Author Topic: [ECO FANFICT]i'm leaving :) [END]  (Read 2901 times)

Offline Psyche

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 468
  • Cookie: 45
  • stay summer
[ECO FANFICT]i'm leaving :) [END]
« on: September 22, 2011, 11:51:52 AM »
I'm Leaving

[Author’s note]

*nama char disamarkan untuk menghindari stalker penggemar dan terungkitnya lagi  konflik  permasalahan antar tokoh*
cerita tentang saat" terakhir seorang player yang pamitan waktu pensi  :confuse:
untuk semua pemain eco .. yang pernah meninggalkan dan ditinggalkan
leave comment ^^

Disclaimer

Fan Fiction Emil Chronicle Online © Psyche 2011

Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

ALL RIGHT RESERVED



“ Aku sudah tidak kuat lagi. “ kata Cinta

“ Apa yang terjadi ? “ tanyaku, waktu itu.

“ Pria yang kukira benar-benar mencintaiku, telah menjadi milik orang lain. “ jawabnya.

“ Lalu apa yang akan kau lakukan ? “

“ .. Entahlah Mawar .. kurasa sudah waktunya untuk pergi “ jawabnya.
Aku tidak berkutik melihat wajah indahnya dibasahi air mata.



2 Bulan Kemudian ..



Aku tidak menghentikannya. Meskipun dulu aku belum pernah merasakan cinta, tetapi paling tidak, aku mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan. Di dunia lain, kedua orang tuaku telah lama berpisah. Sejak saat itu, aku tidak memiliki sedikitpun rasa empati terhadap kebanyakan masalah terutama cinta. Aku hanya menjalani hari demi hari sesuai keinginanku. Menjauhkan diriku sendiri dari masalah, tanpa perlu menyebabkan masalah.

Akan tetapi semuanya berubah sejak dia datang. Aku menyukainya. Akan tetapi tentu saja, aku mengerti benar ini tidak akan berhasil dan akan berakhir dengan begitu cepat. Oh ayolah, untuk apa kita bersusah payah berpikir lama tentang cinta apabila nantinya, pasti akan berpisah ? Begitu pikirku. Aku sama sekali tidak pernah menyalahkan kedua orang tua ku yang telah berpisah atas ketidak percayaanku dengan komitmen yang orang-orang sebut dengan cinta.

Dalam sudut pandangku, kepergian Cinta merupakan luka yang cukup dalam bagi organisasi kami. Entah bagaimana dengan yang lain, akan tetapi bagiku, aku merasa sangat kehilangan. Dadaku terasa begitu nyeri dan sesak ketika melihatnya menangis. Aku tidak mencegahnya waktu itu karena aku masih bodoh dan belum mengerti. Mungkin, saat itu dia sungguh-sungguh membutuhkan paling tidak seorang teman, apalagi sahabatnya, untuk menghalanginya pergi.

Aku kehilangan tawanya. Aku kehilangan kemurahan hatinya. Mungkin dia adalah seorang figur kakak sekaligus senior yang sempurna bagiku. Selain Inno tentunya.

Ironisnya, sekarang giliranku untuk pergi. Aku tahu benar sekarang bagaimana kondisinya saat itu. Aku tidak terkejut apalagi merasa terluka. Semua ini tidak ada bandingannya dengan apa yang telah aku lalui diluar sana. Yang menjadi pertimbanganku adalah teman-temanku. Aku tahu aku bukanlah orang penting dan sibuk yang diharapkan kehadirannya oleh semua orang. Akan tetapi paling tidak, mereka bilang mereka bahagia bersamaku.
Aku harus berpamitan kepada Melisa, sahabatku. Dia adalah orang yang manis, juga tegar. Dia sudah melalui banyak hal sepertiku. Dia begitu santai dan tenang dalam menghadapi masalah. Aku sangat yakin dia akan membentakku ketika berpamitan nanti.

Aku pergi ke rumahnya. Melisa menatapku dengan pandangannya yang tajam. Dia terlalu peka. Bahkan kurasa aku tidak perlu pamit dan mengatakan tujuanku kepadanya. Aku datang kemari dengan tujuan menghormatinya sebagai orang yang pernah menjadi sahabatku dan melakukan perjalanan yang cukup panjang bersamaku. Kami memiliki banyak cerita konyol yang tidak terlupakan.

“ Jangan pergi bodoh, Mawar yang aku tahu bukan orang idiot berpikiran lamban seperti ini ! “ kata Melisa.

Meskipun aku sudah menyangkanya, akan tetapi tetap saja aku merasa setengah kaget mendengarnya berkata seperti itu. Semudah itukah wajahku untuk dibaca ?

“ Aku tahu, hanya saja aku muak.
Kau sendiri tahu kan apa yang dia perbuat ? bukannya aku menangisi itu semalaman dan memutuskan untuk
berhenti, hanya saja aku muak.
Itu saja “ jawabku. Kugunakan bahasa yang mudah Melisa mengerti. Bahasa kasar yang tidak bertele-tele.

“ Kalau kau adalah temanku, kau tidak akan berhenti.
SEMUDAH INIKAH KAU MENINGGALKAN SEMUA YANG KITA LAKUKAN BERSAMA ?
Bagaimana rencana-rencana indah kita ? mimpimu ! mimpiku ! mimpi kita ! “ Melisa menangis. Seperti jiwa yang
dicabut dari raganya aku benar-benar terkejut.

Bohong bila berkata hatiku tidak sakit melihatnya seperti itu.

Aku hanya terdiam sambil tersenyum. Pasti raut wajahku sama sekali tidak meyakinkan dirinya kalau aku masih Mawar yang kuat. Tetapi aku ingin menunjukkan kepadanya kalau aku berniat meninggalkan semua dengan hati yang riang.

“ Paling tidak, kirimlah surat, akan kukabari Re nanti “ lanjut Melisa dalam isak tangisnya. Terima kasih tuhan, dia mengerti.

“ Pasti “ jawabku, sambil kuraih Melisa dalam pelukan.

Selanjutnya, berpamitan dengan ibu angkatku, Inno.
Sebenarnya aku tidak perlu berpamitan dengannya. Kami cukup sering bertemu di luar sana. Kulakukan ini sebagai bentuk penghormatanku atas semua jasanya dalam menjadikanku –paling tidak- seseorang disini.

“ Inno, aku .. “

“ Kukira kau akan menjadi penerusku, ternyata kau pergi sebelum aku “ selanya,
Aku tertawa, dia selalu lucu.

Akan tetapi kali ini perkataannya begitu tajam dan menyakitkan. Aku tertawa karena ini begitu ironis dan nyata sekaligus.

“ Baiklah, kalau memang itu tujuanmu mengirimi aku surat akan kuhapus suratmu ketika sampai “

“ Terima kasih selama ini telah membimbingku “

“ Aku tahu, sampai jumpa di luar sana “

“ Ya. “ jawabku dengan begitu semangat.
Kurasa yang terakhir ini adalah yang terberat. Sahabat sehati, seusia, sejiwa, seselera, se-apapun yang bisa manusia raih. Ezra.

Dia sudah mendengar kabar dari Melisa. Kami seperti rangkaian akar keluarga tipis dalam lingkungan sosial kebanyakan yang samar, akan tetapi begitu kuat.

Tidak ada air mata yang tumpah dari kedua mata indahnya meskipun suaranya begitu basah dan bergetar. Tangannya bergetar ketika menjabat tanganku untuk terakhir kalinya. Bulu kudukku berdiri. Dia tersenyum, meskipun kedua ujung senyumannya bergetar senada dengan kedua telapak tangannya. Dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis, mungkin dia mengerti maksud kepergianku dan berusaha menghormatiku, dengan menunjukkan raut supel dan ramahnya seperti biasa.

“ Secepat inikah ? “

“ Ya. “ jawabku.
Dia tidak bisa membendung luapan itu lagi. Dia memelukku begitu erat.

“ Maafkan aku, semua mimpi kita terbuang begitu saja.
Aku tidak menginginkan ini, akan tetapi hatiku berkata lain,
Aku ingin maju dan bangkit, lalu melanjutkan hidupku di luar sana
Aku tidak ingin terpuruk dan terjerat dalam duri-duri belukar ini “

“ Pergilah, aku tidak ingin melihatmu menangis sepertiku
Berjanjilah suatu saat kita akan bertemu di luar sana “ jawabnya sambil menangis.

“ Aku janji “

Selepas pelukan kami, kulambaikan tanganku kepadanya, begitu juga selanjutnya.
Layar menjadi hitam, semua gambar memudar begitu saja.


Akan tetapi tidak dengan kenanganku.


FIN


« Last Edit: September 22, 2011, 11:04:38 PM by Psyche »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO FANFICT]i'm leaving :) [END]
« Reply #1 on: September 22, 2011, 09:31:38 PM »
wow, ini ceritanya pensi ya.. suasananya sedih jg ya..
enak ya kalo ada temen deket, yg kalo pamitan bisa kehilangan begini.. T^T
bagus cerita dan pengungkapannya..

cuma 1 aja sih, kalo dialog, kalo masih nyambung gak usah ganti paragraf (spasi banyak) d kayaknya ^^a

Offline Psyche

  • * Starlite Chronicles
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 468
  • Cookie: 45
  • stay summer
Re: [ECO FANFICT]i'm leaving :) [END]
« Reply #2 on: September 22, 2011, 09:44:20 PM »
wow, ini ceritanya pensi ya.. suasananya sedih jg ya..
enak ya kalo ada temen deket, yg kalo pamitan bisa kehilangan begini.. T^T
bagus cerita dan pengungkapannya..

cuma 1 aja sih, kalo dialog, kalo masih nyambung gak usah ganti paragraf (spasi banyak) d kayaknya ^^a

iya err .. saya edit deh XD makasi sarannya
kebiasaan spasi di ms word A_A
« Last Edit: September 22, 2011, 09:55:24 PM by Psyche »