Author Topic: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas  (Read 26113 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #40 on: February 10, 2011, 02:30:56 PM »
iya panjang sih, soalnya ga nahan ga nulis percakapannya squad sama scone.... lucu banget -__-"


yang bagian pampir itu... hahaha, iya juga sih, waktu dibaca2 lagi... padahal waktu nulis ga mikir apa2 -__-"
mungkin udah kebanyakan nonton being human.... wahahahahaha *plaak*
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #41 on: February 10, 2011, 03:18:20 PM »
Quote
Squad memutar bola matanya. “Bilang dong dari tadi...” Dengan perasaan malas, Squad terbang ke sana ke mari untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh si Ice Stone dan menyatukannya kembali i tubuh aslinya dengan sedikit arahan dari si Ice Stone.
ada i nyelip itu :laugh:

tp keren sih @_@
Jose mau diapain ama si Eliminator masih ga jelas @___@

dan kesan pertama sama Scone...dia...nyebelin :sweat:
walaupun ttp bingung jg sih knp awalnya Scone pura2 jd Ice Stone, bukannya langsung ngomong kl dia Kodama @_@
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #42 on: February 11, 2011, 10:19:37 PM »
6 chapter?? *lebay*
heww.. pnasaran dgn lanjutannya sampai akhirnya lupa belajar pdhl bsk ul  @_@
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #43 on: February 11, 2011, 10:51:25 PM »
Tinggal 2 hari~

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #44 on: February 13, 2011, 08:26:59 AM »
Mizu kurang 2 chapter  :omg2:
mau diselesaiin?  :???:

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #45 on: February 13, 2011, 03:03:26 PM »
Chapter 5
Menara Cahaya dan Perundingan



A/N
hosh hosh hosh
bisa bisa bisaaaaa
nutut pastiiiii araaraarahgragrahgh
heres the chapter 5~
chapter 6 akan kubagi jadi 2 bagian nanti~ hohoho

@cc sacchi
tengkyu sekali lagi koreksinya :love3:

@alverina
heuu makasihh XD

@kk squad
AKU BISAA KOK *nangis darah*
ntar sore lagi ku post~ hyahahahaha *tawa kering*



“Jadi ceritanya kamu memang sengaja untuk membuatku berputar-putar di laut, ya?” tanya si Dominion bersayap dua pasang itu. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apapun.

“Aku hanya ingin bermain-main denganmu,” Scone berujar dengan senyum jahil. “Lagipula, tubuhku perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan bentuknya yang baru. Kau tahu, aku sudah terbaring selama dua hari dalam keadaan terpotong-potong seperti itu.”

“Yah...” Squad mendesah. “Bagus sih kalau ingin bermain-main, tapi setidaknya pikirkan sayapku yang capek ini hanya karena ulahmu itu. Sekarang aku tidak bisa kemana-mana...” Konyol memang, tapi entah mengapa Squad tidak bisa menghentikan dirinya untuk mengatakan sesuatu seperti itu. Ia tahu, ia hanya sedang ingin mencari alasan untuk tidak melanjutkan perjalanan mereka.

“Kalau begitu, pakai kaki saja, beres, ‘kan?” Si Kodama itu berkata seakan hal itu adalah hal yang paling jelas sedunia.

Squad memandanginya untuk beberapa lama, kemudian ia menjawab, “Yeah... kamu benar...”

Mungkin ini sudah merupakan takdirnya. Ia tak bisa mengelak dari sebuah garis nasib yang telah dilukiskan oleh Sang Pencipta untuknya. Namun, bagaimanapun juga, Squad tetap ingin untuk menjauh sejauh-jauhnya dari tempat ini. Tempat mengerikan ini, dimana segala kenangan pahitnya berada.

“Sepi sekali di sini.”

Scone mengangguk kaku. “Ya... dan kamu tahu itu artinya apa.” Sang Kodama memandangi sekeliling. “Itu artinya sesuatu telah terjadi.”

“Yeah...” Dominion itu menghela napas. “Kalau begitu, kita masuk, Scone?”

Senyum Scone tampak seperti senyum pasrah. “Setelah kamu, Squad.”

Squad melangkah dengan kakinya menuju ke portal di dekat mereka. Dan dengan satu langkah, mereka telah memasuki bangunan paling angker dan paling mengerikan di seantero Morg.

Light Tower.

~~~

“Hyaat!!” Teriakannya menggema di sekeliling ruangan itu. Namun apa yang menyambutnya di balik dinding Light Tower membuatnya terdiam.

Krik, krik, krik.

Sesuatu pasti memang telah terjadi. Tak ada seorangpun yang menyambutnya di bekas tempat tinggalnya ini. Segalanya seperti tampak ditinggalkan dengan terburu-buru. Bahkan Squad sendiri bisa melihat ada satu-dua bekas pertarungan di sana sini. Tampak beberapa potongan kayu, serpihan kain, ujung duri, dan lain lain menghiasi sudut-sudut bangunan ini.

“Semuanya menghilang,” ucap Scone, berusaha menekan nada sedih dalam suaranya, namun cukup gagal. Squad mengerti. Di antara sekian banyak serpihan kayu dan kain tersebut, beberapa di antaranya mungkin merupakan salah seorang teman Scone.

Hal ini membuat Squad semakin ingin menghajar si Eliminator sialan itu. “Ayo.” Squad menguatkan hatinya, dan mengajak Scone menuju lantai atas.

Sementara mereka menaiki setiap tangga yang dapat mereka temui untuk dapat mencapai lantai teratas, Squad dan Scone berbincang-bincang. Untunglah, tak terjadi apapun yang membuat Squad marah atau jengkel. Dari berbagai obrolan tersebut, Squad mengetahui banyak tentang Scone—

***

Pintu kamar diketuk, kemudian terbuka, menampilkan seorang cewek berambut biru yang memiliki wajah hampir persis seperti Valentia. “Aku pulaaang...” seru cewek tersebut ceria, dan menyelinap masuk ke dalam. Begitu mendapati bahwa Valentia telah berada di dalam sambil memandangnya dengan tatapan mencela, ia berkata, “Eh, Valentia. Sudah pulang, rupanya?”

“Tentu saja sudah pulang,” Valentia menjawab, masih dengan tatapan mencela. “Aduh, Popurin, kenapa sih datang di saat yang tidak tepat?” tanyanya, sambil melipat tangannya.Ceritanya kan jadi terputus!

“Tidak tepat?” Alis gadis yang bernama Popurin itu bertaut. “Kenapa memangnya?”

Wajah Valentia mendadak menjadi cerah. Matanya berkilat, kemudian ia berujar dengan nada tenang yang dibuat-buat. “Tidak lihat siapa yang ada di sini?”

“Eh? Siapa, ya?” Popurin mulai memandang sekeliling. Dan tepat saat itulah ia melihat Squad yang berada di kamarnya, tersenyum kepadanya.

“S-Squad?!” Ia hampir saja berteriak, namun untungnya dihentikan oleh akal sehatnya. “Ngapain kamu di sini??” sambungnya, ternganga. Tanpa sadar, tangannya bergerak naik ke arah rambutnya dan memperbaiki kuncirannya dengan sedikit terburu-buru.

“Aku sedang menceritakan sesuatu kepada Valentia. Mau ikut dengar?” Squad menawarkan kepada Popurin, senyumnya semakin lebar. Namun, Popurin malah merasakan pipinya memanas.

“Aku—aku mau,” Popurin menjawab, dengan bisikan kecil.

“Eh? Kau ngomong apa?” pancing Valentia, rupanya benar-benar menikmati hal ini.

“Aku mau,” Popurin mengulang dengan suara yang lebih keras.

“Mau apa?”

“M-m-mau dengar!! Dasar Valentia!!” Gadis itu mulai berjalan mendekati Valentia dan berniat untuk menjambaknya, kalau saja tidak dilerai oleh Squad. Tangannya dengan sigap menahan tangan Popurin yang sudah setengah jalan ingin menjambak Valentia, dan menahan Valentia sendiri yang sudah bersiap untuk melancarkan serangan kontra kepadanya.

“Sudah, sudah! Kalian ini...” Squad mendesah. Ia tidak memedulikan muka Popurin yang semakin merona merah saat tangannya bersentuhan dengan tangan Squad. “Ayo, katanya mau dengar ceritaku. Duduk,” perintah Squad kepada kedua gadis itu, mencegah agar mereka tidak melangsungkan pertengkaran kekanak-kanakan ini. Keduanya menurut, meskipun masih saling melancarkan perseteruan mereka dengan cara saling mendelik satu sama lain.

“Oke, karena aku malas mengulang, aku lanjutkan yang tadi saja, ya,” Squad memandang kedua gadis itu. Valentia tersenyum, namun Popurin mengangguk cepat-cepat dengan senyum yang tak dapat dikendalikan. Ia bersama Squad di kamar kosnya! Di kamar kosnya!

Squad memandangi sang gadis yang sekarang wajahnya semerah apel North, namun tidak berkata apa-apa. Sebelum ia melanjutkan ceritanya, ia membatin dengan penuh penyesalan.

Maaf...

***

Sementara mereka menaiki setiap tangga yang dapat mereka temui untuk dapat mencapai lantai teratas, Squad dan Scone berbincang-bincang. Untunglah, tak terjadi apapun yang membuat Squad marah atau jengkel. Dari berbagai obrolan tersebut, Squad mengetahui banyak tentang Scone. Contohnya adalah, ternyata dia memiliki bakat dan minat dalam bidang perdagangan.

“Jadi, kamu itu sebenarnya seorang Trader amatir?” tanya Squad, berusaha mengklarifikasi perkataan Scone.

Wajah Scone cemberut. “Nggak amatir, tauk! Aku ini sudah profesional!” Ia membusungkan dadanya sembari terus menapaki tangga menuju lantai di atas mereka. “Lihat saja sebentar lagi, kau akan mendengar nama Scone dimana-mana sebagai seorang pedagang terkenal di seantero dunia monster!”

“Pede sekali,” Squad meremehkan, namun dalam hati ia merasa kagum dengan Scone. Pengalaman hidupnya tentu sangat berwarna sekali, tidak seperti dirinya. “Sudah pernah kemana saja kamu?”

Begitu mendapat pertanyaan tersebut, ia mendadak tersenyum puas. Dengan wajah cerah ia menjawab, “Morg—tentu saja—kemudian Acropolis, lalu desa-desa Fareast itu, yang makanan sangat UH WOW sekali—tunggu, siapa itu?” Ia berhenti mendadak, telinga kayunya mendeteksi suara gerakan. Begitu juga dengan Squad. Selma ini, mereka menjelajahi Light Tower tanpa ada satu halangan pun. Sekarang, Squad dapat merasakan ada aura seseorang di depan mereka. Ia meletakkan telunjuknya di depan mulutnya, dan kemudian berusaha melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih berhati-hati. Namun—

“Mau APA LAGI kalian ke sini??!”

—seseorang mendadak berteriak dengan keras. Kedua monster tersebut terlonjak, akibatnya mereka tidak melihat seseorang datang ke arah mereka dan langsung memukuli Squad dan Scone dengan penuh kekuatan.

“Kalian—sudah—menghabisi—seluruh—keluargaku!!” seru orang itu dengan nada histeris. Ia menyertakan sebuah pukulan pada setiap kata yang ia ucapkan.

Squad segera berusaha menjelaskan dengan terbata-bata. “T-tunggu, aku tidak melakukan apa-apa—aww!!” Perkataannya terhenti dengan tiba-tiba ketika orang tersebut memukul ulu hatinya, membuatnya terjengkang jatuh.

Namun, orang itu masih belum merasa puas, dan kemudian berbalik untuk menyerang Scone. “Auw, auw, auw!” Scone berteriak kesakitan, namun orang tersebut tidak mengacuhkannya. Sebaliknya, ia malah semakin memukuli Scone dengan gencar.

“Kalian—masih—belum—puas—ya?” teriak orang tersebut, nadanya dipenuhi oleh kesedihan luar biasa. “Hah?—Benar—kan?—Kalau—begitu—terima—ini!!” Ia merapalkan suatu mantra, dan kemudian kembali berteriak. “Ash!!

“Wowowowo!!” Scone langsung melarikan diri dari kejaran sebuah bola sihir berwarna merah terang mengejarnya. “Hey, jangan cuma berdiri di situ dong, Domi Pennant! Ya, DO-MI! DO-MI-FA-SOL!!” teriak Scone jengkel ketika ia mendapati bahwa Squad ternganga di lantai. Sebenarnya, begitu mendapat pukulan di ulu hatinya tersebut, Squad langsung berusaha berdiri. Namun usahanya terhenti tepat ketika orang tersebut meneriakkan kata ‘Ash’. Ia langsung ingat siapa itu.
 
Astaga... dia...

“Wendy... Wendy!!”

Orang tersebut mendadak berhenti, dan menoleh ke arah Squad dengan pandangan marah, sedih, dan duka yang bercampur menjadi satu. Setelah beberapa saat keheningan meluas di antara mereka, akhirnya sang Umbrella Kuning tersebut bisa mengenali diri sang Dominion Pennant itu.

“Squad...” Air matanya bercucuran, tak dapat ia kendalikan lagi. “Oh, Squad...”

~~~

“Aku akan ikut.”

Mereka sedang duduk bertiga di lantai. Wendy, yang sekarang dalam keadaan terbalut kain untuk menutup luka-lukanya, telah menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu saat seluruh anggota keluarganya terbunuh, kecuali ibunya, Umbrella, dan kedua adiknya, Lilicurl dan Amarela, yang dibawa dengan paksa. Ia sendiri terluka parah saat mau menghentikan Eliminator yang menyerang mereka, namun gagal. Ia hampir saja terbunuh kalau saja ia tidak dikira mati. Dan berhari-hari kemudian, setelah ia siuman, ia baru saja selesai membebat luka-lukanya dan bersiap untuk pergi ke lantai atas ketika menyadari bahwa Squad dan Scone datang.

Meskipun Squad sangat sedih mendengarnya, namun ia menjadi frustasi saat Wendy memaksa untuk ikut menghajar si Eliminator yang ternyata menjadi sumber masalah mereka semua.

“Wendy, tolong pikirkan sekali lagi konsekuensinya,” Squad memintanya dengan sedikit rasa frustasi. “Kau bisa mati!”

“Dan kau juga!” Wendy membalasnya dengan sengit. “Setidaknya jika kau ingin mati, kita akan mati bersama!”

“Well, aku tak keberatan,” celetuk Scone. Squad memandanginya dengan sengit, ia sangat tidak senang karena Scone mencampuri urusan ini. “Makin banyak orang, makin baik kan? Kamu yang ngomong gitu,” Scone cepat-cepat beralasan. Rupanya pengalaman mengerikan saat ‘digendong’ di lautan Morg yang lalu itu masih menghantuinya.

“Ugh... tapi—tapi ini berbeda!” Squad keras kepala. “Sangat berbeda—“

“Apa? Apa yang berbeda?” potong Wendy. “Apa karena aku kuning, begitu?”

 “Bukan itu—“

“Oh, Squad... Meskipun tampangku begini, aku ini tergolong monster berlevel tinggi, kau tahu itu—”

“Ya, aku TAHU! Tapi ini sangat BERBEDA!!” Squad berteriak, kembali frustasi. “Aku mengajak Scone sebelum aku tahu tentang keadaan Light Tower, tapi begitu aku datang ke sini... segalanya berubah. Semua hilang, tak ada siapa-siapa, mungkin saja terbunuh! Aku tak ingin kehilangan sahabatku lagi, Wendy!!”

Semua   terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Napas Squad terasa berat, namun ia tak peduli. Apapun akan dilakukannya asalkan Wendy bisa selamat dari tempat ini!

“Squad,” Wendy akhirnya bersuara, meskipun suaranya sedikit serak. “Kau tahu kenapa aku ingin ikut denganmu?” Ketika ia tidak mendapat jawaban apapun dari Squad, Wendy melanjutkan, “Aku... aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku. Kupikir, jika aku bisa bersama kalian berdua menuju ke Eliminator, aku akan bisa kembali... ke keluargaku...” Ia mulai terisak lagi, namun kali ini ia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya. “Kau mungkin tidak pernah merasakannya, tetapi aku sangat sayang kepada keluargaku... Jadi, jika kamu tidak ingin mengajakku, fine. Aku akan berangkat sendiri.”

Squad terkejut dan langsung mendongak untuk menatapnya. “Wendy....” Squad bergumam. “Maaf... Aku tak bermaksud seperti itu... hanya saja...”

“Squad...” Wendy mendesah. Tentu saja ia tahu Squad tidak pernah bermaksud begitu. Tapi, beginilah nasibnya jika ia memaksa untuk ikut. Padahal, yang ia katakan itu memang benar. Ia memang merindukan keluarganya yang telah menghilang darinya itu...

Apa boleh buat. Wendy kemudian berpikir sejenak, dan berkata, “Baiklah. Aku berjanji tidak akan mati, hanya untukmu.”

Squad tampak menimbang-nimbang dengan berat hati. “Kau berjanji?” akhirnya ia bertanya dengan kecemasan berlebih.

“Tidak akan,” janji Wendy. Wajahnya mantap, ia tampaknya ingin meyakinkan Squad, namun di sisi lain wajahnya juga tampak ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Seorang Wendy pantang untuk ingkar janji, Squad...”

Untuk pertama kalinya setelah ia bertemu dengan Wendy, senyum akhirnya terlukis di wajah Squad. “Baiklah... tapi, kau harus benar-benar berjanji, Wendy,” tambahnya. Ia masih merasa tidak yakin bahwa perjalanan ini akan aman baginya.

“Jadi, kita semua setuju kalau Wendy—namamu Wendy, ‘kan?—kalau Wendy ikut?” Scone merasa ingin meyakinkan mereka bertiga. Begitu ia mendapat dua anggukan dari dua monster di depannya itu, ia menepuk tangannya dengan gembira dan berseru, “Baiklah, ayo kita jalan! Waktu adalah uang!”

“Hmm.. benar,” Squad mengangguk, dan ikut bangkit. Ia mengulurkan tangannya ke arah Wendy sembari berkata, “Ayo, Wendy.”

“Oke,” Wendy mengangguk untuk merespon Squad, dan menyambut tangan Squad dengan penuh keyakinan. Sebentar lagi, ia akan melihat keluarganya. Tinggal sedikit lagi...

~~~

Sudah beberapa lantai mereka jelajahi, dan makin lama keadaan di Light Tower makin parah. Sesuatu memang jelas-jelas terjadi di sini. Bekas-bekas pertarungan semakin jelas. Dan mereka sama sekali tidak menemukan segala bentuk kehidupan di sini. Bahkan, tak ada satupun makhluk hidup yang pernah ditemui Squad di Light Tower selain Wendy. Padahal mereka juga mengecek di seluruh tempat di Light Tower.

“Oh ya, namamu siapa?” tanya Wendy sekali lagi kepada Ice Stone yang memimpin di depan itu.

“Scone,” jawabnya dengan riang. Ia kemudian menoleh ke belakang sambil masih berjalan, “Kau ini Umbrella yang aneh, ya. Setahuku, Umbrella hanya bertipe dua, yaitu yang hitam. Dan biru, kalau tidak salah...”

“Banyak yang mengatakan begitu,” Wendy mengaku. Squad tentu saja termasuk sebagai salah satu orang yang mengatakannya, namun entah kenapa selama perjalanan ini ia mendadak terdiam. “Tapi sebenarnya kami memiliki banyak warna, terserah keinginan kami. Aku memilih kuning karena aku menyukainya,” Wendy tersenyum. “Lalu ada warna ungu—Violet, namanya... lalu coklat, Autumn... masih banyak lagi sebetulnya. Tapi, mereka semua sudah tiada,” ujar Wendy, menerawang.

“Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih,” kata Scone cepat-cepat. Ia menunduk, merasa bersalah. Scone bodoh, sungguh bodoh! Seharusnya dia tidak mengatakan sesuatu seperti itu tadi!

“Tidak apa-apa,” Wendy berucap. Meskipun nadanya terdengar sedih, namun sinar matanya menunjukkan kemantapan hatinya. “Segalanya sudah berlalu—“

BUM!

Bumi mendadak bergetar. Ketiganya langsung menoleh kesana kemari, kekagetan merayapi wajah mereka.

Scone memandangi langit-langit sambil bergumam cemas, “Apa itu tadi—“

BUM!

Bumi kembali bergetar, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Dan efek gempa itu tidak berhenti hanya pada dua kali getaran. Pada setiap efek gempa yang terjadi, kekuatannya bertambah lebih besar lagi. Di akhir efek tersebut, ketiga monster tersebut telah terjatuh ke lantai, tak bisa mempertahankan keseimbangan mereka.

Squad berusaha terbangun lagi sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing karena gempa tersebut. Ia berkata, “Gila! Memangnya di Morg ada gunung berapi?? Apa yang menyebabkan gempa tadi... itu...” Squad berhenti, perhatiannya teralihkan dengan sesuatu yang tampaknya menuruni tangga ke lantai mereka.

Si Umbrella kuning itu juga ikut berusaha bangun, dan bertanya kepada Squad, “Squad? Kau tak... a... pa...” Namun, bahkan Wendy juga ikut berhenti sewaktu melihat apa yang dilihat Squad.

Scone kesal, saat melihat bahwa kedua temannya itu mendadak berhenti berbicara. “Ada apa sih? Semua kok jadi pendiam begini? Memangnya di sini ada Guttinger 7—“

“Ironis sekali,” Squad berusaha tertawa, namun suaranya gemetar. “Coba lihat sendiri.”

Saat Scone berbalik, pemandangan yang menyambut dirinya sungguh luar biasa. Tinggi menjulang dan tampak mengancam, berjalanlah lima atau enam buah robot raksasa berwarna dominan biru dengan corak merah dan perak di beberapa bagian tubuhnya. Meskipun bentuknya seperti bola—atau lebih tepatnya, bola raksasa—namun ketiga monster itu tahu bahwa mereka sedang menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar bola raksasa.

Guttinger 7.

Sepertinya, mereka bertiga telah bertemu musuh yang mustahil mereka kalahkan...

***

“Guttinger 7!” Valentia mendadak berseru. “Itu berarti mereka akan bertemu dengan Chibry, betul?”

Squad menggeleng. “Tidak.”

“He??” Valentia mengernyit. “Kok tidak?”

“Namanya bukan Chibry,” ujar Squad sambil meringis. “Yah, memang namanya mirip, tapi namanya sama sekali bukan Chibry...”

“Jadi, namanya siapa?”

Pemuda itu tersenyum, kemudian tertawa. “Tunggu sampai mereka mengalahkan Guttingernya dengan cara yang aneh ini!”

***

Guttinger-Guttinger itu tampaknya belum menyadari keberadaan Scone, Squad, dan Wendy. Malahan, salah satu dari mereka, yang bertubuh paling besar, sedang berkomunikasi lewat sebuah receiver. “Chiriru di sini, burrm—“

Sebuah suara yang dingin mendadak membalasnya, “Jangan pakai aksen Guttinger. Sekali lagi kau memakainya, kau akan mati dalam hitungan detik.” Sepertinya, Squad pernah mendengar suara itu...

“Perintah d-diterima—“ Hampir saja ia berkata ‘burrm’ lagi, namun untunglah ia berhenti di saat yang tepat agar tidak menderita kematian yang konyol. “Chiriru di si—ni. Chiriru mela—por.“

Sementara itu, Scone, Squad, dan Wendy tengah berunding di balik perlindungan sebuah dinding untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi ini. Squad baru saja mengusulkan agar mereka semua menghilang dengan kekuatannya, namun ditolak oleh Scone. “Bagaimana denganku dan Wendy? Kau mau kabur, begitu?”

“Well, aku juga bisa menghilangkan kalian, tapi waktunya terbatas—“

“Tidak usah deh. Jangan-jangan nanti kita ketahuan saat waktunya habis,” bisik Wendy, ikut menolak. Squad mendesah.

“Bagaimana kalau kita serang saja?” bisik Scone bersemangat.

Squad dan Wendy menatapnya dengan pandangan tajam yang menusuk.

“Oke, usul yang buruk,” bisik Scone mengaku. Ia kehabisan ide. Apa cara yang paling tepat untuk melewati mereka...?

“Hey, aku punya ide,” mendadak Wendy berbisik dengan cerah. “Bagaimana kalau kita... berunding saja dengan mereka?”

Squad dan Scone berseru pada saat yang bersamaan—“ITU GILA!”

“Sssshtt!! Pelankan suara kalian!” bisik Wendy cemas sambil mengintip para Guttinger itu dari balik dinding. Untungya mereka masih sibuk dengan receiver mereka.

“Maaf... tapi, berunding?! Itu sama sekali tidak akan berhasil! Kita perlu logika, Wendy!” seru Scone dalam bisikan.

“Dan kita akan berunding dengan logika, Scone,” bisik Wendy sengit. “Pasti ada suatu alasan kenapa mereka berada di sini, dan kita coba berunding dengan mereka—“

“Karena si Eliminator itu yang memerintahkan mereka untuk berjaga,” Squad akhirnya mengerti. Suara tadi terasa familier karena ia memang pernah mendengarnya. Di rumah Josephine.

“Well, baik, tapi siapa yang akan berunding?” tanya Scone.

Krik, krik, krik.

Lagi-lagi Squad dan Wendy memandanginya, namun kali ini pandangan mereka penuh kasih.

“Sialan...”
« Last Edit: February 13, 2011, 03:09:32 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Yuka

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 839
  • Cookie: 53
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #46 on: February 13, 2011, 04:37:33 PM »
mizu keren.. ngejer deadline besok, sisa 1 chapter lagi.. -__-"

andai saja migno update secepat ini..

Offline sinoSOU

  • Lord of Love Conquest
  • Apprentice of Songs
  • *****
  • Posts: 1421
  • Cookie: 68
  • it's time to get up
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #47 on: February 13, 2011, 04:54:06 PM »
scone keren :9
(apa bodoh dn polos ya)  :laugh:

lanjutkan~

(klo migno kan dibuat biar max, memuaskan pembaca  ;_;)
my char is orange Princess - Sweets - Sweet - Yakult - Yogurt - Eilie - Calista and Cio-Petite-Lyx @ Zinnia

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #48 on: February 13, 2011, 05:46:08 PM »
lho... bukannya deadlinenya hari ini? sekarang tanggal 13 kan? besok baru dibuat pollingnya.
<< sendirinya ngebut satu chap
Deceased Zinnia server :
クロユキ、ユ・シジン、Prince
Ragnarok M: ゆきね
just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #49 on: February 13, 2011, 06:02:36 PM »
100 for KuroYuki,
Deadline hari ini @@
jadi para peserta...
SELESAIKAN FANFIC KALIAAAANNNNN!!!
sekian

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter