Author Topic: [ECO FF] Hapiba, Alceus  (Read 697 times)

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1316
  • Cookie: 56
[ECO FF] Hapiba, Alceus
« on: December 18, 2014, 02:25:52 PM »
TS Note:
Er. Sebuah fanfic dari fanfic :laugh: Namely, the ECO Saga.
Words of caution: bikinnya cuma tiga jam. Maka, abal dan gaje sudah pasti dijamin. Dan aku ga yakin ini bener secara canon(?) ECO Saga, but we all know that Alceus is smooth talker. So, who knows?
Yang penting, dirgahayuuuu. hepi bertdayyyy. otanjoubiiiii. merry christmas. moga makin keren, programming jago, proyek OZMAAAAAAAAAAAAAA cepet kelar dan semoga suatu saat nanti tobat dari harem-perhareman... btw, mana world's end? /PLAK
Okay, hope you enjoy this.



“Apa? Anda ingin membatalkan Pakta North Plateau, Yang Mulia Ratu?”

“Bukan itu tujuanku datang ke sini...”

Hamparan wilayah Fareast menjadi begitu putih, begitu lembut dengan kedatangan lapisan salju yang jatuh pada minggu pertama musim dingin. Para petani mengusahakan berekor-ekor sapi untuk membersihkan jalanan dan ladang yang akan ditanami bibit-bibit kentang. Anak-anak terbalut dalam kardigan tebal dan sweater rajutan, berlomba-lomba membangun manusia salju.

Sayangnya, senyum dan tawa itu tak sebebas yang diperlihatkan. Ada kejanggalan yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang waspada—seakan wajah-wajah mereka tertutupi oleh mendung suram. Jauh dari hiruk pikuk pagi itu, membayangi desa kecil yang mengantuk menyambut matahari, Phrite menemukan dirinya terjebak dalam kungkungan dinding batu Kastil Acronia—itu sebutannya, sekarang. Phrite adalah wanita yang anggun; ia telah melalui banyak hal, ia tak ciut bila menghadapi musuh-musuh yang lima kali lebih besar darinya. Ia saksi hidup dari peristiwa ketika dunia hampir hancur dan memiliki andil cukup besar dalam menghindarkannya dari nasib terburuk. Ia tahu, bahwa hanya ada sedikit hal yang bisa membuatnya terintimidasi.

Dan biarlah Emilian Dragon menertawainya, namun pria di hadapannya ini membuat Phrite... lebih waspada daripada biasanya.

“Suatu kehormatan dapat menerima Yang Mulia Ratu Utara di kediaman hamba yang sederhana ini.” Alceus tersenyum tipis, jelas sekali terhibur dengan reaksi Phrite yang memicing jijik mendengar kerendah-hatiannya yang palsu. Kastil Acronia merupakan sebuah kastil yang dapat menyaingi gelarnya—dindingnya didekorasi dengan emas puluhan karat, gading-gading langka, kain-kain ungu beraroma harum, kayu Baobab tua yang diukir dengan aksen Mai-mai. Phrite curiga bahwa gudang harta Alceus sudah tak mampu menyimpan barang lagi hingga ia membiarkan saja perhiasan-perhiasan tersebut bergantungan di dinding kastil.

Dengan gaya seorang aristokrat penuh kuasa, pria berambut emas itu menawarkan segelas anggur, yang ditolak Phrite dengan pendek. Alceus tak terlihat kecewa. Ia malah lanjut bertanya, “Apakah Anda sehat, Ratu Beldegard Kedua?”

Phrite menukas, “Tinggalkan basa-basimu, Alceus. Kau tahu aku benci dipanggil seperti itu. Kecuali, tentu saja, kalau kau mau kupanggil Tuan Raja Kegelapan Tanpa Akhir—”

“—Tuan Raja saja, terima kasih, Yang Mulia,” sahutnya.

Wanita itu menatapnya masam, lama, namun kemudian malah mendengus tertawa. “Kau tetap menyebalkan seperti biasa.”

Alceus tersenyum, dan melipat kakinya dengan santai. “Kuterima itu sebagai pujian. Bagaimana kabar putrimu?” tanyanya kemudian. Tangannya menjangkau ujung-ujung kursi empuknya, membuatnya terlihat lebih mengintimidasi daripada sebelumnya.

“Magdaleine...” Wajah Phrite menjadi cerah ketika mengingat putri satu-satunya.  “Dia mengirimkan salamnya padamu. Dan...” Mata hijaunya kembali memicing, seolah tiba-tiba teringat akan sesuatu yang sangat-amat-tidak-menyenangkan.

“Dan?” pancingnya halus.

“Yah, hari ini hari ulang tahunmu. Selamat,” jawab Phrite.

“Hanya itu saja? Ah, sebagai Tuan Raja Kegelapan, aku sungguh kecewa,” kata Alceus.

“Ya memang, hanya itu saja sih niatku ke sini. Untuk apa lagi? Kau sudah memiliki segalanya, bukan? Harta, tahta, wanita,” ujar Phrite riang, meski ia mengawasi wajah Alceus yang tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Harta, tahta, wanita. Ya, segalanya.” Alceus, entah mengapa, malah memfokuskan pandangannya ke arah jendela. Phrite menangkap gerak-geriknya yang aneh, namun tak berkomentar apapun. Ia merencanakan sesuatu.

“Oh, jangan begitu sedih. Aku memiliki hadiah untukmu.”

Phrite pura-pura tidak melihat kekagetan yang hanya sekilas terbersit di wajah Alceus. “Hadiah apa? Bukankah kau sendiri bilang, aku sudah memiliki segalanya?”
 
“Tapi ini spesial, Al. Dariku pribadi. Katakanlah, sebuah hadiah ulang tahun untuk... teman lama.”

Wanita itu kemudian mengeluarkan sekotak perhiasan hitam, kecil, sederhana tanpa ornamen apapun. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah...

...

... batu permata biasa.

“Kristal?” Alceus bertanya untuk meyakinkan, separuh-kecewa. Dasar maniak harta, batin Phrite. Rupanya jiwa Treasure Hunternya belum mati.

“Aku mendapatkannya dengan susah payah, kau tahu. Aku harus memasuki banyak dungeon, melawan banyak monster, hanya untuk mencapai Cave of Wandering Souls—” Phrite mendadak tersadar bahwa ia berucap terlalu banyak, kemudian berdeham, “—yah. Intinya, kristal ini berisi pikiran dan pesan dari Tita.”

Alceus mengerutkan kening. “Tita?”

“Ya, Tita.”

Pria itu beringsut maju dan menjangkau permata tersebut dari tempatnya. Ia menimbangnya di tangan, terdiam cukup lama, sebelum mendongak dengan alis yang makin menyatu. Kebingungan. “Aku menghargai usahamu, Phrite, Yang Mulia Ratu, tapi,” ia mengangkat kristal itu hingga segaris dengan matanya, “siapa Tita?”

Phrite hampir saja melongo bila ia tidak ingat dirinya adalah ratu. “Kau tak tahu?” tanyanya tak percaya. “Aku tahu kau kehilangan ingatan. Tapi tentang Tita, seharusnya kau ingat.”

“Tita, Tita. Aaah...” Alceus lamat-lamat mendesah, mengangguk-angguk. “... siapa?”

Anehnya, Phrite sama sekali tidak terlihat jengkel, tidak. Penguasa North itu malah terlihat kaget, dan—marah. Alisnya menyatu dan nadanya meninggi. “Jangan bercanda, Alceus. Insiden itu, dengan Sacchan, apa kau lupa? Lalu jauh setelah itu, kau dan Emil menyelamatkan Tita, ingat? Kau harus ingat. Kau menyelamatkannya, meski kau tahu kau akan kehilangan jiwamu!! Setelah itu...”

Alceus mengangkat tangan, dan Phrite mengatupkan mulutnya dalam diam. Matanya membara; ada berbagai macam perasaan bercampur aduk di dalam kedua iris hijau keruh itu. Untuk sesaat, keheningan di antara mereka hanya diisi oleh desir angin musim dingin yang menyelinap melalui celah jendela kastil.

Namun selang beberapa detik, Alceus meledak tertawa. “Phrite, kau pandai membual?” Alceus bertanya di sela-sela tawanya.  “Aku, bersama Emil? Aku memang cinta para gadis, tapi sampai membuang jiwaku dengan sia-sia... apalagi untuk gadis yang tak kukenal...”

“Alceus...” bisiknya. Pria itu tertegun ketika mendapati bahwa air muka Phrite berubah sedih. “Kau benar-benar... tak ingat?”

“Sudah kubilang, ceritamu tak masuk akal. Tapi cukup menghibur. Mengapa tidak kau ceritakan saja padaku?”

Phrite menggeleng. “Tidak, tidak. Kukira selama ini... ah, pantas saja...” Ia mengedarkan pandang berkeliling, menyapukan tatap matanya dengan kesedihan yang kentara. Kastil Acronia, pakaian mahal dari sutra dan kain berkelas tinggi, anggur terbaik dari seluruh Fareast. Pantas saja. Pantas saja...

Tak terbiasa dengan kesunyian dari Phrite, Alceus kemudian melambai-lambaikan tangannya untuk menarik perhatian sang Ratu Utara. “Phrite? Aku menghargai usahamu, sungguh, tapi aku tak tahu...”

“Simpan saja, kalau begitu,” sergah Phrite. “Dengarkan suaranya. Mungkin kau akan ingat, mungkin kau tak akan pernah ingat. Padahal, oh, andai saja kau ingat, Alceus...” Phrite ingin mengutarakan sesuatu, namun ia tak mampu menyatukan kata-kata lagi. “Aku undur diri dahulu. Terima kasih atas keramah-tamahanmu, Alceus.”

“Terima kasih kembali, Ratu Beldegard Kedu—”

“Hush!” Phrite mengangkat jarinya, menyuruhnya diam. Ia bangkit berdiri dengan anggun. Alceus pun ikut berdiri untuk mengantarnya ke pintu gerbang. “Sekali lagi kau memanggil gelar itu, kau akan kubuat botak. Magdaleine akan senang.”

“Oh, aku ingin melihatmu mencoba mengalahkanku sampai bisa membuatku botak,” jawab Alceus santai. Ia membuka gerbang, mempersilakan teman lamanya keluar.

Teman? Apakah mereka sungguh teman?

 “Oh, ya, tak akan lama lagi, kurasa,” gumam Phrite. Bila Alceus mendengar gumamannya, ia tak menunjukkannya. “Sampai jumpa, Alceus.”

“Sampai jumpa.”

Phrite menghilang di balik cahaya Kunci yang menyilaukan mata. Untuk sesaat, ia terdiam. Kemudian Alceus berucap kepada ketiadaan, “Choco, kau di sana?”

“Ya, Alceus?”

“Katakan pada Bia, Princess, dan Hanyuu. Jangan memasuki kamarku untuk satu hari ini.”

“Ada apa?” tanya Choco. Rupanya ia sedang bersembunyi di balik mantra Invisibility, dan cukup malas untuk menunjukkan keberadaannya pada Alceus.

“Ada urusan penting. Awasi Bia, makin lama dia makin ingin tahu...”

“Baiklah. Hanya hari ini?”

“Hanya hari ini.”

Tahu bahwa Choco telah meninggalkannya, Alceus bergumam dengan setitik nada melankolis yang begitu jarang terdengar. “Ada sebuah urusan dengan teman lama...” bisiknya pelan.

Kristal itu masih tersembunyi dalam genggaman tangannya.

***





« Last Edit: December 18, 2014, 02:31:06 PM by Mizura »
·············································································································································
▉ Don't grow up too fast & don't embrace the past; life's too good to last & I'm too young to care
·············································································································································