Author Topic: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -EX- (END)  (Read 30012 times)

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Chapter 3 Updated-
« Reply #20 on: April 18, 2011, 02:50:20 PM »
ah anjir ini fenfik bikin gw malu
tadi gw spontan ketawa pas baca bagian mupler sobek separo wkwkwk
padahal gw lagi nunggu print tugas
malu gelo gw diliatin senior-senior gw

cetan lu jerou

Offline shirouamada

  • Gate Guardian
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2032
  • Cookie: 56
  • Pensi
    • Banpresto
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Chapter 3 Updated-
« Reply #21 on: April 18, 2011, 03:34:21 PM »
untuk yang belom translate, beneran JANGAN DI TRANSLATE!!
oh my god zerouuuuu! saya telah mentranslate dan menyesal T^T
Selamat~ :sing:
Sudah diperingatkan padahal. :santai:


ah anjir ini fenfik bikin gw malu
tadi gw spontan ketawa pas baca bagian mupler sobek separo wkwkwk
padahal gw lagi nunggu print tugas
malu gelo gw diliatin senior-senior gw

cetan lu jerou

disarankan untuk menunjukkan fanfic ini sebagai pembelaan. /gg
Farewell ECO

Offline Akashiki

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 47
  • Cookie: 45
  • This feeling... another b-o-r-e-d-o-m
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Chapter 3 Updated-
« Reply #22 on: April 18, 2011, 04:35:50 PM »
disarankan untuk menunjukkan fanfic ini sebagai pembelaan. /gg
ditunjukkin malah tambah malu entar  :laugh:

ketinggalan euy...
naisu FF, kocak  :laugh: like Jack, ditindas-tindas, tapi tetap bertahan  /gg biasa, badak

OMG translate-an na :gone:
The World is so cruel, but it's better than a Hell  -Akashiki

Offline shirouamada

  • Gate Guardian
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2032
  • Cookie: 56
  • Pensi
    • Banpresto
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #23 on: April 19, 2011, 01:33:53 PM »
OMG translate-an na :gone:
pada nekad liat translate "pengalaman sang raja" ya...
jangan ditranslate!
memang bisa mengungkap satu dari banyak misteri mengenai raja tokikage...
tapi misteri yang ini ga penting. Jadi jangan ditranslate.
Nanti juga bakal dikasih tahu. Selain itu, kali ini salah satu rahasianya raja setan ini akan dibuka
bersama dengan sedikit info tentang pasukan 602 (tukang tarik) 603 (ilmuwan gila)
TKP kali ini adalah MAP favorit para SU, versi sebelum menaranya pada somplak.

anyway, prelude to fourth Ghost:



Prelude To
Fourth Ghost:
Everlasting Peace


-Laboratorium Pengembangan Teknologi, Beberapa saat setelah 604 menghancurkan Mother Brain-

Seorang pria tampan bermata biru dengan rambut pirang yang panjang berjalan keluar dari laboratorium menuju pelabuhan. Ia memanggil seorang prajurit pendek dan agak gendut, “Marco! Sini!”

Prajurit yang bernama Marco segera berlari mendekat menuju pria itu, “Ada apa, Kolonel Cain?”

“Kirimkan amunisi ini pada pasukan 602 untuk diuji coba. Ini amunisi baru yang bisa melelehkan mammoth sekalipun.” Cain memberikan selembar surat perintah kepada Marco.

“Baik, Kolonel! Tapi, apakah mereka akan mencobanya? Bukankah perang telah selesai?”

“Mereka pasti dengan senang hati mencobanya,” Kolonel itu menyeringai, “Karena mereka suka menembak. Terutama, orang tak berdaya. Mereka bahkan menculik orang untuk dijadikan sasaran hidup. Apa kau mau mencoba jadi sasaran latihan mereka, Marco?” Kolonel itu menatap mata Marco dengan pandangan menantang.

Marco merasa bulu kuduknya berdiri, “Ti…tidak, terima kasih. Sa… Saya akan segera mengirimkan amunisi ini ke Acropolis.” Marco segera berlari ke jetski terdekat dan menjalankannya.

“Bagus.” Cain membalikkan badan dengan anggunnya dan berjalan ke laboratorium. Ia menekan wireless phone di telinganya sembari masuk ke dalam laboratorium.

Setelah beberapa saat, terdengar suara dari teleponnya, “Kenapa Cain?”

“Toki, ada yang aneh dengan kondisi para DEM. Sepertinya dugaan kita benar.” Cain menekan tombol 16 di lift.

“Walaupun begitu, kita tidak bisa bergerak sebelum mereka bergerak lebih dulu.”

“Jadi kita harus terus menunggu mereka? Membosankan sekali.” Cain melepas pakaiannya, tiga buah sayap putih di punggung bagian kanannya mengembang.

“Semuanya demi kejayaan dunia Emil.”

“Semuanya demi kejayaan dunia Emil.” Cain menekan wireless phonenya lalu berjalan ke jendela ruangannya. Ia menatap jauh ke kota Morg di seberang laut.

Cain meraba punggung kirinya yang sudah tak bersayap dan menutup matanya,“Semuanya demi kejayaan dunia Emil.” Nada bicaranya seperti penuh dengan penyesalan.

===
pengkhianat dunia...
note that: kapal laut masih belum dilarang.
edit by request from KuroYuki-tan. Sekalian ngasih sopoiler deh.
« Last Edit: April 19, 2011, 04:37:44 PM by shirouamada »
Farewell ECO

Offline Akashiki

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 47
  • Cookie: 45
  • This feeling... another b-o-r-e-d-o-m
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #24 on: April 19, 2011, 02:09:27 PM »
wogh... peranga masih akan berlanjut...
dan apakah rahasia Raja Tokikage yang lainnya?
saksikan hanya di Fathomless!  :sing: *lebay

jadi tambah penasaran saya, lanjutkan!  XD
The World is so cruel, but it's better than a Hell  -Akashiki

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2974
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #25 on: April 19, 2011, 02:23:14 PM »
wait wait..

“Jadi kita harus terus menunggu mereka? Membosankan sekali.” Cain melepas pakaiannya, tiga buah sayap putih di punggung kanannya mengembang.

itu tiga buah sayap atau tiga pasang sayap? kalau tiga buah mah kaga imbang.

apakah disini tokikage antagonis? ataukah protagonis? tapi tega juga ya, sampe pangerannya disuruh ikut perang dan koma ;_;

saya demen adegan pas Cain nawarin Marco buat jadi sasaran latihan pasukan 602  :sing:
« Last Edit: April 19, 2011, 02:24:36 PM by KuroYuki »
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
Recently playing
Closers: Junghwa (Miyeon, Hawthorn, Donghan)
you can contact me on discord @cornelialk

Offline shirouamada

  • Gate Guardian
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2032
  • Cookie: 56
  • Pensi
    • Banpresto
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #26 on: April 19, 2011, 03:16:26 PM »
itu tiga buah sayap atau tiga pasang sayap? kalau tiga buah mah kaga imbang.
apakah disini tokikage antagonis? ataukah protagonis? tapi tega juga ya, sampe pangerannya disuruh ikut perang dan koma ;_;
3 di kanan 0 di kiri
FYI, tiga di kiri itu putus dicopot seseorang di masa lalu.
di sisi mana tokikage? tergantung! Tunggu saja kemunculan dia selanjutnya.
btw, sedikit info pasukan yang masih ada sampai saat itu:
601, 602, 603, dan 605.
Seluruh pasukan 604 dan 606 sudah meninggal. Tidak ada satu orang pun yang masih hidup.
« Last Edit: April 19, 2011, 03:17:04 PM by shirouamada »
Farewell ECO

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2974
  • Cookie: 56
  • kang daniel stan
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #27 on: April 19, 2011, 03:33:39 PM »
request mengenai sayapnya, di fanficnya diberi keterangannya dong biar jelas. soalnya kalo kayak gitu kan rada ngebingungin @_@
Deceased Zinnia server :
クロユキ、テヨン、ユ・シジン、ファインダー、Trip, Virus, Prince
Recently playing
Closers: Junghwa (Miyeon, Hawthorn, Donghan)
you can contact me on discord @cornelialk

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookie: 44
  • Darkness's Last survivor
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Prelude to 4th Ghost-
« Reply #28 on: April 19, 2011, 10:50:41 PM »
Omg zerou... Translatenya...
Suraaammm
tapii
keren XD

ditunggu next chap-nya :3

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline shirouamada

  • Gate Guardian
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2032
  • Cookie: 56
  • Pensi
    • Banpresto
Re: [Fanfic lomba] The Fathomless 6 -Fourth Ghost-
« Reply #29 on: April 20, 2011, 01:12:23 AM »
Terima kasih atas pujian dan makian atas kaligrafinya...

Akhirnya yang ke-4 selesai juga... Xeno dkk kencan di gunung besi (iron volcano)
so... it is Everlasting Peace... no, really... I'm not lying~ XD

and a bit info:
cara kerja wireless phone akhirnya setengah dijelaskan di sini
bagaimana cara itu telepon 1 tombol bisa buat nelepon ke mana aja?

Warning!
Contains : Ecchi, gore, break the cutie, angst-what-angst
Untuk yang mudah mual, jangan dibaca waktu lagi makan.
Jangan lupa siapkan senjata-anti-mual.
Momod, jika terlalu parah, jangan dibredel ya.



Fourth Ghost:
Everlasting Peace

(Damai selamanya)

Judulnya bohong



Matahari yang terang mulai menyinari Acropolis. Para Cockko berkokok dengan semangatnya sebelum dijagal oleh para pedagang di pasar. Xenocrest bangun dari tidurnya dan melihat Mia yang masih tidur di sampingnya. Xenocrest tersenyum dan membelai rambut Mia dengan lembut. Xenocrest kemudian menatap kaligrafi terlarang itu dengan pandangan yang sedikit aneh. Xenocrest menghela napas lalu turun dari ranjang kerajaan. Ia lalu memakai pakaiannya dan pergi ke beranda. Dari beranda itu terlihat pemandangan matahari terbit yang indah.

“Kakak…” terdengar suara Mia memanggilnya dari belakang.

Xenocrest pun menoleh dan menatap Mia dengan pandangan sayu, “Mia…”
 
Sinar matahari yang menyinari Xenocrest membuat rambutnya terlihat bercahaya seperti matahari itu sendiri. “Kakak seperti matahari.” Xenocrest tersenyum mendengar kata-kata Mia yang polos. Mia lalu berlari dan memeluk Xenocrest.

Xenocrest memeluk Mia dengan tangan kirinya lalu menunjuk matahari, “Mia, lihat, pemandangan matahari terbitnya indah.”

Mia melihat matahari terbit itu, “Iya, indah sekali.” Xenocrest tertawa kecil. Mia dan Xenocrest lalu saling beradu pandang. Keduanya saling mendekatkan wajah mereka sambil menutup mata. Kemudian mereka berciuman sambil berpelukan dengan mesra.

Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit…

Wireless di telinga Xenocrest tiba-tiba bergetar. Wajah loli suram Ai muncul di benak Xenocrest. Xenocrest melepaskan ciuman dan pelukannya dengan perlahan, “Mia, sebentar… ada telepon masuk…”

Xenocrest berjalan masuk ke dalam kamar, dan menekan teleponnya.

“Ada apa?” tanya Xenocrest sedikit kesal.

“Kau tak lihat berita?” balas Ai

“Tidak.”

“Kau di mana sekarang?”

“Itu…” wajah Xenocrest langsung pucat.

“Cepatlah ke istana. Seluruh pasukan disuruh berkumpul di sana. Mai-Mai memberontak.”

“Apa!?” teriak Xenocrest. Teriakannya membuat Mia terkejut dan melongok ke dalam kamar.

“Kakak, ada apa?”

Xenocrest menatap Mia dengan mata terbelalak dan berkata, “Mai-Mai… memberontak.”

“Mai-Mai?”

Xenocrest mengambil seluruh perlengkapannya yang ada di meja raja, “Ya. Baru saja pemimpin pasukanku menyuruhku untuk ke istana. Keadaan darurat.”

“Siapa di sana!” tanya Ai dari telepon.

Xenocrest membelakangi Mia dan berpura-pura mencari barang. Ia berkata dengan pelan, “Calon istri.” Xenocrest mengambil tasnya lalu mendekati Mia, “Sampai nanti ya…” Xenocrest memberikan kartu namanya kepada Mia sambil mencium keningnya, “Hubungi aku kalau ada apa-apa.” Kemudian ia melompat dari beranda.

“Sudah selesai pacarannya?” tanya Ai di telepon.

“Sudah.”

“Kalau begitu, aku akan mulai briefing.”

“Baik.”

“Pada dini hari ini, pasukan Mai-Mai meratakan kota Tonka. Kemudian mereka menyerang Iron City. Dalam sekejap pasukan kerajaan dihancurkan. Karena itu, pasukan kita akan segera dikirim bersama pasukan 602 untuk menghancurkan pasukan Mai-Mai.”

“Tunggu, kenapa Mai-Mai jadi amat kuat?”

“Itu semua karena pasukan Mai-Mai...”

Xenocrest memutar tubuhnya tiga kali dan mendarat di depan hotel dengan bunyi yang keras.

“bunyi apa itu?”

“Aku loncat dari atap.”

“Itu semua karena pasukan Mai-Mai...” Ai diam sejenak.

“Karena apa? Jangan buat aku penasaran!” Xenocrest berlari sekuat tenaga menuju istana.

“menggunakan DEM.”

“Apa!?” teriak Xenocrest, “Bagaimana bisa!?”

“Tidak ada yang tahu. Cepat ke hangar istana.”

“Baik.” Xenocrest berbelok ke arah hangar istana. Dalam tujuh detik, dia sampai di sana.

“Cepat naik ke flying garden itu!” teriak salah seorang perwira tinggi sembari menunjuk ke Flying Garden yang amat polos, hanya ada rumah dan Rocket Sail saja tanpa ada hiasan apa pun.

Xenocrest melihat name tagnya, “Baik, Mayor Bram Regan!” Xenocrest langsung memanjat naik ke 
Flying Garden. Flying Garden itu langsung berangkat pergi tanpa mempedulikan Xenocrest yang masih memanjat.

Ketika keluar dari lift, Xenocrest melihat Mayor Ai yang menyetir, “Pantas saja…”

“Kau terlambat, Xeno.” Jack menepuk bahu Xenocrest sambil tersenyum.

“Jack… kenapa ada bekas roda di wajahmu?”

 “Ceritanya panjang.”

Xenocrest melihat ke sekeliling dan menemukan Alice berdiri di atas rumah, masih dengan kaca matanya yang menyeramkan itu. “Seperti biasanya, kau menyeramkan, Alice.”

“Lihat cermin dulu sebelum bicara~” balas Alice sambil menyeringai.

“Hmph…” Xenocrest melepaskan receivernya dan menunjukkan wajahnya yang tampan seperti pangeran dari negeri matahari.

“Heh… entah apa yang terjadi, sepertinya kau jadi lebih ceria.” Seringai Alice jadi makin besar, “Apa yang terjadi kemarin? Apa kau dapat pacar?”

“Calon istri…” Mayor Ai menjawab untuk Xenocrest dengan santai. Mendengarnya, wajah Xenocrest langsung memerah seperti pangeran dari negeri tomat.

Alice tertawa terbahak-bahak, “Hahahahaha! Dia bisa dapat istri dengan wajah seperti itu!” Alice sedikit mengangkat kaca matanya untuk melihat Xenocrest dengan lebih jelas.

“Alice!” teriakan Ai mengagetkan semua orang, “Apakah kau sudah menyiapkan bomnya?”

“Tentu saja sudah.”

“Sudah di set ke auto?”

“Ah…” Alice menggigit kuku ibu jarinya.

“Cepat di set, sebentar lagi kita akan jatuh.”

“Baik!” Alice segera melompat turun dan masuk ke dalam rumah dengan panik.

“Jatuh?” tanya Xenocrest kepada Jack.

“Kau belum tahu?” tanya Jack yang sudah memasang helm pengaman. Xenocrest menggelengkan kepala. Saat itu, entah kenapa mesin roketnya terbatuk-batuk dan berhenti. Jack membelitkan dirinya dengan futon, “Taman ini di desain untuk jatuh di tempat strategis.”

“Apa!?” Xenocrest melihat Ai, “Mayor! Apa yang anda pikirkan!”

“Tidak ada…” kata Ai dengan tenang. Kecepatan flying gardennya mulai menurun dan terasa mulai jatuh.

“Celaka!” teriak Alice yang berlari keluar dari rumah, “Aku salah set jadi bom waktu!”

Jack dan Xenocrest pun berteriak, “Bagaimana bisa!”

“Berapa detik lagi hancurnya?” Ai masih mengarahkan flying garden dengan tenang.

“Beberapa detik lagi!”

“Pegangan.” Ai membanting setir dan membuat Flying Gardennya menukik tajam. Xenocrest berpegangan pada Ai dan Alice berpegangan pada Xenocrest. Jack yang terbelit futon tidak bisa berpegangan pada apapun dan terlempar masuk ke rumah.

BLAM!

Flying Garden pasukan 601 terbakar dengan indahnya. Sementara itu, seluruh pasukan kerajaan dan pasukan Mai-Mai menghentikan perang karena terlalu terpesona dengan pemandangan di udara yang terlalu...

‘Wow…’
‘Keren…’
‘Kembang api yang meriah…’
‘AS punya siapa tuh?’
‘Bodohnya...’
‘Setidaknya mereka membuat pertunjukan yang lebih meriah dari yang dibutuhkan…’
‘601 memang gila’

Tepat sebelum Flying Gardennya mendarat di kaki gunung besi dengan anggun seperti sebuah meteor, Ai melompat turun, membawa Xenocrest dan Alice.

BRAGH!
SCKRIIIIIIITK!
BLAAAR!

Flying Garden itu membara seperti api unggun musim panas dengan sebuah marshmallow di atasnya, marshmallow dengan cahaya biru-merah terang. Jack melepaskan dirinya dari futon yang terbakar dan meloncat dari kobaran api. Zirahnya terlihat merah menyala karena panas. Ia menatap Alice dan berjalan pelan ke arahnya.

“Ja… jangan mendekat…” Alice mundur perlahan karena ketakutan. Xenocrest hanya bisa diam mematung dengan mulut terbuka.

“Sudah kuduga.” Ai menyiram Jack dengan dua ember Distilled Water. Seluruh air itu menguap membawa panas dari zirah Jack. 

Jack pun berhenti, membuka helmnya sehingga membuat Alice dan Xenocrest berteriak ketakutan karena melihat wajahnya yang meleleh, dan berteriak marah, “…! …! …!”

“Suaranya hilang,” gumam Ai dengan tenang.

 “Mayor…” Xenocrest memasang Receivernya.

“Ya?”

“Kita dikepung…” Alice mengeluarkan Urchin Star. Pasukan musuh mulai mengepung mereka.

“Begitu… pasukan kerajaan sudah mundur sesuai rencana?” Ai mengeluarkan papa booster (emil) dari tasnya dan memakainya.

Xenocrest melihat ke arah Ghost Shelter dan melihat kerumunan prajurit berdesak-desakan melewati jembatan yang sempit, “Mereka terlihat bersemangat.”

“Bagus… kalian,bertahanlah.” Ai menyalakan Papa Booster dan menggunakan cloaking.

“OI!” Xenocrest berusaha menggapai Papa tapi gagal. Ai, menghilang dari medan perang. Xenocrest sekali lagi mematung. Sementara itu, pasukan Mai-Mai sudah benar-benar dekat.

“Oi, Oi, kalian bertiga berani melawan seluruh pasukan kami?” salah seorang prajurit Mai-Mai menyerang Alice dengan Omnislash.

Alice menghindari seluruh serangannya dan membalas dengan Banishing Blow ke kepala prajurit itu. Kepala prajurit itu hancur berantakan. Otaknya terburai ke segala arah. Salah satunya mengenai pipi Alice. Alice mengambilnya, memakannya, dan tersenyum menikmati santapan yang lezat itu. Para prajurit yang melihatnya bergidik ngeri dan mundur perlahan. “Senjata ini memang lebih baik  daripada yang lain…” Alice tertawa pelan.

Seorang prajurit lain yang nekad berusaha mengendap-endap ke belakang Alice. Xenocrest langsung melompat ke depan prajurit itu dan menodong dagunya dengan Psycho Gun. “Jangan nekad,” Xenocrest menekan pelatuk senjatanya. Sekali lagi, darah dan otak yang terburai menghiasi pemandangan para prajurit Mai-Mai. 

Kemudian Jack maju dengan wajahnya yang baru saja meleleh. Para prajurit Mai-Mai pun bubar serentak dan lari ketakutan. “Lari! Biar para pasukan dewata yang melawan iblis-iblis itu!” teriak salah satu prajurit. Para DEM pun maju, menggantikan prajurit Mai-Mai yang mundur.

“Serang.” Terdengar perintah Bram dari radio pasukan. Tiba-tiba terdengar tembakan dari arah Ghost Shelter, para DEM yang sedang maju terkena hujan peluru. Walau begitu, mereka tetap maju tanpa merasa sakit.

SSSSHHHH…

Terdengar suara kulit meleleh dari para DEM. Satu per satu, DEM yang terkena tembakan meleleh dan meledak.

“Ini…” Xenocrest melihatnya DEM yang meleleh dengan pandangan tidak percaya.

Para prajurit Mai-Mai yang ketakutan melihat pasukan DEM binasa, segera melarikan diri. Namun, pasukan pengepung 602 mencegat mereka dan menembaki mereka tanpa ampun.

Alice mengambil salah satu peluru dari lelehan DEM, terlihat tulisan 603 – CTT, “Mereka menggunakan peluru pasukan 603.”

Xenocrest melihat ke sekelilingnya, di setiap sudut terlihat prajurit Mai-Mai yang sedang lari ditembaki oleh anggota 602. Dalam sekejap, pasukan penyerang awal hancur di tangan pasukan 602.

Xenocrest berkata, “hebat…”

Alice menyeringai lagi, “jika kau perhatikan, beberapa prajurit Mai-Mai ada yang masih hidup. Hanya tangan dan kakinya saja yang ditembak.”
 
Xenocrest melihat beberapa anggota 602 mengumpulkan prajurit-prajurit Mai-Mai yang hidup. Para prajurit itu ditumpuk per sepuluh orang, lalu diatasnya mereka ditaruh sebuah bom waktu. Xenocrest seakan tidak percaya apa yang dilihatnya, mereka menggunakan sandera sebagai umpan.

Beberapa prajurit Mai-Mai yang melihat temannya akan diledakkan, berlari keluar dari tempat mereka dan menyerang. Para sniper 602 segera menembaki kaki mereka. Para prajurit itu pun jatuh. Kemudian, mereka ditembaki terus menerus di daerah yang tidak mematikan. Teriakan-teriakan para prajurit yang kesakitan itu membuat orang-orang yang mendengarnya tidak dapat berpikir dengan jernih. Xenocrest dan Jack yang sudah kembali normal memalingkan wajahnya dari medan penyiksaan sementara Alice tidak memalingkan wajahnya.

Dari kejauhan terdengar suara yang amat ramai. Alice melihat radarnya, “Gelombang baru menyerang dengan cepat. Sepertinya mereka terpancing oleh umpan.”

‘Siapa yang tidak akan terpancing?’ pikir Xenocrest dalam hati.

Dari jalanan utama Iron City, pasukan Mai-Mai keluar dengan puluhan DEM dan beberapa Mammoth di barisan terdepan. “…!” teriak Jack, “….!”

BLAM!

Sebuah peluru melesat dari ujung Ghost Shelter dan mengenai salah satu Mammoth. Mammoth itu langsung tumbang. Seluruh pasukan 601 langsung menelan ludah. Satu persatu, para Mammoth yang sedang melaju ke arah pasukan 601 tumbang dan meledak.

Xenocrest melihat ke belakang, “pasukan kerajaan sudah bergerak.” Setelah Mammoth terakhir tumbang, pasukan kerajaan langsung bergerak menuju medan pertempuran. Saat itu, Xenocrest teringat sesuatu. Ia langsung mengambil botol 100% Apple Juice yang amat besar dan memaksa Jack meminumnya.

“…! …!” Jack berusaha melepaskan kuncian Xenocrest, “.!.!.!.!” Jack makin meronta, “Sa… ki… hu!” suaranya mulai muncul. “U… ra! Sekop! Pa…ku!” muka Jack mulai membiru karena kekurangan oksigen. Botol yang berisi lima liter jus itu pun habis dan Xenocrest melepaskan Jack.

“Jangan seenaknya … memaksa …  seperti itu! ... Dasar gila! … Aku hampir mati kehabisan napas!” teriak Jack sembari mengambil napas panjang.

Xenocrest tersenyum, “Tapi, kau sembuh kan?”

“Jangan coba-coba lagi… aku paling tidak suka apel!”

“Lain kali tidak akan kuberi lagi, sekarang… saatnya bertarung. Mereka sudah dekat!”  Xenocrest membidik ke DEM terdekat dan menembakinya.

“Ayo,” Jack mengambil Lance of Longinus, “Sial… aku mual.”

“Heh… kalian ini…” Alice melempar Fascinating Boxnya ke kerumunan DEM.

BLAR!

Beberapa DEM terlempar ke udara. Alice menyeringai dengan lebar, “Sekarang! Pasukan, serang!”

“Uooo!” pasukan kerajaan yang baru tiba menyerang pasukan musuh dengan memba-bi buta.

“Sok keren,” gumam Jack.

“Ayo!” Xenocrest melompat ke tengah kerumunan DEM dan menggunakan Cyclone.

“Matilah kalian!” Jack melempar tombaknya dengan sekuat tenaga. Tombak itu menembus beberapa DEM sebelum jatuh ke tanah. Jack lalu mengambil rapier dan menusuk dengan memba-bi buta sebelum ia membungkuk dan mengeluarkan semua jus yang membuatnya mual.

Sementara itu, Alice berlari ke kerumunan prajurit manusia dan mulai menghancurkan mereka dengan Urchin Starnya. Serpihan otak, usus, dan bola mata terlihat terbang ke segala arah. Tawanya yang keras membuat jiwa setiap prajurit yang melawannya menjadi ciut.

Terdengar suara keras dari radar Alice yang menandakan sesuatu yang tidak teridentifikasi datang. Alice segera melihat radarnya, “Ada sesuatu yang datang. Bentuknya berbeda dari yang biasanya.” Alice menekan tombol radio di teleponnya, ia hendak melaporkan mengenai target yang tidak dikenal yang datang, tetapi teleponnya berbunyi aneh, “Cih. Gangguan komunikasi. Sekarang kita sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan yang lain.”

Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di pelipis Xenocrest. Xenocrest terpelanting seperti bola bowling hingga menabrak beberapa DEM yang sedang dilawan Jack.

“Ow… ow… apa itu tadi…” Xenocrest melompat bangun dan melihat seorang pria besar, dengan tinggi lebih dari 2 meter, menatapnya. Pria itu menggunakan baju prajurit hijau dengan emblem harimau bertuliskan 604.

“Heh, kau ya, yang memukulku tadi?” Xenocrest menunjuk ke pria itu dengan pistolnya.

“Dia…” Jack melihat pria itu dengan pandangan tidak percaya.

“Kau kenal?” tanya Xenocrest.

“Domon.” Jack menyarungkan rapier dan mengambil Lance of Longinus yang tergeletak di sampingnya.

Alice yang sudah penuh darah melompati pria besar itu dan berlari ke belakang Jack dan Xenocrest.
Alice memandang pria itu, “Hati-hati, dia bukan pemimpin 604. Dia… bukan manusia, lebih seperti DEM.”

Tiba-tiba, Ai muncul di atas kepala Domon dan menusuknya dengan kedua claw milik Eliminator. Namun, claw itu patah. Domon dengan cekatan menangkap Ai dan membantingnya ke tanah. Ai memuntahkan darah. Domon mengangkat kakinya dan menginjak Ai dengan keras. Ai berhasil menghindarinya dan melompat mundur. Tubuh kecilnya terlihat gemetar akibat luka yang didapat.

Melihat Ai kesulitan, Xenocrest dan Alice langsung melempari Domon dengan bom mereka. Domon tidak menghindari satu pun bom yang dilemparkan, karena ledakannya tidak memberikan efek yang berarti.

BLAM!

Peluru anti mammoth melesat dan menembus tubuh Domon. Domon berteriak keras dan tubuhnya berubah menjadi setengah DEM. Tetapi, tubuhnya tidak meleleh.

“Makhluk apa ini?” tanya Xenocrest sembari menembaki Domon dengan memba-bi buta untuk menahan gerakan Domon.

“Aku akan coba melawannya.” Jack melesat dengan cepat dan menusuk Domon dengan Lance of Longinus. Tombak itu berhasil menembusnya tapi Domon tidak merasa sakit. Ia kemudian memukul Jack dengan uppercut sehingga Jack terpental ke udara. Jack terhempas ke tanah dengan kepala terlebih dahulu.

KRAK!

Terdengar suara leher patah. Xenocrest tidak memalingkan matanya dari Domon. Tiba-tiba Ai menyerang Domon sekali lagi dari belakang. Domon menghindari pukulan Ai dan menendangnya hingga terpental. Ai yang terpelanting itu tiba-tiba menjadi asap. Ai yang asli ternyata ada di bawah kakinya. Ai menendang tulang kering Domon dengan sekuat tenaga, lalu melakukan tendangan salto ke rahang Domon, dilanjutkan dengan hantaman siku di ulu hati, dan diakhiri dengan putaran cyclone yang berhasil mendorong Domon sejauh dua meter. Domon yang marah berusaha menangkap Ai.

BLAM!

Tembakan dari Bram menembus kepala Domon. Domon pun jatuh. Alice yang melihat kesempatan, menimbuni Domon dengan Fascinating Boxnya.

BLAAR!

“Selesai?” Xenocrest berharap Domon tidak bangun lagi.

Ai memuntahkan banyak darah dan tumbang. Ia berusaha berdiri lagi tapi ia kembali muntah darah dan tergeletak kembali tak berdaya.

“Mayor!” teriak Xenocrest.

“Aku… tak apa-apa… ia… bagaimana?”

Xenocrest mendekati mayat Domon. Tiba-tiba Domon bangkit kembali. Xenocrest melompat ke samping Ai, “Monster itu masih hidup!”

Ai berkata dengan pelan, “… Bagaimana… … Jack…”

Xenocrest melihat ke tempat Jack jatuh. Jack sudah berdiri dengan tubuh penuh cahaya biru. “Hahaha…” Xenocrest tertawa, “dia benar-benar seperti kecoa.”

Jack dan Domon saling pandang. Mereka berdua meraung seperti monster dan saling menyerang. Xenocrest hanya bisa melihat kedua monster itu bertarung.

“Xeno, coba kau perhatikan dada monster itu,” kata Alice.

‘Kenapa sekarang semua mulai memanggilku Xeno? ’ “Ya?” Xenocrest berusaha melihat dada Domon. Dadanya penuh dengan lubang bekas tusukan Lance of Longinus. Samar-samar ia melihat ada sebuah bola metal aneh di tempat jantung seharusnya berada, “ Bola metal di tempat jantung itu?”

“Sepertinya itu kelemahannya,” jawab Alice dengan sok tahu.

“Mungkin, tapi serangan kita tidak bisa melukainya dengan mudah. Tunggu, apa kau berpikiran sama denganku?”

“Pasti. Ayo kita lakukan.” Alice kembali menyeringai.

Xenocrest melompat ke belakang Domon dan berusaha memegangi tangannya agar ia berhenti bergerak. “Sekarang, Jack! Tusuk jantungnya!” Jack melompat dan menusuk jantung Domon. Sayangnya serangannya kurang kuat. Alice berlari ke samping Jack dan menempelkan dua buah Fascinating Box di ujung tombaknya dengan lem.

Domon, yang mengetahui rencana mereka, meraung dan berusaha melepaskan diri. Ia berusaha mengangkat Xenocrest ke atas.

“さようなら…兄上…” Jack menghujamkan tombaknya lagi dengan bantuan ledakan dari Alice. Lance of Longinus berhasil menembus bola metal dan bahu Xenocrest.

Domon berteriak keras dan melempar Xenocrest hingga menghantam Jack dan Alice.

“Mustahil… dia masih hidup…” Xenocrest berusaha berdiri namun seluruh tubuhnya terasa sakit. Jack dan Alice juga dalam kondisi yang sama. “Sampai di sini sajakah?”
 
BLAM!

Mayor Bram menembakkan peluru terakhirnya. Peluru itu menembus bola metal itu dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.

“Haha… aku sampai lupa dengan 602.” Xenocrest melihat Domon yang meraung kesakitan.

Domon mengangkat tangannya dan menyerang siapapun yang ada di dekatnya. Seluruh prajurit yang ada di dekatnya segera menjauh.

“Kakak…” Jack melihat Domon dengan pandangan sedih. Ia berusaha berdiri untuk melawan kakaknya lagi tapi ia sudah tidak kuat.

Xenocrest menoleh ke Alice, tapi ia tidak ada di tempat ia tergeletak tadi. “Ke mana… dia…” gumam Xenocrest.

“Semuanya demi kejayaan dunia Emil.”

Tiba-tiba Ai berdiri di depan Domon dan menebasnya dengan pisau berkali-kali hingga Domon terpotong menjadi potongan-potongan kecil. Potongan-potongan itu kemudian meledak karena jatuh di atas fascinating box milik Alice.

“Selamat tinggal… Domon…” setelah mengatakan itu, Ai langsung jatuh ke tanah.

“Akhirnya…” Alice tiba-tiba muncul dari dalam pisau Ai. “Tidak kusangka aku harus memposes perempuan ini…” Alice kemudian merasa amat mual dan mengeluarkan semua isi perutnya. “Tidak akan pernah kulakukan lagi… terlalu menjijikan…“
 
Seluruh pasukan Mai-Mai melarikan diri dari medan perang. Dengan mudah, pasukan kerajaan berhasil menguasai Iron City kembali. Namun… seorang kurir yang datang dari Acropolis membawa berita yang tidak menyenangkan.

Laboratorium Pengembangan Teknologi telah hancur. Pasukan DEM menyerang benua Acronia dari segala arah. Pasukan yang masih hidup harus segera kembali ke Acropolis.

To be Continued in: Fifth Ghost: 607 Gespenst Jäger



Spoiler for Supplement:
“Kali ini, siapa yang mau mencoba jadi penarik musuh?”

“Bram, aku mengusulkan 601.”

“Hoho, apakah pasukanmu bisa, Ai?”

“Bisa. Tapi aku butuh dua ember distilled water.”

“Untuk apa?” Bram menggaruk-garuk kepalanya.

“Memadamkan Marshmallow gosong.”
« Last Edit: April 20, 2011, 05:35:29 PM by shirouamada »
Farewell ECO