Author Topic: Rebirth Of The Legendary [END]  (Read 19795 times)

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #20 on: February 04, 2008, 07:22:15 PM »
hiks jgn pd junk dong T.T

nanti klo di lock gimana T.T

Rebirth 20: Future….?

“siapa itu??” Tanya dina.

“siapa aku tidaklah penting…” jawab suara itu, “lihatlah, inilah keadaan dunia di masa depan.

Sekeliling dina tiba2 menjadi terang, memperlihatkan keadaan kota yang hancur berantakan, sama sekali tidak ada tanaman, dan angin terus2an bertiup membawa pasir.

“mustahil!!!! Ini… masa depan?” Tanya dina terkejut, tidak percaya apa yang dilihatnya.

“inilah masa depan… setelah Sang Akhir datang…”

“tidak ada apa2? Manusia, bahkan monster2 sekalipun?”

“tidak ada… semua habis tidak bersisa”

“tapi… bukankah… Sang Akhir memihak balie…?” Tanya dina.

“Sang Akhir adalah Sang Akhir, dia tidak memihak balie, atau elim…”

“apakah masa depan ini… bisa dirubah?” Tanya dina, dengan suara penuh harap.

“untuk itulah kalian ada, pewaris warrior… kalian ada untuk menentukan takdir, apakah shiltz akan hancur, atau tidak…” jawab suara itu.

“bagaimana cara kami… para pewaris… bisa menentukan kelangsungan shiltz?”

“lakukanlah apa yang seharusnya dilakukan, dan jangan pernah ragu…”

“yang harus kami lakukan itu… membunuh monster2 itu?”

“aku tidak bisa memberitahukannya… kalianlah yang harus menemukannya sendiri…”

“katakan… bila kami melakukan yang seharusnya dilakukan, apakah shiltz tidak akan hancur?”

“aku tidak bisa menjawab ya…”

“kalau begitu, apa itu berarti ini tidak bisa diubah????”

“kalian tidak akan menemukan jawaban dalam keraguan…” jawab suara itu, “sudah waktunya kau kembali… ingat2lah ini, dan camkan dalam hatimu…”

“ah… tunggu!!!!” teriak dina.

“dina!!! dina!!!! kau baik2 saja?” Tanya sebuah suara, ketika dina membuka matanya.

“mama?”

“kau mengigau daritadi… mimpi buruk ya?” Tanya mamanya, cemas.

“tidak…. Hanya mimpi biasa….” Jawab dina, sambil berusaha tidak bertemu mata dengan mamanya.

“mimpi diputusin sama nova?” goda mamanya.

“mama!!!! Aku bukan pacarnya!!!!” jawab dina dengan muka yang memerah.

“mukamu merah loh….” Goda mamanya lagi.

“mama!!!!!”

“iya deh…. Ngomong2, sudah pagi loh, kau tidak bersiap2 ke sekolah?”

“ia….” Jawab dina, sambil melangkah menuju kamar mandi.

“kalian ada untuk menentukan takdir…” kata2 itu terus terngiang2 di dalam pikiran dina.

“penentu takdir….” Gumam dina, “apa kami benar2 cocok untuk menentukan takdir shiltz ini?”

Setelah selesai bersiap2 ke sekolah

“ma!!! Aku berangkat dulu yaa!!!!”

“ya!!! Hati2 dijalan!!!”

“hmm…. Jam 06.30… pasti nopa blon bangun….” Gumam dina di depan pintu rumah nova.

“nopa… bangun dong….” Teriaknya, sambil mengetuk pintu rumah nova.

Ketika dirasanya tidak akan dijawab, dina kemudian mengetuk lebih keras lagi.

“nopaaa!!!!!!!!” teriaknya, “nanti terlambat!!!!!!”

“hmm…. Pasti deh…. Begadang lg dia….” Gumamnya, sambil bersiap2 mendobrak pintu rumah nova.

Ketika sudah di dalam, dia langsung menuju kamar nova, tapi dia tidak menemukan nova di kasurnya.

“nopa?” panggilnya, sambil mencari di dalam kamar.

Ketika itu, tiba2 pintu di belakang dina terbuka, dan seseorang muncul dari balik pintu itu.

“dor!!!!!”

“uwaaa!!!!!” teriak dina, secara spontan langsung menendang orang itu.

“awas!!!! Ini aku, dina!!!!” teriak orang itu panik, sambil menghindari tendangan dina.

“nopa!!!!! Kau ini…. Kalau mau iseng aja, bisa deh bangun pagi!!!!!” gerutu dina.

“maaf2… habis… akhir2 ini kulihat kau sering murung….” Kata nova.

“nopa… khawatir sama aku?” Tanya dina.

“jelas…. Karena setahuku, anak kecil tidak boleh dibiarkan stress… bisa mengganggu pertumbuhannya….” Jawab nova.

“huhhh…. Dasar nopa!!!!” gerutu dina dengan wajah masam ketika mendengar jawaban nova, “tapi… makasih yah…” lanjutnya, dengan suara kecil.

“sudah…. Tunggu biar aku bersiap2 dulu….”

“ia!!!”

“ah ia, sambil menunggu kau bisa memperbaiki pintuku!!!!” teriak nova dari kamar mandi.

“enak aja!!!! Itu kan salah nopa sendiri!!!!”

Lalu, dalam perjalanan ke sekolah

“nopa… kalau seandainya…. Kamu tahu masa depan itu seperti apa…. Bagaimana?”

“hah? Maksudmu?”

“yaa… misalnya nopa tau kalau di masa depan itu… shiltz akan hancur…. Gimana?”

“aku…. Akan berusaha… untuk mencegah itu… kau sendiri?”

“hmm… sama… hehehe….” Jawab dina.

Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari sana

“kenapa para balie belum juga bangkit???? Bukankah sekarang ini sudah waktunya????” Tanya sebuah bayangan dengan suara keras, ke sebuah buku di hadapannya.

“belum lengkap…” jawab buku itu, sambil tiba2 buku itu melayang, dan membuka, sampai berhenti di salah satu halaman

“begitu ya….” Gumam bayangan itu, ketika dia membaca tulisan di buku itu.

To be continued…  

T.T

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #21 on: February 04, 2008, 09:43:16 PM »
buku komik :)

Rebirth 21: Awakening of Raziel, Balie of Artful

Di sebuah tempat, terlihat sesosok bayangan yang sedang memperhatikan sejumlah batu2an yang beraneka warna, sambil bergumam

“hmm… persiapan sudah selesai… tinggal mencari tanah untuk benih2 ini…”

Sementara, di atap sekolah

“nopa…. Tumben hari ini mau ikut ke atap… biasanya nongkrong di perpus terus….”

“lg iseng aja… pengen tau apa yang menarik disini….” Jawab nova, sambil membaca buku.

“huhh…. Kalau pengen tau, ngapain bawa buku?” Tanya dina, sedikit menggerutu.

“jaga2 saja kalau bosen…. Emang napa?”

“kalau sambil baca, mana bisa tau dong???”

“ia deh…. Aku ga baca….” Jawab nova, sambil menutup bukunya.

“nah gitu dong…. Liat tuh… enak kan kena sinar matahari kayak gini? Bikin seger, daripada belajar terus, sumpek” kata dina.

“emang…. Enak buat anak kecil…. Cepet tumbuh ya….” Sahut nova, sambil menepuk2 kepala dina, yang langsung disambut dengan hajaran telak di perut nova.

“aku bukan anak kecill!!!!!!” teriak dina.

“aduh duh!!! Iya deh iya!!! Masa gitu aja marah??” jawab nova, sambil memegangi perutnya.

“iya juga ya? Kenapa aku bisa ampe marah?” jawab dina, bingung.

“otakmu ada yg copot ya?” Tanya nova, bercanda.

“iya kali ya….” Jawab dina tidak sadar,” eh?!??! Emangnya otakku mesin kayak punya nopa???” lanjutnya.

“loh? Kok jadi otakku….” Tanya nova.

“abis, otak nopa kan…. Emang kyk mesin…. Pinter banget sih…” jawab dina.

“ga kok…. Dia…. Lebih pintar lagi dariku…” jawab nova, sambil memandang ke langit.

“dia? Dia sapa?” Tanya dina.

“bukan siapa2….” Jawabnya, “eh… aku… mau ke bawah dulu….” Lanjutnya.

“yah… kenapa?” Tanya dina.

“ada urusan…..” jawabnya, sambil melangkah turun.

“cepetan balik yaaa!!!! Aku tungguin loh!!!!!”

Baru saja nova pergi, baldea seperti biasa, tiba2 muncul.

“uhuk… uhuk…. Mesranya…. Kedua pasangan ini….” Kata baldea.

“baldea!!!! Kok lama2 kau jadi seperti mamaku sih??” jawab dina kesal.

“aduh dina…. kan cuma bercanda…. Eh, tadi aku kesini mau ngapain ya?” jawab baldea.

“mana aku tahu!!!!!”

“oh iya!!!! Dinaa!!!! Di dekat rumahmu!!!! Sedang ada kekacauan!!!!” kata baldea yang tiba2 berubah panik.

“hah? Kekacauan apa?” Tanya dina bingung.

“itu….. ada orang yang sepertinya punya kekuatan balie….. sedang mengamuk disana…”

“balie? Maksudmu yang seperti wanita waktu itu?” Tanya dina, terkejut.

“lebih kuat…..” jawab baldea, singkat.

Dina terdiam mendengar jawaban baldea, dia teringat bagaimana dia hampir mati saat melawan Galadriel, waktu itu hokma menolongnya, tapi bagaimana dengan saat ini? Dia mungkin tidak seberuntung waktu itu.

“tidak ada jawaban dalam keraguan…” tiba2 kata2 yang diucapkan orang di mimpinya terngiang di telinganya lagi, dan memberanikan dirinya.

“meskipun akan mati… aku akan tetap pergi….” Gumam dina dalam hati, “baldea!!!! Antar aku kesana!!!!”

“siap dina!!!!” jawab baldea dengan sikap seperti anak buah ke pemimpinnya.

Sesampainya di tempat yang dibicarakan baldea, disana ada seseorang yang berbadan sangat kurus, mirip seperti tiang listrik, dan di belakangnya ada sesosok bayangan

“menyenangkan sekali… Bisa menghancurkan manusia lagi…”

“tentu saja tuan…”

“kalau begitu, kenapa kau tidak cepat2 membangkitkanku???” Tanya orang itu dengan suara keras

“ma – maaf tuan!!! Sulit sekali mencari manusia2 yang bisa menjadi benih2 untuk tuan2 semua!!! Sampai sekarang pun, saya baru bisa menemukan satu, karena itu saya langsung memberikan benih tuan begitu saya menemukannya, karena tuan lah yang paling hebat…” jawab bayangan itu, berusaha mengambil hati orang itu.

“hentikan!!!” teriak dina dari jauh, sambil mengeluarkan pedangnya, yang berwarna putih dengan pinggiran merah, dan ujung pedang yang seperti terbelah dua. Bajunya juga berubah menjadi warna abu2, dengan symbol hitam di pundak kirinya.

“siapa dia?” Tanya orang itu.

“dialah… pewaris warrior yang saya bilang, tuan…”

“menarik… akan kulihat seberapa kuat dia!!!!” teriak orang itu, sambil maju menghampiri dina.

“kenapa kau menghancurkan tempat ini???” Tanya dina.

“hah? Apakah salah, bila aku membalas apa yang dilakukan oleh kalian para manusia, terlebih dulu??” orang itu bertanya balik, membuat dina terkejut.

“apa maksudmu?”

“dengarkanlah ini… ciptaan kami, para bale, mereka hidup bersama2 dengan alam, tapi kalian, para manusia? Kalian malah menghancurkan alam untuk bisa hidup!!!! Apakah membalas dendam itu salah??”

“tapi… tetap saja, balas dendam bukan cara menyelesaikan masalah!!!!!” jawab dina.

“lalu, yang mau kau lakukan sekarang ini, apakah bukan untuk membalas dendam karena aku menghancurkan tempat ini?” Tanya orang itu.

“tidak!!! Aku datang, untuk melindungi tempat ini!!!!!” jawab dina.

Orang itu dengan gerakan yang tidak terlihat mata, tiba2 sudah berada di samping dina, dan berbisik, “benarkah itu? Lihatlat di dasar hatimu… lihatlah alasan yang sesungguhnya… bukankah untuk membalas dendam? Bukankah balas dendam adalah hal yang wajar? Kau disakiti, lalu kau pun menyakiti orang, bukankah wajar? Bukankah itu adalah cara kalian, para manusia, bertahan hidup?”
“tapi… pasti masih ada cara lain selain balas dendam seperti ini!!!! Kalau begini, kita para manusia dan bale hanya akan saling menghancurkan!!!!” jawab dina.

“haaaa? Kalau bukan untuk bertarung, untuk apa kau mendapatkan kekuatan warrior duran?”

“untuk melindungi manusia!!!!!”

“dengan cara membunuh bale yang menyerang manusia? Bukankah itu namanya membalaskan dendam orang yang diserang bale?”

“aku….”

“dina!!!! jangan terpengaruh olehnya!!!! Aku sudah tahu, dia adalah raziel, balie yang paling licik!!!!!” teriak baldea.

“hmm? Rupanya ada baldea? Sejak kapan kau bisa mengenaliku?”

“sejak awal…. Itu ciri khasmu bukan… selalu mengajak lawan bicara, dan membuat orang bingung agar dia tidak bisa bertarung dengan baik….”

“aku terkesan dengan ingatanmu…” kata orang itu, sambil bertepuk tangan, “tapi, apakah tidak terlambat? Kau tidak lihat betapa kata2ku sudah mempengaruhinya?”

Baru saja raziel berkata seperti itu, dina langsung mengayunkan pedangnya ke arah raziel, membuat dia terkejut, dan tidak sempat menghindar, sehingga tangannya terpotong sedikit.

“lakukanlah yang seharusnya dilakukan…. Seseorang mengatakan itu padaku…” kata dina, sambil menatap tajam ke arah raziel, yang sedang menyembuhkan tangannya yang terpotong.

“kau yakin ini hal yang seharusnya dilakukan?” Tanya orang itu.

“tidak ada jawaban dalam keraguan…. Ya atau tidak, hanya itu pilihannya!!!!!” teriak dina, sambil menyerang raziel.

“hmm… baru kali ini, kutemui lagi orang yang tidak terpengaruh perkataanku… aku salut padamu…” kata raziel, sambil menghindari semua serangan dina dengan mudah, “tapi…” lanjutnya sambil menangkap pedang dina, “kemampuanmu masih jauh dari orang itu!!!!!!”

Sambil berkata begitu, raziel mengangkat dina beserta pedangnya, dan melemparnya jauh sekali.

“waaa!!!!!” teriaknya, ketika dia jatuh dan menimpa timbunan kardus disana, “uhh… sudah kuduga… aku tidak akan menang… tapi… aku tidak akan menyerah!!!!!”

Gumamnya dalam hati, sambil menyerang maju lg ke arah raziel

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #22 on: February 15, 2008, 11:09:53 PM »
21+2-1=22

Rebirth 22: Twin Blades of Thunder

“menarik sekali, ayo, buatlah aku lebih senang lagi!!!!!” teriak raziel.

Sambil berlari, dina mengkonsentrasikan pikirannya pada pedangnya seperti waktu itu, dan mengeluarkan sebuah gelombang tebasan berwarna merah berbentuk bulan sabit ke arah raziel. Raziel yang tidak siap, langsung menerima telak serangan tersebut.

“rasakan itu!!!!!” teriak dina, sambil menghentikan larinya.

“tidak terasa apa2…” kata raziel, sambil melangkah perlahan ke arah dina, “giliranku…” lanjutnya, sambil mengangkat sebelah tangannya.

Ketika raziel mengangkat tangannya, dina merasakan sebuah gelombang yang sangat keras, membuatnya terpental.

“uwaaa!!!!!!” teriaknya, ketika dia terpental, hampir menabrak tembok, tapi dia sempat berputar dan menjejakkan kakinya ke tembok, dia menendang tembok itu, kembali meluncur ke arah raziel. Sambil bersiap mengayunkan pedangnya.

“rasakan ini!!!!!”

“lemah sekali…” gumam raziel, sambil menahan ayunan pedang dina dengan 1 jari.

“ditahan dengan 1 jari???” teriak dina dalam hati, wajahnya menunjukkan rasa keheranan yang amat sangat.

“kau sudah tahu perbedaan kekuatan kita? Berhentilah melakukan perlawanan sia2…” kata raziel, sambil sekali lagi melempar dina dengan 1 jarinya.

“apapun yang kau katakan…. Aku tidak akan… pernah menyerah!!!!!!” teriak dina, sambil maju lagi menyerang ke arah raziel.

“kalau begitu… matilah…” kata raziel, sambil mengangkat sebelah tangannya, mengeluarkan tembakan bola energi berwarna hitam yang besar.

“dinaaa!!!!!!!!” teriak baldea.

“tidak sempat menghindar… aku akan mencoba menahannya!!!!” gumam dina dalam hati. Ketika dia mengangkat pedangnya untuk mencoba menahan serangan raziel, dia merasakan seseorang melompat ke depannya, untuk menahan serangan raziel. Serangan raziel tepat mengenai orang itu, dan membuat kepulan asap yang sangat tebal. Ketika asap itu sudah menipis, dina melihat seseorang memakai armor merah berdiri di depannya.

“tuan knight!!!!” teriak dina.

“dasar bodoh… kau bahkan tidak berniat untuk menghindar, kan?” Tanya knight itu. Asap terlihat mengepul dari perisainya yang berwarna merah benderang.

“kalau aku menghindar pun…. Tidak akan sempat…. Lagipula… bisa kena orang2…” jawab dina, “lagipula…. Aku merasa… tuan knight pasti akan menolongku….” Lanjutnya, dengan muka memerah.

“hh….. kebodohanmu memang tidak bisa ditolerir lagi….” jawab knight itu sambil menghela nafas, “tapi, begitulah dina yang kukenal…” lanjutnya.

“kalian sudah puas berpacaran disana?” Tanya raziel dari jauh, dia terlihat kesal, mungkin karena sempat diacuhkan sebentar.

“kami tidak berpacaran!!!! Kami bahkan bukan pasangan!!!!!” teriak dina kesal, sambil menyerang maju lagi ke arah raziel.

“sudah kubilang… sia2…” kata raziel. Dia baru saja hendak mengangkat sebelah tangannya, ketika dina melemparkan pedangnya ke arah raziel, dan memotong sebelah tangannya.

“berhasil!!!!!” teriak dina, gembira.

“lalu? Bagaimana kau akan menyerangku lagi sekarang?” Tanya raziel, sambil mengambil tangannya yang terpotong, dan menyambungkannya lagi.

“errr….”

“tidak usah bingung…. Dina… konsentrasikan pikiranmu, dan bayangkan pedangmu berada di tanganmu…” kata knight itu, dari belakang.

“ah… ba… baik!!!!” jawab dina. dia berusaha melakukan apa yang dikatakan knight itu, dan tanpa sadar pedangnya sudah berada dalam genggamannya lagi.

“jadi begitu ya caramu waktu itu melakukan hal ini!!!!!” teriak dina pada knight itu.

“waktu itu?” Tanya knight itu, bingung.

“ia, waktu di perpus, kau tidak ingat?” Tanya dina.

“ah…. Ia, begitulah…” jawab knight itu, sedikit gugup.

“aneh… kenapa suaranya terdengar gugup?” gumam dina dalam hati.

“sudah selesai pertunjukan sulapnya? Sekarang… giliranku!!!!”  teriak raziel, sambil mengangkat tangannya dan menggumamkan sesuatu. Tiba2, di kedua tangannya, muncul sepasang pedang, ukuran pedang di tangan kirinya lebih pendek dari pedang di tangan kanannya. Pedang di tangan kirinya berwarna biru dan kuning, serta sisi tajamnya memiliki gerigi. Sedang pedang di tangan kanannya, berwarna sama, hanya sisi tajamnya tidak bergerigi, dan gagang pedangnya lebih kecil.

“it’s… showtime!!!!!” teriak raziel, sambil mengangkat pedangnya, dan tiba2 petir menyambar kedua pedang itu, membuat kedua pedang itu menjadi beraliran listrik.

“dina… hati2…. Kekuatannya…. Bertambah dengan pesat…” kata knight itu.

“he? Kok tau?” Tanya dina, bingung.

“aku bisa merasakannya…”

“thunder… strike!!!!” teriak raziel, sambil mengeluarkan sambaran petir dari pedangnya yang besar.

“awas!!!!!” teriak knight itu, sambil dia juga menghindar. Sambaran petir itu hanya selisih beberapa cm sebelum mengenai dirinya.

“itu…. Pedang petir kembar? Darimana kau mendapatkannya, razielll???” Tanya baldea, suaranya terdengar kesal.

“rupanya kau tahu pedang ini, baldea? Aku mendapatkannya dari… hmmm… arus dan duran yang memberikannya padaku…” jawab raziel.

“kau… kau mengambilnya kan??? Pantas saja… kedua pedang itu dulu hilang… padahal… tadinya… duran berjanji akan memperlihatkanku sesuatu dengan pedang itu…” kata baldea, hampir menangis.

“itu… pedang….” Kata dina, “milik… arus dan duran…?” potong knight itu, keduanya sama2 terkejut.

“ia, raziel yang mengambilnya dulu…. Padahal arus dan duran sudah menempanya sendiri dengan susah payah…. Ehm… dengan bantuan lioner….” Jawab baldea, kali ini matanya sudah memerah, “raziel… aku… tidak akan memaafkanmu!!!!!!!!” teriaknya]

“lalu? Apa yang mau kau lakukan?” Tanya raziel.

“rasakan…. Iniiii!!!!!!!!!!!!!” teriak baldea, sambil bersiap mengeluarkan sebuah sihir.

“baldea!!!! Hentikan!!!! Itu hanya membuang2 energimu saja!!!!” teriak dina, tapi terlambat, sihir baldea sudah dikeluarkan, dan mengarah tepat pada raziel.

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #23 on: February 18, 2008, 10:26:17 PM »
23 meong~

Rebirth 23: Dark Side of Baldea

“rasakan iniii!!!!!!!!” teriak baldea, sambil menembakkan sebuah mantra ke arah raziel.

“akan kurasakan seberapa besar kekuatanmu…” kata raziel dengan nada mengejek.

“kena gak ya?” Tanya dina.

Tidak disangka, serangan baldea mengenai raziel dengan telak, bahkan sampai membuatnya terluka cukup parah.

“berhasil!!!!!!!!!!” teriak dina, gembira.

“tidak… ini buruk….” Sahut knight itu.

“hah? Kenapa?” Tanya dina bingung.

“lihat itu…” jawab knight itu.

Dengan diliputi perasaan bingung, dina melihat ke arah baldea. Dia melihat, tubuh baldea mulai menghitam, dimulai dari sayapnya.

“kenapa… kenapa bisa begitu???” Tanya dina, penuh kebingungan.

“kalau kau belum tahu…. Pertumbuhan sayap baldea…. Dipengaruhi emosinya…  pada saat emosinya sangat kuat, sayapnya akan berkembang… saat emosinya positif… itu baik… dan saat negatif… kau tahu kelanjutannya….” Jawab knight itu.

“apa… ada cara untuk menghentikannya….?”

“aku tidak tahu….” Jawab knight itu.

Selagi mereka berdua berbicara, tubuh baldea sudah menjadi hitam seluruhnya, dan dia sudah menyerang raziel lagi.

“kau…. Tidak pantas hidup!!!! Matilah kauuu!!!!!!” teriak baldea, sambil terus menyerang raziel. Suaranya terdengar sangat berbeda, suaranya terdengar sangat berat, seperti suara lelaki dewasa. Sementara itu, raziel yang menerima serangan terus menerus sangat terkejut, sehingga dia tidak bisa memulihkan dirinya.

“bagaimana… seorang peri kecil… bisa mempunyai kekuatan seperti ini???” tanyanya.

“tuan… apa tidak sebaiknya tuan mundur dulu untuk sekarang…?” Tanya bayangan yang berada di belakang raziel.

“apa kau bilang??? Kau menyuruhku… untuk mundur????” Tanya raziel dengan marah, sambil bersusah payah melindungi diri dari serangan baldea dan memulihkan diri.

“bukan begitu tuan… tapi, apa enaknya membunuh mangsa yang tidak bisa melawan? Berikanlah mereka kesempatan untuk berkembang dulu… dengan begitu, akan lebih menyenangkan membunuh mereka…” jawab bayangan itu gugup.

“hmm… kau memang pintar mempengaruhi orang… baiklah, sekali ini saja, aku akan melepaskan mangsaku…” kata raziel, sambil kemudian tubuhnya menghilang di udara, disusul menghilangnya bayangan itu.

“satu masalah selesai….” Gumam dina.

“jangan senang dulu…” kata knight itu.

“baldea….”

Baldea menoleh ke arah mereka, matanya terlihat berwarna merah, dan tampaknya menunjukkan kemarahan yang amat sangat.

“kalian…. Kalian menyembunyikan raziel ya?????” Tanya baldea.

“baldea… ini aku… kau tidak mengenaliku….?” Tanya dina.

“siapa kau??? Kau…. Anak buah raziel????”

“baldea…. Ini aku!!!! Dina!!!!”

“aku tidak kenal!!!! Kau pasti anak buah raziel!!!!!”

“gawat… pikirannya sudah mulai kacau….” Kata knight itu.

“baldea….” Gumam dina, air mata mulai menggenangi matanya.

“menangis tidak akan menyelesaikan masalah!!!!!”

“apa… yang harus kita lakukan….?” Tanya dina sambil terisak.

“tergantung situasi, mungkin kita harus membunuhnya….”

“kalian ingin membunuhku??? Tidak akan bisa!!!!!” teriak baldea, sambil mengeluarkan sebuah serangan ke mereka berdua.

“awas!!!!!!!!” teriak knight itu, sambil menarik dina yang masih terpana.

“baldea….” Gumamnya.

“dina!!!! sadarlah!!!! Dia bukan baldea yang kau kenal!!!!!! Lupakah kau, apa yang dikatakan kepadamu, di dalam mimpimu???”

“tuan knight… kau tahu… kau tahu soal mimpiku??? Bagaimana bisa???” Tanya dina, bingung.

“kau tidak perlu heran…. Kita semua… maksudku, para pewaris… pasti akan mengalami mimpi yang sama….” Jawab knight itu.

“kau…. Kau juga…. Pernah bermimpi seperti itu?” Tanya dina.

Knight itu tidak menjawab, pandangannya terfokus pada baldea, yang kini sudah siap untuk mengeluarkan serangannya lagi, yang tampaknya lebih besar dan kuat dari sebelumnya.

“dina…. bersiap2lah….”

“i… ia…” jawab dina, ragu2.

“terimalah ini!!!!!!!!!!!!!!!” teriak baldea, sambil mengeluarkan sebuah tembakan yang sangat besar ke arah mereka.

“dina!!!! menghindar dan serang dia dari arah sana!!!!!” teriak knight itu.

“i.. ia!!!!” jawab dina, sambil melompat ke arah baldea.

Dina mendarat tepat di depan baldea, dan dia bersiap untuk menyerangnya.

“maafkan aku, baldea…” gumamnya.

Tepat ketika dia akan menyerang baldea, tiba2 dia melihat raut wajah baldea kembali seperti biasanya, sehingga dia menghentikan serangannya.

“baldea!!!!!” teriaknya.

Tiba2, raut wajah baldea kembali berubah, dia menyerang dina, tepat mengenai perutnya, membuatnya terpental jauh.

“kyaaaa!!!!!” teriaknya.

“dina!!!!!!” teriak knight itu, sambil bergegas untuk menangkapnya.

Ketika knight itu berhasil menangkap dina, baldea dengan segera langsung melancarkan serangannya, sehingga keduanya tidak sempat menghindar, dan terkena telak serangan baldea. Keduanya terpental sampai sekitar 10 meter jauhnya.
“cepat…. Panggil raziel keluar… atau kubunuh kalian!!!!” kata baldea, sambil mendekati tempat mereka berdua terjatuh,

“ba….baldea… kau…. Tidak mengenalku….?” Tanya dina dengan susah payah.

“berhenti bersikap seakan kau tahu aku!!!!! Cepat panggil keluar raziel!!!!!” teriak baldea, sambil bersiap untuk mengeluarkan sebuah sihir dari sebelah tangannya ke arah dina.

“he…hentikan….” Kata knight itu, sambil berusaha berdiri.

“cepat panggil raziel!!!!” teriak baldea ke arah knight itu, “atau dia akan kubunuh!!!!” lanjutnya, sambil mengarahkan sebelah tangannya ke arah dina, yang sudah tidak bisa berdiri.

“baldea…. Kau…. Kau benar2 tidak mengenali dina….?” Tanya knight itu, sambil berdiri dengan ditopang perisainya.

Baldea terdiam mendengar pertanyaan knight itu. Dia memegangi kepalanya, terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.

“aku tahu… kau belum lama mengenal dia… tapi… ingat2lah…. Saat kau bersama dia….” Kata knight itu lagi.

“diammm!!!!!!!!!!!!!!” teriak baldea, sambil menembak knight itu, sehingga dia jatuh tersungkur.

“tuan knight!!!!!!!”

“sepertinya kalian…. Memang ingin mati ya…. Akan kukabulkan permintaan kalian….” Kata baldea, sambil mengarahkan tangannya ke dina.

“ucapkan selamat tinggal….” Katanya, sambil mengeluarkan sebuah tembakan berwarna hitam, yang langsung mengenai dina.

“dinaaa!!!!!!” teriak knight itu dari jauh, tanpa sempat berbuat apa2.

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #24 on: February 21, 2008, 09:24:50 PM »
24 loh~~

Rebirth 24: Meet With Duran, Warrior Powered Up?

“baldea…. Kauuu!!!!!! Beraninya kau melakukan itu pada temanmu sendiri?!?!?!?” teriak knight itu, dipenuhi rasa amarah.

“sudah kubilang… aku tidak mengenalnya… jangan mengatakan seakan aku mengenalnya….” Jawab baldea.

“kau…!!!!”

“tidak usah cemas, sebentar lagi kau juga akan bernasib sama, kecuali kau mau memanggil raziel” kata baldea, sambil mengangkat sebelah tangannya ke arah knight itu.

“sial… tidak adakah yang bisa kulakukan….? Kalau begini… ini akan sama seperti dulu….” Gumam knight itu sambil berusaha berdiri, meskipun harus ditopang perisainya.

“masih keras kepala juga? Baiklah, terimalah akibatnya!!!!” teriak baldea, sambil mengeluarkan sebuah cahaya hitam di tangannya, yang makin lama makin besar. Tapi, tiba2 saja, cahaya itu menghilang. Baldea memegangi kepalanya, dia terlihat sangat kesakitan. Di saat yang sama, warna tubuhnya kembali seperti semula, dan dia menghilang entah kemana.

“untunglah… sepertinya emosinya tidak cukup kuat….” Gumam knight itu, sambil berjalan dengan susah payah menghampiri dina.

“untunglah…. Dia masih hidup….” Gumam knight itu lagi, sambil memegang lengan dina, untuk mengecek denyut nadinya.

Tiba2, seekor naga, turun dan mendarat di depan mereka.

“tuan… kau baik2 saja?”

“untung kau datang… tolong bawa kami… ke rumah dina…”

“baik, tuan…”

“ah, dan jangan terbang, gunakan teleportasi saja… agar tidak mencolok…” kata knight itu lagi, ketika dia melihat naga itu sudah siap terbang.

“ah…baik tuan…” kata naga itu, mukanya terlihat seperti memerah.

Sesampainya di rumah dina

“kau balik duluan saja ya… aku akan menyusul…”

“tuan… tuan yakin tuan baik2 saja?” tanya naga itu.

“tenang saja… kau kan mengenalku?”

“baiklah… tuan… hati2 ya…” kata naga itu, sambil melakukan teleportasi lagi.

Tidak disangka, ketika knight itu membawa dina ke kamarnya, dia mendapatkan sebuah kejutan.

“baldea?? Kau disini??” Tanya knight itu, terkejut.

“hah? Kau mengenalku?” Tanya baldea, bingung.

“kau… tidak ingat apa2?” Tanya knight itu lagi.

“yang kuingat hanya…. Aku merasa sangat marah pada raziel…. Lalu, semuanya gelap, dan tiba2 aku sudah disini…. Ah ia!!!! Dimana raziel??? Di belakangmu… dina??? dina kenapa???” kata baldea, panik.

“sebaiknya kau tidak usah tahu baldea… dia… dia hanya butuh istirahat saja….” Jawab knight itu, sambil membaringkan dina di kasurnya.

“dina…. kau akan baik2 saja kan….” Kata baldea, sambil berusaha memegang tangan dina, tapi tidak bisa, karena tangannya malah menembus tangan dina.

“baldea…. Tidak usah khawatir, dia hanya pingsan saja…” kata knight itu, “kuharap begitu” lanjutnya dalam hati.

“ngomong2… kenapa kau tidak melepas armormu? Memangnya… tidak panas ya?” Tanya baldea.

“tidak ada salahnya berjaga2 kan?” jawab knight itu, tanpa melepaskan pandangannya dari dina.

“aku…. Harus memanggilmu apa?”

“terserah kau” jawab knight itu singkat.

“hmm… apa ya enaknya….” Gumam baldea.

“tunggu disini sebentar….” Kata knight itu, sambil melangkah keluar kamar dina.

“baik!!!” jawab baldea.

Knight itu langsung menuju ke dapur, dia melihat, kalau2 ada pesan yang ditinggalkan oleh mamanya untuk dina.

“mamanya… tidak akan pulang sampai besok…. Dia sibuk sekali….” Gumamnya.

Sementara itu, keadaan dina

“ini dimana?” tanyanya, ketika dia melihat sekelilingnya hanya ada kegelapan.

“kau sudah sadar, pewarisku?” Tanya sebuah suara, yang sepertinya berasal dari belakangnya.

“pewarisku… kau… duran?”  Tanya dina terkejut.

“ya…”

“kau tidak bohong?” Tanya dina penuh curiga.

“kau ingin bukti apa?” Tanya suara itu.

“tunjukkan dirimu!!!!”  jawab dina.

“baiklah…”

Sekeliling dina menjadi terang, di depannya berdiri seorang pria yang sangat kekar, dengan rambutnya yang berwarna perak, pria itu menatap dina dengan tatapan yang dingin.

“kau duran?” Tanya dina.

“ya” jawab pria itu.

“kalau begitu… terima ini!!!!!” kata dina, sambil menghajar duran tepat di pipinya, “itu akibatnya bila membuat sumpah yang aneh2!!! Dengan begini, aku sudah menepati janjiku!!!” lanjutnya.

“kau ini… benar2 anak yang sehat…” kata duran, “tapi, pukulanmu sama sekali tidak berisi… kau sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya.

“sejujurnya, ya…” jawab dina, ketika dia mengingat kejadian yang tadi dialaminya.

“kau merasa sedih karena temanmu tidak mengenalimu?” Tanya duran.

“Bagaimana kau tahu????”  Tanya dina, terkejut.

“kau memang anak yang polos…” jawab duran, sambil menepuk kepala dina, “semua yang kau pikirkan tergambar jelas di wajahmu…”

“aku tahu, dia sedang tidak menjadi dirinya sendiri… aku sudah berusaha memikirkan seperti itu terus… tapi entah kenapa… aku tetap merasa sedih…”

“dina…”

“kau tahu namaku???”

“jangan memotong perkataan orang lain!!!!!” bentak duran.

“I – ia!!!!” jawab dina, terkejut karena tiba2 dibentak.

“dina… aku tahu betapa pedihnya perasaan seperti itu… bagiku… hal itu sudah seperti makanan sehari2… tapi… dalam hidup kita harus memilih… dibunuh, atau membunuh…”

“aku tidak setuju…” kata dina, “kalau aku… aku akan mencoba… mencoba untuk mencari jalan agar aku tidak dibunuh… dan tidak perlu membunuh!!! Aku yakin… aku yakin pasti ada jalan untuk itu!!!” jawabnya.

“kau memang anak yang optimis… pertahankan semangatmu itu… mungkin… kaulah orang yang bisa memilih jalan yang benar…”

“apa maksudmu?”

“tidak ada apa2…” jawab duran, “sepertinya sudah waktunya…”

“waktunya untuk apa?” Tanya dina.

“waktunya untuk kau bangun, dan menolong temanmu… dia saat ini sedang mengalami kesulitan…” jawab duran, “dan, soal kenapa aku tahu namamu, itu tidak perlu diherankan, karena kau adalah… keturunanku bukan?” lanjutnya.

“ia juga ya?”

“sekarang, pergilah!!! Kembalilah ke tempatmu!!!!” teriak duran.

Seketika itu juga, dina merasakan sekelilingnya kembali gelap, dan ketika dia membuka matanya, dia melihat bahwa dia sudah berada di kamarnya lagi.

“dina!!!! akhirnya kau sadar juga!!!!!!” teriak baldea di depan muka dina secara tiba2, membuatnya sangat terkejut.

“baldea….? Ada apa?”

“itu… knight itu… dia… dia sendirian melawan gerombolan monster di luar!!!! Sepertinya itu monster kiriman raziel!!!!!”

“tuan knight…? Dia sendirian??” Tanya dina, “gawat… dia kan… masih terluka akibat yang tadi…” gumamnya dalam hati, “aku akan membantunya!!!!!” lanjutnya lagi, sambil beranjak turun dari tempat tidurnya.

Sementara, di luar

“gawat…. Ternyata luka akibat tadi lebih parah dari yang kuperkirakan….” Gumam knight itu, sambil berusaha menahan serangan dari para monster.

Tiba2, salah satu monster disana terjatuh, karena ditendang seseorang.

“tuan knight!!!! Kau baik2 saja???” Tanya dina, sambil berdiri di atas monster yang ditendangnya tadi.

“rasanya aku ingin menjawab ya…” jawab knight itu, “daripada itu, lebih baik kau beristirahat saja!!!! Kau kan, baru saja sadar!!!!!”

“tenang saja… kini giliranku untuk membantumu!!!!” teriak dina, sambil mengeluarkan pedangnya. Pedangnya berbentuk sama seperti biasanya, hanya warnanya berubah menjadi putih. Sedangkan bajunya, berubah warna menjadi warna biru, dengan bagian perutnya berwarna kuning.

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #25 on: February 23, 2008, 11:24:46 PM »
25 meong~~~

Rebirth 25: Baldea Run Away?

“wah… bajuku berubah warnanya… lucu….” Gumamnya, ketika melihat bajunya sekarang berwarna biru.

Monster2 yang sedang berniat menyerang menjadi terhenti sejenak, tapi kemudian mereka menyerbu kembali ke arah dina.

“kalian ini…. Beraninya keroyokan saja ya!??!?!?!” teriak dina, sambil memutarkan pedangnya, membuat pusaran api di sekelilingnya, yang langsung membelah semua monster disitu.

“kuat sekali…” kata knight itu, ketika dia melihat semua monster itu kalah hanya dengan 1 serangan dari dina.

“uwaa….monsternya lemah2… pantes beraninya keroyokan…” kata dina, sambil menyimpan kembali pedangnya, “tuan knight… kau tidak apa2?” tanyanya cemas, sambil membantu knight itu berdiri.

“aku tidak apa2…” jawabnya.

“bohong… di mukamu ada darah tuh….”

“hanya luka ringan….” Kata knight itu, sambil menyeka darah di mukanya.

“kamu masuk dulu ya… biar aku ambilin obat dulu…” kata dina, sambil membantu knight itu berjalan.

“tidak usah….biar aku obati sendiri saja nanti….” Jawab knight itu, sambil melepas tangan dina, dan berjalan membelok di tikungan di dekat sana.

“ah!!! Tunggu!!!!” dina berteriak, berusaha mengejar knight itu, tapi ketika dina sampai di tikungan itu, dia telah hilang.

“hhh… dia itu… kadang2 kayak hantu….” Gumam dina, sambil berjalan kembali masuk ke rumahnya.

“baldea? Kau ada disini?” Tanya dina, ketika dia masuk ke kamarnya.

“dina…. maaf….”

“baldea? Kau dimana? Maaf karena apa?”

“kau terluka… gara2 aku kan?”

“apa maksudmu? Aku tidak mengerti….”

“jangan bohong… aku sudah melihatnya… kau lupa? Aku bisa menelusuri waktu….”

“baldea…. Itu bukan salahmu…. Kau bahkan tidak sadar saat kau melakukan itu….”

“tidak!!! Itu… itu semua salahku!!!! Dari sejak aku membiarkan kemarahan menguasaiku…. Dari situ aku sudah salah!!!!” teriak baldea.

“jangan begitu, baldea…. Kau dimana?”

“selamat tinggal, dina….”

“baldea?? Kau dimana? Baldea??? Baldeaa!!!!!!!” teriak dina, berusaha mencari baldea, tapi tidak ada jawaban.

“baldea…” gumamnya.

Malam itu, dina sama sekali tidak bisa tidur, dia memikirkan kemana baldea pergi.

Keesokan harinya

“waa!!!! Terlambattt!!!!!” teriaknya, sambil berlari ke sekolah. Untung saja, tepat saat dia masuk ke kelas, bel berbunyi.

“dina? tidak biasanya kau telat?” Tanya nova.

“nopa… aku…. Dia hilang….” Jawab dina.

“dia? Dia sapa?” Tanya nova bingung.

“eh… bukan sapa2…” jawab dina, “nopa kan ga tau baldea….” Gumamnya.

“dina….”

“I – ia?” jawab dina.

“kau ini…. Sepatumu terbalik tuh….” Kata nova, sambil menunjuk sepatu dina.

“ahhh!!!!!! Aku tidak sadar!!!!!” teriaknya, sambil buru2 membetulkan sepatunya.

“kau…. Sedang ada masalah apa?” Tanya nova.

“ti… tidak ada apa2….” Jawab dina, gugup.

“benar?”

“ia… benar…” jawab dina, berusaha untuk tidak bertatapan langsung dengan nova.

“tapi kalau ada masalah, cerita ya” kata nova.

“ia….”

Sepanjang hari itu, dina sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, dia terlalu mengkhawatirkan keadaan baldea.

Saat jam pulang sekolah

“nopa… nopa pulang sendiri ya? Aku…. Ingin ke suatu tempat dulu….”

“kau yakin kau baik2 saja?” Tanya nova.

“ia, aku sehat kok….” Jawab dina, lesu.

Dalam hati, nova sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi dia memutuskan untuk tidak memaksa dina menceritakannya sekarang.

“lebih baik aku tanyakan saat dia sudah mendingan saja….” Gumamnya, “ya sudah, tapi kau hati2 ya….”

“ia….”

Kemudian, dina pun pergi ke taman, taman tempat dia dan baldea pertama kali bertemu, berharap akan menemukan baldea disana.

“baldea!!!! Kau disini???” teriak dina, tapi tidak ada jawaban.

“baldea… kau kemana….” Gumamnya, sambil duduk di bangku di situ.

Baru saja dia mencoba untuk menebak lagi kira2 dimana baldea berada, dia dikejutkan dengan suara geraman di belakangnya. Dia menengok ke belakang, dan melihat seekor makhluk berbentuk seperti piggy berwarna ungu dan bersayap kelelawar, sedang melayang2 di belakangnya. Seketika, kepala dina terasa sakit ketika melihatnya.

“monster ini…. Aku…. Aku merasa pernah melihatnya…. Tapi… dimana….?” Gumamnya, sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.

Makhluk itu melayang menuju dina, sambil membuka mulutnya, memperlihatkan deretan gigi yang sangat tajam. Ketika makhluk itu sudah sangat dekat dengan dina, sebuah tebasan secara tiba2 membelah tubuh makhluk itu.

“kau ini…. Kenapa tidak melawan?”

“tuan knight…. Aku… ketika melihat makhluk itu…. Kepalaku terasa sangat sakit… aku merasa pernah melihat makhluk itu, tapi entah dimana…” jawab dina, rasa sakit yang dirasakannya perlahan2 mereda.

“biar kutebak… kau sedang ada masalah kan?”

“bagaimana kau tahu??”

“wajahmu itu sangat polos… semua yang kau pikirkan tergambar di wajahmu….” Jawab knight itu.

“sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengatakan hal yang sama…”

“jadi, kau ada masalah apa?” Tanya knight itu.

“baldea…. Dia hilang….”

“hilang? Bagaimana bisa?”

Dina kemudian menceritakan kejadian kemarin, mulai dari bagaimana baldea menyalahkan dirinya sendiri, sampai dia memutuskan untuk pergi.

“begitu….”

“kau tahu apa yang harus kulakukan?” Tanya dina, penuh harap.

“biarkan saja dulu…. Dia pasti butuh waktu untuk sendiri… untuk menenangkan pikirannya…”

“tapi….”

“tenang saja… dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri….sebaiknya kau pulang… kau juga pasti sangat lelah kan?”

“ia… aku ga bs tidur kemarin…. Aku cemas dengan keadaan baldea….”

“kau tenang saja dina… kalau sudah tenang, dia pasti akan kembali dengan sendirinya….”

“ya…. Kuharap begitu…” jawab dina, sambil melangkah pulang ke rumah.

“dina…. kau sudah mulai mengingat kejadian dulu ya….” Gumam knight itu, ketika dia melihat dina sudah cukup jauh untuk mendengarnya.

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #26 on: February 27, 2008, 09:26:07 PM »
enak aja!!!! aq ga pernah nyampah nopa!!!!!

+sambit raven pake dinamit 2 set+

@cc sacchan

soalnya piggy nya nakal =P

+26+

Rebirth 26: Shina’s Death

Di tempat yang jauh, sekaligus tidak jauh dari rumah dina, terlihat seseorang yang bersayap dan berambut hijau, sedang duduk termenung, sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang amat sulit.

“dina…” gumamnya.

“baldea? Sedang apa kau disini?” Tanya seseorang, dari belakang.

“shina…. Huwaaaa!!!!!” baldea langsung menangis lega ketika melihat shina. Ia ingin memeluknya, tapi tidak bisa.

“baldea? Kau kenapa? Kok tiba2 nangis?” Tanya shina dengan penuh kebingungan.

“aku…. Aku lega karena akhirnya bisa menceritakan masalahku pada seseorang….” Jawabnya sambil terisak.

“masalah apa? Masalah dari masa depan lagi?” Tanya shina.

“hiks… ia…. Kayak yang dulu shina bilang… masa depanku bakal banyak masalah….” Jawabnya.

“kalau begitu…. Sebaiknya kau tenang dulu… aku tidak bisa mendengarkan ceritamu dengan baik kalau kau menangis terus….” Kata shina.

“ia…” jawabnya.

Setelah baldea berhenti menangis, akhirnya dia menceritakan kejadian waktu itu semuanya kepada shina.

“begitulah…. Aku tidak hanya tidak bisa membantu… aku bahkan hampir membunuh sahabatku….” Kata baldea, mengakhiri ceritanya.

“lalu, bagaimana dengan dia sendiri? Apa dia marah?” Tanya shina.

“dia…. Dia bilang tidak…. Tapi… aku yakin dia pasti marah….”

“kenapa kau bisa yakin begitu? Memangnya, selama ini kau mengenal dia seperti apa?”

“dia orangnya… baik…. Iseng…. Ga gampang nyerah…. Bawel… ga bisa diem…. Terus…” jawab baldea, dengan gembira.

Sementara itu, dina merasakan telinganya sangat gatal.

“kenapa telingaku gatal ya…. Kayak lagi dibicarain orang….” Gumamnya.

“kalau begitu, atas dasar apa kau bisa yakin kalau dia marah?”


“karena…. Hal itu terus terjadi berulang2…. Berulang kali aku hanya bisa diam saja, ketika dia dalam bahaya…..”

“benarkah kau sama sekali tidak pernah menolongnya?” Tanya shina.

“tidak pernah…..”

“tapi menurut bola kristalku…. Kau pernah menolong dia sekali…..” jawab shina, sambil melihat bola kristalnya.

“ah… mungkin pernah…. Tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang kulakukan padanya….”

“baldea…. Kenapa kau tidak coba untuk berbicara padanya dulu?”

“aku…. Takut….” Jawab baldea.

“baldea…. Rasa takut itu memang wajar…. Tapi, takut akan hal yang tidak jelas, tidak akan menghasilkan jalan keluar…. Kau tidak selalu bisa berbicara denganku…. Karena aku… pasti akan mati….”

“kalau begitu, aku kan bisa pergi ke masa saat kau masih hidup?”

“kalau begitu, kenapa kau tidak pernah berkunjung ke masa duran masih hidup?” Tanya shina.

“itu….” Baldea tidak bisa menjawab.

“kau merasa amat sedih, ketika melihat dia masih hidup, karena kau tahu kapan dia akan mati kan? Hal itu juga terjadi padaku, setiap aku meramal seseorang…..” kata shina.

“tapi… kalau dia marah, gimana?”

“hal nanti, pikirin nanti aja…. Tidak ada gunanya berpikir terlalu jauh….” Jawab shina.

“ia deh…. Aku akan coba berbicara dengannya….” Jawab baldea.

“nah gitu dong, semangat ya!!!!”

Setelah dilihatnya baldea pergi, shina kemudian kembali duduk di depan bola kristalnya, meramal tentang sesuatu.

“mungkin…. Aku tidak akan bisa bertemu lagi denganmu, baldea….” Gumamnya.

Sementara, di tahun 2007

“errr…. di…. dina… kau ada di sini? Tanya baldea, sambil masuk ke kamar dina.

“dia kemana ya…..” gumam baldea, sambil mencoba mencari di seluruh kamar, “apa aku tunggu disini saja….” Lanjutnya.

Menjelang malam, akhirnya dina pulang, dan ketika dia masuk kamar, dia merasa sangat terkejut.

“ba…. Baldea????” katanya, tidak percaya.

“I – ia….” Jawab baldea, gugup.

Seketika itu juga, secara reflek dina langsung berlari bermaksud memeluk baldea

“ah!!! Tunggu!!!!” teriak baldea, tapi terlambat. Dina menembus tubuh baldea, dan jatuh sampai menimbulkan suara berdebum yang keras.

“dina!!!! itu suara apa????” teriak mamanya dari luar, terkejut mendengar suara itu.

“bukan apa2 ma!!!!! Cuma buku jatuh saja!!!!!” jawab dina.

“aduh…. Hati2 ya!!!!!” teriak mamanya, lagi.

“ia!!!!!” jawabnya.

“dina…”

“baldea? Kau kemana saja? Kau baik2 saja kan?? Kalau kau sampai kenapa2….” Tanya dina.

“dina…. aku…. Aku minta maaf!!!!!!” kata baldea.

“maaf…. Maaf karena apa?” Tanya dina.

“aku minta maaf atas semua hal….. mulai dari ketidak bergunaanku… lalu hal kemarin… pokoknya semua hal yang merepotkan!!!!” jawabnya.

“aku tidak pernah memikirkan itu….” Kata dina, sambil duduk di sisi tempat tidur, “baldea cukup menjadi baldea saja, aku sudah senang kok….” Lanjutnya.

“dina….” gumam baldea, matanya mulai berkaca2.

“habis…. Yang namanya baldea kan…. Kekanak2an…. Ceroboh…. Terus….”

“ahhh!!!! Aku tidak begitu kok!!!!!” potong baldea.

“ya… pokoknya menurutku begitu….” Jawab dina, santai.

“kalau begitu, aku pergi dulu ya!!!!”

“mau kemana?” Tanya dina.

“aku ingin memberitahu tentang hal ini ke seseorang!!!!!” jawab baldea, gembira.

“baiklah… hati2 ya!!!!!”

Sesampainya di masa lalu

“shina? Kau disini?” Tanya baldea, ketika dia memasuki tempat tinggal shina. Dia sangat terkejut, ketika melihat shina terbaring di lantai, dengan perut yang bersimbah darah.

“shina!!!!!! Kau kenapa????” Tanya baldea, panik.

“tidak usah…. Bingung…. Banyak orang…. Membenciku…. Karena ramalanku…..”

“bukankah kau… sudah mengetahui hal ini akan terjadi? Kenapa kau tidak mencegahnya?” Tanya baldea, sambil terisak.

“kalau aku… mencegahnya…. Di lain hari…. Akan menimbulkan korban… lebih banyak….” Jawab shina dengan susah payah.

“karena tahu ini akan terjadi…. Kau menyuruhku untuk berbicara dengan temanku itu ya…?” Tanya baldea.

“tidak…. Hal ini tidak ada hubungannya…. Aku menyuruhmu… karena…. Kehilangan teman adalah sesuatu yang sangat menyedihkan….” Jawab shina.

Lalu, dengan susah payah, shina menceritakan, bahwa karena kekuatannya, satu persatu temannya meninggalkannya, sampai akhirnya tidak tersisa seorangpun. Dia juga menceritakan, bagaimana bahagianya dia, ketika baldea mau menjadi temannya.

“shina…. Kumohon… jangan mati….”

“kematian…. Adalah keharusan…. Tidak bisa dihindari…. Yang bisa dilakukan hanyalah…. Menerimanya….” Kata shina.

“aku… aku sudah berbaikan dengan temanku itu….” Kata baldea, berusaha gembira.

“aku… sudah tahu…. Aku… bisa melihat masa depan… kan?” jawab shina, “semoga kau berbahagia…. Dengan temanmu….” Lanjutnya, kemudian dia menutup matanya, untuk selama2nya.

“shinaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” terdengar teriakan sedih baldea, mengiringi gelapnya malam, dan kepergian shina.

To be continued…

+afk nangis+

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #27 on: February 29, 2008, 10:02:36 PM »
27~

Rebirth 27: The Requirement

“kau, kemari…”

“saya, tuan?” Tanya sebuah bayangan, ke seseorang yang bertubuh sangat kurus, seperti tiang listrik.

“apakah disini ada yang lain selain engkau??” Tanya orang itu marah.

“ti… tidak tuan…”

“jadi untuk apa kau masih bertanya??” teriak orang itu, “lupakan…sekarang jawab aku… kenapa kau tidak membangkitkan balie yang tersisa???”

“se – seperti yang dulu kukatakan tuan, mencari tubuh yang cocok sangatlah sulit…” jawab bayangan itu gugup.

“kalau begitu, cari lagi!!!!!” teriak orang itu, lebih keras lagi.

“ba – baik, tuan!!!!!”

Keesokan harinya.

“dina, kau tahu gak, kabarnya akhir2 ini banyak kasus orang menghilang loh…” kata jilly, sewaktu jam istirahat di kelas.

“masa sih? Kau tahu darimana?” Tanya dina.

“kan ada di Koran, di TV juga banyak…. Kau tidak lihat?”

“buat dina, yang namanya Koran itu dongeng sebelum tidur, dan TV itu sumber kartun…” sahut nova dari belakang mereka.

“enak aja!!!! Aku juga kadang nonton yang lain selain kartun kok!!!!”

“nonton apa?”

“err…. Anime….” Jawab dina.

Jilly dan nova terdiam mendengar jawaban dina, mereka hanya geleng2 kepala sambil menghela nafas panjang.

“sudah dong…. Terus, tadi gimana lanjutannya, jill?” Tanya dina.

“ia… orang2 yang menghilang itu….”

“….tidak memiliki hubungan apapun, seolah si pelaku hanya asal culik saja…” potong nova.

“nova!!!! Itu kan kalimatku!!!!” teriak jilly.

“maaf deh…. Habis aku bosen daritadi ga ada kerjaan….”

“tumben nopa ga ke perpus?” Tanya dina.

“buku disana dah abis kubaca smua, ga ada yang baru lagi….” jawabnya, singkat.

“kau ini…. Manusia atau bukan sih?” Tanya jilly, dengan tatapan tidak percaya.

“manusia biasa kok…” jawab nova, cuek.

“ya sudah…. Terus, gimana lanjutannya tadi?” Tanya dina, lagi.

“ya itu, kayak yang dibilangin nova….” Jawab jilly, sambil memandang nova dengan tatapan tajam, yang ditanggapi dengan sikap cueknya nova, “korbannya benar2 acak…. Dari anak kecil, sampai orang tua sekalipun…”

“anak kecil juga???” Tanya dina, tidak percaya.

“ia, Cuma satu sih yang anak kecil, itupun sudah berumur sekitar 10 tahunan, kalau gak salah…” jawab jilly.

“satu2nya korban anak kecil yaitu anak berumur 10 tahun, kejadiannya terjadi siang hari saat kelasnya sedang jam olahraga di lapangan….” Sahut nova, lagi.

Selanjutnya, dina tidak lagi mendengarkan apa yang diucapkan oleh nova dan jilly, dia sudah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

“apa mungkin pelakunya bale ya…. Apa raziel? Atau bayangan itu? Tapi, untuk apa? Apa untuk… makanan?” dina tiba2 merasa merinding memikirkan jawaban itu.

“dina? dina? kau mendengarkan?” Tanya jilly, sambil menggerakkan tangannya di depan mata dina.

“eh?? Iya, dengar kok…” jawabnya.

Lalu, setelah jam pulang sekolah.

“nopa kok lama ya…. Katanya cuma ambil barang ketinggalan….” Gumam dina, sambil berdiri di depan gerbang sekolah. Tiba2, dia mendengar teriakan seseorang.

“suara ini… jilly??” tanyanya, sambil berlari menghampiri sumber suara tersebut.
Di tempat suara itu berasal, dina melihat jilly sedang dikurung dalam sebuah bola berwarna gelap, dan di dekatnya ada bayangan hitam, yang waktu itu pernah ditemuinya.

“kau… yang waktu itu???” teriaknya.

“pewaris warrior… kebetulan kita bertemu disini…”

“tidak usah berbasa basi!!! Untuk apa kau mengurung jilly???”

“jilly? Ah, maksudmu… gadis ini? Sederhana saja, aku sedang mencari tubuh untuk media kebangkitan tuan2ku…” jawab bayangan itu.

“apa hubungannya dengan jilly??”

“kau tahu…tubuh untuk tuan2ku haruslah tubuh yang sudah pernah melakukan kejahatan… sebagai contoh… aku akan memberitahu tentang seorang anak kecil yang pernah kupakai juga untuk tubuh tuan2ku… kau tahu, anak itu terlihat polos di luarnya, tapi di dalamnya, dia adalah anak yang sangat licik, dan dia adalah pemimpin penindasan terhadap anak2 lain di sekolahnya… manusia memang tidak bisa dipercaya…” jawab bayangan itu.

“lalu, untuk apa kau mengambil jilly?? Aku tidak merasa dia pernah melakukan sesuatu yang jahat!!!!!”

“pewaris warrior… dunia lebih luas dari yang kau duga… kemarin… dia baru saja membiarkan seekor anak puppy mati kedinginan…”

“aku tidak percaya!!!!!!” jawab dina, sambil mengeluarkan pedangnya, yang kini berwarna putih, tapi bentuknya sama seperti sebelumnya. Sedangkan bajunya berubah warna menjadi biru.

“aku tidak ingin bertarung, tapi… apa boleh buat…” kata bayangan itu, sambil menaikkan bola yang berisi jilly itu hingga melayang cukup tinggi di atas tanah. Bayangan itu, kemudian perlahan2 mulai menampakkan wujudnya menjadi sebuah makhluk yang cukup besar, tingginya sekitar 2x tinggi dina. Makhluk itu berwarna kehitaman, memiliki empat kaki, tubuhnya sangat kurus seperti hanya terdiri dari tulang, di punggungnya ada sepasang sayap seperti sayap kelelawar, tapi sangat besar. Tangannya ada 2 pasang, masing2 memegang pedang yang besar berwarna hitam, dengan ujung yang terlihat sangat tipis dan runcing.

“akan kuselesaikan dengan cepat…” katanya.

“tidak akan kubiarkan kau membawa pergi temanku!!!!” teriak dina, sambil menyerang makhluk tersebut.

Di luar dugaan, serangan dina tampaknya mampu membuat makhluk itu terluka cukup parah, makhluk itu terjatuh, dan hanya mampu bertahan dengan dua kaki depannya.

“kekuatanku… rupanya belum benar2 bisa dikeluarkan…” gumam makhluk itu, sambil berusaha berdiri.

“tinggalkan temanku disini, dan kau boleh pergi!!!!” teriak dina, lagi.

“perintah tuan adalah mutlak… meskipun itu berarti aku mati!!!!” jawab makhluk itu.

“tolonglah… aku tidak ingin membunuhmu….” Kata dina, membuat makhluk itu terkejut.

“apa maksudmu??? Kau mencoba untuk membujukku??”

“aku… sejujurnya, aku tidak yakin bahwa membunuh kalian… adalah jalan terbaik… aku ingin mencari jalan agar kita tidak perlu saling menyerang lagi seperti ini…”

“betapa mulianya sang pewaris warrior ini… selanjutnya apa? Membuat taman bermain untuk bale dan manusia?”  Tanya sebuah suara yang tidak asing bagi dina, dengan nada mengejek.

“suara ini…. Galadriel????” Tanya dina, terkejut.

“senang kau masih mengingatku, gadis kecil…” jawab suara itu.

Tiba2, dari atas mereka, seorang wanita berpakaian serba merah, melayang turun secara perlahan.

“kau…”

“dasar bodoh… begini saja kau tidak bisa melakukannya???” bentak Galadriel ke makhluk itu.

“maaf…” jawab makhluk itu.

“Galadriel!!!! Untuk apa kau kesini???” Tanya dina, setengah berteriak.

“kau masih perlu bertanya? Tentu saja untuk mencari tubuh bagi tuan2ku!!!” jawab Galadriel, “sepertinya tubuh gadis ini boleh juga…” lanjutnya, sambil melayang masuk ke dalam bola itu, dan mengamati jilly yang sedang pingsan dari dekat.

“menjauh darinya!!!!”

“memangnya apa yang bisa kau lakukan?” Tanya Galadriel, sambil mengarahkan tangannya ke arah dina, dan tiba2 saja tanah tempat dina berdiri, meledak. Tapi dina masih sempat melompat, sehingga akibatnya tidak terlalu parah.

“uwaaa!!!!!” teriaknya, ketika dia berusaha menghindar, tapi masih terkena sedikit dampak ledakannya. Dina kehilangan keseimbangannya, dan dia meluncur jatuh dengan kepala menghadap ke bawah. Tepat ketika dia akan membentur tanah, dia merasakan seseorang menangkapnya.

“tuan knight!!!!”

“kau tidak apa2?” Tanya knight itu.

“sedikit kaget doang kok….” Jawabnya, “yang penting… itu…. Jilly!!!! Jangan sampai dia dibawa….” Lanjutnya.

“tenang saja…. Aku akan membantumu….” Jawab knight itu, sambil maju menyerang ke arah Galadriel.

“lama tidak bertemu, pewaris knight…”

“begitulah….” Jawab knight itu, “impact…. destruction!!!!!” teriaknya, sambil mengayunkan pedangnya ke bola itu. Bola itu pecah, dan jilly terjatuh, tapi di bawah dina sudah siap menangkapnya.

“bawa dia ke tempat aman!!!!” teriak knight itu.

“ba – baik!!!!” jawab dina.

“tidak akan kubiarkan!!!!” kata makhluk itu, sambil menghadang dina.

“minggirrrr!!!!!!!!!!” teriak dina, sambil melompat, dan menebas makhluk itu dengan pedangnya, membuat luka yang sangat besar di badan makhluk itu.

“mundur!!!! Kau tidak akan bisa menghadapi mereka sekarang!!!!” teriak Galadriel pada makhluk itu.

“apa boleh buat…” jawab makhluk itu, sambil tubuhnya perlahan2 menjadi bayangan lagi, dan hilang menyatu dengan bayangan benda lain.

“sekarang tinggal kita berdua…”

“sayang sekali… tujuanku kali ini bukan membunuh kalian, tapi hanya untuk membantu dia…” jawab Galadriel, sambil perlahan2 tubuhnya menipis, dan akhirnya hilang sama sekali.

“sial… padahal aku ingin bertanya sesuatu….” Gumam knight itu.

Sementara itu, di ruang UKS

“uhh…”

“jilly? Kau sudah sadar?”

“tadi itu…. Apa?”

“tadi…. Aku juga tidak tahu….” Jawab dina, gugup.

“benarkah….?”

“benar….”

“mungkin aku hanya bermimpi…” kata jilly.

“mungkin…”

“sebaiknya kau istirahat dulu saja ya jilly…”

“ya….”

Setelah keluar dari ruang UKS

“mereka…. Aku tidak akan membiarkan mereka membahayakan teman2ku….” Gumam dina, sambil mengepalkan tangannya.

To be continued…

Offline Loveandfreakz

  • Elder
  • Follower of Songs
  • *
  • Posts: 479
  • Cookie: 45
    • http://friendster.com/littledina
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #28 on: March 01, 2008, 07:08:20 PM »
itu in-game not in-fan fict =p

28~meong~miaw~

Rebirth 28: Raziel Again!!!!!

Malam itu, di kamar dina

“baldea…. Aku ingin tanya…”

“tanya apa?”

“aku ingin tahu… apakah benar… balie membutuhkan tubuh untuk bisa hidup lagi?”

“aku tidak tahu….. memangnya kenapa?”

“tidak apa2….”

Dina terdiam sejenak, dia kemudian teringat  batu yang diberikan oleh hokma, “oh ia… dia kan pernah bilang… kalau aku dalam kesulitan… aku boleh memanggilnya… ini termasuk kesulitan tidak ya?” gumamnya, sambil menggenggam batu itu erat2, dan memanggil hokma dalam hati.

“dina… ada apa?” terdengar suara dari batu itu, membuat dina terkejut dan hampir menjatuhkan batu itu.

“kakek…. Aku ingin bertanya….”

“kenapa? Silakan tanya saja, bila bisa, kakek akan menjawabnya…”

“kakek… apa benar…. Balie membutuhkan tubuh untuk hidup lagi….?”

“itu benar… begitu juga kami, para elim…”

“lalu… apa tubuh yang digunakan untuk balie itu…. Apakah orangnya… mati?”

“tergantung orangnya…orang yang memiliki keinginan sangat jahat akan bertahan dan bersatu dengan balie yang menempatinya…sementara bila lemah, akan menjadi makanan balie itu…”

“lalu… bagaimana bila elim yang memasukinya?”

“kami para elim tidak pernah mengambil tubuh orang selamanya… selama kami memakai tubuh itu… jiwa orang itu akan kami simpan dulu, sampai kami selesai menggunakan tubuhnya…”

“kakek…. Sebenarnya…. Apa yang diinginkan mereka? Kenapa mereka ingin memanggil Sang Akhir… siapapun itu….”

“kakek tidak bisa menjawab itu…”

“dina??? kau sedang berbicara dengan siapa?? Aku mendengar suara yang seperti suara hokma!!!!!” teriak baldea yang muncul tiba2, membuat dina terlonjak dari tempatnya duduk.

“ada suara baldea… baldea? Kau juga ada disini?”

“ternyata benar hokma ya!!!!! Ia, aku ada disini!!!!!” jawab baldea, gembira.

“kau disini… apakah kekuatanmu sudah pulih sepenuhnya?”

“belum… lihat nih… aku hanya kadang2 saja bisa memegang benda….” Jawab baldea, sambil berusaha memegang buku di dekatnya.

“begitu… berusahalah untuk pulih secepatnya… kau tahu… apa yang sedang berlangsung sekarang ini…”

“aku tahu….”

“hei2… kalian berdua jangan bicara seperti menganggapku tidak ada dong…. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang berlangsung sekarang ini….” Potong dina, dengan nada dingin, membuat hokma dan baldea terkejut.

“itu….” Kata baldea, ragu.

“baldea… belum saatnya dia untuk tahu…” kata hokma, mengingatkan

“ahh… pelitt!!!!!!”

“dina… masih ada yang ingin ditanyakan? Kalau tidak, kakek pergi dulu…”

“ya… terima kasih ya kek…..

“baldea… sebenarnya, apa yang sedang berlangsung sekarang ini?”

“ah maaf… aku tidak boleh memberitahukannya…” jawab baldea, “ngomong2, tadi dina tanya apa aja ke hokma?” lanjutnya.

“rahasia juga….” Jawab  dina, sambil menjulurkan lidahnya.

“huh… pelitt!!!!!” teriak baldea, sambil membalas menjulurkan lidah.

Sementara itu,

“jadi… kau gagal? Dasar bodoh!!!!!!” teriak raziel.

“ma…maaf tuan!!!! Saya tidak menyangka… dia sekuat itu…”

“sepertinya memang aku harus turun tangan sendiri…” gumam raziel.

Keesokan harinya

“dina… aku…. Kemarin bermimpi aneh….” Kata jilly.

“mimpi apa?”

“aku bermimpi…..ditangkap makhluk aneh…. Lalu makhluk itu menyinggung2 tentang anak puppy…. Aku jadi ingat…. Waktu itu…. Aku membiarkan seekor anak puppy mati kehujanan….”

“kenapa kau tidak menolongnya?”

“rumahku…. Tidak boleh memelihara hewan…. Seandainya boleh…. Pasti kupelihara…” jawab jilly, “tapi… mungkin seharusnya aku setidaknya memberikannya sesuatu…. Ketika ingat itu…. Aku jadi…. Sangat menyesal….”

“sudahlah jill….. semua sudah terjadi….” Kata dina, berusaha menghibur jilly yang mulai menangis.

Ketika itu, tanpa sadar nova berjalan mendekati mereka berdua

“dina… kau ini…..” katanya, sambil memegang pundak dina.

“nopa? Kenapa?”

“kau ini…. Membuat nangis perempuan saja….” Lanjut nova, yang langsung kabur sebelum dina menyadari maksud perkataannya.

“dasar………….nopa bodohhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak dina, yang terdengar sampai keluar kelas, membuat seisi kelas terkejut.

Ketika jam pulang sekolah, dina bermaksud mengajak jilly untuk pulang bersama, tapi tidak jadi karena dia baru ingat bahwa dia tidak tahu dimana rumah jilly.

“ajak ga ya….. tapi aku ga tau rumahnya…. Kalau ternyata jauh….” Gumam dina.

Sementara dia bergumam, sudut matanya tiba2 menangkap bayangan seseorang berdiri di sana. Dia menoleh, dan melihat seseorang bertubuh kurus yang sudah sangat dikenalnya.

“raziel…..”

“kau mengingatku?” tanya raziel dengan nada setengah mengejek.

“mau apa kau kesini??? Tidak akan kubiarkan kau melukai teman2ku!!!!!”

“tenang… tujuanku kesini… hanya untuk mencari tubuh bagi teman2ku…” jawab raziel tenang.

“itu sama saja!!!!!! Aku tidak akan membiarkan para balie bangkit!!!! Apa kalian sadar apa yang akan kalian lakukan??”

“tentu saja… tujuan kami hanya… memanggil Sang Akhir yang mulia…”

“kau tahu bahwa Sang Akhir –apapun sebutan yang kau berikan- itu akan menghancurkan semuanya? Termasuk para bale?”

“aku tahu… memang kenapa?” jawab raziel.

“kau…. Kau tahu… dan tetap melanjutkannya??? Apa tujuanmu sebenarnya???”

“kehancuran… lalu kami akan bisa lagi membuat dunia yang hanya dihuni oleh bale…” jawab raziel, dingin.

“apa kau tahu bahwa… Sang Akhir juga akan menghancurkan kalian??????”

“itu tidak mungkin… karena… kami ini abadi.”

“tidak ada yang abadi di dunia ini, raziel…” potong seseorang dari belakang dina.

“hoo… pewaris knight rupanya…”

“tuan knight?? Kenapa kau bisa disini???” tanya dina, setengah tidak percaya.

“kurasa aku tidak perlu menjelaskan itu…” jawab knight itu.

“kau bilang tidak ada yang abadi di dunia ini?? Bagaimana kalau kita buktikan??” tantang raziel, sambil mengeluarkan kedua pedangnya.

“jujur saja… aku juga tidak percaya kalau di dunia ini ada yang abadi….” Kata dina, sambil mengeluarkan pedangnya, “kalaupun ada, kurasa itu hanyalah perasaan manusia yang sangat kuat….” Lanjutnya.

“dua orang keras kepala… baik!!!! Maju dan buktikan perkataan kalian!!!!”

To be continued…

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: Rebirth Of The Legendary
« Reply #29 on: March 02, 2008, 07:04:28 PM »
Fact in game:

Quote
Duran : Dia dikenal sebagai “Duran Sang Jago Pedang”. Dia mengalahkan Galadriel bersama Permaisuri Claire. Menurut sejarah, dia adalah Ksatria terhebat di dunia. Dia meninggalkan banyak cerita menakjubkan selama bertualang di Shiltz.

Arus : Dia adalah Kapten dari Knight Kerajaan. Dia pemimpin yang hebat dan menjadi suami dari Permaisuri Claire. Walaupun dia suami Permaisuri Claire, dia sangat pengasih. Pewaris Galadriel.

Claire : Menurut sejarah, dia adalah permaisuri Shiltz yang dicintai banyak orang. Anak dari Baeorin. Anak tengah dari 3 bersaudara, saudara-saudaranya adalah Dilion (putra sulung) dan Shumitz (putra bungsu).

Baldea : Dia adalah orang yang bisa menggunakan Skill Healing dan sihir Warp Gate. Suatu hari, tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak. Setengah peri (waktu) dan setengah manusia.

Duran > Warrior
Arus > Knight
Claire > Mage (diliat dari baju yg dia pk)
Baldea > Cleric (liat keterangan di atas, dan dia nongkrong di pohon Adel)

---

Tapi ini namanya juga fanfic, jadi terserah penulis mo jobna apa juga. kec bener2 mo ngikutin cerita asli.
lurker on the move
bye bye forum~