Author Topic: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 12]  (Read 3877 times)

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 6]
« Reply #20 on: November 17, 2013, 09:46:22 PM »
*Intip2

fast update!! ngelunasin utang updatetan
bersiap-siap mengelilingi Acronia~  :sing:




Chapter 7, An Order From The President

-Isekai Seikishi's Bar-
Ice membuka pintu kayu sebuah bar kecil di sekitar toko BlackSmith di DownTown. Nafasnya terengah-engah, sesaat dia masuk, seluruh mata langsung tertuju padanya.

“Uhm... Ma-maaf aku terlam-“ belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Candy langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat.

“Hyaaa Iceee~! Hehehe aku kangen kamu~”

“Ugh... C-Candy.. se-se-... sesak..” Domi-neko itu berusaha mendorong mundur, tetapi Candy tetap terus memeluknya sambil menggerek-gerakan pipinya seolah Ice adalah bantal.

“Candy... dia tidak bisa nafas..” saut Crush tanpa melihat apa yang terjadi. Serentak Candy tersadar dan melepaskan pelukannya. Ice buru-buru mengatur nafasnya kembali, wajahnya sudah  memucat.

“Hahaha, duduklah, yang lain juga baru datang” Hiyuu menyambut domi-neko itu dengan senyuman. Bergegas Ice duduk di kursi bar yang masih kosong berada di antara Vix dan Fiori. Domi-neko itu melirik ke kanannya dan melihat Crush yang berada di pojok hanya melamun sedangkan Candy yang berada di antara Crush dan Hau, terus mengaduk minumannya sambil berbicara dengan Hau. Vixzard masih menikmati Strawberry CheeseCake kesukaannya. Sedangkan Fiori yang duduk di sebelah kiri Ice tidak melakukan apa-apa.

“Kebetulan semua sudah berkumpul” Hiyuu yang baru saja selesai merapikan barang-barang, langsung menutup pintu bar.

“Eh? Kenapa-“ Ice melihat Hiyuu dengan heran, sedangkan yang lain terdiam

 “Did i miss something?”.

“Yes, you did...” jawab Vix yang berada di sebelahnya sambil melihat Hiyuu yang berjalan kembali ke meja bar.

“Sebenarnya-“ pria Emil itu mengeluarkan selembar amplop bercap dari salah satu laci meja yang terkunci. “Kalian pasti tidak asing dengan ini... Mitchie memberikan surat ini langsung dari Rune untuk kita”.

“Huh? Pergantian tugas kerja? Bukannya berganti setiap 3 tahun sekali?” Ice melihat surat itu dengan baik-baik.

“Hmm kalau benar itu surat panggilan untuk memberikan tugas sebagai pelindung Acronia ke ring lain... apakah surat itu di tujukan pada Shining Vanguard dan Knight Evolution? Lalu... kenapa di serahkan pada kak Hiyuu?” tanya Candy.

Vix membuka mulutnya, tetapi terdengar keraguan dalam ucapannya, “Kurasa bukan itu... jangan-jangan, tugas lapangngan?”.

“Pertanyaan kalian semuanya benar. Sebenarnya, aku dan Fiori telah membaca surat ini terlebih dahulu” Hiyuu membuka amplop yang sudah tidak tersegel dan mengeluarkan surat yang ada di dalamnya, “Surat ini di tujukan pada Knight Evolution dari fraksi timur dan Shining Vanguard dari fraksi utara sebagai tugas terakhir sebelum pergantian-“. Pria Emil itu mengambil nafasnya, “-dan Isekai Seikishi dari fraksi selatan serta Houki Boshi dari fraksi barat, sebagai tugas utama”.

“Tetapi... Houki Boshi tidak ada di sini, mereka semua berada di-“ .

“Kota Morg..” lanjut Crush.

“Hoahah tidak kusangka kau peduli akan sesuatu di luar ringmu” sindir Hau.

“Diam kau” gertak Crush, “-lalu kertas-kertas itu...”.

“Yup, ini yang utama, tugas yang di berikan. Dalam surat ini di sampaikan kita harus menghancurkan setiap patung pelindung Acronia agar dapat menghentikan rencana sekelompok orang yang menyebut dirinya Ouroborus yang ingin menghilangkan Acronia.” Pria berambut emas itu sejenak berhenti setelah membaca surat itu, dan mengarahkan beberapa lembar surat ke arah Vix dan Ice, “ Kurasa beberapa dari kalian mengenal dan pernah melihat lambang ring ini, terutama kalian berdua...”.

Seketika kedua pemuda itu menerima lembaran tersebut, wajah keduanya memucat. Sebuah corak aneh berbentuk ular di tengah dan 2 pasang sayap mirip dengan mata kucing. ‘Lambang ini...! Jadi mereka, Ouroborus’ .

Hau hanya bisa terdiam melihat mereka, dia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana perasaan yang di alami rekannya. Crush yang tak mau peduli langsung memecah keheningan, “So... apa yang harus kita lakukan dengan patung-patung itu?”.

“Menghancurkannya... dengan medali yang kita dapat pada saat pergantian ring...” Fiori menjawabnya, “-mereka bilang sih... Ouroborus bisa membangkitkan dan mengendalikan mereka.. jadi sebelum mereka melakukannya, kita harus menghentikan mereka.”.

“Jika mereka pikir, para pelindung Acronia semudah itu... Mereka benar-benar salah langkah ” Crush tertawa kecil.

Hiyuu masih melihat kedua pemuda yang dari tadi terdiam, “Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, sebagaimana api yang melahap kayu, pikiran kita hanya akan tertutup oleh amarah yang meluap-luap, serta memperkeruh suasana.” Pria Emil itu berhenti sejenak, “Bukankah kita melakukan ini demi kebaikan Acropolis?”.

Ice dan Vix masih tidak menjawabnya, malah mereka terlihat semakin tenggelam dalam ingatan masa lalu mereka, “I know... meskipun aku punya alasan tersendiri mengenai permasalahan ini. Tapi kurasa ini mungkin jadi kesempatan yang baik untuk memperoleh jawaban dari mulut mereka. Jadi, kuharap kita bisa memulainya segera, kita akan mulai dari barat karena tidak ada anggota Houki Boshi yang ada di sini. Kita akan berpencar besok, aku, Fiori dan Vixzard akan ke Fareast menemui Knight Evolution. Ice, Hau, Candy dan Crush akan ke barat menemui ring Houki Boshi, setelah itu kalian ke selatan untuk membantu ringku yang berada di sana. Aku akan menunggu kalian di Fareast, kita tidak tau kondisi di sana separah apa. Setelah semua selesai, kita akan berangkat ke utara bersamaan, semua tahu rintangan di sana paling sulit dihadapi dengan jumlah orang yang minim.”

Semuanya menjawab dengan anggukan kepala kecuali Hau dan Crush yang saling beradu tatap mata dan menggeram. Beberapa menit kemudian, mereka pulang ke kediaman mereka masing-masing. Sedangkan Fiori tetap bersama Hiyuu, Crush dan Candy.

“Fiori..”.

“Hmm? Ada apa kak Hiyuu?”.

“Knight Evolution.. mereka...”.

“Semoga mereka mau berubah, kakakku pasti bisa menghentikan mereka, sebelum hal yang buruk terjadi”.




Huaammm time to rest... *menghela napas
« Last Edit: July 07, 2017, 05:19:51 PM by EsTiup »

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #21 on: November 17, 2013, 11:34:33 PM »
Eng ing eng..!!!

Ketegangannya sudah di mulai... Huaaaaa...!!!! Semakin seru..!! Semakin seru...!!!
Daaaann... ore no imouto yang kawai muncul.. piiioooliiiiinn~ :love: :love: :love:

cepat juga jeda break antara ch 6 ama 7, yap yap yap...

Hmm, sarannya seperti biasa. Masih banyak typo. Jadi sebelum post tolong d cek dulu...
terus lagi, disini karakter yang muncul sudah semakin banyak, reader-nya mungkin bingung, soalnya kamu blom ngasih gambaran kuat buat masing-masing karakter. Lebih detail lagi jelasinnya.

oiya, saranku yang kemaren, bisa dijadiin referensi sih. kan kamu hobby gambar, bikin cover tiap chapternya gitu *slapped*
yah, biar readernya makin kenal dg semua tokoh yang muncul...

Oiya, komen soal ch-6, Ruby itu bukannya identik dengan warna merah ya?

Salam buat IS, SV, dan HB

~ Comment Reader - Kamen Rider ~ :love:
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline Chicka

  • Follower of Songs
  • ****
  • Posts: 473
  • Cookie: 45
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #22 on: November 18, 2013, 05:48:07 AM »
wah es tiup masih bikin cerita... O.o

request cerita ori dong kalo bisa.

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #23 on: November 18, 2013, 06:19:28 PM »
@atra : sedang kuusahakan gmbr char sama beberapa ch (yg bs d gmbrkan)  :nod:
 btw ruby itu permata.. emg sih identik warna merah.. tp warna merahkan ada byk macemny warna merah ruby itu lebih sesuatu bgt, beda sama merah ngejreng xD

@chicka : haluuu~ tehee  :hi:
hahaha ori dlm pengertian apa dulu :3

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 7]
« Reply #24 on: November 25, 2013, 07:01:13 PM »
uaaaaghhh!!! maaf blum bs update  :cry:

ujian sudah siap menghadang di depan... orz
last updatetan untuk saat ini *menunggu saat waktu yang tepat





Chapter 8, First Move

-West Acropolis Plains-
Kabut tipis menyelimuti West Acropolis Plains dini hari itu, salju putih menumpuk tinggi di pinggir jalan. Crush menyandarkan punggungnya pada sebuah tiang lampu tidak jauh dari sekolah, titania itu melirik Candy yang berada di sebelahnya. Perempuan itu sibuk dengan pita besar yang dikenakannya. Gerak geriknya selalu membuat Crush tertarik untuk melihat, “Candy-...”.

/Ehm.. aku tau kamu bukan orang berhati es, Crush/ tiba-tiba entah dari mana potongan ucapan Hiyuu teringat di kepalanya dan seakan terbayang wajahnya yang tersenyum nakal. Seketika itu Crush kembali dari dunianya dan tersadar gadis emil itu melihat ke arahnya.

“Nani?”.

“Bukan sesuatu yang penting..” Crush berusaha tidak melihat wajahnya dan melihat ke arah lain. Dan didapatnya 2 orang datang mendekati mereka, “Ah si guguk dan Domineko..” gumamnya dengan nada dingin.

Hau yang mengetahui tatapan ejekan Crush langsung terpancing emosi, “Hah!! Kukira kamu bakal lari ketakutan, rubah!”.

“Kurasa seekor puppy sudah benar-benar tidak bisa membedakan manusia dengan binatang”.

“Ka-kalian ini....” ujar Candy dengan gemas, “bisa kah kalian tidak membuat keributan di pagi buta...”.

“Ma-maaf membuat kalian menunggu lama” Ice datang menyusul di belakang Hau dan kemudian di ikuti Mini Green Carriernya.

“Ayo berangkat..” Crush mengenakan tasnya.

“Sudah lama tidak bertemu mereka, harusnya ktia membawa sesuatu untuk mereka...” sahut Candy sesaat mereka beranjak dari depan sekolah.

“Gehehe gak perlu repot-repot, sudah banyak harta karun di sana” balas Hau sambil bersiul.

“Diam kamu, guguk. Siulanmu mengganggu” celetuk Crush.

“Apa kamu bilang?!” balasnya.

“Berhentilah menggonggong”.

“Adakah yang bisa menghentikan mereka...” gumam Candy dengan menutup kedua telinganya.

“Hmm... jika Fiori atau Hiyuu ada di sini aku yakin mereka akan biang ‘Kurasa kalian benar-benar menjadi teman yang akur’” ujar Ice.

“Tidak!! Aku gak sudi menjadi temannya!” jawab keduanya sambil saling tunjuk satu sama lain.

“Hahaha, just kidding...” canda Ice.

-East Acropolis Plains-

“Baiklah, semua sudah berkumpul?” Hiyuu melihat ke arah Vixzard dan Fiori sesaat melihat keduanya mengenakan tas mereka. Pria Emil itu menghela nafas dan tersenyum sesaat melihat kedua rekannya mengangguk dengan wajah masih setengah tersadar. “Oke... ayo kita berangkat, kita harus memastikan kondisi Fareast dan Knight Evolution.”

“Osh!!” Fiori berusaha menyemangatkan dirinya sendiri.

“Hahaha tenanglah, kalian perlu menyimpan tenaga kalian. Misi ini sangat susah, belum lagi kita akan menggunakan jalan setapak yang masih tertutupi salju tebal”


-Mothgue Cliff-
Hari sudah gelap dan angin bersalju terus menerpa tanpa ampun. Candy, Crush, Hau dan Ice terpaksa mendirikan tenda di dalam gua di sisi tebing dan beristirahat sejak siang karena cuaca yang tiba-tiba memburuk di tengah perjalanan. Candy sudah terlelap di dalam tenda, sedangkan ketiga pemuda di berada di luar, dekat api unggun. Hau tidur tidak jauh dari Ice. Sedangkan Ice dan Crush masih terbangun.

Domineko itu hanya terdiam melihat langit-langit  gua sambil bersandar pada Mini Carriernya, sedangkan Crush bersandar dekat bibir gua sambil memainkan biolanya.

“Sudah lama kamu tidak memainkan biolamu” ujar Ice sambil mendengarkan alunan musik yang dimainkan, tetapi seperti biasa, titania itu tidak menjawab dan terus memainkan biolanya, “-lagu ini.. kapan terakhir kali aku mendengarnya... terasa begitu bernostalgia”.

“hmph” senyum tipis terlihat pada wajah Crush, “-kenangan huh? Bagian mana yang kamu ingat, Domineko?” jawabnya sambil terus memainkan alunan musiknya.

Ekspresi kesal langsng terlihat pada wajah Ice, “e-eiii... bukan yang itu.. sungguh memalukan. Menangis sepanjang hari...”

“Lihat, kamu sendiri yang menyebutkannya” Crush menghentikan permainan biolanya.

“Ugh, sial, kamu pandai memancingku”.

“-terimakasih” balasnya dengan singkat.

“tapi.. ya sudahlah, kejadian itu memang tidak bisa dilupakan. Kegagalan terbesarku...” Ice memainkan ranting yang tadi siang dia pungut, “3 tahun yang lalu.... pembantaian itu tidak akan terjadi jika aku bisa menebak mata-mata itu sejak awal...”.

“-tidak, semua itu bukan kesalahanmu... kita.. regu 7 yang harus di salahkan...”.

“Crush... benar... regu 7... tetap saja aku..“.

“nah... regu 7... pasukan khusus warga sipil yang wajib militer, wajar saja kita tidak mengetahui satu sama lain.” Crush melanjutkan perbincangan mereka, “oi domi-neko, kamu sudah membulatkan tekadmu?”.

“-keluar dari Dominion Military? Entahlah, aku masih memikirkannya. Haruskah aku melanjutkan tugasku sebagai Dominion Military atau menjadi warga sipil-“.

“’-yang dihantui masa lalu?’ Hmph. Nice joke.” Crush kembali terdiam dan mulai memainkan biolanya lagi, sedangkan Ice meletakan ranting yang dia mainkan kedalam api unggun.




hufftt okay saatnya bersembunyi di dalam gua!!  :gone:
« Last Edit: July 07, 2017, 05:26:55 PM by EsTiup »

Offline shinigami_boy

  • Elder
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2364
  • Cookie: 47
  • Alceus
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 8]
« Reply #25 on: December 03, 2013, 08:32:13 PM »
huehehe... melihat ada fanfic eco lagi rada... mixed feeling...
tapi mantaplah A_A

lanjutkan~!

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 8]
« Reply #26 on: January 05, 2014, 09:33:26 AM »
ohh.. ternyata udh g update 1 bulanan lbh.. eh 1 tahun malah..
Ah iya, Happy New Year 2014 ^__^ :hi: telat


langsung update 2 chapter ah khu khu khu
itung2 brapa ch yg hrsny udh muncul... 
:cry:




Chapter 9, Sibling In The Shadow

Seluruh ruangan berwarna putih karena pantulan lapisan es yang tebal. Lantai dan dindingnya terasa begitu dingin, beberapa pilar es terlihat memenuhi ruangan itu dan stalaktid es menggantung di langit-langit ruangan itu. Spade mendapati dirinya sedang berdiri di depan dinding es yang memantulkan bayangannya. Tubuhnya tidak setinggi yang dia ingat, rambut biru pendek dan mata coklat bersinar. Walaupun wajahnya masih muda, dia mengenali betul sosoknya, ‘ini... 15 tahun yang lalu.. benar, usiaku masih 12 tahun-‘

Tiba-tiba pikirannya terpecah saat mulai melihat sekelilingnya, tempat es itu sungguh tak asing, ‘T-tempat ini.. jangan-jangan’ serentak kaki pemuda itu mulai bergerak dan berlari menyusuri jalan sepanjang coridor es.

‘Tunggu, tubuhku-‘ dia mengenali betul tempat itu, setiap sudut, setiap pilar, ‘aku- jangan! Jangan lari kesana!’ perlawanan pikirannya tidak membuat kakinya tak kunjung berhenti. Tidak jauh dari tempatnya, Spade melihat tubuh mungil adiknya yang bersandar pada salah satu pilar. “Ice!!”

‘Kumohon jangan ke sana!’

Bergegas dia menghampirinya, “Kau tidak apa-ap-“ ucapnya terputus setelah melihat kepala adiknya mengucurkan darah. Beberapa bagian tubuhnya lebam. “Lihat! Sudah kubilang jangan bermain bersama mereka, kalau ayah pulang dan mengetahui kamu seperti ini-“ tiba-tiba Ice memegang tangan kakaknya.

“Ni-Ni-sama...ma-maaf...” ucap anak kecil itu terbata-bata.

‘Cepat pergi, cepat!’

“Cu-cukup jangan bicara lagi, kita keluar dari sini-“ sebelum Spade sempat menggendong adiknya, sebuah guncangan hebat menggoyang seluruh tempat itu, bongkahan es berjatuhan menutup setiap sisi ruangan. Pemuda Emil itu memeluk dan melindungi adiknya dari stalaktid yang berjatuhan, tapi yang lebih mengerikan terjadi. Lantai es pijakan mereka berdua tiba-tiba runtuh dan membuat keduanya terjatuh ke dalam kegelapan gua.

‘Ice!! Ice!! Pegang tangan Ice! Jangan biarkan dia sendirian!’

Seolah dapat mengendalikan kesadaran tubuhnya, Spade merentangkan tangannya dan mencoba menggapai adiknya, “Pegang tanganku!!”

“Ni-sama!!”



Gelap. Dingin. Sakit. Pemuda itu berusaha membuka matanya. Dia merintih kesakitan, seluruh tubuhnya seperti dihantam Cyclop. Matanya mulai terbiasa dengan gelap, dia bisa merasakan tubuhnya kembali. ‘A-aku...’ dengan segera dia mencoba berdiri dan melihat sekitarnya, lantai tempat itu kasar dan jauh lebih dingin dari sebelumnya. Spade tersadar dirinya berada jauh di dasar ruangan itu, mungkin tempat ini tersembunyi karena tertutup lapisan es yang tebal. ‘i-ini... Ice!! Aku harus mencarinya’ tanpa memperdulikan badannya yang sakit, pemuda itu mulai berjalan. “Ice!! IceBlow!!”

“Ni-.. –sama...”

“Ice! Kamu dimana, Ic-!” Spade dengan cepat menemukan tubuh adiknya yang terbujur lemah di lantai dan memangkunya. Dia bergegas memeriksa tubuh mungil itu. “Tenang, aku ada di sini..” pemuda itu berusaha menenangkan adiknya, tapi justru dia sendiri yang terkejut mati-matian. Beberapa tulang rusuk patah. Tidak hanya itu, masih banyak luka lainnya yang parah. Darah mengalir hampir dari sekujur tubuh adiknya, nafas yang mulanya memburu perlahan melemah. Wajahnya juga memucat.

Dalam kepanikannya, dia teralih pada suara kuku yang bersentuhan dengan lantai kasar semakin mendekat. Sosok hitam berkaki empat datang mendekati mereka. Rambut-rambut berwarna jingga mewarnai pipi sosok itu dan rambut-rambut bercahaya di bagian perutnya. Mata biru jernih menatap Spade dalam-dalam. Ada dua bilah pedang besar berwarna kebiruan melayang di belakangnya, terdapat bercak merah melumuri pedang besar itu, darah. Mulanya pedang itu terhunus ke arah dua orang itu tetapi kemudian tertarik mundur. Sosok itu datang mendekat, sesosok serigala besar. Jika diperhatikan lebih jelas, rambut-rambut serigala itu kasar karena berlumuran darah.

Belum sempat teriak ketakutan, Spade mendadak mual sesaat mengetahui apa yang di sekitar mereka. Puluhan tubuh monster yang sudah mati bersayatan luka tebas yang dalam dan sebagian mayat masih mengucurkan darah. Sebagian lagi sudah tertutupi lapisan es. Bentuk dan ukuran monster itu bervariasi, mereka monster-monster yang biasa menghuni wilayah utara. Namun ada yang membuat mereka berbeda, ukurannya lebih besar dari normal, sebagian tubuh mereka tertutupi sisik hitam dan yang lebih mencolok, wajah monster itu terlihat aneh seperti mutan dengan 2 pasang mata. ‘D-dia...’

/Anak manusia, tak kusangka kau bisa menginjakkan kakimu sampai sini... sudah lama tidak ada orang yang kemari, aku muak hanya bisa melihat monster-monster ini!/

‘Ka-kau-‘ tiba-tiba Spade merasa dirinya terlepas dari tubuhnya, dan melihat tubuhnya yang masih memeluk adiknya dan menatap serigala itu ketakutan. Pemuda itu menyadari tubuhnya kembali seperti semula, sesosok pria dewasa berumur 27 tahun, tetapi tembus pandang. Tanpa bertanya-tanya dia melihat adegan itu, ‘adegan ini... sama persis dengan-‘

“Su-sudah kuduga, kamu bukan serigala biasa.. corak rambutmu.. p-pedang itu.. APA YANG KAMU INGINKAN?!” teriak ketakutan tubuh Spade kecil itu.

/Tenang anak kecil.. aku tidak akan memakanmu, dan juga... kurasa ada yang lebih penting dari ini. Nah, beritau aku, apa yang kau inginkan.. anak manusia?/

Wajah Spade kecil terkejut, dia baru menyadari tubuh adiknya semakin lemah dan dingin,  tatapanmatanya sudah kabur. Pemuda itu menggertak rahangnya dan melihat tatapan serigala itu, “ji-jika kamu bertanya seperti itu... kumohon selamatkan dia!”

/Kau datang pada orang yang tepat, aku bisa membantumu/ jawab serigala itu dengan tenang. Spade merasa terkejut, dia bisa merasakan baru saja serigala itu melirik dan menyadari kehadiranny yang tak terlihat. /Tapi tentu ada bayaran yang setimpal/ lanjutnya.

“Aku tidak peduli siapa kamu sebenarnya ataupun apa yang kamu inginkan, kumohon.. selamatkan dia!!” Spade dan Spade kecil berteriak bersamaan pada serigala itu, “SELAMATKAN ADIKKU!!”


ScytheSpade terbangun dan mendapati dirinya berada di ruangan yang hanya di terangi cahaya bulan melalui jendela tak berkaca. Keringat membasahi tubuhnya, ‘Mimpi.. lagi-lagi mimpi itu...’  Spade memegang keningnya, ‘Jika saat itu aku tidak bertemu serigala itu.. mungkin dia- dan semua ini tidak akan seperti ini...!’. Perlahan pria itu turun dari ranjangnya. Alih-alik memendam penyesalan, matanya tertuju pada sesosok bayangan yang baru saja masuk dari pintu.

Seorang wanita Emil berudung dan bergaun hitam seolah mau pergi ke pemakaman. Wajah wanita itu tertutupi oleh bayangan kerudung dan hanya terlihat rambut ungu menjutai keluar dan bibir yang berlipstik ungu.

“Mimpi buruk lagi, my little Spade~?” ujar wanita itu sambil mendekati Spade.

“Bukan urusanmu” jawabnya sambil mengenakan jaket yang menggantung di atas kursi, “seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu masuk ke kamar orang sesukamu?” walaupun Spade tau wanita itu adalah rekan kerjanya bahkan wakil ketua ring saat ini, pria itu sangat membencinya dan tidak sungkan untuk menaikan suaranya. Mulai dari penampulannya yang serba hitam dan berbau mayat, sampai cara wanita itu berbicara yang seolah merendahkannya. Tidak ada yang memikat untuk mengganggapnya sebagai rekan maupun manusia sekaligus. Bagi Spade, wanita ini adalah pencabut nyawa, yang siap mengambil nyawanya.

“Owh~ jangan seperti itu padaku Spade.. kau akan berterimakasih padaku karena hanya kamu yang kuanggap spesial~” wanita berkurung itu sudah berdiri di belakangnya dan perlahan memeluk pemuda itu dari belakang, “tidak apalah kamu seperti ini, kamu tetaplah ScytheSpade yang kukenal...kamu tahu? ‘Dia’ bilang semua berjalan sesuai rencana, tinggal membangkitkan para Acronia Guardian dan mengembalikan kekuatan’nya’... kita akan menang!”

‘Rencana? Hmph’ pria itu tersenyum kecil agar wanita itu tidak mengetahuinya, “Ya.. semua akan berjalan sesuai rencana, cepat atau lambat”

"Oh iya Scythe... aku ingin bertanya padamu, kamu sudah melakukan semuanya dengan baik untuk sejauh ini... Apa kamu tidak sedikitpun khawatir dengan adikmu?" Spade hanya terdiam, kemudian wanita itu melepas pelukannya dan berjalan mengelilingi Spade. Dia berhenti di depannya dan melihat sorot matanya, "Owh, takdir yang menyakitkan.. dia hanya akan menari dalam genggaman Rune, sama seperti yang lain. Oh iya bagaimana dia sekarang? Kamu tidak bertemunya waktu misi 5 tahun yang lalukan? Uhm.... berarti sudah 14 tahun kalian tidak bertemu.”

Perlahan wanita itu mendekati pria itu lebih dekat, dan mendekatkan wajahnya tepat di sebelah telinga pria itu. Wanita itu perlahan membuka mulutnya dan berbisik, "Kuharap dia tidak melupakanmu, Spade." jari jemari wanita itu mengelus pipinya "Ckckck, kalian akan saling membunuh satu sama lain... kalau tidak salah nama adikmu.... IceBlow, bukan?"

Seketika mendengar namanya Spade mendorong wanita itu dan memojokannya ke tembok sambil mencekik leher wanita itu dengan tangan kanannya erat-erat dan menyipitkan matanya yang berwarna abu-abu. Tatapan penuh amarah dan ancaman. "DIAM! Masalah aku dengan adikku bukan urusanmu, nenek necrophilia!! Bermainlah dengan mayat-mayat kesayanganmu itu! Jangan sesekali mencampuri urusanku!" tapi yang diharapkan Spade tidak terjadi. Wanita itu tidak merintih kesakitan atau memohon tetapi justru tersenyum lebar.

Senyuman itu membuatnya naik pitam, Spade melepaskan tangannya dan berjalan meninggalkan kamarnya, "Ingat baik-baik nenek necrophilia! Jangan berani-beraninya menyebut namanya di depanku! Dan perlu kutambahkan lagi, dia bukan adikku lagi, adikku sudah mati!"

'Akan kuselesaikan semuanya sebelum dia harus turun tangan lebih jauh lagi!' pria itu membanting pintunya dan meninggalkan wanita itu sendirian.

Wanita itu tersenyum lebar, "Hmmm tidak hanya kamu, adikmu... bahkan ayahmu. Kau benar-benar menarik Spade... hahahaha!!" dengan tampang puas wanita itu tertawa sendirian, dan dalam sekejab bayangan wanita itu mengitari tubuhnya seolah seperti ular yang melilit. Beberapa benda di ruangan itu melapuk seketika, seakan dimakan oleh waktu.



« Last Edit: July 09, 2017, 08:44:43 AM by EsTiup »

Offline faikid

  • * Starlite Chronicles
  • Words of Letters
  • *
  • Posts: 2176
  • Cookie: 45
  • Cintailah apa yang menurutmu pantas untuk dicintai
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 9 & 10]
« Reply #27 on: June 13, 2017, 12:54:50 PM »
sudah 1... 2... 3... tahun berlalu, blm update lg nih..
ayo posting lg ice~
C'est de la vie! Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
ACCEL CHANGER, HENSHIN

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 9 & 10]
« Reply #28 on: July 07, 2017, 05:45:14 PM »
Ahh.. aku tersummon lagi berkat teman yang mengingatkan aku tidak tw usernamenya di sini apa dan thx to @atra yang masih setia menunggu update fanfict  :cry: uhuk kukira sudah terbengkalai uhuk, kuharap masih ada yang membaca

Maaf sebelumnya sudah hiatus cukup lama, sudah berapa tahun? Ya.. lama lah sejak ECOid tutup  :sweat:

Ahh maaf saya merubah banyak isi dari chapter sebelumnya karena malu banyak cerita yang sedikit mengganjal dan... memalukan hiks perubahan sebagian isi cerita, kurasa aku lanjutkan dulu dengan chapter 10 yang blum terposting sebelumnya pdhl notifny updateny kmrn chapter 9 & 10



Chapter 10, White Tiger Pawn
-Fareast Mainstreet-
Badai salju masih terus menerpa pepohonan tak berdaun. Vixzard, Hiyuu, dan Fiori bersama beberapa pengelana terjebak pada sebuah penginapan yang cukup besar. Beberapa pelayan penginapan sibuk keluar masuk untuk mengambil persediaan kayu untuk perapian dan sebagian memberikan minuman hangat pada pengunjung.

“Ughh dingin... tidak kusangka kita bakal berjalan dan terjebak badai salju” ujar salah satu orang pengelana.

“Benar.. cuaca seperti sungguh tidak lazim... mengingatkanku pada badai salju yang menerjang Acronia 5 tahun lalu” saut seorang lagi.

“5 tahun yang lalu?! Hiii jangan mengingatkan tentang tahun itu. Mengerikan sungguh mengerikan” celetuk salah satu pengunjung perempuan, “hampir setiap bulan ada musibah tak lazim yang menghancurkan beberapa desa di Acronia. Mulai dari kerajaan yang hilang, desa yang penduduknya terbakar hidup-hidup, bahkan kota yang dalam semalam berubah menjadi kawah besar”

“Sungguh?” balas teman di sebelahnya, “-kukira lebih menakutkan pembantaian penduduk WestFord 3 tahun yang lalu..”

Vixzard hanya bisa menekuk kepalanya di antara lututnya sambil bermantel selimut tebal sambil mendengar perbincangan orang-orang itu. Fiori yang duduk di sebelahnya, hanya bisa menghela nafas dan melihatnya tanpa bersuara, gadis itu teralih dengan pria yang datang mendekati mereka sambil membawa 3 mangkuk soup hangat.

“Kak Hiyuu, dapat kabar tentang Knight Evolution?” Fiori mengadahkan kepalanya.

“Hmmm... tidak.. semenjak badai yang datang tanpa henti, komunikasi dengan Fareast sering terputus, belum lagi ada perbaikan jembatan menuju Momoplains.” Balasnya sambil memberikan mangkuk soup itu, “-Vix... makanlah, tidak balik berdiam diri dengan perut kosong”

Tita-mermaid itu mengangguk dan menerima mangkuk soup tersebut sambil tersenyum kecil. “Trims..”



-Battleship Island-
“Akhirnya kita sampai!!!” Ice berlari mendahului teman-temannya ke arah perdesaan kecil dengan lapangan udara yang terbentang luas. Tempat itu sebagian besar tidak tertutupi salju, melainkan rumput dan dedauanan yang sudah menguning. Hau berlari menyusul Ice. Pemuda Emil itu melihat sekelilingnya. Puluhan Airship terbang dan mendarat secara bergantian. ‘Tempat ini tidak berubah... The land of Auntumn..’

Mereka berempat langsung memasuki desa, orang-orang di sana tampak sibuk. Beberapa mengatur lalu lintas Airship, ada yang berdagang dan sebagian keluar masuk tambang membawa bebatuan yang berwarna warni. Crush yang tidak mau membuang waktu untuk menikmati suasana, langsung bergegas memasuki kerumunan dan mencari informasi, sedangkan Candy bersama MuGyo berjalan menuju sebuah kedai dan memesan makanan untuk sarapan. Ice dan Hau masih dengan kesenangan mereka sendiri.

Setelah beberapa menit, makanan pun telah siap dan di waktu bersamaan mereka semua berkumpul.

“Jadi... ada dimana mereka?” Candy bertanya sambil menyantap makanannya.

“Hmm?” Ice terhenti, dan melihat Candy dengan wajah polos.

“Jangan bilang kamu lupa Ice” saut Hau.

“E-err kamu sendiri bagaimana?” balas Domi-neko itu.

“A-aku-“ jawabnya dengan panik sambil menggaruk kepalanya.

“Baka.. kalian sungguh tidak bisa diharapkan..” ujar Crush dengan dingin sambil menatap mereka dengan tatapan mematikan. Titania itu menghela nafasnya ketika melihat kedua rekannya hanya bisa tersenyum ketakutan, “ kudengar mereka masuk kedalam gua-“
“Apaa!? Jangan bilang beruang ungu itu?!” tanya Hau sambil memukul meja sambil beberapa potongan nasi keluar dari mulutnya.

“Euy.. Hau... tenanglah” ucap Candy dan Ice secara bersamaan.

“Perhatikan baik-baik makananmu guguk” saut Crush dengan nada menghina.

“Ugh maaf” jawabnya sambil membersihkan mulut dan makanan yang keluar.

“Tidak ada pilihan lain kalau seperti itu...” Ice dengan santainya memberi makanan pada MuGyo.

“Menarik, tempat itu beracun...” Candy tidak khawatir dengan aroma racun yang sudah terbayang akan menyapa mereka.

“Bagaimana dengan medalinya?” tanya Hau.

“Tenang, Lisa pasti membawanya, jadi kita bisa langsung ke LighTower setelah menjemput mereka.” Ice tersenyum ke arah mereka, tetapi Crush membalasnya dengan wajah dingin.

“Okaii, habis ini berangkat!!” Candy memecahkan suasana kemudian melanjutkan makannya.

Tanpa menunda banyak waktu, mereka beranjak dan memasuki tambang tua yang tidak jauh dari desa, walaupun banyak orang yang keluar masuk, aroma menyengat sudah tercium dari mulut gua.

-DeadMine Cave-
Rombongan itu berjalan cepat ketika sudah menjauhi lokasi tambang yang ramai, mereka berjalan lebih dalam kedalam gua. Udara di sana semakin pekat, aroma menyengat semakin tak karuan. Sepanjang jalan terdapat tulang belulang dan beberapa mayat yang membusuk berserakan. Puluhan monster menyambut kehadiran mereka dengan perut lapar.

Crush membuka jalan di depan. Dengan cekatan dia mengayunkan pedangnya, tidak satupun monster yang datang berhadil melukai tubuh Titania berambut pirang itu. Bahkan yang lain tidak terlalu panik untuk mengurus monster yang berada di depan mereka. Candy yang sambil menyerang monster dengan Thor Hammer justru terpesona dengan caranya bertarung dan tersenyum, selain sedikitnya Titania yang berujung memilih menjadi pengguna pedang, Crush bisa mengayunkan dua bilah pedang sekaligus tanpa kesulitan. Ayunannya ringan tetapi tepat pada sasaran.

Di sisi lain, Ice terus menyerang monster yang tiba-tiba muncul dari belakang dengan menggunakan pistol kembarnya agar tidak mendekat.

“Kita harus cepat, sebelum racun-racun ini memenuhi paru-paru kita” Hau membuka buku sihirnya sambil membacakan mantra yang hanya bisa di mengerti oleh seorang Shaman. Tiba-tiba muncul gelombang air yang datang entah darimana di depan Crush, dan menghempas semua monster yang ada di depannya.

“Hmph! Sepertinya sudah ada yang minta diberi pelajaran” senyum Titania itu.

“Hah! I wish i can!” sentak Hau.

“Tidak ada waktu untuk itu, ayo!” Candy dan Ice berserta MuGyo lari mendahului mereka.



Sesampai di lantai dasar. Cairan-cairan ungu dengan bau tidak sedap terlihat pada setiap dinding dan lantai. Racun. Dengan segera mereka menggunakan apa saja yang mereka bawa sebagai masker. Walau monster di sana tidak seramai tadi, mereka masih tetap siaga, sampai saat mereka melihat tubuh seorang Dominion perempuan yang bersandar pada dinding gua. Rambutnya berwarna perak, pendek tapi poninya panjang menutupi mata.

Dengan lekas mereka menghampirinya, “Nino!!”

Nino menyadari keberadaan mereka, “Ka-kalian? Apa yang- lakukan di sini?”
“Itu pertanyaan belakangan” saut Ice sambil memberikannya air bersih, “Dimana Lisa?”

“Li-Lisa? Dia ada di- ahh!!! Ice!! Cepat selamatkan Lisa, dia dalam bahaya!!”




Berhubung ada waktu kosong... ku selesaikan ini FF
Maaf dan terimakasih untuk semua yang mensupport huhu  :sing:

Offline EsTiup

  • Wishful Citizen
  • *
  • Posts: 35
  • Cookie: 45
  • Together like a goup of wolves
Re: [ECO Fanfict] Artificial War [Ch. 11]
« Reply #29 on: July 10, 2017, 04:24:59 PM »


Chapter 11, Artificial Purple Bear
-DeadMine Cave-
Sesampainya di sebuah  gua yang besar bagaikan sebuah aula, seorang titania berambut biru muda panjang dan sebuah pita bear dikepalanya sedang melawan sebuah beruang ungu besar dan tinggi. Tubuh perempuan titania itu sudah penuh luka, untuk berdiri saja sudah tidak kuat.

“Ughhh!! Mengalahlah beruang besar biarkan aku sekali ini saja mengalahkanmu!” Perempuan itu membuka buku yang dibawanya. Sambil membacakan mantra , buku itu bersinar terang dan sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan pusaran api besar muncul tepat pada beruang ungu itu. Fiery Tempest.

“ROAAARRR!!!” beruang besar itu mendorong titania itu dengan hempasan tangannya, Hempasan itu merobek pusaran api hingga menghilang.

“Lisaaa!!” Ice cepat berlari dan menangkapnya, dan membuat tubuhnya sebagai bantalan.

“E-eehh? Ice??” Perempuan itu melihatnya dengan kebingungngan, “A-apa yang kau lakukan di sini?”.

“A-ah itu..” sebelum sempat menjelaskan, dua bayangan dengan cepat bergerak dari belakang mereka dan menyerang beruang besar itu, Crush dan Nino. Nino memainkan cakar berhiaskan batu Ruby dengan lincah, setiap gerakannya  seolah seperti tarian mengenai tubuh beruang itu. Sedangkan Crush melompat di udara dan mengayunkan kedua pedangnya tepat pada perutnya, kemudian disusul Candy yang tiba-tiba sudah berada di depan monster itu. Dengan sekuat tenaga gadis Emil itu mengepalkan tangannya dan memukul beruang itu hingga jatuh. Hau yang menyusul di belakang sempat terkejut melihat ketangguhan gadis itu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tubuhnya terpukul oleh Candy dengan kekuatan seperti itu.

“Lisa! Syukurlah kamu tidak apa-apa” Nino memeluk erat rekannya yang baru saja berdiri.

“Hahahaha tak kusangka kamu membawa bantuan secepat ini” Lisa menyambut kedatangan mereka.

“Jadi apakah kalian melihat Ouroborus di sini?” Candy melirik kedua anggota utama Houki Boshi tersebut.

“Ouro-apa?” balas keduanya dengan wajah bingung.

Ice menjelaskan semuanya pada Lisa secara singkat.

“Ouroborus? Aku tidak pernah mendengar nama itu..” jawab Nino.

“Apa mereka ada kaitannya dengan hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini?” Lisa bertanya dan melihat wajah orang-orang itu terkejut. Mereka baru saja menyadarinya, ‘yang belakangan ini terjdi? Apa maksudnya..monster’.

“Wah kasian sekali beruang ini... diserang begitu banyak orang” tiba-tiba suara feminim yang tidak mereka kenali terdengar memenuhi ruangan itu. Mereka melihat ke arah sumber suara misterius. Sesosok orang mengenakan jubah dan kerudung hitam berdiri di dekat tubuh Most Powerful Evil.

“S-siapa kamu?!” Ice terkejut saat orang itu memutar badannya, di kerudung orang itu terlihat lambang yang tidak asing, lambang Ouroborus, “Ka-kamu!”.

“Khu khu... rupanya kamu.. putra Lancelot bersama teman-temannya”.

“Lance-“ tiba-tiba wajah Ice memucat, semua rekannya mengetahui itu. Lutut Domineko itu tertekuk dan terjatuh, “-ba-bagaimana kamu tau nama ayahku?”.

Crush tidak bisa tinggal diam melihatnya seperti itu, “Apa yang kamu inginkan?”.

“Nothing” jawab sosok misterius itu tanpa membalas pertanyaan Ice, “aku hanya... ingin memberi salam kepada kalian. Lebih baik kalian pulang ke Acronia dan mengunci di kamar sambil mengamati kehancuran dunia ini, kalian tidak akan bisa menghentikan kami!” sosok itu tiba-tiba menuangkan sebuah botol berisi cairan berwarna merah ke tubuh beruang itu.
‘Bo-botol itu... aku pernah melihatnya di suatu tempat..’ pikir Ice dan Crush secara bersamaan.

Tiba-tiba guncangan hebat muncul dan menjatuhkan beberapa penyangga ruangan.

“Huaaa! Apa itu tadi?” teriak Hau sambil menyeimbangkan tubuhnya dan berpegangngan pada salah satu penyangga yang masih kokoh.

“Candy!!” Crush menompang badan Candy dan menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak jatuh. Dalam sekejab ruangan menjadi hening.

“A-apa yang-“ Candy melihat pada sosok misterius itu yang masih berdiri normal tanpa ada rasa takut.

“Aku hanya membangunkan temanku... kuharap dia tidak brutal hihi” tawanya dengan merentangkan kedua tangannya. Perlahan tubuh orang misterius itu masuk kedalam tanah seolah terhisap oleh bayangannya sendiri, “Show Time~”.

“Tunggu!! Beritau aku, apa yang kamu ketahui tentang ayahku!” Ice berteriak ke arahnya yang sudah menghilang meninggalkan mereka ke dalam tanah.

“Firasatku tidak enak” tubuh Nino serasa mual, pandangannya terpaku pada asap-asap akibat runtuhan batu-batu itu. Sesosok bayangan besar berdiri jelas di sana.  Most powerful evil itu berdiri lagi, tapi ukurannya tampak lebih besar dari sebelumnya dan matanya menjadi dua pasang mata amber yang menyala-nyala. Tidak hanya itu, bulu keunguannya berubah menjadi hitam dan kasar seperti jarum, tanduk-tanduk berwarna hitam keluar memenuhi tubuh si beruang.

“Mustahil, bukankah kita sudah membunuhnya?” Lisa terkejut dan teriak mati-matian.

“Artificial...” Nino menelan air liurnya, “Ja-jadi.. selama ini para Artificial itu... bukan fenomena alam...?”.

“Hmph, menarik..” tanpa banyak bicara Crush melepaskan Candy dan kembali menghunuskan pedang miliknya ke arah Artificial. Dengan segera mereka membuat formasi. Ice memanipulasi elemen monster itu dengan panah elemental miliknya, Hau mengubah elemen senjata milik Nino, Lisa membacakan mantra Lava Lake sedangkan Candy memberi Flame Heart pada kedua Ruby Claw milik Nino.

“Nino sekarang!!” seru IceBlow. Sesaat Lava Lake milik Lisa mereda, Nino langsung berlari kedepan sambil mempercepat langkahnya. Hujan serangan dari beruang itu dengat gesit dia hindari.

“Hah!! Rasakan serangan ini, beruang besar! Unforeseen Onslaught!!” dengan sekuat tenaga Asassin itu melompat ke udara dan menyerang ke arah tempat vital beruang itu, tetapi tangan monster itu menghempaskan Nino terlebih dahulu, “Wa-waahh!!”, dia melakukan salto di udara dan berusaha terjatuh dengan kedua kakinya terlebih dahulu. Tapi bukanlah lantai gua yang diinjaknya, melainkan sebuah pedang.

Semua orang di ruangan terkejut melihat orang yang memegang pedang itu, Crush. Dia membantu Nino dengan membuat pedangnya menjadi tumpuan. Nino terheran-heran, tapi ekspresi titania itu menjadi pahit dan keningnya berkerut, “bodoh apa yang kau lakukan, jangan lama-lama mengotori pedangku dengan sepatumu!”.

Titania itu melontarkannya dengan mengayunkan pedang miliknya kearah tepat kembali pada beruang ungu itu.

“Hiaaaaatttttt!!!!”  Nino mengangkat cakarnya ke atas dan mengayunkannya ke arah monster itu.

SLASSHHH!!!

Perempuan dominion itu berhasil memotong kepala beruang ungu itu. Darah monster itu menyembur dan kepalanya menggelinding di tanah. Perlahan monter itu melebur menjadi butiran abu.

“Yeaahhh!!! Monster itu terkalahkan!” Hau bersorak.

“Jadi.. monster-monster itu...” Candy mengusap keringatnya.

“Hmph, mereka adalah MasterMindnya... semakin banyak saja daftar kejahatan mereka..” ucap Crush dengan dingin sambil menyarungkan kembali pedangnya.

“A-ayah...” Ice masih berdiri lemas sambil menundukan kepalanya.

“Ayo Ice, kita bisa mencari  tau nanti, paling tidak...” Hau menepuk pundak rekannya, “tidak ada orang awam yang terluka...”.

“Masih ada yang harus kita lakukan, kita masih harus ke tempat peristirahatan harimau putih itu” saut Candy sambil mengajak rekan-rekannya untuk lekas keluar dari tempat itu.

-Battleship Island-
Tidak disangka kejadian tadi berakibat pada perdesaan itu. Beberapa korban luka yang berada di dalam pertambangan segera di evakuasi dan di obati. Rombongan tadi langsung menyelinap dari kerumunan dan bergegas membeli tiket Airship kecil menuju kota Morg.

Mereka hanya memerlukan beberapa menit untuk sampai di tujuan, namun perjalanan itu terasa lama. Tidak satupun dari mereka berbicara, mereka hanya melihat keluar jendela, melihat awan kelabu yang terus menutupi wilayah itu.