Author Topic: [ECO FanFic] God of Lightning  (Read 12151 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] God of Lightning
« on: February 08, 2011, 07:03:17 PM »
Author's Note:
    Fanfic ke-3 buat tantangan dari Squad.
    Aslinya pingin buat genre lain sih, tapi mengingat kesibukan sana-sini, akhirnya gak sempet berexperimen dengan genre lain.
    Ya udah, next time aja coba-cobanya, dan yang ini kembali typical action/adventure shounen :santai:

    Soal tokohnya, bingung mu masukin siapa.
    Akhirnya masukin aja semua char si Squad yang kukenal, abis males minta ijin ke orang buat make charnya sih XD
    Dan Melt juga, katanya sih udah diwarisin juga, jd gpp lah ikut nongol XD



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © shinigami_boy 2011

All characters here belongs to Squad, with exception of NPCs/Bandits which are part of Emil Chroncile Online.

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED




Part 1 of 3: Jewels of God

Api menari-nari tanpa memerdulikan percikannya yang terbang ke mana-mana. Membakar batangan-batangan kayu yang tergeletak di bawahnya, tanpa terpengaruh terpaan angin malam. Menari, dan terus menari, di bawah lautan bintang yang menaunginya.
Di sekitarnya tampak sekelompok orang duduk mengitarinya.

“Nggak sangka akan sukses semudah ini ya, Squad?”

Pria yang dipanggil Squad itu tidak menjawab. Matanya memandang kotak yang tergeletak di hadapannya dengan seksama. Misi kali ini aneh, malah sangat aneh baginya. Mulai dari klien yang memberikan tugas itu, sampai isi dari kotak yang diminta sang klien. Bukan urusannya, memang, tapi tetap saja ia punya perasaan yang aneh tentang semua itu.

“Squad?”

“Ah, maaf. Aku hanya.. sedikit kepikiran tentang sesuatu,” jawab Squad cepat-cepat.

“Tentang misi ini, kan?” seru wanita di belakang Blademaster berhakama itu tiba-tiba.

Squad menoleh. Di belakangnya berdiri Melt, Druid yang senantiasa bersamanya dari sejauh yang ia bisa ingat, sampai sekarang. Selalu bersama dengannya membuat gadis itu selalu bisa menebak jalan pikirannya. Begitu juga dengannya sendiri, ia tahu kalau Druid itu pun memikirkan hal yang sama dengannya.

“Ya. Kau juga berpikir begitu kan, Melt?” tanyanya memastikan.  Jujur, sekarang ia agak tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Louis, menurutmu bagaimana?”

Assassin di sampingnya bangkit dari duduknya mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia tidak begitu peduli soal itu. Squad hanya sedang kambuh paranoid-nya, begitu pikirnya. Tapi harus ia akui, kecemasan Squad kadang menjadi kenyataan, terutama dalam situasi-situasi seperti ini.
“Aku nggak begitu peduli. Kurasa yang lain juga begitu. Kita hanya melaksanakan misi yang diberikan. Kita juga nggak pernah tanya-tanya soal identitas klien kita, dan selama ini semua baik-baik saja. Yang penting mereka membayar kita.”

Squad melirik kepada kumpulan orang-orang yang berpakaian serba putih di sekelilingnya. Semua mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Assassin tadi.
“Begitu ya..”

“Tapi,” lanjut Assassin tersebut, “kau pemimpinnya. Jadi apapun yang kau pilih, aku, Louis Ford, akan selalu mendukungnya.”

“Aku mengerti. Thanks, guys.” Squad merebahkan diri, membiarkan matanya memandang hamparan bintang yang menaungi ia dan kelompoknya sembari mereka ulang apa yang terjadi di dalam kepalanya.


~ * * * ~

“Bagus! Hari ini pun kita panen besar!” teriak Squad dengan riang. Matanya berbinar melihat gerobak-gerobak yang ada di hadapannya. Dengan tidak sabar, ia pun menusukkan Griel Blade-nya yang berlumuran darah ke tutup salah satu gerobak untuk membukanya.

Di belakangnya terlihat Louis dan beberapa pria serupa dengan kostum putih-putihnya melakukan hal serupa ke gerobak lainnya, sementara Melt menyembuhkan luka-luka mereka. Sekali lagi mereka berhasil membajak konvoi pengiriman barang dari Acropolis menuju Fareast dengan sukses.

“A-apa?!”

Louis menoleh ke arah pemimpin mereka yang sampai teriak-teriak seperti itu dengan heran. Atau jangan-jangan isinya benar-benar melimpah, jumlah yang belum pernah mereka lihat sampai-sampai terkejut begitu? Ia pun semakin tidak sabar dan membuka paksa gerobaknya sendiri. Tapi tiba-tiba, ia terdiam, memandang isi gerobak tersebut dengan tatapan kosong.

Penasaran dengan apa yang terjadi pada kedua temannya, Melt pun tidak bisa menahan diri untuk melihat isinya. Dan ia pun mengerti apa yang terjadi. Gerobak-gerobak itu kosong. Jangankan harta atau bahan makanan, sehelai daun saja tidak ada.
“Ini jebakan! Mund—” teriak Melt pada semua orang. Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, semua sudah terlambat. Belasan –atau bahkan lebih— Striker dan Gunner telah mengelilingi mereka, dengan masing-masing senjata yang terarah pada mereka.

“Sial.. sampai sini kah?” Squad menggenggam pedang birunya, siap bertarung habis-habisan kalau situasi terburuk terjadi. Setidaknya baginya, itu lebih baik daripada tertangkap.

“Jadi kalian ya, bandit-bandit Enigma yang suka menyerang pengiriman barang dan meresahkan masyarakat sekitar.”

Squad menyipitkan mata, berusaha melihat sosok yang menjadi sumber suara tersebut. Seorang wanita yang masih muda. Kemungkinan, umurnya bahkan tidak jauh berbeda dengan Melt. Melihat dari pakaian yang dikenakannya, mungkin dia adalah Elementalist. Harus ia akui, wajahnya cukup cantik. Tapi ia tetap tidak sudi tertangkap oleh perempuan itu.
“Kau pasti pimpinan mereka, benar? Maaf saja ya, kami belum niat tertangkap.”

“Jadi kalian memilih mati?”

“Kami tidak akan mati. Yah, kalaupun mati, mungkin lebih baik daripada tertangkap olehmu. Mau ditaruh di mana mukaku nanti kalau tertangkap oleh orang sepertimu?” teriak Squad, masih dengan nada penuh keyakinan.

“Jangan cepat-cepat memilih mati,” jawab wanita itu. Kesombongan sedikit terdengar dalam suaranya.
“Kalian diinginkan hidup atau mati, jadi aku tidak punya keharusan untuk membawamu hidup-hidup. Tapi yang jelas, aku punya pilihan ketiga untuk kalian.”

Squad terdiam. Ia melirik Louis dan Melt yang ada di sampingnya dengan tatapan ’Bagaimana?’. Mati memang lebih baik daripada tertangkap, tapi hanya sedikit lebih baik. Kalau ada pilihan ketiga, mungkin tidak ada salahnya mendengarkannya dulu.
Setelah mendapat anggukan keduanya, ia kembali memandang lawannya dengan tajam. “Katakan.”

“Aku punya pekerjaan untuk kalian. Kalian ahli dalam hal-hal seperti ini, kan? Lagipula jangan khawatir, selain melepaskan kalian, aku juga akan membayar kalian seperti yang seharusnya dilakukan seorang klien.”

Dahi Squad mengernyit mendengar proposal itu. “Sebutkan kenapa kami harus menerima pekerjaan itu. Kenapa kami harus memercayaimu, orang yang saat ini ingin membunuh kami.”

“Dan kenapa kalian harus memilih mati, saat kalian bisa mendapatkan uang?” lanjut wanita tersebut dengan tenang.

Sekali lagi, Squad tidak segera menjawab. Ia melirik rekan-rekannya satu persatu, mulai dari Louis, Melt, hingga setiap pria berkostum ala ninja warna putih di belakangnya. Benar, ia mungkin tidak keberatan mati di sini. Tapi ia tidak boleh lupa, kalau keputusan yang akan diambilnya ini juga menyangkut nyawa tiap orang yang mengikutinya. Mereka mungkin sudah bersumpah sehidup semati, tapi ia tidak bisa begitu saja membuang nyawa mereka.

“Baiklah. Aku terima tawaranmu.”


~ * * * ~

“Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?”

Suara Melt membuyarkan semua lamunannya. Squad meraih kotak kecil yang ada di sampingnya, mengangkat benda itu tinggi-tinggi sambil terus memandanginya. Ia tak habis pikir, kenapa orang seperti itu –wanita yang hampir saja menangkapnya— perlu repot-repot menyewa mereka hanya untuk mencuri kotak kecil itu dari seorang pengusaha kaya di Morg. Dengan kekuatan dan posisinya, sebenarnya mudah saja bagi wanita itu untuk melakukannya sendiri, kan?

“Ia bilang akan mengambil kotak ini besok, di Acronia Eastern Beach, tapi siapa yang bisa jamin orang itu akan menepati janjinya?” seru Louis, kembali memecah keheningan saat Squad tidak menjawab pertanyaan Melt. “Orang itu bilang kita nggak boleh cerita tentang misi ini pada siapa-siapa, tapi mungkin harusnya kita beri tahu Leader Buru soal ini.”

“Kurasa dia benar, Squad,”  lanjut Melt saat mendengar nama Buru dari Louis.
“Kita memang sempat cekcok dengan kelompok Enigma, sampai-sampai kita membuang topeng kita dan keluar dari grup. Tapi Leader Buru sudah seperti ayah kita sendiri. Bahkan setelah kita menjadi bandit biasa pun, aku yakin dia masih mau membantu kita.”

Lagi-lagi, Squad tidak segera menjawab. Tangannya masih asik memutar-mutar kotak itu, sambil berusaha mencari celah agar ia bisa mengintip isi kotak itu.

“Squad, kamu mendengarkan nggak, sih?”

“Aku dengar, aku dengar.” Squad meletakkan kotak itu di tanah sembari bangkit dari posisi tidurnya. “Tapi kalau kita kembali lagi ke Enigma, kita hanya akan menyusahkan Leader Buru. Aku nggak mau merepotkan ayah kita lebih jauh.”

“Jadi bagaimana dong?”

“Sekarang sih, aku penasaran dengan isi kotak ini. Mungkin kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan setelah kita tahu apa isinya.”

“Tapi, itu berarti menyalahi perjanjiannya kan?” tanya Melt dengan nada tidak setuju.

“Nggak apa. Dia cuma bilang nggak boleh beri tahu siapa-siapa,” jawab Squad. “Memang biasanya, urusan ini bukan urusan kita, tapi dia nggak bilang kita nggak boleh lihat, kan? Lagipula sudah tanggung. Kalau sudah niat membatalkan perjanjian, kita nggak boleh setengah-setengah. Dan kalau benda ini penting, mungkin kita bisa menjadikannya sandera.”


~ * * * ~

Pepohonan yang hijau dan rindang menghiasi daerah tenggara kota Acropolis. Rindang memang, tapi tidak bisa disebut hutan juga karena pasir menggelar panjang tidak jauh dari pepohonan tersebut. Suara ombak menggema saat menghantam kumpulan kerikil putih itu.

“Lama..” gerutu Squad sembari melihat jam yang terlingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu di hutan itu, tapi belum ada tanda-tanda si klien.
“Dasar orang kaya, nggak bisa tepat waktu!”

“Sabar, Squad. Mungkin sebentar lagi—”

Belum sempat Melt menyelesaikan kalimatnya, akhirnya orang yang mereka tunggu mereka pun terlihat berjalan mendekati mereka. Wanita yang nyaris saja menangkap mereka, kini sekali lagi berdiri di hadapan mereka, sendirian, tanpa pengawal satu pun. Jantung Squad berdegup kencang melihat kedatangan wanita itu.

“Barangnya?” tanya wanita itu dengan dingin.

“Di sini,” jawab Squad, berusaha tidak kalah dingin. Ia mengambil kotak kecil dari sakunya.
“Tapi sebelumnya, kalau boleh, aku penasaran dengan isi kotak ini. Kenapa orang sepertimu begitu menginginkan benda ini?”

Wanita itu menyipitkan matanya sembari memandang Squad dan kedua temannya dengan seksama. Mereka cukup pintar untuk ukuran bandit, atau justru bandit-bandit jaman sekarang dituntut harus seperti itu? Menyusahkan, tapi tidak ada salahnya demi mendapat bagian terakhir dari rencananya. Ia pun kemudian mengambil empat buah kotak serupa.
“Kamu pasti telah membuka dan melihat isi kotak itu, kan?”

Tertebak dengan tepat, Squad mengangguk. Rasanya percuma berbohong melawan wanita itu saat ini.
“Ya. Sebuah permata kuning yang indah. Tapi aku ragu ini hanya perhiasanmu yang hilang. Apalagi kau sampai menyewa kami.”

Mendengar jawaban itu, lawan bicara Squad tersenyum. “Memang benar. Aku bukan pengoleksi permata semata, karena permata-permata itu sedikit spesial.”
Selesai berkata begitu, ia membuka keempat kotak tadi dan memperlihatkan isinya pada Squad dan kawan-kawan. Empat permata yang serupa dengan yang dimiliki Blademaster itu, hanya saja berbeda warna. Hitam, ungu, hijau, dan ungu keemasan.

Ketiga bandit itu tertegun memandang keempat permata itu.
“Yang keemasan itu.. Violet Golden Jewel? Aku tidak tahu ada permata lain seperti itu,” kata Louis sembari memandang permata kuning di tangan Squad. Kalau dilihat-lihat, bentuknya memang mirip dengan Violet Golden Jewel yang terkenal itu.

“Oh, kalian mengenalinya? Violet Golden memang spesial, karena permata itu dikatakan bisa membuka celah dimensi. Dengan itu, bahkan katanya kalian bisa pergi ke tempat Raja Neraka –Hell King.” Wanita itu menutup keempat kotak tadi dan menyimpannya kembali.
“Tapi Violet Golden hanya satu dari lima Jewel istimewa. Lima permata yang menjadi kunci untuk memanggil  kekuatan yang jauh lebih besar! Kekuatan Dewa Petir!”

“Dewa Petir.. Raijin..” ucap Melt dengan suara bergetar. “Kekuatan seperti itu.. memangnya untuk apa..?”

“Maaf, tapi aku hanya menjawab satu pertanyaan,” jawab wanita misterius itu sembari menggeleng dan mengarahkan tongkatnya pada Squad, Louis, dan Melt. “Dan asal kalian tahu, mengetahui hal ini berarti kalian siap kehilangan nyawa. Gravity Fall!”

Tiba-tiba tanah di sekitar ketiga bandit itu bergetar hebat. Rasa sakit menyergap setiap sendi tubuh mereka. Melengkapi itu, tubuh mereka kini terasa amat berat, seolah tertekan oleh gravitasi.
“Sial.. semua, ambil posisi!”

Komando telah diberikan, dan situasi terburuk telah terjadi. Merespon panggilan tersebut, beberapa orang berkostum ninja serba putih segera keluar dari balik pepohonan, siap menerjang musuh. Tapi sayang, musuh mereka itu bukan tanpa persiapan. Entah dari mana datangnya, dua orang bodyguard wanita tersebut muncul dan melindungi majikan mereka dengan sigap.

“Habisi mereka, dan rebut Yellow Jewel itu. Kalian boleh menggunakan itu kalau mau,” seru wanita itu.

Mendengar kata-kata itu, kedua bodyguard tadi mengangguk. Mulut mereka seperti merapalkan sesuatu, sementara tangan mereka terlihat menggenggam sesuatu-entah-apa. Tiba-tiba tubuh mereka perlahan membesar. Kulit mereka berubah menjadi biru pucat. Kedua mata mereka menyatu, dan tanduk-tanduk keluar dari kepala sampai punggung mereka. Sepasang taring besar kini melengkapi senyum menakutkan mereka.

“Itu.. Oni! Kenapa—”

Belum sempat Squad menyelesaikan kata-katanya, salah satu Oni telah berdiri di hadapannya.
BUKK!
Sebuah tangan raksasa biru mengayun cepat ke arahnya, tepat mengenai ulu hatinya.

“A-apa..”

Squad merasakan seseorang menyentuh tangannya. Ia berusaha menoleh dengan sisa-sisa tenaganya dan mendapati wanita yang menjadi musuhnya itu tengah menggenggam tangannya sambil tersenyum lembut.

“Maaf ya, tapi sebagai pemenang, aku akan mengambil Jewel ini,” ucap wanita itu dengan nada yang dihalus-haluskan.

Tanpa berdaya, Squad hanya bisa menonton permata kuning itu direbut dari tangannya. Sisa tenaganya hanya cukup untuk menjaga agar tidak kehilangan kesadaran, tidak lebih. Entah ia harus bersyukur atau tidak ia masih bisa bertahan dengan kondisinya yang seperti itu. Mungkin lebih baik ia pingsan saja dan tidak perlu melihat penghinaan itu. Ditambah lagi ia harus mendengar teriakan teman-temannya yang dilumat para Oni satu-persatu.

“Terima kasih, teman-teman banditku. Sekarang aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi, jadi selamat tinggal.”

Misi wanita itu berhasil, dan dia gagal. Sekarang Squad hanya bisa menutup mata dan pasrah. Jangankan penasaran memikirkan bagaimana nasib teman-temannya, nasibnya sendiripun ia tidak tahu akan berakhir bagaimana.
Tapi ia tahu, ia tidak akan berakhir tanpa rasa sakit. Sebuah pukulan berat yang sama dengan yang ia terima sebelumnya kembali menghantam dan melemparkannya jauh ke tengah laut. Pemandangan yang berubah biru karena kini tertutup air, perlahan mulai menghilang, menghilang bersama kesadarannya.

« Last Edit: May 24, 2011, 06:03:58 PM by sacchan_magician »

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2967
  • Cookie: 56
  • super ultra biased to tatsun
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #1 on: February 08, 2011, 07:35:31 PM »
keren al! Waktu kejadian fanficnya ngepas sama event kali ini. Seru kalau ternyata jewel in game bisa kayak di fanfic ini  :puppyeyes:

Tapi ini.. Masih bersambung kan?
jadi pengen nulis juga T^T
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince

Recently playing AK again: Vestas - Duelist

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #2 on: February 08, 2011, 08:11:08 PM »
yap, aku males cari tema XD
kbetulan ada event yg mnurutku lumayan seru, jadi ya jadiin tema aja XD

iya, masih bersambung.
ada kok kutulis part 1 dari 3 :D
ikut tulis aja, masih bbrp hari sampe deadline tu XD

eniwei, thx komennya XD

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookie: 39
  • Saber X Gilgamesh~ <3
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #3 on: February 08, 2011, 08:24:34 PM »
Niceeeee keyennn OwO tata bahasa fan fic al khas yaw :laugh:


Tapi sbeleum itu...

saya ttp menunggu ECO saga :santai:
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline Yukika

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 345
  • Cookie: 48
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #4 on: February 08, 2011, 08:38:11 PM »
nice chapter~
menunggu chapter selanjutnya 

btw saia masih bingung dengan "beri tahu" dan "dari mana"
mohon pencerahannya  :nod:

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #5 on: February 08, 2011, 09:00:50 PM »
@icha
wogh.. khas gmn? o_O
saga.. tunggu ini beres dulu ya XD

@yukika
err.. masih pnasaran jg ya drtd soal itu.. ^^a
itu masalah kata dasarnya kok.
nih cek kalo gak percaya: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #6 on: February 08, 2011, 09:44:56 PM »
uooo.. lanjutkann!!!  :love2:
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #7 on: February 08, 2011, 10:18:05 PM »
Huaa baru ngecheck lagi :cry:
gomen alceus-chan(?)
wkwk
anyway, nice story with the new event :3

ini semua sakura yak...
Yang hikari mana ni?
Ato hadiahnya kurang menarik di hikari? @.@

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #8 on: February 08, 2011, 11:09:19 PM »
@clar
sep, tunggu aja~ XD

@squad
c-chan? :shock:
apaan tu?? :angry:
mau kubikin squad mati mengenaskan ya? =P

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #9 on: February 08, 2011, 11:33:01 PM »
Wkwkwk
alceus-chan~
squad di cerita siapapun mati kok :cry:
keculi *mungkin* fanfic mizu + yuki :3
di fanfic mizu, squad cerita sambil pacaran ama valentia squad anak sma(?)
di fanfic yuki, squad bareng YuKiKa squad jadi BM + Detektkf
wkwk

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter