Author Topic: [ECO Fanfic][Ongoing] Sanctum : Ignisia (Hiatus)  (Read 4404 times)

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
[ECO Fanfic][Ongoing] Sanctum : Ignisia (Hiatus)
« on: November 06, 2011, 12:13:16 AM »
Author's Words
FF baru, dan kali ini FF ECO, berhubung FF sebelumnya lagi tersendat idenya males nulisnya, akhirnya malah bikin baru yang... belum tentu juga bakal tamat :evillaugh:

Anyway, enjoy. And please, read-rate-comment minna~


Characters

Unavailable, yet.


Disclaimer

I do NOT own the game. Emil Chronicle Online™ is property of ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

Hampir semua karakter dalam FanFic ini hanya merupakan karakter fiktif belaka.
Segala kemiripan baik nama, sifat, atau yang lainnya, hanyalah kebetulan semata.


Chapter Zero

Preparation

Tiga bulan sebelum pertempuran.

Jauh di sebelah selatan Acropolis, di tengah laut Utena yang luas membentang, berdiri kokoh sebuah kastil. Sepintas saja, dapat disimpulkan bahwa kastil tersebut berdiri sejak zaman Machine Age.

...

Di dalam pikiran Yvonne, hanya ada perintah-perintah dari majikannya. Sebagai seorang butler dan bodyguard, adalah tugasnya untuk melaporkan tugasnya. Ia berjalan menyusuri lorong gelap yang hanya diberi penerangan berupa lilin-lilin yang secara sihir dibuat melayang-layang. Di ujung lorong tersebut, terlihat sebuah pintu kayu dengan motif naga abstrak yang terlihat menawan dengan penerangan gelap di sini. Yvonne mengetuk pintu itu sebanyak dua kali, sebelum sebuah suara mempersilakannya untuk masuk.

Ruangan itu memancarkan kesan gelap. Hanya saja lebih terang dari lorong tadi karena diterangi oleh perapian tua. Di depan perapian tersebut berdiri seorang pria, pria muda dengan sebuah coat warna coklat muda dan rambut berwarna sama. Ia mengenakan celana hitam yang membuatnya terkesan berkuasa.

“Vein-sama, semua persiapan sudah selesai.”

Yvonne berbicara dengan suara pelan namun jelas ke orang yang disebut Vein itu. Vein hanya mengangguk pelan. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Sekilas, terlihat sebuah holster lengkap dengan pistol berwarna hitam tergantung di bagian kanan pinggangnya. Ia lalu berjalan ke arah jendela, menengadahkan kepalanya, memandang langit yang saat itu gelap. Kemudian, ia mulai berbicara tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya ke arah Yvonne.

“Sudah bertahun-tahun aku menunggu perang ini. Kali ini, akan kupastikan untuk memenangkan perang kali ini. Dengan persiapan yang matang dan koneksi keluarga Schwartzrein yang luas, aku yakin, kemenangan sudah berada di tangan kita.”

Yvonne terdiam. Ia menatap Vein dengan tatapan kosong tanpa emosi melalui Receiver Sunglass-nya. Beberapa saat kemudian, Vein angkat bicara lagi.

“Yvonne, bagaimana dengan benda itu? Apa sudah berhasil dilacak lokasinya?”

Yvonne tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Ivory sudah berhasil menemukan lokasi pasti dari benda itu. Menurut tim pelacaknya, benda itu terkubur jauh di dasar Mai-Mai Island.”

Vein menghela nafas pelan, lalu berbalik menghadap Yvonne. Mata merahnya memancarkan semacam perasaan bahwa ia bisa membaca pikirannya.

“Lalu, apa benda itu sudah digali? Apa benda itu sudah ada di tempat ini?”

“Sudah, Vein-sama.”

Suara pria menjawab pertanyaan itu. Suara yang amat tenang, dan tanpa emosi. Di sebelah Yvonne, tiba-tiba berdiri seorang butler pria berbaju hitam. Ia membungkuk pelan, lalu kembali berdiri dan melanjutkan,

Benda itu sudah diletakkan pada altar. Hanya tinggal menunggu konfirmasi dari tuan untuk memulai prosesinya.”

Vein, kali ini, memperlihatkan senyumnya. Bukan hanya senyum kebahagian, tetapi ada perasaan keji dan tanpa ampun yang terpancar dari senyumnya.

“Bagus. Sekarang hanya tinggal menunggu kiriman material utama dari West Fort. Seharusnya material itu akan tiba dalam tiga bulan.”

Yvonne dan Ivory membungkuk rendah, seraya berkata secara bersamaan,

“Vein-sama, kami undur diri terlebih dahulu. Makan malam akan segera disiapkan.”

Dengan satu lambaian tangannya, Vein mempersilahkan mereka berdua pergi, sambil berbalik menatap langit. Dengan gerakan pelan, Yvonne dan Ivory keluar ruangan. Pintu kayu di ruangan itu berderit pelan saat menutup.

“Kali ini, takkan kubiarkan kau lolos, Zen...”

Sambil berkata begitu, ia mengepalkan tangannya.

***

North Mountain, pegunungan yang selalu tertutup dengan salju, memiliki pesona menenangkan yang luar biasa. Tempat itu merupakan tempat keramat dimana para spelluser mengasah kemampuan mereka lebih dalam, setelah mempelajari dasar-dasar dari magic. Tapi, ditengah deretan pegunungan itu, berdiri sebuah bangunan tua yang menyerupai kastil. Seluruh kacanya pecah, namun tidak sedikitpun salju masuk ke dalamnya. Pada bagian puncak atap bangunan itu, tidak, beberapa bagian bangunan itu tertutup oleh kristal berwarna putih. Kristal itu memancarkan cahaya berwarna putih kebiruan layaknya salju. Kristal itulah, yang membentengi bangunan itu dari terpaan salju dan badai es.

Pada bagian dalamnya, tempat itu persis seperti bekas peperangan. Lantainya retak, perabotannya rusak, pintu-pintunya terlepas dari engselnya. Penerangan dalam bangunan itu hanyalah cahaya matahari dari luar. Namun, jauh dibawah bangunan itu, sebuah tempat berupa lahan tandus yang luas terhampar.

Seorang gadis tengah membungkuk terengah-engah ditengah lahan tandus tersebut. Di sekelilingnya, tiba-tiba muncul ratusan makhluk entah dari mana yang menyerupai dirinya. Gadis itu kembali berdiri tegak. Kedua tangannya menggenggam erat pegangan dari sepasang claw kecil dengan tiga pisau. Makhluk-makhluk tadi mulai berlari ke arah gadis itu. Ia membungkukkan badan mungilnya serendah mungkin, lalu ketika makhluk-makhluk itu masuk dalam jangkauan serangnya, ia melompat tinggi sambil berputar dengan tangan terjulur ke samping. Dalam sekejap, makhluk yang berada dalam radius serangannya itu lenyap dalam sekali serang. Tanpa membuang waktu, gadis itu menjatuhkan sesuatu dari tas kecilnya. Lalu ia dengan cepat melompat, bersalto di udara. Setelah mendarat, ia melakukan gerakan melompat mundur. Bersamaan dengan itu, benda yang ia jatuhkan tadi meledak hebat, meratakan seluruh makhluk yang ada di sekitar pusat ledakan tersebut. Ia menghela nafas, lalu duduk dengan nafas terengah.

“Kau berlatih cukup keras ya sekarang, Tyria-chan.”

Gadis yang dipanggil Tyria itu menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat sesosok pria dengan pakaian kulit berwarna biru. Tampak banyak tambalan pada baju orang itu. Mata kirinya yang berwarna kuning cerah memandang lembut ke arah Tyria. Mata kanannya tertutup topeng yang kelihatannya terbuat dari tulang. Ia mengenakan sebuah manteau berwarna putih dengan hiasan berupa kristal bulat berwarna biru pada bagian kerahnya. Di punggungnya, tergantung sebuah pedang besar berwarna ungu dengan ukiran perak. Orang itu berjalan pelan ke arah Tyria.

Tyria tersenyum ke arah orang itu, lalu bangkit.

“Zen! Seharusnya kau memberi kabar kalau mau datang ke sini!”

Zen membalas seruan Tyria dengan senyum kecil.

“Ahahah, maaf maaf,” ujar Zen sambil menggaruk kepalanya. “Aku hanya ingin melihat bagaimana perkembangan Tyria-chanku,” Zen memberi penekanan pada kata ku.

Tyria, mendengar hal itu, mukanya merah padam. Ia menunduk. Tubuhnya bergetar menahan marah.

“Zeennniiitttth!!!!”

Dengan cepat, Tyria melakukan slide ke arah Zenith. Zenith menggeser dirinya sedikit ke arah kiri. Tanpa diduga, Tyria menghentikan slide-nya sebelum mengenai Zenith, lalu menyerangnya dengan claw-nya. Zenith menghindari semua cakaran maut dari Tyria. Tiba-tiba saja, saat kecepatan serangan Tyria berkurang, Zenith menangkap pergelangan tangan kanan Tyria.

“Ah...!”

Zenith menarik tubuh Tyria mendekat, lalu dengan cepat membalik tubuh Tyria sehingga ia sekarang dalam posisi memeluk Tyria, dengan kedua tangan Tyria terkunci oleh Zenith.

“Tidak baik melakukan serangan tiba-tiba kepada tamu seperti itu, Tyria-chan.”

Tyria menggembungkan pipinya, kesal berhasil dikalahkan Zenith semudah itu. Di lain pihak, Zenith tersenyum puas melihat tingkah Tyria. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah leher Tyria.

“Anak yang nakal harus dihukum bukan?”

Tyria, menyadari apa yang akan dilakukan Zenith, mengayunkan kaki kanannya ke depan sekuat tenaga, lalu mengayunkannya ke arah Zenith. Sontak saja, tulang kering Zenith terkena tendangan spontan dari Tyria. Ia lalu melepaskan pelukan-nya dan mundur perlahan. Tyria berbalik, memandang Zenith dengan tatapan marah. Mukanya terlihat merah padam seperti tomat. Zenith tersenyum puas, sambil meringis menahan sakitnya tendangan barusan.

“Zenith mesum!”

Bersamaan dengan teriakan Tyria, sebuah tamparan mendarat dengan indahnya pada pipi kiri Zenith, meninggalkan bekas yang terlihat sangat jelas bahkan dari jarak jauh.

...

“Jadi, Zenith, bagaimana persiapannya?”

Tyria berbicara kepada Zenith yang berada di luar ruangannya sambil mengganti pakaian luarnya yang kotor karena debu. Ia mengganti atasannya dengan sebuah Winter Coat berwarna biru, dilanjutkan dengan mengikat rambut silvernya menjadi twin tail. Mata kanannya tertutup sebuah blindfold putih, sedangkan mata kirinya memperlihatkan mata ungunya. Tatapannya terlihat lebih rileks sekarang.

Zenith bersandar pada tembok lorong tua yang menyekat mereka. Ia memainkan Griel Blade yang tadi ia simpan di punggungnya.

Claw itu sudah siap. Tapi pertanyaannya adalah, siapkah kau memakainya, Tyria?”

Tyria terdiam. Ia tidak tahu, apakah ia sudah siap atau belum. Ia sendiri bahkan masih ragu, apakah ia benar-benar berani untuk membalaskan dendam keluarga Finite kepada Schwartzrein? Pertanyaan itu terus terngiang dalam benaknya.

“Berikan aku waktu tiga bulan untuk mempersiapkan diriku. Jika setelah itu kau menganggapku tidak siap, aku akan mundur.”

Tyria berkata sambil keluar dari kamarnya. Ia menghadap Zenith, tatapannya lurus dan mantap. Zenith menghela nafas pelan, lalu berdiri tegak memunggungi Tyria.

“Hmph. Baiklah, dalam tiga bulan, jika kau tidak siap, akan kuambil alih Claw itu.”

Tyria mengangguk pelan. Zenith kemudian berjalan menjauhinya. Saat ia telah menghilang dari pandangannya, ia berbalik, berjalan berlawanan dengan arah Zenith tadi.

“Fenrir ya...”

Ia lalu berlari menyusuri lorong tersebut.

***

Sword....”

Belasan pedang muncul, disihir dari ketiadaan, mengitari leher seekor Sleiph Dragon. Naga itu meronta, mencoba melepaskan diri dari sesuatu yang membelenggunya. Seorang pria Titania, yang berada di depannya, hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Mata kanannya yang berwarna merah menatap naga itu tanpa rasa iba, sedangkan mata kirinya menutup, seakan berkonsentrasi terhadap sesuatu. Ia kemudian membuka mata kirinya, yang berwarna biru, dan mengacungkan tangannya ke arah naga itu.

..Waltz!

Belasan pedang sihir secara bersamaan menghujam leher naga yang terikat itu. Sleiph Dragon itu meraung tertahan, lalu terkulai di tanah. Cairan berwarna biru pekat memancar dari tempat-tempat yang tertusuk pedang sihir tadi. Pria itu terbang perlahan ke arah mayat sang naga. Duffle Coat abu-abu yang sedari tadi ia kenakan, dilepas. Ia gantungkan coat-nya di pundaknya. Setelah berada pada jarak yang cukup dekat dari mayat naga itu, ia mengeluarkan semacam botol kecil kosong, seukuran jari kelingking orang dewasa. Lalu, ia memasukkan darah naga yang masih segar itu kedalamnya. Setelah kira-kira tujuh botol, ia berhenti. Ia lalu bangkit dan memakai kembali Duffle Coat miliknya.

“Tujuh botol sebelum kering, sepertinya kegesitanku menurun.”

Ia berdiri diam. Orang itu lalu mengambil sebuah buku bersampul coklat muda dari kantong kecilnya. Sambil membuka buku itu, ia berjalan ke arah tadi ia berdiri.

“Sekarang... sirip naga hijau... cek. Permata pelangi naga, cek. Api ilusi abadi, cek. Sepertinya yang tersisa hanya ritualnya saja. Baguslah.”

Serix, ialah orang yang membunuh Sleiph Dragon tadi tanpa usaha yang berarti. Serix Aleizer, berasal dari keturunan Aleizer yang dikenal sebagai keluarga bodyguard terbaik, baik di dunia Emil maupun Titania. Sebagai bodyguard, tentu kemampuan bertarung dan daya tahannya luar biasa tinggi. Kedua matanya yang berbeda warna satu sama lain merupakan ciri khas dirinya. Mata kanannya yang berwarna merah, tidak biru seperti lazimnya Titania,  dipercaya menyimpan kekuatan sihir yang luar biasa. Itulah sebabnya, Serix dikenal sebagai Sorcerer terkuat dikalangan para teroris dan perompak yang sering berurusan dengan keluarga Aleizer.

Serix mengangkat tangan kirinya. Sebuah lingkaran sihir putih muncul di bawahnya.

“Sekarang, mencari tempat ritual yang tepat. Teleport!

Dalam sekejap, tubuh Serix lenyap dari tempat itu.

***

Downtown, Acropolis City.

Di dalam sebuah ruangan rahasia dibawah bioskop Downtown, berbaris selusin pasukan yang mengenakan baju serba hitam. Neutral Force’s Knights. Di depan mereka, berdiri dua orang wanita yang saling berhadapan. Yang satu terlihat sudah tua, sedangkan yang lainnya terlihat muda, dengan rambut diikat ke belakang. Sebuah tombak raksasa berwarna hitam dengan motif merah menyala bersandar pada punggungnya. Dark Dragon Spear, Dominion.

“Apa kau yakin senjata ini sudah layak pakai, Louran? Aku tidak ingin senjata di punggungku ini rusak dan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil saat pertempuran nanti.”

Wanita muda tersebut berbicara dengan nada sepelan mungkin, agar orang lain tidak mendengar apa yang barusan ia katakan.

“Tenang saja. Ramia mengatakan senjata itu sudah menjalani proses ritual secara alami. Seharusnya tidak akan hancur semudah itu. Sebaiknya kau lebih khawatir akan kemampuanmu menguasai senjata itu, Atrix-san.”

Louran, sang ketua dari perkumpulan Guild Council, tampak cemas. Ia menatap Atrix dan tombaknya secara bergantian. Meski ia tahu Atrix merupakan seorang Dark Stalker terbaik di Neutral Force, tombak itu di mata Louran terlihat seperti menolak untuk berada dekat dengan Atrix.

Atrix Orpheus, ketua dari Dark Stalker guild, merupakan Dark Stalker dengan kemampuan kegelapan terkuat. Untuk ukuran seorang Dark Stalker, ia sangat piawai dalam menggunakan tombak dan perisai, meski ia lebih senang menggunakan tombak besar untuk menghabisi musuh-musuhnya.

Atrix berbalik memunggungi Louran, berjalan ke arah sebuah pintu di pojok ruangan itu. Pintu itu terbuka, memperlihatkan sebuah lift tua. Ia masuk ke dalamnya, lalu memencet beberapa tombol yang terdapat di samping lift itu. Sebelum pintu lift tertutup, Louran memperingatkan Atrix dengan suara pelan.

“Berhati-hatilah.”

Atrix mengangguk singkat. Bersamaan dengan itu, pintu lift menutup, membuat sosok Louran tidak terlihat lagi oleh Atrix. Tangan kanannya bergerak secara reflek ke arah pegangan tombak di punggungnya. Ia merasakan kekuatan kegelapan mengalir pada tangan kanannya.

“Berhati-hati, katamu…”

Aura kegelapan menyelimuti Atrix. Ia menyunggingkan senyum yang tidak dapat ditebak. Lalu, dalam sekejap, ia menghilang dari lift itu, tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Afterwords
Oh iya, lupa
Saya akan melakukan OpRec untuk para forumer/non-forumer yang numpang eksis mau chara kesayangannya nongol di fanfic ini.
Caranya gampang!
ketik REG spasi Sanctum kirim ke 9818 Kirim segala data tentang chara anda, meliputi job, sifat, kebiasaan, dan SS char (diharapkan pake mrbviewer biar gampangan ngeditnya. Kalo SS biasa gpp sih, tapi nanti saya ubah lagi jadi mode mrbviewer, oke?) Boleh di edit (contoh kayak SS serix, mata normal ga bakal ada yg merah-biru :laugh: )
kirim via PM forum dengan judul PM "OpRec FF" tanpa kutip.

Ga ada yang namanya anta-prota, semua disini bakal saling bunuh! MUAHAHAHAHAHAH! *ups spoiler*
« Last Edit: August 26, 2013, 12:19:38 AM by whyyou »
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline Yuka

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 839
  • Cookie: 53
Re: [ECO Fanfic] Sanctum - Ignisia
« Reply #1 on: November 06, 2011, 09:14:18 AM »
pertamax~ #dirajam
pengen masukin char tp galau... .__.



oke, bagian typonya...

Quote
Bersamaan dengan itu, pintu lift menutup, membuat sosok Louran tidak terlihat lagi oleh Atrix.
kurang italic? soalnya yang lain dimiringin...

Quote
Tangan kanannya bergerak secara reflek kea rah pegangan tombak di punggungnya.

Offline sacchan_magician

  • Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum - Ignisia
« Reply #2 on: November 06, 2011, 10:44:00 AM »
wah.....
ternyata weapon-weapon juga nongol di sini :laugh:

rada....amazed sih liat ada scene menjelang mesum lol (kl saya mah ga bisa bikin scene begitu T^T)
tapi oke juga, ada hawa2 kyk last-man standing nya XD

pengen oprec...tapii....tapiiiii bingung mau bikin char kyk apa lol

Watching you from afar...and will always love you...
We're always here for you...
[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ]

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum - Ignisia
« Reply #3 on: November 06, 2011, 03:33:05 PM »
pertamax~ #dirajam
pengen masukin char tp galau... .__.



oke, bagian typonya...
kurang italic? soalnya yang lain dimiringin...


sudah dibetulkan :nod:
ngapain galau? kirim aja :nom:

wah.....
ternyata weapon-weapon juga nongol di sini :laugh:

rada....amazed sih liat ada scene menjelang mesum lol (kl saya mah ga bisa bikin scene begitu T^T)
tapi oke juga, ada hawa2 kyk last-man standing nya XD

pengen oprec...tapii....tapiiiii bingung mau bikin char kyk apa lol

sebenernya ngetik scene mesum itu susah, tapi gara2 dicekokin lumayan banyak FS di FF forum sebelah jadi gini deh :gone:

kirim aja seadanya XD



Updated : character list pics
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #4 on: November 23, 2011, 08:48:21 PM »
Preview Chapter 1

“Apa maksudmu mau kembali ke Nanatsumori, Tyria?!”
“Ini keputusanku! Lagipula, aku sudah lama nggak hadir di sekolah. Apa kamu pikir mereka tidak akan curiga?”

...

“Bunuh...bunuh...bunuh~!”
...
“Hei, onii-chan, apakah itu... Trick Size?”
“Benar sekali, gadis kecil. Baiklah, karena kau telah menyebut namamu, maka perkenankan diriku memperkenalkan diri. Namaku—Ugh!”
...
“Necro Resurrection? Sepertinya aku tidak bisa membiarkan jasadnya disini. Pertama...”

...

“Ada seseorang yang ingin kutemui di sini.”
“Aku kah maksudmu, Black Wolf user?”

...

“Vein-sama. Apa Mai-Mai Island dan Tonka masuk ke dalam target?”
“Keputusan itu sepenuhnya berada di tanganmu. Apa menurutmu membiarkan Acropolis memanggil bantuan dapat membantu kita? Atau malah menghambat kita?”



Chapter 1 dirilis paling lambat 2x24 jam dari previewnya :nom:
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #5 on: November 24, 2011, 08:06:17 PM »
thus, mau kirim ga sempet2, sori lho ya... :cry:
tapi kalo aku kirim, bikin yang keren yah? :laugh:


uwogh, langsung masuk konflik aja nih athus... napsu ni ye :nom:
waiting for it!! :nom:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #6 on: November 24, 2011, 08:33:57 PM »
tenang aja, pasti keren kok  =P

ini belum ada bunuh2an skala besar loh  :laugh:



Berhubung udah ada yang ngepost, jadi mari simak, the 1st chapter!



Chapter One

Approaching Time

Satu bulan sebelum pertempuran.

Di dalam aula kediaman Finite yang telah musnah, tampak dua sosok terlihat sedang berdebat: Tyria dan Zenith.

“Apa maksudmu mau kembali ke Nanatsumori, Tyria?!”

“Ini keputusanku! Lagipula, aku sudah lama nggak hadir di sekolah. Apa kamu pikir mereka tidak akan curiga?”

Mereka saling berpandangan satu sama lain. Tyria tampak gusar dengan reaksi Zenith. Zenith pun demikian, tampak gusar dengan keputusan mendadak Tyria.

“Apa yang membuatmu ingin kembali ke sana, Tyria? Kau sudah tidak terdaftar di sana, bukan?”

Mendengar pertanyaan Zenith, Tyria tertunduk. Mukanya memerah. Wajah gusar Zenith berubah menjadi senyum kemenangan. Kemenangan karena berhasil membuat Tyria tertunduk.

“Aku...aku...”

Melihat perubahan nada bicaranya, senyum Zenith memudar.

“Bertemu dengan dia, ya?”

Tyria mengangguk pelan. Zenith menghela nafas. Ia tidak menyangka, Tyria masih ingat tentang dia, meski sudah lebih dari tiga bulan mereka tidak bertemu.

“Baiklah kalau begitu. Tapi, apa kau sudah bisa menggunakan Fenrir?”

Tyria mengangguk.

“Buktikan. Lawan aku.”

Zenith menarik Griel Bladenya, memposisikan dirinya untuk melawan Tyria. Begitu pula Tyria. Ia mengambil sebuah claw dari gantungan di pinggangnya. Claw itu memancarkan cahaya berwarna merah darah. Ia menyarungkan tangannya ke dalam sarung cakar itu, mengecek ikatannya, lalu memasang ancang-ancang untuk menyambut Zenith.

Zenith mencondongny tubuhnya ke depan, lalu pada detik berikutnya ia sudah berada di depan Tyria. Ia langsung menebas Tyria, namun serangan itu luput dari sasarannya. Tyria bertindak cepat dengan membuat tubuh palsu dan berpindah tempat ke belakang Zenith. Ia terkejut akan serangan Zenith yang tiba-tiba tersebut.

Sonic Movement...?

Zenith, tanpa membuang waktu, kembali melakukan Sonic Movement ke arah Tyria. Namun sebelum Zenith sempat mendekat, Tyria melemparkan sebuah granat kecil. Saat menyentuh tanah di antara dirinya dan Zenith, granat itu meledak, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Zenith yang terlambat menyadari granat itu, menjadi buta sesaat. Tak ingin membuang kesempatan ini, Tyria maju lalu menghantam bagian vital dari tubuh Zenith dengan sikunya, membuat Zenith lumpuh sesaat. Tanpa pikir panjang, Tyria melanjutkan dengan melakukan roundhouse kick kepada Zenith. Zenith pun terpental beberapa meter sebelum ia berhasil menguasai kembali tubuhnya.

“Ugh...lumayan...”

Zenith menyimpan kembali pedangnya. Ia berjalan pelan ke arah Tyria.

“Apa itu artinya aku... sudah lulus?”

Zenith mengangguk.

“Ya. Lakukan sesukamu. Setidaknya sampai perang itu dimulai.”

Ia berhenti beberapa meter di depan Tyria. Lalu, ia mengangkat tangan kanannya sambil memegang sebuah kunci. Kunci itu tiba-tiba memancarkan cahaya putih, menyinari seluruh ruangan itu.

“Sampai jumpa lagi, Tyria-chan.”

Sambil menyunggingkan senyum ke arah Tyria, ia menghilang bersamaan dengan hilangnya pancaran cahaya putih itu.

Tyria memandang tempat tadi Zenith berdiri. Kemudian, ia berbalik, berjalan menuju pintu menuju ke luar satu-satunya. Begitu ia menginjakkan kakinya di luar, ia melihat pemandangan pegunungan menakjubkan yang tertutup salju seluruhnya. Ia memeriksa barang bawaannya, khawatir ada yang tertinggal. Setelah selesai, ia berjalan menyusuri tangga batu yang sudah nyaris hancur termakan usia. Pada setiap anak tangga, terdapat gambar yang melambangkan elemen air. Setiap kali Tyria menginjaknya, lambang itu berpendar lemah. Ia terus berjalan sampai ke bagian bawah dari anak tangga itu. Di depannya, butiran salju tanpa henti terus menghujani pegunungan itu secara perlahan. Ia menghela napas, lalu masuk ke dalam goa yang terdapat pada sisi kirinya. Di dalam goa tersebut, berdiri seekor naga biru dengan mata biru cemerlang. Naga itu menengok ke arah sesuatu yang menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam goanya. Melihat sosok Tyria, naga itu menggeram senang. Naga itu berlari menyongsong Tyria, yang membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk peliharaan kesayangannya itu.

“Aomizu!”

Naga itu melompat, menabrak jatuh Tyria, lalu mengeluskan kepalanya ke arah wajah Tyria. Salju berterbangan di sekitar tempat Tyria jatuh. Tyria tertawa geli wajahnya dielus oleh kepala naga biru itu.

“Ahahaha Ao, hentikan!”

Naga itu berdiri, lalu berbalik menghadap ke arah goa. Setelah ia berjalan beberapa langkah, ia berbalik menghadap Tyria, lalu membungkuk agak rendah. Tyria mengangguk, lalu ia tanpa ragu menaiki naga itu. Setelah ia mengatur posisi duduknya di punggung naga itu, ia memakai sebuah kacamata berwarna hitam. Lalu, Ia memeluk leher Aomizu.

“Ayo, Aomizu. Ke Acropolis!”

Diiringi oleh sebuah raungan, naga itu berlari keluar, menembus hujan salju yang kian lebat. Sementara Tyria menunduk menahan terpaan angin dingin, Aomizu berlari cepat ke kaki gunung, menembus putihnya salju.

***


“Bunuh...bunuh...bunuh~!”

Sesosok Dominion sedang berdiri di tengah lima mayat Emil. Ia mengayunkan sebuah sabit sebesar tubuhnya dengan mudahnya. Ayunan itu membuat darah yang masih baru di sabit tersebut berterbangan. Perlahan ia berjalan keluar dari ruangan itu, menuju ke lantai dua dari rumah itu.

Ketika ia sampai di depan sebuah pintu dengan papan kecil bertuliskan “Alluminia”, ia berhenti. Sejenak ia memandang papan itu dengan tatapan hampa. Lalu, tatapan hampa itu dalam sekejap digantikan dengan sebuah senyum keji. Ia menjilat darah yang menempel pada sabitnya sambil membuka pintu itu.

Di dalam ruangan itu terlihat lengang. Hanya ada beberapa lemari dan kardus yang tertutup rapat bertumpuk satu sama lain tak beraturan. Di tengah ruangan itu, sesosok gadis Emil berdiri tegak. Ia tidak gemetar melihat seorang asing yang baru saja memasuki ruangannya. Kedua tangannya berada di belakang tubuhnya, seakan menyembunyikan sesuatu. Dominion tadi berjalan lambat ke arah gadis itu. Matanya terus mengawasi gadis yang ia yakin bernama Alluminia itu. Setelah beberapa langkah, ia berhenti.

“Apa kau yang bernama Alluminia, yang menempati kamar ini?”

Gadis itu mengangguk pelan.

“Ya. Apa kamu yang telah menghabisi seluruh keluargaku?”

Sekarang, giliran Dominion itu yang mengangguk.

Alluminia menghela napas pelan. Ia menundukkan kepalanya sesaat, lalu kembali menatap Dominion itu dengan senyum di wajahnya. Tatapan matanya jatuh kepada sabit yang ia pegang.

“Hei, onii-chan, apakah itu... Trick Size?”

Dominion itu tersenyum. Senyumnya lebih lebar dan lebih keji daripada sebelum ia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Alluminia dengan tatapan tertarik.

“Benar sekali, gadis kecil. Baiklah, karena kau telah menyebut namamu, maka perkenankan diriku memperkenalkan diri. Namaku—Ugh!”

Sebelum ia sempat menyebutkan namanya, Alluminia telah bergerak maju dan memukul perut orang itu dengan bagian tumpul senjata yang ia sembunyikan, sebuah sabit. Sebelum Dominion itu sempat bereaksi, Alluminia kembali mengayunkan sabitnya, kali ini dengan bagian pisaunya. Serangannya membuat Dominion itu kehilangan tangan yang memegang Trick Size-nya.

“Tanganku...TANGANKUUUU!!!! AAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Dominion itu meraung memecah keheningan malam itu. Ia terhuyung jatuh ke belakang. Tangan kirinya memegang tangan kanannya—yang sekarang sudah tidak ada di tempatnya. Alluminia berjalan pelan ke arahnya, lalu meneteskan cairan berwarna ungu pekat ke bagian tangan Dominion yang putus itu. Syaraf-syaraf dan organ dalam Dominion itu memuntahkan darah luar biasa banyak setelah ditetesi oleh cairan itu. Seakan belum puas mendengar jeritan Dominion itu, Alluminia kembali mengayunkan sabitnya, memotong kedua kaki sang Dominion.

AAAAAAAAAAARRRRRGGGHHH!!!!

Dominion itu menjerit dua kali lebih keras dari raungan sebelumnya. Sekarang ia tidak bisa bergerak lagi, tanpa tangan dan kedua kakinya. Alluminia, setelah memotong kaki Dominion itu, berjalan menjauhi sang Dominion lalu mengambil tangan Dominion yang terkulai di depannya. Ia memotong seluruh jari yang memegang Trick Size, lalu mengambil sabit tersebut. Ia mengangkat sabit itu ke atas, mengagumi keindahannya di bawah sinar rembulan. Setelah puas, ia menyimpannya pada ikatan di pinggangnya. Ketika ia hendak berjalan keluar, ia melihat sebuah gambar tengkorak keunguan dengan lingkaran berwarna ungu di punggung Dominion yang terlihat sudah tidak sadarkan diri itu. Alluminia melotot melihat lambang itu. Wajahnya terlihat terkejut.

Necromancer...

Ia menghentikan langkahnya, mengambil Trick Size-nya, lalu menusukkannya tepat ke arah dimana jantung Dominion itu berada. Ia menggoyangkan sabit itu sampai lubang yang dibuat cukup besar, memperlihatkan jantung Dominion itu yang masih berdenyut lemah.

Necro Resurrection? Sepertinya aku tidak bisa membiarkan jasadnya disini. Pertama...”

Alluminia menunduk memandang jantung itu lebih dekat. Ia julurkan tangannya ke depan, menggenggam jantung sang Dominion, lalu menariknya keluar. Darah yang menyembur keluar bukan berwarna merah, melainkan ungu. Ia memandang jantung itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Lalu, tanpa diduga, ia melempar jantung itu ke atas dan memotongnya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil dengan sabitnya.

Setelah memastikan serpihan jantung itu jatuh ke lantai, ia mengangkat tangan kanannya. Sebuah lingkaran sihir api muncul pada lantai di depannya.

“Homura!”

Dari lingkaran sihir itu, keluar seekor burung api seukuran orang dewasa. Burung api yang disebut Homura itu menunduk di hadapan majikannya.

“Apa yang anda butuhkan, Allu-sama?”

“Bakar rumah ini, jangan sampai ada yang tersisa. Lalu, bawa aku pergi dari sini!”

“Baiklah, Allu-sama.”

Sebelum Alluminia meninggalkan ruangan itu, ia menatap jasad Dominion itu. Sambil menatapnya, ia berkata,

“Alluminia adalah nama temanku. Ia sudah kupindahkan ke tempat yang aman bersama keluarganya. Namaku... Allura Finite. Camkan itu, Dominion malang. Aku tahu arwahmu masih berada di sini, menunggu kesempatan untuk kembali masuk ke dalam jasadmu.”

Setelah berkata begitu, ia keluar ruangan itu. Allura berjalan menyusuri tangga menuju lantai satu. Sebelum keluar dari rumah itu, ia sekilas melihat ruang keluarga yang penuh dengan tubuh-tubuh tak bernyawa dan darah dimana-mana.

Tidak kusangka ada orang yang tertipu dengan boneka yang kubuat...

Segera setelah Allura keluar dari rumah itu, api menyala dari ruangan tempat Dominion tadi tewas. Beberapa detik kemudian, Homura melompat keluar dari ruangan itu melalui jendela. Ia mendarat tepat di sisi Allura.

“Allu-sama, tempat ini akan terbakar dalam 10 detik. Sebaiknya anda lekas meninggalkan tempat ini.”

Allura mengangguk. Ia mengangkat tangan kanannya. Cahaya putih perlahan menyelimuti tubuh Allura dan Homura-nya. Setelah cahaya itu menyelimuti seluruh tubuh mereka, tubuh Allura menghilang perlahan. Partikel-partikel cahaya dari tubuh Allura berpindah ke Homura. Kemudian setelah tubuh Allura hilang seutuhnya, Homura membuka matanya.

“Ayo kita pergi, Homura!”

Suara itu datang dari mulut Homura, namun suara itu adalah suara Allura. Allura telah menggunakan kemampuan dari seorang marionettist, Marionette Harmony.

“Baik, Allu-sama.”

Homura pun mengepakkan sayapnya. Ia mendorong tubuhnya dengan kakinya dan terbang ke angkasa. Ia menatap kembali rumah yang barusan ia bakar, yang sekarang sudah penuh dengan api. Tapi tidak lama kemudian, ia kembali menatap ke depan. Mereka pun hilang ditelan gelapnya malam, meninggalkan jejak api membara di tanah.

***

Iron Volcano, tepat di mulut kawah gunung berapi.

Zenith berdiri di tepi kawah, memandang magma yang meletup-letup seakan ingin meledak sesegera mungkin. Ia merogoh kantong kecil di pinggang belakangnya, lalu mengambil suatu benda yang mirip dengan sebuah kalung, dengan bertatahkan batu berwarna merah darah. Ia menggenggam kalung itu sambil menutup matanya, berkonsentrasi pada sesuatu.

“Salamander, aku membutuhkan kekuatanmu.”

Seraya berkata begitu, tubuhnya diselimuti oleh cahaya berwarna putih. Perlahan, cahaya itu menghilang, digantikan oleh sosok seekor Salamander, namun alih-alih diselimuti oleh api berwarna merah, Marionette Salamander tersebut diselimuti oleh api berwarna hitam kebiruan. Sorot matanya lekat memandang kawah gunung berapi itu. Lalu, tanpa ragu, ia melompat ke dalam kawah tersebut. Alih-alih terbakar, ia terus meluncur turun seakan tidak ada magma di sana. Beberapa saat kemudian, Salamander itu menginjak pada sebuah batu besar. Cahaya putih menyelimuti Salamander itu, lalu menghilang dengan sama cepatnya, digantikan kembali oleh sosok Zenith, tanpa luka.

Dua ekor Phoenix terbang ke arah Zenith, melayang mengitarinya. Salah satunya berkata langsung menuju pikiran Zenith menggunakan telepati.

“Apa yang kau inginkan dari sini, wahai anak dari ras Emil?”

Zenith tanpa rasa terkejut maupun takut, menjawab pertanyaan Phoenix itu, sambil menunjuk ke arah tembok di hadapannya.

“Ada seseorang yang ingin kutemui di sini.”

“Aku kah maksudmu, Black Wolf user?

Tiba-tiba, sesosok Dominion muncul di hadapannya, berdiri di udara seperti melayang. Namun, ada yang berbeda dari Dominion itu. Ia menggunakan sebuah catty booster, namun booster di punggungnya itu memiliki empat sayap. Rambut pirang acak-acakannya menutup mata kanannya, yang sudah tertutup oleh sebuah penutup mata berwarna emas. Sebuah sabit berwarna merah dengan mata pisau abu-abu bertengger di pundaknya, ditopang oleh tangan kanannya. Di belakangnya, sesosok Death berwarna ungu gelap melayang.

Zenith terkejut. Ia tidak menyangka senjata yang sudah susah payah ia sembunyikan dengan cara fusion langsung diketahui oleh orang itu. Namun, ia segera menguasai dirinya.

“Ya. Apa benar, kau pemenang dari demonic war sebelumnya, Soul Zeon?”

Dominion itu menatapnya sejenak. Lalu, ia mengangguk pelan.

“Ya. Langsung saja, apa yang kau inginkan? Aku tidak begitu suka basa-basi, kau tahu.”

Zenith lalu menunduk, menurunkan pedangnya, lalu setengah bersujud.

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Soul mengangkat alisnya, heran.

“Bantuan?”

Zenith kembali bangkit. Ia menatap lurus ke arah Soul.

“Ya. Aku ingin kau menghabisi seorang gadis.”

Soul kembali mengangkat alisnya, kali ini lebih tinggi.

“Untuk apa kau capek-capek memanggilku, jika hanya untuk menghabisi seorang gadis kecil?”

Zenith tersenyum mendengar respon dari Soul. Ia mengangkat pedangnya, lalu menyimpannya di pundaknya, seperti Soul.

“Tentu saja tidak. Aku memerlukanmu untuk memenangkan demonic war kali ini. Tugas utamamu cukup membunuh gadis itu. Setelahnya, kau cukup membantuku menghabisi yang lainnya, termasuk yang memiliki ide gila ini sejak zaman dahulu, Arma.”

Kali ini, Soul tertawa keras. Ia tidak habis pikir, ada orang yang hendak menantang Arma.

“WAHAHAHAHAHA! Baiklah nak, kau dapatkan kepercayaanku. Sekarang, siapa gadis yang harus kubunuh ini?”

Zenith tersenyum. Senyum keji yang tersamarkan dengan baik oleh uap yang dikeluarkan oleh magma di sekitarnya.

“Yang harus kau bunuh adalah pewaris terakhir keluarga Finite, Tyria Finite.”

***

Acropolis City Capital, Airship Dock Area.

Vein menatap orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Ia sudah lupa, kapan terakhir kali ia melihat keramaian seperti ini?

“Vein-sama.”

Yvonne menyikut rusuk Vein, membuatnya tersadar dari lamunannya. Vein kembali pada wajah tanpa ekspresinya, yang menurut Yvonne maupun Ivory, tidak ada bedanya dengan wajah melamunnya tadi.

“Ah, ya. Ivory, Yvonne, jalankan sesuai rencana. Kita akan mengisolasi pulau ini dari segala bentuk ancaman.”

Yvonne dan Ivory menunduk bersamaan. Lalu, mereka hendak pergi ketika—

“Tunggu!”

Vein menghentikan mereka sebelum mereka berdua berjalan bahkan satu langkah. Ia mengambil dua kantong kulit tua dan menyodorkannya pada kedua butler-nya.

“Ini biaya untuk mempersiapkan diri kalian. Isinya sekitar sepuluh juta tiap kantongnya. Gunakanlah sebaik mungkin.”

Mereka kembali menunduk bersamaan. Yvonne lalu berlari menembus kerumunan, menuju ke arah barat kota, sementara Ivory masih berdiri di tempatnya.

“Vein-sama. Apa Mai-Mai Island dan Tonka masuk ke dalam target?”

Vein tampak berpikir sejenak. Lalu, ia berkata dengan suara datar.

“Keputusan itu sepenuhnya berada di tanganmu. Apa menurutmu membiarkan Acropolis memanggil bantuan dapat membantu kita? Atau malah menghambat kita?”

Ivory terdiam sejenak. Lalu, ia mengangguk paham.

“Baiklah jika itu yang Tuan inginkan.”

Ia menunduk sebentar, lalu berlari ke arah selatan kota Acropolis, menembus kerumunan yang sedang berjalan hilir mudik. Sedangkan Vein berjalan pelan ke arah timur kota, sambil menatap titania, dominion, dan emil yang bersaing harga dan bertransaksi. Tidak lama kemudian, sosok mereka pun hilang ditelan keramaian pasar Acropolis.

Everyone, will die in vein...

***

Jauh ke arah barat kota Acropolis, sesosok Titania keluar dari sebuah menara yang menembus langit. Duffle Coat-nya melambai diterpa angin, memperlihatkan T-Shirt berwarna putih polos. Di tangan kirinya, talisman berwarna putih dengan kristal merah di tengahnya bercahaya terang, namun meredup seiring waktu berjalan. Serix baru saja keluar dari Sky Tower

Ignite!

Papa booster di punggungnya mengatupkan mulutnya, seakan mengerti perkataan pemiliknya. Serix terbang ke depan, menuju ke arah dermaga Airship yang akan membawanya ke Morg, kota pertambangan. Namun, baru seperempat jalan ia tempuh—

Cross Crest.

Serix menyadari tepat pada waktunya. Ia mengangkat tangan kanannya, menciptakan pelindung sihir yang mengelilingi dirinya. Rentetan peluru yang membentuk salib tersebut berhenti pada saat menyentuh pelindungnya dengan suara seperti kaca pecah. Serix berbalik menatap arah datangnya serangan tadi. Matanya terbelalak.

DEM?!



Afterwords

Yak, berhubung episode depan (episode...) udah mau selesai bagian pengenalannya, maka bagi yang mau ikut jadi pemeran utama, harap kirim sebelum chapter 3 nongol. I've warned you~

List senjata 99 yang belum dipake :
- 2h Axe
- 1h Mace
- 2h Mace
- Bow
- Crossbow
- Staff
- 1h Spear
- Card
- Throwing Weapon

cukup PM/post disini char yang mau dimasukin, formatnya...
Nama : (nama depan sama belakang)
Nick : (panggilan)
Usia :
Job : (sementara jangan job 3 dulu yah)
Penampakan MRB/SS :
*List detail equip : (boleh ada boleh tidak)
Sifat :
Background Story :
Lain-lain :

ok, submit ur best chara and we'll do the rest~
« Last Edit: November 28, 2011, 12:15:46 AM by whyyou »
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #7 on: November 24, 2011, 10:30:05 PM »
waw, ternyata waktu itu nanya nama2 weapon buat ini toh..
keren juga XD
sekilas baca mirip persiapan Holy Grail War

oprec nya... hmm.. pingin, tp bingung mu masukin apa...
terutama di background.. gak ada seting/history yg bisa dijadiin acuan ya :confuse:
tp coba buat2 aja d tar (smoga sempet) XD

btw
Quote
“Everyone, will die in vein...”
itu typo apa emang pun si vein? XD
« Last Edit: November 24, 2011, 11:24:49 PM by shinigami_boy »

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #8 on: November 25, 2011, 05:47:34 AM »
Memang konsepnya diambil dr sana XD (meski jd lebih ribet gara2 jumlah senjatanya kebanyakan)

Sengaja dong XD
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #9 on: November 25, 2011, 12:35:07 PM »
PM sent ヽ(´▽`)/
tulis yang keren yaa
waiting for da next chapter~
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································