Author Topic: [ECO Fanfic][Ongoing] Sanctum : Ignisia (Hiatus)  (Read 5066 times)

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #10 on: December 23, 2011, 02:20:57 PM »
anooo.. theus, tanya donk..
klo mw dftar oprec tp jenis weaponnya udh d pake dstu gmn? boleh?
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #11 on: December 23, 2011, 02:41:46 PM »
gpp sih, kirim aja dulu
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #12 on: January 11, 2012, 05:39:51 AM »
CV Sent...
d tunggu update-annya Thus,,,
jgn lama2 ya XD
*lirik FFnya chie yg terbengkalai :sweat: :cry:
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #13 on: February 28, 2012, 09:32:33 PM »
Preview Chapter 2

“Ayo, nii-chan. Waktumu tidak banyak, bukan?”

“Apa yang dilakukan sebuah DEM di tempat ini...?”

---

“Kita akan menjemput seorang anak di rumah Louran sebelum berburu. Kau tidak keberatan kan?”

---

“Atrix sialan...”

“Kau seharusnya sudah tahu, kau tak akan bisa lari dariku, Raven.”

...

Karunuean... kau sudah berniat untuk membunuhku rupanya?”

“Kau, Atrix, adalah ksatria terkorup yang pernah kutemui.”

---

“Ia berencana untuk menghancurkan Acropolis.”

---

“Darimana kau dapatkan itu?”

“Mencuri.”

---

“Sudah kubilang jangan membunuh makhluk-makhluk tak berdosa ini, Mizura!”

“Bisakah kau membiarkanku sendiri, Mizuros? Yang penting sampai di tempat itu kan?”

---

“Ayah...ibu...”





Next chapter will be posted in about 1 week, could be more or less...
« Last Edit: February 28, 2012, 09:34:02 PM by whyyou »
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #14 on: March 01, 2012, 11:28:56 PM »
wuih..gk sabar....
hopely soon..jgn ampe sminggu, gk sabar >.<
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline whyyou

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 790
  • Cookie: 53
  • 大丈夫だよ!
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #15 on: March 03, 2012, 12:42:30 AM »
The chapter 2 had finally finished~ :sembah:
berhubung ga sempet cek ulang, mungkin ada beberapa typo, ato banyak...

Either way, enjoy the 2nd chapter~




Chapter Two

Transcending Time

“Salvation Aura!”

TRANG TRING TRANG!

Puluhan peluru menghujani Serix, namun semua peluru itu hanya seperti menghantam kaca yang tebal. Sambil mencari celah untuk menyerang balik, ia terus bergerak mengelilingi DEM itu. DEM yang menggunakan sebuah Last Kiss. Akan tetapi, DEM itu terus menghujaninya dengan peluru-peluru timbal tanpa jeda sedikitpun. Mau tidak mau, Serix harus berkonsentrasi penuh untuk mempertahankan pelindungnya.

Reckless Fire.”

Enam butir peluru melesat cepat menuju ke arah Serix. Pada peluru ke lima, pelindung yang melindungi Serix dari rentetan peluru itu hancur. Salah satu peluru berhasil mengenai lengannya, membuat cast sihir Serix terhenti. Darah merembes menembus jaket tebalnya.

“Tch. Kalau begini, terpaksa...”

Serix meng-cast sebuah pelindung baru. Pada saat bersamaan, DEM yang sedari tadi menyerangnya tampak telah kehabisan peluru. DEM itu lalu mengambil sebuah tongkat kecil dari pinggangnya. Tongkat itu kemudian mengeluarkan sinar menyala berwarna biru. Laser Blade. Lalu, DEM itu maju, menuju ke arah Serix.

Serix mengangkat tangan kanannya. Perlahan muncul sebuah pedang besar berwarna putih, diikuti dengan pedang serupa di samping pedang pertama. Pedang itu terus muncul hingga terdapat enam pedang yang melayang mengelilingi Serix. Kemudian, Serix mengacungkan tangan kanannya ke arah DEM itu.

“Sword Waltz!”

Keenam pedang sihir itu melesat cepat ke arah DEM itu dan mengenai bagian kepala, kedua tangan, dan kedua kakinya serta melucuti senjatanya. DEM itu terpental mundur, namun dalam sekejap dapat menguasai dirinya lagi. Tetapi, ketka DEM itu hendak meraih Laser Blade yang terhempas dari pegangannya, secara tiba-tiba...

“Chain Lightning!”

Seberkas kilat menghantam tepat di bagian dada DEM itu, meninggalkan sebuah lubang yang menembus hingga ke belakang DEM itu. Percikan-percikan listrik muncul dari tubuh DEM itu di berbagai tempat. Lalu, dengan suara berdebam, DEM itu roboh.

Serix melakukan teleport ke sisi DEM itu, untuk memastikan bahwa DEM itu sudah tidak berfungsi. Setelah memastikannya, ia berbalik ke arah asal kilat yang menghantam DEM itu. Di sana, di dermaga airship, berdiri seorang gadis titania. Rambutnya yang berwarna hijau diikat ke samping belakang. Ia mengenakan kimono berwarna hijau selaras. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah tongkat dengan bunga-bunga berwarna-warni pada ujungnya. Salah satu bunga yang berwarna kuning masih mengeluarkan percikan-percikan listrik. Ujung kaki sampai ke atas pahanya tertutup oleh kaus kaki berwarna putih bersih. Pada mata kakinya, terikat sebuah pita berwarna merah. Gadis itu menurunkan tongkatnya, lalu melambai ke arah Serix sambil tersenyum.

“Hai, nii-chan!”

Serix membalas lambaian gadis itu, lalu dengan cepat berpindah ke depan gadis itu. Serta merta, gadis itu memeluk Serix dengan erat. Serix hanya tersenyum dan menepuk pundak gadis itu.

“Vynia, sudah lama ya...”

Gadis itu, Vynia, mendongak menatap wajah Serix. Mata mereka bertemu. Vynia lalu mengangguk dan kembali membenamkan kepalanya ke tubuh Serix. Serix membelai pelan rambut pendek Vynia. Setelah Vynia melepaskan pelukannya, ia menggandeng tangan Serix, mengajaknya ke airship miliknya.

“Ayo, nii-chan. Waktumu tidak banyak, bukan?”

Serix mengangguk pelan.

“Baiklah. Ayo kita pergi ke rumahmu. Aku belum merasa tenang sebelum ritualnya selesai.”

Mereka pun naik ke airship milik Vynia, lalu melesat ke arah timur, menuju benua Acronia.

“Apa yang dilakukan sebuah DEM di tempat ini...?”

***

Fruit Forest, 02.00 AM

Sesosok pria sedang berdiri menatap bulan yang tertutup oleh awan di tepi sebuah jurang. Tangan kanannya menggenggam sebuah cambuk yang bercahaya merah. Di belakangnya, seekor Golden Wolf tengah bermain-main dengan rumput di sekitarnya.

“Cuaca yang bagus. Seharusnya perburuan kali ini akan menyenangkan...”

Ia menyimpan cambuknya dengan mengaitkannya di pinggangnya. Kemudian, ia mengeluarkan sehelai daun. Ia menggulung daun tersebut sedemikian rupa hingga berbentuk silinder kecil. Setelah itu, ia berbalik dan mengambil beberapa ranting pohon kering dari pinggangnya. Ranting-ranting itu ia tumpuk tanpa aturan. Lalu, ia mengambil dua buah batu terdekat dan menggesekkannya. Tiba-tiba saja muncul percikan api. Percikan api tersebut mengenai tumpukan ranting itu dan membuatnya terbakar, membentuk sebuah api unggun. Ia mendekatkan daun yang sudah digulungnya tadi ke arah api itu. Ujung dari daun itu mulai mengeluarkan asap. Ia lalu menghisap ujung lain dari daun itu. Ia menutup matanya, merasakan kenikmatan dan kehangatan dari asap daun yang terbakar itu. Tidak berapa lama, ia meniup keluar asap yang ia hisap tadi.

Regna Herb memang memiliki rasa yang luar biasa...”

Setelah berkata begitu, ia ke tepi tebing dan menatap bulan yang sekarang sudah terlihat jelas sambil sesekali menghisap daun itu. Pria itu mengenakan pakaian lusuh berwarna coklat. Celana yang ia gunakan pun tidak kalah lusuhnya. Pada celananya bergantung banyak benda, mulai dari seikat ranting, kain, botol-botol ramuan, sebuah kantong coklat kecil, hingga sebuah cambuk. Sepatu yang ia gunakan merupakan sepatu coklat dengan tambalan dimana-mana. Namun, sorot matanya yang tajam membuat segala kelusuhannya terlihat mengerikan. Rambut coklatnya yang tidak teratur melambai pelan diterpa angin malam.

Puas menikmati ‘rokok’ herbal itu, ia mengambil sebuah arloji tua dari kantong lusuhnya. Setelah melihat jamnya, ia tersenyum. Ia menatap ke arah Acropolis, lalu menangkap seekor burung berwarna biru yang terbang ke arahnya dalam penglihatannya. Burung itu menjatuhkan sebuah surat yang tepat mendarat di telapak tangannya yang terbuka. Pria itu membuka surat itu, membacanya, lalu mengeluh pelan.

“Sudah saatnya.”

Ia berbalik, berjalan menuju api unggun yang baru dibuatnya, lalu mematikannya.

“Ayo, Shizu.”

Golden Wolf miliknya berjalan mendekati pemiliknya. Matanya terlihat siaga.

“Kita akan menjemput seorang anak di rumah Louran sebelum berburu. Kau tidak keberatan kan?”

Shizu melakukan salto. Lalu ia melolong pelan.

“Kuanggap itu sebagai tanda setuju. Ayo!”

Pria itu memasang masker kain berwarna kuning yang menutupi bagian mulut dan hidungnya. Ia lalu berjalan menyusuri gelapnya malam di hutan buah itu.

***

“Ugh...”

Sesosok Dominion remaja berjalan tertatih-tatih sambil menutup mulutnya di suatu sudut di Downtown Acropolis. Ia terus berjalan menuju ke arah tangga keluar. Berjalan menyusuri jembatan yang menghubungkan bagian selatan Acropolis dan dataran Acronia selatan. Tepat setelah ia keluar dari wilayah kota, sesosok wanita menghadangnya. Tangan kanan wanita itu memegang sebuah tombak berwarna hitam bercorak merah menyala.

“Kau tidak boleh mengganggu pertemuan mereka, kau tahu?”

Dominion itu berhenti. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita itu. Wanita itu memperlihatkan senyum, namun tanpa keramahan. Senyum dingin tanpa emosi.

“Atrix sialan...”

“Kau seharusnya sudah tahu, kau tak akan bisa lari dariku, Raven.”

Raven, sang Dominion, mencabut sebuah pisau kecil berwarna hitam dengan cahaya merah pada bagian mata pisaunya.

Karunuean... kau sudah berniat untuk membunuhku rupanya?”

“Kau, Atrix, adalah ksatria terkorup yang pernah kutemui.”

“Terima kasih atas pujiannya,” Atrix membungkuk, “namun takkan kubiarkan Louran mengetahui rencanaku. Begitu juga KAU!”

Bersamaan dengan itu, Atrix berlari dengan posisi tombaknya siap menerkam Raven. Ia menusuk ke arah jantung Raven, namun berhasil dihalau oleh pisau milik Raven. Atrix mundur, lalu mengangkat tombaknya ke depan tubuhnya. Ia menutup matanya.

“O thy darkness, heed my words!”

Tombaknya mulai memancarkan aura berwarna hitam. Namun, tepat ketika Atrix mulai menyerang Raven—

“Darkn—“

Raven melempar sebuah bola kecil, yang meledak di udara, menciptakan cahaya yang menusuk mata. Atrix terpaksa menghentikan serangannya dan menutup matanya. Ketika cahaya itu mulai hilang, sosok Raven sudah tidak bisa ditemukan.

“Sialan...”

Aura kegelapan menyelimuti tubuh Atrix, dan dalam sekejap, aura itu hilang bersamanya, tanpa meninggalkan jejak.

Suasana mendadak sunyi senyap. Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama. Sebuah suara membuyarkannya.

“Sudah pergi ya...”

Di tempat Atrix lenyap, Raven muncul kembali. Ia menyimpan kembali pisaunya ke dalam tas kecil di pinggangnya, lalu berlari menyusuri jalan utama, menuju ke arah selatan. Ia kemudian berhenti di depan sebuah jembatan kayu tua. Di seberangnya, terdapat sebuah komplek rumah, yang terdiri atas tiga bangunan. Raven berjalan pelan menuju ke bangunan utama yang berada di tengah. Ia mengetuk pelan pintu bangunan itu. Terdengar suara seorang perempuan.

“Masuk.”

Raven membuka pintu tersebut lalu berjalan pelan. Ruangan itu tampak gelap meski sedang terjadi bulan purnama sebagian. Namun, ketika pintu di belakangnya tertutup, lilin yang melayang secara gaib menyala. Seorang wanita tengah berdiri di pusat ruangan itu. Ia menatap ke arah tabung besar yang berada di depannya.

“Louran, aku p—“

“Aku sudah mengerti.”

Raven kembali menutup mulutnya. Ia sudah tahu? Bagaimana mungkin?

“Kau hendak memberitahuku bahwa Atrix dikuasai oleh tombak itu, bukan?”

Raven mengangguk.

“Sudah kuduga.”

Raven lalu melanjutkan bicara.

“Dan satu hal lagi...”

Kali ini, Louran berbalik, memandang ke arah Raven.

“Apa itu?”

Raven menghela nafasnya.

“Ia berencana untuk menghancurkan Acropolis.”

Louran terdiam. Ekspresinya tidak dapat ditebak. Lalu, perlahan, ia membalikkan badannya, menatap ke arah tabung besar itu lagi. Raven berjalan pelan ke sebelah Louran, lalu ikut menatap tabung itu.

“Kapan ia siap untuk digunakan?”

Sekarang, giliran Louran yang menghela nafas.

“Melihat keadaannya, sepertinya paling cepat satu minggu lagi. Aku sudah menghubungi ketua Faction, tapi sepertinya mereka sudah kehabisan ramuan itu.”

Raven terdiam sejenak. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah tabung injeksi kecil dari tas pinggangnya. Tabung itu penuh berisi cairan berwarna merah pekat. Louran terkesima.

“Darimana kau dapatkan itu?”

“Mencuri.”

Jawaban singkat dari Raven membuah Louran tidak mampu berkata apa-apa. Raven berjalan mendekati tabung besar di ruangan itu, lalu menyuntiknya dengan tabung yang ia pegang. Cairan merah tersebut perlahan-lahan lenyap hingga akhirnya habis tak bersisa. Cairan merah tersebut dengan cepat berdifusi dengan cairan berwarna kebiruan di dalam tabung yang besar. Lalu, cairan tersebut berubah ungu.

Di dalam tabung tersebut, terlihat seorang pria yang tak sadarkan diri. Sekujur tubuhnya dipenuhi tato berwarna hitam. Cairan-cairan yang berwarna ungu perlahan seperti meresap ke dalam tato tersebut. Pria itu menggeliat kuat, namun tidak berapa lama berhenti.

“Dengan ini, ia akan bangun lebih awal.”

“Kuharap begitu, Louran. Atraixa mungkin satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk membinasakan mereka.

***

“Shadow Blast!”

Sebuah ledakan sihir kegelapan tepat mengenai seekor White Fang yang menghalangi jalan Mizura. Makhluk yang malang itu pun lenyap tanpa sisa.

“Sudah kubilang jangan membunuh makhluk-makhluk tak berdosa ini, Mizura!”

Sebuah suara terdengar oleh telinga Mizura. Ia lalu mengernyit, wajahnya tampak tidak senang.

“Bisakah kau membiarkanku sendiri, Mizuros? Yang penting sampai di tempat itu kan?”

Sesosok Titania melayang di sebelah Mizura. Namun, ada yang berbeda dengan Titania itu. Ia memiliki tubuh transparan.

Mizuros, sang Titania transparan, menyilangkan tangannya, cemberut. Ia lalu membuang mukanya dari Mizura, lalu berkata geram,

“Terserah lah!”

Mizura tersenyum lebar sementara Mizuros lenyap perlahan. Gadis Dominion  mengangkat sebuah pisau kecil di tangannya tinggi-tinggi. Sebuah lingkaran sihir kegelapan kecil muncul di bawah telapak kakinya. Kemudian, ia mengayunkan pisau itu.

“Shadow Blade!”

Bersamaan dengan ayunan pisau itu, berakhir juga hidup dari sepuluh ekor Polar Bear yang menghadangnya. Ia berjalan pelan menuju mulut sebuah goa. Lalu, ia mengangkat sebuah batu yang berwarna pelangi. Mendadak, seluruh pandangannya terdistorsi. Namun beberapa saat kemudian, ia berada dalam sebuah tempat yang terlihat seperti gudang kosong yang sangat luas, cukup luas untuk menampung sebuah Airship.

“Hei Ros, sekarang giliranmu!”

Setelah Mizura berkata seperti itu, ia menutup matanya yang berwarna ungu gelap. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya. Namun, kali ini bola matanya berwarna biru. Sayap iblis milik Mizura tadi pun perlahan berubah menjadi sayap seorang malaikat.

“Mizuros Arfiel, seorang Druid Titania yang memiliki kemampuan switch place dengan possessor?”

Sesosok bayangan mendadak muncul tepat di depan Mizuros, dengan bentuk tubuh persis seperti Mizura.

“Benar, ini aku.”

Bayangan itu mengangguk pelan, lalu menghilang. Bersamaan dengan itu, gudang kosong itu mendadak disinari oleh lilin-lilin yang menempel pada tembok gudang.

“Sudah saatnya, saudariku.”

“Belum. Masih ada waktu satu minggu sebelum gerhana bulan total. Sampai saat itu tiba, kita harus tetap berada di sini.”

Mizura, yang tiba-tiba muncul disampingnya, mengernyit tidak senang.

“Membosankan. Apa peperangan harus dijadwal seperti ini?”

Mizuros hanya menjawab pertanyaan ini dengan sebuah senyum. Mizura berbalik.

“Bangunkan aku kalau kita sudah berada di medan perang.”

Mizuros mengangguk. Lalu, sosok Mizura pun perlahan menghilang.

Mizuros menghela nafasnya, lalu mendekat ke arah tembok terdekat. Ia lalu duduk bersandar pada tembok itu. Matanya perlahan menutup.

“Ayah...ibu...”

Kemudian, ia tertidur.

***

Seekor Homura mendarat di tengah padang rumput di jalan utama Fareast. Tepat ketika kakinya menyentuh tanah, tubuh marionette burung api tersebut diselimuti oleh cahaya. Namun tidak berapa lama, cahaya tersebut menghilang, memperlihatkan sosok Allura yang tengah membereskan bajunya yang terlihat kusut.

Ia berjalan pelan menuju rumah yang ada di depannya. Setelah berada di depan pintunya, ia mengetuk pelan pintu itu.

“Sia— Allura!”

Pemilik suara yang berada dibalik pintu, dengan segara membuka pintunya lalu memeluk Allura. Ia lantas membalas pelukan wanita yang memeluknya itu. Setelah beberapa saat, mereka berpisah.

“Lama tidak melihatmu, Allura-chan! Kudengar kamu menghilang beberapa minggu, apa itu benar?”

Allura hanya membalas pertanyaan itu dengan tersenyum. Wanita di depannya tampak bingung.

“Aku akan menjelaskan semuanya di dalam, tentu jika Anda mengijinkanku untuk masuk, Farm Manager.”

Sang Farm Manager terkesiap. Ia lalu mempersilakan Allura untuk masuk ke rumah itu. Di dalam, Allura menceritakan sebagian besar hal yang ia alami, tanpa menyebut-nyebut soal dirinya membakar sebuah rumah. Farm Manager mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk antusias. Allura juga menceritakan alasannya datang ke tempat ini. Farm Manager pun angkat bicara.

“Jadi kamu perlu satu minggu untuk mempersiapkan itu?”

Allura mengangguk.

“Aku tidak keberatan. Sebenarnya aku malah senang kamu di sini. Setidaknya aku tidak akan hanya ditemani wortel bisu itu.”

Farm Manager mengangkat bahu. Senyum Allura mengembang. Ia setidaknya dapat tenang selama satu minggu karena berada di tempat suci para Farmer.

“Jadi, apa yang kamu butuhkan, Allura?”

Mendengar pertanyaan itu, Allura mengambil secarik kertas dari tas kecil di pinggangnya. Ia mengambil sebuah pena bulu, mencelupkannya ke botol tinta, lalu menulis perlahan. Setelah selesai, ia menyodorkan kertas itu ke tangan Farm Manager.

“Ini. Untuk melakukan pemurnian di sini aku memerlukan barang-barang tersebut. Apa kamu bisa membantuku, Farm Manager Elli?”

Elli, sang Farm Manager, membaca sekilas kertas itu. Ia lalu menatap Allura dan mengangguk.

“Sepertinya bisa. Aku akan mencoba mencarinya besok. Untuk saat ini, lebih baik kita beristirahat. Toh, hari sudah terlalu larut sekarang, bukan?”

Allura mengangguk. Ia meregangkan tangannya sambil menguap. Ia lalu berjalan ke tangga menuju bawah tanah yang ditunjukkan oleh Elli. Sebelum turun, ia mengucapkan selamat malam kepada Elli. Lalu ia menyusuri tangga itu.

Di ujung tangga, terdapat sebuah kamar berukuran kecil, lengkap dengan tempat tidur dan lemari. Penerangan di ruangan itu tidak terlalu bagus karena sudah lama tidak terpakai, terlihat dari banyaknya debu yang bertebaran. Allura membersihkan kasur kecil di kamar itu dari debu, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. Begitu tubuhnya telah berada di atas kasur sepenuhnya, rasa kantuk menyerangnya tanpa ampun. Tanpa memberi perlawanan, ia pun menutup matanya.
« Last Edit: March 04, 2012, 02:11:32 PM by whyyou »
すべてが始まったとき、すべてが終わった

Silver Bullet - パンデモニウム - Sanctuary
Random sumpah
See you later, my little angels...

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #16 on: May 15, 2013, 10:49:21 PM »
rasanya telat banget ya, tapi begitu kamu update pertama kali itu aku sudah baca kok, jadi...

... I DEMAND MOAR щ(゚Д゚щ)

ya ampun ada aku, ehe senang sekali o<-< /plak
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfic] Sanctum : Ignisia
« Reply #17 on: June 26, 2013, 11:29:35 PM »
apdet apdet apdet..!!!!
menunggu chapter 3 yang bikin penasaran nih >.<
*gedor2 pintu theus
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN