Author Topic: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake  (Read 19210 times)

Offline Michelle99

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 102
  • Cookie: 45
  • bunuh dalam satu serangan
[ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« on: April 03, 2011, 09:35:58 AM »
Oke, FanFic ini dibuat untuk lomba bikin fanficnya squad yang kedua                                   

ntah kenapa ini bug... kalo ceritanya saya taruh dibawah chara list ga muncul  :omg2:
       
         “Semua ini karena perang.” Sejak dulu kata-kata itu terus terngiang di kepalaku, hampir setiap saat.

   Ya, aku hidup di negara yang penuh dengan peperangan. Sejak kecil darah sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku. Orangtuaku sudah meninggal bahkan sebelum aku dapat mengingat wajah dan nama mereka. Jadi, aku, bayi yang ditinggalkan ini, tergolek di tanah. Pasrah. Berharap ada yang menemukanku dan merawatku. Dan impian itu terkabul…

   Dominique. Seorang anak laki-laki berambut hijau panjang dan bermata ungu. Anak yang bernasib sama denganku. Dia menolongku, membantuku, mengajarku, dan menopangku. Aku menganggapnya pahlawanku. Kami berjalan, mencari makan, dan sebisa mungkin menghindari perang disana-sini berdua. Selalu berdua. Kami banyak berbicara, dan akhirnya aku tahu banyak tentangnya. Dia berasal dari negara sebelah, negara yang selalu berperang dengan negaraku. Namun aku tidak membencinya karena itu. Tapi bila kutanya lebih jauh, seperti bagaimana dia bisa ada disini, atau semacamnya, dia hanya diam. Mata ungunya menerawang jauh. Lalu suatu hari…

   “Domini-“ bisikku perlahan. Aku melihat seseorang di dekat kami. Dia terbaring lemas di tanah.

   “Ada orang. Ya, aku tahu.” selanya sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Tentu saja dia tahu. Dia yang melatihku supaya tahu kalau ada orang di dekat kami. Dominique pun berjalan mendekati orang itu dan berjongkok di sampingnya.

   “Perempuan?” tanyaku ragu. Aku belum pernah melihat perempuan, jadi aku tidak tahu apa yang membedakan perempuan dan laki-laki. Pokoknya beda. Itu yang aku tahu. Tapi… Orang ini… Tubuhnya kecil. Rambutnya panjang. Memang rambut Dominique juga panjang, tapi ini lain. Seperti inikah perempuan? Aku menoleh penasaran ke arah Dominique yang sedang berusaha untuk mengobati orang itu.

   “Perempuan.” kata Dominique, seakan mengetahui pikiranku. Dia memang hebat! Kalau aku sudah lebih besar aku akan menjadi seperti dia!

   “Ukh…” Perempuan itu bangun perlahan. Tampaknya ia kesakitan. Mata hijaunya mengernyit. Dia merapikan rambut birunya yang panjang dan terawat indah.

   “Kamu tidak apa-apa?” dengan sigap Dominique membantu perempuan itu berdiri. Wow… pikirku. Jadi seperti inikah bentuk perempuan? Mataku menyusuri setiap bagian tubuhnya, mencoba melihat, bagian manakah yang membedakan laki-laki dan perempuan. Seketika itu juga mataku tertuju pada dadanya. Ada sesuatu yang menonjol disitu. Aku terus memperhatikannya penasaran.

   “Eh…” Tampaknya perempuan itu menyadari kalau aku memperhatikan dadanya. Wajahnya memerah, seperti tomat.

   PLAK! Heh? Aku ditamparnya? Aku hanya memegangi pipiku yang merah. “Kenapa..?” tanyaku bingung. Perempuan itu memandangku garang lalu berkata,

   “Dasar mesum!” wajahnya semakin memerah. Tampak… Lucu. Dominique hanya memperhatikan kami sambil tertawa terpingkal-pingkal. Aku menatapnya heran. Wajah merah perempuan ini memang lucu, tapi tidak selucu itu kan?

   “Err… Nona, Maafkan temanku ya. Dia belum pernah melihat perempuan sebelumnya, jadi…” Dominique mengulurkan tangannya, tanda minta, maaf, mungkin? Sial. Aku masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Dominique.

   “Ah, ya… Err… namaku Syvia Dianemeiser, terima kasih sudah menolongku…” Perempuan itu menjabat tangan Dominique, berarti dia memaafkanku? Lagipula salahku apa sih?

   “Ah, kami… Aku Dominique Xanderweiss… Dan dia Xenocrest Exidio.” Benarkah? Xenocrest Exidio? Apakah itu namaku? Selama bertahun-tahun aku hidup aku bahkan tidak tahu bahwa namaku adalah Xenocrest. Lalu, tiba-tiba Syvia tampak bingung.

   “Oh iya! Aduh, adikku ada dimana ya..?” teriaknya panik. Dia mulai berlari kesana-sini. Kalau diperhatikan gaya perempuan berlari lucu juga ya. Eh tapi dia bukan berlari sih. Lebih tepat disebutkan melayang. Aku tidak tahu kenapa dia bisa terbang, mungkin karena sayap di punggungnya? Tapi Dominique juga punya sayap dan tidak bisa terbang. Sedangkan aku, aku tidak punya sayap, atau ekor, atau lingkaran di atas kepalaku. “Aduh… Mestinya dia ada di sekitar sini…”

   “Apakah itu-“ kataku ragu sambil menunjuk perempuan yang tampak pingsan di tanah.

   “Lyvia! Ya ampun… Kamu tidak apa-apa kan?” Syvia melesat untuk berjongkok di samping adiknya dan mulai menggumam. Dominique pun mengeluarkan peralatan pengobatannya dan mulai mengobati adik Syvia, yang kalau tidak salah bernama Lyvia.

   “Kakak? Kalian… Siapa?” Akhirnya Lyvia terbangun. Aku memerhatikannya takjub. Ternyata ada juga perempuan yang… Semanis ini. Mata hijaunya tampak lugu, rambut ungunya yang dikuncir dua menambah kesan imut.

   “Lyvia! Oh Lyvia… Kamu sudah sadar? Iya, ini kakak… Ini Dominique dan Xenocrest… Mereka penolongmu.” cerocos Syvia cepat.

   “Oh…” gumam Lyvia pelan. Dia bangkit dari tanah perlahan.  “Dominique dan Xenocrest, terima kasih. Namaku Lyvia Dianemeiser.”

   Singkatnya, itulah bagaimana kami berempat bertemu.

Chara List :

Xenocrest Exidio
Spoiler for personality:
Tokoh utama cerita ini yang menderita karena perang. Dulu pemalu dan tidak banyak omong, namun sifatnya berubah karena sesuatu...


Dominique Xanderweiss
Spoiler for personality:
Sahabat Xenocrest yang selalu membantu dan menghiburnya kalau ada masalah. Dia ceria dan humoris, kebalikan dari Xenocrest.

Syvia Dianemeiser
Spoiler for personality:
Perempuan yang ditemukan dalam pengembaraan Xenocrest dan Dominique. Selalu bersemangat namun gampang panik.

Lyvia Dianemeiser
Spoiler for personality:
Adik Syvia. Lembut, kalem, dan feminin. Namun kurang bagus dalam pekerjaan rumah tangga.

Zachary Vackbreun
Spoiler for personality:
Komandan tentara gerilya negara asal Xenocrest. Baik dan tegas

William Vackbreun
Spoiler for personality:
Komandan tentara gerilya negara asal Dominique. Haus darah dan agak Psycho
« Last Edit: June 01, 2011, 03:46:53 PM by sacchan_magician »

Offline Arcanum

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 803
  • Cookie: 0
  • ........
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #1 on: April 03, 2011, 09:49:36 AM »
Quote
Oh…” gumam Lyvia pelan. Dia bangkit dari tanah perlahan.  “Dominique dan Xenocrest, terimakasih. Namaku Lyvia Dianemeiser.”

"terima kasih" spasinya kurang  @_@
« Last Edit: April 03, 2011, 09:50:36 AM by Arcanum »
The past is a History, Tomorrow is a Mystery, and Today is a Gift

Ligoya - Pesulap Jalanan

Offline Michelle99

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 102
  • Cookie: 45
  • bunuh dalam satu serangan
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #2 on: April 03, 2011, 09:52:54 AM »
oke, thx udah diedit kk.
ntah kenapa udah kebiasaan nulis terima kasih ga pake spasi... wkkwk :laugh:

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #3 on: April 03, 2011, 10:03:45 AM »
good good XD
lanjutkan ya! chapter 1 please! :puppyeyes:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline chievo

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 154
  • Cookie: 47
  • ~ Farewell ~
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #4 on: April 03, 2011, 10:08:45 AM »
wow... again, sudut pandang pertama.

keyeeeennnnn............ lanjutkan  XD
I think this is the time to say enough...

Offline Michelle99

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 102
  • Cookie: 45
  • bunuh dalam satu serangan
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #5 on: April 03, 2011, 10:35:04 AM »
Oke, sesuai request dari cc Mizura, inilah chapter pertama... :hi:

Chapter 1 : What Happened After...

   Syvia mati. Itulah penjelasan paling singkat tentang apa yang terjadi setelah kami bertemu, berkenalan, dan berteman. Aku tak ingin mengingatanya namun mau tak mau pikiranku mengulang kejadian saat itu….

   “Ayo, kita pergi.” Kata Syvia setelah kami semua beristirahat. Luka-lukanya dan Lyvia pun sudah sembuh. Kami berempat pun berjalan tak tentu arah sambil mencari informasi. Kami ingin pergi ke kota Acropolis di negara Acronia yang indah. Kami dengar kami bisa berubah job disana. Lalu ada seorang merchant yang menawari untuk mengantarkan kami ke Acropolis dengan… Ukh… Taman terbang? Rumah terbang? Atau apalah itu… Kami pun naik… Dan sampailah kami di Acropolis.

   “Wow! Keren! Jadi seperti ini ya kota Acropolis itu…” Seperti biasa, Syvia yang paling bersemangat. Berlarian kesana kemari, melihat-lihat bangunan megah… Setelah kami bertanya ke beberapa orang, akhirnya kami berjalan bersama ke bangunan putih besar di tengah kota. Kalau tidak salah penduduk disini menyebutnya Guild Palace. Aku dan Dominique pergi ke lantai dua, Syvia ke lantai tiga, dan tadi Lyvia berbelok ke gereja di kanan bangunan Guild Palace ini. Jadi, aku dan Dominique memilih menjadi Scout, Syvia menjadi Shaman, dan Lyvia menjadi Vates. Setelah kami berkeliling sekitar Acropolis sambil membunuh monster-monster, kami pun memutuskan untuk pulang, mencari seseorang yang mau dijadikan tumpangan. Akhirnya kami pun menaiki rumah terbang yang ternyata bernama Airship itu, kembali ke negaraku. Segera setelah kami turun dari Airship itu, kami dikepung oleh pasukan dari negara tetangga, negara tempat kelahiran Dominique, Syvia, dan Lyvia. Entah kenapa pasukan itu mulai menyerang kami dan….

   Syvia mengorbankan nyawanya untuk melindungi kami. Kami bertiga hanya bisa lari, kabur meninggalkan pasukan itu dan mayat Syvia.

   Setelah kami lolos dari kejaran pasukan itu, kami berdiam di hutan terpencil yang katanya penuh binatang buas. Lyvia menangis selama berhari-hari. Hatiku miris melihatnya. Aku ingin Lyvia selalu bahagia, dengan cara apapun. Saat itulah aku sadar bahwa aku mencintainya. Aku ingin ia selalu tersenyum… Karena senyumnya adalah senyum yang terindah di dunia… Lebih dari apapun. Namun waktu Lyvia sedih, tidak ada yang dapat menghiburnya. Bahkan Dominique, si badut itu pun tidak dapat menghiburnya.

   Aku berubah. Melihat Syvia meninggal dan Lyvia sedih, aku berubah. Aku ingin menjadi lebih kuat… Untuk melindungi Lyvia. Supaya Syvia bisa bangga kepadaku… Yang telah melindungi adiknya tersayang…

   Jadi aku dan Dominique terus berlatih, sambil tetap bersembunyi dari pasukan negara tetangga. Ketika kami sudah cukup kuat, kami kembali ke Acropolis untuk berubah job menjadi Assassin dan Lyvia menjadi Druid. Kami kembali diam-diam supaya tidak ketahuan pasukan itu, dan kami melamar menjadi tentara di negaraku… Supaya hidup kami terjamin… Itu cara paling mudah supaya Lyvia tetap hidup. Supaya Syvia bisa tenang disana…

   Menjadi tentara itu gampang-gampang susah. Gampangnya, kami bisa semakin banyak berlatih untuk menjadi kuat… Masuk tentara sekarang ini juga mudah karena memang negaraku membutuhkan banyak tentara. Susahnya, aturan hidup yang ketat. Namun aku, Dominique, dan Lyvia sudah terbiasa seperti ini karena semasa hidup kami kami tidak pernah hidup tenang. Namun kami menikmati hidup kami sebagai tentara. Sampai peristiwa berdarah itu terjadi…

   Pasukan gerilya dari negara tetangga menyerbu pangkalan kami. Kami waktu itu belum ada persiapan sama sekali. Namun, berkat kecerdikan Dominique kami berhasil lolos. Tetapi… Semua teman kami di pangkalan terbunuh. Bahkan panglima Isaac yang baik dan kuat itu.

   Aku semakin berubah. Aku jarang berbicara, hanya kalau ada yang penting saja. Aku belajar untuk tenang dan cerdik dalam menghadapi segala sesuatu, dan… Aku tidak pernah tersenyum lagi. Mungkin kalau Lyvia tersenyum, aku hanya bisa mengangkat bibirku sedikit. Entah kenapa rasanya bibirku ini semakin berat untuk diangkat dan dibuka seiring waktu berjalan.

   Kami berhasil menjadi tentara gerilya paling kuat disini. Perang demi perang kami lalui dengan mulus, berkat kerjasama kami yang kuat. Kalau kami tidak bekerjasama dengan baik, mungkin saat ini kami sudah berada di tumpukan mayat perang tak dikenal, bertemu dengan Syvia. Tidak. Masih belum waktunya untuk bertemu Syvia. Aku masih belum bisa membahagiakan Syvia.

   Itulah apa yang terjadi.
« Last Edit: April 03, 2011, 12:03:34 PM by Michelle99 »

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #6 on: April 03, 2011, 11:02:10 AM »
haduh, jadi terharu deh, ngepost chapter 1 cuma buat aku hahahaha *kok rasanya aku GR ya*

tapi... chapter 1 sedihnya.... T^T
oh iya, sekedar koreksi dikit. 'bertgia' seharusnya 'bertiga' :)

go go go chapter 2!
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Michelle99

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 102
  • Cookie: 45
  • bunuh dalam satu serangan
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #7 on: April 03, 2011, 11:46:32 AM »
hohoho emang bwt cc kok :laugh:
yak dan chapter dua ini juga buat cc mizura

Chapter 2 : No Ordinary Day


   Aku duduk berdua di depan api unggun bersama Dominique, menunggu Lyvia selesai memasak sambil merencanakan serbuan kami yang berikutnya.

   “Makanan siaap~” kata Lyvia sambil membawa panci berisi kare kesukaanku. Lyvia mengambilkan nasi dan menuangkan kare di piring untuk kami. Dominique dengan cepat menyambar piring itu. Lyvia tertawa kecil, aku mengambil piring itu dengan hati-hati.

   “Hoeek… Lyvia! Kau memasukkan apa ini ke kareku?” kata Dominique sambil memegangi perutnya. Aku mengernyitkan mata dan mencoba kare itu… Ukh… PEDAAS! Ya ampun…

   “Tidak enak ya…” kata Lyvia murung. Aku hanya diam, merasa bersalah. Tuh kan, mana bisa aku membahagiakan Lyvia.

   “Ah tidak apa-apa, perutku sudah terbiasa kok.” Dominique mengusap rambut indah Lyvia. Perutku yang sudah panas terasa semakin panas. Aku cemburu. Lyvia hanya diam, merebahkan kepalanya di pundak Dominique manja.

   TANG! Aku menjatuhkan sendokku. Aku semakin cemburu. Aku ingin sekali mengambil sendok itu dan melemparkannya ke kepala Dominique. Namun aku tidak bisa. Dominique dan Lyvia tidak bersalah. Akulah yang bersalah… Salahku sendiri yang tidak bisa ceria dan humoris seperti Dominique. Aku mengambil sendokku dan melanjutkan makanku, sebisa mungkin tidak memperhatikan Dominique dan Lyvia. Saat selesai, aku mencuci piringku di sungai dekat pangkalan kami, dan aku mendengar sesuatu.

   “Kamu dengar kan?” bisik seseorang. Tampaknya ia berada di balik semak-semak di seberang sungai.

   “Apa?” balas orang kedua.

   “Dominique, Xenocrest, dan Lyvia… Mereka akan dipromosikan…” Aku memekik tertahan. Akhirnya kerja keras kami membuahkan hasil yang cukup! Aku mengeringkan piringku dan kembali untuk memberitahu Dominique dan Lyvia.

   “Hey! Tadi di sungai aku-“ Kali ini bukan sendok lagi yang kujatuhkan, namun piring. Lebih parah lagi, jantungku serasa lepas dari tempatnya, jatuh menyentuh tanah. DEG.

   Dominique dan Lyvia tampak berpelukan, wajah mereka semakin dekat. Namun mereka sadar, dan menoleh ke arahku.

   “Ada apa, Xen? Tidak biasanya kamu tampak sesemangat ini…” kata Lyvia sambil pura-pura membereskan piring Dominique. Wajahku merah padam.

   “Eh… Aku dengar bahwa kita akan dipromosikan…” kataku, menunduk menyembunyikan wajahku yang merah padam. Dominique bersorak girang dan memeluk Lyvia lagi. Aku memalingkan muka, berjalan kembali ke pangkalan. Hatiku serasa terbakar melihat mereka bermesraan. Tiba-tiba…

   “SERANGAN MENDADAK! HARAP SEMUA BERSIAP!” teriak seseorang dari dalam pangkalan. Aku mencabut Psycho Gun-ku, bersiap. Aku kembali dan memberitahu Lyvia dan Dominique. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu Dominique… Namun memberitahu Lyvia sama dengan memberitahu Dominique. Bodohnya aku yang tidak menyadari kedekatan mereka selama ini, kukira mereka hanya sahabat. Apa karena aku menutup diri akhir-akhir ini? Ah, sudahlah… Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus siap menghadapi serangan ini! Dominique pun sudah siap dengan Pang Claw-nya. Kami berjalan beriring, membiarkan Lyvia tetap di garis belakang.

   Ternyata yang menyerang adalah pasukan negara tetangga yang pernah mengejar kami. Mereka merasa sudah menang ketika melihat kami muncul di garis depan. Namun mereka salah. Kami sudah berubah. Kami jauh lebih kuat dari kami yang dulu kabur dari mereka dengan mengorbankan nyawa Syvia. Lyvia terisak ketika melihat pasukan itu. Mungkin dia teringat kakaknya. Ingin sekali aku memeluknya dan mengusap kepalanya, namun sudah dilakukan oleh Dominique terlebih dahulu.

   Aku menghujani pasukan itu dengan seberondong Gold Bullet yang keluar dari Psycho Gun-ku, Dominique menggunakan Cloaking dan menyerang pasukan itu dari belakang. Sudah beres. Lyvia menyembuhkan luka-luka ringan kami. Tapi aku baru sadar… Dimana teman-teman sepasukan kami? Aneh… Lalu siapa yang tadi bilang ada serangan mendadak?

   “Xenocrest Exidio! Dominique Xanderweiss! Lyvia Dianemeiser! Kalian masuk ke ruanganku!” panggil jenderal pasukan gerilya negaraku, Zachary Vackbreun yang keturunan bangsawan itu. Kami bertiga berjalan pelan menuju ruangannya. “Serangan tadi adalah untuk mengukur kemampuan kalian.” katanya segera ketika kami bertiga sudah berada di dalam ruangan sesak tersebut. Ruangan itu penuh dengan pedang, tombak, perisai dan masih banyak lagi.

   “Hah? Maksud… Jenderal?” tanya Dominique bingung. Jenderal Zachary hanya tersenyum kecil.

   “Aku yakin kalian sudah mendengar bahwa kalian akan mendapat promosi.” kata Jenderal Zachary sambil menatapku. Aku hanya mengangguk. “Tapi sebelum kalian dapat dipromosikan… Aku harus mengetes kalian terlebih dahulu. Jadilah serangan mendadak itu sebagai alat penguji kalian,” jelas Jenderal Zachary.

   “Tapi bagaimana anda tahu kalau mereka akan menyerang malam ini?” tanya Dominique penasaran. Dia menatap Jenderal Zachary lekat-lekat.

   “Sebenarnya aku tidak tahu. Hahaha.” jawab Jenderal Zachary santai. “Ah sudahlah, kalian sudah mendapat promosi menjadi panglima tentara gerilya.”

   “Kenapa kami dipromosikan?” tanya Dominique. Seketika itu raut wajah Jenderal Zachary berubah serius. Dia membuka brankas yang ada di pojok ruangan dan mengeluarkan secarik kertas.

   “Kalian baca saja ini…” katanya sambil menyodorkan kertas itu. Kami bertiga membaca kertas itu bersama-sama.

   “!” jerit Lyvia tertahan. “I-Ini… Bukankah…” katanya tergagap. Jenderal Zachary mengangguk pelan.

   “Ya. Benar.”  kata Jenderal Zachary dengan raut wajah agak… Ketakutan.
« Last Edit: April 03, 2011, 12:25:21 PM by Michelle99 »

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #8 on: April 03, 2011, 11:57:43 AM »
hayo, setelah selesai dialog pake tanda koma.... dan kalo abis pake tanda titik, jangan lupa kapital.

overall bagus!
kasihan si Xeno. terbakar api cemburu. ciakakakakakaka
Lyvia itu berarti druid ya?

sekarang aku ga bakalan minta update lagi, kasihan cc michelle T^T
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline Michelle99

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 102
  • Cookie: 45
  • bunuh dalam satu serangan
Re: [ECO FanFic]For My Country and Love's Sake
« Reply #9 on: April 03, 2011, 12:05:59 PM »
hayo, setelah selesai dialog pake tanda koma.... dan kalo abis pake tanda titik, jangan lupa kapital.

overall bagus!
kasihan si Xeno. terbakar api cemburu. ciakakakakakaka
Lyvia itu berarti druid ya?

sekarang aku ga bakalan minta update lagi, kasihan cc michelle T^T

he? yg mana? :confuse:

wkwkwk emang wkwkkw
ho oh druid, udah disebutkan tuh di ch 1

gapapa, saya tidak keberatan ^^