Author Topic: [ECO Fanfic] Infiltration [END]  (Read 19423 times)

Offline w_maynardy

  • Loveable Starter
  • Posts: 6
  • Cookie: 45
  • New Baby's Born
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #20 on: April 10, 2011, 06:33:32 PM »
Ditunggu kelanjutannya yah ^^ semangat ya...
Beliial- Commando Lv 96            * SatanZ- Druid Lv 89
Beliial- Assassin Lv 72                *Luchifer- Bard Lv 84
Leviiiathan- BladeMaster Lv 90  *4FOUR4- BladeMaster Lv 85 
6SIX6- Gunner LV 82                 (For Vending 1ONE1, 2TWO2, and 3THREE3)

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #21 on: April 10, 2011, 10:33:39 PM »
huhu.. tadi di chat ring dijejelin ini itu ttg handgun. jadi saya mau kasi penjelasan yang kurang bertanggung jawab mengenai handgun di fanfic saya @_@

buat yang ngerti ttg handgun, mungkin antara pistol ama pelurunya kurang nyambung tepatnya magnum bullet kaga bisa dipake buat wildey (kalo ga salah harusnya pake winchester apa gitu pelurunya). jadi anggaplah di fanfic saya ini, anything is possible writer poweeer!

maapkan jawaban tidak bertanggung jawab saya ini, para pecinta handgun  :cry:
tau gitu dari kemaren ol di gemein deh :(
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #22 on: April 11, 2011, 04:17:58 PM »
nice nice nice update! apalagi bagian2 pistol :puppyeyes: saya suka pistol tapi ga tau jenis2 pistol :cry:
i demand moar moar and moar!! :puppyeyes:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #23 on: April 11, 2011, 04:36:58 PM »
sama miz, saya juga kurang tau. baru mulai baca baca sedikit doang tentang handgun dan sejenisnya. dan taunya yang first post di page 3 ini tau banyak tentang handgun D:

dikarenakan udah mau UAN, mungkin next chapter adalah last chapter.  :cry:    dua minggu lagi hau..
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline Fragile7

  • Elder
  • Follower of Words
  • *
  • Posts: 137
  • Cookie: 45
  • Umm...Nothing.
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #24 on: April 13, 2011, 09:30:25 PM »
Yak naisu~ haha paling suka yang bagian asal colek racun mau dimakan wakakaka. Cepetan update next chapter ato gua sirem cabe nih :P
......eh? 
masih 999% seksian suara asli gw ah
ada yang mau coba gw bisikin?
BISIKIN AKU BISIKIN AKUUUUUU

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #25 on: April 15, 2011, 04:21:40 PM »
Author's Note :
sebelum membaca ini
Warning : Contains gore! silakan skip dan tunggu teman anda menceritakannya jika anda tidak suka gore :(
tembus 2k words finally
dan akhirnya tinggal epilog  :D  :D maap jika battlescenenya jelek ya  ;_;



Disclaimer :

Xenocrest belongs to squad
Scout Master, Philip/Cafe Master, Emil, Hinmel belongs to Emil Chronicle Online
Vannya belongs to Vannya (Nita)
Felicia Fang belongs to bocil

Fanfiction 'Infiltration' © KuroYuki 2011

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED



Chapter 2 : Rebel

Hinmel melirik ke arah pintu. Di tempat itu, kini berdiri seorang perempuan dengan sayap dan ekornya yang berwarna hitam khas seorang Dominion. Perempuan itu memiliki rambut berwarna merah yang dipotong pendek sampai lehernya. Bajunya tampak sangat minim dan lentur, memudahkannya untuk bergerak bebas. Ia melirik tepat ke arah Xenocrest dan Hinmel yang sedang Cloaking di ujung ruangan itu, entah bagaimana caranya.

“Xenocrest, Hinmel. Aku tahu kalian di sini, tidak perlu bersembunyi kok. Percuma.” Ujar perempuan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari sudut ruangan tempat kedua Assassin itu berdiri.

“Bagaimana ini?” tanya Hinmel.

“Aku akan muncul, kau tetap Cloaking dan hubungi Violeta. Aku akan mengulur waktu sampai kau selesai menghubungi mereka. Lakukan secepat mungkin. Kalau sudah selesai, langsung muncul saja jauh dari tempat kita berdiri.” Bisik Xenocrest.

“Ta-tapi dia-“

“Cepat lakukan saja!”

Perlahan Assassin berambut pirang itu muncul. Mulai dari kepala pirangnya yang memakai Earplug putih dan Receiver, lalu Muffler hitam dan jaket Guerillanya. Sampai sepatu boot kehijauan miliknya. Perempuan di hadapannya tersenyum, bertolak belakang dengan ekspresi Xenocrest yang kusut seperti orang yang punya masalah pencernaan. Ia mundur satu langkah dan menggenggam Psycho Gun kesayangan Hinmel erat-erat.

“Kenapa kau bisa tahu kami ada di sini?” tanya Xenocrest dengan posisi siaga.

“Ya ampun, kau itu idiot atau apa sih? Kan aku yang menyuruhmu kemari!” jawab perempuan itu santai sambil memainkan beberapa tabung reaksi di ruangan itu.

“Scout Master tidak pernah meninggalkan kantornya. Apa maksudmu dengan datang kesini dan mengikutiku sampai ke tempat ini?” tanya Xenocrest lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit mengancam.

Pikiran Xenocrest campur aduk. Mulai dari memikirkan situasi dan kondisi, sampai memikirkan skenario terburuk dari kehadiran Scout Master di tempat itu. Semakin lama ia menunggu jawaban dari Scout Master, semakin banyak pikiran negatif yang memasuki otaknya.

“Aduh, kau itu curiga sekali sih? Ya baguslah kalau begitu, berarti aku memilih orang yang tepat.” ujar Scout Master, tetapi kali ini senyumnya berubah menjadi seringai yang menyeramkan untuk ukuran seorang wanita.

“Apa?”

“Yaak! Yang lagi utak-atik radio di sana! Coba jawab, apa penghasilan terbesar dari Scout Guild?” tanya Scout Master dengan nada ceria sambil menunjuk Hinmel yang tanpa sadar sudah menghabiskan durasi Cloakingnya dengan berjongkok di sudut ruangan sambil mengutak-atik radio di tangannya.

Darah segera naik ke ubun-ubun Xenocrest. Ia menarik napas lalu mendekatkan diri ke telinga Hinmel, “Dasar idiot! Kenapa kau tidak minum Stamina Potion lagi, hah?! Sudah ketahuan, posisi munculmu itu nggak banget tahu!” teriak Xenocrest sekeras mungkin di telinga Hinmel, membuat telinga pemilik rambut perak itu sakit selama beberapa saat.

“Ayolah, sesama anggota kerja tidak boleh berantem. Itu sudah kuajari kan? Ayo jawab saja pertanyaanku yang tadi !” sela Scout Master.

“Menjadi mata-mata, bodyguard, dan pembunuhan.” Jawab Hinmel sambil mengusap telinganya yang masih sakit.

“Yak, benar sekali!” respon Scout Master. “Dengan kemampuan bersembunyi yang cukup, kita sebagai Scout Class memiliki kemampuan bertarung yang cukup dan bisa digunakan sebagai mesin perang yang cukup tangguh.”

“Lalu apa hubungannya denganmu yang ada di sini?” tanya Hinmel sambil menggaruk kepala.

Saat itu, otak Xenocrest berpikir dengan kecepatan tinggi. Berbagai jawaban muncul, dan semuanya bermakna negatif. Ditambah dengan seringai Scout Master yang kembali muncul menghiasi wajahnya, membuat pikiran negatif itu semakin menjadi-jadi.

“Sebagai mata-mata dan ahli membunuh, kita mempelajari racun. Kau menjual potasium sianida dan rencana perang kepada Arthur, di sisi lain kau menyebar gosip mengenai penyerangan Morg kepada Republik Iron South agar mereka menyewa kita untuk menolong mereka!” ujar Xenocrest.

Tepuk tangan dari Scout Master memecah keheningan. “Yak, betul sekali! Xenocrest memang pintar! Dan sudah kuduga kau akan jadi penghalang, makanya kau kukirim ke sini dan menggunakan skenario lain untuk menjebakmu. Ternyata aku memang lebih pintar, ya!”

BRAAK!

“Dan aku juga tahu kalau dari tadi kau menyalakan radiomu lalu mengirim percakapan kita kepada Violeta. Iya kan, Hinmel?” ujar Scout Master dengan nada rendah. Sebuah pisau menancap di radio yang berada tepat di sebelah kaki Hinmel, pisau dengan lambang Scout Guild.

Satu-satunya harapan kedua Assassin itu kini telah dihancurkan oleh Scout Master. “Yah, meski kalian mengirim percakapan itu juga percuma.”ujar perempuan itu lagi sambil memainkan pisau lemparnya.

Xenocrest terperanjat kaget, ia segera meraih kerah baju Hinmel dan menariknya melewati Scout Master. Kedua Assassin itu segera melewati terowongan lembab tadi, tanpa memperdulikan betapa licinnya permukaan tempat mereka berpijak. Setelah mereka keluar dari jalan rahasia di belakang rumah Diermant, mereka segera berlari sampai ke rumah Violeta.

Sesampainya mereka di depan rumah Violeta, suasana sepi yang tidak wajar menyelimuti tempat itu. Dengan hati-hati mereka memasuki ruangan itu dengan pistol yang siap di tangan mereka. Hinmel mengintip dari jendela untuk memastikan keadaan. Ruang depan kosong. Kemungkinannya Violeta dan Jiggi bersembunyi, disekap di dalam, atau mereka berdua kabur. Kemungkinan terburuk, kini tempat itu dikuasai bawahan Scout Master, lalu Violeta dan Jiggi sudah tumbang.

“Yang penting ruang depan kosong.” Bisik Xenocrest.

Xenocrest membuka pintu itu dengan perlahan , dan keduanya memasuki ruangan itu tanpa suara. Ruang depan rumah itu tampak rapi, tidak ada tanda-tanda perlawanan dari kedua belah pihak. Berbagai tanda tanya muncul di kepala Xenocrest dan Hinmel, sampai akhirnya Hinmel menginjak lantai kayu yang tampak berbeda dari lantai kayu lainnya.

Tok

Lantai kayu itu diketuk satu kali oleh Hinmel. Tidak lama kemudian ia ketuk lagi, dan diketuk lagi, dan lagi hingga membentuk suatu pola ketukan tertentu. Sampai akhirnya ada ketukan balasan dari balik lantai kayu itu yang membuat Xenocrest kaget setengah mati.

“Hah?! A-ada orang di bawah?” ujar pria bermodel rambut Valentine itu. Tampaknya ia masih terkejut.

“Tentu. Morg itu termasuk negara yang politiknya kurang stabil dan mudah terjadi perang. Aku dan anggota Fighter Guild di sini membuat suatu tempat rahasia untuk berkumpul.” balas Hinmel pelan.

Kemudian Hinmel beranjak menuju sebuah ruangan yang segera dikenali sebagai kamar tidur Hinmel. Kamar yang berantakan dan dipenuhi dengan buku-buku manual mengenai berbagai macam senjata api. Setelah Hinmel menyingkirkan tumpukan buku manual senjata api dan buku katalog yang dipenuhi dengan gambar senapan, menyisakan sebuah kotak yang bergambar pistol berwarna perak. Hinmel menggeser kotak itu.

Klang! Kreek!

Suara aneh terdengar di bawah meja kerja Hinmel dan kedua Assassin itu berjalan ke sana. Kini di bawah meja itu terdapat sebuah pintu yang menuju ke bawah tanah. Dahi Xenocrest berkerut.

“Hinmel, bagaimana Fighter Guild Morg bisa membangun tempat seperti ini? Di Acropolis City saja tidak ada!” tanya Xenocrest.

“Ha! Jangan meremehkan Fighter Guild lokal ya! Nanti saja kujelaskan di dalam. Kalau di sini bisa ketahuan Scout Master. Sejujurnya omongannya tadi itu hanya menggertak sih. Sejak tempat ini dibangun, tidak ada yang mengetahuinya selain anggota Fighter Guild yang bisa dipercaya.” Ujar Hinmel bangga, “Ah tapi ditambah beberapa Spell User dan Backpacker juga ada sih. Jadi semacam organisasi rahasia.”

Keduanya segera menuruni tangga yang lurus dan gelap. Tepat ketika kepala Xenocrest melewati pintu masuk, sebuah lempengan besi segera meluncur melewati kepalanya, menutup rapat tempat itu tanpa menyisakan cahaya sedikitpun. Tidak sampai satu menit, kaki Xenocrest akhirnya menyentuh tanah markas rahasia itu. Keadaan sekelilingnya masih gelap gulita, Hinmel mengambil sebuah flash stick dari tasnya dan mematahkannya. Sinar berwarna oranye segera menyebar di tempat itu. Tampak sebuah pintu besi yang sangat kokoh, persis seperti pintu masuk organisasi rahasia di film Sci-fi.

“Hinmel, 3011093.” Sekali mendengarnya juga Xenocrest langsung tahu bahwa markas rahasia yang mereka datangi itu memakai sistem yang tidak kalah canggih dengan Machine Age.

Pinggiran pintu itu berdesis pelan, kemudian pintu itu bergerak terbuka. Xenocrest dan Hinmel segera melangkah masuk. Bagian dalam ruangan itu diterangi lampu yang hanya memberi pencahayaan seadanya. Mereka mengikuti seluruh jalan yang ada, setiap belokannya dibuat melengkung seperti pipa saluran air. Hingga akhirnya mereka tiba di suatu ruangan yang cukup luas.

“Hinmel! Kyaa!” teriak sebuah suara yang tidak asing lagi bagi mereka berdua. Violeta.

“Kau bawa orang baru, eh?” ujar sebuah suara yang agak berat.

Dahi Xenocrest kembali berkerut. “Hinmel, bisa kau jelaskan semuanya? Di sini sudah aman, kan?” tanyanya.

“Uhm, oke. Pertama, ini markas rahasia bagi Fighter Guild elit di Morg. Tapi yang ada di sini sebagian besar adalah anggota elit dari seluruh Guild. Yang membuat tempat ini dan membiayai kami adalah Tuan Gordo. Di sini, tempat paling rahasia karena dibuat di bawah tanah. Teknologinya dari penemuan Machine Age di Light Tower, misalnya mesin hidrolik dan pintu yang menggunakan password di depan.” Ujar Hinmel. Tampak Xenocrest mengangguk-angguk mengerti.

“Lalu kenapa tadi Scout Master bilang seakan-akan ia dan anak buahnya berhasil mengamankan Violeta dan Jiggi?” tanya Xenocrest lagi.

“Ahahahaha!! Itu! Itu, ya! Kalau itu sih akal-akalanku!” ujar seorang perempuan dari ras Titania dengan rambut pirang yang mengkilap. “Entah mereka itu idiot atau idiot. Yang mereka tangkap itu Decoy buatanku! Pasti sekarang mereka mencak-mencak deh.” ujarnya santai di sela-sela tawanya.

“Dia Felicia Fang, Sorcerer andalan kami. Orangnya humoris stadium tujuh tapi bisa diajak bicara serius kok.” ujar Violeta. ”Dan laporan dari kalian?” tanyanya sambil melirik Xenocrest dan Hinmel.

“Tunggu, lalu soal radio itu?” tanya Xenocrest untuk yang kesekian kalinya.

“Itu cuma pancingan. Kalau ia mulai berbicara yang aneh-aneh tentang penangkapan kami. Artinya rumah sudah kosong dan tidak ada tentara. Memang kukirim ke sini sih, tapi cuma diterima di kamarku yang sudah pasti kosong.” Jawab Violeta.

* * *

Setelah mereka berdua menjelaskan segala hal yang terjadi di ruang bawah tanah itu, Violeta tampak berpikir serius sambil menatap botol kaca berisi racun yang dibawa Xenocrest. Hinmel dan Felicia sibuk bermain kartu dengan Jiggi. Beberapa orang yang tidak Xenocrest kenal berkeliaran kesana kemari, membawa senapan dan tumpukan buku sampai akhirnya tinggal mereka berlima di ruangan itu.

Xenocrest dan Violeta duduk berhadapan di sebuah meja yang terletak di pojok ruangan itu. Keduanya memandang botol kaca itu dalam hening, tampaknya mereka berdua sedang berpikir keras. Memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa menghentikan rencana Scout Master yang jelas-jelas akan mencoreng nama baik Guild Council.

Satu menit berlalu, masih hening. Hanya terdengar ratapan Hinmel yang kalah bermain kartu.

Dua menit, Hinmel kalah lagi.

Lima belas menit, Felicia dua kali kalah, Jiggi Lima kali kalah, dan Hinmel kini menumbuhkan jamur di pojok ruangan.

“Ha!” teriak Violeta. “Felicia, tolong panggilkan Vannya dan Josephine.”

Felicia melempar kartu-kartu di tangannya dan berdiri, kemudian ia mengepakkan sayapnya dan meluncur jauh ke dalam markas. Tidak sampai sepuluh menit ia kembali muncul bersama seorang Emil yang memakai armor besi berwarna biru dengan rambut panjang berwarna hitam yang berantakan, dan seorang Titania yang memakai Sweetheart Dress melayang di atasnya

“Yang rambut panjang itu namanya Vannya, dan yang Titania itu Josephine. Sekarang akan kujelaskan rencananya, Xenocrest dan Felicia kembali ke ruang bawah tanah itu. Hinmel, Josephine, dan aku akan mengawasi dari rumah Gordo.Kami akan memasang Airship. Kalian temukan Scout Master, dan lumpuhkan dia. Kalau gagal, segera keluar dan naik ke Airship. Anggota yang lainnya dipimpin oleh Jiggi akan berjaga di sekitar South Cape, Tonka, dan Iron City. Kalau dapat kabar, langsung-“

DHUAR!

Ucapan Violeta terhenti mendengar letusan senjata api di pintu masuk.

DHUAR! DHUAR!

Dua tembakan menyusul, seluruh lampu mati. Keringat dingin mengucur deras dari dahi para anggota organisasi rahasia itu.

BRAAK! DHUAR! DHUAR!

Pintu besi itu penyok, seperti dihajar benda berat dari luar.  Sedetik kemudian pintu itu hancur dan seorang perempuan dengan potongan rambut pendeknya yang khas muncul. Scout Master berhasil menyusup ke dalam tempat itu.

DHUAR!

Kini Scout Master memegang pistol berwarna perak, letusan pistol itu sempat memberikan sekelebat cahaya yang memenuhi ruangan itu. Pemandangan pertama yang dilihat Xenocrest adalah wajah Scout Master yang tidak pernah ia lihat selama ini, wajah seorang pembunuh yang mengerikan. Hal kedua yang dilihat semua orang, Scout Master membawa pasukan berseragam kuning kecoklatan khas pasukan Knightage Morg.

DHUAR!

Tembakan asal-asalan dari Hinmel meleset melewati telinga Scout Master dan mengenai kepala salah seorang tentara, peluru itu meledakkan kepalanya. Beberapa pasukan Morg yang berdiri di belakang tentara malang itu hanya bisa mengernyit ketika cipratan darah dan serpihan otak mengenai seragam mereka. Scout Master tersenyum sinis, tampangnya semakin menyeramkan dengan aura gelap yang tidak kelihatan.

“Hinmel, tampaknya instingmu semakin bagus, ya?” ujar Scout Master. “Tapi sayangnya belum kena, tuh!” katanya lagi sambil mengibaskan rambut pendeknya. “Sekarang giliranku yaa~!”

Dalam gelap, Scout Master mengangkat pistol Desert Eagle miliknya. Suara letusan terdengar dari pistol perak itu, memberikan penerangan selama sepersekian detik bagi semua orang yang ada di ruangan itu. Pemandangan berwarna merah sekilas terlihat di pintu masuk, tempat Hinmel menembak mati salah seorang tentara Morg.

KLANG!!

“Fuh, untung sempat.”

Peluru yang ditembakkan Scout Master tergeletak di kaki Felicia, tampaknya gadis itulah yang menjadi sasaran tembak Scout Master. Untung saja ia sempat menggunakan Salvation Aura tepat sebelum peluru Scout Master mengenainya. Keadaan mereka semua kini seimbang. Scout Master dan tentara Morg tidak bisa melihat mereka karena gelap, begitu juga Xenocrest dan yang lainnya tidak bisa melihat Scout Master.

Melalui cahaya sekilas tadi, Xenocrest mundur ke belakang Felicia dan Jeanne sambil menarik Josephine. Ketiganya berbisik dengan suara yang amat pelan. Lalu Xenocrest berjalan ke arah Violeta, membisikinya sesuatu yang kemudian disampaikan pada Hinmel, Jiggi, dan Vannya.

Klotak..

“Di sana, yaa~?” Scout Master melemparkan pisaunya ke sumber suara. Tampaknya kini pisau itu mengenai sasaran karena tidak ada bunyi besi yang bertemu dengan besi atau bunyi pisau yang berbenturan dengan barrier dari Salvation Aura. Bau darah kembali tercium di ruangan itu.

“Ugh..”

“Eeeh, Xenocrest yang kena? Ternyata kau ini benar-benar payah-“

Belum sempat Scout Master menyelesaikan kata-katanya, sebuah Gold Bullet menembus kakinya.

“Sekarang!” teriak Xenocrest.

Sebelum Scout Master sempat bereaksi, gulungan ombak menyapunya beserta pasukan Morg ke luar ruangan. Xenocrest mengarahkan FN FNP-45 di tangannya dan menembaki para tentara Morg yang masih bingung. Satu kepala hancur, genangan darahnya semakin melebar ketika Xenocrest menghancurkan satu kepala lagi. Salah seorang tentara yang sadar segera bangkit berdiri dan berlari dengan kikuk. Tentu saja ia menjadi sasaran empuk bagi Xenocrest. Hinmel menembak dua tentara lainnya, satu di jantung, satu lagi kepala. Kini bagian depan ruangan itu menjadi kolam darah dengan serpihan otak. Hanya tinggal Scout Master yang tersisa.

“Eew, kurasa kau sedikit berlebihan.” Ujar Violeta yang menutup hidungnya karena mencium bau amis yang sangat pekat di ruangan itu.

“Lalu orang ini mau diapakan? Aku sih sudah tidak menganggapnya sebagai seorang pemimpin. Kelakuannya itu sungguh ter-la-lu.” Ujar Hinmel sambil mengelap darah yang mengenai wajahnya.

“Bisa kita tahan dulu. Nanti akan kubicarakan dengan Guild Council. Sekarang-“

Sebuah tawa terdengar pelan dari mulut Scout Master, “Percuma.. Haha.. Huahahahaha! Mereka sudah siap!”

DOR!!

Satu peluru kini bersarang di lengan Scout Master. “Sekarang jawab seluruh pertanyaan kami, atau aku akan membunuhmu, memberimu Ressurect Potion, lalu membunuhmu lagi, dan kuulangi terus menerus.” Ujar Xenocrest dengan aura membunuh yang sangat mengerikan.

____________
Chapter 2 END

« Last Edit: April 17, 2011, 12:37:34 PM by KuroYuki »
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookie: 39
  • Saber X Gilgamesh~ <3
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #26 on: April 15, 2011, 04:40:48 PM »
......

Ternyata lia psycho.. Brrr... Tapi keren lia m(_ _)m

salut deh


adegan berdarah otak jantung brrr
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2975
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #27 on: April 15, 2011, 04:50:45 PM »
thanks icha :)
padahal menurutku masih kurang loh efek gorenya. dapet pesen suruh bikin xenocrest jadi kejem. ya sekalian gore deh. :D
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
 not playing anymore, just contact me on discord  @
  cornelialk#4273

Offline sacchan_magician

  • Gate Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #28 on: April 15, 2011, 05:12:52 PM »
sa...sasuga scout master O_o
sudah kuduga penampilannya selama ini itu cm facade O_o

btw entah krn mereka udah biasa liat orang mati ato apa...tp after taste setelah otak meleduk itu....kurang dahsyat yah @_@
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [ECO Fanfic] Infiltration
« Reply #29 on: April 15, 2011, 06:57:47 PM »
Wuu xenocrest kejem
nyaris di semua fanfic xenocrest jadi penjahat / hitam ya
gpp lanjutkan :puppyeyes:

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter