Author Topic: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End  (Read 1426 times)

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
[ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« on: June 26, 2013, 09:55:22 AM »
A little note of mine . . .
    Thanks to Kiamat RP, jadi sedikit tergugah untuk menyelesaikan apa yang menurutku dan orang-orang belum selesai, meski pada formalnya sudah selesai. Fanfiction kali ini akan terdiri dari beberapa chapter singkat (setidaknya lebih singkat dari ecosaga:rotm) yang mengisahkan bagaimana akhir dari petualangan mereka. Dan mungkin.. err.. akan ada sedikit pengurangan karakter alias tidak semua dari saga:rotm akan kembali di sini. Aku sadar 17 karakter itu agak terlalu sulit di
handle, apalagi untuk cerita yang lebih singkat... orz
Anyway, bagi yang masih suka bergantayangan di sini, enjoy~

P.S: Lama gak menulis, so, spare me... orz
[/list]

Disclaimer:
    Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame WAS granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

    The characters appear in the story belong to their respective owner, as stated on the first page of ECO SAGA: Rise of the Machine.



Suasana ramai menyelimuti Acronia Castle malam ini. Padahal jam menunjukkan sudah lewat tengah malam, tapi tetap saja mereka tidak ada yang terlihat mengantuk atau lelah. Sejujurnya malah, memang aktifitas di sana terlihat lebih aktif di malam hari. Kontras dengan wilayah lainnya, tempat itu masih memiliki nuansa horor dan angker, tidak jauh berbeda saat masih bernama Undead Castle.

Perayaan tepat lima tahun kekuasaan raja mereka pun dimulai. Tidak sedikit orang-orang yang dulu menentangnya mulai pasrah dan turut mengikuti alur yang ada meskipun ketakutan dan was-was bukanlah hal yang jarang. Jika ada yang menghina atau dianggap melakukan sesuatu terlepas benar salahnya, bisa-bisa orang-orang itu meninggal secara misterius keesokan harinya. Hanya mereka yang berpegang teguh pada idealisme mereka, bahwa penguasa saat ini merupakan penjajah dan diktator, yang tetap berusaha melawan. Meski mereka tahu perlawanan mereka belum pernah berarti.

Namun lucunya, malah si raja sendiri yang kurang bersemangat.

“KEJAYAAN UNTUK SANG RAJA!”

Semua hadirin mengangkat gelas mereka masing-masing dan bersulang. Anggur terbaik dari wilayah Fareast menjadi menu pembuka pesta itu. Kristal-kristal bercahaya yang diangkut dari daerah Iron South menjadi penerang ruangan utama yang sangat luas. Wajah-wajah dari para pria dan wanita jutawan berpakaian sutra memancarkan ekspresi luar biasa cerah. Tentu saja, sejak kepemimpinan raja baru, uang menjadi lebih bernilai, bahkan dibanding hukum sendiri, meski tetap ada beberapa hukum yang tak bisa diganggu-gugat.

“Terima kasih,” balas sang raja, singkat dan sekedar formalitas. Raja meneguk gelasnya, yang diikuti semua hadirin pesta. “Silahkan nikmati jamuannya.”

Sang raja pun beranjak dari singgasananya dan memasuki pintu kecil yang tak jauh dari sana. Ruang tidur utama; ia masih ingat saat pertama kali ke sini. Atau mungkin lebih tepatnya, saat ia pertama kali diculik di sana. Saat itu tempat ini hanya dibersihkan seadanya, bahkan masih terlihat beberapa bekas noda darah di tembok. Tapi sekarang ruangan itu benar-benar seperti ruangan baru. Tungku perapian yang dulu bisa digunakan sebagai jalan rahasia keluar kastil, kini sudah beroperasi layaknya sebagai tungku penghangat. Dan beberapa foto para penghuni kastil terdahulu, kini sudah berganti menjadi fotonya sendiri.

Di tengah ruangan yang cukup besar itu, terdapat sebuah ranjang besar, dengan tiga orang wanita cantik bergaun pesta yang indah duduk di sana menunggunya. Tentu saja, masing-masing mengenakan warna favoritnya. Sementara di pojok ruangan, terlihat wanita semi-transparan yang mengenakan seragam maid, yang juga tak memiliki bentuk fisik. Satu-satunya yang terlihat berbeda dari wanita itu hanyalah anting indah kerajaan yang menggantung di kedua telinganya. Konon katanya, wanita itu merupakan putri dari raja yang dulu pernah tinggal di sana, dan kini telah ditaklukkan oleh sihir nekromansi milik salah satu dari wanita yang ada di ranjang.

“Menikmati pestamu, Yang Mulia?” goda salah satu wanita yang bergaun putih kebiruan. Meski dari raut mukanya, ia sudah tahu jawaban yang akan diberikan pria itu.

“Hei, ambilkan minuman untuk kami berempat!” perintah wanita dengan gaun hijau kepada si  wanita transparan. Gadis hantu itu pun membungkuk dan hilang ke balik tembok.

Raja menggeleng, berjalan ke arah ketiga wanita itu dan duduk di antara mereka. Ia melepas mantelnya dan melemparnya ke arah kursi di sudut ruangan. Ia teringat bagaimana ia begitu menikmati ini semua di tahun-tahun pertamanya. Tapi tampaknya kesenangan itu tidak kembali datang tahun ini.

“Gembiralah sedikit. Kau sudah memiliki semua yang dimimpikan setiap pria di luar sana, tahu. Harta. Tahta. Wanita. Kau itu Alceus, penguasa seluruh Acronia, apa lagi yang kurang? Lihat orang-orang di aula utama? Mereka semua hanya bisa bermimpi untuk menjadi dirimu.”

Alceus menghela napas panjang. “Ini.. membosankan.” Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan membaringkan kepalanya di pangkuan wanita bergaun putih. “Tidakkah kalian juga berpikir begitu?”

Wanita bergaun oranye yang dari tadi hanya terdiam pun kini terkekeh. Kurang lebih ia –dan ia yakin dua wanita lainnya juga– bisa membaca apa yang dipikirkan pria itu. “Kurasa pria sepertimu tidak cukup hanya dengan tiga hal tadi. Kau menginginkan petualangan dan perlawanan yang seru, bukan?”

“Kau mengenalku dengan baik, Princess,” seru Alceus dengan senyum mengembang di bibirnya. “Dan lagi, aku masih punya hutang pada Hanyuu.”

Hanyuu tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan motif naga panjang yang terukir di gaun hijaunya dalam diam. Memang, tujuannya belum tercapai. Ia bahkan sudah lupa tujuannya itu kalau bukan karena Alceus mengungkitnya lagi.

“Memang. Tapi Wisp sama sekali tidak terdengar aktifitasnya selama lima tahun ini. Jadi selama ini aku sudah menganggapnya mati,” jawab Hanyuu dengan suara pelan. Keraguan bisa terdengar sedikit dalam nadanya. “Mungkin hidup seperti ini tidak buruk juga.”

Terdengar, itulah masalahnya.” Tawa Alceus memenuhi ruangan itu. “Kau yang lebih mengenalnya, dan aku tidak begitu tahu. Tapi dari apa yang kulihat sekilas saat di Mai-Mai Ruins, dia bukan orang yang hanya akan menghilang begitu saja, sementara alasannya 'bangkit' belum hilang. Dan kita belum juga mendengar apapun tentang dia. Apa kau benar-benar percaya dia akan diam saja?”

Pertanyaan itu membuat Hanyuu terdiam sekali lagi. Kata demi kata yang dilontarkan Alceus berhasil menusuk dirinya. “Mungkin kau benar.”

Tok! Tok!

“Masuk,” tukas Alceus mendengar pintu yang diketuk. Selang sedetik, pintu itu pun terbuka dan  seorang gadis berambut merah muncul dari baliknya.

“Hai, Bos. Hai, semua! Aku bertemu mbak hantu di luar sedang membawa minuman kalian, jadi kupikir biar sekalian aku saja yang membawa– EHH! Apa aku mengganggu kalian?! Ma-maaf!” ucapnya cepat saat gadis itu melihat Alceus yang dikelilingi tiga wanita lainnya di tempat tidur.

“Tidak, kok. Kami cuma mengobrol di sini. Tidak seperti yang perlu kau khawatirkan, Bia,” jawab Princess, melihat anak itu yang salah tingkah.

“Heh, cuma mengobrol atau tidak, bagaimana kalau juga bergabung? Empat tentu lebih seru daripada tiga, bukan? Pastinya kau akan merasa–” tukas si satu-satunya pria dalam ruangan itu, tapi tiba-tiba sebuah kepalan tangan jatuh ke dahinya. “Aww! Apa yang kau lakukan, Choco?!”

“Maaf, Yang Mulia,” jawab si wanita bergaun putih yang menekankan kata 'Yang Mulia' dengan sengaja, “tapi saya merasa ada paku yang lepas di kepala Anda. Jadi saya minta izin untuk memakunya.”

“Huh, apanya! Kau memukul dulu baru minta izin!” protes Alceus sembari mengusap-usap dahinya yang, di luar dugaan, sampai merah karena pukulan ringan itu.

“Aku tidak akan membiarkanmu merusak kepolosan dan ke-innocent-an Bia.”

“Polos? Dia sudah lama bersama kita, dan gadis seusianya, aku yakin dia tidak sepolos itu,” sekali lagi, protes Alceus. Ia pun menegakkan duduknya dan memandang Biaxident dengan senyum mautnya. “Benar, kan, Bia?”

“Eh..? Sebenarnya sih, aku tidak mengerti yang kalian bicarakan, tapi ramai-ramai memang lebih seru, kurasa,” jawab Biaxident dengan cengiran lebar.

Alceus dan yang lainnya hanya bisa memandang gadis itu tanpa berkata apa-apa. Anak kecil yang dulu bertarung bersamanya memang kini sudah tumbuh dalam lima tahun ini. Dengan gaun panjang berwarna merah, ia terlihat sangat cantik. Walau menurut Alceus, akan lebih cantik bila gadis itu tidak mengenakan jas laboratorium di luarnya, dan topi besar yang selalu ia pakai saat mengendarai robot kesayangannya, kacamata yang tergantung di gaun, tepat di sebelah pendant merahnya, dan juga atribut-atribut geek lainnya. Mungkin Chocola benar. Bagaimana pun juga, Chocola yang paling mengenal Biaxident seperti adiknya sendiri.

Dan Alceus juga bisa merasakan tatapan menusuk di belakangnya yang seolah berkata, 'Lihat, kan?!' tanpa perlu berbalik.

Biaxident menaruh gelas-gelas yang ia bawa di meja terdekat, lalu menyeret meja itu ke dekat ranjang. “Ini, jangan lupa minumannya. Nanti mbak hantu ngambek, loh, kalau malah pada lupa minuman yang capai-capai ia ambilkan.”

“Yah, thanks.” Alceus meraih salah satu gelas dan meneguknya sekali teguk. Sebenarnya ia sudah agak kembung. Tapi entah kenapa, membayangkan hantu sang putri yang marah lalu menghantuinya seperti yang dikatakan Biaxident terdengar cukup mengancam. Padahal hantu itu sudah berada bersama mereka lima tahun ini.

“Dan... kita kembali ke topik,” ujar Alceus seraya menaruh kembali gelasnya di meja. “Bia, apa kau puas hidup seperti ini?”

“Eh, maksudnya?”

“Kau kan yang memimpin pelacakan para perompak-perompak Enigma. Ada kemajuan?” tanya Princess, lebih menjelaskan pertanyaan sebelumnya dari Alceus.

Biaxident berpikir sejenak. “Memang sih, mereka semakin sulit dilacak. Mungkin karena jumlah mereka semakin habis. Atau mungkin karena mereka sudah kehilangan semangat bertarung. Atau mungkin karena mereka sudah bosan. Atau mungkin karena mereka menemukan hal lain yang lebih menarik. Atau mungkin–”

“Atau mungkin kau bisa memberikan kesimpulannya?” potong Hanyuu, sebelum Biaxident melanjutkan 'atau mungkin'-nya sampai berjam-jam kemudian.

“...Yah, mungkin kurasa aku kurang puas. Mereka semakin membosankan.”

Mungkin,” tukas Hanyuu menghela napas. Kelihatannya kata itu sudah menjadi logat Biaxident, setidaknya untuk hari ini.

“Tapi mau bagaimana lagi?” lanjut Biaxident, yang kini menoleh ke arah Alceus tiba-tiba berdiri. “Ini semua tujuan kita, kan, Kak Al?”

Alceus tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju pintu dan menguncinya. Mungkin inilah saatnya. Benar, tak ada waktu yang lebih tepat dari pada ini. Apalagi saat ini mereka semua sedang berkumpul. Pertahanan mereka pun sudah sempurna, terbukti dari serangan-serangan Enigma yang selalu dapat dipatahkan tanpa kerusakan berarti. Juga aktifitas mereka yang semakin menurun dan hampir tak terdengar. Belum lagi orang-orang yang menurutnya paling berpotensi menghancurkannya tidak kunjung datang. Tidak salah lagi, inilah waktu yang sempurna.

Ia berbalik dan mendapati perhatian keempat wanita itu kini tertuju padanya, menatapnya dengan penuh tanya. “Bagaimana kalau kukatakan, ini semua bukan tujuan utama kita?”

Semua terdiam. Tak ada yang berani membuka mulutnya, sampai akhirnya Chocola memecah kesunyian itu terlebih dulu. “Maksudmu, tujuan utama seperti 'Bertarung melawan Kaistern' atau 'Membalas dendam' yang kau katakan dulu? Jangan bilang kau masih memikirkan mereka.”

Alceus menggeleng. “Kuakui, aku pernah mengatakan itu. Tapi di Mai-Mai Ruins saat itu, aku mengerti satu hal. Hal yang kudapat sejak mendapatkan kekuatan ini, beserta memori dari host-host terdahulunya, dan juga sifat alami dari kekuatan ini. Dan bisa kukatakan, tujuan itulah yang kubangun dalam lima tahun ini.”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa-apa pada kami?” protes Hanyuu. Mau tidak mau, ada bagian dalam dirinya yang kesal layaknya tidak dipercaya.

“Yah, semua orang punya tujuan, bukan? Seperti dirimu, Hanyuu, dengan Wisp.” Alceus mendekati ranjang utama kembali dan menepuk pundak sang Elementalist, kemudian menyipitkan mata dan melirik ke arah Princess. “Atau kalau bahasamu mungkin, 'wanita punya rahasia sendiri', seperti dirimu. Bukan begitu, Princess?”

Princess tidak segera menjawab. Ia hanya menatap dalam-dalam mata pria yang bicara seolah ia mengetahui segalanya di dunia. Pria itu telah berubah. Ia bukan lagi orang yang gemar merayu wanita atau pun yang terobsesi pada balas dendam, atau juga pria yang matanya tertuju pada harta semata.

“Aku tidak tahu maksudmu, tapi, ya, wanita memang punya rahasia sendiri. Tapi kau kan bukan wanita, Al?” tanya balik Princess.

Alceus tersenyum puas. Reaksi yang ditunjukkan Princess dengan diam beberapa detik lebih menjawab pertanyaannya ketimbang apa yang diutarakan wanita penguasa sihir kegelapan itu. Tapi ia tidak bodoh. Dan yang terpenting, ia sudah cukup kuat untuk menghadapi apa yang menurutnya bisa datang kapan pun dalam bentuk apa pun, sebagai situasi terburuk sekalipun.

“Tentu saja aku bukan wanita. Karena itu aku akan mengatakannya pada kalian.” Tersenyum puas, ia mengambil beberapa lembar kertas dari tasnya yang ada di sudut ruangan, memastikan isinya, lalu menaruhnya di meja, tepat sebelah gelas-gelas yang dibawakan Biaxident.

“Kita akan memulai tahap akhir dari semua ini. The World's End.”


End 1: The Beginning of an End


Offline LennViste

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 799
  • Cookie: 45
  • Corre=Lysfrin
Re: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« Reply #1 on: June 26, 2013, 12:55:41 PM »
 /evil_laugh.ogg
Akhirnya, mulai juga, muahahahahaha!
Udah ditunggu tunggu, Al!
...Jadi pengen buat juga, tapi ga ada inspirasi buat fic ECO :<

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« Reply #2 on: June 26, 2013, 01:39:21 PM »
/kefka_laugh.wav
hu uh, akhirnya mulai..
tapi ga jadi alcea ato si syl, berfokus pada mereka di sini aja, ga usah yg di eco jp wkwkw
sana buat! ini aja inspirasinya gaje wkwkw

btw saya kepikiran, setelah menyingkat judul, maka didapat "eco saga: twe"
kaget, tapi jadi kepikiran kalo bisa pas "two" alias dua, bakal keren tuh.
tapi apa ya yang O, tapi ga merubah arti... sempet kepikiran "the world's over", tapi artinya malah jadi dunia berakhir, bukan akhir dunia...

Offline LennViste

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 799
  • Cookie: 45
  • Corre=Lysfrin
Re: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« Reply #3 on: June 26, 2013, 01:43:31 PM »
The World's Overdrive? o3o /DIHAJAR
Nyeh, saya buat novel aja, ntar dipublish. Itung itung libur.

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
Re: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« Reply #4 on: October 20, 2013, 09:00:27 PM »
k-k-kyaaaaaaaaaaaaaaaaa...


... aaaaaaaa.....


/fade out


KAK AL AKU BOLEH PEYUK GAK. *peluk anyway* ih ih kak Al keren keren orz orz orz

Tapi... this is so harem! Saya sebagai mamanya Biaxident tak setuju!! /plak

Huwah, bagaimana dengan nasibnya prit ya...

... iya aku belum update...

... oke, lupakan pertanyaannya. yang penting, saya akan menunggui fic ini sampai kapanpun :puppyeyes:
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfic] ECO SAGA: The World's End
« Reply #5 on: October 21, 2013, 04:38:11 PM »
Mark list dlu biar gk kudet...!!!
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN