Author Topic: [BATTLE] Deskripsi dan Narasi  (Read 3187 times)

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
[BATTLE] Deskripsi dan Narasi
« on: October 06, 2008, 11:06:59 AM »
Ini dapat dari forum VGI.
Gw pikir knp engga kita para Sealders, terutama penghuni FFA mencoba ini?

Quote
Di dalam topic ini akan diadakan permainan adu kemampuan menulis.

Gimana caranya? Ho, oke, ini aturannya:

1. Ada dua peran dalam game ini, yaitu "pembuat soal" dan "pemain".

2. Sebagai permulaan, status "pembuat soal" akan saya pegang selaku moderator. Harap diingat, status "pembuat soal" tidak lantas membuat org tersebut terbebas dari status "pemain". Orang tersebut tetap dapat bermain.

3. "Soal" yang dibuat oleh "pembuat soal" adalah sejumlah kriteria minimum untuk suatu adegan yang detail penceritaannya akan diserahkan kepada "pemain".

Isi dari soal bebas dan dapat berupa gambar. "Pemain" dapat meminta detail lebih kepada "pembuat soal" dan keputusan pemberian detail lebih akan diserahkan kepada "pembuat soal". Diharapkan "soal" yang dibuat dilengkapi kriteria seminimum mungkin namun sejelas mungkin.

Rentang waktu untuk perbaikan soal adalah satu hari sejak dibuatnya soal. Saat rentang waktu itu berlaku, "pemain" dipersilakan meminta detail dan apabila hingga jam sama keesokan harinya blm ada respons dari "pembuat soal", permainan dimulai dengan format kriteria yang tercantum.

4. Penilaian dilakukan oleh seluruh member yang mengikuti permainan ini, baik sebagai pemain maupun penonton. Post terbaik ditentukan berdasarkan banyaknya suara dukungan.

5. Lalu? Intinya si "pemain" disuruh ngapain? Kok dari tadi yang diterangin si "pembuat soal" aja.

Jawabannya mudah. "Pemain" adalah orang yang akan membuat sebuah adegan (terdiri atas satu atau beberapa paragraf) mendetail yang mencakup kriteria yang diberikan oleh "pembuat soal".

6. Batas waktu yang diberikan untuk mempost jawaban soal adalah dua minggu. Apabila setelah selang waktu empat hari tidak ada post baru, maka batas waktu langsung menjadi satu minggu dengan asumsi tidak banyak "pemain" yang berpartisipasi dalam soal tersebut.

7. Penilaian yang diberlakukan di sini diserahkan kepada masing-masing individu yang hendak memberikan penilaian. Jadi diharapkan pemain berbesar hati dalam menerima penilaian dan menjadikan penilaian yang didapat di sini sebagai pembelajaran untuk sebuah penulisan yang lebih baik.


Topik ini isinya hanya soal dan cerita dari partisipan.
Topik untuk komentar viewtopic.php?f=28&t=8229
lurker on the move
bye bye forum~

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [BATTLE] Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi
« Reply #1 on: October 06, 2008, 11:26:57 AM »
SOAL 1

Karakter:
- Julian
Deskripsi: laki-laki, knight dengan armor ultimate, pemarah, rambut coklat rancung.
- Meria
Deskripsi: wanita, warrior dengan aeon suit, cantik, rambut merah panjang bergelombang.
NOTE: deskripsi lain bebas ditambahkan, misalnya pedang ato fisik lainnya.

Setting:
Dunia Shiltz
Spesifik: Colloseum

Adegan:
Duel sengit. (jadi isi inti ceritanya ttg mrk yg lagi duel)

Kriteria:
Kurang lebih satu scene itu... 10ribu huruf... minimal 700 kata, maksimal 2000 kata kurang lebih, ato ya terserah asal jgn panjang2 krn ini cuman satu scene.

Kondisi awal:
Mereka berdua sudah janjian untuk bertemu di colloseum.

Kondisi akhir:
Tidak ditentukan (salah satu kalah/mati, pertarungan dihentikan, atau apa pun)

==

Selamat berkreasi.

Hehe.
lurker on the move
bye bye forum~

Offline Vionne

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1160
  • Cookie: 51
  • The Searing Arrowflight of Quel'thalas
Re: [BATTLE] Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi
« Reply #2 on: October 06, 2008, 02:04:15 PM »
“Ho, berani juga kau datang, Julian. kukira kau akan lari ketakutan seperti kucing kecil.” Ujar seorang wanita cantik, berambut merah panjang dengan balutan baju putih dengan aksen motif merah yang menawan. Disampingnya tersandar pedang besar bermata pisau hitam, dengan gagang pedang dan pelindung berwarna merah menyala bagai jilatan api yang siap membakar siapa saja yang mengenainya.

“Cih, jangan samakan aku dengan pengecut!” balas knight yang dipanggil wanita tadi dengan nama Julian.

“Jadi? Kamu yakin menantangku?” Tanya wanita itu.Intonasi bicaranya terkesan menekan.

“Seakan aku lebih lemah darimu!” Teriak Julian, sembari menarik pedang dari sarungnya, lalu mengibaskannya kearah wanita tersebut. Dengan cepat wanita itu menghindar, dan melompati knight itu lalu mendarat tepat di belakangnya.

“Apakah kamu yakin akan mengalahkan aku, Meria, sang warrior legendaris yang telah mengalahkan 1000 orang dalam pertarungan sengit di Guild War Hall? Ditambah..hanya dengan sebilah pedangmu yang terlihat lemah seperti itu?” bisik wanita itu dari belakang, dengan nada mengejek. Ia melompat lagi dan kembali berdiri disamping pedang besarnya. Meria mencabut pedangnya yang tertuncap di tanah colloseum yang lunak, lalu memasang kuda-kuda.

“Jangan berlagak!” geram Julian yang semakin kesal karena sejak awal tindakan Meria seakan meremehkan kekuatannya.
“Terima ini!” pekiknya lagi seraya mengumpulkan seluruh kekuatan ke ujung pedang yang semakin lama terlihat bercahaya, lalu menghantamkannya ke tanah didepan Meria.
“Blarr!!” suara ledakan menggelegar di seluruh penjuru colloseum.
Dari dalam kepulan asap yang disebabkan oleh ledakan serangan Julian, terlihat kilatan cahaya kebiruan, yang seketika melesat melewati Julian. cahaya itu menembus pelindung pundaknya, membuat ia terpental berputar-putar.

“Seranganmu memang kuat, serta kecepatanmu..Unbelieveable..tapi..sangat disayangkan, tidak di dukung dengan otak yang cerdas! Ternyata aku harus serius untuk menghadapi kecoa sepertimu!” Ujar Meria. Raut wajahnya yang tadinya santai berubah menjadi marah. Tetesan darah segar terlihat mengalir dari lengan kiri nya. Nampaknya serangan Julian mengenai sedikit tubuh Meria yang terlambat menghindar.

Kini Meria yang menyerang Julian terlebih dahulu, ia menyabetkan pedang besarnya kearah Julian yang masih terguling di lantai. Menyadari pedang Meria yang sedikit lagi akan membelah tubuhnya menjadi dua, Julian segera berguling menghindar dari pedang raksasa itu. Kecepatan Meria terlihat lebih lambat, mungkin dikarenakan luka di lengan kiri yang ia derita. Segera, Julian kembali berdiri. Dari jauh ia berlari ke arah Meria seraya kembali mengumpulkan kekuatan di ujung pedangnya. Meria mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balasan, pedangnya di gantungkan diatas kepala dengan satu tangan memegang gagang, dan satu tangan lagi menahan beban mata pisau besarnya. Saat Julian semakin dekat, Meria langsung melesat cepat kearah Julian, dan kilatan cahaya keunguan terlihat di ujung mata pedang Meria. Cahaya di pedang Julian semakin besar, berwarna merah terang. Sebelum serangan Meria mengenainya, Julian menghentakkan pedangnya ke tanah dan meledakkan mereka berdua.

Kepulan asap kembali mengurung mereka berdua. Dari dalam kabut, terdengar suara dentingan pedang yang beradu, kabut bagai tercabik-cabik oleh sabetan pedang mereka. Kabut mulai sirna, terlihat mereka masih berhadapan, dengan pedang yang menyilang.
“Heahh!!” teriak Julian, mendorong Meria dengan menggunakan perisainya.

Meria termundur karena dorongan tadi, lalu ia menuncapkan pedangnya ke tanah, dan berlutut di depannya. Napasnya tersenggal-senggal karena sengitnya pertarungan. Begitu juga dengan Julian, ia berlutut di balik perisainya yang besar. Keduanya nampak terluka parah. Punggung Meria terluka parah, mengucurkan darah yang menodai baju putihnya yang anggun. Helm Julian terbelah, dan di balik rambut coklatnya yang rancung, mengalir darah yang melewati pelipisnya, hingga menetes diujung dagu.

“Ternyata..kau lebih hebat dari apa yang kukira, knight..tidak salah jika kau digelarkan dengan titel Blood Myrmidon..gelar yang hanya disandang oleh knight pembunuh kelas atas Shiltz..” ujar Meria, diiringi dengan napas yang tersenggal-senggal, disusul batuk yang mengeluarkan darah.

“Begitu juga kau, Meria..tapi bukan saatnya untuk saling memuji!” ujar Julian yang kembali meluncur kearah Meria, lalu melompat tinggi. Ia mengarahkan pedangnya ke bawah, bagaikan ingin menghantam bumi. Meria berdiri dan melangkah mundur, lalu memutarkan pedangnya seperti kincir.

“Rasakan ini! Deadly Cross!” pekik Julian yang semakin cepat jatuhnya.

“Tidak akan kubiarkan! Blazing Hurricane!!” teriak Meria seraya mengibaskan pedangnya ke udara. Seketika terlihat putaran angin dengan hawa panas, sehingga terlihat seperti ada api didalam pusaran angin tersebut. Angin itu menghempaskan Julian yang tadi melayang tepat diatas Meria, dan melemparnya hingga menabrak pillar Colloseum. Bunyi retakan tedengar sesaat setelah Julian terjatuh dari atas pillar yang menahannya. Pillar itu retak, dan roboh disamping Julian yang masih terkapar di lantai. Perisai nya retak, menyisakan bagian atas dari perisai merahnya. Ia berdiri kembali setelah menerima serangan telak tersebut, lalu melangkah tergopoh-gopoh kearah Meria. Meria yang sudah tidak berdaya karena telah mengeluarkan seluruh kekuatannya, berniat memasrahkan diri. Ia terduduk disamping pedangnya.

“Aku..tidak boleh kalah…tidak..boleh..berhenti..hingga aku..menang..” ujar Julian terengah-engah sambil terus melangkah mendekati Meria.
“Rasakan..serangan penghabisanku..Grand..Swo..” belum sempat ia mengayunkan pedangnya kearah Meria, Julian terjatuh di samping wanita yang telah terluka parah tersebut. Meria yang telah memejamkan matanya, terkejut mendengar bunyi seperti suara benda besar terjatuh, dibarengi bunyi logam yang bergesekan. Begitu ia membuka matanya, Julian telah terkapar di sampingnya, dalam keadaan tidak sadar. Zirah dibagian punggungnya telah retak, pelindung pundaknya terlepas dari susunan zirah, serta pelindung lengannya merenggang karena pengikatnya terlepas. Dari tubuh yang tergeletak itu, terdengar bisikan kecil.

“Aku..kalah..” ujar Julian, lalu menghembuskan nafas panjang. Setelah itu tidak terdengar lagi suara apapun dr tubuhnya.

Meria hanya bisa menarik napas panjang. Dengan keadaan luka parah, ia merebahkan dirinya diatas tanah, lalu memejamkan mata.

“Seharusnya..aku yang kalah..” ucapnya dalam hati, sambil melemaskan tangan yang sejak tadi tidak melepas pedang besar di genggamannya. Dari tanah yang ia jadikan sandaran, terlihat genangan merah pekat yang terus melebar disekelilingnya, bagaikan kolam darah segar. Napas Meria semakin jarang, tubuhnya juga semakin melemah. Terdengar lirih suara Meria, seperti mengucapkan kalimat terakhirnya di dunia.

“Diatas langit..masih ada langit yang lebih tinggi..”

_______________________________________________________________
aduh jadi malu..uda lama ga nulis lagi..wkwkwk
« Last Edit: November 17, 2009, 10:27:41 AM by Vionne »
"Everybody loves being bad. I'll be the good one. For you!" *chuckles*
Zalmaral Noctivenum

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [BATTLE] Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi
« Reply #3 on: October 06, 2008, 04:42:35 PM »
Hari itu, panas matahari menyengat di atas kota Elim, ibukota Shiltz. Seorang laki-laki berlari dengan terburu-buru. Suara ribut dan nyaring dari armor merah yang dikenakan menutupi seluruh tubuhnya mengiringi setiap langkahnya. Sebuah pedang tergantung di pinggangnya, dan sebuah perisai oranye diikat di punggungnya.

Ia berhenti tepat di sebuah gedung besar berwarna coklat dan abu-abu, di depan gerbang besi raksasanya. Di depannya terpampang papan bertuliskan "Arena Tempur" atau lebih dikenal dengan sebutan "Colloseum" di kalangan para petarung dan petualang.

Laki-laki itu kemudian membuka helmnya, terlihat raut wajah yang keras dari laki-laki berambut coklat rancung itu.

"Sial... panas sekali hari ini..." geramnya sambil mengusap peluh di dahinya. Laki-laki itu meneruskan langkahnya ke dalam gedung tersebut.

Di dalam interiornya berbentuk lingkaran, dengan lantai tanah yang dikelilingi oleh tribun pendek dengan lantai marmer, dan di tengah-tengahnya terdapat tiang penopang besar untuk langit-langitnya. Udara di dalam Colloseum terasa lebih sejuk daripada di luar.

Tidak jauh dari tiang besar itu, seorang wanita berdiri menghadap tiang. Rambutnya merah dikucir kuda dengan ujung yang bergelombang. Ia memakai baju berwarna putih dengan aksen hiasan merah dan emas. Di punggungnya terselip pedang besar yang hampir setinggi tubuhnya. Pria berbadan besar itu pun menghampiri wanita itu.

"Kau terlambat, Julian..." ujar wanita itu tiba-tiba, tanpa membalikkan badannya sama sekali. Julian terkejut dan menghentikan langkahnya.

"Gah... Meria... hanya lima menit!" balas Julian.

Terdengar suara tawa kecil dari Meria yang membuat Julian mengerutkan dahinya. Meria membalikkan badannya ke arah Julian sambil tersenyum simpul. "Hey, kau sendiri yang membuat janji, tapi malah terlambat. Tidak baik membuat seorang wanita menunggu, bukan?"

Julian tampak mendecak kesal, namun ia merasa sedikit menyesal. Kalau saja tadi wakil kapten Lionel tidak menyuruhnya pergi mengantarkan surat ke Zaid, mungkin dirinya tidak akan terlambat.

"Ya, sudah. Jangan bahas itu lagi!" ujar Julian keras. Ia memakai kembali helmnya. "Ayo, bertarung!" katanya lagi sambil mencabut pedang Ellen-nya dari pinggang dan menurunkan perisainya ke tangan kiri.

Meria menghela napas. "Kau ini... selalu tidak sabaran, ya?" kata Meria pelan, ia mendekat ke arah Julian dan berdiri seakan menantangnya. Wanita itu pun mencabut pedang besarnya yang berwarna kuning dan langsung memasang kuda-kuda.

Beberapa saat suasana hening, sepertinya mereka sedang menunggu siapa yang akan menyerang lebih dulu. Tetapi Julian yang tidak sabaran akhirnya menerjang maju terlebih dahulu.

"Heeaaah!!" teriak Julian sambil menebaskan pedangnya. Namun Meria terlalu cepat untuknya, dan warrior wanita itu sudah melompat mundur beberapa langkah darinya. "Jangan lari!" seru Julian kesal.

"Siapa yang mau lari? Kau yang terlalu lambat mengayun pedang!" balas Meria dengan nada mengejek.

Ejekan Meria hanya membuat Julian semakin berang. Knight itu berlari ke arah Meria sambil berteriak keras. Dan kali ini, Meria tidak menghindar lagi, ia pun mengangkat pedang besarnya.

TRAANGG!!

Suara nyaring dua pedang yang beradu menggema ke seluruh langit-langit Colloseum. Mereka kembali menarik pedang mereka dan mengadunya lagi, hingga timbul percikan-percikan api.

Meria menebaskan pedangnya secara vertikal, Julian menahannya dengan perisainya. Julian balas menusuk dengan pedangnya, tapi Meria dengan lincah berkelit ke samping, sambil memutar pedangnya secara horizontal ke arah Julian, yang pertahanannya kini terbuka. Julian tidak sempat menghindar lagi, ia menerima serangan Meria dengan telak di punggungnya!

Namun, Julian masih berdiri dengan tegap. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. "Hanya itu kekuatanmu, Meria?" tanyanya. Pedang besar milik Meria hanya menggores sedikit dari permukaan baju besi Julian, dan efek serangannya tidak begitu terasa oleh Julian sendiri.

Belum sempat Meria bereaksi, Julian memutarkan badannya dengan cepat. "Impact Destruction!!" jerit Julian sambil mengarahkan pedang Ellen yang sudah dicharge dengan mana miliknya.

BLAAR!

"Kyaaaa!" Meria menjerit saat dirinya terpelanting akibat terkena jurus pedang ledakan Julian dari jarak dekat. Wanita itu jatuh berguling-guling di atas tanah Colloseum.

Julian langsung berlari ke arah Meria, untuk melumpuhkannya sebelum Meria sempat berdiri kembali. Namun di luar dugaan, Meria berhasil menahan jatuhnya dengan berjongkok di tanah. Menghiraukan luka bakar ringan yang dideritanya, Meria menjejakkan kedua kakinya dan melesat ke depan, menyongsong Julian yang berlari ke arahnya.

"Cross Slice!!" jerit Meria. Hanya sinar biru terang yang terlihat, melintas dengan kecepatan cahaya, mengelilingi tubuh Julian. Beberapa detik kemudian, sosok Meria muncul kembali, mendarat di tanah dengan ringan, sementara Julian terjatuh ke tanah.

Dengan hanya bertopang pada pedangnya, Julian menggeram ke arah Meria dengan mulut yang mengeluarkan darah. Meria telah menebasnya beberapa kali hanya dalam hitungan detik, tanpa sempat membalas sama sekali. Baju besinya tampak retak di beberapa bagian.

"Sudah, hentikan... aku masih lebih kuat darimu..." ujar Meria perlahan.

"Aku tidak akan menyerah!!" seru Julian.

Meria mengangkat alisnya, terpana melihat betapa keras kepalanya Julian. Tetapi itu memang Julian yang ia kenal selama ini.

"Baik. Terserah kau. Ayo, maju lagi," kata Meria pada akhirnya.

Duel pedang kembali terulang. Tentu saja, Meria lebih unggul dalam teknik pedang kombonya, apalagi ditambah daya penghancur pedang besar yang dahsyat dan kelincahan Meria dalam bergerak. Julian yang terluka, susah payah berusaha mengimbangi kecepatan Meria. Ia lebih banyak bertahan daripada menyerang. Julian berusaha menyimpan tenaga terakhirnya untuk serangan pamungkas. Tetapi dengan rentetan serangan dari Meria, entah kapan Julian mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan jurusnya lagi.

'Wahai, Neza Sang Keberuntungan, berikanlah aku kesempatan!' ringis Julian dalam hati.

Meria meloncat dan bersalto sambil memutarkan pedang besarnya, melancarkan serangan critical terakhir dari rentetan serangannya. Terdengar suara keras kembali menghantam perisai Julian. Julian menggretakkan giginya menahan serangan itu, boots besinya terdorong nyaris melesak ke tanah akibat hantaman keras.

'Kesempatan!' pekik Julian dalam hati.

Meria masih setengah melayang di udara dan tanpa pertahanan. Julian kembali men-charge mana ke dalam pedang miliknya, kekuatan penuh. Lalu dengan cepat Julian mengayunkan pedangnya yang bersinar merah ke atas.

"Grand Sword!!" Julian meneriakkan jurus pedang ledakan pamungkasnya.

Ledakan besar membentuk bola meledak tepat di depan Meria. Walaupun sempat melompat mundur dengan memberikan dorongan pada pedang besarnya ke perisai Julian, angin ledakannya masih mendorong Meria jatuh. Dan saat Meria mendarat di tanah, ia kehilangan keseimbangannya. Julian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ujung mata pedang Julian kini berada tepat di samping leher Meria. Jika Meria bergerak sedikit saja, mata pedang Julian akan mengiris kulit lehernya yang putih. Meria akhirnya memilih diam dan memejamkan matanya. Napas Julian masih terengah-engah. Ia merasa tubuhnya kaku dan setengah mati untuk menahan serangannya menjadi serangan yang fatal, kalau saja ia tidak ingat bahwa lawannya adalah Meria, wanita yang dicintainya.

"Aku... kalah..." desah Meria. Perlahan ia menurunkan pedang besarnya. "Baiklah, Julian... aku bersedia... menerima lamaranmu..." katanya sambil tersenyum lelah.

"H-hah?" Julian masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. "Kamu... kamu serius, Meria?" tanyanya memastikan.

"Yah... kalau kau singkirkan pedangmu itu dulu dari leherku...."

"A-ah! Iya, ma-maaf!" Dengan cepat Julian menarik pedangnya menjauh dari Meria. Julian yang biasanya keras dan pemarah, tiba-tiba menjadi salah tingkah, dan telinganya bersemu merah, nyaris semerah armornya.

Meria tersenyum melihat tingkah Julian yang berbeda. "Dasar aneh... baru segitu sudah salah tingkah, hihihi," sahut Meria sambil tertawa cekikikan, membuat wajah Julian ikut memerah.

"A-aku tidak mau kamu menerimaku karena kalah dalam pertarungan!" kata Julian tiba-tiba.

"Lho? Kenapa? Aku 'kan sudah berjanji, 'kalau kau bisa mengalahkanku, maka aku akan menerimamu', begitu," kata Meria bingung.

"Aku tidak mau menerima, jika kamu merasa terpaksa!" ucap Julian tegas.

"BODOH!" potong Meria hingga membuat Julian sedikit terlonjak. Meria melotot ke arah Julian, dan mendekati Julian dengan cepat. Dipegangnya kedua pipi Julian dengan kedua tangannya. "Tatap mataku dan lihat apa aku berbohong!" ujar Meria.

"Ngh..." Julian malah menggumam kebingungan.

"Aku juga... sebenarnya mencintaimu, Julian," ucap Meria sambil melepas pegangannya, kemudian ia mengecup pipi Julian yang masih tampak shock.
lurker on the move
bye bye forum~

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [BATTLE] Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi
« Reply #4 on: October 06, 2008, 09:27:19 PM »
perdana nulis nih jangan di iyik-iyik yah kk vivi sama cc niz
habisnya gw malas.com kalo disuruh bikin chapter2 gitu
kalo yang kayak gini nih gw demen wkawka
______________________________________________________

"Kamu yakin akan melakukan ini?"

"Ya", jawab laki-laki kepada wanita tersebut dengan mantap sambil membetulkan rambut coklat bak menara nya yang rusak tertiup angin.

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Aku pikir ini jalan yang terbaik untuk kita. Hubungan kita tidak akan berhasil", jawab laki-laki itu sekali lagi. Diremas-remasnya pedang tipis miliknya yang setipis kaca, apabila dilihat sekilas, semua orang berpikir pasti pedang itu sanggup menembus ke sela-sela tulang lawan dengan sangat akurat.

“Kenapa Julian?", tanya wanita tersebut tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya dari mulut kekasihnya itu. Tampak jelas dari raut mukanya bahwa wanita tersebut terluka.

Tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Julian. Lalu ia mencengkram lengan knight di depannya tadi.

"Jawab aku Julianus von Drake!", pekik nya.

"Karena aku tidak pernah mencintaimu Meria!”, trang, Julian mengeluarkan pedangnya secara tiba-tiba yang membuat Meria terkejut dan terjatuh. Dilepasnya pedang tersebut dari sarungnya dan dilemparnya sarung pedang tersebut ke tanah yang berdebu di arena gladiator itu. Ia mengarahkan ujung pedangnya kepada Meria.

"Berdirilah Nona Meria”, lanjutnya sambil menatap lekat-lekat mata merah Meria yang semerah rambut gelombangnya. Nada bicaranya meninggi karena tidak tahan lagi melihat tingkah laku Meria yang kekanak-kanakan, seakan berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua. “Angkat pedangmu dan bertarunglah. Jika kau berhasil mengalahkanku, aku akan menuruti semua kemauanmu. Tetapi jika aku yang menang, tolong biarkan aku pergi.”

Meria lantas berdiri dan mengambil sesuatu yang tersandar di dinding colloseum yang sudah disiapkannya daritadi. Pedang naga besar berukirkan lambang Eagle Crest, tanda bahwa dia adalah seseorang yang dipercaya oleh Duran.
"Bagaimana aku bisa memegang janjimu setelah kau membohongiku selama ini?"

"Kali ini aku tidak akan lari. Aku akan memenuhi janjiku sebagai seorang ksatria", jawab Julian meyakinkan wanita cantik itu.

Tanpa diberi aba-aba, dalam hitungan se-per seribu detik kemudian, Julian sudah berada di belakang Meria dan melakukan serentetan kombo dengan pedang kacanya.
“Tusukan Tombak Miring!”

“Hahaha baru pemanasan tetapi kau sudah menggunakan jurus andalanmu wahai knight agung. Kuanggap itu merupakan suatu kehormatan bagiku”, ucap Meria meremehkan sambil tersenyum palsu berusaha menghindari serangan dari Julian.

“Ku harap kau masih bisa bertahan untuk melihat jurus-jurusku yang lainnya!”, jawab Julian dengan penuh emosi. Pikirannya sudah dipenuhi hawa napsu untuk membunuh Meria. Lantas dikerahkan seluruh tenaganya, dipusatkannya kepada pedangnya dan tiba-tiba ada seberkas cahaya bersinar dari ujung pedang tersebut. Cahaya putih yang sangat menyilaukan.
“Impact Explotion!”

Blar. Cahaya putih tersebut berubah menjadi kumpulan asap berbentuk bola yang sangat besar yang dapat meledak. Terlalu besar sehingga Meria tidak dapat menghindarinya. Ia terpelanting ke belakang sejauh 5 kaki, tersungkur tidak berdaya karena asap tersebut terlalu tebal. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu armor yang berat mendekat. Dengan sigap Meria berdiri, mengerahkan seluruh tenaganya dan berlari menuju ke tepi.

“Kau ingin lari?”

Meria memanjat dinding batu colloseum tersebut dan melompat ke arah Julian. Ia mengarahkan pedang panjangnya dan mengibaskannya di udara, membuat angin puyuh. Tetapi dengan sigap knight tersebut menghindari serangan Meria.

“Meleset bodoh!”

Julian lupa bahwa perempuan berbaju putih dengan hiasan bordir naga berwarna merah tersebut mempunyai kemampuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat. Seketika Meria telah berpindah ke hadapan Julian dan mengeluarkan serangan yang dapat membelah tubuh Julian dengan kecepatan yang luar biasa. Berkali-kali.

“Sebanyak apapun seranganmu, kau tidak akan bisa menembus baju ini, Meria”

“Heaa…”, teriak warrior tersebut dengan penuh semangat. Ia merasakan semangat yang menggelora mengalir di dalam tubuhnya memicu seluruh kekuatannya. Meria berkonsentrasi melakukan rentetan kombo ke-13 elim yang selama ini dipelajarinya turun temurun. Tetapi serangan tersebut tetap tidak melukai Julian karena knight tersebut berlindung di balik perisai bajanya.

“Tidak kah kau ingin menghentikan pertarungan ini??”, teriak Julian dengan penuh emosi. “Sudah kukatakan berkali-kali kau tidak akan pernah bisa menodai armor merah kesayanganku ini”

Meria tidak mendengarkan ocehan Julian. Ia tetap berkonsentrasi mencari celah kelemahan Julian. Keinginannya untuk memiliki Julian telah membuat hatinya buta.

“Aku sudah muak denganmu!”, blar, lagi-lagi ia mengeluarkan jurus impact explotion nya.

Kali ini Meria terpelanting sejauh 10 kaki dan tidak sanggup berdiri kembali. Pedangnya terlepas dari tangannya dan berada jauh di luar jangkauannya.

“Aku…”, jawab Meria terbata-bata. Ia berusaha menjawab pertanyaan Julian tetapi darah yang terus mengucur melewati mulutnya menghalanginya untuk berbicara. “Aku tidak akan menyerah”

“Kenapa?”, tanya Julian. Ia berjalan mendekati Meria dan dipandangnya wanita tersebut dengan geram.

“Kenapaa!”, bentak Julian tidak sabar. “Mengapa kau tidak pernah menyerah?”

“Karena aku mencintaimu Julian”, ujar nya dengan lirih.

Untuk yang terakhir kalinya, Julian mengeluarkan bola ledakan cahaya itu sekali lagi dan meninggalkan Meria di tengah arena pertarungan tersebut. Bersimbahkan darah semerah rambut Meria.
« Last Edit: November 17, 2009, 10:28:13 AM by Vionne »

Offline ihsan

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 165
  • Cookie: 47
Re: [BATTLE] Deskripsi dan Narasi
« Reply #5 on: October 07, 2008, 06:46:53 PM »
”Seal Online Fan Fiction”
Made By: Ihsan Prayogo
“The Question’s Answer: EDITED.”

Okay all, this is the ‘answer’ Nizami-senpai’s question. Uh huh. I’ll try to make a scene based of the desciption above. Uhm, once again, the comments please XD, because I’m newbie here.

The Question’s Answer
Scene 01-End: Words Behind the Sword

Colosseum, January 4th, 2007. 13:58 Adel Meridian Time. Spring. Cloudy.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Angin bertiup pelan, membawa hawa dingin yang tidak wajar. Petala langit diselimuti oleh awan-awan berwarna tak ramah alam.

“Cumulonimbus...” ujar seorang Knight yang tengah bersandar pada sebuah pilar cokelat di ruangan yang terkenal sebagai tempat penentuan hidup-mati serta pertaruhan gengsi dan reputasi. Baju perang merah mengkilat yang dipakainya menutupi ujung kepala sampai ke ujung kaki, kecuali sedikit bagian wajah dan telapak tangan. Pedang yang disarungkannya di pinggang kiri berwarna sepadan dengan baju perang yang dipakainya. Tangan Knight itu memegang selembar surat yang sudah ia baca entah berapa kali sampai ia hafal betul isinya, namun toh setiap menit berganti menit ia selalu membaca kembali surat itu.

”Colosseum. Pukul dua siang. Dari yang selalu mengagumi dan membencimu. Meria."

Julian, Knight dengan Ultimate Set itu, akhirnya memilih memasukkan surat itu ke dalam salah satu celah baju perangnya—mengingat baju perang yang ia gunakan tak memiliki saku—sebelum air matanya menetes. Ia kemudian menatap berkeliling Colosseum. Tidak apa siapapun, atau lebih tepatnya, belum ada siapapun kecuali dia, jika tidak menghitung beberapa burung yang terbang berseliweran di atas Colosseum.

Merasakan kehadiran seseorang, Julian langsung melepaskan punggungnya dari pilar, berdiri tegak, dan mencabut pedangnya. Matanya dengan tajam mengawasi semua sudut yang bisa dilihat, dan pantulan dari besi yang menutupi tangannya membuatnya bisa melihat belakang tanpa harus menoleh.
Sekelebat bayangan muncul di pantulan itu, dan dengan cepat Julian berbalik.

Seorang wanita cantik tengah berdiri jauh di hadapan Julian. Matanya yang bulat besar menatap tajam Knight serba merah yang ada di hadapannya. Angin bertiup sepoi-sepoi, menggerakkan perlahan rambutnya yang panjang bergelombang, merah pekat seperti darah, namun indah. Sebuah pedang besar menggantung di punggungnya, dan tangan kirinya sudah memegang pangkal pedang tersebut, siap mencabutnya kapan saja.

“Meria,” ucap Julian, pelan. Namun yang disebut namanya hanya diam seraya menatap kejam.

“Sebelum kau mati,” desis Meria dengan nada kebencian, “ada yang ingin kausampaikan?”

“Jika aku mati, seperti katamu,” ucap Julian, pedangnya memerah perlahan-lahan, dan ia mencengkram keras-keras perisai merah yang ada di tangan kirinya, “maka bawa jasadku dan kuburkan di samping orangtuaku yang kaubunuh.”

Julian seolah melihat orangtuanya lagi, merasakan keberadaan berada di samping kanan-kirinya. Mengingat orangtuanya membuatnya mencengkram pedangnya semakin keras, dan tatapan mata yang semula teduh menjadi garang. Agaknya Meria menyadari perubahan itu.

“Mereka membunuh orangtuaku, Julian!”

“Aku tahu, Meria!” geram Julian, kemarahannya sudah tak tertahankan. “Orangtuaku membunuh orangtuamu, tapi tahukah kau bahwa orangtuamu bermaksud membunuh Raja? Raja kita, Meria! Sudah sepatutnya orangtuaku membela Raja mati-matian, meskipun itu berarti harus membunuh—!”

“—aku tidak peduli!”

“Pergi kemana Meria yang kukenal, yang membaktikan diri demi kerajaan, demi Elim Yang Agung, demi Elios!” desis Julian. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, melampiaskan kemarahan. Sesaat tanah Colosseum bergetar, pertanda betapa marahnya Julian sekarang. “Kau anggota Lion Knight, Meria! Sepatutnya kautahu resiko yang harus dihadapi oleh seorang anggota Lion Knight! Atau kau hanya bergabung dengan kita dengan rencana yang sama seperti orangtuamu yang sudah membusuk di liang lahatnya? Membunuh Raja?”

“Aku tidak pernah berpikir serendah itu!”

“Jika begitu, apa yang baru saja kauucapkan! Kau seolah tak peduli dengan nasib Raja, nasib Elim, nasib Shiltz! Kau dibutakan oleh kematian orangtuamu yang jelas pengkhianat-negara—“

“Jangan sebut orangtuaku seolah-olah mereka sampah—“

“—mereka memang sampah, sampah masyarakat yang tak peduli nasib Shiltz, sementara mereka berniat membunuh Raja hanya untuk merebut harta dan kekuasaannya!”

“Berhenti berbicara seperti itu—!“

Meria mencabut pedangnya, matanya penuh dengan kebencian menatap Julian, kemudian ia berlari menuju Knight berambut coklat itu. Julian, yang kesiagaannya kurang karena kemarahannya, tak dapat melakukan apapun kecuali bertahan dari serangan dan cabikan pedang mempiggy-buta yang dilakukan Meria terhadapnya.

Serangan bertubi-tubi itu membuatnya kehilangan keseimbangan, dan kemudian Julian jatuh ke atas tanah. Meria langsung melompat tinggi ke atas tubuh Julian, melancarkan serangan yang ke-21 dari rentetan cabikan pedang yang dilakukannya.

“Rasakan ini,” desis Meria. “Sepuluh Elim Turun Ke Shiltz!”

“Divine Protection!” ucap Julian.

Pedang Meria—yang warnanya sudah berubah menjadi ungu—menghantam jurus pertahanan Julian yang mengubah perisai Ultimate kecilnya menjadi perisai putih, besar, bercahaya, dan menyelubungi seluruh tubuh Julian. Pedang dan perisai yang beradu itu menimbulkan bunyi yang menggelegar, menghancurkan tanah tempat Julian berbaring hingga tubuh Julian melesak ke dalam oleh tekanan pedang Meria.

“Jurus itu!” raung Julian seraya terus menahan serangan yang diluncurkan dari pedang Meria. “Beraninya kau menyebut nama Elim untuk membalas dendam! Kau keji!”

Meria bersikap seolah tidak mendengar apapun dari mulut Julian. Ia hanya menyerang dengan pedangnya yang sekarang berubah warna menjadi merah, dan setiap sabetannya menimbulkan ledakan kecil yang membuat Julian, yang hanya bisa bertahan, terus melesak ke dalam tanah, membuat punggungnya sakit dan kepalanya pening.

Suara gemuruh yang timbul akibat hantaman pedang Meria itu semakin keras, namun samar-samar dari balik suara itu, Julian dapat mendengar raungan Meria.

“Mereka—satu-satunya—yang—kumiliki! Dan—orangtuamu—orangtuamu—mengambilnya—dariku!”

Sesaat Meria teringat akan masa kecilnya yang pedih; semua orang menghina wajahnya yang buruk, hingga ia tak punya teman seorangpun. Ibunya kemudian menyerahkan dirinya ke Gereja Elios, dan seorang Cleric di sana membuat wajahnya menjadi begitu cantik, bahkan lebih cantik daripada mereka yang pernah menghinanya. Namun dengan wajah cantiknya ia tetap dijauhi, dijauhi karena berbagai macam alasan—entah itu ia disangka menggunakan sihir hitam demi mengubah wajahnya, atau sebetulnya ia memiliki ilmu yang misterius, dan sebagainya. Yang ada di dekatnya hanya orangtuanya, hanya orangtuanya—

”Lihat itu, si penyihir hitam!”

“Idih, sok cantik ya dia! Lihat gayanya!”

“Jangan dekat-dekat! Awas puppy galak!”

Seorang wanita cantik dengan rambut panjang merah bergelombang, yang sedari tadi hanya diam, kemudian berdiri—ia tak tahan lagi. Ia berteriak ke arah orang-orang yang mengejeknya itu.

“Mengapa kalian terus-menerus menghinaku seperti ini! Aku bukan penyihir—“

Kata-katanya tenggelam oleh makian teman-temannya—jika mereka masih bisa disebut teman.
Kemudian salah seorang yang menghinanya, seorang Magician, dengan iseng mengeluarkan sebuah bola api dari tongkat sihirnya, menembakkannya ke arah wanita cantik yang sedang melakukan pembelaan diri tak berguna itu. Wanita itu menoleh, melihat bola api itu, dan tahu bahwa ia tak bisa menghindar. Bola api itu mendekat, mendekat, mendekat—

“Kau selalu menganggap dirimu selalu sendirian!” raung Julian. Ia menghentikan Divine Protection-nya sebelum perisainya hancur. Ia lalu melompat minggir—sabetan pedang Meria hanya sesenti lagi dari bahu kanannya. Julian lalu berdiri, namun belum sempat melakukan apapun, Meria sudah menyerangnya lagi. Julian menyambut serangan Meria dengan pedangnya, yang sudah menyala merah membara, alih-alih perisainya.

Ketika pedangnya bertemu dengan pedang Meria, terjadilah ledakan besar, diiringi raungan yang nyaris bersamaan antara Julian dan Meria.

“Blazing Hurricane!”

“Impact Explosion!”

Suara gemuruh menggaung memenuhi Colosseum. Julian dan Meria terpental dengan arah yang berlawanan, menjauhi satu sama lain, disebabkan tenaga yang muncul dari adu-pedang tersebut. Julian terlindungi baju perangnya, sementara Meria mendapatkan luka yang cukup parah, dan pedangnya berasap.

—“Divine Guard!”

Cahaya muncul, mengelilingi wanita berambut merah yang tengah terduduk di tanah, mengira ia sudah berada di ujung ajal. Sekelebat bayangan berada di hadapannya, melindunginya dari bola api yang akan menyerangnya dengan perisainya. Cahaya itu lalu menghilang, membuat wanita berambut gelombang itu dapat melihat siapa penyelamatnya.

“Kau tak apa-apa?” ucap penyelamatnya, sang Knight. Ia mengulurkan tangannya, yang langsung ditepis oleh wanita berambut gelombang itu dengan kasar. Lalu wanita itu lari, dengan perasaan yang aneh—entah bahagia, entah kesal karena merasa tidak bisa melindungi diri dan merepotkan orang.

“Sudahlah, Julian. Tak usah kau sia-siakan tubuhmu untuk melindungi penyihir hitam itu—“ ucap Magician yang tadi menembakkan bola api, namun kata-katanya ditelan tatapan tajam sang Knight.

“Kau brengsek.”

Lalu Knight itu mengambil pedang besar yang tergeletak di atas tanah, kemudian berlari mengejar wanita pemilik pedang tersebut.

Sejenak hening. Meria berusaha berdiri. Namun ia tak dapat melihat apapun—segalanya dikelilingi asap, menunjukkan betapa dahsyatnya jika dendam sudah berbicara. Ruangan tempat mereka bertarung nyaris hancur sebagian besar; tempat itu sekarang lebih mirip Tambang Clements alih-alih Colosseum. Sesudah bersusah payah berdiri, Meria berjalan beberapa langkah, namun kemudian ia terjatuh. Rasa sakit dan panas ia rasakan pada seluruh tubuhnya, darah serasa mengalir ke kepala, sehingga ia seolah digantung terbalik di atas api.

Ia mendengar bunyi langkah sepatu besi. Ia berusaha bangkit, namun rasa sakitnya sudah menaklukannya.
Sekarang kaki Julian tepat berada di depan hidung Meria.

”Mengapa kau mengejarku?”

Knight itu terengah-engah, begitu pun wanita berambut merah itu.

“Ini—pedangmu.”

Wanita berambut merah itu mengambil pedangnya. Lalu dengan nada yang lebih lunak, ia mengucapkan sebuah kata yang sangat jarang ia ucapkan kecuali pada orangtuanya.

“Terima kasih.”

Ketika wanita berambut merah itu berbalik untuk pulang, tangannya digaet begitu saja oleh sang Knight. Namun ia tak berusaha melawan.

“Namaku Julian, boleh aku mengantarmu pulang?”

“Julian....” desah Meria parau, mulutnya mengalirkan darah, darah yang merah, semerah rambutnya. “Kau... Menang....”

Meria berusaha mengangkat tangannya, namun ketika baru saja terangkat sesenti dari tanah, tangan itu kembali jatuh. Pandangan Meria mengabur, berhamburan menjadi titik-titik kecil. Ia serasa terbang, tubuhnya seolah ringan, seolah tak ada beban, seolah hukum gravitasi tak lagi berlaku. Pandangannya lalu mengecil menjadi satu titik terang, yang kemudian menjadi gelap, semakin gelap, dan menghilang.

”.... namaku Meria .....”

Julian terduduk di samping jasad Meria yang baru saja meninggal. Kepalanya tengadah ke langit, dan setitik air menyentuh hidungnya. Sang Cumulonimbus tak lagi mampu menahan beban yang dibawanya. Titik demi titik air terus turun dari langit, semakin banyak dan semakin banyak.

“Meria....” desahnya. Mendadak saja helm yang menutupi kepalanya terbelah menjadi dua, lalu diikuti oleh baju perangnya. Ketika ia mengangkat lagi pedangnya, pedang itu hancur. Dan perisainya sudah terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil. Tubuhnya yang sedari tadi ditutupi oleh baju perang kini kehilangan pertahanannya. Titik-titik air hujan yang membasahi tubuhnya seolah jarum; setiap tetes air hujan yang menyentuh tubuhnya menyisakan setitik luka, yang langsung mengeluarkan darah.

Ia lalu berlutut, mengambil jasad Meria, mengangkat kepalanya. Kemudian Julian mencium Meria, dan seluruh tenaganya seolah dicabut. Ia terjatuh, jatuh di samping jasad Meria.

“Padahal... Kau punya aku yang selalu mencintaimu....”

Dan kata-kata itulah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Julian, kata-kata yang tak pernah sempat diucapkannya pada Meria ketika ia hidup.

Hujan turun semakin deras, membasahi tanah tempat penentuan hidup mati, tempat pertaruhan gengsi dan reputasi, dan tempat dimana kata-kata diungkapkan lewat pedang yang saling beradu, mendendangkan simfoni bergemuruh yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain. Dan bagi Julian maupun Meria, meski rasio mereka menggerakkan pedang untuk saling membunuh, keduanya mengerti bahwa setiap pedang mereka beradu, hati mereka mengucap satu kata yang sama: cinta.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Words Behind The Sword: End

    -cut- Kurang lebih satu scene itu... 10ribu huruf... minimal 700 kata, maksimal 2000 kata kurang lebih, ato ya terserah asal jgn panjang2 krn ini cuman satu scene. -cut-


Specification (ONLY the Story, w/o Titles):
Words --> 1.678
Characters --> 10.681 exceeding expectations XD
Characters (with Spaces) --> 12.271
Paragraphs --> 67
Lines --> 225

Source: Microsoft Office Word 2007’s Word Count
***secara gak mungkin lah ngitung sendiri, sori kalo kepanjangan***
« Last Edit: November 17, 2009, 10:31:23 AM by Vionne »
The Sancturs.
FS di sini.
FB di sini.

Offline kr1b0

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1365
  • Cookie: 42
Re: [BATTLE] Deskripsi dan Narasi
« Reply #6 on: January 05, 2009, 10:26:12 PM »
nambahin ah :D

Battle: Destiny of 2 Heroes

Suatu pagi yang cerah di dunia Shiltz,matahari bersinar terang,burung2 berkicauan,seperti biasanya.
Sementara itu,di area Colloseum, datanglah seorang knight,dengan armor merah membara,tubuhnya kekar,dan sedang duduk santai di dekat sebuah patung.

"Huf...kemana saja wanita itu,belum datang juga" gumamnya,sambil memandangi seisi colloseum,yang sepi,tidak ada seorangpun, hanya ada seekor Dragon kecil yang setia menemaninya.

1 jam pun berlalu.....

"Ho, ternyata kau datang lebih cepat dari yang kukira" kata seorang warrior wanita berambut panjang dan berwarna merah,mengenakan setelan baju berwarna putih dan bercorak merah dengan nada meremehkan.

"Nah...kurasa ini seperti perjanjian,bagaimana?Kita selesaikan sekarang?" kata knight itu

"Ayo,Julian...!!!" kata sang wanita sambil berlari mencoba menerjang knight bernama Julian itu.

Terjangan sang wanita ditahan oleh Julian dengan pedangnya yang berwarna merah dan bercorak petir.

"Kemampuanmu belum bertambah ya...Meria!" kata Julian dengan senyuman licik.

"Huh, seharusnya akulah yang berkata begitu" kata Meria, sambil mencoba menggerakkan pedangnya, dan membentuk sebuah gerakan combo

"10 Elim Turun ke Shiltz!!!" teriak Meria, namun combo itu dapat ditahan oleh perisai merah Julian

"Kau bilang itu berkembang?" Julian membalasnya,dengan lompatan yang cukup dahsyat untuk menghancurkan tubuh seorang wanita

"Deadly Cross!" teriaknya,disertai hancurnya sebagian dari patung knight yang berdiri di sebelahnya.

"Seranganmu cukup hebat...namun sepertinya armor itu membuatmu tak bisa menandingi kecepatanku" kata Meria sambil melompat menghindari serangan itu

"Haha,armorku memang sedikit menghambat gerakanku,tapi kau tau?" tanya Julian

"Tau apa?" tanya Meria balik penasaran dengan pertanyaan Julian

"Kecepatanmu...sungguh tidak ada apa - apanya.... MOVEMENT!" sekejap kecepatan Julian bertambah,dan ia mengejar Meria yang mencoba kabur darinya,namun terlambat,Julian sudah melompat terlebih dahulu......

Julian berhasil menggulingkan Meria, membuatnya rebah di tanah selama 10 menit.....

"Bagaimana? Menyerah?" tanya Julian sambil menodongkan pedangnya

Meria yang baru saja bangun terdiam....

"Kurasa sampai di sini saja..." kata Julian mencoba mematahkan mental Meria

Meria tetap terdiam.....

"Huh...Diam saja daritadi....Sudah kalau menyerah bilang saja..." kata Julian memaksa Meria untuk menyerah

Tiba2 saja Meria mengangkat ke-2 tangannya,seolah - olah ia telah menyerah kepada Julian

"Ho....Benar....Ternyata kau menyerah..." kata Julian

"Siapa bilang?" mendadak Meria bicara seperti itu,kontan Julian pun kaget

"Lalu apa tujuanmu mengangkat tangan???!!!" tanya Julian penasaran

"Tidak ada tujuan lain...selain mengalahkanmu!!!" Meria mendadak menyerang balik Julian,menjegal kakinya hingga terjatuh,lalu mencoba menusuknya dari belakang.

"Ugh...." desah Julian yang terkapar tak berdaya di tanah

"Sekarang kau yang menyerah?" tanya Meria

"Maaf saja.....Tidak ada kata menyerah dalam kamusku!!!" kata Julian sambil mengambil pedangnya,menggoreskannya ke pergelangan kaki Meria.

"Arghhh!!!!" teriak Meria kesakitan.

"Hahahahhahaha.....Kurasa memang sudah saatnya berhenti bermain - main" kata Julian

"Ya..Benar katamu....Ayo kita selesaikan sekarang!!" kata Meria sembari menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.

TANG TANG TANG TANG TING TANG TING TING TANG TANG!!!
Suara ke - 2 pedang yang sedang beradu nasib di tangan pemilik mereka.

"DOMINATE!!" Meria mengeluarkan gelombang dahsyat yang membuat perisai Julian retak seketika,membuat pertahanannya menurun drastis

"Uh....Infinite Guard!!" Julian meningkatkan pertahanannya untuk menutup kembali pertahanannya yang berkurang akibat perisainya retak.

"Armormu lemah!!!" kata Meria sambil mencoba menerjang kembali dengan serangan lain..."DEADLY SLASH" teriaknya sambil menggores tubuh Julian, namun ditahan oleh perisai Julian,dengan konsekuensi perisai Julian menjadi semakin parah, tidak ubahnya seperti gumpalan logam di tempat penghancuran mobil.....

"Ah....tidak bisa digunakan lagi....sial!!" gumam Julian sambil melempar pisaunya hingga hancur berkeping -keping.

"Tanpa perisaimu kau tidak bisa apa - apa kan?" kata Meria sambil menunjukkan tawa liciknya pada Julian

"Tapi tidak berarti kau sudah menang!" kata Julian.

Julian menancapkan pedangnya di tanah.....lalu melompatinya

"Rasakan ini!! HEAVENLY CROSS!!!!!" teriaknya sambil melompati pedangnya

Meria mencoba menghindar,namun percuma saja, tangan kirinyanya kali ini yang terkena luka parah akibat menahan serangan dahsyat itu

"Urgh.....!!!" teriak Meria sambil memegangi tangan kirinya yang terluka parah

"Memang lemah....Kau bilang armorku lemah.....tubuhmu lebih lemah!!!" kata Julian sambil meneruskan serangannya, kali ini ia melakukannya jarak dekat.

"Aarghhh!!!...." teriak Meria sambil menahan dengan pedangnya

TRANG!!!BLARR!!! Sebuah suara yang sangat keras keluar dari dentingan pedang keduanya. Pedang Meria terlempar,dan hancur berkeping2 akibat serangan dahsyat dari Julian

"Mengapa....Bagaimana bisa???" tanya Meria

"Huh...Tadi serangan Grand Swordku tepat mengenai pedangmu...Sepertinya sudah berakhir ya?" tanya Julian dengan matanya yang licik memandang Meria

"Uh....Tidak ada pilihan lain...Aku menyerah..." kata Meria sambil mengangkat ke - 2 tangannya yang sekarang berlumurah darah,semerah warna rambutnya, akibat serangan Grand Sword dari Julian,yang tepat mengenai seluruh tubuhnya

"Baiklah....Izinkan aku mengakhirinya...." kata Julian.

Julian menyabetkan pedangnya pada tubuh Meria,tepat mengenai jantungnya, Meria pun tergeletak tak bernyawa,dengan darah yang membasahi sekujur tubuhnya.

Air mata membasahi ke - 2 mata Julian,lalu mengalir, mengenai tubuh Meria yang berlumuran darah....Lalu ia membelai kepala Meria,meletakkannya

"Aku mencintaimu....Meria...." gumam Julian dengan pelan, lalu mencium dahi Meria yang sudah tak bernyawa itu....

"Aku juga mencintaimu...Julian..." kata sebuah suara yang tidak asing didengar oleh Julian....Benar...Itu adalah suara Meria....

Julian terkaget mendengar suara Meria,lalu ia hanya bisa terdiam...

"Meria....." katanya sambil memeluk tubuh Meria yang berlumuran darah itu....

Beberapa jam kemudian.....Julian berjalan menuju Hulu Sungai Glasis,dan menenggelamkan jasad Meria di situ....

"Tidurlah dengan tenang,sayang...." gumamnya pelan,disertai turunnya hujan deras dan air matanya yang seolah tidak mau berhenti mengalir.


=======================End=========================
buat seald-ers yg ngaskus :JGN KETIPU SAMA NICK kr1b0 DI KASKUS.. ITU BUKAN GW... NICK GW DI KASKUS Ch_Z. DAN BUAT YG MERASA PAKE NICK kr1b0 DI KASKUS, PM GW SEGERA!!!!!! THX