Author Topic: [ECO FanFic] God of Lightning  (Read 13041 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #10 on: February 09, 2011, 06:08:19 AM »
uwooo kereeen
next chapter please!! hehehehehe :love3:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] God of Lightning (Part 2)
« Reply #11 on: February 09, 2011, 10:11:22 AM »
Author's Note:
    Ternyata sangat susah mengubah semua adegan action dalam kepalaku ke bentuk huruf dan kata-kata.
    Tapi ya sudahlah. Walo gak 100% seperti harapan, setidaknya "rasanya" cukup untuk mengarahkan imajinasi yg baca gak jauh beda dari yang kubayangkan.
    well, let hope so~ XD

    Mari silahkan, kritik saran typo hinaan apapun lah, mangga jangan malu2 XD
    diterima dengan senang hati, siapa tau jadi ada masukan buat lebih ngebagusin bagian 3nya :confuse:



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © shinigami_boy 2011

All characters here belongs to Squad, with exception of NPCs/Bandits which are part of Emil Chroncile Online.

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED




Part 2 of 3: Oni

Dingin.
Gelap.
Mungkin itulah yang orang-orang sebut kematian.
Mati? Tapi dia belum melakukan apa-apa yang berarti. Ia juga belum meminta maaf pada Leader Buru atas semua keegoisannya.

“Hei.”

Tapi apa boleh buat, kelihatannya dia tidak sempat melakukan hal seperti itu. Bukannya mengharap pemimpin Enigma itu mati, tapi mungkin ia baru bisa melakukannya kalau itu sudah terjadi.

“Hei, ayo buka matamu!”

Benar kan? Buktinya sang malaikat sudah memanggilnya. Tapi di mana? Surga atau neraka? Ah, itu tidak penting. Setidaknya ia harap kedua teman baiknya ada di tempat itu juga menemaninya.

“Ayo, kamu sudah sadar, kan?”

Benar-benar malaikat yang bawel. Tidak bisa kah ia diberi waktu untuk mengenang masa hidupnya sedikit lagi?
‘Iya, aku bangun!’

Squad membuka matanya perlahan. Masih agak gelap, tapi berkat lentera yang ada di depannya, ia sedikit bisa melihat. Di hadapannya terpampang senyum super lebar yang dekat sekali dengan wajahnya.

“WUAAAAA!!!”

Melihat itu, langsung saja ia bangun dan melompat dengan nafas tersengal-sengal. Sambutan yang aneh. Atau kalau boleh dibilang, malaikat maut yang aneh, dengan mata bulat yang besar dan lentera yang menempel di dahinya. Tapi dengan otot-otot yang terlihat kuat, mungkin saja makhluk itu memang malaikat mautnya.
Eh? Tunggu, ciri-ciri itu..

“Nggak sopan sekali sih teriak seperti itu. Dasar nggak tahu terima kasih.”

“Eh.. kau.. Gayfish ya?” ujar Squad ragu-ragu.

“Gayfish?! Nggak sopan!” teriak ikan itu tanpa merubah senyumnya, kemudian berpose dengan memamerkan otot-ototnya. “Coba lihat, bagian mana yang gay dari ini?!”

“Ah, maaf. Aku nggak bermaksud—”

“Sudah, hentikan!”

Squad menoleh. Di belakangnya berdiri seekor Insmouse lagi. Warnanya berbeda dari Insmouse-Insmouse yang biasa ia lihat –persis dengan semua Insmouse yang ada di tempat itu. Dua kata dari Insmouse itu, dan semua yang di sekitar mereka berhenti. Kemungkinan Insmouse itu ikan penting di tempat itu.

“Ch-chief..” tukas Insmouse yang membangunkan Squad. Matanya berusaha lari dari pandangan sang pemimpin Insmouse, meskipun senyumnya tetap tidak memudar.

“Anda.. pemimpin tempat ini ya?” tanya Squad, berusaha sesopan mungkin. “Jadi tempat ini.. bukan alam kematian?”

Insmouse Chief menggeleng. “Tentu saja bukan. Ini adalah Insmouse Haven, desa tersembunyi para Insmouse yang semakin tersingkir gara-gara manusia yang semakin membajak lautan kami. Kami menemukanmu tenggelam, lalu membawamu ke sini dan memberikan sihir Aqua Lung supaya kamu bisa bernafas sementara di sini.”

“Begitu ya.. Kalau begitu terima kasih telah menyelamatkanku,” ujar Squad sembari sedikit membungkuk. “Tapi apa Anda menemukan orang lain selain aku?”

“Teman-temanmu? Sayangnya kamulah satu-satunya yang bisa kami temukan,” jawab Chief dengan nada menyesal.

“Begitu..” Kedua mata Squad memandang dasar laut dengan tatapan kosong. Di kepalanya kembali tergambar adegan-adegan ketidakberdayaannya saat bertarung di pantai beberapa waktu lalu.
“Sial.. saat ini perempuan sialan itu pasti sudah menggunakan lima permata itu untuk memanggil dewa petir..”

“Dewa petir? Raijin?” tanya Insmouse Chief penasaran mendengar gumaman Squad.

“Ah, ya.. aku dihajar orang yang katanya menginginkan kekuatan Raijin. Aku nggak tahu mau dipakai untuk apa, tapi.. aku punya firasat itu bukan untuk sesuatu yang baik,” jawab Squad.

“Tentu saja bukan hal baik,” tukas Insmouse Chief. Sedikit nada kesal tergambar di suaranya.
“Raijin itu dewa para oni, musuh kami. Walaupun mereka akhir-akhir ini tidak seagresif dulu, tapi kalau mereka mau memanggil Raijin, pasti ada apa-apanya.”

Squad terbelalak. Dewa iblis? Yang benar saja. Ia tidak bisa –dan tidak mau— membayangkan bagaimana jadinya kalau ia harus melawan makhluk seperti itu.
“Oni.. benar juga. Anak buah wanita itu berubah menjadi oni. Kurasa aku harus menghentikannya. Tapi.. aku nggak tahu dia ke mana..”

“Kalau dia mau memanggil Raijin, kemungkinan dia pergi ke Iron Volcano. Konon legendanya, Saat kelima permata bersatu dalam lava Iron Volcano, maka Raijin akan datang.”

“Begitu ya,” ucap Squad, mengangguk paham. “Kalau begitu aku akan ke sana sekarang juga!”

“Tunggu dulu,” cegah Insmouse Chief. Ikan itu menangkap tangan Squad dan menaruh sesuatu di atasnya. “Kalau kamu berniat melawan oni, maka bawalah ini.”

Squad memandang apa yang ada di tangannya dengan heran. Dahinya mengernyit, apa maksud Chief itu sebenarnya?
“Uhh.. ini?”

“Bawalah, itu pasti berguna.”

“Be-begitu ya.. Baiklah, terima kasih.”


~ * * * ~

BRRMM..

Blademaster Squad, itulah nama yang biasa digunakan orang untuk memanggilnya. Dari kecil ia selalu bercita-cita untuk menjadi yang terbaik, menumpas semua musuh-musuh yang mengancam kedamaian, dengan kata lain menjadi seorang pembela kebenaran. Tapi entah salah di mana, ia malah menjadi seorang bandit dan perampok. Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, hidup memang sungguh aneh baginya.

Dan sekarang, bandit itu tengah memacu kencang motor hijaunya untuk menghadapi pertempuran yang mungkin bisa mengancam seluruh Acronia, atau lebih parah, dunia. Mungkin takdir memang senang bermain-main dengannya. Ia sedikit terkekeh berpikir tentang itu. ‘Pembela kebenaran’, memangnya sudah berapa umurnya sekarang. Tapi mungkin memang sekaranglah waktunya untuk menuntaskan impian masa kecilnya.

Dua sosok terpantul di kaca spionnya saat Squad memasuki area Ghost Shelter. Dua buah motor, yang masing-masing dilengkapi side-car di sisi-sisinya, dengan masing-masing membawa satu pengemudi dan satu Gunner. Semuanya berpakaian serba hitam, dilengkapi helm yang menutupi wajah mereka. Perlahan tapi pasti, para pengejar itu semakin mendekat dan siap mengapitnya dari kedua sisi, dengan laras senapan yang kini telah diarahkan kepadanya.

“Bah, nggak bisa kah kalian membiarkanku melaju dengan tenang?!”
Sambil menginjak dan menarik tuas rem bersamaan, Squad dengan sigap mencabut pedang yang dari tadi menempel di punggungnya. Kecepatan yang tiba-tiba menurun drastis berhasil membuat beberapa tembakan pertama meleset, dan kini membuatnya sejajar dengan kedua pengejarnya, malah sedikit di belakang.

Sebuah tebasan dari pedang biru miliknya memotong senapan pengejar di kanannya dengan rapi, disusul tebasan kedua yang mengarah pada pemiliknya.
Sayangnya, serangan kali ini berhasil dihindari dengan mudah saat si pengendara menjauhkan motor dan partnernya dari Squad.

“Cih!”

Squad paham tidak ada gunanya mengejar buruan yang lepas. Daripada itu, ia masih punya satu buruan, yang kalau ia lengah, justru akan balik memburunya. Ia melirik ke sisi kiri, dan benar saja, sebuah peluru baru saja melesat ke arahnya.

TRAANG!
Peluru itu menghantam Griel Blade yang bertindak sebagai perisai di hadapan Squad, membuat sebuah lekukan kecil di permukannya. Terlambat sepersekian detik saja, mungkin kepalanya lah yang akan berlubang.

“Maaf ya, kini giliranku!”
Dengan cepat, Blademaster itu mempersempit jarak motornya dengan target dan menusukkan Griel Blade-nya ke helm sang penembak.
Pedang itu terus melaju ke arah pengemudi motor lawannya, seolah tidak memedulikan apa yang baru saja ditembusnya. Tapi tepat beberapa senti di depan helm calon korban keduanya, pedang itu berhenti.

DUKK!
“U..ugh..”

Sesuatu menabrak motornya. Ia harus kecewa melihat buruannya lagi-lagi lepas dan menjauh, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal seperti itu. Ia nyaris saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat seseorang melompat ke motornya dan kini berusaha mencekik lehernya.
Buruan yang ia lepaskan pertama kali kini kembali. Meskipun sudah kehilangan senapannya, tapi rupanya sang penembak masih lebih dari cukup untuk menyusahkannya. Berkat lawannya itu, ia kini semakin keluar dari jalur utama Ghost Shelter dan makin mengarah ke timur.

“Sial.. kalau begini.. nggak ada cara lain!”
Squad menarik tuas remnya dengan keras. Seketika itu juga roda depan motornya berhenti dan melemparkan kedua penumpangnya ke depan. Ia berharap bisa melemparkan hanya penumpang gelap itu pergi dari motornya, tapi apa daya kalau ternyata harapan hanya tinggal harapan. Mau tak mau, ia harus puas melesat bersama lawannya sambil berharap ia tidak melayang terlalu jauh, tidak mendarat terlalu sakit, motornya juga tidak rusak parah, pedangnya tidak parah, rambutnya tidak— tapi yah, nyawanya masih selamat saja ia sudah beruntung kok.

Tapi sekali lagi, harapannya tak terkabul. Gara-gara cekikan musuhnya, ia harus mengambil tindakan itu tanpa sempat memerhatikan sekeliling, tanpa sadar ia telah keluar jalur. Dan sekarang ia harus menerima resikonya, melesat menuju sebuah pohon besar.

BUAK!
Hantaman keras antara tubuhnya dan batang kayu pun tak terelakkan. Sakit, pasti. Tapi masih bisa bangun pun meski dengan bantuan pedangnya sebagai tumpuan, itu saja sudah membuatnya bersyukur. Ia meraba punggungnya, mencoba mengecek masih adakah tulang di sana. Dan hebatnya, masih. Mungkin kalau bukan karena hakama super tebal yang selalu ia kenakan, ia sudah seperti jeli sekarang. Walau begitu, harus ia akui itu merupakan suatu keajaiban, ia bisa selamat hanya dengan sakit di sekujur tubuh.

Squad menoleh ke arah lawannya melesat. Mungkin sekali lagi ia harus bersyukur pada pohon itu. Kalau tidak, ia pasti sudah bernasib sama dengan orang yang mencekiknya tadi, terlempar jatuh ke dalam jurang yang bahkan dasarnya saja tidak bisa ia lihat.

“Nah, sekarang.. sisa dua lagi,” ucap Squad pada dirinya sendiri. Ia mengambil nafas dalam-dalam sembari menyender pada pohon penyelamatnya. Sembari membuka mata perlahan dan mengangkat pedangnya sebahu, ia memandang kedua pria berhelm yang kini telah berhenti dan berdiri beberapa meter di hadapannya.

Kedua pria berhelm itu tidak bergerak. Hanya saja, Squad bisa merasakan sesuatu yang janggal dari mereka. Entah apa itu, tapi ia bisa merasakan bahaya, bagaikan seekor kancil yang tahu dua ekor harimau telah memilihnya sebagai makan malam.

KRAK..
Sebuah retakan muncul di helm mereka, semakin lama semakin besar. Sampai akhirnya dari retakan tersebut, keluarlah sebuah tanduk besar. Tubuh yang semakin membesar juga merobek jaket hitam yang mereka kenakan, mengekspos kulit biru pucat mereka.

Hanya sekilas pun, Squad tahu siapa mereka. Makhluk-makhluk yang sama dengan yang menghajar ia dan kelompoknya di Eastern Beach. Makhluk-makhluk kejam dan brutal yang menurut Insmouse Chief, adalah musuh besar mereka. Makhluk-makhluk itu.. Oni.

“Heh.. Sudah kunantikan saat ini. Akan kubayar berkali-kali lipat perlakuan kalian pada kami di pantai waktu itu,” seru Squad, masih berusaha mengatur nafas dan memulihkan kondisinya.

Tanpa bicara, kedua raksasa biru itu menerjang ke arah Squad. Gerakan yang tidak cepat, tapi dengan gempa kecil di setiap langkah mereka, sudah cukup untuk menciutkan lawan-lawan mereka pada umumnya. Sayang, kali ini Blademaster yang menjadi lawan mereka bukan termasuk ‘lawan pada umumnya’.

Squad menjejakkan kaki pada pohon di belakangnya, menjadikannya tumpuan untuk bisa melompat lebih tinggi. Dari atas ia bisa melihat jelas pohon itu kini hancur terhantam pukulan salah satu raksasa itu.
‘Ah, maaf, pohon. Makasih sudah menyelamatkanku tadi,’ gumamnya dalam hati.
Dan bagaikan elang yang menukik mengincar buruannya, ia melesat turun dan menusukkan pedangnya dari atas, tepat di ubun-ubun sang raksasa.

Tapi tidak, hasilnya lagi-lagi tidak seperti harapannya. Tidak ada suara kulit tertusuk ataupun terpotong. Tergores mungkin, tapi hanya itu, tidak lebih. Pedang favoritnya itu gagal menembus kulit setan biru itu.

“Mustahil! Bagaimana bi—”

Sebuah pukulan melesat ke arahnya tanpa membiarkan Blademaster pirang itu menyelesaikan kata-katanya. Dengan segera, Squad melompat turun dari kepala raksasa yang gagal dibunuhnya, dan mendarat tepat di antara kedua Oni.

“Ini belum berakhir.. Tornado Slash!”

Sebuah sabetan melingkar 360° menebas perut kedua Oni bergantian. Tapi sekali lagi, tebasan itu hanya menimbulkan goresan kecil yang segera menghilang tanpa bisa menimbulkan luka besar.

“A-apa?!”

Pertanyaan Squad terjawab, hanya saja bukan jawaban yang ia inginkan dan tidak nyambung, karena berupa sebuah pukulan keras dari salah satu setan biru. Beruntung ia sempat melompat mundur dan menggunakan pedangnya sebagai perisai demi mengurangi hantaman yang dideritanya. Meskipun begitu, itu sudah cukup membuat darah segar keluar dari mulutnya.

“Nggak bisa dipercaya.. Kalau begini apa yang harus kulakukan..” Kedua raksasa itu mendekat, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Semua serangannya tak berhasil. Berbagai opsi muncul di kepalanya. Lari? Mungkin itu yang terbaik. Atau mati di sini dan menemui teman-temannya di alam sana juga tidak buruk, mati sebagai pahlawan yang gagal dalam misinya.
Heh, pikiran itu membuatnya tertawa geli sendiri. Ia bandit, bandit yang mati gara-gara menerima tugas konyol, dan sama sekali bukan pahlawan yang mati dalam usaha melindungi dunia.

“Sampai di sini saja,” ucap salah satu Oni dengan suara yang berat dan keras. Pertama kalinya Squad mendengar raksasa itu bicara, padahal sebelumnya ia mengira mereka makhluk bodoh dan bisu yang hanya mengandalkan kebrutalan.

Squad menutup matanya sambil tersenyum. ‘Maaf Louis, maaf Melt, maaf kawan-kawan, maaf Leader Buru, maaf pohon, maaf Insmou—’
Tunggu. Insmouse? Benar juga, Insmouse Chief memberinya sesuatu sebelum ia pergi. Katanya akan berguna saat melawan Oni. Kenapa ia tidak mencobanya dari tadi?

Tangan Squad dengan cepat merogoh sesuatu di balik hakamanya dan melemparkannya pada kedua Oni tersebut. “Aku nggak tahu ini apa, tapi aku nggak akan menyerah sampai ini juga gagal!”

Sebuah tas plastik, atau setidaknya seperti itulah kelihatannya. “Jadi ini senjata terakhirmu? Menyedihkan.”
Sambil tersenyum menghina, salah satu Oni  tadi menghantam tas tersebut dan menghancurkannya berkeping-keping. Mudah baginya melakukan itu, hanya saja ternyata benda-benda yang ada di dalam tas tersebut mampu merubah raut wajah kedua raksasa tersebut, dari senyum kemenangan menjadi raut wajah ketakutan seperti melihat setan –terlepas dari mereka sendiri setan.

“I-ini.. KACANG?!”

Ya, kacang. Bahkan Squad pun tidak mengerti kenapa Insmouse Chief memberinya kacang. Dan sekarang, ia semakin tidak mengerti melihat ekspresi para Oni itu. What’s so great about beans? Tapi kalau itu –entah kenapa dan bagaimana— bisa berefek pada Oni-Oni itu, maka ini bukan waktunya membuang-buang waktu memikirkannya.

Begitu kacang-kacang itu menyentuh para raksasa, tubuh penuh otot biru pucat itu bersinar dan mengecil. Tanduk-tanduk di kepala dan punggung mereka pun perlahan menghilang. Yang tersisa kini hanyalah sosok dua orang pria pengendara motor tadi yang hanya mengenakan celana kuning layaknya anak setan di dongeng-dongeng.

“Aku nggak begitu mengerti apa yang terjadi.. tapi..”
Angin tiba-tiba berhembus keras dan berkumpul di pedang milik Squad. Terlihat olehnya, bagaimana wajah kedua ex-Oni yang pucat pasi ketakutan memandang Griel Blade yang bersinar dengan angin yang mengamuk di sekitarnya.
“Terima ini! Bran..dish!”

Squad mengayunkan pedangnya, melepaskan sekumpulan energi yang terkumpul di pedangnya secara bersamaan. Kibasan energi itu menghantam tubuh kedua sasarannya tanpa ampun, dan melemparkannya jauh ke dasar jurang Ghost Shelter.

“Huff.. selesai sudah.. Ups, masih ada satu lagi.. bos terakhir..” Ia berjalan dengan gontai ke arah motornya. Tidak ada yang rusak untungnya, hanya sedikit lecet sana-sini gara-gara kejadian tadi.
“Tapi.. istirahat satu-dua menit nggak ada salahnya kurasa..”
« Last Edit: February 09, 2011, 03:53:21 PM by shinigami_boy »

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #12 on: February 09, 2011, 03:45:33 PM »
wakakakka


jadi ini selain cerita buat challenge, juga dibuat untuk acara setsubun, ya?? wkwkkw
mangstab cuy

ayoo part 3 wwkwk

eh, ga usah part 3 aja deh. lempar aja kacangnya ke oni-king, dan whuss... menang deh. BANZAI /e11

*mijuh kabur*
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #13 on: February 09, 2011, 07:57:48 PM »
eaaaa...sugeeee :puppyeyes:
keren juga ternyata event kali ini diliat dari sisi lain XD

tadinya saya pikir itu Oni itu pake raijin afro...setelah dibaca lagi ternyata ogre dkk toh :laugh:

sekilas baca sih ga ada typo...cm ada yang mengganjal 2 biji...
yg satu 'Aqua Lung'
setau saya sih.... Lung itu biasanya dibikin jamak alias 'Lungs', soalnya paru2 manusia itu sepasang kan @_@

trs yang 360 derajat itu...setau saya (lagi), kalo dalam satu kalimat cuma disebut angka sekali, angkanya kan ditulis pake huruf toh? cm bingung juga sih kalo derajat gt....cm mungkin IMO...lebih enak kalo ditulis huruf aja sih... @_@

well, nanti saya liat2 lagi deh :nod:
*buru2 kabur patroli Writing setelah ditinggal berapa hari*

oiya lupa bilang...
si Squad itu orang yang sangat suka bersyukur yah :laugh:
« Last Edit: February 09, 2011, 08:43:59 PM by sacchan_magician »
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2974
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #14 on: February 09, 2011, 08:33:25 PM »
wakakakak. Kocak abis. Untung kacangnya gak dimakan sama squad. Kalau iya, bye bye deh.
Dan disini narsisnya squad terekspos, diliat dari reaksinya pas kepental dari motor. Sempet sempetnya mikirin rambut  :laugh:
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
Recently playing
Closers: Junghwa (Miyeon, Hawthorn, Donghan)
you can contact me on discord @cornelialk

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #15 on: February 09, 2011, 08:44:54 PM »
sori baru komen, baru sempet baca wkwkwk

dan komen gw adalah

WAKAKAKAKAKAK
WAKAKAKAKAKAKAKAKAK
asli gw bayangin itu muka gayfish
seandainya squad terbangun karena kecupan nafas penyembuh gayfish, ceritanya bakal keren banget
wakakakakakakakakakak


dan entah kenapa gw malah jadi berandai-andai kejadian berikutnya saat terjadi dialog seperti ini:
“I-ini.. KACANG?!”
"Yap. Rasa bawang lho!"

WAKAKAKAKAKAKAKAKAK kayaknya bakal lucu banget

*kabur sebelum digebukin ceus*

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #16 on: February 09, 2011, 09:14:15 PM »
sori baru komen, baru sempet baca wkwkwk

dan komen gw adalah

WAKAKAKAKAKAK
WAKAKAKAKAKAKAKAKAK
asli gw bayangin itu muka gayfish
seandainya squad terbangun karena kecupan nafas penyembuh gayfish, ceritanya bakal keren banget
wakakakakakakakakakak


dan entah kenapa gw malah jadi berandai-andai kejadian berikutnya saat terjadi dialog seperti ini:
“I-ini.. KACANG?!”
"Yap. Rasa bawang lho!"

WAKAKAKAKAKAKAKAKAK kayaknya bakal lucu banget

*kabur sebelum digebukin ceus*

*kabur jg
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #17 on: February 09, 2011, 09:24:38 PM »
@mijuh
wahahaha
emang rasanya curang banget sih tu kacang.
jadi pnasaran legenda aslinya gmn tu oni dan kacang..

@penyihirsacchan
oiya ya.. malah gak inget aku sama oni itu..
aku keingetnya loading screen yg ogre sama pasukan tiny, sama di acro plains ogre sama gayfish..
lupa kalo itu ogre, bukan oni..
ah gpp lah tapi, toh sama2 setan XD
di ghost shelter malah ada oni yg brubah jd ogre XD
*alibi*

soal aqua lung.. mestinya sih Lungs, tapi entah knp di gamenya Lung doang nama skilnya.
jadi ya ikutin itu aja sih.. :confuse:

soal derajat juga sama2 bingung aku XD
soalnya gak inget kalo kuadrat, derajat, dll itu diapain. ya udah gitu aja d smntara.
kalo emang salah, kubenerin tar XD

dan bersyukur.. oh iya dong, dia kan orang baik yg pandai bersyukur XD
*padahal baru sadar kalo banyak banget make kata bersyukur kali ini, alibi lg*


@saljuhitam
kalo dimakan.. critanya tamat sampe sini XD
tadinya kalo squad masih rese manggil chan, mau kubuat kacangnya kemakan dan squad dpt bad ending di situ =P

narsis is the way of man *ngasal*



@susuberuang
ea, ngakak apa ngakak tu XD

tp ide bagus
mungkin harus dibuat beda rasa beda efek /gg

kecupan gayfish sih.. yg ada malah tambah surem si squad :laugh:
dan ntah knp abis baca ini, trus liat avatarnya lia, jadi mrinding sndiri jg XD


@alver
swt.. wakakaka
« Last Edit: February 09, 2011, 09:26:36 PM by shinigami_boy »

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #18 on: February 10, 2011, 02:46:58 PM »
Nice update Alceus-CHAN

:p
ditunggu last partnya xD

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline Yukika

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 345
  • Cookie: 48
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #19 on: February 13, 2011, 07:18:03 PM »
nice~  :puppyeyes:
ayo last chapter~ wahahaha