Author Topic: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 12]  (Read 5588 times)

Offline lovemints

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 33
  • Cookie: 45
  • a bottle full of friendship :)
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 2]
« Reply #10 on: October 26, 2013, 06:44:55 PM »
Lanjut  XD Lanjut  XD Lanjut!~  :>

*setelah sekian lama ga buka forum, saya ditarik lagi oleh fanfic ini  =P

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 2]
« Reply #11 on: October 27, 2013, 12:59:00 PM »
Yey, welcome back ce Candy  :hi:




Chapter 3, Cold Crimson Eyes

-Snov Fork-
‘Desa ini tetap seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak berpenghuni’ Ice bergumam sesaat setelah sampai di desa asalnya. Domi-neko itu meletakan rangkaian Light Flower pada sebuah tugu yang hancur dan gosong karena terbakar. Desa yang dulunya begitu indah kini hanya berupa puing-puing hangus yang tertimbun oleh butiran-butiran salju yang dingin, Tak ada kehidupan yang berlangsung disana, sungguh pemandangan yang menyayat hati Domi-neko muda itu.

Ice kemudian duduk di tepian sumur yang berada tepat di tengah desa itu. Bayangan-bayangan orang yang dikenalnya bergantian muncul dan menghilang, seakan mereka melakukan kegiatan kesehariannya semasa hidup. Domi-neko itu memegang kepalanya, ‘Ugh.. aku tidak bisa melupakan mereka’.

Perhatian Ice tiba-tiba terarah pada pohon oak yang masih berdiri kokoh di atas bukit. ‘Pohon itu...’.


“Woi Ice, ayoo.. kenapa kau bengong di sana?” RedSnow mendekatinya.

“Uhh ohh wokaii” Ice bangkit berdiri dan berlari ke arah RedSnow.

“Baka! Apa yang kamu lakukan? Talking with Alien?”.

“Eh..? Nggak kok, kan aku udah pernah cerita, aku cuma ngomong-ngomong sama pria Emil yang sering bersinggah di sana. Itu lho, kakak Emil yang berambut hitam sebahu. Orangnya tidak banyak bicara, dia juga membawa 2 pedang kembar”.

“Emil, pengembara, atau pencuri atau apakah dia.... ya terserahlah.. dasar imajinasimu terlalu tinggi, tidak ada siapa-siapa di sana...”.

“Ta-tapi... dia beneran kok... bahkan dia bicara dengan mulutnya sendiri”.

“Ya, ya mungkin dia sudah pergi, yang jelas sekarang aku tidak melihat siapa-siapa.. ayo pulang, tidak baik keluar sore-sore.”.

Ice tidak berhasil meyakinkan RedSnow yang lebih tua darinya, diliriknya kembali tempat tersebut sembari mengingat-ingat. Seorang pria Emil berambut hitam dengan sebagian berwarna jingga di belakang telinganya dan bermata biru berdiri di bawah pohon oak yang sudah sangat tua. Pria itu mengenakan baju Bernard dengan sepasang pedang menggantung di punggungnya. Ice yakin pria itu bukan alien ataupun hantu, tatapannya jelas seperti manusia pada umumnya, walau penuh dengan misteri dan kesedihan. Orang itu terus melihat ke langit, seolah menunggu seseorang ataupun terus mengamati apa yang terjadi di luar sana.

RedSnow menggandeng IceBlow agar mempercepat langkahnya. Mereka berdua akhirnya memasuki sebuah rumah kecil tidak jauh dari sumur utama desa itu. Sesaat mereka masuk, seorang pemuda Emil menyambut mereka. ‘Ni-sama...’ Ice melihat ke arah kakaknya yang tidak menyapa kedatangan mereka berdua. Pemuda berjalan perlahan kearah mereka tetapi hanya melewati begitu saja.

“Kamu.. sudah mau pergi? Spade...” RedSnow berhasil membuat pemuda tersebut berhenti.

“Hanya ini yang bisa kulakukan...” Spade tidak menoleh ke arahnya sama sekali, justru membuka pintu rumah. “Aku menitipkan Ice padamu RedSnow... maaf aku tidak bisa memastikan kapan aku bisa kembali... jadi lebih baik jika kalian melupakanku...” ucap terakhirnya sebelum keluar dan menutup kembali pintu itu.

Ice yang belum tahu banyak apa yang terjadi, dia hanya bisa melihat RedSnow yang tiba-tiba terjatuh lemas dengan kedua lututnya sambil mengusap air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.



//Apa yang kau pikirkan bocah Domi-neko?//

Suara itu membuat Ice kembali ke kesadarannya. Walau sempat terkejut, Ice kembali menenangkan pikirannya. Suara itu jelas adalah suara pria Emil misterius yang sering dia temui dulu sewaktu kecil, meskipun terkadang setelah diingat kembali, suara itu mirip dengan suara serigala hitam yang muncul 5 tahun yang lalu. ‘Orang misterius itu juga tidak pernah muncul lagi... mungkinkah...dia tidak selamat dari serangan 5 tahun yang lalu? Atau memang sejak awal.. dia...’

Tak disadari matahari sudah condong ke barat, hanya menyisakan berkas jingga serta Secercah  cahaya di langit . Domi-neko itu kemudian mulai beranjak pulang. Tetapi tiba-tiba aura tak nyaman menyelimuti tempat itu, seakan ada yang mengawasi gerak geriknya. Aura menusuk itu lebih menyakitkan dari pada suhu dingin tempat itu. Dengan segera Ice menghentikan geraknya dan perlahan berjalan ke arah sumber aura itu sambil mengambil Iron Bow yang menggantung di punggungnya dengan tangan kirinya, dan mengambil panah kayu dari tas di pinggangnya dengan tangan kanan.

Ice menyandarkan punggungnya pada sebuah tembok yang masih cukup kokoh walau sudah hancur sebagian, dan memastikan apa yang ada dibaliknya. Dengan cepat dia berjalan memutari tembok itu dan mengarahkan bownya ke arah yang di tuju, “Siapa disana?!”.

“KYAA!!!!” .

“E-ehh?”.



Ice masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Baru saja dia hampir melukai seorang gadis Dominion, “Ma-maaf, anda tidak apa-apa?”.

“Mhm..” jawab perempuan itu hanya dengan gumaman dan menganggukan kepala. Perempuan itu dapat berdiri lagi tanpa bantuan Ice, sambil merapikan rambut magentanya yang lurus dan panjang dan baju laboratorium putih yang dia kenakan. Perempuan itu membawa Hurricane Spear di punggungnya dan sebuah bross bunga dikenakan di dasi kainnya, dia seorang Alchemist.

‘Aura barusan... milik perempuan ini?’ Ice mengamati kembali perempuan itu dan menyadari warna mata perempuan itu yang tersembunyi dibalik kacamata berbingkai perak yang dikenakannya, ‘t-tunggu... mata merah ruby bagaikan darah... dia.. Noble Dominion?’  mendadak perutnya terasa mual. Mengingat kembali tragedi yang terjadi 3 tahun yang lalu. Sebuah hal yang tidak termaafkan.

“Hmm? Maaf tentang barusan, aku tidak biasa bertemu dengan orang asing”.

“Hahaha it’s okay, aku bisa memahami rasanya menjadi Noble..”.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya perempuan itu, “kau-“.

“E-eh... bukan, aku bukan Noble. Tapi aku punya teman seperjuangngan yang sepertimu... ya.. walau dia campuran” Ice mencoba menjawabnya,

“Ohh...” Alchemist itu menghela nafasnya dan kemudian melirik ke arah rangkaian Light Flower yang di letakan di atas tugu, “Maaf mengganggumu, aku harus pergi melanjutkan eksperimen bunga sekarang...”

“T-tu-tunggu! Eksperimen bunga? Bolehkah aku ikut membantumu?Kau perlu mencari Icy Flower kan?”

“How did you-“

“Ya- kudengar para Alchemist mencari cara untuk menumbuhkan bunga-bunga selain Dark Flower di Dominion World, jadi... kebetulan bertemu denganmu, mungkin aku bisa membantu”

“Okay... jadi apa yang akan kamu lakukan?” jawab perempuan itu dengan dingin.

“Aku akan mengantarmu untuk melihatnya tanpa harus bertemu Ancient Race.”.

“Hmm.. kalau begitu.. bisakah kau tunjukan aku jalannya?”.

“Dengan senang hati. Oh iya, perkenalkan, namaku IceBlow”.

“Namaku Ri-, panggil saja aku AlcheTan”.

“Hm? O-okay AlcheTan... let’s go”.

Tanpa menunda, AlcheTan menangguk dan tersenyum kecil. Mereka berdua pun mulai berjalan meninggalkan desa itu dan memasuki hutan cemara. Perempuan Dominion itu hanya mengikutinya dari belakang, tak lama kemudian dia menoleh dan melihat desa itu kembali.

“Desa tadi... apa yang terjadi?”.

“Hmm? Oh itu.. hahaha sudah 5 tahun desa itu menjadi mati..”.

“How?” tanyanya dengan singkat.

“Bagaimana? Aku juga tidak ingat pastinya bagaimana... hari itu berlalu begitu cepat.. mungkin bisa di bilang ‘dibantai’? ” Ice terus berjalan menyusuri hutan cemara tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. AlcheTan tersadar dia sedang bicara dengan penduduk desa itu yang masih hidup.

“Maaf...”.

“Tidak apa-apa, aku sudah biasa dengan itu..”.



Hehehe maaf banyak keterangan baru
  • noble dominion, punya ciri2 mata merah gelap dan bertelinga runcing (kyk di belial) sexy dominion~ *nosebleed
  • sedangkan noble titania, punya ciri2 bermata biru dan berambut pirang.dan beraura bagai pangeran berkuda putih, bidadari dan sebagainya

kalau ada catatan lain aku tambahin di akhir fanfict. (hanya sebagai penjelas)

btw tq buat yang terus mengikuti cerita ^__^   :sing:
« Last Edit: July 07, 2017, 05:01:51 PM by EsTiup »

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 3]
« Reply #12 on: November 01, 2013, 05:17:02 PM »
Maaf telat update, para readers~ *lirik tugas sekolah menumpuk di pojokan kamar  :cry:





Chapter 4, Artificial White Fang

-Snov Snowfiels-
Suara deburan ombak menghantam pasir bercampur dengan salju dan butiran es terdengar di setiap sudut tempat itu. Langit tak begitu terang karena bulan masih bersembunyi di balik awan. Angin darat berhembus dingin dari sela-sela pepohonan cemara.

“Kau yakin ini tempatnya? Bukankah ini tempat Water Flower berada?” wajah AlcheTan penuh tanya melihat tanah yang diinjaknya dipenuhi bunga-bunga berwarna biru tua. ‘Mungkin seharusnya aku tidak mempercayai orang ini’, perempuan dominion itu menoleh pada Ice.

“Bulan purnama pada malam musim dingin” jawab Ice sambil melihat ke langit yang berangsur terang. Dia tersenyum. “tunggulah sebentar lagi” ujarnya singkat. Tak lama bayang-bayang awan mulai menepi. Bulan dan bintang-bintang mulai menerangi langit.

Seketika bulan purnama terlihat sepenuhnya, perlahan butiran es dan pasir memantulkan cahaya bulan yang menyilaukan mata mereka seolah  tembok cahaya  akan menghantam mereka. Alche berusaha menutupi matanya dari cahaya yang menyilaukan itu.

“Beruntung kamu bisa melihatnya malam ini. Jadi tidak perlu bersusah payah bertemu para Ice Race di suatu tempat di pulau utara.” ujar Ice dengan santainya. Dari cara bicaranya, Alche bisa mengetahui pemuda itu sudah terbiasa melihat cahaya akibat pembiasan butiran es tempat itu.

“Apa maksudm-“ tiba-tiba cahaya mereda, pemandangan pantai itu kembali terlihat. Mata Alchemist itu terbelalak.

Pemandangan pantai itu berubah seketika, Ribuan cahaya mungil mengelilingi mereka, butiran es kini bagaikan hamburan berlian. Udara yang begitu dingin menghempas tempat itu, seketika itu juga bunga-bunga Water Flower itu berubah menjadi bunga kristal es. Icy Flower.

“Hehehe, selamat datang di ladang Icy Flower” tawa Ice sambil membentangkan kedua tangannya dan tersenyum ke arah AlcheTan.

“J-jadi... ini cara lain untuk melihatnya?” Alche melihat sekitarnya dengan takjub. Perempuan itu mengamati bunga-bunga disekitarnya, dan perlahan menyentuh mereka. Seperti hanya sebuah es yang tipis, bunga itu langsung luluh hancur menjadi butiran es yang sangat kecil.

“Yup!! Jarang yang menyadarinya hehe, makhlum hanya terjadi sekali setahun” Domi-neko itu langsung duduk di sebelah Alchemist yang terus memainkan kelopak bunga Icy Flower sambil mencatatnya pada sebuah buku kecil. “So... bagaimana kalau kita membuat permohonan?”.

“Permohonan?”.

“Yup konon Lykaios si penjaga wiliayah utara Acronia akan mengabulkan permohonan mereka, dengan cara mengarahkan jalan yang sesuai dengan keinginan mereka” Ice menghela nafasnya, “hmph! Saatnya membuat permohonan!”. Domi-neko itu terdiam dan memejamkan ketua matanya. Perlahan AlcheTan mengikutinya, dia mulai menutup matanya dan membuat permohonan juga.

‘Lucu sekali, Aku mempercayai hal semacam ini’. Bagi AlcheTan hal-hal yang tidak nyata dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, mereka hanya omong kosong. Tetapi pemikiran itu sekarang sedikit bergeser.

“Senang bisa membawa teman ke tempat ini lagi...” Ice bergumam setelah membuka matanya, “Ne, AlcheTan, apa permohonanmu?” Domi-neko itu menidurkan badannya pada rimbunan bunga Icy Flower.

“Bukannya itu sebuah rahasia pribadi ya?”.

“Hehehe i-iya, tapi cuma ada kita berdua di sini..”.

“Baiklah.. aku hanya ingin bertemu dengan seseorang..”.

“Seseorang..?”.

“Itu sudah cukup”.

“Ja-jadi bukan mengenai penelitianmu?”.

“Itu beda cerita...” Dominion itu kembali menatap Ice dengan tatapan dingin, “lalu bagaimana denganmu? It’s your turn now”.

“Sepertinya kita sama, aku juga mencari seseorang” Domi-neko itu kembali menegakan badannya sambil mengepalkan kedua tangannya sambil memasang wajah yang tidak bisa ditebak. Yang jelas, itu bukan tatapan yang penuh kebahagiaan.

Tiba-tiba terdengar suara yang timbul dari semak-semak dan pecahan es. Kedua orang tersebut terkejut dan langsung mengambil posisi siaga. AlcheTan memegang Hurricane Spear yang menggantung di punggungnya, sedangkan Ice mengeluarkan senjata dari balik jaketnya, Dual Multicolor Automatic Guns.

Suara gemerisik itu semakin dekat, dari balik semak-semak itu muncul sosok sekelompok serigala putih keperakan dan bermata kuning. Serigala-serigala itu menyeringai dan menunjukan gigi-giginya yang tajam dan besar. Sekelompok White Fang. Setiap langkah mereka menghancurkan semua bunga yang diinjaknya. Sesaat kemudian mereka sempat berhenti dan memberi jalan pada sesosok White Fang berukuran lebih besar dari mereka. Serigala itu terlihat seperti pemimpin kelompok itu.

Serigala besar itu melolong ke arah mereka. Suara yang ditimbulkan mendorong mundur kedua orang itu. Suara lolongan itu terlalu keras membuat keduanya terpental dan menghancurkan sebagian besar bunga es yang dilewatinya. Serentak itu juga para White Fang yang lain menyerang secara bersamaan.

AlcheTan berhasil mendarat kembali tanpa luka, sedangkan Ice terguling jauh di belakangnya. Saat dapat mengontrol kembali tubuhnya, Ice menembakan peluru ke arah White Fang itu. Namun semua sia-sia, hujan peluru yang di lontarkan hanya mengenai beberapa dari pasukan White Fang. Sedangkan serigala yang berukuran besar itu berlari dan melompat ke arahnya.

Tanpa ragu, perempuan berambut magenta itu berlari sambil melompat maju dan menghunuskan tombaknya untuk menolong Ice dan secara tepat waktu, tombak miliknya menusuk persis pada punggung serigala itu hingga menembus perutnya. Seketika monster itu terjatuh, serigala-serigala yang masih hidup berlarian menyelamatkan diri mereka, sedangkan AlcheTan melompat mundur sambil menarik kembali tombaknya, “dasar lemah....”.

Ice terkagum melihatnya, jarang sekali ada seorang Alchemist setangguh itu, bahkan bisa menyerang  tepat pada titik vital. Domi-neko itu menghampiri AlcheTan yang sedang berjalan ke arahnya sambil membersihkan mata tombaknya.

Tetapi tak ada waktu untuk bersantai kembali. Serigala besar itu menggeram  dan kembali berdiri dengan keempat kakinya, dengan menggunakan kekuatannya dia berlari dan menyerang AlcheTan dari belakang.

“ALCHEE!! AWASS!!”.

“Huh?” AlcheTan membalikkan badannya dan melihat makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar.

Ice menarik perempuan itu mundur secara paksa dan mengarahkan kedua pistol yang di genggamnya ke arah serigala itu.

DOORR!!.

Peluru yang ditembakan tepat mengenai kedua mata monster itu, dalam sekejab serigala itu berhenti menyerang dan menggeram kesakitan, Walaupun serangan tadi membutakan pengelihatannya, tetapi serigala itu kembali berdiri tegak dan memandang ke arah mereka.

“Ba-bagaimana mungkin, monster itu masih hidup?!” Alche berusaha berdiri dengan kakinya yang  seketika lemas. Perempuan itu berusaha berjalan maju, tetapi Ice menghalanginya.

“Jangan bilang... “ Ice kembali mengarahkan kedua pistolnya. Seolah mengerti apa yang yang dikhawatirkan pemuda itu, serigala besar itu menggeram dan menyeringai lebar menunjukan gigi taringnya yang mendadak tumbuh besar memanjang. Sepasang mata lainnya terbuka di sekitar mata lamanya. Corak bulunya menjadi kehitaman mengeras seperti cula dan di sekitar matanya berwarna amber. Tidak hanya itu, luka tubuh yang disebabkan tombak AlcheTan juga menutup.  “Dua pasang mata.. sudah kuduga, Artificial Monster..”

“A-artificial...?!”.

“Artificial Monster... mereka adalah monster-monster yang memiliki kekuatan melebihi batas normal jenis mereka... terutama kekuatan regenerasinya... Fenomena ini belum terungkap jelas...”.

“Jadi bagaimana mengalahkannya?”

“Cuma ada 1 cara. Semoga ini berjalan lancar..” dengan segera Ice membuang kedua pistolnya ke tanah.

“Ba-Baka! Apa yang kau laku-“.

Pemuda itu mengambil busur hitam yang menggantung di punggungnya dengan tangan kiri dan mengambil serpihan es dari tanah. Dalam sekejab serpihan itu berubah menjadi panah es, Water Arrow, dan menembakannya pada monster itu.

Artificial itu hanya terdorong mundur, tetapi panah itu hanya pecah dan tidak meninggalkan bekas luka. Kemudian monster itu tiba-tiba menggeram, bulu-bulunya perlahan membeku. Sekujur tubuhnya perlahan terbungkus lapisan es yang tipis.

Mengambil kesempatan itu, dengan cepat Ice mengambil sebuah panah dari tas di pinggangnya dan mengarahkan panah itu. Tiba-tiba kobaran api muncul dan membungkus panah itu. Perlahan kayu panah itu berubah menjadi arang yang menyala, Fire Arrow. Sekali lagi panah itu dilontarkan, dan tepat mengenai kepalanya. Dalam hitungan detik api menyelimuti tubuh monster itu.

“Alche sekarang! Kepalanya!!”.

Tanpa banyak bertanya, Dominion itu kembali mengambil tombaknya dan menusukannya ke kepala Articifial. Setelah meraung kesakitan, monster itu rubuh ke tanah dan hancur menjadi abu.

“Monster tadi...” Alche melihat abu-abu itu berterbangngan tertiup angin.

“Uhm.. y-ya.. mereka hanya bisa mati ketika saraf pusatnya mati..” jawab Ice sambil berjalan menyusul ke arah AlcheTan. Tiba-tiba pandangannya terfokus pada langit yang mulai tertutup awan lagi. Perlahan Icy Flower di tempat itu kembali berubah menjadi Water Flower, “A-aghhh sial, Icy Flowernya!! Padahal waktunya sudah tepat, gara2 monster tadi...”.

“...” Alchemist itu menggelengkan kepalanya, “-sudahlah tidak apa-apa, tadi sudah cukup kok. Yang penting tidak pulang dengan tangan hampa.”

“O-oh... la-lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”.

“Mungkin.. lebih baik aku-“.

“Wahhh!!!” Ice tiba-tiba teriak dan mengejutkan AlcheTan, “s-sudah jam segini... bagaimana kalau kita kembali ke Acropolis?”.

“I-ide bagus...”.

“Baiklah aku akan mengantarmu” Ice memegang tangan perempuan itu, “Kita berangkat! Acropolis!” dan mengangkat Space-Time Key ke atas. Kunci itu bersinar terang dan cahayanya menyelimuti tubuh mereka.




Uhm,uhm...  :santai:
« Last Edit: July 07, 2017, 05:05:44 PM by EsTiup »

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 4]
« Reply #13 on: November 01, 2013, 11:47:15 PM »
Hmm.. nice.. ada adegan duel...

Artificial Monster? Hmm, jenis momon baru ya? *mari berkhayal*

Sarannya, sblm post d liat2 lg, msih ada beberapa typo tuh... XD
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 4]
« Reply #14 on: November 05, 2013, 12:32:16 PM »
bukan jenis baru sih sebenernya, anggap aja semacam monsternya rusak (semacam kena virus) :laugh:

whaaat msh ada aja yg typo... :cry:
hu hu hu dari awal selalu aja typo.... aku perlu asistennn
next akan kuusahakan semampuku.. *mojok

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 4]
« Reply #15 on: November 10, 2013, 03:05:07 AM »
Daaaan... mana ini apdetnya???
We need Moaaaaaarrrr..!!!
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 4]
« Reply #16 on: November 12, 2013, 05:59:19 PM »
Maaf terlambat update lagi  :cry:
banyak gangguan mental dan fisik menghadang *plakk

Okay2 saatny fokus lagi



Chappter 5, The Phoenix Feathers

-North Bridge, Acropolis-
Hari sudah gelap, namun kota Acropolis masih terjaga. Lampu-lampu  menyala di sepanjang jalan menggantikan terang bulan dan bintang di malam hari. Vixzard berjalan di dekat gerbang menuju UpTown. ‘Kurasa sudah jam 11, aku akan ke sana sekarang..’ mata Tita-Mermaid itu terpaku pada 2 anak kembar yang berlari sambil bercanda tawa di tengah tumpukan salju , kemudian kedua orang tua mereka datang menjemput mereka. Pemuda itu membayangkan andai kedua anak kembar itu adalah dirinya dan saudara perempuannya. Warna mata dan rambut yang sama nan panjang terurai seolah gadis itu ada versi perempuan dirinya, ‘Yukky...’.

“BOOOMMM!!” seseorang mendorongnya dari belakang, “hahaha!! Tidak kusangka kamu bakal pergi ke sana juga, Vix!”.

“H-Hau!” Vix tidak bisa menahan keterkejutannya.

“Wajahmu... tampan sekali.. pfft...” Hau menahan tawanya sambil memegang perutnya yang nyeri akibat tak kuat menahan tawanya.

“Ughh...” Vixzard mengalihkan pandangan kesalnya ke arah lain. Emil bertelinga serigala dan berambut biru terang dengan corak biru tua itu hanya bisa terus menertawainya, “Jadi, Hau. Kamu datang?”.

Hau akhirnya dapat mengendalikan tawanya, dan menarik nafas panjang, “Tentu~”.

Vix membalasnya dengan senyuman kecil dan rasa sedikit lega. Kemudian keduanya berjalan bersama menuruni tangga menuju DownTown.

-Downtown, Acropolis-
“Uaghh!! Tempat ini makin ramai saja, huft..” Hau berusaha mendorong orang-orang di sana dan membuka jalan.

“Mhm.. kamu yang hampir setiap hari pulang pergi Acropolis saja bilang seperti itu, How about me...” Vix yang berjalan di belakangnya hampir saja terpisah jauh.

Kedua orang itu terus berdesak-desakan melewati ramainya pasar di depan pintu Arena, wilayah utara DownTown. Puluhan bahkan ratusan orang berkumpul untuk berdagang maupun membeli, ada pula yang berkumpul dengan teman-temannya.

“Inilah bagian yang paling kubenci di sini.. Terutama orang-orang berbau busuk itu” Hau melirik ke arah beberapa orang tertentu.

“Hahaha jangan begitu, terkadang kita juga perlu exist seperti mereka, benarkan Hau?”

“Ugh.. “ Emil itu tersenyum pahit.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya mereka bebas dari keramaian. Walau hanya wilayah utara yang ramai, tetapi waktu menjadi tersita karena terjebak kerumunan orang. Kedua pemuda itupun mengatur nafas mereka .

Setelah berjalan sedikit, 2 sosok muda-mudi menyambut mereka. Salah satu dari mereka melambaikan tangannya di udara. Vix mengenali mereka, dan bergegas datang ke arah mereka.

“Haii~! Hau!! Vixzard!!” sapa seorang gadis Emil. Rambutnya berwarna hitam dan panjang, gadis itu mengenakan kimono jingga yang mencolok dan sebuah pita merah raksasa di rambutnya. Sedangkan rekannya, seorang Titania berambut pirang dengan poni hampir menutupi mata birunya dan bertubuh tinggi tidak menyambut mereka.

“Hi ChocoCandy!” Hau membalas perempuan itu dengan senyuman lebar.

“Oh lihat siapa yang datang, seekor puppy kampung dan-“ Titania itu membalas dengan nada dingin dan ejekan, tetapi pandangannya tidak terhenti pada Hau yang berlari mendekat, “-pemandangan langka, seorang Sage dari segerombolan serigala liar”

“A-A-APA KATAMU?!” dalam sekejab Hau menjadi emosi dan raut wajahnya berubah menjadi kesal mendengar ucapannya, “ Kenapa kamu selalu saja merusuh dan mengganggu moodku, rubah sialan!”.

“Merusuh? Rubah? Aku tidak mempunyai telinga hewan sepertimu”.

“Cu-cukup Hau...” Vixzard berusaha menahan rontaan dan teriakan Hau yang ingin sekali menghajar Titania itu, “Isashiburi Crush, kurasa... lebih baik kita hentikan sekarang...”

“Menyalaklah sesukamu” tawa kecil dan seringai puas akan kemenangan terukir di wajahnya.

Tanpa bersuara, Candy menyikut perut Crush seolah memberi peringatan. Sesaat Crush terkejut dan merintih kesakitan, Titania itu memegang perutnya karena nyeri yang begitu menyakitkan.

“Hehehe, maaf kelakuannya agak sedikit... Oh iya kemana ketua kalian?”.

“Kurasa dia akan sedikit terlambat” balas Vixzard sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita ke sana, dia sudah menunggu kalian”.

“Did something happen?” Vixzard melebarkan matanya.

“Dunno” senyum perempuan itu, “Dia hanya bilang, ada sesuatu yang penting”.

Mereka berempat pergi semakin jauh dari keramaian. Suasana perjalanan terasa panjang dan janggal saat Candy dan Vixzard yang terus berbincang-bincang tentang kesibukan mereka, sedangkan Hau dan Crush terus beradu tatapan tanpa bersuara ataupun kontak fisik.




hufft, haha mungkin beberapa ada yg g tw istilah 'guguk'. guguk is a dog. menghilangkan efek kata kasarnya
« Last Edit: July 07, 2017, 05:10:49 PM by EsTiup »

Offline Nereid

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 131
  • Cookie: 46
  • Aoi Tori
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 5]
« Reply #17 on: November 14, 2013, 07:57:39 PM »
Huoooo, keren!!!!!!!! Apalagi Hau keluar, cihiy!  :sembah:

Lanjut terus es, dah ga sabar liat pertumpahan darah antara Crush ama Hau xixixixi...  :laugh:
[RPF] Vilkas Fatebattler
Hau - Tomodachi - Shining Vanguard
This world is just an illusion for me

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 5]
« Reply #18 on: November 14, 2013, 10:41:17 PM »
Hoo.. jadi Hau ama Crush doyan brantem yaa... oke oke oke..
Awas aja ada yg di pentung ama Candy hahahahahahahahaha...

lanjut terus ice..!!!
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 5]
« Reply #19 on: November 15, 2013, 04:36:50 PM »
mw ada adegan crush vs hau? xD ide bagus




Chapter 6, Midnight Bar

-Downtown, Acropolis-
PLOPPP!!!!

Sebuah pintu bercahaya muncul pada sebuah dinding koridor. Ice terlempar keluar dari pintu tersebut kemudian di susul oleh AlcheTan.

“Wuaahhh!!” keduanya terjatuh bersamaan dengan hilangnya pintu teleport tersebut.

BRUUUKK!!!

“U-ugh, kepalaku.. kau tidak apa-apa Alch-“ Ice berusaha membangunkan badannya sambil memulihkan pandangannya akibat pintu teleport yang bersinar terlalu terang, tetapi badannya tidak bisa bergerak sesuai keinginannya. Sesuatu menutupi badannya dan menghalangi cahaya lampu. Helai demi helai rambut berwarna magenta menyapu wajahnya dengan lembut. Sepasang mata berwarna merah ruby bersinar menyambut tatapannya. Pemuda itu terpaku pada pandangannya.

“Ah.. kacamataku...” AlcheTan yang tidak dapat melihat dengan jelas berusaha memakai kembali kacamatanya yang merusut dari tempatnya. Sesaat pengelihatannya kembali jelas, sepasang mata biru tua hampir terlihat keunguan menyambutnya.

Waktu terasa berjalan begitu lambat seolah terhenti. Kedua dominion itu tidak bergerak atau bersuara. Wajah keduanya tiba-tiba merah padam ketika menyadari wajah mereka begitu berdekatan.

“Wa-waawaawaawaa!!!!!! Ma-maaf!!!” dengan serentak keduanya bergerak mundur dan berusaha berdiri sambil menyembunyikan wajah merah mereka. Kemudian keduanya terdiam. Mereka merasa beruntung karena berada jauh dari keramaian DownTown, tidak ada orang yang melihat mereka.

Ice menutup wajahnya dengan Neko-neko Muffler yang dia gunakan. Udara dingin musim salju pun seolah tidak terasa karena panas rona merah di wajahnya. Pemuda itu yakin dia bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang seolah akan keluar dari tubuhnya.

“O-oh.. kita sudah sampai” ucap AlcheTan setelah membersihkan tenggorokannya dan tidak menatap lawan bicaranya.

“I-iya, hahaha beruntung Space-Time Keynya mengantar kita tepat ke Acropolis”

“Apa maksudmu?”

“Ya... hahhaha i-itu” pemuda itu menggaruk kepalanya, “err-r.. biasanya pintu teleport yang kugunakan justru terbuka ke tempat yang tidak disesuaikan..”

AlcheTan yang sudah tersadar penuh tidak membalasnya dan malah melihat Domi-neko itu dengan mengangkat sebelah alisnya, “ngomong-ngomong.. terimakasih... Kurasa masih banyak yang harus kulakukan..”

“E-ehh iya.. hahaha sama-sama” Ice memberikan tangannya. Mereka berdua pun berjabat tangan dan tersenyum kecil, “senang bisa bertemu denganmu, AlcheTan.”

Kemudian setelah mereka melepaskan jabatan tangannya, keduanya berpisah. AlcheTan berjalan menuju keramaian pasar yang terdengar beberapa meter dari mereka, sedangkan Ice hanya melambaikan tangannya tanpa bersuara dan melihat kepergian perempuan itu. Beberapa menit berlalu, Domi-neko tersebut terdiam sambil membayangkan detik-detik ketika mereka sampai di DownTown terus berulang kali. Dan ketika terbayang kembali, detak jantungnya terus berdebar kencang, dia berusaha menenangkan pikirannya kembali sambil berjalan ke arah selatan DownTown. ‘Perasaan ini... ja-jangan bilang aku... aku... ‘

BAAGG!! BRRUUKK!!

“A-ahhh!!” barang-barang berjatuhan dari dalam sebuah kerdus besar yang dibawa oleh seorang pria yang tidak terlihat dari balik kerdus itu.

“Ma-maaf anda tidak apa-apa?” Ice membantu mengambil barang yang berjatuhan dan mengembalikannya pada pria yang baru saja dia tabrak. Domi-neko itu sesaat melirik penampilannya untuk mengenali pria itu. Tetapi dia tidak mengenalinya. Seorang pria Emil berambut biru tua dan bercorak biru terang di belakang telinga terikat rapi kebelakang. Pria itu mengenakan baju seorang pegawai dengan berlabel Acronia Delivery. Ice melihat nametag yang terpasang pada bajunya. “Ini barang-barang anda, Row”

“Hehehe, tidak apa-apa.. salahku juga tidak melihat jalan dengan benar. Terimakasih” pria iru memasukan barang-barang tersebut kembali kedalam kerdus dan meninggalkan Ice sendirian.



-Isekai Seikishi's Bar-
Sesampai di daerah pertokoan wilayah selatan DownTown, Hau, Vix, Candy dan Crush masuk ke dalam sebuah bar kecil yang berada di pojok perempatan. Bar itu terlihat sepi dan gelap, hanya beberapa lampu menyala di dekat meja bar. Mereka melihat hanya ada 2 orang di sana.

Seorang pria Emil berambut pirang keemasan, bertubuh cukup tinggi, dia mengenakan kacamata berbentuk bulat dan mengenakan baju kulit berwarna hitam dan seorang gadis Neko berambut pink mirip dan mengenakan baju mirip dengan baju Catty Momo. Keduanya menyapa kedatangan mereka/

“Wah, ternyata sudah datang” sapa Emil itu sambil mempersilahkan mereka duduk. Tanpa bertanya apapun, pria itu langsung dengan cekatan memberikan minuman sesuai dengan kesukaan mereka. “Lama tak jumpa Vix, bagaimana dengan hasil berburumu?” sapanya saat memberikan sepiring Strawberry Cheesecake padanya.

“Hmm.. semua berjalan dengan mulus, tapi sedikit melelahkan” balas Tita-mermaid itu.

Pria itu kembali melihat ke arah 2 pemuda yang tidak banyak berbicara, “Kurasa kalian semakin akur..”
“HUH?!” keduanya menjawab bersamaan. Ketika itu juga keduanya langsung saling bertatap muka dengan wajah penuh kejengkelan.

“Jangan mengikuti ucapanku, guguk..” gertak Crush dengan nada mengancam.

“Heh?! Apa aku gak salah dengar? Kau yang mengikutiku, rubah pirang! Lagian apa untungnya aku mengikuti ucapanmu-“ sebelum suasanya tempat itu memburuk, Candy dengan cepat memukul kepala mereka bersamaan. Keduanya kesakitan.

“Sesekali.. kalian perlu dikunci dalam datu ruangan tertutup biar bisa akur!”

“AKU MENOLAK!!” sekali lagi mereka berdua jawab bersamaan dan mendapat perlakuan yang sama pula dari Candy, pukulan di kepala.

“Sepertinya, ce Candy sedikit berlebihan menggoda mereka, bukan begitu kak Hiyuu?” gadis Neko itu berbicara sambil tersenyum ke arah mereka bertiga, “-aku benar-benar senang jika melihat anggota aliansi orde tahun ini bisa berkumpul bersama seperti ini di sini..”

“Hmmm sepertinya tidak tertolong” jawab Hiyuu sambil tersenyum pahit, “Err... Fiori, kurasa riwayat bar ini bakalan tamat hehe”

“Hihihi” tawa nakal Fiori sambil menyembunyikan senyumnya di wajahnya



*tepar
kurasa aku perlu memberi gambaran buat setiap char ya? :cry:






« Last Edit: July 07, 2017, 05:16:56 PM by EsTiup »