, 2011, 05:30:36 AM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #39 on: February 10, 2011, 06:48:55 AM »
wih sadis si mizu, udah chapternya puanjang banget, updatenya subuh subuh pula. Tapi kok kesannya squad jadi kek vampire?
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273