Author Topic: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas  (Read 26114 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #20 on: February 08, 2011, 03:27:44 PM »
squid itu ada jg loh, nick character temenku XD
tp gpp lah, squad jg sama aja =P

aaa mizu sakti, ayo lanjutkan XD
tapi ntah aku demen Squad-Valen yg di "real"nya drpd Squad-Jose di dongeng XD

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #21 on: February 08, 2011, 03:34:20 PM »
masa ada squid beneran? hahahaha XD
makasih, tapi kk al tambah lebih sakti malahan :">

di 'real' itu maksudnya 'real world' di dunia nyata atau 'real world' di dunia fanfic? wkwkwkkw @_@ @_@
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #22 on: February 08, 2011, 03:38:09 PM »
cih, mulai lagi lg merendahnya mizu-senpai :laugh:

ada kok squid. sekarang anak SLC (starlite).
temen realku ada charnya CumiLucu, jadinya dia sebagai fansnya bikin char nama squid (fans ato gak, yg jelas alasannya karna itu, pengakuan dia sndiri :D )

real dalem tanda kutip=real di FF XD

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #23 on: February 08, 2011, 03:48:40 PM »
untuk Squid-Valen mungkin bisa ketebak sih.... untuk Squid-Jose, masih ada beberapa chapter lagi lohh A__A
besok atau sekarang ya enaknya ku post? hemmmm~ :sing:
*ngitung bentar biar pas epilog udah tanggal 13*
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #24 on: February 08, 2011, 03:51:26 PM »
swt..
Jusuf Kalla said: "Lebih cepat, lebih baik."
Jadi jangan tunda apa yang bisa kamu post hari ini XD
Tar tanggal 13nya mati lampu seharian, repot loh

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #25 on: February 08, 2011, 03:54:54 PM »
@atas
astajim jangan malah didoain ah -__-"
ya sudah, ntar aku post deh... tapi, kalau ada waktunya ya lol :laugh:
harap bersabar!!
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline sinoSOU

  • Lord of Love Conquest
  • Apprentice of Songs
  • *****
  • Posts: 1421
  • Cookie: 68
  • it's time to get up
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #26 on: February 08, 2011, 04:07:52 PM »
 :hi:
teruskan miz~
itu dongengnya bener2 berbeda ya  @_@
(menurutq)
gutlak ya
my char is orange Princess - Sweets - Sweet - Yakult - Yogurt - Eilie - Calista and Cio-Petite-Lyx @ Zinnia

Offline Yukika

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 345
  • Cookie: 48
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #27 on: February 08, 2011, 08:41:22 PM »
waw...another nice chapter~ :sing:
btw, itu dongeng yang versi squad ga mirip dongeng ya..
yang versi valen lebih mirip, dari segi bahasanya sampai jalan ceritanya yang "dongeng banget"
yah...cuma IMO sih... :nod:

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #28 on: February 08, 2011, 09:49:40 PM »
waw...another nice chapter~ :sing:
btw, itu dongeng yang versi squad ga mirip dongeng ya..
yang versi valen lebih mirip, dari segi bahasanya sampai jalan ceritanya yang "dongeng banget"
yah...cuma IMO sih... :nod:
setuju, kalau versi valentia, bener bener dongeng anak kecil yang happy ending
tapi kalau versi squad, jadi kek diary pelariannya si dominion pennant.  :>
Deceased Zinnia server :
クロユキ、ユ・シジン、Prince
Ragnarok M: ゆきね
just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #29 on: February 09, 2011, 05:57:21 AM »
Chapter 3
Wendy Si Payung Kuning


A/N
di sini, berbagai pertanyaan akan terjawab~
yah, mungkin cuma satu dua sih, tapi setidaknya terjawab, wakakakak @_@
monggo, en enjoy the chapter 3~

@oren
iya, berbeda :nod: thanks ya oren :puppyeyes:

@bu yukika
itu ada alasannya :nod:

@cc kuro
iya juga sih, kwkwkwk XD



Valentia mengernyit. “Jadi, dalam versimu, dia bertemu dengan Wendy saat berada di South? Dan kamu mencoba menjelaskan bahwa Dominion Pennant itu bukan si peri jahat, tapi si ksatria?”

“Tunggu sampai ceritanya selesai,” Squad memandangnya dengan pandangan sebal. “Segalanya memang terlihat lebih rumit dalam kenya—dalam versiku.”

“Begitu, ya... aku akan bersabar mendengarkan ceritamu, deh,” Valentia kembali mengangguk-angguk.

Squad mendesah. Hampir saja aku mengatakan sesuatu yang bodoh...

***

“Ya, ini aku, Wendy yang cantik, bersinar, baik hati, ramah, tidak sombong dan selalu membuang sampah pada tempatnya,” sahut Wendy bangga dengan sedikit bumbu kenarsisan pada setiap suku kata yang diucapkannya.

Squad mengernyit tak mengerti. “Apa yang kamu lakukan di—“ Mendadak, ia kembali teringat. “Oh yeah. Kamu kan pindah ke sini, belasan tahun yang lalu.” Memang benar. Karena satu alasan yang hanya diketahui oleh Wendy sendiri, Wendy meninggalkan tempat tinggalnya di Light Tower dan berkelana menuju wilayah South. Tanpa diduga, ternyata Squad bisa bertemu dengan teman lamanya itu di tempat seperti ini. Dominion itu tersenyum kecil, dan berusaha berdiri lagi. Ia tak mengharapkan bantuan dari Wendy karena ia tahu persis temannya itu tak akan pernah melakukan hal yang bisa membuat gengsinya turun seperti itu.

“Sudah separah itukah otakmu, Myrr?” Wendy kembali menggeleng-geleng. Payung kuningnya bahkan juga tampak ikut menggeleng-geleng. “Dan apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya, ingin tahu.

“Aku...” Squad terhenti, teringat pada masa lalu Wendy yang pilu. “Aku... err...”

Umbrella kuning itu rupanya menyadari sesuatu dari perkataan Squad, dan kemudian ia berkata, “Oh. Cari makan.” Wendy manggut-manggut mengerti.

Squad tersentak dan memandanginya dengan ingin tahu sekaligus takut. “Kamu... kamu tidak marah, kan?”

“Untuk apa aku marah?” sahut Wendy sambil mengangkat bahu. “Kejadiannya kan sudah lama sekali. Lagipula, satu, kakakku memang bodoh, menghampiri si Dominion yang masih dalam keadaan haus energi seperti itu. Dua, yang membuatnya menghilang kan bukan kamu,” lanjutnya dengan ringan. Namun Squad tahu bahwa perasaan sedihnya masih ada. Terlihat dari sorot matanya yang tampak sedikit berkaca-kaca.

“Aku masih tetap merasa bersalah. Bagaimanapun juga aku adalah seorang Dominion Pennant, monster sama yang membuat kakakmu menghilang. Aku minta maaf sedalam-dalamnya,” ujarnya sedih, dan menunduk meminta maaf.

“Sudahlah. Bukankah kamu juga sudah meminta maaf belasan tahun yang lalu? Permintaan maafmu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memaafkan dia.” Namun, sedetik kemudian Wendy tampak lebih ceria daripada tadi. “Tapi kenapa kamu cari makan di sini? Bukankah rumahmu di Light Tower?”

“Aku... melarikan diri.”

“Oh.”

“Kenapa kamu hanya berkata ‘oh’?”

“Karena aku sudah menduganya,” Wendy tertawa. “Orang sepertimu mana mungkin tahan dengan orang tua seperti... mereka.”

Dalam hati, Squad sangat setuju. “Ngomong-ngomong, jangan panggil aku Myrrfigald lagi. Panggil aku Squad.”

“Squad? Nama yang aneh. Sangat.. manusia sekali,” Wendy tampak ingin tahu, namun Squad hanya tersenyum. “Baiklah kalau itu maumu... Be te we, apa kamu punya tempat tinggal? Tunggu, jangan jawab dulu. Kurasa aku tahu jawabannya...” Mata Wendy bersinar penuh kejahilan. “Yak, yak, yak, aku tahu jawabannya... kamu gelandangan!!”

Squad sampai hampir tersandung. “Bah! Itu keterlaluan!!”

“Lho, aku benar, kan?” tanya Wendy.

“Salah total!” seru Squad kesal. “Aku baru datang hari ini ke kota ini! Dan salah tujuan pula. Seharusnya aku ke arah North saat melarikan diri, tapi entah kenapa aku malah terbang ke sini,” jelas Squad. Menyadari bahwa Wendy hampir meledak tertawa, ia cepat-cepat menambahkan, “Mungkin karena aku terbawa angin. Aku kan menggunakan rute laut...”

“Hmmph. Yeah. Terbawa angin. Betul sekali,” Wendy menahan tawanya. “Tapi, tetap saja kamu tidak punya rumah, kan. Mau tinggal di tempatku?” Umbrella kuning itu menawarkan, tangannya terulur ke arah Squad.

Sedangkan Dominion itu sendiri mengangkat alisnya. “Memangnya muat?”

“Apa maksudmu dengan ‘memangnya muat’, hah?” ucap Wendy, merasa tersinggung.

“Bukan begitu. Kamu tahu sendiri bahwa aku ini...” Squad berhenti, sambil memandangi dirinya. “... agak besar, kan. Yah, setidaknya lebih besar dari kamu, Wendy.”

“Myrr—Squad, memangnya kamu tahu tempatku seperti apa?”

“Apa?”

“Tenda, tahu! Aku belajar membangun tenda dari seorang Trader baik hati di padang gurun. Dia juga berbaik hati memberiku suplai Tenda kalau-kalau tendaku rusak. Dan mengenai ukurannya... Mungkin cukup untuk menampung sekita lima Guttinger 7,” Wendy menjelaskan, tangannya masih terulur. “Ayo, cepat. Kalau masih lama, mungkin aku akan berubah pikiran, lho!”

“Oke, oke, oke!” Squad menyerah, dan meraih tangan kecil Wendy. Dominion itu tidak menyadari bahwa ada semburat warna kuning yang lebih pucat muncul di wajah Wendy yang berbentuk hati itu.

“L-lewat sini...”

~~~

Squad tak bisa mempercayai keberuntungannya di tanah South ini. Sudah mendapat tumpangan gratisan berkat kebaikan hati Wendy (meskipun dia diperintah oleh Wendy untuk mencarikan berbagai buah dan sayuran untuk memenuhi stok makanan Wendy), dia juga bisa bertemu setiap hari dengan Josephine yang cantik. Setiap hari ia makin tertarik kepada Josephine, bukan hanya karena kecantikan luarnya, melainkan juga kebaikan hatinya. Kesepiannya. Kesedihan hatinya karena memiliki seorang ibu yang otoriter dan begitu suka mengatur kehidupannya. Keriangannya. Senyumnya.

Bahkan parfum bunga-bunga yang selalu dipakainya.

Squad belajar banyak tentang Josephine melalui perbincangannya setiap hari dengan putri cantik itu. Betapa ia menderita karena ibunya yang lebih suka menjauhkannya dari berbagai bentuk interaksi dan sosialisasi dari orang lain. Betapa ia mengharapkan seorang teman agar setidaknya ia bisa berbagi dan bercengkerama dengannya. Dan betapa dia juga sangat menyukai cumi-cumi.

Suatu hari, Josephine berkata, “Hei, Squad.”

“Yeah?”

“Tak apa-apa. Aku sangat senang kamu berada di sini...” Josephine memandangnya dengan pandangan menerawang. Hati Squad berdesir. Ia sekarang tahu bahwa Josephine juga merasakan hal yang sama terhadapnya. “Aku... kesepian,” sambung Josephine, kembali mengulang perkataan yang sama pada hari pertama mereka bertemu. Squad memandanginya, dia ingin sekali membuatnya tersenyum.

“Bukannya kamu memiliki cumi-cumi sebagai temanmu?” tanya Squad, berusaha melucu. Untunglah perkataannya itu disambut dengan tawa renyah dari Josephine.

“Ya, temanku, tepatnya teman makanku! Kau sekali-kali harus mencoba cumi-cumi, Squad.” Josephine berujar di sela-sela tawanya. Squad hanya tersenyum, namun dalam hati ia berharap, semoga saja ia tak usah dipaksa memakan sepiring penuh cumi goreng oleh Jose. Ia pernah mencicipinya, dan ternyata... blearrrgh. Asin sekali!

Ia juga pernah bertanya tentang berbagai kemampuan manusia yang sangat aneh. Kata Josephine, “Kami para manusia, khususnya pengelana, bisa mempelajari teknik telepati, yang dinamakan ‘whisper’. Kau tahu artinya?”

“Tidak, apa?”

“Artinya adalah... kau bisa mengontak temanmu, dan juga berkomunikasi dengannya dari jarak jauh,” Josephine menjelaskan dengan berbinar.

“Masa’ sih!” seru Squad tak percaya. Selama ini ia didoktrin oleh orang tuanya tentang bagaimana seorang monster pasti selalu lebih kuat dan lebih hebat daripada seorang manusia. Tapi orang tuanya tidak pernah mengajari apapun tentang komunikasi jarak jauh. Squad mencoba menemukan kata yang tepat. “Itu terlalu... err...”

“Tidak bisa dipercaya?” sahut Josephine, menyelesaikan kalimatnya.

Squad mengangguk sambil berkata, “Ya. Itu. Memangnya kamu bisa? Maksudku, bertelepati dengan orang lain.” Dalam hati, Squad juga ingin tahu bagaimana caranya. Siapa tahu dia perlu menggunakan kemampuan tersebut.

Josephine tersenyum, tentu saja mengetahui niat Squad. “Begini. Untuk yang baru belajar whisp, mereka memejamkan mata terlebih dahulu...”

Dominion Pennant  itu mengikuti instruksinya, dan kemudian memejamkan mata. Josephine juga ikut memejamkan mata, dan melanjutkan, “Bagus. Tarik napas dan keluarkan, itu berguna untuk menjernihkan pikiran dan hati. Oke. Sekarang bayangkan kamu memasuki alam pikiranmu, memasuki hatimu... Di sana akan terdapat banyak sekali wajah, banyak sekali orang yang kamu kenal... sekarang, temukan wajah orang yang ingin kamu kontak... Kau menemukannya? Bagus... bayangkan wajah orang itu dengan sepenuh hatimu... dan kemudian, katakan dalam hati, katakan dengan penuh perasaan, dengan penuh keyakinan bahwa kata-kata itu pasti sampai di hati orang yang kamu kontak!”

Jo... sephine...

Uwa!! Berhasil, Squad!!

B-benarkah? Ini aneh se... ka... li...

Josephine membuka matanya. “Semakin kamu yakin bahwa hal tersebut adalah aneh, semakin berkurang juga kemampuanmu untuk bertelepati dengan orang lain...”

“Oh, begitu...” Squad juga ikut membuka matanya. “Harus kuakui, hal ini agak susah bagiku,” sahutnya, jujur.

Gadis Titania itu tampak berpikir. Dan kemudian, ia mendadak mendapat inspirasi. Sambil tersenyum Josephine berujar, “Begini... bayangkan kalau jarak antara aku dan kamu itu... adalah ilusi.”

“Ilusi?”

“Ya. Jarak antara kita hanyalah sebuah ilusi, hal tersebut tak lain hanyalah imajinasimu. Bayangkan bahwa kita sebenarnya berhubungan, tanpa batas, bahkan jarak antara kita dengan orang lain pun juga hanyalah ilusi... bagaimana? Apakah membantu?” tanya Josephine, memandanginya dengan ingin tahu.

Squad mengangguk-angguk perlahan, mencoba membayangkannya. “Baiklah, kita coba sekali lagi...”

Sejak saat itu, mereka berkomunikasi dalam diam. Meskipun begitu, Squad sangatlah senang. Perasaan senangnya, tanpa disadarinya, berubah menjadi suatu perasaan yang lebih dalam dan lebih kompleks.

Ia mencintainya.

Squad tidak begitu terkejut saat ia menyadari perasaannya. Siapapun pasti akan merasakan cinta begitu tahu lebih dalam mengenai diri Josephine, apalagi ditambah kecantikannya. Mungkin Josephine sudah menyadari hal ini. Mungkin juga tidak. Tak apa-apa. Asalkan ia bisa memandanginya setiap hari, mengetahui bahwa ia masih bernapas dengan segala kelimpahan kehidupan, itu sudah cukup membuatnya senang. Apalagi berbicara dengannya setiap hari.

Namun semakin ia mencintainya, semakin dalam pula penderitaan yang dirasakan oleh Squad. Di dalam dunia monster, terdapat hukum tak tertulis mengenai kedekatan seorang monster dengan seorang manusia biasa. Dekat sih boleh-boleh saja, namun jika sampai mencintainya... maka ia harus menanggung akibatnya. Akibat dari cinta terlarang antara monster dan manusia. Yang jadi masalah adalah akibat yang seperti apa, Squad belum tahu. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya cukup resah.

Salah satu temannya di Light Tower pernah jatuh cinta pada manusia. Pada awalnya, segalanya tampak baik. Manusia itupun juga merasakan cinta yang sama terhadap temannya itu. Namun apa yang tampak baik pada awalnya akan berubah menjadi derita berkepanjangan. Karena ditentang habis-habisan oleh keluarganya, temannya berubah menjadi sangat depresi dan akhirnya menjadi gila. Seluruh keluarganya dibantai oleh temannya sendiri, dan saat manusia yang dicintainya itu berusaha menenangkan diri temannya, ia sendiri juga terbunuh. Dan seakan melengkapi malam berdarah itu, ia bunuh diri.

Memang sih, tak mungkin Squad akan melakukan hal-hal demikian, namun entah mengapa sepertinya karma dari sebuah cinta terlarang antara monster dan manusia akan selalu mengikuti. Mungkin, Sang Pencipta memang ingin agar mereka memiliki darah yang murni selamanya. Atau mungkin juga Dia hanya ingin bermain-main dengan satu kata ‘cinta’ itu. Tak ada yang tahu dan tak ada yang akan tahu.

Squad mengalami dilema. Selama ini ia percaya bahwa cinta itu suci. Bukankah cinta dapat membuat semua orang bahagia? Tapi sekarang, tepatnya setelah ia menghadiri pemakaman temannya itu, Squad tidak mengerti lagi arti cinta. Jika cinta hanya membuat orang lain menderita, maka Squad tidak akan lagi mau mencintai. Ia tidak ingin membuat Josephine juga ikut ‘menanggung akibat’ dari cintanya kepada Josephine. Perlahan namun pasti, ia mulai mengurangi kunjungannya ke rumah Josephine. Perlahan namun pasti, ia mulai menutup hatinya, mulai mengurung cintanya.

Empat bulan setelah kunjungan Squad yang pertama ke wilayah South, Squad tak pernah lagi mengunjungi Josephine.

~~~

“Squad! Ada yang harus kuberitahukan kepadamu!” seru Wendy dari dalam tendanya.

Di luar, Squad sedang melakukan ‘ritual’ paginya yang seperti biasa. Meregangkan ototnya, berlari (atau dalam kasusnya, melayang) mengelilingi tenda Wendy sebanyak puluhan kali, dan melatih kemampuannya dengan sebuah pedang. Entah mengapa, dia sepertinya tertarik dengan seni penggunaan pedang sebagai senjata. Padahal, seluruh Dominion Pennant di Light Tower diharuskan untuk menggunakan Dark Magic sebagai dasar kemampuan menyerang dan bertahan. Memang bagus untuk jarak jauh, tapi bagaimana jika pertarungan yang dihadapinya merupakan pertarungan jarak dekat? Atas dasar pemikiran ini, maka Squad mulai berlatih sebagai seorang Swordsman. Bahkan mungkin, dengan latihan intensifnya selama satu bulan terakhir, tingkat keahliannya menggunakan pedang sudah setara dengan seorang Blade Master.

Yah, dengan berbagai latihan yang dijalaninya dengan keras, setidaknya itu cukup untuk menjauhkannya dari pikiran-pikiran menyedihkan tentang si putri cantik itu.

“Ada apa, Wendy?” tanya Squad begitu memasuki tenda Wendy. Di luar dugaan Squad, ternyata perkataaan Wendy tentang tendanya memang benar. Sangat luas, dan dengan kain yang lembut namun kuat, sepertinya tenda itu memang mampu untuk menampung sekitar lima sampai enam Guttinger 7. Persis seperti kata Wendy. Di dalam tenda itu juga terdapat beberapa sekat-sekat untuk memberi batasan antara ruang yang satu dengan yang lain. Khusus untuk ruangan Wendy, ia telah memberi resleting dengan kekuatan yang tidak biasa agar tidak bisa dimasuki oleh siapapun. Katanya, biar ‘aman’.

“Aku mau berbicara tentang sesuatu.” Tidak biasanya tampang mungil Wendy itu nampak serius. Squad bertanya-tanya dalam hati, hal apakah gerangan yang membuat diri Wendy yang biasanya suka main-main itu kini tampak serius.

“Squad...” Wendy menghela napas. “Besok, aku akan kembali ke Light Tower.”

“Kau mau APA?!” teriak Squad, spontan.

Wendy meraih sebuah bantal duduk di sampingnya dan melemparkannya tepat ke muka Squad. “Dengarkan dulu! Ini penting, tahu!”

“Oke, oke. Maaf.” Hampir saja bantal duduk itu mengenai muka Squad yang.. ehm, tampan. Squad meletakkan bantal duduk itu di bawah tubuhnya, dan bersiap mendengarkan.

Wendy mendelik, namun kemudian kembali melunak. “Begini. Aku... kemarin lusa menerima surat dari ibuku.” Dia tak mengindahkan tampang Squad yang sepertinya terkejut luar biasa. “Yeah, ibuku. Dia bilang bahwa dia membutuhkanku di Light Tower. Jadi... aku harus ke sana. Kau harus mengerti, Squad.”

“Hmm... begitu.” Squad masih tak mengerti harus bereaksi seperti apa dan juga kemana arah pembicaraan ini. “Kalau kamu sudah sampai di sana, sampaikan salamku pada ibumu. Eh, tapi bilang juga sama ibumu, jangan beritahu siapa-siapa tentang aku, ya.”

“Tentu saja.” Suara Wendy berubah sedikit ceria. “Tapi sekarang, aku tak tahu mau kukemanakan tendaku ini. Dan kupikir....” Wendy memandanginya lekat-lekat. “Kupikir aku akan meninggalkan tenda ini untukmu saja.”

Squad mengangkat alis. “Kau yakin? Lalu bagaimana dengan perjalananmu? Kamu pasti butuh tenda, kan?” tanyanya khawatir.

“Jangan khawatir. Aku sudah memalak tenda banyak-banyak dari Trader di padang pasir itu. Tambahan satu tenda lagi akan membuat diriku tak bisa bergerak, tahu,” jelas Wendy sambil memandangi sekeliling tendanya. “Lagipula, kamu sudah kuajari membuat tenda, kan. Di sini nyaman, kok. Kamu tahu itu.”

“Yah... memang sih,” Squad menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi, tenda ini tidak akan terasa sama lagi tanpa kehadiranmu.”

Wendy berbalik cepat-cepat untuk menyembunyikan rona kuning pucat yang menghiasi wajahnya lagi. “Bodoh,” sahutnya kecil, namun masih bisa terdengar oleh Squad. “Semua tenda kan sama saja.”

Wendy tak bisa mengerti betapa bodohnya dia. Tentu saja, menyukai sesama monster itu boleh saja, tapi jangan harap agar perasaan tersebut dibolehkan untuk berkembang ke arah hal-hal lain. Di jaman seperti ini, kemurnian garis keturunan sangatlah dijunjung tinggi oleh para monster. Tak mungkin Wendy bisa berharap lebih. Ah, tapi seorang Wendy tetaplah seorang Wendy. Ia tidak peduli akan hal itu, yang jelas adalah dia entah mengapa sangat menyukai Squad. Dia hanya berharap, andai saja ibunya tidak mengirim surat itu...

“Begitukah?” tanya Squad sambil menerawang. “Hanya saja, menurutku akan terasa aneh sekali apabila aku menyambut pagi tanpa teriakanmu.”

Wendy kembali berbalik kepada Squad dan berseru, “Buodoh!! Kau ini merusak suasana!!!” Ia mulai menghujani Squad dengan tusukan dan pukulan berkali-kali dengan payung kuningnya itu.

“Hey, hey, memangnya apa yang barusan kukatakan?! Stop, jangan pukuli aku dengan payungmu itu!! HOOY!! TOLONG!”

~~~

Sudah seminggu sejak Squad terakhir kali mengunjunginya. Gadis Titania itu mendesah, dan kemudian meninggalkan jendela kamarnya tempat ia selalu menantikan kedatangan Squad, menuju ke tempat tidurnya.

Kenapa Squad berhenti mengunjunginya? Ini aneh sekali. Sudah beberapa lama ini Josephine mengetahui bahwa di dalam hati Squad terdapat suatu peperangan dahsyat antara mengunjunginya dan tidak mengunjunginya, meskipun Josephine sendiri tak tahu alasannya. Dan sekarang Josephine sedih karena tampaknya keinginan Squad untuk menjauhinya ternyata memenangi peperangan tersebut.

Bahkan, usahanya dengan mengontak Squad lewat telepati tidak berhasil. Entah bagaimana caranya, Squad berhasil mengetahui cara untuk tidak dapat menerima lagi telepati Josephine. Padahal, hanya para pengelana saja yang tahu caranya, yaitu dengan menghilangkan eksistensi dan keberadaan dari diri mereka sendiri, dan hal itu sangatlah sulit. Kecuali, jika orang itu meninggal. Tapi, gadis Titania itu tidak percaya jika Squad telah meninggal, ia yakin akan hal tersebut. Josephine kembali mendesah. Kini, ia kembali merasa sendirian lagi.

Tak ada lagi yang akan mengisi hatinya... tak ada lagi yang akan peduli padanya...

Tanpa sadar, air mata mulai menggenangi mata hijau jamrud dan merah darah milik Josephine.

Tidak, tidak boleh, batin Josephine sambil mengusap air matanya. Aku tidak boleh menangis. Aku harus melakukan sesuatu...

~~~

“Squad... Squad...!”

Ini berbahaya. Ber-ba-ha-ya. Begitu Squad mendengar suara yang sangat dikenalinya itu, ia segera merobohkan tenda dengan terburu-buru, memasukkannya ke dalam salah satu tas yang ditinggalkan Wendy untuknya dan langsung menghilangkan diri. Kenapa Josephine tahu Squad berada di tempat ini? Atau mungkin, dari mana dia tahu Squad berada di tempat ini? Tempat ini berbahaya. Dungeon apapun memang selalu berbahaya, tak terkecuali Southern Dungeon. Apalagi B2F.

“Squad... dimana kamu...?”

Squad menahan keinginannya yang sangat besar untuk memunculkan dirinya kembali dan menghampiri Josephine. Ia tak boleh kelihatan oleh dirinya. Tak boleh.... Hatinya kelu, tak ingin Josephine menderita jika ia terus bersamanya. Namun kata-kata Josephine selanjutnya membuatnya heran.

“Kenapa kamu terus membuntutiku?”

Membuntutinya? Siapa yang membuntuti Josephine...? Squad merasakan firasat tidak enak. Dengan hati-hati agar suara kepakan sayap hitamnya tidak terdengar oleh Josephine, Squad mulai melayang dengan hati-hati untuk melihat siapa yang diajak bicara oleh Josephine.

Dan di sanalah ia berdiri, tak seberapa jauh dari Squad. Di depannya, berdirilah sesuatu yang kelihatan seperti manusia. Namun, wajahnya tidak alami, wajahnya sama sekali tidak manusiawi. Tampaknya, dia adalah sejenis robot yang pernah dikenalnya dahulu waktu ia masih berada di Light Tower.

DEM.

 “Titania... kau tahu benar aku tidak ingin melakukan hal itu,” ujar DEM itu. Suara sangat khas seperti  sebuah robot biasa. Sangat... datar.

“Tentu saja. Aku tahu kamu tidak ingin melakukannya. Tapi hal itu tetap tidak menjelaskan kenapa kamu berdiri di situ, terus membuntutiku sejak sebulan yang lalu.”

Sebulan yang lalu? Itu berarti tepat saat Squad tak pernah mengunjunginya lagi. Pantas saja Squad tak pernah tahu ada orang—atau robot—yang selalu membuntuti gadis cantik itu.

DEM itu tidak menghiraukan perkatan terakhir gadis itu. Makhluk itu kemudian berkata hati-hati, “Begini, Titania. Bagaimana kalau aku berkata, jika kamu ikut denganku, kamu bisa bertemu dengan Squad?”

Alis Squad terangkat tinggi-tinggi. Apa maunya dia? Kenapa namanya dibawa-bawa?

Josephine memejamkan mata dan berpikir sejenak. “Tidak.”

“Tidak?” Baik robot itu maupun Squad berkata bersama-sama. Untunglah Squad hanya berkata-kata dengan pelan. Kalau tidak, mampuslah dia.

“Tidak,” Josephine mengklarifikasi dengan tegas. “Kamu belum pernah bertemu dengannya dan kau hanya menggunakan namanya sebagai pancingan untukku. Yang ternyata tidak berhasil.”

Squad tersenyum. Sudah diduganya, Josephine pasti akan berkata seperti itu. Sepertinya, dia mulai bisa menguasai kemampuan membaca pikiran orang. Atau mungkin, jalan pikiran sebuah robot lebih gampang ditebak? Mungkin saja.

“Kalau begitu, aku akan membawamu dengan kekerasan,” ujar robot itu, masih dalam nada datar. Mata Squad melebar. Tidak!

Josephine juga meneriakkan hal yang sama terhadap makhluk itu. “Tidak! Icicle Tempest!!

Mendadak bumi bergetar. Mulut Squad hampir ternganga saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sebuah badai angin dan es muncul secara tiba-tiba di depan Josephine. Jadi, itulah kekuatan Josephine yang sebenarnya. Kekuatan mengendalikan elemen. Squad berdecak kagum.

Namun Squad langsung sadar, bukan saatnya untuk berdecak kagum seperti ini. Ia harus segera menolong Josephine. Tapi, bagaimana caranya? Dan apa reaksi Josephine saat ia bertemu dengannya kembali? Squad menggeleng, tak ingin mengambil resiko. Ia percaya pada Josephine. Gadis itu pasti bisa mempertahankan diri dengan baik.

Mungkin, ini hanyalah sebuah alasan. Sebuah alasan untuk tetap menjauhkan dirinya sendiri dari gadis pujaannya itu. Sebuah alasan yang membuat Squad akan menyesalinya seumur  hidup.

Hyper Charge!” Suara datar itu bergema oleh karena dinding gua South ini saat makhluk itu menyerang Josephine dengan kecepatan tinggi. Terdengar teriakan dan suara debum ketika Josephine terkena serangan berkekuatan tinggi dari makhluk itu, membuat Squad memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Josephine..! Ia tidak tahan kalau ia hanya berdiam diri terus seperti ini.

Namun sebelum Squad dapat melakukan apa-apa, Titania itu langsung melompat berdiri kembali dan berteriak balik, “Tsunami!!

Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah kakinya, dan segera saja sebuah gelombang air besar muncul dari ujung jari Josephine secara mendadak. Kembali Squad merasakan kekaguman yang luar biasa saat gelombang tersebut menyapu semua yang ada di depannya dengan kekuatan air yang sangat besar. Termasuk si makhluk itu, yang akhirnya terjatuh tak berdaya setelah terdorong beberapa meter oleh hempasan gelombang air yang dahsyat. Josephine bernapas lega, dan kemudian mendekati robot tersebut.

“DEM...” Josephine bergumam sambil berlutut di sebelah robot itu. Squad mengikutinya dari belakang. “Sebenarnya apa yang ingin kau rencanakan kepadaku...?”

Robot itu tampak sekarat, namun ia masih berusaha menggerakkan salah satu lengannya. Ujung jari robotnya mengeklik salah satu tombol di lengan satunya, dan dengan terbata-bata, ia berkata dengan suara yang masih datar, “Kode lima kosong lima. Initiate the plan B.

“Plan B?” tanya Josephine tidak mengerti. Namun, sedetik kemudian, sepertinya Josephine mengetahui apa yang dipikirkan robot itu, karena selanjutnya, teriakan yang keluar dari tenggorokannya bahkan hampir membuat Squad terlonjak.

“IBU!”


kritik saran makian cercaan pujian dengan senang hati akan saya terima m(_ _)m
thanks for reading this chapter~! :love:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································