Author Topic: [ECO FanFic] God of Lightning  (Read 12685 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO FanFic] God of Lightning (Part 3)
« Reply #20 on: February 13, 2011, 07:25:12 PM »
Author Note:
    yak, final part dari God of Lightning.
    smoga bisa dinikmati :sing:
    skarang tinggal tunggu hasil poling (bodo ah menang kalah, yg penting puas nulis XD )

    buat yg laen yg lagi ngejar deadline, gutlak! XD



Disclaimer
Fan Fiction Emil Chronicle Online © shinigami_boy 2011

All characters here belongs to Squad, with exception of NPCs/Bandits which are part of Emil Chroncile Online.

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED




Part 3 of 3: Drums of Thundergod

“WAHAHAHA!! Akhirnya kesempatan ini tiba juga!”

Tawa keras wanita menggema di sekitar gunung berapi Iron Volcano. Kalau saja tempat itu berada di daerah utara, dan Iron Volcano adalah gunung salju, pasti sudah terjadi longsor di daerah itu.

“Kau.. tidak akan bisa mendapatkannya..” seru sebuah suara lemah dari belakang wanita tersebut. Namun setelah mengatakan itu, Salamander pemilik suara tersebut pun tergeletak tak sadarkan diri bersama dua Salamander penjaga Iron Volcano lainnya.

We’ll see..” tukas wanita itu sembari mengeluarkan kelima permata dari tasnya dan melemparkannya ke dalam lava di tengah gunung berapi.

Tiba-tiba tanah bergetar, lava meluap, dan angin berhembus kencang. Menyusul ketiga fenomena alam itu, sebuah kilat menyambar di tengah-tengah gunung tersebut. Kalau saja wanita itu tidak menggunakan Wind Shield pada dirinya sendiri, dia pasti sudah hangus tersambar.

“GRRR!! SIAPA YANG BERANI MEMANGGILKU?!”

Sebuah senyum muncul di bibir wanita itu saat sesosok raksasa seperti Oni muncul di hadapannya. Berbeda dengan Oni, raksasa itu memiliki sepasang tanduk di kepalanya, namun tidak di punggungnya. Rambutnya yang panjang terurai sampai ke punggungnya, sementara taring-taringnya yang tajam –tidak seperti Oni yang hanya dua, tapi besar— menghiasi mulutnya. Di sekitarnya, melayang lima buah drum yang saling berhubungan.

“Aku, Raijin. Aku yang memanggilmu,” ucap wanita itu.

“KAU.. APA MAKSUDMU MEMANGGILKU, MANUSIA?”

“Aku menginginkan kekuatanmu, Raijin. Drum petirmu, Raijin Taiko, berikan padaku!” teriak wanita itu tanpa sedikitpun ketakutan dalam suaranya.

“AKU TIDAK AKAN MEMBERIKANNYA PADAMU. AKU HANYA MEMBERIKANNYA PADA ANAK-ANAK ONI YANG BAIK.”

Wanita itu tersenyum. “Jangan salah, Raijin. Aku tidak meminta. Aku memberi perintah!”
Ia mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya pada sang dewa petir, “Earth Ball!” dan seketika itu keluarlah sebuah bola energi yang melesat lurus menghantam sasarannya.

Raijin terpental, namun masih bisa mempertahankan dirinya di udara.
“KURANG AJAR!” Kelima drum di sekitarnya bersinar di akhir kata-katanya dan menembakkan petir-petir yang mempiggy buta.

Lima petir menyambar di satu tempat. Bahkan tanah di sekitar titik itu pun hancur berkeping-keping membentuk sebuah cekungan yang dalam. Tidak ada yang bisa selamat dari amukan dewa petir yang marah. Kalaupun ada, dan merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah, dia adalah wanita yang saat ini masih berdiri dengan tegak tanpa terluka sedikitpun di tanah yang hancur.

“Anda pikir, serangan seperti itu bisa menembus Wind Shield-ku? Anda pasti bercanda, Tuan Raijin.”
Sekali lagi, wanita itu mengarahkan tongkatnya pada sang dewa petir. “Gravity Fall!”
Udara di sekitar Raijin bergetar. Tekanan gravitasi yang begitu kuat berhasil menghilangkan kemampuan melayangnya dan memaksanya untuk turun.

“Fossilize!”
Tongkat wanita itu kembali bersinar saat ia mengucap mantra. Kali ini efeknya langsung diterima oleh raksasa itu. Sekujur tubuhnya mendadak kaku, dan perlahan tubuh kekarnya itu membatu.

“Magic ini tidak begitu efektif kugunakan di tempat seperti ini, tapi dengan kondisimu sekarang, pasti akan terasa sakit. Icicle Tempest!”
Sekali lagi udara di sekitar Raijin bergetar. Angin berkecamuk dalam efek area sihir tersebut. Namun ini bukan angin biasa, melainkan angin dingin. Ini bukan badai biasa, tapi badai es yang membekukan dan menghancurkan apapun yang ada di dalamnya.

Tak jelas apa yang terjadi di dalam badai tersebut. Namun saat badai itu mereda, satu hal dapat dipastikan. Raijin telah hilang, entah mati, entah pergi. Yang tersisa di tempat itu hanyalah kelima drum yang setia melayang di sekitar Raijin.

Dengan santai, wanita itu mengambil Raijin Taiko itu. Dan seolah mengakuinya sebagai majikan barunya, Taiko tersebut kini melayang di belakang wanita itu, persis seperti Raijin dulu.
“Huh, tak kusangka sebegini mudah. Maaf saja ya, aku tidak berniat pada drum-drum mainan yang suka kau berikan pada bangsa Oni. Dengan drum milik Raijin sendiri, aku, Josephine, menjadi tak terkalahkan!”

“Josephine ya.. Nama yang bagus, sayang orang sepertimu yang memilikinya. Benar-benar nggak cocok.”

Josephine menoleh ke arah suara itu berasal. Di sana berdiri seorang yang familiar karena telah membantu mendapatkan Jewel terakhir Raijin. Seorang yang seharusnya sudah mati.

Well, well.. Coba lihat siapa yang datang. Teman bandit kita yang sangat berjasa. Katakan, Squad, bagaimana caranya kamu masih hidup?”

“Nggak ada cara khusus. Hanya saja dewa kematian membenci bandit sepertiku, jadi aku disuruh ke dunia ini lagi,” jawab Squad dengan santai sembari turun dari motornya. Tangannya menggenggam erat Griel Blade miliknya, sementara kakinya melangkah maju perlahan naik ke atas gunung tempat Josephine. Untuk sesaat, ia kembali terpesona akan kecantikannya. Namun bayangan teman-temannya yang dibantai di pantai menghapuskan wajah wanita itu dari benaknya.

“Begitu. Tapi sayang, kamu terlambat, Squad. Pertunjukkan telah berakhir, dengan aku sebagai pemenang,” seru Elementalist wanita itu dengan sombong.

“Kau salah, Josephine, kau salah. Pertunjukkan baru akan dimulai.”
Squad mengangkat pedang kesayangannya dan mengacungkannya pada Josephine. Entah darimana datangnya kepercayaan diri itu, tapi ia benar-benar merasa kalau ia bisa mengalahkannya. Apalagi kini ia punya kartu as.

“Menarik. Aku penasaran apa yang membuatmu begitu yakin, tapi biarlah. Kuberikan kesempatan pertama, tapi mungkin juga jadi kesempatan terakhirmu. Ayo, serang aku,” katanya yang diikuti dengan gumaman ‘Earth Aura’ pada dirinya sendiri.

“Huh, kau akan menyesal, dasar setan! Akan kuhabisi kau seperti aku menghabisi anak-anak buahmu!”
Squad melompat maju dengan senyum kemenangan di bibirnya. Dulu ia dikalahkan karena tidak tahu kelemahan lawannya, tapi situasi berbeda sekarang. Dengan cepat, ia mengambil kartu as-nya dari balik hakamanya dan melemparkannya ke arah Josephine.

TUK.

Suasana menghening selama beberapa saat tanpa ada seorangpun yang membuka mulutnya. Kacang itu tepat mengenai dahi Josephine, tapi tidak terjadi apa-apa, tidak ada efek apa pun. Dan sekarang Squad –masih dengan senyum kemenangan, yang kini berubah menjadi senyum bodoh— pun sadar, kalau lawannya bukan Oni, meskipun bos dari para Oni.

“Apa ini? Apa kamu hanya ingin menghinaku dengan melempariku kacang? Kamu pikir aku *ups sensor* di kebun binatang, hah?!”
Muka Josephine memerah penuh amarah. Tubuhnya melayang, makin lama makin tinggi.

“Uh oh.. kurasa aku.. membuat kesalahan.. sedikit..” Kesalahan yang sedikit terlalu besar. Dan kesalahan fatal itu kini justru membuat lawannya marah. Ia hanya bisa mundur selangkah selagi memandangi kelima drum di sekitar Josephine yang bersinar.

“Nggak ada ampun bagimu, bandit kurang ajar! Terima ini, Chain Lightning!”

Squad berbalik dan berlari, menghindari petir-petir yang menyambar ke berbagai arah tanpa terkontrol. Lucu juga mengingat ia sebelumnya berpikir bisa menang mudah dari orang— mungkin lebih tepat disebut monster yang menakutkan. Dengan cepat ia menyalakan mesin motornya dan melaju pergi dengan petir-petir yang menyambar di belakangnya, seolah menjadi jejak ban motornya.

Tawa Josephine kembali menggema di seluruh Iron Volcano. “Kamu pikir bisa lari, hah?! Tapi biarlah, lari dan terus larilah, wahai makhluk menyedihkan!”

‘Bagaimana cara mengalahkannya.. Ayo berpikir, Squad!’ Otaknya kini berputar cepat, secepat roda motornya yang terus melaju ke arah Selatan. Ia tidak tahu lagi harus apa. Kemampuan lawan untuk melayang membuat pedangnya tak dapat menyentuhnya. Sebenarnya ia punya cara yang mungkin akan berhasil. Tapi kalau itu dilakukan, mungkin akan menelan korban lagi.
“Tidak ada cara lain!” Sambil berkata begitu, ia mempercepat laju motornya ke arah selatan, dimana ibukota Iron South berada.

“Berlari ke kota juga nggak ada gunanya, teman banditku,” teriak Josephine. Petir-petirnya kini menyambar rumah-rumah penduduk tanpa pandang bulu.

“Semua, cepat evakuasi ke tempat lain!” teriak Squad. Kalau sampai rencana ini gagal, dan puluhan orang mati karenanya, maka ia benar-benar tidak ada bedanya dengan monster yang tengah mengejarnya saat ini.
“Ayo ke sini, perempuan setan! Apa kau nggak bisa menangkap seorang bandit sepertiku?”

“Hmph.. kamu benar-benar bosan hidup rupanya.. Havoc Thunder!”
Sebuah petir ukuran jumbo menyambar tepat di tengah-tengah Iron City, tepat dimana Josephine menunjuk dengan Titania Rod-nya. Beruntung peringatan Squad membuat para penduduk sempat menyelamatkan diri dari petir skala besar itu.

Gila, itulah satu kata yang muncul di kepala Squad. Wanita itu benar-benar sudah gila dan sama sekali tidak memikirkan sekitar. Tapi melawan orang gila yang terobsesi pada satu tujuan, kadang lebih mudah daripada melawan orang waras. Kadang.

“Meleset, cewek petir! Akurasimu jelek, mungkin aku harus mengajarkanmu melempar kacang lagi!” teriak Squad sambil terus melajukan motornya ke tempat penambangan, Southern Dungeon.

Mendengar hal itu, kemarahan Josephine kembali memuncak. Insiden kacang itu benar-benar sebuah penghinaan baginya, dan sekarang ia harus diingatkan lagi soal itu.
Tanpa membuang waktu, ia segera menukik masuk ke pintu Southern Dungeon.

“Kamu sungguh bodoh, Squad. Di tempat sesempit ini, kamu nggak akan bisa lari!” ucapnya dengan suara menggema sembari melayang pelan menyusuri terowongan pertambangan.

“Begitu juga kau, Josephine!”

Josephine berbalik dengan cepat dan mendapati Squad melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Blademaster itu mengangkat bagian depan motornya tinggi-tinggi, siap menjadikan roda depannya itu sebagai senjata.

Dengan sigap, si Elementalist segera melayang lebih tinggi. “Ukh! Kamu pikir hal seperti itu bisa—” Tapi sayang kepalanya terbentur langit-langit. Ia sadar, sesuai kata-kata Squad, tempat sempit itu juga seperti kandang baginya.

Serangan Squad meleset. Tapi dengan jarak yang tidak begitu tinggi dan sebelum mereka terpisah terlalu jauh, ia segera mencabut pedangnya dan mengayunkannya ke atas sambil berusaha menebas lawannya. Tidak mencapai hasil yang diinginkan memang, tapi cukup bagus. Titania Rod milik Josephine kini terbelah dua.

“Kamu..!!” Energi kembali berkumpul di drum-drum terbang milik Josephine. Kilatan dan sambaran petir demi petir ia lepaskan ke arah Squad yang melaju meninggalkannya dengan cepat. Tapi sebelum petir itu mengenai sasarannya, Squad berbelok masuk ke terowongan yang lain dan menghilang dari pandangannya.

“Sial! Ke mana bandit sialan itu?!”
Josephine kini sedikit lebih waspada. Ia tidak lagi berani bertindak gegabah.
“Keluar kau, Squad!”

“Aku di sini!”

Lagi-lagi Squad dan suara motor dari belakangnya. Tapi kini ia lebih siap. Ia berbalik dan melompat mundur sembari menembakkan energi listrik yang telah terkumpul di Taiko-nya dari tadi.
“Mati kau, Squad!!”

Kelima petir itu menyambar di satu titik: motor milik Squad. Motor yang sudah agak compang-camping itu pun mustahil bisa bertahan dari serangan seperti itu. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya, dan sayangnya keajaiban itu tidak terjadi. Terlebih lagi, sebuah kilat menyambar tangki bensinnya.

BLARR!!
Ledakan dan asap menyelimuti lorong itu. Josephine dengan sigap segera memberikan Fire Shield pada dirinya sendiri sebelum terlambat. Ia selamat, tapi entah apa yang terjadi dengan pengendara motor yang sudah hancur berkeping-keping itu. Apakah si pengendara menemui nasib yang sama dengan motornya? Ia hanya bisa menunggu sampai kepulan asap mereda untuk tahu hal itu.

“Semua sudah berakhir, Josephine.”

Sebuah suara di belakangnya membuat seluruh bulu kuduk Josephine berdiri bersamaan dengan menempelnya besi biru di lehernya. Suara itu, tak salah lagi, adalah milik bandit bermotor yang daritadi gagal ia bunuh.
“Ba-bagaimana bisa..?”

“Aku sempat melakukan Sonic Movement sesaat sebelum ledakan terjadi,” jawab Squad dengan tenang, namun nafas yang sedikit tersengal dapat terdengar di suaranya. “Dan aku yakin sekarang, dalam jarak ini, dan kondisiku yang dalam efek Maximize Spirit Sword, pedangku jauh lebih cepat dari petir atau magic lainmu.”

“Ugh! Ini.. ini belum berakhir!” ucap Josephine yang nekat terbang dan berusaha lari.

“Sudah.. berakhir. Specter Sword!”

Josephine berbalik dan melihat Squad mendekat dengan kecepatan yang bukan seperti manusia. Specter Sword, ia pernah mendengar soal itu. Skill tingkat tertinggi yang dimiliki Blademaster dengan mengayunkan lima buah tebasan dalam kecepatan tinggi. Lupakan soal menghindarinya, melihat gerakan pedangnya pun ia tidak sanggup. Ia hanya bisa menutup matanya dan pasrah.

“Kyaaa!”

WUUSH!!

Tiga detik, Josephine tidak merasakan apa-apa. Mungkin saking cepatnya sehingga ia mati tanpa merasakat sakit apapun. Bagus juga kalau seperti itu.
Lima detik, ia mulai merasa ragu. Ia masih bisa merasakan kakinya menyentuh lantai. Benarkah ia sudah mati?
Detik selanjutnya, ia pun memberanikan diri membuka matanya. Ia masih berada di Southern Dungeon. Lalu apa yang terjadi? Apakah Squad meleset?

“A-apa yang—” Josephine menoleh dan melihat Squad berdiri di belakangnya. Lima tebasan, rasanya aneh jika kelima-limanya meleset semua.

PRAK!
“Eh?”
Suara sesuatu hancur datang dari bawahnya. Josephine mencari asal suara itu dan mendapati Raijin Taiko kini tidak lagi melayang di sekitarnya. Lima drum itu kini ada di dekat kakinya, dengan kondisi masing-masing yang terbelah dua.

“Sial, aku meleset,” tukas Squad sambil menggaruk-garuk rambut pirangnya, masih membelakangi Josephine.

“Kamu.. membiarkanku hidup?”

“Sudah kubilang aku meleset, kau nggak dengar ya, cewek cerewet?!” Squad berbalik menghadap Josephine. Mukanya agak merah, entah karena malu gara-gara serangannya meleset, ataupun karena hal lain. Blademaster itu juga sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Elementalist yang hampir membunuhnya itu.
“Tapi yang selanjutnya nggak akan meleset. Karenanya, aku mau kau menyerahkan diri tanpa mencoba berbuat yang aneh-aneh lagi!”

“Ba-baik..” jawab Josephine dengan pelan. Ia pun menunduk tanpa berani memandang pria yang mengalahkannya itu.

Squad melirik ke arah perempuan itu. Apa memang dia sepenurut itu? Atau dia sudah mengakui kekalahan dan kesalahannya? Kalau saja perempuan itu seperti ini saat di pantai, ia pasti tidak akan kehilangan teman-temannya. Bayangan demi bayangan saat kematian teman-temannya kembali tergambar di kepalanya. Mungkin seharusnya ia membunuh wanita itu tadi. Dengan begitu ia bisa membalaskan dendam mereka. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa.
‘Maafkan aku, Louis, Melt, semuanya.’

Ia kemudian memandang Raijin Taiko yang hancur dan perlahan menghilang.
“Drum dan permata-permata itu.. benda milik setan. Mungkin itu yang merubah seseorang menjadi setan juga..”
Mungkin itu hanya alasan yang dibuatnya, tapi setidaknya ia berusaha untuk percaya kalau wanita Elementalist itu tidak sepenuhnya jahat dari dasarnya.

“Eh? Apa?” tanya Josephine saat mendengar gumaman Squad yang tidak jelas.

“Bukan apa-apa. Ayo kita kembali ke Acropolis. Mungkin sudah saatnya, aku yang bandit ini juga menyerahkan diri atas perbuatanku. Toh aku juga nggak punya siapa-siapa lagi.”

“Umm.. soal teman-temanmu itu.. Aku minta maaf,” ucap Josephine agak ragu. “Aku nggak yakin bagaimana mereka melakukannya, tapi mereka sangat licik— maksudku, pintar. Assassin itu berhasil lolos dan membawa Druid serta kawanan ninja putihmu.”

“Benarkah?!” Bukan main senangnya Squad mendengar berita itu. Harusnya sudah ia duga, Louis tak akan mati semudah itu dan akan menemukan cara menyelamatkan yang lain.
Dengan perasaan yang gembira, ia menarik tangan Josephine dan mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya, Space Time Key EX. Dan dengan anggukan dari Josephine serta sinar yang menyelimuti mereka, sosok keduanya pun menghilang dari Southern Dungeon.

Ia tahu, ia tidak akan lepas dari hukuman meski dengan jasanya itu. Ia mungkin akan menghabiskan waktunya di penjara untuk beberapa tahun ke depan. Belum lagi ia tidak jadi membalaskan penganiayaan terhadap teman-temannya –entah apa kata mereka nanti. Tapi setidaknya, ia bisa mendapatkan Happy Ending-nya sendiri dengan menyelamatkan satu orang terakhir, meskipun ia sendiri merasa itu agak egois. Dan siapa yang tahu, beberapa tahun lagi saat mereka berdua selesai menjalani hukuman mereka, mungkin Happy Ending ini akan berubah menjadi Living Happily Ever After. Meskipun dari tadi harapannya banyak meleset, tapi tidak ada salahnya kan berharap sekali lagi?


.:THE END:.

Offline Yukika

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 345
  • Cookie: 48
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #21 on: February 13, 2011, 07:27:22 PM »
wkwk endingnya keren~
semoga beneran jd "Living Happily Ever After" ya~ :laugh:

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookie: 46
  • Ng?
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #22 on: February 13, 2011, 07:42:09 PM »
uooo selesai jg akhirnya kwkwkwkw
 /gg

Spoiler for Hiden:
Dulu ia dikalahkan karena tidak tahu kelemahan lawannya, tapi situasi berbeda sekarang. Dengan cepat, ia mengambil kartu as-nya dari balik hakamanya dan melemparkannya ke arah Josephine.

TUK.

Suasana menghening selama beberapa saat tanpa ada seorangpun yang membuka mulutnya. Kacang itu tepat mengenai dahi Josephine, tapi tidak terjadi apa-apa, tidak ada efek apa pun. Dan sekarang Squad –masih dengan senyum kemenangan, yang kini berubah menjadi senyum bodoh— pun sadar, kalau lawannya bukan Oni, meskipun bos dari para Oni.
ngakak aku  :laugh: :laugh:
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #23 on: February 13, 2011, 07:47:17 PM »
*clap clap clap*
naisu ending XD
caranya squad ngalahin Josephine awalnya rada...kocak :laugh:

ending yang sangat manusiawi dan wajar, tp ttp menarik XD
berarti satu ini clear yah :hi:

tunggu pembukaan pollingnya besok pagi :hi:

Watching you from afar...and will always love you...
We're always here for you...
[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ]

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #24 on: February 13, 2011, 09:32:26 PM »
Uooooo Alceus-chan kereeennn!!!
1-1nya FanFic yang squad nda mati! *walaupun mizura juga sepertinya ngga mati squadnya, di dalem kost2an anak sma gitu
wkwk
Anak utopia cinta damai yaa~
wkwkwk

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2974
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #25 on: February 13, 2011, 09:36:02 PM »
*ngeliat post diatas saya*
njleb.. tega kau squad.. katanya gpp dibunuh cewek manis  ;_;
tapi yang punya alceus keren. apakah akhirnya Squad x Josephine di penjara?  :puppyeyes: *ngacir sebelom ditimpuk*
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince

Recently playing
Closers: Junghwa (Miyeon, Hawthorn, Donghan)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #26 on: February 13, 2011, 09:53:42 PM »
niat awalku sbnrnya pingin buat adegan motor2an, terinspirasi dr speed legend nya rdp master..
tp ntah knp gagal dan malah kurang kesorot XD
susah bikin adegan action sih.. ^^a

@yukika
ahaha tq.
tadinya pingin bikin yg gak trlalu hepi ending, mau squad korbanin diri mati sama2 jatoh ke dlm volcano bersama dg jose, jewel, dan taikonya.
tp punya fafa udh ngenes (dan trnyata squad the detective jg).
dan ngeliat dongeng mizu, akhirnya jadilah bikin hepi ending ala dongeng, 'and they live happily ever after'. XD

@alve
ahaha, salah 1 bagian favoritku XD
ntah knp pingin nyelipin adegan bodoh di situ ^^a

@sachi
yap, aku sih cari aman yg manusiawi aja d, bingung mikir yg ribet2 XD

@Squad.
ya namanya jg utopia a.k.a tanah impian.
ya cinta damai dong XD
Btw kau bawa ring gini, jd sadar..
kok kayak 2 vs 2 utop-camara ya? =P
*kabuuur

@saljuhitam (ntah knp aku demen mengindonesiakan nick ini XD )
pasti dipenjara dong.
2 tuntutan.
1. bandit peresah masyarakat.
2. manggil aku dg chan :angry:
hapily ever after itu hanya 'mungkin' dan 'harapan' squad, tp aslinya gak mungkin.
gara2 no.2, dia dihukum penjara sampe akhir hayatnya :santai:

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #27 on: February 13, 2011, 10:04:13 PM »
kereen....
sasuga alceus-cha----
maksudku alceus-san... wahahahha XD XD
aku langsung merasa pesimissss aaargh
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline ConRaD

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 148
  • Cookie: 45
  • ConRaD Bluefire (バガボンド)
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #28 on: February 14, 2011, 02:24:39 PM »
ui Alceus "terimalah Vote dari gw"

haghaghag gw bener2 suka ni critanya asli ngakak  /gg
* i'm not gonna live by what i see
* i'm not gonna live by what i feel
ConRaD Bluefire

Offline michelot

  • Loveable Starter
  • Posts: 9
  • Cookie: 45
  • Pray
Re: [ECO FanFic] God of Lightning
« Reply #29 on: February 19, 2011, 04:37:43 PM »
hihihi, kk al critanya lucu
kok gag ad adegan temen2nya ngunjungin k penjera trus ikut d tangkep?
hahahha XD

MaidenRoze ~UTOPIA~ 8x/4x