Author Topic: [Tips dan diskusi] Menulis prosa  (Read 16982 times)

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #10 on: April 26, 2009, 05:20:09 PM »
Quote from: "Haruaki"
DI sini boleh posting gak sih? Kalo gak delete aja yah, pihak2 yg berwajib....
Mo tanya, masih agak bingung soal spasi alinea yang bersangkutan sama dialog2 tokoh... ada bantuan?


boleh kok bertanya asal masih seputar menulis dkk ^^

nah tentang dialog antar tokoh ya...

Quote
"Menjadi Penulis Oleh Marion Van Horne"
Penulis menempatkan setiap pembicaraan dari setiap tokoh, berikut beserta gerak-gerik atau pernyataan yang menjelaskannya, dalam satu alenia yang terpisah.


jadi, satu tokoh - satu dialog - satu alenia. klo ada tokoh lain ikut menyambung di pembicaraan sebelumnya, maka dialog tokoh lain itu merupakan alenia baru.

untuk contoh... aku ambil dari tulisanmu ya haru  :mrgreen:
udah pernah aku bahas di sini viewtopic.php?f=28&t=10179&start=10#p278821

Quote from: "Haruaki"
Ia lalu berkata dengan jelas, “Inferno trickster, Sherryl.” Travis mencabut Sword of Holy Knight di pinggangnya dan mengangkatnya sebatas dada.
“Inferno paladin, Travis.”


kalimat di atas memperlihatkan ada dua dialog, satu sherryl dan satu lagi travis.
namun pemisahan alenia, haru lakukan hanya di bagian dialog travis saja. pada intinya tidak salah, hanya saja... bagian stlh dialog sherryl merupakan gerak-gerak dari travis, bukan sherryl, yg menurutku shrsnya disambung ke dialog travis.

krn itu aku membetulkannya jadi seperti ini:
Quote
Ia lalu berkata dengan jelas, “Inferno trickster, Sherryl.”
spasi alenia. well.. ga harus spasi jg sih, tapi untuk liatin ini dipisah.
(Sedangkan)Travis mencabut Sword of Holy Knight di pinggangnya dan mengangkatnya sebatas dada. “Inferno paladin, Travis.”


yang penting, pastikan dalam satu alenia/paragraf itu tidak ada dua orang/lebih tokoh yang berbicara. satu tokoh - satu dialog - satu alenia.
klo masih bingung, silakan tanya lagi. klo mo pk contoh jg silakan.
semoga membantu.
lurker on the move
bye bye forum~

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #11 on: June 20, 2009, 08:42:27 PM »
Kreatif Beraturan? Itu Bukannya Kontradiksi? (Tip Penulisan Dialog)
http://kedaipenulis.blogspot.com/2009/0 ... annya.html


Aturan umumnya memiliki dua fungsi: sebagai pengekang maupun sebagai konvensi. Dalam banyak hal, kedua fungsi ini terkait persepsi. Tergantung seseorang menyikapinya. Jika menganggap aturan sebagai sekedar kekangan, maka akan terkekanglah ia. Memang, ada beberapa aturan yang mau berpikir sepositif apapun tetap saja mengekang.

Aturan Nazi, contohnya, (Jika kamu bukan ras Arya, maka kamu inferior).

Namun, ada aturan lain yang bersifat sebagai pedoman menuju sistematis. Dan ini bermaksud baik. Misalnya, EYD berkaitan tanda baca. Aturan ini bermaksud membuat konvensi, sesuatu yang digunakan agar interpretasi pembaca sesuai dengan maksud penulis.

Saat membaca karya pop akhir-akhir ini, saya melihat banyak penulis yang melalaikan aturan tanda baca. Terutama berkaitan dialog. Dan ini cukup membingungkan karena, sebagai contoh, saya tidak bisa membedakan seorang karakter yang berteriak, "Kemarikan guci itu!!!!!!!!" dengan karakter lain yang membalas "TIDAK!!!" Apalagi saat karakter pertama membalas, "KENAPA tidak??!!!?!!"

Saya bingung karena tiga alasan:

1. Bagaimana membedakan teriakan dengan tiga tanda seru (apakah seperti lolongan serigala?) dengan delapan tanda seru (lolongan Celine Dion?)
2. Mana yang lebih keras; tiga tanda seru dengan huruf BESAR atau delapan tanda seru dengan huruf kecil?
3. Guci seperti apa yang bisa mendorong orang untuk memperebutkannya dengan gaya sinetron?

Dengan maksud berbagi dan berdiskusi (siapa tahu Anda ingin memberi masukan seperti "Menurutku lebih ke arah lolongan Celine Dion digigit serigala, Man"), saya menyampaikan beberapa poin penulisan dialog yang saya tahu di bawah ini.


Lima Poin Penulisan Dialog


1) Koma, titik, tanda seru, atau tanda baca berada dalam kurungan tanda kutip ("), bukan di luarnya.

Contoh benar:

"Kira-kira seperti ini," ujar si Raru.

Contoh salah:

"Bukan seperti ini toh.", si Siuk menggaruk-garuk kepala.


2) Jika sudah ada titik, koma, tanda seru, atau tanda baca dalam tanda kutip, jangan diberi tanda koma lagi.

Contoh benar:

"Seperti ini?" tanya si penyunting.

Contoh salah:

"Ngaco, yang bener itu yang ini!", ujar si pencinta koma.


3) Penulisan dialog terpisah yang dua-duanya menggunakan tanda koma hanya boleh jika dialog tersebut adalah kalimat tunggal.

Contoh benar:

"Siapa," si Matupang menoleh, "itu?"

Benar karena "Siapa itu?" adalah kalimat tunggal.

Catatan: dengan sendirinya, "itu" ditulis dengan huruf kecil, karena merupakan bagian kalimat.

Contoh salah:

"Siapa," lirik si Sikananjalan, "Bukan aku, kok!"

Salah karena kalimat aslinya adalah "Siapa? Bukan aku, kok!"


4) Untuk penggunaan tanda kutip yang tidak menyangkut dialog, tanda baca diletakkan setelah tanda kutip.

Contoh:

Di halaman depan tertera "Makalah Tanpa Judul".


5) Tidak boleh ada dua karakter berbicara pada paragraf yang sama. Jika A sudah selesai bicara dan diganti dengan B, maka harus menggunakan alinea baru.

Ini adalah konvensi yang berfungsi untuk menjelaskan siapa yang bicara. Jadi dalam beberapa kasus, walaupun penulis tidak memberikan deskripsi, bisa ketahuan.

Contoh:

Toni melempar penghapus pada Felix. Dengan lentur, penghapus karet tersebut membal dari jidat temannya.

"Apaan, sih!" bentak Felix.

"Nggak apa-apa. Kita lagi perlu contoh dialog."

"Pake cara lebih sopan dikit, nape!"

Toni terdiam. Ia mengambil penghapus karet yang terpental balik ke dekat kakinya. "Permisi," ujarnya, sebelum melontarkan penghapus yang sama pada jidat Felix.
« Last Edit: September 12, 2009, 10:29:39 AM by nizami »
lurker on the move
bye bye forum~

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #12 on: June 24, 2009, 04:19:28 PM »
MENGENAL TEKNIK PENULISAN CERPEN
Oleh: Habiburrahman El Shirazy*[/b]
http://r1d0aja.multiply.com/journal/item/173/cerpen

"Menulislah pada saat awal dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan Anda dengan pikiran.
Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan."
- William Forrester -



I. Pengertian Umum Cerpen

Sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen. Kalangan sasterawan memiliki rumusan yang tidak sama. H.B. Jassin –Sang Paus Sastra Indonesia- mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian. A. Bakar Hamid dalam tulisan "Pengertian Cerpen" berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan. Sedangkan Aoh. KH, mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut  kisahan prosa pendek. Dan masih banyak sastrawan yang merumuskan definisi cerpen. Rumusan-rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain. Hampir semuanya menyepakati pada satu kesimpulan bahwa cerita pendek atau yang biasa disingkat cerpen adalah cerita rekaan yang pendek.

Dari beberapa buku dan uraian yang layak dijadikan pedoman, tampaknya pendapat pakar cerita pendek dunia, Edgar Allan Poe, sangat cocok menjadi panduan- karena secara teoritis ia memenuhi kriteria ilmiah, tetapi secara praktis ia dapat diaplikasikan. Pendapat yang dirinci Muhammad Diponegoro dalam bukunya Yuk, Nulis Cerpen Yuk disederhanakan sebagai berikut:

Pertama, cerita pendek harus pendek. Seberapa pendeknya? Sebatas rampung baca sekali duduk menunggu bus atau kereta api, atau sambil antre karcis bioskop. Disamping itu ia juga harus memberi kesan secara terus-menerus hingga kalimat terakhir, berarti cerita pendek harus ketat, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem.

Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Menurut Poe ketunggalan pikiran dan aksi bisa dikembangkan lewat satu garis dari awal sampai akhir. Di dalam cerita pendek tak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.

Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu ekonomisasi kata dan kalimat – sebagai salah satu ketrampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.

Keempat, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu ketrampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.

Kelima, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung berhenti di situ.

Rumusan Poe inilah –saya sepakat dengan Korrie Layun Rampan- sesungguhnya yang cukup bisa mewakili pengertian cerita pendek secara umum.


II. Karakteristik  Cerpen

Gambaran umum karakteristik cerpen bisa ditangkap dalam rumusan Edgar Alan Poe, di atas. Untuk mempertegas perbedaan cerpen dengan novel, Ismail Marahimin, dalam Menulis Secara Populer menjelaskan bahwa cerpen memang harus pendek dan singkat. Sedangkan cerita rekaan yang panjang adalah novel. Apa ukuran panjang-pendek suatu cerpen itu? Jumlah halamannyakah? Jumlah kata-katanyakah? Menjawab hal ini, rumusan Poe cukup menjelaskan. Meskipun ada yang berpendapat jumlah katanya tidak lebih dari 10.000 kata (The Liang Gie). Ada yang membatasi jumlah katanya antara 500 – 30.000 kata (Helvy Tiana Rosa).

Yang jelas, karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.

Karena pendeknya, kita biasanya tidaklah menemukan adanya perkembangan di dalam cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan-kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Peristiwanya singkat saja. Kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh, pun tidak berkembang, dan kita tidak menyaksikan adanya perubahan nasib tokoh, atau tokoh-tokoh ini ketika cerita berakhir. Dan ketika konfik yang satu itu terselesaikan, kita tidak pula tahu bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh, atau tokoh-tokoh, cerita itu.

Dan karena jumlah tokoh terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, maka –diatara karakteristik cerpen- tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.

Perlu ditegaskan bahwa cerpen bukan penggalan sebuah novel. BUKAN PULA sebuah novel yang dipersingkat. Cerpen itu adalah sebuah cerita rekaan yang lengkap: tidak ada, tidak perlu, dan harus tidak ada tambahan lain. Cerpen adalah sebuah genre atau jenis, yang berbeda dengan novel.

Namun demikian, sebuah cerpen meskipun singkat tetap harus mempunyai tikaian dramatik, atau dalam bahasa The Liang Gie konflik dramatik, yaitu perbenturan kekuatan yang berlawanan. Baik benturan itu terlihat nyata ataupun tersamarkan. Sebab inilah inti suatu cerpen.


III. Unsur-Unsur  Dalam  Sebuah Cerpen

1. Tema
Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.

Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.

Secara tradisional, tema itu bisa dijelaskan dengan kalimat sederhana, seperti: 1. Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan. 2. Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka. 3. Cinta adalah energi kehidupan, karena itu cinta dapat mengatasi segala kesulitan. Dan lain sebagainya.

Cerpen yang baik dan besar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun, selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Misalnya cerpen “Salju Kapas Putih” karya Satyagraha Hoerip. Cerpen ini melukiskan pengalaman “aku” di negeri asing dengan baik sekali, tetapi secara tajam cerpen ini menyorot masalah moral. Tokoh “aku” dapat bertahan dari godaan berbuat serong karena pertimbangan moral.

2. Alur atau Plot
Yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu.  Banyak anggapan keliru mengenai plot. Sementara orang menganggap plot adalah jalan cerita. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu.  Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.

Atau, secara lebih gamblang plot adalah –menurut Aswendo Atmowiloto-  sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.

Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerita pendek harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Sehingga Jakob Sumardjo dalam Seluk-beluk Cerita Pendek menjelaskan tentang plot dengan mengatakan, “Contoh populer menerangkan arti plot adalah begini: Raja mati. Itu disebut jalan cerita. Tetapi raja mati karena sakit hati, adalah plot.”

Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami. Adapun jenis plot bisa disederhanakan menjadi tiga jenis, yaitu:

   1. Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Contohnya: cerpen-cerpen Anton Chekov, pengarang Rusia legendaris, cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam Laki-laki dan Mesiu, cerpen-cerpen Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulannya Kejantanan di Sumbing.
   2. Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus tergiang di telinga pembaca. Contoh, cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam, cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob, dan hampir semua cerpen Guy de Maupassant, pengarang Perancis menggunakan plot berbisik.
   3. Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut. Contoh: cerpen Krawang-Bekasi milik Gerson Poyk, cerpen Bulan Mati karya R. Siyaranamual, dan cerpen Putu Wijaya berjudul Topeng bisa dimasukkan di sini.

Adapun jika kita melihat sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka, plot tertutup dan cempuran keduanya. Jadi sifat plot ada kalanya:

    * Terbuka. Jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita, di samping masalah dasar persoalan.
    * Tertutup. Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Contoh Godlobnya Danarto.
    * Campuran keduanya.

3. Penokohan
Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita.  Tokoh  harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan, yang didalamnya ada perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.

Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir  (rupa, bentuk) dan sifat batin  (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:

   1. Tindakan, ucapan dan pikirannya
   2. Tempat tokoh tersebut berada
   3. Benda-benda di sekitar tokoh
   4. Kesan tokoh lain terhadap dirinya
   5. Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang

4. Latar atau Setting
yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang  dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot cerita, karena latar harus bersatu dengan teman dan plot untuk menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas. Kalau latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan tema dan plot. Cerpen saya, Bayi-bayi Tertawa yang mengambil setting khas Palestina, dengan watak, budaya, emosi, kondisi geografi yang sangat khas Palestina tentu akan menjadi lucu jika settingnya dipindah di Ponorogo. Jelas bahwa setting akan sangat menentukan watak dan karakter tokoh.

5. Sudut Pandangan Tokoh
Diantara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adlaah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.

Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

   1. Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
   2. Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
   3. Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.
   4. Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.


IV. Anatomi Cerita Pendek

Setelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya anda mengetahui anatomi cerpen atau bisa juga disebut struktur cerita. Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut:

   1. Situasi (pengarang membuka cerita)
   2. Peristiwa-peristiwa terjadi
   3. Peristiwa-peristiwa memuncak
   4. Klimaks
   5. Anti Klimaks

Atau, komposisi cerpen, sebagaimana ditandaskan H.B.Jassin dapat dikatakan sebagai berikut:

   1. Perkenalan
   2. Pertikaian
   3. Penyelesaian

Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini. Helvy Tiana Rosa selama menjadi pimred Annida dan melihat kelemahan mereka itu dan berkomentar,

“Cerpenis-cerpenis pemula biasanya kurang memperhatikan proporsionalitas struktur cerita. Banyak di antara mereka yang berpanjang-panjang ria dalam menulis pembukaan cerpennya. Mereka menceritakan semua, seolah takut para pembaca tak mengerti apa yang akan atau sedang mereka ceritakan.  Akibatnya sering satu sampai dua halaman pertama karya mereka masih belum jelas akan menceritakan tentang apa. Hanya pengenalan dan pemaparan yang bertele-tele dan membosankan. Konflik yang seharusnya dibahas dengan lebih jelas, luas dan lengkap, sering malah disinggung sambil lalu saja. Pengakhiran konflik pun dibuat sekedarnya. Tahu-tahu sudah penyelesaian. Padahal inti dari cerpen adalah konflik itu sendiri. Jadi jangan sampai pembukaan cerpen menyamai apalagi sampai menelan konflik tersebut.”


V. Agar Sebuah Cerpen Memiliki Daya Pikat

Agar cerpen ada memikat pembaca, trik-trik berikut ini bisa dipertimbangkan baik-baik:

   1. Carilah ide cerita yang menarik dan tidak klise. Mengulang ide cerita semisal “Bawang Merah dan Bawang Putih” adalah pilihan yang kurang tepat, karena akan tampak sangat klise dan menjadi tidak menarik pembaca.
   2. Buatlah lead, paragraf awal dan kalimat penutup cerita yang semenarik mungkin. Alinea awal dan alinea akhir sangat mementukan keberhasilan sebuah cerpen. Alinea awal berfungsi menggiring pembaca untuk menelusuri dan masuk dalam cerita yang dibacanya. Sedangkan kalimat akhir adalah kunci kesan yang disampaikan pengarang. Kunci kesan ini sangat penting, karena cerpen yang memberikan kesan yang mendalam di hati pembacanya, akan selalu dikenang.
   3. Buat judul cerita yang bagus dan menarik. Sebagaimana buku, cerita yang bagus tidak semuanya dibaca orang. Salah satu penyebabnya adalah kalimat pembuka yang buruk dan judul yang mati, tidak menggugah rasa ingin tahu pembacanya. M. Fauzil Adhim dalam bukunya Dunia Kata menjelaskan beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan dalam menulis judul; Pertama, judul sebaiknya singkat dan mudah diingat. Kedua, judul harus mudah diucapkan. Dan yang ketiga, kuat maknanya.
   4. Perhatikan teknik penceritaan. Teknik yang digunakan pengarang  menyangkut penokohan, penyusunan konflik. pembangunan tegangan dan penyajian cerita secara utuh.  Jangan sampai pembaca sudah jenuh di awal cerita. Untuk menghindari kejenuhan pembaca di awal cerita bisa kita gunakan teknik:
          * in medias res (memulai cerita dari tengah)
          * flash back  (sorot balik, penyelaan kronologis)
      Anton Chekov menyarankan : “Lipat dualah halaman pertama cerpenmu, lalu robek dua dan buang sobekan yang sebelah atas.”
   5. Buatlah suspense, kejutan-kejutan yang muncul tiba-tiba (bedakan dengan faktor kebetulan), jangan terjebak pada cerita yang bertele-tele dan    mudah ditebak.
   6. Cerpen harus mengandung kebenaran, keterharuan dan keindahan. Elizabeth Jolley, mengatakan, “Saya berhati-hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu.” Gabriel Garcia Marquez, sastrawan besar dari Kolumbia yang meraih novel itu berkata, “Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi, padahal tidak satu pun baris dalam semua karya saya yang tidak berpijak pada kenyataan.”
   7. Ingat bahwa setiap pengarang mempunyai gaya khas. Pakailah gaya sendiri, jangan meniru. Gunakan bahasa yang komunikatif. Hindari gaya berlebihan dan kata-kata yang terlalu muluk.
   8. Perhatikan setiap tanda baca dan aturan berbahasa yang baik, tetapi tetap tidak kaku. Jangan bosan untuk membaca dan mengedit ulang cerpen yang telah anda selesaikan.

Akhirnya, saat Anda berniat menggoreskan pena menulis cerpen ingatlah pesan J.K. Rowling, siapa tahu ada manfaatnya, Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu. Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.  Lalu saat menulis cerpen ingat pesan Edgar Allan Poe, agar cerpenmu berbobot, Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.

Selamat menulis cerpen!
« Last Edit: September 12, 2009, 10:30:29 AM by nizami »
lurker on the move
bye bye forum~

Offline Place

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 177
  • Cookie: 44
    • http://www.IndHoty.blogspot.com
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #13 on: June 30, 2009, 01:18:49 PM »
apakah tidak boleh menulis naskah tipe dialog dalam karya berbentuk novel?
jika memang tidak boleh....wah gawat novelku....
Give your best shoot to me...
So you don't want to feel my tragic shoot..
In my Vocabulary...
MISS is not on my list...

Offline Vionne

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1160
  • Cookie: 51
  • The Searing Arrowflight of Quel'thalas
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #14 on: June 30, 2009, 02:04:27 PM »
sejauh ini tidak pernah saia mendengar novel berformat dialog, jadi kenyataan bahwa apa yang kamu tulis itu novel itu salah. bisa dibilang itu cerpen bersambung.  :lol:
"Everybody loves being bad. I'll be the good one. For you!" *chuckles*
Zalmaral Noctivenum

Offline nizami

  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1136
  • Cookie: 54
  • i am back being just a lurker...
    • Travelers of Destiny, a Seal Online fanfiction
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #15 on: June 30, 2009, 04:51:48 PM »
@place
Masalah anda seperti yg telah disebutkan oleh vionne.
Tulisan anda itu bukan novel, tapi hanya cerita bersambung dengan menggunakan format skenario drama, yang sayangnya sangat berantakan, hingga saya sangat enggan untuk mengomentarinya.

Tata bahasa menulisnya saja masih sangat buruk... sudah ada orang yang berbaik hati mengingatkan anda akan tulisan tersebut, tapi kenyataannya anda sama sekali tidak merubah tulisan anda.

Saya ragu untuk membimbing anda, jika aturan EYD dan tata cara menulis yang baik dan benar saja tidak belum anda pahami hingga sekarang. Dan saya yakin 100% anda belum membaca semua isi topik ini dengan benar dan memahaminya dengan baik.
Karena klo hanya dibaca tanpa memahaminya, maka pada prakteknya pun dapat terlihat pada tulisan anda yang berantakan, di mana pun anda post di dalam forum ini.
lurker on the move
bye bye forum~

Offline ihsan

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 165
  • Cookie: 47
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #16 on: July 12, 2009, 06:32:01 PM »
@place
Masalah anda seperti yg telah disebutkan oleh vionne.
Tulisan anda itu bukan novel, tapi hanya cerita bersambung dengan menggunakan format skenario drama, yang sayangnya sangat berantakan, hingga saya sangat enggan untuk mengomentarinya.

Tata bahasa menulisnya saja masih sangat buruk... sudah ada orang yang berbaik hati mengingatkan anda akan tulisan tersebut, tapi kenyataannya anda sama sekali tidak merubah tulisan anda.

Saya ragu untuk membimbing anda, jika aturan EYD dan tata cara menulis yang baik dan benar saja tidak belum anda pahami hingga sekarang. Dan saya yakin 100% anda belum membaca semua isi topik ini dengan benar dan memahaminya dengan baik.
Karena klo hanya dibaca tanpa memahaminya, maka pada prakteknya pun dapat terlihat pada tulisan anda yang berantakan, di mana pun anda post di dalam forum ini.

setuju
aku juga udah bilang, gapapa kalo mo nulis dalam format dialog toh, meskipun jujur aja aku ngga terlalu suka, tapi yang penting rapi dan enak diliat,

tapi ini mah udah formatnya begitu, tulisannya berantakan, acakadut, dikomentarin kaga digubris, yaa...

 :o
The Sancturs.
FS di sini.
FB di sini.

Offline stadivarious

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 826
  • Cookie: 45
  • Dragonica!
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #17 on: December 16, 2009, 09:25:32 AM »
ehm maaf, ini saya punya masalah tentang penulisan tanda baca, apalagi yang kata-kata mengandung kata "ya" sama "nama"
Quote
"Kamu menantangku ya Dito?"
yang benar gimana, ya?
apa:
"Kamu menantangku, ya, dito?"
"Kamu menantangku ya, Dito?"
"Dito, Kamu menantangku, ya?"
"Kamu menantangku ya, To?"
atau gimana lagi ya? *pusing*

saya agak pusing sama masalah ini X( tolong pencerahanya.
makasih :D
Dragonica Online
Sylvier (Warrior - Gladiator - Myrmidon - Destroyer)

Offline Vionne

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1160
  • Cookie: 51
  • The Searing Arrowflight of Quel'thalas
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #18 on: December 16, 2009, 04:37:18 PM »
kalo gw sih prefer yg
Quote
"Kamu menantangku ya, Dito?"
"Dito, Kamu menantangku, ya?"

yg di bold, gw sendiri masih ga gitu yakin :D
"Everybody loves being bad. I'll be the good one. For you!" *chuckles*
Zalmaral Noctivenum

Offline sacchan_magician

  • Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5843
  • Cookie: 62
  • YKS!
Re: [Tips dan diskusi] Menulis prosa
« Reply #19 on: December 16, 2009, 04:40:51 PM »
hum...klo setauku sih...itu tergantung penekanan katanya...
kykny sih smuanya bner...cm tekanannya kan beda2...cb aja dibaca deh, klo pke koma kan jadinya kata sebelum koma dibacanya lebih 'nekan' gt...

tp pada umumnya...klo dah ada 1 tpt yg diberi penekanan, tpt lain ga diaksih jg...jadinya...
"Dito, Kamu menantangku, ya?" <--koma yg belakang diilangin...klo ga diilangin...yah...cb baca aja pke intonasi..berasa aneh ga?

ini jg...
"Kamu menantangku, ya, dito?" <--kalo diberi penekanan di 2 tempat apa ga janggal bacanya?

tp sbnernya mw dikasi penekana di mana jg bener kok...tergantung di writer aja, mw nonjolin kata apa^^
klo msi bingung jg, cb deh itu tulisan dibaca pke intonasi...bakal kerasa cocok dan ngga nya kok :sing:
Contacts Line only
srsly, you can find me there

[ IdECO - Sachiko | Mirenne ] | [ JpECO - 菜の花幸子 - Zinnia ] | [ Els - Okiku ] | Granblue Fantasy

Cherry blossom petals falling from the sky...down to the pure white earth, falling with the pure white snow...