Author Topic: [Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-  (Read 2269 times)

Offline Vionne

  • Elder
  • Apprentice of Words
  • *
  • Posts: 1160
  • Cookie: 51
  • The Searing Arrowflight of Quel'thalas
[Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-
« on: March 12, 2009, 07:28:08 AM »
Battle thread untuk soal ke-2, setelah di revisi ulang.

Baca Rules

Soal akan dibuka mulai tanggal 13 November 2008. Deadline mungkin lbh dari 2 minggu, tergantung kondisi dan request dari partisipan.

SOAL 2
Setting:
Hutan Cross, Hanaiel's Throne.

Adegan:
Pertarungan melawan boss [Hanaiel].

Kriteria:
Party :
- Shane[M], Knight
- Ortarius[M], Cleric
- Vionne[F], Mage (Fire)
- Virrie[F], Clown
- Kalrathia[F], Warrior
- Arazna[F], Craftman

 *Keterangan : M = Male/Pria ; F = Female/Wanita

Kemampuan karakter (level, status, skill [pengecualian elemen mage, telah ditentukan], equip) bebas.

untuk karakter masing-masing, diberi kebebasan menentukan karakternya, tapi harus nampak adanya karakterisasi dari tiap karakter. jadi ga asal bag big bug.

Kondisi awal:
Party sedang menjalankan main quest.

Kondisi akhir:
Tidak ditentukan (berakhir dgn misi gagal/berhasil, atau lainnya)

====

Selamat berkreasi.

Topik ini isinya hanya soal dan cerita dari partisipan.
Topik untuk komentar atau pertanyaan lbh lanjut mengenai soal silakan post di sini.
"Everybody loves being bad. I'll be the good one. For you!" *chuckles*
Zalmaral Noctivenum

Offline milkteddy

  • Rune Guardian
  • Lord of Wisdom
  • *
  • Posts: 5878
  • Cookie: 63
Re: [Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-
« Reply #1 on: March 12, 2009, 03:34:27 PM »
nyoba posting ah~~


===============================================================================
Vionne menyeka air hujan yang jatuh ke pelipisnya. Hari itu seharusnya menjadi hari yang cerah seperti ramalan Shina yang mereka temui tadi pagi-pagi sekali. Rupanya peruntungan Shina kali ini meleset.

“Sial. Kalau hujan begini, mantra api ku tidak akan mempan,” gerutu Vionne sambil mengusap-usap Raziel Staff yang dipegangnya, berusaha menjaga tongkat kesayangannya itu agar tetap kering.

“Jangan pesimis, hujan tidak akan menghambat misi kita. Benarkan Virrie?” timpal Ortarius dengan suara yang agak dibuat-buat. Bocah itu mengambil Bah Bah Stick dari sakunya, membuat gerakan yang selucu mungkin dengan kayu tersebut agar Vionne tertawa melihatnya. Tetapi usaha cleric itu tampaknya gagal karena perempuan penggerutu itu tetap saja cemberut.

“Stt.. diam kalian! Jangan banyak menimbulkan suara dan gerakan. Ingat, kita sudah di dalam Hanaiel's Throne.” ujar Virrie yang berdiri tepat di depan Ortarius, berbalik dan mengacungkan Spike Dagger ke arah mereka berdua.

Di saat yang sama, di sudut yang lain, Shane sedang sibuk berdiskusi dengan Kalrathia. Perisainya berderak-derak berbenturan dengan pedang sebesar batang pohon cemara disampingnya karena angin yang sangat kencang tiba-tiba menerpa mereka.

“Pegang erat-erat Great Sword mu Kalrathia. Jangan sampai angin menebas kepalaku karena kecerobohanmu.” kata Shane melirik was-was.

“Oh, maafkan aku,” ucap Kalrathia. Ia bergeser sedikit mengambil cukup ruang untuk membungkuk dan memastikan bahwa pedangnya tetap pada posisi yang aman dan mudah dijangkau.

Tiba-tiba, terdengar suara teriakan Arazna membahana ke seluruh ruangan, “Kalrathia, awas!”
Belum sempat perempuan berbaju putih dengan bordir merah itu menoleh, sesuatu menghantam wajahnya dengan sangat keras. Buk. Sekali lagi. Buk. Dan terus memukul. Buk. Buk. Buk.

“Ortarius! Shane!” jerit Arazna.

Dengan sigap, Shane segera menghalau budak-budak Hanaiel bersayap merah tersebut sementara Ortarius menghampiri Kalrathia.
“Kalrathia, kau dengar aku?” tanya cleric tersebut sambil mengguncang-guncang tubuh Kalrathia.

“Ya,” jawab Kalrathia lemah.

“Aku akan menyembuhkan mu. Cure!” lanjut Ortarius. Baju jingganya tersibak saat mengangkat lengan nya tinggi-tinggi. Cahaya suci yang berkilauan muncul dari tangannya.

“Cepatlah, jangan buang-buang waktu. Aku tidak bisa menahan semua monster ini sepanjang hari.” sela Shane.

Lantas, Vionne dan Virrie bergegas menuju ke tempat masing-masing yang telah Arazna rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

“Siap?” tanya Vionne tanpa menoleh kepada Virrie.

Mage itu mendongak keatas, melihat target yang mereka tuju. Seekor dewa perang berwarna merah dengan sayap yang begitu anggun. Tidak gentar karena melihat ukuran nya yang sangat besar, Vionne memusatkan pikirannya lalu melantunkan rapalan-rapalan mantra rumit yang hanya diketahui oleh nya seorang.

“Meteor!”

Gumpalan batu api besar tiba-tiba menghujam Hanaiel bertubi-tubi. Pandangannya kabur karena cahayanya sangat menyilaukan, dapat membuat siapa saja yang melihatnya buta seketika. Untung saja, para gadis tersebut sudah mendapat perlindungan Vinagh dari Ortarius sehingga sesuatu yang seperti itu tidak berarti apa-apa.

Saat Hanaiel mendapatkan konsentrasinya kembali, Virrie melompat keatas dan melempar daggernya dengan kecepatan yang luar biasa.

“Dual Jumping Dagger!”

“Mega Fire Strike!”

Kombinasi kedua skill itu membuat Hanaiel mengerang dan melontarkan laser biru-merah, sanggup melukai musuh-musuh di sekitarnya dalam jarak radius 10 meter.

“Argh,” teriak Virrie dan Vionne bersamaan. Badan mereka terhempas jatuh ke tanah berbatu dengan sangat keras. Belum sempat mereka berdiri mengambil kuda-kuda, Hanaiel sudah siap menembakkan lasernya yang kedua.

“Blar!”

Perempuan-perempuan itu lagi-lagi terlempar ke tanah. Tapi kali ini Vionne tidak beruntung. Kepalanya terbentur batu kristal tajam yang tertanam kokoh di dekat Hanaiel berdiri.

“Vionne!” raung Virrie, segera menyambar kembarannya itu dan darah merembes ke bajunya ketika ia menyandarkan kepala Vionne ke bahunya.

“Bertahanlah,” isaknya.

Badan Hanaiel kembali menyala, tanda bahwa monster itu telah selesai mengisi kekuatannya.

“Dewa, tolong lindungi kami.” gumam Virrie, menutup mata dan mendekap adiknya dengan sepenuh hati. Pasrah.

“Trang!”

Terdengar bunyi logam beradu dengan logam. Virrie menoleh dan melihat Kalrathia menusuk rusuk atas Hanaiel, senyum mengembang di wajahnya.

“Kalrathia!”

“Serahkan dia padaku.” Ucap warrior itu dengan penuh percaya diri, mengayunkan pedangnya membentuk gerakan untuk memulai rentetan kombo 12 Elim.

Satu, dua, tiga, tampaknya tidak ada kesulitan baginya untuk menggerakkan pedang raksasanya. Empat, lima, enam, tiba-tiba Hanaiel mengeluarkan lolongan yang menyayat telinga dan dengan satu gerakan, ia berusaha menangkap Kalrathia dengan tangannya yang besar. Rok putih Kalrathia berkibar saat perempuan itu melompat menghindari tangan Hanaiel.

“Trang!” kali ini ia mencoba melumpuhkan kaki kiri Hanaiel. Lolongan itu kemudian terdengar lagi berikut disertai laser merah-biru.

“Blar!”

Kalrathia terlambat untuk menghindar. Ia terjerembab, wajahnya mencium tanah yang basah oleh darah segar milik Vionne. Menyeka wajahnya, bangkit dan menyadari bahwa senjatanya kini tidak lagi bersamanya.

“Bagus. Sekarang aku tidak punya senjata.” dengusnya menyesali Great Mega Swordnya tertancap dalam di betis kiri makhluk di hadapannya.

Otaknya sibuk mencari-cari akal bagaimana caranya mengalahkan Hanaiel sekarang. Perhatiannya tersita sehingga ia tidak menyadari Hanaiel akan mengeluarkan lasernya untuk yang kesekian kalinya.

“Awas!” Ada seseorang yang mendorong Kalrathia.

“Shane!”

Pria berpakaian zirah berwarna merah itu menangkis serangan Hanaiel dengan perisainya. Wajahnya berkedut, keringat mulai bermunculan dari balik helmnya. Badannya bergetar menahan kuatnya tekanan di balik tamengnya.

“Orion Shield ini tidak akan bertahan lama.” bisiknya.

“Kalrathia!” panggil Virrie seraya menunjuk Arazna yang menggantikan Shane menangani malaikat-malaikat bersayap merah di dampingI oleh Ortarius. Pukulan palu Arazna berdetak seirama dengan degup jantung Kalrathia.

“Ada apa? Apakah aku harus membantu Arazna?”

Virrie menggeleng. Yang dimaksudkan oleh clown tersebut bukanlah Arazna melainkan Ortarius.

“Ortarius? Apa maksud…” kata-kata Kalrathia tidak dilanjutkan karena ia telah memecahkan teka-teki itu.

“Ortarius! Lemparkan Bah Bah Stick mu!”

“Ha? Apakah harus saat ini juga?” tanya Ortarius tidak percaya. Kebimbangan langsung membanjiri otaknya.

“Jika aku melemparkan kayu ini, maka semuanya akan berakhir, tapi aku dan Arazna akan mati. Tidak, kami semua akan mati jika tidak kuserahkan tongkat ini.” batinnya.

Setelah memantapkan hati, cleric tersebut berlari dan melemparkan Bah Bah Stick miliknya.

“Terima ini!”

“Sekarang!” seru Shane.

Kalrathia menangkapnya dan tanpa berkata sepatah kata langsung melompat ke kaki kanan Hanaiel, menjadikannya tempat berpijak. Ia meraih bahu kanan monster itu, bergelantungan di lehernya dan menusuk mata kiri Hanaiel dengan Bah Bah Stick.

“Rasakan ini!”

Lolongan Hanaiel lagi-lagi terdengar, kali ini terasa sungguh menyakitkan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasakan betul kesakitan monster itu. Setelah detik-detik yang menegangkan, Hanaiel berlutut, merobohkan diri dan semuanya berakhir.

Warrior perempuan itu mencabut pedangnya dari tubuh Hanaiel, mengangkatnya tinggi-tinggi. Perasaan bahagia berkelebat di benaknya. Rasa bangga dan haru akan kepastian masa depannya.

“Sekarang aku menjadi seorang Veteran, seorang yang disegani. Ayah pasti akan bangga kepadaku. Semuanya telah berakhir. TELAH BERAKHIR!”



Tidak, belum.

Kalrathia menoleh, melihat Shane yang terkapar di sampingnya.

“Shane!”

Ia mengguncang-guncang tubuh knight itu berharap merasakan detak jantungnya. Ekspresi ngeri langsung terpatri di wajah Kalrathia.

“Ortarius! Shane ter…” ia tercekat, matanya terbelalak. Pemandangan di hadapannya lebih mengerikan lagi. Tanpa disadari, Kalrathia menitikkan air mata. Ia menyaksikan seorang craftman dan seorang cleric tergeletak dikelilingi oleh malaikat-malaikat bersayap merah. Di lihat dari kejauhan pun, siapa saja pasti tahu bahwa mereka sudah tidak bernyawa.

“Ketika Ortarius melemparkan Bah Bah Stick, maka ia menghentikan proses healing Arazna dan dirinya.” sahut suara yang sangat dikenalnya.

“Virrie, mengapa kau tidak memberi tahu ku sebelumnya?”

“Kau bilang pada kami, kau ingin menjadi seorang Veteran yang disegani orang-orang. Kami pernah berhutang budi padamu sebelumnya, Kalrathia. Apa kau lupa?”

“Apalah arti sebuah nama jika kau harus mengorbankan sahabat-sahabatmu untuk memperolehnya. Apalah artinya jika aku menjadi seorang Veteran tanpa ditemani oleh orang-orang yang kupercaya.”

Perempuan berbaju putih berbordir merah itu berdiri, mengambil pedang kesayangannya, berjalan meninggalkan clown beserta kembarannya yang tidak akan pernah terbangun di dekapannya.
« Last Edit: November 17, 2009, 10:33:02 AM by Vionne »

Offline kr1b0

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1365
  • Cookie: 42
Re: [Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-
« Reply #2 on: March 13, 2009, 11:24:17 PM »
Nyobaaa :D


==============================================================================
"Fu fu fu... Jadi mau apa kalian ke sini?" tanya Hanaiel sambil tertawa licik.

"Tentu saja... Untuk membunuhmu !!" teriak Shane sambil menghunuskan pedangnya ke arah Hanaiel.

"Maaf, masih terlalu pagi!" jawab Hanaiel. Tiba - tiba sekeliling mereka muncul puluhan makhluk yang sebelas duabelas dengan Mariel-Gariel, namun sayap mereka merah, semerah darah.

"Siapa mereka?" teriak Virrie yang panik seketika.

"Hamariel, Hagariel, serang mereka!!" perintah Hanaiel.

"Ha...Hamariel??!!" wajah Virrie bertambah panik melihat sekelompok makhluk bersayap merah itu menerjang ke arahnya, namun berhasil dihalau oleh Shane.

"Virrie! Hati - hati! Biar aku yang hadapi mereka! Kau serang saja Hanaiel itu!" teriak Shane.

"I..Iya!!" jawab Virrie pelan. Ia pun melemparkan beratus - ratus Dart, namun...

"Huh... Gatal sekali.. Kurasa aku harus mandi." Hanaiel mencabut seluruh dart yang mengenai tangannya, lalu melemparkannya kembali, namun dengan tambahan, aura merah yang meningkatkan kecepatan seluruh dart itu - lebih cepat dari kilat sekalipun, nyaris mengenai Virrie, namun ditahan oleh Kalrathia, dengan pedang besarnya.

"Hati - hatilah, dia berbahaya." ucap Kalrathia pelan. Gadis berambut pirang itu menerjang ke arah Hanaiel, namun sia - sia... Hanaiel menahan pedang hitam bercorak api itu hanya dengan 2 jarinya.

"Kurasa kau perlu banyak berlatih sayang..." seketika itu Hanaiel melemparkan gadis itu, hingga menghancurkan tiang pilar ruangan itu.

"Ka...Kalrathia!!" teriak Shane yang masih menahan serangan dari Hagariel dan Hamariel itu. Kehilangan kendali karena tidak melihat depannya, pedang Shane terlempar, terkena tendangan dari seekor Hagariel.

"Hei..Hei..Hei... Hati - hatilah dengan benda tajam." Ortarius mengambil pedang berwarna merah itu, lalu melemparkannya ke arah Shane, tetapi karena kecerobohannya, pedang itu malah mengenai armor kuningnya. Shane pun kehilangan kendali lantaran armornya tergores sangat dalam, lalu ikut terlempar mengenai tubuh Vionne.

"Kyaaaa!!!" jerit Vionne. Gadis berambut hitam itu tersungkur.

"Uh... Sial kau Ortarius!! Ini semua gara - gara kau!!!" Shane mulai terbakar amarah, dan menyalah - nyalahkan Ortarius.

"Bodoh!!! Siapa suruh kau tidak memperhatikan depanmu!!??" Ortarius pun panas, dan membalas Shane.

"Hei Shane!! Kau pikir siapa yang kau tindih hah??!!" omel Vionne.

"Kalau bukan karena Ortarius.... Ini semua tak akan terjadi!!" Shane berdiri melepaskan Vionne dari tindihannya.

"Siapa suruh jadi orang bodoh??!! Otakmu dimana hah??!!" balas Ortarius yang semakin terbakar.

"Kau...." Shane mulai tidak sabar, menghampiri Ortarius, dan menggenggam kerah bajunya.

"Sudah! Kalian pikir tujuan utama kita ke sini mau apa hah? Cuma untuk bertengkar karena masalah  sepele ini???" Virrie pun ikut - ikutan emosi melihat kedua kawannya bertengkar.

"Tak usah ikut campur kau, atau minta kubunuh sekalian??" Shane semakin menjadi - jadi karena Virrie. Virrie yang emosi, mengambil pedang Shane, lalu mematahkannya.

"Apa yang kau lakukan??!!" teriak Shane.

"Maaf... Terpaksa kulakukan." ucap Virrie.

"Urgh..." Shane dan Ortarius diam seribu bahasa.

"Sudah selesai? Aku mulai mengantuk... Belum tidur siang..." Hanaiel berkata dengan santai.

"Tak usah menambah - nambahi!!" Shane ikut marah kepada Hanaiel.

"Oh... Jadi itu maumu? Baiklah..." Hanaiel pun memerintahkan seluruh Hamariel dan Hagariel untuk menyerang, namun pasukan bersayap merah itu menyerang Vionne, Kalrathia, dan Arazna.

"Uh... Badanku...." Kalrathia merintih kesakitan. Namun ia berusaha menahan seluruh serangan ke arahnya.

"Shane! Virrie! Ortarius! Apa yang kalian lakukan???" teriak Arazna yang berusaha menahan seluruh serangan itu.

"Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah!" teriak Vionne menambahi.

"Percuma, Shane keras kepala." tambah Kalrathia pelan.

"Lalu maksudmu membiarkan mereka terus bertengkar?" Arazna menimpali.

"Tidak... Tapi..." Kalrathia panik, tiba - tiba seekor Hagariel menendangnya dari belakang, dan gadis muda itu pingsan.

"Kal...!!!" Vionne pun memancing mereka ke arahnya dengan sihir api yang mengenai seluruh pasukan itu.

"Vionne! Awas!!!" teriak Arazna mengingatkan. Di belakang Vionne, beberapa dari mereka siap menghalau.

"Ah!!!" teriak gadis itu. Tiba - tiba sebuah lemparan dart menghentikan gerakan mereka, dan sebuah pedang menghantam tanah, membunuh sekelompok malaikat bersayap merah itu.

"Kurasa benar kata - katamu..." Shane pun muncul dengan sebuah pedang baru.

"Di...Dimana kau bisa dapat pedang itu??? Bukannya pedangmu telah patah?" tanya Vionne.

"Pedang boleh patah, tapi semangat tak boleh patah! Semangatku lah yang menciptakan pedang ini." ucap Shane menunjukkan sebilah pedang berwarna hitam dengan corak kuning-keemasan.

"Dan....Kurasa seluruh malaikat ini sudah mendekati ajalnya...!!!" kata Ortarius bersemangat. Ia menggerakkan gada biru muda nya, meningkatkan kekuatan teman - temannya.

"Heavenly Cross!!!!" teriak Shane, lalu menancapkan pedangnya, melompat, dan menginjaknya. Seketika itu tanah bergetar, seakan gempa bumi, dan sekali lagi, pasukan bersayap merah itu mulai sirna.

"Hei.... Serangan apa itu? Belum pernah kulihat sebelumnya." ucap Kalrathia kagum.

"Sudahlah,nanti kau juga tahu." jawab Shane malu - malu.

"Meteor!!!" Vionne menembakkan meteor yang besar, memenuhi 1 ruangan itu, dan membunuh beberapa dari mereka.

"Deadly slash!!!" Kalrathia pun ikut membantu, dengan serangan yang tidak biasa. Seakan seluruh tenaganya keluar untuk menghabisi armada sayap merah itu.

"Jangan kaget!!" Virrie melemparkan beberapa benda, tapi bukan Dart. Ya, dinamit.

"Demolition!!!" Arazna tidak mau kalah, ia menghantamkan palunya dan menghabisi sekelompok lagi.

Tanpa terasa, seluruh ruangan itu tersapu bersih, dan hanya tersisa satu lawan : Hanaiel.

"Kurasa tinggal kau saja kan?" kata Shane.

"Urgh.... Darimana kalian dapatkan kekuatan sebesar itu...???" Hanaiel kebingungan, panik, dan menyerang mereka dengan laser merah dari tangannya.

"Lemah sekali!" Shane dengan mudah menangkisnya.

"K...Kau...!!! Sial!!" Hanaiel geram, dan mulai kehilangan kendali tubuhnya, seperti orang mabuk.

"Kurasa sudah berakhir...." Kalrathia melakukan serangan bertubi - tubi dengan pedang hitamnya, tubuh Hanaiel pun bercucuran darah.

"A....ARGH...!!!" teriak Hanaiel sambil menembakkan laser berkekuatan besar dari tangannya, dan terlihat terburu - buru. Dinding ruangan itu hancur dengan cepat, tak menyisakan suatu apapun.

"Kurasa kalianlah yang berakhir..." Hanaiel kembali tertawa lebar melihat di depannya hanya ada setumpuk batu.

"Hooo.... Kau pikir begitukah?" tanya sebuah suara. Dan itu adalah suara yang tidak asing lagi, Shane.

"Masih hidup??? Tidak mungkin!!!" Hanaiel pun terkaget - kaget.

"Maaf, aku tidak mau mati mendahuluimu." Ortarius pun menambahi.

"Dan inilah akhir yang sebenarnya!!!" seluruh petualang itu menancapkan senjatanya ke jantung Hanaiel, tubuh makhluk itu mengeluarkan cahaya, yang mengembalikan keadaan di Hutan Cross. Sekali lagi, Shiltz berhasil diselamatkan.

Beberapa jam kemudian.....

"Sudah pulih...." ucap Virrie pelan.

"Ya..." jawab Shane.

"Tugas kita sudah selesai..." tambah Ortarius.

"Kurasa benar... Apa yang kau katakan... Vionne." kata Shane.

"Tentang apa?" Vionne bingung.

"Pertengkaran tidak akan menyelesaikan apapun..." lanjutnya.

"Ya, kurasa kau sudah menyadarinya." tambah Kalrathia.

"Sudahlah... Ayo pulang... Aku lapar nih...." Arazna mengeluh kelaparan.

"Ah kau ini... Makanan terus saja di otakmu...." kata Vionne, ditambah tawa dari semuanya."

Di tengah perjalanan....

"Virrie..." kata Shane pelan.

"Ya?" jawab Virrie.

"Aku cinta kau." lanjut Shane.

"Aku juga cinta kau." jawab Virrie sambil mengeluarkan air mata, lalu memeluk Shane, dan mereka berdua saling berpelukan.

"Hei... Malah kasmaran di tengah jalan.... Cepatlah!!" omel Arazna, lalu dilanjutkan dengan tawa sekali lagi. Dan mereka semua berjalan kembali ke kota Elim, tempat dimana cinta, kebahagiaan, canda, dan air mata berkumpul menjadi satu.


===========================End===========================================


@Vivi = thread buat commentnya dimana yah?
buat seald-ers yg ngaskus :JGN KETIPU SAMA NICK kr1b0 DI KASKUS.. ITU BUKAN GW... NICK GW DI KASKUS Ch_Z. DAN BUAT YG MERASA PAKE NICK kr1b0 DI KASKUS, PM GW SEGERA!!!!!! THX

Offline Twizard

  • Follower of Words
  • **
  • Posts: 150
  • Cookie: 45
  • Du Vrangr Gata
    • http://www.riniciousforum.com
Re: [Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-
« Reply #3 on: March 14, 2009, 02:30:04 AM »
Hm ... iseng ah.

----------------------------------

Terdapatlah enam orang sekawan yang tergabung dalam sebuah Guild kecil-kecilan bernama Wkwkwkwk. Mereka adalah: Arazna, Kalrathia, Virrie, Vionne, Ortarius, dan Shane. Arazna adalah seorang Craftsman berkacamata hitam yang mengklaim dirinya sebagai manusia paling tidak berbakat sedunia karena tak sekali pun ia pernah berhasil menempa suatu perlengkapan. Kalrathia adalah seorang Warrior tomboy yang selalu mendamba-dambakan pedang GS of Fiery miliknya yang berhasil ia tempa menjadi tingkat 7 itu. Ia mengenakan kacamata hitam. Virrie dan Vionne adalah dua orang kakak beradik. Virrie adalah seorang Clown yang sangat handal dalam hal lempar melempar. Terutama melempar sepatu. Sasaran favoritnya adalah presiden-presiden yang menganggap diri mereka penting. Sedangkan Vionne adalah seorang Mage elemen api, yang berambisi untuk membumihanguskan Shiltz, namun rencana ini tidak pernah berhasil karena dia tak pernah berhasil lulus tes menjadi Burner. Kedua kakak beradik ini juga sangat kompak, mereka berdua senantiasa memakai kacamat hitam. Ortarius, Cleric laki-laki yang sok cool karena selalu memakai kacamata hitam. Secara diam-diam menyukai Vionne. Yang terakhir adalah Shane. Seorang Knight dengan perlengkapan XG +12 (inilah penyebab utama teman-teman lainnya memakai kacamata hitam) dari ujung rambut sampai ujung kaki. Anak dari bangsawan Shiltz yang kaya raya. Sombong dan sangat pelit.

Misi mereka adalah memenangkan Guild War Hall dan mendapatkan hadiahnya, yang rencananya akan mereka gunakan untuk membeli Pet Fly Valkyrie. Tak hanya itu, mereka juga berambisi untuk menjadi Guild paling populer dan paling memble tapi tetap kece di dunia Shiltz. Demi ambisi mereka itulah akhirnya mereka memutuskan untuk menantang Bale kejam bernama Hanaiel. Bila mereka berhasil menumpas Hanaiel, maka mereka dapat dipastikan akan menjadi Guild paling yahud sejagat raya.

***

Hari sangat cerah, sang mentari spiral menyinari Shiltz dengan sangat elegan. Shane sedang memamerkan pet terbarunya yang baru saja dibelikan oleh Ayahnya kepada teman-teman satu guildnya: Fly Dragon.

"Fly Dragon ini namanya Marpuah, ya, nama yang cantik kan? Sesuai dengan kecantikan dirinya," kata Shane sombong sambil mengelus-ngelus Marpuah yang sedang melayang-layang malas di sekitar Shane. "Tak hanya cantik, Marpuah juga sangatlah kuat ... kurasa kalian tak punya yang seperti ini kan? Ya, ya, aku sangat mengerti keterbatasan kalian ... hehehe."

"Wah, kamu terlihat sangat gagah dengan pet kamu itu, Shane!" puji Vionne, menahan muntah.

"Tentu saja, Vionne! Kau ingin tahu berapa harganya? Dua puluh miliar cegel!" kata Shane.

"Sudah, sudah! Sebaiknya kita tidak membicarakan itu sekarang, ada hal yang lebih penting untuk kita diskusikan!" sela Ortarius sambil menyisir rambutnya yang hitam, mencoba terlihat sebaik dan sekeren mungkin di hadapan Vionne.

"Ya, Ortarius benar, sebaiknya kita membicarakan bagaimana caranya agar kita dapat mencapai Hutan Cross dengan cepat!" kata Virrie menyetujui. "Dari rumor yang aku dengar, Hanaiel suka piknik di sana akhir-akhir ini, kalau kita beruntung, mungkin kita bisa menumpas Hanaiel saat dia sedang lengah."

"Bukankah kita sudah mendapat solusinya?" kata Ortarius. "Ya ... dengan bantuan transportasi – maksudku, ya transportasi!"

"Hah, aku tidak mengerti maksudmu, Ortarius," kata Shane. "Tentu saja kita — maksudku kalian — jalan kaki menuju Hutan Cross. Kudengar hanya butuh beberapa hari agar dapat mencapai Hutan Cross."

"Oh, Shane, kami ingin meminjam Winged Carriage milik ayahmu!" kata Vionne. "Dengan demikian kita dapat menghemat waktu dan uang." Mendengar hal ini, Shane seakan-akan disambar petir, ditusuk duri, dan digelitik sampai mati.

"Winged Carriage-ku itu sangat mahal biaya perawatannya, bisa-bisa mencapai lima miliar per bulan!" kata Shane, masih sempat-sempatnya pamer.

"Demi Guild sendiri kau tidak mau berkorban?" kata Vionne dengan nada sinis. Ia menatap mata Shane dengan penuh amarah, seakan-akan ia baru saja membakar matanya sendiri. Shane, merasa tidak enak dengan kata-kata dan tatapan marah Vionne, yang cukup mewakilkan lima orang anggota lainnya, akhirnya melunak. Tapi tetap saja, sifat pelitnya tidak bisa dihilangkan. Karena menurutnya Winged Carriage sangat mahal biaya perawatannya, ia tidak bisa meminjamkannya. Sebagai gantinya ia meminjamkan mereka Piya Carriage yang lebih kecil dan lebih sempit.

"Hmph. Baiklah. Daripada harus berjalan kaki," kata Vionne. "Kita harus menjemput Kalrathia dan Arazna dahulu. Ayo, lebih cepat lebih baik."

"Oh, kalian pergi saja, aku bisa pergi dengan Marpuah," kata Shane. "Aku akan bilang dengan pelayan-pelayanku untuk membukakan pintu untuk kalian dan meminjamkan kalian Piya Carriage-ku. Kalian masih ingat rumahku kan? Rumah megah yang ada di—"

"—kau akan menyuruh pelayan ayahmu untuk membawakan Piya Carriage ayahmu itu kesini, ya, ke Bar ini. Cepat, kami menunggu disini." Tak sanggup membantah ucapan Vionne si perempuan sinis, Shane berbalik untuk melakukan apa yang Vionne perintahkan.

Akhirnya mereka siap untuk pergi menuju Hutan Cross. Mereka berkumpul di gerbang barat kota Elim. Shane dengan bangganya menaiki Marpuah miliknya yang baru saja ia ubah menjadi naga besar berwarna biru gelap dengan sisik-sisik putih di bagian punggungnya. Sedangkan empat orang lainnya berada dibawah, sedang mendiskusikan bagaimana memasukkan lima orang manusia ke dalam Piya Carriage yang sudah dicap maksimum tiga penumpang.

"Dimana Arazna?" tanya Ortarius kepada Kalrathia.

"Tadi dia bilang sedang mengepak barang-barang ciptaannya," jawab Kalrathia santai. Lalu ia beralih kepada Shane. "Hei Shane! Apakah itu Fly Dragon?"

"Ya, benar sekali! Kau tahu, hanya dua dari sepuluh orang di dunia ini yang punya Fly Dragon! Mungkin aku harus berbangga karena aku termasuk dari dua orang itu!" kata Shane, masih saja menyombong. "Kau tahu harganya berapa? Sekitar tiga puluh miliar!" Selain somse, Shane juga ternyata suka membual.

"Wah ... pasti keren sekali ya berada di pundak seksi milik Fly Dragon-mu itu!" kata Kalrathia menggoda.

"Ahaha, aku tahu itu, Kalrathia!" kata Shane. "Sebetulnya tiga puluh miliar itu tidak sampai seperlima dari kekayaanku yang melimpah itu! Aku masih bisa beli lebih banyak lagi! Tapi kurasa satu saja sudah lebih dari cukup, maka dari itu—"

"—Shane, aku boleh ya ikut denganmu? Ayolah, kau akan terlihat lebih keren dan gagah sambil membawa seorang perempuan diatas punggung nagamu itu! Percayalah!" goda Kalrathia. "Masa sih dengan kekayaanmu yang melimpah itu kau belum saja punya pacar?"

Shane merasa tertantang. "Ehm ... bagaimana ya ... baiklah kalau begitu, ayo naik!" Shane mendaratkan Marpuah sehingga Kalrathia dapat ikut dengannya. Walau sebetulnya itu tidak perlu, karena Kalrathia dapat dengan mudah lompat ke pungguh Marpuah tanpa kehilangan keseimbangan. Misi Kalrathia sukses. Empat orang mungkin masih dapat ditoleransi. Beberapa menit kemudian, Arazna muncul dari dalam gerbang sambil membawa ransel di punggungnya. Ia berlari-lari kecil sebelum terjerembab dan kepalanya dengan anggun mendarat diatas tumpukan kotoran Piya.

"Huaaa ... aku memang manusia paling bodoh dan paling tidak berguna seduniaaa!" teriak Arazna yang mulai menangis.

***

Dalam waktu beberapa jam, mereka sampai di Hanaiel's Throne di tengah-tengah Hutan Cross. Di sana mereka dapat mendengar celoteh-celoteh dalam bahasa yang mereka tidak kenal. Sepertinya sedang ada pesta besar. Shane dengan jalan angkuh memimpin Guild mencari darimana asalnya suara itu. Tak mau kalah, Ortarius yang sok cool itu berjalan dengan langkah tegap yang dibuat-buat, mencoba menarik perhatian Vionne. Andai saja Vionne melihat dari penampilan luar, pasti dia akan lebih memilih Shane. Dengan perlengkapan serba mengkilap dan pet yang hanya bisa dimiliki kalangan elit, perempuan mana yang tidak jatuh hati. Dibanding dengan Ortarius si lelaki congek yang hanya bermodal Mercury Mace yang kreditnya masih belum lunas.

Akhirnya mereka menemukan asal suara itu. Seekor Bale raksasa berpenampilan seperti malaikat dengan sayap merah sedang tertawa melihat Bale lain yang identik dengannya sedang bermain Ular Naga.

"Wah, kalau hanya segitu sih aku tidak ... takut, ya, sama sekali tidak takut ..." kata Ortarius, ingin terlihat pemberani di depan Vionne, padahal celananya sudah basah.

"Hmph, mari lihat sejauh mana kemampuanku mengayunkan pedang," kata Kalrathia ringan, seakan-akan sedang menghadapi Wawa Bunny.

"Hm, untung aku sudah membawa cukup banyak gulungan Meteor ..." ucap Vionne, sambil menghitung-hitung jumlah gulungan yang ia bawa, yang ternyata hanya ada lima buah.

"Ketepatanku dalam melempar pisau sedang diuji!" kata Virrie bersemangat sambil mengasah-ngasah pisaunya ditangannya sendiri.

"Huuuuuuhuuuu ..." desah Arazna.

"Dengar teman-teman, kita harus berhati-hati mendekati Bale-bale tidak senonoh ini, mari kita buat Surprise Attack," kata Shane. Lalu ia maju pelan-pelan. "SURPRISE ATTACK!!" Hanaiel beserta bawahannya menyadari kehadiran tamu tak diundang. Dengan sigap, ia memerintah bawahannya untuk menyerang Shane dan kawan-kawannya.

"Hanaio Hanaie Heiho Heiho he! (Hagariel, Hamariel, serang mereka!)" teriak Hanaiel. Lalu ribuan malaikat bersayap merah terbang menuju Shane dan kawan-kawan. Bersama Marpuah, Shane maju menuju medan perang. Ia lalu menancapkan pedangnya ke tanah. Satu detik kemudian pedangnya bersinar seiring dengan belahnya tanah dibawahnya yang diikuti dengan keluarnya sinar berwarna-warni yang membelah setiap Hamariel dan Hagariel yang ada didekatnya. Kalrathia tak mau kalah, dengan GS of Fiery kebanggaannya, ia menebas setiap malaikat sayap merah yang menghalangi jalannya. Vionne sedang merapal mantra yang ada di gulungannya. Virrie melempar Joker Card ke setiap bawahan Hanaiel yang ia lihat. Arazna menangis. Ortarius menjerit "HIYAAAAAH!" agar Vionne menatapnya sedang melawan Bale-bale kejam itu. Namun yang terjadi adalah ia dikepung oleh ribuan Bale kejam tersebut.

"Oh ... tidak ..." kata Ortarius, menyadari bahwa teriakannya begitu merdu sehingga menarik perhatian semua bale yang ada di sana. Untung saja Vionne sudah selesai merapal mantranya, sehingga batu api besar muncul secara misterius dari langit dan menghantam serta menyapu habis semua Bale bawahan Hanaiel. Ortarius pun terkena sedikit dari sihir dahsyat yang dihasilkan oleh Vionne, untungnya ia sempat menggunakan Self Cure sehingga ia tidak mati.

"HANAIHEEE!? HANAIOUIOU, HANIA!! HANUMAN!! (Apaaa!? Kalian berhasil mengalahkan prajurit bawahanku tercinta, tak dapat kumaafkan kalian!! Dasar Hanuman!!)" teriak Hanaiel naik darah. Ia terbang menuju arah Vionne yang baru saja menghabiskan bawahannya. Menyadari bahwa nyawa Vionne dalam bahaya, Ortarius langsung berlari secepat mungkin ke arah Vionne untuk melindunginya.

"JANGAN GANGGU VIONNE!!" teriak Ortarius. Entah dari mana munculnya kecepatan kilat itu, Ortarius dapat mencapai Vionne dalam waktu sekejap, namun ternyata kalkulasi Ortarius meleset ...

"Staff Booster!" teriak Vionne. Dalam sekejap, Vionne telah berpindah ke daerah di luar jangkauan serang Hanaiel, meninggalkan si Cleric congek dalam jangkauan serang Hanaiel. Pada akhirnya, aksi sok heroik Ortarius telah merenggut nyawanya sendiri ... semua orang segera menghampiri jasad Ortarius, yang telah kehilangan kekuatan untuk merapal mantra sendiri.

"Dasar Ortarius bodooooh!" teriak Virrie, menitikkan air mata.

"... Vi-Vionne ... mana Vionne ..."

"Aku disini ..." jawab Vionne.

"Vionne ... aku hanya ingin kau ta-tahu ... bahwa a-aku ... su-su—" namun ia tidak dapat menyelesaikan kata-katanya, sehingga perasaannya terhadap Vionne terkubur dalam hatinya sendiri. Yang hanya bisa didengar saat itu hanyalah teriakan Virrie yang menggelegar.

"HANAIEL, KAU TAK BISA KUMAAFKAN!!" teriak Virrie, yang rupanya punya perasaan terpendam terhadap Ortarius. Lalu Virrie mulai melempar segala jenis barang yang ia punya mulai dari Joker Card hingga celana dalam dengan skill Random Throwing. Namun skill itu tidak berarti apa-apa terhadap Hanaiel.

"HONOI HONOI HOY HOY!! (HAHAHAHAHAHA!!)" cemooh Hanaiel.

"Vi-Virrie," tiba-tiba Arazna bersuara. Lalu ia mendekati Virrie sambil mengambil sesuatu yang tampak seperti bulatan yang sangat kecil dari ranselnya. "I-ini, Nuclear Bomb, kecil namun sangat efektif untuk membunuh Bale … pakailah, aku jamin rasa dendammu akan terbalas ..." Virrie mengambil bom tersebut dan langsung melemparnya ke arah Hanaiel dan ...

Pada akhirnya, guild Wkwkwkwk dan Hutan Cross ... hanya tinggal kenangan.
« Last Edit: November 17, 2009, 10:35:13 AM by Vionne »

you mean so much to me, I want the world to see, it's because of YOU ...
Twizard, Cabalist.

Offline gakpakeerror

  • Loveable Starter
  • Posts: 20
  • Cookie: 45
Re: [Battle] Deskripsi dan Narasi II -Revisi-
« Reply #4 on: April 01, 2009, 10:00:33 PM »
waw maap telat  :lol:

anyway, here we go~
Note: dikerjakan pada saat dosen menerangkan, jadi maap klo ada yang kurang jelas~
==========================================

"Gah!" Umpat Shane yang sibuk menangkis serangan-serangan dari Hagariel dan Amariel dengan Ultimate Shieldnya.
"Shane! Bertahanlah!" Seru Ortarius yang berada di tengah ruangan. Ia mengucapan doa, lalu berseru, "Cure!"
Luka dan kelelahan Shane hilang seketika, seolah ditelan oleh cahaya yang melingkupinya.

"Area Destruction!!" Sandriel Hammer yang di putar-putar oleh Arazna menghantam dan memukul mundur sebagian Amariel dan Hagariel, dan menghempaskan yang lain.

Di ujung ruangan yang dipenuhi kristal kehijauan itu, Kalrathia, Virrie, dan Vionne sedang berusaha melakukan hal yang sedikit tidak mungkin: Mengalahkan Hanaiel yang adalah seorang Balie.

Dari jauh, Virrie sibuk mengambil dan melemparkan Dinamit buatan Arazna tanpa menyulutnya terlebih dahulu ke arah Hanaiel yang dibuat sibuk oleh Kalrathia.

Sesaat kemudian, Virrie tampak merogoh-rogoh tas nya dan nampak sedikit kebingungan. Ia menyadari bahwa Dinamitnya telah habis, dan segera berteriak, "Vionne, dinamitnya udah abis!"

Mendengarnya, Vionne mulai merapalkan mantra untuk sihir elemen api terkuat yang ia tahu: Phoenix.

Bila didengarkan, Vionne seolah hanya meracau, namun sebenarnya, apa yang ia katakan adalah Divine Words, bahasa yang digunakan di Jaman Para Elim.

Kalrathia melompat, menghindari serangan Hanaiel, dan segera melompat menjauh dari Hanaiel, berlari ke belakang Kristal, sesuai dengan apa yang mereka telah rencanakan.

Aura merah mulai memancar dari Raziel Staff yang ia pegang. Semakin lama ia merapal, semakin besar bagian tubuh Mage Api itu yang diliputi oleh Aura merah. Aura itu merambat ke tangan, ke badan, bahkan akhirnya, ke Queen Bee's Wing miliknya, membuat Queen Bee's Wing yang tadinya transparan berkilau kemerahan.

Vionne menghentikan rapalan mantranya. Ia membuka matanya, iris yang merah membara, seolah terbakar api merah yang begitu terang, sesaat terlihat di bola matanya, lalu dengan seluruh kekuatan tubuhnya, Ia berteriak, "PHOENIX!"



Api merah yang begitu terang --nyaris berwarna putih-- mulai terbentuk dibawah Hanaiel, mulai mengambil wujud burung dalam legenda, Phoenix.

Api yang berbentuk burung api itu mengintari Hanaiel, dan naik mengelilinginya, melukai Hanaiel, dan menyebabkan Dinamit-dinamit yang dilemparkan Virrie tersulut, dan meledak nyaris bersamaan, menambah kedashyatan ledakan sihir Vionne.

"Staff --" Rapalan Vionne untuk sihir perpindahan tempat, Staff Booster terhenti karena kekuatan sihirnya dan Dinamit yang meledak.

Serangan Phoenix dan ledakan Dinamit-dinamit itu menghanguskan ruangan dan meninggalkan asap yang tebal, juga meninggalkan rasa was-was bagi anggota grup yang lain.

"Apakah Vionne bak-baik saja....?" Ucap Virrie pelan, suranya bergetar. Ia nyaris menangis.
"Ia akan baik-baik saja, Virrie." Kata Ortarius pelan sambil menepuk kepala Virrie, mencoba menenangkannya.
Arazna, Kalrathia dan Shane tidak mampu menjawab, hanya mampu memberikan muka yang serius dan penuh ketegangan.


Asap mulai menipis.

Shane muncul dari balik Kristal yang setengah meleleh, Ultimate Shieldnya ia acungkan, berjaga-jaga akan serangan tiba-tiba. Ia berjalan dengan hati-hati, karena sebagian besar dari tempat itu masih terbakar, dan kalaupun tidak, sangatlah panas untuk disentuh.

Shane mulai berteriak, "Vionne...!"
Namun tidak ada jawaban.
Ia berteriak kembali, lebih keras, dengan ketakutan akan keadaan sahabat baik sekaligus pujaan hati nya itu. "Vionne!!!"

Ortarius dan yang lain keluar, menyusul Shane dan mulai mencari Vionne di ruangan yang masih ditutupi asap tipis.

Tiba-tiba, Kalrathia berteriak, "Semuanya, disini!" sambil melambai-lambaikan Great Mega Swordnya.

Disitu, Vionne terbaring tidak sadarkan diri.

"Ia akan baik-baik saja. Elim Vinagh melindunginya.." Ucap Ortarius, "Meskipun cukup banyak luka bakar, tapi itu hanya luka bakar ringan. Cure."


Belum sempat mereka bergembira karena Vionne selamat, tiba-tiba darah terciprat, membasahi muka Virrie.
"Aaaaaaaaaah!!!" Virrie menjerit histeris, ketakutan karena darah yang tiba-tiba ada di wajahnya.
Teriakan itu disusul sepersekian detik kemudian oleh Arazna, yang juga ketakutan.

Tubuh Ortarius mulai terangkat ke udara, dari dadanya, ada jari dan kuku yang tajam... Milik Hanaiel.

"Manusia-manusia menyedihkan." Suara Hanaiel menggema di ruangan itu, dipenuhi hinaan. "Tidak kusangka, kalian mampu melukaiku sedemikian parah, dan membunuh seluruh anak buahku. Tapi permainan sudah berakhir. Meski aku tidak bisa menggunakan sebagian besar kekuatanku lagi, tubuhku sajapun sudah cukup untuk membunuh kalian!!"

Suara Ortarius terdengar.
Dengan lemah, ia mengucapkan, "Self...."

Hanaiel menengok, melihat telunjuk kirinya, dimana Ortarius tertancap dan sekarang, berusaha melawan kematiannya yang mendekat. "Menyedihkan."
Hanaiel menghempaskan tangannya, melemparkan Ortarius ke kristal-kristal yang membawa Cleric muda itu kepada ajalnya.

Melihat itu, Virrie hanya terduduk lemas.
"Bagaimana..." Katanya lemah.
Spike Daggernya terlepas dari genggaman tangannya yang sekarang gemetaran. Entah ketakutan, entah kesedihan, air matanya terus bercucuran tanpa terbendung, dan mulutnya hanya mampu menganga.

"Siapa selanjutnya? Majulah, dan kalian akan berakhir seperti Cleric menyedihkan itu!!!"


"Tidak," Suara Kalrathia terdengar tenang, "bila aku membunuhmu lebih dahulu."
Ia segera menyiapkan kuda-kudanya, bersiap melancarkan serangan terkuatnya.

"Apa....!!"

"Thousand Blade Works." Ucap Kalrathia, sebelum tubuhnya mulai kabur.

Sebuah tebasan membuka serangan dari Kalrathia. Hanaiel mampu menangkisnya dengan tangannya. Tebasan lain dari sisi yang lain.
Tebasan ke atas dengan cahaya kebiruan. Angin puyuh kecil dari ujung pedang yang ditebaskan mendatar oleh Kalrathia. Tebasan lain, lebih cepat sebelumnya, kearah bawah. Tebasan demi tebasan terus dilancarkan Kalrathia, dan tiap tebasan lebih cepat daripada tebasan sebelumnya. Cahaya yang dihasilkan oleh tebasan itu mulai berubah, dari biru terang menjadi kuning-kemerahan. Entah sudah berapa tebasan yang Kalrathia lakukan, ia sudah terlalu cepat untuk diikuti mata telanjang, bahkan cahaya dari tebasannya sudah melingkupi Hanaiel.

Dengan hempasan pedangnya, Kalrathia membuat Hanaiel terpukul mundur. Sekujur tubuh Hanaiel sekarang dipenuhi luka-luka akibat serangan Kalrathia tadi.

"Bagaimana... MANUSIA-MANUSIA KURANG AJARR!!"
Dengan kepakan sayapnya, Hanaiel mendorong Kalrathia ke arah kristal yang siap melakukan hal yang sama kepadanya seperti kepada Ortarius.

Dengan sigap, Kalrathia segera menancapkan Great Mega Swordnya ke tanah, membuat tumpuan baginya. Aeon Setnya berkibar dengan indahnya, sebelum ia melompat kembali menyerang Hanaiel.

Shane tidak tinggal diam, ia segera berlari ke arah Hanaiel, sambil menyalurkan seluruh tenaganya ke Spike Swordnya, yang merespons dengan kilauan cahaya kemerahan.

Shane melompat tinggi, melebihi Hanaiel, menebaskan Spike Swordnya kearah kepala Hanaiel sambil berteriak, "Grand Sword!"

Ledakan besar terjadi, melontarkan Shane lebih tinggi dari sebelumnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Shane; ia segera meleparkan pedangnya ke tanah, menancapkannya tegak lurus, lalu menghempaskan dirinya untuk menginjak pedang itu.

"HEAVENLY CROSS!!!"
Tanah berguncang, cahaya memancar keluar dari Spike Sword, melukai Hanaiel yang masih berusaha berdiri dari serangan pertama Knight dengan Ultimate Armor Set itu.

"Matilah kalian, MANUSIA!!"
Hanaiel, masih terjatuh, melepaskan cahaya merah-biru kearah Shane dan sekitarnya.

Shane segera maju, menerjang cahaya itu dengan perisainya. Meskipun begitu, cahaya yang dilepaskan Hanaiel tidak hanya satu, namun datang dari berbagai arah. Tidak mampu menghindar ataupun menangkis, Shane terpental karena ledakan yang disebabkan tubrukan cahaya itu.

Suara besi yang beradu dengan batu terdengar perlahan, mendekat ke arah Hanaiel. Itu adalah Arazna, yang menggeret Death Schyte, senjata kesayangannya.

"Mau apa kau??" Tanya Hanaiel mengejek, "Bahkan kura-kura renta pun berjalan lebih cepat darimu!!"
Hanaiel melesatkan tangannya, bermaksud menusuk Arazna, seperti Ortarius.

"JANGAN KAU BERANI!!!"
Dari pinggir, Shane berlari, menabrak dangan Hanaiel dengan Ultimate Shieldnya yang terlihat aus. Tangan Hanaiel terpelanting, namun tidak lebih dari sejari dipinggir kepala Arazna.

Kalrathia segera melompat, menebaskan pedangnya berkali-kali ke bagian dada Hanaiel, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Arazna mengangkat Death Schytenya, menyambut Hanaiel yang terjatuh, dan...

Pada detik-detik terakhirnya, Hanaiel menatap Death Schyte Craftgirl yang memenggalnya. Ia melirik ke atas, melihat Arazna, dengan wajah yang dingin, mengatakan sesuatu kepadanya, namun tidak bisa ia dengar.

"Kau tahu..." Kata Arazna pelan kepada Kepala Hanaiel, "banyak yang berkata aku ini jahat... Namun aku tidak percaya..."

Vionne mengerang pelan.
Ia membuka matanya, hanya untuk disambut pelukan dari Virrie.

"You have done well, Vionne." Ucap Shane dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak juga..." Kata Vionne pelan, sedikit tersipu.

Ia menoleh ke salah satu ujung.
"Ortarius..." Katanya sambil mengangkat tangannya, menutup mulutnya.
"Iya. Ia sudah berjasa besar bagi kita semua." Ucap Kalrathia, menumpukan Great Mega Swordnya di pundaknya. "Kita tidak akan melupakannya, kan?"

"Iya, tentu saja." Ujar Vionne pelan, sambil menahan air matanya.

"Ayo Virrie, kita pulang." Kata Kalrathia, mengulurkan tangannya.

Virrie menyambut uluran tangan Kalrathia, dan mereka semua pergi dari situ untuk bertemu Elim Neza...

Semua, kecuali Arazna.
Ia berkata lagi kepada Hanaiel, "Tapi kurasa, kau telah melihat buktinya."
*Signature Pending Due to Lack of Processing Power* =p