Author Topic: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 9 & 10]  (Read 2714 times)

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 32
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 6]
« Reply #20 on: November 17, 2013, 09:46:22 PM »
*Intip2

fast update!! ngelunasin utang updatetan
bersiap-siap mengelilingi Acronia~  :sing:




Chapter 7, An Order From The President

-Isekai Seikishi's Bar-
Seorang domi-neko membuka pintu bar kecil itu. Napasnya terengah-engah, keringat terlihat menetes di pipinya. Semua pasang mata langsung tertuju padanya. "Maaf, aku terlambat" ucapnya.

Belum sempat mengatur napasnya, tiba-tiba Candy memeluknya erat pemuda itu dengan wajah yang bersinar-sinar, "Icee-kun! ungg~ aku kangen kamu~" karena terlalu senang, pelukan gadis emil itu seakan meremas perutnya.

'Domi-neko itu akhirnya datang..' pikiran titania pirang itu tidak nyaman semenjak kehadiran Ice, terutama saat Candy mendekati domi-neko.

"Ughh, C-Candy... se-sesak" wajah Ice sudah memucat. Candy tersadar dan melepaskan pelukannya. Ice mengelus dadanya, akhirnya dia bisa bernapas dengan normal.

"Hehehehe, duduklah, yang juga baru datang" berbeda dengan titania pirang itu, Hiyuu menyambutnya dengan senyum. Kemudian para tamu yang datang mengambil posisi duduk yang seakan sudah menjadi tempat duduk keseharian mereka.

Crush duduk di paling ujung dekat dengan dinding bar, kemudian Candy duduk disebelahnya sebagai penengah antara titania itu dengan Hau. Vixvard duduk disebelah si ketua ringnya. Sedangkan Fiori tidak merubah tempat duduknya sejak tadi, neko berambut pink itu duduk manis di ujung meja memanjang yang lain.

Kebetulan sudah tidak ada lagi yang datang, Hiyuu menutup pintu dan mengunci pintu begitupula jendela bar itu. Sesaat mereka yang duduk di dalam kebingungan, kecuali Crush yang tetap diam menikmati minumannya.

Saat kembali ke meja bar, Hiyuu menghela napasnya dan melihat mereka dengan wajah serius. Ice dan Hau hanya bisa menelan air liurnya masing-masing. 'Ada apa ini? tiba-tiba suasana menjadi serius' itulah yang mereka pikirkan.

"Sebenarnya-" Pria itu mengeluarkan selembaran surat dengan bersegel pemerintahan Acropolis dan laci meja. Semua orang dalam ruangan itu terdiam kaku dan tidak mempercayai apa yang baru saja mereka lihat. "Mitchie memberikan surat ini langsung dari Rune, kalian pasti tau alasannya kan"

Vixzard membuka mulutnya, tetapi ragu untuk membicarakannya, "Jangan-jangan... surat perintah untuk ring pelindung Acronia orde ini?"

"Tebakan bagus, Vix. Pergantian setiap 3 tahun ini sungguh merepotkan, masih banyak ring yang lebih unggul dari kita, misi ini datang pada saat giliran kita"

"Shining Vanguard sebagai perwakilan pelindung utara, Lykaios Fenrir. Knight Evolution sebagai perwakilan pelindung timur, Lumina Wyren. Isekai Seikishi sebagai perwakilan pelindung selatan, Flynn Vermelion, dan Houki Boshi perwakilan pelindung barat, Gwyn Tegra. Keempatnya bertugas pada orde ini..." ucap Fiori sambil melihat ke langit-langit bar itu.

"Surt dari Rune berhubungan dengan hal itu" lanjut Hiyuu sambil membuka segel surat itu.

"Tetapi... Houki Boshi tidak ada di sini, mereka semua berada di-"

"Kota Morg" jawab Crush.

"Hoaahh, tidak kusangka kau peduli akan sesuatu diluar ringmu" sindir Hau.

"Diam kau" gertak Crush, "-lalu apa isi surat itu? kalau hanya hal sepele aku gak ikut campur"

"Kurasa kita semua yang ada di sini akan terlibat, benarkan kak Hiyuu?" tatapan dingin Ice ke titania pirang itu, ekspresi titania itu semakin  tidak enak, seolah dia mengumpat dalam hatinya.

"Yup, kau benar Ice. Di surat ini dijelaskan, ada ring yang memberi ancaman ke Acropolis, mereka menjuluki nama mereka sendiri sebagai The Hunters"

"The Hunters?" tanya dari Hau.

"Menurut surat ini, mereka adalah ring hitam yang selalu ikut campur dari pembantaian massal. Mereka berinisiatif untuk menghilangkan Acropolis dari muka Acronia." Hiyuu tertawa kecil, "Sedikit tidak masuk akal. Tapi kurasa ini bukan bahan tertawaan. Ah iya, kurasa beberapa dari kalian pernah melihat lambang ini sebelumnya, terutama kalian berdua, IceBlow, Vixzard"

Seketika kedua pemuda seumuran itu melihat lambang yang tergambar pada surat itu, keduanya berdiri dari tempat duduk mereka. 'Lambang ini!' sebuah corak berbentuk tanda tanya dengan 2 pasang sayap aneh bagaikan mata.

Vixzard mengingat sekelompok orang memakai jubah hitam datang ke dalam istanah pada saat malam itu, mereka seakan menggunakan sihir berukuran besar yang membunuh seluruh penghuni kerajaan pada saat itu. 'Yukky!'

Ice hanya terdiam, dia merasa tidak tenang, ingatan 5 tahun yang lalu kembali terulang, 'Lambang ini sama dengan jubah yang mereka kenakan. Aku menemukan kalian!' Tapi entah kenapa dia merasa pernah melihat corak itu di suatu tempat, jauh sebelum kejadian 5 tahun lalu itu.

Hau hanya terdiam dan berusaha mengerti perasaan yang di alami kedua teman baiknya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa tugas kita?"

Fiori mengambil dan membaca baik-baik surat itu. "Uhmm surat ini.. menyampaikan bahawa kita harus pergi dan menghancurkan patung relik hewan pelindung dengan medali yang diserahkan pada kita sebelumnya. The Hunster memiliki kekuatan untuk membangkitkan dan menggunakan mereka."

"Menghentikan mereka dengan menghancurkan patung relik hewan pelindung?" Candy melihat Fiori dengan wajah bingung, "-bukannya tugas kita adalah bekerjasama dengan hewan-hewan itu untuk melindungi Acronia?"

"Mereka pikir kekuatan mereka cukup untuk memanfaatkan makhluk-makhluk itu, bahkan menghasut mereka saja sudah mustahil.." Crush tertawa kecil, seolah merendahkan kekuatan para The Hunters.

Hiyuu melihat wajah kedua rekannya. Ice dan Vix. Keduanya memiliki alasan yang tertulis di muka mereka. "Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, sebagaimana api akan memakan kayu, pikiran kita hanya akan tertutup oleh amarah yang meluap-luap. Sehingga hanya akan memperkeruh suasana"

Emil berambut pirang keemasan itu menarik napasnya lagi, "Bukankah kita melakukan ini demi kebaikan Acropolis bahkan Acronia?" dia memberi jeda ucapannya, agar teman-temannya sempat membulatkan pikiran mereka, "Meskipun aku punya alasan tersendiri mengenai permasalahan ini. Tapi kurasa ini mungkin jadi kesempatan yang baik untuk memperoleh jawaban dari mulut mereka". Pria itu membuka kembali pintu depan bar itu, "Kuharap kita bisa memulainya segera, kita akan mulai dari barat karena tidak ada anggota Houki Boshi yang ada di sini. Kutunggu kalian di West School besok pagi"

Selain Ice dan Vix yang masih terdiam, mereka semua menganggukan kepala yang berarti setuju dengan pendapat dari ketua Isekai Seikishi itu.

Beberapa menit kemudian, para anggota Shining Vanguard keluar dari bar dan kembali ke rumah mereka. Fiori ikut tinggal dengan Isekai Seikishi karena tidak ada rumah kediaman Knight Evolution di Acropolis.

"Fiori"

"Hmm? Apa apa kak Hiyuu?"

"Knight Evolution... mereka..."

"Semoga mereka mau berubah, kakak pasti bisa menghentikan mereka sebelum terlambat"



Di perjalanan pulang, Hau hanya bisa melihat kedua temannya yang hanya jalan tanpa mengucapkan sesuatu. Tatapan keduanya penuh dengan kepedihan masa lalu yang menghantui mereka. Dia membuka mulutnya dan mencoba mengajak mereka berbicara, tapi tidak jadi. Pemuda serigala biru itu hanya kembali terdiam.




Huaammm time to rest... *menghela napas

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2167
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #21 on: November 17, 2013, 11:34:33 PM »
Eng ing eng..!!!

Ketegangannya sudah di mulai... Huaaaaa...!!!! Semakin seru..!! Semakin seru...!!!
Daaaann... ore no imouto yang kawai muncul.. piiioooliiiiinn~ :love: :love: :love:

cepat juga jeda break antara ch 6 ama 7, yap yap yap...

Hmm, sarannya seperti biasa. Masih banyak typo. Jadi sebelum post tolong d cek dulu...
terus lagi, disini karakter yang muncul sudah semakin banyak, reader-nya mungkin bingung, soalnya kamu blom ngasih gambaran kuat buat masing-masing karakter. Lebih detail lagi jelasinnya.

oiya, saranku yang kemaren, bisa dijadiin referensi sih. kan kamu hobby gambar, bikin cover tiap chapternya gitu *slapped*
yah, biar readernya makin kenal dg semua tokoh yang muncul...

Oiya, komen soal ch-6, Ruby itu bukannya identik dengan warna merah ya?

Salam buat IS, SV, dan HB

~ Comment Reader - Kamen Rider ~ :love:
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline Chicka

  • Follower of Songs
  • ****
  • Posts: 473
  • Cookie: 45
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #22 on: November 18, 2013, 05:48:07 AM »
wah es tiup masih bikin cerita... O.o

request cerita ori dong kalo bisa.

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 32
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #23 on: November 18, 2013, 06:19:28 PM »
@atra : sedang kuusahakan gmbr char sama beberapa ch (yg bs d gmbrkan)  :nod:
 btw ruby itu permata.. emg sih identik warna merah.. tp warna merahkan ada byk macemny warna merah ruby itu lebih sesuatu bgt, beda sama merah ngejreng xD

@chicka : haluuu~ tehee  :hi:
hahaha ori dlm pengertian apa dulu :3

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 32
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #24 on: November 25, 2013, 07:01:13 PM »
uaaaaghhh!!! maaf blum bs update  :cry:

ujian sudah siap menghadang di depan... orz
last updatetan untuk saat ini *menunggu saat waktu yang tepat





Chapter 8, Night Before The Journey

-Shining Vanguard's Mansion-
"Mu! Mu!" seekor mini carrier hijau mencoba menarik perhatian tuannya. Namun respon orang itu hanya mengelusnya sesaat dan kembali menekukan kepalany dan termenung, "Mu?"

"Ice kurasa MuGyo hanya ingin tau keadaanmu" ucap dari seorang gadis emil berambut coklat kehitaman panjang dan lurus yang masih terlihat basah setelah mandi. Perempuan itu duduk di salah satu kursi tidak jauh dari Ice, di bahunya menggantung handuk berwarna kuning dengan gambar seekor anak ayam. Perempuan itu di kelilingi dengan peliharaan yang dia rawat. Mulai dari chocko, heavy bird, golden wolf bahkan seorang mercenary sebagai pengawalnya.

"V-Vio, sebaiknya kamu tidak membawa masuk semua peliharaanmu itu.." Hau melirik gadis emil itu dari balik sofa.

"Ehh? Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka tinggal di luar rumah dan kedinginan, mereka juga perlu tempat yang hangat. MuGyo dan Faruva pun juga ada di dalam rumah, benarkan Ice?"

"..." Ice mengangguk ringan, tapi dia masih tidak melihat ke arah mereka.

"Err.. ya terserahlah" emil serigala itu kembali menonton acara TV.

"Te-hee~" tawa kecil Vio, gadis itu kembali berdiri dan menygjak semua peliharaannya masuk kedalam rumah besar itu.

Walaupun terdengar suara TV yang ditonton Hau, ruangan itu tetap sepi. Tidak terdengar suara lain. Ice beranjak dari tempatnya dan kemudian duduk di sebelah Hau. Ulat hijau itu mengikutinya.

Saat menyadari keberadaan Ice, mata HAu terbelalak, "I-Ice?!"

"Hmm?" pemuda domi-neko itu hanya membalasnya dengan gumaman pelan.

"Aa.. t-tidak apa-apa.."

Suasana hening kembali. Kedua orang itu terdiam, tatapan mereka hanya tertuju pada acara TV yang sedang tayang.

Akhirnya Ice memulai pembicaraan, "Hau, bagaimana menurutmu.. tentang misi ini?" tanyanya sambil menonton TV.

"Ya begitulah, tidak ada pilihan lain selain menjalankannya, benarkan ketua?"

"Uhm... kamu yakin kita bisa melakukannya? Kita bahkan tidak tau kekuatan mereka sebenarnya..."

"Pertanyaan bodoh.." Ice terkejut mendengar balasan Hau. Domi-neko itu langsung menatapnya. Hau tersenyum sendiri, bahkan terlihat menanggapi ucapannya bagai guyonan. Emil itu masih melihat ke arah TV, "Madsudku.. kau itu bodoh sekali, Ice. Tentu saja kita bisa melakukannya, tidak ada yang mustahilkan?"

"Hau.." balasnya singkat.

"Kau ingat kejadian turnamen itu? Lexus bahkan memberikan jabatannya padamu-" lanjut Hau sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, "Y-ya.. aku pernah mendengarnya dari Vio. Walaupun saat kejadian itu aku belum bergabung dengan kalian>"

"Ohh kejadian itu.. tentu aku mengingatnya" sesaat berhenti berbicara Ice berdiri lagi dengan memasang wajah bersalah. Domi-neko itu menundukan kepalanya, dia tidak mau mengingat hal itu. Domi-neko itu menghela nafasnya dan perlahan meninggalkan Hau, Ice tidak mau lagi melanjutkan pembicaraan mereka setelah mengingat kembali saat-saat itu.

"-nah, kalau begitu jangan mengecewakannya. Dia sendiri yang memilihmu" Ice sesaat berhenti setelah mendengarkan perkataan temannya. Walaupun Ice memunggungi Hau, emil itu dapat melihatnya tersenym sesaat. Kemudian domi-neko itu berjalan lagi dan meninggalkannya.

"-trims Hau. Aku akan membuktikannya, kalau aku bisa... kalau ring ini bisa melakukannya" balas Ice dari kejauhan sambil menaiki tangga.

Hau tersenyum setelah mendengarnya. Sesaat ruangan menjadi sepi, tiba-tiba udara dingin berhembus lembut  melewati ventilasi. Seketika itu Hau merasakan seolah ada yang meraba pundaknya. Emil itu segera melihat sekitarnya, tubuhnya merinding tidak karuan, perutnya serasa membeku. 'Sebaiknya aku juga harus tidur' dengan cepat Hau mematikan TV dan bergegas menuju kamarnya.



Ice melirik keluar jendela kamarnya, domi-neko itu duduk di lantai dan bersandar pada MuGyo yang tidur tidak jauh dengan tempat tidurnya. Dia akhirnya melihat pada sebuah papan yang menggantung disebelah lemari baju yang berada tidak jauh di depan dia bersandar. Papan itu dipenuhi kertas-kertas, potongan koran, dan foto. Beberapa garis dan lingkaran yang di tandai dengan tinta warna-warni menarik perhatiannya, garis dan lingkaran itu terlihat seolah menghubungkan kejadian pada kejadian lain. Sesaat Ice mengikuti garis-garis itu dan berakhir pada sebuah foto yang sudah terlhat sangat usang.

Foto dirinya dengan sewaktu kecil dengan seorang emil yang beda beberapa tahun dengannya. Di belakang mereka terlihat juga sepasang pria dominion dan seorang wanita emil yang tersenyum ramah. Domi-neko itu menghela nafas panjang dan kemudian mengambil sebuah album foto yang terletak di bawah tempat tidurnya. Album itu masih terlihat baru walau warnanya sudah kecoklatan tertutup debu.

Ice membukanya dan melihat isinya satu per satu, dia tidak melewatkan setiap foto yang terpasang. Saat sampai halaman yang berisi satu foto, dia menutup buku itu dengan kasar. Ice menggertakan rahangnya, permuda itu menggeram dan berteriak sambil melempar buku itu menjauhi tempat dia bersandar.

Buku itu menghantam dinding kamar yang tepat di bawah papan, suara yang ditimbulkan membuat MuGyo terbangun. Carrier itu tersadar tuannya tidak lagi bersandar pada tubuhnya, melainkan duduk sambil memeluk kedua lutunya. Wajahnya tertunduk di antara kedua lututnya. "Muu?"

Ice meninjukan tangannya ke arah lantai. Ulat hijau itu terkejut dan melihat tuannya seolah ingin bertanya sesuatu.

Ice menyadari ulat peliharaannya sedang melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya. Ice ternyum pahit. "Aku tidak apa-apa Mugyo" jawabnya sambil beranjak dari tempatnya dan membaringkan badannya di atas kasur, "Ayo tidur, kita harus siap-siap buat perjalanan panjang.."



-DownTown,Acropolis-
AlcheTan berjalan-jalan mengelilingi Downtown, dan membeli beberapa barang yang bisa digunakannya selama beberapa hari. Pikirannya masih melayang entah kemana. Sosok domi-neko itu masih terbayang jelas di kepalanya. Walaupun ini pertama kali dia melihatnya, tapi di sisi lain seolah berkata dia pernah berjumpa dengannya. 'Entah kenapa... dia memiliki aura yang sama dengan para tentara itu..'




hufftt okay saatnya bersembunyi di dalam gua!!  :gone:
« Last Edit: November 25, 2013, 07:12:54 PM by EsTiup »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 8]
« Reply #25 on: December 03, 2013, 08:32:13 PM »
huehehe... melihat ada fanfic eco lagi rada... mixed feeling...
tapi mantaplah A_A

lanjutkan~!

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 32
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 8]
« Reply #26 on: January 05, 2014, 09:33:26 AM »
ohh.. ternyata udh g update 1 bulanan lbh.. eh 1 tahun malah..
Ah iya, Happy New Year 2014 ^__^ :hi: telat


langsung update 2 chapter ah khu khu khu
itung2 brapa ch yg hrsny udh muncul... 
:cry:




Chapter 9, Journey To The West

-West Acropolis Plains-
Ke esokan paginya, kabut tipis menutupi sebuah sekolah yang di terangi matahari pagi. Crush menyandarkan punggungnya pada tiang lampu, titania itu melirik Candy yang sedang bercanda tawa dengan Fiori di sisi seberang jalan.

"Ehm... tidak kusangka orang sedinginmu.." Hiyuu yang berdiri di tengah jalan sepi menyadari arah lirikan Crush. Hiyuu tersenyum nakal. Tapi Crush hanya membalas dengan tatapan datar yang tak senang, titania itu melirik ke arah lain dan melihat dua orang yang datang mendekat.

"Ah.. si guguk dan Vixzard.." ucap Crush dengan suara kecil dan pelan, tetapi menyadarkan teman-temannya dengan keberadaan kedua orang itu.

Hau yang tau tatapan ejekan Crush langsung terbawa emosi, "Hah!! Kukira kamu tidak ikut, Rubah!"

"Ka-kalian ini..." ujar Candy dengan gemas.

"Ma-maaf membuat kalian menunggu lama" Ice entah sejak kapan dan bagaimana, dia muncul dari belakang Vix dan Hau dan disusul dengan ulat hijaunya. Keranjang ulatnya terlihat lebih penuh dari biasanya, "Kalian berdua cepat sekali"

"Kamu yang terlalu lama karena tumpukan barangmu" jawab Vixzard sambil tersenyum ke arah para perempuan dan melihat balik ke temannya, "-bahkan lebih banyak dari mereka"

"Baiklah, semua sudah berkumpul?" Hiyuu melihat ke arah rekan-rekannya. "Lho, Vio tidak ikut?" ketiga orang yang baru saja datang langsung menggelengkan kepalanya. "Oke... Ayo berangkat, kita harus cepat memberi kabar Houki Boshi sebelum terlambat"

"Sudah lama tidak bertemu mereka... seharusnya kita membawakan sesuatu untuk mereka" sahut Vixzard sesaat mereka mulai meninggalkan Acropolis.

"Gehehe gak perlu repot-repot, sudah banyak harta karun di sana" balas Hau sambil bersiul.

"Diam kamu, guguk. Suara siulanmu mengganggu telingaku" celetuk Crush.

"Apa kamu bilang?!" balasnya.

"Berhentilah menggonggong"

"Adakah yang bisa menghentikan mereka..." gumam Candy dengan menutup telinganya.

"Kurasa kalian benar-benar menjadi teman yang akur" ujar Fiori dengan polosnya.

"Tidak!! Aku gak sudi menjati temannya!" jawab keduanya serempak sambil saling tunjuk.

"Hahahah bersantailah, kalian perlu menyimpan tenaga kalian. Misi ini sangat panjang" jawab Hiyuu sambil memimpin perjalanan mereka. Walaupun Hiyuu sudah memberitau mereka, kedua orang itu tetap membuat keramaian.

-Mothgue Cliff-
Hari sudah gelap, rombongan itu mulai mendirikan tenda dan makan malam. Walaupun sudah memotong jalan setapak yang berliku-liku, mereka tetap harus melewatkan malam di tengah perjalanan. Hau dan Vixzard mengumpulkan ranting-ranting yang tidak basah, Fiori membantu Candy menyiapkan makan, sedangkan Hiyuu mendirikan tenda.

"Ka-kami kembali" Ice kembali dengan mengangkat dua ekor kelinci hutan. Crush hanya berjalan bersamanya tanpa sepatah kata pun. Penampilan mereka itu cukup berantakan, sekujur tubuhnya penuh dengan ranting dan daun bahkan salju dan tanah.

"Waw tangkapan bagus, kita bisa mulai memasak dan makan malam" ujar Candy.



Semua terlelap, Fiori dan Candy tidur di dalam tenda. Hiyuu, Vixzard dan Hau tidur di dekat api unggun. Ice dan Crush masih berjaga di luar.

Ice hanya terdiam melihat langit bersandarkan mini carriernya, sedangkan Crush memainkan biolanya yang di iringi suara serangga malam.

"Huft... sudah lama kamu tidak memainkan biolamu" ujar Ice sambil mendengarkan alunan musik yang dimainkan, tetapi seperti biasa, titania itu tidak menjawabnya. "-kapan aku terakhir mendengar lagu ini.. terasa bernostalgia"

"hmph" senyuman tipis terlihat pada wajah Crush "-bagian mana yang kamu ingat, domi-neko?" jawabnya sambil terus memainkan alunan musiknya.

Ekspresi kesal terlihat pada wajah Ice, domi-neko itu memalingkan wajahnya, "eiii.. jangan bilang kejadian itu.. sungguh memalukan. Menangis sepanjang hari.."

"lihat, kamu sendiri yang menyebutkannya" Crush menghentikan permainan biolanya dan kemudian duduk di atas batu.

"Ugh.. sial, kamu memancingku"

"-terimakasih" balasnya singkat.

"tapi... ya sudahlah, kejadian itu menjadi yang dan yang terakhir sepanjang hidupku. Semua karena kejadian itu.." Ice memainkan ranting di sebelahkan. "-3 tahun yang lalu.. pembantaian dengan ras dominion murni. Bagaimanapun aku melupakannya... bau darah mereka masih menempel"

"kita semua.. para tentara dominion, bahkan warga sipil yang wajib militer" Crush melanjutkan perbincangan mereka, "oh iya, domi-neko, kamu sudah membulatkan tekadmu-"

"-keluar dari tentara dominion? entahlah, aku masih memikirkannya. Haruskah aku melanjutkannya dan memberantas para teroris atau hidup sebagai warga sipil yang selalu merenungi masa lalunya" Ice melempar ranting yang dia mainkan kedalam api unggun. Crush kembali terdiam dan mulai memainkan biolanya.

Domi-neko itu mulai menguap dan kemudian melihat ke langit yang di penuhi bintang. 'Militer... tentara dominion.. mungkin memang saatnya aku mengundurkan diri..' Ice memejamkan matanya sambil mengingat kejadian masa lalu. Mungkin keputusan untuk memilih bergabung resmi dengan tentara dominion bukan pilihan yang bagus Harus bertempur kapanpun, dimanapun dan siapapun. Berbeda dengan pekerjaan tentara titania yang bekerja di dalam Acropolis dan hanya turun ke lapangan pada saat yang diperlukan.

Alunan biola berhenti, Crush mulai membereskan beberapa barangnya dan kemudian berpindah tempat ke sebuah pohon cemara tidak jauh dari tenda, dia merenggangkan badannya dan memejamkan matanya. Walaupun tertidur, dia tetap siaga pada segala sesuatu. Ice mengetahui itu semua. Mereka dulunya berada di satu regu tentara dominion yang sama. 'Kurasa aku akan menyusulnya kelak' Ice tersenyum pahit saat memikirkannya.

Chapter 10, Siblings In The Darkness


Seluruh ruangan berwarna putih karena lapisan es yang tebal, lantai dan dindingnya terasa begitu dingin, beberapa pilar es terlihat memenuhi ruangan itu. Seorang anak kecil berusaha melawan cekikan seorang pemuda yang tidak beda jauh umurnya. Tubuh pemuda yang menimpanya lebih besar dari tubuh si adik, membuatnya susah untuk melawan.

Dengan wajah jijik pemuda itu melihatnya, usaha perlawanan anak kecil itu justru membuatnya mempererat kedua tangannya mencekam leher anak itu.

"Ka-kak a-apa yang-" ucap anak kecil itu terbata-bata. Si adik terkejut sesaat setelah merasakan sesuatu mengalir di wajahnya. Itu bukan air dari langit-langit ruangan itu, melainkan air yang berasal dari pemuda yang mencekiknya, kakaknya. Mata cokelat penuh kebencian milik si kakak mulai dibanjiri air mata. "k-ak?"

"Diam!! Ini setimpal dengan apa yang kamu perbuat!!" si kakak mencekiknya lebih erat lagi, "Lihat sekarang! setelah ibu melahirkanmu, kondisinya menjadi buruk dan pada akhirnya meninggalkan kita!! Ayah juga pergi dan tidak kembali saat kondisi ibu memburuk! Ini semua karena kamu!! Kenapa aku harus memiliki adik sepertimu!!" semakin erat cekikannya membuat air matanya mengalir lebih deras.

Perasaan bingung memenuhi benaknya. Di sisi lain dia ingin membunuhnya, dia juga mengingat pesan sang ibu untuk menjaga adiknya sebagai permohonan terakhir sebelum meninggalkan mereka. Sesaat melihat adiknya yang mulai kehabisan napas dan tidak melawan balik, membuatnya merasa bersalah. Dengan segera dia mengendurkan cekikannya dan terdiam melihat adiknya yang mulai mengambil napasnya.

'A-apa yang telah aku perbuat...' si kakak melihat kedua tangannya sendiri dan mulai mengusap air matanya, "a-apa yang kuperbuat... apa yang telah.... ma-maaf.. maaf..."

Tiba-tiba suara keras terdengar memenuhi seluruh ruangan, suara itu tidak asing, seperti bongkahan es yang menghantam lantai dasar ruangan itu.  Tanpa memperdulikan adiknya yang terbatuk-batuk, pemuda tersebut bergegas berdiri dari tempatnya dan melihat sekitarnya.

Ketika itu juga, sebuah guncangan hebat menggoyang tempat itu, bongkahan es berjatuhan menutup setiap sisi ruangan. Lantai es pijakan mereka berdua tiba-tiba runtuh dan membuat keduanya terjatuh ke dalam kegelapan gua. Si kakak berusaha menggapai adiknya, "Pegang tanganku!!"

"Ka-kakak!!"




Gelap. Dingin. Sakit. Pemuda itu berusaha membuka matanya. Dia merintih kesakitan, seluruh tubuhnya nyeri seperti terhantam Cyclop. Matanya mulai terbiasa dengan gelap, 'Apa yang terjadi? Apa ini mimpi?' dengan segera dia mencoba berdiri dan melihat sekitarnya. Tempat itu sangat gelap, lantainya lebih kasar dan jauh lebih dingin dari permukaan es tempat sebelumnya. Pemuda itu berada jauh di dasar ruangan itu, mungkin tempat ini tersembunyi karena tertutup lapisan es tebal. Suara rintihan memalingkan perhatiannya, dia melihat adiknya terbujur lemah. Tanpa memperdulikan badannya yang sakit, pemuda itu berjalan mendekatinya.

"ka-k..." ucapnya lemah. Pemuda itu bergegas memeriksa tubuh adiknya.

"Tenanglah, aku berada di sisimu" si kakak berusaha menenangkannya, tapi justru dia sendiri yang terkejut mati-matian. Beberapa rusuk patah. Tidak hanya itu, masih banyak luka lainnya yang parah. Darah mengalir dari tubuh adiknya, napasnya yang awalnya memburu mulai melemah. Wajahnya juga memucat.

Dalam kepanikannya, pandangannya teralih oleh sesosok hitam berkaki empat yang mendekati mereka. Suara kuku yang mengenai lantai itu terdengar semakin jelas. Seekor serigala hitam bermata biru. Rambut-rambut berwarna jingga terlihat di pipinya, dan rambut-rambut bercahaya kebiruan di bagian bawah badannya. Rambut bercahaya itu seolah mencerminkan langit malam tidak berawan. Ada dua bilah pedang berwarna biru melayang di sekitar serigala itu. Bercak-bercak merah terlihat jelas di mata pedang itu.

Belum sempat menjerit ketakutan, perut pemuda itu mendadak mual sesaat mengetahui apa yang di sekitar mereka. Puluhan tubuh monster yang sudah mati bersayatan luka tebas yang dalam dan masih mengucurkan darah. Bahkan tidak hanya itu, ada yang sudah tertutupi lapisan es. Bentuk dan ukuran tubuh mereka bervariasi dan jauh lebih besar dari ukuran tubuh monster yang pada umumnya ada di wilayah utara, dan yang mencoloknya lagi, mereka memiliki 2 pasang mata. 'Apa yang terjadi? Serigala apa ini? Dia yang membunuh semua monster di sini?'

/Anak manusia, tak kusangka kau bisa menginjakan kakimu sampai di sini... sudah lama tidak ada orang yang kemari, aku muak hanya bisa melihat monster-monster ini!/

"Su-sudah kuduga, kamu bukan serigala biasa... corak rambutmu... pedang itu... A-APA MAUMU?!" teriak pemuda itu sambil memeluk adiknya.

/Tenang anak emil, aku tidak akan memakanmu, dan juga... kurasa ada yang lebih penting dari ini. Nah, beritau aku, apa yang kau inginkan.. anak manusia?/

Wajah si kakak terkesiap, dia menyadari tubuh adiknya yang semakin lemah dan perlahan semakin dingin. Tanpa memikirkan niat awalnya untuk membunuh adiknya sendiri, pemuda itu meyakinkan dirinya, "ji-jika kamu bertanya seperti itu... kumohon selamatkan dia!"

/Kau datang pada orang yang tepat, aku bisa membantumu/

"Aku tidak peduli siapa kamu sebenarnya, kumohon selamatkan dia!!" sang kakak berteriak pada serigala itu sambil memeluk erat adiknya,
"SELAMATKAN ADIKKU!!"


ScytheSpade terbangun dari mimpinya, keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Dia memegang keningnya, 'Lagi-lagi mimpi kejadian itu' sesaat dia mengepalkan tangannya, 'Jika saat itu aku tidak bertemu serigala itu, mungkin semua tidak akan berjalan seperti ini!'. Spade perlahan turun dari ranjangnya. Alih-alih memendam penyesalan, matanya teralih pada sesosok bayangan yang bersandar di ambang pintu kamar. Seorang wanita berkerudung dan bergaun hitam seolah mau pergi ke pemakaman. Wajah wanita itu tertutup oleh bayangan kerudung yang dia kenakan, hanya terlihat rambut ungunya yang menjuntai keluar dari kerudung.

"Mimpi buruk itu lagi?" ujar wanita itu sambil mendekati Spade.

"Itu bukan urusanmu" Spade hanya berdiam diri sambil mengenakan baju atasannya yang berada di tepi ranjang, "seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu masuk ke kamar orang sesuka hatimu?" walaupun Spade tau wanita itu adalah rekan kerjanya bahkan wakil ketua ring saat ini, pria itu sangat membencinya dan tidak sungkan untuk menaikan suaranya. Mulai dari penampulannya yang serba hitam dan berbau mayat, sampai cara wanita itu berbicara yang seolah merendahkannya. Tidak ada yang memikat untuk mengganggapnya sebagai rekan maupun manusia sekaligus. Bagi Spade, wanita ini adalah pencabut nyawa, yang siap mengambil nyawanya.

"'Dia' memberitaukan kita, rencana kita berjalan lancar, mereka sudah menjalankan misinya di penjuru Acropolis" wanita itu memulai pembicaraan mereka.

"Baguslah, kita bisa tinggal menunggu waktu untuk misi kita" jawab Spade dengan dingin.

Wanita berkerudung itu sudah berada di belakangnya, dan perlahan memeluk Spade dari belakangnya. Kemudian menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu, "Akhirnya... kita The Hunters meraih apa yang kita cari!"

"Ya... cepat atau lambat..."

"Oh iya Scythe... aku ingin bertanya padamu, kamu sudah melakukan semuanya dengan baik untuk sejauh ini... Apa kamu tidak sedikitpun khawatir dengan adikmu?" Spade hanya terdiam, kemudian wanita itu melepas pelukannya dan berjalan mengelilingi Spade. Dia berhenti di depannya dan melihat sorot matanya, "Owh, takdir yang menyakitkan.. dia hanya akan menari dalam genggaman Rune, sama seperti yang lain. Oh iya bagaimana dia sekarang? Kamu tidak bertemunya waktu misi 5 tahun yang lalukan? Uhm.... berarti sudah 10 tahun kalian tidak bertemu"

Perlahan wanita itu mendekati pria itu lebih dekat, dan mendekatkan wajahnya tepat di sebelah telinga pria itu. Wanita itu perlahan membuka mulutnya dan berbisik, "Kuharap dia tidak melupakanmu, Spade." jari jemari wanita itu mengelus pipinya "Ckckck, kalian akan saling membunuh satu sama lain... kalau tidak salah nama adikmu.... IceBlow, bukan?"

Seketika mendengar namanya Scythe mendorong wanita itu dan memojokannya ke tembok sambil mencekik leher wanita itu dengan tangan kanannya erat-erat dan menyipitkan matanya yang berwarna abu-abu. Tatapan penuh amarah dan ancaman. "DIAM! Masalah aku dengan adikku bukan urusanmu, nenek necrophilia!! Bermainlah dengan mayat-mayat kesayanganmu itu! Jangan sesekali mencampuri urusanku!" tapi yang diharapkan Spade tidak terjadi. Wanita itu tidak merintih kesakitan atau memohon tetapi justru tersenyum puas.

Senyuman itu membuatnya naik pitam, Spade melepaskan tangannya dan berjalan meninggalkan kamarnya, "Ingat baik-baik nenek necrophilia! Jangan berani-beraninya menyebut namanya di depanku! Dan perlu kutambahkan lagi, dia bukan adikku lagi, adikku sudah mati!"

'Akan kuselesaikan semuanya dengan tanganku sendiri!' pria itu membanting pintunya dan meninggalkan wanita itu sendirian.

Wanita itu tersenyum lebar, "Hmmm kau benar-benar menarik Scythe... hahahaha!!" dengan tampang puas wanita itu tertawa sendirian, dan dalam sekejab bayangan wanita itu mengitari tubuhnya seolah seperti ular yang melilit. Beberapa benda di ruangan itu melapuk seketika, seakan dimakan oleh waktu.



-Mothgue Cliff-
"Ice.. ice..." terdengar suara yang membangunkannya.

"Huaaaaa!!" Ice terbangun dari tidurnya.

DAKK!!!

"Agh!! Ittaii..." Ice mengusap kepalanya yang terasa baru saja membentur sesuatu, matanya langsung tertuju pada Hau yang tidak jauh dari tempatnya. Emil itu jongkok sambil memegangi dahinya. "E-eh? A-apa yang kamu lakukan di sana, Hau?"

"Baka!! sampai kapan kamu akan tertidur!" Hau membentaknya. "Kita harus berangkat!"

"E-eh?"

"Domi-neko tetap domi-neko.." sahut Crush yang berdiri di belakangnya sambil mengambil tas bawaannya.

"Ayo Ice, kita sudah setengah jalan, lebih cepat lebih baik" Hiyuu masih membereskan tenda di bantu dengan Vixzard. Candy dan Fiori membersihkan api unggun yang sudah padam.

"Oh.. oh.." Ice mulai berdiri dan mengangguk. '14 tahun yang lalu... sampai saat ini aku masih tidak tau kenapa orang itu tidak jadi membunuhku..' dahinya terasa nyeri saat membentur Hau. Ice kembali mengusapnya dan kembali mengingat kejadian itu. Yang dia ingat hanyalah pada saat kakaknya mencekik lehernya dan kemudian terjatuh ke dasar gua es, dan kemudian tersadar kakaknya sudah menggendong tubuhnya yang terasa nyeri dan lumpuh di tengah badai salju menuju desa tempat mereka tinggal.

"Okay semuanya beres!!" Candy melompat bahagia sesaat mengenakan tas ranselnya, "Saatnya melanjutkan perjalanan~!"

"Sip, ayo kita berangkat" Hiyuu kembali memimpin perjalanan mereka.



« Last Edit: January 05, 2014, 03:34:05 PM by EsTiup »

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2167
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 9 & 10]
« Reply #27 on: June 13, 2017, 12:54:50 PM »
sudah 1... 2... 3... tahun berlalu, blm update lg nih..
ayo posting lg ice~
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN